[FREELANCE] Love Inseparable (Chapter 14-END)

love-inseparable-2

Title/Judul : Love Inseparable(Chapter 14-END)

Author : _Rain_Baek999

Cast:

-Choi Na Young

-Oh Sehun

OtherCast:

-Kim Suho

-Park Jiyeon

Genre: Romance, Comedy (?) Schoollife, Family Life, Angst, & Sad.

Length : Multichapter

Rating : 15!

Cover By : AirynChoi

Disclaimer : Ini asli dari pikiran dan imajinasi saya sendiri. Diharapkan untuk tidak mengcopypaste karya saya tanpa ijin!!! Jika ada kesamaan latar, tempat, tanggal dan waktu, itu sama sekali tidak disengaja.

NOTE

 

Annyeong^^ Ini Chapter terakhir dari Love Inseparable.Di sarankan saat baca FF ini sambil mendengarkan OST Mimi – Because I Love You yang di nyanyikan oleh Wendy Red Velvet. Karena lagu itu sangat mirip dengan jalan cerita dariChapter terakhir dari FF. Dan alasan lainnya karena lagu itu sangat bagus saat di baca sambil mendengarkan lagu tersebut.J

 

Semoga suka sama Chapter terakhir Love Inseparable. Kalau gitu langsung saja, Happy Reading^^…

Chap 1 | Chap 2 | Chap 3 | Chap 4 | Chap 5 | Chap 6 | Chap 7 | Chap 8 | Chap 9| Chap 10 | Chap 11 | Chap 12 | Chap 13 | Chap 14 -END

Sebelumnya_

Nayoung terdiam saat dirasa sapu tangan itu menyentuh sudut bibirnya. Ia menatap Sehun yang saat ini sedang fokus membersihkan sisa-sisa Es Cream tersebut. Nayoung terus-terusan menatap kekasihnya itu tanpa kedip, sungguh melihat Sehun dari jarak dekat membuat jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Sehun sangat tampan dari jarak sedekat ini.

“Mengapa menatapku seperti itu? Apa aku sangat tampan?” Nayoung yang mendengar perkataan kekasihnya itu mencibir kekasihnya tersebut.

“Percaya diri sekali kau.” Ucap Nayoung ketus.

“Aigo.. Kau tidak usah malu karena tertangkap basah olehku memperhatikan wajah tampanku ini. Wajahku ini memang sangat menawan.” Ucap Sehun percaya diri sambil beberapa kali tertawa kecil. Nayoung yang melihat responsSehun seperti itu hanya bisa mendengus kesal.

“Sudahlah.. Ayo kita mulai menaiki wahana yang ada di sini.” Ucap Nayoung sudah selesai dengan Es Cream-nya dan beranjak dari tempat duduknya.

“Aist.. Apa-apaanyeoja itu seenaknya pergi.” Gerutu Sehun. Sehun pun menyusul yeoja itu dan merangkul Nayoung dalam dekapannya.

Chapter_14_END

“BHUAHAHAHAHA..” Suara tawa dari salah satu sepasang kekasih yang saat ini sedang duduk di taman sambil memakan permen kapas dan meminum minuman mereka masing-masing yang telah mereka pesan.

Yang tertawa saat ini adalah seorang namja. Namja itu terus tertawa tak henti-hentinya, entah apa yang sedang Ia tertawakan. Minuman yang ia minum pun sampai keluar dari mulutnya. Sedangkan kekasihnya yang sejak tadi ada di sampingnya memicingkan kedua matanya tajam melihat tingkah kekasihnya itu. Yeoja itu mencengkeram kuat tongkat permen kapas yang ia pegang sedari tadi. Sungguh kesabarannya sudah berada di ubun-ubun karena mendengar tawa cempreng dari kekasihnya tersebut sejak tadi. Dan jika namja yang ada di sampingnya itu tidak menghentikan tawanya juga mungkin amarah dan rasa kesal yang sedari tadi ia pendam akan meledak.

“Berhenti tertawa jika kau tidak ingin kehilangan salah satu gigimu!” Gertak yeoja tersebut yang kita ketahui adalah Nayoung.

“Hhahhaha.. Mian, aku tidak bisa menahan tawaku.. Hhhahaha..” Nayoung yang mendengar kembali tawa Sehun hanya bisa mendengus kesal. Rasanya ia ingin membunuh dan mengubur namja itu saat ini juga. Setelah beberapa menit tidak ada yang berbicara dan yang terdengar hanya suara cekikikan dari Sehun, Sehun mulai bertanya kepada kekasihnya tersebut apa jadwal mereka setelah ini.

“Setelah ini kau ingin melakukan apa?” Tanya Sehun setelah bisa mengontrol tawanya, sambil menyeka air mata yang tanpa sengaja keluar karena tawanya tersebut.

“Aku ingin membunuhmu.” Ucap Nayoungtampa dosa dan rasa bersalah sama sekali di wajahnya. Sehun yang mendengar perkataan Nayoung yang terdengar ditelinganya sangat serius dan bersungguh-sungguh sempat terkejut dan bergidik ngeri dengan kekasihnya tersebut.

Apa dia serius ingin membunuhku? PikirSehun tak percaya.

“Yak! Jangan bercanda NonnaChoi!” Sungut Sehun tak percaya. Ia kesal mendengar penuturan kekasihnya tersebut dengan blak-blakannya Nayoung mengatakan itu dengan lancarnya tanpa merasa bersalah sedikitpun kepadanya. Oh yang benar saja.

“Aku tidak bercanda.” Kata Nayoung singkat. Sehun melongo tak percaya mendengar kekasihnya tersebut, sungguh Nayoung dimatanya saat ini sangatlah kejam. Sedangkan Nayoungmemincingkan kedua matanya melihat reaksi Sehun. Sejujurnya ia tidak serius dengan perkataannya, Nayoung hanya ingin mengerjai kekasihnya itu karena telah mentertawakannya terus menurus yang menurutnya tidak lucu sama sekali. Mungkin bagi Nayoung tidak lucu, tapi bagi Sehunsangatlah lucu. Apa lagi jika readers tahu apa yang ditertawakan Sehun saat ini, readers pun pasti akan ikut tertawa membacanya.

“Yak! Aist.. Kau ini.” Nayoung yang mendengar respon dan melihat reaksi Sehun tersenyum kecil. Sungguh lucu melihat tingkah Sehun seperti itu. Sehun melipat kedua lengannya di depan dada dan menekuk wajahnya dalam-dalam menunjukkan ekspresi kesalnya tersebut. Karena gemes melihat wajah kesal dan merajuk dari wajah Sehun, Nayoung mencubit pipi Sehungemes. Sehun yang pipinya dicubit meringis menahan sakit dipipinya.

“Berhentilah memasang wajah seperti itu.” Sehun yang mendengar perkataan Nayoung hanya memincingkan matanya menatap kekasihnya tersebut. Karena tidak ada respon dari kekasihnya, Nayoung mengerucutkan bibirnya.

“Hei.. Aku tadi hanya bercanda Tuan Oh. Berhentilah memasang muka menyebalkan seperti itu ok!” Jelas Nayoung. Tapi tetap saja Sehun tidak peduli. Ia tetap memasang muka tak jelasnya itu. Beberapa detik tak ada balasan dari Sehun, Nayoungberdecak kesal, sungguh kekanak-kanakan kekasihnya tersebut, karena rasa kesalnya kembali lagi yang sempat hilang menguap entah kemana sekarang kembali dengan rasa kesal yang lebih besar. Nayoung benci yang namanya di acuhkan atau diabaikan. Apa lagi yang mengabaikannya itu adalah orang yang menurutnya paling penting dalam hidupnya. Karena sudah tak tahan lagi Nayoung langsung menyemprot Sehun dengan semua rasa kesalnya yang sejak tadi ia tahan.

 “Yak! Kau ini kenapa hhuuhh! Seharusnya aku yang marah padamu! Tapi kenapa sekarang kau yang marah padaku!” Tembak Nayoung yang kesal karena tidak dipedulikan sama sekali oleh kekasihnya tersebut. Karena beberapa detik tidak ada respon dari Sehun, Nayoung mengepalkan kedua tangannya dan berdiri dari bangkunya. Kali ini Nayounglah yang sangat-sangat kesal kepada kekasihnya tersebut, karena diacuhkan oleh namja tersebut.

“Jika kau terus-terusan seperti ini lebih baik aku pergi.” Ucap Nayoung dingin, beranjak dari tempatnya lalu pergi dari hadapan Sehun. Sehun yang melihat kepergian Nayoung tidak bisa berdiam saja. Sebenarnya ia merasa bersalah dengan kekasihnya tersebut tapi karena egonya lebih besar dari rasa bersalahnya akhirnya Sehun hanya bisa mendahulukan egonya ketimbang rasa bersalahnya. Sehun bangkit berdiri dari bangkunya dan berkata..

 “Yak! Berhenti di situ!” Teriak sehun dari tempatnya berdiri, tapi Nayoung tidak perduli, ia tetap melangkahkan kakinya tanpa perduli ocehan Sehun yang dapat memekakan telinga siapa saja yang mendengarnya.

“Yak! Kubilang berhenti!” Teriak Sehun kali ini lebih keras. Tapi tetap tidak ada respon sama sekali oleh yeoja tersebut.

Sehun mengepal kedua lengannya kuat menahan emosinya yang sudah ada diubun-ubun. Sehun menyusul Nayoung sedikit tergesa-gesa yang sudah lumayan jauh darinya. Saat sudah dekat, Sehun menarik tangan Nayoung menghentikan yeoja itu untuk tetap berjalan. Tubuh Nayoung tertarik cukup keras kearahSehun, tapi dengan cepat Nayoung mengimbangkan tubuhnya agar tetap berdiri tegap. Nayoung menatap Sehun tajam lalu menghempaskan tangannya dari genggaman Sehun dan kembali melangkahkan kakinya tanpa perdulidecakan kesal dari namjachingunya tersebut.

“Ck! Apa-apaan yeoja itu! Aistjinja!” Gerutu Sehun kesal sambil mengacak-ngacak rambutnya gusar. Nayoung kalau sudah sangat marah, gadis itu tidak akan perduli dengan apa pun di sekitarnya. Termasuk Sehun sekalipun. Kalau Nayoung sudah seperti ini, yeoja itu tidak bisa di balas sama kerasnya seperti kerasnya kepala Nayoung. Nayoung harus di lembutin agar Yeoja itu luluh dan tidak marah-marah tak jelas seperti ini.

 “Na-ya..” Panggil Sehun kali ini lebih lembut beberapa meter dari Nayoung, tetapi tidak digubris sama sekali oleh gadis tersebut.

Sehun ingin menyelesaikan permasalahannya ini dengan kepala dingin. Karena ia tahu, Nayoung adalah yeoja yang keras kepala. Nayoung adalah typeyeoja yang tidak ingin disalahkan dan ingin menang sendiri. Walaupun begitu Sehun tetap mencintai Nayoung sampai kapanpun. Karena cintanya yang begitu besar, ia tidak perduli dengan apapun dan ia tidak perduli dengan semua sifat jelek yang ada di diri Nayoung.

“Aku minta maaf ok!” Ucap Sehun sambil merangkul tubuh Nayoung pada dekapannya, setelah Sehun bisa menyusul gadis itu dan mensejajarkan tubuhnya di samping gadisnya itu. Nayoung melirik kekasihnya itu malas, ia memutar bola matanya jengah. Nayoung membiarkan kekasihnya itu merangkulnya, Nayoung malas berdebat dengan kekasihnya itu. Berdebat dengan kekasihnya hanya akan membuat jiwa dan raganya lelah. Nayoung melipat kedua lengannya di dada.

“Oh ayolah Na-ya, mianhae, jangan marah lagi ok.” Ucap Sehun memelas kepada kekasihnya itu. Na-ya melirik kekasihnya lalu menghela nafas panjang. Sehun tersenyum melihat kekasihnya itu tidak marah lagi kepadanya. Sehunmengambil tangan Nayoung dan menggenggam tangan gadisnya itu erat dan menggosokkan tangan itu menggunakan ibu jarinya.

“Ayo, kita menaiki wahana yang lain.” Nayoung menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan kekasihnya itu. Mereka pun pergi dari sana dan kembali menaiki wahana yang lainnya.

.

Hari pun telah berganti malam. Saat ini waktu telah menunjukkan pukul 20.00 KST. Sehun dan Nayoung saat ini berada di bianglala. Ini adalah wahana terakhir yang berarti mereka telah menaiki semua wahana yang ada di Lotte World dan juga telah mencicipi berbagai makanan juga di sana.

Nayoung menatap pemandangan dari atas melalui Bianglala dan melihat semua yang berada di bawah mereka. Nayoung bisa melihat semua benda dari atas dan juga lampu-lampu malam yang menerangi kota.

Sehun memandang wajah Nayoung. Ia bisa melihat wajah gadisnya yang sangat cantik saat ini, walaupun gelap menemani mereka. Sehun bisa melihat angin menerpa anak-anak rambutnya. Sehun mengangkat tangan kanannya dan menyelipkan helaian rambut Nayoung pada telinganya. Nayoung terdiam beberapa saat merasakan tangan Sehun yang tidak sengaja menyentuh wajahnya. Nayoung mengalihkan pandangannya ke arah Sehun dan menatap kekasihnya itu dalam. Sehun tersenyum ke arah Nayoung.

“Apa kau lelah?” Tanya Sehun perhatian sambil mengelus pipi Nayoung lembut. Nayoung memejamkan matanya merasakan lembut sentuhan Sehun kepadanya. Nayoung mengangguk mengiyakan perkataan Sehun.

“Apa kau bahagia?” Nayoung membuka matanya dan menatap Sehun dalam, detik berikutnya ia tersenyum.

“Ya.” Jawab Nayoung lembut. Setelah itu tidak ada lagi yang membuka pembicaraan. Keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Wajah Sehun saat ini begitu damai, Nayoung bisa melihatnya dari senyuman kecil Sehun yang tidak lepas dari bibirnya.

Nayoungmencengkeram roknya dan menggigit bibir bawahnya untuk menenangkan hatinya saat ini. Dan itu tidak berpengaruh pada dirinya. Nayoung merasakan hatinya sesak dan merasakan bahwa dirinya ingin menangis.

Nayoung tahu inilah saatnya untuk berpamitan kepada Sehun. Inilah waktu yang tepat untuk dirinya mengakhiri hubungan mereka. Dengan sekuat tenaga Nayoung menenangkan dirinya dan meyakinkan dirinya inilah jalan yang terbaik untuk mereka berdua.

“Sehun-ah..” Gumam Nayoung lirih. Sehun mengalihkan perhatiannya pada Nayoung dan menatap gadis itu dengan senyuman di bibirnya.

“Hmm?” Tanya Sehun. Nayoung menghela nafasnya panjang dan memejamkan matanya untuk menguatkan dirinya dan juga hatinya. Sehun menunggu kekasihnya itu untuk mengatakan apa yang di inginkan gadis itu. Nayoung membuka matanya perlahan dan ia berkata tepat saat bianglala mereka berada di atas.

“Mari kita akhiri hubungan ini.” Senyuman Sehun luntur seketika saat mendengar perkataan Nayoung. Nayoungmenguatkan dirinya untuk tetap bertahan menatap mata Sehun yang menatapnya seperti tak percaya.

“Na-ya, a-apa maksudmu?” Sehunsedikit tergagap dan tidak mengerti dengan perkataan kekasihnya itu. Nayoung mati-matian menahan air matanya untuk tidak keluar, mata gadis itu saat ini berlinang.

“Ayo kita putus Sehun-ah. Mari kita akhiri hubungan ini.”Nayoung mencengkeram roknya kuat untuk meyakinkan dirinya inilah yang terbaik bagi mereka.

“Tapi.. Kenapa?” Seru Sehun lirih. Mata Sehun saat ini memerah dan terlihat di kedua matanya bahwa ia saat ini tengah menahan air matanya.

“Ini yang terbaik Sehun-ah, ini jalan yang terbaik untuk kita..” Nayoung menitikkan air matanya. Nayoung tidak dapat menahan air matanya lagi. Sehun menggelengkan kepalanya kuat. Sehun menangkup wajah Nayoung menggunakan kedua tangannya.

“Tidak, kita bisa mencari jalan keluarnya. Ini bukan jalan satu-satunya yang dapat kita lalui.” Ucap Sehun lalu kembali melanjutkan perkataannya.

“Kita bisa menemukan jalan keluar asalkan kita tetap bersama. Percayalah padaku Na-ya kita akan menemukan jalan keluarnya. Kita bisa melalui semua ini asalkan kita bersama. Percayalah.”Nayoung menggelengkan kepalanya.Sehunmenitikkan air matanya saat melihat harapan dari Na-ya telah hilang. pria itu tidak dapat menahan air matanya lagi.

“Na-ya, kumohon percayalah. Kita bisa melewati semua ini. Kita akan menemukan jalan keluarnya.”

“Tidak, kita tidak akan pernah bisa menemukan jalan keluarnya Sehun-ah.” Nayoung menatap Sehun dengan air mata yang terus jatuh dari kedua kelopak matanya. Nayoung bisa melihat dari wajah Sehun bahwa pria itu terluka olehnya, oleh perkataannya.

“Inilah jalan satu-satunya untuk kita.” Sekali lagi Sehun menggelengkan kepalanya dan meyakinkan kepada Nayoung.

“Tidak, kita bisa mencari jalan lain. Aku akan berbicara dengan orang tuamu bahwa kita-“

“Tidak, kau akan terluka jika kau berbicara dengan mereka. Kau akan menyakiti dirimu sendiri jika kau melakukan itu.” Nayoung menggelengkan wajahnya kuat agar Sehun tidak melakukan hal konyol untuk dirinya.

“Aku tidak ingin kau terluka Sehun-ah, aku tidak ingin kau terluka karena aku.” Gumam Nayoung pelan.

“Hanya inilah satu-satunya jalan untuk kita.” Nayoung bisa merasakan luka di kedua mata indah milik Sehun. Nayoung tidak dapat memaafkan dirinya melihat orang yang ia cintai terluka oleh dirinya. Ini sangat menyakitkan.

“Tidak bisakah kita tetap bersama?” Gumam Sehun lirih dan menyatukan dahi mereka untuk menempel satu sama lain.

Na-ya menggelengkan kepalanya. Mendengar responsNayoung membuat Sehun tidak memiliki harapan lagi. Dengan perlahan Sehun melepaskan kedua tangannya dari wajah Nayoung. Tapi Nayoung menahan pergelangan Sehun untuk tetap menyentuhnya dan tidak melepaskan wajahnya dari tangannya.

“Maaf..” Ucap Nayoung lirih.

“Maafkan aku..” Sehun bisa merasakan sakit dan penyesalan dari suara bergetar Nayoung. Sehun memejamkan matanya erat.

“Maaf karena membuatmu terluka. Maafkan aku karena telah menyakitimu Sehun. Dan maaf karena tidak bisa mempertahankan hubungan ini. Maafkan aku..” Nayoung menangis, ia telah mengecewakan Sehun, ia tahu itu.

“Maafkan aku Sehun, maafkan aku..” Ucap Nayoung lirih.

“ButonethingyoumustKnow, I loveyouSehun-ah, I loveyou. Don’teverforgettheseword.” (Tapi satu hal yang harus kau tahu, aku mencintaimu Sehun-ah, aku mencintaimu. Jangan pernah lupakan perkataanku ini)

Setelah mengatakan itu Nayoung mencium bibir Sehun lembut, menyalurkan rasa cintanya kepada Sehun dan membuktikan kepada pria itu bahwa ia sangat mencintainya. Sangat-sangat mencintainya. Sehun membalas ciuman Nayoung, mereka berciuman dengan sangat mesra dan lembut menyalurkan rasa sayang dan cinta mereka satu sama lain. Bibir mereka saling berpagutan, seakan dunia akan hancur jika salah satu dari mereka melepaskan ciuman tersebut. Keduanya saling melumat, menghisap dan berbagi saliva, menikmati rasa pasangan satu sama lain.

Tepat saat bianglala mereka berada di bawah, mereka menyudahi ciuman mereka. Mereka menarik nafas satu sama lain merasakan nafas pasangan mereka. Nayoung menarik dirinya dari Sehun dan menatap pria itu. Detik berikutnya ia tersenyum.

“Selamat tinggal.” Nayoung keluar dari Bianglala dan pergi dari hadapan Sehun, meninggalkan pria itu seorang diri.

Sehun terdiam di tempatnya. Nayoung telah pergi. Nayoung telah pergi darinya. Cintanya telah pergi. Gadis itu telah pergi darinya untuk selama-lamanya.

Sehunkembali menitikkan air mata dan menangis.Sehun menangis seorang diri tanpa Nayoung di sisinya lagi. Sehun tidak peduli jika orang-orang melihatnya menangis dan menganggapnya adalah pria cengeng. Ia tidak peduli.

Sehun menutupi wajahnya dengan satu tangan untuk menutupi wajah menangisnya. Ia tahu jika ia menangis tidak akan mengubah apa pun, tidak akan mengubah pendirian Nayoung dan tidak akan membuat Nayoung kembali padanya. Tapi hatinya saat ini begitu sakit, Sehun perlu melakukan sesuatu untuk melampiaskan tentang perasaan sakit di hatinya. Dengan menangis ia dapat menyalurkan betapa sakit hatinya. Dengan menangis ia dapat mengekspresikan betapa hatinya begitu hancur dan terluka.

Bianglala kembali berjalan, Sehun tidak peduli tentang itu semua. Sehun masih menangis, entah sampai kapan dirinya seperti itu dan bianglala terus berputar membawa Sehun.Bianglala membawa Sehun seakan merasakan apa yang di rasakan Pria itu saat ini.

***

 

Nayoung menatap pemandangan di luar jendela kamarnya. Ia menatap pemandangan dengan pandangan lirih miliknya. Besok ia akan pergi ke Jeju bersama kedua orangtuanya untuk merencanakan tunangannya bersama Suho.

Sudah hampir seminggu dirinya tidak melihat Sehun lagi setelah malam itu. Dirinya sangat merindukan pria itu, belahan jiwanya. Tidak melihatnya selama ini membuatnya hampa, seperti tubuh tanpa jiwa. Dirinya sungguh merindukan pria itu. Sangat-sangat merindukannya.

Terlihat di bola mata gadis itu bahwa ia ingin mengeluarkan berlian dari matanya. Tetapi dirinya menahan itu semua. Sudah cukup dirinya menangis. Ia tidak ingin menangis kembali. Ia tidak boleh menangis, karena inilah jalan yang ia pilih untuk dirinya dan juga Sehun. Ia harus kuat dan ia harus terus tetap menjalani hidupnya bagaimana pun caranya.

Tapi matanya berkata lain. Air matanya jatuh tanpa ia minta. Nayoung menangis. Nayoung menangis untuk semua jalan hidup yang ia pilih. Nayoung memukul dadanya yang terasa sangat sakit. Ini begitu menyakitkan untuknya. Tiba-tiba saja kejadian malam itu terlintas dalam otaknya. Melihat Sehun menangis malam itu karena dirinya membuat hatinya hancur. Seseorang yang sangat ia sayangi terluka karena dirinya. Ini membuatnya sangat sakit. Nayoung tidak bisa memaafkan dirinya karena telah membuat orang yang sangat ia sayangi meneteskan air mata untuknya.

“Sehun-ah.. hikkss.” Nayoung menepuk dadanya yang begitu terasa sesak dan sakit di dalam sana.

“Maafkan aku..” Nayoung terus menangis. Tidak ada yang dapat ia lakukan selain menangis untuk saat ini.

“Maafkan aku Sehun-ah, maafkan aku.”

.

Nayoung telah menyiapkan barang-barang dirinya untuk pergi ke Jeju hari ini. Sebelum pergi, Nayoung menyiapkan sebuah surat untuk Sehun darinya.

Nayoung mencoretkan tinta dalam kertas tersebut dan mulai membuat kata-kata di dalamnya. Tanpa terasa air matanya jatuh saat dirinya menulis surat tersebut. Air matanya jatuh terus menerus tanpa ia minta. Tangannya sedikit bergetar menuliskan surat tersebut. Tulisannya pun tak serapi awal tulisannya. Nayoung terisak dalam tangisnya.

Dan setelah tulisan terakhirnya, Nayoung menjatuhkan pena tersebut dan menangkup tangannya pada mulutnya. Bibirnya bergetar dalam tangisnya. Ia tidak dapat mengontrol tangisnya saat ini. Inilah jalan yang ia pilih. Ia harus kuat dan harus menyelesaikannya. Nayoung menurunkan tangannya dan mengepalkan kedua tangannya erat. Ia menggigit bibir bawahnya menahan tangisnya untuk berhenti. Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya dan mengeluarkannya melalui mulut untuk menenangkan dirinya.

“Aku harus kuat dan tidak boleh lemah. Karena inilah jalan yang aku pilih.”

***

Sudah lebih dari seminggu setelah kejadian itu. Ya, sudah lebih dari seminggu Sehun tidak pernah melihat Nayoung setelah insiden dirinya dan Nayoung putus. Saat ini Sehunberada di taman belakang sekolahnya. Ia memandang pemandangan di sekitar taman sekolah tersebut.

Sehun memandang taman dengan pandangan kosong. Setelah gadis itu tidak di sampingnya lagi, kehidupan Sehun mulai berubah. Pria itu terlihat sering sendirian dan murung. Sorot matanya pun kosong dan gelap. Semenjak Nayoung pergi, Sehun seperti tidak hidup. Tubuhnya seperti kosong tanpa jiwa di dalamnya.

Sebuah derap langkah kaki terdengar olehnya. Sehun mengalihkan perhatiannya pada orang itu yang lain dan bukan adalah Jiyeon sahabat baik Nayoung. Sehun menatap gadis itu. Ia sedikit mengerutkan alisnya melihat gadis itu yang tidak biasanya mendatanginya.

Tanpa bicara dan basa basi, Jiyeon langsung menyerahkan sebuah Amplop kepada Sehun. Sehun menatap Amplop berwarna Pink tersebut.

“Apa ini?” Tanya Sehun yang tidak mengerti.

“Surat.” Jawab Jiyeon.

“Maaf aku sedang tidak mood untuk membaca surat cintamu.” Jiyeon yang mendengar perkataan Sehun melotot tak percaya dan menjitak kepala Pria itu. Sehun yang menerima serangan gadis itu meringis merasakan sakit di keningnya.

“Yak! Kalau bicara jangan sembarangan!” Pekik Jiyeon. Sehun yang mendengar teriakan Jiyeon sedikit meringis. Ia mengambil amplop tersebut dan menatap Amplop tersebut dan membolak-balikkan Amplop tersebut.

“Itu dari Nayoung.” Sehun terdiam di tempatnya. Mendengar nama gadis itu membuat tubuhnya sedikit menegang dan seluruh organ tubuhnya bekerja sedikit lebih cepat termasuk hatinya. Sehun tidak membalas perkataan Jiyeon, ia tetap diam di tempatnya sambil memandang Amplop dari Nayoung.

“Sebelum Nayoung ke Jeju, dia menyuruhku untuk memberikan ini kepadamu. Dia ingin kau membacanya.” Sambung Jiyeon lagi. Jiyeon menatap wajah Sehun yang sedikit mengalami perubahan, terutama dari sorot matanya. Karena tidak ada balasan sama sekali dari Sehun, Jiyeon pun berpamitan kepada pria itu untuk pergi dari hadapannya.

Setelah kepergian Jiyeon, Sehun tetap diam di tempatnya. Sehun menatap surat itu dengan pandangan yang susah untuk di jelaskan.

**

Saat ini sebuah dua keluarga sedang mengobrol satu sama lain. Kedua keluarga tersebut terlihat sedang berbincang kecil tentang perjodohan kedua anak mereka. Mereka telah menetapkan acara pertunangan kedua anak mereka akan di laksanakan malam ini.

Nayoung di bangkunya hanya diam sambil memainkan makanannya. Suho di depannya menatap gadis itu. Ia selalu memperhatikan gadis itu tanpa sepengetahuan Nayoung. Suho merasakan perasaan berbeda saat bersama Nayoung. Nayoung saat ini tidak seperti Nayoungnya dulu.

Pertama kali dirinya bertemu lagi dengan Nayoung beberapa hari lalu, Suho sangat senang, tapi Suho merasakan perubahan dari Nayoung. Sorot mata gadis itu tidaklah seperti Nayoung yang ia kenal. Sorot matanya memancarkan rasa sakit yang dalam. Walaupun bibirnya tersenyum, tapi tidak dengan mata dan hatinya. Suho mengetahui itu karena Suho adalah teman semasa kecil Nayoung.

.

Saat ini Nayoung dan Suho sedang berjalan-jalan. Setelah percakapan kedua orang tua mereka, mereka di suruh untuk berjalan-jalan sore berdua, untuk lebih mengenal satu sama lain walaupun mereka pada kenyataannya sudah mengenal jauh dari orang lain tahu.

Mereka berjalan beriringan menaiki bukit. Mereka ingin melihat pemandangan dari atas tebing bukit tersebut. Keduanya berhenti melangkah saat mereka sudah sampai pada tujuan mereka. Angin sore menyapu anak-anak rambut mereka. Suho dapat melihat kecantikan Nayoung dari sini.

“Apa kau bahagia?” Nayoung menatap pemandangan laut dari atas tebing tersebut. Ia tidak menjawab perkataan Suho, jika ia menjawab perkataan pria itu, ia takut jika ia akan melukai hati pria itu. Sudah cukup ia menyakiti hati Sehun dan ia tidak ingin menyakiti hati pria lain lagi.

“Aku tahu kau tidak menyukai perjodohan ini.” Mendengar perkataan Suho membuat dirinya menahan nafas sejenak.

Suho mengetahuinya? Pikir Nayoung.

“Jika kau tidak menyetujui perjodohan ini, seharusnya ka-“

 “Mengapa jika aku tidak menginginkan perjodohan ini?” Potong Nayoung sambil menatap pria itu dan sedikit menaiki suaranya. Suho terdiam di tempatnya mendengar perkataan gadis itu.

“Apakah aku bisa membatalkannya?” Suho tidak bisa berkata apa-apa. Ia terdiam kehilangan kata-katanya mendengar perkataan Nayoung. Nayoung tersenyum sinis dan matanya saat ini berkaca-kaca, ia menahan tangisnya untuk tidak keluar dari matanya.

“Apakah aku bisa membatalkan perjodohan ini?” Ucap Nayoung (lagi).

“Mengapa kau diam? Apa aku benar?”

“Tidak, kau bisa.” Jawab Suho setelah beberapa saat tidak berbicara.

“Apa?”

“Kau bisa membatalkannya jika kau tidak menginginkan perjodohan ini.” Nayoung menatap Suho dalam dan Suho pun membalas tatapan Nayoung. Tapi Nayoung mengalihkan pandangannya ke arah laut.

“Semuanya sudah terlambat.” Ucap Nayoung akhirnya setelah cukup lama terdiam

“Tidak ada kata terlambat ChoiNayoung.” Ucap Suho menekankan perkataannya di akhir kalimatnya.

“Semua masih bisa kau lakukan. Tidak ada kata terlambat di dunia ini. Semuanya ada di tanganmu.” Suho tersenyum ke arah Nayoung. Nayoung tidak menjawab perkataan Suho. Pikirannya saat ini kacau dan arah pandangan matanya pun tidak menentu.

“Bagaimana denganmu?” Ucap Nayoung tanpa melihat ke arah Suho.

“Kau menginginkan perjodohan ini bukan?” Lanjut Nayoung. Suho terdiam di tempatnya. Suho menatap rerumputan di sekitarnya. Tapi detik berikutnya ia tersenyum.

“Kau benar, aku memang menginginkan perjodohan ini.” Ucap Suho setelah cukup lama terdiam.

“Tapi jika kau tidak menginginkan perjodohan ini dan tidak bahagia bersamaku itu akan lebih menyakitkan untukku.” Nayoung menatap Suho dan Suho balas menatap Nayoung sambil tersenyum.

“Aku akan senang jika kau hidup bahagia walaupun pada akhirnya kau tidak bersamaku.” Mendengar perkataan Suho membuat hati Nayoung terenyuh. Mata gadis itu sedikit berkaca-kaca mendengar perkataan tulus dari Suho. Suho yang melihat perubahan ekspresi wajah gadis itu hanya tersenyum.

“Kau masih bisa menentukan pilihanmu Na-ya.” Ucap Suho lagi. Nayoung tidak membalas perkataan Suho. Semua percakapannya bersama pria itu membuatnya berat untuk pilihan sebelumnya. Semua ini membuatnya bimbang.

“Aku akan pergi lebih dulu ke penginapan.” Ucap Suho dan menepuk punggung gadis itu setelah cukup lama terdiam.

“Kau bisa memikirkannya dan memilih jalan hidup yang kau ingini.” Setelah mengatakan itu, Suho pun pergi dari hadapan Nayoung.

Nayoung terdiam di tempatnya. Nayoung mencengkeram tangannya erat. Mendengar perkataan Suho membuatnya bimbang saat ini, tetapi apa pun yang akan ia lakukan nanti semuanya sudah terlambat. Jika ia membatalkan perjodohan ini semuanya hanya akan sia-sia.

Nayoung maju beberapa langkah mendekati tebing tersebut dan menatap lurus ke depan ke arah laut yang ada di hadapannya. Ia bisa merasakan embusan angin pantai menerpa wajahnya. Nayoung memegang dadanya yang terasa sakit dan nyeri, ia memukul dadanya untuk dapat mengontrol perasaannya. Tapi semakin dia memukul dadanya dan mencoba menenangkan perasaannya, semakin dirinya ingin menangis.

Di tempat lain dengan waktu yang bersamaan, saat ini Sehun sedang berada di atap sekolahnya. Ia memandang pemandangan kota Seoul dari atas atapsekolahannya tersebut. Ia mengeluarkan Amplop Nayoung pemberian Jiyeon padanya beberapa waktu lalu. Ia menatap lekat Amplop tersebut dan meremasnya sedikit sebelum membuka Amplop tersebut.

DearSehun,

 

Saat kau membuka ini aku tahu kau pasti sudah tahu statusku saat ini. Ya, seperti yang di bicarakan orang-orang aku telah di jodohkan. Maaf karena tidak memberitahukanmu sebelumnya, karena aku tidak ingin kau terluka. Walau pun pada akhirnya kau terluka karenaku. Maaf karena membuatmu terluka Sehun-ah, maaf. Aku tahu kata maaf tidak akan dapat mengubah semuanya, tidak akan dapat membuat kita kembali bersama. Tetapi tidak ada kata lain selain kata maaf yang dapat aku katakan. Sekali lagi maaf.

Soal perjodohan itu, aku tidak akan menerima perjodohan tersebut. Mungkin kau bingung dengan isi suratku ini, karena semua orang tahu bahwa aku telah menerima perjodohan ini. Tapi aku akan membatalkannya. Dan aku yakin kau tahu alasanku membatalkan perjodohan ini.

Dan saat kau mendengar berita tentangku nanti aku harap kau tidak terkejut. Jangan menyesal atau pun menangisi sesuatu yang telah terjadi. Aku ingin melihatmu bahagia walaupun kita tidak akan dapat bersama. Dan jangan pernah menyalahkan dirimu. Tidak ada yang perlu di salahkan, karena semua ini adalah takdir dan pilihan hidup yang aku pilih.

Berjanjilah padaku kau akan tetap hidup dan bahagia Sehun-ah. Tetaplah tersenyum dan bahagia. Lukislah kehidupanmu dengan warna-warni kehidupan. Aku ingin melihatmu hidup bahagia walau pun tanpa aku di sisimu.

Dan berjanjilah padaku kau akan bahagia bersama gadis lain walau pun gadis itu bukan aku. Dan buatlah Sehun kecil yang manis untukku bersama gadis yang akan bersamamu nanti. Berjanjilah padaku Sehun.

 

Dan saatSehun membaca tulisan surat yang terakhirNayoung pun berkata seperti apa yang ia tulis di dalam suratnya tersebut bersamaan dengan Sehun.

 

Jika kita memang tidak di takdirkan di kehidupan ini, hendaknya kita di takdirkan di kehidupan yang akan datang.

 

Setelah mengatakan itu dengan pelan Nayoung memejamkan kedua matanya dan membentangkan kedua tangannya merasakan angin laut menerpa wajahnya. Dengan perlahan Nayoung memajukan tubuhnya dan menjatuhkan dirinya ke dalam jurang tebing tersebut.Tubuh Nayoung terhempas dengan kerasnya di dalam air tersebut sampai akhirnya tubuhnya hilang terbawa oleh ombak laut.

Sehun menjatuhkan tubuhnya setelah membaca surat dari Nayoung. Ia terpaku dengan pandangan kosong. Dirinya terdiam tidak melakukan apa pun. Tanpa ia sadari air matanya jatuh membasahi pipinya.Sehun menangis. Sehunterisak kecil dalam tangisnya. Ia tidak dapat membendung tangisannya lagi. Ini sangat menyakitkan. Ini lebih menyakitkan dari pada saat Nayoung memutuskannya.

Sehun menutup wajahnya menggunakan tangan kanannya menyembunyikan wajah menangisnya. Ia tidak dapat membendung tangisannya. Ini sangat menyakitkan baginya.Tiba-tiba saja isi surat dari Nayoung yang ia baca beberapa waktu lalu terlintas dalam otaknya.

Jangan menyesal atau pun menangisi sesuatu yang telah terjadi.

 

Tetaplah tersenyum dan bahagia.

 

Aku ingin melihatmu hidup bahagia walau pun tanpa aku di sisimu.

 

Sehun menghentikan tangisnya saat mengingat isi surat Nayoung. Ia mencengkeram erat surat tersebut pada tangan kirinya dan berusaha sekuat tenaga untuk menahan tangisnya. Ia bangkit berdiri dari tempatnya dan memandang jauh ke depan. Ia mengeratkan cengkeramannya pada surat tersebut.

“Aku akan bahagia. Aku janji.”

 .

Sepuluh Tahun kemudian.

Seorang pria keluar dari salah satu mobil LamborghiniReventon. Pria itu adalah Sehun.Sehun saat ini menggunakan kemeja putih dan dasi yang sedikit longgar pada lehernya.

Sehunmemandang pemandangan di sekitarnya detik berikutnya ia tersenyum. Saat ini Sehun berada di Jeju di tebing dekat laut tempat terakhir kali Nayoung berada di sana. Sehun membawasebukat bunga Lily yang sangat cantik.Sehun mencium aroma bunga tersebut dan setelahnya ia melangkahkan kakinya mendekati tebing tersebut.

Ia memandang jauh ke arah lautan yang luas. Wajahnya saat ini lebih serius, tidak seperti saat beberapa waktu lalu ia datang. Ia memandang bunga Lily tersebut sebelum ia menaruh bunga Lily itu pada tepi jurang.

“Bagaimana kabarmu? Apa kau bahagia?” Tanya Sehun entah pada siapa.

“Tentu kau harus bahagia.” Ucap Sehun dengan senyuman kecil.

“Aku telah menepati janjiku.” Gumam Sehun pelan.

“Kau pasti melihat dari sana bukan bahwa aku bahagia? Ya, aku yakin kau melihatku dari sana.” Ucap Sehun sedikit retak di akhir kalimatnya.

“Minggu depan adalah hari pernikahanku.” Ucap Sehun akhirnya setelah beberapa saat tidak berbicara.

“Akan aku pastikan bahwa aku akan bahagia bersamanya. Dan aku ingin kau juga bahagia.”Sehun mengangkat kedua sudut bibirnya untuk tersenyum.

“Terima kasih.” Gumam Sehun.

“Terima kasih telah bersamaku dulu. Terima kasih telah memberiku cinta yang tulus. Terima kasih.” Ucap Sehun lagi.

“Selamat tinggal Na-ya, selamat tinggal. Kuharap kau bahagia di sana.” Sehun tersenyum dengan tulus sambil memandang jauh ke depan.

END

Jeng jeng! Inilah END dari Love Inseparable. Semoga Readers puas dengan akhir dari FF ini. Mian jika END akhir dari Love Inseparableini SAD. Maafkan Author yang tak berdosa ini ok! Wkwkwk.

 

Apakah semua readers setiaku nangisbombaysaat ini? Aku harap seperti itu nekkk~

 

Sebenarnya konsep dan akhir FF ini sudah Author rencanakan sebelum terbentuknya (?) Love Inseparable ini. Waktu di Chap sebelumnya saat Authornanya ke Readers untuk FF ini Happy Or Sad, banyak Readers yang menginginkan Happy End. Dan asli Author galau pakek banget saat itu. Karena memang konsep FF ini sudah Author rencanakan Sad Ending.

 

Saat Authorpengen coba buat FF ini Happy Ending, Authormutar otak dan mikirgimana buat Nayoung dan Sehun tetap bersama, tapi ceritanya tetap keren. Tapi pada akhirnya FF ini tetap Sad. Sebenarnya banyak cara membuat mereka tetap bersama, tapi otak Author larinya selalu buat Nayoung meninggal dan bunuh diri. Jadi, maafkan otak Author yang sedikit bermasalah ini. T.T

 

Mungkin seginiajaNote dari Author. Jangan lupa berikan comentar untuk FF ini dan apresiasi kepada Author.🙂 Yang SilentReaders dari awal sampai FF ini END, ayo dongcoment di part terakhir ini 😀 Kalau gituAnnyeong~ sampai jumpa di ffAuthor berikutnya^^

 

Rain_Baek999

6 responses to “[FREELANCE] Love Inseparable (Chapter 14-END)

  1. Wah sad ending…nayoung bunuh diri..sehun skrg udah sukses…ngena bgt kta dlm surat nayoung…apa ada sequel kah???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s