[FREELANCE] Rapunzel and The 12 Forces #1

rapunzel-and-the-12-forces

Tittle : Rapunzel and The 12 Forces

Author/Twitter : Light Bi (@faniaarr12)

Cast : EXO’s Oh Sehun — OC’s Casie — EXO’s Byun Baekhyun — OC’s Annabeth — Akan bertambah seiring chapter berjalan

Genre : Romance — Sci-Fi — Drama — Hurt/Comfort — Fantasy

Rating : PG-12

Length : Chapter

Amazing poster by Ayame Yumi @ Poster Channel

Disclaimer : Terinspirasi dari dongeng ‘Rapunzel’. Cast EXO milik Tuhan, agensi, dan orang tua mereka masing-masing. Kecuali OC. Hope ya like this ^^

Prolog

——

Rapunzel tumbuh terisolasi dari dunia luar dan menjalani kehidupan asosial. Semua itu karena penyihir tak ingin ada orang lain yang tahu keajaiban rambut emas Rapunzel.

——

Baekhyun duduk tertunduk dalam ruangannya. Tak ada siapapun. Dia sendiri di sana. Hanya ada sebuah bangsal di tengah yang menjadi tempat ia beristirahat. Tentu, beristirahat dari segala penyiksaan yang ia terima. Entah dari siapa, tidak tahu kenapa dan untuk apa. orang-orang bermasker itu datang setiap hari, menggiringnya masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan monster. Setiap kali sadar setelah pingsan, selalu ada bekas suntikan di sekujur tubuhnya.

Baekhyun tidak ingat bagaimana akhirnya dia bisa berada di tempat aneh ini. Semua terjadi begitu cepat dan Baekhyun tak tahu sudah berapa lama dirinya berada di sini, disekap dan disiksa. Mereka memaksanya untuk membutakan mata monster-monster itu, tanpa menyentuh sama sekali. Baekhyun pikir mereka gila. Memang, mereka memang gila. Tapi dia tak diberi pilihan untuk menolak orang-orang gila itu. Setiap kali Baekhyun bertanya kenapa, mereka hanya menjawab ‘Kami hanya menjalankan perintah.’

Dan sejak itu ia tahu, bahwa seseorang bersembunyi di balik ini semua.

Sejak 20 tahun dirinya hidup, ia tak pernah berpikir akan memiliki kekuatan untuk mengeluarkan cahaya dari telapak tangan. Itu semua hanya terjadi dalam film dan dongeng-dongeng lama. Tapi sekarang ia merasakannya sendiri. Bagaimana sesuatu yang ia anggap hanya terjadi dalam film dan dongeng itu benar-benar nyata.

Baekhyun ingin menyangkal bahwa dia hanya bermimpi. Namun semua rasa sakit yang ia terima tak kunjung membangunkannya. Ingin sekali marah, memaki, dan menyalahkan. Tapi tak ada satupun yang dapat ia gunakan untuk melempar segala amarahnya yang terpendam. Dia butuh setidaknya satu orang saja untuk menjelaskan apa yang terjadi. Baekhyun merasa seperti akan gila sebentar lagi.

Pria bersurai hitam itu mengangkat tangannya, memainkan seberkas cahaya di dalam ruangan gelap ini. Siapa yang membuat kekuatan ini? orang sialan macam apa yang membuat segala penderitaan ini? dan kenapa harus dia yang mengalaminya? Di antara milyaran manusia di dunia, kenapa harus dia? Baekhyun tak habis pikir mengenai apa yang orang-orang gila itu pikirkan.

Jika diberi pilihan, Baekhyun lebih memilih mati dari pada harus merasa seolah-olah mati secara perlahan.

Baekhyun menyipitkan mata kala cahaya dari arah lain tiba-tiba menyeruak memenuhi ruangan. Hanya sebentar. Lalu setelah itu kembali gelap. Ia berdiri dan mendekati sesosok pria yang baru saja dilempar ke dalam. Memanfaatkan cahaya di telapak tangannya, Baekhyun mencoba tuk melihat wajah pria itu. Tampak berantakan, lelah, dan menyedihkan. Sama seperti dirinya.

Dan ia tahu, bahwa ada orang lain selain dirinya yang memiliki nasib sial terjebak dalam tempat berisi orang-orang gila ini.

Baekhyun membalik tubuh pria berambut merah itu menjadi terlentang. “Hei.” Ujarnya sambil menepuk-nepuk pipi si pria yang masih tak sadarkan diri. Sejenak Baekhyun bertanya-tanya. Kenapa pula mereka melempar pria itu kesini? Ketika sejak awal saja tak ada yang masuk kecuali orang-orang bermasker itu. Baekhyun tak tahu apakah ini rencana busuk mereka yang lain atau memang mereka ingin ia berlatih bersama pria itu. Namun yang Baekhyun tahu pasti, mereka melakukannya bukan karena ingin dirinya memiliki teman. Orang gila mana yang begitu baik hati membiarkan hal tersebut?

Teman..

Sudah berapa lama sebenarnya ia di sini? apakah orang-orang yang mengenalnya khawatir? Byun Baekhyun si mahasiswa semester akhir yang tiba-tiba menghilang.

Well, itu adalah pertanyaan terbodoh baginya. Memang siapa yang akan mengkhawatirkan lelaki bernama Byun Baekhyun? Orang-orang hanya datang ketika mereka butuh, lalu pergi setelah mendapat apa yang mereka mau. Teman hanya sebuah pikiran naif jika Baekhyun mengharapkan itu.

Bahkan sejak lahir, ia dibuang oleh orang tuanya sendiri. Menyedihkan, bukan? Baekhyun begitu jijik terhadap hidupnya sendiri. Ia merasa, untuk apa ia dilahirkan ketika bahkan tak ada seorang pun yang menginginkan keberadaannya?

Erangan dari sang pemilik rambut merah memecah pikiran Baekhyun. Menariknya kembali ke dunia nyata. Baekhyun beranjak lalu duduk di sudut ruangan, jauh bersebrangan dengan si rambut merah. Kamar kembali tampak gelap ketika Baekhyun mematikan cahaya buatannya.

Beberapa kali erangan kesakitan terdengar dalam kamar itu. Baekhyun tak tahu apa saja mereka lakukan pada si rambut merah, apakah sama dengannya? Atau malah berbeda sama sekali. Meski dirundung beribu pertanyaan, namun Baekhyun enggan untuk bertanya. Ia lebih memilih memendam pertanyaan itu untuk dia sendiri. Agar otaknya memiliki sesuatu hal untuk dipikirkan selain nasib sialnya.

“Hei keparat.”

Baekhyun mengerutkan kening begitu dalam ketika mendengar suara berat yang baru saja menyerukan panggilan ‘keparat’. Tentu itu ditujukan untuk Baekhyun. Tidak ada orang lain selain mereka berdua.

“Siapa kau? Kenapa di sini?”

Seolah-olah tak mendengar apapun, seolah tak ada siapapun selain dirinya, Baekhyun berbaring di atas kasur dan memejamkan mata. Berlagak tidur untuk menghindari si rambut merah yang sepertinya menyebalkan.

Sedangkan si rambut merah, Park Chanyeol, hanya mendengus ketika Baekhyun mengacuhkannya. Dia sendiri bingung bagaimana bisa ada orang lain di sini. Terlebih pria mungil itu tak mengenakan masker dan pakaian yang biasa digunakan orang-orang sialan yang selalu membawanya untuk di tes—di siksa lebih tepatnya. Pria itu mengenakan seragam putih-putih sama sepertinya, dan Chanyeol simpulkan bahwa pria itu juga adalah korban orang-orang gila di sini.

Haruskan dia bersyukur dengan adanya orang lain selain dirinya? Tidak. Tak ada yang benar-benar bisa dipercaya di sini.

Chanyeol duduk dengan salah satu kaki ditekuk menyentuh dada. Ia mulai bermain-main dengan api di atas tangannya, seperti yang Baekhyun lakukan beberapa saat yang lalu. Merenungi segala nasib sialnya hingga berakhir di tempat asing ini.

**

Tak dapat bergerak. Sakit.

Adalah dua hal yang dirasakannya saat ini. Seolah sesuatu mencengkram tubuhnya dan mencabik-cabik setiap organ tanpa ampun. Dia ingin membuka mata, namun tak dapat menggerakkan kedua kelopaknya barang sedikit saja. Seakan-akan dia tengah mengalami sleep paralyze. Di mana kau ingin bangun, namun tak bisa.

Dia ingin mengerang karena rasa sakit itu, tapi sekali lagi, tak ada barang gumaman sedikitpun yang dapat keluar. Dia frustasi. Ingin sekali menggeram meminta pertolongan, berteriak pada siapapun agar menyelamatkannya dari neraka ini.

Dia berusaha sekuat tenaga. Dengan seluruh kekuatan yang dia miliki, coba tuk keluar dari ini semua. Semakin dia berusaha, semakin rasa sakit itu menusuknya. Panas membakar tubuhnya begitu kejam, seolah tak pernah biarkan dia membuka mata. Namun dia terus melawan sakit itu. sudah terlalu lama ia di sana, terjebak dalam kegelapan dan penderitaan. Dia ingin mengakhiri ini semua.

Lalu sebuah pergerakan terjadi pada kelopak yang masih terpejam. Beberapa saat kemudian, tampak mata biru bening yang indah. Sebening air, seindah samudera.

Dia mengerjap beberapa kali. Memandangi langit-langit bewarna putih dari balik kaca yang membungkusnya. Rasa sakit itu masih ada, sesaknya masih menyiksa. Dalam keadaan tersebut, dia bertanya-tanya. Tentang di mana dirinya, apa yang terjadi, kenapa dia ada di sana. Semua pertanyaan itu bagaikan dengungan lebah yang mengganggu otak kecilnya.

Kemudian dia kembali tertidur.

Walau masih dalam kegelapan, dia tak lagi rasakan sakit yang menyiksa. Yang ada hanya hampa, penyiksaan lain terhadap perasaannya. Ketika kembali terbangun, semua masih sama. Langit-langit bewarna putih, dia yang berada dalam sebuah benda sepanjang tubuhnya. Dia tak merasa ada orang lain di sana selain dirinya. Dia tak mendengar suara apapun, terlalu hening.

Kemana orang lain? Apakah dia sendiri, lagi?

Dia mencoba gerakkan tubuhnya, namun ngilu langsung didapat setelah berusaha menggerakkan jari-jemarinya. Pun pita suara yang enggan keluarkan satu kata saja. Dia benar-benar tak bisa gerakkan seluruh bagian tubuhnya. Seolah ia mengalami kelumpuhan total.

Waktu terus berlalu. Tak ada satupun yang datang berkunjung. Kemana wanita yang selalu berbicara padanya? Apakah itu hanya ilusi? Tidak. Suaranya jelas terdengar nyata.

Tapi kemana dia?

**

Sehun menggeram lalu melempar kaca matanya ke sembarang arah. Dia hempaskan diri di atas sofa putih laboratorium. Sehun terpejam lalu memijat pelan pelipisnya yang terasa berdenyut.

“Gagal lagi?”

Sebuah suara menarik kedua kelopak mata Sehun untuk terbuka. Kyungsoo berdiri melesakkan kedua tangannya dalam saku jas sambil melihat kedalam mikroskop. Sehun menghela napas kasar. Sejak kapan pria pendek itu ada di sana? Dia benar-benar tak berada dalam kondisi mood yang baik untuk berbicara dengan orang lain saat ini.

“Zatnya tidak menetralkan virus.. Lay bisa dipastikan mati walau menyembuhkan orang lain. Virus itu akan memakan tubuhnya.”

“Itu bukan untuk dia.”

“Perlu kau tahu jika kau adalah pembohong yang payah, Oh Sehun.”

Sehun menghela napas berat. Kyungsoo benar, sangat tepat. Dia sama sekali tak memiliki alibi untuk menyangkalnya. Sehun harus akui, untuk membuat kekuatan penyembuh tidaklah semudah itu. bertahun-tahun Sehun telah mengerjakan ini, namun hasilnya dia malah membuat racun.

“Kenapa kau kemari?”

Yeah, benar. Kyungsoo tidak mungkin repot-repot berkunjung ke laboratorium miliknya jika tidak memerlukan sesuatu.

Kyungsoo menegakkan tubuhnya. Lalu bertanya, “Bagaimana mereka?”

Dan pertanyaan Kyungsoo sukses membuat mood Sehun semakin turun. Dia berdecak kemudian kepalanya bersandar pada sandaran sofa, menatap langit-langit fasilitas yang juga bewarna putih. “Saranmu benar-benar tidak berguna. Mereka bahkan tidak berbicara satu sama lain sekalipun.”

Kyungsoo mengangkat sebelah alis tebalnya tinggi-tinggi. Pria itu kemudian ikut duduk di samping Sehun. “Kupikir jika api dan cahaya dipertemukan, mereka akan saling memperkuat satu sama lain. Itu dua kekuatan yang cocok sebetulnya. Apa aku salah?”

Sehun tak menjawab. Ia sudah terlalu dipusingkan dengan masalah ini dan itu yang menyangkut tentang eksperimen-eksperimennya. Lab kembali hening seperti sebelum Kyungsoo datang. Entah apa yang dilakukan pria pendek itu dengan botol berisi serum-serum miliknya. Sehun tak mau tahu. Kemudian tiba-tiba dia bangkit dan berjalan menuju pintu keluar.

“Mau kemana?” tanya Kyungsoo yang segera sadar akan kepergian Sehun.

“Menemui Prof. Anna.”

**

Dia tak tahu sudah berapa hari terlewati. Ruangan tempatnya berada tetap kosong dan hening. Kemana orang lain? Dia merasa seolah berada dalam dimensi lain, tempat di mana hanya ada dirinya seorang, jauh dari orang lain. Dia mencoba mengingat-ingat bagaimana bisa berakhir di sini. Apakah saat itu dia sedang bermain di taman belakang? Sekeras apapun dia berusaha, tetap tak dapat temukan secuil ingatan yang tersisa sebelumnya.

Sekarang bahkan nama pun dirinya tak ingat. Ia hanya tahu bahwa ada taman di belakang rumah, dan ulang tahun kesebelas. Hanya itu. Bagaimana wajah ibunya? Bagaimana wajah ayahnya? Apa yang terjadi? Seolah semua terlupakan begitu saja, pergi tanpa meninggalkan bekas. Setidaknya, ia butuh sedikit saja ingatan lain yang tersisa, untuk mengenali jati dirinnya, untuk mengenali siapa dirinya. Dan semua terasa begitu kosong tanpa ingatan-ingatan itu.

Dan satu-satunya yang menjadi harapannya saat ini adalah, wanita itu. Wanita yang berbicara dalam tidurnya. Dia yakin wanita itu nyata, berada dekat di sekitarnya.

Samar-samar dia mendengar suara dari arah lain. Ia sedikit menolehkan kepalanya. Setelah beberapa saat, pintu di sana terbuka. Seorang wanita dengan jas putih dan surai hitam digelung keatas. Wanita itu melangkah, mengahsilkan suara ketukan dari stilettonya yang terdengar nyaring di sana. Dalam jarak yang lebih dekat, ia dapat melihat netra coklat kemerahan yang menjadi tonjolan di wajah tirusnya, tampak menyala-nyala seperti api. Bibir yang dipoles lipstik merah itu tertarik ke atas membentuk sesungging senyum.

“Hai, sayang..”

Dan dia tahu siapa wanita itu.

“Kau sudah bangun rupanya.” Katanya sambil menekan sebuah tombol, dan sejurus kemudian kaca penutup tabung itu terbuka. Membuat si gadis dapat bernapas lebih leluasa.

“Bagaimana keadaanmu? Merasa lebih baik?”

Gadis itu mengangguk.

Anna tersenyum, mengusap lembut helaian rambut pirang gadis itu. Anna dapat rasakan sesuatu mengalir dari tangannya, kemudian merambat ke seluruh tubuh. Membuat dirinya merasakan ketenangan dan kekuatan sekaligus.

“Aku akan memberimu terapi, karena kau tidur begitu lama.”

Itukah sebabnya aku tidak bisa bergerak?

“Kau ingat namamu?”

Dia mencoba kembali untuk mengingat siapa namanya. Namun semakin dia berusaha, kepalanya terasa ingin terbelah menjadi dua. Hinga hanya sebuah gelengan lemah yang menjadi jawaban atas pertanyaan tersebut.

Anna masih menyunggingkan segurat senyum. Sesuatu yang tak pernah gadis itu ketahui apa artinya. “Sekarang, kau sudah berumur 20 tahun. Kau tidur begitu lama, sayang.”

Selama itukah dirinya tertidur?

“Dengar..” Anna menyamakan posisinya dengan si gadis, bertumpu pada kedua lutut dan masih mengusap lembut surai pirangnya. Menatap tepat, dalam dan tajam kepada si manik biru. “Namamu adalah Casie. Dan aku..” terjadi jeda untuk beberapa saat. Menciptakan keheningan yang menyelinap di antara mereka. Hingga Anna melanjutkan, “Aku adalah ibumu, sayang.”

**

Sehun mempercepat langkahnya ketika mendapati Anna keluar dari sebuah ruangan. Begitupun Anna yang menyadari adanya Sehun di sana.

“Ada apa, Prof. Oh?” tanya Anna tepat setelah Sehun berhenti di depannya.

“Aku butuh bantuan anda untuk membuat serum.”

Anna mengangkat sebelah alisnya. “Serum untuk Lay?”

Sehun mengangguk. Well, bohong jika dirinya tidak merasa malu saat ini. Serum yang sebenarnya telah dikerjakannya bertahun-tahun, sampai sekarang belum juga menunjukkan hasil. Ini memalukan sebenarnya. Dia menjadi tampak bodoh di depan ilmuwan hebat macam Annabeth, sang pendiri fasilitas ini.

“Baiklah, kau tunggu di laboratoriumku. Aku masih ada urusan sebentar.” Lalu Anna berlalu pergi, mengambil arah berlawanan dengan kedatangan Sehun tadi.

Sedangkan di sana, Sehun masih memandang punggung tegap Anna yang semakin lama semakin mengecil dan akhirnya menghilang. Dia sempat berpikir bahwa, Anna adalah sosok wanita yang sulit ditebak jalan pikirannya. Wanita itu seolah memiliki pertahanan yang terlalu kuat untuk diruntuhkan. Dan yang paling membuat Sehun penasaran dari sekian kemisteriusan Anna adalah.. apa yang dia lakukan di balik pintu ini?

Satu-satunya pintu dengan keamanan tertinggi di seluruh fasilitas. Hanya dengan tetesan darah Anna lah pintu tersebut akan terbuka.

Satu-satunya pintu yang tak pernah bisa untuk ia jangkau.

Tangan Sehun terangkat, menyentuh permukaan dingin pintu baja di depannya. Sebenarnya ada apa di dalam?

To Be Continued…

Kemaren ada yang bingung soal siapa tokoh utamanya. Sehun dengan Annabeth? Enggak :v Anna terlalu tua untuk Sehun :v Tokoh utamanya di sini itu Sehun, Casie, Baekhyun, dan Annabeth. Itu 4 tokoh yang bakalan berperan penting dalam cerita ini. Kemaren emang nggak aku tulis si Casie di daftar main cast, karena emang namanya belum muncul. Tapi sekarang udah muncul😀 dan aku nggak pake marga buat oc nya karena suatu alasan. Baik itu Casie maupun Annabeth, mereka sama-sama gak ada marganya ya. Jadi kalo kemaren di prolog ada marganya… anggap aja nggak ada :v tapi tetep buat member exo pake marga.

Big thanks buat admin yang memposting ff ku🙂 dan readers tercinta yang ninggalin jejak, makasih banyaaak xD Love ya❤❤❤

3 responses to “[FREELANCE] Rapunzel and The 12 Forces #1

  1. ohh baekhyun cast utama yaaa
    buikk banyak juga ya cast nya sampe empat gitu
    hmmm disini menurutku anna 11 12 sama psyco deh suka bikin percobaan aneh aneh
    psyco disini maksudnya bukan gila gangguan jiwa yaaa
    tapi terobsesi bikin eksperimen yang diluar nalar makanya si anna ini bikin lab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s