[3/6] Break My Fall : Devoted to you

devoted to you

by Tamiko

Chaptered || Romance & Hurt/Comfort || PG-17

Cast : Jaehyun (NCT), Jooyoung (OC)

Support : Jennie (Blackpink), Doyoung (NCT), Kai (EXO), Sehun (EXO)

Disclaimer : I don’t own any of the cast beside the OC

Tell me all of the things that make you feel at ease – Troye Sivan

Summary : Jooyoung jatuh cinta sebanyak tiga kali dalam hidupnya. Cinta ketiga rasanya datang terlalu terlambat.

PreviousSummer of 17 || Surrogate

Warning : Suuuuper long chapter but please enjoy it anyway😀

ℑζ

Mereka bertemu awal musim dingin 2014.

Dua minggu sebelum natal dan Jooyoung berdiri di lobi kedatangan Internasional Bandara Incheon dengan selembar kertas bertuliskan nama seseorang yang bahkan tidak dikenalnya. Udara hari itu 5 derajat Celcius dan Jooyoung hanya mengenakan selembar jaket tipis di luar kaosnya yang tidak kalah tipis. Dalam hati tidak berhenti mengutuki diri sendiri karena ya Tuhan kenapa dia harus punya mobil sendiri dan kenapa dia terlalu baik hati?

Doyoung, salah satu teman Jennie yang sekarang sudah jadi temannya juga — sepertinya — meneleponnya pagi-pagi sekali dan berbicara dalam satu hembusan napas “Jooyoung, kau sekarang masih di Seoul kan? Tolong aku. Aku betul-betul butuh bantuanmu sekarang, kalau tidak aku benar-benar akan mati.”

Jooyoung, masih setengah tidak sadar karena Do-sialan-young meneleponnya pukul lima pagi dan itu masih terlalu pagi untuk mendengar suara panik Kim Doyoung di telepon selulernya, dengan suara serak khas bangun tidur menjawab malas “Astaga Doyoung, ini pukul lima di pagi hari demi Tuhan.”

“Aku tahu, tapi aku sangat butuh bantuanmu.” Terdengar jawaban Doyoung dari ujung lain telepon, masih konsisten dengan kepanikannya.

Jooyoung mengerang kesal sembari melotot pada selimut di atas kakinya, berpura-pura itu adalah Doyoung lalu menjawab “Sebaiknya ini adalah urusan penting yang menyangkut hidup mati, karena kalau tidak, maka aku yang akan menempatkanmu dalam situasi itu.”

“Ini melebihi situasi hidup mati dan kau betul-betul harus menolongku.”

Mendengar jawaban Doyoung yang masih diutarakan dengan panik, Jooyoung akhirnya meluruskan duduknya dan menanggapi dengan serius. “Baiklah. Ada apa?”

“Tolong jemput temanku hari ini di bandara.”

KATANYA.

Jooyoung mengurut pelipisnya dan menghela napas, karena demi seluruh Dewa yang ada ini terlalu pagi untuk candaan tidak masuk akal Doyoung. “Kau betul-betul mau mati ya?”

Tapi Doyoung tidak sedang bercanda.

“Ugh dengarkan aku dulu. Aku sekarang ini sedang ada di Busan dengan bosku karena ada urusan pekerjaan yang mendesak dan aku sama sekali lupa kalau temanku akan tiba di Korea hari ini dan aku harus menjemputnya.”

“..”

“Dia sudah delapan tahun tidak ke Korea,” lanjut Doyoung lagi tanpa merasa bersalah. “Dan pasti akan sangat marah kalau tahu tidak ada yang menjemput hari ini di Bandara.”

“Bukan urusanku.”

“Ya Tuhan Jooyoung tolonglah. Kalau pekerjaan ini tidak mendesak aku pasti akan menjemputnya.”

“Apa aku terlihat seperti peduli?” balas Jooyoung lagi retoris. Seriously, dia kehilangan beberapa menit tidurnya yang berharga hanya untuk mendengar ocehan tidak berguna Doyoung di pagi hari. Sama sekali tidak lucu. “Lagipula kenapa tidak minta tolong Jennie saja sih?”

Doyoung terdengar menghela napas di ujung sana. “Kau tahu bagaimana dia. Bisa-bisa aku dibunuh karena menelepon sepagi ini.”

“Memangnya kau pikir sekarang ini aku tidak sedang merencanakan pembunuhanmu apa?” teriak Jooyoung dengan kesal pada ponselnya. Kenapa semua orang berpikir adalah ide buruk untuk mengganggu Jennie tapi tidak pernah seorangpun takut untuk mengganggu dirinya kapanpun, dimanapun, dalam situasi apapun. Dan saat Jooyoung bilang tidak seorang pun, artinya tidak seorang pun. Tidak. Seorang. Pun.

“Karena aku tahu kau lebih baik dari dia.” Jawab Doyoung dengan suara ceria yang dibuat-buat. Jooyoung rasanya bisa melihat senyum lebar pria itu hanya dari mendengar suaranya.

Itu dia. Jooyoung terlalu baik kepada semua orang. Dan dia seperti memancarkan kesan bisa dimintai tolong. Makanya orang-orang ini selalu tidak pernah merasa bersalah untuk menyusahkannya. Dan memang kenyataannya dia tidak pernah bisa berkata tidak.

Jooyoung menghela napas pasrah “Baiklah, jam berapa dia sampai?”

Doyoung segera bersorak gembira setelah itu.

Jadi, disinilah Jooyoung sekarang. Menggenggam kertas putih di depan dadanya seperti idiot, kedinginan, dan membenci diri sendiri — juga Doyoung. Dia sudah berdiri di spot yang sama setidaknya setengah jam karena Doyoung bilang “dia akan sampai setidaknya pukul sembilan lewat.” Lalu Jooyoung dengan tidak merasa bersalah dan sangat sengaja tiba di Bandara Incheon pukul sepuluh kurang tiga menit. Jauh terlambat dari jadwal kedatangan teman Doyoung itu. Tapi ternyata pesawat dari Toronto yang ditumpangi teman Doyoung belum sampai bahkan setelah Jooyoung bolak-balik ke kamar kecil sebanyak empat kali dan sekarang dia benar-benar kedinginan.

Saat akhirnya terdengar pengumuman dari speaker — entah di bagian mana di bandara — bahwa pesawat penerbangan Kanada-Korea dari Toronto telah mendarat, itu sudah hampir pukul sebelas dan Jooyoung rasanya belum pernah merasa selega ini mendengar kedatangan pesawat dalam hidupnya. Dia benar-benar hampir mati kedinginan sekarang. Namun ternyata dia masih dibuat menunggu sampai hampir setengah jam kemudian sebelum akhirnya seorang pria dengan iphone menempel di telinga dan wajah kesal berjalan mendekatinya dengan ragu.

“Permisi, apa anda Nona Kim Jooyoung?” ujar pria itu.

Dan Jooyoung melongo. Hanya memproses sebagian dari pertanyaan pria itu. Karena tubuhnya seperti sudah mati rasa setengah dan dia hanya ingin cepat-cepat pulang sekarang.

“Karena kurasa nama yang tertulis di kertasmu adalah namaku dan Doyoung hyung bilang dia minta tolong temannya untuk menjemputku hari ini.”

Jooyoung masih belum menjawab pertanyaan pria itu dan mendengarnya berbicara ke iphone nya “Astaga hyung aku sudah menempuh perjalanan selama enam belas jam dan masih jetlag, dan sekarang aku terlantar di bandara. Kau benar-benar teman yang tidak bisa diandalkan.” Dengan nada kesal. Raut wajahnya terlihat jauh lebih kesal.

“Aku Jooyoung,” kata Jooyoung akhirnya setelah membiarkan pria itu mengomeli Doyoung lebih lama di ponsel — karena Doyoung pantas mendapatkan itu — menarik perhatian pria itu.

“Kau teman Doyoung hyung?”

Jooyoung mengangguk lemah sebagai balasan. Terlalu malas untuk memikirkan tanggapan lain. Dia langsung berbalik setelah itu seraya berkata “ayo”, membuang kertas yang tadi dipegangnya ke tong sampah terdekat dan pria itu mengikutinya dengan patuh.

Pertemuan pertama itu sama sekali tidak istimewa. Karena baik Jooyoung maupun pria itu menutup mulut serapat mungkin selama perjalanan dari bandara ke apartemen Doyoung. Bahkan sampai mereka naik ke kamar apartemen ‘lelaki kelinci’ itu serta meletakkan seluruh barang bawaan temannya sembarangan di lantai, mereka masih tidak bertukar satu kata pun. Pria itu terlihat ingin mengatakan sesuatu tapi Jooyoung membuatnya jelas bahwa dia sedang tidak dalam mood baik jadi dia mengurungkan niatnya dan hanya mengucapkan terima kasih pelan sebelum Jooyoung menutup pintu apartemen dan berlalu.

.

.

Mereka bertemu lagi seminggu kemudian. Pada pertemuan kedua, Jooyoung akhirnya berkenalan secara resmi dengannya.

“Jooyoung, kau sudah berkenalan dengan Jaehyun kan?” kata Doyoung begitu Jooyoung masuk ke dalam apartemennya.

Jooyoung, yang kebingungan, hanya melongo kepada Doyoung lalu kepada seorang pria dengan sweater rajut di sofa. “Huh?”

Doyoung terdiam kemudian membelalakkan matanya lebih besar dari yang pernah dilihat Jooyoung sebelumnya. “Jangan bilang kalian sama sekali tidak berkenalan di bandara.” Dia memandang Jooyoung dan pria lain di ruangan itu dengan tatapan menuduh.

“Bukan salahku,” terdengar pria itu bergumam.

Jooyoung mengedikkan bahu acuh sambil melepas mantelnya dengan santai lalu melemparkannya ke wajah Doyoung. Dia mendapat teriakan marah Doyoung untuk itu.

“Aku yakin Jooyoung memperlakukan Jaehyun dengan buruk. Pasti.” ujar Jennie, tiba-tiba muncul dari belakang Jooyoung dan menyodorkan gelas wine kepada gadis itu.

“Berisik.” timpal Jooyoung cepat. Dia segera mengambil botol wine dari tangan Doyoung — yang masih memegang mantelnya dengan marah — dan memindahkan isinya ke dalam gelas yang baru saja diterimanya dari Jennie. Dia kemudian segera mengosongkan gelas itu secepat mengisinya. “Kau menyuruh aku menjemput, bukan berkenalan dengannya.”

“Setidaknya saling bersalaman dan berkenalan.”

Seriously? Apa sekarang kita mau membahas ini atau mulai makan malam?”

Jennie yang membalas perkataan Jooyoung. Dengan memukulkan tangannya ke kepala Jooyoung sangat keras. “Kenapa kau keras kepala sekali sih? Jangan bersikap seperti bocah.”

Geez, fine.” Sergah Jooyoung kesal. Dia berjalan gontai ke arah sofa setelah melotot marah pada Jennie dan membalas memukul kepalanya. Dalam hati merengut kenapa harus dia yang berjalan ke sofa dan bukan pria itu yang bangkit dari duduknya? “Aku tidak tahu kenapa aku harus melakukan ini. Tapi dua orang itu bersikap seperti dunia akan berakhir kalau aku tidak menyalammu atau apalah.” Kata Jooyoung malas, lalu mengulurkan tangan ke depan wajah pria bersweater itu. “Ayo bersalaman.”

Tangan Jooyoung segera disambut dengan hangat oleh orang itu dan dia tidak bisa melewatkan bagaimana kulitnya sangat putih. Nyaris sepucat susu.

“Aku Jaehyun,” katanya. “Jung Jaehyun.” Suaranya adalah suara pria paling seksi yang pernah didengar Jooyoung. Sedikit rendah tapi tidak terlalu dalam, dengan sentuhan bass yang cukup.

Jooyoung mengangkat kepala untuk melihat wajah lawan bicaranya. Untuk pertama kali betul-betul memperhatikan wajahnya. Segera setelah dia melakukannya, Jooyoung langsung menyesali keputusannya. Karena pria itu sedang melihat langsung kepada Jooyoung. Mata mereka bersiborok dengan canggung dan Jooyoung tidak tahu bagaimana mengalihkan pandangan dari pertemuan mata mereka.

Pria itu — Jaehyun — tersenyum dengan cara termanis seorang pria bisa tersenyum, membentuk lesung pipi yang begitu dalam, gigi-giginya yang entah kenapa begitu besar dan sangat rapi terlihat dan matanya berubah bentuk bulan sabit. Napas Jooyoung tercekat, dia merasa mendapat serangan asma ringan. Karena pria ini, dengan karunia tampan yang entah datang dari mana terlihat nyaris terlalu sempurna. Dia adalah perpaduan dari Kai dan Sehun. Kalau kedua orang itu bisa punya anak — bayangan yang mengerikan — mungkin bentuk anak mereka adalah Jung Jaehyun ini. Eyesmile dan warna kulit putih susunya yang mencolok mengingatkan Jooyoung pada Sehun sedangkan senyumannya adalah Kai.

Kenapa ada satu pria yang merupakan kombinasi dari dua patah hati terburuk Jooyoung?

Kemudian Jooyoung, dengan hati bercampur aduk mengalihkan pandangannya segera dari wajah pria itu dan memaksa lidahnya untuk bergerak “Kim Jooyoung.”

.

.

“Aku lihat itu,” kata Jennie malam harinya. Saat mereka sudah kembali dari makan malam di tempat Doyoung ke apartemen yang mereka bagi bersama. Makan malam berjalan lancar, mereka menghabiskan semua hidangan yang disediakan Doyoung dan Jaehyun ditambah yang dibawa Jennie dan Jooyoung dari apartemen mereka sendiri. Lalu mereka bermain UNO sambil minum wine. Selain Jooyoung yang semalaman berusaha menghindari bertatap mata dengan Jaehyun, semua berjalan dengan normal.

Saat malam sudah terlalu larut, Jennie dan Jooyoung pamit untuk kembali ke apartemen mereka, tidak menerima usulan Doyoung untuk menginap di tempatnya saja. Begitu juga tawaran pria itu untuk mengantar mereka pulang, ditolak dengan sopan oleh Jennie dan Jooyoung. Mereka mengucapkan selamat malam dan segera berkendara selama sepuluh menit dari bangunan apartemen teman mereka ke tempat mereka sendiri. Baik Jennie maupun Jooyoung tidak berbicara sama sekali selama sepuluh menit itu. Hanya suara penyiar radio lokal yang mengisi udara kosong di mobil mereka. Lalu sekarang, begitu mereka tiba di apartemen, tepat setelah menutup pintu di belakang mereka, hal pertama yang dilakukan Jennie adalah mengatakan itu pada Jooyoung.

Dari tingginya tingkat pergantian manusia yang hilir mudik dalam hidup Jooyoung, Jennie adalah salah satu yang bertahan cukup lama dengannya. Sejak bertemu saat kuliah dulu, sampai sekarang mereka masih bersahabat. Sudah selama tujuh tahun dan masih terus menghitung. Jujur dia sangat menyukai sahabatnya, tapi ada saat-saat dia lebih memilih untuk menukarkan Jennie dengan sebungkus potato chip atau seekor anjing saja, dan saat ini adalah salah satunya.

“Lihat apa?” tanya Jooyoung kasual. Berpura-pura tidak tahu apa yang dibicarakan Jennie. Hell, dia berharap dia sama sekali tidak tahu apa yang dimaksudkan sahabatnya itu.

Jennie memutar bola mata. Hal yang dilakukannya terlalu sering. “Kau tahu apa yang kubicarakan.”

“Tidak, dan tidak mau tahu juga.” Jooyoung melempar tasnya dan berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air.

Jennie mengikuti dari belakang dan mengerang. “Ayolah Joo.”

Tapi Jooyoung bergeming. Meminum airnya dan mengabaikan Jennie, berpura-pura sahabatnya itu tidak sedang berada di ruangan yang sama dengannya. Berpura-pura sahabatnya itu tidak sedang berusaha mengungkit topik paling sensitif bagi Jooyoung.

“Dia tampan,” kata Jennie akhirnya setengah berteriak. Mengangkat lengan tinggi-tinggi meniru pose orang yang menyerah.

“Tidak terlalu.” Jawab Jooyoung, mengangkat bahu, berusaha menunjukkan ekspresi paling tidak tertarik yang bisa dia lakukan.

“Dan lesung pipinya, aku tahu kau suka pria berlesung pipi.” kata Jennie lagi dengan keras kepala.

Jooyoung menghela napas lalu berkata “Kau hanya menggunakan Yixing sunbae sebagai referensi untuk itu. Dan tidak, aku sama sekali tidak suka lesung pipinya.”

“Kau tidak suka lesung pipi Yixing?”

“Sunbae,” Jooyoung mengoreksi. “Aku suka lesung pipinya. Yang tidak kusukai itu dia, teman Doyoung.”

“Namanya Jaehyun.”

Whatever.

Eyesmile nya juga menawan. Kau suka eyesmile.” Jennie masih bersikeras mengganggu Jooyoung dan mengikuti setiap langkahnya di apartemen kecil mereka.

“Ya Tuhan berhenti mengikutiku.” Teriak Jooyoung — sedikit — fustasi. Dia menghadap Jennie dan menatapnya kesal. “Ya aku suka eyesmile. Tapi bukan berarti aku suka semua pria yang bisa seperti itu. Kalau kau segitu sukanya, sana kencani dia.”

“Tidak mau. Bukan tipeku.”

Jooyoung melotot garang pada jennie. “Bukan tipeku juga.”

“Kau bohong.” Sembur Jennie seraya melotot balik.

Dan mereka berdua tahu kalau memang Jooyoung berbohong malam itu. Dusta besar kalau mengatakan Jaehyun sama sekali tidak memenuhi seluruh kriteria pria yang ingin dikencani Jooyoung — secara fisik. Dia tinggi, putih, suara baritonnya adalah yang terbaik, ditambah dengan dua hal yang baru saja disebutkan Jennie: lesung pipi dan mata yang bisa tersenyum itu. Tapi Jooyoung sama sekali tidak mau lagi jatuh cinta dengan laki-laki seperti itu. Bahkan dia tidak mau lagi jatuh cinta dengan laki-laki manapun.

Selama empat tahun semenjak patah hatinya dengan Kai, Jooyoung sudah tidak pernah benar-benar jatuh cinta. Dia ingin tetap mempertahankannya seperti itu. Dia tidak butuh cinta. Dia tidak butuh pria. Jooyoung sudah cukup bahagia seperti sekarang ini. Dengan Jennie, dan Doyoung kadang-kadang. Menghabiskan setiap akhir pekan bertiga, menonton drama, bermain UNO, karaoke bertiga, pergi ke klub pada hari-hari tertentu. Terkadang Jooyoung bertemu laki-laki dan menghabiskan malam bersama mereka. Tapi hanya sebatas itu. Jooyoung, dengan segenap sisa-sisa kewarasan yang susah payah dirakitnya kembali dalam otaknya sepeninggal Kai, menolak untuk memberikan hati kepada makhluk bernama pria.

Karena itu, meski Jaehyun membangkitkan gejolak yang tidak terjelaskan di hatinya, Jooyoung menolak dengan keras untuk mengikutinya. Dia memblokade akses pria mana pun dari bagian paling rapuh dalam dirinya itu. Bahkan dari pria setampan Jaehyun sekalipun.

.

.

Lalu natal datang. Jooyoung kembali ke apartemennya sehabis kerja dengan badan yang sudah terlalu lelah akibat kebanyakan lembur selama seminggu ini. Satu-satunya yang Jooyoung inginkan sekarang adalah segera masuk ke kamarnya di apartemen mereka, bergelung di bawah selimut tebal, dan tidak bangun sampai tahun baru.

Yang tidak diharapkan Jooyoung begitu memasuki lorong apartemennya adalah pemandangan seorang pria duduk di depan pintu yang sangat dia kenal sebagai pintunya. Jaehyun. Jooyoung melangkah dengan ragu. Semakin dekat dia dengan pria itu, semakin berat terasa langkahnya. Dia tidak ingin bicara dengan orang ini. Jaehyun menyadari kehadirannya saat Jooyoung sudah berjarak lima langkah darinya. Pria itu mengangkat kepala lalu segera memamerkan senyum malaikatnya kepada Jooyoung. Ya Tuhan, tembak Jooyoung sekarang.

“Hei,” sapa Jaehyun, segera bangkit dari posisi duduknya yang menghalangi pintu.

“Hei,” balas Jooyoung canggung. Dia mengeluarkan kunci dari saku jaket dan menata suaranya setenang mungkin. “Sedang apa di sini?”

Jaehyun, masih tersenyum seraya menunggu tuan rumah untuk membukakan pintu apartemennya, menjawab “Katanya kita akan merayakan natal di sini dan Doyoung hyung menyuruhku untuk langsung datang.”

Jooyoung mengerutkan kening. Dia baru dengar hal seperti itu hari ini. Mereka — Jennie dan Doyoung — sama sekali tidak membicarakan rencana itu dengannya. “Lalu mana dia?” tanya Jooyoung lagi menyelidik. Jelas tidak suka kalau misalnya ini adalah salah satu rencana Jennie — dibantu Doyoung — untuk melakukan aksi mak comblang terhadap dia dan Jaehyun. Karena kalau memang itu tujuan dua orang itu, tidak seorang pun akan selamat sampai tahun baru nanti akibat kemarahan Jooyoung. Bahkan Jaehyun yang secara teknis baru dikenalnya selama beberapa hari sekalipun. Dengan alasan itu juga, meski Jooyoung sudah menekan kuncinya, dia tetap tidak membukakan pintu untuk pria itu.

Jaehyun membalas pertanyaan Jooyoung dengan mengedikkan bahu indikasi ketidaktauannya tentang keberadaan Doyoung sekarang.

“Bagaimana kau sampai di sini?”

“Taksi.”

“Kapan Doyoung akan datang?”

Jaehyun membalas dengan mengangkat bahu, sama seperti sebelumnya, kali ini seraya menggelengkan kepalanya.

Jooyoung mengeraskan rahangnya, “Maaf aku tidak bisa membiarkanmu masuk begitu saja.”

Dan Jaehyun — terlalu terkejut — menatapnya tidak percaya. Matanya dipaksa membesar dari ukuran aslinya, dia menatap Jooyoung ngeri lalu bertanya “Kau bercanda kan?”

“Nope,” kata Jooyoung santai. Satu tangannya menggenggam kenop pintu dan tangan yang lain diletakkan di pinggang. “Aku bahkan tidak mengenalmu.”

“Kau tidak serius sekarang kan? Kemarin kita sudah berkenalan.” kata pria itu lagi. Wajahnya berubah masam. “Suhu sekarang hampir 0 derajat dan aku sudah menunggu di sini selama setengah jam.”

Jooyoung bahkan tidak menanggapi perkataan pria itu dan hanya menatapnya dalam diam. Dia betul-betul tidak siap dengan ini. Berduaan dengan Jaehyun di dalam apartemennya dalam situasinya sekarang ini lebih dari yang bisa ditanggung Jooyoung. Karena dia tahu batasan dirinya. Kalau membiarkan dirinya berada dalam ruangan tertutup bersama Jaehyun — Jaehyun yang tidak berhenti mengingatkannya pada dua orang dari masa lalunya — Jooyoung tahu bagaimana akhirnya nanti. Dia dengan memalukan pasti akan berakhir setidaknya mencium pria ini. Karena begitulah gampangnya dia. Dan Jooyoung tidak mau itu.

Jadi dia bersikeras, mempertahankan diamnya sampai Jaehyun sendiri yang menyerah. Pria itu menghela napas pasrah. “Baiklah, aku akan menunggu di sini sampai Doyoung hyung datang.” Katanya.

Sebenarnya dalam hati juga Jooyoung tidak tega memperlakukan Jaehyun seperti ini. Dari merah pipi dan hidungnya, terlihat jelas kalau dia memang sudah menunggu untuk waktu yang tidak bisa dibilang singkat di udara terbuka. Pada cuaca seperti ini, dia pasti sangat kedinginan. Tapi Jooyoung tetap mengangguk setuju lalu membuka pintu. Karena ini bukan salahnya. Ini semua rencana Doyoung dan Jennie, dia yakin itu. Karena itu biarkan saja mereka berdua melihat konsukuensi rencana bodoh mreka.

Sebelum Jooyoung menutup pintu tepat di wajah Jaehyun, pria itu menahannya dan berkata “Setidaknya bolehkah aku mendapat minuman hangat? Aku hampir membeku di sini.”

“Baiklah.” Lalu Jaehyun melepaskan tangan dari pintu dan Jooyoung menutup pintu itu tanpa membantingnya.

Saat Jooyoung berbalik dari pintu dan berjalan menuju ruang tengah hal pertama yang dia sadari adalah sepatu Jennie dan Doyoung tergeletak serampangan di undakan.

“Huh, mereka ada di sini?” dia berbisik dengan kening berkerut. Kalau dua orang itu sudah ada di dalam apartemen kenapa membiarkan Jaehyun menungu di depan pintu selama setengah jam? Memangnya mereka berdua mau membunuh pemuda malang itu ya?

“Jen, Bunny,” teriak Jooyoung memanggil kedua temannya — Bunny adalah panggilan untuk Doyoung karena nama mereka yang terlalu mirip, jadi berhubung pria itu wajahnya menyerupai seekor kelinci, itu menjadi nama panggilannya secara permanen. Panggilan Jooyoung hanya mendapat jawaban dari udara kosong. Seolah-olah di rumah itu memang tidak ada manusia. Jadi Jooyoung memanggil nama dua orang itu sekali lagi sambil berjalan melintasi ruang tengah hendak ke dapur.

Jooyoung berhenti melangkah saat melewati kamar jennie karena dia bersumpah mendengar suara samar seseorang di sana. Dalam hati terus mengutuki dua temannya. Kalau mereka sedang merencanakan sesuatu yang tidak menyenangkan terhadap Jooyoung dan juga Jaehyun, mereka berdua, bisa Jooyoung pastikan tidak akan selamat. Betul-betul tidak. Jooyoung dengan kesal menyentak pintu kamar jennie dan siap menyembur dua temannya dengan serapah yang sudah dia persiapkan dalam kepala. Yang tidak dia sangka — dan sama sekali di luar ekspektasinya — di kamar itu memang ada Jennie dan Doyoung. Di atas tempat tidur tepatnya. Dan Ya Tuhan tolong katakan kalau dia tidak sedang menyaksikan apa yang dia saksikan sekarang. Karena Doyoung ada di atas Jennie dan keduanya sedang telanjang dan sama sekali tidak menyadari kalau mereka mendapat penonton.

Jooyoung ingin berteriak. Entah kepada Jennie atau kepada Doyoung. Mungkin kepada keduanya. Tapi dia tidak melakukannya. Dia membiarkan mereka melanjutkan apapun yang sedang mereka lakukan dan menutup pintu Jennie sepelan yang dia bisa. Alih-alih memaki kedua temannya itu — betapa keras keinginannya untuk melakukan hal itu sekarang — dia memilih untuk bersikap seolah tidak ada di sana. Menghilang sekarang juga.

Wajah Jooyoung seperti mengalami kenaikan suhu yang sangat signifikan walaupun apartemen mereka terasa dingin karena penghangat ruangan yang belum diperbaiki. Dia merasa lebih panas dari CPU yang sudah menyala selama berjam-jam. Dan ini terasa lebih memalukan dari apapun juga. Seperti ketahuan menonton film porno, kecuali ini bukan film tapi dia menyaksikannya secara live dan yang memerankannya adalah dua sahabat terdekatnya.

Jadi dia dengan kikuk mengambil tas yang tadi sempat dibuangnya ke sofa, melupakan minuman hangat yang diminta Jaehyun — persetan minuman hangat — dan menjinjing sepatunya tanpa repot memasangnya di kaki lalu keluar apartemen, menguncinya lagi.

Jaehyun mengernyitkan kening begitu melihat Jooyoung yang keluar lagi dari apartemen lalu bergerak seperti robot. Sekali lagi dia berdiri dari posisi duduknya di depan pintu dan melihat Jooyoung dengan bingung karena berlawanan dengan gerakan kakunya, ada kepanikan yang jelas terpancar di mata gadis itu dan wajahnya seperti tiba-tiba diaplikasikan blush on tambahan yang berlebihan dan Jaehyun tahu dia tidak punya cukup waktu itu.

“Ada apa?” tanya Jaehyun, masih dengan dahi sengaja dikerutkan.

“Tidak jadi merayakan natal berempat,” Jooyoung sekenanya, berusaha keras mengatur napas.

Jaehyun semakin mengerutkan kening, intensitas kebingungannya semakin tinggi. “Apa semua baik-baik saja?”

“Aku… aku… ya Tuhan tidak tahu. Ayo kita pergi dari sini.”

.

.

Duduk di McDonald, makan burger ditambah segelas cola, berdua dengan seseorang yang baru dikenalnya selama beberapa hari. Bukan begini Jooyoung merencanakan menghabiskan natalnya. Secara teknis dia sudah mengenal Jaehyun lebih lama dari seminggu. Tapi itu bukan inti permasalahan sekarang.

Kenapa dia, Kim Jooyoung, harus menghabiskan malam natalnya secara menyedihkan dengan Jung Jaehyun. Bukan berarti perayaan biasanya tidak menyedihkan, tahun-tahun sebelumnya dia dan Jennie menghabiskan natal dengan keluarga masing-masing, tapi itu selama mereka duduk di bangku kuliah. Sejak bekerja, mereka tidak lagi kembali ke rumah orang tua mereka, karena pekerjaan mereka tidak memberi kemewahan seperti libur sejak seminggu sebelum natal, Jooyoung harus bekerja sampai beberapa jam sebelum malam natal, jadi dia tidak pernah punya kesempatan itu lagi. Oleh sebab itu biasanya dia dan Jennie merayakannya berdua saja di apartemen mereka. Sejak tahun lalu bertambah Doyoung dalam lingkaran pertemanan mereka dan natal berdua menjadi natal bertiga. Tapi tahun ini sepertinya dia bahkan kehilangan kesempatan merayakan malam natal dengan sahabat-sahabatnya. Sebagai gantinya dia dapat seorang pria tampan, bernama Jaehyun. Jooyoung sama sekali tidak senang.

“Apa kau tidak mau makan?” tanya Jaehyun di depannya. Pria itu sedang mengigit apa yang diingat Jooyoung sebagai big mac nya yang ketiga. Bukannya Jooyoung dengan sengaja menghitung tapi Jaehyun makan seperti kuda dan sangat sulit untuk tidak menyadari betapa banyak makanan yang mereka pesan untuk dimakan berdua — atau dimakan Jaehyun sendirian karena Jooyoung bahkan belum menyelesaikan satu burger pun sementara Jaehyun sudah menghabiskan dua potong ayam ditambah nasi dan sedang sibuk dengan big mac ketiganya. Jooyoung antara kagum atau merasa ingin muntah.

Jooyoung menghela napas, jujur saja dia kehilangan nafsu makan. Setengahnya karena melihat Jaehyun makan seperti, entahlah seperti apa, Jooyoung tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk mengekspresikannya. Setengahnya lagi karena bayangan tentang Jennie dan Doyoung yang tadi disaksikannya sama sekali tidak mau keluar dari otaknya. Dia menghela napas lagi. Ini betul-betul menyebalkan.

“Dua puluh tiga kali,” kata jaehyun.

“Huh?” Jooyoung mengangkat kepalanya dan melihat Jaehyun sedang memandang khawatir ke arahnya, masih sambil mengunyah makanannya yang kini sudah tinggal setengah.

“Kau sudah menghela napasmu sebanyak dua puluh tiga kali dan kita baru duduk di sini selama sepuluh menit,” kata pria itu lagi.

“Dan kau sudah menghabiskan lebih banyak makanan dari yang bisa kuhabiskan selama satu jam dalam sepuluh menit itu,” balas Jooyoung sarkastis. Dia menatap kepada Jaehyun jijik.

Pria itu membalasnya dengan senyum, menunjukkan lesung pipi yang oh-terlalu-manis untuk dilihat Jooyoung. Lalu mengambil satu gigitan besar dari big mac nya. “Kau ingin membicarakannya?” Jaehyun berbicara lagi sambil mengunyah, mendapat tatapan jijik — entah yang keberapa — dari Jooyoung.

“Aku bahkan tidak ingin mengingatnya.”

“Baiklah.” Jawab Jaehyun santai, kembali fokus kepada makanannya.

Jooyoung menghela napas. Melihat kepada Jaehyun yang tidak berhenti mengunyah. Pria itu terlihat sama sekali tidak keberatan meski Jooyoung membawanya paksa ke restoran siap saji ini saat rencana awal yang diketahuinya adalah perayaan natal di apartemen Jooyoung. Mungkin dia sama sekali tidak keberatan selama Jooyoung memberinya makanan. Jooyoung mendengus lalu berbisik kasar “Aku bahkan tidak tahu mereka punya hubungan seperti itu.”

“Siapa?”

“Jennie dengan Doyoung.” kata Jooyoung frustasi, dia mengacak rambutnya kesal. “Aku bahkan tidak tahu kalau mereka saling suka atau apa, maksudku, ya Tuhan. Aku sudah mengenal Jennie hampir delapan tahun dan dia sama sekali tidak pernah punya pacar serius sebelumnya dan Doyoung masuk pertemanan kami sejak setahun lalu dan kukira ini semua murni pertemanan tapi mereka berdua, Jennie, Doyoung, di kamar, mereka, mereka, sedang….. astaga. Bunuh aku sekarang.”

Jaehyun meletakkan big mac nya ke atas piring. Dia berusaha menelan sisa makanan yang ada di mulutnya lalu menggerakkan tangannya ke arah tangan Jooyoung, menggerakkan jari-jarinya di punggung tangan Jooyoung dengan lembut. Entah kenapa, gerakan itu menenangkan Jooyoung sesaat. “Tidak usah dipaksakan.”

Jooyoung mengerang keras, membuat keluarga yang duduk di dekatnya melihat ke meja mereka penasaran. “Mereka bahkan tidak pernah berciuman di depanku dan ya Tuhan semua ini terlalu mengejutkan. Rasanya seperti tiba-tiba ditampar dengan kenyataan kalau dua sahabat baikku saling berkencan dan aku sama sekali tidak tahu. Sahabat macam apa aku ini? Tidak. Coret itu. Sahabat macam apa mereka berdua itu? Astaga menyebalkan sekali. Aku butuh sepasang mata baru yang belum pernah menyaksikan apa yang mereka lakukan tadi.”

Jaehyun hanya tertawa mendengar ocehan Jooyoung. Masih setia dengan gerakan jemarinya yang menjadikan punggung tangan Jooyoung sebagai lantai dansa.

“Kenapa kau malah tertawa?”

Jaehyun malah semakin keras tertawa, membuat Jooyoung semakin mengerutkan kening. Kebingungan dan juga heran. Apa orang ini sudah mulai sinting? Seperti dirinya.

Lalu Jaehyun menjawab — tangannya masih belum berpindah dari atas tangan Jooyoung — sambil menatap mata Jooyoung “Jooyoung-ssi adalah orang yang sangat ekspresif dan menarik. Hal sekecil ini bisa mengganggumu. Aku sangat menyukainya.”

“Tapi ini bukan hal kecil,” bisik Jooyoung setengah berbisik, menundukkan kepalanya, suhu tubuhnya sekarang malah terasa lebih panas.

Bukan kata-kata maupun cara penyampaian yang terlalu mesra oleh Jaehyun yang membuat pipinya terasa terbakar dan dia terpaksa menunduk untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya malam itu, Jooyoung bersumpah.

.

.

Malam itu mereka berdua sama sekali tidak kembali ke apartemen Jooyoung. Karena gadis itu berdalih tidak akan sanggup berhadapan dengan Jennie dan Doyoung seperti manusia normal setelah apa yang disaksikannya. Setidaknya bukan malam ini. Sebagai gantinya mereka menghabiskan malam itu berdua di apartemen Doyoung. Duduk di sofa bersisian — Jooyoung meminjam baju dari lemari Doyoung — minum wine dan menonton Home Alone.

Jennie menelepon ponselnya pukul sepuluh malam tapi Jooyoung sengaja mengabaikan panggilan temannya itu dan malah menyandarkan kepala di lengan Jaehyun seolah itu adalah hal paling normal yang bisa dia lakukan.

Tapi dia sama sekali tidak berakhir mencium Jaehyun. Dan Jooyoung ingin memberikan penghargaan kepada dirinya sendiri untuk itu.

.

.

Dia kembali ke apartemennya pagi hari. Jennie melotot garang begitu membuka pintu. “Darimana saja kau semalam?” katanya dengan gaya khas ibu Jooyoung saat marah. Kedua tangan diletakkan di pinggang.

Jooyoung menatap Jennie malas dan mencibir, lalu berjalan melewati sahabatnya itu tanpa berkata sepatah katapun. Doyoung duduk di sofa mereka dengan TV menyala di depannya. Dan Jooyoung kembali mengingat betapa kesalnya dia kemarin malam oleh kedua orang ini.

“Yaampun kau bau alkohol,” kata Jennie lagi dari belakangnya, Jooyoung tidak mau repot-repot melihat ekspresi wajah yang digunakannya saat berbicara. “Tolong katakan semalam kau tidak bersama orang asing.”

Mendengar perkataan Jennie semakin membangkitkan amarah Jooyoung, dia mendecak kesal dan berbicara kesal “Demi Tuhan ini masih pagi dan kepalaku sakit sekali.” katanya setengah berteriak, membuat Jennie tertegun dan Doyoung mengalihkan perhatiannya dari TV. “Kalaupun ada seseorang di ruangan ini yang berhubungan seks semalam, kita bertiga tahu itu bukan aku. Jadi berhenti mengoceh. Aku mau tidur.”

Jennie dan Doyoung tidak berani membuka mulut setelah itu. Jadi Jooyoung yang melakukannya. “Aku dan Jaehyun tidur di tempat Doyoung semalam. Terima kasih untuk rencana merayakan natal berempat dari kalian dua. Malam natal yang menyebalkan. Tapi aku senang setidaknya dua orang dari kita menikmati natal semalam, meskipun orang itu bukan aku.” katanya seraya memutar bola mata. Setelah itu dia langsung masuk ke kamar dan sengaja membanting pintu dengan keras.

.

.

Tentang Doyoung dan Jennie yang ternyata sudah berkencan selama hampir setengah tahun — yang benar saja sudah selama itu — bukan masalah besar bagi Jooyoung. Meski sedikit kesal di awal dan tidak mau berbicara dengan dua orang itu selama beberapa hari, karena seperti yang dikatakannya kepada Jaehyun teman semacam apa mereka menyembunyikan hubungan mereka begitu lama dari Jooyoung seorang, mereka akhirnya tetap berbaikan. Mereka tetap bisa berteman dengan normal pikir Jooyoung. Bermain bertiga, merayakan tahun baru bertiga, menginap dan bermain kartu atau video game, minum wine, ke klub bertiga. Tidak ada yang berubah sama sekali.

Atau tidak.

Setelah buka-bukaan tentang hubungan mereka berdua, Jennie dan Doyoung membuat hidup Jooyoung menjadi tidak tertahankan. Dengan gombalan-gombalan memuakkan, komentar-komentar yang sedikit terlalu vulgar, dan skinship — terutama skinship yang berkelanjutan, Jooyoung merasa lebih baik seseorang melemparnya ke jurang daripada berlama-lama berada di ruangan yang sama dengan dua orang itu.

Tapi masih ada Jaehyun. Satu lagi sumber masalah Jooyoung. Pria yang ternyata lebih muda setahun darinya — sebenarnya hanya lima bulan tapi Jaehyun lahir di tahun yang berbeda jadi secara teknis Jooyoung menyatakan dirinya lebih tua setahun. Mereka berdua sama-sama korban keadaan, jadi Jooyoung dan Jaehyun banyak menghabiskan waktu berdua. Saat acara kumpul akhir pekan, sementara Doyoung dan Jennie sibuk saling mencium di sofa, Jaehyun dan Jooyoung fokus dengan video game mereka. Saat sepasang kekasih itu mengunci diri mereka di kamar Doyoung melakukan hal yang sama sekali tidak ingin dibayangkan Jooyoung, dia dan manusia single lainnya di tempat itu akan mengambil bir kaleng dari kulkas lalu bermain kartu berdua dengan radio dipasang keras-keras dari ponsel.

Lalu tanpa Jooyoung sadari dia menghabiskan lebih banyak waktu dengan Jaehyun dari pada kedua temannya. Nomor ponsel Jaehyun tersimpan rapi di daftar kontaknya. Dan mereka sering membuat rencana jalan-jalan hanya berdua. Dan meski seharusnya itu menganggu Jooyoung, entah kenapa itu semua terasa begitu normal.

.

.

Setelah berhubungan — sebatas teman — dengan Jaehyun selama lima bulan, Jooyoung menyadari sesuatu. Jaehyun menyukai dirinya melebihi kadar suka kepada seorang teman dan melakukan usaha sia-sia untuk menyembunyikan fakta itu. Bahkan anak tetangga penghuni apartemen sebelah mengetahui perasaan Jaehyun — yang tidak begitu rahasia — kepada Jooyoung. Dan Jennie tidak berhenti membicarakannya hampir setiap malam.

Seriously apa yang akan kau lakukan dengannya?” Jennie akan bertanya di sela-sela kegiatan mengaplikasikan krim malam di wajahnya.

“Dengan siapa?” lalu Jooyoung berpura-pura bodoh.

Jennie memutar bola mata malas, menatap tajam kepada Jooyoung melalui cermin. “Kau tahu siapa.”

Ditanggapi oleh Jooyoung dengan mengedikkan bahu lalu meremas-remas tangannya. Gelisah.

“Jaehyun.”

“Huh?”

“Kenapa sih kau selalu begitu?”

“Apanya?”

“Pura-pura tidak mau tahu dengan perasaan Jaehyun. Dia mau kau apakan?”

“Memangnya apa yang harus kulakukan terhadapnya? Kami berteman.”

Jennie mengerang kesal. Sangat kesal. Menggelengkan kepala lalu berbalik dari cermin, menatap Jooyoung tidak sabar. “Dengar Joo, kau itu sahabatku dan aku peduli padamu. Jaehyun sahabat Doyoung dan aku juga peduli padanya. Hell, aku peduli kalian berdua. Jadi jangan bersikap bodoh dan menyakiti diri sendiri. Juga Jaehyun.”

“Aku tidak menyakiti diriku sendiri.” Protes Jooyoung segera dengan dahi dikerutkan.

Mendengar perkataan Jooyoung, Jennie hanya menghela napas lalu berkata “Benar. Kau hanya menyakiti Jaehyun. Dasar perempuan jahat.”

.

.

Tapi hubungan Jooyoung dengan Jaehyun baik-baik saja. Mereka menghabiskan banyak waktu di akhir pekan berdua. Pergi kemana saja mereka sedang ingin. Makan di rumah makan mana saja yang kebetulan mereka lewati. Jaehyun tidak berhenti tersenyum pada Jooyoung sepanjang waktu. Dan Jooyoung dengan senang hati menerima segala perhatian Jaehyun. Jaehyun tidak pernah menuntut sesuatu yang lebih dari Jooyoung, dia sangat menghargai itu lebih dari apapun.

Semakin banyak waktu yang dihabiskan Jooyoung dengan Jaehyun, semakin pria itu menjadi salah satu bagian paling normal dalam hidup Jooyoung. Mereka berbagi banyak rahasia. Jooyoung berbagi banyak rahasia dengan Jaehyun. Lebih dari yang pernah dibaginya pada Jennie. Dan Jaehyun memberikannya banyak perhatian, lebih dari yang pernah diberikan Kai dan Sehun digabungkan kepadanya.

Jaehyun memujanya. Jooyoung menikmatinya. Jaehyun memberinya cinta. Jooyoung menerimanya. Tanpa pernah memberi kembali. Jaehyun tidak terlihat keberatan jadi mereka tetap membiarkan hubungan mereka seperti itu.

.

.

Jennie berkomentar tanpa diminta suatu malam, saat itu mereka berempat terbaring acak di lantai apartemen Doyoung, terlalu lelah untuk bergerak sehabis bermain truth or dare. Doyoung sudah jauh tertidur, sedangkan Jooyoung hanya menutup mata dan berpura-pura sudah lelap. Jennie mengatakannya santai, seperti berselororoh. “Jae, kau mau tahu satu rahasia?”

Yang diajak berbicara saat itu menanggapi dengan bergumam, tanpa membuka mata atau memandang Jennie, kedua tangannya diletakkan di belakang kepala sebagai bantal, tapi dia mendengarkan dengan baik.

“Si bodoh Jooyoung itu suka dengan laki-laki yang memodel dan mewarnai rambut mereka nyentrik,” kata Jennie lalu tertawa. Dia sedikit mabuk, tapi masih sadar.

Jaehyun tertawa lalu berkata “Dicatat.”

Jooyoung ingin berteriak memarahi dua orang itu, terutama Jennie, tapi terlalu lelah untuk membuka mulutnya jadi dia membiarkan pembicaraan itu begitu saja. Memaksa dirinya untuk terlelap.

Beberapa hari kemudian Jaehyun muncul di depan apartemen mereka dengan rambut dikeriting dan diwarnai karamel.

Dia memegang tengkuknya gugup saat Jooyoung membuka pintu dan untuk beberapa saat Jooyoung merasa sedikit sakit kepala. Muncul keinginan keras untuk memukul seseorang di ruangan itu. Entah Jaehyun yang dengan polos mengikuti kata-kata Jennie, atau Jennie sendiri si biang keladi, atau Doyoung karena dia berpacaran dengan Jennie yang seperti itu. Tapi Jooyoung tidak melakukannya, hanya mengurut pelipis dan menghela napas.

“Apa kau tidak suka rambutku?” Jaehyun bertanya sambil tersenyum. Membuat denyutan di kepala Jooyoung semakin menjadi.

“Ya Tuhan, kepalaku sakit sekali.” ujarnya kesal. Dia melihat Jennie mengangkat kedua tangan dan mengacungkan jempol kepada Jaehyun.

“Sangat bagus, Jae.” Kata Jennie dan Doyoung.

Tidak ada yang salah dengan rambut Jaehyun. Meski sangat aneh melihat dia tidak dengan rambut hitamnya yang biasa, dia tetap tampan. Satu-satunya yang mengganggu Jooyoung adalah fakta bahwa Jaehyun akan melakukan sejauh ini untuk menarik hatinya. Ini tidak baik. Ini membuat Jooyoung mendapat serangan panik. Seluruh tubuh Jooyoung dalam keadaan chaos. Terjadi perdebatan mengerikan antara nurani dan logikanya. Dan sementara Jooyoung berusaha untuk mengingat cara bernapas kembali dan mengatasi paniknya, dia berjuang keras untuk tidak meruntuhkan dinding hatinya dan langsung jatuh cinta saja kepada makhluk ini.

Sebagai gantinya, Jooyoung menggigit lidahnya sampai terasa sangat sakit, lalu berbisik pelan setelah melepaskannya, “Sama sekali tidak cocok denganmu.”

Berpura-pura tidak melihat ekspresi kecewa Jaehyun dan tatapan marah dari Jennie dan Doyoung.

.

.

Mereka sedang di apartemen Jaehyun suatu sore akhir pekan — akhirnya pria itu menyewa kamar apartemennya sendiri, dua lantai di atas kamar Doyoung. Menyusun lego hanya berdua. Rambut Jaehyun sudah kembali ke bentuk aslinya.

Jooyoung sedang berusaha membangun atap rumah dengan kepingan lego saat dia merasa Jaehyun tidak berhenti memandangnya. Jadi dia mengangkat kepala dan mempertemukan matanya dengan milik Jaehyun. Berharap itu akan membuat pria itu berhenti. Jaehyun bahkan tidak pernah mau repot-repot menyamarkan aksinya. Dia sama sekali tidak memindahkan pandangannya dari Jooyoung, jadi mereka berdiam dalam kontes tatap mata yang canggung untuk beberapa saat sebelum Jooyoung berdehem keras.

“Ada yang salah?” tanyanya, menggerakkan tangan menyentuh leher gugup.

Jaehyun tersenyum, dengan eyesmile dan lesung pipi yang sangat dalam itu. Lalu dia mengucapkannya. Membuat jantung Jooyoung seperti ingin meledak pada detik yang sama dia menyelesaikan kalimatnya.

“Apa seseorang pernah mengatakan padamu kalau matamu seperti laut di musim panas?” komentar Jaehyun ringan, tanpa beban. “Begitu hangat dan membuatku ingin tenggelam di dalamnya.” lanjutnya lagi, tanpa tahu Jooyoung yang sudah hampir mati kehabisan napas — berlebihan.

Paru-paru Jooyoung protes menginginkan asupan oksigen baru. Dan jantungnya seperti bekerja ekstra keras untuk memompa lebih banyak darah dalam setiap perempat detik yang berjalan. Tapi otaknya seperti berteriak lebih keras dari semuanya, menutupi semua kekacauan yang terjadi di tubuhnya. ‘Darimana dia mendapat kata-kata itu?

Jooyoung merasa serba salah. Senyum Jaehyun yang masih setia menempel di wajahnya membuat Jooyoung mual. Jadi dia dengan susah payah memaksa pita suaranya bergetar untuk bertanya, “Darimana kau tahu kata-kata itu?”

“Huh?” Jaehyun tampak terkejut dengan pertanyaan Jooyoung. Jelas mengharapkan reaksi yang berbeda, seperti wajah yang memerah atau apa. Tapi dia tetap menjawab Jooyoung, meredam kekecewaannya. “Kurasa seseorang pernah mengatakan itu padaku.”

“Siapa?”

Jaehyun menelengkan kepala, berpikir sejenak sebelum akhirnya tersenyum lagi begitu lebar dan berkata “Sepertinya dari film atau buku yang pernah kubaca. Aku hanya ingin terdengar romantis, jadi aku mengutipnya. Maaf kalau terdengar norak.”

Jooyoung tidak menjawab Jaehyun. Kembali fokus — meski gagal — dengan kepingan lego dan rumah yang sudah setengah jadi di depannya. Tapi sesuatu tidak berhenti menghantui pikirannya, merebut fokusnya dari apapun yang dikatakan Jaehyun setelah itu. Karena kata-kata yang diucapkan Jaehyun adalah sesuatu yang sudah melekat dalam otak Jooyoung untuk waktu yang cukup lama. Seseorang dulu pernah mengatakan hal yang persis serupa. Dan dia menahan diri sangat keras untuk tidak bertanya kepada Jaehyun.

Well, apa kau tahu seorang kepala pink?

Kepala pink bernama Sehun.

.

.

Jaehyun adalah seorang teman yang sangat baik, pecinta yang luar biasa dan pemuja yang setia.

Dia datang kepada Jooyoung kapanpun Jooyoung meminta kehadirannya. Mengantar Jooyoung berbelanja setiap awal bulan. Membantu memilih antara gaun merah atau hitam yang ingin dibeli Jooyoung. Mengantar jemputnya bekerja saat mobil Jooyoung direparasi. Membiarkan Jooyoung menginap di tempatnya sampai berhari-hari saat dia bertengkar dengan Jennie. Menyuguhi Jooyoung dengan kata-kata cinta sebagai sarapan pagi dan lullaby cinta sebagai pengantar tidur. Dia dengan setia mendengar setiap keluhan Jooyoung. Memberi bahunya untuk bersandar pada malam-malam Jooyoung terlalu lelah untuk mengangkat kepala. Memasakkan makanan-makanan kesukaan Jooyoung — percaya atau tidak dia adalah profesional dalam hal memasak dan menyenangkan hati Jooyoung. Saat Jooyoung mendapat insomnia parah, Jaehyun menelepon dan menemani dia berbicara sampai pagi. Jaehyun adalah si Tuan Sempurna yang tidak berhenti menghujani Jooyoung dengan segala yang dia punya.

Jennie berkata dengan marah suatu hari, “Kau tahu yang kau lakukan sekarang adalah mengeksploitasi Jaehyun, kan?”

Karena semua kebaikan Jaehyun, semua perhatiannya, seluruh cintanya, diterima Jooyoung tanpa beban. Dia menyukai seluruh hati yang dipersembahkan Jaehyun padanya. Masalahnya adalah, Jooyoung hanya menerima, tidak pernah memberi. Ini sangat mengganggu bagi Jennie. Tapi Jooyoung dengan keras kepala semakin membangun tinggi barikade hatinya terhadap Jaehyun.

Pria itu boleh jatuh cinta kepadanya sampai puas. Tapi Jooyoung sama sekali tidak berniat membalas perasaannya. Jaehyun bakan sepertinya tidak masalah dengan  itu.

.

.

“Apa kau akan pernah berhenti mencintaiku?” kata Jooyoung santai sambil memandang layar televisi Jaehyun. Dia bertanya kasual seolah yang ditanyakannya adalah ‘apa besok akan hujan?’

Jaehyun tidak menjawab untuk sesaat. Dia menatap kepada Jooyoung — hal yang sudah dilakukannya sepanjang hari. Lalu balik bertanya “Kenapa? Apa kau ingin aku berhenti?” Dia masih menatap Jooyoung, menunggu gadis itu menjawab. Tapi Jooyoung hanya mengeraskan rahang, tidak menggerakkan bibirnya sama sekali jadi Jaehyun menlanjutkan “Karena aku tidak akan mau melakukannya.”

Kata-kata Jaehyun itu yang akhirnya membuat Jooyoung mau memindahkan fokus retinanya dari acara yang sebenarnya sama sekali tidak ditontonnya kepada Jaehyun. “Kenapa kau bisa jatuh cinta padaku?” tanyanya lagi. “Aku sangat egois dan sangat tidak layak mendapat semua perhatian yang kau berikan. Aku hanya tahu menerima, tanpa memberi kembali kepadamu.”

“Memangnya kenapa? Aku suka kau yang seperti itu.”

Jooyoung terdiam sejenak, membiarkan kata-kata Jaehyun melintasi seluruh pembuluh darahnya. Lalu dia berkata lagi “Aku ini adalah sesuatu yang sudah rusak,” dia berusaha untuk tidak menangis saat mengatakannya, kegelisahan sangat jelas tergambar di wajahnya. “Sesuatu di masa lalu membuatku seperti ini, aku tidak bisa membiarkan diriku jatuh cinta lagi dan kau tidak pantas mendapat ini semua dariku.”

“Kau bukan sesuatu yang sudah rusak,” balas Jaehyun cepat, ekspresinya campuran antara marah dan sedih. Dia menempatkan kedua tangannya melingkupi wajah Jooyoung, memaksa gadis itu untuk melihat ke dalam matanya dan tatapannya berubah lembut kemudian. Membangkitkan rasa bersalah yang lebih dalam pada Jooyoung. “Aku tahu apa yang sudah kau alami dulu adalah sesuatu yang berat. Dan aku tidak akan menyalahkanmu jika kau tidak membalas perasaanku sekarang, atau besok atau tahun depan. Demi Tuhan aku tidak apa-apa dengan hubungan seperti ini.

“Kalau kau bertanya kenapa aku jatuh cinta padamu, aku bahkan tidak tahu jawaban untuk itu. Aku hanya jatuh cinta. Tidak tahu kapan, bagaimana, kenapa. Aku mencintaimu secara sederhana. Dan semua yang kulakukan, adalah bagaimana aku mengekspresikan seluruh hati ini padamu. Karena aku tidak tahu cara mencintai yang lain selain seperti ini. Aku ingin mencintaimu lebih, lebih, lebih dalam lagi. Sampai perasaan ini menjadi begitu intim, sampai suatu saat dimana kau tertidur dan matakulah yang tertutup, sampai pada poin saat kau terluka aku yang menangis.”

Jaehyun berhenti sejenak, menatap mata Jooyoung. Dan beritahu Jooyoung kalau bukan ketulusan sejatilah yang terpancar dari dua iris hitam itu sekarang. Pria itu tersenyum, dan jantung Jooyoung berdetak seperti tidak pernah berdetak sebelumnya. Begitu kencang, terlalu kencang, membuat Jooyoung hampir gila. Jaehyun mempertemukan kening mereka, lalu dengan senyum malaikat itu, Jaehyun berbisik mesra “Bahkan jika kau adalah sesuatu yang rusak, aku akan menjadi mekanik paling baik yang akan memperbaikinya. Karena itu Joo, jangan pernah bertanya kenapa. Dan jangan memintaku untuk berhenti. Mencintaimu sama seperti bernapas bagiku. Tanpa itu, aku bisa mati. Biarkan aku mencintaimu. Untuk bertahan hidup.”

Jooyoung menggigit bibirnya gugup, menahan diri untuk tidak menangis. Karena kenapa makhluk sesempurna Jaehyun bisa tercipta di dunia ini? Dan kenapa Jooyoung dicintai oleh orang ini saat seluruh dunia tahu bahkan Jooyoung tidak pantas mendapat senyuman berlesung pipi itu, jangan lagi menyebut semua kebaikannya.

“Aku ini jauh lebih hancur dari yang bisa kau bayangkan.”

“Aku tahu.”

Diam sejenak.

“Aku tahu.” kata Jaehyun lagi.

.

.

Jennie, di sela-sela setiap kegiatan dan perbincangan yang mereka lakukan tidak berhenti menyinggung Jaehyun dan betapa tidak adil perlakuan Jooyoung padanya.

“Berhenti menjadi gadis jahat seperti itu.”

Jooyoung menghela napas lemah. Lalu berbicara dengan lemah juga, “Bahkan Jaehyun tidak mempermasalahkannya, dan kau selalu protes tentang itu. Kau lebih tersakiti dari Jaehyun. Ada apa denganmu?”

Jennie mengerang keras. Terlalu jengkel dengan kekeraskepalaan Jooyoung. “Kau tahu, bahkan orang paling baik sekalipun punya batasan. Kalau terus seperti ini, Jaehyun juga akan meninggalkanmu dan aku bahkan tidak akan mau membelamu saat kau menangis cengeng setelah dia pergi.”

Jooyoung mengeraskan rahangnya, menggelengkan kepala. “Kalau dia pergi, maka itu adalah pilihannya. Aku tidak akan menangis.”

Jennie menggeram lebih keras dari yang pernah dia lakukan seumur hidup, memutar bola matanya sampai terasa sakit. “Yeah, katakan itu nanti kalau dia sudah meninggalkan pantat egoismu dan kau mengadu padaku.”

Jennie terlalu frustasi untuk memberi sedikit pengertian ke dalam kepala batu Jooyoung. Tapi gadis itu tetap bergeming. Dengan keras kepala berdalih dia hanya melindungi hati dari rasa sakit yang mungkin datang jika dia membiarkan diri jatuh cinta pada Jaehyun. Tapi memangnya siapa Jooyoung, menghakimi hati Jaehyun saat dia sendiri tidak mau memberi kesempatan kepada cintanya?

.

.

“Sebenarnya apa yang membuatmu begitu insecure?” Doyoung bertanya suatu hari. Saat mereka sedang berkumpul berempat di apartemen Jooyoung. Jennie dan Jaehyun berada di dapur, memasak ramyun untuk makan malam. Jooyoung dan Doyoung duduk menunggu di sofa, menonton sesuatu di Discovery channel.

“Apanya?” balas Jooyoung tanpa mengalihkan pandangan dari televisi.

Doyoung mengobservasi ekspresi Jooyoung saat berbicara, menimbang-nimbang apakah gadis di hadapannya ini betul-betul tidak tahu apa yang dibicarakannya atau hanya berpura-pura bodoh. Menghindari topik yang tidak ingin dia bicarakan. “Jaehyun,” kata Doyoung tenang. Menikmati perubahan air muka Jooyoung begitu nama itu disebut. “Kenapa tidak pacaran saja sih?”

“Kenapa semua orang begitu ingin mencampuri urusanku?” Jooyoung mengerang kesal. Mendorong dirinya lebih dalam ke sofa, lalu merosot. Seperti setengah kehidupannya tertarik keluar saat Doyoung berbicara.

“Kau suka dia kan? Jangan menyangkal. Semua orang tahu kalian berdua saling.. entahlah mungkin jatuh cinta. Bahkan anak tetangga sebelah tahu kalian berdua jatuh cinta.”

Jooyoung memutar bola matanya. “Dia sebenarnya tidak tahu. Jennie yang memberitahu remaja sok pintar itu karena dia tidak berhenti bertanya tentang Jaehyun.”

“Bukan itu intinya.” Jawab Doyoung, memutar bola mata juga. Sepertinya memutar bola mata menjadi suatu gerakan yang sangat disukai dalam pertemanan mereka sekarang. Terima kasih kepada Jennie. “Yang kau lakukan sekarang bukan hanya…”

“Sudahlah, Bunny.” Kata Jooyoung mengangkat sebelah tangan, membuat gerakan ‘stop. Dan Doyoung berhenti berbicara. “Bahkan jika aku memang benar jatuh cinta juga kepada Jae, dan kita tahu itu tidak benar, hubungan kami tetap tidak akan kemana-mana. Aku tidak bisa berkencan, betul-betul punya hubungan serius dengan siapa saja.”

“Kenapa?”

Jooyoung menatap lurus ke depan saat menjawab pertanyaan Doyoung. Dengan tegas berkata “Karena aku tahu mereka selalu pergi. Cowok-cowok itu, mereka meninggalkanku, walaupun berjanji jutaan kali untuk tidak pergi, mereka akhirnya tetap pergi.”

“Tapi Jaehyun berbeda.”

“Dulu kupikir Kai juga berbeda dari Sehun. Lihat kemana keyakinan itu membawaku sekarang.” Sergah Jooyoung cepat. Sedikit frustasi. Dia kemudian memberi gesture bahwa dia tidak ingin membicarakannya lagi.

Jadi Doyoung diam. Membiarkan Jooyoung meraih remot dan mengganti saluran televisi. Meski dia tidak betul-betul mengerti perbandinga yang dibuat Jooyoung dengan dua mantan kekasihnya. Doyoung mengenal Jaehyun, dan dia tahu sahabatnya tidak akan sekalipun menyakiti Jooyoung. Dia terlalu baik untuk itu. Tapi Jooyoung bahkan tidak mau tahu. Doyoung jadi iba dengan Jaehyun.

.

.

Jooyoung mengambil lebih banyak dari yang dia sendiri perbolehkan untuk diambil dari Jaehyun. Perhatian pria itu. Cintanya. Waktunya. Uangnya — bukan berarti Jooyoung menguras uang Jaehyun tapi terkadang mereka pergi berbelanja atau jalan-jalan dan Jaehyun selalu mengeluarkan dompetnya sebelum Jooyoung dan pria itu jauh lebih kaya dari yang dibayangkan Jooyoung jadi pada hari tertentu dia membiarkan Jaehyun menjadi sponsor dana jalan-jalan mereka.

Meski enggan mengakuinya, Jooyoung merasa tidak bisa berfungsi sempurna tanpa perhatian konstan dari Jaehyun. Dia tahu semakin hari kebutuhannya akan Jaehyun semakin tidak sehat. Tapi Jooyoung tidak bisa menahan diri.

Suatu malam Jooyoung menelepon Jaehyun karena tidak bisa tidur. Saat itu jam tiga pagi dan setelah berguling-guling di kasurnya selama sejam, Jooyoung akhirnya memutuskan untuk mengganggu Jaehyun. Tahu Jaehyun tidak akan keberatan. Jaehyun tidak pernah keberatan selama itu menyenangkan Jooyoung.

“Hei, ada apa tengah malam?” tanya Jaehyun begitu mengangkat telepon. Jooyoung bahkan tidak perlu menunggu lama sampai Jaehyun mengangkat teleponnya. Karena dia sangat sensitif, gerakan sekecil apapun bisa membangunkannya. Suara Jaehyun serak, jelas Jooyoung sudah mengganggu tidurnya. Tapi Jooyoung tidak cukup peduli.

“Aku tidak bisa tidur,” jawab Jooyoung sambil mengerucutkan bibir manja. Walaupun dia tahu Jaehyun tidak dapat melihatnya.

Jaehyun tertawa di seberang sana. “Ada apa? Insomnia lagi?”

“Hm.”

“Kau harus betul-betul menghentikan kebiasaanmu ini, kau tahu? Berhenti stres karena pekerjaan. Ini sangat tidak baik untuk kesehatanmu.”

“Aku tahu, cerewet. Dan aku bukan insomnia karena stres.”

“Lalu?”

Jooyoung menggigit bibirnya ragu sebelum menjawab “Ini sudah tengah malam, tapi kau belum mengatakan sesuatu yang manis sekali pun sehari ini. Aku jadi tidak bisa tidur.”

Hening sejenak. Lalu Jaehyun tertawa lagi di ujung lain telepon. Lebih keras dari sebelumnya. Terlalu keras untuk tawa di tengah malam. “Kenapa sih kau ini imut sekali?” tanya Jaehyun di sela-sela tawanya. “Membuatku ingin menyembunyikanmu di kamarku selamanya.”

“Itu bahkan sama sekali tidak manis.” Jooyoung mengerucutkan bibirnya, lagi.

Tapi hatinya gembira. Mendengar suara Jaehyun, mendengar tawanya tengah malam, mendengar keinginannya, mendengar dia memanggil Jooyoung imut.

Meski tidak bisa memenuhi keinginan Jaehyun dan semua orang di sekitarnya untuk menjadi sepasang kekasih, setidaknya Jooyoung tetap menginginkan ini. Egois memang, dia tidak rela menjatuhkan hati — meski tanpa sadar dia sebenarnya sudah jatuh cinta kepada Jaehyun, tapi biarlah Jooyoung terus menyangkal kenyataan itu — dia tetap menginginkan semua yang bisa dia dapat dari Jaehyun. Dia ingin bersikap egois. Dia ingin mengeksploitasi Jaehyun sampai habis. Sampai kering. Dan biar mereka tinggal dalam momen ini selamanya.

.

.

Lalu semua berubah menjadi kacau. Hati Jooyoung. Perasaannya. Kewarasannya. Barikade hati yang dibangunnya susah payah selama berbulan-bulan.

Suatu sabtu di bulan agustus, dia pergi ke klub malam bersama Jaehyun. Itu adalah salah satu malam dimana Jooyoung ingin menenggelamkan dirinya bersama gelas-gelas alkohol dan musik yang tidak berhenti berdentum keras. Tidak memberi kesempatan otaknya untuk mengingat betapa menyebalkan hidupnya dan pekerjaan yang dijalaninya.

Jaehyun — selalu adalah yang terbaik dan termanis — menawarkan diri untuk menjadi penghiburnya malam itu. Jadi mereka pergi ke klub. Mengusir rasa suntuk yang bergelut di kepala Jooyoung. Malam itu berjalan baik. Semus stres yang dialami Jooyoung selama sebulan terakhir menguap bersama keringat yang dikeluarkannya saat menari. Dan Jooyoung, untuk pertama kalinya dalam minggu itu tersenyum tanpa beban.

Sampai dia bertemu orang itu. Jaehyun tidak ada di dekatnya saat itu. Yang ada malah seseorang dengan rambut pirang dan kulit yang jauh lebih gelap dari kulit putih susu Jaehyun. Meski dalam kondisi setengah mabuk, Jooyoung mengenal tangan itu. Setelah lima tahun sejak terakhir bersentuhan dengan kulitnya, hati Jooyoung masih begitu familier dengan sentuhan lembut Kai di tubuhnya. Kai tersenyum padanya sebagaimana Jooyoung mengingat senyuman itu. Memamerkan barisan giginya yang rapi.

“Lama tidak berjumpa,” kata Kai. Mereka turun dari lantai dansa dan duduk di counter bartender. Kai meminum segelas tequila putih sedangkan Jooyoung hanya duduk, menatap deretan botol minuman keras di belakang bartender mereka. Berharap menghilang di dalam botol-botol itu.

“Kebetulan sekali bertemu di sini.” Balas Jooyoung, berusaha menenangkan detak jantungnya yang tidak karuan melihat Kai menenggelamkan seluruh isi gelas ke dalam kerongkongannya dengan cepat.

Kai meletekkan gelasnya dan memasang wajah masam selama beberapa detik, berusaha menelan minumannya. “Aku sudah melihatmu dari beberapa jam yang lalu.”

Jooyoung tertegun untuk beberapa saat sebelum bertanya “Kenapa tidak menyapa dari awal?”

Kai tertawa. Dengan cara dia biasa tertawa. Seperti Jooyoung baru saja memberitahu lelucon terbaiknya tahun ini. Dan ada rasa rindu, menyusup dengan licik dalam hatinya saat mendengar suara tawa itu. “Kau bersama seseorang. Pacarmu?” Jooyoung tidak merespon jadi Kai lanjut berbicara “Aku menunggu sampai kau tidak bersamanya, karena pasti akan sangat canggung berbicara dengan mantan kekasihmu sementara kekasihmu yang sekarang berdiri satu senti darimu, mendengar setiap kata yang terucap.”

Jooyoung hanya mendengus mendengar perkataan Kai lalu menjawab singkat “Dia bukan pacarku.”

“Oh ya? Tapi caranya memandangmu…..” Kai terlihat ragu lalu mencibir “Lupakan,” katanya. Tangannya dikibaskan acuh.

Jooyoung tidak mendesak Kai untuk menyelesaikan kalimatnya yang pertama. Cara Jaehyun memandangnya? Bagaimana Jaehyun memandang Jooyoung? Seolah Jooyoung adalah seluruh dunianya? Seolah matahari terbit dari balik kelopak mata Jooyoung? Seolah dia…. sangat jatuh cinta kepada Jooyoung? Jooyoung sudah tahu itu semua, Kai tidak perlu mendiktenya satu per satu.

“Kau masih seperti dulu.” kata Kai lagi kemudian, membuyarkan lamunan Jooyoung. Dia sedang menatap lurus ke wajah Jooyoung.

Jooyoung ingin bertanya bagaimana pengertian ‘seperti dulu’ itu dalam kamus Kai. Jika dia berbicara tentang fisik Jooyoung, dia memang masih seperti dulu. Tidak ada yang berubah. Kecuali mungkin make up yang menutupi wajahnya sekarang, tidak ada yang berubah dari dia yang dulu berkencan dengan Kai. Atau maksud Kai dengan seperti dulu itu adalah hal lainnya.

Kai kemudian menjawab pertanyaan Jooyoung seolah bisa membaca isi kepalanya, “Menggantungkan hati pria yang mencintaimu karena seseorang di masa lalu.”

Kata-kata Kai membuat bibir Jooyoung terkatup semakin rapat. Seperti ditinju tepat di ulu hati, kecuali saat ini tidak seorangpun yang meninjunya, tapi kata-kata Kai membuat hatinya terasa perih berpuluh kali lipat. Dia ingin menjawab, tapi tidak satu pun kata terbentuk di otaknya dan lidahnya terasa beku.

“Jangan lakukan itu, kau harus menempatkan masa lalu di masa lalu, ada alasannya kenapa mereka disebut masa lalu, kau tahu? Karena mereka tidak akan pernah terjadi lagi di masa sekarang, atau di masa depan. Jangan menarik ulur orang yang mencintaimu sekarang, kau akan menyesal nanti.” Kata Kai lagi.

Apa yang tidak Kai tahu adalah bahwa dia sudah menjadi ‘kepala pink kedua’, menghantui pikiran Jooyoung setiap waktu. Jooyoung berdalih sudah melupakannya, tapi hanya satu senyuman membuat ingatan dari beberapa tahun silam memaksa menyeruak di seluruh bilik otaknya. Rasa itu masih setia menjadi belenggu di hati Jooyoung. Lalu sekarang, dengan enteng Kai menyuruhnya melupakan masa lalu. Merupakan dirinya. Kai ingin Jooyoung melupakannya? Sedangkan saat dia berbicara sambil bermain dengan gelas tequilanya yang sudah kosong, Jooyoung ingin menarik wajah Kai mendekat padanya, mencium bibir tebalnya sampai kenyang. Karena begitulah dulu dia mencium Kai. Begitu lapar, begitu rakus. Dia ingin mencium Kai sampai rasa laparnya hilang. Berbicara adalah hal yang mudah bagi Kai, tapi bagaimana cara Jooyoung melaksanakannya?

“Kau salah, kau tahu? Aku tidak menarik ulur.” ujar Jooyoung dengan suara tercekat. “Dulu aku sangat, sangat, sangat mencintaimu.” Bahkan mungkin sekarang pun aku masih mencintaimu. Jooyoung menutup mata saat mengucapkannya. Mengabaikan rasa nyeri yang berkedut di rongga dadanya.

“Aku tahu,” Kai mengeraskan rahangnya. “Aku tahu.” Kata pria itu lagi. “tapi hubungan kita tidak bisa berjalan kemana-mana saat kau tidak mau menyebutkan tiga kata itu padaku Joo. Saat sedang bersama seseorang, jika kau mencintainya, katakan kau mencintainya. Sesederhana itu. Tapi kau tidak pernah mengungkapkan perasaanmu dan kau dengan setia membagi hatimu kepada dua orang yang berbeda. Saat kita menjadi terlalu banyak bertengkar, aku sadar betapa rapuhnya hubungan kita, jadi aku akhirnya memutuskan untuk menarik diri.”

“Kau sangat egois, kau tahu?” Jooyoung bahkan tidak menahan air matanya saat mendengar perkataan Kai. Setelah bertahun-tahun, dia mendapat penjelasan sebenarnya dari Kai. Dari Kainya. Jonginnya.

“Kita berdua sangat egois dan saling menyakiti,” Kai menghela napas lemah lalu dia tersenyum lagi dan bergerak untuk memeluk Jooyoung “Tapi aku tetap bersyukur pernah menjadikanmu bagian dari kisah cintaku. Kau salah satu hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku. Dan sekarang aku lega setelah mengatakan hal itu padamu. Dulu aku tidak pernah sempat mengucapkannya.”

Jooyoung, masih menangis di pelukan Kai, membalas dengan keras “Aku sangat mencintaimu bodoh.”

Setelah lima tahun, akhirnya Jooyoung bisa mengungkapkan perasaannya pada kai. Tapi semua terasa jauh lebih hambar. Entah karena dia mengatakannya dengan kepala yang setengah dipenuhi alkohol atau karena perasaan itu sudah tidak sekuat dulu. Jadi dia akhirnya mengatakan pada Kai untuk berhenti menghisap ganja, dan hatinya terasa jauh lebih ringan saat melihat Kai tersenyum dan berkata “Aku akan berusaha.”

.

.

Malam itu Jooyoung kembali ke apartemen Jaehyun bersama pria itu setia menempel di sisinya. Dia merasa sangat mabuk. Tapi hatinya terasa ringan. Begitu juga kepalanya. Rasanya seperti melayang. Berbicara dengan Kai seperti melepaskan satu belenggu dalam hatinya. Jadi saat Jaehyun membaringkannya di atas tempat tidur pria itu, kemudian melempar diri di samping Jooyoung, Jooyoung tersenyum lebar. Menatap tetes keringat dari rambut hitam Jaehyun, lalu meraih wajahnya, mempertemukan mata mereka.

Jooyoung mencium bibir Jaehyun untuk pertama kalinya di atas kasur pria itu. Dalam cahaya redup lampu kamar dan gurat merah di pipi mereka berdua — karena alkohol dan karena tekanan darah yang tinggi di sana — Jaehyun menyambut bibir Jooyoung dengan senang hati. Menutup mata dan membalas ciumannya. Ciuman itu terasa seperti alkohol yang basi. Tapi keduanya tidak cukup peduli.

Saat melepaskan ciuman mereka, Jooyoung menatap ke dalam mata Jaehyun seolah berusaha menyelam di dalamnya. Lalu dia berbisik “Kurasa aku sudah siap untuk jatuh cinta denganmu.”

Jaehyun tidak menjawab, hanya menarik tubuh Jooyoung mendekat kepadanya dan mendekapnya erat, seolah tidak akan pernah mau melepasnya lagi. Dan Jooyoung bahkan tidak kebaratan jika harus menghabiskan seumur hidup dalam pelukan itu.

.

.

Saat dia bangun di pagi hari, kepalanya terasa berat dan tenggorokannya sangat kering. Dia masih mengenakan jeans dan kaos yang sama dengan kemarin malam. Rambutnya kusut dan wajahnya terasa sangat tidak nyaman karena make up yang melepuh bersama keringat. Saat menatap ke sekeliling, dia menyadari kalau sedang berada di kamar Jaehyun. Karena dia terlalu mengenal seprai karamel itu sebagai milik Jaehyun, bukan miliknya. Lagipula hanya Jaehyun yang membuka tirai kamarnya lebar-lebar di pagi hari. Jooyoung, Jennie, dan Doyoung tidak pernah melakukan hal serupa.

Jooyoung langsung merasa positif mengenai keberadaannya saat ini. Tapi tidak ada pria itu di ruangan yang sama saat Jooyoung menggerakkan mata untuk mencari sosoknya. Hanya ada aroma sesuatu yang manis menggelitik hidung Jooyoung. Jadi dia segera bangkit dari kasur, tanpa merapikan penampilannya — karena ini adalah Jaehyun yang tergila-gila padanya meski Jooyoung tidur dengan mulut terbuka sekalipun, jadi dia tidak perlu mengkhawatirkan penampilan saat bersama pria itu.

Saat Jooyoung melangkah ke dapur, sudah ada segelas kopi dan segelas susu di atas meja, ditambah roti panggang dan telor. Jaehyun masih berdiri di depan kompor, tangannya bergerak mengaduk sesuatu.

Jooyoung berdehem, mengumumkan kehadirannya di dapur. Jaehyun langsung berbalik dari apapun yang sedang dikerjakannya lalu tersenyum kepada Jooyoung.

“Selamat pagi, manis,” katanya. Dari penampilannya, Jaehyun sepertinya sudah mandi dan membersihkan diri. Dia memakai kaos bergaris dan training abu yang berbeda dari yang dia gunakan ke klub semalam. Wajahnya terlihat segar dan aroma samponya tercium sampai ke tempat Jooyoung berdiri. Lalu Jooyoung teringat dengan kejadian semalam. Bagaimana mereka berciuman di kamar Jaehyun yang terletak hanya beberapa langkah dari posisi mereka sekarang. Dan pengakuannya. Tiba-tiba Jooyoung merasa malu dengan keadaannya, dia menyembunyikan wajah di balik lengan. Mengutuki dirinya yang bahkan tidak mau repot-repot ke kamar mandi untuk sekedar menyisir rambut atau menggosok giginya. Memalukan.

“Astaga, jangan lihat aku. Aku sangat berantakan.”

Jaehyun hanya tertawa dengan kelakuan Jooyoung. Dia berjalan mendekati gadis itu dan menariknya dengan lembut ke dalam pelukannya. Sama seperti semalam. Jooyoung menenggelamkan wajahnya ke dada Jaehyun.

“Kenapa tiba-tiba malu begitu? Seperti aku tidak pernah melihat yang lebih parah saja.” Kata Jaehyun seraya menjalankan tangannya dari rambut Jooyoung lalu berhenti di depan punggungnya, mengelusnya hati-hati.

“Aku bahkan tidak menyisir rambutku. Memalukan sekali.”

“Kau tidak perlu menyisir rambut untukku, aku suka melihat penampilanmu di pagi hari.”

“Tetap sajaaaaa,” ujar Jooyoung manja. “Ini adalah cara terburuk untuk memulai pagi pertama sebagai pasangan kekasih.”

Begitu Jooyoung menyelesaikan kalimatnya, ada hening yang mengikuti kemudian. Jaehyun menghentikan gerakan tangannya di punggung Jooyoung dan Jooyoung mengantisipasi reaksi pria itu dengan gugup. Mereka hanya berciuman semalam dan Jooyoung mengaku siap untuk jatuh cinta. Sebatas itu. Mereka sama sekali tidak membicarakan kelanjutannya. Oleh sebab itu dia ingin memastikannya sekarang. Karena jika ada satu hal yang ingin dilakukannya saat ini, itu adalah berhenti menggantungkan perasaan Jaehyun — seperti yang dikatakan Kai — dan mulai bersikap serius. Persetan dengan barikade hati keparat itu.

Tidak satupun dari mereka berbicara untuk beberapa saat. Sampai-sampai Jooyoung bisa mendengar jelas suara jarum jam di atas kepala mereka dan air sup yang mendidih beberapa langkah jaraknya. Tapi saat itu, suara yang paling mendominasi di telinga Jooyoung adalah yang berasal dari dada pria di hadapannya, dan dari dirinya sendiri. Jantung mereka berdetak dalam suatu harmoni yang aneh. Seperti bersahutan — atau hanya bayangan Jooyoung — tapi itu bukan seperti harmoni indah yang klise. Itu adalah sebuah kegilaan, begitu cepat, begitu keras, membangkitkan gairah tertentu dalam diri Jooyoung. Seperti dentuman musik beat yang terus menerus di klub semalam. Dan ini adalah suara yang begitu adiktif. Bisa menjadi candu baru bagi Jooyoung.

Lalu Jaehyun merusak harmoni itu dan Jooyoung sama sekali tidak keberatan karena dia bisa merasakan jakun pria itu bergerak naik turun, dia menelan ludah dengan sangat gugup, “Apa ini artinya kau menerima perasaanku?” katanya. Suara Jaehyun sedikit bergetar karena terlalu gembira dan excited. Napasnya begitu memburu, Jooyoung dapat merasakannya di rambutnya.

“Jangan konyol, dari dulu aku sudah menerimanya dan tidak pernah memberinya kembali.”

Napas Jaehyun masih memburu saat bertanya berikutnya, “Jadi apa ini artinya sekarang kau akan membalasnya?”

Gadis itu tertawa. “Tentu saja, bodoh. Kalau tidak untuk apa aku menciummu.”

Jaehyun langsung melepaskan dekapannya dari tubuh Jooyoung dan Jooyoung bahkan tidak sempat protes karena Jaehyun meletakkan tangannya di kedua sisi lengan Jooyoung, gurat merah terlihat sangat kontras dengan wajah putihnya dan dia terlihat sangat bahagia. Seperti anak kecil diberi permen.  “Ya Tuhan, kau tahu betapa senang aku sekarang?”

Lagi, Jooyoung hanya membalas dengan tawa dan Jaehyun kembali tersenyum.

“Aku sangat ingin menciummu sekarang ini.”

“Jangan, napasku mungkin baunya seperti naga,” jawab Jooyoung malu.

Tapi Jaehyun tetap memajukan wajahnya dan berhenti beberapa senti dari wajah Jooyoung, hanya hidung mereka yang bersentuhan, dia berbisik dengan suara serak, sarat dengan nafsu “Bahkan jika kau adalah naga sekalipun dan aku bisa mati karena menciummu, aku tetap akan melakukannya.” Lalu tanpa aba-aba mempertemukan bibir mereka.

Ciuman kali ini berbeda dengan yang pertama. Tidak malas, dan penuh dengan gairah. Jaehyun tidak berhenti memagut bibir Jooyoung seolah seluruh hidupnya tergantung pada itu. Tangannya diletakkan di rambut Jooyoung, semakin memberantakinya, terus mendorong, mendorong, dan mendorong, memperdalam ciuman mereka. Jaehyun tidak bisa puas. Bahkan setelah Jooyoung melepasnya dengan paksa karena kehabisan napas, dia masih dengan rakus segera mengejar bibir itu lagi.

Rasanya seperti sudah bertahun-tahun saat akhirnya Jaehyun melepaskan bibir Jooyoung, benar-benar melepaskannya. Dan dia tersenyum bangga melihat bibir gadis itu yang bahkan lebih merah dari pada pemoles bibir dan sedikit bengkak. Jooyoung melotot padanya. “Kalau cara menciummu seperti itu, aku tidak ragu bukan hanya kau, tapi kita berdua akan benar-benar mati.”

“Setidaknya aku bisa mati bahagia.”

Jooyoung tidak bisa menyangkal apa-apa lagi.

Dulu, saat Jooyoung patah hati sepeninggal Kai, Jennie selalu menepuk punggungnya dan berkata “Kau akan jatuh cinta lagi. Suatu hari nanti. Pasti.”

Lalu Jennie menyodorkan sebatang dunhill kepadanya. Hari-hari itu, saat dia rasanya terlalu malas bahkan untuk bangun dari tempat tidurnya, sahabatnya ini akan mengambil selimut tambahan dan menggulung Jooyoung di situ atau menarik Jooyoung dari tempat tidur dan memaksanya beraktivitas seperti manusia normal. Jennie adalah sahabat yang paling dibutuhkan Jooyoung. Bukan hanya karena kebaikan dan nasihat-nasihatnya, tapi dia selalu tahu kata-kata yang paling tepat untuk membangkitkan semangat Jooyoung. Aktivitas paling cocok untuk menggerakkan Jooyoung dari tempat tidurnya. Atau jika Jooyoung betul-betul tidak ingin melakukan apa-apa, dia akan duduk bersamanya dan berbagi rokok. Kadang Jooyoung menerimanya, di hari lain tidak. Tapi dia paling sering menerima rokok Jennie dan membiarkan rasa pahit itu mengingatkannya bahwa inilah konsekuensi dari jatuh cinta.

Tapi Jennie menolak berpartisipasi dalam aksi aku-sudah-tidak-mau-jatuh-cinta-lagi yang dilakukan Jooyoung. Setiap hari membawanya ke pesta, ke klub malam, ke mana saja yang bukan laut dan pantai untuk membuat Jooyoung bisa menemukan lagi gairah untuk mencintai.

Lalu Jennie mengatakannya suatu hari. “Mungkin besok. Atau mungkin bertahun-tahun dari sekarang. Atau bisa juga minggu depan. Kapan saja, kita tidak tahu. Kau akan percaya lagi dengan cinta.” Dia menghembuskan asap rokoknya dan berbicara tanpa menatap Jooyoung. “Kau itu tidak sedingin yang kau bayangkan. Kau itu adalah suatu produk dari patah hati yang berkelanjutan, kebijaksanaan yang mulai bertumbuh, dan harapan-harapan rasional. Apa kau bisa menghitung sudah berapa banyak kau mengatakan pada dirimu sendiri dan orang-orang di sekitarmu, terutama aku, bahwa kau tidak akan lagi jatuh cinta? Kau ini masih muda, Joo. Dan naif. Kita semua begitu. Tapi kukatakan ini padamu, dan kau harus mencatatnya dengan baik. Dua kali gagal dalam bercinta adalah hal wajar. Perjalananmu masih panjang. Jangan menutup kemungkinan untuk jutaan pria di luar sana memperbaiki apa yang sudah dirusak Kai dan Sehun.”

Jooyoung, sambil memaksa dirinya tertawa seceria mungkin membalas perkataan Jennie “Kau mengutip itu dari tumblr kan?”

“Berisik.” balas Jennie seraya membuang puntung rokoknya yang masih tersisa setengah. Dia menatap Jooyoung yang untuk pertama kalinya tersenyum dengan tulus, tanpa memaksakan diri, meski dengan mata berkaca-kaca. “Tunggulah sampai orang yang tepat datang.”

Dan sekarang, pada momen ini, Jooyoung berharap, benar-benar berharap bahwa itu memang nyata. Bahwa dia, meski sudah disakiti begitu hebat, masih berhak untuk jatuh cinta. Bahwa kali ini semua akan berbeda. Bahwa Jaehyun akan berbeda.

.

.

Jooyoung dan Jaehyun mulai berkencan tanpa memberitahu Jennie dan Doyoung. Karena awalnya tidak satu pun dari mereka yang tahu bagaimana cara memberitahu kedua orang itu tentang perubahan hubungan mereka. Pada dasarnya tidak ada yang berubah. Mereka saling menelepon setiap hari, membuat rencana berdua, Jooyoung terkadang menginap di tempat Jaehyun, Jaehyun selalu memberi perhatian berlebih kepada Jooyoung. Sama seperti dulu. Yang berbeda hanyalah sekarang Jooyoung mengucapkan kata cinta saat menelepon Jaehyun dan Jennie tidak pernah mendengar itu, mereka kencan ke tempat pasangan kekasih yang belum mereka datangi dulu karena merasa canggung, acara menginap diwarnai dengan ciuman-ciuman dan desahan-desahan bergema di seluruh apartemen Jaehyun, dan Jooyoung memberi perhatian sebanyak dia menerima dari Jaehyun. Tapi itu semua luput dari perhatian kedua temannya.

Entah mereka berdua bodoh atau sedikit buta, tidak satupun dari mereka sadar saat Jaehyun mencium pipi Jooyoung cepat ketika mencuci piring berdua di dapur, tatapan malu-malu Jooyoung setiap kali tangan mereka bersentuhan, atau tangan Jaehyun yang menyusup nakal ke balik kaos Jooyoung saat mereka duduk berdua di sofa sementara menonton televisi. Mungkin karena Jennie dan Doyoung terlalu sibuk dengan aktivitas mereka sendiri. Dan semakin lama, Jaehyun dan Jooyoung semakin menikmati aksi sembunyi-sembunyi mereka. Mencoba menerka seberapa lama dua sahabat mereka tidak sadar dengan perubahan itu. Dan Jooyoung tidak berhenti terkikik dalam hati setiap kali Jennie menceramahinya untuk mulai membalas perasaan Jaehyun. Seringkali Jooyoung dengan memutar bola mata malas berkata, “kau sama sekali tidak tahu apa-apa, jadi diam saja.” Lalu mendapat ceramah lebih panjang dari Jennie. Jooyoung akan memberitahu Jaehyun setiap detail perkataan Jennie kemudian dan mereka tertawa bersama.

Butuh satu bulan, dua minggu dan beberapa hari sampai akhirnya dua orang itu akhirnya mengetahui hubungan baru Jooyoung dengan Jaehyun. Saat itu akhir pekan. Menurut agenda, seharusnya mereka menonton DVD horror baru di apartemen Jaehyun. Saat Jennie dan Doyoung memekik terkejut malam itu memergoki Jaehyun dan Jooyoung di tengah aktivitas panas mereka di kamar Jaehyun, Jooyoung sama sekali tidak merasa bersalah.

Dan dia, sambil tersenyum puas berkata kepada kedua temannya “Setidaknya aku dan jaehyun belum telanjang saat kalian masuk kamar, kalian harus tahu betapa traumanya aku melihat kalian berdua dulu. Mimpi buruk seumur hidup.” katanya.

Jennie dan Doyoung masih berusaha menyusun kalimat mereka, terlalu terkejut dengan apa yang di hadapan mereka sekarang. Ini betul-betul pemandangan baru.

Jaehyun berdiri di belakang Jooyoung, menenggelamkan wajahnya di lengkungan leher kekasihnya, menciuminya dengan sangat mesra. Tangannya melingkar posesif di pinggang Jooyoung. Lalu dia, sambil tersenyum lebar berkata, “Kami sudah mulai berkencan sejak bulan lalu, kalian saja yang tidak sadar.”

“Astaga, jadi bukan hanya bayanganku saat kau menciumnya di depan wastafel,” teriak Doyoung menuduh. Wajahnya terlihat seperti merasa sangat terkhianati. Begitu juga Jennie.

“Ini balasan setimpal untuk kalian,” ujar Jooyoung seraya memeletkan lidah dan Jaehyun tertawa di belakangnya.

.

.

Itu adalah hubungan yang sangat sempurna. Seperti sebuah mimpi indah. Hanya saja, Jooyoung tidak pernah terbangun. Dan dia mencintai Jaehyun lebih dari dia pernah mencintai Sehun dan Kai. Saat memikirkan itu, mungkin karena hubungannya dengan Jaehyun sangat berbeda dengan kedua orang itu. Jooyoung memulai hubungan baik dengan Kai maupun Sehun secara terburu-buru. Itu adalah kisah cinta yang penuh gairah. Dia berhubungan seks dengan Sehun sebelum jatuh cinta dengannya, dan mencium Kai sebelum mereka mulai berkencan. Hubungannya dengan Sehun berlangsung singkat, terlalu singkat sampai-sampai terasa seperti sebuah khayalan yang jauh, dan hubungannya dengan Kai diwarnai terlalu banyak pertengkaran.

Karena itu semua terasa sangat berbeda dan baru saat bersama Jaehyun. Saat pertama kali dia melakukannya dengan Jaehyun, itu terasa seperti melakukannya untuk pertama kali, seperti semua tangan-tangan yang pernah menyentuh kulit Jooyoung sebelum Jaehyun tidak pernah ada. Dan terasa terlalu indah untuk menjadi sebuah kenyataan. Sentuhan Jaehyun di kulit Jooyoung begitu lembut, sangat lembut, seolah Jaehyun sedang memegang benda yang sangat rapuh, seakan-akan dia berusaha untuk tidak memecahkannya. Dia menciumi kulit Jooyoung dengan hati-hati. Dan memeluk Jooyoung mesra begitu selesai. Dan Jooyoung malam itu bersumpah bahwa dia belum pernah sejatuh cinta ini kepada seorang pria. Jaehyun menanggapinya dengan tertawa renyah dan menciumi wajah Jooyoung penuh kasih. Dia tidak meninggalkan Jooyoung di pagi hari. Membuat sarapan untuk mereka berdua. Dia tahu bagaimana Jooyoung menyukai kopinya, dan selai nanas kesukaan Jooyoung selalu tersedia di counter dapurnya.

Jooyoung meninggalkan sangat banyak pakaian miliknya di lemari Jaehyun, tapi tetap lebih suka meminjam baju pria itu setiap kali. Sabun wajahnya dijejerkan dengan krim cukur Jaehyun.

Jennie akan berkata, “Kubilang juga apa, kau sangat bahagia sekarang kan? Seandainya kau lebih cepat menerima cinta Jaehyun, mungkin sekarang kalian sudah menikah.”

Tapi Jooyoung mengabaikan komentar itu.

Sebaliknya, di malam-malam tertentu Jooyoung menjadi takut. Rasa paranoid menggerogotinya. Dan Jaehyun akan terbangun dari tidurnya karena Jooyoung tidak berhenti gemetar.

“Ada apa?” Jaehyun berkata sambil menariknya ke dalam pelukan. Menciumi ujung kepala Jooyoung dan mengelus punggungnya penuh kasih.

Jooyoung menangis dalam pelukannya. Meraung-raung sampai hatinya merasa damai kembali. Setelah berhasil meredam tangis, Jooyoung berkata di sela-sela cegukannya “Jangan pernah tinggalkan aku.”

Jaehyun menghela napas lemah kemudian. Dengan sabar menenangkan Jooyoung lalu berkata “Tidak akan. Kau tahu aku terlalu mencintaimu untuk melakukan itu. Apa yang membuatmu berpikir aku akan meninggalkanmu?”

Jooyoung menggigit bibir bawahnya, mengangkat kepala untuk bertatap muka dengan kekasihnya “Aku hanya…” katanya, serba salah. Karena wajah Jaehyun terlihat sangat lelah dan itu membuat Jooyoung merasa buruk. “Aku takut suatu saat nanti kau akan sadar kalau aku tidak sehebat yang kau pikirkan. Dan kau memutuskan untuk berhenti mencint…”

Tapi Jaehyun tidak membiarkan kalimat itu diselesaikan oleh Jooyoung. Dia mencium bibir Jooyoung dengan lembut. Keduanya menutup mata, menikmati pertemuan bibir mereka. Saat tautan bibir mereka terlepas, Jaehyun menatap Jooyoung tepat di matanya. Itu adalah pertemuan mata termesra yang pernah dialami Jooyoung dengan seseorang, dan dia berkata “Aku mencintaimu. Sekarang, besok, selamanya. Bahkan jika dunia ini akan hancur saat aku mencintaimu, aku akan mengabaikan seluruh dunia dan tetap mencintaimu. Seluruh dirimu, aku cinta. Segala kelebihan dan segenap kekuranganmu, luka-lukamu, aku mencintainya. Bahkan masa lalumu, aku mencintainya. Karena itu jangan pernah berpikir, sekalipun jangan, bahwa aku akan berhenti. Karena itu akan membuatku gila.”

Lalu dia mencium Jooyoung lagi, begitu lembut hingga Jooyoung melupakan seluruh keresahannya, begitu mesra hingga Jooyoung tidak pernah ingin melepasnya, begitu indah hingga Jooyoung seperti melihat bintang.

.

.

Cinta ketiga Jooyoung datang begitu terlambat. Dia berumur dua puluh lima saat itu terjadi. Kepada seorang pria yang lima bulan lebih muda. Dia adalah semilir angin yang menghembus rok Jooyoung dengan santai, perlahan tapi pasti menjatuhkan hati Jooyoung dengan kelembutannya. Keteduhan dalam matanya menghapus segenap insekuriti Jooyoung. Dia menyimpan Jooyoung aman dalam pelukannya. Mendamaikan hatinya, seperti stasiun radio lokal yang begitu familier. Setiap kali jemarinya berjalan di sekujur tubuh Jooyoung, rasanya seperti menghapus segala luka yang ditinggalkan pria lain. Dia sering kali membuat Jooyoung lupa bahwa kulitnya adalah miliknya sendiri. Dan dia membuat segala sesuatu terasa seperti pertama kali untuk Jooyoung. Dia selalu hangat dan aromanya seperti kue coklat panas yang baru dipanggang. Cintanya adalah pohon sakura di musim semi. Menutupi sungai duka Jooyoung dengan kelopaknya. Untuk pertama kalinya Jooyoung merasa bahagia semenjak bertahun-tahun lamanya. Dan dia hanya ingin terpenjara dalam hati Jaehyun untuk selamanya.

.

.

Tapi bahkan hubungan sempurnanya dengan Jaehyun didatangi badai mimpi buruk.

Musim panas 2016, tanpa peringatan orang itu kembali ke dalam kehidupan Jooyoung. Rambutnya tidak coklat maupun pink seperti dalam ingatan Jooyoung. Diganti dengan hitam metalik yang indah. Tapi selain itu tidak ada yang berubah. Dagunya masih setajam Jooyoung terakhir melihatnya. Senyumnya tetap menggetarkan hati Jooyoung tidak karuan. Wanginya persis seperti dalam memori yang jauh di neuron Jooyoung. Mata hitamnya tidak gagal menghipnotis Jooyoung. Dan meski lengan Jaehyun melingkar erat di pinggangnya, satu-satunya yang ingin dia lakukan adalah berlari ke pelukan pria itu. Menjadi gadis musim panasnya, sekali lagi.

-kkeut-


A/N:

Helo egein buat semua reader yang sangat kucintai xD

Gimana? Udah baper?

Gak tau kenapa eksekusi part 3 ini jadi begini, terlalu menye-menye dan panjang banget

11k words pemirsah, aku hampir pingsan /becanda/

Aku gatau gimana pendapat kalian sama part ini dan berharap kalian gak marah._.

Btw, aku udah mutusin siapa cowok yang bakal berakhir sama Jooyoung, gajadi ngadain vote, maapkan😦

Kuharap kalian bakal bisa terima siapapun nanti yang bakal jadi sama Jooyoung

Tapi aku tetap pengen tahu, kalian pengennya dia sama siapa?

Komen yaaaa ^^

See you next chapter.

Lots of Love

Tamiko

PS : Buat kalian yang pengen baca karyaku yang lain *promosi* boleh ngecek di sini yaaa –> fanfiction /soalnya gak semua aku pos di skff._. yah buat yang penasaran aja sih #plak

98 responses to “[3/6] Break My Fall : Devoted to you

  1. Uniiee aku nungguuu chapter terakhir, aku penasarann jooyoung sma siapehh??? 😂😂, tiap hari bolak balik liat SKF sma wp eoni, di tunggu chapter pamungkassnyaaa 🙏🙏🙏🙏

  2. Pingback: Break My Fall 4: Her Other First Thing | SAY KOREAN FANFICTION·

  3. Aseliii menye menye niih part terlalu maniss. . . Duh duuh si jooyouung nih anak gak plin plannya minta ampun. . Dipilihlah satu yg emang pasti dihatiiii kesian jaehyunnya

  4. entah knapa aku kok suka bgt sih sma karakternya kai dsini.. bagiq dy dewasa pengertian tp rasional bgt..
    jika pun ada cowok yg kayak jaehyun aq pun akan berpikir beribu kali utk mnrimanya, hanya tdk mau kalau suatu saat akan menyakiti orang sebaik jaehyun.. sperti yg aku takutkan dgn apa yg dlakukan jooyoung.. 😣
    keep writing ^^

  5. Kenapa kok aku lebih condong ke jaehyun yahh. Duh tapi baca ini sambil ketar-ketir, soalnya udah manis banget dari awal. Trus mikir kira2 apa yang bakal misahin mereka berdua, orang udah sama-sama suka. Eh ternyata, kepala pink balik lagi😄 dan jooyoung semudah itu goyah yaampunn
    Anyway, Visualnya jae emang cocok banget jadi tipe-tipe cowo kayak gini yah❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s