[FREELANCE] Mate ? #2

FREELANCE-Mate#1-Nathan Jung_poster

Title: Mate ? #2
Author/twitter : Nathan Jung ( twitter : @niaEW )
Cast: Jeon Wonwoo  (SEVENTEEN), Shin Hani (OC)
Genre: romance, AU
Rating: PG-16
Length : Twoshoot
Disclaimer: 100% keluar dari otak imajinasi saya :v

Summary:

Jika kita bertemu ditempat ini, detik ini juga. Maka kita berjodoh. – Wonwoo –

Previous : Chapter 1

—//—

Hani yang baru saja selesai memandikan Wooyoung harus dibuat kesal karena anak itu terus saja berlari hingga membuat kaki Hani beberapa kali terantuk kaki meja. Pemandangan itu membuat bocah berusia 6 tahun itu terkikik geli.

“YAK SHIN WOOYOUNG BERHENTI!!” teriak Hani lalu mengatur nafasnya.

‘Astaga ini baru hari ke-3 mereka disini. Masih ada 4 hari. Bisa-bisa aku mati berdiri. Sabar Shin Hani.’ Batin Hani sambil mengelus dadanya.

TING TONG

“Ya tunggu sebentar!!” teriak Hani sambil menggiring Wooyoung masuk ke kamar. Lalu berjalan membuka pintu.

Sajangnim?” ucap Hani dengan pandangan tidak percaya menatap Wonwoo yang berdiri dihadapannya.

BRUK

Wonwoo menatap seorang anak kecil yang menabrak pinganggnya. Hani menutup mulutnya karena Wooyoung yang belum berpakaian sama sekali menabrak kaki Wonwoo. Hani menutup wajahnya karena kejadian memalukan yang menimpanya. Rasanya Hani ingin menelan obat pembasmi serangga sekarang juga. Wonwoo menatap anak kecil yang terkekeh didepan kakinya dengan heran lalu menatap Hani penuh tanya.

“Ehm.. maafkan keponakan saya.” Ucap Hani sambil menarik Wooyoung ke belakang tubuhnya.

“Mari masuk sajangnim. Maaf jika appartemenku berantakan.” Ucap Hani sambil menggaruk tengkuknya. Wonwoo mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan itu yang mayoritas berantakan karena mainan anak-anak.

“Silahkan duduk.” Ucap Hani sambil tersenyum kaku. Demi apa pun ia sangat gugup saat ini.

“Aku mau bersama ahjussi tampan!” ucap Wooyoung yang melepaskan pegangan tangan Hani kemudian duduk di pangkuan Wonwoo. Hani mencelos. Sungguh tidak ada kejadian yang benar-benar sememalukan ini selama 22 tahun hidupnya.

“Shin Wooyoung, kau harus berpakaian dulu eoh? Baru bersama ahjussi tampan. Kau tidak malu apa telanjang seperti itu di depan orang lain selain keluargamu.” Ucap Hani dengan nada seperti seorang ibu yang menahan kekesalannya. Wonwoo merasakan darahnya berdesir saat Hani menyebutnya tampan, lalu tersenyum tertahan.

“Aku bantu memakaikannya pakaian.” Ucap Wonwoo lalu menggendong Wooyoung. Hani menahan tangan Wonwoo

“Tidak usah sajangnim. Itu sangat merepotkan. Biar aku saja ak-“ ucapan Hani terpotong saat Wonwoo meletakan telunjuknya di bibir Hani.

“Wooyoung-ah kajja” ucap Wonwoo lalu melangkahkan kakinya menuju sebuah kamar yang terbuka.

—//—

Hani terduduk dihadapan Wonwoo yang sedang bermain dengan Wooyoung. Entah kenapa Hani menyunggingkan senyumnya saat melihat mereka. Wonwoo seperti calon ayah idaman dimatanya. ‘Aku berharap akan mendapat suami seperti Jeon sajangnim ‘ batin Hani sambil tersenyum menerawang lalu berubah datar seketika karena ia berpikiran yang tidak-tidak. Wonwoo yang sesekali mencuri pandang pada Hani terkesima saat melihat senyuman gadis itu yang membuat hatinya menghangat dan tidak bisa mengalihkan pandangannya pada gadis itu barang sedetik pun.

‘Sial gadis ini terlalu cantik’ batin Wonwoo sambil terus memperhatikan Hani yang sekarang ini berpenampilan seperti gadis remaja berusia 17 tahun. Polos tanpa make up dengan poni panjangnya yang ia ikat keatas menampilkan dahinya.

CEKLEK

“Oh ada tamu? Anyeonghaseyo ” ucap Yujin sambil membungkukan badannya sopan. Wonwoo membalasnya dengan membungkukan badannya juga.

“Dia juga keponakanku. Anak kakakku yang pertama.” Jelas Hani saat melihat Wonwoo memandang Yujin penuh tanya.

“Selamat sore. Perkenalkan namaku Shin Yujin. Senang bertemu dengan anda.” Ucap Yujin sambil membungkukan badannya. Wonwoo tersenyum simpul.

“Senang bertemu denganmu juga Yujin-ssi. Aku Jeon Wonwoo. Direktur tempat bibimu bekerja.” Ucap Wonwoo. Yujin menutup mulutnya tidak percaya lalu menepuk-nepuk lengan Hani dengan keras. Hani memandang keponakan gadisnya ini dengan horor.

“Astaga jadi Anda Direktur tempat Hani imo bekerja? Ya Tuhan. Kau beruntung sekali Hani-yaa.” Goda Yujin sambil mencolek dagu bibinya.

“Apa? Hani-yaa? Dasar anak tidak sopan!!” ucap Hani sambil mencubit pinggang Yujin. Yujin mengaduh kesakitan sambil terus tertawa. Wonwoo terkekeh geli melihat kelakuan kedua wanita di depannya. Wonwoo memandang kepergian Hani dan Yujin sampai di dapur yang letaknya tidak jauh dari tempat dimana ia duduk sekarang.

Hani melirik jam dinding di appartementnya yang menunjukan pukul  5 sore saat ini.

“Kenapa kau pulang telat eoh?” tanya Hani sambil membuatkan makan malam untuk manusia yang ada di rumahnya.

“Sebenarnya aku sudah pulang dari jam 2 tadi. Tapi tadi Hwayoung oppa menjemputku dan mengajakku jalan-jalan dulu.” Jelas Yujin sambil melanjutkan meminum air yang sempat tertunda. Hani mendenguskan nafas kesal. Ia sebal pada Lee Hwayoung, laki-laki yang terus mengejarnya dan lebih sialnya orangtuanya menjodohkannya dengan laki-laki itu. Entah dengan cara apa laki-laki itu dapat merayu ayah dan ibunya padahal Hani sudah berulang kali menolak laki-laki itu. Memang Lee Hwayoung cukup tampan tapi menurutnya Wonwoo lebih tampan. Hani memegang spatulanya erat saat memikirkan Wonwoo.

‘Aish.. ada apa denganku?’ batin Hani karena sedari tadi ia terus memikirkan Wonwoo.

“Ngomong-ngomong direkturmu sangat tampan . Aku hampir pingsan melihat senyumannya. Coba saja kalau aku tidak punya pacar. Aku sudah mengejarnya.” Ucap Yujin sambil tersenyum menggoda kearah Hani. Hani membulatkan matanya.

“Jadi kau sudah punya pacar?!” kaget Hani sambil menatap Yujin lekat-lekat. Yujin hanya mengangguk malu-malu.

“Aisshh… anak jaman sekarang.” Gumam Hani sambil melanjutkan memasaknya.

—//—

Setelah mereka selesai menyantap makanannya, Wonwoo tidak henti-hentinya tersenyum. Bahkan rasa masakan Hani masih sangat terasa di mulutnya. Hani yang tidak sengaja menangkap bayangan Wonwoo yang tengah tersenyum sambil mengelus rambut Wooyoung yang tengah tertidur di pangkuannya seakan lupa cara bernafas dan jantungnya berdegub kencang.

‘Ada apa denganku?’ batin Hani sambil memijat pelipisnya.

“Kau sakit?” tanya Wonwoo sambil menatap Hani khawatir. Hani terkesiap

“A-ah? Aku baik-baik saja.” Ucapnya sambil tersenyum kaku.

Wonwoo melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya dan mendesah kesal karena waktu sudah menunjukan pukul 10 malam.

‘Sial kenapa waktu berlalu begitu cepat? Bahkan waktu 5 jam saja kurang untukku bersama dengannya.’ Batin Wonwoo dengan wajah kesalnya, namun tergantikan saat melihat Hani yang tertidur di meja hadapannya dengan tangan yang terlipat sebagai sandaran. Wonwoo mengelus rambut Hani dengan hati-hati. Ia merasakan jutaan kupu-kupu beterbangan di perutnya saat tangannya menyentuh rambut lembut gadis itu. Setelah puas memandangi wajah tidur Hani yang menakjubkan ia berdeham dan itu membuat Hani sedikit-sedikit membuka matanya.

“Ehm… sepertinya aku harus pulang.” ucap Wonwoo dengan nada sedikit enggan.

“Oh?” hanya itu reaksi Hani. Entah mengapa ini sangat canggung.

“Tunjukan dimana kamar Wooyoung.” Perintah Wonwoo sambil menggendong Wooyoung. Hani segera menuntun Wonwoo ke kamar di sebelah kamarnya. Wonwoo menurunkan Wooyoung dengan hati-hati, lalu memakaikan selimut ke tubuh bocah itu.

Hani mengantar Wonwoo sampai di depan pintu appartementnya.

“Terimakasih karena sudah membantuku mengurus keponakanku sajangnim. Sepertinya dia sangat cocok denganmu, berbeda denganku. Dia sangat rewel.” Ucap Hani sambil tertawa yang membuat kadar kecantikan Hani bertambah berkali-kali lipat dimata Wonwoo hingga membuat jantungnya berdegub kencang.

“Apakah kau tidak mengingatku?” tanya Wonwoo spontan dan merutuki kebodohannya kenapa kalimat itu yang terlontar. Hani memandang  Wonwoo dengan pandangan penuh tanya.

“Apa?” tanya Hani. Wonwoo tersenyum simpul lalu mengelus puncak kepala Hani.

“Aku pulang dulu eoh.” Ucap Wonwoo lalu berbalik meninggalkan Hani yang masih mematung dengan wajahnya yang memerah.

‘Jadi kau belum mengingatnya?’ batin Wonwoo dengan wajah sedihnya, kemudian ia membenturkan kepalanya ke kemudi dengan pelan sambil tersenyum lebar saat memikirkan kejadian hari ini. Dimulai dari keberaniannya untuk memberikan minum pada Hani, mengunjungi appartementnya walaupun ia harus terdiam selama 10 menit sebelum mengumpulkan keberaniannya untuk memencet bel, menyentuh bibir gadis itu dengan telunjuknya, serta mengusap kepala gadis itu.

“Sepertinya aku sudah gila.” Gumam Wonwoo sambil menatap tangannya yang ia gunakan untuk menyentuh Hani.

—//—

TOK TOK

“Masuklah.” Ucap Wonwoo dengan nada sedikit lesu. Hani mengernyitkan dahinya karena perubahan suara Wonwoo yang tidak seperti biasanya.

“Sajangnim, ini laporan pengembangan produk kita yang baru.” Ucap Hani sambil memperhatikan wajah Wonwoo yang sangat pucat.

“Apakah Anda baik-baik saja? Wajah Anda sangat pucat sajangnim. Sebentar aku panggilkan dokter dulu.” Ucap Hani sedikit panik, namun pergelangan tangannya dicekal Wonwoo.

“Tidak perlu sungguh.” Ucap Wonwoo dengan sisa tenaga yang ia miliki.

“Tapi sajangnim wajah An- ASTAGA!!!” ucapan Hani terpotong saat Wonwoo yang tiba-tiba ambruk di depan tubuhnya dengan posisi kepala Wonwoo yang terjatuh di pundak Hani. Jantung Hani berdetak cepat karena posisinya saat ini dengan laki-laki itu tidak berjarak.

CEKLEK

“Won- YA AMPUN!!!” teriak Mingyu heboh saat mendapati sahabatnya yang tidak sadarkan diri. Ia segera mengambil alih tubuh Wonwoo dari Hani yang sepertinya kesusahan menopang berat tubuh pria itu.

“Dasar kepala batu. Aku sudah mengingatkannya untuk tidak bekerja terlalu keras. Ck dasar! Padahal aku ingin mengajaknya makan malam diluar.” Gerutu Mingyu sambil berjalan menopang tubuh Wonwoo. Hani mengekorinya dengan membawa jas serta tas Wonwoo. Semua pegawai sudah pulang karena waktu sudah menunjukan pukul 7 malam sekarang, sehingga tidak ada yang melihat keadaan Wonwoo yang seperti ini.

Sesampainya di mobil Wonwoo, Hani hanya berdiri disamping mobil. Mingyu menatapnya tajam.

“Tunggu apa lagi?! Ayo masuk?!” perintah Mingyu dengan nada tingginya karena kesal akan perilaku tidak tanggap Hani. Hani terkesiap dan langsung membuka pintu belakang.

—//—

Mingyu menekan password rumah besar Wonwoo. Hani memperhatikan jari Mingyu yang menekan angka-angka di tombol itu. Bukannya bermaksud lancang, tapi matanya tidak sengaja memperhatikannya. Hani terkesiap saat merangkai angka password rumah Wonwoo yang ternyata adalah tanggal kelahirannya. Mingyu memperhatikan Hani yang sedang melamun. Entah melamunkan apa. Benar yang dikatakan Wonwoo “Kau akan jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihatnya”. Mingyu memang akui gadis itu sangat cantik, namun sayanganya istrinya jauh lebih cantik.

“Wakil direktur Kim bisakah kita masuk? Udara semakin dingin. Kasihan Jeon sajangnim.” ucap Hani. Mingyu tersadar lalu segera membawa Wonwoo menuju ke kamarnya di lantai 2.

—//—

“Dia demam. Aku akan mengambil handuk basah dan air.” Ucap Hani setelah mengecek suhu tubuh Wonwoo dengan menempelkan punggung tangannya ke dahi Wonwoo lalu pergi meninggalkan kamar Wonwoo. Mingyu menatap sahabatnya yang terbujur kaku diatas kasur.

“Berterimakasihlah padaku setelah ini Jeon Wonwoo, karena aku membawa hadiah yang sangat istimewa untukmu.” Gumam Mingyu sambil menatap tubuh lemas Wonwoo.

Hani masuk dengan membawa baskom berisi air dan handuk basah. Ia segera memeras handuk kecil itu dan menempelkannya pada dahi Wonwoo. Mingyu tersenyum simpul melihat kekhawatiran gadis itu.

‘Sepertinya perasaanmu akan terbalaskan tuan Jeon.’ Batin Mingyu sambil tersenyum.

“Hani-ssi.” Panggil Mingyu menyadarkan Hani yang menatap Wonwoo dengan sorot mata yang sedih.

“Ya?” jawab Hani sambil menolehkan kepalanya menatap Mingyu.

“Tolong jaga Wonwoo ya. Aku ada urusan lain. Istriku juga tengah mengandung saat ini. aku takut ada apa-apa dengannya. Kau menginap saja disini. Tolong ya Hani.” Pinta Mingyu. Hani menyunggingkan senyumannya dan menganggukan kepalanya.

“Terimakasih sebelumnya.” Ucap Mingyu.

—//—

Sepeninggal Mingyu,Hani terus terjaga menjaga Wonwoo hingga ia rela tidak tidur sampai pansanya benar-benar turun. Untuk mencegah agar ia tidak mengantuk, ia melihat-lihat kamar Wonwoo yang sangat besar. Pandangannya tertuju pada sebuah nakas disampingnya. Matanya mengernyit saat melihat gantungan ponsel berbentuk kuda yang ada dalam sebuah kotak kaca.

“Ini kan?” gumamnya. lalu ingatannya kembali pada peristiwa 4 tahun yang lalu dimana ia ditolong oleh seseorang untuk membayar makanannya karena dompetnya tertinggal di loker dan memberikan gantungan ponsel kesayangannya pada orang itu.

“Jadi selama ini Tuan Keajaiban dan Jeon sajangnim adalah orang yang sama?” ucapnya sambil melihat wajah Wonwoo dengan seksama. Jantungnya berdegub kencang saat mengingat kemiripan wajah mereka. Pantas saja Hani seperti tidak asing saat melihat Wonwoo. Wajahnya memerah saat mengingat Tuan Keajaiban yang menolongnya adalah orang yang membuatnya jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Hani sekarang tahu apa penyebabnya Wonwoo menanyakan apakah ia tidak mengingatnya tempo hari.

“Aku harus menanyakannya dahulu. Mungkin saja dia beli atau apalah. Barang seperti itukan banyak dijual toko.” Gumamnya sambil memperhatikan gantungan ponsel itu dan Wonwoo secara bergantian.

—//—

“Eungh” lenguh Wonwoo saat sinar matahari menelusup masuk ke kamarnya. Ia merasakan sesuatu menempel di dahinya dan menarik benda itu lalu mencelupkan ke baskom di nakas sebelah tempat tidurnya. Ia mencium bau masakan yang menarik dirinya untuk menuju ke dapur. Wonwoo terkesiap saat melihat sosok Hani yang sedang sibuk di depan kompornya. Untuk memastikan penglihatannya tidak salah, Wonwoo sampai harus mengucek matanya berkali-kali. Jantungnya berdegub kencang saat Hani menolehkan kepalanya sedikit untuk mengambil bahan.

‘Jadi aku tidak berhalusinasi?’ batin Wonwoo sambil tersenyum lebar. Ia merasakan hatinya sangat bahagia saat melihat Hani ada dalam jangkauannya saat ini. Wonwoo melangkahkan kakinya perlahan untuk mendekati Hani.

“Shin Hani?” panggilnya. Hani menolehkan kepalanya dan tersenyum simpul kearah Wonwoo.

“Apakah Anda sudah merasa baikan?” tanya Hani sambil tetap menyunggingkan senyumannya yang membuat tubuh Wonwoo memanas dan darahnya berdesir. Karena tidak ada reaksi apa pun dari laki-laki didepannya, Hani menempelkan tangannya ke dahi Wonwoo. Wonwoo terkesiap akan tindakan Hani.

“Maafkan aku Jeon sajangnim.” Ucap Hani lalu segera menurunkan tangannya saat merasakan atasannya itu sudah membaik, namun tangannya ditahan oleh Wonwoo. Wonwoo menggenggam tangan wanita itu lalu meletakannya di dada kirinya.

“Kau merasakannya? Dia akan berdetak seperti ini saat bersamamu saja.” Ucap Wonwoo sambil menatap mata coklat Hani dalam. Hani merasakan jantungnya juga berdegub sangat kencang serta tubuhnya yang memanas.

“Aku mencintaimu Shin Hani.” Ucap Wonwoo yang membuat Hani terkesiap. Darahnya berdesir hebat saat mendengar pengakuan Wonwoo. Hani melepaskan perlahan tangannya yang digenggam Wonwoo.

Sajangnim aku ingin bertanya sesuatu.” Ucap Hani sambil menatap Wonwoo.

“Apa?” tanya Wonwoo sambil menyelipkan rambut Hani yang menutupi wajah cantiknya ke belakang telinganya.

“Ikut aku.” Ucap Hani sambil menarik tangan pria itu ke kamarnya.

Setelah mereka sampai di kamar Wonwoo. Hani mengambil kotak kaca yang berisi gantungan ponsel berbentuk kuda.

“Apakah kau adalah Tuan Keajaiban yang pernah menolongku?” tanya Hani sambil menatap lekat-lekat mata Wonwoo. Wonwoo tersenyum lebar.

“Akhirnya kau mengingatku juga.” Ucap Wonwoo. Hani mengernyitkan dahinya bingung dan penasaran akan kalimat selanjutnya yang akan dikatakan pria itu.

“Kau benar. Aku adalah si Tuan Keajaibanmu.”ucap Wonwoo sambil menatap mata Hani lekat-lekat. Jantung Hani yang entah keberapa kalinya berdegub dengan kencang.

“Akhirnya aku menemukanmu Tuan Keajaiban.” Ucap Hani tidak bisa menahan senyum kebahagiaannya. Wonwoo yang sudah tidak tahan segera menenggelamkan Hani ke dalam pelukannya.

“Kau tahu? Aku selalu berharap dan berdoa  agar aku dipertemukan lagi oleh Tuan Keajaiban yang dengan seenaknya membuatku jatuh cinta untuk yang pertama kalinya.” Ucap Hani dalam pelukan hangat Wonwoo. Wonwoo membulatkan matanya saat mendengar pernyataan cinta Hani yang terselubung itu. Ia melonggarkan pelukannya lalu menatap wajah cantik gadis itu.

“Jadi kau baru saja menjawab pengakuanku?” goda Wonwoo sambil tersenyum menggoda yang membuat Hani menunduk malu dan semakin menenggelamkan wajahnya pada dada bidanng Wonwoo lalu mengangguk setelahnya. Wonwoo tidak bisa menahan senyumannya dan semakin mempererat pelukannya.

“Ayo kita menikah Shin Hani! Aku sudah tidak tahan menunggumu selama 5 tahun. Aku sangat mencintaimu nona Jeon.” Ucap Wonwoo sambil menangkup kedua pipi Hani. Hani terkesiap.

“Apa? 5 tahun? Lama sekali. Kau stalker?” tanya Hani yang membuat Wonwoo terkekeh geli lalu mengusap lembut kepala Hani.

“Ya aku stalker yang terlalu mencintaimu. ” Ucap Wonwoo sambil mengusap pipi Hani.

Cheesy Wonwoo.” Ucap Hani sambil tertawa geli mendengar kalimat manis Wonwoo.

END

Gilaaaa ini cerita terpanjang yang pernah aku buat :v aku gak nyangka bakal jadi sepanjang ini. kalian tahu aku buatnya sampe makan waktu 4 HARI. Uwooooo…

Maaf kalo kalian pegel mbacanya wkwkwkwk :v aku juga gak tau bisa sepanjang ini -.- inspirasi langsung keluar gitu aja BOOM!!

Pada bingung Lee Hwayoung sapa gak? Lee Hwayoung itu member team sky di boys 24 wkwwkwk :v

Duuuh bingung mau curcol apa lagi ._.

Sekian dulu ya curcol dari Nathan. Sampai ketemu lageeee :*

FF ini juga di post di : https://vanillalattecream.wordpress.com/

Selamat berkunjung ^0^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s