Dead Leaves ~ohnajla #BangtanFiction

Dead Leaves

ohnajla || Romance, slice of life, drama, songfic || oneshoot || PG-13 || Min Yoongi aka Suga BTS, Park Yoora (Chanyeol’s sister)

visit my blog: Starlight Universe

 

Musim gugur akhirnya datang lagi. Ini adalah musim gugur kelima setelah dia menghilang dari pandanganku.

Tiap jalan yang kulalui tak ada satu pun yang luput dari hujan daun kering. Semua tempat sama, daun-daun mati bercecer tak karuan di jalan, atap, bagian atas mobil, permukaan tanah, kolam, permukaan kursi taman, bahkan ada satu di atas pangkuanku.

Ingin kuraih dia, tapi angin tak tahu sopan santun seketika membuatnya terbang menjauhiku. Yah … tak ada gunanya juga kalau kukejar. Aku pun tak mau dia terluka jika kugenggam terlalu erat.

Itulah mengapa dia menghilang dari pandanganku.

Angin membawanya pergi.

Dan aku membiarkannya.

***

“Kenapa kau suka sekali pulang malam?”

Yoora selalu mengomel tiap kali Yoongi pulang dari kuliah mendekati tengah malam. Wanita yang usianya tiga tahun lebih tua dari Yoongi itu, tak habis pikir kenapa Yoongi selalu pulang selarut ini. Apalagi Yoongi itu masih kuliah, memangnya apa yang dilakukan mahasiswa jurusan musik sampai selarut itu.

“Membuat lagu,” jawab Yoongi santai. Dia melemparkan tasnya ke atas sofa depan LED TV, berlalu menuju dapur mencari minum di kulkas.

“Apa lagu sepenting itu daripada aku?” Yoora mengikuti kemana Yoongi pergi. Dia berdiri tepat di sisi kanan kulkas, berhadapan dengan Yoongi yang sedang meneguk minuman.

“Semuanya penting,” balas Yoongi, lagi-lagi tanpa beban. Dia memasukkan kembali botol minuman itu ke tempatnya, diakhiri dengan menutup pintu kulkas.

“Kalau aku juga penting seharusnya kau pulang lebih awal, jemput aku di kantor. Ini jadi tidak ada bedanya dengan kita hanya sebatas kenalan, Yoongi-a.”

Yoongi menghembuskan napas lelahnya. Tangan kiri masuk ke saku celana, tangan kanan mengusap tengkuknya yang pegal. “Aku menganggap ini penting karena ini adalah tugas akhir. Kalau aku hanya bermain-main dengan ini, aku akan mengulang lagi tahun depan. Bisakah kau mengerti sekali saja?”

Yoora menyilangkan kedua lengan di atas perut. “Tapi aku tidak suka melihatmu pulang malam terus. Lihatlah dirimu, kau sama sekali tidak memedulikan dirimu sendiri. Apa kau sudah makan? Apa maag-mu kambuh lagi? Kau tidak akan bisa menyelesaikan tugas akhirmu kalau kau sakit-sakitan, Yoongi-a.”

Pria berusia 23 tahun itu hanya manggut-manggut tak peduli.

Yoora menghela napas. Diuraikan lagi kedua tangannya ke sisi tubuh, kemudian bergerak maju, merangkul pinggang Yoongi erat, dan mendaratkan dagunya ke atas pundak kiri pria itu.

“Meskipun sibuk kau juga harus memperhatikan dirimu sendiri. Kalau kau sakit, aku akan sedih sekali.”

Perlahan Yoongi memindah tangan kanannya ke puncak kepala Yoora. Tangan itu sama sekali tidak bergerak. Yoongi sengaja seperti itu sementara hidungnya merangsek ke dalam lebatnya rambut Yoora. Tercium bau khas tersendiri dari rambut gadis itu. Aroma yang unik, satu-satunya yang sanggup membuatnya berimajinasi seluas jagad raya.

“Yoongi-a, kau belum menjawab pertanyaanku. Katakan, kau sudah makan atau belum.”

Yoongi menarik wajahnya, diikuti Yoora dengan perlakuan yang serupa. Namun mereka masih tanpa jarak, kedua tangan Yoora di pinggang Yoongi, dan tangan kanan Yoongi di kepala Yoora.

“Kau mau memasakkannya untukku?” tanya pria itu dengan seulas senyum di wajahnya.

Yoora mengangguk pasti, dia berjinjit, sampai ujung hidung mereka saling bersentuhan. Senyum Yoongi melebar, hingga menampakkan deretan giginya yang mungil bak gigi bayi.

Kedua tangan Yoora berpindah ke pipi Yoongi, mencubitnya gemas. “Kenapa kau imut sekali?”

“Hentikan itu. Kau tidak lelah berjinjit terus?” Yoongi menekan bahu Yoora dengan kedua tangannya. Mereka pun saling membuat jarak beberapa detik kemudian.

“Kau mandi saja, sambil menungguku selesai masak, oke?”

Yoongi mengangguk. Ia langsung melenggang menuju kamarnya tanpa menyisakan sepatah kata pun. Sementara itu Yoora dengan semangat membara langsung bergerak menyiapkan bahan dan alat untuk mulai memasak makan malam bagi kekasihnya. Benar-benar penuh semangat kalau semuanya adalah untuk Yoongi.

***

“Inikah lirik lagu yang sedang kau buat?”

Yoongi mengangguk sambil menampakkan senyumnya. “Bagaimana menurutmu? Bagus tidak?”

Yoora terkikik ketika membaca sebait kalimat di lirik tersebut. “Aku tidak peduli seberapa muda dirimu, berapa umurmu, meskipun kau punya anak yang disembunyikan di manapun, aku tetap mencintaimu. Apa-apaan ini maksudnya? haha.”

“Di manapun aku berada, denganmu, jika bersamamu, itu seperti kebun yang dipenuhi bunga. Lebih baik kau memegang tanganku daripada tas yang bermerek, jadilah orang yang penyayang daripada seseorang yang pencemburu. Mari menggambar masa depan kita seperti yang kebanyakan orang lain lakukan, mempunyai sepatu anak-anak di antara sepatu couple kita.”

Yoora terpana mendengarnya. Semua kata-kata yang diucapkan Yoongi benar-benar sama persis dengan yang tertulis di kertas lirik tersebut. Biji mata gadis itu bergerak ke tempat di mana Yoongi berada. Yoongi sedang menatapnya, dengan seulas senyum yang indah sekali. Seharusnya dia bertatapan dengan Yoongi saja tadi, jadi dia tahu sendiri keseriusan pria itu. Sayangnya dia terlalu fokus pada kertas lirik di tangannya.

“Apa kau selalu memikirkanku?”

“Menurutmu?” tantang Yoongi dengan senyum misterius.

“Aku tidak tahu. Cepat katakan saja,” desak Yoora sambil mendorong-dorong dada Yoongi.

“Bukankah kau sudah tahu jawabannya?” Kali ini Yoongi merebut kertas itu dari tangan Yoora, membacanya ulang sambil berbaring di sebelah gadis itu.

Yoora cemberut karena Yoongi telah kembali ke asalnya. Yoongi memang tidak pernah peduli pada hal-hal yang menurutnya sudah pasti dan tak menarik. Dia paling tidak suka berbasa-basi, meskipun Yoora sangat menyukainya. Membuang-buang energi untuk hal semacam itu bukanlah gayanya.

Yoora memindahkan kepalanya ke atas salah satu lengan Yoongi yang terbaring santai di dekatnya. Rasanya nyaman, meski tangan Yoongi tidak sepenuhnya terisi daging karena tangan itu ramping efek dari tubuh yang kurus. Tapi dari semua jenis bantal di dunia ini, lengan Yoongi lah bantal yang terbaik untuknya.

“Kau tidak sedang menyembunyikan seorang anak ‘kan?” ucap Yoongi tiba-tiba.

“Hah, kau ini bicara apa. Park Yoora ini hanya untuk Min Yoongi, tidak untuk lainnya.”

“Itu hanya berlaku kalau kau benar-benar mate-ku,” balas Yoongi sembari menyimpan kertas lirik itu di atas nakas.

“Jadi kau berharap kita tidak berjodoh, begitu?”

“Tidak, aku tidak bicara begitu.”

“Tapi makna dari kata-katamu begitu,” dengus Yoora dengan wajah cemberut.

“Ya sudahlah, terserah kau saja.” Yoongi perlahan mencoba memejamkan mata. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, sudah terlalu malam, dan dia harus segera tidur karena besok ada kuliah pagi. Namun energi orang di sampingnya membuatnya kesulitan tidur, mereka telah sepakat untuk tidur jam tiga. Yoora lah yang mengajukan ide tersebut, Yoongi harus membayar hutangnya apa pun yang terjadi. Maksudnya Yoongi harus menyisihkan waktunya untuk mereka berinteraksi lebih banyak.

“Yoongi-a, kau tidak boleh tidur dulu.”

“Eum. Aku hanya mencoba mengistirahatkan mataku.”

Yoora menghela napas. Diraihnya wajah Yoongi, sampai kepala pria itu menoleh dan terpaksa membuka mata. Awalnya Yoora ingin mengomelinya karena berusaha tidur dengan alasan mengistirahatkan mata. Tapi begitu melihat mata Yoongi yang merah, dia malah merasa bersalah sendiri.

“Yoongi-a, apa aku terlalu egois?”

“Tidak.”

“Kumohon jangan berbohong. Katakan saja yang sebenarnya,” desak Yoora tak terima.

“Aku mengatakan yang sebenarnya.”

“Kenapa kau selalu membohongiku?” Dipukulnya bahu Yoongi dengan keras. Berharap dengan begitu Yoongi akan menjawab sebaliknya.

“Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikirmu.”

Gerakan tangan Yoora pun terhenti. Ditatapnya nanar biji mata Yoongi.

“A-apa maksudmu?”

Pria itu menghela napas, cara yang selalu dia gunakan tiap kali sedang menekan emosi. “Semua pertanyaan yang selalu kau tanyakan, itu hanya ada dua kemungkinan jawaban, ya atau tidak. Tidak mungkin aku menjawab kedua-duanya atau tidak memilih satu pun. Kalau aku menjawab ya, itu berarti ya. Dan kalau aku jawab tidak, itu berarti tidak. Bisakah kau tidak menukar arti mereka?”

“Yoongi-a, apa kau marah?”

“Tidak,” jawab Yoongi tegas.

Yoora ingin buka mulut tapi urung dia lakukan. Tentu saja dia tidak percaya mengingat wajah Yoongi yang begitu tegang. Kalau dia mempertanyakan kebenarannya lagi, bisa-bisa Yoongi akan marah sungguhan.

“Baiklah.”

“Kalau begitu bisakah kita tidur sekarang? Ini sudah hampir pagi.”

Yoora mengangguk.

Yoongi mendekatkan wajahnya, menghadiahkan kecupan di dahi gadis itu. Kemudian dia bangkit, menyelipkan bantal di bawah kepala Yoora –menggantikan lengannya serta menyelimuti tubuh gadis itu sebatas bahu.

“Bangunkan saja aku kalau ingin kuantar pergi kerja.”

Yoora mengangguk. Yoongi pun mengusap puncak kepala gadis itu. Dan berlalu.

“Yoongi-a,” panggil Yoora ketika Yoongi baru saja meraih gagang pintu.

Jalja.”

Yoongi tersenyum tipis. “Ne.”

Cklek. Blam!

***

Mobil berwarna hitam keluaran dua tahun lalu, berhenti tepat di depan lobi sebuah gedung stasiun TV yang terkenal se-Seoul. Seorang pria berambut hitam yang tak lain adalah Min Yoongi keluar dari pintu kemudi. Dengan mata yang masih kecil-kecil, dia berjalan memutari mobil itu, membuka pintu mobil sisi yang lain. Dari sanalah muncul kaki ramping dan jenjang Yoora yang keluar beberapa sekon lebih awal dari kepala dan tubuhnya. Tinggi tubuhnya hampir menyetarai tinggi Yoongi. Gadis itu telah memakai baju kantor resmi, sepatu hak tinggi, make up tipis dan sebuah tas berukuran sedang keluaran terbaru yang terapit di ketiaknya.

Yoongi menutup pintu mobilnya setelah Yoora sudah berada di luar.

“Mau kujemput nanti?” tanyanya sambil menghadapkan tubuhnya pada gadis itu.

“Itu terserah padamu saja, aku tidak memaksa.”

Yoongi mengangguk. “Hubungi saja aku kalau tidak ada kendaraan.”

“Ya. Ng … Yoongi-a.”

“Hm?”

“Ng … bisakah nanti kau pulang lebih awal?”

“Ada apa?” tanya balik pria itu dengan dahi terlipat.

Yoora tampak ragu. Matanya tampak gelisah, seperti ada sesuatu yang sedang diinginkannya namun tak ingin dibicarakan.

Yoongi hafal betul sinyal-sinyal itu. Dia sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan gadis itu setelah ini. Jadi sebelum mendengarnya, lebih baik Yoongi saja yang menjawab.

“Baiklah. Akan kuusahakan.”

Kedua mata Yoora tampak melebar. “Serius ‘kan?”

Pria itu mengangguk. “Kalau begitu masuklah.”

Satu kecupan mendarat di pipi Yoongi. Pria itu hanya bisa mengerjap-ngerjapkan mata kecilnya, sambil memperhatikan punggung Yoora yang perlahan menjauh.

Sesuatu berdentum-dentum keras di gendang telinganya. Dia baru sadar, kalau mobilnya terparkir tepat di depan pintu masuk. yang tentu saja menghalangi mobil lain untuk berhenti di sana. Ketika dia mendapati siluet pria berseragam hitam-hitam yang bergegas ke arahnya, buru-buru ia masuk ke mobil, melaju kencang pergi dari gedung tersebut. Sialan, kenapa kalau seperti ini kesannya dia jadi seorang kriminal? Dia pun menyalakan pemutar musik mobilnya, memainkan music hasil aransemennya selama ini.

***

Yoongi menepati janji.

Malam itu dia pulang lebih awal, yang biasanya pukul 12 malam, hari ini sampai di apartemen pukul 10 malam. Dia tidak bisa menjemput Yoora karena gadis itu pulang kantor sekitar pukul 8 malam. Begitu dia masuk, sudah ia dapati gadisnya memakai apron bermotif kupu-kupu hitam yang sedang sibuk bersama perkakas memasak.

“Aku pulang.”

“Yoongi-a!!” pekik Yoora senang. Dilupakannya kegiatan memotong bawang bombai demi menghambur ke pelukan Yoongi. Tubuh Yoongi terdorong beberapa langkah ke belakang. Begitu stabil, pria itu balas memeluknya.

“Kau tampaknya senang sekali.”

Yoora menarik kepalanya, agar bisa bertukar pandang dengan Yoongi. “Tentu saja. Bagaimana aku tidak senang, kau menepati janjimu, Yoongi-a.”

Seulas senyum tercipta di wajah lelah Yoongi. Ia elus rambut sebahu Yoora dengan pelan. Merasakan tiap helai rambut gadis itu yang makin hari makin lembut.

“Kau sedang menyiapkan makan malam? Tidak lelah?”

“Tidak ada kata lelah jika kulakukan ini untukmu,” balas Yoora sambil tersenyum lebar.

“Terserah kau saja, tapi jangan paksa dirimu, ya?”

Yoora mengangguk semangat. Selang beberapa detik kemudian ia pun mengakhiri pelukan mereka. “Yoongi-a, asal kau tahu saja, kau itu … bau. Kekeke, mandi sana.”

Tangan Yoora melambai, sinyal untuk mengusir Yoongi dari hadapannya. Yoongi reflek mencium bau tubuhnya, wajahnya seketika berubah jelek. Melihat itu Yoora tertawa, sementara Yoongi buru-buru pergi ke kamar mandi untuk segera menghilangkan bau itu.

Tepat pukul 10.30 malam, makan malam pun siap. Yoongi dan Yoora sudah duduk berhadap-hadapan dengan meja penuh makanan di hadapan mereka. Yoongi tampak segar, sudah memakai baju rumahan santai, tapi rambutnya masih sedikit basah dan berantakan. Dia menolak saat Yoora menawarkan diri untuk membantunya mengeringkan rambut secara manual.

“Kau bisa masuk angin kalau tidur dengan rambut masih basah,” komentar Yoora saat sedang menyendokkan lauk ke piring Yoongi. Dia tahu betul seberapa banyak porsi makan kekasihnya, jadi Yoongi selalu membiarkannya.

“Mungkin aku akan begadang malam ini. Besok tidak ada kuliah pagi, jadi kemungkinan besar malam ini aku bisa menghasilkan setidaknya dua lagu.”

Raut wajah Yoora berubah. “Sampai kapan kau akan memproduksi lagu?”

“Hm? Um … sampai aku mati?”

Yoora tidak menganggap itu lelucon. “Lalu, kalau kau disuruh memilih, kau akan pilih lagu atau aku?”

Mood Yoongi seketika berubah. Dia segera menyambar sendok, menciduk sebanyak-banyaknya lauk, lalu dimasukkan ke mulutnya hingga mulutnya penuh. Ekspresinya datar sekali meski sebenarnya dia kesusahan menguyah makanan di mulutnya. Dia tahu Yoora sedang mengamatinya, untuk itu ia tak sedikit pun menaruh perhatian pada gadis tersebut.

“Kau marah?”

Yoongi hanya meliriknya sekilas. Dia bisa beralasan kalau mulutnya sedang penuh kalau Yoora mempertanyakan kediamannya.

Sementara itu Yoora mengalihkan perhatiannya pada lauk pauk di piringnya. “Kau harus melepaskan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu. Kau tidak bisa egois di kehidupan ini. Aku tidak bermaksud membuatmu marah, aku hanya ingin tahu apakah aku sama berartinya dengan minatmu pada musik. Dan kalau kau dihadapkan pada pilihan itu, kau harus bisa memilih salah satu di antaranya keduanya. Artinya kau harus melepaskan aku demi musikmu, atau musikmu demi aku.”

Yoongi mendesahkan napasnya kuat-kuat setelah semua makanan di mulutnya berhasil masuk ke lambung. “Aku tak habis pikir kenapa kau selalu menanyakan hal seperti itu. Lalu bagaimana denganmu sendiri? Kau akan memilih pekerjaanmu atau aku?”

Yoora pun mengangkat kepala. Menatap lurus-lurus manik mata Yoongi. “Aku tidak pernah menyeret soal pekerjaanku ke hubungan kita, Yoongi-a.”

“Aku juga tidak, kau itu yang menyeret soal minatku ke hubungan ini.”

“Itu karena kau selalu mementingkan dia daripada aku.”

“Kau mau tahu alasan kenapa aku mementingkannya? Musik itu satu-satunya harapanku untuk hidup, semua nasibku ada padanya. Jadi apa salah kalau aku mementingkannya?”

“Lalu kau menganggap aku apa?” Tatapan Yoora begitu nanar, matanya mulai memerah menahan tangis.

Yoongi terdiam sejenak. Mata itu, sedikit saja disakiti, cairannya akan merembes keluar. Yoongi tak mau itu terjadi. Dia sungguh benci melihat air mata para wanita. Baginya, air mata yang dikeluarkan kaum mereka adalah sebuah jawaban bahwa laki-lakilah yang salah. Setetes pun Yoongi tak akan biarkan.

“Kumohon jangan menangis,” ucapnya lirih sambil meraih tangan Yoora. Akan tetapi Yoora menolak sentuhannya, gadis itu langsung menyembunyikan kedua tangannya di bawah meja.

“Jawab pertanyaanku!”

Volume suara Yoora yang tiba-tiba meninggi seketika menyentak kalbunya. Kalau sudah begini, dia rela kalah.

Noona, dengarkan aku dulu-”

“Apa aku berarti bagimu? Kau anggap apa aku selama ini?!”

Hal yang ditakutkan Yoongi terjadi. Setetes cairan bening berhasil lolos dari pelupuk mata kekasihnya. Argh, kenapa urusan ini tiba-tiba menjadi rumit? Apa yang harus dia lakukan sekarang

“Aku menolak siaran malam karena aku ingin pulang tepat waktu. Aku sengaja tidak makan di luar karena aku ingin makan bersamamu. Aku lebih memilih tinggal di sini karena aku ingin menghabiskan waktu denganmu lebih lama. Tapi kau, kau selalu pulang terlambat, terang-terangan mengatakan kalau musik jauh lebih penting daripada aku. Apa kau tidak peduli dengan hubungan kita? Selama ini tidak ada perkembangan berarti. Awalnya aku memaklumi sikapmu karena aku tahu kau itu bukan tipe pria yang romantis. Tapi, sudah dua tahun berlalu, sikapmu masih saja begitu. Malah sekarang kau sering mengesampingkanku demi musik. Jadi apa artinya aku untukmu, Yoongi-a? Tolong berikan aku kejelasan dari berbagai tanda tanya ini.”

Yoongi sudah bersimpuh di samping kursi yang diduduki Yoora. Kedua lututnya sama-sama menapak lantai dengan kedua tangannya yang diletakkan di atas paha bagian atas, sementara kepalanya terangkat, mengamatiside profile gadis itu yang kini sudah banjir air mata. Setiap satu tetes air mata, mewakili luka gores sepanjang lima sentimeter di hati Yoongi. Sekarang, jumlah luka gores di hatinya sudah banyak hingga membuat hatinya mengerut akibat kehilangan darah.

Noona, aku akan lakukan apa pun asalkan kau tidak menangis. Kumohon berhentilah menangis.”

Yoora menyeka wajahnya dengan kasar, sedikit membuat Yoongi cemas kalau hal itu akan melukai asset berharga Yoora sebagai penyiar berita.

“Aku tidak butuh itu. Aku hanya butuh jawabanmu.”

Pria itu makin cemas lantaran suara Yoora berubah serak. Oh tidak, jika seorang penyiar tanpa wajah yang sempurna dan suara yang indah, karir mereka akan jatuh drastis. Yoongi tak mau Yoora kehilangan pekerjaannya hanya karena masalah sepele ini.

“Berhentilah menangis, kumohon.”

“Kalau kau ingin aku berhenti maka jawablah!”

Yoongi benar-benar tidak ingin mengatakan jawabannya pada Yoora. Tapi Yoora selalu memaksa. Dia tahu kalau jawabannya akan melukai Yoora lebih dalam, jadi dia berusaha mengalihkan perhatian sebisa yang ia lakukan. Namun Yoora bukanlah gadis yang baru beranjak remaja kemarin sore, Yoora adalah seorang gadis berusia 26 tahun yang punya pemikiran matang dan yang terpenting, sudah hidup tiga tahun lebih lama darinya. Benar-benar bodoh jika Yoongi berpikiran kalau Yoora akan teralihkan begitu saja.

Pada akhirnya Yoongi harus mengatakannya.

“Sebelumnya percayalah satu hal, aku benar-benar mencintaimu. Akan tetapi, musik datang lebih awal darimu, musiklah yang membuatku berjalan sampai sejauh ini. Maafkan aku. Aku lebih memilih musik, daripada kau,noona.”

Yoora mendadak bangkit, dan langsung lari ke dalam kamar. Yoongi tak sekalipun mengejarnya. Jawabannya sudah jelas, dia ini … brengsek! Si brengsek yang tidak tahu diri, bodoh, menyedihkan, hina dan semua kata sifat buruk lainnya. Orang sepertinya yang lebih memilih minat daripada cinta, adalah orang yang memang tidak pantas ada di dunia ini. Dunia yang semua penghuninya harus mempunyai setidaknya satu cinta untuk bertahan hidup. Dunia yang dibangun dengan cinta, Yoongi memang tak pantas ada di sini. Obsesinya pada musik telah membuatnya mengabaikan sebuah cinta yang diberikan padanya dengan begitu tulus dan tanpa dipungut biaya. Yoongi sadar, dia itu benar-benar bodoh.

Esoknya saat Yoongi baru saja mau tidur, Yoora sudah tampak rapi dengan seragam kantornya. Masih pukul 6, gadis itu sudah memoles make up ke wajahnya, menyamarkan matanya yang bengkak akibat menangis sampai ketiduran. Tapi ada yang aneh dengan Yoora pagi ini. Gadis itu, membawa koper.

Yoongi lekas menghampirinya sesaat setelah mereka saling pandang.

“Kau mau pergi ke suatu tempat?”

Gadis itu sama sekali tidak menatap Yoongi, dia menggeleng. “Pulang.”

“Ke rumah eommeonim abeonim?” tanya Yoongi yang sedang berusaha tegar meski di hatinya telah terbentuk goresan baru.

“Um.”

“Mau kuantar?”

“Kau tidak bisa menyetir setelah begadang semalam penuh.”

Yoongi mengiyakan ucapan itu. Memang benar, dia pernah kecelakaan gara-gara memaksakan diri menyetir dalam keadaan belum tidur sama sekali. Dan itu menjadi semacam trauma, sehingga dia memilih untuk naik bus atau taksi ketimbang bawa mobil sendiri. Mendengar kecemasan itu dari bibir Yoora pagi ini, Yoongi tahu betul kalau sebenarnya Yoora masih menaruh perhatian padanya.

Tak tahu harus bicara apa lagi, diraihnya tangan Yoora dan digenggamnya erat. Sepertinya suhu tubuhnya meninggi karena begitu menyentuh jemari Yoora, dia bisa merasakan dingin dari kulit gadis itu. Selain itu dia bersyukur, Yoora tidak menolak genggamannya seperti kemarin.

“Jarak rumahmu dengan kantor itu sangat jauh untuk itu kau harus berangkat lebih pagi. Bus terakhir ke rumahmu datang sebelum pukul 8 malam, dan tidak ada taksi malam untuk ke sana. Satu-satunya angkutan umum yang bisa kaunaiki hanyalah kereta cepat. Biayanya lebih mahal daripada bus dan taksi.”

Yoora masih belum mau menatap Yoongi. Motif lantai apartemen ini lebih menarik daripada pria itu.

“Itu bukan urusanmu.”

“Itu urusanku karena kau kekasihku.”

“Semua itu sudah berakhir tadi malam.”

“Aku tidak bilang kalau hubungan kita berakhir,” kata Yoongi sembari melangkah maju, mempersempit jarak di antara mereka.

“Lalu apa maumu? Setelah kau bilang kau lebih memilih musik, apa hubungan ini masih berarti?” Yoora akhirnya menoleh begitu mendengar kalimat yang menurutnya tidak logis dari bibir Yoongi. Yoora kesal, marah, kecewa.

“Sudah kukatakan kalau aku sungguhan mencintaimu.”

“Kalau kau mencintaiku seharusnya kau memilihku!”

Yoongi berhasil membawa Yoora ke dalam pelukannya. Lagi-lagi tubuh gadis itu bergetar, pasti akan menangis sebentar lagi. Yoongi mengusap punggungnya dengan lembut.

“Aku tidak bisa memilihmu karena kau bukan sesuatu yang pasti. Aku takut, saat kebenaran itu datang, saat kau benar-benar bukan untukku, dan aku memilihmu. Aku tidak bisa bayangkan bagaimana hidupku setelahnya. Untuk saat ini, mengertilah. Aku tidak bisa memilihmu.”

“Kau pria paling jahat yang pernah kukenal, Yoongi-a.”

Dia makin mengeratkan pelukannya meski Yoora memberontak untuk dilepaskan.

“Kau boleh lakukan apa pun padaku, asalkan jangan pergi.”

“Aku akan membunuhmu kalau kau melarangku pergi.”

“Silahkan saja.”

“Kau gila?! Lepaskan aku sekarang Yoongi-a.”

“Kumohon tetaplah di sini.”

Pada akhirnya Yoora berhasil melepaskan diri dari pria itu. Make up matanya luntur, wajahnya jadi begitu menyedihkan di mata Yoongi. Namun dia seolah tak memedulikan itu. Matanya yang memerah menatap Yoongi dengan tatapan benci.

“Biarkan aku pergi. Aku akan gila kalau tetap berada di sini bersamamu. Kalau kau benar-benar mencintaiku, biarkan aku pergi.”

Tanpa perlu menunggu jawaban dari Yoongi, Yoora langsung menarik kopernya bersamaan dengan dia angkat kaki dari rumah ini.

BRAK!

Terdengar bunyi click dari pengunci pintu otomatis apartemennya. Ruangan itu mendadak hening. Si pemilik masih mematung di tempatnya, dengan sorot mata yang sulit diartikan. Selang beberapa detik kemudian dia jatuh pingsan, dari hidungnya mengalirlah cairan merah segar.

.

.

Cklek!

Yoora kembali. Bersama koper di tangannya, dia berlari ke tempat di mana Yoongi pingsan. Ia pun bersimpuh, mengeluarkan selembar sapu tangan dari saku, menyeka darah yang masih mengalir deras dari lubang hidung Yoongi. Setelah darah berhasil dihentikan, ia pun segera mengangkat tubuh pria itu, dan membaringkannya di kamar pribadi pria tersebut. Dia merogoh saku lain untuk mengeluarkan ponsel.

Klik klik klik

“Darurat. Ada yang pingsan di apartemen nomor 1004 kawasan kompleks apartemen XXX. Tolong kirimkan dokter dan pihak medis lain ke lokasi ini.”

Klik.

Diusapnya wajah pucat Yoongi. Matanya yang masih merah mengamati wajah pria itu dengan sendu. Bibirnya mengulas senyum tipis.

“Kau ini. Bagaimana kalau aku tidak ada? Kau harus menjaga dirimu sendiri mulai dari sekarang, Yoongi-a.”

Beberapa menit kemudian, pihak medis datang. Mereka memeriksa kondisi Yoongi secara menyeluruh. Begitu selesai, dan Yoora diberitahu soal kondisi Yoongi, mereka –pihak medis sekaligus Yoora pergi meninggalkan pria itu sendirian di sana.

.

.

.

“Oh? Kau sudah sadar?”

“Mana Yoora?”

“Dia tidak ada di sini.”

“Aku harus menyusulnya.”

“Tidak. Berhenti di situ. Kau tidak akan bisa mengejarnya, babo-ya.”

Wae? Aku tahu di mana rumah orangtuanya.”

“Kau pikir dia akan ke sana? Kau benar-benar tidak tahu beritanya?”

“Berita?”

“Ya, Yoora dipindahtugaskan ke stasiun TV internasional. Jadi kau tidak tahu kalau Yoora pergi ke Amerika?”

“Amerika?”

“Ya, Amerika. Kau bisa terbang ke sana setelah kau menjual semua barang-barang berhargamu. Dan itu artinya kau harus jatuh miskin dulu demi tiket pergi ke Amerika. Ah sudahlah. Kau ini tidak boleh banyak bergerak dulu. Lagipula kau pingsan lama sekali, tidak lapar hanya tidur saja selama seminggu?”

“Seokjin-a … bunuh aku sekarang juga.”

“Tidak usah bicara yang aneh-aneh, cepat makan ini.”

Yoongi terpaksa melahap sandwich itu karena Seokjin memasukkannya dengan paksa ke mulutnya. Di saat Seokjin keluar dari kamarnya entah pergi kemana, saat itulah bulir bening dari netranya menetes.

***

“Yo!”

Suara seorang pria membuatku menoleh. Aku kenal siapa pria tinggi jangkung bertelinga elf yang mendekatiku. Senyumnya begitu lebar, membuatku sungkan kalau tidak membalas senyumnya. Dia duduk di sampingku setelah membersihkan dedaunan kering yang semula memenuhi bangku ini.

“Aku tidak terlambat ‘kan?”

“Yah, sedikit.”

Dia mengalungkan lengannya di bahuku. “Kau mau dengar kabar baik dulu sebelum kita bahasa soal konser?”

Alisku terangkat satu. “Kabar apa?”

Dia mendekatkan bibirnya pada telingaku. “Ini soal … noona-ku.”

Angin seketika berhembus kencang. menerbangkan syalku yang tak kupedulikan kemana dia pergi. Yang ada justru dia yang berlari mengejar benda itu.

Perlahan kuusap dada kiriku.

Deg … deg … deg ….

Yoora … Yoora … Yoora ….

Yaa! Kenapa kau diam saja melihat syalmu terbang? Argh, kau memaksaku la-”

“Di mana Yoora?”

Dia tampak santai saat menanggapi pertanyaanku. Dia tidak tahu ya? Aku ini sedang serius!

“Kau mau menyusulnya? Kau terlambat.”

Terlambat? Apa maksudnya terlambat? Kutarik kerah mantelnya, hingga aku bisa menatap matanya yang lebar persis seperti milik Yoora.

“Apa maksudmu? Kau bilang ini kabar baik?”

“Aku belum selesai bicara, bodoh. Lepaskan aku.”

Demi dia bicara, terpaksa kulepaskan.

Noona memutuskan menghentikan kontraknya dengan perusahaan Amerika. Dan dia memilih dipindahtugaskan ke negara lain. Kau tahu kemana dia akan pergi sebentar lagi?”

Kupelototi bibirnya, menunggu kata selanjutnya dengan tak sabaran.

“Korea Selatan.”

Saat itu juga aku berdiri dan langsung lari mencari mobilku di area parkir. Chanyeol bilang Yoora akan kembali ke negara ini, itu berarti, aku harus pergi ke bandara sekarang juga.

“Hei! Mau kemana kau!!”

Sama sekali tak kupedulikan teriakan dia. Begitu mobilku ketemu, langsung tancap gas, melaju kencang menuju bandara. Yoora, apa pun yang terjadi, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

.

.

Fr: Chanyeol

To: Yoora

Aku dalam perjalanan ke bandara ^^

–FIN

7 responses to “Dead Leaves ~ohnajla #BangtanFiction

  1. ih apaaan sih yoongi kok kmu imut banget aaaaaaa gak romantis sih si yoongi tapi manis. apa salahnya juga tinggal bilang pilih yoora dripada musik bohong dikit gak papa yg penting bisa bikin cwek seneng kan huehehehe swag but sweet :* pas tau cast nya yoongi langsung baca hoho dan knpa yoora gatau hubungannya dmna tapi yoora cantik sih jd noprob wkwkwk
    lirik lagunya duh wkwk lucu tapi kok jatohnya manis~

  2. yahhh aku fikir yoora ya gk bisalah mencemburui dan iri terhadap music yang dijalani yoongi jawaban yoongi keyoora pun benar hati manusia itu gk pasti
    Dengan musik yoongi bisa menjalani hidup dan yoora juga sama pentingnya
    Saling mengerti dan memahami
    Mereka bisa kembali lagi gk ya

  3. sebenarnya nemu fanfic ini kmarin malam, udah mau baca sih, tapi… lapar berat, jadilah aku tinggal keluar sama temenku buat makan, dan pas balik masih ceriwis ama dia sampe jam 11 berujung capek dan tidur (SUMPAH INI GAK ADA YANG NANYA DAN GAK ADA YANG PEDULI)
    and then,…
    kembalilah aku jam segini, sebelum berangkat kampus alangkah baiknya buka SKFF lagi dan melanjutkan baca ff ini
    dan aaaaakkkk kamu sukses bikin aku rada berkaca-kaca, iwh gemes sama yoongi. cute bangetttttt aaaaaa. gak romantis sih tapi ya gitu…… aku jadi bayangin yoongi ke depannya gimana ya sama his future gf/.wife to be…
    can I? wkwkwk (bermimpilaaah)
    aku menunggu #BangtanFiction mu yang lain, terutama (EHM) dengan cast jimin hehe

      • hehe yes I am~ hehe maaf yaaa kalo komennya lebay. tapi seriusan, semacam nemu savana (?) di tengah gurun pasir kalo liat ada yang posting ff bts di skf heheu. you know what I mean lah~ pokoknya ditunggu yaa karya bts mu yg lain~❤

  4. so sweet bgt critanya.. sbnerny sbel m sikapny suga yg krang bsa tegas.. tp saat dy brusaha nunjukin cintanya k yoora itu lho, dgn sikap sok coolnya.. atau emg cool ya.. ㅋㅋㅋ
    ah.. pnasaran sma klanjutan kisah mereka.. yoora msh cinta g y m suga..
    keep writing ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s