[FREELANCE] Ice Cream Cake

Ice Cream Cake

 Ice Cream Cake Cover

Title: Ice Cream Cake

Author : Belinda Arsya ( @bellpuciko02 )

Genre : Romance, fluff

Lenght: Ficlet

Rating : PG-15

Cast :

Han GaYeon

Oh Sehun

Disclaimer  : FF ini murni hasil pemikiran otak aku dan tentunya terinspirasi dari lagu red velvet yang ice cream cake, udah kebaca pasti. Cerita ini hanya fiksi semata yang bertujuan untuk menghibur. Jadi, kalau ada kesamaan cast, alur, atau tempat dalam cerita, mohon dimaklumi. And sorry for typo(s). Gomawo~.

Credit Poster by Zilian at Korean Cover Fanfiction on Facebook^^ Thanks!!!

Pernah di share di wordpress lain(exofanfiction, jadi jangan kaget kalau ada ff serupa yang kalian baca disana. Dan jangan lupa perhatikan nama Author^^

Summary:

“Andai aku bisa merasakan ice cream cake yang lebih manis dari bibirmu, pasti aku akan memberikan penghargaan pada orang yang membuatnya.”

Happy Reading~~~

Hari liburan musim panas yang cerah. Saat terbangun tadi pagi, GaYeon sudah bisa merasakan kalau hari ini adalah hari yang baik. Yah, semoga saja firasatnya benar.

Kekasihnya, Oh Sehun sedang ada di rumahnya sekarang. Lelaki itu datang dari tadi pagi, bahkan sebelum Gayeon bangun. Itu sudah biasa baginya. Sehun selalu seenaknya masuk ke dalam rumahnya. Untuk apa lagi selain merecokki Han Gayeon? Yah, seperti itulah mereka, selalu bersikap kekanakan. Namun dibalik sifat mereka yang seperti itu, kadang mereka juga bisa menjadi dewasa. Kadang-kadang.

“Gayeon-ah, aku ingin membuat ice cream cake,” rengek Sehun. Gayeon tadi bilang padanya ia akan membuat kue paling bersejarah dan paling lezat dalam hubungan mereka—ice cream cake.

Gayeon menghentikan peregerakannya sebentar, membalikkan tubuhnya, menatap Sehun baik-baik. Ia mendorong tubuh pria jangkung itu kemudian menyuruhnya duduk di ruang tengah. “Kau disini saja, ya? Aku akan kembali jika sudah selesai,” kata Gayeon lembut.

Namun Sehun langsung berdiri dengan sekali hentakan, membuat Gayeon tersentak dan sebelum akhirnya mundur beberapa langkah. “Tapi aku juga mau bantu, chagi,”

Gayeon menggelengkan kepalanya sebelum ia berkata, “tidak, Oh Sehun!” tolak Gayeon halus. Ia kembali ke dapur ketika Sehun sudah mulai menurut.

Gayeon tidak bisa membiarkan Sehun membantunya. Karena apa? Pertama, Sehun akan menghancurkan rasanya. Walaupun sebenarnya ada atau tidak adanya Sehun rasa masakannya memang sudah tidak enak, tapi Sehun bisa lebih menghancurkannya. Kedua, Sehun bisa menghilangkan fokusnya. Dan terakhir, Sehun bisa menghancurkan dapurnya. Yeah, kira-kira seperti itulah alasannya.

Sehun hanya bisa mengerucutkan bibirnya, melipat tangannya di depan dada dan mulai menggerutu. Memang apa salahnya membantu? Toh, yang aku bantu kekasihku sendiri, bukan kekasih orang lain. Huh, dasar egois. Awas saja kalau dimakan sendiri!

Beberapa saat kemudian, Sehun mendengar suara ribut-ribut di dapur. Suara barang jatuh, teriakan, dan sesuatu yang lain. Ia jadi sedikit khawatir dengan GaYeon. Apakah gadis itu baik-baik saja? Sehun memanjangkan lehernya, berniat mencari tahu keadaan di dapur. Gayeon sedang apa sih?

Untuk menghilangkan rasa khawatir dan penasarannya, Sehun segera melangkahkan kakinya menuju dapur.

««»»

Setelah membuat Sehun menurut padanya, ia segera melangkahkan kakinya menuju dapur. Membuat ice cream cake dengan resep internet. Maklum lah, ia tidak bisa memasak, jadi ia terpaksa membuat semua kebutuhannya menjadi serba instan. Ini pertama kalinya ia membuat kue. Ia juga tidak yakin kuenya akan enak. Mengukur 1 liter air saja sudah membuatnya kesulitan.

Hanya karena Sehun, Gayeon rela melakukan apapun. Kursus masak, bertanya sana-sini, mencari resep di initernet, seperti sekarang ini. Jika bukan karena Sehun yang berstatus sebagai tukang makan, mungkin Gayeon tidak akan melakukan hal seperti ini.

Hal pertama yang harus ia lakukan sekarang adalah menyiapkan bahan-bahannya. Terigu, telur, margarin, gula, coklat bubuk, baking powder, dan ice cream strawberry. Sehun sangat suka kue coklat, dan Sehun juga suka ice cream strawberry, jadi Gayeon membuatnya sesuai dengan selera Sehun.

Gayeon berusaha mengambil tepung terigu yang ada di atas lemari, tapi tidak bisa. Ia sudah memakai kursi kecil untuk mencapainya, berjinjit, mengulurkan tangannya tinggi-tinggi, tetap saja tidak bisa. “Ukh, siapa sih yang menaruhnya dalam sekali?” Okay, mungkin ia lebih memilih menyalahkan letak terigu itu daripada tingginya.

Gayeon tidak kehabisan akal, ia mengambil sebuah sumpit yang ada di hadapannya, mencoba menyentuh plastik terigu itu. Terus…terus…ya…dapat.

AAAAA!!

“Aduh!” Gayeon memekik keras saat plastik terigu itu mengenai kepalanya. Untung saja tubuhnya tidak oleng dan terjatuh. Gayeon mengelus dadanya lega. Ia turun dari kursi kecil kemudian memungut plastik terigu yang jatuh itu.

“Kan sudah kubilang, biar aku bantu. Kau ini sungkan sekali pada kekasihmu yang tampan dan imut ini,”

Gayeon sedikit tersentak ketika mendengar suara di belakangnya. Gayeon tidak berbalik—enggan berbalik, ia malah menghela nafasnya. Sehun memang benar, Gayeon memang perlu dibantu. “Baiklah, aku memang butuh bantuanmu,” ujar Gayeon pelan dan ada helaan nafas tertahan di sana. Tidak terlalu buruk juga, pasangan yang sama-sama tidak bisa memasak kini berkutat di dapur. Paling rasa makanannya tidak enak, tapi tidak tahu juga. Atau mungkin saja ada suatu keajaiban yang membuat makanan mereka menjadi enak. Itu tergantung nanti.

“Begitu kan lebih baik,” sahut Sehun.

Tapi ada makna berbeda dari pancaran mata Sehun, dan sepertinya Gayeon tahu itu. Yah, mungkin dibalik kalimat ‘senang membantu’ itu terselip kata ‘senang mengganggu’. Oh Sehun takkan kubiarkan!!

««»»

“SEHUN LAKUKAN DENGAN BENAR! JANGAN BIARKAN SUSUNYA PECAH SAAT DIPANASKAN! ADUK TERUS! NANTI RASANYA JADI ANEH!”

Sehun hanya pasrah menerima perlakuan Gayeon yang sudah seperti chefhari ini. Chef amatiran, keluh Sehun dalam hati. Huh, kalau seperti ini jadinya, lebih baik tadi ia nonton TV saja di ruang tengah. Sekarang ia jadi tidak bisa melakukan hal yang sedari tadi ia harapkan. Menjahili GaYeon. Tadi niat awalanya seperti itu, memasak sambil bermain.

“SEHUN—“

Sebelum Gayeon menyelesaikan kalimatnya, Sehun buru-buru menyela GaYeon. Pasti mau protes lagi, Sehun udah tahu itu. Ia langsung menyerahkan adukannya pada Gayeon. “Kau saja yang mengaduk susunya, biar aku yang mengaduk adonannya,”

Gayeon menyipitkan matanya. Benar, kan? Sehun pasti seperti ini. Tidak konsisten. Sudah bisa ditebak. GaYeon meringis dalam hati. “Payah!”

Sehun segera mengambil alih adonan kuenya, menggantikan posisi GaYeon. Saat melihat adonannya, Sehun merasa itu sudah sempurna, lalu apa yang harus ditambahkan? Sehun berpikir sejenak. Mengambil inisiatif untuk memasukkan adonan kuenya ke loyang, namun cepat-cepat Gayeon menyela.

“Ya! Mau kau apakan adonan itu?”

“Dimasukkan ke loyang. Ini sudah selesai, kan?”

Gayeon menghela nafas lagi. Hah, Sehun memang tidak pernah memperhatikannya. “Oh Sehun-ssi…”

“Apa?” sahutnya polos. Sekarang apa lagi salahnya? Kenapa Gayeon menatapnya seperti itu? Sekelebat pertanyaan bermunculan dibenaknya.

“Margarin lelehnya belum dimasukkan,” jelas Gayeon sedikit kesal. “Masukkan margarin lelehnya, aduk sampai rata, masukkan coklat bubuk secukupnya, baru kau masukkan ke loyang,” Daebak! Resep itu cepat menempel di otaknya. Ia harus memberi pengargaan pada otaknya yang mudah mengingat ini.

Sehun mengangguk-ngangguk sok tahu, padahal sekarang otaknya sedang kosong. Ia memasukkan margarin lelehnya ke dalam adonan sesuai intruksi dari Gayeon, mengaduknya sampai rata, memasukkan coklat bubuk secukupnya. Yah, mungkin Gayeon bisa menjadi chef handal dalam satu hari. Hanya satu hari.

««»»

Tak terasa  sudah 4 jam setelah mereka membuat ice cream cake. Sekarang ice cream cake-nya sudah beku, berarti sudah bisa dikeluarkan dari dalam frezzer. Sehun dan GaYeon berlari kecil untuk melihat ice cream cake buatan mereka. Ternyata tidak terlalu buruk. Bagus juga.

“Woaa, lihatlah, Sehun! Ice cream cake-nya sudah beku!”

Mata mereka berbinar saat melihat hasil kerja mereka yang sangat memuaskan. Walaupun ini jauh dari karya chef professional, namun mereka sudah cukup senang. Segera saja mereka mengeluarkan ice cream cake itu, membaginya jadi 6 bagian, memasukkan 3 bagian ke dalam tempat bekal.

“Kau siap untuk acara selanjutnya?” tanya Sehun penuh misteri.

Gayeon mengangguk sambil berseru kegirangan, “yeeee, ayo kita piknik!” Ia langsung meloncat-loncat seperti orang yang baru menang lotre. Segera ia mengambil langkah besar menuju kamarnya dan segera mengganti baju.

Sehun yang melihat tingkah kekanakan Gayeon hanya terkekeh pelan.  Ia paling suka jika melihat kekasihnya kegirangan seperti itu. Menggemaskan sekali, seperti anak kecil. Gayeon suka sekali pergi piknik. Dan mengingat rumah Gayeon dekat dengan taman kota, Sehun tak ragu-ragu mengajaknya piknik di sore hari yang cerah ini.

Beberapa menit kemudian, Gayeon muncul dengan pakaian yang sangat simple. Dress putih selutut, tas kecil berwarna kuning, dan sneakers berwarna putih. Rambutnya diikat ke samping. Astaga, gadis itu manis sekali. Sehun sampai dibuat ternganga olehnya.

“Sehun?”

“Ne?” Sehun langsung tersadar ketika mendengar panggilan Gayeon untuknya. Segera saja ia mengambil tas piknik mereka yang ada di atas meja, kemudian menyusul Gayeon keluar rumah.

««»»

Sehun menaruh tas pikniknya di dalam keranjang sepeda. Setelah memperbaiki letak tasnya, Sehun kemudian mengeluarkan sepeda dari garasi rumah Gayeon. Gayeon menutup pagar rumahnya, menguncinya, kemudian setelah itu naik di belakang Sehun.

“Pegangan!” ujar Sehun memperingatkan.

“Aku tahu,” sahut Gayeon keras, kemudian melingkarkan tangannya pada pinggang Sehun. Nyaman. Yah, seorang Oh Sehun memang selalu membuatnya nyaman dalam keadaan apapun. Itulah salah satu hal yang Gayeon sukai dari Sehun.

Beberapa saat setelah itu, mereka sudah sampai di taman kota. Banyak pasangan muda seperti mereka yang ada di sana, tidak hanya itu, diantara mereka juga ada keluarga-keluarga yang sedang berpiknik. Yah, siapa yang mau melewatkan liburan musim panas yang cerah ini dalam rumah?

Sehun dan Gayeon segera mengambil posisi piknik di bawah pohon maple. Teduh dan pemandangan dari situ juga bagus. Mereka menggelar tikar kecil sebagai alas, menyiapkan makanan-makanan yang mereka bawa. Mereka memposisikan diri mereka berhadapan. Siap menyantap makanan yang mereka bawa. Ice cream cake, kimbap, dan snack lainnya. Tunggu! Ada yang kurang disini.

“Kau tidak membawa minum?” tanya Gayeon saat ia melihat tidak ada minum disana. Oh astaga, yang benar saja! Jika ada salah satu dari mereka tersedak, mereka akan minum apa jika tidak ada air?

“Eh, kukira kau yang bawa,”

“Tadi aku tidak bawa apa-apa, Sehun. Kau kan lihat sendiri tasku kecil,” jelas Gayeon pelan.

Sehun langsung bangkit dari duduknya. “Kalau begitu tunggu sebentar, aku akan membelikan kau minuman,”

“Eh, Sehun, kau mau kemana?”

“Tunggu saja 15 menit, aku akan kembali lagi,”

15 menit kemudian…

Gayeon duduk dengan gerakan yang resah, ia tidak bisa tenang. Sudah 15 menit berlalu setelah Sehun pergi meninggalkannya. Kemana dia? Ada rasa sedikit kesal, namun ia juga khawatir. Kalau terjadi sesuatu pada Sehun bagaimana? Bagaimana kalau Sehun kecelakaan saat sedang menyebrang? Lelaki itu kan payah dalam urusan menyebrang. Bagaimana kalau terjadi sesuatu hal yang lebih parah dari itu? Seperti…seperti…tabrak lari—Gayeon langsung tersadar dan kemudian menggeleng keras. Gara-gara sering menonton dan membaca yang aneh-aneh, otaknya jadi sedikit miring.

Gayeon berdiri, berniat menyusul Sehun. Walaupun sebenarnya ia tidak tahu Sehun kemana.

««»»

“Huh, ternyata ini lebih lama dari yang kubayangkan. Antriannya panjang sekali.” Sehun mendesah dalam hati. Mengingat ia berjanji akan kembali dalam 15 menit pada Gayeon, ia jadi merasa bersalah karena tidak menepatinya. Sehun meninggalkan gadis itu sendiri. Gayeon pasti uring-uringan karena khawatir. Sehun harus bergegas.

Ia sudah hampir sampai ke taman kota,tiba-tiba ia melihat seseorang yang tidak asing baginya sedang berlari. Raut wajahnya terlihat tidak baik. Firasat Sehun benar, Gayeon sedang mengkhawatirkannya. Segera saja Sehun melangkah kakinya mendekat ke arah Gayeon, memegang tangan gadis itu. Gayeon membalik, Sehun bisa menebak kalau Gayeon pasti terkejut.

“Kau mau kemana? Kan sudah kusuruh diam di sana,” ujar Sehun pelan.

Gayeon memukul lengan Sehun karena telah mengejutkannya sekaligus membuatnya khawatir. Namun sekarang ia bisa bernafas lega karena Sehun kembali dengan kondisi baik-baik saja. Tidak luka setitikpun. “Kau kemana saja? Kau membuatku khawatir.”

Sehun mengangkat kantong plastik belanjaannya. “Aku membeli ini,”

“Kau tahu, tadi antriannya penuh sekali, jadi sedikit lama,” lanjut Sehun sedikit menyesal karena membuat Gayeon khawatir.

“Lalu mana untukku?” tagih Gayeon.

Sehun membulatkan matanya. Ternyata Gayeon juga mau. Sehun kira Gayeon tidak suka bubble tea, jadi ia tidak membelikannya. “Aku tidak membelinya. Hehehe, aku kira kau tidak suka, makanya aku hanya beli air mineral untukmu,” Sehun menyengir kuda.

“Aku tidak suka bubble-nya, tapi aku suka taro, Sehun,”

Sehun menyerahkan bubble tea miliknya pada Gayeon. Jika gadis itu mau, Sehun tidak keberatan. Lagipula ia bisa membeli lagi. “Ini, untukmu saja. Aku bisa beli lagi nanti,”

Gayeon jadi merasa tersentuh sekaligus merasa bersalah. Sehun menyerahkan bubble tea miliknya tanpa protes. Biasanya tidak seperti ini. “Nanti kau minum apa? Tidak jadi deh, untukmu saja,”

“Kalau begitu semuanya kita bagi dua.” kata Sehun.

Gayeon menjentikan jari senang. “Nah, itu baru adil,”

««»»

Hari ini benar-benar menyenangkan. Piknik bersama, menikmati matahari tenggelam bersama. Pikiran Gayeon tentang hari ini sangat tepat, bahkan lebih baik. Menikmati hari bersama orang yang kita sayang memang sangat menakjubkan. Ini lebih hebat dari pelangi di atas air terjun. Lebih indah dari apapun juga.

Sehun bisa membuat Gayeon nyaman, begitu pula sebaliknya. Pokoknya hari ini hebat. Gayeon akan menandai hari ini sebagai hari bersejarah dalam hidupnya.

“Sehun,” panggil Gayeon.

“Apa?”

“Hihihi, tidak apa-apa, aku hanya ingin memanggilmu. Aku suka saat mendengar suaramu. Rasanya lucu,” ujar GaYeon jujur. Suara Sehun selalu membuat perutnya geli. Suaranya lucu, imut, dan menenangkan.

Sehun tersenyum tipis mendengar penuturan Gayeon. Gadis itu selalu apa adanya, tidak bisa berbohong. Itu adalah satu hal yang Sehun suka dari Gayeon.

“Sehun-ah…”

“…”

“Sehun-ah!!!

“Masih hanya ingin mendengar suaraku, ya? Aku tahu suaraku ini enak didengar, tapi tunggu dulu ya, aku masih kenyang,”

Gayeon mengerucutkan bibirnya. “Aku serius! Eh, tapi kau bilang kenyang, yah, padahal aku mau bilang kalau aku masih punya ice cream cake. Kalau kau tidak mau yasudah,”

Sehun membulatkan matanya. Membujuk Gayeon agar mau berbagi ice cream cake itu. Sehun terus menggoyang-goyangkan tangan Gayeon. Merengek. “Aku mau!”

“Kau bilang kau kenyang, jadi aku saja yang makan,”

Chagiya, aku mau, yang tadi itu enak. Aku mau lagi,”

Gayeon mendesah. Kemudian menggelengkan kepalanya tidak setuju. “Tidak! Lagipula ini sudah malam, nanti kau batuk.”

Buru-buru Sehun menambahkan. “Kau bagaimana? Apa kau tidak akan batuk?” Sehun tidak setuju dengan teori yang Gayeon berikan untuknya. Batuk? Oh astaga! Mungkin kalau Sehun masih kecil teori itu cocok untuknya, tapi sekarang ia sudah besar. Ia sudah 16 tahun, hampir 17 tahun malah.

“Aku kan sudah besar, jadi aku tidak akan batuk. Lagipula ice cream cake-nya sudah tidak terlalu beku,”

Sehun terus merajuk. Merengek pada Gayeon. Ahh, seharusnya ia tidak berkata seperti itu tadi. “Chagiya, ayolah!”

Gayeon mulai risih dengan Sehun. Terpaksa ia setujui. “Baiklah, baiklah! Padahal kau yang bilang kau kenyang,”

“Yeeee! Gomawo, chagi!” Sehun berseru kegirangan. Dan dengan gerakan refleks ia mencium pipi kiri Gayeon.

Sontak gadis itu terpaku. Astaga, apa yang baru Sehun lakukan? Gayeon masih membulatkan matanya tidak menyangka. “Ya! Oh Sehun! Kita masih kecil!” celetuk Gayeon.

««»»

“Kau tidak kedinginan?” tanya Sehun pada Gayeon saat mendapati malam hari ini sangat dingin. Walaupun tidak sedingin musim dingin tentunya, tapi di musim panas malam ini dapat diartikan dingin sekali. Apalagi mereka berdua naik sepeda dan tidak memakai jaket.

“Tidak, tenang saja,” sahut Gayeon pelan. Matanya terus melihat pada toko tas, disana ada tas yang bagus menurutnya. “Sehun-ah, bisa kau berhenti sebentar?”

“Kenapa?”

“Aku mau melihat sesuatu,”

Sehun menghentikan kayuhan sepedanya. Memarkirkannya di tepi jalan. Kemudian setelah itu Sehun mengikuti arah Gayeon berjalan. Toko tas? Kenapa dia mau pergi ke tempat ini? Sehun berpikir. Sangat tidak bisanya.

“Lihatlah, Hun-ah! Tas itu bagus tidak?” tanya Gayeon sambil menunjuk tas yang tadi ia lihat.

Sehun mengangguk sebentar. “Ya, ku pikir bagus juga,” komentar Sehun. Dalam hatinya ia berpikir, apakah Gayeon menginginkan tas itu?

“Kau menginginkannya?”

Gayeon mendongak. Kemudian ia menggeleng pelan. “Tidak,”

Sehun menyipitkan matanya. Menatap gadis itu sebentar. Pasti bohong. Padahal kalau Gayeon mengatakan yang sejujurnya, ia juga pasti tidak keberatan untuk membelinya untuk gadis itu. Sehun berpikir—apakah ia harus membelikannya diam-diam dan kemudian memberikannya saat ulang tahun Gayeon? Ulang tahunnya tinggal menghitung hari lagi, bukan? 12 April. Sama seperti Sehun.

Sehun mengangkat bahunya, pura-pura tidak peduli. “Yasudah, kalau begitu ayo pulang,”

««»»

“Aish, sialan! Kenapa bus-nya buru-buru sekali?” umpat Sehun pada bus yang baru saja meninggalkannya. Sekarang ia harus naik apa? Bus yang selanjutnya datang 30 menit lagi, dan Sehun tidak punya waktu sebanyak itu. Ia sudah terlambat lebih dari jam yang ia janjikan pada Gayeon. Yah, mungkin 47 menit ia terlambat.

Sehun menghembuskan nafasnya kasar, berusaha mencari jalan lain. Coba saja ia punya motor sendiri, pasti semuanya tidak akan serumit ini. Harus naik bus atau jalan kaki. Payah sekali. Sehun menimbang-nimbang, apakah jarak dari sini ke rumah Gayeon jauh? Sehun terdiam sebentar, mencoba mengingat-ingat jalan mana yang akan ia tempuh kalau berlari.

“Yah, mungkin tidak terlalu buruk. Aku sudah sangat terlambat, tidak mungkin menunggu bus selanjutnya.” gumam Sehun dalam hati.

Segera saja Sehun berlari dari tempat itu menuju rumah Gayeon. Terus memikirkan gadis itu. Pasalnya Sehun selama empat hari ini ia tidak bisa dihubungi karena ponselnya rusak. Ia baru mendapatnya kembali kemarin malam dan malam itu juga Sehun langsung mendapat telepon dari Gayeon.

««»»

Gayeon terdiam di hadapan ice cream cake yang sudah hampir meleleh. Lilin di atasnya menyala. terang—benda itu sudah semakin pendek saja. Sudah sekitar 1 jam 16 menit lilin itu dinyalakan. Sudah mati, Gayeon nyalakan lagi. Terus berulang-ulang sampai akhirnya memendek seperti sekarang.

Ia sedang menunggu Oh Sehun. Lelaki yang berulang tahun hari ini. Sehun 4 hari belakangan ini susah sekali dihubungi. Tepat setelah malam mereka piknik. Dan kemarin malam, Gayeon berhasil menghubungi Sehun, ia mengatakan kalau hari ini lelaki itu harus datang ke rumahnya. Sehun mengatakan ‘iya’, namun sampai sekarang Sehun masih belum datang. Gayeon khawatir dengan keberadaan Sehun. Apa yang ia lakukan selama 4 hari belakangan ini? Kenapa tidak bisa dihubungi?

Karena Sehun, Gayeon tidak bisa meniup lilin ulang tahunnya sekarang. Masa ia harus merayakan sendiri? Bukan hanya Sehun yang ulang tahun hari ini, tapi Gayeon juga ulang tahun. Karena Sehun juga, GaYeon tidak bisa tenang di hari spesial ini.

Ice cream cake-nya sudah tidak beku lagi. Gayeon sudah memasukkan ice cream cake-nya ke dalam kulkas berkali-kali, mengeluarknya berkali-kali juga. Harus berapa lama lagi ia menunggu Sehun? Ia sudah menelepon Sehun beberapa kali hari ini, namun ia tidak mengangkatnya. Kenapa Sehun selalu membuatnya tidak tenang?

Wush!

 

Lilinnya mati lagi.

“Gayeon-ah!

Sontak Gayeon menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Ia harap ini bukan khayalannya karena terlalu mencemaskan Sehun. Gayeon mendengar suara decitan pintu, tanda pintunya terbuka, ada orang datang. Sehun. Matanya terpaku pada sosok yang sudah ada di hadapannya. Gayeon tersenyum tipis.

Namun sedetik kemudian ada yang baru ia sadari. Sehun terlihat berbeda. Tidak seperti Sehun sebelumnya. Dia terlihat lebih dewasa dan seksi. Keringat membanjiri dahinya, membuatnya terlihat semakin eksotis. Keringat? Ngomong-ngomong soal keringat, kenapa Sehun bisa berkeringat seperti itu?

“Sehun-ah, kau tidak apa-apa?” tanya Gayeon sedikit cemas. Sedetik kemudian tubuhnya sudah berada dalam dekapan Sehun. Sehun memeluknya erat sekali.

“Hhh, akhirnya aku sampai juga,” Sehun masih mengatur nafasnya yang tidak beraturan akibat berlari tadi. Dandanan yang sudah ia siapkan sekian lama, sekarang jadi berantakan. Namun ia tidak apa-apa, asalkan bisa menepati janjinya pada Gayeon itu sudah cukup. Tidak peduli dandanannya rusak atau tidak.

Gayeon mendorong dada Sehun pelan. Melepaskan pelukan lelaki itu padanya, kemudian bertanya, “Kau kenapa sih? Kenapa kau berkeringat seperti itu? Kenapa lama sekali? Kenapa kau tidak mengangkat teleponku? Kenapa—”

Kalimatnya terputus saat Sehun menaruh jari telunjuknya di depan bibir Gayeon. “Kanapa pertanyaanmu banyak sekali, hm?”

Astaga, Sehun terasa berbeda. 4 tidak bertemu membuatnya menjadi pria sejati. Suaranya jadi rendah—berat. Dan gaya berpakaiannya benar-benar manly. Apa Sehun salah makan? Gayeon berpikir dalam hati.

“Sekarang ayo kita rayakan ulang tahunnya. Kau pasti sudah lama menunggu. Maafkan aku ya?” tutur Sehun dengan lembut.

Sementara gadis itu masih ternganga. Bingung. God, apa yang kau lakukan pada Oh Sehun? Pasalnya Sehun berubah 180 derajat dari biasanya. Jika dulu ia begitu kekanakan, sekarang ia menjadi manly. Wah, perubahan yang sangat drastis. Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah dari Sehun, ia selalu lembut dan perhatian.

Gayeon mengikuti langkah Sehun menuju meja makan. Ice cream cake-nya sudah tidak terlalu dingin. Hampir meleleh. Lilinnya juga sudah mengecil akibat ia nyalakan terus tadi.

Sehun menarik pelatuk korek api yang ada di tangannya sehingga muncul api kecil di sana. Ia mengarahkan api itu pada lilin, dalam sekejap lilin itu sudah menyala. “Make a wish. Katakanlah apa yang kau inginkan!” suruh Sehun pada Gayeon, dan disusul anggukan kecil dari Gayeon.

Setelah meminta sesuatu pada Tuhan, Sehun dan Gayeon meniup lilin ulang tahun mereka. Sekarang mereka sudah genap 17 tahun. Mereka pernah berjanji kalau usia mereka sudah 17 mereka akan lebih dewasa, namun sepertinya Gayeon tidak. Mengubah kebiasaan seperti itu memang sedikit sulit.

Mereka saling berpandangan, tersenyum satu sama lain. Gayeon bertanya tentang harapan Sehun tadi, ia penasaran dengan apa yang diharapkan lelaki itu. “Sehun-ah, kau tadi mengharapkan apa?”

Sehun mengangkat bahunya tak acuh. “Itu rahasia. Kau tahu, katanya suatu harapan tidak akan terkabul kalau harapan itu dibocorkan pada orang lain,”

Gayeon langsung merengut. Mukanya berubah drastis. Cemberut. “Tapi kan aku bukan orang lain!” protes Gayeon tidak terima.

“Aku punya sesuatu untukmu,”

Ekspresinya berubah lagi jadi ekspresi penasaran campur senang. Sehun memberinya kado. Tapi Gayeon tidak membeli kado apapun untuk Sehun.

“Tunggu sebentar ya?”

Beberapa saat setelah itu, Sehun kembali dengan membawa paperbag cukup besar di tangannya. Ia menyerahkan paperbag itu pada Gayeon dan gadis itupun menerima hadiah itu dengan hangat. Ia bertanya pada Sehun tentang hadiah apa yang Sehun berikan padanya.

“Apa ini?” GaYeon terus meraba-raba isi paper bag itu. Ia masih belum membukanya.

“Buka saja,”

Gayeon membuka paperbag-nya, mengeluarkan isinya. Ia menaikan sebelah alisnya. Rasaya ia pernah melihat tas ini. Tapi di mana ya?

“Sehun-ah, bukankah ini tas yang waktu itu?” tanya Gayeon skeptis.

Sehun mengangguk. “Mm hmm, apakah kau suka? Aku melihat kau terus memandangi tas itu, jadi aku membelinya. Kau menginginkan tas itu, kan?”

Gayeon tertawa. “Astaga, Sehun, bukankah aku sudah bilang kalau aku tidak tertarik dengan tas ini? Kau keras kepala sekali,” ledek Gayeon.

Sehun hanya memasang wajah bingungnya. Tidak mengerti dengan apa yang Gayeon katakan. Otaknya memang sedikit lamban ketika sedang bingung. “Aku kira kau menyukai tas itu,”

“Aku kan hanya bertanya ‘apakah tas itu bagus atau tidak’. Aku berniat membelinya untuk kakakku, dua minggu lagi dia ulang tahun,”

“Jadi, apakah aku salah?” tanya Sehun yang masih linglung.

Gayeon mengangkat bahunya. Kemudian tersenyun tipis. “Tidak sepenuhnya. Terima kasih ya, aku akan mengganti uangmu nanti,”

Sehun langsung menggeleng, menolak omongan Gayeon tadi. “Kau tidak usah menggantinya, anggap saja itu hadiahku untuk kakakmu. Dan nanti akan aku belikan kau hadiah yang baru,”

Gayeon berdecak kemudian berkata, “tidak usah, kau pikir uang itu datang dengan sendirinya?”

“Kalau begitu, sebagai gantinya aku akan terus bersamamu sepanjang hari,”

««»»

“Chagiya, pelan-pelan saja makannya! Nanti kau tersedak,” ujar Sehun memperingati. Melihat Gayeon yang makan seperti orang kesetanan membuatnya sedikit khawatir. Kalau tersedak bagaimana? Tersedak itu tidak enak.

“Kalau aku makan pelan-pelan nanti ice cream cake-nya keburu meleleh,” jawab Gayeon.

Sehun mengerutkan keningnya. Benar juga ya? Kenapa tidak berpikir sampai situ? Sehun mengangkat bahunya. Kemudian ia memperhatikan Gayeon. Sehun tidak memakan ice cream cake-nya, entah kenapa ia sudah merasa kenyang melihat Gayeon.

“Han Gayeon,” panggil Sehun pada Gayeon, dan sontak membuat gadis itu menoleh, namun tidak dengan acara makan gadis itu.

“Apa?” sahut Gayeon. Ia terus menyuapkan sesendok demi sesendok kue es krim itu. Membuat mulut menjadi penuh. Namun ia menyukainya. Es krim-nya meleleh dimulut, dingin, manis, lezat.

“Kau mau tahu apa yang kuharapkan tadi?”

“Kau bilang harapannya tidak akan terkabul jika diberitahukan pada orang lain,” jawab Gayeon enteng. Sehun sangat tidak konsisten, pikirnya. Tadi bilang tidak boleh diberitahu, sekarang ingin memberitahu, aneh.

Sehun mendekatkan wajahnya ke wajah Gayeon, menangkupkan tangannya di wajah Gayeon. “Tapi kupikir harapan ini akan terkabul,”

Gayeon membulatkan matanya. Jantungnya berpacu dengan cepat ketika Sehun memperlakukannya seperti ini. Perasaannya tidak enak. Ada yang tidak beres disini. Suhu ditempat ini tiba-tiba panas. “M-memangnya apa harapanmu?” tanya Gayeon gugup.

“Melakukan ini—”

Sehun mendaratkan bibirnya di bibir Gayeon. Ya, inilah yang ia inginkan. Mengingat Gayeon yang selalu melarangnya untuk melakukan ini, membuat Sehun tidak tahan. Gayeon selalu menyertakan alasan kalau mereka masih kecil. Sekarang tidak ada alasan lagi untuk itu, mereka sudah dewasa. Sehun tidak bisa menahan dirinya lagi.

Gayeon tercengang. Ia membulatkan matanya tidak menyangka. Sehun mengharapkan ini? Bagaimana dia bisa berpikir seperti itu? Jantungnya serasa berhenti berdetak. Darahnya berdesir dengan kuat. Gayeon terlalu terkejut. Otaknya tiba-tiba tidak berfungsi. Ice cream cake yang sedari tadi ia pegang, sekarang sudah jatuh ke lantai.

Tangan kanan Sehun bergerak menahan tengkuk Gayeon, dan yang satunya menahan pinggang ramping Gayeon. Bibir Sehun mulai melumat bibir manis Gayeon, berusaha memasukkan lidah ke mulut Gayeon. Namun gadis itu menahan pergerakannya. Gayeon tidak mau membuka mulutnya. Sehun terpaksa menggigit bibir bawah Gayeon, tidak memerlukan 1 detik Gayeon sudah membuka mulutnya.

Lidah Sehun leluasa masuk, menelusup ke dalam mulut Gayeon. Masih ada sisa-sisa ice cream cake disana. Sehun menghabiskan sisa itu sebelum semuanya mencair. Manis.

Gayeon menutup matanya. Mulai menikmati permainan Sehun. Oh God, ini memabukkan. Tanpa Gayeon sadari ia juga menginginkannya. Menginginkan hal yang sama.

Beberapa detik kemudian Sehun melepas tautan bibirnya dengan Gayeon.  Menatap gadis itu lama, setelah itu ia berkata, “Andai aku bisa merasakan Ice Cream Cake yang lebih manis dari bibirmu, aku pasti akan memberi penghargaan pada orang yang membuatnya.”

Wajah Gayeon memanas. Semburat-semburat merah di pipinya mulai terlihat. Ia tidak bisa menahan senyumannya ketika Sehun mengatakan hal itu. Salah tingkah. Gayeon menutupi salah tingkahnya dengan memukul dada Sehun dan marah-marah. “Ya! Kau tidak boleh lagi melakukan hal seperti itu! Kita ini masih kecil.”

Sehun terkekeh kecil saat melihat kelakuan kekasihnya ini. Sehun tahu gadisnya ini sedang salah tingkah, namun ia menutupinya. Menggemaskan sekali. Apalagi pipinya yang memerah itu. Membuatnya gemas saja.

Sehun mengacak rambut panjang Gayeon, kemudian membawa Gayeon pada pelukan. Erat, seakan Sehun tidak mau kehilangan gadis itu. Ia sudah sangat bahagia bersama Gayeon.

“Aku mencintaimu,”

Epilog :

“Aduuhh, aku ngantuk sekali!” Sehun mengerang. Kalau saja ibunya tidak berisik, ia pasti tidak akan bangun terlalu pagi hari ini.

Sehun menyeret kakinya menuju kamar mandi. Ia membawa ponselnya. Untuk mendengarkan musik agar tidak mengantuk. Sehun menaruh ponselnya di atas kloset sementara ia mencuci muka. Namun sepertinya Sehun tidak memperhatikan letak ponselnya, ia malah langsung pergi mencuci muka dengan mata beratnya.

Plung!

Sehun menolehkan kepalanya lemas ke arah sumber suara. Matanya tiba-tiba terbuka dengan sempurna. Mana ponselnya? Perasaannya tidak enak. Tanpa mempedulikan busa sabun yang ada di wajahnya, Sehun langsung melangkahkan kakinya dengan cepat. Melihat ke arah kloset. Memastikan kalau ponselnya tidak jatuh ke dalam kloset.

Bingo!

Ponselnya ada di dalam kloset. Wajahnya langsung berubah panik. Bagaimana ini? Sehun langsung mengambil ponselnya dari dalam kloset. Ponselnya mati. Ia mencoba menyalakan ponselnya kembali. Error. Terdapat tulisan itu di ponselnya. Sehun menekan-nekan tombol ponselnya, berharap tulisan error itu adalah wallpaper ponselnya. Namun tidak, ponselnya tetap tidak bisa menyala.

“Aaaaaa! Ponselku!”

Sehun langsung berlari keluar kamar mandi, melupakan wajahnya yang masih dihiasi sabun cuci muka. Ia berlari menuju kamar Hyung-nya. Berharap ia dapat pinjaman ponsel kakaknya.

Hyung! Hyung! Bolehkah aku meminjam ponselmu? Please, Hyung! Kalau Gayeon meneleponku bagaimana? Hyung! Hyung!”

Sejun hanya menatap aneh adiknya yang satu ini. Sehun belum membersihkan wajahnya, dia lari kesini, dan ingin meminjam ponselnya. “Ya! Bersihkan dulu wajahmu!”

“Itu tidak penting, Hyung. Ada yang lebih penting dari itu. Ponselku mati, rusak, Hyung! Kalau Gayeon meneleponku bagaimana? Ponselku mati. Huuaaaa!” Sehun terus merengek-rengek pada Kakaknya. Menceritakan hal yang baru saja dialaminya tadi. Berharap kakaknya merasa iba.

Namun bukannya kasihan, Sejun malah menggeleng tidak menyangka. “Aku tidak menyangka Gayeon bisa tahan dengan lelaki kekanakan sepertimu,”

Sehun tertegun mendengar pernyataan kakaknya barusan. Tahan? Kekanakan? Apa maksudnya? Apakah Sehun kekanakan? “Apa?”

“Bersikaplah dewasa, Oh Sehun.”

««»»

“Aku rasa ada yang berbeda darimu,” tutur Gayeon sedikit penasaran dengan penampilan Sehun yang berbeda.

“Benarkah?”

“Ya, kurasa kau menjadi sedikit dewasa. Gaya bicaramu, rambutmu kau potong, dan sifatmu menjadi sedikit…eum…mesum,”

Sehun tertawa terbahak-bahak saat dengan pernyataan yang Gayeon berikan. Polos sekali. Astaga, memang tidak akan ada yang bisa menggantikan Gayeon dalam kategori orang dewasa yang polos.

Polos? Yah, mungkin saja. Kata itu yang lebih cocok untuk GaYeon. Walaupun Sehun tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan Gayeon sebenarnya. Bisa saja Gayeon pernah berpikiran mesum  juga.

-THE END-

 

8 responses to “[FREELANCE] Ice Cream Cake

    • Hii makasih ya udah mau baca+comment….
      Aku udah ngepublish ff ini di beberapa tempat kok, jadi wajar aja kalau kamu udh ngerasa pernah bacaa. Sekali lagi makasih love ya!❤️‍❤️‍

  1. ah so sweet🙂 manis bgt sih mereka…
    gayeon lucu bgt deh,, masalah batuk aja dia bilangnya “udh besar jadi gk akan batuk….eh giliran dicium pipinya dia bilang kita kan masih kecil???”
    hahaha polos bgt ya nih anak🙂
    tapi aq suka sama tingkah mereka, lucu ngegemesin gitu ^__^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s