[FREELANCE] Mate ? #1

FREELANCE-Mate#1-Nathan Jung_poster

Title : Mate ? #1
Author/twitter : Nathan Jung ( twitter : @niaEW )
Cast : Jeon Wonwoo  (SEVENTEEN), Shin Hani (OC)
Genre: romance, AU
Rating : PG-16
Length : Twoshoot
Disclaimer: 100% keluar dari otak imajinasi saya :v

Summary:

Jika kita bertemu ditempat ini, detik ini juga. Maka kita berjodoh. – Wonwoo –

—//—

“Hani-ssi , kau diminta menyerahkan laporan rapat hari ini ke Direktur Jeon.” Ucap Sohee, rekan kerja gadis yang baru saja menutup teleponnya.

“Eoh, terimakasih.” Ucap Hani, lalu menarikan jari-jarinya di keyboard komputer di depannya.

‘Semangat Hani! Cepat selesai cepat pulang!!’ batin Hani.

Disisi lain, seorang pemuda tampan tengah memandangi seorang gadis yang sedang serius dengan layar komputer di depannya tersenyum tipis sambil melonggarkan dasi yang melilit lehernya.

“Sampai kapan kau akan mengingatku, Shin Hani.” Gumam Wonwoo sambil tersenyum miris.

—//—

“Haaahh” Hani meregangkan tubuhnya yang pegal setelah menyelesaikan laporannya. Kemudian melangkahkan kakinya keruangan bertuliskan ‘CEO J.WW’

TOK TOK

“Masuklah” terdengar suara berat dari dalam sana. Hani segera melangkahkan kakinya dan meletakan hasil pekerjaannya di depan atasannya itu. Wonwoo tidak menyianyiakan kesempatan untuk menatap setiap inci wajah cantik Hani dari dekat serta feromon memabukan yang keluar dari tubuh gadis itu yang membuat Wonwoo kecanduan.

“Saya per-“

“Duduklah. Jangan pergi sebelum saya menyelesaikan membaca laporan ini.” Potong Wonwoo sambil menatap lekat Hani. Hani mengusap lehernya dan mendudukan dirinya.

Hani membenci suasana ini. Bagaimana tidak? Suasana disini sangat canggung. Hanya ada suara gesekan kertas yang dibolak-balik, terlebih lagi mereka hanya berdua di ruangan ini. Bahkan Hani lupa bernafas saat melihat rambut acak-acakan Wonwoo serta gerakan pria itu saat melepas dasinya dan membuka 2 kancing kemeja teratasnya. ‘Bagaimana aku bisa tahan dengan suasana ini?’ batin Hani sambil menggigit bibir bawahnya. Wonwoo tersenyum saat melihat melihat tingkah lugu Hani dan seketika badannya menegang saat matanya menangkap gerakan Hani yang sedang menggigit bibirnya. Demi apa pun Wonwoo harus menahan keinginannya untuk menggantikan menggigit bibir merah Hani. ‘Jeon Wonwoo apa yang kau pikirkan?! Sadarlah!!’ batin Wonwoo sambil menutup mata dan menggelengkan kepalanya.

Hani mengernyitkan dahinya saat melihat tingkah laki-laki di depannya.

“Apakah ada bagian yang salah sajangnim?” tanya Hani.

“A-Apa? Tidak. Ah mungkin belum. Aku belum membaca semuanya.” Ucap Wonwoo gugup dan tersenyum kaku. Ia mencoba memfokuskan dirinya pada kertas dihadapannya, namun usahanya sia-sia. Ia tidak bisa melepas pandangannya dari gadis cantik di depannya.

Hani mengetuk-ngetukan kedua jari telunjuknya ke pahanya untuk mengurangi kebosanannya. Sudah 2 jam lebih atasannya belum selesai membaca hasil pekerjaannya. Padahal harapannya setelah menyerahkan laporan itu, ia ingin segera pulang dan tidur. Tapi sekarang dia harus terjebak di ruangan yang luas ini hanya berdua dengan atasannya yang err… tampan menurut Hani.

Wonwoo menganggukan kepalanya saat hampir selesai membaca hasil kerja Hani.

“Hanya ada beberapa bagian yang belum dicantumkan. Perbaiki dan serahkan besok.” Perintah Wonwoo. Demi apa pun baru saja Hani bernafas lega akan segera pulang namun harus mendengus kesal saat diberi beban lagi. Sial Direkturnya ini sangat teliti. Dan tidak perlu untuk memutar otak untuk mengingat bagian yang belum dicantumkan.

‘ini gara-gara ingin cepat pulang. Hani Bodoh!!’ gerutunya dalam hati sambil meremas bawah roknya untuk meredam kekesalannya.

“Shin Hani?” panggil Wonwoo

“Ah ya? Baik Jeon Sajangnim. Maaf atas kelalaian saya.” Ucap Hani sambil membungkukan badannya.

“Ayo saya antarkan pulang.” ucap Wonwoo lalu mengambil kunci mobilnya. Hani membulatkan matanya dan reflek menggerakan tangannya tanda tidak usah.

“Tidak perlu sajangnim. Aku bisa pulang sendiri.” Ucap Hani. Wonwoo melirik jamnya dan mengeluarkan smirknya.

“Pulang dengan apa? Kau tahu kan jam 9 kendaraan umum sudah tidak beroperasi?” ucap Wonwoo sambil tersenyum miring. Ia bersorak gembira  dalam hati atas rencana untuk mengulur waktunya bersama Hani berhasil, meskipun waktu 2 jam untuknya masih sangat kurang untuk bersama gadis itu.

Hani mencelos saat mendengar ucapan atasannya yang benar adanya. Rasanya saat ini ia menjadi orang terbodoh yang baru menyadari bahwa maksimal kendaraan umum beroperasi adalah jam 7 malam.

“Kamu diam saja berarti menerima ajakan saya.” Ucap Wonwoo lalu menarik tangan Hani ke parkiran.

—//—

Hani terkesiap saat ia sudah sampai di depan gedung appartemennya. Menyadari hal itu Wonwoo tersenyum tipis.

“Aku mengetahuinya dari data karyawan.” Ucap Wonwoo berkamuflase agar Hani tidak curiga jika selama ini ia diam-diam selalu mengikuti gadis itu.

“Terimakasih sajangnim. Maaf merepotkan Anda. Sekali lagi terimakasih.” Ucap Hani sambil membungkukan badannya lalu keluar dari mobil Wonwoo.

“Hati-hati dijalan.” Ucap Hani sambil mengeluarkan senyumannya yang membuat tubuh Wonwoo panas dingin seketika dan menganggukan kepalanya dengan kaku, lalu menjalankan mobilnya. Di dalam mobil ia tersenyum-senyum sendiri saat Hani mengeluarkan senyumannya beberapa saat lalu.

“Kau harus menjadi milikku Shin Hani. Aku sudah tidak tahan menunggumu selama 5 tahun.”

Flashback

20 Juli  2011, 15.00 KST

“Wonwoo-ya, kau bisakan menjemput adikmu? Pak Han tidak bisa menjemput Bohyuk karena anaknya tiba-tiba sakit. Tolong ya Wonwoo.”

Wonwoo yang baru saja menyelesaikan jadwal kuliahnya segera melajukan mobilnya ke Hannyoung SHS, sekolah adiknya- Jeon Bohyuk setelah menerima pesan dari Ibunya yang mengatakan bahwa supir yang biasa mejemput adiknya tidak bisa menjemput.

Sesaat setelah memarkirkan mobilnya. Wonwoo berniat ingin tidur sebentar. Namun, penglihatannya menangkap adiknya yang sedang bercanda dengan seorang gadis yang demi apa pun menjadi gadis tercantik selama 20 tahun hidupnya yang pernah ia lihat. Terlebih lagi senyuman lebar gadis itu yang membuat jantung Wonwoo berdegub kencang dan darahnya yang berdesir hebat.

“Hyung?” panggil Bohyuk yang seketika membuat pandangan Wonwoo teralihkan menatap adiknya yang sudah duduk disampingnya.

“Kapan kau sudah disini?” tanya Wonwoo dengan suara bergetar untuk menahan deguban jantungnya. Bohyuk mengernyitkan dahinya karena suara kakaknya yang biasanya tegas menjadi bergetar serta wajahnya yang memerah.

“Barusaja. Kau tidak apa-apa kan, hyung? Wajahmu memerah.” Kekeh Bohyuk yang mendapat jitakan dari Wonwoo.

“Siapa gadis yang bersamamu tadi?” tanya Wonwoo sambil melajukan mobilnya.

“Hani, Shin Hani. Anak kelas 1.” Ucap Bohyuk sambil memainkan ponselnya. Wonwoo tersenyum simpul saat mengetahui dirinya dengan gadis itu berbeda 4 tahun.

“Bagaimana kau bisa kenal dengannya?” tanya Wonwoo

“Dia adik kelas yang kubimbing saat masa orientasi. Dia sering kuhukum karena terlalu banyak bicara saat sesi. Tapi dia gadis yang hangat dan menyenangkan.” Ucap Bohyuk sambil terkekeh saat mengingat dirinya menjadi eksekutor yang bertugas menghukum siswa yang bermasalah. Wonwoo tersenyum simpul mendengar penjelasan adiknya.

“Mengapa kau begitu dekat dengannya? Padahal dia hanya adik kelasmu kan?” tanya Wonwoo. Bohyuk menatap tajam ke arah kakaknya karena memecah konsentrasinya saat bermain game.

“Bisakah kau berhenti bertanya?! Kau menyebabkan aku kalah!!” geram Bohyuk dengan suara yang meninggi.

“Jawab saja!” jawab Wonwoo tak kalah tinggi. Bohyuk mendengus kasar.

“Aku menyukai temannya.” Jawab Bohyuk asal

“Jadi kau memanfaatkannya?” tanya Wonwoo sarkastik

“Bukan begitu. Aku lebih sering bercanda dengannya dari pada membahas temannya yang kusukai itu. Aiiisshhh.. sudahlah lupakan.” Gerutu Bohyuk sambil memejamkan matanya mencoba untuk tidur. Wonwoo tersenyum lebar dan merasakan kelegaan dalam hatinya karena ia masih ada kesempatan untuk mendapatkan gadis manis itu.

—//—

18 Agustus 2012

Tidak terasa sudah 1 tahun Wonwoo menguntit gadis bermarga Shin itu. Bahkan gadis tercantik di kampusnya pun ia tolak karena menurutnya jika dibandingkan dengan Hani, gadis itu tidak ada apa-apanya. Jadi anggaplah Wonwoo sudah terjerumus sangat dalam oleh pesona Hani.

“Hyung, selama ini aku salah.” Ucap Bohyuk memecah keheningan di dalam mobil. Wonwoo menatap sekilas wajah adiknya yang berbeda dari biasanya.

“Salah apanya?” tanya Wonwoo sambil menatap jalanan di depannya.

“Selama ini aku tidak menyukai temannya Hani. Tapi… Aku menyukai Hani.” Ucap Bohyuk yang seketika menjadi bom atom yang menghancurkan tubuh Wonwoo. Ketakutan yang selama ini ia takutkan menjadi kenyataan. Ia pernah beranggapan bahwa adiknya juga menyukai Hani, karena adiknya itu selalu menceritakan tentang Hani dengan wajah berseri-seri serta menambah kadar menyukai Wonwoo menjadi mencintai gadis itu. Ya, Wonwoo mencintai Hani. Tapi anggapannya tentang adiknya yang menyukai Hani-nya selalu ia tepis.

“Aku berniat untuk menyatakan perasaanku akhir pekan ini. Tapi aku sangat gugup, hyung. Aku takut ia akan menolakku seperti ia menolak siswa tertampan di sekolah, Moonbin.” Ucap Bohyuk sambil menengadahkan pandangannya ke langit terkesan menerawang. Wonwoo tersenyum miris.

“Semoga berhasil Jeon Bohyuk.” Hanya itu yang bisa dikatakan Wonwoo. Lidahnya mendadak kelu. Apakah ini akhir dari kisah cintanya dengan menyerahkan gadis yang ia cintai ke pelukan adiknya sendiri? Wonwoo tersenyum miris saat memikirkan kata-kata itu.

Setelah menurunkan adiknya di rumah, ia segera melajukan mobilnya kerumah Hani. Biasanya gadis itu akan menyiram tanaman di depan rumahnya saat sore hari seperti ini.

“Ijinkan aku untuk melihatmu untuk terakhir kalinya sebelum kau menjadi milik Bohyuk.” Gumam Wonwoo sambil terus menatap lekat Hani yang sedang menyiram tanaman dari balik kaca mobilnya.

“Apakah aku sanggup melepaskanmu Shin Hani?” gumam Wonwoo sambil menenggelamkan kepalanya ke setir dan tak terasa cairan bening keluar dari pelupuk matanya, menggambarkan betapa begitu menyedihkannya dirinya.

—//—

20 Agustus 2012

Akhir pekan telah tiba. Hari paling menakutkan bagi seorang Jeon Wonwoo. Senyumnya semakin menyedihkan saat memberi semangat pada adiknya yang sudah menghabiskan waktu 2 jam untuk berpakaian. Wonwoo menatap miris kepergian adiknya. Ia menolak kuat keinginannya untuk mengikuti adiknya. Namun pada akhirnya ia segera mengambil kunci mobilnya dan segera mengikuti mobil Bohyuk.

“Biarkan aku melihatnya untuk terakhir kalinya sebelum dia menjadi milikmu Bohyuk.” Gumam Wonwoo sambil mempercepat laju mobilnya untuk mengikuti mobil Bohyuk.

Anggaplah Wonwoo sebagai penguntit saat ini. Ia melihat Bohyuk memberikan sebuket bunga pada Hani yang tampil sangat cantik hari ini. Kaos oblong dengan bawahan rok jeans selututnya serta rambut hitam gadis itu yang ia biarkan tergerai begitu saja jatuh melewati bahunya. Wonwoo sudah tidak kuat melihat pemandangan itu. Tak terasa air matanya jatuh mengalir melewati kedua pipinya. Ia menyenderkan tubuhnya pada batang pohon di belakangnya sambil memegang dadanya.

“Ini sangat menyakitkan Hani-ya.” Gumam Wonwoo dengan air matanya yang tidak bisa berhenti mengalir. Demi apa pun ini terlalu menyakitkan.

—//—

2 November 2012

Mingyu menatap miris sahabatnya yang saat ini lebih mirip disebut mayat hidup. Tubuhnya yang semakin kurus, wajah pucat serta kantung mata hitamnya. Namun laki-laki itu tetap tampan. Mingyu sempat iri melihatnya.

“Kau tahu, kau seperti orang mati.” Ucap Mingyu menatap Wonwoo yang duduk disebelahnya. Wonwoo tersenyum miring.

“Aku mati tanpanya.” Ucap Wonwoo lalu tersenyum miris setelahnya. Mingyu mendenguskan nafasnya kasar.

“Buka matamu Jeon Wonwoo! Masih banyak gadis-gadis cantik yang mengantri untuk menjadi kekasihmu!! Aku juga tidak habis pikir denganmu yang dengan mudahnya menolak Yoo Bona gadis tercantik di kampus ini sebanyak 5 kali. Kau gila? Apa otakmu masih berfungsi?” ketus Mingyu berapi-api sambil menatap Wonwoo tajam. Wonwoo hanya memasang wajah datarnya saat mendengar ucapan pedas Mingyu.

“Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa melupakannya?” tanya Wonwoo menatap lekat mata Mingyu. Mingyu mengetukan jari kedagunya lalu menyeringai setelahnya.

“Malam ini temui aku di Ellui.” Ucap Mingyu

-/-

Wonwoo mendecih saat ia sudah berdiri di depan sebuah club malam. Selama hidupnya ia baru sekali menginjakan kaki ditempat ini.

“Sudah datang rupanya. Ayo ikuti aku.” Ajak Mingyu sambil merangkul pundak Wonwoo. Saat Wonwoo memasuki ruangan berisik dan remang-remang itu tatapan nakal wanita penggoda di club ini menghujaninya. Wonwoo merasa tidak nyaman dengan tatapan itu. Ia lebih nyaman dengan tatapan teduh Hani saat tidak sengaja mata mereka bertemu beberapakali. Wonwoo memijat pelipisnya karena memikirkan gadis itu lagi. Sesaat kemudian ia merasakan ada sebuah tangan yang menggelayut manja di lehernya.

“Hai Tampan” ucap wanita penggoda dengan pakaian kurang bahannya sambil menggelayutkan lengannya dengan manja ke leher Wonwoo. Wonwoo menatap tajam wanita itu yang membuat nyali wanita itu sedikit menciut. Wanita itu menyeringai dan mendekatkan wajahnya kewajah Wonwoo untuk mencium bibirnya, namun Wonwoo segera mendorong tubuh wanita itu hingga terjatuh di lantai saat bayangan Hani tiba-tiba melintas di pikirannya. Ia melangkahkan kakinya dengan lebar menuju parkiran mobilnya dan menghiraukan umpatan wanita penggoda itu.

Setelah sampai di mobilnya ia segera melajukan mobilnya dengan cepat menuju ke rumah. Ia benar-benar butuh istirahat sekarang.

-/-

“Hyung, akhirnya kau pulang.” ucap Bohyuk saat berpapasan dengan kakaknya di tangga. Wonwoo melangkah dengan cepat menuju kamarnya menghiraukan ucapan adiknya itu. Bohyuk menatap kakaknya yang semakin aneh selama 2 minggu ini. Biasanya kakaknya itu bersemangat untuk menjemputnya ke sekolah, namun sekarang kakaknya mengeluarkan 1001 alasan untuk menolak.

“Huh … padahal aku ingin cerita.” Bohyuk menghela nafasnya lalu berjalan dengan gontai ke arah kamarnya.

—//—

9 November 2012

Seminggu setelah insiden di club itu malah membuat Wonwoo semakin dingin, datar dan tajam. Mingyu pun merasa bersalah karena memberikan saran yang sama sekali tidak berguna. Beruntung Wonwoo mau memaafkannya. Wonwoo bersumpah tidak akan pergi ke tempat seperti itu lagi.

Saat ini ia tengah duduk di sebuah cafe di dekat sekolah adiknya, ditemani sebuah cheese cake dan cappucino dengan uap panas yang masih mengepul. Ia tidak tahu mengapa ia bisa berada disini, ia mengikuti kata hatinya.

‘Jika kita bertemu ditempat ini, detik ini juga. Maka kita berjodoh.’ Batin Wonwoo. Lalu setelahnya ia tersenyum meremehkan dirinya sendiri pada apa yang tidak akan mungkin terjadi.

Namun ia salah

Matanya menangkap Hani yang sedang menggenggam ponselnya dengan wajah cemberutnya yang manis. Jantung Wonwoo berdegub kencang disertai badannya yang memanas seketika saat menatap gadis yang sudah entah berapa hari lamanya tidak ia lihat secara langsung ( karena biasanya Wonwoo melihat foto Hani lewat ponselnya).

“APA KAU BILANG? TIDAK JADI?! YAK AKU SUDAH HAMPIR MATI KEBOSANAN MENUNGGUMU DISINI!! KAU TAHU AKU SUDAH MENGHABISKAN 2 GELAS VANILLA ICE DISINI DAN KAU BILANG TIDAK BISA KARENA TUGASNYA DIUNDUR?! SETIDAKNYA KITA MENGERJAKKANNYA SEDIKIT AGAR TIDAK TERTUMPUK DENGAN TUGAS YANG LAIN HWANHEE!!!” bentak Hani dengan suara yang cukup keras karena kekesalannya pada Hwanhee teman sekelompoknya yang tiba-tiba membatalkan janjinya. Wonwoo terkekeh saat melihat wajah kesal Hani yang sangat manis. Gadis itu beranjak dari tempat duduknya. Wonwoo menatap lekat pergerakan gadis itu yang berakhir sampai di kasir.

Wonwoo melihat reaksi kebingungan gadis itu saat mencari sesuatu.

“Aduh bagaimana ya? Maaf  aku tidak membawa uang. Dompetku tertinggal di loker.” Ucap Hani dengan wajah memelasnya.

“Bagaimana pun kau harus membayar nona.” Ucap penjaga kasir itu dengan ketus. Hani menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena kebingungan.

“Gabung saja dengan tagihanku. Aku duduk tepat di depan sini.” Tunjuk Wonwoo pada meja tepat di depan kasir. Ia tidak sengaja mendengar percakapan Hani tadi dan segera mengeluarkan tindakan nekatnya untuk mendekati Hani. Wonwoo terkekeh geli saat melihat wajah kebingungan Hani. Saat akan menarik pintu keluar, Wonwoo merasakan lengannya ditahan.

“Ehm… terimakasih tuan karena sudah membayar makananmu. Aku tidak tahu dengan cara apa membalas kebaikanmu. Lain kali saat kita bertemu kembali, aku janji akan mentraktirmu.” Ucap Hani dengan senyuman yang sangat Wonwoo rindukan.

“Akan aku pastikan kita bertemu lagi.” Ucap Wonwoo penuh keyakinan sambil menatap kedua bola mata jernih Hani yang berefek pada jantungnya yang berdetak cepat saat matanya bertatapan secara langsung dengan mata indah Hani.

Hani tersenyum lebar, lalu mengeluarkan ponselnya dan melepas gantungan ponselnya yang berbentuk kuda kemudian memberikannya pada Wonwoo. Wonwoo menatap gantungan ponsel Hani ditangannya.

“Anggap saja itu sebagai ucapan terimakasihku. Itu adalah gantungan ponsel kesayanganku.” Ucap Hani sambil memamerkan senyum manisnya. Wonwoo tersenyum simpul yang membuat Hani menundukan kepalanya karena malu kemudian melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

“Aku harus kembali ke sekolah. Sampai jumpa Tuan Keajaiban.” Ucap Hani sambil tersenyum malu-malu lalu berlari menuju sekolahnya. Wonwoo menatap kepergian Hani dengan senyum yang mengembang. Ia tidak pernah merasakan hatinya begitu bergejolak dan sengatan listrik bervoltasi rendah saat tangan mereka bersentuhan. Wonwoo akan menandai hari ini sebagai hari paling bersejarah untuknya yang tak akan terlupakan sampai kapan pun.

“Tuan Keajaiban.” Gumam Wonwoo sambil terkekeh saat mengingat kata-kata Hani

-/-

Sesampainya di rumah Wonwoo tidak bisa berhenti untuk tersenyum. Bohyuk yang melihat kakaknya yang senyum-senyum sendiri mengernyitkan dahinya bingung lalu tersenyum setelahnya saat melihat kakaknya sudah kembali seperti dulu lagi. Bohyuk mengikuti Wonwoo sampai ke kamarnya.

Wonwoo merasakan bahunya ditepuk. Wonwoo menyunggingkan senyum simpul saat melihat adiknya yang menepuk bahunya. Lalu Wonwoo terkesiap saat Bohyuk memeluknya.

“Aku senang hyung sudah berubah. Jujur saja aku sedih melihatmu beberapa waktu lalu. Hyung seperti monster.” Ucap Bohyuk sambil mengeratkan pelukannya dibahu kakaknya. Wonwoo tersenyum, lalu menepuk punggung adiknya.

“Maafkan aku hm?” ucap Wonwoo. Bohyuk melepaskan pelukannya.

“Aku ingin bercerita sesuatu, hyung.” Ucap Bohyuk. Wonwoo menyandarkan tubuhnya di ambang pintu kamarnya sambil menatap adiknya.

“Apa?”tanya Wonwoo sambil menyilangkan tangannya di depan dada.

“Aisshh hyung tetap saja dingin. Bisakah kita bicara di dalam?” tanya Bohyuk yang ditanggapi anggukan Wonwoo dan segera membuka pintu kamarnya.

Bohyuk memposisikan dirinya duduk di tepi ranjang Wonwoo, sedangkan Wonwoo duduk di kursi meja belajarnya.

“Sebenarnya aku ingin bercerita ini sejak lama. Tapi melihat perubahan sikapmu yang menakutkan aku jadi enggan bercerita dan aku tahan sampai sekarang.” Ucap Bohyuk sambil menerawang kedepan. Wonwoo penasaran mendengarkan kelanjutan cerita adiknya itu.

“Hyung masih ingat peristiwa pengakuan perasaanku beberapa minggu yang lalu?” tanya Bohyuk yang ditanggapi anggukan Wonwoo.

‘ingat Bohyuk. Bahkan aku sangat mengingatnya.’ Batin Wonwoo menahan senyum mirisnya.

“Aku ditolak Hani.” Ucap Bohyuk membuat Wonwoo membulatkan matanya. Seketika ia merasakan hatinya yang penuh kelegaan. Ia tidak tahu harus senang tau sedih mendengar berita ini. biarkan Wonwoo menjadi kakak yang jahat saat ini karena senang dengan berita bahwa gadisnya menolak adiknya.

“Apa alasannya menolakmu?” tanya Wonwoo dengan intonasi dibuat sedatar mungkin untuk menutupi kebahagiannya. Bohyuk tersenyum miris.

“Dia lebih nyaman menganggapku sebagai kakaknya.” Ucap Bohyuk lalu menundukan kepalanya. Wonwoo menepuk pundak adiknya untuk memberikan kekuatan.

“Masih banyak gadis-gadis yang mau menjadi pacarmu Bohyuk-ah.” Ucap Wonwoo sambil mengacak rambut adiknya.

“Yak Hyung!! Rambutku rusak!!” bentak Bohyuk yang ditanggapi kekehan Wonwoo.

“Awalnya aku sedih. Sangat sedih. Namun lama kelamaan ucapan Hani ada benarnya. Aku juga lebih nyaman menganggapnya sebagai adik, mengingat aku sangat menginginkan adik perempuan.” Kekeh Bohyuk. Wonwoo juga tersenyum saat melihat adiknya.  

‘Kali ini aku tidak akan melepaskanmu Shin Hani.’ Batin Wonwoo sambil mengepalkan tangannya.

—//—

21 Januari 2016

Tidak terasa 5 tahun sudah Wonwoo mengagumi Hani dari kejauhan. Selama itu juga Wonwoo tidak pernah berkencan dengan wanita mana pun. Ibunya sempat khawatir dengan usia Wonwoo yang telah mencapai 26 tahun tidak mempunyai kekasihnya. Bahkan ibunya sudah beberapa kali mengadakan kencan buta untuk putranya itu. Namun hasilnya nihil. Gadis itu akan berakhir dengan menangis atau pun menampar Wonwoo karena kelakuan dingin dan ucapan tajamnya. Seperti saat ini. Wonwoo memandang gadis di depannya dengan sorot mata yang dingin. Gadis itu memang cukup cantik dengan dress yang memperlihatkan bahunya, serta wajahnya yang dipoles make up. Tapi Wonwoo merasa ada yang menganggu penglihatannya, tanda merah kebiruan di leher gadis itu. Wonwoo menyeringai.

“Ada apa oppa?” tanya gadis itu dengan aksen manja. Wonwoo mendecih.

“Sudah berapa ronde yang kau lewati semalam. Bekasnya masih jelas.” Ucap Wonwoo dengan pandangan meremehkan, lalu mengeluarkan ponselnya dan menempelkannya ke telinga.

“Ibu, apakah pantas gadis jalang seperti ini menjadi Nyonya Jeon? Aku tidak suka barang bekas.” Ucap Wonwoo ditelepon sambil memandang gadis didepannya remeh. Gadis didepannya mengepalkan tangannya dengan wajah memerah menahan malu. Kemudian gadis itu menyiram Wonwoo dengan minuman di depannya.

“Sialan kau Jeon Wonwoo!!” ucap gadis itu lalu pergi meninggalkan Wonwoo. Wonwoo tersenyum miring.

“Maafkan aku ibu. Gadis yang ibu pilihkan aku tolak lagi. Lagi pula aku sudah punya calon sendiri.” Ucap Wonwoo sambil tersenyum membayangkan Hani yang semakin dewasa kecantikannya semakin terpancar keluar.

“Astaga Jeon Wonwoo!!! Terserah padamu sajalah!!” geram ibunya sambil menutup sambungan teleponnya. Wonwoo memandang ponselnya datar, kemudian meninggalkan beberapa lembar uang dan berjalan keluar dari restoran itu. Saat menegakkan kepalanya matanya tidak sengaja menatap sosok Hani dari toko diseberang tempat ia berdiri. Untuk beberapa saat matanya bertemu dengan mata Hani, namun tidak berlangsung lama karena Hani ditarik oleh temannya untuk masuk lebih dalam menjelajahi toko itu. Wonwoo sempat kecewa karena tidak bisa memandangi gadis itu lebih lama. Dia sangat merindukan Hani.

Drrt… Drrt…

Wonwoo merogoh ponsel yang ada dalam saku celananya.

“Sajangnim, mahasiswi bernama Shin Hani dari Yonsei University sudah menyelesaikan skripsinya.” Ucap seketarisnya

“Segera berikan undangan interview kepadanya. Besok undang dia untuk interview.” Ucap Wonwoo.

‘Tinggal selangkah lagi dan aku akan mendapatkanmu Hani.’ Batin Wonwoo sambil menyunggingkan senyum kemenangan.

Flashback end

—//—

Hani memandang datar kakak dengan 2 anaknya itu di depan appartemennya sambil bersidekap dada.

“Tumben kau mengunjungiku ?” tanya Hani sambil menggiring kakaknya beserta kedua anaknya masuk ke appartemennya.

“Aku ingin minta tolong padamu.” Ucap Seokwon-kakak Hani

“Minta tolong apa?” tanya Hani. Ia merasakan ada hal yang tidak beres setelah ini.

“Aku titip Yujin dan Wooyoung untuk seminggu kedepan.” Ucapan Seokwon membuat Hani memuncratkan minumannya lalu memandang kakaknya dengan tatapan tidak percaya.

“APA? YAK KAU GILA?!” teriak Hani. Seokwon menutup matanya karena kaget akan teriakan adiknya itu.

“Kenapa tidak dititipkan ke rumah ibu dan ayah saja? Kau tahu kan aku tidak standby 24 jam disini terus. Aku harus bekerja kakakku sayang.” Ucap Hani memandang Seokwon tajam. Seokwon menghela nafas panjang.

“Begini adikku yang cantik. Rumah ibu dan ayah itu di Busan. Sedangkan kedua anakku ini sekolah di Seoul. Kau ingatkan mereka sedang tidak libur sekolah. Kalau tidak ada pekerjaan yang mengharuskan aku dan istriku ke Jeju aku tidak akan menitipkannya padamu.” Jelas Seokwon. Hani mendenguskan nafasnya kasar.

“Baiklah iya. Aku akan mengurus anak-anakmu itu. Lagi pula ada Yujin yang sudah berusia 15 tahun. Jadi aku yakin dia dapat mengurus adiknya selagi aku belum pulang kerja.” Ucap Hani sambil menatap gadis remaja didepannya sambil menyunggingkan senyumnya.

“Tenang saja imo(bibi), kami tidak akan merepotkanmu.” Ucap Yujin sambil tersenyum. Hani membalas senyumannya.

Aigoo keponakan bibi sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik.” Ucap Hani sambil mengacak rambut Yujin. Yujin mempoutkan bibirnya kesal. Wooyoung yang sedari tadi tidak tahu apa-apa hanya memandang Hani, Seokwon dan Yujin bergantian. Hani terkekeh geli melihat kepolosan keponakannya yang masih berusia 6 tahun itu lalu mencubit pipinya yang tembam karena gemas.

“YAK!! Kau apakan anakku eoh?!” heboh Seokwon sambil menepuk tangan Hani yang mencubit pipi anak laki-lakinya. Hani mengeluarkan cengirannya.

“Sudah. Aku pulang dulu ya. Terimaksih adikku yang paling cantik.” Ucap Seokwon lalu memeluk adiknya sekilas. Kemudian mengecup pipi kedua anaknya.

“Jaga diri kalian baik-baik sampai ayah dan ibu pulang ya anak-anak. Jangan repotkan Hani imo oke?” ucap Seokwon.

“Ya Ayah!!!” ucap Yujin dan Wooyoung serempak. Seokwon mengelus puncak kepala kedua anaknya.

“Hati-hati oppa!! Dan cepat kembali!!!” teriak Hani sambil melihat kakaknya yang berjalan menjauh. Kakaknya menolehkan kepalanya kebelakang sambil tersenyum dan mengeluarkan kedua jempolnya.

“Kita harus mulai dari mana?” ucap Hani sambil melihat kedua keponakannya.

—//—

Hani yang sedang memfokuskan pandangannya pada layar komputer didepannya tiba-tiba merasakan dingin ditangannya. Ia melihat sebuah botol minuman kemudian mendongak melihat si pemberi. Ia merasakan wajahnya memanas saat melihat Wonwoo tersenyum lalu meneguk minuman yang sama dengan yang ia berikan pada Hani kemudian berjalan menuju ruangannya.

“Ouuuuhhh… Kau beruntung sekali Hani-yaa. Uuhhh aku jadi iri rasanya aku ingin memanggil pacarku kesini.” Goda Sunmi teman kerjanya yang mejanya ada di sebelahnya sambil menyenggol lengan Hani.

“YAK!! Apa sih!” ucap Hani sambil membalas senggolan lengan Sunmi sambil menundukan wajahnya yang memerah. Disisi lain terdapat Sohee, Seokmin, Soonyoung dan Seungkwan yang menahan nafas melihat kejadian itu.

“Hani dengan Jeon sajangnim ada hubungan khusus. Ya atau tidak?” ucap Soonyoung

“Ya” jawab Sohee

“Tidak” jawab Seungkwan

“Ya” jawab Seokmin.

“Tidak” jawab Soonyoung

“10 ribu won. Call?” ucap Sohee sambil menunjuk keempat pemuda itu bergantian.

“Call!!” jawab keempat pemuda itu serempak.

—//—

Hani yang baru saja selesai memandikan Wooyoung harus dibuat kesal karena anak itu terus saja berlari hingga membuat kaki Hani beberapa kali terantuk kaki meja. Pemandangan itu membuat bocah berusia 6 tahun itu terkikik geli.

“YAK SHIN WOOYOUNG BERHENTI!!” teriak Hani lalu mengatur nafasnya.

‘Astaga ini baru hari ke-3 mereka disini. Masih ada 4 hari. Bisa-bisa aku mati berdiri. Sabar Shin Hani.’ Batin Hani sambil mengelus dadanya.

TING TONG

“Ya tunggu sebentar!!” teriak Hani sambil menggiring Wooyoung masuk ke kamar. Lalu berjalan membuka pintu.

Sajangnim?”

TBC

Nah loh ngapain Wonwoo ke appartement Hani?

Penasaran gak? :v

Di chap 2 bakalan lebih banyak moment sweet Wonwoo sama Hani wkwkwkwk… #promosi :v

Harusnya aku mau jadiin oneshoot, tapi… kepanjangan jadinya aku bagi 2 deh hehehehe…

Udah duluu ya curcolnya, sampe ketemu lagiii :*

2 responses to “[FREELANCE] Mate ? #1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s