[FREELANCE] Remind Me

remind me

Title : Remind Me
Author/twitter : husnaa (@HusnaNafiahM)
Cast : Gongchan (B1A4), Jae In (OC)
Genre : Romance, Marriage Life, AU
Rating : General
Length : ±1.300 words
Disclaimer : Making this one with my very own imagination

Notes

Better to read this first!:-)

 

Sinar mentari pagi menelisik hangat melalui jendela. Suara kicauan burung samar-samar terdengar. Membangunkan Jae In dari tidur lelapnya. Pelukan erat di pinggangnya masih ia rasakan. Matanya mengerjap sesaat sebelum  ia mendongak, melihat wajah seseorang yang memeluknya erat. Sepasang mata tajam balas menatap netra Jae In. Membuat Jae In bergerak kikuk.

Jae In sungguh belum bisa terbiasa dengan kehadiran Gongchan di setiap paginya. Terlebih dengan tangan kekarnya di pinggang Jae In.

“Selamat pagi.” Bisikan pelan keluar dari mulut Jae In. Menyapa kaku Ryu Gongchan, suaminya. Ia segera menundukkan kepalanya begitu mengucapkan ucapan itu, malu. Tatapan tajam Gongchan sungguh tidak baik untuk kerja jantungnya.

Gongchan menyeringai melihat sikap Jae In yang kikuk. Ia terlanjur terbiasa dengan sikap Jae In yang ketus dan bicara tanpa saringan, tapi melihat Jae In yang nervous di dekatnya sungguh hal baru. Dan harus Gongchan akui ia menikmatinya. Istrinya terlihat menggemaskan sekali.

 “Hei,” Gongchan berucap dengan suara serak sehabis bangun tidurnya, mencoba menarik perhatian Jae In. Berhasil! Istrinya mendongak mendengar suara Gongchan, hendak bertanya. Sayangnya, belum sempat mulut Jae In beucap ‘ada apa?’, Gongchan sudah membungkamnya dengan lembut. Membuat Jae In sedikit terperanjat. Namun hal itu tak berlangsung lama karena 5 detik setelahnya, Jae In  menikmati kecupan penuh perhitungan yang Gongchan sampaikan lewat bibirnya.

“Selamat pagi juga,” Gongchan tersenyum datar setelah menyudahi kecupan dengan Jae In. Percayalah, bahkan Gongchan merasa susah untuk berhenti mengecup bibir sang istri. Jae In sungguh sudah menjadi candu bagi Ryu Gongchan.

***

Gemericik air terdengar jelas. Jae In yang tengah asyik menata sarapan di meja makan menoleh ke kamar mandi. Wajahnya merona mengingat apa yang Gongchan lakukan tadi pagi. Sebenarnya hal itu bukan hal baru bagi Jae In. Setelah rekonsiliasi mereka dua minggu yang lalu, hubungan Gongchan dan Jae In berjalan lebih baik. Setidaknya, mereka sedikit bersikap seperti pasangan suami-istri sekarang. Dan semenjak dua minggu itu pula, banyak hal berubah. Gongchan terlihat lebih berani dalam mengungkapkan sisi afeksinya kepada Jae In. Bagaimanapun, kehadiran Gongchan di dekat Jae In sudah cukup membuat jantungnya kelimpungan, apalagi ditambah pelukan dan ciuman di setiap pagi. Jae In bisa gila.

***

Masih tercetak dengan jelas dalam ingatan Gongchan saat mereka beradu pendapat soal suatu hal. Semenjak dua minggu yang lalu, Gongchan sadar bahwa masih banyak hal yang tidak ia ketahui tentang istrinya. Terutama soal masalah phobia istrinya akan tempat gelap, phobia itu tidak terlalu serius tapi cukup membuat Gongchan khawatir, mengingat pekerjaannya yang terkadang menghabiskan banyak waktu terpisah dengan Jae In. Karena pengetahuan baru itu pulalah, Gongchan paham mengapa Jae In meracau dua minggu yang lalu dalam tidurnya. Gadisnya terlalu sensitif akan tempat gelap, itulah yang ia simpulkan.

Dengan alasan itulah, Gongchan bersikeras untuk menemani Jae In di setiap tidurnya. Pada awalnya Jae In menolak mentah-mentah usul tersebut.

“Aku bisa tidur dengan lampu menyala.” Ujar Jae In sebagai alasan.

“Tapi aku tidak bisa.” Gongchan membalas tidak kalah keras kepala. Perdebatan itu berlangsung beberapa hari sampai akhirnya Jae In menyerah, enggan meneruskan perdebatan tak berujung dengan Gongchan. Dan sejak itu, Gongchan selalu melingkarkan tangan kekarnya ke pinggang Jae In. Memeluk Jae In dengan erat setiap malam, memastikan gadisnya baik-baik saja. Sebelum pagi harinya, Gongchan mengecup bibir ranum Jae In sebagai ucapan selamat pagi.

***

“Pesawatku berangkat 2 jam lagi, jadi mungkin setelah ini aku langsung menuju bandara.” celutukan Gongchan memecah keheningan ruang makan apartemen mereka. Jae In hanya menggumam sebagai jawaban, terlihat tak tertarik.

Gongchan memutar mata kesal, “Tidakkah seharusnya kau memberi tanggapan layaknya seorang istri?” penekanan pada kata seorang istri sengaja Gongchan lakukan.

Jae In melongo mendengar ucapan Gongchan, memastikan telinganya tidak salah dengar. Ia tak pernah mengira suaminya akan menuntut perhatian lebih darinya. Well, anggap saja Jae In belum terbiasa. Terlebih secara tidak langsung Gongchan mengakui Jae In sebagai istrinya.

Tanpa sadar, pipi Jae In memerah. Mulutnya kembali menggumamkan kata-kata tak jelas.

Gongchan terkekeh senang melihat pipi Jae In yang memerah. Dengan cepat, ia mendekatkan wajahnya ke arah Jae In. Sengaja membuat istrinya salah tingkah. Sementara yang ditatap wajahnya kian memerah.

            Dengan perlahan, Jae In mempertemukan matanya dengan milik Gongchan.

Dua sejoli itu bertahan lama dalam posisi masing-masing. Bahkan Jae In merasa goyah di saat mata coklat Gongchan menatapnya tajam namun sekaligus memberikan pancaran hangat, membuat jantungnya berdegup kencang. Jae In sungguh hampir lengah dan menunduk kalah.

Tak jauh berbeda dengan Jae In. Gongchan mati-matian menahan dirinya untuk tidak menarik tengkuk istrinya dan menciumnya habis-habisan. Ia sebenarnya tak keberatan mengalah untuk Jae In, sayangnya netra tajam sang istri memerangkapnya penuh. Melarangnya untuk beranjak. God! Istrinya sungguh menggemaskan.

Suara dering telepon memecah ‘perang tatapan’ mereka. Gongchan menoleh, itu suara handphonenya. Ia mendecak pelan, sungguh perusak suasana! Rutuknya. Gongchan meninggalkan Jae In untuk merespon handphonenya yang menjerit meminta perhatian.

Entah kenapa, melihat punggung Gongchan yang menjauh membuat hawa di sekitar Jae In kembali normal. Walaupun jantungnya masih tak terkontrol. Jae In menyentuh tempat dimana jantungnya berada, berusaha menetralkan kembali detak jantungnya. Sebelum ia menelungkupkan diri di atas meja makan. Bodoh! Gongchan sialan! Jae In menyumpahi suaminya dengan raut wajah merah layaknya kepiting rebus.

***

            “Ini!” Jae In menyodorkan tas selempangan kecil ke arah Gongchan. Suaminya yang tengah menggunakan sepatu menoleh heran melihat tas itu. Menatap Jae In penuh tanda tanya, meminta penjelasan.

            “Bukan apa-apa,” Jae In menjawab raut penasaran suaminya dengan cuek.

            “Itu tidak menjawab apa-apa, Nyonya Ryu.” Gongchan memutuskan melihat sendiri isi tas itu. Belum sempat ia membukanya, Jae In menyela.

            “Multivitamin dan obat-obatan!” Jae In gelagapan menjawab. Akan malu dirinya jika Gongchan membuka tas itu di depannya. Pasalnya, tidak hanya multivitamin dan obat-obatan yang ada disana. Selain petunjuk takaran, Jae In juga menambahkan sedikit catatan untuk sang suami yang beberapa hari lalu baru saja sembuh dari flu.

            Gongchan menelengkan kepalanya, pertanyaan masih terngiang di kepalanya. Perlahan ia beranjak setelah selesai menggunakan sepatunya. Berdiri berhadapan dengan Jae In.

            “Untuk apa?” tanya Gongchan.

             “Itu… Sakit… Kemarin…” Jae In menjawab patah patah penuh kecanggungan. Gongchan mengernyitkan keningnya, berpikir sejenak sebelum menyadari maksud sang istri. Ini terkait dengan sakit flunya yang baru berakhir beberapa hari lalu.

            Gongchan manggut-manggut. Memasang wajah datar walaupun pada nyatanya hatinya senang bukan kepalang. Bukankah ini artinya Jae In memberikan perhatian untuknya? Pikiran Gongchan berandai-andai.

            “Kau tahu, aku tidak bisa memakan sembarang obat,” Gongchan menyelutuk iseng.

            “Tidak perlu khawatir! Aku sudah menuliskan takarannya di dalam tas.” Jae In menjawab penuh percaya diri. Gongchan menaikkan alisnya, membuka tas berisi obat-obatan. Jae In yang hendak melarang terlambat satu langkah.

            Gongchan melambaikan kertas petunjuk takaran di depan wajah Jae In.

            “Aku tidak butuh yang seperti ini, Nyonya Ryu,” Gongchan tersenyum simpul. Menimbulkan pertanyaan di benak Jae In.

            “Apa mak‒” belum selesai pertanyaan Jae In terucap, Gongchan membuat Jae In bungkam dengan bibirnya. Mata hitam Jae In membesar, terperanjat kaget dengan gerakan tiba-tiba suaminya.

            Tidak ada lumatan, hanya sekedar menempelkan bibir masing-masing. Namun cukup membuat jantung Jae In berdegup kencang. Belum cukup dengan ciuman, sepasang netra Gongchan yang bertemu dengan mata Jae In seakan menerbangkan Jae In ke angkasa.

            Ciuman itu berlangsung cukup lama hingga Gongchan menjauhkan wajahnya. Ia tersenyum sembari mengusap pelan bibir istrinya.

            “Telepon aku, Jae In.”

            “A‒a….” Jae In gelagapan menyahuti ucapan suaminya, ia masih terkejut.

            “Remind me,” Gongchan berucap sembari mengacungkan tas berisi obat-obatan.

            “Remind me, atau aku tak akan meminumnya hingga satu minggu kedepan.” Ancam Gongchan dengan seringai nakal terhias di wajahnya. Jae In termangu mendengar ucapan Gongchan. Ingatannya melayang saat beberapa minggu yang lalu Gongchan justru menolak mentah-mentah tawaran telepon darinya.

            “Aku bisa mengirim pesan. It’s  not like we’re mutual after all, aren’t we?” Jae In menyeringai, senang akhirnya bisa melancarkan aksi balas dendam.

            Tatapan Gongchan menajam mendengar jawaban Jae In. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Jae In. Istrinya justru berdiri diam, menantang.

            Wajah Gongchan semakin mendekat, sementara Jae In mulai  merasakan adanya ancaman. Bersiap berjalan mundur.

            Grep!

            Belum sempat Jae In melangkah, tangan Gongchan sudah melingkari pinggangnya. Melarang Jae In untuk pergi jauh sekaligus menipiskan jarak di antara mereka. Jae In membeku. Jantungnya bertalu begitu keras. Bahkan tak peduli jika Gongchan turut merasakannya juga.

            “Let’s be mutual, then‒”

            Gongchan mendekatkan wajahnya ke telinga Jae In sebelum berbisik pelan.

            “‒Mrs. Ryu.”

 

 

 

2 responses to “[FREELANCE] Remind Me

  1. Yang kaget sama tindakan tak terduka Gongchan bukan cuma Jae In, tp aku juga. Dia so sweet bgt sport jantung mulu klo tiba2 diserang apalagi Jae In masih gak siap gitu. Jae In masih malu-malu nih.

    • duh, kamu sampe kaget. kaget tapi seneng juga kaaan??:)) kan bagus tu olahraga jantung, biar sehat. hehe. makasih sudah baca dan komen ffkuuu;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s