[IM]PERFECTION – 4TH SLIDE — by Neez

perf

IMPERFECTION

Oh Jaehee / OC || Kim Joonmyun / EXO Suho 

IMPERFECTION Universe, Campus Life, Romance, Angst, Drama

PG || Chapter

BETA & POSTER © IMA

In Correlation with

IMPERFECTION by IMA

Jaehee – Joonmyun Dating Stories

IMPERFECTION SPIN OFF — (Joonmyun – Jaehee Stories) by IMA

Previous Slide

1ST SLIDE || 2ND SLIDE || 3RD SLIDE

© neez

Because in the perfection... always left the imperfection behind

4TH SLIDE

RS Internasional Seoul

Beberapa Jam Setelah Dr G Fansign di KAIST

 

Jaehee mengerjap-ngerjapkan kedua matanya dan menyadari bahwa dirinya berada di ruangan serba putih, selang oksigen melilit hidungnya, dan merasakan impuls di tangannya ngilu karena infus. Menoleh ke kiri ada lukisan kanvas besar, dan menoleh ke kanan ada beberapa orang, dua diantaranya pastilah dokter dan perawat, kemudian ibunya, Papa-nya, Sehun, dan Daeyong.

   ”Aku dimana?” tanyanya lemah.

   ”Oh, dia sudah sadar.”

   Tiba-tiba saja dokter dan suster menghampirinya. Memeriksa matanya, tekanan darahnya, denyut jantungnya, dan segala macam. Jaehee merasa kepalanya memang sudah tidak sakit lagi, tetapi ia merasa lemas, dan begitu mengantuk, ia benar-benar ingin tidur. Tapi, ia penasaran kenapa dia disini?

   ”Bagaimana perasaanmu, Nona Oh? Ada yang sakit?”

   Jaehee menggeleng pelan, ”Hanya lemas.”

   ”Baiklah, Nona Oh sudah diambil sampel darahnya tadi, dan saya harap hasil seluruh kesehatannya bisa diambil dalam beberapa hari ini. Sementara Nona Oh boleh istirahat disini sampai besok,”

   Jaehee menggeleng kuat, ”Aku tidak mau. Aku mau pulang… Eomma, aku mau pulang! Papa, aku mau pulang!”

   ”Bolehkah dia dibawa pulang, Dokter?” tanya Papa pada sang Dokter, yang akhirnya meskipun enggan memperbolehkan Jaehee dibawa pulang ke rumah. Rupanya setelah pulang fansign, Jaehee pingsan di dalam mobil saat menuju ke rumah sakit untuk periksa. Diagnosa awal dokter hanya anemia dan kelelahan, tapi untuk memastikan Jaehee di cek darah dan rontgen. Jaehee diminta mengambil hasilnya beberapa hari lagi untuk memastikan apakah ada yang serius dengan dirinya.

 

*1 Year Later*

Kenapa baru mengangkat teleponku sekarang?!” tuntut Hana dari sebrang sana saat Jaehee mengangkat teleponnya untuk pertamakali setelah beberapa minggu ini. Siapa yang menyangka Lee Hana yang dulu semasa sekolah sangat sangat dingin terhadapnya kini berbalik jadi seperti seorang ibu yang sangat mengkhawatirkan anaknya sendiri. ”Kau pasti bekerja terlalu keras lagi, Oh Jaehee. Kalau kau sakit lagi bagaimana?!”

   Jaehee bersandar di sofa apartemennya dan meletakkan tasnya di sampingnya, bibirnya tak berhenti mengulas senyum mendengar ocehan Hana. ”Aku baik-baik saja kok, hanya sibuk belakangan ini. Aku menyiapkan projek baru dan pekerjaanku yang biasanya… tidak ada yang berlebihan kok, buktinya aku sudah di rumah jam segini.”

   ”Tetap saja, kemarin-kemarin pasti pulangnya malam… atau bahkan pagi, iya kan?” tembak Hana telak.

   ”Hana-ya~”

   ”Dwaesseo! Pokoknya kau harus bisa jaga kesehatan Oh Jaehee, dan jangan lupa kau ambil hasil laboratorium dan rontgenmu! Kenapa kau bandel sekali?”

   ”Ah tidak usah, badanku sudah tidak apa-apa kok sejak kemarin.” Sanggah Jaehee. ”Lagipula aku sekarang sudah rajin minum vitamin, tidak minum kopi, dan makan makanan yang sehat. Jadi kurasa hasil tesnya tidak perlu kulihat lagi.”

   ”Benar?” tanya Hana meragukan kejujuran sahabatnya itu.

   ”Benar, kok! Aku kapok sakit lagi, Hana-ya, makanya aku harus melakukan perubahan pola hidup,”

   ”Ya sudah kalau begitu. Tapi kau harus ingat, kau juga tidak boleh terlalu capek, karena itu bisa membuatmu sakit lagi…”

   ”Iya Ibu Psikiatris… aku akan mengingatnya!” kekeh Jaehee geli.

   Suara tawa Hana yang renyah terdengar kembali di telinga Jaehee. ”Jadi, apa benar apa yang kudengar belakangan ini?” tanya Hana dengan penasaran. ”Kau tahu, aku tidak pernah benar-benar percaya kalau aku tidak bertanya langsung kepadamu.”

   ”Dengar apa memang?” Jaehee mengernyitkan dahinya. Deg! Ia harus segera memutus sambungan telepon jika ia mau Hana tak tahu yang sebenarnya.

   ”Kau, dan Aktor ganteng Kim Woobin itu, benar?”

   Jaehee ingin sekali menjawab dengan tawa, namun sakit di kepalanya mulai kembali dan tak tertahankan. Sepertinya pengaruh obat penahan rasa sakit yang ia dapatkan dari rumah sakit dulu, dan berulangkali ia beli di apotek setelah dapat resepnya, mulai kehilangan pengaruhnya. Jaehee meminumnya saat masih bekerja tadi, jadi wajar saja jika sakit kepalanya mulai kembali.

   ”Menurutmu, Hana-ya?” tukas Jaehee berusaha terkekeh kemudian pura-pura menguap. ”Err… Hana-ya, aku ngantuk sekali, besok kutelepon lagi, eoh?” Jaehee tidak sempat mendengar Hana menjawab dan buru-buru memutuskan sambungan sambil mencengkram kuat-kuat kepalanya, ”Ah!” erangnya dan tubuhnya limbung, ia menarik tasnya dan mengaduk-aduk isinya berharap segera menemukan botol obatnya, dan untungnya ketemu. Ia mengambil satu dan memakannya tanpa bantuan air mineral. Dipeluknya kepalanya diantara dua lututnya, sambil terisak-isak kecil merasakan betapa rasa sakit di kepalanya semakin hebat sekarang ini. Untunglah dalam waktu dua puluh menit kemudian sakit di kepalanya mulai mereda, karena obatnya mulai bekerja.

   Jaehee merangkak berdiri sambil merapikan barang-barangnya yang tumpah dari dalam tasnya tadi karena ia mengaduk-aduknya dengan serampangan, sambil beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Mengangkat rambutnya dan menguncirnya dengan kuat, sambil mengenakan bandana besar untuk menyingkap poninya, Jaehee mulai mengucurkan cleansing oil di tangannya untuk mengangkat semua makeup di wajahnya, setelah dirasanya cukup ia membasuh wajahnya dengan air hangat, dan melanjutkan mencuci wajahnya dengan facial foam. Tepat ketika ia benar-benar sudah mengangkat seluruh makeup yang ada di wajahnya, ia nyaris tidak bisa mengenali dirinya sendiri.

   Jaehee yang dulu adalah gadis yang sangat berbahagia. Meski kedua orangtuanya berpisah, karena memang mereka tidak saling mencintai, dan menikah atas dasar dijodohkan, ia tidak merasa kekurangan kasih sayang dari Ibunya, dan ia mendapatkan Ayah baru, yang ia panggil Papa, yang juga menganggapnya sebagai anak kandung sendiri. Meski awalnya ia merasa tidak begitu diterima dengan anak dari Papa, Sehun, lambat laun, pria itu menganggapnya sebagai saudara kandung juga. Kariernya yang ia mulai dari nol pun semakin lama semakin menanjak, ia memiliki teman dekat, Hana, dan pacar yang sempurna, Joonmyun.

   Tapi sekarang… Jaehee tidak menyangka ketika Joonmyun tidak ada akan membawa banyak pengaruh dalam hidupnya. Kariernya semakin meroket, pemasukannya sudah diatas wanita sebayanya, dan banyak laki-laki yang menginginkannya menjadi kekasihnya. Tetapi, kenapa ia tidak juga bahagia?

   Kenapa bergerak maju dari hubungan yang lama dengan Joonmyun sangatlah sulit? Jaehee mencoba tersenyum menyemangati bayangannya yang terlihat menyedihkan di kaca itu, dan segera mengelap wajahnya dengan handuk, dan memutuskan untuk istirahat sebelum sakit di kepalanya muncul kembali.

 

*        *        *

”Joonmyun-ah,”

   ”Ya, Eomma?”

   Ibunya meletakkan sebelah tangannya di pundak sang putra, benar-benar mengingkan Joonmyun fokus padanya. Maka, Joonmyun menoleh menatap ibunya dengan penasaran, mengalihkan pandangannya dari siaran televisi yang menampilkan berita ekonomi luar negeri.

   ”Apa ada sesuatu… antara kau dan Jaehee?” tanya Ibunya pelan, wanita paruh baya itu bisa merasakan putranya menegang begitu mendengarnya menyebut nama gadis itu. Astaga, namanya sampai terasa asing sekarang. ”Jaehee tidak pernah datang ke rumah lagi, kau tidak pernah menceritakan tentang Jaehee lagi. Apa kau tidak mau bercerita pada Eomma, apa yang terjadi diantara kalian?”

   Menarik napasnya dalam-dalam, Joonmyun tersenyum tipis. ”Kami sudah berpisah, Eomma.”

   ”Ke…kenapa?” tanya Ibunya, sedikit terguncang dengan berita yang ia dengar. Jaehee adalah gadis pertama yang putra bungsunya bawa ke rumah. Dulu, saat Joonmyun pertamakali bercerita bahwa ia jatuh cinta pada seorang gadis yang berprofesi sebagai model, ia tidak yakin akan menyukai gadis itu. Model, pastilah glamour, dan gaya hidupnya tidak akan cocok dengan putranya. Namun persepsi itu segera dipatahkan saat Joonmyun membawa gadis itu datang ke rumah. Jaehee sangat manis, gadis itu seperti anak perempuan yang tak pernah ia miliki, karena kedua anaknya laki-laki.

   Ia ingat betul bagaimana ia selalu memperingatkan Joonmyun untuk tidak berbuat macam-macam di rumah, karena jika melihat kedua insan itu bercengkrama, seolah ada hati di mata mereka.

   ”Ceritanya panjang,” Joonmyun menjawab pelan. ”Kami sudah lama berpisah, maafkan aku tidak terus terang pada Eomma, perpisahan itu tidak menyenangkan.”

   Ibunya mengeluarkan napas panjang, terdengar sedih. ”Kenapa kau tidak mempertahankannya, Joonmyunie? Apa kau sudah tidak menyukainya lagi?” setelah Ibunya bertanya begitu, ia melihat ekspresi putranya yang menatap kosong ke depan. Ekspresi yang kerap Joonmyun pasang jika sedang sendirian. Sebagai seorang ibu, tentu ia memperhatikan bahwa putranya belakangan ini berubah. Ia sendiri menyesalkan kenapa tidak mengonfrontasi putranya lebih awal.

   ”Haha…” Joonmyun mengeluarkan tawa miris, yang menyedihkan di telinga sang ibu. ”Kami banyak bertengkar, entahlah Eomma… kupikir belakangan, kami berdua masih sangat-sangat egois. Kami hanya menyakiti satu sama lain.”

   Ibunya menggeleng, ”Eomma hanya ingin tanya, apa kau sudah tidak menyukainya lagi?”

   Joonmyun diam.

   ”Joonmyunie, Eomma mengenalmu dari kecil, Nak…” Ibunya membelai-belai rambut Joonmyun, ”Eomma tahu tidak ada hubungan yang sempurna. Dari masih berkencan, apalagi nanti jika sudah berumah tangga. Eomma tidak mau mengintervensi hubungan kalian, karena Eomma yakin dalam setiap hubungan akan ada masalah. Tapi, kalau kau masih menyukainya… jangan lepaskan dia, sebagai laki-laki, kau ajak dia menyelesaikan masalah kalian, jika ia pun masih menyukaimu, Eomma rasa ia juga mau berusaha memperbaiki hubungan kalian dan berusaha agar hubungan kalian berhasil.”

   Joonmyun tahu jauh dalam lubuk hatinya, ia masih menyukai, mencintai gadis yang sudah sejak SMA berkencan dengannya. Dia hanya tidak tahu harus melakukan apa setelah Jaehee memutuskan kontak dengannya. Kepalanya terbagi, ia terbiasa memperhitungkan apa yang akan terjadi di masa depan, dan tak bisa mengelak jika ia memperhitungkan kisah cintanya sendiri. Akankah hubungannya bertahan? Akankah Jaehee begini? Akankah Jaehee begitu?

   ”Tidak ada manusia di dunia ini yang tidak memiliki kekurangan, tidak pernah membuat kesalahan, dan tidak pernah mengecewakan orang yang ia cintai. Apa pun itu, yang membuatmu kecewa padanya atau marah padanya, pertama… pikirkan bagaimana jika kau ada di sepatunya? Eomma juga berharap, dia akan melakukan hal yang sama padamu…” setelah bicara begitu, Ibunya berdiri dan meninggalkannya.

   Harus ia akui, ia memperhitungkan apa yang dikatakan oleh teman-temannya. Kehidupan sosial Jaehee dan kehidupan sosial dirinya jauh berbeda. Jaehee tidak pernah mengenalkannya dengan teman-teman dunianya, dan Jaehee pun tidak pernah mau jika diajak bergabung dengan teman-temannya. Pembicaraan mereka tak lagi nyambung, dan tentu saja, ketidakpercayaan diri Joonmyun. Akankah ia dibuang suatu saat nanti?

   Lagipula, benar bukan? Jaehee bahkan berhasil berkencan dengan Kim Woobin setelah berpisah dengannya. Joonmyun yang hanya orang biasa, jika dibandingkan dengan Kim Woobin, supermodel dan aktor tampan yang terkenal se-Korea Selatan, siapa dia? Tentu saja Jaehee akan memilih Kim Woobin, kan? Apalagi Joonmyun tahu betul, Jaehee memang menyukai pria itu sebagai fans sejak masih sekolah dulu.

   Drrrttt.

Jonghyun :

          Tempat biasa, jam 9 malam ini, Yonghwa traktir.

   Mengacak rambutnya dengan frustasi, Joonmyun memilih untuk bersantai dengan teman-temannya malam ini. Kata-kata Ibunya masih saja terngiang-ngiang ditelinganya, kepala dan hatinya saling bersebrangan, lagipula, sudah terlambat juga jika ia mau memperjuangkan Jaehee sekarang, kan?

   Jaehee sudah bersama pria lain, dan semoga ia bahagia.

   Memikirkannya saja, belum mengucapkannya sudah membuat seluruh tulang dalam tubuhnya nyeri, tapi ia bisa apa? Ia tidak mengembalikan gelas yang sudah pecah dan berserakan ke lantai, bukan?

 

*        *        *

Apa hari ini kau kosong?”

   Jaehee mengelap meja makannya dan mengangkat sebelah alisnya sebelum tersenyum miring dengan telinga mengepit ponselnya ke bahu. ”Ya, hari ini satu-satunya hari aku kosong, Oppa, wae?”

   ”Ah, kau hanya kosong hari ini?”

   Jaehee menjawab santai, “Yep, besok baru ada jadwal pemotretan lagi, kenapa?” tanyanya langsung. Jaehee tidak peduli bahwa ia terlalu lugas dalam menolak seniornya sendiri, tetapi ia merasa itu hal yang tepat untuk ia lakukan. Ia tidak mau mempermainkan perasaan oranglain, meskipun saat ini ia tengah sendiri.

   Meskipun itu adalah Kim Woobin.

   Oke, mereka memang kerap kali jalan bersama, apalagi setelah dipasangkan sebagai model sebuah produk bersama-sama. Dan, awalnya Jaehee tidak sadar sama sekali, tapi lama kelamaan Kim Woobin benar-benar menunjukkan maksud hatinya untuk mengencaninya, dan meski merasa tersanjung, Jaehee tidak mau mempermainkan perasaan orang lain, disaat ia sendiri masih belum bisa memperbaiki diri, dan saat hatinya masih belum dikembalikan oleh cinta pertamanya.

   ”Aku mau mengajakmu minum, kau tahu…”

   Jaehee menghela napasny, lelah, ”Oppa, kau tahu kan aku tidak bisa… aku sering sakit belakangan ini, kalau aku minum lagi…”

   ”Tidak usah minum alkohol, kita ngobrol-ngobrol saja. Kau terlalu stress Jaehee-ya, kau harus bersantai sedikit.” Gumam Woobin khawatir.

   ”Kalau paparazzi menangkap kita lagi bagaimana, Oppa?” kekeh Jaehee geli. Ia masih ingat ketika ia dan Woobin sarapan bersama di sebuah hotel (karena mereka harus melakukan pemotretan, Demi Tuhan, dan pemotretan projek tersebut harus dirahasiakan sampai waktu launching, dan paparazi menganggap mereka liburan bersama), dan ia harus menumpang statement pada manajemen Woobin, karena dirinya tidak punya agensi, dan malas menanggapi rumor kacangan macam itu.

   Kim Woobin memang mengakui menyukai dirinya. Tetapi Woobin menghormati keputusan Jaehee yang hanya ingin berteman saja, meski Jaehee mengatakan bahwa ia belum bisa melupakan cinta pertamanya, Woobin rela menunggu. Oh Jaehee layak ditunggu!

   ”Jawab saja, memang teman tidak boleh jalan bersama? Jangan pedulikan mereka, ayolah, Jaehee-ya.”

   Jaehee berdecak sebal, tetapi ia juga berpikir tidak ada salahnya kan bersantai. Mungkin benar kata Woobin, dan Daeyoung juga sering menyuruhnya untuk bersantai. ”Oke, oke, kalau begitu… beritahu dimana tempatnya, nanti aku kesana. Tidak mau di jemput!” tanpa menunggu balasan, Jaehee memutuskan sambungan telepon dan bersiap.

 

*        *        *

Aires Lounge & Bar

20.30

 

   Jiyeon memulas lipstik berwarna merah pada bibirnya, memeriksa riasannya sambil merapikan rambutnya sementara Eunjung dan Hyomin asyik membicarakan karier mereka di perusahaan mereka yang baru.

   ”Kenapa kau berdandan terus?” tanya Hyomin heran, melihat Jiyeon yang nampak tidak tertarik dengan pembicaraan soal pekerjaan dan terus saja bersolek. ”Ini sudah hampir lima tahun kau mengenal Joonmyun, dan kau tak juga kunjung dikencani olehnya, bahkan setelah dia dan Oh Jaehee itu berpisah.”

   Yonghwa, Jungsin, dan Minhyuk yang baru datang tertawa mendengar ucapan Hyomin yang polos itu, bahkan wajah Jiyeon yang semula datar-datar saja menjadi kesal. ”Beri waktu lebih lama saja, aku yakin dia juga menyukaiku!” serunya kesal.

   Hyomin hanya mengangkat bahu. ”Aku hanya merasa sedikit buruk selalu menjelek-jelekkan kekasihnya itu, dan dia sepertinya tidak mudah melupakan gadis itu.”

   “Mantan kekasihnya, Hyo~”

   “Iya, mantan kekasih,” Hyomin memutar matanya jengkel dan memainkan ponselnya, para lelaki yang tidak pernah mau ikut campur urusan wanita memilih mengabaikan perselisihan kecil itu dan membahas pertarungan saham antara perusahaan tempat mereka bekerja sekarang ini, hingga Jonghyun datang.

   Setelah menyapa semua teman-temannya, Jonghyun mengambil duduk di samping Jiyeon. Ia rupanya menyadari bahwa ada ketegangan diantara Hyomin dan Jiyeon, sehingga memutuskan untuk bertanya, ”Ada apa?”

   ”Kau tidak akan mau ikutan, Sobat.” Bisik Minhyuk padanya.

   ”Memang kenapa?”

   Yonghwa menghela napas, ”Hyomin bilang pada Jiyeon untuk berhenti mengharapkan Joonmyun, karena sampai sekarang meskipun kita semua selalu menjodoh-jodohkan mereka berdua, mereka tetap belum berkencan.”

   ”Hyo, kenapa kau bilang begitu?” tanya Jonghyun tidak setuju, menegur Hyomin.

   Hyomin membelalak, ”Hei! Aku hanya berbicara dari sudut pandang seorang wanita. Kasihan Jiyeon juga jika mengejar-ngejar Joonmyun terus, tapi pria itu tidak juga kunjung bisa melupakan mantannya.”

   ”Kata siapa dia belum bisa melupakan si Oh Jaehee?” tanya Jiyeon panas.

   Jonghyun meremas tangan Jiyeon, menenangkannya. ”Joonmyun sudah tidak memikirkan gadis itu lagi, kok.”

   ”Jonghyun-ah, kau itu sahabat Joonmyun. Kau, jauh lebih dekat dengan pria itu dibandingkan kita semua disini. Kau pasti tahu bagaimana ia berubah semenjak fansign si Oh Jaehee di kampus kita, dan itu sudah satu tahun lalu.”

   Eunjung menahan bahu Hyomin, agar tidak melampiaskan emosinya juga. ”Kita kan temannya… kita membohongi diri sendiri jika kita menganggap dia tidak apa-apa. Seburuk apa pun Oh Jaehee, dia pasti sangat mencintai gadis itu hingga sulit melupakannya.”

   ”Itulah, teman-teman tugas kita disini sebagai temannya,” jawab Jonghyun menenangkan. ”Dia sangat terluka karena gadis itu, dan mungkin memang perlu waktu untuk sembuh. Jiyeon-ah, kau hanya harus lebih bersabar. Aku yakin ia memiliki perasaan padamu,”

   Jiyeon tersenyum dan mengangguk.

   ”Hai~”
Hampir semua yang ada di meja terkejut saat pria yang mereka bicarakan mendadak datang dan menyapa mereka. Kim Joonmyun yang rambutnya berantakan, dan mengenakan kemeja denim senada dengan celananya menyapa semuanya dengan ramah, sebelum Jonghyun memaksanya untuk duduk di samping Jiyeon.

   Mereka bertukar kabar mengenai posisi kerja mereka pada saat ini, dan perseteruan antara Jiyeon dan Hyomin barusan terlupakan begitu saja. Ketika semuanya tengah asik berbincang, sambil bercanda, dan menikmati wine, sepasang ’kekasih’ melewati meja mereka berdua. Keduanya, nampaknya, menarik perhatian baik pengunjung, maupun para pelayan.

   Dan juga menarik perhatian Joonmyun.

   Karena Oh Jaehee melewati mereka mereka tanpa menoleh, dan Kim Woobin merangkulnya.

   ”Joonmyun-ah, gwenchana?” tanya Hyomin langsung, saat melihat perubahan ekspresi dan tangan Joonmyun yang gemetar sambil memegangi gelas wine-nya. Pria itu tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya.

   Jungshin, Yonghwa, Minhyuk, dan Eunjung menoleh ingin tahu, dan melihat pelayan menunjukkan sebuah sudut untuk dua orang, dengan sofa putih empuk disana. Sepertinya keduanya tidak menyadari menjadi objek perhatian, karena sibuk berbincang-bincang.

   ”Joonmyun-ah, mau pulang saja?” tawar Jiyeon, yang selalu cemburu jika ada Jaehee. Bahkan ketika tidak ada saja, ia selalu kesal dengan wanita itu. Padahal dulu, ia yang selalu mengejek mantan kekasih Joonmyun yang cemburu padanya, karena Joonmyun dulu kerap kali menghabiskan waktu dengannya.

   Tapi, entahlah, selama ini memang harus ia akui, Joonmyun tidak pernah menunjukkan ketertarikan lebih padanya, dan ditambah dengan ucapan Hyomin tadi, membuatnya menjadi semakin kesal.

   Joonmyun menolak ajakannya dan justru menuang kembali wine ke dalam gelasnya dan meminumnya. Siapa pun yang memandangnya sekarang tahu, bahwa pria itu tengah menutupi kesedihannya.

   ”Dia itu aktor, kan?” gumam Jonghyun.

   Eunjung mengangguk, ”Yang bermain dengan Suzy Miss A di drama Uncontrollably Fond,” jelasnya.

   ”Hmm,” Jonghyun melirik Joonmyun yang nampak tidak begitu tertarik untuk mengikuti percakapan mereka. Jonghyun memutuskan untuk menghibur sahabatnya, ”Dunia selebrtis, dunia entertainment… mereka dan dunia kita memang sangat jauh. Baru putus, sudah bisa dapat pengganti…”

   Jungshin dan Yonghwa memberi kode pada Jonghyun untuk tidak melanjutkan ucapannya, sementara Minhyun meneguk wine-nya banyak-banyak. Eunjung, Hyomin, dan Jiyeon menatap Joonmyun lekat-lekat.

   ”Aku tahu kau pasti sulit melupakannya, Sobat,” kata Jonghyun sambil menepuk bahu Joonmyun. ”Tapi, lihat kan? Dia saja sudah tidak lagi memikirkanmu… aku sudah katakan sejak awal, bahwa berkencan dengan model, atau aktris sekalipun, atau apa pun selebriti… tidak akan cocok, Sobat. Lihat saja? Bagaimana kita mau menyangi pria yang bertubuh atletis seperti itu, coba? Uangnya juga banyak…”

   Sejujurnya, jika Joonmyun ingin menyahuti ucapan Jonghyun tersebut, bahwa sejak Jaehee diberitakan berkencan dengan Woobin, ia mulai aktif datang ke gym, dan tubuhnya kini tidak kalah atletis. Apalagi urusan kaya… dia saja yang tidak mau memamerkan hartanya.

 

*        *        *

Aires Lounge & Bar

Jaehee & Woobin’s Spot

 

”Apa pun yang tanpa alkohol? Cola mungkin?” tawar Woobin sambil membuka-buka buku menunya, sementara Jaehee bersandar setelah melepaskan mantelnya. Tubuhnya selalu tidak enak belakangan ini.

   ”Cola boleh,” gumam Jaehee. ”Atau jus saja,”

   ”Mojito, mau?”

   ”Boleh,”

   ”Baiklah, wine dan mojito,” beritahu Woobin pada sang pelayan dan ia menatap profil Jaehee yang lesu bersandar di sofa empuk sambil memeluk bantalan sofa. ”Kau baik-baik saja? Tadi saat bertemu di depan, kau masih segar.”

   Jaehee mengangkat bahu, ”Sering seperti ini. Mungkin karena sudah lama tidak olahraga,” gumamnya.

   Deg.

   Lagi, sakit kepalanya datang. Dan Jaehee sudah benar-benar muak dengan sakit kepala ini!

   ”Kenapa?” Woobin mengangkat alisnya heran saat Jaehee dengan serampangan meletakkan tasnya dan menarik keluar dompet dari dalam sana. ”Hei, kau mau kemana, Jaehee-ya?”

   Jaehee menyisiri rambutnya dengan jari-jarinya, ”Aku harus ke apotek sekarang. Sepertinya obat sakit kepalaku yang biasa sudah tidak mempan.” Gerutunya. ”Oppa tidak usah ikut, apoteknya kan di dekat sini. Aku tidak akan lama-lama kok.”

   ”Baiklah, baiklah…” Woobin mengangguk, tahu bahwa tidak akan menang jika melawan keinginan gadis keras kepala itu. ”Bawa ponselmu kalau ada apa-apa, kau harus langsung menghubungiku, oke?”

   ”Iya,” Jaehee memutar matanya geli sambil berjalan begitu saja, bunyi klak klik klak klik sepatu botnya terdengar sayup-sayup tertutup dengan suara musik jazz yang mengalun lembut di dalam lounge tersebut. Ia tahu ia diperhatikan oleh pengunjung, pelayan, dan entah siapa saja yang ada di dalam lounge tersebut, tetapi ia tidak peduli. Ia tidak berkencan dengan Kim Woobin, orang mau percaya mau tidak, bukan urusannya lagi, dan dia tidak peduli dengan anggapan orang mengenai dirinya.

 

*        *        *

”Dia bahkan tidak menoleh kesini.”

   ”Apa dia tidak melihat Joonmyun?”

   ”Please, dia pasti tahu ada Joonmyun disini. Tapi dia tidak mau menyapa terlebih dahulu, lihat saja… dia bahkan sengaja lewat,”

   Hyomin mendesah berat dan melirik Jiyeon tajam.

   ”Tapi dia mau kemana? Kok tidak ditemani si Kim Woobin itu?”

   Joonmyun diam saja, berusaha menulikan telinga, membutakan mata, namun tidak bisa menutupi lubang menganga yang ada di hatinya. Ia mendongak, tak berharap, dan tak ingin terlihat menyedihkan juga, namun Jaehee memang tidak menoleh ke kanan dan ke kiri. Menatap lurus ke depan, dengan dompet kesayangannya yang tidak pernah gadis itu ganti, sejak mereka dulu berkencan.

   ”Sudahlah tidak usah heran, mungkin dia hanya membeli kondom.” Jawab Jonghyun ringan sambil meminum wine-nya. Terdengar pekikan nyaring dari berbagai sudut setelah ia mengucapkan hal itu, bahkan Jiyeon cukup kaget dengan kalimat yang asal sekali diucapkan oleh Jonghyun.

   ”Jonghyun-ah,” Yonghwa bahkan menegurnya.

   Jonghyun meletakkan gelasnya, ”Apa? Apa kalian tidak tahu kehidupan selebriti itu bagaimana? Tidak usah heran, kalian lupa dimana Kim Woobin itu dan Oh Jaehee terlihat? Di hotel… apalagi dia itu model… dia…”

   BRUKK!!

   Belum sempat Jonghyun menyelesaikan kalimatnya sebogem mentah melayang pada wajahnya, dan Joonmyun berdiri berusaha mengatur napasnya, dan mengontrol emosinya. Jiyeon menekap mulutnya dengan kedua tangan, Hyomin dan Minhyuk berdiri menahan kedua lengan Joonmyun di kanan dan kiri, takut Joonmyun malah semakin menghajar Jonghyun.

   Jonghyun terkekeh di bawah.

   ”Lee Jonghyun!” Yonghwa sekali lagi berseru.

   ”Aku tahu kau kesulitan melupakannya, Sobat. Karena dia model, tubuhnya indah… tapi kalau kau mencari gadis untuk ditiduri…”

   Melepaskan cengkraman Minhyuk dan Hyomin, bahkan Hyomin sampai terjungkal ke kursi Joonmyun kembali menghajar Jonghyun dengan kedua tangannya, hingga Yonghwa dan Jungshin ikut turun tangan berusaha memisahkan keduanya. Eunjung dan Jiyeon sudah nyaris menangis ketakutan, dan para pelayan serta Manajer lounge ikut datang.

   ”Aku tidak tahu apa salah Jaehee hingga kau begitu membencinya,” ujar Joonmyun menatap Jonghyun yang sudah babak belur di bawah, ”Tapi jangan pernah menghina atau merendahkannya di hadapanku. Aku muak mendengar ocehanmu mengenai dirinya, seakan kalian semua tahu dia siapa. Aku menyesal mendengarkanmu, aku menyesal karena bercerita padamu! Kukira kau teman, dan sahabat baikku.”

   Jonghyun mengusap darah di mulutnya dan mendecih. ”Aku melakukannya demi kebaikanmu, Joonmyun-ah!”

   ”Kebaikan apa? Apa kau kenal Jaehee, sebaik aku mengenalnya?!” tukas Joonmyun membiarkan Jungshin, Yonghwa, dan Minhyuk menahan tubuhnya. ”Apa kau tahu, apa yang kuperbuat padanya? Apa kau tahu, kalau aku juga menyakitinya? Jangan sok suci, Lee Jonghyun!” ia melepaskan diri dari cengkraman ketiga temannya, tanpa ba bi bu lagi Joonmyun pergi dari situ.

   Benar.

   Ia menyesal, ia tidak tahu kenapa Jonghyun begitu membenci Jaehee, namun yang ia tahu pasti sekarang itu semua salahnya. Ia bodoh, karena telah membagi-bagi masalah internalnya dengan Jaehee pada orang-orang yang sama sekali tidak mengenal gadis itu. Mereka tidak tahu Jaehee sebaik ia mengenal gadis itu, tapi ia malah mendengarkan mereka. Padahal ia juga harus mengakui, bahwa ia juga banyak berbuat salah pada gadis itu, tetapi ia tidak menceritakan perbuatannya.

   Ia sadar ia yang salah selama ini.

   Maafkan aku, Jaehee-ya

   Langkah Joonmyun terhenti saat melihat gadis yang ada dalam pikirannya keluar dari dalam apotek. Satu tahun lebih mereka tidak lagi bersama, dan Joonmyun menyadari banyak perubahan pada fisik gadis itu. Jaehee menjadi jauh lebih kurus, pipinya lebih tirus, dan gadis itu nampak… seperti terakhir Joonmyun melihatnya di fansign.

   Dilihatnya Jaehee menepuk-nepuk dadanya pelan sambil terbatuk, dan ia menunduk sambil membuka plastik dari apotek dan meraih sesuatu, ketika ia melihat jalan gadis itu mulai limbung. Jaehee menekap kepalanya sementara tubuhnya mulai bergerak ke kanan dan ke kiri.

   Perasaan Joonmyun mulai tidak enak. Ia berlari dan tepat ketika tubuh Jaehee nyaris membentur tanah, Joonmyun tiba untuk menangkapnya.

   ”Jaehee-ya! Jaehee-ya, ireona… ireona, palli!” serunya panik dan merasakan suhu tubuh gadis itu dengan menggunakan punggung tangannya.

   Panas sekali.

 

*        *        *

Seoul International Hospital

Emergency Room

 

   ”Keluarga dari Oh Jaehee?”

   ”Ya, saya!” Joonmyun buru-buru berdiri setelah hanya bisa menggigit bibirnya dengan cemas menunggu. Saat tadi menemukan Jaehee tak kunjung sadar, ia membawa gadis itu ke dalam mobilnya dan segera melarikannya ke rumah sakit terdekat. Dokter hanya memintanya menunggu, dan cukup lama dokter memeriksa gadis itu sampai menemuinya sekarang.

   Dokter wanita itu membuka maskernya dan menghela napas panjang. ”Satu tahun yang lalu, setelah menghadiri sebuah fansign, Nona Oh dibawa ke rumah sakit setelah pingsan di lokasi. Kami sudah melakukan pemeriksaan darah dan rontgen di kepalanya, tetapi berapa kali pun Nona Oh dipanggil untuk melakukan pemeriksaan kembali dan pengecekan, ia tidak pernah mau datang.”

   ”A…apa?” Shock. Tidak tahu, Joonmyun sama sekali tidak tahu apa-apa soal kehidupan Jaehee selama satu tahun belakangan ini, dan sekarang ia mendengar… apa ini?

   ”Nona Oh harus dirawat secara intensif, meningitis-nya sudah sampai tahap yang sangat parah karena ia tidak mau memeriksakan diri.”

   ”Me…meningitis?!” ulang Joonmyun dengan suara tercekat.

   Dokter itu mengangguk, ”Saya akan siapkan kamar rawat sementara kami akan terus memantau kondisinya.”

   ”Terima kasih, Dokter.”

   Joonmyun mendengar suaranya sendiri mengucapkan terima kasih sebelum ia sendiri merosot duduk di kursinya. Ia bahkan tidak memperdulikan bahwa tangan kanannya kini memar parah. Ia tidak merasa sakit lagi. Tubuhnya mati rasa begitu mendengar bahwa Jaehee menderita meningitis selama hampir satu tahun ini.

   Ia tidak bergerak sama sekali, hanya menatap kosong ke depan. Kepalanya berulangkali mengulang kalimat dokter tersebut yang memvonis Jaehee mengidap meningitis dan sepertinya sudah berlangsung cukup lama. Jika satu tahun lalu, berarti saat mereka masih berkencan, kah Jaehee mulai mengidap penyakit itu?

   Joonmyun nyaris tidak menyadari perawat lewat mendorong Jaehee di atas tempat tidur besi. Gadis itu tidak sadarkan diri, dengan dua buah selang alat bantu pernapasan dipasangkan di wajahnya, satu selang infus pada tangannya, dan barulah Joonmyun berdiri untuk mengikuti para perawat itu menempatkan Jaehee pada tempat tidurnya di ruangan rawat inap VIP-nya.

   ”Kalau boleh tahu,” kata Joonmyun tiba-tiba pada seorang Suster yang sibuk mengatur infus Jaehee setelah mereka tiba di kamar. ”Apa… apa penyebab meningitis, Suster?”

   Sang suster menghela napas, ”Ada dua kasus meningitis, Tuan, ada yang disebabkan karena kanker, dan ada pula yang disebabkan karena virus. Nona Oh disini, terkena meningitis karena virus. Namun yang menyebabkan virus tersebut akhirnya aktif, biasanya karena stress berat dan kurang istirahat.” Jelasnya.

   ”Ah, kamsahamnida,” Joonmyun membungkuk dalam-dalam begitu sang suster selesai menjelaskan dan pamit. Joonmyun perlahan-lahan menolehkan wajahnya lagi pada Jaehee yang tertidur dan belum juga membuka kedua matanya.

   Ia merasa gagal. Gagal sekali sebagai seorang laki-laki yang mencintai seorang perempuan.

 

*        *        *

”Joonmyun?!”

   Joonmyun membuka kedua matanya dengan kaget, dan mendapati kedua orangtua Jaehee, dan Sehun di belakangnya muncul di ruang rawat Jaehee.

   ”Eommoni, Aboji,” Joonmyun berdiri dan membungkuk dalam-dalam. Sudah lama sekali sejak ia bertemu dengan kedua orangtua Jaehee, dan Sehun tentunya. ”Maaf mengganggu istirahat kalian, tapi… saya rasa… Eommoni dan Aboji harus tahu soal ini.”

   Ibu Jaehee tersenyum, meski ada bekas-bekas air mata di wajahnya. ”Terima kasih, Joonmyun-ah, sudah menyelamatkan putri kami. Kami dengar ia pingsan dijalan? Dokter Shim bilang begitu tadi…”

   ”Iya,” Joonmyun mengangguk, tersenyum canggung.

   ”Sehunnie, sudah telepon Daeyoung? Katakan apa yang Dokter Shim katakan pada kita tadi, Jaehee tidak mungkin bekerja dalam waktu lama… atau mungkin ia tidak akan pernah bekerja lagi…” isak sang ibu, yang langsung dipeluk oleh suaminya.

   Sehun mengangguk, pamit dan keluar ruangan, menelepon seseorang yang bernama Daeyoung tadi sementara Joonmyun masih bingung. Mendengar kata-kata Nyonya Oh tadi, sepertinya kedua orangtua Jaehee sudah bertemu dengan dokternya.

   ”Dia akan baik-baik saja, Yeobo, ia pasti bisa berkarier lagi. Sekarang kita harus fokus agar ia bisa sembuh.”

   ”Modelling adalah mimpi Jaehee sejak kecil,” isak ibunya sambil menangis di bahu suaminya. ”Kalau ia tidak bisa berjalan lagi… kalau ia tidak bisa berjalan lagi…” Nyonya Oh nampak tidak sanggup melanjutkan kata-katanya, sementara Joonmyun yang sejak tadi hanya menatap kosong dengan bingung, seakan tersambar petir mendengar kata-kata ibu dari gadis yang ia cintai itu.

   ”Eommoni, apa… apa maksudnya, dia… tidak bisa berjalan lagi?”

   Nyonya Oh terisak sambil menoleh pada Joonmyun, ”Meningitis adalah radang selaput otak, syaraf motorik Jaehee sepertinya terkena imbasnya… aku seharusnya mengingatkannya untuk periksa, hingga tidak terlambat… tapi…”

   ”A…apa? Tapi… tapi…”

   ”Dokter takut ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya… kita masih belum tahu apakah Jaehee benar-benar… lumpuh atau… tapi…” Tak sanggup, Nyonya Oh tak sanggup meneruskan kata-katanya, dan Joonmyun juga tidak sanggup mendengar penjelasannya lagi.

   Joonmyun berdiri mematung tidak sanggup juga menoleh lagi ke arah Jaehee.

 

*        *        *

Secangkir kopi panas tiba-tiba muncul di depan wajahnya. Joonmyun mendongak, dan melihat bahwa Sehun yang menyodorkannya gelas berisi kopi tersebut. Joonmyun menerimanya dan mengucapkan terima kasih dengan pelan.

   Waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi, dokter dan suster berulangkali masuk ke kamar Jaehee untuk memeriksa keadaannya, namun gadis itu tak kunjung bangun juga, dan jantung Joonmyun tidak berhenti berdetak kencang, seolah-olah memberitahukannya untuk selalu siaga, jika sesuatu yang buruk terjadi.

   ”Kebetulan sekali kau yang menemukan Jaehee.”

   Joonmyun tidak menjawab, masih menatap kosong ke kursi tunggu hitam di sebrangnya duduk bersama Sehun.

   ”Jaehee memang gadis yang keras kepala,” gumam Sehun. ”Aku juga menyesal tidak sejak awal memintanya untuk terus memeriksakan kesehatannya. Ia hanya bilang ia tak apa-apa, ia tak apa-apa, dan ia tak apa-apa,” kekeh Sehun. ”Pada akhirnya kita semua tahu, bahwa sebenarnya ia sakit, namun tidak mau mengakuinya.”

   Joonmyun mencengkram gelasnya kuat, tidak peduli bahwa gelas itu masih panas karena kopi.

   ”Dia bilang padaku,” kata Sehun lagi, ”Waktu kalian berpisah… setelah ia pulang dari kantor pengacara untuk mengajukan tuntutan, dan ia bilang ia juga berpisah denganmu. Kau baik sekali masih mau membawanya ke Dokter meski kalian sudah berpisah.” Sehun melirik Joonmyun yang masih nampak kosong, ”Dia akan baik-baik saja, aku yakin dia akan baik-baik saja, Joonmyun-ah. Dia gadis kuat…”

   Tepat di kalimat Dia gadis kuat, pertahanan Joonmyun roboh. Ia terisak, dan menundukkan wajahnya. Membiarkan air matanya jatuh ke pangkuan, sementara bahunya terguncang-guncang menahan isakan. Sehun iba sekali melihat Joonmyun seperti itu, dan menepuk bahunya pelan.

   ”Su…sudah berapa… lama dia sakit?” tanya Joonmyun terbata-bata.

   Sehun menghela napas, jujur akan jauh lebih baik, kan? ”Sudah lama sekali, ia tidak pernah mau diperiksa. Awalnya karena masalah dengan agensinya… ia trauma memiliki agensi sehingga beberapa bulan harus bekerja sendirian, tanpa Manajer… kurasa dari situlah meningitisnya akhirnya aktif. Dia tidak pernah mau istirahat, dia bekerja… bekerja… bekerja, dan bekerja, sampai tubuhnya protes sendiri. Dia keras kepala, tak ada seorangpun yang ia dengarkan saat mereka memintanya beristirahat. Dia pernah bilang dia ingin merasakan mati rasa…” dan Sehun menggigit bibirnya, ”Aku takut… dia akan benar-benar merasakan mati rasa sekarang.”

   Joonmyun tahu betul betapa berartinya modelling bagi Jaehee. Joonmyun menyaksikan sendiri perjuangan gadis itu sejak ia masih belum menjadi apa-apa hingga terkenal sekarang. Ia tahu, bahwa Jaehee rela mengorbankan apa pun demi cita-citanya. Dulu, betapa inginnya ia Jaehee meninggalkan dunia model yang menurutnya telah membuat Jaehee berubah. Ia tidak tahu, Jaehee memiliki masalah dengan agensinya, dan ia juga tidak tahu Jaehee sampai sakit seperti ini.

   Gadis itu mungkin tidak bisa berdiri dan melakukan modeling lagi. Cita-citanya akan berhenti, dan Joonmyun merasa berdosa. Ia merasa karena dialah, karena doanyalah Jaehee menjadi seperti ini, dan dia menyesal. Dia tidak ingin merebut mimpi Jaehee, sementara ia sendiri membuang gadis itu demi mimpinya.

-TBC-

  • Meningitis adalah gejala peradangan yang mengenai lapisan selaput pelindung jaringan otak dan sumsum tulang belakang yang juga menimbulkan eksudasi berupa pus atau serosa yang disebabkan oleh bakteri atau virus. Penyakit ini dapat disebabkan oleh mikroorganisme, kanker, jamur, luka fisik, obat-obatan tertentu yang dikonsumsi oleh pasien dan parasit yang menyebar kedalam darah dan melebur kecairan otak. Penyakit ini dikategorikan sebagai penyakit serius yang harus segera mendapatkan penanganan, mengingat letak penyakit ini berada dekat dengan otak dan tulang belakang, sehingga dapat menyebabkan kerusakan gerak, pikiran dan bahkan berujung pada kematian. SUMBER : http://bidanku.com/waspada-kenali-meningitis-radang-selaput-otak-penyebab-dan-pencegahannya

Hola~

Akhirnya penyakit yang Jaehee idap selama ini terbongkar sudah, sebenernya niatnya cuma mau 5 part… tapi kenapa begitu diketik tangannya nambah sendiri, nambah sendiri… mudah-mudahan semua suka dan nggak bosen karena aku ngepost ff melulu belakangan ini. Jangan lupa tetep tinggalin komen, karena komen kalian ada motivasi terbesar semua author di SKF ini ^^ sampai jumpa di part berikutnya dan juga di AIA ya~

bye yeom,

XoXo

Neez

91 responses to “[IM]PERFECTION – 4TH SLIDE — by Neez

  1. Update juga akhirnya, yeayyy, hehe. Kakak sudah berhasil membuat saya jadi sebel bin kesel bin greget sama Jonghyun dan Jiyeon, wkwkwk. Secara keseluruhan, menurut saya Kakak harus lebih memperhatikan penggunaan kata ‘kita’. Bukannya salah sihh Kak, kurang tepat aja. Disitu kan konteksnya keluarga Jae Hee aja, Joonmyun nya nggak. Jadi yang lebih tepat itu menggunakan kata ‘kami’. Di kalimat lain juga ada beberapa bagian yang masalahnya kayak penggunaan kata ‘kita’ itu. Itu aja dehh, Kak. Maaf yaa Kak kalo Kakak tersinggung. Saya tungu kelanjutannya, Kakak😀

  2. Ugh kenapa jd bgni? Nangis pas bagian junmyeon nanya soal jaehee ke sehun:( ya ampun bner2 pertemuan yg menyedihkan , apa sih itu temen2nya msih kya gitu aja .

  3. emang dari awal kan aku udah sebel banget ama temen” nya joonmyeon gk ada yang beres semuanya termasuk jiyeon
    Baguslah kalo akhirnya joonmyeon sadar ama sikapnya dan dia juga tahu bagaimana kondisi jaehee sebenarnya udah parah mah
    Pertemuan yang menyakitkan

  4. o my god kak… sedih sekali part ini…
    gak nyangka jaehee bisa sakit separah itu..
    ikutan nangis jg pas joonmyun nangis dengar penjelasan sehun…

    tp lega jg akhirnya joonmyun bisa mnyadari perbuatan yg gak adil sm jaehee.. akhirnya dia sadar kalo temennya it gak bener..

    ok.kak d tunggu klanjutannya
    fighting

  5. Aku juga gak suka sama temen2 Junmyeon, entah kenapa benci banget sama Jaehee dan terang2an ngejek dia.
    Bener2 gak tau etika deh, sebel
    Semoga Jaehee cepat sembuh, dgn adanya Junmyeon 😊😊
    Ditunggu kelanjutannya authornim, selamat mengetik semoga nambah2 sendiri ketikannya haha

  6. Akhirnya joonmyun sadar juga kalo temannya reseh dan kayaknya joonmyun nyesel juga ke jae hee karna g adil lebih menting ngin teman2 ketimbang jae hee
    g nyangka kalo jae hee bakal sakit parah gitu , bisa sembuh kan penyakit nya
    moga aja stlh ini hubungan jae hee sm joonmyun baikan dan penyakit jae hee bisa sembuh
    makin penasaran sm lanjutan critanya
    figthing^^ kak Nezz buat next chap nya

  7. Pingback: [IM]PERFECTION – 5TH SLIDE — by Neez | SAY KOREAN FANFICTION·

  8. dan penyesalan pun akhirnya joonmyeon rasain huhu sedih bnget bacanyaaa
    jaehee bener2 nahan bnget ga mau kontrol lagi..
    kasian jaehee

  9. Aku telat baca part ini kak, dan ternyata part selanjutnya udah rilis hihihi. Gapapa kali yaa, yang penting feel bacanya tetep wokeh seperti biasa. Dan mau berapa part pun tetap ditunggu kok Kak Neez ^^ Fighting!!

  10. yaampuuunn aku nggak tahu kalo mengitis bisa menyebabkan lumpuh pada syaraf motorik
    hmm kasihan banget jaehee

  11. Pingback: [IM]PERFECTION – 6TH SLIDE — by Neez | SAY KOREAN FANFICTION·

  12. akhirnya… msuk RS juga kan.. mana sakitnya maningitis lagi.
    itu kakek ama nenek bisa diem gak siihh mulutnya bentarrrr aja. kesel tau baca past jomyun lagi ama temen sekampusnya.. apalgi ama 2 lampir itu hiiihhhhhh
    kan, nyesel kan… kenapa gak dari dulu” aja… ngalah kek,, hubungi jaehee dulu kanapa lo…. jadinya gini kan.. huuuuu jreeesss bagt kena bget feel nya….

  13. Okey ketinggalan lagi, baru skrg bisa baca + koment,
    Astagaaaaa geregettt sama si jiyeon ini ya ampun, segitunya ya suka sama joonmyeon, issshh
    Si jonghyun jugaa aissh rasakan dpt bogeman.haha
    Joonmyeon baru nyesel sekarang, setelah 1 thn berlalu, ahh bnr 1 tahun kan.
    Meningitis? Jadi penyebab nyaa seperti itu? Tak tau byk tentang ini hihi
    Ya ampun jaehee kesian, trlalu maksainkerja smpe sakit itu.
    Ceritanya bikin org penasaran bnr bnr dah.. sukalah

  14. Pingback: [IM]PERFECTION – 7TH SLIDE — by Neez (PG15++) | SAY KOREAN FANFICTION·

  15. Ksian bgt jahee nya… Udah gak tau mau koment apa.. Pdahal hnya ff tpi ikut shock jahee kena meninghitis… Lngsung keingat Olga shaputra.. Kalo gini spa yg slah coba…

  16. Jaehee cepet sembuh cepet balikan sama Joonmyeon dan kutunggu moment” manis kalian karena sudah cukup aku nangis baca dari part 1😂

  17. Pingback: [IM]PERFECTION – 8TH SLIDE (END) — by Neez ~PG17/CUT VERSION | SAY KOREAN FANFICTION·

  18. Ya ampun jaehee kenak meningitis, aduh kasian banget. Tapi kayaknya joonmyoen jadi simpati kembali sama jaeee. Semiga aja mereka balikan

  19. smpah ya sedih bangt deh baca part ini
    wah kayaknya si jumyeon menyesal deh udah dengerin sahabt2nya dan berpisah dari jaehee
    si junmyeon juga nyesel karna jaehee bisa smpai mnderita tu pnyakith

  20. Sedih bgt sih.. knp hrs kena meningitis coba kan kasian jaehee nya.. nyesel kan lu joonmyun udh ninggalin jaehee di saat dia hrs ngelawan penyakit nya tp semoga mereka balikan lg deh 😭😭

  21. Temen-temen Joonmyun bener bener lah bikin kzl. Jonghyun sama Jiyeon ckck
    Untungnya Jaehee bisa dibawa ke RS cepet2. Joonmyun keliatan worry banget sama Jaehee. Kenapa kalian putus sih ><

  22. Noh bang joonmyeon didengerin tuh nasehat ibunyaa jangan dengerin temen2 mu yang anti banget sama jaehee padahal kenal aja enggak -_-
    Yaampun kok serem banget penyakitnya jaehee??????
    Kasian bangeettt tar gimana kalo jaehee gak bisa modeling lagi???? NOOO :((((((
    Semoga aja jaehee bisa sembuhhhh :””””

  23. Jonghyun yg disini beneran pengen gue qurbanin deh rasa2nya, kompor banget sih. Tuh kan junmyeon nyesel sendiri, suka kemakan omongan orang sih. Si jonghyun juga, dia emang beneran benci sama jaehee apa ada affair sama si jiyeon, kok ngomporinnya kek gitu banget.

  24. Bener2 deh. Itu temen Joonmyeon jahat semua. Cm karena Jaehee kerja di dunia entertaiment, mereka lgsg ngecap Jaehee nggk bnr. Untg Joonmyeon udah sadar, ya wlwpun telat sih. Hhe. Btw kasian Jaehee, smpe ngis sndri baca chpt ini. Aishhhh-_- keren kak, fighting!^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s