Unspeakable Secret | 3rd Chapter

unspeakable mancay

:: UNSPEAKABLE SECRET ::

(말할 없는 비밀)

[3 – The Black Devil]

.

STORYLINE BY AWKNISA

POSTER BY dyzhetta @ Art Fantasy

.

 

MAIN CAST :

Oh Sehun

Kim Leera

 

Support Cast : EXO’s Members, OC, Various Artist || Genre : Drama, Family, Romance || Rating : PG 15

.

Previous Chapter

[1 – I Found You] || [2 – Kiss Attack]

.

“Aku benar-benar tidak bisa mempercayaimu lagi. Karena bagiku… kepercayaan itu ibarat sebuah kertas dan kebohongan ibarat air. Sekalinya kau menuangkan air dikertas itu, maka jangan harap ia akan utuh kembali”

.

HAPPY READING

Leera melangkahkan kakinya secepat mungkin dan langsung masuk begitu saja kedalam kediaman Keluarga Park yang sudah selama delapan belas tahun belakangan ini resmi menjadi tempat tinggalnya. Perasaan dan pikiran Leera benar-benar kacau. Rasanya ia ingin menelan siapapun yang mengganggunya malam ini.

“Kau pulang dengan siapa, Leera-ya?” tanya Chanyeol begitu Leera melintasi ruang menonton tv di rumah mereka dan pria jangkung tersebut sedang asik menikmati tayangan humor kesukaannya—SNL Korea.

Leera tidak menghiraukan sama sekali perkataan Chanyeol, ia langsung melesat begitu saja menaiki tangga menuju ke lantai dua—kamarnya dan suara pintu tertutup yang sedikit kasar terdengar cukup jelas ditelinga Chanyeol yang kini sedang kebingungan melihat tingkah Leera.

.

= = =

.

Leera menghempaskan tubuhnya begitu saja keranjang empuk kesayangannya. Kini posisinya ia sedang telentang dikasur masuh dengan pakaian kerja serta sepatu berhak cukup tinggi yang terpasang dengan indah di kaki jenjangnya. Nafas Leera terlihat memburu dan sedari tadi tangannya tak lekas beranjak dari bibirnya dan menatap kosong kelangit-langit kamarnya yang berlukiskan awan tersebut.

“Brengsek kau, Oh Sehun!!” pekiknya cukup keras, masih dengan posisi seperti tadi.

Seketika sekelebat bayangan dimana bibir kenyal Sehun menempel pada bibirnya secara tiba-tiba dan berhasil membuatnya terbuai lalu dengan bodohnya mengikuti ciuman yang cukup panas tersebut. Ia ingat betul bagaimana Sehun mengigit dan melumat bibirnya dengan ganasnya tadi, dan bagian yang paling ia ingat dan ia sesali adalah bagian dimana ia mengeluh kenikmatan sembari menjambak halus rambut Sehun. Sial, sial, sial!! Belajar darimana kau melenguh seperti itu, Bodoh. Itu bahkan ciuman pertamamu!! batin Leera.

“Si brengsek itu!! Ternyata ia bersikap sok baik padaku hanya karena ingin menciumku, Sialan!! Benar kata orang-orang, Sehun memang brengsek, bodoh sekali aku sempat menganggapnya baik,” ujarnya, lagi-lagi ia berdialog dengan dirinya sendiri.

Leera akhirnya beranjak dari posisinya dan kini ia berdiri sembari menumpukkan kedua tangannya di meja riasnya. Leera melihat ada tiga buah bercak merah yang merupakan hasil dari permainan sesaatnya dengan Sehun beberapa menit yang lalu. Tangan Leera bergetar hebat saat perlahan-lahan ia menyentuhkan tangannya pada bercak-bercak merah tersebut.

“AAA!!! MOLLA!!!” pekiknya yang kini justru mengacak-acak rambut cokelat tua yang halus bagaikan sutra itu.

TOK TOK TOK

Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar sana. “Ya! Kim Leera, neo gwenchana?!” tanya Chanyeol sedikit memburu karena ia khawatir dengan tingkah Leera yang cukup aneh hari ini apalagi ditambah dengan pekikan histeris gadis itu barusan.

Leera membuka pintu kamarnya lalu membiarkan Chanyeol masuk begitu saja. Sedangkan dirinya sendiri kini sedang bergemul bersembuyi dibalik selimut tebalnya. “Ya! Kenapa kau berteriak-teriak begitu?” Chanyeol berusaha untuk menyibakkan selimut Leera namun tidak berhasil karena gadis itu menahan kuat-kuat selimutnya.

“Leera-ya, kau kenapa aneh sekali sih malam ini?” desak Chanyeol sembari mengguncangkan tubuh mungil Leera yang terbungkus seperti kepompong saat ini. Chanyeol terlihat kesal karena Leera tak kunjung memberitahunya apa yang sebenarnya terjadi.

Perlahan-lahan Leera menyerah dan mulai menyibakkan selimut tebal tersebut dari tubuhnya lalu duduk menghadap ke Chanyeol yang kini juga sedang terduduk di salah satu sisi kasurnya. Mata bulat Chanyeol seakan-akan ingin keluar dari tempatnya begitu ia melihat keadaan Leera. “Y—ya! Kim Leera… siapa yang melakukan ini?!” tanya Chanyeol tak percaya dengan mulut menganga lebar.

Na bangesseo (Aku hancur), Park Chanyeol!!” pekik wanita itu bahkan kini memukul mukul dada Chanyeol yang masih terpaku ditempatnya.

“Kau diperkosa?! MWO?! SIAPA YANG BERAN—“

TUK

Leera menjitak geram dahi pria itu. “Enak saja!! Jaga mulutmu ya!!” Leera menjadi emosi akibat perkataan Chanyeol. “—tapi kau ada benarnya… kalau aku tidak berhenti mungkin aku sudah diperkosa oleh si brengsek itu!!” lanjut Leera.

“Ini… siapa yang melakukannya? Si Brengsek yang kau katakan tadi juga siapa? ” raut kebingungan tak kunjung pergi dari wajah tampan Chanyeol. Ia benar-benar tak mengerti dengan tanda-tanda bekas ciuman yang tercetak jelas di beberapa sisi leher Leera.

“Oh Sehun… Oh Sehun yang melakukannya…” Leera mengguncang-guncang bahu Chanyeol yang justru semakin tercengang mendengar perkataan gadis itu barusan.

“Jadi selama ini kau berkencan dengan Oh Sehun? Bagaimana bis—“

“Berhentilah berkata bodoh, Park Chanyeol!! Aku bahkan baru melihat wajahnya kemarin pagi saat rapat, bagaimana bisa aku berkencan dengannya? Dan dengar ya, aku tidak akan sudi berkencan dengan pria brengsek sepertinya,” ujar Leera frustasi.

Chanyeol mengernyit kearah Leera, “Lalu bagaimana bisa kalian berciuman sampai menghasilkan ini…” telunjuk Chanyeol mengarah ke kissmark di leher Leera.

Akhirnya Leera menceritakan dengan detail seluruh kejadian yang terjadi malam ini mulai dari Sehun yang mengajaknya pulang bersama, lalu makan malam di Gangnam Gyoja, dan juga…. ciuman itu. Chanyeol benar-benar tak  habis pikir dengan cerita Leera barusan.

“Dengar aku, Leera-ya. Kau harus berhati-hati, oke? Karena bisa saja Oh Sehun ingin menjadikanmu mainannya saat ini, karena ia memang terkenal seperti itu. Ia tidak pernah mau mengikat hubungan dengan siapapun, ia hanya menginginkan servis hebat diranjangnya, setelah itu kau akan ditinggalkan begitu saja. Dan aku… tidak mau kau disakiti seperti itu ” jelas Chanyeol. Leera terlihat mengangguk-anggukan kepalanya; ia setuju dengan perkataan Chanyeol kali ini.

“Ya, kau benar, Chanyeol. Aku rasa dia hanya ingin mempermainkanku karena ia pikir aku mudah ditindas.” Leera tersenyum miring. “—tidak semudah itu, Oh Sehun,” lanjutnya dalam hati dengan padangan lurus kedepan dan semangat yang kembali membara.

.

= = =

.

Leera melangkahkan kaki dikantornya dengan sedikit gugup. Ya, ia takut jika ia bertemu Sehun tiba-tiba dan ia bingung harus melakukan apa, dan ia juga tidak mau harinya rusak begitu saja karena melihat wajah brengsek itu. Pagi ini ia sengaja mengenakan longsleeve berwarna hitam dengan model potongan turtleneck agar bisa menutupi bagian lehernya seutuhnya dan menyembunyikkan bercak merah sialan hasil karya Oh Sehun tersebut. Untungnya, Sehun cukup sulit ditemukan dikantor sehingga setidaknya Leera bisa bernapas lega.

Kini ia telah sampai ditempat ruangannya berada yaitu dilantai enam. Ia langsung menyapa beberapa karyawan yang berpapasan dengannya. Saat ia melintasi meja Haeyoung, tiba-tiba suara nyaring itu langsung menginterupsi langkahnya, “Leera-ya, kau sedang berkencan ya?” sergah Haeyoung yang berhasil membuat Leera menarik alisnya kebingungan saat itu juga. “Berkencan? Eii, kalau aku berkencan aku pasti memberitahukan hal itu padamu, Sunbae,” jawab Leera sembari tertawa renyah.

“Lalu kalau bukan kekasihmu, siapa yang mengirimkan bunga dan cokelat itu?” tanya Haeyoung lagi. Leera semakin bingung. Oh ayolah, apa Haeyoung sedang dalam keadaan mabuk? Kenapa pagi ini gadis bermata sipit itu terus saja mencelotehkan hal-hal aneh. “Maksdumu, Sunbae?” tanya Leera.

“Ya, sekitar lima belas menit yang lalu ada seorang pengantar paket yang mengirimkan sebuket bunga dan sekotak cokelat dari Swiss untukmu, dan kau tahu… cokelatnya benar-benar enak, aku sempat mencicipnya satu buah tadi, sorry.” Haeyoung tersenyum jahil sembari mengangkat v-sign yang ia bentuk dengan tangan kanannya diudara.

Leera yang masih dalam keadaan bingung langsung berjalan begitu saja meninggalkan Haeyoung menuju ke meja kubikel miliknya, dan benar saja… kini sebuah buket bunga yang di dominasi oleh warna merah jambu dan putih tersebut tergeletak dengan manis diatas meja kerjanya, ah jangan lupakan juga sekotak cokelat yang bungkusnya saja sudah terlihat mahal juga terletak disebelah bunga manis tersebut.

Otomatis Leera langsung mendudukan dirinya dan menyambar sebuah lipatan kertas kecil yang terselip diantara rangkaian bunga mawar nan indah tersebut.

‘Aku minta maaf apabila kau terganggu dengan aksi tiba-tibaku semalam. Aku harap kau memaafkanku dan masih sudi bertemu atau pulang denganku lain kali…’

Tanpa melihat nama pengirimnya otak Leera yang cukup cerdas mampu menangkap bahwa semua ini adalah pemberian dari Oh Sehun. Oh Tuhan, bahkan hari baru saja dimulai pagi ini tapi Leera sudah harus memecahkan beberapa teka-teki yang membuatnya bingung, sebenarnya apa tujuan Oh Sehun pada dirinya, hm?

Dan sialnya… jantung bodohnya ini justru berdegup kencang begitu ia melihat goresan-goresan yang ditorehkan Sehun diatas kertas kecil tersebut. “Tidak.. tidak.. kau harus sadar kalau pria ini hanya ingin mempermainkanmu, Kim Leera.” Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha mengusir gelanyar aneh yang tiba-tiba saja ia rasakan.

Lalu tangan Leera bergerak meraih buket bunga tersebut, selanjutnya dengan santai ia melemparkan buket bunga nan indah itu kedalam tong sampahnya. “— Haeyoung Sunbae, kau mau cokelatnya? Aku sedang diet,” ujar Leera dari meja kubikel miliknya sembari mengangkat kotak cokelat berukuran sedang tersebut. Otomatis Haeyoung yang kini kepalanya menyembul dibalik kubikel tersebut langsung berteriak kegirangan.

.

= = =

.

Leera baru saja menyelesaikan kegiatan makan siangnya bersama rekan kerja seruangannya—termasuk Haeyoung—disalah satu restoran yang berada disekitaran kantor mereka. Kali ini mereka memilih untuk menghabiskan waktu makan siang diluar kantor karena sudah cukup lama juga mereka tidak makan diluar berhubung pekerjaan mereka akhir-akhir ini menumpuk sehingga terkadang mereka memilih untuk makan siang dikantin agar lebih praktis dan hemat waktu.

Saat istirahat seperti ini biasanya para karyawan harus mengantri untuk menaiki lift menuju keruangan mereka masing-masing. Begitupun yang terjadi dengan Leera saat ini ia sudah menunggu giliran untuk menaiki lift kira-kira sepuluh menit lamanya, dan kalian tahu… saat ia hendak menaiki lift yang akhirnya tiba, ia terpaksa harus mengalah untuk keluar dari lift karena dialah orang yang terakhir menaiki lift dan sialnya bel lift tersebut berbunyi tandanya lift terlalu penuh. Mau tak mau Leera terpaksa keluar dari lift tersebut dengan berat hati.

Seketika Leera teringat akan kartu rahasia yang pernah dipinjamkan Chanyeol padanya dan sepertinya belum sempat ia kembalikan. Ya, kartu itu adalah kartu VIP Access Pass di kantor ini. Kartu tersebut adalah kartu yang bisa digunakan untuk mengakses seluruh fasilitas VIP di Ilhwa Group, termasuk lift dan juga parking area VIP. Kalian bingung darimana Chanyeol mendapatkan kartu ini? Well, aku harap kalian tidak lupa bahwa Chanyeol memiliki koneksi yang cukup kuat dikantor ini. Ya, ia mendapatkan kartu tersebut karena pamannya yang berjabatan tinggi di Ilhwa Group cabang Jepang.

Leera langsung menuju ke bagian Lift VIP dan menempelkan bagian kuningan kecil pada kartu tersebut pada tempat yang disediakan dan taraa!! Tanpa menunggu lama lift VIP yang jauh lebih besar dan bagus daripada lift biasa itu langsung terbuka dan Leera tertegun kala ia mendapati Oh Sehun sedang berada di lift itu dan melangkahkan tubuh gagahnya keluar dari lift tersebut.

Otomatis Leera membungkukan tubuhnya karena bagaimanapun juga Sehun adalah atasannya. Well, walaupun ia sebenarnya ingin menimpuk wajah pucat Sehun dengan stilettonya saat ini juga, namun ia berusaha mati-matian untuk menahan emosinya yang kembali naik. Oh ayolah, ia tak rela harus memberikan ciuman pertamanya yang sudah ia jaga baik-baik untuk seseorang diluar sana pada Oh Sehun.

“Kim Leera bagaimana denga—“ Sebelum pintu lift kembali tertutup Leera langsung melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam lift yang kini kosong tersebut tanpa menghiraukan Sehun yang sepertinya ingin menanyakan sesuatu padanya.

.

= = =

.

Haeyoung sedang asik membaca grafik-grafik mengenai keuangan bulanan perusahaan yang sedang ia tinjau dan periksa melalui tablet berwarna putih miliknya, karena General Manager–atasannya–berkata bahwa dua hari lagi akan ada rapat mengenai keuangan peruasahaan. Harusnya rapat tersebut diselenggarakan minggu depan, namun berhubung beberapa personil tim keuangan memiliki halangan untuk hadir minggu depan maka rapat dimajukan beberapa hari.

Yeogisseo mwohae? (Sedang apa disini?)” suara berat tiba-tiba memasukki indera pendengarannya dan ia juga merasakan bahwa ada seseorang yang kini mengambil posisi duduk disebelahnya. Dari aroma maskulin Creed’s Silver Mountain—yang dulu pernah menjadi aroma kesukaannya—ia bisa menebak siapa sosok tersebut. Park Chanyeol, lagi-lagi Haeyoung hanya bisa merutuk dalam hati mengapa ia terus saja bertemu Chanyeol yang jelas-jelas sangat ingin ia hindari.

“Bekerja,” jawab Haeyoung singkat.

Chanyeol mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan tempat mereka berada. “Bekerja? Disini? Ya! Apa ruanganmu sudah pindah ke Lounge sekarang, eo?” Chanyeol menyenggol pundak Haeyoung dengan pundaknya dan berhasil membuat Haeyoung melemparkan tatapan penuh kebencian itu lagi pada dirinya.

For your information, kini Chanyeol dan Haeyoung sedang berada di lounge kantor yang kebetulan sedang tidak berpenghuni selain mereka berdua saat ini. Lounge kantor memang tidak sering terlihat ramai disiang bolong seperti ini. Tapi jika jam pulang kantor tiba, lounge biasanya cukup padat namun tidak pernah benar-benar penuh; karena lounge di Ilhwa Group termasuk besar dan sangat mewah.

“Memangnya kenapa jika ruanganku pindah kesini? Kau mau protes?” Haeyoung terlihat enggan melirik Chanyeol barang sedikitpun. “Anni, aku justru akan meminta untuk dipindahkan keruangan yang sama denganmu,” goda pria itu sembari tersenyum jahil. Lagi-lagi ia mengadu pundak Haeyoung dengan pundaknya. Dan untuk kesekian kalinya ia berhasil memancing emosi Haeyoung.

“Kau kenapa senang sekali menggangguku, eo? Kau benar-benar merusak mood kerjaku, tahu!!” seru Haeyoung dengan wajah memerah emosi.

“Aku hanya ingin kita setidaknya bisa kembali dekat, Haeyoung-ah. Apa aku salah?” tanya Chanyeol murung.

Haeyoung mengangkat dagunya menantang. “Ya, kau salah besar karena aku bahkan tak terpikir untuk kembali dekat denganmu sama sekali,” ketus wanita bermata sipit itu.

“Soal kejadian itu… aku benar-benar minta maaf. Ku akui aku benar-benar khilaf, Haeyoung-ah. Dan juga… aku dalam keadaan mabuk saat itu jadi—“

“Jadi apapun yang kau lakukan diluar kendalimu dan kau merasa bahwa kau tidak bersalah sepenuhnya? Begitu, kau mau berkata seperti itu lagi ‘kan?” Haeyoung mengerutkan dahinya menunjukkan sisi rapuhnya kali ini.

“Tidak, aku sudah sadar bahwa sebenarnya semuanya adalah kesalahnku. Kesalahanku yang tak bisa mengontrol nafsu dan emosiku. Sekali lagi aku minta maaf, Haeyoung-ah. Kalau ada hal yang bisa kulakukan agar kau memaafkanku, aku akan melakukan hal itu, Byun Haeyoung. Karena kau… aku membutuhkanmu, Haeyoung-ah,” lirih Chanyeol dengan raut wajah yang tak kalah rapuh dari Haeyoung.

Mata Haeyoung yang tadinya berkaca-kaca kini mulai dibasahi oleh bulir-bulir bening kesedihan saat dengan sialnya ingatan buruk mengenai kejadian lima bulan yang lalu terngiang lagi dibenaknya. “Maaf, Park Chanyeol. Aku benar-benar tidak bisa mempercayaimu lagi. Karena bagiku… kepercayaan itu ibarat sebuah kertas dan kebohongan ibarat air. Sekalinya kau menuangkan air dikertas itu, maka jangan harap ia akan utuh kembali. Begitulah sekiranya kepercayaanku padamu saat ini, Yeolda. Sudah benar-benar rusak.” Haeyoung mulai terisak bersuara. Chanyeol terperangah saat panggilan ‘Yeolda’ itu kembali keluar dari bibir mungil Haeyoung. Yeolda, panggilan yang terdengar begitu indah ditelinganya, apalagi jika wanita yang berada dihadapannya ini yang memanggilnya seperti itu. Well, sebenarnya memang hanya Haeyoung yang memanggilnya dengan julukan Yeolda.

“Aku mohon, Haeyoung. Beri aku kesempatan satu kali lagi… aku janji… kali ini aku berjanji atas nama Tuhan bahwa—“

“Jangan berani-beraninya kau membawa nama Tuhan, Chanyeol. Kau sendiri bahkan tidak bisa menjamin mutlak bahwa kau tidak akan melakukan hal itu lagi, aku paham betul tentangmu.” Haeyoung masih terisak dan ia mulai menghapus air mata yang mengalir dipipinya dengan kasar.

Haeyoung beranjak dari duduknya membawa serta tablet putihnya dan meninggalkan Chanyeol yang masih termenung dengan kerapuhannya seorang diri di lounge tak berpenghuni tersebut.

.

= = =

.

Sehun melangkahkan kakinya kebagian ruangan CCTV karena ini memiliki sebuah urusan pada pihak CCTV. Ia hendak melihat siapa saja yang masuk keruangan ayahnya selama satu minggu kemarin, tepatnya jalang mana saja yang bermain dengan ayahnya di kantor selama satu minggu kemarin. Well, Sehun memang terlihat tidak perduli dengan ayahnya, namun untuk hal yang satu ini ia masih rutin memeriksanya setiap satu minggu sekali. Ternyata ayahnya masih sama saja, mata keranjang. Bahkan setelah ia kehilangan dua istrinya ia masih bisa bermain dengan jalang murahan seperti itu.

Seluruh karyawan yang bertugas diruangan CCTV langsung berdiri dan membungkuk sembilan puluh derajat begitu Sehun beserta sekertarisnya–Kim Jongin, masuk kedalam ruangan yang dilengkapi dengan puluhan LCD yang menampakkan berbagai macam angle dari Ilhwa Group yang terekam melalui kamera tersebut.

“Bagaimana minggu ini, berapa banyak wanita yang sudah ia sewa?” tanya Sehun to the point pada Kim Jongdae—kepala ruangan CCTV di Ilhwa Group.

Jongdae dengan tegas langsung menjawab pertanyaan Sehun, “Minggu ini hanya ada satu wanita dan beliau hanya melakukan hal tersebut satu kali belakangan ini, Isajangnim.”

Dahi Sehun berkerut mendengar jawaban Jongdae. Ya, ia terkejut mengapa hanya satu wanita yang disewa oleh ayahnya dalam satu minggu ini. Oh ayolah, ini tidak seperti biasanya. Kalian tahu, ayah Sehun sama maniaknya dengan Sehun jika menyangkut seks. Meskipun ia usianya sudah memasuki kepala lima, pria bernama Oh Ilwoo tersebut bahkan masih sanggup melakukan seks lima kali dalam seminggu.

Sembari berpikir Sehun mengedarkan pandangannya kearah puluhan  LCD yang terpampang dihadapannya dan pandangan Sehun terhenti pada sebuah LCD yang menampakkan jelas pemandangan dimana seorang wanita kini tengah terduduk dengan lemah sembari bersandar ke pintu lift dan menggedor-gedor pintu lift tersebut dengan tenaga minim.

VIP Lift [2], begitulah tulisan yang terdapat di tepi kanan atas layar tersebut. Sehun seketika teringat bahwa ia tadi sempat menaikki lift tersebut dan ia… berpapasan dengan Leera. Astaga!

Sehun menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas sosok yang sedang berjuang dibalik pintu lift tersebut dan pakaian serta bentuk tubuhnya… benar-benar khas Leera!! “Ya! Kim Jongdae, segera hubungi petugas lift dan perintahkan mereka untuk segera menyelamatkan Nona Kim, ia terkunci disana, lihat!!” pekik Sehun tiba-tiba sembari menunjuk kearah layar yang berada digaris diagonal dengan pandangannya.

Sontak seluruh karyawan, termasuk Jongin, mengalihkan pandangannya kearah layar yang dimaksud Sehun tersebut dan Jongdae dengan sigap melaksanakan perintah dari Sehun. Ia langsung menghubungi bagian mesin yang memegang kendali terhadap lift perusahaan.

Sehun langsung berlari begitu saja menuju ke tempat dimana lift tersebut berhenti. Dilayar itu tertuliskan bahwa Lift terhenti di lantai lima. Dengan cepat Sehun menempelkan kartu VIP Access Passnya kesalah satu lift lainnya dan diikuti pula oleh Jongin serta dua orang karyawan lainnya.

Begitu sampai dilantai lima, terlihat beberapa orang petugas sedang berusaha membuka lift tersebut dan syukurnya dalam waktu kurang dari lima menit lift tersebut berhasil terbuka dan Sehun langsung masuk megnhambur begitu saja kedalam lift, merengkuh Leera kedalam jangakauannya yang sudah terkulai lemas tak berdaya bersandar pada salah satu sisi dinding lift.

“Siapkan mobil, kita kerumah sakit sekarang!!” seru Sehun dan dua karyawan yang tadi mengekori ia dan Jongin langsung bergerak cepat untuk melaksanakan perintah Sehun.

“Leera! Ya! Kim Leera!! Neo gwenchana?!” Sehun menepuk-nepuk pipi Leera berkali-kali dan menggendong Leera keluar dari lift tersebut.

Setelah itu ia mengambil langkah sebesar mungkin agar ia cepat sampai ketempat parkir yang berada dilantai lima tersebut dengan keadaan Jongin masih mengekorinya saat ini. Saat Sehun sedang panik melihat Leera yang sudah pucat pasi bagaikan mayat tersebut, tiba-tiba saja bibir pucat itu bergumam kecil dan kini mata indahnya yang sudah sayu menatap sempoyongan ke arah Sehun. “Oh Sehun….” panggilnya lemah, namun masih mampu terdengar oleh telinga Sehun.

“Leera, bertahanlah sebentar, oke? Kita akan kerumah sakit?” Sehun menundukkan kepalanya menghadap kearah Leera yang kini sedang berada dalam gendongannya. Leera menatap sendu kearah Sehun dan dengan sekuat tenaga ia berkata, “Tolong..hhh.. selamatkan aku..hh… Oh Sehun, aku…hh… takut…” lirih Leera terakhir kalinya sebelum ia benar-benar benar tak sadarkan diri.

.

= = =

.

Sesampainya dirumah sakit, Sehun langsung menggendong Leera dan membawanya ke UGD sembari berteriak memanggil dokter dan juga perawat untuk segera menangani Leera. Gadis itu langsung dibaringkan di kasur rumah sakit dan dipasangkan jarum infus di urat nadinya, juga tak lupa Leera disambungkan dengan bedside monitor yang digunakan untuk memantau detak jantung gadis itu.

Dokter menggerakkan stetoskop keberapa bagian tubuh Leera sebelum akhirnya menaikkan selimut gadis itu sebatas dada. “Kondisi Nona Kim saat ini baik-baik saja, Tuan. Dilihat dari keadaannya saat ini, penyebab ia tak sadarkan diri adalah shock dan rasa takut yang cukup berat. Namun Anda tenang saja, Nona Kim akan kembali pulih sebentar lagi, ia hanya butuh penenangan dari alam bawah sadarnya terlebih dahulu,” ujar dokter pria bernama Choi Minho tersebut.

Ah, Ne. Kamsahabnida, Seonsaengnim (ya, terimakasih, Dokter).” Lalu Dokter Choi tersenyum tipis sebelum akhirnya meninggalkan bilik lawat Leera.

Sehun mengambil posisi untuk duduk di kursi yang berada disamping kasur rawat Leera, diikuti pula oleh Jongin. Lama kelamaan Jongin mendapatia wajah khawatir setengah mati milik Sehun tadi berangsur-angsur berubah menjadi seringaian licik.

Jongin merasa ada hal yang janggal disini, “Kau.. kenapa kau menyeringai seperti itu..” ujar Jongin langsung. Pandangan Sehun yang tadinya terfokus pada Leera kini ia alihkan kepada Jongin, namun ia tak merespon perkataan Jongin tersebut sama sekali.

“Jangan bilang kalau… sebenarnya ini semua bagian dari rencanamu, Oh Sehun?!” nada bicara Jongin lebih terkesan seperti membentak saat ini apalagi disertai dengan wajah seriusnya tersebut.

“Sayangnya kau benar kali ini, Jongin. Ini…memang bagian dari rencanaku.” Lagi-lagi seringaian licik itu menghiasi wajah tampan Sehun dan seketika pikirannya terbang pada kejadian beberapa saat yang lalu.

[01:00 PM KST]

Sehun baru saja berniat untuk menghabiskan waktu makan siangnya yang benar-benar terlambat ini disalah satu kedai bubbletea serta waffle yang berada tak begitu jauh dari kantornya. Seperti biasa, ia selalu menggunakan VIP Lift saat ia berkeliaran dikantor.

Sehun menekan tombol 1—tempat dimana lobby kantornya berada—dan tak lama kemudian lift tersebut telah sampai ditempat tujuannya. Sehun tertegun ketika ia mendapati Leera kini berada di depan lift tersebut, ‘Bukankah ini Lift VIP, mengapa ia menunggu didepan sini?’ tanya Sehun pada dirnya sendiri.

Sehun pikir, Leera akan sedikit luluh dengan bingkisan yang ia kirimkan tadi pagi. Tapi lihatlah, bahkan gadis itu sama sekali tidak menatap mata Sehun sama sekali. “Kim Leera… bagaimana dengan—“belum sempat Sehun melanjutkan perkataannya tapi gadis itu sudah melangkahkan kakinya kedalam lift dan segera menutup pintu lift tersebut.

“Sial!! Jadi dia baru saja mengacuhkanku, eo?” Sehun tak habis pikir dengan apa yang baru saja ia alami. Karena sebenarnya ia berharap Leera akan menyapanya dengan wajah penuh harap dan mengucapkan kata terimakasih atas bingkisan yang ia kirimkan pagi tadi. Perlu kalian ketahui, Sehun mengirim bingkisan tersebut jelas saja bukan dengan ketulusan hatinya, ini semua bagian dari rencananya. Karena ia harus berhasil mendapatkan kesan baik dari Leera agar kedepannya rencana gilanya itu bisa berjalan dengan sempurna. Namun kenyataannya justru berbalik seratus delapan puluh derajat. Gadis itu justru tak terlihat tertarik untuk sekedar melirik Sehun. “Sepertinya aku harus berusaha sedikit keras kali ini,” gumamnya pelan.

Akan tetapi Sehun tidak terlalu ambil pusing ia langsung melanjutkan tujuannya. Kira-kira Sehun baru melangkah sekitar sepuluh langkah dari pintu lift tersebut, seketika sebuah kata terlintas dibenaknya. Clesiophobia. Ia ingat betul bagaimana persisnya dikertas berisi info lengkap tentang Leera tertulis bahwa gadis itu menderita Clesiophobia yang tak kunjung sembuh sejak delapan belas tahun yang lalu.

Sebuah rencana licik langsung terlintas begitu saja diotaknya dan sesegera mungkin ia mengeluarkan ponselnya. “Kunci VIP Lift 2 sekarang juga dan matikan alarmnya juga CCTV yang merekam lift tersebut selama tiga puluh menit kedepan. Ini perintah mutlak,” ujar Sehun pada seseorang diseberang sana saat panggilan teleponnya tersambung. Setelah itu Sehun kembali memasukkan ponsel berwarna silvergrey tersebut ke saku celananya sembari menatap lurus ke arah pintu lift yang kini sudah tertutup rapat dengan seringaian licik yang masih setia menghiasi wajahnya.

“Terimakasih sudah menampakkan wajahmu diahadapanku siang ini, Kim Leera.”

Dan yeah… itu artinya, seluruh kepanikkan dan juga kekhawatiran yang Sehun tunjukkan pada Leera tadi tak lebih dari sebatas sandiwara, karena ini… merupakan bagian awal dari rencana pembalasan dendamnya.

.

TO BE CONTINUED

.

#Preview On Next Chapter

“Kenapa kau takut? Kau aman disini bersamaku, Leera-ya,”

“Ah, jadi kau tidak tulus menolongku? Kenapa tidak kau biarkan aku mati saja didalam lift itu?”

Anni, dimataku sampai kapanpun kaum wanita tidak lebih baik daripada seonggok sampah,”

“Kau benar-benar jahat, Yeolda. Aku kecewa padamu!!”

Holla!!!

Selamat malam minggu sayangku semuanya😀

Gimana sama Sehun – Leera nya? Masih pada tertarik ikutin kan?!?! :D 

71 responses to “Unspeakable Secret | 3rd Chapter

  1. Pingback: Unspeakable Secret | 5th Chapter | SAY KOREAN FANFICTION·

  2. Jongin benar” brengsek -_- dasar dan chanyeol dan haeyong pernah pacaran gitu ??
    Ceritanya makin seru thor🙂

  3. Aku kira Sehun beneran khawatir. Ternyata eh ternyata…… cm sandiwara belaka. Jahat bngt si Sehun!!!! 😭

  4. Pingback: Unspeakable Secret | 6th Chapter | SAY KOREAN FANFICTION·

  5. wah wah wah.. Leera buang tih buket bunga:V dn coklatny dikasihin ke Haeyoung. enak bener si Haeyoung–”
    kiranya Sehun bener” tulus nolongin Leera.. ternyata hanya SANDIWARA belaka!!! SEHUUUUN!!!!! pen di gampar daaah tuh wajah tampan-,-
    aaaarrrggghh, keseeeeel bgt><

  6. Pingback: Unspeakable Secret | 7th Chapter | SAY KOREAN FANFICTION·

  7. whaattttt..??? astagaa aku kira itu tadi murni kesalahan teknis ehh ternyata sialan sehun !! hihh gregettt bgttt sm diaaa..Bagus bgt aktingnya, huh kerennn kk ff kamuuu.. aku makin sukaaa ahihihiii
    .semoga aja leera engga segampang ituu buat luluh sm sehun, semenjak insiden berhentinya lift.. plissssss

  8. Pingback: Unspeakable Secret | 8th Chapter | SAY KOREAN FANFICTION·

  9. Yakkk! Pgn nimpuk kepalanya sehun! Ini biasku yg berwajah polos knp jd jahat bgt disini:( asli bikin gregetan deh sehun. Semoga km cepet kena batunya nak. *mlh nyumpahin bias sndri* wkw. Smgt nulisnya ya author, fighting!😀

  10. Gue kira sehun tadi benar benar mengkhawatirkan leera ternyata dia hanya bersandiwara.
    Makin kesini sehun tambah licik.

  11. Aku mau koreksi dikit nih ka, seonsaengnim itu artinya guru, kalo yang dimaksud kk dokter bahasa koreanya uisanim. Tulisannya masih ada typo ka, tapi gak masalah buat aku, selama aku masih ngerti😀

    Aku sempet mikir ‘waaah kayaknya Sehun mulai suka beneran nih sama Leera’ abisnya reaksi Sehun pas liat Leera kekurung di lift itu kayak natural banget. Eeeh taunya itu rencana Sehun -,-

    Chanyeol sama Haeyoung itu mantanan ya? Kayaknya Chan pernah ngelakuin sesuatu ya ke Haeyoung sampe buat Haeyoung marah gitu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s