{KIM TALES} DEEPEST MEMORIES — 10TH PART [BY IMA]

deepest new.jpg

Kim Tales :

“Deepest Memories”

Lee Hana / OC || Kim Jongin / EXO Kai || Others

Romance, Family, Drama, Angst

Beta : Neez

PG || Chapters

[Teaser] [1st Part] [2nd Part] [3rd Part] [4th Part] [5th Part]

[6th Part] [7th Part] [8th Part] [9th Part]

In Correlation with  :

{KIM TALES} WILDEST DREAM

© IMA 2016

[DEEPEST MEMORIES] — 10TH PART

Apa yang ia lihat dari ponsel Minho tadi malam, tetap membayangi Kai hingga pagi hari. Kepalanya berdenyut, memikirkan berbagai kemungkinan alasan Sehun dan Hana bertemu. Padahal Hana tidak pernah meminta izin padanya untuk bertemu Sehun. Baiklah, mungkin ia hanya sebatas kekasih dan belum resmi menjadi suami wanita itu, tapi apa salahnya memberitahu dirinya? Toh ia pun tidak akan melarang jika tahu alasan kenapa Hana bisa bersama Sehun.

Kai menginjak anak tangga terakhir di gedung apartemennya dengan helaan napas panjang. Merasa lelah dengan pekerjaannya dan pikiran tentang Hana –bersama Sehun. Ia harus waspada dengan keberadaan Sehun sekarang, karena lelaki itu benar-benar memiliki mulut yang sangat manis dalam merayu wanita. Ia tidak akan membiarkan Hana terpesona oleh seorang Oh Sehun.

Kkaman.

Kepala Kai terangkat begitu mendengar suara dari wanita –yang sangat dirindukannya—dan melihat senyum lebar Hana yang tertuju padanya. “Han-ah?”

“Emm, aku membuatkan sarapan,” Hana mengangkat tas bekal di tangannya ke hadapan Kai dengan senyum bahagia.

“Dimana Tae Jun?” tanya Kai tanpa berusaha membalas senyum Hana.

“Pergi bersama Kyungsoo oppa tadi pagi,” Hana kembali memegang tas bekal dengan dua tangan sambil memperhatikan ekspresi lelah di wajah kekasihnya.

“Bukan bersama Sehun?”

Napas Hana tertahan dan secara reflek menjatuhkan tas bekalnya ke lantai. Kedua matanya membulat, menatap tidak percaya ke arah Kai –yang masih saja memasang wajah dinginnya. “J-Jong In? K-kenapa tiba-tiba membahas Sehun?”

Sesungguhnya Kai sangat ingin meluapkan kekesalannya setelah melihat foto itu pada Hana. Tapi entah kenapa semua rasa kecewa dan kesalnya menguap begitu saja saat tatapan Hana mulai bergetar dan berkaca-kaca. Harusnya ia yang melindungi Hana dari lelaki macam Sehun bukan? Kalau Sehun secara terang-terangan berusaha merayu Hana, ia harusnya tidak melampiaskan kemarahannya hanya pada Hana saja.

Mungkin Sehun dan Hana tidak sengaja bertemu. Dan Hana tidak memberitahunya karena menganggap bertemu dengan Sehun tidak sepenting itu.

Mian,” Kai memijat pangkal hidungnya sambil menghela napas panjang. “Aku juga tidak tahu kenapa.”

Dwaesseo, mungkin kau lapar,” Hana berusaha menenangkan dirinya sendiri dan mengulas senyum –kaku pada Kai yang sibuk membuka pintu apartemen. Ia kembali mengambil tas bekal yang dijatuhkannya tadi lalu mengikuti langkah Kai memasuki apartemen.

“Aku mandi dulu,” ujar Kai –masih sama dinginnya, meninggalkan Hana begitu saja memasuki kamar mandi.

Hembusan napas panjang dikeluarkan Hana begitu sadar bahwa Kai mungkin kelelahan –dan merasa terganggu dengan kehadirannya. Hana meletakkan tas bekalnya ke atas meja ruang tengah seraya mengitarkan pandangannya ke seluruh sudut apartemen Kai yang terlihat sangat berantakan dengan pakaian kotor, sisa makanan ringan, dan berbagai macam majalah properti. Sambil menunggu kekasihnya di dalam kamar mandi, Hana memutuskan untuk membereskan apartemen lelaki itu.

Keningnya berkerut ketika menemukan majalah properti yang terbuka di dekat meja, tepat di sebuah halaman dengan beberapa tanda –spidol merah menandai apartemen-apartemen. Hana duduk di sofa sambil mengambil majalah itu, melihat spesifikasi apartemen yang ditandai oleh Kai. Setelah membuka halaman-halaman lain –yang juga ditandai banyak spidol merah, Hana bisa menyimpulkan sesuatu.

Lelaki itu mencari apartemen yang lebih besar –namun murah dengan fasilitas dua kamar tidur.

Begitu keluar dari kamar mandi dan menemukan ruang tengah apartemennya menjadi sedikit lebih rapi, Kai melihat Hana duduk di sofa sambil memandangi majalah properti miliknya. Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil sebelum mendekati Hana dan duduk di sebelah wanita itu.

“Kau sedang cari apartemen baru?” Hana menunjuk lingkaran-lingkaran merah di dalam majalah itu seraya menoleh dan memperhatikan Kai yang masih sibuk mengeringkan rambut.

Eoh, kita tidak mungkin tinggal di apartemen satu kamar bersama Tae Jun, Han-ah,” Kai menjawab dengan santainya lalu mengalungkan handuk kecilnya di leher, ia balas menatap Hana yang tidak membalas ucapannya.

Banyak sekali yang berkecamuk di dalam pikiran Kai sejak ia menenangkan diri di dalam kamar mandi tadi. Ia berpikir untuk terus bersikap dingin pada Hana sampai wanita itu sadar dan bertanya padanya. Tapi seorang Lee Hana lagi-lagi bukan wanita yang peka untuk menyadari kode-kodenya seperti itu. Ditambah ia yang tidak bisa berlama-lama marah pada Hana juga. Haruskah ia bertanya pada Hana?

“Han-ah,” panggilnya seraya memperhatikan Hana yang meraih tas bekal di atas meja tanpa melihat ke arahnya lagi.

Wae?”

Rasanya sulit sekali membahas laki-laki lain di dalam hubungan mereka. Ah, masa bodoh dengan Oh Sehun. Ia harusnya percaya saja pada Hana bukan? “Bagaimana pekerjaanmu?”

“Di tempat ini yang paling enak. Aku tidak harus lembur dan selalu dapat tambahan uang kalau berhasil mencapai target penjualan dalam sehari,” Hana membuka penutup bekalnya dan menyerahkannya ke hadapan Kai. Ia tanpa sadar memperhatikan kantung mata milik Kai dan ekspresi lelah kekasihnya. “Jong In.”

Kai menyuapkan potongan sosis gurita ke dalam mulutnya seraya menoleh pada Hana. “Kenapa wajahmu seperti itu?”

“Sepertinya kau harus cari pekerjaan lain,” Hana mengusap bagian belakang kepala Kai, sedikit memijatnya untuk merilekskan otot leher yang kaku –setelah seharian bekerja di atas meja DJ. “Hidupmu tidak sehat. Kalau kau mati muda sebelum menikahiku, bagaimana?”

Kai hampir tersedak nasi yang baru disuapkannya saat mendengar keluhan Hana. Ia hampir tertawa karena ekspresi polos wanita itu. “Ya. Aku masih tidur cukup di siang harinya, Han-ah.”

“Bukan itu saja,” Hana menurunkan tangannya dari leher Kai lalu menundukkan kepala sambil memainkan tangannya sendiri. “Aku masih takut dengan kenyataan kalau kau bekerja di club setiap malam.”

“Lee Hana,” Kai meletakkan kotak bekal di atas pangkuannya sambil merangkul Hana, “Kau tidak perlu takut, eoh? Kalau aku macam-macam, kau boleh melakukan apapun padaku. Termasuk minta berpisah.”

 “Tapi aku sudah janji,” Kai meraih kalung yang menghiasi leher putih Hana dengan indahnya. “Aku sudah berjanji tidak akan meninggalkanmu dan Tae Jun, Han-ah. Jadi aku tidak mungkin macam-macam.”

Dengan senyum manis di bibir Kai, Hana tahu bahwa ia mungkin tidak akan bisa terlepas dari jerat lelaki itu. Sejak kehadiran Sehun –lagi, Hana benar-benar merasa gelisah dan terkadang meragukan perasaannya sendiri. Tapi ketika bersama kekasihnya, ia bisa yakin bahwa perasaannya pada Sehun hanya sebatas ‘rindu’ dan bukan perasaan ‘cinta’ seperti apa yang ia rasakan untuk Kai. Kehadiran Sehun tidak akan membawa pengaruh apapun pada hubungan mereka, bukan?

***

Bel pulang berbunyi, membuat hampir sepuluh murid di dalam kelas pre-school itu bersorak gembira dan bergegas membereskan peralatan menulisnya ke dalam tas. Termasuk Tae Jun yang dengan cekatan memasukkan kotak pensilnya ke dalam tas lalu ikut berlari keluar kelas bersama teman-temannya yang lain. Dengan tinggi badan yang melebihi anak-anak seusianya, Tae Jun bisa melihat halaman depan sekolahnya lebih dulu. Dengan senyuman lebar ia keluar dari pagar sekolah dan mengitarkan pandangan untuk mencari ibunya.

Bibir Tae Jun sontak mengerucut ketika tidak menemukan Hana ataupun Kai di sana untuk menjemputnya. Menandakan bahwa ia harus menunggu entah berapa lama lagi agar bisa pulang ke rumah.

large w.jpg

Taejunnie

“Tae Junnie!”

Kepala Tae Jun menoleh ke sumber suara, dimana seorang laki-laki berperawakan tinggi dengan senyum simpul itu menghampirinya. “Ahjussi tahu namaku?” tanyanya saat lelaki itu berjongkok di hadapannya.

Keurae, kau Oh Tae Jun,” lelaki itu kembali tersenyum sambil menepuk puncak kepala Tae Jun. “Dan aku Oh Sehun.”

Tae Jun mengangguk-angguk, tanpa menyadari maksud dibalik Sehun memperkenalkan diri dengan marga ‘Oh’ juga. “Ahjussi yang membuat eomma menangis waktu itu.”

“Aku bukan ahjussi, Tae Jun-ah. Panggil Sehun hyung saja, ne? Dan aku tidak sengaja membuat ibumu menangis waktu itu,” Sehun memutuskan untuk tidak memberitahu Tae Jun secara langsung mengenai statusnya sebagai ayah kandung anak itu. Ia masih betah berjongkok di hadapan Tae Jun, mengabaikan tatapan beberapa orang tua murid –yang jelas-jelas mengagumi ketampanannya. Tidak akan ada yang curiga bahwa ia akan menculik Tae Jun juga, melihat wajahnya –dan Tae Jun yang sangat mirip seperti itu.

Tae Jun kembali mengangguk dengan polosnya. “Eomma sudah cerita kalau Ahj…Mmm, hyung itu adiknya Jae Hee noona.”

Assa,” Sehun mengulas senyum simpul lagi sebelum berdiri sambil menepuk-nepuk puncak kepala Tae Jun dan mengedarkan pandangannya di antara para orangtua murid. “Tidak ada yang menjemputmu, Tae Jun-ah?”

Eomma bilang mau jemput Tae Jun hari ini,” ekspresi sedih Tae Jun membuat perasaan Sehun terenyuh. Ia memeriksa jam tangan Rolex miliknya yang menunjukkan pukul hampir dua belas siang.

“Mau makan es krim dengan hyung?” tawar Sehun sambil kembali berjongkok, menyamakan tinggi dengan anak itu lagi. Anaknya. Oh Tae Jun.

Tae Jun terlihat berpikir keras sambil menggigit bibir bawahnya –yang entah kenapa terlihat menggemaskan di mata Sehun. Ekspresi ragu-ragu itu terlihat sangat mirip dengan ekspresi Hana. “Tapi hyung telepon eomma, ne? Nanti eomma khawatir.”

Call,” Sehun kembali berdiri seraya meraih tangan Tae Jun, menggandengnya dengan senyum seperti orang gila lalu membawa anak itu menghampiri mobilnya.

“Wuah, mobil hyung keren,” komentar Tae Jun saat Sehun membukakan pintu depan dan membantu anak lelaki itu naik ke dalam mobil.

Hanya senyum geli yang muncul di bibir Sehun setelah memasangkan seatbelt Tae Jun sebelum berlari ke sisi lain mobil, duduk di balik kemudi. “Tae Jun akan sering naik mobil ini nanti.”

Jinjja?!” tanya Tae Jun kelewat antusias dengan mata bulatnya sambil menggoyang-goyangkan kakinya dan bergumam kagum memandangi interior mobil. “Eomma juga pasti senang naik mobil keren ini.”

Keurae? Kalau begitu nanti kita ajak eomma naik mobil ini, ne?” Sehun mengusap puncak kepala Tae Jun sambil membelokkan mobilnya ke jalan raya. Tidak bisa menahan senyum gelinya begitu membayangkan Hana dan Tae Jun berada di dalam mobil bersamanya. Bergurau bersama dan membahas kehidupan mereka. Bayangan seperti itu saja bisa membuat Sehun senang bukan main.

Begitu tiba di sebuah cafe yang khusus menyediakan es krim, Tae Jun dengan antusias berlari memasuki cafe tersebut dan berdiri di depan counter kaca yang berisi beraneka rasa es krim. Sementara Sehun berdiri di depan kasir sambil memperhatikan Tae Jun yang masih sibuk memilih rasa kesukaannya.

“Anak anda lucu sekali,” komentar laki-laki muda di balik meja kasir cafe itu, membuat Sehun menoleh dan memberikan senyum simpul.

Keurae, anakku yang terbaik,” Sehun melihat Tae Jun tertawa kecil ke arahnya saat kebingungan memilih es krim di dalam counter kaca. “Tae Jun mau es krim apa?”

“Mmm, cokelat saja,” jawab Tae Jun akhirnya –setelah berpikir cukup lama.

Sehun membayar pesanan mereka dan segera mencari tempat duduk di sudut cafe, ia membantu Tae Jun duduk di kursinya. Pemandangan Sehun dan Tae Jun itu sontak membuat perhatian beberapa pengunjung tertuju pada keduanya. Sambil memperhatikan Tae Jun yang memakan es krimnya dengan lahap, Sehun meraih ponselnya dari dalam saku dan menghubungi nomor Hana –yang baru didapatkannya dari Joonmyun.

“Hana-ya. Aku di cafe di persimpangan dekat jalan ke apartemenmu,” Sehun mendengar jawaban dingin dan tidak antusias dari Hana di seberang sana. “Tapi aku bersama Tae Jun juga.”

Tanpa mendengar teriakan protes dari Hana, Sehun menutup sambungan teleponnya lalu mengulas senyum pada Tae Jun. Ia mengaduk-aduk es krim miliknya sendiri masih sambil memperhatikan sisa-sisa es krim di dekat bibir anak itu. Mau tidak mau membuatnya tersenyum geli.

Di masa lalu, Sehun pernah bertindak bodoh dengan meninggalkan wanita yang dicintainya hanya karena takut dengan kenyataan. Tanpa sadar bahwa ia merusak masa depan wanita itu dengan berbagai macam masalah yang ditinggalkannya. Sehun sekali lagi mengakui bahwa dirinya memang brengsek. Bahkan ketika beberapa bulan lalu bisa menemukan Hana, ia hanya bisa menatap dari jauh saja. Tidak berani untuk menampakkan diri dan menyapa wanita itu.

“Uh, eomma pasti marah kalau tahu Tae Jun banyak makan es krim,” Tae Jun tiba-tiba menghentikan kegiatannya, menyisakan setengah cup es krim.

Anhi, ibumu tidak akan marah kok. Makan saja yang banyak, nanti hyung yang tanggung jawab,” Sehun menepuk puncak kepala Tae Jun berkali-kali dan pandangannya sontak tertuju pada pintu masuk cafe, dimana Hana –dengan ekspresi panik mencari keberadaannya.

Hingga tatapan Hana berhenti di mejanya dan wanita itu berlari menghampiri. Sebelum Hana membuka mulut, Tae Jun lebih dulu bersorak antusias dengan kedatangan ibunya.

Eomma!” pekik Tae Jun dengan senyuman lebar –dan sisa-sisa es krim cokelat di dekat bibir tentu saja.

“Astaga,” Hana menghela napas panjang seraya menghempas duduk di sebelah Tae Jun dan memeluk anak itu dengan erat. “Eomma sangat panik saat sonsaengnim bilang kau sudah pulang. Lain kali jangan pergi dengan orang asing, eoh?”

Hana melirik tajam ke arah Sehun yang sibuk memakan es krim tanpa menghiraukannya. Sementara Tae Jun berontak, ingin melepaskan diri dari pelukan erat Hana. “Tapi eomma ‘kan yang cerita kalau Sehun hyung ini adiknya Jae Hee noona. Hyung bukan orang asing, geuchi?”

Araseo, tapi kau tidak boleh seperti itu lagi, eoh? Tunggu sampai eomma atau Jong In hyung datang menjemput,” Hana memperingatkan Tae Jun dengan nada sedikit tegas dan dibalas anggukan pelan oleh anak itu.

Senyum di bibir Sehun menghilang seketika saat nama Kai muncul dari bibir Hana. Selara makan es krimnya menghilang begitu saja. “Mian, aku yang ajak Tae Jun tadi. Jangan memarahinya, Hana-ya.”

Keurae, kau yang harusnya sadar diri untuk tidak bersikap seenaknya,” Hana membalas dengan tatapan sinis seraya meraih tisu di atas meja dan menyeka sisa es krim di bibir anaknya. “Kaja, kita pulang.”

“Hana-ya, aku masih mau bersama Tae Jun,” Sehun cepat-cepat bangkit ketika Hana tiba-tiba menggendong Tae Jun dan membawanya keluar dengan setengah berlari tanpa melihat ke belakang lagi. Membuatnya hanya bisa menghela napas panjang dan kembali duduk di kursi. Mendapatkan Hana untuk yang kedua kalinya terasa jauh lebih berat.

***

Kai merasa harinya semakin sibuk mendekati ulang tahun Trpitych, sementara Hana juga sulit sekali ditemui siang hari karena sibuk dengan pekerjaan barunya. Pernah beberapa kali ia mengunjungi Hana di jam makan siang dan ia hanya merepotkan wanita itu saja. Sejak saat itu ia tidak mau mengunjungi Hana lagi dan lebih baik menunggu di apartemen –bersama Tae Jun sampai Hana pulang kerja. Dan ia juga tidak pernah memikirkan Sehun dengan Hana lagi karena ia percaya sepenuhnya pada kekasihnya.

Dari kejauhan, Kai melihat Tae Jun berlari ke arahnya dengan senyuman lebar. Ia tidak pernah keberatan menjemput Tae Jun setiap hari setelah Hana –sibuk di tempat kerja barunya karena ia bisa mendapat waktu lebih banyak untuk melakukan pendekatan dengan anak itu. Hanya tinggal menghitung bulan hingga ia berhasil –sepenuhnya mengambil hati Tae Jun sebelum menikahi Hana.

Hyung, Tae Jun lapar,” suara anak itu terdengar memelas ditambah gerakan menarik-narik ujung kaus Kai –membuat senyum geli muncul di bibir lelaki itu.

“Tae Jun mau makan apa?” Kai sedikit membungkukkan tubuhnya seraya menepuk puncak kepala Tae Jun dan refleks mencubit pipi gembul anak itu karena terlihat sangat menggemaskan saat mengerutkan kening untuk berpikir.

“Ah! Kalau ayam goreng?” tanya Tae Jun antusias dengan kedua mata berbinar.

Joha!” Kai berhighfive ria sebelum menggenggam tangan mungil Tae Jun dan melangkah bersama di pedestrian menuju restoran ayam goreng yang tidak jauh dari sekolah anak itu.

Sementara Kai berdiri di depan kasir, Tae Jun sudah berlari lebih dulu mencari tempat duduk. Ia memesan apapun yang dilihatnya di menu –yang penting ayam goreng—dan menunggu beberapa menit sebelum membawa nampan berisi menu makan siangnya ke meja dekat jendela yang sudah ditempati Tae Jun. Ia meletakkan nampan di atas meja –dan duduk di seberang Tae Jun lalu meletakkan satu piring berisi paket ayam dan kentang goreng ke hadapan anak itu.

Ekspresi Tae Jun yang awalnya antusias kini berubah menjadi cemberut. “Kenapa tidak ada bumbunya? Tae Jun ‘kan suka ayam yang pakai bumbu manis.”

“Ah, jinjja?” Kai yang awalnya sudah bersemangat siap menyantap ayam itu kini kembali terdiam di kursinya. Bingung. Haruskah ia menukar ayam milik Tae Jun dengan yang baru?

Eoh. Eomma juga biasanya belikan paket ayam goreng bumbu yang dapat mainan,” bibir Tae Jun masih sedikit mengerucut dengan ekspresi tidak suka yang membuat Kai menghela napas panjang.

Itu berarti Kai harus merelakan uangnya membelikan paket ayam yang baru untuk Tae Jun. “Makan yang ini saja, eoh?”

“Tidak mau!” Tae Jun memasang ekspresi yang sudah mau menangis sambil menatap ayam gorengnya. “Tae Jun mau yang pakai bumbu dan dapat mainan.”

Dan demi Tuhan, Kai mulai panik karena perhatian orang-orang kini tertuju pada mejanya. Hembusan napas panjang bercampur dengusan pelan itu keluar dari bibir Kai ketika ia mengambil piring Tae Jun dengan gerakan sedikit kasar, membawanya kembali ke kasir dan meminta apa yang diinginkan anak itu. Sembari menunggu sang kasir memenuhi permintaannya, ia memijat pangkal hidungnya dengan pelan. Ternyata memiliki seorang anak tidak semudah kelihatannya saja.

“Berapa semuanya?” tanya Kai seraya mengeluarkan dompetnya dari saku belakang celana jeansnya saat kasir wanita itu kembali menyerahkan nampan miliknya yang sudah sesuai dengan permintaan Tae Jun.

“Biar aku saja yang bayar.”

Kepala Kai sontak menoleh pada laki-laki bertubuh tinggi yang tiba-tiba berdiri di sebelahnya dan menyerahkan selembar uang 50000 won di meja kasir. Oh Sehun. “Apa yang kau lakukan?”

“Membayar makanan Tae Jun,” Sehun menyunggingkan senyum tipis lalu mengambil nampan di hadapan Kai dan membawanya ke meja Tae Jun.

“Sehun hyung!”

Sebelah alis Kai terangkat ketika melihat interaksi keduanya dari kejauhan. Seingatnya ia atau pun Hana tidak pernah mengenalkan keduanya secara langsung selama ini. Oh well, mungkin Hana pernah secara tidak sengaja mengenalkan keduanya karena Sehun adalah adik Jae Hee. Tapi seingatnya juga, Hana tidak pernah cerita tentang perkenalan keduanya. Apalagi melihat kedekatan Tae Jun dengan Sehun –yang sama seperti dengan dirinya.

Kai duduk kembali di kursinya dan melihat Sehun yang duduk di hadapannya –bersebelahan dengan Tae Jun, membantu anak itu melepaskan daging ayam dari tulangnya. Kenapa sekarang ia malah cemburu melihat kedekatan keduanya?

“Sejak kapan kau kenal Tae Jun?” tanya Kai, tidak bisa menyembunyikan nada kesalnya.

Sehun melirik ke arah Kai sambil menepuk kepala Tae Jun. “Sejak dia belum lahir.”

“Ha Ha,” Kai membuat gestur tertawa tanpa ekspresi sebelum menyantap makan siangnya sendiri dengan jengkel.

“Apa kau tidak pernah sadar?” tanya Sehun lagi, membuat Kai hanya mengangkat kepala sedikit untuk melihat lelaki itu.

Sehun menunjuk dirinya sendiri lalu memindahkan telunjuknya ke arah Tae Jun –yang sibuk menghabiskan ayam. Dan Kai hampir tersedak saat menyadari sesuatu karena keduanya duduk bersebelahan. Kenapa ia tidak pernah sadar kalau Tae Jun dan Sehun terlihat sangat mirip?

“Apa maksudmu?” Kai bertanya di sela-sela usahanya agar tidak terbatuk ketika ia melihat senyum miring terulas di bibir Sehun.

“Oh Sehun dan Oh Tae Jun. Mungkin kau harus bertanya pada Hana setelah ini.”

Oh, shit. Kai bahkan tidak pernah sadar bahwa marga keduanya sama.

***

Hari-hari yang dilewati Hana kini selalu dipenuhi kehadiran Sehun. Sering sekali kehadiran lelaki itu membuatnya risih setengah mati. Apalagi jika sudah mengganggu jam kerjanya –dengan minta ditemani makan siang, karena ia akan mendapat teguran dari atasannya. Ia takut Kai akan memergokinya bersama Sehun –di dalam satu meja yang sama dan bertanya banyak hal padanya. Untuk saat ini, ia belum bisa menceritakan masa lalunya pada Kai.

Di jam pulang kerjanya sore itu, Hana bahkan menemukan Sehun berdiri di depan tempatnya bekerja. Bahkan hanya dengan setelan kaus putih yang dilapisi jaket baseball dan celana jeans, penampilan lelaki itu berhasil menarik para pengunjung di dalam restoran dan orang-orang yang melewati pedestrian. Hana memutar bola matanya –malas lalu berjalan mendahului Sehun.

“Lee Hana,” Sehun cepat-cepat mengejar Hana dan menyamai langkah wanita itu.

Ck, jangan mengikutiku,” tanpa mau melihat Sehun, Hana melangkah cepat –walaupun tiap langkahnya masih kalah dengan langkah Sehun.

Tanpa aba-aba Sehun menarik tangan Hana, membuat langkah wanita itu terhenti tiba-tiba dan tubuhnya limbung –terjatuh ke pelukan Sehun. Kedua mata Hana membulat dan cepat-cepat menjauh dengan pergelangan tangan yang masih dicengkeram lelaki itu.

“Kenapa kau selalu menghindar?” Sehun menyeringai sambil berkacak –sebelah pinggang, menatap Hana dengan kening berkerut. “Aku sedang berusaha memperbaiki diri tapi kau selalu menghindar, Hana-ya. Apa kau benar-benar tidak mau memberiku kesempatan?”

“Sehun-ssi,” Hana merasakan panas di pergelangan tangannya, ia memperhatikan orang-orang yang mulai melirik ke arahnya –dan Sehun karena menghalangi jalur pedestrian.

“Kau bahkan masih memanggilku seformal itu,” Sehun berdecak pelan tanpa melepas tangan Hana. Ekspresi Sehun tiba-tiba melunak, dengan hembusan napas panjang ia kembali menatap Hana. “Hana-ya… Tolong jangan seperti ini.”

Kedua mata Hana segera mencari fokus yang lain, menyadari bahwa ia lemah dengan tatapan sendu milik Sehun. Dan Sehun termasuk seorang laki-laki yang bisa melakukan apapun agar keinginannya dipenuhi, termasuk berlutut di hadapan orang banyak. Jadi sebelum itu semua terjadi –dan mempermalukan dirinya juga, Hana mengangguk kecil seraya menarik tangannya dari cengkeraman Sehun.

Ara,” Hana menjawab singkat lalu melangkah mendahului Sehun, namun tidak secepat tadi. Membiarkan mantan kekasihnya itu berjalan di sampingnya. Hembusan napas panjang keluar dari bibir Hana begitu menyadari bahwa ia baru saja membuat masalah baru dengan membiarkan Sehun kembali ke hidupnya.

“Aku sedang membuat tabungan pendidikan untuk anak kita.”

Anak kita.

Jantung Hana sempat berhenti beberapa detik dan bulu kuduknya meremang karena suara berat Sehun yang menyebut kata-kata ‘keramat’ itu. Sontak Hana menoleh dan menemukan senyum simpul di bibir Sehun. Bahkan ada rona kemerahan yang terlihat samar di pipi lelaki itu jika diperhatikan dari jarak dekat.

“Sejak kapan Tae Jun jadi anakmu juga?” tanya Hana sarkastik dengan sebelah alis terangkat.

Sehun mengusap tengkuknya sambil tersenyum simpul dan melirik Hana takut-takut. “Aku banyak berbuat salah di masa lalu, Hana-ya. Jadi aku berusaha memperbaiki semuanya sekarang. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali ‘kan?”

“Terserah.”

Kepala Hana sedang berdenyut sakit dan tidak mau menambah sakit kepalanya hanya karena bertengkar dengan Sehun. Ia membiarkan Sehun berspekulasi seperti itu dan apapun yang ingin dilakukan lelaki itu di hidupnya, asalkan tidak mengambil hak asuh Tae Jun darinya.

Tidak ada perbincangan yang terjadi lagi hingga Hana menginjakkan kaki di depan gedung apartemennya. Ia berbalik menghadap Sehun yang terdiam dengan kedua tangan di dalam saku celana. “Kau tidak akan masuk ke dalam ‘kan?”

Wae? Aku mau melihat Tae Jun dulu,” Sehun mengerutkan kening heran ketika Hana menghela napas panjang dengan kedua mata terpejam. “Ah, ada Jong In di dalam?”

Eoh. Aku masuk dulu,” Hana berujar dingin lalu mendorong pintu kaca memasuki gedung apartemennya, meninggalkan lelaki itu di belakang. Tidak mau mendengar ucapan Sehun yang bisa menambah sakit kepalanya.

Hembusan napas panjang keluar dari bibir Hana begitu menginjakkan kaki di lantai apartemennya, ia menekan bel di pintu apartemennya sendiri –menunggu Jong In membukakan pintu. Menit berlalu dan Hana masih betah berdiri sambil menekan bel berkali-kali. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas untuk menghubungi Kai –yang mungkin tertidur, namun pandangannya lebih dulu menangkap sosok kekasihnya yang baru menginjak anak tangga terakhir.

Senyum Hana mengembang, ia memasukkan ponselnya kembali sambil menunggu Kai yang menghampirinya. “Habis darimana? Tae Jun mana?”

“Dari supermarket di bawah. Tae Jun main ke apartemen Nayeon,” nada dingin yang dilontarkan Kai sambil membuka pintu apartemen, membuat kening Hana berkerut heran.

Tidak mau ambil pusing –karena kepalanya masih bedenyut sakit, Hana masuk ke apartemennya mendahului Kai. Melepaskan mantel panjangnya untuk ditaruh di sandaran sofa lalu beranjak ke dapur, mencari aspirin di salah satu lemari konter dapur. Belum sempat Hana menemukan aspirin untuk meredakan sakit kepalanya, Kai tiba-tiba saja berdiri di hadapannya dan menghalangi konter dapur.

“Jong In, aku harus cari—.”

“Apa kau dan Sehun sudah sedekat itu sampai harus pulang bersama?” pertanyaan skak mat dari Kai membuat tubuh Hana menegang.

Rasa sakit di kepala Hana semakin menjadi dan ia segera mengalihkan pandangannya dari tatapan dingin lelaki itu. “Aku tidak sengaja bertemu Sehun di jalan. Dia pergi ke rumah temannya di dekat sini.”

“Lee Hana,” Kai menyeringai pelan sambil berkacak pinggang, tidak percaya dengan alasan yang dibuat wanita di hadapannya. “Kau tidak sedang berbohong ‘kan?”

“Untuk apa bohong, Jong In? Minggir sedikit aku mau cari aspirin,” Hana masih tidak berani menatap kedua mata kekasihnya dan berusaha sekuat tenaga mendorong tubuh Kai yang menghalangi lemari konter dapur.

Kai menyingkir –pada akhirnya, memperhatikan Hana yang pura-pura sibuk mencari aspirin dengan tatapan kosong. Kedua tangannya terkepal, dan ia sulit sekali menarik napas karena rasa sakit di dadanya saat menyadari Hana kembali berbohong padanya. Selama ini ia percaya bahwa Hana bisa kembali membuka hati untuknya, namun ia baru sadar bahwa wanita itu tidak sepenuhnya membuka hati. Hana masih tidak terbuka di dalam hubungan mereka.

Sakit rasanya ketika mengetahui masa lalu Hana dari orang lain.

“Han-ah… Kenapa kau tidak mau jujur?” tanya Kai sontak membuat tangan Hana terhenti.

Dan demi Tuhan, kepala Hana sakit –ditambah aspirin yang tidak juga ditemukan di dalam lemari, pertanyaan Kai membuat moodnya semakin buruk saja. “Jong In, aku sedang jujur sekarang. Kau yang tidak percaya.”

“Kalau begitu, apa hubungannya Tae Jun dan Sehun?” kali ini Kai menyadari perubahan raut wajah Hana, bahkan tangan wanita itu mencengkeram pinggiran konter dapur saat mendengar pertanyaannya. “Mungkin kau bisa jelaskan kenapa Tae Jun dan Sehun memakai marga yang sama.”

“Jong In,” Hana mengambil napas dalam-dalam, mencoba mendorong rasa sesak yang mengganjal di kerongkongannya.  Ia mengangkat kepalanya untuk balas menatap Kai, dan ia merasa semakin sesak saat menemukan tatapan dingin –sekaligus terluka di mata lelaki itu. “Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang.”

Wae?” Kai masih berusaha menekan emosi yang meluap-luap di dalam kepalanya agar tidak berteriak pada Hana. Tapi sungguh kesabarannya sudah hampir habis karena Hana malah terdiam di hadapannya. “Wae?!!”

Kedua mata Hana terpejam, rasa sesak di kerongkongannya berubah menjadi air mata yang mulai mendesak keluar dari matanya. Kepalanya sakit dan Kai tidak membantu sama sekali. “Kenapa kau ingin tahu?”

“Astaga,” Kai mengusap wajahnya frustasi. “Kau kekasihku, Lee Hana. Dan kau harusnya cerita tentang masa lalumu, bukan aku yang mencari tahu dari orang lain.”

Heol. Kau mencari tahu masa laluku?” tanya Hana tidak percaya dengan kedua mata membulat. Tiba-tiba ia merasa marah pada lelaki itu.

“Kenapa kau tidak pernah cerita?”

“Aku punya alasan sendiri kenapa belum menceritakan masa laluku, Jong In. Apa kau merasa puas saat tahu semuanya tentang masa laluku?!” tanya Hana dengan mata berkaca-kaca, tidak bisa menahan rasa kecewa pada kekasihnya sendiri.

“Oh ya? Lalu sampai kapan kau akan menyimpannya sendiri, Han-ah? Atau kau memang tidak pernah mau menceritakannya padaku?” Kai membalas dengan nada tidak kalah tinggi dari Hana, tidak peduli bahwa Hana mulai menitikkan air mata. Hatinya sakit, dan ia merasa gagal sebagai kekasih karena belum bisa mendapat kepercayaan sepenuhnya dari Hana. Jika Hana sudah berbohong mengenai masa lalunya, apalagi yang akan ia dapatkan di masa depan? Kebohongan lain?

Hana malah terisak sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya. Kepalanya sakit dan ia tidak sedang ingin bertengkar dengan Kai. “Kau pikir semudah itu untuk percaya pada orang lain?!”

“Kau harus mencoba—.”

“Dan aku sudah bilang berkali-kali mengenai pekerjaanmu, Jong In!” Hana mengangkat wajahnya yang dipenuhi air mata, menatap Kai yang masih memasang ekspresi kesal. “Alasan paling utama kenapa aku belum bisa percaya sepenuhnya…. karena pekerjaanmu!.”

Kai mendecak pelan seraya mengalihkan pandangan, diam-diam menyeka air mata yang menetes melalui sudut matanya. Berkali-kali ia berusaha meyakinkan Hana mengenai perasaan dan kesungguhannya untuk bersama wanita itu. Tapi usaha Hana untuk mempercayainya hanya sampai sini saja?

“Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan ini,” Kai kembali menurunkan nada suaranya, berusaha melunak di antara pertengkaran mereka. “Aku memang menyukaimu. Aku juga menyayangi Tae Jun. Tapi sulit rasanya meyakinkan diri untuk benar-benar memilihmu, Han-ah.”

Kali ini Hana yang tertawa menyeringai sambil menyeka air matanya. “Keurae? Kalau begitu kita impas ‘kan? Aku belum percaya padamu dan kau juga tidak yakin dengan perasaanmu sendiri.”

Anhi, bukan tidak yakin, aku hanya—.”

Geuman,” Hana merasakan sesak di dadanya tidak kunjung hilang dan rasa pusing di kepalanya yang semakin menjadi membuat dunia seolah berputar. “Cukup sampai di sini saja, Jong In.”

Seolah ada petir menyambar di siang hari yang membuat Kai tidak sanggup berkata apapun. Sudah? Hanya sampai sini saja usaha Hana? “Han-ah.”

“Aku sudah berusaha mempercayaimu, tapi hanya sampai sini saja,” Hana kembali mengangkat kepala, menatap sepasang iris cokelat gelap milik Kai yang kini terlihat terluka karena ucapannya. “Kalau kau juga belum yakin dengan perasaanmu, kenapa aku harus berusaha menyerahkan kepercayaanku?”

Kai masih kesulitan mengambil napas ketika melihat Hana menarik kasar kalung pemberiannya lalu memaksa kalung itu masuk ke telapak tangannya. “Han-ah…. Aku tidak mau putus.”

“Kita sama-sama butuh waktu berpikir. Tolong jangan buat perasaanku terbang terlalu tinggi, kalau pada akhirnya kau menjatuhkannya lagi, Jong In. Aku tidak mau merasakan sakitnya lagi,” Hana menggigit bagian dalam bibirnya, tidak peduli walaupun bibirnya terluka karena menahan perih yang mengiris hatinya. “Dan aku tidak mau menyakitimu juga.”

“Apa ini karena kedatangan Sehun lagi?” Kai masih berusaha mengumpulkan nyawanya kembali dan tanpa sadar bertanya hal sensitif itu pada Hana.

Anhi. Tidak ada hubungannya dengan Sehun,” Hana memilin ujung kaus yang dipakainya, merasa sulit untuk melepaskan lelaki yang sudah terlanjur dicintainya.

“Kau bohong lagi, Han-ah,” Kai mengepalkan kedua tangannya, tidak peduli jika kalung berinisial ‘H’ di dalam genggamannya bisa saja patah karenanya. Toh hatinya pun sudah dipatahkan –lagi entah untuk yang keberapa kalinya oleh pemilik kalung itu. Mungkin benar jika ia dan Hana masih harus berpikir mengenai hubungan mereka jika belum ada rasa saling percaya satu sama lain.

Hana mengabaikan rasa amis di dalam mulutnya –karena terlalu keras digigit olehnya untuk menahan rasa sesak yang terus memenuhi dadanya. “Kepalaku sakit. Kau bisa pergi kalau urusannya sudah selesai.”

Keurae. Kalau hubungan kita harus sampai di sini, mungkin memang harus seperti ini,” Kai masih mengepalkan kedua tangannya, berusaha menahan diri agar tidak memeluk wanita di hadapannya. “Terima kasih sudah memberiku kesempatan, Han-ah.”

Tanpa membalas apapun, Hana bisa melihat punggung Kai yang menjauh dari hadapannya. Begitu mendengar suara pintu tertutup, Hana memerosotkan tubuhnya di dekat konter dapur sambil mengacak rambutnya sendiri. Menangisi kebodohannya karena membuat laki-laki sebaik Kim Jong In meninggalkannya. Ia dengan keras kepalanya menutup telinga, tidak mau tahu alasan kenapa Kai belum yakin untuk memilihnya. Padahal alasan itu menyangkut dirinya yang belum bisa sepenuhnya percaya pada lelaki itu.

Kepala Hana terangkat ketika menyadari kehadiran Tae Jun di sana. Ia melihat anak itu berdiri di hadapannya dengan ekspresi polos, menatap ke arahnya –yang pasti terlihat sangat berantakan sekarang.

Tangis Hana semakin menjadi, ia segera memeluk Tae Jun, menenggelamkan wajahnya ceruk leher mungil anak itu dan menumpahkan air matanya di sana. “Tae Jun-ah.. –Hiks—kita harus belajar hidup berdua lagi mulai sekarang.”

***

Harusnya Kai kembali ke apartemen dan menenangkan diri setelah pertengkaran hebatnya dengan Hana –dan putusnya hubungan mereka. Namun sore itu ia pergi lebih awal ke Triptych, mengambil satu botol wiski dari balik meja kerja Minho dan hanya duduk bersandar di dalam ruang staff. Tidak memedulikan tatapan heran dari beberapa pelayan yang sedang membereskan Triptych –karena hari itu ia harusnya mendapat jatah libur.

Dan Kai berakhir meminum wiski sambil membayangkan apa yang sudah dilaluinya bersama Hana selama ini. Lebih dari enam bulan bersama tentu meninggalkan banyak sekali kenangan di hidupnya. Warna di hidupnya kembali menghilang. Ia tidak percaya bahwa Hana bisa dengan mudahnya mengakhiri hubungan mereka.

Jika berada dalam posisinya, mungkin orang-orang akan merasakan hal yang sama. Bagaimana ia bisa meyakinkan dirinya sendiri untuk memilih Hana jika wanita itu tidak bisa mempercayainya? Ia bahkan harus mencari tahu masa lalu Hana dari orang lain dan harus mendengar kebohongan yang kesekian kalinya dari bibir wanita itu. Rasanya sakit karena ia belum bisa jadi orang kepercayaan dari wanita yang dicintainya selama ini.

Kai kembali meneguk botol wiskinya yang sudah habis setengah botol. Ia beranjak bangkit dari sofa di ruang staff dan melangkah dengan limbung keluar dari sana, mengabaikan orang-orang yang tidak sengaja ditabrak olehnya. Lagu-lagu mulai dipasang di meja DJ dan beberapa pengunjung sudah mulai memadati lantai dansa Triptych. Di antara lampu-lampu yang berpendar, Kai bisa menemukan sosok laki-laki berambut madu yang tengah duduk di sofa bersama seorang wanita.

“Eh, kau sudah mabuk?” tanya Minho begitu menemukan Kai yang berdiri di dekat meja bar dengan mata sayu.

Anhi, aku belum mabuk,” Kai meletakkan botol wiskinya ke atas meja bar seraya menyeringai pelan. Mengabaikan balasan dari Minho, ia melangkah cepat ke lantai dansa, menabrak orang-orang yang ada di sana dan tetap memfokuskan pandangan ke arah Sehun –yang masih sibuk bercumbu dengan wanita di sofa.

Begitu tiba di depan meja, Kai segera menarik kerah Sehun dan melayangkan kepalan tangannya di rahang lelaki itu. Sontak wanita yang tadi bersama Sehun pun memekik sebelum melarikan diri. Sementara Kai tak henti-hentinya melayangkan pukulannya di wajah Sehun.

“Apa kau puas sudah berhasil merebut Hana, eoh?!” serunya seraya memberikan pukulan lagi di sudut bibir Sehun –yang sudah berdarah.

Sehun tersenyum miring lalu balas mencengkeram kerah kaus milik Kai dan mendorong lelaki itu terjatuh ke lantai. Ia kembali mencengkeram kerah lelaki itu sambil berlutut, menarik tubuh Kai hingga wajah mereka saling berhadapan. Tidak peduli keadaan Triptych yang menjadi hening karena pertengkaran mereka.

“Aku hanya berusaha mengambil kembali apa yang seharusnya jadi milikku, Jong In-ssi,” ujar Sehun dingin lalu memberikan pukulan telak –yang membuat sudut bibir Kai sedikit robek dan berdarah.

Tch, brengsek!,” Kai menyeka sudut bibirnya sendiri dan membalikkan keadaan dengan memberikan pukulan balasan. “Kau sudah menghancurkan hidupnya, brengsek!”

Dan pertengkaran keduanya pun tidak terelakan.

[DEEPEST MEMORIES] — 10TH PART CUT

7b6a419f57a693ccffcec37e45614044

Oh Taejun :3

tumblr_m9jy37PBYi1rb0akvo1_500

Oh Taejun :*

tumblr_m9k0l4huwk1rb0akvo1_400

Oh Taejun❤

IMG_20160801_111850

hawt bf

IMG_20160801_113749

hawt daddy


Ima’s Note :

Negara api menyerang!!!

Ada yg masih nungguin ff ini kah? hihi

Love ya, muah kiss :*

THANK YOU!! :3

With love,

IMA♥

92 responses to “{KIM TALES} DEEPEST MEMORIES — 10TH PART [BY IMA]

  1. PLIS KENAPA HARUS PUTUS JONGIN DAN HANA? HUUUUUUUUUU 😢😢
    WHY WHYYYY WAEE?
    Ini gak bisa……..plis kenapa sehun dtg di waktu yg gak tepat?
    plis nanti endingnya buat hana dan jongin aku gak setuju kalo hana sm sehun😦 uda ngebuang skrg malah balik lgi kaya org ga bersalah hiksss😦
    sedih

  2. sehun nya kok ngeselin sih?
    ima un bilangin aja ke sehun,masih banyak kok Hana yg lain contohnya aku
    semoga jongin sama Hana cepet baikan ya kasian taejun nya

  3. Why~why~why~
    Hanya ada kata why di kepalaku -_-
    Sebel deh sehunnn hihh ikut gregetan kyk jongin dah 😑
    Cutnyaa nangung banget -_-
    Nice kok 👍👍

  4. Yahh ga nyangka hubungan Hana sama Jong In berakhir, Sehun PHO nih :3

    Please jangan biarin Sehun dapetin Hana, lebih setuju Hana sama Jong In aja, dan semoga hubungan Hana – Jong In bakal segera membaik ^^

  5. wah yg ini ada fotonya taejun,lucu bgt ya ><
    waduh ini akhirnya jadi rumit begini nih, sedih bgt kalo jongin putus sama hana gitu aja, harusnya kan jongin sadar kalo hana jg pengen lupain sehun jadi biar gk salah paham begini. ini jangan2 demi hindarin sehun sama jongin si hana mau pindah jauh2 nih? makin hancurlah hati sehun sama jongin
    btw gw ngiri sama hana direbutin cowo2 ganteng –'

  6. aku masih nunggu banget kq kak,,,, yah kenapa harus putus si,,, kak ima pinter banget kalau bikin cerita sedih2 gini hua,,,, ayolah plisss sehun jangan ganggu hana lagi,,, kalau emang mau memperbaiki knpa harus ke trypict trus tiap malam,,,, ndak sabar nunggu next chap nya,,, semangat ya kak ima

  7. OH SEHUN, PERGI GAK LO???! Gue pengen gampar lo boleh ga???!! Astagaaaaaaa !!!!!!! (Padahal bias sendiri)
    (persetan)
    (ga dimana-mana selalu jadi orang brengsek)

    Hana juga kenapa sih malah mulai menerima kehadiran sehun? Gosh, just why. Sianida-in aja langsung !!!!!!

    By the way, Taejun lucuuuuuuuk. T____T
    Dia nama aslinya siapa ya? Hahaa. aduh lucu bangeet.

    Selalu ditunggu kelanjutannyaaa !!!! 😆😆😆

  8. OMGGGGGG sepanjang aku baca chapter 10 ini aku aku selalu tahan napas dari awal sampe akhir. ngena banget. badanku ngilu semua baca jongin-hana putus huaa gak mungkinnn. gimana ya tapi kedatangan sehun tuh emg bener bener asdfghjkl. bagus banget dong sehun dateng lagi buat tanggung jawab taejun segala macem. tapi liat dia kalo di club masi suka main sama cewe lain, aku jadi ga srek sama dia. jelas menang jongin. dia juga ada di club tapi bener2 pegang omongannya sama hana. emang hana yang masi terlalu penakut aja deh keknya buat jujur sama jongin. ugghhh aku malah kasian taejun juga nih. semangat ya kaa! kutunggu part 11 nyaaa<33

  9. sehun belum nyerah deketin hana :’
    yaampun plis jangan ada masalah lagi jongin sama hana :’ kenapa jadi makin rumit sejak sehun muncul :’ jongin nya juga terlalu memaksakan hana sih :’
    aak pokonya jangan sampe hubungan mereka bener2 berakhir :”

  10. arghhhhh nangis baca chapter ini gegara pertengkaran hana sama jongin. aku maklumin hana sih kalo dia emang mungkin belum siap nyeritain masa lakunya ke jongin. tapi seharusnya dia gak mutusin hubungannya dengan jongin. tau kan dimana jongin udah dengan sabarnya nungguin dia selama ini huhuhuhuhuh sehun ihhh perusak hubungan orang hahahahaha

  11. gue kira si Sehun udah berubah jadi laki2 baik2, tapi kenapa dy malah bercumbu ama gadis lain.
    Astaga mbk Hana sabar yah, pasti kebahagiaan datang padamu..
    Ngomong2 si Taejun lucu bnget, pengen ngarungin dy trus bawa pulang deh, hhahah
    Keep writing ya thor~nim.. Q bkalan nungguin ff ini..
    Banyakin moment Hana ama Sehun dong, hehehe.
    Gomawo fighting

  12. disini selalu setia menunggu…haduuhhh konflik utama mulai berkobar…bingung mau dukung mana??kalo mau di bilang salah yo mereka semua salah…kalo mau dibilang bener ya mereka semua punya alasana pembenaran…sehun yg ingin memperbaiki masa lalu, hana yg menata hati dan diganggu sehun, jongin yg ingin hana terbuka dg apaapun yg terjadi…
    kan hana jd kehilangan buat dua kali…ya semoga diwaktu kesendirian mereka…mereka bisa menemukan jalan keluar masing2 yg terbaik…tetep maunya hana sama jongin aja…jongin yg cuma dj aja hana masih sulit apalagi sehun yg kerjanya tiiiiiiiiiitt itu….

  13. Yg di tunggu akhirnya di posting juga … Sehun konyol juga yeth… kaya org yg ga tau malu, salah sendiri kenapa dulu dia ninggalin Hana kalo di masih cinta sama hana relain aja sih sama si jong in ribet amat.
    #emosinihsaya

    Lanjut yah author …..

  14. Kak Ima…. nyesek bacanya 😭😭
    Gk rela Jongin Hana pisah
    Gara gara oh sehun nih, jadinya kek gini
    *sorry bang 😀
    Huwa.. T.T pokonya mau balikan lgi. titik.
    Mau Jongin Hana balikan lgi.
    Mau Jongin Hana balikan lgi
    Mau Jongin Hana balikan lgi
    *mulai lebay
    Biarin aku yg alay ni ya, kak…
    Fighting, kak… !!

  15. Jujur di sini aku agak2 sebel sama sehun….gak cukup buat hana menderita tau2 sehun berusaha rebut hana dri jongin…hana plis jng pisah dri jongin…jrg2 ada org yg tulus sama cewe yg single parent…sehun sbnernya mo nebus dosa sih…

  16. Aduuhh sedikit bgt chapt ini..
    Emmm konfliknya mulai menegang
    Benrkan merka kai sm hana putus.
    sbnernya niat sehun apa si ke hana??
    Di depan hana sehun baik tp di blakang dia bre×××××.
    Ok lumayan agak lama ni ngepost ffnya
    Tp ggp d tunggu nextnya

  17. wae wae wae~
    kenapa hana harus pisah sama jongin ? sehun juga, kata’ya mau memperbaiki hubungan sama tapi malah kek gitu disana, duuuhhh ya jadi sebel banget sama sehun, aarrrghh

  18. Aaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh Sumpaaahhh aq sebel ama Hana… cukup Kai,,loe udah lbh dari cukup brkorban utk Hana,dan Hana yang gue sayangi malah menginjak2 harga diri Kai dgn sangat tdk trkira… #huaaaa #hikz3 mewek parah…
    Sebel ya ama si Tehun,dgn prcaya diri dan tanpa dosa main masuk2 aja ke kehidupan Hana,,, pasti Jaehee bakalan ngamuk kalo tau klakuan adiknya…iiiiihhhhh rasanya pngen mukulin Sehun… Hhhhhee tapi udah diwakilin Kai.. hajar Kai,ayo Kai terus,hajar Sehun sampai gk bisa bangun..hhahhahahaa #ketawaEpiL…

    Hikz3 kasian Taejunieee,,dia pasti sedih kalo tau Kai bklan gk dtang jemput skulah dan main ke apartemennya…hikkkkk

    Skali2 biar Hana jg bisa instropeksi diri dan biar tau siapa yang trbaik utk hiduupnya… #semoga lekas sadar Hana,,sblm aq brbuat lbh jauh #hhahhahahahaha #apadeh

    Semangat IMA… next chapternya jgn lama2 ya..hhhhheheheehe

  19. Apa cuma gua doang yg mau hana bali kan ama sehunn..
    Wkwkwkwk
    *gkliatposternyahanaamajonginkaliii…

    Ntahhlahh,tapi entah kenapa gua pengennn banget hana balikan ama sehun…
    Kan kasian taejun…
    biarin dia hidup bahagia bareng kedua ortunya,dan biar sehun nyari kerjaan lain
    Biar ngebahagiain taejun ama hana…
    Aku sukaa hana taejun sehun….
    Maaf berbeda dari yg lain…
    Tapi demi apapun saya suka hana kasih kesempatan ama sehun
    Udah itu aja…

    Makasih author Udh Bikin cerita seru kaya gini….

  20. ommo, hun mau ngmbil hanna dri jong
    duh jong ksian bgt
    pdhl udh cinta bgt sma hanna, hanna sih gak mau trbka sma jong

  21. Ko gini sih jadinya? Hana knp km tu gitu bangetttt….kai sabar dikit napa. Greget parah sm hubungan kalian sumpah. Apalagi sehun hrs muncul lagi napa? Judes aku sm kamu hunnn

  22. Aaaahhh beteee kenapa harus berakhir siii
    Sii Sehun bikin hubungan sii Hana ama Jongin jadii makinn ribett ajaa
    Disinik foto Taejunnya ngegemesinn yaaa
    Ditunggu kelanjutannya authornimm
    Fightinggg

  23. Aah mereka bertengkar kaaak. Gimana nasib Hana jadinyaa? Terus nanti Tae Jun bakalan tau gak kalo Sehun bapaknyaa? Penasaran banget dan aku tetap setia menunggu hihihi. Semangat kak 😊😊

  24. Aaaaaaaaaaa
    Sungguh. Mewek bgt baca chapter 10
    Ada ketakutan juga kalo taejun pengen bareng sehun 😭
    Hanna jongin yakin kan diri kalian. Kalo hubungan kalian masih bisa berlanjut
    Plissssss hanna jgn sampe balik lagi sama sehun. Kasian pria sebaik jongin yg selama ini tulus. Dan biarkan oh sehun bersamaku 😂😂😂

  25. sebel2 geli sama ini “Aku bukan ahjussi, Tae Jun-ah. Panggil Sehun hyung saja, ne? Dan aku tidak sengaja membuat ibumu menangis waktu itu,” heol lu bapaknya hun please! bisa2nya ga mau dpanggil ahjussi dan minta dpanggil hyung?! >..<
    imaa mian yo aku marah2 di chap ini ㅡ.ㅡ

  26. Sehun nyebelin ihhh yaampun hana sama jongin aihhh aku jdi ikut greget sehun pergi aja sono jauh2 dri hana biar hana sma jongin aja aih aih…….
    Sehun tengil bgt deh suer (padahal bias sendiri ini) 😂

  27. dichapter ini benci banget sama hana gatau kenapaaa kesel gapunya pendirian banget gitu. kan kasian kainya wooooi elahh sehun juga bilangnya mau nebus tapi malah gitu. garela hana sama sehun. kasian pas kai cemburu liat taejun sama sehun:(

  28. yaahh Han-Kai putuuss 😭
    duhh Hana masa masih nggak percaya aja sih sama Kai, dia kan selama itu selalu sabar sama Hana hueee 😢
    Sehun kek nya nggak serous deh sama Hana, dia mah nakal masa cium” cewe gitu 🙅

  29. IIIHHHH… APA-APAAN NIH!! Katanya mau balikan tapi kok bercumbuan ama wanita lain dibelakang. SEHUN BRENGS*K. Gue gak rela kalo hana ama sehun. Hana harus ama jong in. Titik gak pake komaaa..

    ~Tarik napas hembuskan~

    ~sekarang jernihkan kepala~

    Makin seru aja nih cerita. Author hebat sekali bikin org jadi gak sabar nunggu next part. Bahkan hatiku bergejolak gak sabar nunggu. Bahkan sampai terdengar dag dig dug .. #eh?

    Okee sekarang aku mau bilang HWAITING!! author/eonnie/saeng/kak ima/adek ima (gak tahu biodata kamu, jadi beginilah). Keep writing yaa. Kiss jauh dari aku.. emmuuahhh..

    #btw taejun imut bgt. Moga aja anakku bisa seimut itu nantinya.

    Kepanjangan ya? Soouurryyy..

  30. ikutan sakit hati jg baca part ini…
    sakit rasanya liat jongin hana pisah…

    knp jg jongin hrs nunggu hana untuk percaya pd ny, shrsnya jongin mantap kn dulu hatinya tuk milih hana, baru hana mau percaya pd ny..
    sumpah sedih deh liat mereka kalo hrs beneran pisah..

    ahkk… jd agak sebel sm sehun.. pasti sehun bakal ngmbil kesempatan ini tuk dekati hana..

    coba aja nanti kalo hana tau pekerjaan sehun..

    ok kak ima d tunggu klanjutannya..
    makin tegang ni baca ny..

    fighting

  31. sehun kenapa kamu datang dan mengganggu hidup hana , dia udah bahagia sama kai tapi kenapa kamu dateng dan menghancurkannya
    disahaat hana terpuruk kamu keman aja ehh girilan han udah bahagia sama kai kamu datang
    ahhh kesel sama sehun
    tolong satukan han dan jongin

  32. Sehun mau balikan tapi masih gitu sama perempuan lain.
    Sakit hati baca chap ini, gimana perasaan Hana-Kai yg terombang-ambing. Ditunggu lagi kak kelanjutannya

  33. ih jadi sebel sama sehun gara gara dia hana jadi bingung sm perasaannya sendiri aahhh plis jongin sm hana balikan lagi kangen moment kai-na plis kak imaa jangan bikin hubungan mereka berakhir gitu ajaa:((( pokoknya jongin sm hana harus balikan

  34. Pingback: {KIM TALES} DEEPEST MEMORIES — 11TH PART [BY IMA] | SAY KOREAN FANFICTION·

  35. Astaga rasanya sesak banget pas baca Jongin sama Hana bertengkar gitu, aku kasian banget sama Jongin. Hana egois banget, kalok pun semua itu berat buat dia harusnya dia tetap percaya sama jongin, paling gak ceritain kek dikit* tentang masa lalunya. Kalok Jongin dengar dari orang lain kan pasti rasanya nyesek banget. Aduhh aku jadi baper gini thor 😢😢😢😥 cepatan di post yaa next chapternya.
    Aku sangat menunggu & tetap semangat untuk menulis author, fanficnya keren 👌👍💋

  36. Aw! Sehun hot daddy banget yaa><

    Aku kira KaiNa itu paling ya cuma ribut-ribut kecil, eh taunya sekarang malah putus.
    Hana yang belum bisa percaya lagi dan Jongin yang gabisa ninggalin pekerjaannya.
    Sebenernya si kalo jadi Hana semua perempuan pasti bakal mikirnya 'gitu' sepercayanya kita tapi yaa taulah ya bar itu isinya kayak gimana. Jadi ya wajar kalo Hana masih bimbang dengan perasaannya.

    Semoga aja mereka balik lagi.
    Tapi entah kenapa ada perasaan pengennya Hana sama Sehun aja. Mwehehehe.

  37. Omg lagi2 kelewat chapter ini😂😂😂
    Wae????? Kenapa putuss????!?!?!?!?!?!?!?!
    Hana apa salahnya cerita sih huhu semua hanya salah pahammmmm
    Jadi sebel sama sehun deh huffffffff

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s