[FREELANCE] THE ROYAL SCANDAL

THE ROYAL SCANDAL

THE ROYAL SCANDAL

She has the laugh of Devil and the smile of the an Angel.

She’s a wicked, wild, and wreckless thing.

-oOo-

TITLE: THE ROYAL SCANDAL

AUTHOR: MINERVA RENATA

TWITTER: @MinervaRenata

BLOG: www.tyjawline.wordpress.com

MAIN CAST: OH SEHUN (EXO), ASHLEY KIM (OC)

SUPPORT CAST: PARK CHANYEOL (EXO)

GENRE: ACTION, ROMANCE, (LITTLE BIT) COMEDY

RATING: PG+17

LENGTH: CHAPTERED

DISCLAIMER: THIS STORY AND PLOT ARE MINE. ALL OF THOSE CASTS BELONG TO THEMSELVES. SO, DON’T TAKE OUT ANY CONTENT WITHOUT PROPER CREDIT!

AUTHOR NOTE: Insipired by Sherlock – A Scandal in Belgravia

SUMMARY: Oh Sehun adalah seorang secret agent dari National Intelligent Services yang diberikan sebuah misi pribadi oleh Presiden Korea Selatan untuk menemukan dan memusnahkan seluruh foto-foto skandal seks anaknya, Kim Jongin, dengan seorang model majalah pria dewasa terkenal, Ashley Kim. Berhasilkah Sehun mengalahkan sang wanita dominan dan menuntaskan misinya dengan mudah?

-oOo-

            Sehun menyesap secangkir kopi hangatnya sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Matanya menangkap sekumpulan buku bertema politik, sejarah, dan ekonomi bisnis dengan tebal yang tidak masuk akal itu tersusun rapi hampir memenuhi tiga buah rak buku besar berbahan dasar kayu mahoni yang diletakkan di salah satu sudut ruangan. Ditemukannya juga sebuah pigura berukuran besar yang terpajang kokoh di sudut lainnya, menampilkan potret keluarga yang terkesan sederhana namun tetap tak bisa menghapuskan aura aristokrat yang terpancar dari masing-masing anggota keluarga petinggi nomor satu di Korea Selatan itu.

Pria jangkung itu pun bangkit dari sofa marun yang ada di tengah ruangan, melangkahkan kakinya menuju jendela kaca, menatap lurus kearah gedung-gedung pencakar langit dihadapannya, dan seketika kerlipan lampu-lampu gedung menyerbu retinanya. Malam telah tiba tetapi Seoul tak pernah tidur, pikirnya.

“Oh Sehun-ssi.” Suara penuh wibawa itu terdengar dan membuat Sehun refleks membalikkan tubuhnya, mendapati seorang pria enam puluh tahunan tengah tersenyum hangat ke arahnya dari ujung pintu yang terbuka.

“Selamat malam, Presiden Kim.”

-oOo-

 

Everything happens for a reason

            Sehun menghempaskan tubuh ke kursi dan memijit pelipisnya yang sedikit berdenyut. Kedatangan pria itu di waktu yang telah menunjukkan tengah malam, rupanya menarik perhatian Park Chanyeol—pria berwajah jenaka yang sedari tadi disibukkan dengan tugas lemburnya yang tak kunjung tuntas— untuk sekedar memuaskan dahaga keingintahuannya tentang apa yang baru saja sahabatnya bicarakan dengan Presiden di kediaman pribadi orang nomor satu di Korea Selatan itu.

“Apa yang kau bicarakan dengan Presiden Kim?” Chanyeol menghampiri Sehun dan duduk di atas meja kerja pria itu, melupakan sejenak setumpuk file di belakang sana yang menunggu analisisnya. “Pasti sesuatu yang sangat penting sampai-sampai Presiden mengundangmu ke kediaman pribadinya?”

            Sehun mengangguk dan melemparkan sebuah amplop coklat ke pangkuan Chanyeol. “Sebuah tugas pribadi. Hanya aku,” jelasnya singkat.

            “Wanita ini…” Chanyeol menggantungkan ucapannya sesaat setelah melihat selembar foto yang ada di dalam amplop itu. Manik matanya melebar dan dahinya mulai berkerut halus. “Bukankah wanita ini adalah Ashley Kim?” serunya setengah berteriak tak percaya.

“Rupanya kau juga tahu,” ujar Sehun remeh menanggapi kehebohan yang ditimbulkan sahabatnya itu.

Chanyeol berdecak sebal. “Bagaimana bisa seorang pria dewasa dan normal tidak mengetahui wanita seperti Ashley Kim? Asal kau tahu, tak ada satu pria pun di muka bumi ini yang akan melewatkan pesonanya. Jika ada, pastilah dia akan menyesal seumur hidup,” ujarnya dengan intonasi yang meninggi dan semangat yang berapi-api. Chanyeol memang menyanjung Ashley Kim setinggi tahta Zeus dan menganggapnya secantik Dewi Aphrodite dalam mitologi Yunani semenjak mendapati wanita itu ada di sampul terdepan salah satu majalah dewasa koleksinya.

            “Kau berlebihan.” Sehun merebut foto tersebut dari tangan Chanyeol kemudian menatap gambar wanita itu cukup lama. “Dia hanyalah seorang wanita berambut coklat nilon dan bermata sekelam kayu eboni. Tidak lebih.”

            “Baiklah jika kau mengatakan begitu. Kurasa kau hanya tinggal menunggu waktu untuk menyesal seumur hidup,” vonis Chanyeol sarkastis.

Sehun mengendikkan bahunya tak acuh. Ia sama sekali tak peduli dengan dakwaan sahabatnya itu, karena sebuah teori yang sudah tertanam kokoh di dalam otaknya memang tak dapat tergoyahkan hanya dengan perkataan seorang Park Chanyeol. Baginya, mengagumi adalah mencintai, mencintai seperti halnya sebuah cacat kimia yang hanya akan merugikan, dan untuk manusia super perfeksionis semacam Oh Sehun, kata merugikan sama sekali tak ada di dalam kamus hidupnya. Sepanjang hidupnya Sehun tak pernah dan tak pernah ingin merasakan jatuh cinta karena hal itu hanya akan menghambat semua ambisinya.

“Oh ya, apa hubungan tugasmu dengan Ashley Kim? Jangan bilang Presiden menyuruhmu untuk menikahinya! Jika hal itu benar, aku bersumpah bahwa orang di barisan terdepan yang akan membunuhmu adalah aku,” cerocos Chanyeol yang membuat Sehun mengulas senyum tipis.

“Tidak.” Sehun menggeleng cepat dan raut penuh kelegaan pun langsung terpancar dari wajah Chanyeol. “Tetapi kasus ini menyangkut Sang anak Presiden, Kim Jongin.”

-oOo-

Sehun tetap berada di dalam Mercedez Benz-nya meskipun mobil mewah itu telah menepi lebih dari satu jam yang lalu. Saat ini, seperti detik-detik sebelumnya, pria itu masih sibuk mengamati sebuah studio pemotretan yang berada di ujung jalan sambil berharap target penguntitannya, Ashley Kim, akan segera muncul.

Namun, kali ini perhatiannya sedikit teralihkan pada ponsel miliknya yang baru saja berdering.

From : Park Chanyeol

Apa kau sedang bersama Ashley Kim? Apa kau berubah pikiran tentang pandanganmu terhadapnya?

Pria itu mendengus sebal. Jika ia tak salah hitung, ini sudah yang kedua puluh kalinya dalam satu jam terakhir. Chanyeol yang mengetahui bahwa Sehun akan menemui Ashley Kim siang ini, terus saja membombardir ponselnya dengan pesan yang sama setiap tiga menit.

Dan kini sepertinya batas kesabaran Sehun mulai menipis.

To : Park Chanyeol

Kau ingat revolver yang baru saja kubeli minggu lalu? Ku rasa salah satu peluru di dalamnya akan segera menembus otak mesummu jika kau mengirimiku pesan lagi. Ini peringatan bukan lelucon! Kau sangat tahu kan bahwa aku bukanlah orang yang humoris.

Dengan kesal Sehun melemparkan ponselnya ke dashboard sebelum akhirnya menyadari bahwa saat ini bukan hanya dirinya seorang yang berada di dalam mobil, melainkan sesosok wanita yang ditatapnya kemarin malam melalui secarik foto dan sempat menimbulkan sedikit perdebatan antara dirinya dan Chanyeol itu tengah duduk dengan nyaman tepat di sebelahnya entah sejak kapan.

“Selamat siang, Oh Sehun-ssi. Ngomong-ngomong, kau terlihat tampan dengan setelan jas itu.” Wanita itu tersenyum sementara Sehun masih terdiam, mencoba mencerna apa yang sedang dilihatnya saat ini.

-oOo-

            Mercedez Benz hitam itu berbelok memasuki pekarangan sebuah rumah mewah yang kental dengan arsitektur Romawi sebelum pada akhirnya berhenti tepat di depan pintu utama yang tampak kokoh, menyiratkan bahwa tak sembarang orang bisa melewatinya.

            Sehun turun dari mobilnya disusul oleh Ashley Kim. Wanita itu berjalan mendahului dan membuka lebar pintu kayu jati dihadapannya dengan sekali sentakan yang sukses menimbulkan derak mengerikan. Hanya dengan melihat betapa angkuh Ashley melakukannya, membuat Sehun tersadar betul bahwa sosok dihadapannya kali ini bukanlah wanita biasa, bukanlah lawan yang mudah untuknya.

            “Please, Mr. Oh.” Wanita itu menyunggingkan senyum sambil tetap berdiri tegap di balik mantel panjang yang masih melekat ditubuhnya dan baru melangkah masuk ketika Sehun sudah selangkah di depannya.

            “Kurasa secangkir teh hijau hangat tidak terlalu buruk untuk cuaca seperti ini,” lanjut Ashley ketika mereka telah memasuki sebuah ruangan di ujung lorong. Ruangan itu bernuansa putih bersih dengan lantai kayu dan sebuah perapian di ujung ruangan yang membuat kesan hangat kian terasa, sangat berbeda dengan apa yang Sehun lihat ketika pertama kali masuk ke dalam rumah ini dimana dindingnya dominan berwarna biru kusam dan tampak dingin, tak bersahabat.

            Sehun memilih untuk duduk tenang di salah satu sofa hangat berwarna pastel sambil menunggu wanita itu kembali. Dalam diam ia tengah menuntut otaknya untuk bekerja lebih keras. Memikirkan wanita itu. Ashley Kim. Bagaimana wanita itu bisa mengenalinya? Bagaimana wanita itu bisa dengan sangat tenang menghadapinya bahkan sampai mengundang Sehun kerumahnya? Kali ini ia benar-benar dihadapkan dengan rasa penasarannya yang membuncah.

            “It’s warm and cozy, right?” Wanita itu melangkah masuk bersama nampan berisi dua cangkir teh ditangannya.

            Sehun hanya diam. Matanya menelisik tajam mengikuti kemanapun pergerakan Ashley. Wanita itu menaruh nampan di atas meja, tersenyum sekilas kepadanya, kemudian melangkah anggun menuju sudut ruangan. Manik mata Sehun masih terus mengintainya sampai sebuah pergerakan halus yang dilakukan Ashley membuat pria itu sedikit berjengit dan menautkan kedua alisnya.

            Ashley menanggalkan mantel panjang berwarna coklat dari tubuhnya, menggantung pakaian hangat itu di tiang kayu penggantung, dan kini yang tersisa di mata Sehun hanyalah lekukan tubuh indah wanita itu yang masih terbalut bra dan underwear berwarna hitam.

Ashley terkekeh pelan dan tersenyum misterius menanggapi tautan alis Sehun. “Good afternoon, Agent Oh Sehun,” lanjutnya dengan tenang namun penuh penekanan ketika menyebutkan tiga kata terakhir.

Sehun tetap diam seperti detik-detik sebelumnya dan menatap sorot mata Ashley yang terlihat licik.

“Baiklah. Katakan apa tujuanmu mengintaiku?” Ashley duduk dan menyilangkan kaki di hadapan Sehun tanpa berusaha untuk menutupi tubuhnya dengan selembar kain yang lebih lebar dibanding sebuah bra dan underwear.

“Tak perlu basa-basi. Seharusnya kau sudah tahu, Nona Kim,” jawab Sehun tenang.

“Ah, Kim Jongin. Kudengar dia akan menikah dengan seorang anak anggota parlemen bulan depan dan ayahnya akan mengikuti pemilihan presiden enam bulan lagi.” Ashley tersenyum di balik cangkir teh yang tengah digenggamnya.

“Presiden Kim ingin kau menyerahkan semua foto skandalmu dengan Kim Jongin,” tegas Sehun.

“Aku?” Ashley tergelak meremehkan. “Memangnya kau sudah mengamankan foto serupa dari wanita-wanita lain? Kim Jongin adalah pria brengsek yang telah meniduri banyak wanita jika kau tak tahu.”

“Aku tahu dan aku telah mengamankannya kecuali milikmu.”

“Sayangnya tidak semudah itu, Sehun-ssi. Aku sama sekali tak berminat untuk menyerahkannya. Kau tahu? Adalah sebuah hiburan bagiku melihat bagaimana keluarga penguasa Korea Selatan itu ketakutan.”

“Lalu, untuk apa kau tetap menyimpannya? Apa kau ingin memeras keluarga Presiden menggunakan foto itu?”

Ashley kembali tergelak. “Tidak. Itu bodoh. Aku bukan wanita murahan yang akan mengancam demi uang.”

“Atau… kau mencintai Kim Jongin?” terka Sehun.

“Pria brengsek semacam itu tidak pantas untuk dicintai,” ujar Ashley. Ia tak henti-henti mengulum senyum ketika pria sedingin es itu masih duduk dihadapannya dengan wajah tanpa ekspresi. Hari yang selama ini ia tunggu akhirnya tiba, hari dimana pria itu datang dan membiarkan rasa penasaran Ashley ikut membeku seiring dengan aura dingin yang terpancar dari diri Oh Sehun, seorang agen rahasia tingkat tertinggi dari National Intelligent Service. “Katakan kepada Tuan Presiden bahwa semua akan aman padaku. Aku tidak akan mengangkat skandal ini kepermukaan selama aku mendapat perlindungan negara. Itu saja,” lanjut Ashley.

“Tidak semudah itu, Nona Kim. Tak akan ku biarkan kau melenggang bebas sebelum menyerahkan foto-foto itu. Pasti,” ujar Sehun dengan nada final yang tak terbantahkan.

Uuuh.. I love such a stubborn boy,” gumam Ashley dengan nada seduktif. Wanita itu menyesap tehnya perlahan sebelum beranjak dari duduknya dan menghampiri Sehun yang masih tampak dingin dihadapannya. “Baiklah jika itu maumu, Sehun-ssi. Aku tidak akan menghalangimu untuk mencarinya, tetapi aku juga tidak akan memberitahumu apapun,” lanjut Ashley santai sembari menyusuri wajah Sehun dengan ujung telunjuknya yang lentik.

“Kurasa hampir setiap wanita selalu melakukan hal yang kontradiktif. Ketika sedih mereka akan tertawa. Ketika sedang tidak baik-baik saja mereka selalu bertindak seolah-olah tak ada yang terjadi. Kau tahu? Wanita adalah makhluk yang paling membingungkan di muka bumi,” ujar Sehun yang masih berada di bawah tatapan Ashley.

“Maksudmu aku akan memberitahumu sesuatu, begitu?” Ashley yang masih enggan menanggalkan senyumnya itu pun berlalu dari hadapan Sehun, menuju sebuah buffet, kemudian membuka sebuah kotak kayu berwarna merah bata yang ada di atasnya. “Hampir setiap wanita, bukan semua wanita. Tolong garis bawahi itu,” ujar wanita itu sambil menyulut salah satu cerutu dari Gurkha Black Dragon seharga $1.150 miliknya dan menikmati aroma serta rasa tembakau kualitas terbaik membelai lembut lidahnya. Kini Ashley tampak seperti seorang aristokrat kelas atas jika mengabaikan bagaimana cara berpakaiannya saat ini.

Do you want some? I never offered this to other people before.” Ashley menawarkan cerutu mahalnya kepada Sehun namun hanya di balas dengan senyuman miring di ujung bibir tipis pria itu.

“Kurasa belum semenit aku mengatakannya dan kau telah melakukannya. Seharusnya kau lebih cermat lagi, Nona Kim.” Sehun pun berdiri dan melangkah mendekati Ashley yang masih sibuk menyesap tembakaunya dan membuat kepulan asap keluar dari bibir merah ranumnya.

“Apa maksud perkataanmu, Oh Sehun-ssi?”

Dengan sekali sentakan, Sehun mencengkram pergelangan tangan Ashley dan membiarkan cerutu tersebut menggantung di sela-sela jari telunjuk dan jari tengah wanita itu. “Asap tembakaumu bergerak vertikal ke atas dan itu artinya ada aliran udara dari bawah. Kau pasti memiliki sebuah ruangan tepat di bawah lantai ini. Ruangan rahasia.”

Ashley membeku beberapa saat, menyadari kebodohannya sekaligus kecermatan Sehun yang membuatnya sedikit bergidik ngeri.

Pria ini membahayakan dari segala aspek, simpul Ashley dalam hatinya.

Akhirnya kali ini seorang Ashley Kim di hadapkan dengan lawan yang seimbang setelah sekian lama wanita itu selalu mendominasi.

Interesting.

You should always use gloves with these things, you know.” Suara Sehun pun menarik Ashley kembali dari lamunan singkatnya. Entah bagaimana caranya, pria itu telah menemukan tombol password yang ada di balik lantai kayu.

“Tombol pertama adalah tombol yang paling berminyak, dan itu angka 3. Tetapi setelah itu urutannya mustahil untuk dibaca. Aku melihat ada enam digit kode. Namun kurasa tidak mungkin ulang tahunmu karena sepertinya kau lahir di tahun 90-an dan angka 9 hampir tidak pernah digunakan. Jadi …” Tak ada yang mampu menghentikan pemikiran Sehun kali ini, pria itu akan terus berbicara tanpa henti sampai otaknya memberikan satu kesimpulan. Tanpa sadar Ashley sangat menikmati kecerdasan pria dihadapannya.

I’d tell you the code right now, but you know what?” Wanita itu tersenyum. “I already have.

Sehun menatap Ashley begitu lama, mencoba mencari tahu kode yang wanita itu maksud dengan otaknya yang terus berputar di dalam sana hingga membuat pelipisnya berdenyut. Segala macam hipotesis dan kemungkinan berkumpul di kepalanya menunggu untuk di eksekusi menjadi satu kebenaran yang mutlak.

Oh, Tunggu! Manik mata Sehun berkilat dan ia menyadari sesuatu.

“Pasti ada sebab di sebuah tindakan,” gumam Sehun. Dengan cepat pria itu menekan enam digit angka pada tombol password dan tak lama kemudian suara verifikasi pun terdengar di ikuti dengan bergesernya lantai kayu itu.

Wow. You were very…observant.” Ashley mengerjap takjub, memuji Sehun atas keberhasilan pria itu memecahkan kode akses ruang bawah tanahnya. “Berapa banyak yang kau punya, Sehun-ssi?”

Sorry?” tanya Sehun tak mengerti.

“Berapa banyak wanita yang telah kau kencani? Mengingat ketelitianmu yang mampu membuatku merinding.”

Sehun tergelak menyadari arah pertanyaan Ashley. “I don’t have one. Never.

-oOo-

 

She has the laugh of Devil and the smile of the an Angel.

She’s a wicked, wild, and wreckless thing.

Sehun berjalan ke ujung ruangan dan membuka pintu apartemennya yang telah beberapa kali berdenting. Pria itu tak perlu lagi melihat melalui layar intercom siapa yang tanpa sungkan berkunjung di hari yang sudah larut malam seperti sekarang, karena hanya ada dua kemungkinan; kurir pengantar Pizza kesukaannya dan Park Chanyeol. Tetapi karena malam ini ia lebih memilih untuk menyantap sebungkus ramen yang tersisa di lemari dapurnya, maka pastilah Chanyeol yang saat ini berada di balik pintu.

            Sehun dan Chanyeol sudah bersahabat baik selama lebih kurang sepuluh tahun. Mereka bertemu pertama kali pada perjamuan makan malam yang diadakan keluarga Sehun di Manhattan saat mereka berusia empat belas tahun. Pria itu masih ingat betul bagaimana senyuman bodoh Chanyeol menyapanya ramah meskipun hanya ditanggapi dingin oleh Sehun kala itu. Namun rupanya angin berhembus kearah yang benar, karena hingga saat ini Chanyeol adalah satu-satunya orang yang bersedia menjadi sahabatnya diantara seribu orang yang akan berpikir seribu kali untuk menjadikan Sehun sebagai seorang sahabat mengingat sikapnya yang keras kepala dan kepribadiannya yang dingin.

            “Apa jam di rumahmu tertukar dengan jam milik Jennifer, wanita one-night-stand-mu yang berasal dari Amerika itu? Demi Tuhan, Park Chanyeol! Ini pukul satu dini hari bukan pukul satu siang.” Sehun menghempaskan tubuhnya pada sofa panjang yang ada di ruang tengah, kemudian menutup kedua matanya yang lelah.

            “Bagaimana? Ashley Kim mengaggumkan, bukan?” Terdengar nada penuh semangat keluar dari bibir Chanyeol. Telinga lebar pria itu memang sudah kebal dengan segala macam sindiran yang Sehun lontarkan kepadanya.

            “ Sialan! Jadi kau datang selarut ini hanya untuk itu? Ah, tetapi karena kau membahas tentangnya…” Sehun menggantungkan ucapannya. Ia kembali berpikir ulang untuk memberitahukan Chanyeol apa yang dialaminya siang tadi, terutama tentang bagaimana Ashley Kim berpakaian dihadapannya. Ia tak mau melihat kegilaan sahabatnya—yang tak menutup kemungkinan di tambah dengan sedikit darah mengucur dari kedua lubang hidung Chanyeol—ketika membayangkan tubuh wanita itu.

            “Apa? Ayolah, ceritakan kepadaku tentang Ashley Kim,” desak Chanyeol yang tampak sangat antusias menunggu, di tandai dengan manik matanya yang berbinar-binar.

            Sehun pun bangkit dan melangkah menuju meja kerjanya, mengambil sesuatu disana, kemudian kembali duduk dihadapan Chanyeol. “Dia membiarkanku mengambil microchips yang berisi semua foto skandal yang diinginkan Presiden Kim. Hanya saja aku merasa hal ini terlalu mudah. Dan benar saja, ternyata data di dalam microchips ini dilindungi oleh password. Aku sudah menggunakan satu kesempatan mencoba dan kali ini tinggal tiga kesempatan mencoba kombinasi password. Bisakah kau meretasnya dan mengambil seluruh data di dalamnya?” Sehun menjelaskan panjang lebar.

            “Meretasnya, mendapatkan seluruh data, dan berpeluang besar untuk melihat semua foto-foto skandal seks seorang Ashley Kim? Tidakkah kau berpikir bahwa tak ada yang lebih baik daripada itu?” sahut Chanyeol senang bukan main.

            “For God’s sakes, Park Chanyeol!”

            “Oh. Baiklah, baiklah.” Chanyeol mengangkat tangannya sebatas bahu ketika mendapati rahang pria dihadapannya itu telah mengeras, tanda bahwa ia tak akan lagi mengusik Sehun yang selalu benci ketika dirinya mengutarakan fantasi—yang menurutnya—normal sebagai pria dewasa. “Berikan kepadaku,” lanjut Chanyeol, meminta microchips yang masih berada digenggaman Sehun.

            Chanyeol menghidupkan laptop yang dibawanya dan mulai melakukan segala upaya peretasan. Meskipun wajahnya tampak bodoh dan otaknya hanya dipenuhi dengan fantasi-fantasi liar yang tak patut, namun rupanya Tuhan masih berbaik hati dengan memberikan sedikit kecerdasan untuknya dalam hal hacking yang membuat Chanyeol berhasil masuk ke divisi Cyber Crime di National Intelligent Service.

            “Kurasa ia telah memberi proteksi khusus pada microchips ini sehingga peretasan pun tak mampu menembus data-datanya.” Chanyeol menggelengkan kepalanya. “Yang saat ini kau hadapi benar-benar wanita luar biasa, Sehun.”

            “Baiklah.” Sehun mengambil kembali microchips itu dari tangan Chanyeol. “Besok aku akan ke laboraturium dan meminta Cheonsa untuk melakukan scanning terhadap benda ini.”

            “Hei, Oh Sehun! Sampai kapan kau akan memanfaatkan perasaan Cheonsa untuk menyuruhnya melakukan hal-hal yang kau inginkan? Apa kau tidak merasa kasihan sedikitpun kepada wanita sepolos dia?!”

-oOo-

            “Microchips ini memiliki empat unit tambahan kabel di dalam casing-nya. Sepertinya kabel itu mengandung asam atau bahan peledak kecil. Jadi setiap usaha untuk membuka microchips akan membakar hard drive dan semua data akan musnah.” Cheonsa menjelaskan hasil scanning pada microchips itu kepada Sehun. Pria itu benar-benar tak mengindahkan sedikit pun peringatan Chanyeol semalam, ia tetap saja memanfaatkan perasaan yang dimiliki Cheonsa kepadanya untuk melancarkan penyelidikan, dan Sehun tidak hanya sekali dua kali memanfaatkannya. Poor little girl!

            “Sialan!” umpat Sehun.

            “Jika aku boleh tahu, siapa pemiliknya?” tanya Cheonsa hati-hati.

            “Seorang wanita.”

            “Kekasihmu?” Sehun mendapati dengan jelas bahwa ada sebuah nada kecemburuan terselip di dalam ucapan gadis cantik yang menjabat sebagai ilmuwan di National Intelligent Service itu .

            “Apa dia kekasihku karena aku men-scan microchips miliknya?” tukas Sehun ketus.

            “Ya…tidak juga,” jawab Cheonsa pelan sambil tertunduk dalam. Hal itu membuat Sehun sedikit merasa bersalah.

            “Aku sangat berterimakasih kepadamu, Cheonsa. Kau selalu membantuku di tengah-tengah tumpukan penelitian yang harus segera kau kerjakan.” Sehun mengulas senyum tipis dan kemudian menyentuh bahu gadis dihadapannya dengan lembut.

            Gadis itu tersenyum dan tersipu malu. Melihat rona merah yang telah tercetak di kedua belah pipinya membuat Sehun menjadi merasa semakin bersalah. Ia tak ingin Cheonsa salah paham.

-oOo-

            Rolex di pergelangan tangan Sehun telah menunjukkan pukul sebelas malam dan pria itu baru saja tiba di depan pintu apartemennya setelah seharian menjalani hari yang melelahkan di kantor National Intelligent Service (NIS) dengan setumpuk kasus mulai dari pembunuhan sampai terror bom.

Pria itu berencana untuk segera mengubur diri di dalam selimut tebalnya dan tak berniat membuka mata sebelum sinar matahari yang akan membangunkannya keesokan hari. Sehun baru saja akan memasukkan kode password ketika pintu apartemennya terbuka perlahan dan menyisakan dirinya yang terbelalak tak percaya.

“Aku belajar darimu, Sehun-ssi.” Wanita itu, Ashley Kim, telah berdiri sempurna dihadapan Sehun lengkap dengan senyum khasnya dan tawa renyahnya yang lirih. “You should always use gloves with these things, you know.

            Pria itu terdiam sempurna. Matanya tak lepas dari sosok Ashley yang tampak seperti seorang bidadari dari surga ketika tersenyum, namun tampak seperti iblis ketika tertawa. Wanita itu seperti halnya perpaduan antara mimpi indah dan mimpi buruk.

‘She’s a wicked, wild, and wreckless thing,’ gumam Sehun dalam hati.

-oOo-

 “Jadi, siapa yang mengejarmu?” Malam ini, setelah kurang lebih sepuluh menit lalu Sehun dikagetkan dengan kemunculan Ashley dari dalam apartemennya, pria itu pun mulai mencoba mengorek lebih dalam pernyataan Ashley yang mengatakan bahwa dirinya tengah di buru oleh seseorang.

People who want to kill me,” jawab wanita itu sambil menyeduh secangkir teh di balik konter dapur Sehun.

Who’s that?

Killers.” Ashley tampak begitu tenang. Ia juga menyesap tehnya dengan damai. Sehun sama sekali tak menemukan gurat-gurat ketakutan atau traumatis dalam diri wanita itu seperti orang-orang yang berada dalam situasi mengancam nyawa pada umumnya.

Ashley melangkah kearah Sehun dan menjatuhkan tubuhnya pada sebuah kursi tepat dihadapan pria itu. Keheningan pun tercipta dan hanya ada aksi saling pandang diantara mereka. Buang pikiran roman picisan kalian, karena ini bukanlah aksi saling pandang yang biasa tercipta pada ribuan film romantis klise, melainkan sebuah aura persaingan dan pertaruhan harga dirilah yang tersirat di setiap tatapan mereka.

“Tak bisakah kau memberitahu dengan lebih spesifik? Ciri-cirinya mungkin?”

No.” Ashley menggeleng dan tersenyum di balik cangkir tehnya. “Oh ya, apa arti 211294?” lanjutnya mencoba membahas topik lain yaitu dengan menanyakan tentang password yang digunakan oleh Sehun untuk pintu apartemennya.

“Yang penting bukan ukuranku,” jawab Sehun sekenanya.

Wow. It’s amazing when you still remember about my measurement. Does that make me special?” ujar Ashley ringan dan sedikit mendekatkan tubuhnya kearah Sehun.

“Sampai sekarang aku masih tak habis pikir dengan seorang wanita yang menggunakan ukuran tubuhnya sebagai password.”

“Dan saat itu kau berhasil menebaknya dengan sangat tepat, Sehun-ssi.” Ashley menopangkan dagunya dan menatap Sehun dengan penuh minat. “ 362434. 36 untuk ukuran lingkar dada, 24 untuk ukuran lingkar perut, dan 34 untuk ukuran lingkar pinggul. Kau sama sekali tak meleset, Sehun-ssi. Tetapi yang membuatku sedikit tak percaya adalah fakta bahwa kau tak pernah sekalipun memiliki seorang kekasih. Apartemen ini pun jadi buktinya, sama sekali tak ada sentuhan wanita.”

“Karena mengamati sebuah objek tidak berarti harus memiliki objek tersebut, bukan?”

“Kau tahu? Tampan, pintar, ambisius, egois, dan sinis adalah suatu perpaduan yang sempurna untuk membuat para gadis semakin ingin mengulik lebih dalam kehidupan seorang pria. Dan pria sepertimu akan selalu menyita perhatian banyak gadis diluaran sana. Tetapi mengapa kau memilih untuk tidak menjamah mereka sedikitpun?”

“Apa untungnya? Wanita hanya akan menggangguku dengan segala tingkahnya yang merepotkan.”

Can I?” Ashley merendahkan suaranya, menatap mata Sehun lebih dalam.

What?

“Bisakah aku mencoba untuk mengubah prespektifmu terhadap wanita?” ujar Ashley ringan.

Tak ada pembicaraan lagi setelah kalimat itu.

Hanya senyum yang tergambar di bibir mereka.

Memandang satu sama lain dan kemudian tenggelam dalam pikiran masing-masing.

-oOo-

 

She just like the sea.

Wild, beautiful, and free.

            Sehun terbangun dengan aroma nikmat secangkir kopi panas yang mulai membelai penciumannya. Dengan langkah gontai, pria itu keluar dari kamar nyamannya dan berhenti tepat di ruang makan. Ia mendapati sebuah cangkir porselen berwarna putih terletak begitu saja di meja lengkap dengan kepulan asap beraroma wangi di atasnya.

            “Latte itu milikku. Jangan coba-coba untuk menyentuhnya.” Suara rendah terdengar menyusup keheningan dan cukup menginterupsi ancang-ancang Sehun yang akan menyesap secangkir cairan creamy itu.

Sehun menatap lurus kearah pintu kamar mandi yang baru saja terbuka. Sorot mata dinginnya menangkap seorang Ashley Kim dengan rambut coklatnya yang basah dan berbalut sebuah kemeja putih kebesaran tengah berdiri tegap sambil menatap Sehun dengan tatapan yang tak kalah dingin.

            “Kemeja itu milikku. Beraninya kau memakainya tanpa izin.”

            “Apa itu adalah sebuah alasan terselubung agar aku membukanya dan menunjukkan tubuhku lagi kepadamu?”

            “In your dream, Miss Kim.”

            “Duduklah. Aku akan membuatkan satu untukmu.” Ashley melangkah masuk ke dalam konter dapur dan melewati Sehun begitu saja. “Latte, Espresso atau Cappuccino?

            “Espresso. Tanpa racun,” jawab Sehun cepat, secepat menjatuhkan tubuhnya di atas kursi.

            “Hahaha. Kau mengantisipasinya dengan cepat, Sehun-ssi.”

            “Saat kau berada di dalam satu tempat yang sama dengan target buruanmu, maka kau harus berantisipasi di setiap detiknya. Kau tak akan pernah tahu di detik keberapa mereka akan menyerangmu balik.”

            “Hmm. Kau benar.” Ashley menaruh secangkir espresso dan menyodorkan sepiring sandwich buatannya dihadapan Sehun. “Bagaimana lanjutan kasus pembunuhan Andrew Kim yang sedang kau selidiki?” ujar wanita itu sambil menggigit pinggiran sandwich miliknya.

            Sehun menunda acara kopi paginya dan memicingkan mata kearah Ashley.“Bagaimana kau tahu? Seingatku, kasus itu tidak keluar di media.”

            “Aku kenal seseorang di NIS. Dia memberitahuku banyak kasus rahasia seperti tengah membacakan sebuah dongeng pengantar tidur kepada anaknya. Tanpa beban, tanpa rasa bersalah.”

            Sehun tersenyum sinis. “Dimana pun kau berada pasti ada seorang pembelot di dalamnya. Sudah pasti.”

            “Menurutku pembunuhnya sangat bodoh dan tak berpengalaman. Dia melewatkan begitu saja fakta bahwa pengusaha real estate itu kidal.”

            “Ya. Mungkin kasus ini akan menjadi sebuah pembunuhan yang sempurna jika sang pembunuh tak lupa menaruh pistol di samping kiri tubuh Andrew bukan di samping kanan.”

            “Lain cerita jika kau yang melakukannya.” Ashley memusatkan pandangannya kepada Sehun dan kemudian mengulas senyum tipis dibibirnya. “Kau yang sangat cermat dan jenius akan dengan mudah melakukan sebuah pembunuhan yang sempurna. Tanpa cela dan jejak sedikitpun.”

            Sehun meletakkan pisau dan garpu yang digunakan untuk menyantap menu sarapannya—Ya. Menurut Chanyeol, Oh Sehun adalah pria teraneh di dunia karena selalu menyantap sepiring sandwich menggunakan pisau dan garpu untuk makan steak—di samping piring, melipat tangan di atas meja, dan mencondongkan tubuhnya kearah Ashley. “Maukah kau menjadi target pembunuhan sempurnaku?” Suaranya terdengar rendah dan menusuk, tetapi itu tak cukup untuk membuat seorang Ashley Kim bergetar ketakutan.

            “Kill me if you can.

            Keheningan yang sempat tercipta pun akhirnya mencair dengan suara denting bel yang terdengar nyaring menggema di setiap sudut ruangan. Sehun langsung beranjak dari ruang makan menuju pintu apartemennya.

            “Aku menagih jatah kopi—” Suara lantang Chanyeol seketika menghilang tak bersisa ketika mata pria itu mendapati seorang wanita yang tengah duduk di kursi ruang makan tidak jauh dari jangkauannya tak lain dan tak bukan adalah wanita yang selama ini selalu ada di dalam semua fantasi liarnya. Mengisi mimpi-mimpi erotisnya pada malam-malam tertentu. Ashley Kim. “Bagaimana….” bisik Chanyeol pelan dan tergagap sambil terus berusaha menormalkan detak jantungnya yang tak karuan. Pria itu meminta penjelasan dari Sehun atas apa yang sedang dilihatnya.

            “Good morning. Sehun’s bestfriend?” sapa Ashley dengan ramah. Wanita itu berjalan mendekat kearah Sehun dan Chanyeol yang tampak masih enggan meninggalkan pintu apartemen.

            “Could you put something on, please, Miss Kim?” desis Sehun tanpa menoleh kearah Ashley. Pria itu terlalu menikmati bagaimana wajah bodoh Chanyeol terlihat semakin bodoh dengan matanya yang membulat penuh, telinga lebarnya yang memerah, rahangnya yang jatuh beberapa senti, dan Sehun berani bertaruh jika sebentar lagi akan ada air liur di sudut bibirnya.

            “Why? Both of you feeling exposed?” ujar Ashley seduktif sambil menyentuh lengan Sehun dengan lembut dan hati-hati. Sedangkan Chanyeol yang berdiri dihadapan mereka hampir saja kehabisan pasokan oksigen di dalam paru-parunya.

            “I don’t think Chanyeol knows where to look.”

            Ashley hanya tergelak menanggapi ucapan Sehun sebelum akhirnya ia berbalik dan mengambil sebuah kain yang tersampir di sofa kemudian melilitkannya, menutupi paha semulus porselen yang sedari tadi terekspos jelas dan sukses membuat Chanyeol tak mampu berkedip.

-oOo-

            “Kau berhutang penjelasan kepadaku, Oh Sehun,” desak Chanyeol kepada Sehun ketika mereka baru saja masuk ke dalam Audy hitam milik Chanyeol untuk berangkat kerja bersama.

            “Dia merasa sedang di kuntit oleh seseorang dan menurutnya apartemenku adalah tempat teraman baginya saat ini. Ku rasa itu hanya akal-akalannya untuk mengambil kembali microchips itu dari tanganku.” Sehun yang sama sekali tak berminat membahas hal itu pun hanya menjelaskan secara singkat kepada Chanyeol.

            “Ashley Kim menggunakan pakaian seperti itu dihadapanmu. Kau yakin hanya sebatas itu? Tidak ada hal lain yang terjadi?”

            Sehun hanya bisa menahan tawanya mendengar pertanyaan Chanyeol. Andai saja pria itu tahu bahwa tempo hari Ashley berpakaian jauh lebih parah daripada ini dihadapannya, sampai-sampai Sehun harus berpikir ulang untuk menyebutnya berpakaian.

            “Mungkin kau berpikir kami telah melakukan sesuatu yang mungkin akan kau lakukan tanpa pikir panjang jika berada di posisiku. Tetapi ku ingatkan sekali lagi bahwa pemikiran kita mengenai wanita dan cinta itu berbeda. Sangat.”

            “Oh Sehun yang ku kenal adalah orang yang tidak akan membiarkan orang asing masuk ke dalam apartemennya apalagi sampai menginap.”

            “Ini adalah strategi. Oh ayolah, Chanyeol! Sekali-kali kau juga harus menggunakan otakmu itu untuk berpikir, bukan hanya untuk membayangkan tubuh telanjang seorang wanita.”

            “Jadi, kau membiarkannya tinggal bersamamu untuk beberapa waktu kedepan agar kau bisa mendapatkan kode microchips itu?”

            “Exactly. Aku harus menemukan keteledorannya seperti yang tempo hari ku lakukan.”

            Chanyeol pun menghidupkan mesin mobilnya dan melaju dengan cepat, membelah jalanan Kota Seoul yang masih tampak lengang pagi ini.

            “Huh! Aku sedikit kesal dengan Presiden Kim. Mengapa diantara ratusan agen NIS yang ada, dia hanya memilihmu?” Chanyeol menambah kecepatan mobilnya dan hal itu hanya di tanggapi biasa saja oleh Sehun yang mengenal betul sifat pembalap ulung yang ada di dalam diri sahabatnya. “Apa hanya karena kau tampan? Padahal menurutku masih banyak yang lebih tampan darimu, contohnya Park Chanyeol.”

            “Mungkin Presiden Kim memilih orang yang tak hanya tampan tetapi juga harus memiliki otak,” ujar Sehun tanpa bersusah payah menyembunyikan nada mengejek di dalam ucapannya.

            “Mengapa harus ada seorang kriminal semenakjubkan Ashley Kim? Menatap matanya yang setenang samudera membuatku semakin menyadari bahwa wanita itu tampak seperti laut lepas di Samudera Atlantik. Liar, cantik, dan bebas. Tenang tetapi sewaktu-waktu bisa melahapmu hingga tak bersisa, tanpa di sadari kau terlarut dan bergulung di dalam gelombangnya yang indah,” ujar Chanyeol dengan mata yang menerawang jauh menembus kaca mobil, menatap semburat matahari pagi berwarna kekuningan di langit yang tampak hangat.

            Ya. Benar. Ashley adalah Samudera Atlantik dengan segala misteri kelam yang mengelilinginya.

            Namun, bagaimana jika Oh Sehun adalah Segitiga Bermuda dengan daya tarik luar biasa yang mampu membuat sebuah Samudera berputar, berpusat, dan pada akhirnya terperangkap selamanya?

            Who’s the winner?

-oOo-

 

48 responses to “[FREELANCE] THE ROYAL SCANDAL

  1. Huahhhh panjang sekali tp like this….ini bru chap 1 y khan…bakalan ada lanjutan y khan..penasaran nanti gmn hub sehun-ashley…bakalan suka g ma dia??trzz ashley tw sehun drmn…

  2. Ini kerenn abissss ceritanyaaa wow bngttt. Aa lanjutannya kan kak? Ashley kim dan sehun diluar perkiraan bngtt parahh. Lanjutt kakk

  3. Wah daebak…
    Karakter Ashley Kim keren, Sehun juga keren banget. Seneng baca.a, serasa kaya drama.
    Kalo bisa dilanjut y ka, keep writing and fighting!
    Trimakasih:-)

  4. Wah daebak …
    Cerita.a keren, suka sama karakter Ashley Kim apalagi Sehun. Chanyeol pikiran.a kotor mulu kalo nyangkut Ashley…
    Kalo bisa dilanjut y ka, keep writing n fighting!
    Trimakasih:-)

  5. Cerita.a keren, serasa kaya drama. Suka sama karakter Ashley Kim yg ga cuma cantik tpi juga cerdas. Sehun apalagi, keren banget kamu hun…
    Ketawa buat Chanyeol yg pikiran.a kotor mulu kalo nyangkut Ashley…
    Daebak pokok.a …
    Kalo bisa dilanjut y ka, bikin pnasaran pdhal baru chap.1 tapi udah antusias bnget…
    Keep writing n fighting ka!
    Trimakasih:-)

  6. Aaaaa… gue kira ini yang chapter 4, pas dicek ulang beda blog post nyaa…
    Btw, ditunggu yang chap 4 diblig sebelah😄

  7. Wah …. daebak…
    Cerita.a keren, suka sama sama karakter Ashley Kim yang ga cuma cantik, tpi juga smart. Sehun apalagi, keren banget….
    Serasa kaya drama ff.u ka…
    Kalo bisa dilanjut ya ka, ku tunggu kelanjutan.a ….
    Keep writing and fighting!
    Thank you:)

  8. Wah,,,,daebak…
    Cerita.a keren, suka sama karakter Ashley Kim yg ga cuma cantik, tpi juga smart.
    Serasa kaya drama ka ff ini …
    Udah sampe chapter 3 trnyata, tambah semangat baca.a …
    Keep writing and fighting ka!
    Thank you:)

  9. wow aku suka critanya,, tapi aku gak suka sama si ashley itu,, yah aku suka tipe cewek yg krakternya tegas tpi sbnarx lemah yah kyak cheonsa gitu..di tunggu klanjutannya yah,jgn ngegantung kyak gitu plisss

  10. Lagi libur, cari bacaan, dapetnya ini, syukur ga ngecewain😀

    aku suka penggambaran karakter Sehun dan OC, konsisten, sama-sama bertahan dengan karakter masing-masing sampai akhir… Btw, ini ada lanjutannya kah? Moga aja pas next, aku lagi ga sibuk^^

    semangat berkarya ya…!!!

    Regards,

    Sehun’Bee

  11. suka nih ceritanya ada yg bikin penasaran nya.. ga abal2, bagus tulisannya.. semoga kesananya bisa kasih cerita yg ga gampang ditebak .. keep writing! fighting !!🙂

  12. Yuhuuuuuuuu, benar-benar terinspirasi dari Sherlock Holmes tapi endingnya Sherlock Holmes, si Holmes nggak berhasil ngedapetin apa yang ia tugasin tapi dia bisa jatuh cinta sama tuh cewek, lupa namanya tapi yang ini masih nggantung……… Suka banget cerita ini, fyi aja, ya. Aku penggemar cerita detektif terutama Sherlock Holmes jadinya aku excited banget sama nih ff. Haduhhhh, keep writing, ya

  13. Pingback: [Freelance] THE ROYAL SCANDAL (Part 3) | SAY KOREAN FANFICTION·

  14. Pingback: [Freelance] THE ROYAL SCANDAL (Part 2) | SAY KOREAN FANFICTION·

  15. Pingback: [FREELANCE] THE ROYAL SCANDAL (Part 4) | SAY KOREAN FANFICTION·

  16. Huaaaaa gilak keren banget tarik napas…. keluar WAAAAAA aku suka banget!!!! Apalagi yg nakal nakal(?) Wkwk
    Ngga, tp serius deskripsinya bagus
    Apalagi genrenya favorite aku. Untuk nulis genre ini susah banget loh
    Ditunggu kelanjutannya ya
    Fighting and thank you

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s