[FREELANCE] HI, THE ONE

hi-the-one

a fanfic by drixya

HI, THE ONE

with Allena Wu (OC), Oh Sehun and find by yourself.

Genre(s) : Romance, Friendship, Hurt || Rating : PG-13 || Length : Chaptered || Warning! Work in progress.

I own nothing, but storyline and OC. Beautiful poster credits to Xyoblue.

Piece 1 : Hi. How are you? Do you miss me?

E—X—O

“Passport?”

“Sudah.”

“Baju hangat?”

“Sudah.”

“Pakaian dalam?”

“…”

“Apa? Aku tidak salah-kan? Itu juga penting, lho.”

Allena memutar bola mata, jengah menanggapi pertanyaan serta ekspresi kakaknya yang kelewat polos, seolah tanpa dosa. Memilih menyeret kembali kopernya, Allena melangkah maju kalau sang kakak tak memegangi sikunya. Dengan malas, Allena berbalik dan secara tegas bertanya, “apa lagi, Ge?”

“Kau yakin mau pergi sekarang? Bagaimana kalau tahun depan?”

Manik Allena melebar mendengar kata ‘tahun depan’. Lantas saja, ia bersidekap dan menatap galak sang kakak yang lebih tinggi darinya. “Setelah dua tahun, Gege masih mau menahanku?” Suaranya tenang, namun sirat akan kekesalan.

“Allena,” si sulung memegang pundak adiknya erat, “kau masih terlalu muda untuk tinggal sendirian di negeri orang.”

I’m twenty now. Dan ada Seunghwan disana yang akan tinggal bersamaku.” Tukas Allena.

Sang kakak membuang napas kasar, tahu benar bahwa ia tak punya alasan lagi untuk sekedar membuat adiknya bertahan lebih lama dengannya di tanah kelahiran mereka. “Ok, aku kalah.” Ujarnya seraya mengangkat tangan pertanda menyerah. “Kalau kau memang mau ke sana dan meninggalkan Gege sendirian di sini, tak masalah. Pergilah.”

Ia melangkahkan tungkainya ke arah berlawanan, meninggalkan sang adik yang sedikit shock dengan kalimat yang ia utarakan. Sadar kakaknya semakin jauh, Allena sontak berlari walau kesulitan karena menarik koper besar. Lalu menghambur, memeluk tubuh besar kakaknya dari belakang.

“Kris Ge, ku mohon jangan seperti ini.” Lirih Allena. “Kan ada Mama dan Baba di sini. Lagi pula Gege bisa menghubungiku kapanpun. Kali ini, Gege mau kan percaya padaku?” Tambahnya. Suara Allena terdengar amat putus asa. Tak ayal membuat Kris, kakaknya, merasa bersalah juga. Ia sadar sudah tak ada alasan lagi baginya untuk menahan Allena bersamanya. Adiknya banyak berjuang selama dua tahun ini dan ketika kesempatan itu tiba, Kris justru merasa tak rela.

Kris melepaskan rengkuhan adiknya sembari berbalik. Ditatapnya manik Allena yang penuh sirat memohon. Allena memang sudah bukan gadis kecil lagi, Kris tahu itu. Tapi tetap saja, mengetahui fakta bahwa ia akan terpisah jauh dengan sang adik untuk waktu yang tidak sebentar, entah mengapa sebagian dari hatinya terasa hampa.

Ge, boleh, ya?” Allena kembali memohon.

Sekali lagi Kris menghembuskan napas kasar. “Mau bagaimana lagi? Kita sudah ada di bandara.”

Allena sontak tersenyum sebelum kembali menghambur ke pelukan sang kakak. “Terimakasih, Ge.” Mau tak mau sudut bibir Kris tertarik pula. Ia balas merengkuh adiknya lebih erat.

“Kalau akhirnya Gege mengizinkan aku, kenapa tadi Gege merajuk segala?” Tiba-tiba Allena bersuara di tengah suasana haru yang menyelimuti mereka. Sontak Kris melepaskan rengkuhannya. “Tadi aku sedang latihan acting.” Ujar Kris, datar.

Si bungsu yang tak percaya hanya tidak percaya menanggapinya. “Benarkah?” Sangsi Allena. “Kalau begitu, Gege bersabarlah. Kalau aku sudah lulus, biar aku yang mengurusi bisnismu dan Gege bisa jadi aktor. Bagaimana?”

Kris berdecak. “Sudahlah, jangan banyak bicara. Cepat berangkat dan buktikan ucapanmu itu.” Tangan Kris melakukan gerakan mengusir yang membuat Allena tertawa walau kesal juga diperlakukan seperti itu oleh kakaknya.

“Iya, iya, aku pergi. Tapi awas saja kalau Gege merindukanku! Bye~” Allena menyempatkan diri mengecup pipi sang kakak sebelum berjalan masuk lebih dalam ke bandara. Meninggalkan Kris yang hanya bisa tersenyum sedih memandangi punggung adiknya yang semakin tak terlihat. Sepertinya mulai sekarang Kris harus membiasakan diri tanpa sang adik.

***

Drrt. Drrt.

“Halo? Siapa ini?”

Ck. Ini aku. Allena. Kau dimana sih Son Seunghwan?

Seunghwan mengerjap bingung. “Kenapa kau tiba-tiba menanyakan keberadaanku?”

Ada ruang sunyi selama beberapa detik, sebelum rungu Seunghwan menangkap suara helaan napas yang kemudian di susul sebuah pertanyaan. “Kau ingat tidak hari ini tanggal berapa?

Seunghwan mengangguk kendati Allena disebrang sana tentu tak bisa melihatnya. “Aku ingat, sekarang tanggal—oh! Ya, Tuhan! Aku lupa!” Gadis Son sontak berdiri, menimbulkan sedikit keributan di ruang kelasnya.

“Allena, maafkan aku. Hari ini ada banyak kuis, aku sampai lupa menjemputmu. Bagaimana ini? Sepuluh menit lagi dosennya datang dan aku masih ada kuis. Kuncinya juga ku bawa pula.” Beberapa penghuni ruang tersebut mulai menatap tak suka pada Seunghwan, risih karena dia menelpon dengan volume suara yang tinggi. Padahal jelas banyak dari mereka yang tengah mencoba mendalami materi.

“Begini saja.” Namun sepertinya Seunghwan tak menyadari situasi di sekitarnya. “Kau ke apartemen dia, ya?”

Ya! Bagaimana mungkin bisa begitu? Kalau dia marah, bagaimana?” Allena terdengar tidak terima dengan ide sahabatnya.

“Masa dengannya saja kau takut, sih? Mana Allena yang dulu bahkan berani memukul anak berandal, huh?”

Kau ini. Ok, aku akan ke sana. Tapi selesai kuliah, kau harus menjemputku.

“Tenang saja. Nanti aku akan menghubungimu lagi. Bye~” Seunghwan segera mengakhiri pangilan.

***

Dengusan meluncur begitu saja kala Seunghwan memutus panggilan begitu saja. Tanpa tahu bahwa Allena masih dalam keadaan dilema. Tengah tak yakin harus melakukan apa. Saran Seunghwan ada benarnya memang, tapi terasa begitu sulit bagi Allena. Bukan apa, ia hanya tidak tahu harus bersikap bagaimana nantinya jika bertemu dengan si tuan rumah.

Allena menatap lekat wallpaper handphone-nya. “Haruskah?” Lirihnya, seolah tengah bertanya pada si tokoh utama wallpaper tersebut. Ia menggeleng, merasa bodoh karena berbicara dengan sebuah foto.

Meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja, Allena menarik kopernya. Lantas menghentikan taksi yang akan mengantarnya ke tujuan.

***

“Heh, Oh Sehun!” Taehyung mengayunkan tungkainya sedikit lebih cepat guna mensejajarkan diri dengan pemuda yang namanya ia serukan. “Ada apa?” Sehun melirik sekilas ke Taehyung sebelum kembali menatap lurus.

Taehyung tak langsung menjawab, diliriknya dua gulung kertas yang berada dalam gendongan Sehun. “Dosen Kim menolak rancanganmu lagi?” Selidik Taehyung. Sebuah dengungan Taehyung dapati sebagai jawaban. Itu lebih dari cukup untuk menjelaskan mengapa suasana hati seorang Oh Sehun terlihat dalam keadaan tidak baik, meskipun bagi Taehyung dia memang selalu terlihat begitu.

“Aku heran. Ketika dosen lain selalu memuji desainmu, kenapa Dosen Kim lebih sering menolaknya?” Heran Taehyung ketika keduanya sudah duduk di salah satu meja kantin. “Apa dia masih marah karena  waktu itu kau mengencani Dosen Bae?” Tambahnya disertai tawa.

Tak ayal gurauan Taehyung mengundang tawa Sehun mengudara, sepertinya mood-nya membaik. “Ya, sepertinya dia memang belum bisa menerima jika Dosen Bae lebih memilihku.” Ujar Sehun, percaya diri.

“Kenapa tidak kau ajak kencan Dosen Bae lagi? Mungkin Dosen Kim akan semakin menyayangimu.”

Sehun terkekeh. Ia menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi dan memilih memejamkan mata, berharap dengan begitu sedikit penatnya dapat berkurang. “Aku tidak mengencani gadis yang sama untuk kedua kalinya, Kim Taehyung.”

***

Allena mengecek alamat yang Seunghwan kirimkan padanya melalui pesan singkat dan nomor yang tertera di sebuah pintu secara bergantian. Ia sudah tiba di tempat yang benar. Sedikit menghilangkan rasa gugup, Allena menarik napas dalam. Jemarinya terangkat guna menekan tombol bel di sisi pintu.

Tak ada jawaban. Setelah Allena membunyikannya beberapa kali pun, masih tak terdengar jawaban dari intercom. Allena bersidekap, menimang kemungkinan sang tuan rumah sedang tidak ada di apartemennya, lalu apa yang harus ia lakukan?

Maniknya menangkap deretan tombol angka dibawah bel. Apartemen ini menggunakan sistem password sebagai kunci. Allena membatin, haruskah ia mencobanya?

***

Sepasang mata Sehun kembali membuka kala handphone di saku jeans-nya bergetar. Kerutan nampak muncul di dahi Sehun setelah ia membaca pemberitahuan yang ia terima. Seseorang kini tengah berada di kediaman pribadinya. Tapi siapa?

“Kau kenapa, Sehun?” Taehyung yang tengah menyantap ramyeon-nya cukup heran melihat ekspresi Sehun. Pemuda Oh hanya menanggapinya dengan gelengan. Sebab ia masih sibuk mencerna siapa gerangan sosok yang berhasil masuk ke apartemennya. Tidak mungkin pencuri karena ia tahu seberapa ketatnya keamanan di gedung tersebut.

Dan Sehun yakin betul tak satupun tahu password apartemennya, keluarganya sekalipun. Lantaran ia menggenukan kombinasi tanggal sebagai kuncinya. Kombinasi tanggal ulang tahunnya dan tanggal ulang tahun—

Seketika, Sehun bangkit begitu menyadari sesuatu.

“Kenapa—Heh, tunggu! Kau mau ke mana, Oh Sehun? Aku belum bilang kalau Yoon Cha mencarimu!” Namun sekeras apapun Taehyung berteriak, tak menghentikan langkah cepat Sehun. Bahkan pemuda Oh itu tak peduli pada dua gulung rancangan yang ia tinggalkan.

***

Pupil Allena menelusuri seisi ruangan dimana ia berada. Ada rasa tidak meyangka dalam benak Allena ketika tahu dia menghuni apartemen semewah ini. Sejak dulu Allena memang tahu bahwa dia berasala dari keluarga yang sangat kaya. Tapi ini hal baru bagi Allena mengingat betapa si tuan rumah dulunya selalu terlihat sederhana. Ia bahkan ingat bagaimana mereka selalu mengendarai sepeda untuk pulang pergi sekolah.

Tangan Allena meraih salah satu bingkai di atas sebuah rak. Sudut bibirnya otomatis tertarik ke atas melihat foto yang terbingkai oleh kayu itu. Dimana ada dirinya dan dia yang tengah saling merangkul, tersenyum lebar pada kamera. Ketika itu, mereka berada di halaman belakang rumah lama Allena.

Allena meletakkan kembali bingkai tersebut dan berniat meraih bingkai lainnya. Namun derit pintu yang terbuka terpaksa mengalihkan atensi Allena. Tubuhnya membeku begitu manik kelamnya menangkap refleksi seorang pemuda di ambang pintu. Tak jauh berbeda dengan keadaannya, si pemuda pun nyaris limbung tat kala menyaksikan sosok yang ia kira telah benar-benar pergi dari kehidupannya kini tengah berdiri beberapa meter dihadapannya.

Hening berkuasa. Keduanya tak kuasa ‘tuk sekedar mengucap sapa. Hanya bahasa lewat tatap yang mampu menyampaikan rasa yang lama mendekam dalam kukungan hati mereka. Sehun, si pemuda, memberanikan diri melangkah, mengikis jarak yang membentengi keduanya.

Kala hanya sepintas udara yang membatasi, Sehun bersuara. “Allena. Kau Allena, kan?” Suaranya parau ketika mencoba memastikan apa yang tengah ia tatap. Diselipi rasa takut jika ia terjebak dalam mimpi yang terlalu lama ia idamkan.

Allena kehilangan kata. Sesak yang ia rasa menguapkan setiap kata yang coba ia rangkai. Sekedar anggukan yang bisa ia lakukan. Tapi itu cukup. Sangat cukup bagi Sehun untuk mengkonfirmasi bahwa dirinya tak dijebak halusinasi.

Ia bawa Allena ke rengkuhannya. Mendekapnya sedalam rindu yang ia punya.

“Ku mohon,” Sehun berbisik, “jangan pergi lagi.”

To be continued…

Chit – chat!

Pertama kalinya coba nulis ff chapters dengan genre kayak gini. Adakah yang mau ini dilanjut?

Wish y’all enjoy this fanfic~ Thankseu! ^^

14 responses to “[FREELANCE] HI, THE ONE

  1. Ecieeeeeee sehun kangen nih. Gak halusinasi kok. Nyata nyata

    Hmmmmm…. aku tdk akan pergi lagi

    Hahahahaha

  2. woaaahh kerenn, lanjutt kak ditunggu yakk hehe. Feel nya dapet bangett deh.
    Oh iya pengen tanya kamu buat cover pake app apa sih?? Aku lagi belajar buat cover ff. Cover nya keren.

  3. Oh My God!!! Allena, kamu siapa? Dengan siapa? Semalam berbuat apa? #plakk #malah nyanyi
    Hadeh, entah kenapa aku familiar banget sama kata-kata
    “Aku tidak mengencani gadis yang sama untuk kedua kalinya, Kim Taehyung.” Kayaknya aku sering baca kata-kata ini di ff. Hmm, sudah kuduga mereka punya affair tapi aku belum bisa nebak kelanjutannya. Keep writing

  4. Lanjut lanjut lanjut.
    Mereka kekasih dimasa lalu kah?
    Huunn jgn sampe lu makan omongan lu sendiri td “tdk akan mengencani org yg sama” haha. Ceritanya jgn terlalu hurt yaa. Happy ending aja *nawar. Haha
    Ditunggu yahhh cantik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s