[FREELANCE] 1898 & 1997

cover ff

1898 &  1997

©Aitasyi

Zhou Jie Qiong, Kim Min Gyu, Choi Seung Cheol, and other

Disclaimer to PLEDIS

Genre : Fantasy, slice of life, romance

Rating : Teenager

CHAPTER 1

.

THIS IS MY ORIGINAL STORYLINE. DON’T COPY!! And don’t share it without permission, ok?

.

1898 & 1997 (1)

            “Jieqong! Jieqiong! Cepat bangun nak!” suara ibu menggema di ruangan 3 x 4 meter itu. Tidak biasanya ibu seperti ini. Biasanya beliau membangunkan anak semata wayangnya dengan lembut, bahkan jika putrinya tak kunjung bangun, dipancingnya dengan segelas teh hangat yang dibuat dengan penuh kasih sayang. Aroma teh yang menusuk hidung biasanya mampu membuat kedua mata jieqiong terbuka lebar.

            “Hmmm… ada apa ibu?” Sebenarnya, gadis berhidung runcing itu malas sekali menanggapi siapapun yang mengganggu tidur rutinnya. Tetapi, suara ibunya yang terdengar panik membuat dirinya harus undur diri dari alam mimpi.

            “Sekarang waktunya. Kita akan pergi,” begitulah kalimat terakhir dari ibu sebelum meninggalkan kamar Jieqiong yang serba merah muda.

            Jieqiong membeku di tempat. Benarkah sekarang waktunya? Setelah kurang lebih satu tahun mempelajari bahasa korea, terkadang Jieqiong berpikir ini hanya sekedar penambah ilmu saja. Masih tidak percaya ia akan dijodohkan dengan seorang anak saudagar kaya raya yang kini menetap di Seoul Choi Seung Cheol.

            Tapi, kenapa harus Korea? Bukankah negara itu sudah jatuh ditangan Jepang? Cukup sudah ia menderita karena perekonomian keluarganya jatuh sejak China dan Jepang memperebutkan wilayah Korea.

            “Tenanglah sayang kau akan bahagia bersama Seongcheol. Ayah mertuamu memiliki otak brilian sehingga Jepang tidak berani menjatuhkan keluarga mereka. Keluarga-keluarga bangsawan tetap aman. Itu sebabnya ibu dan ayah menjodohkanmu dengan dia. Kami ingin kau bahagia,” jelas ibu sambil memindahkan barang-barang kedalam kereta kuda yang menunggu di halaman rumah.

            Jieqiong mencoba pasrah. Perjodohan adalah hal biasa di zaman ini. Tetapi kali ini berbeda. Ia akan bersanding dengan seorang pria yang bisa dibilang berasal dari pihak lawan, Korea. Gadis itu mencoba berpikir postif, semua orang tua pasti tahu pilihan yang terbaik untuk anaknya. Pikiran itu cukup dapat membesarkan hatinya. Sekarang ia hanya perlu belajar mulai mencintai Choi Seung Cheol.

            Choi Seung Cheol. Pria bermata besar itu memang cukup tampan. Bola mata yang besar dilengkapi dengan double eyelids itu menarik perhatian Jieqiong. Jarang sekali orang Korea asli memiliki mata seindah itu.

            Setelah kurang lebih setengah jam mereka memindahkan kardus-kardus dan kantung-kantung besar, kini keluarga Zhou sudah duduk manis di bangku kusir yang panjangnya cukup untuk tiga orang.

            “A–aduh!” Kereta kuda yang dikendarai ayahnya tiba-tiba bergoyang cukup kencang. Nyaris saja Jieqiong terjatuh menimpa kuda yang tepat berada di depannya. Barang-barang di kereta bagian belakang juga terdengar saling bertubrukan. Gadis itu tidak menyadari di bawah mereka ada jalan berbatu.

            Ayah dan ibu tertawa melihatnya.

            “Memikirkan Seungcheol, hm?” goda ayah sambil tetap tertawa. Mendengar kalimat ayah, tawa ibu malah semakin menjadi-jadi.

            Jieqiong cemberut, memasang wajah super juteknya. Itu yang ia lakukan ketika sedang kesal. Putri semata wayang mereka terlihat pura-pura menyibukkan diri dengan membetulkan posisi qipao merah mudanya untuk menyembunyikan salting nya. Jieqiong merasa kapok dan kali ini berkonsentrasi melihat pemandangan di sekitarnya.

            Gelap. Area perkampungan sudah jauh terlewat. Sekarang, keluarga Zhou disuguhkan dengan pohon-pohon kelapa yang terlihat seperti raksasa menyeramkan di malam hari. Lima ratus meter lagi kereta kuda itu akan sampai di pelabuhan. Jarak sejauh itu bisa dibilang sangat dekat untuk ukuran manusia yang hidup di awal abad ke 19.

            Hawa dingin malam hari terasa menusuk sampai ke tulang. Jieqiong merapatkan qipao nya. Gadis itu ingin cepat-cepat sampai di pelabuhan dan tidur dengan tenang di kabin kapal.

            “Oh iya bu, kenapa tadi ibu panik saat membangunkanku? Kupikir ada tentara Jepang di depan rumah kita,” celetuk Jieqiong.

            “Itu siasat ibu agar kau tidak susah bangun,” ibu menjawab sambil terkekeh.

            Lagi-lagi Jieqiong hanya cemberut.

            Seratus meter lagi mereka sampai di pelabuhan. Pemandangan pun berganti. Jieqiong merasa cukup tenang melihat rumah-rumah di kanan-kirinya. Saat ini mereka sudah masuk lokasi pesisir pantai. Lampion-lampion berwarna merah membuat jalan terlihat cukup terang. Masing-masing rumah menggantung dua lampion di teras rumah mereka.

Aroma air laut sudah menghiasi indra penciuman. Benar saja. Kereta kuda mulai berjalan melambat karena bergesekan dengan pasir. Wajah Jieqiong berubah cerah. Ini pertama kalinya ia melakukan perjalanan jauh. Biasanya hanya ayah yang selalu bolak-balik mengelilingi antarpulau, bersama ayahnya Seungcheol tentunya. Seungcheol dan ayahnya memang pernah beberapa kali mengunjungi rumah, urusan bisnis. Tetapi, Jieqiong tidak pernah tertarik bergabung jika tidak dipaksa ibunya untuk ikut duduk manis di ruang tamu.

Kereta kuda tiba-tiba berhenti, tanda mereka sudah sampai. Mereka bertiga bersiap-siap untuk turun. Beberapa orang terlihat menghampiri kereta mereka dan mulai sibuk membantu menurunkan barang-barang.

            Suasana pelabuhan cukup ramai. Kata ayah, penduduk pribumi memang sengaja berangkat di malam hari karena siangnya pelabuhan ini sibuk mengurus barang-barang industri. Sejak Jepang membangun pabrik pertama di China, banyak penguasa asing yang juga mendominasi perindustrian China.  Karena itu, kapal penumpang sering kali datang terlambat. Apalagi, pelabuhan Shanghai termasuk pelabuhan tersibuk di dunia.

            Ayah dengan mudah melompat turun. Putri semata wayangnya yang melihat aksi itu ingin meniru, tetapi ia masih berpikir dua kali karena bangku kusir ini cukup tinggi, ditambah dengan qipao yang menutupi sebagian besar tubuhnya. Pakaian tradisional China ini terkadang memang membuat wanita susah bergerak.

            Ibu terlihat sudah menginjak pasir, dibantu oleh ayah.

            “Sini.”

            Suara yang terdengar tidak asing di telinga seorang Zhou Ji Qieong. Sebuah tangan terjulur ke arahnya. Choi Seung Cheol. Tangan itu milik Choi Seung Cheol. Mata yang besar itu kini menyipit, tersenyum menatap calon istrinya. Rupanya, keluarga Choi sudah menunggu mereka di pelabuhan.

            Jieqiong tidak ingin berlama-lama larut dalam adegan drama ini. Tangan mungilnya meraih tangan milik Seungcheol lalu ia melompat turun.

            “A–ah…” Alas kakinya bertemu langsung dengan permukaan pasir pantai yang tidak serata aspal. Melompat di atas pasir pantai bukan ide yang bagus. Tubuh Jieqiong oleng, hendak terjatuh karena kakinya tidak bisa menjaga keseimbangan.

            Hup!

            Dengan sigap, pria yang tadi menawarkan bantuan kepadanya tadi menangkap pundak gadis itu.

            “Hati-hati,” ucap Seungcheol lembut. Gadis yang kini dipeluknya cepat-cepat berdiri.

            “Terima kasih,” kata Jieqiong–sedikit canggung. Tak lupa, ia memberikan senyuman sebagai bonus rasa terima kasih. Kemudian pergi menghampiri ibu yang terlihat asyik bersama ibunya Seungcheol.

            Tak lama kemudian, seseorang menyuruh para penumpang untuk segera naik. Jieqiong yang sedari tadi hanya diam mendengarkan obrolan ibu-ibu menghembuskan napas lega. Sejak tadi, bola matanya mencuri-curi pandang melihat kapal berwarna putih yang besar itu. Di kapal itu tidak ada lampion satupun. Mungkin kapal ini memang bukan milik China, pikir Jieqiong. Tetapi, lampu-lampu tempel di dinding yang menerangi setiap sudut ruangan sudah cukup membuatnya kagum. Melihat pemandangan laut pasti sangat mengasyikkan.

            Keluarga Zhou dan Kelurga Choi mulai merapat menuju anak tangga yang sudah diturunkan. Jieqiong terus memeluk lengan ibunya. Aku tidak menyangka Jieqiong akan setakut ini menaiki kapal untuk pertama kalinya, pikir Sang Ibu.

            Sebenarnya, Jieqiong hanya takut Seungcheol akan menghampirinya lagi.

To be continue…

.

Yeey akhirnya chapter satu udah selesai! >< gimana? Seru ngga? Maaf kalau adegan romance nya kurang dramatis, hehehe… Aku mau coba menggambarkan adegan romantis yang ga muluk-muluk bahasanya, tapi bisa bikin baper gitu (sebenarnya bingung mau tulis kayak gimana, baru nulis FF lagi). Tapi kayaknya belum berhasil L maaf juga kalau terlalu pendek. next? Kritik saran manis/asam kalian sangat dibutuhkan J

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s