STITCHES by Heena Park

stitches

-Heena Park Present-

.

Starring : EXO's Kai - Shin Hee Ra - EXO's Sehun
.

Romance–Sad–Marriage Life//PG-15//Oneshot

.

Poster By: Kyoung @ Poster Channel

.

Recommendation Song :

.

STITCHES

©2016

.

 

Hee-Ra berdiri di depan pintu, kedua tangannya penuh kantong belanjaan. Cukup satu langkah ia sudah bisa masuk ke rumah, tapi hatinya berucap tak mau. Berkali-kali Hee-Ra mengutuk diri sendiri karena perbuatannya.

Bagaimana mungkin seorang istri malah pergi dengan bos-nya sementara sang suami menunggu di rumah?

Pernikahannya dengan Jong-In sudah berjalan lebih dari dua tahun. Kebahagiaan yang mereka ciptakan lenyap begitu saja setelah perusahaan tempat Jong-In bekerja bangkrut. Dengan berat hati, suaminya harus menerima ketika di PHK.

Memang kehidupan mereka tidak hancur-lebur, untungnya Hee-Ra masih bekerja di sebuah perusahaan. Ya, walaupun jabatannya tidak setinggi Jong-In saat masih bekerja dulu, setidaknya Hee-Ra masih sanggup menghidupi keluarganya, sementara Jong-In berusaha mencari pekerjaan baru.

Namun langkahnya keliru. Khilaf ketika mengingat kejadian beberapa minggu lalu, saat pertama kali Hee-Ra menyetujui untuk menjadi simpanan bos-nya—seorang pria tampan berbadan kekar, masih muda, pintar, dan tentu saja kaya. Adakah wanita yang mau menolak pria seperti itu?

Tidak, sebenarnya bukan Hee-Ra yang menjadi simpanan Se-Hun, melainkan sebaliknya. Di sini Hee-Ra lah yang telah memiliki keluarga, sementara Se-Hun masih sendiri.

“Kau tidak masuk?”

Suara bariton yang tak asing di telinganya menyapa, Hee-Ra menengok dan mendapati Jong-In berdiri di ambang gerbang.

“Apa kau lupa membawa kunci? Maafkan aku, tadi aku ke minimarket sebentar untuk membeli mie instan karena kupikir kau lembur.”

Hee-Ra tersenyum lembut, “Aku akan memasak untukmu.” Ia mengangkat kantong belanjaan di tangannya, “Bisa bantu aku bawa ini?”

Jong-In mengerjap tak percaya, “Kau belanja sebanyak itu?”

“Tidak, bos yang memberiku. Dia sering memberi barang-barang seperti ini untuk karyawannya. Dia sangat baik hati,” jawabnya berbohong.

Membalas dengan anggukkan sebanyak dua kali, Jong-In akhirnya mengambil alih semua kantong belanjaan yang ada di tangan Hee-Ra, kemudian membiarkan wanita itu membuka pintu dan masuk.

Sementara Hee-Ra sibuk di dapur, Jong-In bangkit dari kursi meja makan dan memeluk perut istrinya dari belakang.

“Tadi aku mendapat telepon kalau anak Jong-Dae hyeong sudah lahir,” menaruh dagunya pada pundak Hee-Ra. “Kau mau melihatnya?”

Refleks Hee-Ra mengangguk, Jong-In segera mengeluarkan ponsel dari saku celana dan menunjukan potret cantik seorang bayi kecil berkulit putih dengan mata sipit kepada Hee-Ra.

“Aku jadi membayangkan, bagaimana kalau kita memiliki bayi selucu itu, atau mungkin lebih lucu. Aku ingin dia memiliki kulitmu, bibirmu, hidungmu, rambutmu, matamu. Bayi kita pasti akan sangat cantik kalau perempuan.”

Huh, kalau semuanya seperti aku, lalu apa yang diwarisi bayi kita dari ayahnya?” Hee-Ra mendecak.

“Pintar, dia bisa mewarisi kepintaranku,” Jong-In kembali mengeratkan pelukannya dan mengecup lembut bahu Hee-Ra. “Aku pintar karena telah memilihmu sebagai istriku.”

Tiba-tiba saja hatinya bagai dirajam ribuan pisau. Mendengar betapa Jong-In mencintai dan membanggakannya, sementara Hee-Ra malah membagi hati dengan pria lain, bukankah itu kejahatan yang tak akan pernah bisa diampuni?

Rasa bersalahnya membawa Hee-Ra untuk memutuskan segera memutar badan dan memeluk erat tubuh Jong-In. Menenggelamkan diri dalam penyesalan paling dalam, namun juga indah.

“Kau kenapa, hm?” Jong-In mengangkup kedua pipi Hee-Ra, mengusap setetes air mata yang terjatuh di pipi wanitanya.

Berusaha menutupi perasaan bersalahnya, Hee-Ra menggeleng, tangan kanannya meraih punggung tangan kiri Jong-In dan mengecupnya berkali-kali, “Aku merindukanmu, sangat.”

 

*

 

Well, kuharap kita bisa menjadi partner yang sangat baik,” Se-Hun menyalami Hee-Ra. Ia sempat terkejut ketika mendapat pesan dari Se-Hun kala sedang menuju ke perusahaan. Pria itu berkata bahwa Hee-Ra akan naik jabatan menjadi sekretaris.

Tentu saja Hee-Ra paham kalau Se-Hun melakukan itu agar mereka bisa berduaan selama yang Se-Hun inginkan tanpa takut ketahuan oleh karyawan lain.

“Segera kemas dan pindah barang-barangmu. Oh ya Sekretaris Shin, setelah berberes segera pergi ke ruanganku, ya?”

Hee-Re mengangguk pelan. Rekan-rekan kerjanya bertepuk tangan seolah ikut senang akan kenaikan jabatan Hee-Ra.

“Wah, kau benar-benar beruntung. Kuharap bos akan menaikan jabatanku juga,” gumam Ji-Hyun yang hanya dibalas seulas senyum manis oleh Hee-Ra sebelum akhirnya pergi untuk membereskan barang-barangnya.

Ia melakukan itu secepat mungkin, Hee-Ra harus segera menghadap Se-Hun dan melayangkan protes akan keputusannya. Jujur saja, Hee-Ra merasa tidak enak pada karyawan lain yang sudah jelas lebih berpengalaman dan telah bekerja sejak lama.

“Kenapa kau melakukannya?” Hee-Ra menyilangkan kedua lengannya, menatap punggung Se-Hun yang kini membelakanginya.

“Kenapa? Kau tidak suka?” ia berbalik, melonggarkan dasi dan meraih pinggang kanan Hee-Ra dengan salah satu tangannya. “Bukankah kita bisa lebih dekat kalau begini? Aku yakin kau pasti sudah mengerti itu.”

Tubuh Hee-Ra menegang, sentuhan dari Se-Hun membuatnya tak bisa mengontrol diri. “Tapi aku merasa tidak enak pada karyawan lain yang sudah bekerja sejak dulu,” belanya.

Ah, seperti itu.” Se-Hun mendekatkan wajahnya ke Hee-Ra, “Jadi aku harus menurunkan jabatanmu dan mereka akan berpikir kau adalah karyawan yang tidak becus, begitu?”

“Ti-tidak..bukan begitu maksudk—“

Belum sempat Hee-Ra menyelesaikan ucapannya, Se-Hun sudah lebih dulu memberikan kecupan panas dan melumat bibir manis wanita di depannya. Membuat Hee-Ra terkejut dan mematung karena tak tahu harus melakukan apa.

Beberapa detik kemudian, karena tak kunjung mendapat balasan dari Hee-Ra, Se-Hun melepaskan tautan bibir mereka. Ia mengusap bibir bawah Hee-Ra dengan jempolnya, “Menikahlah denganku, ceraikan suamimu, Shin Hee-Ra.”

Jantungnya berdegup kencang begitu mendengar lamaran Se-Hun. Ia sangat tahu kalau Se-Hun tidak menyukai penolakan, tapi di sisi lain—jauh di dalam hati Hee-Ra, ia masih sangat mencintai suaminya.

Tring…

Lega. Kata itulah yang pertama kali ada dalam pikirannya begitu mendapati ponselnya berbunyi. Hee-Ra menunduk dan merogoh sakunya, melupakan sejenak tentang lamaran yang baru saja diucapkan Se-Hun.

Ia benar-benar berterimakasih pada orang yang menghubunginya saat ini.

Se-Hun mendengus kesal tatkala Hee-Ra memfokuskan pandangannya ke layar ponsel. Ia bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya, pasti Hee-Ra meminta izin untuk pergi bersama suaminya.

“Suamiku, dia sudah menunggu di depan,” Hee-Ra berhenti sebentar. “Boleh-kan?”

Se-Hun bukanlah bos yang sangat ketat dan suka melarang karyawannya melakukan sesuatu. Ia cukup baik hati karena memberikan karyawannya sedikit kebebasan.

“Kau harus kembali sebelum jam dua, aku tidak mau karyawanku mengingkari janji.”

Yes, sir!” Hee-Ra menunjukan deretan gigi putihnya.

“Aku suka kau memanggilku seperti itu,” menyeringai dan meremas-remas telapak tangan Hee-Ra, “Ucapkan lagi.”

Hee-Ra terkekeh pelan, ia melepaskan tangannya dari genggaman Se-Hun, “Aku harus segera pergi. Suamiku bisa curiga nanti,” ulasnya lalu meninggalkan ruangan Se-Hun begitu saja.

Begitu sampai di lobi, sosok Jong-In yang sudah menanti di atas montor dengan kemeja putih dan celana jeans berhasil membuat Hee-Ra melebarkan kembali senyumannya.

“Sudah lama?” tanyanya.

Jong-In menggeleng, ia menyodorkan helm pada sang istri, “Jong-Dae hyeong sangat senang waktu aku bilang kita akan berkunjung.”

Hee-Ra memakai helm yang diulurkan Jong-In, “Kita mau membawa apa untuk mereka? Bagaimana kalau sepasang sepatu, anaknya perempuan, kan?”

 

*

 

Kala pagi menjelang, dinginnya udara menerobos masuk dalam setiap inchi tulang, membuat Hee-Ra memilih tetap menggeliat di balik selimut.

Wake up, baby,” suara lembut Jong-In berbisik. “Aku lapar, kau tak kasihan pada suamimu, hm?”

Untaian kata manja yang keluar dari mulut Jong-In berhasil membuat Hee-Ra membuka kelopak matanya. Ia berbalik dan melingkatkan lengan pada leher pria itu, “Give me some kiss, first.”

Ok, yout got it,” Jong-In mengedipkan sebelah mata, kemudian melayangkan ciuman hangat di bibir istrinya.

Setelah mendapatkan apa yang ia mau, Hee-Ra bangkit, namun ia masih ingin bermanja-manja di lengan suaminya. Tentu saja Jong-In tak bisa menolak, ia membiarkan Hee-Ra bergantung pada lengan kanannya dan membawa wanita itu ke dapur.

“Aku akan mendaftar di salah satu perusahaan, kupikir aku punya kesempatan untuk yang kali ini.”

“Benarkah?” Hee-Ra membulatkan matanya, menarik Jong-In dalam pelukan sembari mengusap punggungnya, “Aku akan mendukungmu, pasti.”

“Aku tahu,” Jong-In terkikik, “istriku selalu mendukung. Aku akan mengambil laptop dan mendaftar secara online, kalau lolos, aku bisa datang ke perusahaan sambil membawa berkas sekaligus melakukan wawancara.”

“Baiklah-baiklah,” Hee-Ra membalik badan Jong-In dan mendorongnya pelan, “sekarang cepat ambil laptopmu, aku akan memasak special breakfast. Pokoknya kali ini suamiku pasti akan berhasil,” gumamnya riang.

 

*

 

Menyembunyikan bangkai selama berminggu-minggu rupanya membuat Hee-Ra kelabakan. Ia takut kalau Jong-In tiba-tiba mengetahui perihal perselingkuhannya dengan sang bos. Tapi di sisi lain, kalau Hee-Ra tetap menjalani perselingkuhan tersebut, kehidupannya dan Jong-In akan lebih baik—dalam artian untuk mendapatkan uang.

Setiap hubungan pasti ada konsekuensinya, begitupula antara Hee-Ra dan Se-Hun. Pria itu selalu meminta agar Hee-Ra menceraikan suaminya dan bersedia untuk menikah dengannya.

Hanya saja, Hee-Ra terlalu mencintai Jong-In. Kedengaran seperti omong kosong memang, kalau Hee-Ra benar-benar cinta pada suaminya, ia tidak mungkin berselingkuh dengan bos-nya sendiri. Tapi percayalah, setiap manusia memiliki rasa bosan dan keinginan untuk mencoba hal baru yang lebih ekstrem dari sebelumnya.

Bukan, ia tidak bermasuk menjadikan Se-Hun sebagai mainan. Ia hanya…tak bisa menjelaskan tentang apa yang dirasakan sebenarnya. Jong-In lah pria yang sangat diinginkan Hee-Ra, tapi Jong-In seorang pengangguran yang tak bisa menghidupi istrinya. Sementara Se-Hun, si pria kaya dan mempesona, punya segalanya dan bisa dibilang playboy walaupun ia sudah meminta Hee-Ra menikah dengannya berkali-kali.

Kedua matanya tiba-tiba ditutupi oleh kedua telapak tangan yang diyakini milik Jong-In, Hee-Ra mengusap punggung tangan pria itu dan memegangnya tanpa mengubah posisi.

“Aku akan melepaskan asal kau tetap menutup mata,” Jong-In berbisik.

Terkekeh pelan dan menunduk, “Baiklah.”

Jong-In sumringah, ia melepaskan tangannya dari kelopak mata Hee-Ra dan mengambil sesuatu dari saku celana, kemudian memakaikan kalung putih yang sengaja dibelinya siang tadi.

Hee-Ra dapat merasakan sentuhan dingin kalung yang melingkar di lehernya, senyumnya mengembang lebar dan membiarkan Jong-In mengecup pipi kanannya.

“Aku lolos, besok aku akan pergi wawancara.”

Lolos?

Benarkah?

“Kau serius?” Hee-Ra menengok, matanya berbinar tak percaya pada apa yang barusan di dengarnya.

Sekali anggukkan dari Jong-In sudah cukup meyakinkan dirinya. Hee-Ra melingkarkan lengannya ke leher Jong-In dan menciumi pundak pria itu, “Aku tahu kau pasti berhasil. Aku tahu kau masih punya harapan.” Hee-Ra melonggarkan pelukannya,”Suamiku pasti bisa menjadi karyawan di sana, aku yakin itu.”

Hening sejenak, Jong-In mencubit pelan ujung hidung Hee-Ra. “Aku punya satu permintaan, semacam hadiah kalau misalnya aku berhasil.”

“Hadiah?”

“Iya, kau mau mengabulkannya?”

Hee-Ra mengangkat kedua bahunya bersamaan, “Apa itu?”

Tidak langsung menjawab, Jong-In mengusap perut Hee-Ra dan kembali berbisik, “Kalau aku berhasil, aku ingin kita memiliki Jong-In kecil.”

Hee-Ra menutup mulutnya dengan telapak tangan, menahan isak tangis bahagia akibat ucapan Jong-In barusan. Ia mengangguk-anggukkan kepala, “Iya, tentu saja. Aku juga ingin Jong-In kecil hadir di tengah-tengah keluarga kita. Aku mencintaimu, Kim Jong-In.”

 

*

 

“Besok kita pergi,” Se-Hun tidak menengok pada Hee-Ra dan tetap fokus pada koran di tangannya.

Sementara Hee-Ra mengerutkan kening, ia menaruh buku ke meja Se-Hun, “Kemana?”

“Liburan.”

Apa dia gila?

Hee-Ra tidak mungkin meninggalkan Jong-In dengan alasan seperti itu.

“Tidak perlu memasang wajah seperti itu, kita bisa menggunakan alasan pertemuan bisnis selama tiga hari. Bagaimana?”

Tak kuasa menolak, karena kenyataannya melakukan penolakan pada Se-Hun akan berakhir sia-sia, Hee-Ra mendesah berat, “Baiklah. Jam berapa kita berangkat?”

Se-Hun menaruh korannya, tersenyum menang selama beberapa detik sebelum akhirnya bangkit. “Sembilan, kau bisa memilih kemana kita akan pergi.”

“Kau saja yang memilih, lagipula aku bukan seorang pemilih.”

“Begitu?” Se-Hun menyeringai, “Bagaimana kalau berlibur di rumahku? Aku tidak akan membiarkanmu keluar selama tiga hari, kau akan sepenuhnya menjadi milikku. Mau?”

“Baiklah, kita pergi ke Jeju saja.” Hee-Ra mendecakkan lidah, ia tentu tidak ingin menjadi tahanan Se-Hun selama tiga hari di rumahnya. Membayangkan sifat arogan pria itu cukup membuatnya bergidik ngeri. Walaupun tubuhnya memang menggoda dan mampu membuat setiap wanita bertekuk lutut, Hee-Ra tetap tidak mau hal-hal di luar batas terjadi. Ia bahkan mulai berpikir untuk segera mengakhiri hubungan dan pindah tempat kerja ketika Jong-In sudah menjadi karyawan.

Mengerti ketakutan yang hinggap dalam diri Hee-Ra, Se-Hun semakin mempertajam penglihatannya. Kedua mata indahnya tak sengaja menyadari sesuatu yang berbeda dari Hee-Ra.

“Kalung baru?”

“Oh?” Hee-Ra mengamati dirinya sendiri, ia menyadari kalung yang melingkar di lehernya, kemudian mengusap lembut liontin kalung tersebut, “Pemberian Jong-In.”

Se-Hun mengangguk-anggukkan kepalanya, “Oh, kuharap kau tidak keberatan melepasnya saat bersamaku. Akan sangat tidak menyenangkan apabila aku sedang mencumbumu dan terganggu oleh kalung dari calon mantan suamimu.”

Tidak, Hee-Ra tidak berniat untuk menceraikan Jong-In.

Memilih untuk mengacuhkan perkataan Se-Hun, Hee-Ra berusaha mengalihkan pembicaraan, “Kita berangkat jam berapa?”

“Sembilan,” Se-Hun berhenti sebentar dan memutar bola matanya, “aku lupa kalau ada rapat penting dua hari lagi, sepertinya mengajak mereka rapat di Jeju bukan suatu masalah. Bagaimana menurutmu?”

Hee-Ra mengangkat kedua bahunya bersamaan, “Kau yang memegang kendali, tidak ada salahnya juga seperti itu.”

 

*

 

Mereka bilang hidup adalah pilihan, seseorang bisa memilih sesuka hatinya. Namun Hee-Ra tidak, ia terlanjur jatuh dalam salah dan dusta. Kalau saja dulu Hee-Ra tidak khilaf dan menerima Se-Hun, kalau saja Hee-Ra bisa menjaga kesetiaannya. Ya ampun, haruskah Hee-Ra hidup dalam kata ‘kalau’ ?

Meninggalkan Se-Hun berarti Hee-Ra harus siap pindah tempat kerja. Ya, tentu Hee-Ra mampu melakukannya, tapi apakah setelah itu hidupnya akan berjalan mulus? Bukankah masih ada kemungkinan bahwa Se-Hun membuka hubungan mereka berdua?

“Kau sedang memikirkan apa?” suara ngantuk Jong-In yang baru saja terbangun dari tidur sorenya membuat Hee-Ra  terkejut. Ia memeluk Hee-Ra dari belakang sambil mengerjap-kerjapkan mata, “Jam berapa sekarang?” tanyanya lagi.

Hee-Ra menengok sebentar ke arah Jong-In dan melirik jam di dinding, “Jam enam. Mau kusiapkan air hangat?”

Jong-In menghela napas panjang. “Kau tidak berniat sekalian memandikanku?”

Rupanya pertanyaan Jong-In berhasil membuat pipi Hee-Ra memerah, ia mendecak dan tertawa, “No, aku harus memasak untuk makan malam kita.” Hee-Ra melepaskan pelukan Jong-In, “Sekarang buka matamu dan aku akan menyiapkan air hangat. Jangan tidur lagi, awas saja.”

Sementara Hee-Ra berlalu, Jong-In hanya mengerucutkan bibirnya. Sampai beberapa menit kemudian Hee-Ra telah kembali sambil menenteng handuk di lengan kanannya, “Aku sudah menyiapkan air hangat,” ia mendekat ke arah Jong-In dan melingkarkan handuk tersebut ke leher suaminya, “cepat mandi, aku tidak mau makan malam dengan pria yang bau,” gumamnya lalu pergi ke dapur.

Jong-In menyerah, ia akhirnya bangkit dan mengikuti kemuan Hee-Ra. Yah, ia tidak perlu banyak waktu untuk sekedar mandi dan ganti baju. Jong-In segera ke dapur, duduk manis di meja makan dan memandangi Hee-Ra yang sedang bergelut dengan mengenakan apron.

Dia kelihatan….begitu seksi…

Senyumnya merekah, mengingat setiap kenangan hingga bisa seperti sekarang. Ia tidak menyangka bahwa Hee-Ra benar-benar menjadi istrinya. Rasa bangga serta beruntung menyeruak begitu saja dalam dada Jong-In, membuatnya bernapas lega.

“Istriku..”

Oh sial, walaupun sudah menikah bertahun-tahun, jujur saja Hee-Ra masih merasa malu ketika Jong-In memanggilnya seperti itu. Apakah Jong-In berniat membuat jantungnya meledak?

“Ya?”

“Apa sudah siap?”

Hee-Ra memindahkan sop ke dalam mangkok, kemudian mengangguk, “Sudah selesai. Daging panggang, telur dan sop. Mau makan sekarang?”

Jong-In bergeming, sibuk pada pikirannya sendri selama beberapa detik. Tanpa mengalihkan pandangan, ia mulai mengeluarkan suara, “Aku ingin makan di atap.”

“Kim Jong In..,” Hee-Ra memicingkan matanya, dibalas tatapan tak mengerti oleh Jong-In.

“Ayolah, pasti akan seru. Ok?” Tanpa permisi Jong-In langsung membawa piring berisi daging dan telur. Ia keluar rumah, kemudian langsung mendaki tangga dan meletakkan benda itu di atas atap.

“Ambilkan yang lain, aku akan membawanya naik!” teriak Jong-In yang kemudian langsung dilakukan oleh Hee-Ra.

Ia beberapa kali bolak-balik dari dapur sambil membawa makanan, sampai akhirnya yang terakhir giliran Jong-In membantunya untuk naik. Mereka duduk di atap sembari menikmati makanan. Bintang-bintang di langit semakin menambah nuansa romantis yang meliputi keduanya. Mereka sempat tertawa kecil dan melanjutkan sampai makanannya habis.

Hee-Ra tidak menyangka suaminya ternyata seromantis ini. Duduk di atap, menikmati makan malam sederhana, langit yang cantik, rupanya sudah lebih dari cukup untuk disebut kencan.

Jong-In menaruh mangkok kosong setelah suapan terakhir. Ia meraih kedua telapak tangan Hee-Ra dan mengusapnya, “Kau lihat? Kita tidak perlu mengeluarkan banyak uang hanya untuk berkencan. Asalkan ada kau, aku selalu merasa bahagia.”

Kedua manik mata mereka saling bertemu, memberi kesan hangat dan dalam pada setiap kata yang keluar dari mulut Jong In. “Aku bahagia bisa mengenal dan menjadikanmu istriku. Ya, mungkin aku bukanlah suami yang baik dan sempurna, bukan pula orang kaya yang bisa membelikan ini-itu untuk istrinya, tapi terima kasih karena kau selalu berada di sisiku dalam keadaan tersuli sekalipun.” Jong-In menenggelamkan Hee-Ra dalam pelukannya, mengecup sekali kening wanita itu. “Happy 3rd Anniversary, istriku.”

Apalagi yang lebih berharga bagi seorang istri kecuali suami yang sangat mencintainya? Hee-Ra tak mampu menahan tangis bahagianya keluar, sedangkan Jong-In semakin mempererat pelukannya.

Happy 3rd Anniversary too, suamiku.”

Sayangnya, dalam keharuan itu Hee-Ra harus mengatakan rencananya untuk pergi besok. Ia menggigiti bibir bawahnya, takut kalau Jong-In akan kecewa.

“Tapi aku harus pergi besok.”

“Pergi?” Jong-In mendongakkan wajah Hee-Ra, “kemana?”

Air mukanya berubah sedih, “Pertemuan bisnis, tiga hari.”

“Tidak apa-apa,” Jong-In kembali menenggelamkan Hee-Ra dalam pelukannya, “aku berjanji, setelah mendapat pekerjaan kau tidak perlu bepergian lagi. Aku yang akan menghidupi keluarga kita.”

 

*

 

Menjaga jarak dengan Se-Hun bukanlah hal yang mudah. Hee-Ra terpaksa menerima ketika pria itu mengatakan bahwa mereka akan tinggal dalam satu kamar. Tak jarang Se-Hun berusaha menyentuhnya, dan dengan begitu Hee-Ra harus mampu memutar otak untuk menghasilkan alasan-alasan logis yang bisa diterima Se-Hun.

Untungnya pada hari pertama mereka menghabiskan waktu untuk berkeliling Jeju, sehingga pada malam harinya Se-Hun bisa menerima jika Hee-Ra kelelahan. Hanya saja pada malam kedua, setelah Se-Hun menyelesaikan pertemuan bisnisnya, ia pulang lebih cepat.

Tak ayal, Hee-Ra berusaha untuk menolak. Ia beralasan sedang sakit kepala karena terlalu banyak minum tadi sore. Dan ia sungguh beruntung karena Se-Hun mengalah, ia merawat Hee-Ra seolah wanita itu benar-benar sedang tidak enak badan.

Sejujurnya Hee-Ra tidak memiliki niat untuk berbohong, tapi kembali pada kenyataan, ia sudah memiliki suami dan tidak mungkin membagi tubuhnya dengan pria lain.

“Aku ingin kau ikut ke pesta,” kali ini Se-Hun tidak menerima penolakan. Sudah hari ketiga dan nanti sore mereka akan pulang.

“Aku tidak memiliki gaun yang bagus, aku hanya membawa beberapa pakaian santai. Bukankah nanti akan menjadi omongan teman-teman bisnismu?”

“Tidak masalah.” Se-Hun mengambil kotak besar kemudian memberikannya pada Hee-Ra, “Di sana ada gaun dan sepatu. Kau bisa ganti baju sekarang.”

Hee-Ra membuka kotak tersebut, terkagum pada gaun bewarna biru muda dan high heels silver bertaburkan permata. Namun ia kembali berpikir, Se-Hun menyuruhnya ganti baju sedangkan ia tetap duduk terpaku di kasur.

“Kuharap kau tidak keberatan menunggu di luar,” gumam Hee-Ra

“Kenapa aku harus keluar? Kau tidak suka kalau aku melihat tubuhmu?”

Oh shit.

Hee-Ra mengembangkan dadanya, ia tidak boleh termakan omongan Se-Hun. “Kalau kau melihatku, kita tidak akan pergi ke pesta melainkan tetap berada di kamar sampai nanti malam.” Sungguh, Hee-Ra mengutuk dirinya sendiri setelah mengucapkan kalimat laknat barusan.

Ck, baiklah. Aku akan menunggumu di luar.”

Hee-Ra mengusap dadanya lega. Begitu memastikan Se-Hun sudah menutup pintu kamar, ia segera berganti pakaian dan sedikit berdandan. Tidak buruk, ia cukup cantik dengan gaun ini.

Se-Hun langsung menaruh tangan Hee-Ra ke lengannya begitu ia keluar dari kamar. Mereka berjalan bersama ke tempat pesta yang kebetulan berada di hotel ini. Sejenis garden party, namun dihadiri oleh banyak pebisnis sukses.

“Mr. Oh?” Se-Hun terpekik ketika seseorang menepuk punggungnya dari belakang. Keduanya berbalik dan mendapati seorang pria berjas hitam dan berusia sekitar akhir empat puluhan.

“Mr. Jang?” Dalam sekali hentakan, Se-Hun memeluk pria itu dan menepuk-nepuk pundaknya, “lama tidak bertemu,” gumamnya kemudian melepaskan pelukan.

“Aku sangat senang ketika mendapat undanganmu,” ia berhenti sebentar, menyadari seorang gadis sedang berdiri di samping Se-Hun. “Dia…?”

Se-Hun menengok ke arah pandang Mr. Jang, “Shin Hee-Ra…calon istriku.”

“Kau serius? Hebat!” Mr. Jang menepuk-nepukkan tangannya sebentar, kemudian mengulurkan telapak kanannya pada Hee-Ra, “Jang Seok-Bum, senang berkenalan dengan calon istri pemuda paling sukses di Korea abad ini,” gumam Mr. Jang yang disambut tawa oleh Se-Hun.

Hee-Ra menerima uluran tangan Mr. Jang, “Shin Hee-Ra, senang berkenalan dengan anda,” jawabnya seadanya.

“Baiklah, aku pergi dulu.” Menepul-nepuk lengan kanan Se-Hun, “Aku menunggu undangan pernikahanmu, Oh Se-Hun”

Hee-Ra benar-benar tak mengerti jalan pikiran Se-Hun. Bagaimana mungkin ia bisa berkata seperti itu sementara Hee-Ra sudah memiliki suami?

“Apa maksudmu berkata seperti itu? Kau tahu-kan kalau hubungan kita tidak mungkin bisa berlanjut sampai ke jenjang pernikahan.”

Se-Hun mengerutkan kening, “Apanya yang tidak mungkin? Kau hanya perlu menceraikan suamimu dan kita akan menikah. Apa susahnya?”

Hee-Ra mendengus, “Aku benar-benar tak mengerti jalan pikiranmu.”

“Apa yang tak kau mengerti? Aku sudah mengatakan berkali-kali kalau aku mencintaimu, aku ingin kita menikah. Kau masih tidak yakin?”

Tanpa permisi Se-Hun menarik lengan Hee-Ra untuk berjalan cepat bersamanya. Ia menarik Hee-Ra ke atas panggung dan melepaskan dengan  kasar. Se-Hun menyalakan mic dan mulai berbicara, meminta agar orang-orang memperhatikannya.

Apa dia sudah gila?

“Tolong perhatiannya, aku ingin mengatakan sesuatu!” gumam Se-Hun sedikit kasar.

Refleks seluruh perhatian tertuju pada keduanya. Se-Hun tersenyum senang, ia kembali mengatur napas dan mulai berbicara, “Aku meminta seseorang untuk menikah denganku, tapi dia tak pernah menganggapnya serius karena berpikir  aku hanyalah seorang playboy,” ia berhenti sebentar dan menatap Hee-Ra, “jadi sekarang aku ingin dia benar-benar menyadari bahwa aku serius.”

“Oh Se-Hun…kau tidak benar-benar akan melakukannya, kan?” bisik Hee-Ra pada dirinya sendiri.

Sedangkan Se-Hun sibuk mengambil sesuatu dari sakunya, kemudian berlutut di depan Hee-Ra. Pria itu mendekatkan mic ke mulutnya sambil mengangkat cincin putih dengan berlian di atasnya, “Shin Hee-Ra, will you marry me?”

Orang-orang menatap antusias Se-Hun dan Hee-Ra. Mereka juga berteriak agar Hee-Ra menerima pinangan Se-Hun. Sampai akhirnya Hee-Ra merasakan ponselnya bergetar. Memang tidak sopan, tapi Hee-Ra harus melihat siapa yang menghubungi.

Kedua matanya membelalak begitu membaca nama Jong-In tertera di layar ponselnya. Ia buru-buru menggeleng, air matanya jatuh begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun, dan kemudian berlari turun dari panggung.

Hee-Ra berusaha tak perduli dengan keriuhan yang terjadi akibat sikap kekanakannya. Ia terus berlari, menemukan tempat yang sekiranya aman dan menerima telepon dari Jong-In.

“Halo?” suaranya serak akibat rasa lelah dan tangis yang tertahan.

Hee-Ra bisa mendengar Jong-In sedang terkikik, namun pilu. Apakah ia sakit?

“Shin Hee-Ra…”

Apa? Kenapa Jong-In seperti itu?

“Aku melihatmu di televisi…kau pasti senang-kan dilamar pria tampan dan kaya?”

Sial!

Hee-Ra tidak menyadari kalau pesta mereka diliput oleh salah satu stasiun televisi. Lalu sekarang apa yang harus Hee-Ra lakukan? Kedoknya sudah terbuka, bangkai yang selama ini berusaha ia sembunyikan telah terlihat. Hee-Ra tak bisa mengelak lagi.

“Tunggu, aku bisa menjelaskan semuanya!”

Jong-In tertawa pilu, “Kupikir kau orang yang baik. Aku tidak menyangka kau berbuat sekeji ini padaku. Pergi dengan pria lain, bermalam dengannya, di mana harga dirimu sebagai seorang istri dan perempuan?!”

Kalimat Jong-In berhasil menusuk hati Hee-Ra dalam-dalam. Ia ingin menjelaskan namun Jong-In langsung memutus panggilan ponselnya begitu saja. Bahkan ketika Hee-Ra berusaha menghubungi  balik, Jong-In malah mematikan ponselnya.

Tidak ada cara lain, Hee-Ra harus segera kembali ke Seoul.

 

*

 

Awalnya Se-Hun tidak mengizinkan Hee-Ra untuk pulang. Namun, kali ini Hee-Ra terus memaksa. Tentu saja akhirnya Se-Hun mengalah dan menyuruh Hee-Ra pulang menggunakan jet pribadinya.

Butuh waktu hampir tiga jam sampai Hee-Ra benar-benar berdiri di depan rumahnya. Pintunya dibiarkan terbuka begitu saja. Sesosok pria berdiri memunggunyinya di bawah sinar temaram. Ia bersedekap menghadap dinding, kepalanya mendongak seolah mengamati jam yang berdetik.

“Jong-In…”

Memberanikan diri untuk mengeluarkan suara, Hee-Ra berdiri di belakang Jong-In dengan jarak beberapa centi. Ia memegang lengan suaminya, namun ditepis begitu saja oleh Jong-In.

Tentu saja Hee-Ra paham kalau Jong-In benar-benar marah padanya, toh memang Hee-Ra bersalah. Ia tak menyalahkan apabila Jong-In bersikap seperti itu. Tapi setidaknya biarkan Hee-Ra menjelaskan sekali saja.

“Pergi.”

Sepatah kata dari Jong-In berhasil membuat Hee-Ra terperangah. Apakah Jong-In baru saja mengusirnya? Telinganya tidak salah dengar-kan?

“Kumohon, dengarkan aku..”

Jong-In berbalik, Hee-Ra bisa melihat dengan jelas kemarahan dalam diri Jong-In yang tengah mencapai puncaknya.

“Apa harga dirimu semurah itu?”

“Tidak, Jong-In,” Hee-Ra berusaha meraih telapak kanan Jong-In, meremasnya beberapa saat namun terlanjur ditepis oleh pria itu.

“Aku khilaf, aku berani bersumpah bahwa dia tidak pernah meniduriku. Aku memikirkanmu!”

“Memikirkanku? Jika kau benar-benar melakukan itu maka kalian tidak akan berselingkuh! Kau tidak akan mau pergi dengannya!” Jong-In berhenti sebentar, ia tertawa pahit, “Jadi ini alasannya kenapa kau sering membawa banyak belanjaan? Rupanya tubuhmu sudah dibeli oleh bosmu sendiri.”

“Cukup!” Hee-Ra menahan air matanya untuk keluar, ia tidak percaya Jong-In berkata sekasar itu padanya. “Ya, aku memang berselingkuh dengannya. Dia memang sering membelikanku banyak barang, tapi semua itu karena kau! Apa kau tidak sadar selama ini akulah yang menghidupi keluarga kita, akulah yang banting tulang! Kau tidak memberiku sepeser uangpun!”

“Kau tahu aku di PHK!” Jong-In memegang kedua pundak Hee-Ra, “Tapi apakah kau harus bersikap sekeji itu padaku? Apa salahku Shin Hee-Ra? Kau tahu aku sangat mencintaimu!”

Tak mampu lagi menahan tangis, Hee-Ra membiarkan isakannya mengeras, “Maafkan aku…maafkan aku..” Tubuhnya ambruk, Hee-Ra terduduk di lantai dan memeluk kaki Jong-In erat-erat. Berharap ada sedikit celah dalam hati Jong-In untuk memaafkannya.

“Tidak, aku tidak bisa.” Jong-In menjauhkan tubuh Hee-Ra dari kakinya. Berjalan cepat ke kamar dan mengambil baju-baju Hee-Ra, kemudian menarik wanita itu untuk keluar rumah dan membuang baju di tangannya. “Pergi! Aku tidak ingin melihatmu lagi! Kau tidak pantas tinggal dan menyebutku suami!”

Hee-Ra mengusap air matanya yang terus keluar, ia berniat sekali lagi meminta maaf pada Jong-In, namun pria itu terlanjur masuk dan menutup pintunya. Lalu sekarang bagaimana? Mengetuk pintu hanya akan mengakibatkan kekecewaan.

Dalam tangisnya Hee-Ra menyerah, ia merapihkan baju yang dibuang oleh Jong-In dan memasukannya ke koper. Berusaha bangkit walaupun terasa nyeri di hati.

Jong-In membuangnya.

Jong-In membencinya.

Padahal Hee-Ra belum sempat mengabarkan berita bahagia yang telah diketahuinya sejak beberapa hari yang lalu.

Hee-Ra sedang mengandung anak pertamanya dengan Jong-In, anak yang sangat mereka idam-idamkan sejak lama.

 

-FIN-

143 responses to “STITCHES by Heena Park

  1. dudududu… ko gitu.. emang sih haera salah uda slingkuh.. tp kasian bayinya huhu
    gajadi ngabarin berita gembira klo hamil dong ya..
    btw bru bisa komen krn masih disibukkan dg pk2 alias ospek wkwk maba nih ceritax tp nunda dua taon aku*kerja de el el*
    oke deh.. ditunggu sekuelnya..😀

  2. Astaga… Miris bener. Jadi ikut sedih, huhu😥
    Kasian Jong In😦 sedih juga kalo kabar gembiranya *HeeRa hamil* gak nyampe ke Jong In.
    Ditunggu sekuelnya🙂

  3. Aku mewek bacanya. Serius. :v uhh, pasti nyesek bgt tuh, kalo jd jongin. Wajib ada sequelnya ini mah. Ff nya keren kayak gini. Fighting authornim.

  4. Dasarnya yang salah emang heera
    Akutu gasuka yaaaa-_- kau menyakiti jongin
    Sehun sama sehunku:” dududu sabar ya heera
    Ohh ayolahhhhh gregeet akutuuuuuu
    Gabisa gabisa gini, sehun oh sehunn wae wae wae wae???
    Nyesekk men
    Squel thorrrr plzzz

  5. Aaaah….. Ini bikin baper…. Memang sih bener kata orang.. Barang siapa yg menabur… Dia yg menuai…. Siapa yg selingkuh… Pasti kepercayaan pasangannya bakal hilang… Tinggal kebesaran hati mas kkamjong…. Ditunggu ya sequelnya… Semoga mas kkamjong berbeda hati… HiksssHiksss

  6. Punya suami setampan Jongin masih di khianati,ckckck…tapi nggak salah juga sih kalo selingkuhannya setampan Sehun!! Di tunggu sequelnya ka, gantung banget!!

  7. Kak… aku udah tau lama kakak nge post cerita ni tpi baru ni aku baca. Sumpah, aku nangis bacanya… huweee T. T
    Suka sama jalan ceritanya, fighting, kak…!!

  8. sumpah ya di satu sisi kasian sama heera tapi agak gedeg juga apalagi pas si jongin susah gitu dia malah sama sehun, ya bayangin aja sakitnya si jongin itu huhu. btw bikin sequel dong aku penasaran kelanjutannya rumah tangga mereka tuh gimana

  9. aaa bagus banget ceritanyaa..
    haera hamil ? terus gimana ?
    ini nggak dilanjut ? ahh penasaran..
    dilanjut dong thor T-T

  10. Yaampun sedih banget si😢😭😭😭 tolong yaampun,emang sih heera salah duluan kenapa dia mau maunya diajak selingkuh. Dan jongin kayak tragis gitu ya nasibnya😭 coba lah dia mau denger penjelasan heera dulu, coba dia tau kalau heera lagi hamil anaknya😢 hancur banget rasanya ih :” nyesek

  11. Ikut mewek baca ini. Feelnya dpt bgt. Emg bener sih, kpercayaan itu ky kertas. Sekali dremas dia nggk bakal balik kek semula. Pkoknya dtunggu sequelnya ya:( pnsrn gmn nasib anak mereka, jgn2 jongin nggk ngakuin ntr:( ditunggu nexnya. Smgt^^

  12. Pingback: SHOW YOU [Sequel of Stitches] by Heena Park | SAY KOREAN FANFICTION·

  13. Demi apa gue baru baca cerita ini skrng! Sumpah ini dapet banget ih feelnya, aku kebawa sedih juga ya ampun😢
    Emang sih di satu sisi heera itu salah, tapi gatau knpa aku bingung sendiri buat ngedukung tokoh yg mana dsni tuh?
    Okay but actually i’ll read the sequel too! Yeay! Semangat terus yaaaa!

  14. Apa jongin bkal lsg percaya klo itu anaknya???dri awal haera udah salah…gak mudah buat jongin yg kena di phk tau2 liat istri selingkuh..

  15. Hee ra salah juga sebenernya tapi mau gimana lagi, duh hari ini baca ff sehun selingkuh jadi baper hihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s