[FREELANCE] Demoniac #1

COVER DEMONIAC

Demoniac

Author: Baeklineid

Maincast: Sehun (EXO), Yerin (OC), Jongin (EXO)

Genre: fantasy, romance, dark, angst, AU.

Rating: pg-17

Length: chapter

Disclaimer: ini cerita milikku, sedangkan pemain cerita ini milik Tuhan YME dan keluarganya masing-masing, aku hanya minjem nama dan wajah mereka. Cerita ini terinspirasi dari berbagai media.

Warning: typo bertebaran, alur cerita kecepatan, dan sebagainya. Tolong jika ingin memberikan kritik dengan kata-kata yang sopan. Kita laing menjaga ya.

Summary: Sehun adalah seorang iblis yang membenci manusia, namun ia memiliki kewajiban untuk selalu menggoda manusia. Hal itulah yang membuat Sehun  terus berhubungan dengan manusia dan akhirnya berteman dengan Jongin dan juga bertemu dengan seorang gadis bernama Yerin. Bagaimanakah kisah Sehun si iblis?

PROLOG

Part 1

 

***** *****

September, 2015.

Musim telah berganti, meski begitu kegiatan Sehun tidak. Ia tetap berkewajiban menggoda manusia. Membosankan. Apa pun yang dilakukan di dunia manusia sama sekali tidak dapat membuat Sehun bahagia, meski menyamar dan hidup seperti mereka, Sehun tetap tidak memiliki hasrat untuk bahagia.

Beberapa daun kering yang dibawa angin musim gugur berjatuhan di atas kepala Sehun, yang saat ini tengah berdiri diam menatapi lampu jalan. Tampaknya daun-daun kering itu membuat si empunya kepala sedikit risih ketika menyingkirkan itu dari puncak kepalanya. Ini sudah ketiga kalinya Sehun melakukan hal itu –menyingkirkan daun-daun dari atas kepalanya—, tapi tampaknya lampu jalan belum mau berubah. Sehun lantas melemparkan pandanganya ke arah jalan yang ada di seberangnya, ia menatapi orang-orang di sana yang sama sepertinya, sedang menunggu lampu penyeberang berubah warna.

3, 2, 1.

Mobil-mobil yang sedari tadi berjalan mulai perlahan memperlambat kecepatannya sebelum akhirnya berhenti. Dalam hitungan seperkian detik, segerombolan orang yang bersama Sehun dan segerombolan orang yang berada di seberangnya berjalan dalam satu garis hitam-putih.

Sehun memilih untuk tidak memerhatikan manusia-manusia yang melihatnya dengan tatapan kagum. Ia terus berjalan lurus dengan angkuhnya, berharap waktunya bersama dengan manusia cepat berlalu.

Manusia, manusia, dan manusia..

Yang dilihat Sehun kebanyakan adalah manusia, jarang ada makhluk sepertinya, Iblis. Kebanyakan Iblis yang naik ke dunia manusia memutuskan untuk tidak menampakkan dirinya dan memilih untuk tinggal di hati manusia dan aliran darah mereka, menggoda mereka dari sana, jarang iblis yang seperti Sehun, yang memilih menampakkan dirinya dan menggoda manusia dengan wujud manusia.

Sehun berhenti berjalan, ia melemparkan pandangannya pada sebuah pintu yang terbuat dari kaca gelap yang ada di depannya. Dari sana, ia dapat melihat bayangannya sendiri yang begitu sempurna: tinggi, kulit putih yang pucat, tatapan tajam, rahangnya yang berbentuk indah dan tegas, belum lagi baju yang dikenakannya, sebuah mantel hitam keluaran dari merk terkenal dan sepatu pentopel yang menambahkan kesan megahnya. Sehun sudah benar-benar seperti sosok idaman.

Sehun akui itu. Wajahnya yang rupawan serta kemewahan yang ia tampilkan sehari-hari membuatnya menjadi incaran para gadis manusia, mereka berbondong-bondong mengejarnya, bahkan tak segan menawarkan diri mereka untuk menghabiskan satu malam bersama. Sehun sendiri tidak masalah, lagipula untuk apa semua hal yang dibawa Sehun jika tidak ada satu pun yang berguna?

Puas dengan penampilannya, Sehun lalu mendorong pintu kaca tersebut dan kemudian melangkah masuk ke dalam.

Begitu Sehun berada di dalam, hal pertama yang menyapa indera pendengarannya adalah alunan musik jazz yang sangat ringan bagi telinganya. Sehun mengedarkan pandangannya dan mendapati tempat yang dikunjunginya sepi pengunjung, ia lantas menjatuhkan pandangannya pada jam tangan mahal yang melingkar di tangannya. Masih terlalu dini untuk datang ke sini, tapi tidak apa lah. Pikir Sehun sebelum akhirnya melangkahkan kakinya kembali. Ia berhenti di depan meja bar, dan kemudian selanjutnya mendudukkan dirinya di tempat biasa, memesan seperti biasa, dan menunggu seperti biasa.

Sehun mengembuskan napasnya ketika ia melihat minumannya tinggal setengah lagi, sampai kapan ia harus menunggu?

“Halo, Hun, sudah lama menunggu?”

Sehun merasakan beban di bahu kirinya ketika ia mendapati pertanyaan itu, ia lantas menolehkan kepalanya ke sumber suara dan mendapati kepala seseorang menyandar di sana, seorang laki-laki. Sehun tersenyum ketika ia mengetahui siapa pemilik kepala itu. Tangan laki-laki itu bergerak, menimpa tangan Sehun  dan lalu mengusapnya perlahan.

Akhirnya orang yang ditunggu Sehun selama ini datang. Ya, laki-laki itu adalah salah satu dari orang yang ditunggu Sehun, laki-laki itu adalah Hyungnya. Tentu laki-laki itu bukan Hyung kandungnya, maksudnya mana mungkin ada seorang iblis yang memiliki kakak. Tapi Sehun sendiri sudah menganggap laki-laki itu sebagai kakaknya, mengingat laki-laki itu telah mengajarkannya banyak hal tentang cara menggoda manusia ketika Sehun baru saja diciptakan Tuhan.

Luhan, nama laki-laki bertampang manis itu. Dari penampilannya, Luhan memang seperti seorang gadis, laki-laki itu bertubuh kecil dan cantik. Meski penampilannya begitu, Luhan memiliki banyak kelebihan menurut Sehun. Luhan, laki-laki itu ramah dan mudah bergaul, sehingga tak sedikit manusia yang menuruti keinginannya, berbeda dengan Sehun yang kaku dan jarang berbicara dengan manusia. Luhan juga sangat dewasa hingga laki-laki itu mampu menopang Sehun ketika ia lelah, dan hal itulah yang membuat Sehun semakin kagum akan sosok Luhan dan sangat menghormatinya.

“Aku merindukanmu, Hyung..,” bisik Sehun yang membuat Luhan mengangkat kepalanya, laki-laki itu bahkan menjauhkan dirinya dari Sehun, menatap Sehun dengan kernyitan di dahi laki-laki itu. Sehun pikir Luhan pasti bingung sekarang, mengingat bagaimana balasan Sehun yang begitu mesra seperti itu.

Seharusnya itu wajar, malahan terbilang bagus, mengingat Sehun jarang sekali membalas sikap mesra yang dilemparkan Luhan. Bukan karena ia tak mau, hanya saja ia terlalu malas saja menanggapinya. Dan  ditambah lagi, Luhan sudah lama sekali tidak ke Korea.

Setelah sekian lama saling bertukar pandangan, Luhan membuang muka, sikap laki-laki itu seolah menggambarkan jika ia enggan menatap Sehun lebih lama lagi, “Ini tidak bisa, Hun. Kau dan aku.. kita..,” keadaannya berbalik ketika Luhan membuka suaranya, Sehun mengubah posisi tangannya, menggenggam tangan Luhan dan meremasnya lembut. Rupanya, pergerakan yang Sehun lakukan itu berhasil membuat ucapan Luhan terhenti. Kembali, Luhan menatap Sehun, kali ini dengan tatapan tidak percaya.

Mereka saling menatap dalam diam hingga akhirnya Luhan kembali membuka mulutnya, “Kris.. jika dia tahu tentang ini, dia akan…”

“Sssh..” Sehun menaruh jari telunjuknya tepat di depan bibir Luhan membuat laki-laki manis itu kembali terdiam.

Sehun kemudian mendekatkan wajahnya ke arah Luhan, menghapus jarak di antara mereka hingga kening mereka bersentuhan. Sehun menggesek ujung hidungnya dengan milik Luhan sambil mengumbar senyum, Luhan pun juga melakukan hal yang sama. Mereka terlihat bahagia satu sama lain.

“Aku tidak akan membiarkannya memisahkan kita, aku janji,” setelah mendengar janji Sehun, Luhan melebarkan senyumnya.

“Terima kasih, Hun..”

“Bisakah kalian tidak menyebut namaku dalam drama kalian?” sebuah suara berhasil membuat Sehun menjauhkan wajahnya dari Luhan, ia sedikit memiringkan kepalanya guna melihat seseorang yang berada di balik badan Luhan.

Luhan sendiri juga sudah mengubah posisinya menjadi bergelayut manja dengan orang yang berada di samping kiri laki-laki itu. Sehun menahan senyum melihat tingkah konyol Luhan, bagaimana bisa laki-laki itu terus mempermainkan Kris dalam jangka waktu yang tidak bisa dikatakan sebentar? Ya, orang yang sedang menghabiskan minumannya dalam satu tegukan itu adalah Kris, laki-laki yang menjadi pimpinan dalam kelompok mereka, laki-laki yang juga sering menghadapi kenakalan Luhan dan beberapa kali juga dengan kenakalan Sehun.

Sifat Luhan dan Kris sangat jauh berbeda. Luhan, terkenal dengan sikap yang suka bermain-main dan santai, sedangkan Kris, dia lebih serius dan sedikit arogan. Maka tak jarang, keduanya saling berseteru untuk hal-hal yang remeh, seperti yang terjadi sekarang ini.

Luhan dan Sehun sedang bermain drama percintaan dua iblis yang tidak direstui oleh Kris, kedengarannya lucu, tapi Sehun akui ia menikmatinya. Melihat Luhan yang senang menggoda Kris dengan menyisipkan nama lelaki itu ke dalamnya dan melihat reaksi Kris yang begitu kesal ketika namanya disebut dalam drama itu, melihat semua itu membuat Sehun senang, asal kalian tahu. Sudah lama Sehun tidak bertemu dengan Luhan dan Kris, jadi ia sangat menikmati waktu yang dihabiskan dengan mereka, meski hampir sepenuhnya waktu mereka dihabiskan dengan perkelahian kecil antara Luhan dan Kris.

“Kris, ini tidak seperti yang kaulihat. Aku, Sehun, kami…” Luhan kembali melanjutkan dramanya, tidak memedulikan tatapan kesal Kris yang dilemparkan untuknya.

Ya, pastinya itu mengganggu Kris. Maksudnya, kenapa Luhan bersikap seolah-olah Kris adalah pihak ketiga yang membuat cintanya dengan Sehun terhalang? Pasti setiap orang yang melihat mereka bertiga –Sehun, Luhan, dan Kris— nantinya akan salah paham. Tentunya hal itulah yang mengganggu Kris, dan sesuatu yang mengganggu Kris pasti menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi Luhan.

“Diam!” Kris kembali bersuara, lelaki itu menaruh gelasnya di atas meja sambil menatapi sang bartender yang berada di depannya, “Tolong buatkan aku satu lagi!” dan begitulah Kris, selalu memerintah. Mungkin sifat Kris yang bossy dan suka mengintimidasi itu adalah hasil dari kepemimpinannya selama ini.

Bartender itu menurut, ia segera membuat minuman yang dipesan Kris. Dari gerakan bartender itu, Sehun tahu ia ingin segera pergi ke manapun asal menjauh dari tiga orang asing yang menurutnya aneh ini. Begitu selesai meracik, bartender itu langsung beranjak pergi, seperti yang diperkirakan Sehun sebelumnya.

“Akhirnya selalu begini, manusia ini dan itu akan pergi ketika kau berulah, Luhan,” Kris berujar sebelum kembali meminum minumannya. Luhan hanya memerhatikan Kris sedari tadi dengan senyum yang tertahan di bibirnya. Sehun yang melihat senyum Luhan pun tidak perlu mengerti isi kepala lelaki itu, karena dari senyum dan gerakan tubuh Luhan, semuanya memperlihatkan jika Luhan memiliki ide gila di dalamnya, yah untuk apalagi selain mengerjai Kris?

Bugh..

Belum sampai selesai Sehun menghitung dalam hatinya, Luhan sudah beraksi. Laki-laki itu dengan sengaja menyikut Kris, membuat genggamannya pada gelas yang berada di tangan Kris terlepas dan terlempar jauh, menyisakan pecahan gelas dan genangan air di lantai. Kris yang daritadi menikmati minumannya –yang bahkan belum sampai habis ia minum— pun menatap sebentar pecahan gelas itu sebelum menatap Luhan dengan beringas. Ugh, Kris benci sekali jika waktu minumnya harus terbuang sia-sia, dan alasannya hanya karena seorang Luhan. Brengsek. Batin Kris saat ia melihat senyum yang bertengger di bibir Luhan.

“LUHAN, KAU!!!”

“Santailah, Kris, sekali-kali kerjai juga manusia. Kau tidak akan menikmati hidupmu jika kau terlalu berfokus pada tujuanmu,” Sehun menggeleng ketika  mendengar penuturan sok bijak yang keluar dari mulut Luhan, tampaknya laki-laki itu ingin mencari mati dengan menceramahi Kris.

Kris sendiri tidak mendengar apa yang diucapkan Luhan, ia sudah terlampau marah untuk menanggapinya. Tanpa ancang-ancang, Kris mengangkat tangannya, menggepalkannya, membuatnya menjadi sebuah tinjuan, dan lalu mengarahkannya ke Luhan. Belum sampai mengenai, Luhan sudah menghilang duluan, membuat Kris menggeram kesal karena targetnya selangkah lebih dulu darinya.

“Aku akan membunuhmu Luhan!!!” Usai Kris mengatakan itu, ia pun ikut menghilang, meninggalkan Sehun sendiri.

Sehun tersenyum, akhirnya pasti begini. Luhan dan Kris, bisakah mereka berhenti berkelahi? Meski perkelahian mereka tidak terbilang serius, tapi mereka pasti akan berakhir dengan menghilang, seperti sekarang ini. Entah Luhan pergi kemana, entah Kris ada di mana. Luhan menghindari Kris, Kris mencari Luhan. Hal itulah yang membuat kedua orang itu selalu tidak dapat berada di sisi Sehun. Sehun sangat merindukan masa-masa bersama mereka, sungguh. Tapi ia tak bisa seperti mereka, maksudnya pergi menghilang juga dengan cara mencari masalah dengan Kris? Sehun belum mau bunuh diri sekarang ini. Atau pergi menjelajahi dunia manusia dengan Luhan? Maaf, Sehun saja membenci manusia dan pergi dengan Luhan berarti sama saja ia membunuh harga dirinya sendiri.

Sehun mengendurkan matanya yang terasa lelah, ia lemparkan pandangannya pada gelas yang berada di depannya dan mengelus badan gelas itu dengan ibu jarinya. Di gelas itu, Sehun dapat melihat pantulan dirinya yang sedang tersenyum, senyum yang Sehun sendiri tahu artinya, senyum seorang pecundang.

Sehun ingin sekali menahan Kris dan Luhan lebih lama lagi..

..tapi ia tidak bisa melakukan itu, mengungkapkan perasaannya saja ia tidak mampu.

Melihat kenyataan itu, bukankah Sehun benar-benar payah?

***** *****

“Apa yang akan kaulakukan liburan musim ini, Oppa?” Jongin memutar bola matanya malas ketika mendengar suara gadis yang sudah tidak asing lagi baginya. Jongin sedikit mempercepat langkah kakinya begitu ia mendengar derap langkah kaki di belakangnya semakin jelas. Untuk saat ini dan seterusnya, Jongin sudah tidak mau berurusan dengan gadis yang bernama Lee Daejung itu.

Ya, suara gadis itu adalah milik Daejung, mahasiswi filsafat di kampus tempat Jongin belajar. Gadis itu sudah setahun belakangan ini mengikuti Jongin, mulanya Jongin biasa saja tapi lama-lama risih juga. Entah kenapa, Daejung selalu berhasil membuat Jongin kesal padanya. Puncaknya ketika Daejung memergoki Yerin berjalan bersama Jongin dan menampar Yerin tepat di depan mata Jongin. Sejak saat itulah, Jongin tidak mengenal lagi kata lembut jika ia harus menghadapi Daejung.

Oppa..” Daejung berhasil menyamakan langkahnya dengan Jongin dan bahkan bergelayut manja di lengan Jongin. Jongin menghentikan langkahnya, mengembuskan napasnya sebelum menatap Daejung yang sedang melihatnya dengan binar di mata gadis itu.

Daejung terkenal sebagai gadis tercantik di kampus. Matanya besar dan cemerlang, berwarna hitam pekat dan mampu setiap orang yang melihatnya terhanyut. Bibirnya merah dan tipis, yang jika tersenyum akan membuat setiap orang terpana. Kulit putih susunya juga terlihat terawat, sangat cocok dengan rambut hitam gelombangnya. Semua orang mengakui kecantikan Daejung, tapi Jongin tidak. Menurutnya, setiap gadis memiliki kecantikan yang berbeda satu sama lain. Dan untuk kasus Daejung ini, Jongin tidak ingin mengakuinya, mengingat sikap Daejung beberapa waktu lalu.

“Jongin Oppa, mau keluar bersamaku? Kita menikmati waktu bersama, mungkin meminum kopi dan melihat daun-daun berjatuhan di musim gugur tahun ini. Bukankah itu sangat romantis? Ah, aku ingin sekali—“

“Tidak.”

Singkat, padat, dan jelas. Selalu begitu jawaban yang diberikan Jongin. Jongin bukanlah laki-laki yang akan melakukan apa pun untuk seseorang yang tidak penting, seperti Daejung ini. Mungkin orang di luar sana ingin menghabiskan waktunya dengan Daejung dan menggantikan posisi Jongin, Jongin mau-mau saja jika ada orang yang mau menggantikan dirinya asal Daejung berhenti mengikutinya, ia terlalu malas mengurusi gadis itu.

Meski mendapatkan jawaban seperti itu, Daejung semakin menggencarkan aksinya, ia mengamitkan tangannya di lengan Jongin lebih erat dan bahkan mendekatkan tubuhnya ke Jongin, bermaksud meluluhkan laki-laki itu, tapi sepertinya hal itu tidak mengefek pada Jongin, malahan ia melepaskan tangannya dari Daejung, “Lee Daejung-ssi, berhenti bersikap seperti ini.”

“Kenapa?”

Pertanyaan bodoh. Rutuk Jongin dalam hati. Memangnya selama ini gerak-gerik yang Jongin perlihatkan dan tolakan halusnya juga tidak berhasil membuat gadis itu mengerti? Ia muak, seharusnya Daejung mengerti dan tahu diri, bukannya menempelinya terus. Benar-benar..

Drrrt… drrrt..

Jongin segera mengambil ponsel yang berada di kantung celananya begitu ponselnya bergetar, ia melihat sebentar layar ponselnya yang menampakkan sebuah panggilan masuk. Jongin menaruh telunjuknya di depan bibirnya, memberi isyarat agar Daejung diam.

“Apa itu Yerin-ssi?” Jongin mengangguk.

Plak..

Baru saja Jongin ingin menggeser layar ponselnya, menerima panggilan Yerin, tapi pergerakannya terhenti ketika Daejung menamparnya. Tamparan Daejung terasa panas dan perih, tapi Jongin tidak menunjukkan rasa sakitnya, ia malah diam menatapi Daejung yang menatapnya dengan genangan air di mata gadis itu. Menangis lagi?

“Aku akan pergi seperti yang kau inginkan, Jongin-ssi. Semoga kau bahagia bersamanya, Jongin.. Oppa,” Jongin tidak yakin apakah Daejung memanggilnya Oppa atau tidak, suaranya terlalu kecil ketika ia mengucapkan kata terakhirnya sebelum berlari pergi meninggalkan Jongin yang terdiam.

Jongin menghela napasnya, ia menggeser layar ponselnya tanpa mengindahkan tatapan yang diberikan orang-orang padanya, “Halo, Yerin-a..”

Oppa, kau di mana?”

TBC

B’s note:

Hai, entah kenapa, aku ganti nama penaku menjadi Baeklineid, bukan Aleena lagi. Jadi ya sudahlah, yang penting ff-nya kan? gimana? Puas kah? Aku sengaja masukin adegan Hunhan di dalemnya juga masukkin Kris. Aku mau ngasih tau aja biar enggak salah paham, jadi adegan Hunhan tadi itu Cuma main-main, mereka bukan pasangan dalam ff ini. Jadi jangan salah paham, oke?

Terus, ff ini dibuat alur mundur dan seterusnya akan maju. Yah, selanjutnya liat aja nanti. Aku enggak bakal tebar sesuatu yang menyangkut isi cerita.

Terus siapa Daejung? Tenang, dia enggak bakal ada lagi /ini termasuk spoiler bukan?T.T bukan ya bukan, ini semua dilakukan agar tidak ada salah paham antara kita~~/

Daripada bertele-tele. Yo, sekarang waktunya kalian rcl. Makasih ya yang udah nyempetin baca.

Aku mohon maaf lahir batin yaaa..

 

23 Juni 2016

8 responses to “[FREELANCE] Demoniac #1

  1. ini ceritanya flashback ya?
    lho knp daejung koq gk bakal ada lagi…. pdhal aq pikir jongin ntr bkalan nyesel stelah daejung pergi ninggalin dia…
    kasihan daejung ampe nangis gitu😥
    dan apa hubungan antara jongin dgn yerin dsini?

    eh aq udh was” pas adegan hunhan td, aq pikir mreka ???
    tapi syukurlah itu cuma main” ya🙂
    dan dsini sehun blum ketemu kai kah ceritanya? mereka belum brteman….

  2. aku msih gk ngerti sih mksd yg terakhir itu ap. makanya ditunggu next ny thor. keep writing and hwaiting!!~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s