[FREELANCE] Jebal, He’s My Husband—Chapter 1

PicsArt_07-08-11.49.04

Jebal, He’s My Husband—Chapter 1

Author: SwanKim

Cast: Byun Baekhyun, Shin Eunbi (OC)

Genre : Marriage life, Romance

Rating: G

Disclaimer: OC and story is MINE. written by me, made by me, and send by me. ENJOY!

(Jebal, He’s My Husband, Chapter 1)

***

“Oh! Lima belas detik lagi.” Ujar seorang gadis dengan antusias di depan layar persegi canggihnya.

Kedua jemari tangannya mengait didepan dada sambil menyerukan do’a-do’a pada tuhannya.

“Please. Aku harus lolos. kumohon. kumohon.”

Lima..

Empat..

Tiga..

Dua..

Satu..

KLIK!

CONGRATULATIONS, SHIN EUNBI. YOU ARE RECEIVED AT SEOUL UNIVERSITY.

Shin Eunbi, gadis yang semenjak tiga jam lalu menghitung mundur hasil pengumuman tes online nya yang ternyata menyatakan bahwa dirinya diterima di universitas tujuannya di Seoul, mematung seketika, bahkan matanya tak berkedip sejak lima detik lalu.

“A—aku diterima?” Bibir Eunbi serasa membeku. Matanya yang tak berkedip tiba-tiba merasa perih dan tak terasa buliran bening itu mengalir di pipinya. Hatinya berbunga, namun juga rasanya ingin menangis. Menangis bahagia.

Dengan cepat, Eunbi pun melompat dari kasurnya berniat ingin memberitakan kabar bahagia itu pada Ayahnya yang sedang bekerja di sebuah kebun selada.

Dengan matanya yang berbinar, Eunbi sama sekali tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Ia berlari sekencang mungkin kearah kebun selada tempat ayahnya bekerja, tak lupa juga ia sempat melempar sapa pada bibi-bibi yang ia temui di jalan.

Eunbi menghapus airmata bahagianya, tak pernah ia merasakan udara pulau Yeosu bisa semenyenangkan ini.

“Ayah!!!”

Teriakan Eunbi yang begitu familiar bagi para pekerja kebun selada itu tak begitu mengagetkan mereka, justru mereka selalu senang saat si periang Eunbi datang untuk sekedar menyapa ataupun memberikan makan siang pada Ayahnya, tak jarang juga Eunbi membuatkan beberapa cemilan untuk pekerja lain.

“Oh, Eunbi-ya.” Ayah Eunbi menghentikan sejenak kegiatannya mencuci selada yang akan di jual ke kota, menatap putri semata wayangnya yang berlari riang kearahnya.

“Ada apa? Bukannya kau sudah mengirim makan siang untuk ayah.”

Eunbi hanya tersenyum lebar kearah ayahnya yang memberinya pertanyaan. Membuat Ayahnya merasa aneh.

“Ada apa, sayang?”

“Ayah!!”

“Iya, Ada apa Katakan.”

“Ayah!!!!!!”

“Eunbi-ya.” Ayahnya yang tak sabar hanya bisa menghela nafas menghadapi sifat putrinya yang memang tak mudah dipahami.

“Ayahhh!!! Putri mu membawa kabar bahagia.” Eunbi mengucapkan bahkan dengan senyum lebar yang tak luntur di wajahnya, membuat para pekerja lain juga menoleh penasaran pada Eunbi.

“Aku diterima.”

“Diterima apa?”

“Aku diterima di Universitas Seoul, putrimu ini diterima di Universitas Seoul yang terkenal itu ayah!!!” Eunbi mengucapkan bahkan dengan suara yang keras, para bibi dan paman pekerja yang mendengar sontak terkejut dan langsung menyoraki Eunbi dengan ucapan selamat.

Eunbi menggaruk telinganya yang tak gatal, menerima ucapan selamat sungguh sangat canggung baginya karena ini adalah prestasi pertama yang ia capai.

“Terimakasih paman, Terimakasih bibi.” Setelah membungkukkan badannya untuk berterimakasih, Eunbi kembali mengalihkan perhatiannya pada ayahnya. Ia sungguh penasaran bagaimana Ayahnya akan bereaksi tentang kabar ini.

Senyum Eunbi yang sejak tadi tak luntur dari wajahnya, menyusut perlahan saat ia melihat ekspresi wajah ayahnya yang tak diduga justru berlawanan dengan dirinya, Ayahnya tampak—murung, bahkan terlihat tak begitu senang.

“Ayah?” Eunbi mendekat pada ayahnya sambil menyentuh pundak ayahnya.

Ayah Eunbi —Tuan Shin— mendongak kearah putrinya sambil memaksakan senyumnya.

“Selamat, putriku.”

***

Suara dentuman musik terdengar keras di sebuah bar elite di daerah Gangnam, dapat dilihat jelas jika pengunjung bar itu hanya dari kalangan Pengusaha kaya, Putra/Putri Chaebol, atau dari kalangan Selebriti terkenal mengingat harga minuman, snack, kamar bahkan wanita yang disediakan tak bisa dibilang masuk akal.

Namun itu semua tak masalah bagi pemuda ini, pemuda yang justru merasa rugi jika satu hari saja ia tak membuang uang ke bar VVIP itu karena uang yang dihasilkan oleh keluarganya bahkan 100 kali lipat lebih banyak dari uang yang ia buang dalam sehari.

Ya, Putra tunggal Group Empire itu. Byun Baekhyun menenggak vodka nya sambil tertawa melihat beberapa temannya yang sedang menari sambil menggoda tubuh para gadis pekerja bar.

Ia duduk di sofa sambil sesekali ikut menggoyangkan tubuhnya, teman-temannya sempat menawari untuk ikut bergabung di lantai dansa namun Baekhyun menolak karena akan ada seseorang yang marah jika mengetahuinya, Baekhyun ingin menjaga perasaan seseorang itu.

DRRTT.. DRRRT..

Ponsel Baekhyun tiba-tiba bergetar, diraihnya ponsel Iphone keluaran terbaru itu dan munculah nama seseorang yang selalu ingin ia jaga perasaan dan hatinya. Baekhyun tersenyum sebelum menempelkan ponselnya ke telinga.

“Halo, Jui?”

“Kau dimana?”

“Ditempat biasa.”

“Pulanglah, aku ada di apartmentmu.”

“As your wish, princess.”

Setelah mematikan panggilannya, Baekhyun segera berdiri lalu melambaikan tangan kearah teman-temannya.

“Kai, aku pergi dulu.”

Kai membalas lambaian tangan Baekhyun, tak lupa teman-temannya juga melakukan hal yang sama. Dengan senyum yang tetap terukir, Baekhyun melangkah ke tempat parkir. Mengendarai Lamborghini Veneno mewahnya menuju ke Apartment dimana sang gadis pujaannya berada. Ah, Baekhyun sepertinya sudah tak sabar.

***

Airmata yang awalnya adalah airmata bahagia, berubah menjadi airmata kesedihan yang entah bagaimana Eunbi jelaskan. Ia kalut, ia tak mampu lagi berkata-kata setelah mendengar penjelasan ayahnya yang tak bisa ia pahami.

Eunbi dan Ayahnya saat ini berada di balkon rumah kecil mereka, Tuan Shin bilang, ia ingin mengatakan sesuatu pada Eunbi. Dan tak disangka, sesuatu itu cukup membuat Eunbi terkejut.

Jika tau begini, mungkin Eunbi memilih untuk tidak diterima saja di Universitas terbaik se Korea itu.

“Bagaimana, Eunbi?”

Eunbi menghapus airmatanya lalu menatap nanar pada Ayahnya yang tak disangka juga menangis, karena Eunbi melihat ada sisa titik air diujung mata ayahnya.

“Bagaimana apanya, Ayah?” Eunbi berujar dengan tangisnya yang masih sesenggukan.

Ayahnya tak sanggup lagi melihat putri nya yang selalu menjadi gadis periang dan ceria menjadi sesedih ini. Dengan satu gerakan, Tuan Shin menarik Eunbi kedalam pelukannya.

“Maafkan ayah, sungguh maafkan ketidak mampuan ayah. Ayahmu ini sungguh menyedihkan. Gadis sebaik dirimu tak pantas mendapatkan ayah sepertiku. Maafkan ayah, Eunbi.”

Eunbi hanya bisa diam, gadis itu tak ingin mengeluarkan kata apapun, meskipun ia ingin menepis perkataan ayahnya Namun hatinya tak sanggup untuk menangis lagi.

“Ayah..”

Pelukan Eunbi semakin erat, ia tidak ingin berpisah dengan ayahnya. Tidak sampai kapan pun.

“…Aku tidak mau hidup sendirian. Kumohon ayah.”

“Kau tidak akan sendirian Eunbi.”

Eunbi melepas pelukannya, Ayahnya pun menyentuh kedua pundak putrinya.

“Seperti yang ayah katakan, disana akan ada paman yang menjagamu. Dia bersedia menjadi walimu, dia akan membiayai segala kebutuhanmu. Kau tidak akan sendirian, Eunbi.”

Eunbi menggeleng keras.

“Tidak mau. Aku tidak mau karena aku akan dinikahkan dengan putranya. Tidakkah begitu? Ayah ingin menjualku?” Suara Eunbi bergetar, ia ketakutan.

Tuan Shin menghela nafasnya, lalu mengusap rambut Eunbi penuh sayang.

“Maafkan ayah, ini semua demi masa depanmu. Paman itu adalah teman baik ayah, jadi tak ada yang harus kau cemaskan. Ia begitu menyukaimu saat melihat kau tumbuh menjadi gadis yang baik dan cerdas. Jadi, ia memohon pada ayah, saat kau berencana melanjutkan pendidikan di Seoul, disaat itu juga ayah akan memberikanmu untuk putranya.”

Tercengang. itulah yang saat ini Eunbi rasakan. ia tidak percaya ayahnya sudah merencanakan ini jauh-jauh hari tanpa mendiskusikan apapun dengannya. Tangan Eunbi terkepal kuat seraya airmata yang tetap menyeruak keluar.

“Dan juga, Ayah sudah melihat putranya. dia sangat tampan dan sepertinya anak yang baik. Jadi ayah pikir—”

“CUKUP AYAH!” Eunbi memotong kalimat ayahnya, nafasnya memburu. Ia tak sanggup lagi mendengarnya. Awalnya ia mencoba sebijak mungkin menghadapi ini, namun nyatanya ia tidak cukup dewasa untuk kuat.

“Jika ayah tetap ingin memaksa agar aku melakukannya. Baik, aku akan melakukannya. Aku akan melakukan apapun yang ayah inginkan. Apa ayah senang sekarang?”

Setelah mengatakan itu, Eunbi berdiri lalu melenggang masuk kedalam kamarnya. Ayahnya yang melihat putrinya tampak sedih juga merasakan yang hal sama, ia mengutuk dirinya sendiri karena bernasib buruk. Bahkan menjadi seorang ayah Single-parents pun ia tak mampu menjaga putrinya sampai akhir.

“Maafkan ayah, Eunbi.”

***

“Jui-ya?” Baekhyun tersenyum cerah kearah gadis cantik berambut panjang yang tengah duduk diatas sofa ruang tamunya.

Jui yang melihat Baekhyun berjalan kearahnya juga ikut tersenyum, ia pun meletakkan bingkisan yang sejak tadi ia bawa ke meja.

“Maaf membuatmu menunggu.” Ujar Baekhyun sambil mengecup kening Jui lalu duduk disebelahnya.

“Tidak masalah.” Jui tersenyum lembut membuat perasaan Baekhyun semakin dibuat tak karuan, Ya, Baekhyun begitu mencintai gadis didepannya ini. Ibaratnya, Baekhyun bahkan bersedia menukar nyawanya hanya untuk Jui seorang.

“Ngomong-ngomong, tumben sekali ke apartment tanpa memberitahuku terlebih dahulu?” Baekhyun mengusap rambut Jui, lalu menyelipkannya ketelinga, memperlihatkan sisi samping wajah Jui yang menjadi favorite Baekhyun.

“Kau lupa?”

“Hm?”

“Kau lupa hari ini hari apa?”

Baekhyun menaikkan alisnya, sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Berusaha mengingat-ingat.

“Memangnya hari ini hari apa? Selasa?”

Jui yang mendengar hal itu sontak cemberut, ia memutar bola matanya lalu melipat tangannya didepan dada.

“Kau selalu mengatakan jika kau mencintaiku, tapi hari peringatan hubungan kita saja kau lupa.”

Baekhyun yang mendengar itu pun langsung merasa bersalah, bagaimana ia bisa lupa? Memang sih, Baekhyun tak pernah mengingat hal seperti itu karena baginya setiap hari adalah hari yang selalu ia syukuri jika Jui berada disampingnya.

“Jui-ya, Maaf.” Baekhyun pun segera memeluk Jui karena ia tak ingin melakukan hal yang paling ia benci, yaitu membuat Jui kecewa.

Jui mengangguk dalam pelukan Baekhyun.

“Sudahlah tak apa,” Jui melepas pelukan Baekhyun lalu menggapai sebuah bingkisan yang sebelumnya ia letakkan di meja.

“Itu apa?” Tanya Baekhyun penasaran.

“Kue kita. Kau punya korek?”

Baekhyun segera memberikan koreknya pada Jui, Jui pun menyalakan korek itu lalu mengarahkan ke lilin yang berbentuk angka 3 yang menandakan bahwa usia hubungan mereka sudah mencapai 3 tahun.

“Happy Anniversary.” Jui bertepuk tangan yang diikuti oleh Baekhyun. Perasaan bahagia menyelubungi hati Baekhyun, entah apa jadinya jika ia tak memiliki Jui disampingnya. Bahkan dalam waktu dekat ia berencana akan melamar Jui, menjadikan Jui miliknya seorang.

“Baekhyun-a.”

Baekhyun berdehem menanggapi panggilan Jui karena ia masih sibuk memandangi kue mereka yang ternyata ada foto dirinya dan Jui. Mungkin, Baekhyun tak akan tega memakan kue secantik itu.

“Baekhyun-a.” Jui memanggilnya lagi,

“Hm?”

“Ayo kita putus.”

Baekhyun yang tadinya masih fokus, tiba-tiba tak bergerak. Satu kalimat yang Jui katakan entah dengan dasar apa berhasil membuatnya membeku.

Baekhyun mengalihkan pandangannya pada Jui, menatap Jui dengan tawa hambarnya.

“Bercandamu tidak lucu, Jui.”

“Aku tidak sedang bercanda.” Jui mengatakan dengan wajah serius nya, melenyapkan tawa Baekhyun.

Baekhyun membuka mulutnya, siap mengeluarkan pertanyaannya, namun tiba-tiba saja ia merasa tenggorokannya tercekat. Hatinya mencelos. ia tak mampu berkata-kata.

“Maaf, Baekhyun. Anggap saja semua ini adalah hadiah terakhir dariku. Aku bersungguh-sungguh ingin putus darimu.”

Setelah mengatakan itu, Jui berniat untuk pergi. ia berjalan kearah pintu, Namun belum selangkah, Jui merasakan ada sebuah lengan melingkar dipinggangnya. Bahkan Jui juga tau jika pundaknya basah. Baekhyun menangis.

“Sudah kukatakan, bercandamu tidak lucu.” Nafas hangat Baekhyun membentur kulit pundak Jui. Jui memejamkan matanya, gadis itu tak menangis. Bahkan ia sama sekali tak terlihat sedih.

Jui menghembuskan nafasnya, menarik tubuhnya keluar dari pelukan Baekhyun. Matanya menatap tajam ke dalam mata Baekhyun yang berair.

“Aku juga sudah mengatakan jika aku tidak sedang bercanda, aku serius ingin putus.”

Baekhyun geram, Tidak!

Hanya dalam mimpimu kau bisa putus denganku, Jui. racau Baekhyun.

“Kenapa?? Apa yang salah? KATAKAN!”

“Tidak ada yang salah.” Jawab Jui santai, Baekhyun mengatupkan giginya.

“Tidak ada yang salah tapi kenapa kau ingin putus?”

“Benar, memang tidak ada yang salah. Tapi aku memiliki alasan.”

“Alasan? Baiklah, biar aku dengar apa alasanmu itu?” Baekhyun memberikan tatapan sakitnya pada Jui yang justru tak memandang iba. Gadis itu mengubah ekspresinya menjadi sedingin mungkin.

“Aku akan dijodohkan.”

“Apa?”

Hati Baekhyun lagi-lagi menjadi objek permainan, alasan bodoh macam apa itu?

“Kau bercanda.”

“Berhenti mengatakan jika aku bercanda. Ada apa denganmu?”

“Seharusnya aku yang bertanya, Ada apa denganmu Jui? Kau mengorbankan 3 tahun hubungan kita hanya untuk perjodohan konyol itu? Tidak kah bisa kau berfikir waras?”

Jui mengepalkan tangannya, kata-kata Baekhyun seakan jarum yang menamcap dihatinya. Wajah Jui tak lagi tenang, gadis itu menunjukkan kegeramannya.

“Ya, aku berfikir sangat waras. Sangking warasnya, aku rasa aku akan menyesal jika menolak perjodohan ini.”

Seketika Baekhyun merasa jika ia berhenti bernafas. Jui, tidak taukah gadis itu jika ia telah menjadi pusat kehidupan Baekhyun?

“Jui-ya..”

“Aku sudah muak menjalani hubungan ini, kau begitu kekanak-kanakan. Benar kau adalah seorang pewaris tunggal dikeluargamu, tapi melihatmu yang seperti tidak punya tujuan hidup dan hanya bersenang-senang menghamburkan uang ayahmu. Membuatku tidak tahan. Aku lebih memilih menjalani hubungan dengan seseorang yang lebih dewasa darimu. Kau kenal Luhan kan? Ya, dia akan menjadi pasanganku kelak. Aku akan dijodohkan dengannya.”

Kali ini, Baekhyun sungguh tak mampu berkata apa-apa lagi. Ia bahkan tak menyadari setelah menjelaskan alasannya secara detail, Jui segera menghilang dari hadapan Baekhyun.

“Apa katanya?”

Kedua kaki Baekhyun tak mampu lagi berdiri, ia terduduk di lantai. Baekhyun bahkan merasa jika hidupnya hancur detik itu juga.

DRRTTT.. DRRTTT..

Baekhyun menoleh ke arah ponselnya, ia meraih benda persegi kecil itu. Setelah tau siapa yang menelfon, Baekhyun menerima panggilan telfonnya.

“Ada apa?”

“Besok datanglah ke rumah,”

“Kenapa?”

“Datang saja, nanti juga kau akan tau.”

PIP.

Panggilan terputus.

Baekhyun menghela nafasnya, Ayahnya memang selalu seperti itu. Semena-mena. Namun, satu hal yang selalu Baekhyun tolak walaupun ayahnya memaksa yaitu, Bekerja di kantor. Walaupun kelak Baekhyun akan menjadi pewaris, Baekhyun sama sekali tidak pernah mempelajari hal tentang perusahaannya. Ia benci pekerjaan mengekang. Yang dilakukannya setiap hari hanya masuk kuliah seenaknya lalu setelah itu ke Bar untuk membuang uangnya. Ya, begitulah siklus kehidupan Baekhyun. Karena, tanpa bekerja pun ayahnya tetap akan mengirim uang sebanyak yang Baekhyun minta.

Saat Baekhyun sibuk dengan pikirannya, ia tiba-tiba teringat tentang perkataan Jui tentang siapa pasangan perjodohannya.

“Luhan?”

Tanpa menunggu lama, Baekhyun mengetikkan sesuatu di ponselnya dan muncul wajah dan biografi Luhan yang menyebar di situs internet.

Disitu dijelaskan jika Luhan adalah Anak Tunggal pemilik Royal Groups Cina dan Korea yang terkenal. Baekhyun pernah mendengar tentang Royal Groups karena ayahnya pernah mengatakan jika perusahaan itu adalah satu-satunya saingan terkuat bagi perusahaan Baekhyun.

Memang mudah mencari tau data pribadi keluarga Chaebol di Korea, bahkan data pribadi Baekhyun juga tersebar di Internet dan wajahnya dapat mudah dikenali oleh masyarakat luas.

“Apa ini?” Baekhyun membulatkan matanya kala ia membaca satu fakta yang cukup membuatnya tercengang.

“Dia satu universitas denganku?”

***

Eunbi berdiri di depan pintu rumahnya beserta dua tas penuh yang berada di sisi kiri dan kanannya. Ayahnya juga ada disana. Mereka berdua larut dalam perpisahan yang pada akhirnya tiba. Eunbi ingin menangis namun ia tahan sekuat mungkin, karena ia sadar jika disini ayahnya lah yang paling merasa sedih.

“Maafkan ayah.”

“Tidak, ayah. berhenti menyalahkan dirimu. Akulah yang terlalu ambisius dengan apa yang ingin aku capai, maafkan aku ayah.”

Tuan Shin menggeleng lalu mengusap lembut rambut putri nya.

“Memang beginilah seharusnya putri ayah, gadis periang yang kuat dan memiliki cita-cita tinggi. Ayah bangga padamu.”

Tidak. Eunbi tak bisa menahannya lagi, Eunbi menangis sambil berhambur ke pelukan ayahnya. Sejak usia 5 tahun, Ayahnya lah yang merawat Eunbi seorang diri karena ibunya meninggal karena penyakit tumor akut. Eunbi menyanyangi ayahnya melebihi apapun di dunia ini, itulah alasan mengapa Eunbi tak bisa marah atau kesal pada Ayahnya. Eunbi selalu menjadi anak yang penurut. Dan saat ini, Eunbi harus meninggalkan Ayahnya sendirian. Bisakah?

“Ayah, apa kita akan baik-baik saja?”

“Ya, kita akan baik-baik saja sayang. Ayah akan baik-baik saja jika kau bahagia meraih apa yang kau cita-citakan.”

“Sehatlah selalu Ayah, jangan lupa makan siang.” Eunbi menghapus airmatanya, ia menatap ayahnya lekat.

“Ayah sudah menghubungi Tuan Byun. Dia terdengar bahagia sekali. Kau pasti akan diterima baik dikeluarganya. Mereka benar-benar keluarga kaya, jadi ayah harap kau bahagia bersama mereka.”

Eunbi menunduk, hatinya sedih sangat sedih. Kenapa sesulit ini untuknya? Eunbi hanya ingin Kuliah, haruskah ia mengorbankan segalanya hanya agar ia bisa melanjutkan pendidikannya.

“Jangan pikirkan apapun, berangkatlah. Kau akan ketinggalan kapal.” Tuan Shin mendorong Eunbi agar segera pergi, Eunbi menangis sambil membawa barang-barangnya. Tanpa mengucapkan apapun, Eunbi berjalan menjauh menuju pelabuhan pulau Yeosu.

Apapun yang ayah lakukan, aku tau itu semua hanya untuk kebaikanku. Ayah sudah melakukan yang terbaik yang ayah bisa. Terimakasih Ayah, putrimu tidak akan mengecewakanmu. Tetaplah sehat hingga aku kembali nanti.

***

Eunbi memutuskan untuk tidur di Kapal, perjalanan panjang akan dimulai jadi ia harus menyiapkan tenaga ekstra. Memikirkan jika ia akan pergi ke Seoul benar-benar membuatnya berdebar. Sebelumnya, ia sama sekali belum pernah bepergian jauh. Ia tak pernah meninggalkan pulau Yeosu selama 19 tahun hidupnya. Dan sekarang, ia bahkan akan pergi ke Seoul seorang diri. Satu-satunya jalan agar ia bisa tenang hanyalah berdo’a.

Tak terasa, perjalanan laut itupun terhenti di sebuah pelabuhan. Seseorang membangunkan Eunbi, Eunbi tersenyum lalu berterimakasih. Dengan cepat, gadis itu membawa barang-barangnya turun dari kapal.

“Woah, inikah Seoul?” Eunbi menatap takjub pada gedung-gedung tinggi yang bisa ia lihat dari pelabuhan, di Yeosu tak ada gedung setinggi itu kecuali sebuah rumah yang terletak di ujung atas bukit.

Eunbi mengeratkan pegangannya pada kedua tas yang ia bawa, berjalan keluar pelabuhan. Saat ini hanya satu tujuannya, yaitu mencari telfon umum. Ia harus menghubungi Tuan Byun dan mengabari jika ia telah tiba di Seoul.

“Oh itu dia!” Eunbi berlari kecil kearah telfon umum, memasukkan satu koin lalu menekan angka-angka yang ada di secarik kertas yang ayahnya berikan.

Panggilannya menyambung, dan tak lama ada sebuah suara menyapa telinganya.

“Halo?”

“Ha—Hallo, apa benar ini Tuan Byun?”

“Ya benar. Ini siapa?”

“Saya Shin Eunbi.”

“Shin Eunbi? Oh! Eunbi-ya, itukah kau?”

“Ya, Tuan. Saya Eunbi. saya sudah tiba di Seoul tapi saya tidak tau harus kemana dan naik apa agar bisa bertemu dengan tuan.”

“Ah, Iya. Baiklah, kau duduklah dulu. akan kusuruh orangku menjemputmu. Kau ada di pelabuhan Seoul kan sekarang?”

“Ya, Tuan.”

“Tunggulah sebentar.”

Setelah mengatakan salam, Eunbi menutup telfonnya. Gadis itu mencari tempat duduk seperti yang Tuan Byun katakan. Entah mengapa hatinya merasa hangat karena ternyata Tuan Byun begitu ramah saat Eunbi menelfonnya tadi, Eunbi harap segalanya berjalan lancar.

Tak selang beberapa lama, seseorang menepuk pundak Eunbi. Eunbi menoleh dan memandang seseorang itu dengan tatapan bingung, terlebih karena pakaiannya yang serba hitam. Kemeja hitam, Jas hitam.

“Anda siapa?” Tanya Eunbi pada pria asing itu.

Tanpa menjawab, pria itu hanya mengangkat sebuah foto lalu menyandingkannya disebelah wajah Eunbi. Mata Eunbi membulat seketika.

Ada apa dengan orang ini? Batin Eunbi.

“Nona Shin, silahkan ikuti saya. Saya akan mengantar anda pada Tuan Byun.” Jelas pria itu sambil dengan gerakan tangannya mempersilahkan Eunbi.

Eunbi mengangguk paham, jadi ini adalah orang Tuan Byun.

Eunbi berjalan mengikuti pria itu, bahkan barang bawaan Eunbi dibawakan oleh pria lain yang juga berkostum sama.

“Apa Tuan Byun memiliki banyak orang pesuruh?” gumam Eunbi pada dirinya sendiri.

Kali ini, Eunbi lagi-lagi harus membulatkan matanya lebar. Karena didepannya telah dibukakan pintu sebuah limosine hitam mewah untuknya.

“Silahkan masuk, Nona.” Bahkan ada seseorang yang mempersilahkan ia masuk bak seorang putri kerjaan.

“Ah, tidak perlu seperti itu.” Eunbi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kebiasaannya jika ia merasa canggung. Dengan langkah kecil, Eunbi pun memasuki limosine itu.

“Wahhh.” Mulutnya lah yang kali ini melebar saat melihat interior Limosine itu yang sangat mewah.

“TV, DVD, Video game, Peracik kopi, bahkan meja rias. Ayah seharusnya melihat ini juga. Mobil ini begitu menajubkan.”

Setelah tak henti-hentinya mengagumi isi limosine itu, Eunbi pun tertidur karena sangking nyamannya. Namun tak lama, seseorang membangunkan Eunbi yang tak lain adalah pria berjas hitam tadi.

“Nona, kita sudah tiba.”

“Ah iya,”

“Silahkan, Nona.” Pria berjas itu mempersilahkan Eunbi keluar dari limosine. Eunbi membungkukkan badannya berterimakasih, dan pemandangan pertama yang Eunbi lihat adalah pekarangan luas dengan taman dan air mancur di sisi kanan dan kiri rumah itu. Wow, tidak bisakah Keluarga Tuan Byun berhenti membuat gadis desa itu berdecak kagum? Eunbi bahkan tak pernah membayangkan ternyata level kaya keluarga Byun setinggi ini.

Pria berjas hitam itu menuntun langkah Eunbi memasuki pintu utama rumah mewah tersebut, pintu pun terbuka lebar dan Eunbi harus menjaga keterkejutannya karena ada sepuluh pelayan wanita muda menyambutnya.

“Selamat datang.” Ujar para pelayan itu serentak sambil membungkukkan badan. Eunbi yang tercengang pun ikut membungkukkan badannya.

Sambil berjalan canggung mengikuti pria berjas hitam itu, Eunbi memperhatikan isi rumah itu yang tak kalah mengagumkan. Semua serba mewah. Bahkan Eunbi tak pernah melihat barang-barang mewah itu sepanjang hidupnya.

Sambil tetap berjalan, mata Eunbi menangkap sesuatu. Matanya tertuju pada satu bingkai foto besar yang menempel di lorong utama. Foto lelaki muda berambut hitam dengan senyum simpulnya. Wajahnya tampak segar dan —Tampan?

“Apakah dia yang dimaksud ayah? apa aku akan menikah dengannya?” Eunbi bergumam dengan dirinya sendiri tanpa sadar jika pria berjas hitam itu telah membukakan pintu untuknya.

“Silahkan masuk Nona Shin,” Ujarnya pada Eunbi agar memasuki sebuah ruangan.

Eunbi berterimakasih sambil melangkah masuk, ruangan beraroma kayu cendana menyeruak di indra penciumannnya.

Ruang kerja rupanya, Batin Eunbi saat melihat begitu banyak buku dan dokumen disana.

Eunbi pun duduk disebuah sofa yang tersedia, saat ini ia sedang sendiri. Mungkin Tuan Byun belum datang dan akan segera datang.

Persis yang seperti Eunbi duga, pintu ruangan itu pun terbuka. Eunbi dengan segera berdiri dari duduknya. Tanpa melihat siapa yang datang, Eunbi menundukkan kepalanya.

Annyeonghaseo. Tuan Byun, Saya Shin Eunbi dari pulau Yeosu.” Ujar Eunbi lantang sambil tetap menundukkan kepalanya.

***

Esok hari pun tiba, Baekhyun melangkah memasuki perkarangan rumah mewahnya. Hari ini ia bolos kuliah karena ia belum siap  bertemu Jui dengan status baru diantara mereka, Jadi Baekhyun memutuskan untuk menghindar saja sementara.

“Apa ayah dirumah?” Tanya Baekhyun pada satu diantara sepuluh pelayan yang menyambutnya di pintu.

Pelayan itu tersenyum sebelum menjawab, “Iya Tuan muda, Tuan besar sudah menunggu di ruang kerja.”

Baekhyun mengangguk lalu berjalan menuju ruang kerja ayahnya, meninggalkan para pelayan wanita muda yang selalu memberikan senyum penuh arti padanya. Ya ya ya, Baekhyun memang selalu dikagumi, bahkan oleh pelayan nya sendiri.

Langkah Baekhyun terhenti ketika ia tiba didepan ruang kerja ayahnya, Tanpa menunggu dibukalah pintu itu.

Annyeonghaseo. Tuan Byun, Saya Shin Eunbi dari pulau Yeosu.”

Baekhyun dengan jantungnya yang terkejut karena sebuah suara keras terdengar seketika saat ia membuka pintu.

Ia melebarkan matanya, menatap kearah Gadis asing yang sedang menundukkan kepalanya.

“Siapa kau?” Cerca Baekhyun sambil melangkah mendekat.

Gadis itu mengangkat kepalanya, seperti nya ia juga terkejut karena Baekhyun bisa melihat ekspresi wajahnya yang terlihat bingung.

“Kau siapa?” Tanya Baekhyun kembali saat ia sudah tiba tepat didepan gadis itu.

“Sa—saya, saya Shin Eunbi.” Gadis itu— Eunbi dengan matanya yang hampir tak berkedip menatap seorang lelaki yang sama dengan seseorang yang sebelumnya ia lihat didalam figura foto besar di lorong utama tadi—Baekhyun. Jantungnya bahkan berdebar kencang saat wajah Baekhyun mendekat kearahnya, meneliti wajah Eunbi.

“Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya, kau pelayan baru? atau— selingkuhan baru ayah?” Baekhyun dengan lugas bertanya tanpa takut menyinggung perasaan Eunbi. Eunbi hanya diam menggigit bibir bawahnya mendengar pertanyaan itu.

“Jawab! Yang mana kau? Pelayan atau selingkuhan baru ayahku?” Desak Baekhyun dengan tatapannya yang meremehkan.

Haruskah ia menjawab?

Haruskan Eunbi menjawab jika ia adalah Calon istri Baekhyun?

“A—aku, Aku—” saat Eunbi akan memberikan jawabannya, pintu ruangan itu kembali terbuka.

Suara hangat menyapa dari ujung pintu, Tuan Byun masuk dengan matanya yang kaget melihat Baekhyun dan Eunbi yang sudah bertemu. Bahkan Baekhyun mendekatkan wajahnya pada Eunbi, membuat Tuan Byun tertawa senang.

“Wow, aku tidak pernah menduga jika putraku dan calon menantuku sudah cukup dekat rupanya.” Ujar Tuan Byun santai, namun cukup membuat satu orang disana yang tak tahu apa-apa terkejut setengah mati. Ya, satu orang itu adalah Baekhyun.

Baekhyun menjauhkan wajahnya dari Eunbi lalu menatap ayahnya penuh tanya, satu-satunya anak dikeluarga ini hanyalah dirinya. Jadi jika ayahnya menyebut tentang calon menantu, itu sama artinya dengan calon istrinya.

Baekhyun tertawa geram,

“Calon menantu? Ada apa ini sebenarnya?”

—To Be Continued

HALLO!

Jangan lupa tinggal kan komen yaaa, supaya semangat ngelanjutin FF ini untuk kalian. Jika ada pertanyaan, bisa tinggalkan dikomentar atau meluncur langsung ke instagram aku. wkwkw.

Instagram: chussa_

GOMAWOOO!❤

Author: SwanKim

Cast: Byun Baekhyun, Shin Eunbi (OC)

Genre : Marriage life, Romance

Rating: G

Disclaimer: OC and story is MINE. written by me, made by me, and send by me. ENJOY!

(Jebal, He’s My Husband, Chapter 1)

***

“Oh! Lima belas detik lagi.” Ujar seorang gadis dengan antusias di depan layar persegi canggihnya.

Kedua jemari tangannya mengait didepan dada sambil menyerukan do’a-do’a pada tuhannya.

“Please. Aku harus lolos. kumohon. kumohon.”

Lima..

Empat..

Tiga..

Dua..

Satu..

KLIK!

CONGRATULATIONS, SHIN EUNBI. YOU ARE RECEIVED AT SEOUL UNIVERSITY.

Shin Eunbi, gadis yang semenjak tiga jam lalu menghitung mundur hasil pengumuman tes online nya yang ternyata menyatakan bahwa dirinya diterima di universitas tujuannya di Seoul, mematung seketika, bahkan matanya tak berkedip sejak lima detik lalu.

“A—aku diterima?” Bibir Eunbi serasa membeku. Matanya yang tak berkedip tiba-tiba merasa perih dan tak terasa buliran bening itu mengalir di pipinya. Hatinya berbunga, namun juga rasanya ingin menangis. Menangis bahagia.

Dengan cepat, Eunbi pun melompat dari kasurnya berniat ingin memberitakan kabar bahagia itu pada Ayahnya yang sedang bekerja di sebuah kebun selada.

Dengan matanya yang berbinar, Eunbi sama sekali tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Ia berlari sekencang mungkin kearah kebun selada tempat ayahnya bekerja, tak lupa juga ia sempat melempar sapa pada bibi-bibi yang ia temui di jalan.

Eunbi menghapus airmata bahagianya, tak pernah ia merasakan udara pulau Yeosu bisa semenyenangkan ini.

“Ayah!!!”

Teriakan Eunbi yang begitu familiar bagi para pekerja kebun selada itu tak begitu mengagetkan mereka, justru mereka selalu senang saat si periang Eunbi datang untuk sekedar menyapa ataupun memberikan makan siang pada Ayahnya, tak jarang juga Eunbi membuatkan beberapa cemilan untuk pekerja lain.

“Oh, Eunbi-ya.” Ayah Eunbi menghentikan sejenak kegiatannya mencuci selada yang akan di jual ke kota, menatap putri semata wayangnya yang berlari riang kearahnya.

“Ada apa? Bukannya kau sudah mengirim makan siang untuk ayah.”

Eunbi hanya tersenyum lebar kearah ayahnya yang memberinya pertanyaan. Membuat Ayahnya merasa aneh.

“Ada apa, sayang?”

“Ayah!!”

“Iya, Ada apa Katakan.”

“Ayah!!!!!!”

“Eunbi-ya.” Ayahnya yang tak sabar hanya bisa menghela nafas menghadapi sifat putrinya yang memang tak mudah dipahami.

“Ayahhh!!! Putri mu membawa kabar bahagia.” Eunbi mengucapkan bahkan dengan senyum lebar yang tak luntur di wajahnya, membuat para pekerja lain juga menoleh penasaran pada Eunbi.

“Aku diterima.”

“Diterima apa?”

“Aku diterima di Universitas Seoul, putrimu ini diterima di Universitas Seoul yang terkenal itu ayah!!!” Eunbi mengucapkan bahkan dengan suara yang keras, para bibi dan paman pekerja yang mendengar sontak terkejut dan langsung menyoraki Eunbi dengan ucapan selamat.

Eunbi menggaruk telinganya yang tak gatal, menerima ucapan selamat sungguh sangat canggung baginya karena ini adalah prestasi pertama yang ia capai.

“Terimakasih paman, Terimakasih bibi.” Setelah membungkukkan badannya untuk berterimakasih, Eunbi kembali mengalihkan perhatiannya pada ayahnya. Ia sungguh penasaran bagaimana Ayahnya akan bereaksi tentang kabar ini.

Senyum Eunbi yang sejak tadi tak luntur dari wajahnya, menyusut perlahan saat ia melihat ekspresi wajah ayahnya yang tak diduga justru berlawanan dengan dirinya, Ayahnya tampak—murung, bahkan terlihat tak begitu senang.

“Ayah?” Eunbi mendekat pada ayahnya sambil menyentuh pundak ayahnya.

Ayah Eunbi —Tuan Shin— mendongak kearah putrinya sambil memaksakan senyumnya.

“Selamat, putriku.”

***

Suara dentuman musik terdengar keras di sebuah bar elite di daerah Gangnam, dapat dilihat jelas jika pengunjung bar itu hanya dari kalangan Pengusaha kaya, Putra/Putri Chaebol, atau dari kalangan Selebriti terkenal mengingat harga minuman, snack, kamar bahkan wanita yang disediakan tak bisa dibilang masuk akal.

Namun itu semua tak masalah bagi pemuda ini, pemuda yang justru merasa rugi jika satu hari saja ia tak membuang uang ke bar VVIP itu karena uang yang dihasilkan oleh keluarganya bahkan 100 kali lipat lebih banyak dari uang yang ia buang dalam sehari.

Ya, Putra tunggal Group Empire itu. Byun Baekhyun menenggak vodka nya sambil tertawa melihat beberapa temannya yang sedang menari sambil menggoda tubuh para gadis pekerja bar.

Ia duduk di sofa sambil sesekali ikut menggoyangkan tubuhnya, teman-temannya sempat menawari untuk ikut bergabung di lantai dansa namun Baekhyun menolak karena akan ada seseorang yang marah jika mengetahuinya, Baekhyun ingin menjaga perasaan seseorang itu.

DRRTT.. DRRRT..

Ponsel Baekhyun tiba-tiba bergetar, diraihnya ponsel Iphone keluaran terbaru itu dan munculah nama seseorang yang selalu ingin ia jaga perasaan dan hatinya. Baekhyun tersenyum sebelum menempelkan ponselnya ke telinga.

“Halo, Jui?”

“Kau dimana?”

“Ditempat biasa.”

“Pulanglah, aku ada di apartmentmu.”

“As your wish, princess.”

Setelah mematikan panggilannya, Baekhyun segera berdiri lalu melambaikan tangan kearah teman-temannya.

“Kai, aku pergi dulu.”

Kai membalas lambaian tangan Baekhyun, tak lupa teman-temannya juga melakukan hal yang sama. Dengan senyum yang tetap terukir, Baekhyun melangkah ke tempat parkir. Mengendarai Lamborghini Veneno mewahnya menuju ke Apartment dimana sang gadis pujaannya berada. Ah, Baekhyun sepertinya sudah tak sabar.

***

Airmata yang awalnya adalah airmata bahagia, berubah menjadi airmata kesedihan yang entah bagaimana Eunbi jelaskan. Ia kalut, ia tak mampu lagi berkata-kata setelah mendengar penjelasan ayahnya yang tak bisa ia pahami.

Eunbi dan Ayahnya saat ini berada di balkon rumah kecil mereka, Tuan Shin bilang, ia ingin mengatakan sesuatu pada Eunbi. Dan tak disangka, sesuatu itu cukup membuat Eunbi terkejut.

Jika tau begini, mungkin Eunbi memilih untuk tidak diterima saja di Universitas terbaik se Korea itu.

“Bagaimana, Eunbi?”

Eunbi menghapus airmatanya lalu menatap nanar pada Ayahnya yang tak disangka juga menangis, karena Eunbi melihat ada sisa titik air diujung mata ayahnya.

“Bagaimana apanya, Ayah?” Eunbi berujar dengan tangisnya yang masih sesenggukan.

Ayahnya tak sanggup lagi melihat putri nya yang selalu menjadi gadis periang dan ceria menjadi sesedih ini. Dengan satu gerakan, Tuan Shin menarik Eunbi kedalam pelukannya.

“Maafkan ayah, sungguh maafkan ketidak mampuan ayah. Ayahmu ini sungguh menyedihkan. Gadis sebaik dirimu tak pantas mendapatkan ayah sepertiku. Maafkan ayah, Eunbi.”

Eunbi hanya bisa diam, gadis itu tak ingin mengeluarkan kata apapun, meskipun ia ingin menepis perkataan ayahnya Namun hatinya tak sanggup untuk menangis lagi.

“Ayah..”

Pelukan Eunbi semakin erat, ia tidak ingin berpisah dengan ayahnya. Tidak sampai kapan pun.

“…Aku tidak mau hidup sendirian. Kumohon ayah.”

“Kau tidak akan sendirian Eunbi.”

Eunbi melepas pelukannya, Ayahnya pun menyentuh kedua pundak putrinya.

“Seperti yang ayah katakan, disana akan ada paman yang menjagamu. Dia bersedia menjadi walimu, dia akan membiayai segala kebutuhanmu. Kau tidak akan sendirian, Eunbi.”

Eunbi menggeleng keras.

“Tidak mau. Aku tidak mau karena aku akan dinikahkan dengan putranya. Tidakkah begitu? Ayah ingin menjualku?” Suara Eunbi bergetar, ia ketakutan.

Tuan Shin menghela nafasnya, lalu mengusap rambut Eunbi penuh sayang.

“Maafkan ayah, ini semua demi masa depanmu. Paman itu adalah teman baik ayah, jadi tak ada yang harus kau cemaskan. Ia begitu menyukaimu saat melihat kau tumbuh menjadi gadis yang baik dan cerdas. Jadi, ia memohon pada ayah, saat kau berencana melanjutkan pendidikan di Seoul, disaat itu juga ayah akan memberikanmu untuk putranya.”

Tercengang. itulah yang saat ini Eunbi rasakan. ia tidak percaya ayahnya sudah merencanakan ini jauh-jauh hari tanpa mendiskusikan apapun dengannya. Tangan Eunbi terkepal kuat seraya airmata yang tetap menyeruak keluar.

“Dan juga, Ayah sudah melihat putranya. dia sangat tampan dan sepertinya anak yang baik. Jadi ayah pikir—”

“CUKUP AYAH!” Eunbi memotong kalimat ayahnya, nafasnya memburu. Ia tak sanggup lagi mendengarnya. Awalnya ia mencoba sebijak mungkin menghadapi ini, namun nyatanya ia tidak cukup dewasa untuk kuat.

“Jika ayah tetap ingin memaksa agar aku melakukannya. Baik, aku akan melakukannya. Aku akan melakukan apapun yang ayah inginkan. Apa ayah senang sekarang?”

Setelah mengatakan itu, Eunbi berdiri lalu melenggang masuk kedalam kamarnya. Ayahnya yang melihat putrinya tampak sedih juga merasakan yang hal sama, ia mengutuk dirinya sendiri karena bernasib buruk. Bahkan menjadi seorang ayah Single-parents pun ia tak mampu menjaga putrinya sampai akhir.

“Maafkan ayah, Eunbi.”

***

“Jui-ya?” Baekhyun tersenyum cerah kearah gadis cantik berambut panjang yang tengah duduk diatas sofa ruang tamunya.

Jui yang melihat Baekhyun berjalan kearahnya juga ikut tersenyum, ia pun meletakkan bingkisan yang sejak tadi ia bawa ke meja.

“Maaf membuatmu menunggu.” Ujar Baekhyun sambil mengecup kening Jui lalu duduk disebelahnya.

“Tidak masalah.” Jui tersenyum lembut membuat perasaan Baekhyun semakin dibuat tak karuan, Ya, Baekhyun begitu mencintai gadis didepannya ini. Ibaratnya, Baekhyun bahkan bersedia menukar nyawanya hanya untuk Jui seorang.

“Ngomong-ngomong, tumben sekali ke apartment tanpa memberitahuku terlebih dahulu?” Baekhyun mengusap rambut Jui, lalu menyelipkannya ketelinga, memperlihatkan sisi samping wajah Jui yang menjadi favorite Baekhyun.

“Kau lupa?”

“Hm?”

“Kau lupa hari ini hari apa?”

Baekhyun menaikkan alisnya, sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Berusaha mengingat-ingat.

“Memangnya hari ini hari apa? Selasa?”

Jui yang mendengar hal itu sontak cemberut, ia memutar bola matanya lalu melipat tangannya didepan dada.

“Kau selalu mengatakan jika kau mencintaiku, tapi hari peringatan hubungan kita saja kau lupa.”

Baekhyun yang mendengar itu pun langsung merasa bersalah, bagaimana ia bisa lupa? Memang sih, Baekhyun tak pernah mengingat hal seperti itu karena baginya setiap hari adalah hari yang selalu ia syukuri jika Jui berada disampingnya.

“Jui-ya, Maaf.” Baekhyun pun segera memeluk Jui karena ia tak ingin melakukan hal yang paling ia benci, yaitu membuat Jui kecewa.

Jui mengangguk dalam pelukan Baekhyun.

“Sudahlah tak apa,” Jui melepas pelukan Baekhyun lalu menggapai sebuah bingkisan yang sebelumnya ia letakkan di meja.

“Itu apa?” Tanya Baekhyun penasaran.

“Kue kita. Kau punya korek?”

Baekhyun segera memberikan koreknya pada Jui, Jui pun menyalakan korek itu lalu mengarahkan ke lilin yang berbentuk angka 3 yang menandakan bahwa usia hubungan mereka sudah mencapai 3 tahun.

“Happy Anniversary.” Jui bertepuk tangan yang diikuti oleh Baekhyun. Perasaan bahagia menyelubungi hati Baekhyun, entah apa jadinya jika ia tak memiliki Jui disampingnya. Bahkan dalam waktu dekat ia berencana akan melamar Jui, menjadikan Jui miliknya seorang.

“Baekhyun-a.”

Baekhyun berdehem menanggapi panggilan Jui karena ia masih sibuk memandangi kue mereka yang ternyata ada foto dirinya dan Jui. Mungkin, Baekhyun tak akan tega memakan kue secantik itu.

“Baekhyun-a.” Jui memanggilnya lagi,

“Hm?”

“Ayo kita putus.”

Baekhyun yang tadinya masih fokus, tiba-tiba tak bergerak. Satu kalimat yang Jui katakan entah dengan dasar apa berhasil membuatnya membeku.

Baekhyun mengalihkan pandangannya pada Jui, menatap Jui dengan tawa hambarnya.

“Bercandamu tidak lucu, Jui.”

“Aku tidak sedang bercanda.” Jui mengatakan dengan wajah serius nya, melenyapkan tawa Baekhyun.

Baekhyun membuka mulutnya, siap mengeluarkan pertanyaannya, namun tiba-tiba saja ia merasa tenggorokannya tercekat. Hatinya mencelos. ia tak mampu berkata-kata.

“Maaf, Baekhyun. Anggap saja semua ini adalah hadiah terakhir dariku. Aku bersungguh-sungguh ingin putus darimu.”

Setelah mengatakan itu, Jui berniat untuk pergi. ia berjalan kearah pintu, Namun belum selangkah, Jui merasakan ada sebuah lengan melingkar dipinggangnya. Bahkan Jui juga tau jika pundaknya basah. Baekhyun menangis.

“Sudah kukatakan, bercandamu tidak lucu.” Nafas hangat Baekhyun membentur kulit pundak Jui. Jui memejamkan matanya, gadis itu tak menangis. Bahkan ia sama sekali tak terlihat sedih.

Jui menghembuskan nafasnya, menarik tubuhnya keluar dari pelukan Baekhyun. Matanya menatap tajam ke dalam mata Baekhyun yang berair.

“Aku juga sudah mengatakan jika aku tidak sedang bercanda, aku serius ingin putus.”

Baekhyun geram, Tidak!

Hanya dalam mimpimu kau bisa putus denganku, Jui. racau Baekhyun.

“Kenapa?? Apa yang salah? KATAKAN!”

“Tidak ada yang salah.” Jawab Jui santai, Baekhyun mengatupkan giginya.

“Tidak ada yang salah tapi kenapa kau ingin putus?”

“Benar, memang tidak ada yang salah. Tapi aku memiliki alasan.”

“Alasan? Baiklah, biar aku dengar apa alasanmu itu?” Baekhyun memberikan tatapan sakitnya pada Jui yang justru tak memandang iba. Gadis itu mengubah ekspresinya menjadi sedingin mungkin.

“Aku akan dijodohkan.”

“Apa?”

Hati Baekhyun lagi-lagi menjadi objek permainan, alasan bodoh macam apa itu?

“Kau bercanda.”

“Berhenti mengatakan jika aku bercanda. Ada apa denganmu?”

“Seharusnya aku yang bertanya, Ada apa denganmu Jui? Kau mengorbankan 3 tahun hubungan kita hanya untuk perjodohan konyol itu? Tidak kah bisa kau berfikir waras?”

Jui mengepalkan tangannya, kata-kata Baekhyun seakan jarum yang menamcap dihatinya. Wajah Jui tak lagi tenang, gadis itu menunjukkan kegeramannya.

“Ya, aku berfikir sangat waras. Sangking warasnya, aku rasa aku akan menyesal jika menolak perjodohan ini.”

Seketika Baekhyun merasa jika ia berhenti bernafas. Jui, tidak taukah gadis itu jika ia telah menjadi pusat kehidupan Baekhyun?

“Jui-ya..”

“Aku sudah muak menjalani hubungan ini, kau begitu kekanak-kanakan. Benar kau adalah seorang pewaris tunggal dikeluargamu, tapi melihatmu yang seperti tidak punya tujuan hidup dan hanya bersenang-senang menghamburkan uang ayahmu. Membuatku tidak tahan. Aku lebih memilih menjalani hubungan dengan seseorang yang lebih dewasa darimu. Kau kenal Luhan kan? Ya, dia akan menjadi pasanganku kelak. Aku akan dijodohkan dengannya.”

Kali ini, Baekhyun sungguh tak mampu berkata apa-apa lagi. Ia bahkan tak menyadari setelah menjelaskan alasannya secara detail, Jui segera menghilang dari hadapan Baekhyun.

“Apa katanya?”

Kedua kaki Baekhyun tak mampu lagi berdiri, ia terduduk di lantai. Baekhyun bahkan merasa jika hidupnya hancur detik itu juga.

DRRTTT.. DRRTTT..

Baekhyun menoleh ke arah ponselnya, ia meraih benda persegi kecil itu. Setelah tau siapa yang menelfon, Baekhyun menerima panggilan telfonnya.

“Ada apa?”

“Besok datanglah ke rumah,”

“Kenapa?”

“Datang saja, nanti juga kau akan tau.”

PIP.

Panggilan terputus.

Baekhyun menghela nafasnya, Ayahnya memang selalu seperti itu. Semena-mena. Namun, satu hal yang selalu Baekhyun tolak walaupun ayahnya memaksa yaitu, Bekerja di kantor. Walaupun kelak Baekhyun akan menjadi pewaris, Baekhyun sama sekali tidak pernah mempelajari hal tentang perusahaannya. Ia benci pekerjaan mengekang. Yang dilakukannya setiap hari hanya masuk kuliah seenaknya lalu setelah itu ke Bar untuk membuang uangnya. Ya, begitulah siklus kehidupan Baekhyun. Karena, tanpa bekerja pun ayahnya tetap akan mengirim uang sebanyak yang Baekhyun minta.

Saat Baekhyun sibuk dengan pikirannya, ia tiba-tiba teringat tentang perkataan Jui tentang siapa pasangan perjodohannya.

“Luhan?”

Tanpa menunggu lama, Baekhyun mengetikkan sesuatu di ponselnya dan muncul wajah dan biografi Luhan yang menyebar di situs internet.

Disitu dijelaskan jika Luhan adalah Anak Tunggal pemilik Royal Groups Cina dan Korea yang terkenal. Baekhyun pernah mendengar tentang Royal Groups karena ayahnya pernah mengatakan jika perusahaan itu adalah satu-satunya saingan terkuat bagi perusahaan Baekhyun.

Memang mudah mencari tau data pribadi keluarga Chaebol di Korea, bahkan data pribadi Baekhyun juga tersebar di Internet dan wajahnya dapat mudah dikenali oleh masyarakat luas.

“Apa ini?” Baekhyun membulatkan matanya kala ia membaca satu fakta yang cukup membuatnya tercengang.

“Dia satu universitas denganku?”

***

Eunbi berdiri di depan pintu rumahnya beserta dua tas penuh yang berada di sisi kiri dan kanannya. Ayahnya juga ada disana. Mereka berdua larut dalam perpisahan yang pada akhirnya tiba. Eunbi ingin menangis namun ia tahan sekuat mungkin, karena ia sadar jika disini ayahnya lah yang paling merasa sedih.

“Maafkan ayah.”

“Tidak, ayah. berhenti menyalahkan dirimu. Akulah yang terlalu ambisius dengan apa yang ingin aku capai, maafkan aku ayah.”

Tuan Shin menggeleng lalu mengusap lembut rambut putri nya.

“Memang beginilah seharusnya putri ayah, gadis periang yang kuat dan memiliki cita-cita tinggi. Ayah bangga padamu.”

Tidak. Eunbi tak bisa menahannya lagi, Eunbi menangis sambil berhambur ke pelukan ayahnya. Sejak usia 5 tahun, Ayahnya lah yang merawat Eunbi seorang diri karena ibunya meninggal karena penyakit tumor akut. Eunbi menyanyangi ayahnya melebihi apapun di dunia ini, itulah alasan mengapa Eunbi tak bisa marah atau kesal pada Ayahnya. Eunbi selalu menjadi anak yang penurut. Dan saat ini, Eunbi harus meninggalkan Ayahnya sendirian. Bisakah?

“Ayah, apa kita akan baik-baik saja?”

“Ya, kita akan baik-baik saja sayang. Ayah akan baik-baik saja jika kau bahagia meraih apa yang kau cita-citakan.”

“Sehatlah selalu Ayah, jangan lupa makan siang.” Eunbi menghapus airmatanya, ia menatap ayahnya lekat.

“Ayah sudah menghubungi Tuan Byun. Dia terdengar bahagia sekali. Kau pasti akan diterima baik dikeluarganya. Mereka benar-benar keluarga kaya, jadi ayah harap kau bahagia bersama mereka.”

Eunbi menunduk, hatinya sedih sangat sedih. Kenapa sesulit ini untuknya? Eunbi hanya ingin Kuliah, haruskah ia mengorbankan segalanya hanya agar ia bisa melanjutkan pendidikannya.

“Jangan pikirkan apapun, berangkatlah. Kau akan ketinggalan kapal.” Tuan Shin mendorong Eunbi agar segera pergi, Eunbi menangis sambil membawa barang-barangnya. Tanpa mengucapkan apapun, Eunbi berjalan menjauh menuju pelabuhan pulau Yeosu.

Apapun yang ayah lakukan, aku tau itu semua hanya untuk kebaikanku. Ayah sudah melakukan yang terbaik yang ayah bisa. Terimakasih Ayah, putrimu tidak akan mengecewakanmu. Tetaplah sehat hingga aku kembali nanti.

***

Eunbi memutuskan untuk tidur di Kapal, perjalanan panjang akan dimulai jadi ia harus menyiapkan tenaga ekstra. Memikirkan jika ia akan pergi ke Seoul benar-benar membuatnya berdebar. Sebelumnya, ia sama sekali belum pernah bepergian jauh. Ia tak pernah meninggalkan pulau Yeosu selama 19 tahun hidupnya. Dan sekarang, ia bahkan akan pergi ke Seoul seorang diri. Satu-satunya jalan agar ia bisa tenang hanyalah berdo’a.

Tak terasa, perjalanan laut itupun terhenti di sebuah pelabuhan. Seseorang membangunkan Eunbi, Eunbi tersenyum lalu berterimakasih. Dengan cepat, gadis itu membawa barang-barangnya turun dari kapal.

“Woah, inikah Seoul?” Eunbi menatap takjub pada gedung-gedung tinggi yang bisa ia lihat dari pelabuhan, di Yeosu tak ada gedung setinggi itu kecuali sebuah rumah yang terletak di ujung atas bukit.

Eunbi mengeratkan pegangannya pada kedua tas yang ia bawa, berjalan keluar pelabuhan. Saat ini hanya satu tujuannya, yaitu mencari telfon umum. Ia harus menghubungi Tuan Byun dan mengabari jika ia telah tiba di Seoul.

“Oh itu dia!” Eunbi berlari kecil kearah telfon umum, memasukkan satu koin lalu menekan angka-angka yang ada di secarik kertas yang ayahnya berikan.

Panggilannya menyambung, dan tak lama ada sebuah suara menyapa telinganya.

“Halo?”

“Ha—Hallo, apa benar ini Tuan Byun?”

“Ya benar. Ini siapa?”

“Saya Shin Eunbi.”

“Shin Eunbi? Oh! Eunbi-ya, itukah kau?”

“Ya, Tuan. Saya Eunbi. saya sudah tiba di Seoul tapi saya tidak tau harus kemana dan naik apa agar bisa bertemu dengan tuan.”

“Ah, Iya. Baiklah, kau duduklah dulu. akan kusuruh orangku menjemputmu. Kau ada di pelabuhan Seoul kan sekarang?”

“Ya, Tuan.”

“Tunggulah sebentar.”

Setelah mengatakan salam, Eunbi menutup telfonnya. Gadis itu mencari tempat duduk seperti yang Tuan Byun katakan. Entah mengapa hatinya merasa hangat karena ternyata Tuan Byun begitu ramah saat Eunbi menelfonnya tadi, Eunbi harap segalanya berjalan lancar.

Tak selang beberapa lama, seseorang menepuk pundak Eunbi. Eunbi menoleh dan memandang seseorang itu dengan tatapan bingung, terlebih karena pakaiannya yang serba hitam. Kemeja hitam, Jas hitam.

“Anda siapa?” Tanya Eunbi pada pria asing itu.

Tanpa menjawab, pria itu hanya mengangkat sebuah foto lalu menyandingkannya disebelah wajah Eunbi. Mata Eunbi membulat seketika.

Ada apa dengan orang ini? Batin Eunbi.

“Nona Shin, silahkan ikuti saya. Saya akan mengantar anda pada Tuan Byun.” Jelas pria itu sambil dengan gerakan tangannya mempersilahkan Eunbi.

Eunbi mengangguk paham, jadi ini adalah orang Tuan Byun.

Eunbi berjalan mengikuti pria itu, bahkan barang bawaan Eunbi dibawakan oleh pria lain yang juga berkostum sama.

“Apa Tuan Byun memiliki banyak orang pesuruh?” gumam Eunbi pada dirinya sendiri.

Kali ini, Eunbi lagi-lagi harus membulatkan matanya lebar. Karena didepannya telah dibukakan pintu sebuah limosine hitam mewah untuknya.

“Silahkan masuk, Nona.” Bahkan ada seseorang yang mempersilahkan ia masuk bak seorang putri kerjaan.

“Ah, tidak perlu seperti itu.” Eunbi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kebiasaannya jika ia merasa canggung. Dengan langkah kecil, Eunbi pun memasuki limosine itu.

“Wahhh.” Mulutnya lah yang kali ini melebar saat melihat interior Limosine itu yang sangat mewah.

“TV, DVD, Video game, Peracik kopi, bahkan meja rias. Ayah seharusnya melihat ini juga. Mobil ini begitu menajubkan.”

Setelah tak henti-hentinya mengagumi isi limosine itu, Eunbi pun tertidur karena sangking nyamannya. Namun tak lama, seseorang membangunkan Eunbi yang tak lain adalah pria berjas hitam tadi.

“Nona, kita sudah tiba.”

“Ah iya,”

“Silahkan, Nona.” Pria berjas itu mempersilahkan Eunbi keluar dari limosine. Eunbi membungkukkan badannya berterimakasih, dan pemandangan pertama yang Eunbi lihat adalah pekarangan luas dengan taman dan air mancur di sisi kanan dan kiri rumah itu. Wow, tidak bisakah Keluarga Tuan Byun berhenti membuat gadis desa itu berdecak kagum? Eunbi bahkan tak pernah membayangkan ternyata level kaya keluarga Byun setinggi ini.

Pria berjas hitam itu menuntun langkah Eunbi memasuki pintu utama rumah mewah tersebut, pintu pun terbuka lebar dan Eunbi harus menjaga keterkejutannya karena ada sepuluh pelayan wanita muda menyambutnya.

“Selamat datang.” Ujar para pelayan itu serentak sambil membungkukkan badan. Eunbi yang tercengang pun ikut membungkukkan badannya.

Sambil berjalan canggung mengikuti pria berjas hitam itu, Eunbi memperhatikan isi rumah itu yang tak kalah mengagumkan. Semua serba mewah. Bahkan Eunbi tak pernah melihat barang-barang mewah itu sepanjang hidupnya.

Sambil tetap berjalan, mata Eunbi menangkap sesuatu. Matanya tertuju pada satu bingkai foto besar yang menempel di lorong utama. Foto lelaki muda berambut hitam dengan senyum simpulnya. Wajahnya tampak segar dan —Tampan?

“Apakah dia yang dimaksud ayah? apa aku akan menikah dengannya?” Eunbi bergumam dengan dirinya sendiri tanpa sadar jika pria berjas hitam itu telah membukakan pintu untuknya.

“Silahkan masuk Nona Shin,” Ujarnya pada Eunbi agar memasuki sebuah ruangan.

Eunbi berterimakasih sambil melangkah masuk, ruangan beraroma kayu cendana menyeruak di indra penciumannnya.

Ruang kerja rupanya, Batin Eunbi saat melihat begitu banyak buku dan dokumen disana.

Eunbi pun duduk disebuah sofa yang tersedia, saat ini ia sedang sendiri. Mungkin Tuan Byun belum datang dan akan segera datang.

Persis yang seperti Eunbi duga, pintu ruangan itu pun terbuka. Eunbi dengan segera berdiri dari duduknya. Tanpa melihat siapa yang datang, Eunbi menundukkan kepalanya.

Annyeonghaseo. Tuan Byun, Saya Shin Eunbi dari pulau Yeosu.” Ujar Eunbi lantang sambil tetap menundukkan kepalanya.

***

Esok hari pun tiba, Baekhyun melangkah memasuki perkarangan rumah mewahnya. Hari ini ia bolos kuliah karena ia belum siap  bertemu Jui dengan status baru diantara mereka, Jadi Baekhyun memutuskan untuk menghindar saja sementara.

“Apa ayah dirumah?” Tanya Baekhyun pada satu diantara sepuluh pelayan yang menyambutnya di pintu.

Pelayan itu tersenyum sebelum menjawab, “Iya Tuan muda, Tuan besar sudah menunggu di ruang kerja.”

Baekhyun mengangguk lalu berjalan menuju ruang kerja ayahnya, meninggalkan para pelayan wanita muda yang selalu memberikan senyum penuh arti padanya. Ya ya ya, Baekhyun memang selalu dikagumi, bahkan oleh pelayan nya sendiri.

Langkah Baekhyun terhenti ketika ia tiba didepan ruang kerja ayahnya, Tanpa menunggu dibukalah pintu itu.

Annyeonghaseo. Tuan Byun, Saya Shin Eunbi dari pulau Yeosu.”

Baekhyun dengan jantungnya yang terkejut karena sebuah suara keras terdengar seketika saat ia membuka pintu.

Ia melebarkan matanya, menatap kearah Gadis asing yang sedang menundukkan kepalanya.

“Siapa kau?” Cerca Baekhyun sambil melangkah mendekat.

Gadis itu mengangkat kepalanya, seperti nya ia juga terkejut karena Baekhyun bisa melihat ekspresi wajahnya yang terlihat bingung.

“Kau siapa?” Tanya Baekhyun kembali saat ia sudah tiba tepat didepan gadis itu.

“Sa—saya, saya Shin Eunbi.” Gadis itu— Eunbi dengan matanya yang hampir tak berkedip menatap seorang lelaki yang sama dengan seseorang yang sebelumnya ia lihat didalam figura foto besar di lorong utama tadi—Baekhyun. Jantungnya bahkan berdebar kencang saat wajah Baekhyun mendekat kearahnya, meneliti wajah Eunbi.

“Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya, kau pelayan baru? atau— selingkuhan baru ayah?” Baekhyun dengan lugas bertanya tanpa takut menyinggung perasaan Eunbi. Eunbi hanya diam menggigit bibir bawahnya mendengar pertanyaan itu.

“Jawab! Yang mana kau? Pelayan atau selingkuhan baru ayahku?” Desak Baekhyun dengan tatapannya yang meremehkan.

Haruskah ia menjawab?

Haruskan Eunbi menjawab jika ia adalah Calon istri Baekhyun?

“A—aku, Aku—” saat Eunbi akan memberikan jawabannya, pintu ruangan itu kembali terbuka.

Suara hangat menyapa dari ujung pintu, Tuan Byun masuk dengan matanya yang kaget melihat Baekhyun dan Eunbi yang sudah bertemu. Bahkan Baekhyun mendekatkan wajahnya pada Eunbi, membuat Tuan Byun tertawa senang.

“Wow, aku tidak pernah menduga jika putraku dan calon menantuku sudah cukup dekat rupanya.” Ujar Tuan Byun santai, namun cukup membuat satu orang disana yang tak tahu apa-apa terkejut setengah mati. Ya, satu orang itu adalah Baekhyun.

Baekhyun menjauhkan wajahnya dari Eunbi lalu menatap ayahnya penuh tanya, satu-satunya anak dikeluarga ini hanyalah dirinya. Jadi jika ayahnya menyebut tentang calon menantu, itu sama artinya dengan calon istrinya.

Baekhyun tertawa geram,

“Calon menantu? Ada apa ini sebenarnya?”

—To Be Continued

HALLO!

Jangan lupa tinggal kan komen yaaa, supaya semangat ngelanjutin FF ini untuk kalian. Jika ada pertanyaan, bisa tinggalkan dikomentar atau meluncur langsung ke instagram aku. wkwkw.

Instagram: chussa_

GOMAWOOO!❤

 

146 responses to “[FREELANCE] Jebal, He’s My Husband—Chapter 1

  1. Anothet ff that i love…suka sm story nya…Semoga aja Eunbi bs menaklukkan (?) Baekhyun …D tunggu chapter 2 nya..

  2. Aaaa aku suka cerita bgini wkwkwk
    Seruuu pastinya ntar. .
    Baekhyun jdi badboy lagi hahaha
    Kereeeeenn ><
    Eunbi ditunggu perjuanganmu menaklukan si baek ckckckc
    Next thooor, . . Penasaraaaan
    Panjangin lgi ya thor hehe

  3. Pingback: [FREELANCE] Jebal, He’s My Husband—Chapter 2 | SAY KOREAN FANFICTION·

  4. dijodohin 😄 .. Semoga eunbi bisa menaklukan hati baekhyun #apaansih.. Disini visualnya eunbi siapa author? Aku malah ngebayangin wajahnya kim so eun 😄😄

  5. Hayoloh dijodohin sama baekhyun ._. Haduh baekhyun bakalan gak terima pasti …
    Tp kasian juga sih dia habis ditinggalin sama jui, tp ya salahnya sendiri sih suka hura” doang dan gak dewasa sm skali ..

  6. Aigoo aigooo pertunangan hihii aduhh pasti nolak ini baekk, dia kn masih cinta sama jui pasti gagal moveon hihi
    Suka nih sama ceritanya
    Next yaa thor,,

  7. Pingback: [FREELANCE] Jebal, He’s My Husband—Chapter 3 | SAY KOREAN FANFICTION·

  8. Wah gimana baekhyun g lgsg kaget y tiba2 dikenalin sma clon istri yg Baek sndiri bru aj ptus.. perih bgt wk.. blum lg siftx yg sprti itu, ksian Eunbi.. bkln repot ni pndktn mreka

  9. Woaw eunbi hebat, yahh cuman nasibnya kurang beruntung😦 aku kira ayahnya sedih itu gara gara gak suka kalo eunbi masuk seoul univ
    Yaelah baek gitu amat sama calon istrimu haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s