[FREELANCE] Autumn #3

_20160425_201615

poster Alkindi Exo Kingdom Fanfiction

Title: Autumn Chapter 3

Author: Puspita.desu

Cast: Byun Baekhyun
Kim Yoora
Lee Jinki (Onew SHINee), Etc.

Genre: Romance, Sad, Angst, Friendship.

Rating: Pg13

Length: Chaptered.

Chap 1 | Chap 2 | Chap 3

******

Aku tak tahu apa makna dari kata menyesal sebelum kau datang di hidupku.

Maaf, aku benar-benar menyesal.

Kim Yoora menatap sekeliling dengan canggung, tangan dingin nya meremas amplop coklat dengan gemetar dan sebelah tangannya merapatkan masker dan hoddie yang dia pakai.

Dia bukan artis, sama sekali bukan.
Namun penampilannya saat ini mampu membuat dirinya menjadi pusat perhatian, oh tentu saja. Dia menghadiri fan signing Exo untuk yang kesekian kalinya dengan keadaan seperti itu.

Jika bukan karena Lee Hyeri yang memaksa untuk memberitahukan perihal masalahnya dengan pria itu, Yoora tak sudi menginjakkan kakinya kembali di acara yang dulunya selalu gadis itu nantikan.

Menutup matanya sejenak dan menatap antrian yang panjang didepannya, antrian untuk mendapat tanda tangan pria itu.

Dan tiba giliran Yoora, gadis itu menunduk lama mencoba mengumpulkan keberanian dirinya. Fans dibelakangnya berdehem dan menegur Yoora untuk cepat berbicara atau dirinya harus pulang.

Baekhyun yang duduk dibalik mejanya mengernyit aneh, jika penggemar yang lain akan berteriak atau setidaknya berbinar bahagia bisa bertemu dengannya. Tapi apa yang dilakukan orang ini? Bahkan dia berpakaian ala selebriti yang tidak mau kedapatan dirinya tertangkap kamera.

Ehmm..

“A aku hanya ingin memberi ini, anda bisa membukanya nanti. Ku mohon jangan membuangnya sebelum anda membacanya. Terimakasih..”

Tanpa melihat wajah orang yang dia ajak bicara sedikitpun Yoora keluar dari antrian dan berjalan cepat. Hatinya berdebar tak karuan, bahkan gadis itu sempat melihat tatapan aneh dari anggota Exo yang lain dan para penggemarnya.

Memukul kepalanya kesal,
Seharusnya dia tak datang kesini atau dirinya akan membuat hidup pria itu hancur.

Bodoh.

Gadis itu terkejut saat tangan yang dia pakai untuk memukul kepalanya telah dihentikan secara paksa. Menunduk mengamati sepatu sport yang sangat dia hafal, Yoora menghembuskan nafasnya pelan. Tercekat akan rasa sakit disaluran udaranya bagai kerikil besar yang menghadang.

Dan sekali lagi hatinya serasa perih.

Orang itu membuka masker diwajah Yoora dan melepaskan mantel baby pink-nya dengan pelan.
Gerakan yang teramat pelan sampai Yoora merasakan dirinya adalah wanita yang sangat rapuh.

Membuat dia mengantuk,
Membuat dia terenyuh,
Dan tanpa toleransi lagi dia menangis.

“Orang akan menyebut mu aneh, musim dingin masih lama Yoo..”

Tanpa sapaan apapun lagi orang itu merangkul Yoora yang rapuh untuk pulang, meremas bahu gadis itu menguatkan.

“Maaf, Oppa.”

Yoora menghentikan langkahnya dan memberanikan dirinya untuk melihat wajah itu, wajah pria yang luar biasa baik hati baginya.

“Berhenti meminta maaf untuk kesalahan yang bahkan tidak kau perbuat Yoo..”

Pemuda yang lebih tua 5 tahun darinya itu tersenyum, menghapus air mata Yoora dan membawa gadis itu untuk duduk di kursi taman.
Pohon Mapple diatas mereka melepas satu persatu daunnya dan jatuh di kepala keduanya.

“Aku menyesal..”

Yoora mendongak mengamati daun merah yang sangat dia sukai berguguran, melayang pelan bak menari diatas awan dan kemudian terjatuh keatas tanah dengan anggun.
Teramat sedih jika mungkin selanjutnya daun indah itu akan terinjak, mati dan terlupakan. Maka Yoora mengambil daun itu dan memberikannya pada pria disampingnya.

“Kelemahan manusia memang selalu merasa menyesal.”
Balas pria itu kemudian, mengamati daun di tangan nya dan kemudian meniupnya. Membuat daun itu kembali terombang-ambing.

“Namun jika setelahnya kau memperbaiki penyesalan itu, kau akan bahagia.”
Dia menjeda ucapannya dan membuat gadis itu menghadap padanya dan dia tahu.
Ini sangat berat bagi gadis yang dia cintai, tapi disisi lain dia juga tersakiti.

“Berjalanlah dengan tenang, jangan hiraukan apa kata orang. Jika perlu kau boleh menoleh kebelakang untuk memperbaiki kesalahan mu dimasa depan. Jika lelah kau bisa berhenti dan mintalah aku untuk menemanimu. Jika kesepian maka genggam tanganku, aku selalu ada di sisi mu..”

Perkataan selanjutnya membuat Yoora terhenyak, merasa dirinya tak sendirian dan rasa bersalah juga mendominan dibenaknya. Dia tahu ini juga menyakiti pria itu, namun Yoora tak bisa berbuat apapun.

Memeluk pria itu erat dan menangis di dadanya.

“Terimakasih, Jinki Oppa..”

******

Bagi Yoora mungkin ini terlihat mudah, mengingat ujian akan dilaksanakan dua bulan lagi dan dia akan meninggalkan masa SMA nya tak kurang dari tiga bulan.

Yah ini mudah jika berada di alam mimpi, hanya tinggal menyembunyikan perut berisi janinnya untuk tiga bulan. Toh yang tahu perihal keadaannya hanya dia, Hyeri dan Jinki. Bahkan keluarga Yoora tak tahu sama sekali.

Tapi kenyataan memang terkadang melesat jauh dari perkiraan.

Terbukti dengan bisikan para siswa di sekolah nya ketika dia menginjakkan kakinya ke dalam kelas, dan betapa bodohnya dia tak mengingat bahwa terakhir kali kehamilannya terungkap saat dia berada di ruang kesehatan sekolah.
Bagaimana ini bisa luput dari kebodohannya?
Bagaimana dia dengan bodohnya malah pingsan dilingkungan sekolah?

“Oh hei lihat si jalang ini, kau mendapat mobil jenis apa sampai rela perutmu terisi janin?”

Ye Na dan teman-temannya mendekati meja Yoora, duduk di meja nya sambil melipat tangan angkuh.

“Aku tak percaya gadis yang sok berlaga suci sepertimu ternyata selalu bermain dengan ajjussi dan menghasilkan anak. Wah, kau memang selalu mengejutkan..”

“Dan kau masih memasang wajah malaikat itu? Oh bahkan tanpa tahu malu nya kau masih datang kesekolah? Sebenarnya jalang macam apa kau hah?”

“CUKUP…!!”

Lee Hyeri datang dan menghadang mereka semua, terlihat beberapa dari mereka membubarkan diri dan memilih duduk di bangku masing-masing.

“Berhenti ikut campur urusan orang lain, kau urusi saja dirimu sendiri. Apa kau sudah lebih baik darinya? Haha kau bahkan merombak dirimu sana-sini, apa itu untuk menggoda pria tua?”

Hyeri meracau tanpa jeda, membuat semua orang yang ada disana terperangah akan keberanian gadis itu.
Ye na mendengus, matanya menyalang dengan gigi yang bergemeletuk.

“Aku benar kan?”

“Sialan tutup mulutmu, brengsek!”

Tangan Ye na yang hendak menampar Hyeri terhenti diudara, mendapati wali kelas mereka yang marah dan semua penghuninya kian mengkerut. Yoora menarik tangan Hyeri untuk duduk dan mengusap punggungnya.

“Siapa yang brengsek Kim Ye na?”

Guru Song mengintimidasi, menyuruh Ye na untuk duduk setelah sebelumnya berceramah panjang.

Sepanjang pelajaran Yoora habiskan untuk memikirkan nasibnya kelak.
Semua orang tahu keadaannya sekarang, dan tak lama lagi mungkin dirinya akan dikeluarkan dari sekolah.
Lalu dirinya mungkin akan dikeluarkan dari kartu keluarga setelah orang tuanya tahu.
Dan bagaimana selanjutnya?
Yoora bahkan tak berani lagi menebaknya, membuatnya ingin bunuh diri saja.

Sebuah catatan kecil terhampar di hadapan nya, Yoora meraih catatan itu

Jangan pikirkan apapun, kau hanya perlu belajar dengan benar.

Hyeri segera mengajukan pertanyaan pada guru Song ketika Yoora hendak ditegur karena melamun saat belajar. Lalu gadis itu menunduk membaca balasan dari Yoora

Namun terhenti ketika intrupsi guru Song membuat Hyeri mendongak terkejut, dia lupa hal ini juga pasti terjadi.

“Kim Yoora, ikut saya ke ruang kantor!”

Lee Hyeri memperhatikan siluet Yoora yang menghilang dibalik pintu, dia prihatin dengan sahabatnya.
Namun apa yang bisa Hyeri lakukan untuk Yoora?

“Lihat temanmu yang kau banggakan itu Lee Hyeri, aku berani bertaruh kau juga sama sepertinya..”

Hyeri menunduk dalam dan perkataan dalam memo kecilnya itu membuat Hyeri kembali buntu.

Aku tak bisa,
Maafkan aku Hyeri-a..

******

“Berhenti membuatku bingung Byun Baekhyun!”

Suho memerintah dengan kesal, bagaimana dengan kurang kerjaannya Baekhyun berjalan mondar-mandir di depan televisi yang kini sedang mereka tonton. Dan mereka juga harus menonton wajah merana yang pria itu hidangkan.
Apa menurutnya dia itu sedang akting galau?
Atau dia mengira ini iklan opera sabun?
Suho sanksi bahwa otak adiknya itu juga tidak terpasang dengan benar, saat ini.

“Ah, maaf..”

Baekhyun kemudian duduk disebelah Sehun menonton acara EXO dengan pandangan kosong.
Chanyeol memperhatikan Baekhyun yang kini terdiam dengan penuh pikiran. Dua hari sejak dirinya tahu masalah Baekhyun keduanya bahkan tak saling bertegur sapa, terlalu bingung untuk bertindak dan juga Chanyeol masih shock.

Bagaimana bisa Baekhyun dengan gegabahnya menghamili gadis yang bahkan tidak dia kenal?

“Apa kau sakit?”
Kyungsoo memeriksa kening Baekhyun dan menggeleng karena suhu nya sangat normal.

“Apa kau sedang datang bulan?”
Perkataan Sehun membuat Suho melayangkan tinjunya di kepala pria itu.

“Apa kau bodoh? Kau tak mengerti reproduksi?”

Reproduksi.

Sehun meringis dan mengusap kepalanya.

“Aku kan becanda Hyung, aku tahu itu. Datang bulan hanya terjadi pada wanita, dan jika terjadi pembuahan maka wanita itu tidak menstruasi dan kemudian hamil. Kau menganggapku anak SD?”

Reproduksi,

Pembuahan,

Hamil.

Baekhyun menggeram dengan kata tersensitif baginya saat ini. Chanyeol merutuki kebodohan teman-temannya karena membahas hal yang semua orang dewasa pasti mengerti.

Oh, dia frustasi.
Melirik Baekhyun yang menunduk dengan tangan yang terkepal. Lalu kemudian bangkit dan meraih topi serta maskernya.

“Aku perlu udara segar..”

Membuat semua orang disana terheran dengan tingkah Baekhyun yang semakin aneh.

Baekhyun mengendarai mobilnya dengan tenang, kendati pikirannya berputar-putar bagai terjebak dalam maze tanpa bisa keluar dari sana. Ini sudah malam dia tahu, dan seharusnya pria itu istirahat mengingat besok siang mereka harus terbang ke Jepang untuk Tournya.
Namun dia tak bisa menahannya, Baekhyun bisa gila jika tak segera membereskan masalah ini.

Persetan dengan ponsel nya yang terus berdering menampilkan nama dan photo mantan kekasihnya dilayar.

Dia tak lagi peduli.

Dan kakinya menginjak pedal rem tatkala dirinya telah sampai di tempat yang dia tuju.
Turun dari kemudinya, dan mengedarkan pandangan pada rumah bergaya klasik didepannya.

Mendekati gerbang kayu berwarna cokelat yang tingginya dua kali dari tinggi Baekhyun.

Menunduk memperhatikan sepatunya setelah dirinya menekan bel rumah itu.
Tak habis pikir bagaimana dirinya sampai ke tempat ini dan apa yang telah merasuki tubuhnya.
Ingin kembali dan melupakan masalah ini, toh gadis itu juga tak masalah jika dia tak bertanggung jawab.
Namun apa bedanya dia dengan pria hidung belang?
Dan bagaimana jika anaknya kelak akan tumbuh tanpa seorang ayah?

“Maaf, anda mencari siapa?”
Baekhyun mendongak dengan terkejut.

“Ah, apa benar ini rumah Kim Yoora?”

Baekhyun menunduk dengan sopan pada pria penjaga gerbang didepannya.

“Iya benar, anda siapa?”

“Saya Baekhyun, teman Yoora. Boleh saya menemui Yoora dan keluarganya?”

Baekhyun membasahi bibirnya gugup dan pria itu membuka pintu gerbang lebih lebar.

“Silahkan tuan, kebetulan nyonya dan tuan sedang berada di rumah..”

Mati aku.

Baekhyun bergumam dan kembali menunduk, memasuki rumah itu dan kembali mengedarkan pandangannya.
Terlihat beberapa pohon palm dan gerasi besar di sisi kiri rumah, air mancur beserta kolam kecil menambah keasrian halaman itu. Baekhyun menyukai rumah ini, ditambah ornamen-ornamen klasik menempel didinding luar rumah.
Begitu luas dan asri.

“Apa kau bilang? Kau hamil?”

Oh tidak,
Baekhyun memperhatikan keadaan didalam rumah itu, karena pintu rumah terbuka pria itu bisa melihatnya. Melihat gadis itu dan ibunya yang menangis histeris dan pria yang mungkin ayahnya murka didepan mereka.

“Apa ini yang aku ajarkan padamu hah? Siapa pria itu hah?”

Ayahnya kembali berteriak dan dibalas dengan tangisan dari anak gadisnya, gadis itu bahkan tak berani mengatakan sepatah katapun setelah dirinya memberitahu perihal kehamilannya.

“Berhenti menangis, jawab pertanyaanku Bodoh!”

Ayahnya hendak menampar Yoora kembali namun ditahan oleh istrinya.

“Jangan menamparnya lagi, kita tanyakan baik-baik..”

Sang ibu meminta seraya terisak dan mengusap punggung anaknya. Betapa dia adalah ibu yang gagal dan membiarkan anak gadisnya ternodai.

“Keluar kau dari sini, mulai saat ini kau bukan an..”

“Aku pria itu tuan..”

Baekhyun yang tanpa berfikir lagi memajukkan tubuhnya di depan pintu masuk, dia memang anak kurang ajar. Itu bahkan sudah terpatri di otak nya sejak kejadian malam itu.

Ketiga orang di dalamnya menoleh kearah Baekhyun dan Yoora terkejut mendapati pria itu berada dirumahnya.
Menggeleng pada Baekhyun, berharap pria itu menarik kembali ucapannya dan pulang tanpa mempedulikan dirinya.

Namun dia tak berhasil.

“Aku akan bertanggung jawab atas Yoora..”

Tbc.

 

7 responses to “[FREELANCE] Autumn #3

  1. Duuh, gak bisa ngebayangin kelanjutan kehidupan mereka setelah ini.
    Beneran hancur hatinya Yoora, ditampar gitu bukan cuma pipi yg sakit.
    Semoga dikuatkan yaa, ditunggu kelanjutannya authornim ^^

  2. pria yg jantan itu berani tnggung jwb atas perbuatannya…. semangat baek… aq mndukung mu dri depan *eh* dri belakang mksdnya…

  3. Hancur hati yoora, bukan sakit karna ditampar tp sakit karna udah ga dianggep lg anak sm orang tuanya. Baekhyun disini akhirnya mau tanggung jawabb yiiiipii.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s