[FREELANCE] BEAUTIFUL DEMON (1/?)

Beautiful Demon

Title :

Beautiful Demon (1/?)

Author :

Kusumaningpark99

Genre :

Dark, Fantasi, Angst, AU, Romance (mungkin), School Life etc.

Rating :

PG+17

Leght :

Mini Chapter

Main Cast :

Xi Luhan (EXO)

Jenifer Kim (OC)

Other Cast :

Member EXO

And Other

Disclaimer :

Seluruh Cast milik Tuhan dan orang tua masing-masing kecuali OC. Ini hanya imajinasi saya semata, nggak ada unsur-unsur jahat. Karena saya kirim secara freelance, jadi saya juga kirim kebeberapa blog. Jika judul ff dan nama authornya sama itu sudah pasti penulisnya juga sama.

Recomended Song :

Infinite – Before the Dawn

EXO – Heart Attack

EXO – Monster

EXO – Lady Luck

G dragon – Heartbreaker

Warning! Typo bertebaran, bahasa amburadul dan lihat Rating. Dimohon bagi yang tidak kuat tidak usah baca, sebenarnya saya juga baru memasuki usia 17. Hehe….

–Jenifer POV—

          Kucengkeram kerah namja di hadapanku ini dengan keras hingga tubuhnya terangkat keatas. Kutatap matanya yang kini menatapku ketakutan dengan mata merahku yang menyala. Taringku sudah keluar dan membuat namja yang ada dicengkeramanku ini menggeleng kuat.

“jangan, jangan bunuh aku! Kumohon!” ia memberontak dengan kaki mengayun-ayun sembari menendang-nendang kesegala arah.

“kau pikir aku akan melepaskanmu dan membiarkanmu hidup begitu saja? Jangan harap!” kutancapkan taring tajamku pada lehernya dan seketika ku koyak kulit lehernya lalu kuhisap darahnya.

“akhhh……………” itu adalah suara terakhir yang keluar dari manusia sialan ini. Haha, tidak ada yang bisa mengalahkanku terutama manusia-manusia bodoh itu.

“hentikan perbuatan bejatmu itu!” seseorang menginterupsiku yang sedang menghisap mangsaku. Seketika kulepas tikamanku dan menatapnya benci.

“apa kau mau ikut campur? Atau kau mau menyerahkan hidupmu untukku makhluk sialan!” aku berdiri dan menatapnya beringas, kugertakkan gigiku marah akan kegiatanku yang dirusaknya. Aku berjalan kearahnya dan menyeringai, ia tak tahu saja sedang berurusan dengan siapa sekarang ini.

‘sreeeet…………’ kini aku sudah berdiri di sampingnya dengan taring yang sudah keluar sejak tadi dengan lumuran darah manusia kotor itu. Kucengkeram rahang tegas di hadapanku ini lalu kubelai lembut.

“haha, bahkan makhluk tak berguna seperti kalian ini berani-beraninya mau mencampuri urusanku. Kalian pikir kalian ini siapa? Dasar makhluk sialan!” aku melemparnya dengan tenaga kecilku langsung saja ia tersungkur menghantam tembok tinggi di belakangnya. Ia sempat meringis memegangi dadanya lalu perlahan bangun berdiri. Aku bersedekap dada dan menunggunya untuk melakukan sesuatu terhadapku.

“jangan pernah berbuat keji dan merendahkan kami, bahkan kau tak lebih berguna daripada kami.” Ia berjalan kearahku dan menatapku tajam.

“apa barusan kau bilang? Cih, makhluk seperti kalian itu tak pantas menghuni Bumi. Kalian hanya perusak dan jika kalian berpikir bahwa kalian lebih baik daripada kami, kalian tentu saja salah besar.” Aku menatapnya dengan kilatan marah. Ia sudah berdiri dihadapanku dengan tatapan tajam yang tak pernah sirna. Aku berputar mengelilingi tubuhnya, sesekali kuhembuskan napas dinginku ke lehernya. Nampak ia bergidik namun tak membuatnya gentar melawanku sedikitpun.

          Aku berdiri di belakangnya dengan tangan memegang pundaknya seduktif. Menggodanya lebih tepat lagi, ia tak bergerak sama sekali. Kini taringku sudah menghilang lenyap, inilah saatnya aku mendapatkan mangsa baru. Wajahku berganti dengan wajah berseri membuat makhluk manapun akan terpesona melihatku, tak terkecuali makhluk di hadapanku ini. Dia pikir aku tidak tahu kalau sedari tadi ia sedang menahan hasratnya, dasar makhluk munafik!. Aku sudah berdiri di hadapannya dengan wajah tak bisa dielakkan lagi.

“Xi Luhan! Aku tahu apa yang ada di dalam pikiranmu itu, Sayang!” aku berbisik seduktif di samping telinga kanannya. Tak lupa jari tangan kananku yang nakal kini bergerilya pada dada bidangnya. Sedangkan tangan kiriku memegang tengkuknya sesekali menariknya mendekat kearahku.

“jangan pikir kau bisa menggodaku dengan cara murahanmu itu, iblis jahat!” ia berteriak dan mendorongku menjauh darinya. Bukan Jenifer jika langsung putus asa menghadapi penolakan murahan seperti itu. Aku kembali berdiri mendekat kearahnya dengan senyum lebar tak lupa kulayangkan Wink nakal kearahnya. Ia terpelanting dan terduduk di bawah kakiku, aku ikut mensejajarkan tubuhku dengannya. Kutarik kemeja hitam yang dipakainya hingga kini wajah kami berhadapan 2cm.

“aku tak percaya makhluk sepertimu akan menolakku seperti ini. Bahkan sudah puluhan ribu kaum dari bangsamu telah menjadi mangsaku dengan meminta imbalan tubuhku untuk mereka nikmati. Huh, sekarang kita lihat siapa disini yang lebih bejat.” Kulahap bibirnya dengan rakus, tak kupedulikan penolakannya sama sekali. Dia pikir dia bisa mengalahkanku dengan mudahnya.

‘wushhhhhhhhhhhh……………’ kini kami sudah berada di sebuah apartemen besar, tepatnya diatas ranjang berukuran King size. Berteleport bukanlah hal sulit untukku, bahkan hanya dengan menggerakkan jarikupun hal itu bisa kulakukan dengan mudah. Kutarik tengkuknya untuk memperdalam ciuman ini, ia tak akan bisa berkutik hanya dengan kekuatan seujung kuku jariku. Kulepaskan ciuman ganasku lalu menatapnya bangga dengan hal yang kulakukan.

“bagaimana? Apa kau berubah pikiran?” ia menatapku tajam, jijik sekaligus benci. Aku balas menatapnya remeh, tak kusangka ada manusia yang berani menolakku mentah-mentah sepertinya. Ia meludah dan membuang wajahnya kesamping.

“tidak, dan tidak akan pernah!” ia hendak berdiri dan pergi sebelum aku menahan lengannya kuat.

“kita akan lihat siapa yang akan tunduk takluk.” Kedorong tubuhnya dan kucakar lehernya hingga ia pingsan.

–Luhan POV—

          Kukerjapkan mataku saat merasakan cahaya menusuk membuat mataku terusik. Perlahan-lahan pandanganku berangsur jelas, yang kulihat pertama kali adalah suasana kamar yang tidak salah lagi adalah kamarku. Kupegangi kepalaku yang terasa berdenyut hebat, membuatku sedikit demi sedikit mengingat kejadian semalam. Sial, makhluk bejat itu telah membuat tubuh terasa remuk. Akh, leherku terasa perih seketika saat aku mulai mendudukkan diriku. Kusentuh leherku dengan tangan kananku, dan benar saja leherku mengeluarkan darah segar.

          Kini pandanganku teralih pada jam dinding berwarna putih, jam 6. Aku harus segera bersiap ke sekolah hari ini, namun teringat dengan luka di leherku pasti teman-temanku akan memberondongku dengan ribuan pertanyaan menyebalkan. Aish, gara-gara makhluk itu aku selalu harus menerima kesialan yang tiada ujungnya seperti ini.

          Kulangkahkan kakiku berat menuju kamar mandi, rasanya badanku tak memiliki daya hanya untuk berjalan. Seingatku tadi malam makhluk itu hanya membantingku, namun akibatnya sangat besar pada tubuhku sekarang ini. Aku bisa gila kalau terus-terusan begini, ditambah lagi itu adalah tugas wajib untukku lakukan. Menghentikan perbuatan bejat iblis terkutuk itu, dan sialnya lagi kenapa harus aku?.

          Aku melangkah keluar dari kamar mandi dengan badan yang sudah mulai segar bugar. Aku mengambil seragam sekolahku dan memakainya. Sedikit butuh perjuangan memang, mengingat luka tak kasat mata dalam tubuhku masih belum sirna. Hebat juga mahkluk sombong itu, bahkan aku merasa tenagaku tak ada apa-apanya dibandingkan tenaganya walau ia seorang wanita. Cih, peduli apa? Aku akan tetap menggagalkan segala kegiatan tak manusiawinya itu.

“aku tahu kau sedang memikirkanku.” Suara menginterupsi kegiatanku memakai seragam, kutolehkan kepalaku kearah ranjang dimana terdapat seonggok mahkluk menjijikkan, menurutku itu. Tatapanku berubah menjadi sayu, tidak puaskah ia membuat badanku remuk seperti ini. Setelah ini aku harus memasang jimat, supaya makhluk itu tidak bisa memasuki apartemenku seenak jidatnya.

“bahkan tak secuilpun aku sudi mengingat rupa makhluk sepertimu. Dasar menjijikkan!” aku kembali dengan kegiatanku dengan memasang wajah datar plus lelah. Ia tertawa mengejek di seberang sana sembari berguling-guling di atas ranjang.

“kau bisa saja sekarang berkata seperti itu. Dan asal kau tahu saja, aku tidak akan pernah melepaskanmu walau beribu kalipun kau menolakku.” Ia kini sudah berdiri tepat di belakangku lengkap dengan seringaian memuakkannya. Tangan kotornya memelukku dari belakang, langsung saja kulepaskan dan kudorong tubuhnya menjauh dariku.

“kita lihat saja siapa yang akan bertekuk lutut.” Aku yang kini sudah rapi mengambil tas dan memasukkan buku-buku pelajaran hari ini. Tak kupedulikan lagi keberadaan mahkluk tak tahu diri itu, kulangkahkan kakiku keluar dari apartemen. Moodku hari ini benar-benar hancur gara-gara makhluk itu. Namun yang semakin membuatku kesal adalah ia mengikuti kemanapun kakiku melangkah. Walaupun mencoba untuk tak mempedulikannya namun merasa diikuti oleh bayang-bayang iblis tetap membuatku tak bisa konsentrasi sedikitpun.

“pergilah! Dan jangan ganggu aku!” aku menatapnya tajam sekaligus marah. Tanganku mengepal kuat, melihatnya yang tak gencar sedikitpun namun malah mengeluarkan seringaian busuk.

“tidak! Dan tidak akan pernah!” ia balas meneriakiku masih dengan seringaian. Aku memutar tubuhku mencoba meredam emosiku yang sedang tidak stabil. Menyalakan mobil dan berangkat sekolah adalah tujuan utamaku saat ini.

“terserah!” aku berlalu tanpa sedikitpun minat menatap wajahnya. Kunyalakan mobilku dan melesat dengan cepat, berharap makhluk itu tak akan mengikutiku lagi. Namun salah, ia kini sudah terduduk anggun di kursi menumpang sebelahku dengan mata terpejam. Sial, sial, sial. Kenapa hidupku harus sesial ini, apa ini semua sebuah kutukan.

          Sesampainya di parkiran aku langsung memarkirkaan mobilku dan keluar dengan langkah lebar. Dan tentu saja masih dengan sesosok makhluk tak diundang, yang masih setia mengikutiku. Aku berjalan cepat tak mengindahkannya, namun satu hala yang membuatku heran, kenapa ia masih menampakkan wujudnya di sekolahku?.

“hai, Lu. Pacar baru? Boleh juga. Sepertinya aku belum pernah mengenalnya.” Seseorang menepuk bahuku dari belakang, kuhentikan langkahku dan berbalik menatapnya.

“pacar baru? Siapa, Byun Baek?” aku menatapnya bertanya, akukan hanya sendiri. Kecuali…….

“ini gadis di sampingmu. Gimana sih bawa gadis secantik ini di abaikan.” Ekor mataku melirik ke samping. Dan benar saja, tanpa kuduga gadis iblis itu telah menjelma menjadi siswi di sekolahku lengkap dengan seragam dan juga tasnya.

“hei, nona cantik. Siapa namamu? Apa kau murid baru disini?” mataku membulat, jadi benar dia bersekolah disini sebagai murid baru. Berharap ia menggelngkan kepalanya menjawab pertanyaan antusias Baekhyun, tapi yang kudapat justru malah anggukan mantap.

“wah, kita kedatangan murid baru dan juga cantik. Siapa namamu?” tangan Baekhyun terulur, dan dibalas olehnya.

“Kim Jeny imnida, senang berkenalan denganmu.” Senyum, senyuman menawan ia tunjukkan pada Baekhyun yang kini bersemu merah. Dengan kesal aku meninggalkan dua orang yang kini saling berjabat tangan itu. Bahkan ia menggoda Baekhyun, dasar iblis penggoda.

“yakk, Lu. Kemana?” kudengar teriakan cempreng Baekhyun memanggilku, tak kuhiraukan dan kulanjutkan acara berjalanku menuju kelas.

          ‘Kriiiiiiiiiiiiiiiing…………………………………’ suara bel masuk berbunyi, kini aku sudah berada di dalam kelas bersama teman-temanku. Sedari tadi kupingku panas mendengar celotehan Baekhyun yang langsung ditanggapi antusias oleh sahabat-sahabat karibku tentang gadis yang kubawa ke sekolah, tentu saja iblis berwujud gadis itu.

          “ah, sudahlah kenapa sih kalian sedari tadi menanyakan itu terus. Membuatku kesal saja.” Aku kembali terduduk melas di kursi. Mereka mendesah kesal dengan ucapanku.

          “aish, kau tidak seru. Kamikan penasaran.” Si hitam memukul kepalaku yan langsung kuhadiahi tatapan mengerikan.

“tunggu dulu, Lu lehermu kenapa kau perban seperti itu?” aku mengikuti arah pandangan Chanyeol yang tertuju pada perban di leherku.

“tidak apa-apa. Tadi malam aku di cakar Mei gara-gara kuinjak ekornya.” Aku mencari alasan dengan cepat. Mana mungkin aku mengatakan kalau aku dicakar iblis itu bisa-bisa mereka tak akan percaya 100% padaku dan menganggapku edan.

“Ko bisa? Kalau kau menginjak ekornya kemungkinan besar sih, kakimu yang dicakar. Kenapa bisa lehermu?” pernyataan logis Minseok membuatku membeku, benar juga. Kenapa aku memilih alasan tak logis seperti itu.

“ya pokoknya kena cakar Mei. Kenapa kalian jadi kepo begini sih.” Aku memberengut, kepalaku pusing sedari tadi dihujani berpuluh-pulu ribu oleh mereka.

“eh, Lu. Lumayan loh, dapat pengganti yang lebih cantik dan hot dibanding Yoora. Kalau aku jadi kau sih sudah dari dulu aku jadiin pacar.” Baekhyun menimpali sambil menerawang entah kemana. Kupukul kepalanya menggunakan buku paket.

“kalian belum tahu saja, siapa dia.” Baekhyun mengelus-elus sayang kepalanya yang ku pukul. Sedetik kemudian ia kembali dengan wajah berbinarnya menatapku.

“aku tahu. Dia bidadari cantik yang turun dari surga, dan aku akan menjadi pangeran berkuda putih yang menyelamatkannya.”

“huuuuuuuu………………” teman-temanku langsung menyeru Baekhyun yang memang selalu banyak berkhayal. Baekhyun pun hanya meringis dan mengusap telinganya.

“sayang, aku belum melihatnya secara langsung. Menyebalkan.”

‘cklek….’ pintu kelas terbuka menampilkan sesosok lelaki tua dengan map di tangannya, di belakangnya mengikuti sesosok gadis dengan rambut hitam lurus nan panjang dengan tinggi semampai.

“pagi anak-anak, kelas kita kedatangan murid baru. Silahkan perkenalkan namamu, nak!”

“anyheong haseyo, Kim Jeny imnida. Senang berkenalan dengan kalian.” Pandanganku kini tertuju pada sesosok gadis yang tengah tersenyum ramah di depan kelasku, makhluk munafik itu benar-benar mengejarku bahkan sampai ke sekolah. Aku malas melihatnya, memilih memfokuskan pada buku paket kimia yang menurutku lebih menarik.

“Jeny-ssi, apa kau sudah punya pacar?” suara yang sangat kukenal terdengar keras, seluruh murid ricuh terutama murid namja. Aku hanya mencibir, dasar Jongin playboy kampungan.

“em, kebetulan sudah.” Ia menjawab dengan nada halus, membuatku menatapnya sedikit penasaran, ingat hanya se-di-kit. Aku kembali mengalihkan pada buku ditanganku mencoba tak peduli apapun tentang blis munafik itu. Menghela napas kasar, mendengar teman-teman namja di kelasku begitu antusias memberikan pertanyaan yang menurutku konyol. Apa sih istimewanya makhluk iti? Mereka belum tahu saja gadis siluman itu siapa.

“sudah, sudah. Silahkan duduk di bangku kosong itu, Jeny!”

Kim saem mempersilahkan Jeny, maksudku gadis iblis itu untuk duduk di bangku kosong belakangku. Kebetulan bangku di kelasku single, aku melihatnya melewatiku dengan seringaian menyebalkan sembari menatapku, tak lupa wink yang kuingat waktu itu membuatku terpelanting terjatuh. Memutar bola mata adalah hal yang kukakukan setelah melihat itu semua, memuakkan. Seluruh pasang mata tertuju pada makhluk yang duduk di belakangku. Bisakah mereka menghentikan tatapan terpesona itu, apa hebatnya coba? Aku hanya merasa semuanya konyol.

Pelajaran kembali dilanjutkan, semua murid kembali pada papan tulis putih yang disana sudah terdapat Kim saem yang sibuk menulis catatan.

“senang bisa mengikutimu. Dan yah, kau lihatkan teman-teman bodohmu itu sangat terpesona padaku. Jadi mau bagaimana lagi? Menurutku ini semakin menariku untuk mengikutimu, siapa tahu aku akan lebih mudah mendapatkan mangsa dari beberapa temanmu.” Suara bisikan dari belakangku membuatku gagal fokus, aku menggeram tertahan. Dia tidak akan pernah kubiarkan menjadikan siapapun lagi menjadi mangsanya. Kita lihat, siapa yang akan hancur lebih dulu, haha.

“oh jadi begitu menurutmu. Menurutku sih, itu semua hal musathil yang hanya akan bersarang pada otakmu, dan 1000% tak akan terjadi.” Baiklah aku kalah telak, ia berhasil membaca pikiranku dengan mudah

–Author POV–

Bel istirahat pertama telah berbunyi 2 menit yang lalu. Kini Luhan tengah membereskan beberapa buku yang berserakan di atas mejanya. Sedangkan Jeny telah selesai lebih dulu, kini ia duduk manis di kursinya.

“Jeny-ssi, bagaimana kalau kita ke kantin bersama?” Jongin menghampiri Jeny dan langsung merangkul pundaknya tanpa merasa bersalah. Jangan lupakan smirk andalannya yang sejak tadi tak pernah hilang.

“apa tidak apa-apa? Bagaimana dengan teman-temanmu, apa mereka tidak marah?” Jeny yang merasa tidak enak mencoba menolak ajakan Jongin dengan halus, namun semua itu hanya tipu daya. Beberapa namja ikut mengerubungi Jeny yang masih terdiam di atas kursinya.

“jelas tidak apa-apa, kami akan merasa sengan sekali kalau kau mau ikut kami ke kantin. Benarkan Lu?” Baekhyun yang berdiri di samping Luhan menyenggol lengan Luhan yang sedang sibuk dengan buku-bukunya. Namun hanya dibalas dengan lenguhan keras oleh Luhan, mungkin maksud Luhan adalah penolakan.

“sudahlah, ayo ke kantin aku yang akan traktir kali ini, untuk penyambutan Jeny.” Chanyeol angkat bicara dan langsung diberi anggukan setuju teman-teman yang lain.

“baiklah.” Jeny berdiri dan langsung ditarik Jongin dan teman-temannya tanpa mempedulikan raut wajah kesal Luhan. Entah apa yang mereka bicarakan, dengan malas Luhan mengikuti langkah teman-temannya dan juga Jeny dengan langkah malas yang kentara serta wajah yang ditekuk.

Ketika segerombolan teman-teman Luhan keluar kelas dengan bergurau ria langsung mendapat tatapan penasaran dari seluruh murid Seoul High School baik teman satu angkatan maupun sunbae-sunbae yang kebetulan lewat. Murid-murid namja sih menatap kearah mereka terutama Jeny dengan pandangan terpesona, terkecuali murid-murid yeoja yang menatap membunuh kearah Jeny.

“siapa itu yeoja yang berada di tengah-tengah teman-teman Jongin, wow cantiknya bagaikan bidadari.” Komentar beberapa murid namja yang melihat Jeny melewati mereka.

“dasar yeoja kecentilan! Beruntung sekali mereka bisa dekat dengan namja-namja itu. Pasti dia menggoda mereka, dasar murahan!” bisik-bisik beberapa yepja yang terlihat cemburu pada Jeny.

‘dasar manusia laknat, bisa saja merendahkanku. Padahal mereka tak lebih dari jalang, Damn it!. Jeny mendengar semua itu, apapun yang ada disetiap isi kepala setiap makhluk yang kini menatapnya.Namun apa pedulinya? Mereka akan ia enyahkan dari bumi jika mereka berani mengganggunya.

          Suasana kantin begitu riuh tatkala segerombolah murid datang, entah berbisik iri maupun terpesona, sungguh bermacam-macam. Segerombolan itu adalah murid populer kelas X yang terdiri dari Jongin, Baekhyun, Chanyeol, Minseok, Luhan dan yeoja satu-satunya Jeny. Tatapan semua tertuju pada mereka yang masih asik bercengkrama satu sama lain, kecuali Luhan yang berjalan malas. Jika saja perutnya tak merasa ditendang-tendang karena lapar, ia memilih berkutat dengan beberapa rumus Fisika yang sudah menantinya. Namun rasa lapar menghantuinya sehingga membuatnya tak bisa foukus sedikitpun dan berakhir mengikuti keempat temannya plus Jeny.

          Mereka mengambil tempat duduk paling pojok, Minseok berjalan lurus menuju penjaga kantin untuk memesan makanan setelah bertanya menu apa yang akan mereka santap kali ini.

‘brukkkk….’

“yak, Lu! Kenapa kau dari tidak semangat gitu sih? Kau cemburu pada kami yang telah mengambil Jeny darimu?” Chanyeol menatap Luhan heran, sedari tadi Luhan tak bersuara setelah kedatangan Jeny di kelasnya. Atau mungkin sejak tadi pagi diberondongi pertanyaan-pertanyaan seputar Jeny oleh teman-temannya.

“siapa yang cemburu? Terserah kalian mau apakan dia, aku tak peduli.” Mata malas Luhan berputar seiring gelak tawa teman-temannya. Ya, aneh saja. Si jenius Luhan yang selalu berceramah panjang lebar kini berdiam diri tanpa alasan yang jelas, sudah pasti mengundang banyak pertanyaan di kepala teman-temannya.

“begitukah? Oke, oke. Nah jadi, Jeny tadi kenapa kau berangkat dengan Luhan?” tatapan ke 3 namja di sebelah Jeny menginterupsi mendengar pertanyaan Baekhyun, si Cerewet.

“tidak, sebenarnya kami…”

“atau jangan-jangan kalian pacaran ya?” suara Chanyeol yang menggelegar menggelitik pendengaran mereka, menatap Jeny antusias.

“em, aku tidak tahu. Sepertinya Luhan tak mau mengakui itu, aku harus bagaimana lagi?” suara sendu Jeny membuat ketiga namja itu terperangah menatap Luhan tak percaya. Luhan hanya melotot tak terima dengan pernyataan Jeny yang menurutnya tak masuk akal sama sekali. Pacaran? Tidak mengakui? That’s crazy.

“yak, Lu. Kau tega sekali sih, kami juga tidak apa-apa jika kau dan Jeny memang pacaran. Kenapa kau malah memberi harapan palsu pada Jeny?” Jongin berdiri dengan wajah tak terima, entah tentang pernyataan Luhan dan Jeny pacaran atau Luhan yang memberi harapan palsu pada Jeny.

“apasih? Aku tidak memiliki hubungan apa-apa dnegan gadis ini!” Luhan berteriak tak terima di depan Jongin. Ia mengepal tangannya kuat, siapa juga yang mau pacaran dengan gadis iblis ini? Disentuhpun ia merasa sangat jijik. Semua pasang mata memandang pertengakaran itu dengan bermacam-macam. Chanyeol dan Baekhyun melerai keduanya dengan menarik bahunya untuk duduk kembali. Keduanya membuang wajah, emosi menguasai.

“maaf aku membuat kalian bertengkar.” Jeny merasa sedih, ia menekuk wajahnya merasa mersalah.

“tidak apa-apa kok, mereka sudah biasa seperti itu. Remajakan memang labil, jadi begitulah.”

‘dasar iblis licik!’

          ‘kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing……………….’ bel pulang telah berkumandang. Semua murid keluar dari kelas masing-masing. Tak terkecuali Luhan, Jongin, Baekhyun, Chanyeol dan Minseok. Mereka asik mengobrol hingga melupakan sesuatu.

“Lho, Jeny mana?” suara itu menghentikan langkah ke 5 namja itu. Serempak mereka menengok ke dalam kelas lewat kaca. Nihil, tidak ada sesosok Jeny di dalam kelas.

“tidak ada. Apa mungkin ia pulang dulu? Bukannya tadi dia berangkat dengan Luhan?” serempak tatapan curiga melayang kearah Luhan yang berwajah datar. Ucapan Minseok membuat mereka menoleh cepat kearah Luhan. Melihat itu Luhan cuek dan melanjutkan perjalannya yang sempat tertunda menuju parkiran.

“lihatkan, Luhan begitu kejam pada Jeny. Padahal jeny kan baik hati, murah senyum lagi, apa lagi ia cantik seperti bidadari.”

‘pletakkkkkkkk………………’ Minseok selaku yang tertua menjitak kepala Chanyeol keras. Chanyeol meringis disertai tatapan tak terima, Jongin dan Baekhyun menatap si Happy Virus maklum.

“ah sudahlah. Kita pulang saja.”

–Luhan POV—

          Kupegang erat setir mobilku lalu memukunya keras. Sial, hidupku tak bisa tenang gara-gara iblis sialan itu. Shit, kenapa aku harus mendapat tugas memuakkan seperti ini? Untung iblis itu tak mengikutiku lagi. Lega? Tidak juga. Seperti wastafel, pikiranku kini tersumbat. Sungguh, ini semua membuatku ingin bunuh diri saja. Tugas ini sungguh berat untuk kujalani, kenapa tidak Sehun saja? Kenapa harus aku? Ha?.

          Bodoh, tentu saja harus aku. Karena ini menyangkut diriku, ya aku harus bisa menyelesaikan tugas ini sampai tuntas. Lebih baik aku ke rumah kakek, aku butuh pencerahan saat ini.

          Sekitar 20 menit aku telah sampai di pelataran rumah tradisional dengan berbagai tanaman di depannya. Turun dari mobil aku langsung saja berjalan menuju rumah tradisional yang merupakan rumah kakekku itu. Kubuka pintu kayu berwarna coklat tua itu, mencari ruangan kakek adalah tujuanku saat ini.

          ‘ceklek…’ decitan pintu terdengar kala kubuka dengan hati-hati. Kulihat seorang lelaki tua sedang menatap ke jendela kayu dengan pandangan menerawang. Ia bergerak menyadari kedatanganku, lantas tersenyum menyadari diriku yang datang mengunjunginya. Kubalas senyumnya dengan senyum lebarku, sudah cukup lama aku tak bertemu dengannya. Terbesit rasa rindu, melihat orang yang begitu kusayangi dan kuhormati di dunia ini. Aku melangkah perlahan menghampirinya yang kini tengah membentangkan tangannya, ingin memelukku. Kupercepat jalanku menujunya, menyambut hangat pelukannya.

          “sudah lama kau tak kesini, semenjak tugas itu diturunkan padamu.” Ia melepas kontak kami dan menggiringku duduk di kursi kayunya.

          “entahlah, kek. Aku sedang bimbang dengan tugas itu.” Aku menjawab sekenanya, memang itulah yang sedang kualami. Pikiranku melayang membayangkan segala kejadian yang kualami semenjak tugas sialan itu diberikan padaku.

“hah sudahlah. Aku dan Sehun akan membantumu, karena hanya kau yang bisa menyelesaikan tugas itu, Luhan.” Ia mengangguk paham dengan masalah yang dihadapi cucunya itu. Memang tugas itu begitu berat, dan memusingkan.

“kek, apa yang harus kulakukan untuk segera menyelesaikan tugas ini. Aku sungguh sudah merasa terbebani.” Luhan hanya bisa mengeluh, karena ia sendiri belum mengerti sepeenuhnya dengan tugas itu. Ia hanya diberikan sebuah kalimat bahwa ia harus melakukan sesuatu. Karena hanya kakeknya yang mengetahui cara menyelesaikan tugas itu.

“aku akn memberitahumu bagiamana caranya.”

          “Jadi kau harus membuatnya bertekuk lutut padamu, Lu. Kalau bisa ia harus jatuh cinta padamu.”

-Bersambung-

Bagaimana nih dengan chapter 1nya, hancurkah? Atau bikin penasaran?. Sebenarnya aku bukan tipe yang suka bikin cerita kayak gini, tapi mau bagaimana lagi? Tiba-tiba aja idenya muncul gitu aja. Yah sebenarnya aku bikin teasernya dulu. Eh malah kepikiran kalau lebih seru nggak usah di kasih teaser. Oh iya, cast-cast lain akan bermunculan sesuai jalannya cerita. Jadi di chapter ini masih sekedar pengenalan aja.Oh deh segitu aja curcolnya ditunggu komen dari readers tentang kelanjutan fanfict ini. Terima kasih untuk readers yang mau baca dan juga author yang publish.

–See You Later—

One response to “[FREELANCE] BEAUTIFUL DEMON (1/?)

  1. ANDWAEEEEEEEEEEE!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! LUHAN????? BERTEKUK LUTUT??? IBLIS???? DITUNGGUUU NEXT CHAPTERNYA!!!!
    Wahhhh, excited banget akunya. Soalnya udah lama nggak nemu ff yang temanya setan(?) kayak gini. Tiba-tiba keinget Devil Beside Me. Wah, aku suka, aku suka/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s