10 Steps Closer [8th Step]

10-STEPS-CLOSER-POSTER-3

Ziajung’s Storyline©

Casts: Park Chan Yeol | Choi Seo Ah

Genre: Romance, Angst, Marriage Life

Prev: [Prolog] | [1st Step] | [2nd Step] | [3rd Step] | [4th Step] | [5th Step] | [6th Step] | [7th Step]

[Extra] | [Extra 2]

Warning! Very Berry Long Part

———————————————–

8th Step

 

Tolong setelah ini, jangan berhenti mencintai Chan Yeol, Seo Ah-ya. Itulah permintaanku satu-satunya.

 

***

                Seo Ah berjalan ke sana-ke mari sambil membawa nampan berisi makanan. Dibantu oleh Yoo Ra, ibunya, dan beberapa pelayan keluarga Park, mereka menawarkan makanan untuk para pelayat. Berita itu sangatlah cepat. Belum sepuluh menit Seo Ah dan Chan Yeol tiba di rumah sakit, keadaan mereka semakin memburuk sebelum akhirnya meninggal.

Ya, mereka. Ayah dan ibu Chan Yeol.

Awalnya Seo Ah pikir, Chan Yeol salah bicara. Ia tidak akan begitu kaget kalau kenyataannya ayah Chan Yeol yang ‘kritis’. Tapi ternyata takdir berkata lain. Tanpa sepengetahuannya, ayah Chan Yeol sudah menjalani rawat jalan sejak tiga hari yang lalu. Dan hari ini, beliau bersama ibu Chan Yeol berniat menghabiskan liburan musim panas di sebuah kepulauan tropis. Namun naas, di perjalanan menuju bandara, mereka mengalami kecelakaan di jalan raya. Kecelakaan itu melibatkan satu mobil lainnya, tapi yang aneh hanya mobil yang ditumpangi ayah dan ibu Chan Yeol yang rusak parah. Sekaligus menewaskan seluruh penumpangnya—termasuk Supir Yoon, supir pribadi ayah Chan Yeol.

Sampai saat ini polisi masih menyelidiki kasusnya. Sedikit rumit karena kecelakaan terjadi di luar pantauan CCTV jalan raya. Kesaksian saksi sangat kurang sehingga keterangan yang dikumpulkan pun masih sangat sedikit. Yang Seo Ah dengar hanya ada sebuah mobil lain berwarna hitam yang ada di tempat kejadian, namun mobil itu tidak berpenumpang. Dugaan kalau ini adalah pembunuhan semakin menguat, tapi mereka belum bisa menuduh siapapun karena tidak ada bukti apapun.

Chan Yeol pun sedari tadi hanya diam saja. Ia tidak banyak memberikan kesaksian karena dirinya memang tidak tahu apa-apa. Pria itu berperan sebagai Sangju*, terus berdiri di dekat abu orangtuanya, menyambut pelayat yang datang untuk memberi salam. Yoo Ra memilih untuk membantu Seo Ah, karena jika ia terus berada di dalam, ia tidak akan berhenti menangis. Berbeda dengan Yoo Ra, Chan Yeol malah sama sekali tidak menangis.

Seo Ah menatap Chan Yeol, yang sedang menerima ucapan duka dari oppa dan adiknya, dengan tatapan khawatir. Wajah dingin Chan Yeol kali ini sama sekali tidak wajar, bisa Seo Ah lihat beratnya beban yang dibawa pria itu hari ini. Meski mereka tidak akrab, pastilah rasa kehilangan itu tetap ada. Apalagi ini sangat tiba-tiba.

Pandangan mereka bertemu. Melihat kekhawatiran yang besar tersirat dari mata Seo Ah, Chan Yeol mengulaskan senyum tipis seolah mengatakan ‘aku baik-baik saja’. Tapi Seo Ah tetap tidak merubah ekspresinya. Senyum Chan Yeol itu malah membuatnya makin khawatir. Seo Ah lebih suka Chan Yeol berteriak sampai mengumpat daripada tersenyum seperti itu.

Perhatian Seo Ah teralihkan saat seseorang, yang baru saja keluar dari ruang penghormatan, menyapanya. Seorang pria paruh baya dengan kacamata tipis bertengger di hidungnya. Ia memakai pakaian rapi seperti pelayat lainnya.

“Choi Seo Ah-ssi?”

Pikir Seo Ah, ia hanya satu dari beberapa rekan kerja ayah atau ibu Chan Yeol yang ingin mengucapkan bela sungkawa biasa. Tapi ketika ia menanyakan nama Seo Ah seperti itu, Seo Ah yakin kalau ia punya maksud lain.

“Ya?”

“Bisa bicara sebentar?”

***

                Seo Ah berjalan dengan gontai dari ujung lorong. Tidak banyak yang bisa ia tangkap dari pembicaraannya dengan—orang yang ternyata—Pengacara pribadi ayah Chan Yeol. Mereka hanya membicarakan kondisi ayah Chan Yeol akhir-akhir ini sebelum akhirnya pengacara itu menyerahkan sebuah amplop coklat kepada Seo Ah. Pria paruh baya itu juga mengatakan agar Seo Ah membukanya saat ia sedang sendiri.

Seo Ah melihat Chan Yeol keluar dari ruangan dan berjalan ke arah lorong satunya. Ia memperhatikan punggung itu sejenak sambil menghela nafas. Rasanya sangat sulit membaca hati Chan Yeol. Seperti yang pernah ayah Chan Yeol katakan pada Seo Ah, Chan Yeol hanya terlihat kuat di luar—lebih tepatnya berpura-pura. Berpura-pura kuat, berpura-pura tidak peduli, berpura-pura tidak membutuhkan bantuan apapun, tapi sebenarnya ia sangat membutuhkan itu.

Sosok Chan Yeol menghilang di belokan koridor, dimana ada tangga menuju atap. Meski tahu Chan Yeol tidak akan melakukan tindakan bodoh—seperti bunuh diri, contohnya—Seo Ah pun mengikuti langkah Chan Yeol. Amplop yang masih ia pegang, diremasnya kuat untuk menahan rasa sakit yang menyerang dadanya. Ia tidak suka menatap punggung Chan Yeol seperti itu.

Saat Seo Ah ingin berbelok, sebuah tangan menahannya, membuat Seo Ah berbalik. Lee Ji Eun menahan lengannya cukup kuat dengan dahi berkerut. Seo Ah membalasnya dengan tatapan tidak suka. Sejak sesi cerita mereka kemarin dan pengakuan Chan Yeol, ia semakin tidak menyukai wanita berwajah seperti rubah ini (well, menurut Seo Ah, wajah Ji Eun memang mirip rubah. Cantik tapi mengerikan). Rasanya Seo Ah mampu berteriak di depan wajahnya dan mengatakan jangan pernah mendekati Chan Yeol lagi—seperti yang dilakukan beberapa orang gadis kepadanya saat SMA dulu karena melihatnya berdekatan dengan Kim Jong In. Tapi itu kekanakan! Belum lagi di sini sedang banyak orang.

“Biarkan dia sendiri.” Kata Ji Eun.

Seo Ah tanpa sadar mendengus, dan melepaskan lengannya dari tangan Ji Eun. “Kenapa?”

“Aku lebih mengenal oppa, kali ini ia membutuhkan—“

“Aku istrinya.” Potong Seo Ah. Tegas namun tetap menahan emosinya. “Aku lebih mengetahui apa yang tidak Ji Eun-ssi ketahui.”

“Apa?” Ji Eun mengangkat sebelah alisnya, lalu mendecih kecil.

“Aku sudah mengetahui tentang kalian, Chan Yeol-ssi sendiri yang bercerita padaku. Jadi aku harap Ji Eun-ssi menghentikannya, sebelum Ji Eun-ssi sendiri yang terluka.”

Ya—“

“Permisi.”

Seo Ah membalik badannya dengan angkuh dan berbelok di koridor, menuju tangga. Hatinya lega karena sudah mengatakan itu. Wajah Ji Eun tadi seperti ingin mengubur Seo Ah ditumpukan kotoran, makanya sebelum Seo Ah makin terpancing dan menciptakan keributan, ia meninggalkan wanita itu. Lagipula ini masih masa berkabung. Meski sangat ingin melawan Ji Eun, Seo Ah tetap ingat etika. Seluruh keluarga Choi dan Park ada di sini, ia tidak mau dipecat menjadi anak gara-gara saling menarik rambut dengan Ji Eun.

Embusan angin kencang langsung menampar tubuh Seo Ah begitu ia membuka pintu atap. Rumah sakit ini memiliki atap luas yang dilengkapi landasan helikopter. Seo Ah melangkah lebih jauh, dan menemukan sosok Chan Yeol berdiri di salah satu sisi sambil merokok. Seo Ah tidak pernah mengetahui sebelumnya kalau Chan Yeol merokok, tapi ia tidak protes. Meiihat pria itu begitu kosong dan rapuh, ia hanya mendekati Chan Yeol dengan langkah perlahan. Chan Yeol bahkan tidak menyadari kehadirannya. Pria itu tetap menghisap batang rokoknya, melempar pandangan ke arah aliran Sungai Han di kejauhan sana. Angin musim panas menerbangkan rambutnya, membuatnya terlihat makin menyedihkan.

Seo Ah pun berdiri di sebelah Chan Yeol, meletakkan tangannya di pagar pembatas yang sebatas dadanya. Chan Yeol akhirnya menyadari kehadiran Seo Ah, ia pun menoleh lalu mematikan rokoknya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Seo Ah sambil tersenyum.

“Hm. Hanya sedikit lelah.”

Chan Yeol menghela nafas panjang sebelum kembali menatap pemandangan di hadapannya.  Bangunan-bangunan simetris itu memantulkan cahaya matahari, membuatnya tampak seperti kristal berkilauan. Chan Yeol teringat saat pertama kali datang ke Seoul bersama ayahnya. Ia tidak berhenti menatap kagum bangunan-bangunan tinggi itu. Bahkan dengan noraknya, Chan Yeol menjulurkan kepala dari jendela mobil sambil berteriak kegirangan. Ayahnya tidak memarahinya, malah ikut tertawa senang. Itulah hari pertama Chan Yeol tidak teringat ibunya sama sekali.

Perasaan Chan Yeol sangat rumit sekarang. Ia membenci ayahnya, tapi kenangan-kenangan kecil itu tidak berhenti berputar di kepalanya.

Tangan Seo Ah terulur untuk mengusap rambut Chan Yeol. Chan Yeol pun kembali menoleh, tapi Seo Ah tidak menurunkan tangannya. Tidak ada lagi senyuman seperti pertama kali menyapa tadi. Seperti mengerti hati Chan Yeol, wanita itu hanya diam dan menatapnya dalam.

Merasa pertahanannya akan hancur sebentar lagi, Chan Yeol membalik tubuhnya, bersender di pagar pembatas. Ia mengadahkan kepala, menatap langit yang sangat cerah dengan awan putih. Menghitung satu sampai sepuluh untuk menghalau air mata di ujung matanya. Sial sekali. Di hadapan wanita ini, Chan Yeol selalu kehilangan kekuatannya. Ia terus-terusan menunjukan kelemahannya.

Seo Ah , di sebelahnya, pun ikut berbalik badan.

“Sebelum membawaku ke Seoul, abeoji sudah sering mengunjungi kami di New York. Eomma memang tidak pernah marah, tapi dia selalu mengatakan kalau abeoji tidak perlu mengunjungi lagi meski kami berdua tahu, abeoji akan terus datang.

“Dia sangat baik padaku, selalu membawakanku mainan baru dan makanan lezat, dan menemaniku belajar. Dia selalu bilang kalau aku tidak perlu mendengar ucapan teman-teman yang selalu mengejekku dan ibu, karena bagi abeoji, kami berdua sangat berharga. Itulah mengapa aku tidak pernah menangis meski seluruh sekolah mengatakan aku anak haram dan ibuku hanya wanita murahan.”

Mata Chan Yeol menerawang, dan untuk pertama kalinya Seo Ah melihat Chan Yeol tersenyum saat menceritakan ayahnya. Kenangan itu seperti terjadi di depan mata Seo Ah. Bagaimana Chan Yeol kecil tertawa saat bersama ayahnya, ibu Chan Yeol yang terus melarang ayah Chan Yeol untuk datang lagi, dan ekspresi Chan Yeol yang menahan diri untuk tidak menangis saat hinaan itu dilempar untuknya. Chan Yeol ternyata sudah merasakan kerasnya hidup sejak kecil.

“Aku, yang waktu itu masih sangat kecil, menganggap kecelakaan ibu adalah kiamat. Aku tidak tahu harus berbuat apa selain menangis sepanjang hari dan terus mengutuk pengemudi yang melarikan diri itu. Sampai abeoji datang, dan mengajakku tinggal bersamanya di Seoul.”

Kemudian, wajah Chan Yeol menjadi murung. “Kukira eomma satu-satunya wanita, tapi ternyata abeoji sudah menikah lebih dulu dengan eommeoni dan memiliki Yoo Ra. Sejak itu, entah kenapa kepercayaanku pada abeoji menurun. Aku tidak lagi senang saat ia membawakan mainan atau makanan lezat.

Eommeoni juga tidak membiarkanku hidup tenang. Karena statusku yang merupakan ‘anak dari selingkuhan’, ia terus menekanku. Kalau dipikir lagi, hinaan itu tidak ada apa-apanya dari hinaan yang kuterima dari ratusan orang di New York, tapi aku tidak bisa berhenti menangis. Aku merasa dibuang dan dikhianati oleh abeoji.”

Chan Yeol yang berumur sepuluh tahun waktu pindah ke Seoul, semakin tertekan ketika namanya sudah resmi menyandang nama Park. Dunia memandangnya berbeda. Rumor itu tersebar dengan cepat, status ‘anak haram’ mulai melekat padanya sejak saat itu. Tidak ada lagi sosok pelindung seperti ibunya, bahkan ayahnya pun mulai mendingin.

Chan Yeol masih mencoba untuk bergantung pada ayahnya sekali lagi. Di sela kesibukannya, Chan Yeol selalu berusaha tetap berbicara kepada beliau, menceritakan apa yang terjadi di sekolah, meski hanya dibalas dengan senyuman tipis atau bahkan tidak menerima tanggapan. Pikiran-pikiran buruk terus berputar di otak Chan Yeol; kenapa ayahnya berubah? Sampai suatu hari ia mendengar sendiri ibu tirinya membicarakan tentang harta warisan dan Chan Yeol yang menerima hak penuh atas itu. Tapi bukan hanya itu yang membuat Chan Yeol terkejut. Pernyataan ayahnya bahwa ia hanya ingin memanfaatkan Chan Yeol untuk menguasai Golden benar-benar menghancurkan hatinya.

“Aku tidak percaya lagi pada siapapun.” Lanjut Chan Yeol dengan senyum pahitnya.

Tapi, bohong jika Chan Yeol mengatakan ia tidak sedih hari ini. Lagi-lagi ia kehilangan keluarganya—meski sudah lama ia tidak menganggapnya begitu. Chan Yeol memang sudah bisa berdiri sendiri sekarang, tapi kenyataan ini membuat pertahanannya goyah. Rasanya ada dua sisi di dalam dirinya yang terus berdebat sampai kepala Chan Yeol sakit.

Pelukan hangat menyelimuti Chan Yeol. Seo Ah meletakkan kepala pria itu di bahunya, mengusap rambut dan punggungnya dengan lembut. Meski itu kisah yang menyedihkan, Seo Ah senang Chan Yeol menceritakan itu. Setidaknya hanya dengan ini Seo Ah bisa mengurangi beban di hati Chan Yeol.

“Tidak apa-apa.”

Satu kata* yang terus Seo Ah ulangi di telinga Chan Yeol, membuat pria itu menembus pertahannya. Chan Yeol balas memeluk Seo Ah. Tangisannya tumpah di bahu Seo Ah. Dulu Chan Yeol memang anak cengeng dan manja. Tapi ketika kerasnya kenyataan yang ia terima, ia berubah menjadi pribadi dingin, arogan, dan tangguh. Chan Yeol menganggap ini pertama kalinya ia menangis—menangis keras sampai nafasnya tercekat di tenggorokan.

Seo Ah juga menangis, namun ia menahan suara tangisnya. Ia terus menggigit bibir bawahnya sambil mengusap punggung Chan Yeol. Meski ia tidak pernah mengalami kejadian seperti Chan Yeol, Seo Ah seolah bisa merasakan sakit itu di sekujur tubuhnya. Entah karena Chan Yeol terlalu kuat memeluknya atau karena batin mereka sudah terhubung—ini salah satu pikiran konyol Seo Ah karena terlalu banyak menonton drama tengah malam.

Seo Ah tidak menyuruh Chan Yeol berhenti menangis. Ia membiarkan pria itu menumpahkan segala bebannya. Mungkin dengan begini, ia bisa memberikan Chan Yeol sedikit kekuatan.

“Aku akan selalu ada di sini. Kau tidak sendirian….” dengan suara sengau, Seo Ah berucap.

Chan Yeol melepaskan pelukannya sejenak sebelum kembali memeluk Seo Ah, kali ini ia yang membawa kepala Seo Ah bersender di dadanya. Saat itulah suara tangis yang Seo Ah tahan terdengar di telinga Chan Yeol.

“K-Kau… kau jangan menahannya sendiri. Kau bisa mengeluh padaku dan menangis lagi, aku tidak akan menyuruhmu berhenti. Aku tidak akan meninggalkanmu.”

Chan Yeol sebenarnya ingin tertawa mendengar ucapan cheesy Seo Ah yang diucapkan sambil menangis itu. Namun ia hanya terkekeh pelan, tidak mau merusak suasana. Diendusnya wangi mawar kesukaannya dari rambut Seo Ah.

“Terima kasih.”

Di sisi lain atap gedung ini, Lee Ji Eun berdiri sambil mengepalkan tangannya. Ia merasa dikhianati, meski ia sendiri sadar kalau hubungan mereka sudah berakhir lama. Tidak, bukan itu. Chan Yeol yang dulu ia kenal tidak suka saat seseorang mencampuri urusannya. Ji Eun selalu membiarkan Chan Yeol sendirian dalam masa sulitnya, sampai pria itu datang kembali padanya seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Terus begitu, itulah kenapa hubungan mereka bisa bertahan lama. Tujuh tahun bukanlah waktu yang sebentar—tujuh tahun sudah cukup untuk Ji Eun mengenal luar-dalam Park Chan Yeol.

Tapi mereka tidak menyadari, toleransi yang masing-masing mereka tawarkan juga membuat diri mereka tidak terikat. Terlalu bebas. Dan ketika salah satu pihak terlalu nyaman dengan keadaan itu, keadaan berubah drastis. Ji Eun sama sekali tidak mengenali Chan Yeol yang tengah berpelukan sambil menangis bersama Choi Seo Ah di sana. Ia kesal dan marah.

Ji Eun tidak bisa membiarkan ini.

***

                Sehari setelah pengkremasian ayah dan ibu Chan Yeol, keluarga besar Park yang terdiri dari Park Sang Yoon—paman Chan Yeol, Park Na Rae—bibi Chan Yeol, Park Yoo Ra, juga Chan Yeol sendiri berkumpul di ruang makan rumah utama, rumah yang mendiang kedua orangtua Chan Yeol dan Yoo Ra. Mereka ditemani pasangan masing-masing, serta paman dan bibi Chan Yeol membawa anak-anaknya sekalian. Mereka duduk melingkari meja makan besar yang terbuat dari kayu jati impor. Di ujung meja, duduklah pengacara pribadi Park Seung Hyun.

Ya, hari ini pembacaan wasiat dari beliau.

Udara di sini berubah menjadi sedingin es, meski mereka sama-sama tahu ini masih pertengahan musim panas. Perang dingin antar keluarga sangat terasa di sini. Tanpa sepatah kata pun, Seo Ah bisa melihat mereka saling haus akan harta yang ditinggalkan ayah dan ibu Chan Yeol. Dan tidak lupa mereka melempar tatapan sinis ke arah Chan Yeol yang terus menatap lurus ke depan. Hanya Yoo Ra yang terlihat sedikit lebih tenang bersama sang suami.

Bukan rahasia jika orangtua Chan Yeol memiliki aset berharga yang bahkan mampu membeli sepuluh pesawat jet tanpa menjadikan perusahaannya bangkrut. Terlebih ayah Chan Yeol anak pertama di keluarga Park yang secara otomatis mendapat hak penuh sebagai penerus Golden, dan ibu Chan Yeol yang juga mendapat warisan yang lumayan dari mendiang orangtuanya dulu. Entah dibutuhkan berapa pasang tangan untuk menghitung deretan angka di rekening mereka.

Seo Ah hanya diam saja, di sebelah Chan Yeol. Sebenarnya ia tidak suka berada di sini. Maksudnya, ini masih suasana berkabung, apa etis membicarakan warisan sekarang? Tidak bisakah mereka menunggu sampai seratus hari? Namun sepertinya orang-orang di sini memegang prinsip ‘lebih cepat lebih baik’, sehingga jika Seo Ah protes pun, dia sama sekali tidak akan di dengar.

Pengacara Lee berdeham sekali untuk mendapat perhatian penuh. Ia pun membuka tas dan mengeluarkan beberapa dokumen dari sana. Wajah semua orang menjadi tegang. Bagi keluarga Park, ini jauh lebih mendebarkan dari pembacaan wasiat kepala keluarga sebelumnya. Waktu kakek Chan Yeol meninggal, semua tidak berharap banyak karena sudah pasti Golden akan diturunkan oleh Park Seung Hyun. Hanya beberapa aset kecil yang diberi kepada paman dan bibi Chan Yeol.

“Baiklah, saya akan membacakan beberapa wasiat yang ditinggalkan Tuan Park Seung Hyun, dan beberapa tambahan dari Nyonya Kim Bo Young.”

Sebagian orang di sana tersenyum mendengar ucapan Pengacara Lee, namun sebagian lagi merasa luka yang belum sembuh itu semakin melebar. Mereka tidak percaya kalau dua orang itu diam-diam sudah meninggalkan wasiat, seolah kematian ini sudah direncanakan.

Pengacara Lee membacakan beberapa pengantar yang ditulis Park Seung Hyun dan ketentuan lainnya. Sampai akhirnya hal yang ditunggu pun tiba.

“Lima puluh persen dari saham yang dimiliki Nyonya Kim Bo Young di Golden Group akan diberikan kepada cucu satu-satunya, Jung Jae Hyun, dan lima puluh persen lagi diberikan untuk publik. Sedangkan seluruh sahamnya di YK Group diserahkan untuk Park Yoo Ra, beserta asetnya yang berupa butik di Gangnam, Paris,dan Singapura.”

Wajah Yoo Ra mengeras. Ia tidak senang, juga tidak marah. Ia hanya kembali mengenang ibunya. Yoo Ra tidak butuh peninggalan sebanyak itu karena sama sekali tidak mengobati rasa kehilangan ini. Remasan di tangan Yoo Ra dari Jung Yong Hwa—suaminya—membuat Yoo Ra kembali kuat, dan menahan air mata itu.

Sedangkan Park Sang Yoon dan Park Na Rae masih tenang-tenang saja. Mereka merasa wajar kalau kakak iparnya melimpahkan segala kekayaannya untuk Yoo Ra. Mereka tahu sebenci apa kakak iparnya pada Chan Yeol—si anak dari wanita jalang itu.

Pengacara Park melanjutkan dengan beberapa tambahan kecil yang ditinggalkan Kim Bo Young. Park Na Rae tersenyum saat namanya disebut dan ia mendapat sedikit ‘hadiah’ dari kakak iparnya. Baek Se Yeon—istri Park Sang Yoon—juga ikut tersenyum tipis saat namanya juga termasuk dalam penerima ‘hadiah’ itu.

Lalu dilanjutkan dengan hal yang paling mendebarkan, pembacaan wasiat dari Sang Raja—Park Seung Hyun. Semua orang menegakkan tubuhnya, tidak terkecuali Chan Yeol. Bagaimanapun, ambisinya untuk menguasai Golden masih ada. Ketentuan-ketentuan umum dibacakan Pengacara Lee, membuat beberapa dari mereka menggerakkan kaki dengan tidak sabar.

“Lima puluh persen dari saham Park Seung Hyun akan diserahkan kepada para seluruh pegawai Golden Group.” Kata Pengacara Park. “Jung Jae Hyun, cucu pertama Tuan Park Seung Hyun, dan Park Yoo Ra, putri pertama beliau, masing-masing mendapat lima persen dari aset Golden Group atas nama Park Seung Hyun.”

Yoo Ra mengembuskan nafasnya saat Pengacara Lee menyebut namanya. Ia bersyukur ayahnya masih mengingat Yoo Ra. Berbeda dengan reaksi Yoo Ra, para bibi dan paman Yoo Ra malah terang-terangan mendengus geli. Ternyata kakak mereka sangat pelit untuk anak kandungnya sendiri, mereka jadi membayangkan apa yang akan diterima Chan Yeol. Mungkin satu unit apartemen saja rasanya sudah sangat sangat cukup. Tinggal sisanya bisa mereka nikmati.

Oppa, kau tidak lupa akan membagiku sedikit ‘hadiah’ itu, kan?” Na Rae berbisik pada Sang Yoon yang duduk di sebelahnya, lalu terkekeh.

“Tenang, aku sudah memikirkannya dengan rinci.” Jawab Sang Yoon dengan senyum lebar.

Pengacara Lee pun melanjutkan. “Dan saham atas nama Park Seung Hyun serta asetnya di YK Group, dan empat puluh persen dari aset Golden Group akan diserahkan kepada Park Chan Yeol.”

“APA?!”

Teriakan kompak itu mengisi ruang makan. Paman, bibi, beserta anak-anaknya tidak bisa mengontrol keterkejutan mereka. Kepala mereka langsung berdenyut, tidak percaya dengan apa yang baru mereka dengar. Bahkan Park Na Rae harus mengipasi dirinya sendiri karena sesak nafas. Mereka melempar tatapan membunuh pada Chan Yeol, tapi Chan Yeol masih diam di tempatnya, dengan posisi dan ekspresi yang sama.

“Bisa saya lanjutkan?” tanya Pengacara Lee, memecahkan ketegangan di sini.

“Silahkan, Pengacara Lee.” Yoo Ra menjawab dengan tenang, hanya dia satu-satunya yang tidak terpengaruh. Ia tahu, ayahnya pasti akan memilih Chan Yeol daripada serigala-serigala rakus itu. Meski agak tidak terima, Yoo Ra yakin ini keputusan yang sudah ayahnya pikirkan matang-matang.

“T-Tunggu!”

Pengacara Lee baru ingin membuka mulutnya saat tiba-tiba Sang Yoon menggebrak meja dan berdiri dari duduknya. Wajahnya merah padam, dan matanya menusuk tajam ke arah Chan Yeol. Nafasnya pun memburu seperti anjing liar yang marah karena buruannya dicuri anjing lainnya.

“Kenapa Seung Hyun memberikan seluruh hartanya untuk Anak Haram ini?! Apa kau tidak salah membaca?!” jari telunjuk Sang Yoon menunjuk kasar Chan Yeol yang duduk tenang di seberangnya.

Seo Ah bisa melihat rahang Chan Yeol mengeras. Seolah tahu Seo Ah bisa saja melakukan hal gila setelah mendengar ucapan kasar itu, Chan Yeol pun meremas tangan kiri Seo Ah di bawah meja. Seo Ah menatap tangan itu sejenak, ia mengerti. Digigitnya kecil bibir bawahnya, menahan diri untuk tidak menangis.

“Benar! Lagipula apa ini tidak aneh?! Mereka berdua sama-sama sudah menulis surat wasiat seolah sudah tahu akan mati!”

Gomonim*!” Yoo Ra memekik pada bibinya. Ia bisa saja diam saja saat mereka membahas Chan Yeol, tapi tidak dengan kedua orangtuanya. Seolah itu adalah hinaan terbesar! Apakah mereka sama sekali tidak merasa kehilangan?

Ya, Park Chan Yeol Pewaris Golden, tidak adakah yang ingin kau ucapkan?” tanya Sang Yoon dengan nada sakarstik. Melihat Chan Yeol sangat tenang membuat ubun-ubunnya mendidih. Anak itu sangat mirip Seung Hyun. Masih membekas jelas di ingatannya saat pengacara membacakan surat wasiat ayahnya yang mengatakan Golden akan sepenuhnya diserahkan pada Seung Hyun.

Sial! Hanya karena ia lahir tiga tahun lebih awal dari Sang Yoon, Seung Hyun bisa memiliki dunia.

“Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, saya mohon kalian untuk tenang.” Dengan suara tegas, Pengacara Lee menegur mereka. “Saya akan kembali melanjutkan.”

Park Sang Yoon membanting bokongnya untuk kembali duduk di kursi. Istrinya, di sebelahnya, memijit lengan atasnya, mencoba menenangkan. Tapi itu sama sekali tidak berguna! Suara Pengacara Lee yang masih bergema, diabaikannya. Mata Sang Yoon terus memicing ke arah Chan Yeol. Sial! Ternyata semuanya sia-sia. Ia tidak tahu Seung Hyun brengsek itu ternyata sudah bergerak lebih cepat dari yang ia perkirakan. Semua terdengar sangat matang dan terperinci.

Kalau begini, ia tidak punya cara lain. Ia akan merebut Golden dari tangan anak haram itu, tidak peduli dengan cara apa.

***

                Tengah malam, Seo Ah terbangun dari tidurnya. Sebenarnya ia tidak benar-benar tertidur, hanya menutup matanya sampai Chan Yeol—yang tidur sambil memeluknya—tertidur pulas. Perlahan, Seo Ah melepaskan pelukan Chan Yeol dan turun dari kasur. Ia berjalan menuju kursi kecil di dekat jendela, di mana tas tangannya tergeletak. Ia pun duduk di sana, lalu mengeluarkan amplop coklat yang dilipat dari tasnya.

Hari ini benar-benar penuh kejutan. Pembacaan hak waris yang membuat tubuh Seo Ah tidak berhenti gemetar. Seo Ah menatap tangannya yang masih terasa kebas. Chan Yeol meremas tangannya terlalu erat tadi, sampai Seo Ah tidak bisa merasakan aliran darahnya. Chan Yeol baru melepas genggamannya saat mereka tiba di kamar, masih di rumah orangtua Chan Yeol. Ya, mereka hari ini menginap di sini, bersama keluarga kecil Yoo Ra.

Sebutan ‘anak haram’ terus berdengung di telinga Seo Ah. Ia tahu, itu ditujukan untuk Chan Yeol, tapi jantungnya seperti diremas setiap kali mereka melemparkan hinaan itu. Tatapan mata tanpa suara yang dilemparkan para sepupu Chan Yeol, membuat nafas Seo Ah tercekat di tenggorokan, ia tidak bisa bernafas. Ia tidak bisa membayangkan apa yang dirasakan Chan Yeol. Pria itu benar-benar kuat, lebih dari bayangan Seo Ah.

Dengan membawa amplop coklat itu, Seo Ah melangkah menuju pintu. Beruntung karena Chan Yeol memiliki penyakit ‘susah bangun tidur’, sehingga Seo Ah tidak perlu bertingkah seperti pencuri amatir hanya untuk keluar dari kamar. Menutup pelan pintu kamar, Seo Ah pun menuruni tangga. Ketika sampai di anak tangga terakhir, ia melihat punggung ringkih Yoo Ra yang tengah duduk sendirian di bar dapur sambil berhadapan dengan sebotol Whiskey. Dilihat dari gaun tidur yang digunakan Yoo Ra, sepertinya wanita itu juga tidak bisa tidur.

Eonni.”

Yoo Ra menoleh. Ujung matanya sudah memerah karena pengaruh alkohol, tapi meski begitu ia masih sangat sadar. Ia pun tersenyum tipis pada Seo Ah. “Kau mau minum?”

“Iya.”

Entah kenapa hari ini Seo Ah juga ingin mabuk. Ia pun duduk di sebelah Yoo Ra, dan kakak iparnya pun menggeser gelas kristal lalu mengisinya dengan batu es dan Whiskey. Seo Ah meletakkan map yang ia bawa ke atas meja sebelum meneguk cairan kuning itu. Sudah lama ia tidak minum-minum seperti ini. Terakhir yang diingatnya adalah saat Se Hun mentraktirnya karena Seo Ah berhasil menjadi guru di SMA Yongsan Gangnam. Sekalipun Seo Ah ikut minum dengan rekan kerjanya, ia berusaha untuk tidak mabuk. Tapi hari ini ia ingin sekali meneguk alkohol banyak-banyak.

“Kau pasti sangat terkejut melihat keadaan keluarga kami.” Yoo Ra tersenyum pahit sambil menggoyangkan gelas, sebelum kembali menegak isinya.

Seo Ah tidak menjawab karena ucapan Yoo Ra tepat sasaran. Ia memperhatikan sosok kakak iparnya dari samping. Saat ini, Seo Ah sama sekali tidak mengenal sosok Yoo Ra. Wanita yang biasanya selalu mengumbar senyum hangat dan keibuan, kini tampak sangat menyedihkan. Terlalu banyak emosi yang ditanggungnya. Seo Ah pun merasa teriris melihat Yoo Ra tersenyum seperti itu.

Gomonim dan Sukbunim* dari dulu memang sangat ingin menguasai Golden. Keserakahan mereka melebihi anjing jalanan.”

Seo Ah bisa melihat jelas watak kedua orang itu tadi. Ya… meskipun ia tidak bisa mengelak kalau dirinya sendiri kaget dengan keputusan yang dibuat mertuanya.

Yoo Ra menoleh. “Kau dan Chan Yeol baik-baik saja?”

“Iya.” Jawab Seo Ah pelan.

Yoo Ra kembali mengisi gelasnya yang kosong dengan Whiskey sambil menghela nafas panjang. Ia pun meminumnya sebelum berkata pada Seo Ah. “Kau tahu, aku sangat membenci Chan Yeol.”

Meski terkejut, Seo Ah menyembunyikan ekspresinya. Kenapa seluruh orang di dunia ini sepertinya membenci Chan Yeol? Dengan perasaan yang tidak enak, Seo Ah menegak habis minumannya.

“Dia berhasil mengambil seluruh perhatian abeoji.” Yoo Ra lagi-lagi tersenyum pahit. “Bagaimana mungkin dia melakukan itu kepadaku?”

Ini pasti masalah warisan tadi. Jumlah yang Yoo Ra terima tidak sebanding dengan apa yang ayah mereka tinggalkan untuk Chan Yeol. Meski faktanya Yoo Ra mendapat hampir keseluruhan aset milik ibunya dan sedikit dari ayahnya, itu tidak akan mengalahkan Chan Yeol. Sebagai anak sah keluarga Park, tentu ini seperti penghinaan besar.

“Dari dulu, Chan Yeol selalu berhasil menarik perhatian abeoji. Itulah kenapa aku membencinya.” Lanjut Yoo Ra. “Tapi aku juga tidak bisa benar-benar membencinya.”

Seo Ah rasa, Yoo Ra sudah benar-benar mabuk. Selain suaranya yang mulai sengau, ucapan wanita itu juga mulai kacau. Padahal tadi ia bilang kalau dirinya sangat membenci Chan Yeol, tapi kemudian dia tidak benar-benar membencinya.

“Bagaimanapun dia juga keluargaku. Adik kecilku.” Lalu, Yoo Ra menegak alkoholnya sampai habis dan kembali mengisi gelasnya.

Mata Yoo Ra menerawang, senyuman tipis terukir di bibirnya—kali ini bukan senyum sinis. “Saat pertama Chan Yeol datang ke rumah kami, aku sudah bertekad untuk membencinya—seperti eomma membenci Chan Yeol. Tapi entah kenapa, dia selalu bisa membuatku melupakan niatan itu. Aku senang karena akhirnya memiliki adik.”

Yoo Ra dan Chan Yeol dari dulu memang jarang berbicara. Jarak umur mereka cukup jauh, lima tahun. Chan Yeol cenderung takut berbicara dengan Yoo Ra karena ibu mereka selalu mengawasi dan mengancamnya. Awalnya Yoo Ra sama sekali tidak mau berdekatan dengan Chan Yeol, mengingat anak itu adalah anak selingkuhan ayahnya—salah satu penyebab orangtua mereka sering bertengkar saat itu.

Tapi kemudian, ia sadar, itu bukan kesalahan Chan Yeol. Dia anak yang baik meski pendiam. Ia selalu mendengar ucapan ayahnya dan tidak pernah berbuat macam-macam di sekolah atau rumah. Sedikit demi sedikit, hati Yoo Ra tergerak. Ia mulai berbicara dengan Chan Yeol meski tanggapannya tidak seperti yang ia harapkan. Chan Yeol menjadi dingin kepada siapapun—Yoo Ra tidak tahu kenapa. Yoo Ra berpikir, mungkin memang lebih baik tidak berurusan dengan Chan Yeol. Tapi lagi-lagi ia harus mengubur niatnya itu.

“Saat aku SMA, Chan Yeol pernah menolongku saat ada teman laki-laki yang ingin mengerjaiku. Padahal dia masih kelas enam SD. Dan hasilnya, meski mereka pergi, Chan Yeol tetap babak belur.”

Yoo Ra terkekeh mengingat kejadian itu. Saat pulang sekolah, ibunyalah yang memarahi Chan Yeol habis-habisan dan menyebutnya ‘anak berandalan’. Ayahnya tidak berbicara banyak, hanya menyuruh Chan Yeol masuk ke ruangannya. Saat Chan Yeol dan ayahnya masuk, barulah Yoo Ra bercerita kalau tadi beberapa temannya ingin berbuat jahat dengan menarik paksa Yoo Ra ke sebuah tempat. Sekolah Chan Yeol dan Yoo Ra berada di satu blok, dan kebetulan Chan Yeol lewat saat itu.

Tidak hanya itu. Chan Yeol juga pernah melindungi Yoo Ra dari amukan ibunya ketika ia pulang telat karena pergi karaoke. Chan Yeol tiba-tiba saja keluar dari kamarnya dan menanyakan buku yang tidak pernah ia katakan sebelumnya.

                “Aku meminta noona mencari buku itu di perpustakaan Universitas Korea karena aku ingin membacanya.”

Dan bodohnya, Yoo Ra malah ikut dalam skenario itu dan membuat Chan Yeol yang harus menanggung semua omelan ibunya.

“Anak itu memang keras kepala.” Ucap Yoo Ra. Ujung matanya mulai mengeluarkan air mata. “Aku paham kenapa abeoji menyerahkan Golden padanya, karena Chan Yeol sangat keras kepala.”

Tidak, bukan itu. Ayahnya menyerahkan Golden pada Chan Yeol karena memang itu pantas ia dapatkan. Chan Yeol yang pekerja keras, pantang menyerah, hati-hati namun sedikit arogan memang dibutuhkan untuk mengurus Golden. Tidak bisa dibayangkan jika Golden diserahkan kepada orang-orang serakah itu.

Eonni….”

Merasakan sapuan tangan Seo Ah di punggungnya, Yoo Ra menghapus air matanya dan menegak alkohol sekali lagi. Ia menoleh pada Seo Ah. “Karena aku tidak sanggup menghadapi ‘keras kepala’-nya, maka kau yang harus menjaganya. Jangan pernah meninggalkan Chan Yeol, Seo Ah-ya.”

Seperti Yoo Ra, Chan Yeol pun hanya sendiri di dunia ini. Yoo Ra sudah memiliki suami dan anak, ia bisa bergantung pada keduanya untuk bertahan. Choi Seo Ah adalah satu-satunya yang bisa Yoo Ra mintai tolong. Ia tidak mau melihat adiknya tenggelam dalam keserakahan dan gelapnya dunia. Kehilangan orangtua untuk kedua kalinya bukanlah hal yang mudah, apalagi waktu itu Chan Yeol masih sangat muda.

Yoo Ra menghela nafas panjang. “Ah… sepertinya aku sudah sangat mabuk, omonganku jadi tidak keruan.” Ia pun bangun dari kursinya. “Aku masuk duluan. Selamat malam, Seo Ah-ya.”

Mata Seo Ah mengikuti Yoo Ra sampai wanita itu menaiki tangga dan hilang dari pandangannya. Seo Ah pun menghela nafas panjang dan mengisi gelasnya dengan Whiskey, lalu meneguknya setengah gelas. Ia salah satu penggemar alkohol, tapi ketahanannya dengan alkohol sangat rata-rata. Entah karena stres atau memang tubuhnya sudah tidak sekuat dulu, kepala Seo Ah sudah mulai terasa ringan, padahal ini baru gelas keduanya.

Seo Ah melirik amplop coklat yang masih tergeletak di sebelah gelasnya. Pengacara Lee memintanya untuk membuka amplop itu saat Seo Ah sedang sendiri. Kalau ini bukan tentang harta, pasti sesuatu yang berhubungan dengan Chan Yeol. Seo Ah takut sendiri. Ia takut kalau terlalu banyak kotak yang ia buka sehingga menyakiti dirinya sendiri.

Namun pada akhirnya, Seo Ah membuka segel amplop itu. Keremangan cahaya di tempat ini menjadi saksinya. Dengan tangan gemetar, Seo Ah pun mengeluarkan tiga lembar kertas dari dalam sana. Semua hanya berupa tulisan tangan Park Seung Hyun. Seo Ah berkali-kali menelan air liurnya sendiri, rasa pahit yang ditinggalkan Whiskey itu masih membekas, membuatnya makin gugup. Ia mengerjapkan matanya, berusaha fokus sehingga tidak ada satu kata pun yang terlewat.

Satu demi satu kata ditelusuri Seo Ah. Embusan angin kencang di luar menerpa pintu kaca yang memisahkan dapur dengan halaman belakang. Hujan deras sepertinya akan turun. Tapi Seo Ah tidak sekalipun mengalihkan pandangannya dari surat itu. Bersamaan dengan gemuruh dan bunyi hujan di luar, nafas Seo Ah mulai tercekat. Tangannya makin bergetar, seolah tanah pijakannya mengalami gempa dadakan. Mencoba mengurangi kekacauan yang terjadi di kepalanya, Seo Ah menyesap Whiskey-nya lagi. Namun kemudian, ia menyesal, kepalanya malah bertambah sakit. Udara di sekitar Seo Ah menipis, membuat jantungnya berdetak semakin cepat dan dingin menjalar dari ujung kakinya.

Seo Ah menangis. Buru-buru ia menutup mulutnya dengan satu tangan sebelum suara tangisan atau bahkan teriakannya membangunkan seisi rumah. Tidak! Yang baru dibacanya pasti hanya karangan konyol ayah Chan Yeol. Kisah seperti ini tidak mungkin ada di dunia nyata! Kisah tragis yang menyayat sampai ke tulang seolah tidak membiarkanmu bernafas barang sedetik. I-Ini… ini pasti hanya mimpi!

Ah! Mungkin Seo Ah hanya berhalusinasi karena ia terlalu banyak minum.

Tapi, sekeras apapun Seo Ah menampik fakta yang baru dibacanya, tulisan tangan ayah Chan Yeol masih berbunyi sama. Seo Ah mencakar wajahnya sendiri dengan air mata yang tidak berhenti. Suara tangis yang ditahan terdengar sangat menyedihkan. Seolah ingin memperburuk keadaan, hujan di luar mulai ditemani dengan petir dan guntur yang keras. Seo Ah sangat kacau, sampai-sampai ia tidak mampu berdiri dan jatuh bersimpuh di lantai. Kertas-kertas itu pun jatuh bersama Seo Ah, seperti mengejeknya.

Sekarang ia mengerti perkataan ayah Chan Yeol waktu itu. Sekarang ia mengetahui fakta sebenarnya, dan itu benar-benar menyakitkan! Seo Ah melukai dirinya. Jadi ini alasan mertuanya menyimpan itu rapat-rapat bahkan dari istri dan anak kandungnya. Karena ia ingin membawa rahasia menyedihkan ini bersamanya sampai mati.

Aku memenuhi janjiku sendiri, aku membawa rahasia ini sampai ajal menjemputku. Tolong setelah ini, jangan berhenti mencintai Chan Yeol, Seo Ah-ya. Itulah permintaanku satu-satunya.

***

                “Kau baik-baik saja?”

Chan Yeol tidak mungkin menanyakan itu pada Seo Ah kalau ia tidak melihat mata Seo Ah yang bengkak seperti bola pingpong. Kantung matanya juga terlihat jelas, seperti orang yang tidak pernah tidur seminggu penuh. Air mukanya pias, bahkan beberapa kali Chan Yeol menangkap Seo Ah sedang melamun. Ini jauh lebih parah dari waktu itu.

Seo Ah tersentak, dengan mata yang belum fokus ia menoleh. “Ya? Ah, aku baik-baik saja.”

Chan Yeol menempelkan telapak tangannya di dahi Seo Ah. “Kau sakit?”

“Tidak.” Jawab Seo Ah. Tapi karena ekspresi Chan Yeol terlihat tidak puas dengan jawabannya, ia pun menambahkan. “Aku hanya kurang tidur.”

Malahan Seo Ah tidak tidur sama sekali. Setelah puas menangis, Seo Ah kembali ke kamar saat jam menunjukkan pukul 3 pagi. Sudah masuk kamar pun ia hanya duduk di kasur dan terus memandangi wajah Chan Yeol. Air matanya kembali mengalir. Banyak yang ingin Seo Ah katakan pada Chan Yeol, tapi terlalu sakit untuknya—dan ia sendiri takut itu akan menyakiti Chan Yeol. Sampai akhirnya, sinar matahari mulai menyusup dari balik jendela. Buru-buru Seo Ah menghapus air matanya dan membangunkan Chan Yeol.

Chan Yeol menangkup wajah Seo Ah, yang tengah duduk di ujung kasur, lalu mengusap pipinya dengan ibu jarinya. Padahal orangtua Chan Yeol yang meninggal, tapi istrinya yang terlihat paling tertekan. Chan Yeol pun menghela nafas, sedikit perasaan bersalah muncul di hatinya.

“Kenapa?” Seo Ah mengulaskan senyum. Tangannya menimpali tangan Chan Yeol di pipinya.

“Mau ke rumah sakit? Aku mengkhawatirkanmu.”

“Antar aku ke rumah orangtuaku saja.” Ucap Seo Ah. “Boleh, kan?”

Seo Ah sangat butuh ketenangan sekarang. Udara di sini begitu menekannya karena di manapun Seo Ah berdiri, ia seakan melihat masa-masa berat yang Chan Yeol alami. Tapi ia juga tidak mau pulang ke rumah. Sendirian di sana akan membuatnya ingin menangis terus. Ia butuh seseorang—dan bukan Chan Yeol. Rumah orangtuanya adalah pilihan yang bagus.

“Baiklah.”

Meski Chan Yeol tidak paham apa yang membuat Seo Ah begini, ia tetap mengantarkan Seo Ah ke rumah orangtuanya di Bundang. Selama perjalanan, Seo Ah terus diam, menyenderkan kepalanya ke jendela. Chan Yeol menggenggam tangan Seo Ah, bermaksud menenangkan wanita itu meskipun sepertinya itu tidak berefek.

Chan Yeol turun terlebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Seo Ah. Wanita itu menghirup udara banyak-banyak, tapi ekspresinya masih sama. Chan Yeol pun menuntun Seo Ah masuk ke dalam tanpa banyak bertanya.

“Oh, kalian datang?”

Seo Ah tersentak dengan suara itu lalu mengangkat kepala. Oppa-nya berdiri di depan pintu dengan pakaian santai, tersenyum hangat menyambut keduanya. Rasanya Seo Ah ingin menangis sekarang juga melihatnya. Bukan hanya karena rindu tapi lebih ke perasaan haru karena ia masih mempunyai keluarga yang utuh dan saling mencintai. Melepas tangan Chan Yeol, Seo Ah pun berlari kecil lalu memeluk Jong Hoon.

“K-Kenapa?” meski membalas pelukan Seo Ah, Jong Hoon menatap Seo Ah dan Chan Yeol bergantian dengan panik. Apa mereka berdua sedang bertengkar?

“Dia merindukan rumah.” Jawab Chan Yeol, mengulaskan senyum tipis. Ia tidak mungkin mengatakan kejadian semalam yang membuat Seo Ah tertekan seperti ini.

“Memangnya aku tidak boleh ke sini?” tanya Seo Ah, sambil masih memeluk Jong Hoon.

“Bukan begitu. Kau harusnya menelepon dulu.”

Seo Ah mengangkat kepalanya. “Oppa sendiri, kenapa ada di sini? Tidak bekerja?”

Sebenarnya, Jong Hoon mempunyai apartemen sendiri dan tinggal di sana. Tapi karena sekarang sedang libur musim panas, sudah seminggu ini Jong Hoon ada di Bundang. Suasana statis dan kaku sangat tidak cocok di libur musim panas. Lagipula sudah lama ia tidak mengujungi orangtuanya.

“Ini kan liburan musim panas.” Jawab Jong Hoon sambil mengangkat bahunya.

Berbeda dengan Chan Yeol, pekerjaan Jong Hoon memang lebih santai. Choiseon Group hanya perusahaan kecil yang bergerak di pertambangan minyak. Dan karena posisi Jong Hoon masih ‘direktur’ di perusahaan, ia pun bisa mengajukan cuti beberapa hari di libur musim panas ini.

Appa? Eomma?” Seo Ah melongokkan kepalanya ke dalam, mencari keberadaan orangtuanya.

“Li-bu-ran.”

Seharusnya Seo Ah tahu, orangtuanya memang begitu. Seakan beberapa hari kemudian Choiseon akan bangkrut, mereka tidak pernah bosan berlibur. Mulai dari tempat-tempat wajar seperti Jeju, sampai—mungkin—perbatasan Korea pun sudah mereka kunjungi. Seo Ah sendiri heran, bagaimana mungkin ayahnya—yang sedikit serampangan itu—bisa menjalankan bisnis keluarganya dengan lancar padahal beliau lebih sering berpergian daripada berada di kantor.

“Kau baik-baik saja?” tanya Jong Hoon kepada Chan Yeol.

“Iya. Sudah lebih baik.”

“Baguslah.”

Daripada kehilangan orangtua, Jong Hoon tahu tekanan yang Chan Yeol dapatkan lebih banyak dari anggota keluarga Park yang lain. Seluruh Korea tahu seberapa banyak aset Golden Group. Tanpa ditanya pun Jong Hoon yakin, Golden seluruhnya jatuh ke tangan Chan Yeol.

Chan Yeol tetap berdiam di sana selama beberapa detik, memperhatikan wajah Seo Ah. Wanita itu terlihat lebih tenang di pelukan Jong Hoon. Jujur saja, sedikit perasaan cemburu muncul di hati Chan Yeol. Tapi ia tidak bisa berbuat banyak, apapun akan dia lakukan untuk membuat Seo Ah senang.

“Kau bekerja saja, aku akan di sini bersama oppa.”

Chan Yeol tersadar. Ia pun menyerahkan tas Seo Ah kepadanya. Kalau bisa memilih, Chan Yeol akan lebih memilih tinggal di sini bersama Seo Ah seharian daripada menghadiri rapat. Tapi di satu sisi, rapat ini sangat penting karena merupakan rapat direksi pertama pasca meninggalnya Park Seung Hyun—pemimpin Golden. Tentu akan banyak yang dibahas dan memakan banyak waktu. Belum lagi proyek kerjanya dengan Ji Eun yang akan berlangsung beberapa hari lagi. Mungkin Chan Yeol baru bisa kembali tengah malam nanti.

“Maaf karena aku tidak bisa menemanimu.”

“Hm. Tidak apa-apa.”

Awalnya Chan Yeol ragu, haruskah ia melakukan ini atau tidak. Jong Hoon ada di sana, dan suasana hati Seo Ah masih kacau. Tapi, seolah tubuhnya tidak mau mendengarkan otaknya, Chan Yeol maju selangkah, menangkup kedua pipi Seo Ah dan mencium bibirnya dengan ringan. Seo Ah terkejut pada awalnya, namun mulai mengikuti gerakan bibir Chan Yeol. Ciuman kali ini mampu melumerkan hati Seo Ah dan membuatnya hangat. Perlahan, jiwa Seo Ah kembali ke tubuhnya. Kekhawatirannya memudar.

Jong Hoon mengalihkan pandangannya dengan wajah memerah—dasar tidak tahu tempat! Kalau sudah begini, ia ingin segera mencari calon istri dan menikahinya hari itu juga. Jong Hoon bukannya tidak laku, ia hanya belum menemukan wanita yang tepat.

Chan Yeol pun menjauhkan bibirnya, lalu beralih mengecup dahi Seo Ah. “Hubungi aku kalau ada apa-apa.”

Seo Ah menjawab dengan anggukan dan senyum tipis. “Pergilah.”

“Jong Hoon-a, aku titip Seo Ah.”

“Eiy… memangnya aku tempat penitipan barang?!” balas Jong Hoon ketus. Sejujurnya, ia masih jengkel dengan adegan tadi. “Tentu saja aku akan menjaganya! Dia adikku.”

“Aku pergi.” Chan Yeol berpamitan sekali lagi, sebelum akhirnya membawa mobilnya keluar dari perkarangan rumah keluarga Choi.

“Baiklah… apa yang akan kita lakukan sekarang?” Jong Hoon menyampirkan lengannya di bahu Seo Ah, membuat adiknya—yang tengah menatap kepergian Chan Yeol—sedikit tersentak.

“Bermain basket?” jawab Seo Ah sambil mengerling. Alisnya naik-turun.

Call!”

***

                Seo Ah dan Jong Hoon sama-sama sudah banjir keringat. Mereka bermain basket di taman dekat rumah mereka yang lumayan sepi, hanya beberapa lansia yang duduk di bangku taman sambil menikmati angin sepoi-sepoi. Bunyi daun bergesekan dan suara air mancur berpadu indah dengan bau basah tanah karena hujan semalam. Pekikan Seo Ah dan Jong Hoon bagai musik pelengkap. Seolah taman ini sudah diklaim menjadi milik Choi bersaudara. dari dulu mereka suka bermain basket di sini, bersama Jun Hong juga.

Sudah lama Seo Ah tidak bermain basket, ia pun mau tidak mau mengaku kalah dari Jong Hoon. Meski lelah, perasaan Seo Ah meringan. Berteriak, berlari, sampai menarik-narik baju Jong Hoon mampu mengeluarkan emosinya sedikit demi sedikit. Ia pun tidak berhenti tertawa selama bertanding tadi.

“Tidak kusangka kau menjadi tua hanya dalam beberapa bulan.” Ejek Jong Hoon sambil mendribble bola basket. Dengan sombong, ia menghampiri Seo Ah yang sudah kelelahan.

Seo Ah menegakkan tubuhnya. Ia menyeka keringat yang mengucur dari dahi ke pipinya. Rambutnya yang diikat ekor kuda sudah kacau, sebagian menempel di pipinya yang basah. Matanya menatap Jong Hoon seolah ingin menendang bokong pria yang lahir 3 tahun lebih dulu darinya itu. Sial! Padahal dulu, orang tua ini selalu kewalahan menghadapi Seo Ah dan Jun Hong saat bermain basket.

Seo Ah menggerakkan lehernya. “Aku hanya jarang olahraga!”

“Benarkah?” Jong Hoon menangkap bola itu, lalu menyodorkannya tepat di depan wajah Seo Ah. “Atau jangan-jangan… Chan Yeol selalu menguras tenagamu setiap malam?”

YA!”

Seo Ah meringis, mencoba merebut bola itu tapi gagal karena Jong Hoon bergerak lebih cepat. Pria itu tertawa keras, menghindari tangan Seo Ah. Tapi Seo Ah tidak menyerah. Mengabaikan kaki telanjangnya yang terkena genangan air di lapangan basket, ia terus mengejar Jong Hoon. Sampai akhirnya ia berhasil mencetak satu angka.

Kelelahan, mereka pun sama-sama tiduran di lapangan basket. Langit yang cerah terlihat dari sela-sela rindangnya pepohonan. Nafas mereka mulai teratur, senyum masih terukir di wajah mereka. Jong Hoon melirik Seo Ah dengan ujung matanya, ia merasa bersyukur adiknya sudah tersenyum seperti itu. Ia sangat khawatir melihat wajah Seo Ah saat baru datang tadi. Matanya sembab dan dahinya terus berkerut, seperti menanggung beban yang sangat berat. Ia tahu, Seo Ah pasti terpukul dengan kematian mertuanya yang mendadak, tapi beban yang Seo Ah tanggung lebih dari kesedihan itu.

“Oppa.”

“Hm?” Jong Hoon menoleh.

Sambil masih menatap langit, Seo Ah bertanya. “Menurutmu Chan Yeol-ssi bagaimana?”

“Apa maksudmu?”

Merasa ada yang janggal dari pertanyaan Seo Ah, Jong Hoon pun duduk menghadap adiknya. Apa mungkin Seo Ah sedang ada masalah dengan Chan Yeol?

“Aku hanya ingin tahu pandangan orang lain tentangnya.”

Jong Hoon menghela nafas. Ia melipat kakinya di depan depan dada dan memeluknya. “Ya… dia tidak banyak bicara dan dingin.” Jong Hoon melirik Seo Ah, adiknya itu terlihat tidak puas dengan jawabannya. “Tapi dia pria yang baik.”

“Dia juga sangat populer. Kau tahu sendiri kan, anak laki-laki satu-satunya Golden Group—pewaris perusahaan besar, dengan wajah tampan dan kepribadian misterius, bagaimana mungkin dia tidak menonjol.”

Mendengar cerita Jong Hoon, sepertinya rahasia kelahiran Chan Yeol hanya diketahui keluarga saja. Ah, benar juga, mana mungkin perusahaan sebesar Golden mau sukarela merusak citranya—terlebih Chan Yeol-lah yang terpilih menjadi pewaris.

“Apa dia tidak pernah menceritakan tentang keluarganya?”

Jong Hoon mengangkat bahunya. “Bagi Chan Yeol, itu adalah topik yang paling dihindarinya. Sadar atau tidak, Chan Yeol selalu berhasil mengalihkan pembicaraan ketika kita sudah mulai menyentuh topik itu.”

Ya, Seo Ah sendiri pernah mengalaminya. Chan Yeol selalu bisa mencari celah saat Seo Ah mulai membahas ibu atau ayahnya. Kalau dari awal Seo Ah mengetahui fakta menyakitkan di balik sikap Chan Yeol itu, ia pasti tidak akan menanyakannya.

“Mungkin… orang yang tahu tentang itu hanya Lee Ji Eun.” Lanjut Jong Hoon. “Mereka sangat dekat, jadi siapa tahu.”

“Lee Ji Eun?”

Jong Hoon memejamkan mata, menyadari kalau ia sudah salah menceritakan hal itu. Seo Ah pun duduk di sebelah Jong Hoon, membuat pria itu makin tidak tenang. Mengingat Chan Yeol dan Ji Eun yang seperti paru-paru dan oksigen, mulut Jong Hoon bergerak begitu saja. Pasangan itu benar-benar fenomenal saat kuliah—campus couple.

“Maksudku, dulu mereka memang sangat dekat.” Jong Hoon menekankan kata ‘dulu’ dan kalimat lampau di ucapannya. “Tapi mereka benar-benar sudah berakhir sebelum kalian menikah kok, aku memastikannya sendiri.”

“Kenapa mereka bisa sangat dekat?”

“Kami satu klub tenis waktu kuliah, dan dia masuk organisasi yang sama dengan Chan Yeol. Tapi meski Ji Eun cantik dan dekat dengan Chan Yeol, ada rumor yang beredar kalau dia hanya anak angkat orangtuanya—itulah kenapa dia dipandang sebelah mata. Hanya Chan Yeol yang menganggapnya hal biasa, dan… ya, mereka menjadi akrab.”

Di kampusnya dulu, status menjadi hal yang penting. Ji Eun memang sangat cantik, pintar, dan mempunyai sikap seperti bidadari. Tapi rumor di sekitarnya membuat semua itu tampak buram. Orangtua Ji Eun meninggal saat dirinya masih balita, hingga Ji Eun kecil harus tinggal berpindah-pindah dari rumah kerabat satu ke kerabat lainnya. Sampai akhirnya mereka lelah dan menitipkan Ji Eun ke panti asuhan. Di sanalah ia bertemu dengan orangtuanya yang sekarang, sepasang suami-istri pemilik rumah sakit besar dan yayasan seni di Perancis dan Korea.

Entah kenapa Seo Ah mengerti kenapa Chan Yeol dan Ji Eun bisa akrab. Latar belakang mereka kurang lebih sama. Mungkin hanya dengan Ji Eun, Chan Yeol bisa bercerita. Ia paham kenapa Ji Eun seperti terus menekannya selama ini.

“Sudahlah… jangan dipikirkan.” Jong Hoon mengacak rambut Seo Ah, lalu memeluk kepala adiknya itu. “Itu hanya masa lalu, Chan Yeol benar-benar jatuh cinta padamu sekarang.”

Seo Ah mendecih, menyiku tulang rusuk Jong Hoon. “Sok tahu!”

“Kalau begitu, sekarang giliranmu bercerita.” Kata Jong Hoon sambil melepaskan kepala Seo Ah.

Seo Ah tidak yakin apakah ia harus menceritakan ‘kejutan besar’ yang baru ia lihat semalam. Menceritakannya akan kembali membuka lukanya yang sudah mulai sembuh. Ia juga tidak mau merubah cara pandangnya ke Chan Yeol. Benar, lebih baik tidak. Cukup hanya dirinya yang tahu, dengan begitu Chan Yeol pasti tidak akan terluka.

“Aku hanya belum percaya mereka sudah pergi.” Meski tidak berbohong sepenuhnya, Seo Ah mencoba menjawab. “Dan… aku bosan. Chan Yeol membatalkan liburan kami.”

“Eiy… dasar manusia robot!” dengus Jong Hoon. Dan tiba-tiba sebuah ide terlintas di otaknya. “Bagaimana kalau kita liburan bertiga, bersama Jun Hong juga?”

Oppa yakin Chan Yeol-ssi akan mengizinkannya?”

Saat Seo Ah mengusulkan liburan bersama Se Hun saja Chan Yeol sudah marah-marah, apalagi bersama saudara-saudaranya—yang sudah pasti memakan waktu lebih lama saat bersama Se Hun. Seo Ah yakin, ponselnya akan langsung meledak begitu mereka sampai di tempat liburan karena Chan Yeol tidak berhenti menghubunginya.

“Tenang saja,” kata Jong Hoon. Merasakan ponselnya bergetar, Jong Hoon pun merogoh saku celananya. “Diberkatilah kau, Choi Jun Hong.” Gumam Jong Hoon begitu melihat nama adiknya yang lain muncul di layar ponselnya.

Hyeong, kau sudah kembali ke apartemenmu, ya?!”

Seo Ah terkekeh mendengar suara Jun Hong yang memekik keras, bahkan Jong Hoon sampai menjauhkan ponselnya dari telinga.

“Aku sedang berada di taman bersama Seo Ah. Cepat kemari!”

Noona datang?!” lagi, bocah dua puluh satu tahun itu memekik keras. “Oke, aku ke sana!”

“Jun Hong akan ke sini?” tanya Seo Ah ketika Jong Hoon memutuskan panggilannya.

“Iya.”

Tidak sampai lima menit, teriakan Jun Hong terdengar oleh mereka. Laki-laki itu meletakkan sepedanya dengan sembarang lalu segera berhambur ke pelukan Seo Ah. Sebagai anak terakhir, Jun Hong memang paling manja, terlebih pada ibunya dan Seo Ah. Lihat saja sekarang, anak itu bertingkah layaknya kucing di dekat Seo Ah—terus menggesekkan pipinya di pipi Seo Ah.

Noona, aku sangat sangat sangat sangat sangat merindukanmu.”

“Aku juga.”

Lama-lama Jong Hoon jijik dengan kelakuan Jun Hong. Padahal umurnya sudah menginjak dua puluh satu, tahun ini. Bahkan tingginya sudah melebihi Jong Hoon, tapi tingkahnya lebih menjijikan dari anak TK. Jong Hoon pun akhirnya menarik kerah baju Jun Hong agar ia menjauh dari Seo Ah.

Ya, kau mau liburan bersama?” tanya Jong Hoon.

“Liburan?! Bersama Hyeong dan Noona?! Ke luar negeri?! Tentu saja!”

***

                Hari mulai berjalan normal untuk Seo Ah. Meski liburan dengan saudara-saudaranya—yang juga—ditunda karena Jun Hong (dengan bodohnya) melupakan masa magangnya di law firm seniornya, pikirannya sudah tenang. Seo Ah memilih menyimpan semua itu sendirian. Biar isi surat itu menjadi rahasia terbesar di hidupnya, ini lebih baik daripada menyakiti Chan Yeol.

Seo Ah sudah kembali ke rumahnya bersama Chan Yeol. Setiap hari, Seo Ah selalu menunggu Chan Yeol pulang meski dirinya sampai ketiduran di ruang tamu. Chan Yeol belakangan ini selalu pulang malam karena urusan perusahaan masih belum stabil. Pekerjaannya semakin banyak. Itulah kenapa Seo Ah juga berusaha menghibur Chan Yeol dengan memasak makan malam sendiri. Seperti mendapat energi baru, wajah lelah Chan Yeol pasti langsung hilang setelah mereka makan malam bersama.

Namun hari ini, Chan Yeol pulang lebih cepat dari sebelumnya. Seo Ah sedang menyiapkan makan malam saat Chan Yeol tiba di rumah. Pria itu langsung mendatangi dapur begitu mencium aroma masakan. Dulu, Chan Yeol pasti melewatinya begitu saja meski Yoon Ahjumma memasak makanan kesukaannya. Tapi sejak tahu akhir-akhir ini Seo Ah yang memasak, Chan Yeol bahkan rela pulang dulu ke rumah untuk makan malam sebelum ke kantor.

“Kau masak apa?”

“Oh, sudah pulang?” Seo Ah menoleh, ia melihat Chan Yeol berjalan mendekatinya lalu berdiri tepat di sebelahnya. “Haemultang*, bola-bola udang, tumis jamur, dan ikan panggang.”

“Jadi… hari ini temanya laut?”

Seo Ah tersenyum lebar sampai memperlihatkan deretan giginya. “Begitulah.”

“Baiklah. Aku akan mandi dulu, setelah itu kita makan bersama.”

“Iy—“

Seo Ah belum menyelesaikan ucapannya ketika Chan Yeol denga tiba-tiba mengecup bibirnya. Hanya sebentar, karena pria itu segera melesat menaiki anak tangga menuju kamar. Selama beberapa detik, Seo Ah hanya bisa mengerjapkan matanya, mencerna adegan tadi. Meski ia sudah sering berciuman dengan Chan Yeol, tindakkan tidak terduga pria itu selalu bisa membuat Seo Ah kembali ke masa remaja yang norak. Seo Ah belum sepenuhnya siap menerima perubahan sikap Chan Yeol yang drastis ini.

Tanpa diketahui Seo Ah, Chan Yeol pun sama kagetnya dengan wanita itu. Berkali-kali ia mengutuk dirinya sendiri, bahkan sampai seluruh badannya sudah kembali bersih. Ia selalu tidak bisa mengontrol dirinya saat berada di dekat Seo Ah. Saat di kantor pun rasanya ingin cepat-cepat pulang.

Chan Yeol baru keluar dari kamar mandi, saat ponselnya berbunyi. Pengacara Lee menelepon dan menyuruhnya untuk datang ke rumah utama. Dia juga mengatakan kalau paman, bibi, dan Yoo Ra sudah ada di sana. Ada sesuatu yang sangat penting terjadi, ini menyangkut Golden juga dirinya.

Chan Yeol pun segera berganti pakaian lalu turun menuju dapur. “Seo Ah-ya, aku harus ke rumah utama sekarang.”

“Eh?” Seo Ah, yang sedang merapikan meja makan, terkejut. Rumah utama? Apa ada sesuatu yang terjadi?

“Ada apa?” tanya Seo Ah.

“Entahlah. Kau makan saja duluan….”

“Tunggu. Aku ikut.” Seo Ah melepas apronnya dengan cepat. “Aku ingin ikut. Tunggu sebentar.”

Seo Ah segera melesat ke kamar. Kekhawatiran itu kembali menyerangnya. Firasatnya mengatakan kalau hal buruk akan terjadi, dan ia tidak mau Chan Yeol menanggungnya sendiri. Mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih sopan, Seo Ah juga menyapukan lipstik tipis hanya agar bibirnya tidak pucat. Setelah itu ia menghampiri Chan Yeol yang tengah duduk di sofa ruang tamu.

Perjalanan mereka berlangsung hening. Seo Ah terus meremas tangannya, sambil berdoa semoga saja pikiran buruknya tidak terjadi. Ini terlalu cepat. Seo Ah baru saja merasakan ketenangannya beberapa hari, tapi kini rasa takutnya dua kali lebih besar. Entah bagaimana ia harus bersikap nanti.

Mereka tiba di rumah utama. Orang-orang yang dilihatnya beberapa hari yang lalu duduk di tempat yang sama. Kehadiran Chan Yeol membuat suasana makin menegang. Semua mata mengiringi Seo Ah dan Chan Yeol sampai mereka duduk di kursinya. Seo Ah menunduk, ia tidak suka suasana ini lagi. Ia ingin segera pergi dari sini tapi di satu sisi, ia tidak mau meninggalkan Chan Yeol. Perang sudah dimulai. Seo Ah tidak ingin melihat Chan Yeol berdarah sendirian.

“Jadi, maksud saya memanggil kalian ke sini—“

“Tidak perlu berbasa-basi, Pengacara Lee.” Park Sang Yoon memotong ucapan Pengacara Lee dengan tidak sopan. Kemudian, matanya mulai beralih ke arah Chan Yeol. “Aku yang akan mengatakannya dengan jelas.”

“Park Sang Yoon-ssi!”

“Orang yang selama ini menyebut dirinya dengan Park Chan Yeol, ternyata sama sekali bukan seorang Park.”

“APA?!”


■■■

Sangju (상주)    : Pemimpin upacara (dalam bahasa Inggris disebur ‘armband’, karena mereka make band di tangannya itu loh)

“Tidak apa-apa” dalam bahasa Korea itu 괜찮다 (Gwaenchanda) , jadi dihitungnya satu kata hehe ^^

Gomo (고모님) : Bibi (dari pihak ayah)

Sukbu (숙부님): Paman (dari pihak ayah)

Haemultang (해물탕) : Sup Seafood

 

*aduuuh endingnya begitu yak. Aku bener-bener mentok bikin ending part ini T.T tadinya gak mau kayak gini, eh di detik terakhir aku belokin aja deh. Mau curhat dikit nih, lagi baper sama Zico jadi moodnya ilang di tengah-tengah. AHHHHHH rasanya mau ganti cast antagonisnya (tampar aku maz tampar!!)

 

Momen chaniel-nya gak banyak ya hehehe begitulah… tapi ada tamu yang dateng jeng jeng jeng CHOI SIBLINGS!! Hayooo yang udah pernah baca ff aku sebelumnya pasti kangen kan sama merekaaa. Tapi sayangnya udah gak bisa CJH lagi T.T gak ada Junhee…

 

Udah ah, dadaaaahhhh. Sehun-seoah yang wedding ada lanjutannya tapi nanti ah, aku lagi garing soalnya wkwkwk

 

Bonus *lope lope lope*

jun-jong

Choi Seo Ah – Choi Jong Hoon

tumblr_nzui6q8cL11rnkj5ho1_1280

Choi Jun Hong

 

 

Regards: Ziajung (vanillajune.wordpress.com)

 

 

97 responses to “10 Steps Closer [8th Step]

  1. y Mpun kaq..
    msalah ap lgi in..
    ap in isi surat yg d ksh ayah chan k seo ah…
    surat yg brisikn kalo chan bkn lh anggota park.
    ap sih in kaq ..
    ahhhhh.ksian am chan..
    mnderita truz dy….
    jdi pngen mluk chan .

  2. Gile dah yaampun seo ah sama cy bisa ae sekarang ye cie cie, cy jangan sampe lu loncat dari atas atap rumah utama itu kenapa si yawlohh chanyeol bukan seorang park? Ha kenapa? Kepo maksimal!!!!! Sumpiz dahh! see you next!!!!

  3. Jd itu rahasia di amplop coklat?
    Kisah keluarga chanyeol kapan kelarnya kalo.gini… nunggu moment seo ah chan

  4. Sebenernya apa yg dibisikin ayahnya chanyeol ke seoah?
    Ahhh penasaraannn ><
    Btw itu seoah jadi g liburannya?
    Next chap ditunggu, semangatttt

  5. ini maksudnya gmn deh..
    chanyeol anak dari laki-laki lain git?!?!😭😭😭😭😭🙈🙈🙈🙈
    penasaran niihh!!! ditunggu kelanjutannya💖💖💖💖

  6. ini maksudnya gmn deh..
    chanyeol anak dari laki-laki lain gituu?!?!😭😭😭😭😭🙈🙈🙈🙈
    penasaran niihh!!! ditunggu kelanjutannya💖💖💖💖

  7. Chanyeol jangan sedih ya, ada Seo Ah kok. Huhuhu~ Kaya ngeliat di depan mata waktu Chanyeol belain Yoora. Pengen nangis 😢

    Keluarga Seo Ah beda banget sama keluarga Chanyeol. Seo Ah bisa tenang bareng keluarganya, sedangkan Chanyeol….

    Ini apa? Kok Chanyeol dibilang bukan Park? Atau ini ada hubungannya sama surat yang ditulis Appa-nya Chanyeol buat Seo Ah? Penasaran…

    Ditunggu next chapternya ya. Keep writing ^^

  8. Isi suratnya apaaaaaaa. Terus itu maksudnya Park Chanyeol bukan Park itu gimanaaaa duuh. Penasaran nih. Ditunggu next chapternyaaaaa

  9. wooo… ko jadi tambah rumit gini sih.. huhu
    btw sneng bgt akhirnya chanyeol ama seo ah makin mesra aja hohho😀
    semangat..

  10. :”) ku bingung ingin mengatakan apa. Emosiku naik turun baca ini :”)
    awalnya aku kesel ya sama chanyeol karena dia cuma kayak memanfaatkan kehadiran seo ah, tapi makin kesini makin kasian sama si chanyeol😦
    Penasaran banget sama isi surat itu dan ternyata…. :)))))) ditunggu bgt kelanjutannya yaaa semangat teruus!! >,<

  11. Ini chapter paling teka-teki. Dan ending nya bikin penasaran. Please jangan buat chanyeol ditindas/nista. Gak siap kalo cy sedih terus 😭😭😭

  12. Banyak banget si teka teki dari chapter ini, surat yang seo ah baja itu isinya apa :”( terus tentang yang mereka disuruh ke rumah utama itu juga ada apaaaa😞 kak aku pengen butuh semua kejelasan😂😂 next chapter ditunggu

  13. Ini bacanya kpn komennya kpn, aku sih nunggu2 dan ngecek terus kpn ff ini update,pas udh diupdate seneng bngt lngsung baca aja tp komennya baru skrng haha (garuk tengkuk ga gatel)
    Pedih bngt baca chapter ini😥 ksian bngt chan hiks. Ksian jg seoah hrs nanggung perihnya sedirian gara2 surat dri ayah chanyeol tp apaan jg ya isinya jahat bngt sih author-nim bikin penasaran.
    Trus untung ada hiburan jg sama choi siblings yaa ngebayangin mereka bertiga akrab gtu menyenangkan sekalii hehe. Dan ga rela gtu chapter ini berakhir dibagian yg sungguh menegangkan itu hmm..

    Semangat ya nulis next chapternya, fighting!

  14. oh my…kasian cy d timpah musibah trus… keep strong…ini ff yg ak tunggu tiap minggu hehe… keep writing and hwaiting!

  15. OMG ENDINGNYAAA!
    yang bener aja Chanyeol jd bkn anak ayahnya? ….. atau aku yg salah ngerti? HIKS
    Jangannn plis gak mau liat chanyeol (oppa) menderitaaaa😦 NOOOO ANDWAEEEEEEE
    Jangan lama2 ya updatenyaa!!! Penasaran isi suratnya yg dikasih ke Seo Ah. Semoga di bongkar ya di chapter selanjutnya!
    Dan juga perbanyak plis momen chanyeol dan seo ah nya :(((((( mau liat ke-sweet-an merekaaa huhuhu

  16. endingnya apa maksudnya? bukan seorang Park? rumit banget hidup Chanyeol yampun Chanyeol yg sabar yah duhhh…
    apa yg di isi surat buat Seo Ah itu isinya?
    cieee Choi Siblings keluar cieee wkwk yuhuu Choi Jong Hoon lagi nyari buat istri, saya siap Mas wkwkwk

    di tunggu lanjutannya ya kak ❤

  17. apa chanyeol bukan anak tuan park. aku penasaran banget sama isi suratnya park seung hyun sampe seo ah terluka
    ditunggu part selanjutnya jangan lama2 ya kak wkwk

  18. Ditunggu banget banget next chapt nyaaaaaaa… astagaaaaaa… penasaran abiss sama idup nya ceyeee ><

  19. Lah ko bukan seorang “park”?? Masa chanyeol bukan ank kandungnya tuan park?? Duhh teka-tekinya makin bikin penasaran nihh. Ditunggu next chapternyaaa

  20. maksudnya apa ? park chanyeol bukan anaknya tuan park
    makin rumit aja critanya
    penasaran sm isi amplop yg d kasih ke seo ah
    lanjut baca chap 9 nya ternyata udah d post

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s