[IM]PERFECTION – 5TH SLIDE — by Neez

perf.jpg

IMPERFECTION

Oh Jaehee / OC || Kim Joonmyun / EXO Suho 

IMPERFECTION Universe, Campus Life, Romance, Angst, Drama

PG || Chapter

BETA & POSTER © IMA

In Correlation with

IMPERFECTION by IMA

Jaehee – Joonmyun Dating Stories

IMPERFECTION SPIN OFF — (Joonmyun – Jaehee Stories) by IMA

Previous Slide

1ST SLIDE || 2ND SLIDE || 3RD SLIDE || 4TH SLIDE

© neez

Because in the perfection... always left the imperfection behind

5TH SLIDE

”Jaehee-ya, bagaimana perasaanmu, Nak?” Nyonya Oh buru-buru menghampiri tempat tidur Jaehee saat dilihatnya, sang putri sudah membuka matanya perlahan-lahan.

   Pandangannya kabur, dan ia tidak betul-betul merasakan tubuhnya sendiri. Mungkin pengaruh obat, karena ia tidak merasa benar-benar terbangun. Ia merasa tubuhnya melayang, dan ia tidak memiliki keinginan untuk menjawab pertanyaan ibunya. Yang ia lakukan hanya berusaha memfokuskan pandangannya, sedikit demi sedikit, hingga ia mulai menyadari dimana ia berada sekarang.

   Rumah sakit.

   ”Jaehee-ya, jawab Eomma, Nak…” Jaehee bisa merasakan Ibunya mendekatinya, dan ia melihat ibunya menggenggam tangannya yang tidak disambungkan dengan selang infus. Berusaha menatap ibunya, satu-satunya pertanyaan yang ada di benak Jaehee hanyalah kenapa ia bisa merasakan tangan ibunya, namun hanya samar-samar. ”Jaehee-ya…” mohon Ibunya lagi, Jaehee bisa mendengar suara ibunya bergetar, seolah menahan tangis.

   Jaehee ingin sekali menjawab pertanyaan ibunya, namun rasanya bahkan otot wajahnya tak mampu ia gerakkan. Jaehee mencoba membuka mulutnya, namun tidak ada suara yang keluar, yang dapat ia lakukan hanyalah mengedipkan matanya perlahan-lahan, dan ia menyaksikan ibunya menangis. Melihat dari cara sang ibu menangis, rasanya ibunya menangis cukup keras, namun ia hanya mendengar suara sang ibu samar-samar, matanya masih terasa berat dan ia ingin sekali tidur kembali.

   Jaehee hanya bisa melihat tak lama kemudian, seorang dokter dan dua orang perawat bergegas memasuki kamar rawatnya dan mendekatinya. Ia melihat ibunya menangis, dan ada Papa juga disana, Papa memeluk Eomma dengan sangat erat dan Jaehee bisa melihat, meski samar, Papa-nya juga berkaca-kaca. Ia melirik dokter yang tengah memeriksa denyut nadinya. Disitulah ia baru sadar…

   Ia tak bisa merasakan apa-apa.

 

*        *        *

Melihat Ibunda Jaehee menangis terisak-isak, sementara Tuan Oh berusaha menenangkannya, tetapi juga sambil berkaca-kaca—melihat paramedis berlarian dengan wajah panik, kepala Joonmyun rasanya berputar. Tangannya gemetaran. Ia merasa ia harus berbuat sesuatu meskipun tidak tahu apa yang bisa ia perbuat, tetapi ia merasa tidak berguna jika ia hanya berdiam diri saja. Tanpa ia sadari, lidahnya merasakan anyirnya darah karena begitu kuatnya ia menggigit bagian dalam mulutnya.

   Dokter keluar lagi, dan Demi Tuhan ekspresi yang ditunjukkan sang dokter membuat perut Joonmyun mulas.

   ”Bagaimana putri saya?” tanya Nyonya Oh sambil terisak. ”Dokter Shim, tolong selamatkan Jaehee…”

   Dokter Shim mengangguk, ”Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu proses penyembuhan putri Anda, Nyonya Oh. Untuk sementara ini, biarkan Nona Oh beristirahat terlebih dahulu, karena tadi kami sempat memberikan Nona Oh bius yang cukup kuat, sehingga mungkin saja itulah faktor yang mempengaruhi tidak dapat bergeraknya putri Anda.”

   ”Apa?!” Joonmyun bisa mendengar Sehun berseru dengan kaget, ia melihat tangan kakak tiri Jaehee itu mengepal. ”Apa maksudnya dengan Jaehee tidak dapat bergerak, Seonsaengnim? Eommonim?!”

   Nyonya Oh menangis kembali.

   ”Ta…tapi jika… jika benar Jaehee… Jaehee lumpuh…” suara Tuan Oh bergetar, dan Nyonya Oh justru semakin tersedu mendengar kata-katanya, ”A…apakah… apakah tidak ada cara… untuk… untuk menyembuhkannya?”

   Dokter Shim tersenyum. ”Ada… kita semua harus optimis demi kesembuhan Nona Oh. Sementara biarkan dia beristirahat lebih dulu, besok saya dan Dokter syaraf akan datang untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut akan kondisinya.”

   ”Terima kasih, Dokter Shim.”

   Dokter Shim membungkuk, pamit pergi meninggalkan mereka. Nyonya Oh nyaris melolong dan merosot ke lantai menangisi nasib putrinya. Bahkan Joonmyun bisa melihat Sehun sangat terpukul mendengar bahwa ada kemungkinan, adik tirinya tersebut lumpuh karena meningitis yang di deritanya.

   Sementara Joonmyun sendiri, ia pun merasa mati rasa. Ia tidak bisa mendengarkan suara apa pun, kecuali suara detak jantungnya yang memburu. Perutnya yang terasa seperti diaduk-aduk, dan kepalanya terasa berputar. Awalnya ia mengira pandangannya berkunang-kunang, namun ia menyadari bahwa matanya kembali digenangi air mata.

   Tuan Oh akhirnya berhasil membujuk ibunda Jaehee untuk pulang ke rumah, karena Sehun berjanji akan menjaga Jaehee hingga ia sadar. Hingga fajar menjelang, tak sepatah kata pun keluar dari bibir Joonmyun, ia hanya terus memandang ke depan dengan kosong, setelah puas menangis. Sehun di sampingnya, tertidur-tidur ayam, sampai akhirnya perawat datang untuk membersihkan tubuh Jaehee.

   ”Masuklah,”

   Joonmyun perlahan-lahan menolehkan kepalanya ke arah Sehun yang bergumam dengan suara serak.

   ”Aku tahu kau sangat mengkhawatirkannya. Masuklah,”

   Joonmyun ragu.

   ”Kalau kau mau meninggalkannya,” Sehun mengalihkan pandangannya ke arah para perawat yang berlalu lalang, ”Lebih baik kau meninggalkannya dari sekarang. Jangan temui dia, dan aku tidak akan bilang kaulah yang telah menolongnya…” Sehun menghela napas, ”Tetapi kalau kau masih mau bersamanya, dan serius karena mencintainya… maka masuklah.” Sehun mengatupkan kedua tangannya, dan tatapannya menjadi tajam, setajam kata-kata dalam ucapannya barusan.

   Joonmyun tidak ragu sama sekali untuk memilih yang mana. Ia berdiri dan berjalan perlahan mendekati pintu kamar rawat Jaehee. Saat tangannya menyentuh gagang pintu, Sehun kembali bicara. Kalimatnya bernada datar, tanpa penekanan apa pun, tetapi Joonmyun tahu bahwa Sehun bersungguh-sungguh.

   ”Kau masuk ke dalam, maka tak ada jalan untuk kembali, Joonmyun-ah.”

   Joonmyun tidak menjawab, justru membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam kamar rawat Jaehee. Awalnya, sejak semalam, ia tidak sanggup menatap Jaehee yang terbaring lemah lebih dari sepuluh detik. Namun, ia membulatkan tekadnya. Bagaimana ia mau membantu Jaehee untuk sembuh jika ia sendiri lemah?

   Meski tubuhnya gemetar dari ujung kepala hingga ke ujung kaki saat melangkah mendekat ke tempat tidur, meski jantungnya menggedor keras tulang rusuknya hingga dadanya terasa sakit. Dan meski tangannya masih memar karena telah mematahkan rahang Lee Jonghyun, Joonmyun melawan semua perasaan itu demi berdiri di samping tempat tidur Jaehee sekarang. Ia harus kuat demi Jaehee, ia tidak boleh meneteskan air mata—setidaknya, tidak di hadapan gadis itu. Ia akan menebus waktu yang terbuang. Tidak hanya karena rasa bersalah saja, namun karena ia sangat mencintai Jaehee.

   Aku disini, Jaehee-ya… aku tidak akan meninggalkanmu lagi.

   ”Sehun,”

   Sehun mendongak, cukup kaget melihat Joonmyun keluar lagi dari dalam ruang rawat inap Jaehee setelah sepuluh menit berada di dalam.

   ”Aku harus mengurus izin terlebih dahulu ke kantorku,” gumam Joonmyun sambil menggosok kedua matanya. ”Tolong, jika ada kabar apa pun, beritahu aku. Aku akan segera kesini setelah aku selesai bekerja.”

   Sehun sebetulnya ingin memprotes keinginan Joonmyun, namun ia sadar, bahwa pria itu juga memiliki kehidupan lain. Ia lupa, bahwa Joonmyun adalah pria kantoran, yang pekerjaannya selalu tetap, berbeda dengan saudarinya.

   ”Baiklah,” Sehun mengangguk, kemudian ia menelan ludah sebelum bicara, ”Jika Jaehee sadar nanti aku tidak akan bilang apa-apa soal kau.”

   Joonmyun sedikit terkejut dan merasa tersinggung, namun Sehun meneruskan, ”Tidak ada yang tahu apakah kau akan kembali atau tidak. Percayalah, Jaehee tidak tahu akan lebih baik.”

   ”Tapi aku akan kembali, Sehun!” seru Joonmyun keras, tidak peduli para pengunjung pasien biasa, dokter, suster, atau siapa pun yang lewat menatapnya dengan ingin tahu dan tidak suka karena telah mengganggu ketenangan rumah sakit. ”Aku akan kembali lagi dan menemuinya, aku tidak akan pergi begitu saja.”

   Sehun mengangkat bahu sambil memasukkan kedua tangannya ke kantung celana. ”Tidak ada yang tahu nanti, Joonmyun. Walaupun aku tidak tahu apa yang terjadi diantara kalian, situasi sekarang berbeda dengan kemarin. Jaehee mungkin lumpuh, dan kau mungkin…”

   ”Apa maksudmu?!” desis Joonmyun berapi-api. ”Jaehee akan sembuh! Aku bersumpah Jaehee akan sembuh, Oh Sehun!”

   ”Joonmyun-ah, kau tidak tahu apakah dia akan sembuh atau tidak. Aku tahu selama ini dia patah hati, jadi kalau kau memang tidak mau serius dengannya… apalagi setelah ia sakit begini, lebih baik kau pergi dan tidak usah kembali lagi. Tapi, kalau kau memang serius mencintainya… bukan karena kau kasihan padanya, maka kembalilah, dan buktikan… bukan padaku, tapi padanya.”

   Maka Joonmyun menelan ludahnya, menahan lidahnya untuk tidak membalas kata-kata Sehun karena ia benar. Tidak perlu berdebat, yang perlu ia lakukan adalah membuktikan kesungguhan hatinya. Joonmyun mengangguk, ia pamit pada Sehun dan segera pulang ke apartemennya untuk mandi dan berangkat ke kantor.

   Ia hanya memiliki waktu sedikit, untuk menyelesaikan apa yang telah lama ia mulai.

 

*        *        *

”Nona Oh, dengarkan ucapan saya baik-baik, oke?” pinta Dokter Shim dengan lembut, menelusuri wajah pasiennya yang cantik dan kini tengah menatapnya balik dengan dua mata cokelat kelam bulatnya. “Jika Anda mengerti dengan yang saya ucapkan, kedipkan mata Anda satu kali, dan jika tidak… kedipkan mata Anda dua kali, mengerti?”

   Kedip.

   ”Jalhaesseoyo, Nona Oh,” puji Dokter Shim. ”Dokter Yang, sudah melakukan tes kepada Anda, dan kita harap hasilnya bisa keluar besok. Untuk sementara, saya mau Nona Oh beristirahat saja, sambil terus mengonsumsi obatnya ya. Lalu, nanti Nona Oh mungkin akan merasakan sakit lagi di kepala, karena meningitis-nya. Untuk itu Suster akan segera memberikan obat, mungkin pengaruhnya akan sedikit lama, jadi ditahan ya…”

   Kedip.

   ”Baiklah, kalau begitu selama istirahat, Nona Oh.”

   Kedip lagi.

   Jadi seperti ini rasanya mati rasa. Jadi seperti ini rasanya tidak merasakan apa pun lagi pada tubuhmu.

   Jaehee melihat Ibunya mendekat ke arahnya dan menggenggam tangannya erat-erat. Ibunya menangis lagi. Entah sudah berapa kali ia membuat Ibunya menangis karena keadaannya yang seperti ini. Bahkan Papa, yang tidak pernah mengeluarkan air mata juga ikut bersedih karenanya. Ia juga melihat Sehun, yang jika pandangannya beradu dengan pria itu, ia akan melemparinya senyum sedih.

   Dia hanya membuat semua orang sedih. Entah kenapa ia tidak bisa menangis menyaksikan ibunya tersedu-sedu. Dadanya terasa sakit sekali, namun ia tidak bisa mengangkat tangannya untuk memukuli dadanya yang terasa sakit. Atau, apakah ia menangis? Karena Sehun meminta Ibunya untuk keluar dari kamar dan jika Jaehee tidak salah dengar (pendengarannya sangat terbatas), Sehun tidak ingin membuatnya semakin stress.

   ”Kau akan baik-baik saja, Jaehee-ya.”

   Kedip.

 

*        *        *

”Bagaimana keadaannya?”

   Sehun melirik Jaehee yang sudah tertidur pulas setelah tadi sore, sakit di kepalanya kembali kumat. Sehun bersyukur ibu tirinya tidak menyaksikan sendiri bagaimana Jaehee kesakitan tadi, jika tidak, mungkin Jaehee akan menangis tanpa suara kembali seperti tadi pagi saat Dokter Shim selesai memeriksa keadaan gadis itu.

   Kesakitan, namun tidak dapat bergerak, bahkan tidak dapat berbicara. Sehun sampai berdoa agar Tuhan mau berbaik hati untuk membagi sakit gadis itu dengan dirinya. Menyaksikan Jaehee begitu menderita membuatnya ingin menangis, namun ia tahu, semakin ia dan keluarganya menunjukkan bahwa mereka sedih dengan keadaan gadis itu, semakin parahlah ia.

   ”Buruk,” Sehun berterus terang.

   Joonmyun memperhatikan profil Sehun yang terlihat lelah. Mungkin Sehun tidak beristirahat juga seperti dirinya yang terjaga semalaman, dan langsung bekerja. Kedua kantung mata Sehun terlihat jelas.

   ”Kau terlihat buruk juga,” Sehun berusaha meringankan udara yang mendadak terasa berat setelah ia menjelaskan bagaimana persisnya keadaan Jaehee sekarang, minus bagian ketika ia melihat Jaehee kesakitan dalam diam. Joonmyun hanya tersenyum tipis menanggapi gurauan pria itu, dan beralih duduk di sisi ranjang Jaehee, menelusuri setiap inci wajah gadis yang ia cintai itu.

   Jaehee begitu kurus sekarang. Pipinya terlalu tirus, dan wajahnya kusam. Tapi, tetap bagi Joonmyun gadis itu adalah wanita tercantik yang pernah ada di hatinya.

   ”Dia akan sembuh,” Joonmyun berujar, lebih kepada ingin meyakinkan dirinya sendiri dibandingkan meyakinkan Sehun, namun Sehun mengangguk.

   ”Ya, dia pasti sembuh.”

   Joonmyun menyingkirkan helaian anak-anak rambut yang menutupi mata Jaehee, menelusuri kulit pipinya, dan tersenyum kecil. Ia merindukan saat-saat dimana ia tanpa sadar senang sekali merasakan kulit Jaehee dengan punggung-punggung jarinya, seperti saat mereka masih berkencan dulu.

   ”Joonmyun-ah,”

   Joonmyun menarik tangannya, dan menoleh menatap Sehun yang terlihat ragu-ragu. Sehun juga sebenarnya merasa tidak tega untuk mengatakan kondisi Jaehee yang sebenarnya, namun ia tidak mau Joonmyun shock jika menyaksikannya sendiri, dan membuat Jaehee semakin sedih.

   ”Kenapa, Sehun-ah?”

   ”Kau tahu kan, Jaehee… merasakan mati rasa sekarang, karena meningitis-nya?”

   Joonmyun mengangguk, wajahnya muram.

   ”Meskipun ia merasa mati rasa, Dokter mengatakan ia masih tetap bisa merasakan sakit luar biasa jika meningitis-nya kumat.”

   ”Lalu?” Joonmyun bisa merasakan ada sesuatu yang Sehun belum sampaikan kepadanya.

   Sehun menggigit bibirnya, ”Dan saat nanti, jika kau melihat hal itu—ketika Jaehee kesakitan namun tak dapat menggerakan tubuhnya sedikitpun, tak juga dapat bicara. Kumohon, jangan menangis di hadapannya… jangan tunjukkan kau bersedih di hadapannya. Jaehee tidak suka melihat… kita semua sedih melihat keadaannya.”

   Jika memang itu yang terjadi, Joonmyun berharap tidurnya Jaehee semakin membawa kesehatan gadis itu ke arah yang lebih baik. Dia ingin menatap kedua mata cokelat yang ia rindukan tersebut, namun ia takut dengan apa yang akan ia lakukan jika nanti benar-benar melihat dengan mata kepalanya sendiri, saat Jaehee kesakitan.

   Hari kemudian berganti menjadi pekan. Nyaris dua pekan sudah, Jaehee dirawat, dan semua bisa kembali bernapas lega saat dua dokter yang menangani Jaehee mengatakan bahwa disfungsi motorik yang Jaehee alami tidaklah permanen, setelah berbagai macam pengobatan dan terapi yang dilakukan pada gadis itu, sedikit demi sedikit ia mulai bisa menggerakan seluruh bagian tubuhnya, dan juga sudah mulai berbicara meskipun sedikit lemah. Ibunya bersyukur sekali, Jaehee bisa bicara  dengan lancar meskipun perlahan-lahan dan tidak terlalu keras. Sayangnya, selama dua pekan itu, meskipun Joonmyun selalu datang setiap malam, tapi ia dan Jaehee tidak pernah benar-benar bertemu, karena biasanya Jaehee sudah diberikan obat yang akan membuatnya tidur nyenyak sepanjang malam, dan terbangun saat Joonmyun sudah harus pergi kembali ke kantornya.

   Joonmyun hanya bisa mengusap lembut rambut Jaehee dan berdoa, agar mereka dapat segera dipertemukan kembali.

*        *        *

”Aku punya mimpi aneh,”

   Sehun yang menonton siaran televisi—karena mengaku bahwa ia tidak memiliki kegiatan dan memutuskan untuk bermain dengan Jaehee saja, padahal Jaehee tahu pria itu sebenarnya tengah mengkhawatirkannya, meskipun di rumah sakit kerjanya hanya menonton televisi dan bermain game, melahap apel (yang sebenarnya dikirimkan penggemar Jaehee untuknya, namun Sehun lapar dan Jaehee juga tidak melarangnya), dan hanya bergumam, untuk mengisyaratkan bahwa ia mendengarkan suara kecil Jaehee tersebut.

   ”Aku melihat Joonmyun di mimpiku,” Jaehee tidak berbohong. Ia kerap kali melihat Joonmyun di mimpinya—dulu mimpi tentang Joonmyun terasa menyakitkan, karena Joonmyun yang ia temui di mimpi, selalu menatapnya dengan penuh kebencian dan rasa kecewa sembari mengulang-ulang kata-kata bahwa ia akan memilih pendidikannya, dibandingkan Jaehee. Nmaun, entah kenapa mimpinya belakangan ini menjadi aneh, ia seperti mendengar lagu I Want To Fall In Love, yang dulu seringkali Joonmyun nyanyikan jika ingin meninabobokannya semasa mereka masih pacaran. Ia juga sering mendengar suara Joonmyun yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan suara Joonmyun yang penuh kebencian.

   Seolah, Joonmyun datang untuk menyemangatinya sembuh, dan jujur saja hal itulah yang membuat Jaehee terus optimis menjalani pengobatannya. Ia memakan semua obatnya tanpa mengeluh, membiarkan suster berulangkali menyuntikkan cairan yang membuat linu tulangnya, membiarkan dokter memanaskan otot-ototnya agar segera bisa berjalan.

   Dia pasti sangat mencintai pria itu sehingga bisa memformulasikan Joonmyun versi Pangeran Disney-nya di alam bawah sadarnya.

   Sehun hanya memberikannya senyum miring. ”Mau kuhubungi dia?”

   ”Memang kau punya nomornya?” tanya Jaehee sambil memandang ke arah lain, ia merasakan wajahnya memanas. Apa Joonmyun masih mau bertemu dengannya? Apalagi saat ia sakit seperti ini… bukankah Joonmyun nanti justru merasa bahwa ia meminta perhatian? Lagipula, bukankah Joonmyun sudah punya pacar? Jiyeon, kalau tidak salah.

   ”Punya, sepertinya dia tidak mengganti nomor ponselnya sejak SMA,” kilah Sehun santai sambil kembali melahap apelnya.

   Jaehee berdecak. ”Ya! Itu apelku…”

   Sehun menyuapkan apel ke mulut Jaehee, dan serius menatap televisi, sementara Jaehee berusaha membetulkan posisi berbaringnya. Pintu kamarnya diketuk, Sehun buru-buru berdiri dengan senyuman aneh, yang langsung menghilang saat melihat siapa yang datang. Yang datang adalah teman-teman seprofesi Jaehee, dalam satu rombongan, membawakan gadis itu banyak hadiah mulai dari bunga, makanan, hingga kado-kado.

   Dengan terpaksa, Sehun menyingkir dari kamar rawat Jaehee.

 

*        *        *

Joonmyun menekuri data demi data yang ada di dalam kertas-kertas yang ia pegang. Keningnya mengerut, sementara otaknya berdesing membuat analisis sebelum akhirnya ia mengetikan hasil analisa yang berhasil ia buat di dalam otaknya. Mengabaikan secangkir Café Au Lait yang ada di hadapannya, dan juga mengabaikan Park Jiyeon yang duduk di hadapannya. Joonmyun tidak punya banyak waktu. Jika ia ingin rencananya berjalan sesuai dengan kalkulasinya, maka ia tidak memiliki banyak waktu bersantai, meskipun sekarang adalah jam makan siang.

   ”Kim Joonmyun, sudah satu jam dan kau tidak bergerak dari laptopmu. Kau juga tidak menyentuh makananmu!” tegur Jiyeon tajam. Semenjak pertengkaran tempo hari dengan Jonghyun, Joonmyun tak kunjung mau bertemu dengannya, dengan kelompok mereka juga. Satu lagi yang membuat kepala Jiyeon pusing adalah ketika Oh Jaehee tidak kembali ke Aires, setelah Joonmyun pergi. Bahkan Kim Woobin justru meninggalkan Aires setelahnya.

   Meski bukan masalahnya, Jiyeon merasa kepalanya mau pecah membayangkan Kim Joonmyun yang ia cintai kembali mengejar-ngejar mantan kekasihnya, Oh Jaehee itu, karena mereka berdua sama-sama tidak kembali ke Aires dan setelahnya, Joonmyun semakin menjauhi kelompok mereka. Joonmyun juga tak lagi mau menjemput dirinya dikantor dan pulang bersama-sama seperti biasa, meskipun jarak kantor mereka sangat dekat.

   ”Eoh, nanti kumakan. Kau makan saja,” gumam Joonmyun sambil meneruskan pekerjaannya.

   ”Tapi… Joonmyun, kita bertemu kan untuk makan bersama!” seru Jiyeon, ia ingin terdengar menuntut dan tegas, namun bagi Joonmyun justru terdengar bak rengekan. Ia tahu, temannya yang satu ini memang sedikit manja.

   Joonmyun masih tidak mengalihkan pandangannya dari laptopnya, ”Kau bilang kita bertemu karena ada yang ingin kau bicarakan. Bukan untuk makan bersama.”

   ”Ya sekaligus makan bersama berbicaranya!” seru Jiyeon sedikit kesal. ”Bagaimana aku bisa bicara denganmu kalau perhatianmu terus menerus pada laptop dan pekerjaanmu?!”

   ”Aku mendengarkan,” sahut Joonmyun lagi. ”Bicara saja, Jiyeon-ah.”

   Jiyeon menghela napas dalam-dalam, mengendalikan emosinya yang sudah membuat kepalanya nyut-nyutan. ”Kapan kau mau bicara lagi dengan Jonghyun, Joonmyun-ah? Kau tahu, dia menyesal sudah bicara sembarangan seperti itu, dan dia sangat peduli padamu. Dia mengkhawatirkanmu.”

   Mendengar nama Jonghyun disebut, Jiyeon bisa melihat kilatan di kedua mata Joonmyun yang serius menatap layar laptopnya, sementara kedua tangannya bergerak lincah di keyboard. ”Terima kasih katakan pada Jonghyun telah mengkhawatirkanku. Kau tahu, aku tidak pernah membencinya… tetapi aku tidak menyesal telah meninju wajahnya kemarin, dan aku tetap pada pendirianku.” Jawab Joonmyun panjang lebar dengan nada ringan, tanpa sekalipun mengalihkan pandangan dari laptopnya.

   ”Tapi, Joonmyun-ah,” Jiyeon kembali berkata, takut-takut. ”Bukankah wajar, bagi seorang sahabat untuk melindungi sahabatnya sendiri?” tanyanya. ”Jonghyun sangat peduli padamu, dan dia tidak ingin kau terluka.”

   ”Sekali lagi, kuucapkan terima kasih untuk itu. Tenang saja, katakan pada Jonghyun, aku bisa menjaga diriku sendiri.”

   ”Tapi…” Jiyeon berhenti saat Joonmyun mengangkat wajahnya dari laptopnya untuk pertama kali hari ini. Jiyeon mengharapkan tatapan mata teduh, yang biasa Joonmyun layangkan kepadanya, tapi yang ia dapatkan adalah tatapan tajam. ”Joonmyun-ah… Jonghyun mengkhawatirkanmu, karena apa yang telah gadis itu perbuat kepadamu.” Jiyeon meneguk ludahnya, sebelum memberanikan diri untuk melanjutkan, pikirnya, tak ada salahnya mencoba untuk mengingatkan Joonmyun kembali akan apa yang telah wanita itu lakukan kepadanya. ”Dia… dia memperlakukanmu seperti pembantunya. Dia tidak menghargaimu. Dia tidak mempercayaimu… dia lebih memilih pekerjaannya daripada dirimu. Kalau kau kembali kepadanya… Jonghyun khawatir, kau justru akan menyia-nyiakan hidupmu, Joonmyun-ah.”

   Joonmyun menghela napasnya dalam-dalam. Ia merasa bersalah sekali lagi. Teman-temannya berpikir demikian karena salahnya, yang membagi-bagikan masalah pribadinya dengan Jaehee pada orang-orang yang tidak mengenal gadis itu. Sebagai bentuk rasa solidaritas dan proteksi untuknya, mereka berbalik menjadi anti kepada gadis yang sangat ia cintai.

   ”Ya, itu benar… tapi aku juga melakukan hal yang sama kepadanya,” Joonmyun mengangkat bahu. ”Jadi apa bedanya aku dengan dia? Kami sama-sama egois, kami sama-sama ingin mementingkan ego masing-masing.”

   ”Tidak, Joonmyun… kau sangat baik, mengerti dia…”

   Joonmyun mendengus, Jiyeon tidak pernah melihat Joonmyun tertawa dan meremehkannya seperti ini sebelumnya, dan ia mengepalkan tangannya. Setengah takut, dan setengah kesal karenanya.

   ”Kenapa kalian sangat sok tahu?” tanyanya tajam, seolah ada kandungan racun dalam kata-katanya, mata Joonmyun juga berkilat-kilat. ”Kalian tidak tahu aku begitu dalam, aku tidak sebaik yang kalian kira, kok. Kalau kalian tetap menjelek-jelekkan Jaehee di hadapanku, aku bisa benar-benar berubah menjadi pria jahat, lho.” Ancam Joonmyun ringan, dan kembali mengalihkan pandangannya pada laptopnya lagi. “Aku benar-benar harus mengerjakan semua laporan ini, Jiyeon-ah. Jika tidak ada yang penting lagi aku mau kembali ke kantor.”

   Jiyeon mengerjap-ngerjapkan matanya.

   ”Baiklah,” Jiyeon merasa ia harus mengalah kali ini, karena sepertinya emosi Joonmyun masih sangat tinggi meski insiden dengan Jonghyun terjadi sudah dua minggu yang lalu. “Nanti malam, kita semua mau berkumpul, Joonmyun-ah… kami harap kau mau datang, kami semua merindukanmu.”

   Joonmyun menyeringai, lalu menggeleng. ”Aku tidak bisa, Jiyeon-ah, sori. Sampaikan salam saja untuk teman-teman.”

   ”Joonmyun,” Jiyeon menghela napas lelah setelah menyebut namanya. ”Mau sampai kapan kau terus menghindari kami?”

   ”Aku tidak menghindar,” Joonmyun menjawab santai, sambil kembali mengetik.

   ”Lalu?”

   ”Aku mau ke rumah sakit.”

   Jiyeon membuka mulutnya, dan bertanya pelan, ”Memang siapa yang sakit?”

   ”Jaehee.”

   Jiyeon tidak bisa tidak mengepalkan tangannya saat mendengar nama perempuan itu disebutkan kembali. Dulu, ya dulu, dia selalu merasa di atas angin karena gadis model bernama Oh Jaehee itu selalu cemburu padanya, itu berarti sesuatu kan? Itu berarti Kim Joonmyun merasakan sesuatu kepadanya kan, dan itulah mengapa si Oh Jaehee itu merasa tersaingi? Tapi, kenapa sekarang malah keadaan jadi berbalik?

   ”Bukankah… Oh Jaehee itu punya pacar?”

   Joonmyun menghela napasnya dalam-dalam, dan mengangkat wajahnya kembali untuk bertemu pandang dengan Jiyeon. ”Lalu?”

   ”Eh?” Jiyeon pastilah tidak tahu bahwa tampang terperanjatnya amat sangatlah tidak menarik sekarang. Jiyeon benar-benar tidak tahu apalagi yang harus ia katakan, maka ia memilih untuk mundur sementara. Joonmyun benar-benar tidak bisa diajak berbicara dengan kepala dingin sekarang, dan Jiyeon mengutuk Lee Jonghyun sebagai penyebabnya.

   Tepat setelah Park Jiyeon pergi, barulah Joonmyun bersandar di sofa sambil meregangkan otot-otot tangannya, dan kepalanya jadi pening ketika diingatkan bahwa Jaehee sudah punya pacar. Kenapa mereka harus mengingatkannya berulangkali?! Joonmyun meraih cangkir Café Au Lait-nya, dan meneguknya cukup banyak setelah tahu kopi tersebut sudah tidak panas.

   Dia tidak menanyakan soal Kim Woobin pada keluarga Jaehee, ia takut dengan jawaban yang mungkin dia dapatkan, jika ia menanyakan soal pacar Jaehee yang baru itu. Ia yakin, selama Jaehee berada di rumah sakit, dan ia terpaksa menghabiskan waktu itu menyelesaikan semua pekerjaannya, pacar Jaehee itu pasti datang ke rumah sakit. Joonmyun sudah memutuskan untuk terus berada di samping Jaehee, membantunya hingga sembuh, terserah gadis itu masih single atau sudah taken, dia tidak peduli lagi.

   Joonmyun menggelengkan kepalanya, mencoba mengenyahkan pikiran-pikiran buruk dan tidak penting yang mulai muncul ke dalam kepalanya, dan melanjutkan pekerjaannya. Targetnya harus segera tercapai.

From Sehun :

Dia bangun terus hari ini, kau tidak mau bertemu dengannya? Sebelum dia tidur lagi

To Sehun :

          Aku akan segera kesana.

   Sudah beberapa hari ini, Sehun serta Nyonya Oh terus mengabarinya perihal keadaan Jaehee yang semakin hari semakin baik. Pertama, gadis itu sudah mulai bisa bicara kembali, setelah selama beberapa hari hanya dapat berkomunikasi dengan matanya saja. Ia juga sudah mulai bisa menggerakan kedua tangan dan kepalanya, namun Sehun jujur mengatakan bahwa Jaehee masih sedikit kesulitan berjalan, karena selain pengaruh meningitis, otot kakinya menjadi kaku setelah  hampir dua minggu tidak dipakai. Selain itu, Jaehee masih kerap kali merasa sakit kepala luar biasa di waktu-waktu tertentu yang tidak bisa ditebak, dan dokter terus berupaya untuk segera menghilangkan virus meningitis yang masih menyerang selaput otak adik tiri Sehun tersebut.

   Hari ini, untuk pertama kalinya Joonmyun mendengar Jaehee terbangun untuk cukup lama, dan ia ingin bertemu dengan gadis itu segera. Ia ingin mengucapkan permintaan maaf yang sudah seharusnya ia katakan pada Jaehee sejak lama. Maka, setelah pekerjaannya untuk hari ini selesai, Joonmyun buru-buru mengendarai mobilnya menuju toko bunga terdekat untuk memberikan sebuket mawar, dan langsung tancap gas ke Rumah Sakit Internasional Seoul dimana Jaehee di rawat.

 

*        *        *

Seoul International Hospital

Jaehee’s Room

Jaehee tersenyum sumringah pada teman-teman seprofesinya yang datang untuk menjenguknya. Mereka datang berkelompok-kelompok, dan karena ia dirawat di ruangan VIP, maka tak ada jam kunjungan khusus yang harus ditaati oleh para pengunjung. Belum lagi, Dokter Shim melihat perubahan Jaehee ketika banyak orang yang datang mengunjunginya, dan memutuskan bahwa berada disekitar banyak orang membuat gadis itu merasa jauh lebih baik.

   Mereka berbincang-bincang dan menanyakan perihal penyakit meningitis pada Jaehee. Beberapa teman yang pernah memiliki pengalaman sama, menyemangatinya untuk terus berjuang melawan meningitis, karena meskipun penyakit tersebut tergolong penyakit yang cukup berbahaya, namun tidak sedikit kasus yang berakhir dengan sembuh. Apalagi, jika meningitis yang Jaehee idap bukan berasal dari kanker.

   ”Woobin tidak kesini?” tanya Seowoo, salah seorang teman modelnya yang kini sudah bertambah profesi menjadi aktris juga.

   Jaehee mengangkat bahu, ”Aku belum mengecek ponselku sendiri sejak pingsan kemarin, mungkin Oppa sibuk.”

   ”Oooh,” Seowoo mengangguk-angguk.

   ”Hei, katanya produser ada yang menawarimu main film atau drama, Jaehee-ya? Apa benar?” tanya teman modelnya yang lain, Hyorin, yang kini justru beralih profesi sebagai desainer dan memutuskan mundur dari dunia modelling. ”Siapa kemarin yang cerita ya? Seunghwan atau siapa…”

   Jin Saeyeon menjawab, ”Woobin Oppa yang cerita. Benarkah itu, Jaehee-ya?” Saeyeon adalah seniornya semasa masih di SO Entertainment, setelah kontraknya dengan agensi itu habis, Saeyeon—seperti Seowoo juga beralih menjadi aktris, dan karena sekarang banyak sekali produser drama tertarik untuk mengundang model menjadi bintang dalam drama mereka, tidak heran nama Jaehee ikut-ikut dibawa disana.

   Jaehee mengangkat bahu, ”Aku dengar dari Manajerku, tetapi entahlah… aku tidak pernah berakting sebelumnya,”

   ”Akting menyenangkan, coba saja,” Saewoo mengedipkan matanya.

   ”Ah entahlah, Eonnie…” Jaehee menggeleng-geleng. ”Dalam keadaan seperti ini… kurasa aku akan lebih fokus dengan kesembuhanku terlebih dahulu, dan mungkin beristirahat. Aku sudah terlalu lama mengabaikan kesehatanku sendiri, dan aku kasihan pada ibuku yang panik saat aku tidak bisa jalan dan bahkan bicara kemarin.”

   Ketiga temannya mengangguk, dan menatap Jaehee prihatin.

   ”Kami dengar itu,” Hyorin mengelus-elus tangan Jaehee pelan. ”Kau harusnya sekarang masuk agensi saja, Jaehee-ya, tidak akan terlalu lelah seperti kemarin-kemarin. Kau mungkin bisa masuk agensi yang sama dengan Woobin,”

   Jaehee mengangguk-angguk terlihat menimbang-nimbang, ”Woobin Oppa memang sudah mengajakku untuk bergabung dengan agensinya, dia bilang aku bisa ajak Daeyoung Oppa kalau mau masuk kesana. Tapi entahlah, aku masih sedikit trauma…”

   ”Tidak semua agensi seperti itu kok, Jaehee-ya… agensiku yang baru baik-baik saja,” hibur Saeyeon mengetahui cerita Jaehee.

   Jaehee mengangguk.

   Tiba-tiba ketiga temannya menoleh bersamaan ke arah pintu yang diketuk dan mengayun terbuka. Jaehee memutar kedua matanya, sudah sejak siang tamu silih berganti menemuinya, kecuali di jam ia tidur. Karena semua tamunya di dominasi oleh perempuan, mereka kebanyakan terpesona dengan ketampanan kakak tirinya, yang tidak pernah meninggalkan rumah sakit meskipun tidak mau berada di dalam kamar rawat jika ada teman-teman Jaehee datang.

   ”Jaehee-ya, ada tamu…” Hyorin berkata lembut pada Jaehee sambil menoleh kearahnya di tempat tidur.

   Mengernyit, Jaehee berusaha sedikit menegakkan posisi setengah duduknya, sementara Saeyeon membantu Jaehee menegakkan bantal sebagai sandaran Jaehee. Pertama-tama, yang Jaehee lihat adalah sebuket mawar merah sebelum pandangannya beralih pada si pembawa buket, yang tersenyum canggung pada ketiga temannya.

   ”J-joonmyun?”

   Joonmyun menatapnya, dan untuk pertamakalinya, Jaehee merasakan dadanya kembali dihimpit keras, namun sensasi yang perutnya rasakan berbanding terbalik dengan yang dadanya rasakan. Di satu sisi ia terkejut, di sisi lain, ia bisa merasakan wajahnya memanas hanya karena satu tatapan yang sudah lama ia rindukan.

   Joonmyun masih berdiri di hadapannya, menggenggam buket mawar merah, dalam balutan kemeja biru muda, yang lengannya digulung. Mengenakan celana kain dan sepatu kulit. Ia selalu terlihat rapi. Rambutnya, yang berwarna hitam disisir ke belakang, menegaskan dahinya yang selalu membuat Jaehee ingat betapa pintarnya pria di hadapannya itu. Betapa tampannya ia. Dan betapa Jaehee mencintainya.

   ”Maaf, aku tidak tahu kalau kau sedang menerima tamu,” katanya dengan suara pelan.

   ”Oh, gwenchana… kami sudah mau pulang,” seru Seowoo buru-buru.

   Joonmyun menggeleng-gelengkan kepalanya, mengulurkan buket bunga yang diambil oleh Hyorin yang langsung menyerahkannya pada dua tangan Jaehee yang gemetaran. ”Gwenchanayo, aku akan di depan bicara dengan Sehun.”

   ”Ah, ne…” Jaehee tidak menyadari betapa canggungnya mereka, dan ia bersumpah bisa melihat pipi Joonmyun sedikit bersemu sebelum mengangguk dan tersenyum pada Jaehee singkat, barulah ia keluar.

   Tanpa ia sadari sendiri, Jaehee mengembuskan napas dalam-dalam begitu Joonmyun meninggalkan kamarnya. Entah sejak kapan ia menahan napas, dan kepalanya terasanya ringan, setelah melihat Joonmyun barusan. Sekujur tubuhnya merasa hangat, jika bukan panas. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya tetapi ia merasa… hidup?

   ”Siapa dia, Oh Jaehee?” ketiga temannya menatap Jaehee curiga.

*        *        *

”Ini betul, kamar rawat Oh Jaehee?”

   Joonmyun tersadar dari tidur-tidur ayamnya. Sehun tadi pamit sebentar mau pulang ke rumahnya mengambil pakaian ganti dan membeli makanan, karena Jaehee ada tamu, tidak perlu ditemani. Kelelahan, karena belakangan ini hanya tidur di rumah sakit, Joonmyun akhirnya tertidur di kursi tunggu yang ada di depan kamar rawat Jaehee, dan terbangun saat seorang pria membangunkannya.

   Bukan pria biasa, tetapi Kim Woobin, pacar Jaehee.

   ”I…iya, ini kamar rawatnya,” jawab Joonmyun pelan sambil mengusap matanya. ”Jaehee sedang menerima tamu… tapi, masuk saja,”

   Woobin tersenyum padanya, pria itu juga membawa sebuket bunga, dan boneka beruang berpita. ”Apakah kita pernah bertemu?” tanya Woobin tiba-tiba sambil memiringkan kepalanya menatap Joonmyun lekat-lekat.

   Mengernyit. Joonmyun menggelengkan kepalanya ragu-ragu. Ya, mereka memang berada di lounge yang sama beberapa minggu lalu, tetapi mereka tidak bertegur sapa, tidak juga bertukar pandang.

   ”Tapi rasanya aku pernah melihatmu,” Joonmyun sebal sekali pada Kim Woobin yang tersenyum ramah padanya—kenapa pria ini begitu charming? Pantas saja Jaehee bisa jatuh cinta kepadanya. ”Apakah kau bekerja di dunia entertainment?”

   Joonmyun menggeleng, ”A…aku hanya kerja di kantor biasa,” gumamnya.

   ”Hmm, tapi rasanya aku pernah melihatmu, sering malah…” gumam Woobin berpikir keras, sebelum tersenyum kembali dan mengulurkan tangannya. ”Sudahlah, lupakan saja… aku Kim Woobin,”

   ”Halo, Woobin-ssi… Kim Joonmyun,” Joonmyun menjabatnya dan memberitahu namanya dengan suara pelan.

   ”Astaga!” seru Woobin sambil menjabat erat tangan Joonmyun. ”Itulah kenapa aku merasa begitu familiar denganmu! Jadi kau Kim Joonmyun yang hebat itu?! Astaga, akhirnya aku bertemu juga denganmu.” Woobin nampak sangat-sangat bersemangat saat mengetahui namanya, sementara Joonmyun hanya bisa melongo dan tidak paham dengan apa yang terjadi. Seharusnya ia yang senang bertemu dengan Woobin, pria itu kan terkenal! Kenapa malah sebaliknya?

   Joonmyun melepaskan jabatannya dan menatap Woobin ragu, ”K…kau kenal denganku, Woobin-ssi?” Kapan mereka pernah bertemu? Mau berpikir sampai otaknya sakit, Joonmyun tidak bisa ingat kapan dia dengan Kim Woobin pernah berkenalan.

   Woobin terkekeh membuka pintu kamar rawat Jaehee, ”Tentu saja. Kau cinta pertama yang tak kunjung bisa Jaehee lupakan.” Dan ia menghilang ke dalam, meninggalkan Joonmyun yang terperanjat tidak percaya dengan apa yang barusan saja ia dengar. Telinganya berulangkali mengulang kata-kata Woobin : Cinta pertama yang tak kunjung Jaehee lupakan.

-TBC-

Halo~ terima kasih untuk temen-temen yang mau baca dan ninggalin komen di part sebelumnya. Komen kalian suplemen kami para author /kisskiss. 

Seneng banget di part lalu banyak yang berbagi pengalaman soal penyakit meningitis, buat temen-temen readers yang punya keluarga / temen terkena penyakit yang sama, semoga cepet diberikan kesembuhan ya, sehat selalu ^^ || Sempet ada pertanyaan apakah meningitis ini sama kayak penyakit Gugun Gondrong? Jawabannya beda, kalo Gugun itu setau aku kalau nggak kanker ya tumor di otak makanya sampe harus di operasi, kalo meningitis aku belum pernah tau sih kalo ada yang sampe di operasi, orang-orang disekitarku yang kena meningitis gak pake operasi cuma emang rada lama sembuhnya. Tetangga ada yang hampir enam bulan di kursi roda terus karena penyakit ini hiks.

Terakhir, aku mau ngomongin masalah yang dialami sama rekan author di SKF, Helloimsj, kalian pasti kenal sama dia, yang ngedown karena FF-nya dibilang gak bermoral. Jujur sebagai sesama author walaupun aku gak kenal baik sama dia, aku ngerasain apa yang dia rasain. Suka / tidak suka pembaca dengan FF yang kita tulis itu hak masing-masing pembaca, tetapi balik lagi imajinasi dan fiksi yang ditulis pun hak masing-masing author. Saling menghormati aja, kalau memang mau memberi kritik membangun sampaikan dengan bahasa yang baik, gak perlu bawa-bawa moral dengan bahasa yang kasar.

Trus aku juga kecewa sama salah seorang pembaca Helloimsj yang ikut komen di announcement dia, yang bilang kalo dia itu harus kuat dan gak setuju sama keputusan dia yang mau berhenti karena keputusan Helloimsj dianggap bodoh. Maaf, bukannya apa-apa, aku sebagai author pernah ngerasain apa yang Helloimsj rasain ketika dikatain dengan bahasa kebun binatang sampe dibilang merusak moral. Author juga manusia, sebelum kamu bilang keputusan dia bodoh… coba pikirin dulu perasaan dia gimana waktu dikatain kalo dia merusak moral orang. Biarkan dia tenang dulu, dan lagi sampaikan kata-kata / masukanmu dengan baik. Jangan cuma karena akan kekurangan bacaan aja, jadi pada marah-marah karena dia mau berenti.🙂

Oke, sampe sini aja ceramahnya. Aku ngerasa aku perlu ngungkapin apa yang aku rasakan, maaf kalau mungkin aku terasa ikut campur sama masalah itu, tapi aku bener-bener gak bisa diem aja ngeliat ada Author yang diperlakukan gak adil kayak begitu.

Terima kasih lagi untuk pembacaku, yang ngasih kritik membangun dengan bahasa yang baik. Maaf gak dibales, tapi percayalah aku berusaha memperbaiki beberapa saran dan masukan dari kalian, aku bersyukur dapet pembaca yang baik seperti kalian, yang sangat sangat loyal untuk terus nunjukkin support dan mau aku berkembang lebih baik.

bye yeom

XoXo

Neez,

90 responses to “[IM]PERFECTION – 5TH SLIDE — by Neez

  1. Ska bgt sma sfat hun dsni yg mau mlindungi jaehee
    Dan tmbh sneng lgi krn jonmyn gak bsa nglupain jaehee gtu aja dan tmbh2 sneng lgi pas jonmyn udh mulai nyuekin si jiyn
    Hehe

  2. Jangan2 abis ketemu woobin ntar junmyeon nggak mau nemuin jaehee lgi, kasian juga sih merka sekali ketemu langsung canggung

  3. Ngebayangin JoonMyeon disini kok berasa ganteng banget ya??

    Oh dan part yg bener2 bikin baper adalah waktu mereka ketemu uaaaaa geli geli gimana gitu hihihi, dan part yg bikin aku puas pas JoonMyeon lagi sama Jiyeon, pasti si jiyeon malu banget kkkk

  4. Aku suka aku suka, setiap bagian part ini aku suka.
    Dari Junmyeon yg memutuskan untuk masuk ke kamar Jaehe, Junmyeon yg yg tegas ke Jiyeon si tukang maksa, kedatangan Junmyeon pas Jaehee udah bangun apalagi pas adegan ketemu Woobin itu. Duuh bener2 suka dan gak sabar sama kelanjutannya.

    Karya org disanjung bahkan dikritik, gak semua org berpikir untuk menghargai karya orang. Sabar yg banyak 😊😊 Tuhan gak pernah mengizinkan sesuatu terjadi tanpa ada hikmahnya

  5. akhirnya joomyun ke rumah sakit disaat jaehee tersadar
    nggak sabar nunggu disaat saat awkward joomyun jaehee

  6. Pingback: [IM]PERFECTION – 6TH SLIDE — by Neez | SAY KOREAN FANFICTION·

  7. akhirnya joonmyun bisa tegas juga y ke jiyeon
    sebel liat jiyeon yg masih aja gangguin joonmyun
    akhirnya joonmyun ketemu jae hee pas sadar
    moga aja dgn kata2 woonbin “cinta pertama yg tak kunjung jae hee lupakan ” hubungan joonmyun jae hee balik lg
    jd penasaran sm lanjutan critanya

  8. Ya ampun Kakak, aku telat banget bacanya. Baru buka skf, udah chapter 6 aja ternyata. Yaudah dehh, akhirnya nyari lagi chapter 5 karena belum sempat baca, hehe. Ini juga baru bisa santai, kemaren-kemaren sibuk ospek. Jam 5 shubuh udah harus ada di kampus. Pulangnya sore. Ngedrop banget jadinya. Nahh, bener tuhh Kak. Aku juga kadang kesel sendiri sama readers yang sukanya ngejudge doang. Emang dia pikir, bikin cerita itu mudah kali, yaa?!?! Nggak lah coyy, susah banget tau. Perlu inspirasi, waktu, dan kesehatan yang pasti, mood juga harus mendukung. Aduuhh, jadi baper ini malah, wkwkwk. Aku lanjut chapter 6 yaa, Kak😀

  9. AAAHH i’m late readers..
    Sebenernya,aku udah prnah baca part prtamanya pas kakak baru posting. Dan entah kenapa kemarin baru baca marathon part kedua smpe sekarang…
    Ahh aku mrasa brsalah ngga ngikutin klanjutannya tepat waktu..Tp aku ttep bakal ikutin klanjutannya kok~~ ㅋㅋㅋㅋ
    By the way,ceritanya seru abis. Dan maaf skali hanya bsa Kasih komentar di part ini dan ngga smpet ngasih komentar di part sebelumnya *soalnya marathon..haha 😂😂😂

  10. aku uda baca part 6 dulu jadi gak terlalu gimana kalo tau di part ini jaehee nya lumpuh hehehe tpi ya…kena aja feel nya masih kerasa skit juga tiap kali jaehee nya kumat.
    disini sehun jadi kakak.. hm,,, berbending terbalik di AIA.. hahaha
    dari sini santai aja lah bacanya😀

  11. Omona sehun ah, kaka yg baik, perhatian, kaka idaman dah pokonyaa.
    Mereka akhir ketemu juga tatap muka, walopun abis itu tbc hihi
    Okey joonmyeon skrg udh tau woobin itu cuma siapa
    Ahh ciie joonmyeon “Kau cinta pertama yang tak kunjung bisa Jaehee lupakan”
    Ahh penasaran part selajutnya ini.. makin seru lah

  12. Pingback: [IM]PERFECTION – 7TH SLIDE — by Neez (PG15++) | SAY KOREAN FANFICTION·

  13. Author neez tolong sembuhin jahee dan buat dy sma junmyeon lagi.. Hehehehe
    Aku baca author notenya dan ya aku kaget… Jujur baru hari ini ngunjungin skf dan baru tau author helloimsj dn masalahnya… Pdahal aku sering ngikutin critanya.. Ya ampun kasian bgt ya…

  14. Pingback: [IM]PERFECTION – 8TH SLIDE (END) — by Neez ~PG17/CUT VERSION | SAY KOREAN FANFICTION·

  15. wah akhirnya joonmyun dan jae hee ketemu, walaupun belum ngobrol. aku harap woobin bisa ngejelasin bahwa dia enggak ada hubungan apa-apa sama jae hee. dan jae hee sma joonmyun balikan deh.

  16. smapah gak nyangka ya penderita minibgitis sampai kayak gitu
    smpah pasti gak tega banget deh klo lhat scara langsung
    smpah ya pasti kluarga jaehee sdih bgt deh lhat dia kyak gitu
    wah junmyeon ktmu woobin
    cemburu kah dia

  17. Kasian Jaehee ㅠ.ㅠ Untung dia udah lumayan membaik. Aku seneng Joonmyun bisa tegas sama Jiyeon, ga kepengaruh sama kata2 pedesnya.
    Seneng juga pas Joonmyun dateng jenguk Jaehee. untung dia ketemu Woobin jadi dia tau kalau dia cinta pertama yang tak kunjung Jaehee lupakan😄

  18. Kasian Jaehee ㅠ.ㅠ Aku seneng Joonmyun mulai tegas sama Jiyeon. biar ga kepengarush sama kata2 pedesnya.
    Aku juga seneg pas Joonmyun jenguk Jaehee. untung sempet ketemu woobin. jadi dia tau kalau dia itu cinta pertama yang tak kunjung dilupakan😄

  19. Helloimsj? iya aku tau, tp gak tau masalah ini, dan lama gak baca ffnya. moga diberi jalan keluar yg baik. ah, bagaimana sekarang? aku telat mengetahui ini…. ah,

  20. Syukurlah jaehee udah sadar lagi :’)))))
    Semoga aja cepet pulih dan bisa jalan :’
    Buat mbak jiyeon yg tabah yaa cari cowok lain aja mbak wkwkwk
    Mas woobin juga yg tabah yaa sini sama dedek aja HHAHAHAHAH
    Ciyeee akhirnya dua sejoli ketemuuu 💞💞
    BALIKAN JUSEYOOOO 😂😂

  21. Oke aku sedih bgt pas baca bagian jaehee walaupun mati rasa dia tetap merasakan sakit jika meningitisnya kumat,dia ga bisa teriak atau apapun itu untuk menyalurkan rasa sakitnya dan dia cuman bisa ngerasain sakitnya doang😭 Semoga cepet pulih kembali dan balikan iya sama joonmyeonnya yaampun😅

  22. CLBK niyee….
    Cepet balikannya donggg…
    Entah kenapa aku kok merindingya denger penyakit menikitis….
    Semoga cepet sehmuh ya Jaehee….

  23. ini aku malh fokus ke Sehun, perhatian banget ama adeknya
    “kai memilih masuk, berarti tak ada jalan untuk kembali” bijak baget sumpah

  24. Enak kali yah punya kakak kayak sehun, tapi mending jadi papanya anak2 aja sih sekalian 😂
    Jaehee sudah mulai sembuh, sudah Ketemu sama junmen juga

  25. Yeheyyy. Jaehee mulai sembuh. Eh woobin baik ya, kirain bakal jahat gitu hehe. Jiyeon kekeuh bgt ya, nggk nyerah2. Heol-_-

  26. Kak,aku juga salah satu pembaca ff helloimsj,aku ngedukung apapun keputusan author helloimsj,aku juga baca komentar2 kasar sebagian readers disana,Serius komentarnya kasar bangt,aku gak suka sama reders yg comen kek gini”kak terusin napa,aku suka sama ff kaka,tapi kok kaka cuma mikirin diri sendiri sih,gk kasian apa sama readers disini”eh rasanya pengen ngebejek2 tuh orang,lah dia sendiri yg mikirin diri sendiri,dia yg gk mikirin kak helloimjs,oke maaf kok malah curhat :’3###woobin tendang aja dah,biar suho yg masuk ke ruang inap jae hee,biar bisaaa sweet scene lagi :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s