10 Steps Closer [9th Step]

10-STEPS-CLOSER-POSTER-3

Ziajung’s Storyline©

Casts: Park Chan Yeol | Choi Seo Ah | Lee Ji Eun

Genre: Romance, Angst, Marriage Life

Prev: Prolog | 1st Step | 2nd Step | 3rd Step | 4th Step | 5th Step | 6th Step | 7th Step | 8th Step

Extra 1 | Extra 2

Warning! Very Berry Long Part

———————————————–

9th Step

 

“Berikan aku waktu sebentar.”

 

***

                “Orang yang selama ini menyebut dirinya dengan Park Chan Yeol, ternyata sama sekali bukan seorang Park.”

“APA?!”

Braakk!

SUKBUNIM! JAGA MULUT ANDA!” Yoo Ra memukul meja, dan bangun dari duduknya. Wajahnya merah padam, menahan gejolak emosi yang besar di dirinya. Ia masih bisa menahan diri ketika mendengar semua menyebut Chan Yeol ‘anak haram’, tapi yang ini sudah kelewatan! Pamannya sudah melewati batas.

Mengabaikan pekikan Yoo Ra, Park Sang Yoon melempar sebuah map ke atas meja, menghasilkan bunyi nyaring yang menusuk sampai ke ulu hati. “Aku sudah menyelidikinya! Catatan medis Han Eun Jeong menyebutkan bahwa dia sudah hamil sebelum bertemu Seung Hyun hyeong di New York.”

Sang Yoon pun melempar pandangan ke Chan Yeol. “Eun Jeong diusir oleh orangtuanya karena hamil tanpa suami.”

Kaki Yoo Ra langsung kehilangan kekuatannya. Beruntung, sebelum ia jatuh menyentuh tanah, Yong Hwa sudah menahannya dan membawanya kembali duduk di kursi. Pengacara Lee menumpukan tangannya ke atas meja, tidak percaya kalau urusan ini semakin rumit. Ia sama sekali tidak tahu kalau kliennya menyimpan banyak sekali rahasia yang belum terungkap, bahkan setelah beliau meninggal. Park Na Rae juga sama terkejutnya dengan Yoo Ra. Astma-nya hampir kambuh kalau saja putranya tidak segera menggenggam tangannya dan memberikan inhaler. Meski ia membenci Chan Yeol dan fakta kalau oppa-nya lebih memilih anak haram itu daripada Yoo Ra atau adik-adiknya, berita yang baru Sang Yoon katakan benar-benar menghantam kepalanya.

Chan Yeol, yang biasanya pintar menyembunyikan ekspresi, kini tidak mampu. Matanya membulat dan seluruh tubuhnya terlihat sekali menegang. Wajahnya pias, masih memproses kata-kata pamannya. Ia bisa mendengar sisi hatinya yang pecah berkeping-keping, suaranya sangat keras sampai-sampai menulikan telinga. Ternyata ayahnya belum cukup menyiksanya selama ini, setelah meninggal pun beliau masih berusaha menyakiti Chan Yeol.

“Aku juga sudah memeriksa semua saksi, dan benar,” mata Sang Yoon menatap orang-orang di sana satu per satu. “Seung Hyun hyeong sama sekali tidak meneteskan darahnya ke orang itu!”

“Dan oleh sebab itu,” suara Sang Yoon meninggi, sekarang hanya kepada Pengacara Lee. “Orang itu tidak pantas mewarisi Golden Group. Aku yakin, dewan direksi juga setuju dengan pendapatku.”

“Tunggu dulu!” Jung Yong Hwa, yang sedari tadi diam karena tidak mau Yoo Ra bertambah khawatir, akhirnya bicara. Ia berdiri dari duduknya. “Chan Yeol sudah menorehkan banyak prestasi untuk Golden. Dia menaikan pendapatan dua kali lipat tahun ini, dan melebarkan Golden Resort sampai Guam. Bukankah—“

Sreg!

Ucapan Yong Hwa terpotong, dan seluruh perhatian berpusat pada Chan Yeol yang menggeser kursinya. Masih dengan wajah yang kosong dan kaku, pria itu berdiri, mengulurkan tangannya pada Seo Ah. “Ayo, kita sudah tidak ada urusan lagi di sini.”

Seo Ah membulatkan mata, tapi mulutnya masih terkatup. Sempat ragu menerima uluran tangan Chan Yeol—karena rasanya tidak sopan meninggalkan tempat ini begitu saja—akhirnya Seo Ah tidak kuasa juga. Chan Yeol membutuhkannya.

“Apa?! Dasar, Anak Jalang!”

Seperti mendapat penghinaan besar, Sang Yoon kembali berteriak. Namun suaranya yang menggelegar tidak bisa menghentikan Chan Yeol dan Seo Ah untuk tidak meninggalkan ruang makan. Tanpa menoleh sedikitpun, suami-istri itu keluar dari rumah mewah itu. Chan Yeol membukakan pintu mobil untuk Seo Ah tanpa mengatakan apapun, itu membuat Seo Ah juga mengurungkan niat untu bertanya. Kemudian, Chan Yeol pun ikut masuk ke dalam mobil.

“Kau sudah mengetahuinya, kan?” tanya Chan Yeol, tanpa menatap Seo Ah.

Seo Ah memutar kepalanya. Bola matanya bergetar.

“Reaksimu harusnya lebih dari itu. Kau pasti sudah mengetahuinya dari abeoji.” Mendengus, Chan Yeol mengeluarkan senyum pahitnya yang sekilas mirip dengan Yoo Ra.

Chan Yeol kira, Seo Ah akan menangis keras atau paling tidak, reaksinya akan sama dengan Yoo Ra. Tapi istrinya itu hanya diam, menunduk, dan meremas kesepuluh jarinya. Tubuh Seo Ah bergetar dan berusaha sekuat mungkin untuk menahan tangisannya. Jujur, Chan Yeol tidak suka melihatnya. Ia merasa seperti dikhianati untuk kesekian kalinya, dan yang ini paling menyakitkan.

Seo Ah masih tidak menjawab. Ia takut suaranya akan terdengar aneh, atau paling parah ia akan menangis keras. Rasanya menyakitkan, ia merasa juga ikut menyakiti Chan Yeol hari ini. Tapi sumpah, Seo Ah hanya tidak ingin menambahkan luka Chan Yeol.

“Jelaskan padaku semuanya di rumah.”

***

                Ruang tamu yang terang benderang tidak membantu suasana di antara kedua orang ini membaik. Mereka duduk berhadapan dengan dibatasi sebuah meja, persis seperti saat membuat ‘peraturan’. Chan Yeol sedang membaca surat yang diberikan Seo Ah begitu mereka sampai di rumah. Mulutnya terkatup rapat, namun matanya terus bergerak menyusuri satu per satu kata yang ditulis ayahnya. Seo Ah bisa melihat wajah Chan Yeol mengeras, menjadi kaku, seraya ujung matanya mulai memerah. Kertas itu pun bergetar.

Reaksi Chan Yeol memang lebih tenang daripada saat Seo Ah membacanya pertama kali, namun itu bukan berarti dia tidak terluka. Chan Yeol hancur seiring dengan kata-kata yang dibacanya. Sudah tidak terhitung berapa banyak sayatan yang tercipta di hatinya sekarang. Begitu pedih sampai rasanya ia ingin menghancurkan dirinya sendiri.

Ternyata ayahnya jauh lebih kejam dari yang ia duga.

Tiga lembar kertas berisi tulisan tangan ayahnya yang menceritakan rahasia terbesar dalam hidupnya. Bagaimana beliau sangat menyesal dengan keputusan yang ia buat. Chan Yeol sungguh ingin berkata kasar, tapi tidak tahu pada siapa ia berteriak. Amarah hanya berputar di satu arah, di dalam dirinya.

Mendengar bunyi kertas dilipat, Seo Ah pun mengangkat kepala. Chan Yeol kembali memasukkan lembaran kertas itu ke dalam amplop, lalu menghela nafas. Matanya masih menerawang, enggan menatap Seo Ah. Sikap Chan Yeol yang seperti itu membuat Seo Ah makin tertekan. Ia seperti dipojokan, meski sebenarnya Chan Yeol belum melakukan apa-apa.

“Jadi, abeoji dan eomma bertemu setelah lima belas tahun berpisah. Mereka tidak punya hubungan seperti yang kita bayangkan selama ini, meski abeoji sangat mencintai eomma….” Chan Yeol mencoba mencerna apa yang baru saja dibacanya.

Abeoji berada di bawah tekanan karena eommeonim tidak bisa melahirkan seorang anak laki-laki, sehingga posisinya di Golden terancam. Itulah kenapa abeoji datang kepada kami untuk memberi peringatan, tapi semua terlanjur salah paham dengan keberadaanku.”

Chan Yeol mendengus, lalu tersenyum pahit. Ia menundukkan kepala, sebelah tangannya memijit dahi. “Dan eomma meninggal karena melindungiku.” Ia menghela nafas panjang. “Harusnya abeoji memproduksi drama saja daripada menjadi pemimpin perusahaan!”

Seo Ah menggigit bibir bawahnya. Pikiran Chan Yeol pasti sangat kacau sekarang. Pria itu bisa saja menjadi gila dalam hitungan menit. Kenyataan yang harus ditelannya benar-benar pahit, Seo Ah bahkan tidak menyangka kalau Chan Yeol masih bisa menahan emosinya sejauh ini. Seo Ah memang tidak paham bagaimana rasanya itu, tapi dengan melihat Chan Yeol sekarang, itu pasti sangat berat.

Berbeda dengan Chan Yeol, Seo Ah dibesarkan di keluarga yang hangat dan penuh kasih sayang. Terlebih dia anak perempuan satu-satunya, ayahnya menjadi sosok yang kelewat protektif. Ibunya hanya ibu rumah tangga biasa, yang memiliki sebuah kafe sebagai sampingan. Dua saudara laki-laki yang selalu menemani dan melindunginya pun menjadi pelengkap. Sangat berbeda dengan Chan Yeol yang sudah terbiasa di lingkungan yang dingin. Di usia yang masih belia, dia bahkan sudah harus merasakan pahitnya kehilangan orang yang dicintainya.

“Maaf.”

Seo Ah tidak yakin ia meminta maaf untuk apa. Ia hanya merasa…. dirinya juga bersalah. Dirinya juga ikut menyakiti Chan Yeol sekarang.

“Melindungiku? Yang benar saja!”

Chan Yeol masih berbicara sendiri, meluapkan amarahnya. Wajah Chan Yeol berubah menjadi sangat menyeramkan, dengan nafas memburu, wajah memerah, dan urat di dahi dan lehernya yang timbul. Seperti monster. Tapi Chan Yeol berhak marah—Chan Yeol berhak meluapkan amarahnya sekarang, oleh karena itu Seo Ah hanya bisa menunduk.

Tidak bisa menahan gejolak emosinya, Chan Yeol pun menggeram dan berdiri dari duduknya. Ia berteriak keras sambil menarik rambutnya, berharap kepalanya bisa lepas saat itu juga hingga ia tidak perlu memikirkan apa-apa. Predikat ‘anak haram’ yang selama ini melekat padanya ternyata tidak ada apa-apanya dari kenyataan yang baru Chan Yeol ketahui. Ia bahkan lebih rendah dari sekadar ‘anak haram’.

Ia anak dari seorang bajingan.

Keberadaannya membuat semua orang menderita. Dimulai dari ibunya yang diusir keluarganya, hingga harus merantau keluar Korea setelah melahirkan Chan Yeol. Ayahnya—yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kelahiran Chan Yeol—mendapat banyak tekanan dari keluarga Park. Chan Yeol bahkan menjadi alasan keretakan rumah tangga ayah dengan ibu tirinya. Sampai akhirnya, ibu kandungnya harus berkorban untuk melindunginya.

Melindungi dirinya dari binatang buas Golden yang berusaha membunuhnya. Chan Yeol bahkan tidak mempunyai setetes pun darah Park.

Chan Yeol jatuh terduduk, tangis perihnya menggema di ruang tamu itu. Seo Ah juga menangis, tapi sekuat mungkin menahan agar suara tangisnya tidak terdengar. Wanita itu meremas kuat ujung rok yang dipakainya, bibirnya hampir mengeluarkan darah karena digigit terlalu kuat. Chan Yeol terlihat bagai serigala yang kehilangan kelompoknya. Sendirian, di kegelapan malam, bahkan bulan pun terhalang awan gelap. Udara dingin menemani lolongannya yang hampa. Ia kehilangan jati dirinya.

“Kenapa dia harus mati untuk manusia busuk sepertiku?!” teriak Chan Yeol, sambil kembali menarik rambutnya.

“Chan Yeol-ssi….”

Tidak tahan, Seo Ah pun menghampiri Chan Yeol dan memeluk pria yang sudah jatuh terduduk di lantai yang dingin itu. Ia menurunkan tangan Chan Yeol yang terus menarik-narik rambutnya, lalu ia menenggelamkan kepalanya ke rambut Chan Yeol. Meski tidak membalas, Chan Yeol tidak menolak pelukan Seo Ah. Mereka menangis bersama.

Tidak ada pembicaraan selama beberapa menit karena mereka hanya menangis. Chan Yeol-lah yang bisa menguasai dirinya pertama kali. Ia melepaskan pelukan Seo Ah. Ia membawa wajah Seo Ah untuk berhadapan dengannya, menghapus air mata Seo Ah, dan membelai rambut wanita itu. Ia tidak suka melihat Seo Ah menangis, itu membuatnya tambah sakit. Tapi kali ini, Chan Yeol tidak punya kata untuk menenangkan Seo Ah. Satu sisi hatinya secara tidak langsung juga terluka karena Seo Ah.

“Bolehkah aku meminta sesuatu padamu?” tanya Chan Yeol, masih menghapus air mata Seo Ah. Wanita itu hanya mengangguk sebagai jawaban, dan berusaha untuk berhenti menangis.

“Berikan aku waktu sebentar.”

Bola mata Seo Ah membulat mendengar permintaan Chan Yeol. Nafasnya tercekat di tenggorokan, membuat air matanya otomatis berhenti. Tapi hanya beberapa detik, sebelum Seo Ah menangis lebih keras sampai berteriak.

“KENAPA?!”

“Hanya sebentar….” bola mata Chan Yeol kembali bergetar. “Aku ingin sendiri.”

***

                Seo Ah kira, ‘sebentar’ yang diminta Chan Yeol adalah beberapa jam saja. Ia yakin pria itu akan kembali tengah malam dan tidur di sampingnya sambil memeluk Seo Ah erat-erat. Tapi itu tidak pernah terjadi. Terhitung sudah enam hari, sepuluh jam, lima belas menit, dua detik Chan Yeol meninggalkan rumah itu. Dan selama itu juga Seo Ah menunggu seperti orang putus harapan.

Wanita itu tidak pernah tidur nyenyak—nyaris tidak menutup matanya sama sekali. Ia selalu terbangun begitu mendengar suara sekecil apapun, berharap itu adalah suara langkah Chan Yeol atau deru mobilnya. Seo Ah tidak menikmati makanannya, meski Yoon Ahjumma sengaja memasakan makanan kesukaannya seminggu ini. Ia hanya menyuap beberapa sendok nasi saja, dan terkadang hanya memakan dua potong daging, sebelum mendorong kursinya dan kembali ke kamar atau perpustakaan. Di sana pun tidak banyak yang ia lakukan.

Ponsel Chan Yeol tidak bisa dihubungi, sesering apapun Seo Ah mencobanya. Ia pun sudah menghubungi Sekretaris Jung, tapi wanita itu mengatakan kalau Chan Yeol tidak datang ke kantor beberapa hari ini. Sekretaris Jung pun bertanya apa Chan Yeol sedang sakit atau hal lainnya. Seo Ah tidak menjawab, hanya langsung mengalihkan pembicaraan dan mengatakan untuk menghubungi Seo Ah kalau Chan Yeol datang ke kantor. Mendengar nada bicara Sekretaris Jung, sepertinya rumor itu belum tersebar di perusahaan—namun pasti cepat atau lambat akan meledak. Kalau itu sudah terjadi, orangtua Seo Ah pasti akan langsung memanggilnya.

Bagaimanapun keluarga Seo Ah masih berada di kelas atas, masalah seperti itu akan berdampak besar untuk perusahaan keluarga Choi. Belum lagi sifat ayahnya yang sangat protektif. Seo Ah bisa membayangkan apa yang ayahnya katakan kalau tahu siapa Chan Yeol sebenarnya.

Perceraian.

Sumpah. Seo Ah rela berlutut setahun penuh di depan ayahnya kalau ia diminta bercerai dengan Chan Yeol.

Seo Ah sekarang berada di perpustakaan, di rumah. Ia duduk di kursi tempat Chan Yeol biasa duduk sambil menyelesaikan pekerjaannya. Terkadang, Seo Ah sering iseng duduk di sini hanya sekadar ingin merasakan empuknya kursi berbahan kulit asli ini dan berputar-putar sambil menjalankan kursinya ke sana-ke mari. Tapi kali ini ia hanya duduk diam, merebahkan kepalanya ke atas meja kerja Chan Yeol. Semua benda di sini terasa dingin tanpa kehadiran pria itu. Perlahan, jari Seo Ah bergerak ke amplop coklat yang tergeletak di sana, menyentuh pinggiran benda itu.

Chan Yeol meninggalkan surat itu di sini, membuat Seo Ah kembali merasa remasan di jantungnya. Harusnya waktu itu Seo Ah berbohong saja, melebih-lebihkan reaksinya saat pamannya Chan Yeol mengatakan hal itu. Dengan begitu, Chan Yeol tidak akan curiga, dan dirinya juga tidak akan menyerahkan surat ini.

Ah… bahkan harusnya Seo Ah tidak mengunjungi ayah Chan Yeol sekalipun. Sehingga ia bisa terus menyalahkan beliau tanpa merubah fakta apapun.

Atau mungkin… harusnya Seo Ah tidak menerima perjodohan ini, dan berpura-pura dihamili Se Hun hingga ia bisa melarikan diri ke Amerika dan mendaftar ke Julliard.

Gila! Iya! Seo Ah sudah gila!

Seo Ah meraih amplop itu dan meremasnya. Tangannya bergetar, bersamaan dengan air mata yang kembali mengalir dari sudut matanya. Remasan itu sama sekali tidak mengurangi pedih di hati Seo Ah, malah semakin pedih—seperti luka yang ditaburi garam. Kata-kata yang tertuang di surat dalam amplop ini seolah meresap ke setiap sel kulit Seo Ah.

Masih berbekas jelas apa yang ditulis mertuanya di dalam surat itu. Pembukaan yang terkesan menyedihkan, dan terselip rasa menyesal yang luar biasa. Ayah Chan Yeol bertemu dengan ibu kandung Chan Yeol tiga puluh empat tahun yang lalu. Mereka adalah teman masa SMA, dan baru bertemu lima belas tahun kemudian. Ayah Chan Yeol menceritakan bagaimana bahagianya ia bertemu dengan ibu kandung Chan Yeol—yang bernama Han Eun Jeong—karena ia merupakan cinta pertamanya.

Dari surat itu pula Seo Ah mengetahui kalau Kim Bo Young—ibu tiri Chan Yeol—dan Park Seung Hyun menikah karena perjodohan, tanpa dasar cinta. Setelah melahirkan Yoo Ra, Bo Young divonis memiliki kanker rahim, hingga rahimnya pun harus diangkat. Posisi Seung Hyun terancam karena keluarga Park menganut garis keturunan laki-laki, itu artinya laki-laki tertua di setiap generasi berhak menjadi pewaris Golden. Seung Hyun bukannya tidak percaya kepada saudara-saudaranya, tapi memang sifat mereka bisa membawa Golden ke era kehancuran. Satu-satunya harapan adalah melahirkan anak laki-laki yang bisa dijadikan pewarisnya, tapi… harapan itu rasanya terlalu jauh untuk diraih.

Sampai akhirnya Seung Hyun menemukan Eun Jeong. Ia jatuh cinta sekali lagi dengan wanita itu, meski takdir menyedihkan terus membututi wanita itu. Eun Jeong sudah berbadan dua saat pertama kali Seung Hyun menemukannya, di pinggiran kota New York. Seung Hyun hampir menyerah terhadap mimpinya, sampai akhirnya ia mengetahui kalau Eun Jeong sama sekali tidak mempunyai suami.

Choi Seo Ah terisak keras, mengingat kembali tulisan tangan ayah mertuanya. Di sana tertulis bahwa Eun Jeong adalah korban pemerkosaan sekelompok orang, dan Chan Yeol adalah anak bajingan yang sama sekali tidak diketahui identitasnya.

Kesalahpahaman mulai terjadi di keluarga Park ketika Chan Yeol lahir. Mereka menyangka Seung Hyun dan Eun Jeong adalah pasangan terlarang, dan Chan Yeol-lah hasil hubungan gelap mereka. Melihat keributan di keluarganya, Seung Hyun pun semakin mengkhawatirkan keberadaan Eun Jeong dan Chan Yeol. Ia takut kalau keluarganya akan melukai mereka berdua.

Dan itu terjadi. Bermula dari surat kaleng yang sering Eun Jeong terima, kecelakaan-kecelakaan kecil yang menimpa Chan Yeol, sampai akhirnya… tragedi tabrak lari itu. Meski masih belum yakin, tapi Seung Hyun mempunyai firasat kalau ada dalang dari semua itu, dan ia berasal dari keluarga Park. Sampai akhir hayatnya pun Seung Hyun tidak menyebutkan siapa orang yang ia curigai itu. Ia tidak mau menyakiti Chan Yeol lebih dalam lagi. Ia ingin melindungi anak itu, meski dengan menyakiti anak itu juga pada akhirnya.

Seo Ah menghapus air mata dan mengangkat kepalanya yang berat ketika mendengar ketukan pintu perpustakaan. Yoon Ahjumma muncul dari balik pintu sambil membawa sebuah kotak berwarna merah muda dan berpita cantik. Wanita paruh baya itu pun menghampiri Seo Ah, meletakkan kotak itu di atas meja.

“Ada kiriman paket untuk Nyonya.”

“Dari siapa?”

Yoon Ahjumma tersenyum. “Dari Tuan, Nyonya.”

Tanpa berpikir dua kali, Seo Ah membuka bungkusan paket itu. Senyum Yoon Ahjumma makin lebar, ia pun mohon diri keluar dari perpustakaan, membiarkan Seo Ah menikmati waktunya. Ia tahu betul bagaimana majikannya itu merindukan suaminya. Yoon Ahjumma memaklumi Seo Ah yang tidak menghabiskan makanannya belakangan ini, dan jawaban dingin Seo Ah saat dirinya bertanya. Satu-satunya yang bisa mengembalikan senyum Seo Ah hanya seorang Park Chan Yeol. Sebuah kotak sedang itu pasti membuat Seo Ah pecah dalam kebahagiaan.

“AHHH!!”

Yoon Ahjumma baru menutup pintu perpustakaan saat teriakan itu terdengar. Bukan—itu bukan teriakan penuh kebahagiaan. Buru-buru Yoon Ahjumma membuka lebar pintu itu lagi. Ia melihat Seo Ah berdiri dari kursinya. Wajah wanita itu sangat ketakutan, dengan bola mata membesar dan tubuh yang bergetar hebat. Kedua tangan menutup mulutnya, Yoon Ahjumma pun bisa melihat air mata mengalir deras dari matanya.

Pandangan Yoon Ahjumma berpindah pada kotak yang menelungkup di atas meja. Ia pun menghampiri Seo Ah, memeluknya sebelum wanita itu jatuh bersimpuh di lantai. Seo Ah benar-benar ketakutan, sampai-sampai Yoon Ahjumma bisa merasakan bulu romanya juga berdiri. Dengan tangan gemetar, Seo Ah menunjuk kardus yang ada di atas meja.

Yoon Ahjumma berdiri, membalik kotak yang terlungkup di atas meja itu. Ia hampir berteriak kalau saja tangannya tidak bergerak cepat untuk menutup mulutnya. Bau anyir darah—entah darah apa itu—menguar langsung, memenuhi udara perpustakaan yang biasanya bearoma citrus. Warna merah pekat itu menodai setangkai mawar putih yang merekah itu, menciptakan bercak mengerikan. Setengah kelopak mawar itu sudah berubah menjadi hitam karena darah.

Tapi tidak hanya itu. Sebuah kartu ‘ucapan’ juga terselip di sana, ditulis dengan darah yang sama. Beberapa huruf terlihat sudah melebar, bergabung dengan huruf yang lain, namun masih bisa diperkirakan isi tulisan itu.

‘Jauhi Park Chan Yeol, sebelum kau menyesal.’

“N-Nyonya, haruskah kita menelepon polisi?”

Seo Ah menggeleng panik. Menelepon polisi sama saja menambah masalah baru. Seluruh masalah keluarga Chan Yeol akan terungkap, dan itu semakin membahayakan posisi Chan Yeol maupun dirinya.

“Tidak. Tidak perlu.”

Drrt… drrt…

Masih berusaha mengumpulkan nyawanya, sementara Yoon Ahjumma membereskan kotak itu, Seo Ah meraih ponselnya yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya jatuh. Nama kontak Sekretaris Jung muncul di layar. Dengan cepat, Seo Ah menjawab panggilan itu.

“Ya?”

“Nyonya, Park Sajangnim baru saja datang—“

Tanpa menunggu kelanjutannya, Seo Ah segera berdiri dan keluar dari perpustakaan. Ia mengambil dompet dan kunci mobilnya di kamar, lalu meninggalkan rumah. Hanya dengan berita singkat dari Sekretaris Jung, Seo Ah sudah berhasil mengalahkan ketakutannya. Ia tidak peduli kalau saat keluar rumah seseorang mungkin saja sudah menunggu untuk menusuknya. Ia hanya ingin bertemu Chan Yeol—itu saja. Ia ingin melihat wajah pria itu dan memastikan kalau Chan Yeol baik-baik saja. Setidaknya… hanya dengan mendengar suaranya.

Seo Ah hanya memakai skinny jeans dan kaus dengan sandal jepit. Penampilannya sangat mengerikan, ditambah dengan rambut berantakan dan mata yang membengkak. Pipi Seo Ah juga masih sembab—wajahnya lebih mirip balon daripada seorang istri pemimpin perusahaan. Seo Ah terus menggenggam roda stirnya erat-erat. Matanya fokus ke jalan raya, dan menginjak pedal gasnya dalam-dalam. Seumur hidupnya, baru kali ini Seo Ah mengendarai mobil di atas 120 km/jam.

Seo Ah memperlambat laju mobilnya saat mendekati lampu merah. Tangannya bergerak gelisah. Ini merupakan enam puluh detik terlamanya. Akhirnya, lampu itu berubah menjadi hijau dan mobil di depannya mulai bergerak. Seo Ah berbelok di pertigaan setelah lampu lalu lintas, dan tiba-tiba saja ia merasakan hantaman dari belakang mobilnya. Seo Ah kehilangan kendali, mobilnya pun menabrak tiang rambu jalan sampai ringsek.

Kejadiannya begitu cepat, sampai Seo Ah sendiri tidak paham. Ia hanya merasakan sakit yang hebat menyerang kepala dan dadanya. Kepalanya sempat membentur stir dan jendela tadi. Bagian depan mobilnya mengeluarkan asap, tapi Seo Ah tidak bisa berbuat banyak karena kesadarannya mulai menipis. Hal terakhir yang ia dengar adalah orang-orang yang memanggilnya sambil mengetuk kaca mobil, sebelum kegelapan memenuhi pandangan Seo Ah.

***

                Bunyi musik keras dan teriakan orang-orang tidak mampu membuat hati Park Chan Yeol kembali terisi. Lagi, ia meneguk Whiskey-nya. Bisa dibilang tempat ini menjadi rumah sementara Chan Yeol setelah pergi dari rumah beberapa hari yang lalu. Ketika kesadarannya sudah menipis, Chan Yeol akan menelepon supir pengganti dan mengantarkannya ke tempat penginapan—entah apapun itu, mau hotel atau motel tempat bercinta para jalang. Ke mana saja, asalkan tidak ke rumah.

Ia tidak mampu menghadapi Seo Ah. Tidak, Chan Yeol tidak membenci wanita itu atau bahkan marah sekalipun. Demi apapun, ia hampir mati merindukannya. Chan Yeol tidak bisa menghadapi Seo Ah dengan keadaan seperti ini—ia terlalu menyedihkan. Bahkan Chan Yeol sendiri tidak tahu jati dirinya saat ini. Ia tersesat, dan tidak bisa menemukan jalan pulang.

Siang ini, ia datang ke kantor untuk menghadiri rapat direksi yang ‘mengandung’ pengumuman tentang siapa status dirinya sebenarnya. Pamannya membeberkan semuanya, tanpa peduli citra Golden akan tercoreng detik itu juga. Pandangan orang-orang di tempat itu berubah dalam hitungan detik, cibiran dan hinaan memenuhi ruang rapat. Meski mereka belum bisa memutuskan langkah apa yang akan diambil selanjutnya, dan akan membahasnya lagi pada rapat bulan depan bersama seluruh anggota direksi dan investor, sampai rapat berakhir pun hinaan mereka tidak berhenti mengalir.

“Anak haram!”

                “Bahkan dia tidak mempunyai darah Park!”

                “Seung Hyun pasti gila sudah mengakui anak kotor itu sebagai anaknya.”

Sepanjang perjalanan menyusuri jalanan yang belum pernah sekalipun ia lalui, Chan Yeol tertawa pahit mengingatnya. Ia tidak tahu ke mana ia membawa mobilnya, sampai akhirnya tersesat ke provinsi Gangwon. Pikiran Chan Yeol benar-benar kosong. Ia mendatangi bar di tempat yang sama sekali tidak ia kenal, meminum banyak alkohol, menghabiskan satu bungkus rokok sekaligus, dan mabuk. Ia hanya beruntung dirinya tidak termakan belaian pelacur di tempat ini. Tidak tahu apa yang akan ia lakukan pada dirinya sendiri jika itu terjadi. Ia mungkin akan bunuh diri di depan Seo Ah.

Chan Yeol baru ingin menenguk minumannya lagi saat seseorang menahan tangannya. Chan Yeol mendecih, menepis tangan ramping itu. Harus kata kasar yang seperti apa supaya mereka berhenti menggoda Chan Yeol. Asal tahu, sejak Chan Yeol melangkahkan kakinya ke tempat ini, ia sudah menjadi pusat perhatian. Dengan pakaian mahalnya, tatapan tajam yang dipadu dengan aura dingin, ia benar-benar mengeluarkan kharisma yang tidak biasa. Wanita-wanita murahan itu berdatangan seperti lalat, tidak peduli jika ucapan kasar terus Chan Yeol lemparkan pada mereka.

“Sudah cukup.”

Chan Yeol terpaku beberapa detik. Ia kenal suara ini. Wanita yang menjadi satu-satunya yang Chan Yeol izinkan mendekat. Teman pertamanya.

“Ayo, aku antar oppa ke hotel.”

***

                Setelah menyuruh sekretarisnya pergi, Ji Eun pun menutup pintu kamar hotel yang dipesannya. Akhirnya ia menemukan Chan Yeol. Ia curiga saat Chan Yeol tidak juga menemuinya padahal pameran lukisan sudah dimulai beberapa hari yang lalu. Chan Yeol tidak ada di rumah maupun kantornya. Ji Eun juga menelusuri beberapa hotel, sampai akhirnya ia berhasil melacak ponsel Chan Yeol yang selalu dimatikan itu. Pria ini hidup berpindah-pindah seperti manusia gua.

Dan… dengan keadaan mabuk.

Ji Eun berhasil menemukan Chan Yeol kemarin, tapi baru kali ini ia bertindak. Setelah mengetahui Chan Yeol kekacauan yang menimpa pria itu, Ji Eun tidak bisa menahan diri lagi untuk menunggu. Ji Eun tidak tahu harus mengatakan apa, ini di luar pikirannya. Berita itu membuat heboh hampir satu Korea. Bagaimana tidak, pewaris Golden ternyata sama sekali tidak memiliki darah Park, padahal perusahaan itu terkenal dengan garis keturunan yang kuat. Dan yang membuat Ji Eun tambah terkejut, Chan Yeol sama sekali tidak menghubunginya, setidaknya untuk menceritakan sedikit apa yang dialaminya.

Tapi kemudian, bukan hanya itu yang membuat Ji Eun marah. Tingkah Chan Yeol kali ini benar-benar konyol! Chan Yeol tidak pernah minum alkohol sampai mabuk seperti orang dungu. Pria itu pun tidak pernah mau jika diajak ke tempat dengan banyak jalang murahan seperti itu. Ji Eun yang jengkel akhirnya membawa Chan Yeol ke sebuah hotel bintang lima.

Dilihatnya Chan Yeol yang terus merintih di atas kasur. Satu tangannya memijit dahi, berusaha mengurangi efek alkohol. Tapi itu tidak berhasil, hingga rintihan itu berubah menjadi geraman.

“Air….”

Ji Eun mendesah. Ia pun mengambil sebotol air mineral dari kantong plastik bertuliskan nama sebuah minimarket di dekat hotel tadi. Di dalam kantong itu juga ada beberapa minuman isotonik dan makanan ringan. Ji Eun lalu menyerahkan botol itu ke Chan Yeol yang masih terbaring di atas kasur.

“Kenapa Oppa tidak cerita padaku? Oppa tidak pernah seperti ini sebelumnya.”

Chan Yeol, yang sudah duduk dan menegak habis air mineral itu, menjawab dengan nada tanpa minat. “Geunyang.”

Ji Eun mendengus setelah mendengar jawaban Chan Yeol. “Aku tidak menyangka oppa menjadi seperti ini.”

“Apa maksudmu?”

Oppa menjadi pengecut! Penakut! Menyimpan semuanya sendiri tanpa melakukan apa-apa, dan berharap semuanya akan membaik begitu saja? Bodoh!”

Chan Yeol kembali memijit dahinya. Ia sedang tidak ingin berdebat dengan siapapun, termasuk Ji Eun. Ia pun merebahkan tubuhnya lagi, dan mencoba menutup mata—mengabaikan Ji Eun yang masih berdiri di sebelah kasur.

“Terserah saja.”

“Choi Seo Ah ternyata tidak terlalu bagus untukmu, kan?”

Oke, Chan Yeol mulai membenci mulut Ji Eun yang tidak membiarkannya istirahat. Apa maksudnya membawa nama Seo Ah? Dengan terpaksa, Chan Yeol membuka kembali matanya. Ia duduk di tepian kasur, berhadapan dengan Ji Eun. Kepalanya yang masih berdenyut itu seakan mendidih sekarang, membuat Chan Yeol rasanya ingin membenturkan kepalanya pada apapun.

Dengan tangan yang memegang kepalanya, Chan Yeol menggeram—menyuruh Ji Eun berhenti. “Lee Ji Eun!”

Tapi, Ji Eun yang sudah dikuasai emosi, tidak mau berhenti. Ia tidak mau mengalah kali ini. “Kenapa oppa tidak datang kepadaku dan mengeluh seperti dulu? Kita bisa mencari jalan keluarnya bersama, dan… semua akan lebih baik jika seperti itu. Kita akan semakin kuat.”

“Aku tidak sama seperti dulu, Ji Eun-a.” Chan Yeol mengangkat kepalanya, menatap tepat ke mata Ji Eun. “Aku sudah berubah—kita juga berubah.”

“Tidak. Tidak ada yang berubah.” Jujur, Ji Eun ketakutan melihat tatapan Chan Yeol. Bukan rasa takut yang biasa, tapi takut karena pancaran mata Chan Yeol menggambarkan kesungguhan hatinya. Ji Eun tidak siap untuk menerima kenyataan pahit.  “Aku masih di sini, menunggumu. Aku tetap diam di titik yang sama dan terus mencintaimu.”

Chan Yeol menggeleng. Ia sama sekali tidak habis pikir dengan sifat keras kepala Ji Eun. Lee Ji Eun yang dikenalnya selalu memberikan Chan Yeol waktu ketika pria itu membutuhkannya—Chan Yeol pun juga sama. Toleransi yang masing-masing mereka berikan sangat tinggi. Chan Yeol tidak ingin mencampuri urusan Ji Eun, begitpun sebaliknya. Tapi jika mereka sudah membuka diri dan bercerita, maka jalan keluar sudah di depan mata.

“Bisakah kita bicara nanti? Aku sedang ingin sendiri, jadi tolong tinggalkan aku.”

“Apa yang Choi Seo Ah miliki sedangkan aku tidak?” tanya Ji Eun, dengan suara yang bergetar.

“Lee Ji Eun! Cukup!”

Chan Yeol berteriak, bahkan pria itu juga berdiri dari duduknya. Tubuh Chan Yeol menjulang di hadapan Ji Eun, membuat wanita itu semakin gemetar. Ini pertama kalinya Ji Eun merasa setakut ini pada Chan Yeol. Pria itu tidak pernah berteriak padanya, tidak pernah berkata kasar, meski tidak pernah juga merayunya dengan kata-kata manis. Tapi Ji Eun sangat menyukai sosok Chan Yeol yang seperti itu—seperti… memperlakukan dirinya dengan istimewa.

Bentakkan Chan Yeol belum juga mengalahkan ego Ji Eun. Wanita itu terus mengoceh. “A-Aku lebih cantik darinya, pekerjaanku jauh lebih baik, dan orangtua tiriku juga sangat menyayangiku—jadi apa yang kurang? Aku bahkan jauh lebih memahamimu daripada dia.”

Chan Yeol mendesis. Ia memejamkan mata, mengatur nafasnya agar tidak kembali berteriak. “Kumohon, pergilah!”

“Tidak. Aku tidak mau pergi!” kini, giliran Ji Eun yang membentak. “Aku tidak akan pergi sebelum membuatmu kembali seperti dulu!”

Tanpa diantisipasi Chan Yeol, Ji Eun mengambil satu langkah mendekat kepadanya. Diturunkan blazer yang tersampir di bahu mulusnya, menyisakan blouse tanpa lengan berwarna putih. Blouse itu cukup transparan sampai bra hitam Ji Eun terlihat samar—dan Chan Yeol baru menyadarinya. Jari-jari lentik Ji Eun mulai membelai dada bidang Chan Yeol yang terbalut kemeja hitam, terus bergerak naik sampai ke leher pria itu. Tubuh Ji Eun semakin mendekat, wanita itu pun mendekatkan bibir merahnya ke bibir Chan Yeol.

Dengan suara rendah, Ji Eun berkata; “Dulu, kau tidak pernah menolak tubuh ini. Dan sekarang pun begitu.”

“Hentikan.”

Tapi Ji Eun tidak menurut, ia terus mendekatkan bibirnya ke bibir Chan Yeol. Sampai akhirnya Chan Yeol memalingkan wajah dan menjauhkan tubuh Ji Eun darinya sejauh satu lengan. Tatapan Chan Yeol menjadi lebih mengerikan dari sebelumnya. Mata Ji Eun membulat, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tidak hanya menolak, Chan Yeol juga menyimpan amarah padanya. Apa artinya ini?!

Oppa.”

“Pergilah.”

“T-Tapi—“

“Aku tidak mau membencimu.” Chan Yeol menatap lurus mata Ji Eun. Meski ucapannya terdengar lembut, sebenarnya ia sedang menahan amarah. “Jadi tolong pergilah sebelum aku benar-benar melakukan itu.”

Harga diri Ji Eun benar-benar sudah jatuh dan terinjak. Meraih blazer dan tas tangannya, Ji Eun pun keluar dari kamar hotel itu, menyisakan Chan Yeol yang duduk di pinggir kasur dengan kepala tertunduk. Sungguh hari yang berat untuknya. Ia tidak bodoh—Chan Yeol tahu persis kalau Ji Eun mencintainya sejak dulu. Chan Yeol akui, ia juga menyukai Ji Eun, namun hanya sebatas teman dan partner dalam beberapa hal. Hati Chan Yeol tidak pernah bisa menerimanya, sekuat apapun ia mencoba.

Chan Yeol pertama kali merasakan hal yang berbeda dengan Seo Ah. Awalnya ia pikir, ini perasaan yang sama seperti yang ia rasakan terhadap Ji Eun, tapi lama kelamaan perasaan ini malah membuatnya jengkel. Ia tidak pernah bisa mengeluarkan Seo Ah dari pikirannya, paling tidak omelan wanita itu terus membekas. Chan Yeol selalu bisa bersikap toleran ketika Ji Eun bersama pria lain, tapi ia tidak pernah bisa melakukan itu pada Seo Ah. Amarahnya menyulut dengan cepat, membumi hanguskan hatinya seperti bom nuklir. Bahkan hanya mendengar Seo Ah menyebutkan nama pria lain di depannya saja ia tidak suka.

Chan Yeol mulai bisa merasakan apa arti ‘keluarga’ dalam hidupnya. Ia selalu ingin pulang cepat-cepat dari kantor, menikmati makan malam bersama dengan Seo Ah, atau paling tidak melihat wanita itu menunggunya di ruang tamu. Chan Yeol selalu suka saat mereka bekerja bersama di perpustakaan. Ia suka melihat Seo Ah marah-marah ketika Chan Yeol menghabiskan makanannya; mendengar Seo Ah marah-marah sendiri saat menonton drama; melihat tatapan menerawang Seo Ah saat menceritakan Julliard; melihat bola mata Seo Ah yang berputar untuk mencari jawaban; bahkan saat Seo Ah berbicara dalam tidur. Semua hal-hal kecil itu yang membuatnya tanpa sadar sudah jatuh terlalu dalam untuk Choi Seo Ah.

Dibanding dengan Ji Eun, fisik Seo Ah sama sekali bukan tandingan. Ji Eun memiliki segala hal yang diimpikan wanita Korea manapun. Chan Yeol tidak munafik, ia menyukai tubuh Ji Eun. Tapi tubuh itu tidak bisa membuatnya ingin melakukan lagi dan lagi seperti candu. Ia hanya melakukan karena kebutuhan dan pelampiasan. Dengan Seo Ah, Chan Yeol bahkan menciptakan berbagai fantasi liar di otaknya—seperti remaja puber. Ciuman yang dimulai dari kecupan ringan—dan sama sekali tidak pro—sampai lumatan dalam dan basah benar-benar membuatnya tidak ingin melepaskan wanita itu. Membuat Chan Yeol ingin selalu memeluknya.

Sial! Ia benar-benar merindukan Seo Ah sekarang.

Chan Yeol terkekeh sendiri, tapi anehnya air mata mengalir dari sudut matanya. Ia telah melakukan hal yang bodoh! Padahal ia memiliki Seo Ah, untuk apa melarikan diri seperti ini?! Ia bukan tersesat, tapi tidak ingin membuka GPS dengan teknologi termutakhir yang bisa menuntunnya langsung menuju rumah.

Chan Yeol baru menyadari, ‘Park’ atau ‘Pewaris Golden’ itu bukan masalah. Ia tidak perlu mencari identitas baru meski nama keluarganya berganti. Ia selalu punya rumah untuk pulang, rumah yang selalu terbuka dengan pelukan hangatnya. Rumah yang tidak peduli mau dirinya seorang Park atau gelandang jalanan. Rumah yang selalu memberinya perlindungan dan ada ketika ia membutuhkan.

Choi Seo Ah. Ya, wanita itu rumahnya.

***

                Kepala Chan Yeol masih belum pulih ketika ia memutuskan untuk pulang ke rumah. Ia menelepon supir pengganti dan berangkat sekitar pukul setengah empat pagi. Langit masih gelap, dan jalanan sangat sepi—seperti hatinya. Chan Yeol tidak bisa tidur meski perjalanan yang mereka tempuh cukup jauh dan membosankan. Ia hanya terus membuang pandangan ke luar jendela. Memandang langit yang perlahan menyemburatkan rona oranye yang indah, Chan Yeol kembali teringat wajah Seo Ah. Rasa rindu ini bisa membunuhnya kapan saja.

Mobil Chan Yeol tiba di pelataran rumahnya ketika matahari sudah sepenuhnya terbit. Setelah membayar, Chan Yeol menyeret langkahnya menuju pintu. Efek alkohol masih bekerja padanya, tapi Chan Yeol tetap memaksakan diri. Sampai akhirnya ia berhasil memasukan kombinasi password pintu, dan melangkah masuk.

Orang yang pertama ia temui bukanlah Seo Ah, tapi Yoon Ahjumma. Mendengar suara tombol password ditekan dan pintu terbuka, ia pun meninggalkan ruang tamu dan melongok ke arah pintu. Betapa terkejutnya dia ketika melihat majikannya datang dengan penampilan yang jauh dari kata rapi. Kemeja yang kusut dan keluar dari selipan celana, rambut berantakan, mata setengah terbuka, dan aroma alkohol yang sangat kuat. Sembilan tahun bekerja untuk keluarga Park, baru kali ini Yoon Ahjumma melihat penampilan Chan Yeol yang seperti ini. Chan Yeol memang bukan tipe penurut, tapi dia bukan anak nakal yang menghabiskan uang orangtuanya dengan mabuk-mabukan.

“T-Tuan….”

Meski masih terkejut, Yoon Ahjumma berusaha menyapa Chan Yeol dengan biasa. Ia membungkukkan badannya dan mengambil alih jas yang sedari tadi dipegang Chan Yeol.

Mata Chan Yeol menatap sekeliling. “Di mana Seo Ah?”

“Nyonya ada di atas, di kamar Anda.”

Chan Yeol tidak membalas, hanya langsung naik ke lantai dua, menuju kamarnya. Yoon Ahjumma memang sudah tahu kalau Chan Yeol dan Seo Ah tidak lagi pisah kamar, tapi sepertinya dia masih canggung. Dan terkadang, Seo Ah masih menggunakan kamar lamanya untuk sekadar menonton drama—oleh sebab itu, Yoon Ahjumma berkata seperti itu.

Chan Yeol terdiam di depan pintu kamarnya. Otaknya tiba-tiba berhenti bekerja, membuat seluruh tubuhnya kaku. Seo Ah ada di dalam sana, dan entah kenapa Chan Yeol malah takut. Ia pasti sudah membuat wanita itu khawatir beberapa hari ini, dan parahnya membuat Seo Ah menangis. Apa Chan Yeol masih berhak untuk melihat Seo Ah, setelah menggoreskan begitu banyak sayatan di hati wanita itu? Tidak—Chan Yeol pun mundur satu langkah. Rasanya ia terlalu bajingan kalau masih berani melihat wajah Seo Ah setelah membuatnya menangis.

Tapi Chan Yeol merindukannya—setengah mati.

Chan Yeol menatap pintu berwarna coklat di depannya. Hanya benda itu yang menjadi pemisah, dan tentu bukan hal yang sulit untuk membukanya. Hanya satu langkah dan Chan Yeol akan kembali melihat dunianya, keluar dari kegelapan yang beberapa hari mengelilinginya. Ia ingin memeluk Seo Ah, merasakan nafas hangat wanita itu di dadanya, mendengar suara Seo Ah, menciumi setiap inci wajahnya, dan tidak ingin melepaskannya. Kalaupun ia membuat Seo Ah menangis lagi, ia ingin menjadi satu-satunya orang yang menghapusnya. Ia sangat mencintai Seo Ah.

Tekad Chan Yeol sudah terkumpul. Akhirnya rasa takut itu dikalahkan dengan perasaan rindunya. Tapi ketika Chan Yeol ingin mendorong pintu itu, suara Seo Ah terdengar, membuatnya kembali mengurungkan niatnya itu dan memilih mendengarnya dari luar.

“Iya, Eomma, aku baik-baik saja. Jangan khawatir.”

Seo Ah menjawab dengan senyuman tipis, meski ibunya tidak bisa melihatnya. Ia tengah duduk bersandar di kasur, satu tangannya menggenggam ponsel yang ditempelkan di telinga, sedangkan satu tangannya yang lain memeluk sebuah bantal. Sejak bangun tidur, ponselnya tidak berhenti berdering, entah itu dari Jong Hoon, Jun Hong, dan ibunya. Mereka sangat mengkhawatirkan Seo Ah, apalagi tidak bisa menjaga Seo Ah karena urusan pribadi.

Terutama ibunya.

Ibu Seo Ah sudah mengancam Yoon Ahjumma dan menyuruhnya untuk mengawasi Seo Ah karena dirinya dan ayah Seo Ah sedang berlibur—lagi—di Milan, dan pesawat mereka delay semalaman hingga baru bisa sampai di Korea besok pagi. Seo Ah sama sekali tidak boleh turun dari kasur. Kecelakaan kemarin membuat ibu dan ayahnya panik setengah mati, padahal Seo Ah hanya mendapat perban kecil untuk menutupi luka goresan di kepalanya.

Ibu Seo Ah kembali mengoceh di seberang sana. Ia menanyakan tentang Chan Yeol—apakah pria itu sudah menghubunginya atau belum. Seo Ah memutar bola matanya, mencari jawaban. “Hm. Chan Yeol-ssi sudah menghubungiku, dia sangat marah dan mengataiku ceroboh.”

“Tentu saja dia akan pulang….” lanjut Seo Ah.

Seo Ah berbohong soal Chan Yeol kepada orangtuanya. Ia mengatakan kalau Chan Yeol sedang ada bisnis penting di luar negeri sampai-sampai ponselnya dimatikan. Padahal Seo Ah sendiri tidak tahu di mana pria itu berada. Dia bukan wanita canggih yang bisa menyuruh anak buahnya untuk melacak Chan Yeol. Kalau bukan karena perusahaan orangtuanya, Seo Ah tidak jauh berbeda dengan wanita biasa.

Suara pintu dibuka membuat Seo Ah tersentak, dan mengalihkan pandangannya. Ibunya di seberang sana masih terus mengoceh—tapi Seo Ah tidak benar-benar memperhatikannya. Ia terpaku pada sosok yang muncul dari balik pintu. Awalnya ia pikir itu Yoon Ahjumma yang datang untuk menawarkan camilan, tapi… tidak mungkin….

Dengan mata yang masih terpaku pada sosok Chan Yeol yang perlahan mendekat, Seo Ah berkata pada ibunya. “Eo-Eomma… kurasa… aku harus beristirahat. Saranghae, eomma.”

Seo Ah memutuskan panggilan sebelum ibunya membalas. Ia melempar ponselnya ke kasur, lalu berdiri. Tatapan matanya tidak teralih sedetik pun. Rasanya seperti melihat keajaiban. Chan Yeol berada di hadapannya, meski penampilannya sangat buruk, tapi dia benar-benar Park Chan Yeol. Selama beberapa detik, mereka hanya saling berpandangan dalam jarak satu meter.

Mata Seo Ah mulai menelusuri garis wajah Chan Yeol. Pria itu tampak lebih kurus dari terakhir yang Seo Ah lihat. Rambutnya tampak kusut, lingkaran hitam menggantung di sekitar matanya. Aroma rokok dan alkohol bisa Seo Ah cium dari jarak sejauh itu. Seo Ah memperhatikan Chan Yeol sangat detail; sampai urat di sekitar leher pria itu dan jakun yang naik turun. Pandangan Seo Ah pun kembali naik, menatap mata Chan Yeol yang menyimpan banyak makna.

“Kau sudah pulang?” tanya Seo Ah. Ia berusaha agar suaranya tidak terdengar aneh.

“Hm.”

“Benar-benar… pulang?”

“Iya.”

Mata Seo Ah yang sudah berkaca-kaca, mulai mengeluarkan air mata. “Syukurlah.”

Chan Yeol menarik Seo Ah ke dalam pelukannya. Dipeluknya wanita itu erat-erat, membiarkan Seo Ah membasahi kemejanya dengan air mata. Tangan Seo Ah melingkar di pinggang Chan Yeol, tidak mengizinkannya bergerak sedikit pun. Chan Yeol menenggelamkan kepalanya di leher Seo Ah, menghirup aroma mawar yang samar tercium dari rambut Seo Ah. Rasanya sudah lama sekali, ia hampir mati karena merindukan aroma ini. Bodohnya Chan Yeol!

Chan Yeol melonggarkan pelukannya dan beralih untuk melihat wajah Seo Ah. Diusapnya pipi Seo Ah yang sudah basah itu, sangat lembut seolah jarinya bisa melukai Seo Ah. Lihat apa yang sudah dilakukan pria brengsek ini; membuat wanita sebaik Seo Ah mengeluarkan air mata untuknya. Chan Yeol menorehkan luka yang dalam di hati Seo Ah, dan dengan lancangnya masih berani menampakkan wajahnya di hadapan Seo Ah. Tapi kalau Chan Yeol tidak melakukan ini, ia akan menyesal seumur hidup. Ia akan menghabiskan sisa hidupnya dengan mengutuk dirinya sendiri, bahkan ketika dirinya sudah mati.

Seo Ah menatap dalam ke mata Chan Yeol. Ia terlalu bahagia sampai kakinya lemas. Tangan Seo Ah pun hanya bisa meremas ujung kemeja Chan Yeol.

“Jangan pergi….”

Akhirnya ia mengucapkan kata yang harusnya diucapkan saat Chan Yeol meninggalkan rumah. Waktu itu ia begitu kosong, kepalanya terus mencerna kalimat Chan Yeol sampai dirinya tidak sadar bahwa Chan Yeol sudah pergi. Begitu bodoh membiarkan Chan Yeol pergi begitu saja. Kali ini Seo Ah tidak akan pernah melepaskan pria ini. Tidak akan!

“Aku tidak akan pergi.” Chan Yeol kembali menarik Seo Ah dalam pelukannya. “Aku mencintaimu.”

***

                 Seo Ah dan Chan Yeol hanya menghabiskan waktu berdua di dalam rumah seharian. Seolah beberapa hari yang lalu adalah penyesalan terbesar di hidupnya, Chan Yeol tidak melepaskan Seo Ah sedetik pun. Ia terus memeluk Seo Ah, meski tanpa mengucapkan apa-apa. Hatinya secara otomatis terisi kembali hanya dengan merasakan Seo Ah di pelukannya. Sampai akhirnya mereka tertidur di kasur dalam posisi berpelukan semalaman.

Chan Yeol tidak peduli kalau Seo Ah terus menendangnya. Ia akan tetap bangun, membenarkan posisi Seo Ah, sebelum kembali tidur dengan memeluk wanita itu. Setiap kali terbangun, setiap itu juga ChanYeol akan mengeratkan pelukannya, sampai-sampai Seo Ah tidak bisa bergerak. Ini jauh lebih melelahkan daripada saat ia mabuk dan mencari kamar hotel sendiri. Tapi Chan Yeol menyukainya—ia menyukai Seo Ah terus menendangnya saat tidur. Karena itu menandakan kalau wanita ini terus berada di sampingnya.

Seo Ah merasakan nafasnya menjadi sesak dan tubuhnya tidak bisa bergerak. Perlahan ia membuka matanya. Hal pertama yang Seo Ah lihat adalah celah di sela gorden jendela yang menampakaan langit yang masih gelap. Pandangan Seo Ah turun ke arah perutnya, dan mendapati sepasang tangan kekar melingkar di sana. Suara nafas seseorang di belakang telinga menggelitik Seo Ah, hangatnya terasa sampai jantungnya.

Seo Ah tersenyum sambil mengusap tangan Chan Yeol di perutnya. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir ia dipeluk Chan Yeol. Ia suka aroma nafas Chan Yeol, ia pun suka detak jantung Chan Yeol yang teratur di punggungnya. Tanpa berusaha membangunkan Chan Yeol, Seo Ah membalik tubuhnya, berhadapan dengan Chan Yeol.

Jari telunjuk Seo Ah menyusuri rahang Chan Yeol yang terlihat jauh lebih tirus dari seminggu yang lalu. Kenyataan itu pasti sangat berat untuk Chan Yeol. Selama ini ia terus bertahan karena ia yakin dirinya masih bagian dari keluarga Park. Tapi setelah keyakinan itu diubah, Chan Yeol pasti kehilangan arah. Malangnya, Seo Ah tidak tahu harus berbuat apa, karena sekuat apapun Seo Ah berusaha, itu tidak akan merubah fakta yang sudah digariskan. Seo Ah tidak pernah berhenti berdoa. Ia tidak berdoa agar semua fakta itu berubah seperti mantra Cinderella, ia hanya meminta agar Chan Yeol bisa menjadi lebih kuat untuk menghadapi semuanya sehingga perlahan takdir akan membaik padanya.

Ya, hanya itu yang selalu Seo Ah pinta.

Seo Ah menenggelamkan wajahnya di dada Chan Yeol, menangis dalam diam karena tidak mau membangunkan Chan Yeol. Tangannya memeluk pinggang Chan Yeol. Ia menyesal karena tidak punya kuasa untuk membantu Chan Yeol. Ia benci dirinya yang menjadi putri satu-satunya keluarga Choi, yang sangat dimanja. Kalau saja ia sehebat Lee Ji Eun, sudah pasti Seo Ah bisa mengancam balik orang-orang yang berusaha melukai Chan Yeol.

Seo Ah terus menangis dalam pelukan Chan Yeol, sampai akhirnya ia kembali tertidur.

Getaran ponsel Seo Ah membuat wanita itu terbangun. Dengan mata setengah terpejam, ia meraba bawah bantalnya. Menemukan ponselnya, Seo Ah mematikan alarm yang setiap hari ia pasang, lalu kembali melempar ponselnya. Jam setengah tujuh pagi.

Posisi Seo Ah masih sama dari terakhir yang ia ingat. Hal itu membuat dirinya kagum sendiri—ternyata Seo Ah bisa juga tidur tanpa menciptakan kekacauan. Berusaha melonggarkan pelukan Chan Yeol, Seo Ah pun terduduk di kasur sambil terus menatap wajah Chan Yeol. Pria itu tertidur seperti bayi, meski seberkas sinar matahari menimpa wajahnya. Seo Ah tersenyum melihatnya, tangannya kemudian bergerak untuk memainkan rambut coklat Chan Yeol.

Beberapa hari tidak menemukan Chan Yeol saat membuka mata membuat Seo Ah hampir saja memeriksakan diri ke psikiater. Harinya sangat kosong, isi kepalanya berantakan. Tapi hari ini, dunianya kembali. Tali yang mengikat saluran pernafasannya menghilang seperti angin ketika melihat Chan Yeol ada di sampingnya, memeluk Seo Ah semalaman. Adakah yang bisa menggantikan kebahagiaan ini?

Ternyata usapan tangan Seo Ah di kepala Chan Yeol membuat tidur pria itu sedikit terusik. Chan Yeol membuka matanya, dan melihat Seo Ah menatapnya dengan senyum tipis. Wanita itu terlihat masih belum menyadari kalau Chan Yeol sudah sepenuhnya bangun. Seo Ah terus mengusap kepala Chan Yeol dengan senyuman, meski pandangannya tampak menerawang.

“Selamat pagi.”

“Eh?” Seo Ah mengerjap. Wajahnya merona tiba-tiba ketika menyadari Chan Yeol sudah sepenuhnya terbangun dan menangkap basah dirinya yang tengah menganggumi wajahnya.

Chan Yeol menarik tangan Seo Ah lalu kembali memeluk wanita itu. Seo Ah sedikit memberontak karena masih malu dengan kejadian sebelumnya, tapi Chan Yeol sama sekali tidak memberikan kesempatan. Hingga akhirnya hanya kepala Seo Ah yang mendongak dan bertatapan dengan mata Chan Yeol.

“Tidurmu nyenyak?” tanya Seo Ah.

“Hm.” Jawab Chan Yeol. “Bagaimana denganmu?”

“Aku juga.”

Ibu jari Chan Yeol bergerak untuk mengusap alis Seo Ah, sampai ia menyadari ada perban menempel di dahi Seo Ah. Kemarin ia tidak terlalu memperhatikan itu karena tubuhnya sudah terlalu merindukan Seo Ah. Menyingkirkan poni Seo Ah, Chan Yeol mengusap lembut perban itu.

“Ini kenapa?”

Seo Ah kembali menenggelamkan wajahnya di dada Chan Yeol, berusaha untuk menyingkirkan tangan Chan Yeol. Selain itu ia juga tidak mau Chan Yeol merasa bersalah dan sedih. “Hanya luka kecil. Bukan apa-apa.”

Chan Yeol menghela nafas. “Jangan sakit.”

“Iya, maaf….”

“Kenapa meminta maaf?” Chan Yeol mendorong bahu Seo Ah agar bisa melihat wajahnya. Kerutan di dahi Chan Yeol muncul, ia tidak suka Seo Ah menggunakan nada itu padanya.

Geunyang.”

Chan Yeol mendecih. “Kalau sampai kau membuat luka seperti ini—ah tidak, bahkan ketika kau demam lagi, kau akan mati di tanganku.”

“Kau mengancamku?” Seo Ah menaikan sebelah alisnya. Chan Yeol yang dulu sudah kembali—si tukang perintah yang egois dan tidak mempunyai pendirian. Padahal baru beberapa menit yang lalu hatinya berdesir karena perlakuan lembut Chan Yeol.

“Tidak, bukan begitu….” Chan Yeol mencoba menjelaskan, tapi ekspresi Seo Ah tidak juga berubah. “Aku hanya mengkhawatirkanmu.”

“Kau menginginkanku mati.”

“Siapa bilang?!”

Seo Ah bangun dan duduk sambil menatap Chan Yeol dengan wajah jengkelnya. Lihat, lihat, bahkan pria ini sudah mulai menaikan nada bicaranya.

“Kau.”

Chan Yeol pun ikut duduk di atas kasur, hingga mereka saling berhadapan. Ia menghela nafas kasar. “Maksudku, aku sangat mengkhawatirkanmu sampai—“

“Tapi ucapanmu sangat jahat, tau!”

“Iya, maaf. Makanya—“

“Padahal aku sangat senang sebelumnya. Tapi kenapa—“

Chan Yeol, yang tidak mau hari pertamanya setelah sekian lama berpisah dengan Seo Ah rusak hanya gara-gara masalah sepele, akhirnya memilih jalan terefektif untuk membungkam mulut bawel Seo Ah. Ya, dengan menciumnya. Tidak hanya kecupan biasa, tapi juga melumatnya bahkan sedikit menggigit bibir bawah Seo Ah agar memberikan sedikit jalan untuk lidahnya. Benar saja, Seo Ah langsung diam, dan mulai menutup matanya, menikmati ciuman Chan Yeol. Niat Chan Yeol yang awalnya hanya untuk membuat Seo Ah diam perlahan digantikan dengan sebuah hasrat yang menggebu. Sial! Kenapa bibir Seo Ah terasa jauh lebih manis sekarang?!

Masih menciumi bibir Seo Ah, Chan Yeol menarik pinggang wanita itu hingga sekarang posisi Seo Ah berada di atasnya. Tangan Chan Yeol menyusup ke balik piyama Seo Ah, mengusap punggungnya dengan gerakan lembut namun menggoda. Seo Ah mendesah di sela ciumannya, membuat Chan Yeol menyeringai tipis lalu memberi hisapan panjang sebelum mengakhiri ciuman panjang mereka. Nafas keduanya saling membentur.

“Bibirmu semakin menggoda.” Chan Yeol mengusap bibir Seo Ah dengan ibu jarinya sambil terkekeh.

Aish! Menjijikan!”

Meski mengumpat, kali ini Seo Ah yang memulai ciuman mereka. Diawali dengan kecupan-kecupan yang berulang sampai akhirnya Chan Yeol kesal sendiri dan membalik posisi mereka—Seo Ah berada di bawah sekarang. Ciuman kali ini terkesan ringan dan manis karena diselingi tawa kecil mereka. Chan Yeol pun tidak senafsu sebelumnya, ia malah cenderung menggoda Seo Ah dengan gigitan kecil khasnya. Namun aktivitas mereka pun terhenti ketika sebuah ponsel bergetar di bawah bantal.

Chan Yeol berguling ke samping Seo Ah, membiarkan wanita itu meraih ponsel dan menjawab panggilan itu. Tapi tangan Chan Yeol tidak berhenti menggoda Seo Ah. Ia terus saja mengusap perut Seo Ah di balik piyamanya meski berulang kali Seo Ah menyingkirkan tangan itu.

“Halo?”

Seo Ah memberikan tatapan tajam ke arah Chan Yeol yang masih gencar menggodanya, tapi Chan Yeol hanya terkekeh sebagai balasan. Bukan apa-apa, ayahnya yang sedang menelepon. Akan sangat memalukan kalau beliau tahu apa yang dilakukan putri satu-satunya sekarang (well, meski faktanya mereka berdua sudah menikah).

                “Ke rumah. Sekarang.”

Seo Ah menaikan alisnya. “Kenapa? Apa terjadi sesuatu?”

Beberapa detik, hanya terdengar suara nafas berat ayahnya dari seberang sana. Angin dingin tiba-tiba menyentuh leher belakang Seo Ah, menciptakan getaran aneh di dadanya. Seluruh tubuh Seo Ah pun mendadak kaku, seolah tahu apa yang akan dikatakan ayahnya kemudian. Seo Ah baru saja melupakan fakta kalau ayahnya tidak mungkin meneleponnya secara langsung kalau tidak ada masalah serius. Dan Seo Ah yakin, masalah kali ini benar-benar serius sampai jantung Seo Ah berdetak cepat karena ketakutan.

“Datang saja. Kau akan tahu nanti.”

***

                “Kau yakin tidak mau kutemani?”

Seo Ah mengangguk. “Iya. Appa bilang ini hanya tentang perjodohan Jong Hoon oppa. Jangan khawatir.”

Mereka masih berada di dalam mobil, di depan rumah keluarga Seo Ah. Wanita itu bersikeras menolak tawaran Chan Yeol untuk menemaninya. Chan Yeol sedikit khawatir dengan apa yang dikatakan ayah mertuanya di telepon. Air muka Seo Ah berubah tiba-tiba setelah menerima panggilan itu. Seperti orang linglung, mata Seo Ah tidak fokus dan kentara jelas kalau ia menghindari pembicaraan dengan Chan Yeol. Bahkan tadi Seo Ah bersikeras pergi sendiri dengan taksi, sebelum Chan Yeol menariknya ke dalam mobil dan mereka pergi bersama.

“Telepon aku kalau ada apa-apa, ya?”

Seo Ah tersenyum, lalu mengusap tangan Chan Yeol yang sedari tadi menggenggam tangannya. Seo Ah tahu persis apa yang akan ayahnya bahas, hal itu jauh sekali dari perjodohan Jong Hoon—yang tidak akan pernah terjadi karena oppa-nya itu sangat keras kepala.  Ia tidak mau membuat Chan Yeol tambah sedih dan terpaksa berbohong. Setidaknya hanya ini satu-satunya yang bisa Seo Ah lakukan untuk pria ini.

“Iya.” Jawab Seo Ah. “Aku akan menghubungimu nanti.”

Meski tidak rela, Chan Yeol mengangguk juga. Ia pun memberikan kecupan ringan di dahi Seo Ah sebelum wanita itu turun dari mobilnya. Lambaian tangan Seo Ah mengiringi laju mobil Chan Yeol untuk meninggalkan rumah keluarga Choi.

Saat membelokkan mobilnya di pertigaan dan sosok Seo Ah tidak lagi terlihat dari kaca spion, Chan Yeol menghela nafas berat. Kenapa ketika ia ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan Seo Ah selalu saja ada yang mengganggunya. Kalau sudah begini, apa yang akan ia lakukan? Ia tidak mungkin menunggu Seo Ah seperti orang bodoh di rumah kan? Ke kantor pun ia tidak bisa, karena jabatannya masih ditangguhkan untuk sementara dan akan dialihkan ke Vice President. Dengan kata lain, Chan Yeol pengangguran, dan ia bosan.

Ponsel Chan Yeol bergetar, ada sebuah panggilan masuk dari Ji Eun. Chan Yeol hanya menatap layar ponsel yang menyala itu selama beberapa saat. Ia kembali mengingat kejadian malam itu. Selama ini ia sengaja membutakan diri dari perasaan Ji Eun, dan untungnya Ji Eun pun tidak pernah membahasnya. Malam itu ia benar-benar terkejut. Bukan hanya pengakuan Ji Eun tapi juga sikap wanita itu yang seperti murahan.

Namun bagaimanapun, Chan Yeol tidak bisa membenci Ji Eun. Wanita itu teman pertamanya. Wanita itu adalah orang pertama yang tidak pernah memandang Chan Yeol sebelah mata meski ia tahu Chan Yeol hanyalah anak simpanan Park Seung Hyun. Mereka memiliki sifat yang cenderung sama—terlihat kuat di luar namun sebenarnya sangat rapuh. Chan Yeol pun pasti sudah menorehkan banyak luka di hati wanita itu.

Panggilan terputus sebelum Chan Yeol menyadarinya. Baru ketika panggilan itu masuk lagi, ia pun mengambil headset-nya dan menjawab.

“Kenapa?”

Ji Eun tidak langsung menjawab. Sepertinya wanita itu sedang membaca nada bicara Chan Yeol. “Kau sudah pulang? Suaramu terdengar jauh lebih baik.”

“Hm. Begitulah.”

“Ayo bertemu.” Kata Ji Eun dalam satu helaan nafas. “Aku ingin meminta maaf tentang kejadian kemarin.”

“Sudahlah, aku sudah melupakannya.”

“Tetap saja… ada yan ingin kukatakan padamu. Makanya, ayo kita bertemu.”

“Baiklah.”

Ji Eun menyebutkan sebuah kafe yang sering mereka datangi dulu. Chan Yeol pun memutar arah dan menginjak pedal gasnya. Ia tidak bisa menolak ajakan Ji Eun, meski Seo Ah akan marah kalau tahu nantinya. Suara Ji Eun terdengar berbeda, seperti menyimpan kesedihan yang dalam. Chan Yeol tidak bisa melepaskannya begitu saja. Selama ini Ji Eun sudah banyak membantunya, mungkin kali ini kesempatan Chan Yeol untuk membalas wanita itu.

Ji Eun sudah ada di sana ketika Chan Yeol tiba. Seorang pelayan menuang air putih ke gelas Chan Yeol, lalu menanyakan pesanan keduanya. Sebenarnya Chan Yeol sudah minum kopi dan sarapan sebelum mengantar Seo Ah, tapi ia tetap memesan Americano Two Shots. Sambil menunggu pesanan mereka datang, mereka terus saja terdiam. Ji Eun terus mengalihkan pandangannya ke luar jendela, seperti tidak ingin melihat wajah Chan Yeol.

Pesanan mereka pun datang, tapi Ji Eun masih bergeming. Akhirnya Chan Yeol tidak tahan. Namun baru ia ingin membuka mulut, suara Ji Eun pun terdengar.

“Untuk kejadian kemarin…” Ji Eun memulai. “Aku minta maaf.”

“Waktu itu pikiranku sedang kacau.”

“Sudahlah.” Chan Yeol menghela nafas lalu meminum kopinya. Jujur, ia tidak suka saat Ji Eun menggunakan nada itu padanya. Itu terdengar seperti Chan Yeol adalah pria brengsek yang tidak pernah berhenti menyakitinya.

Ji Eun mengusap pinggiran cangkirnya dengan jari. Pandangannya hanya terpaku ke meja, tidak mau menatap Chan Yeol. “Oppa tahu? Aku tidak pernah menyangka kalau hubungan kita berubah sejauh ini.”

“Saat Oppa mengatakan kalau Oppa akan menikah, aku berpikir kalau aku akan baik-baik saja karena Oppa tidak akan pernah berubah. Tapi….” Ji Eun tertawa pelan, lalu mengangkat kepalanya. “Aku salah besar, kan?”

“Ji Eun-a….”

“Aku tahu, tidak seharusnya aku mengeluh.” Potong Ji Eun. Ia menghela nafas panjang untuk menetralkan emosi yang mulai naik. “Dari pertama Oppa memang tidak mempunyai perasaan seperti itu—aku tahu itu. Aku hanya terlalu egois.”

“Aku menyukaimu. Selalu menyukaimu,” kata Chan Yeol.

Sepersekian detik, Ji Eun terenyuh mendengar pernyataan itu, namun kemudian ia hanya bisa tertawa pahit. Tatapan mata Chan Yeol tidak menggambarkan perasaan yang Ji Eun harapkan. Sebenarnya Chan Yeol tidak berubah. Chan Yeol masih pria yang sama dengan delapan tahun yang lalu—seorang pria yang tidak pernah menatapnya sebagai seorang wanita yang dicintai. Benar, hanya Ji Eun yang terlalu egois dan serakah. Ia tidak mau Chan Yeol memperlakukan wanita lain dengan cara yang berbeda. Kalau ia tidak bisa mendapatkan Chan Yeol, maka Choi Seo Ah pun juga tidak.

“Jangan konyol.” Ji Eun mendengus, ia merasa dipermainkan. “Sebenarnya Oppa menganggapku apa?”

“Kau adalah orang pertama yang tetap memanggil namaku walaupun sudah mengetahui diriku yang sebenarnya.”

Tangan Ji Eun menggenggam cangkir kopinya erat-erat, sampai bergetar. Kenapa ini? Kenapa ia ingin menangis mendengar pernyataan kosong begitu? Status itu sama sekali tidak berarti bagi Ji Eun. Apa artinya menjadi yang pertama kalau ia tidak bisa memiliki hati Chan Yeol?!

“Sampai kapanpun itu tidak akan berubah, Ji Eun-a.”

Ji Eun selalu suka saat Chan Yeol memanggil namanya. Tapi kali ini ia tidak bisa tersenyum seperti dulu. Ia ingin menangis. Mendengar Chan Yeol memanggilnya dengan cara yang sama meski dirinya sudah berlaku sekeji itu membuat Ji Eun merasa sangat kotor. Pertahanan Ji Eun runtuh, ia mulai meneteskan air mata. Entah ini air mata penyesalan, marah, atau kesedihan. Semua emosi itu tercampur aduk di hatinya.

“Kenapa?” dengan suara bergetar, Ji Eun bertanya. “Kenapa bukan aku, Oppa?”

Ji Eun mengangkat kepalanya. “Apakah kalau Oppa dijodohkan denganku, Oppa juga akan mencintaiku seperti itu?”

Chan Yeol tidak langsung menjawab. Ia menatap tepat di mata Ji Eun selama beberapa detik, mendalami bola mata coklat yang memerah itu. Ji Eun merasakan dadanya baru saja ditancapkan sebuah batu berujung tajam. Menancap tepat dan dalam, begitu sakit. Tenggorokannya tercekat hingga membuatnya sulit bernafas. Tidak, Chan Yeol tidak perlu menjawab. Tatapan mata itu sudah menjawab semuanya.

“Maaf.”

“Bolehkah aku bertanya satu hal?” bibir tipis Ji Eun bergetar, pipinya pun sudah basah dengan air mata. “Apa yang membuatmu jatuh cinta pada Choi Seo Ah?”

“Dia rumahku, satu-satunya keluarga yang kupunya.” Jawab Chan Yeol. “Ke manapun aku melangkah, siapapun diriku nantinya, aku akan selalu merindukan rumahku dan kembali ke sana. Choi Seo Ah membuatku merasakan hal itu. Dia selalu mengingatkanku kalau aku tidak sendirian di dunia ini.”

Ji Eun kalah. Tidak ada gunanya lagi menyakinkan Chan Yeol dengan air matanya. Tidak ada gunanya lagi mengancam Seo Ah dengan bingkisan-bingkisan aneh itu. Tidak ada lagi gunanya melemparkan tubuhnya dengan cuma-cuma di hadapan Chan Yeol. Pria itu jauh lebih kuat sekarang. Cinta yang ditumbuhkan Choi Seo Ah mengakar kuat sampai-sampai mempengaruhi akal sehat pria itu. Ji Eun marah, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Semakin ia berusaha, semakin itu akan menyakitinya. Ia tidak sanggup lagi.

“Baik.” Air mata Ji Eun mengalir lebih deras, tapi wanita itu tetap mengangguk. “Aku mengerti. Aku akan melepaskanmu.”

“Jangan begitu. Kau tetap menjadi teman terbaiku, Ji Eun-a.”

“Aku tidak yakin bisa menerimanya.” Jawab Ji Eun sambil menghapus air matanya. “Tapi akan kucoba.”

“Terima kasih.”

“Dan,” Ji Eun menghirup udara dalam-dalam. “Sepertinya aku akan menikah sebentar lagi. Appa mengenalkanku dengan salah satu rekan kerjanya di Paris.”

“Selamat kalau begitu.”

Ji Eun mencoba untuk tidak menangis lagi mendengar ucapan selamat dari Chan Yeol. Ia tahu, Chan Yeol tidak sedang mengejeknya, tapi tetap saja ia merasa marah! Ji Eun pun meminum Cappuccino-nya untuk menghalau bisikan-bisikan setan yang kembali mengganggunya. Untungnya ponsel Chan Yeol berdering kemudian, hingga Ji Eun tidak perlu repot-repot mencari topik yang lain.

“Kau sudah selesai?” tanya Chan Yeol pada seseorang di seberang telepon. Senyum tipis menghiasi bibirnya, dan itu membuat Ji Eun kembali sesak. Mengabaikan perasaan itu, Ji Eun mengalihkan pandangan ke luar jendela.

                “Iya. Kau di mana?”

Chan Yeol mengerutkan dahinya mendengar suara aneh Seo Ah. “Ada apa dengan suaramu? Kau baik-baik saja?”

Appa memarahiku karena aku kembali bertengkar dengan Jun Hong,” Seo Ah terisak sebentar, sebelum kembali melanjutkan. “Kau di mana?”

Chan Yeol tahu, pasti bukan itu jawaban sebenarnya. Tapi Chan Yeol tidak mau membahasnya sekarang, terlebih Seo Ah sudah mengalihkan topik. “Di Konabeans. Kau masih di rumah orangtuamu? Aku akan menjemputmu sekarang.”

“Tidak. Kita bertemu saja di Sungai Han. Aku… sedang ingin mencari udara segar.”

Benar, pasti sudah terjadi sesuatu.

“Baiklah. Tunggu aku di sana.”

“Pergilah.” Ucap Ji Eun tepat setelah Chan Yeol memutuskan panggilan. “Aku masih ingin menghabiskan kopiku.”

Chan Yeol mengangguk. “Sampai jumpa.”

Ji Eun mengikuti sosok Chan Yeol yang keluar dari kafe, masuk ke dalam mobil, lalu pergi begitu saja. Padahal Ji Eun sedikit berharap Chan Yeol akan menoleh ke arahnya sekali lagi, dengan begitu Ji Eun tidak akan merasa semenyedihkan ini. Tapi pria itu berlalu seperti angin, mengabaikannya, seolah semua yang ia ucapkan tadi hanya omong kosong. Apanya yang berharga? Ia malah tidak sudi melihat Ji Eun dua kali.

***

                Seo Ah duduk di sebuah kursi panjang, di tepi Sungai Han. Memasuki pertengahan liburan musim panas, Sungai Han dipenuhi orang-orang yang datang bersama keluarganya. Meski suhu semakin panas, keceriaan di wajah orang-orang itu tidak mudah pudar. Mungkin hanya Seo Ah satu-satunya makhluk yang terlihat bersedih di cuaca secerah ini. Matanya membengkak karena terus menangis di dalam taksi tadi. Dan tatapannya sangat kosong, hanya memandangi beberapa orang yang sedang bermain badminton, tanpa minat.

Ayahnya benar-benar menghancurkan hari—tidak, bahkan hidup Seo Ah—dalam waktu setengah jam. Ketakutan yang selama ini Seo Ah pendam menjadi kenyataan. Seluruh keluarganya sudah mendengar rumor yang beredar di dalam Golden Group. Tentu saja itu sebenarnya masih menjadi rahasia umum petinggi Golden, tapi Choi Young Sook—rekan terdekat sekaligus mertua Golden Group—juga harus kena imbasnya. Sedikit beruntung, berita itu sempat tertunda karena kepergian orangtuanya ke Milan.

Ayahnya marah besar, tentu saja. Ia merasa dibodohi sekaligus ditipu sahabatnya sendiri. Ayah Seo Ah juga melampiaskan amarahnya pada Jong Hoon. Bukan tidak mungkin Jong Hoon mengetahui berita itu dari pertama, tapi oppa-nya lebih memilih merahasiakan dari ayah mereka demi Seo Ah. Keluarga Choi memang bukan keluarga pemilih yang ingin serba sempurna, tapi kenyataan di balik rahasia kelahiran Chan Yeol benar-benar sudah menginjak harga diri Choiseon.

Bagaimana mungkin Choi Young Sook sudah menikahkan putrinya dengan seseorang yang tidak jelas asal-usulnya. Bahkan dia sama sekali tidak memiliki darah Park!

Young Sook paham, kalau Seung Hyun mengatakan ini dari awal, ia tidak mungkin sudi menyerahkan Seo Ah pada Chan Yeol. Tapi kalau sudah begini, Young Sook tidak punya pilihan lain. Ia tidak mau keluarganya dianggap buruk hanya karena menantu tidak jelas itu. Ia tidak mau putri satu-satunya harus menderita karena jari telunjuk dunia yang terus menjatuhkan Park Chan Yeol. Dan ia tidak mau membenci sahabat yang sangat dihormatinya. Oleh sebab itu, ia membuat keputusan yang sangat berat untuk seorang ayah demi putrinya.

“Ceraikan Park Chan Yeol.”

                “APA?! A-Apa maksud Appa?!”

                “Kau pasti sudah tahu semuanya, kan? Kenapa tidak mengatakan pada Appa dari awal?”

                “Tidak, Appa! Aku tidak mau! Sampai kapanpun aku tidak mau menceraikan Chan Yeol-ssi.”

                “CHOI SEO AH!”

                “Tidak bisakah Appa menjadi satu-satu yang berada di pihaknya? Tidak bisakah keluargaku sendiri tidak mengacungkan telunjuknya pada Chan Yeol-ssi?”

                “Kalau kau masih ingin menjadi bagian dari keluarga Choi, ceraikan Park Chan Yeol.”

                “Tidak mau! Aku tidak peduli kalau harus berlutut seharian dan memohon. Kami… tidak akan pernah bercerai!”

Seo Ah menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Itu memang bukan pertengkaran pertama mereka, tapi tadi adalah pertama kalinya Seo Ah berani berkata seperti itu pada ayahnya. Selama ini Seo Ah selalu dimanja oleh kedua orangtuanya, apa yang ia mau pasti akan langsung terkabulkan. Seo Ah pun membalas kasih sayang orangtuanya dengan selalu menjadi anak penurut, tidak pernah membuat masalah besar, dan berusaha menjaga nama baik keluarga Choi. Tapi kali ini, ia tidak peduli nama keluarganya akan rusak atau bahkan dirinya akan dikeluarkan dari silsilah keluarga Choi. Ia hanya ingin terus bersama Chan Yeol.

Saat ponsel Seo Ah berdering, buru-buru Seo Ah menghapus air matanya. Chan Yeol menelepon. “Halo?”

“Kau di mana?”

Seo Ah berdiri dan menatap sekeliling. “Di dekat sebuah bangku. Ah! Dekat orang-orang yang bermain badminton.”

“Ah, ketemu!”

Chan Yeol menemukan Seo Ah tepat ketika wanita itu juga menemukannya. Mereka berdua saling melambaikan tangan, tapi meski begitu tidak ada yang memutuskan panggilan.

“Ada apa dengan wajahmu?” tanya Chan Yeol dari telepon. Ia melangkah pelan menghampiri Seo Ah.

“Aku?” pura-pura meraba wajahnya, Seo Ah balik bertanya. “Memangnya kenapa?”

“Kau memikirkan sesuatu?”

“Aku memikirkanmu.”

Kekehan renyah Chan Yeol masuk ke telinga Seo Ah dan memenuhi hatinya. Kekehan itu terdengar seksi juga manis, seperti permen apel di festival. Perasaan Seo Ah pun meringan, dan tanpa sadar ia juga ikut terkekeh.

Seiring dengan langkah Chan Yeol yang semakin dekat, Seo Ah melihat pergerakan aneh di belakang Chan Yeol. Orang itu melangkah seirama dengan Chan Yeol. Entah karena pikiran Seo Ah yang sedang kalut atau memang benar begitu, Seo Ah merasa kalau sedari tadi orang itu mengikuti Chan Yeol. Padahal di sini banyak orang yang menggunakan jaket bertudung atau bahkan topi dan kacamata hitam, tapi kenapa hanya orang itu yang menarik perhatian Seo Ah. Tingginya hampir sama dengan Chan Yeol, dan bisa dipastikan dia adalah seorang pria.

Seo Ah mencoba mengenyahkan pikiran buruknya ketika Chan Yeol tersenyum padanya. Chan Yeol juga mengucapkan beberapa kata di telepon tapi Seo Ah tidak benar-benar mendengarnya karena pergerakan orang itu. Sampai akhirnya ia menyadari sesuatu yang aneh. Sesuatu yang membuatnya yakin kenapa ia tidak bisa melepaskan matanya dari orang berjaket tudung itu.

Orang itu membawa pisau.

Dan diarahkan ke Chan Yeol.

“PARK CHAN YEOL!”

Kejadiannya begitu cepat, seperti sebuah adegan film yang dipercepat enam belas kali. Seo Ah yang menarik tangan Chan Yeol; Seo Ah yang memeluk Chan Yeol dan membalikan tubuhnya; teriakan orang-orang di sekitar mereka; dan orang aneh itu menghilang dengan cepat. Chan Yeol membeku, tidak bisa merasakan atau mendengar apapun. Pijakkannya runtuh tiba-tiba.

Déja vu.

Rintihan keluar dari mulut Seo Ah, membuat kesadaran Chan Yeol perlahan kembali. Tangan Chan Yeol yang berada di pinggang Seo Ah mulai merasakan sesuatu aneh. Baju Seo Ah basah. Chan Yeol mengangkat tangannya, dan saat itu juga nafasnya terhenti di tenggorokan. Mulutnya bergerak ingin mengatakan sesuatu tapi tidak ada suara yang keluar.

Darah segar mengalir dari punggung Seo Ah.

Seo Ah mengangkat wajahnya yang pucat. Ditatapnya Chan Yeol yang masih memandangi tangannya dengan linglung. “K-Kau… b-baik-baik sajah…?”

“I-Iya.”

“Syukurlah…”

Chan Yeol tidak tahu apa-apa lagi ketika tubuh Seo Ah jatuh lemas di pelukannya.

***

                Kalau saja orang-orang di sana tidak segera memanggil ambulans, Seo Ah mungkin sudah tidak ada di sini. Ia baru saja dipindahkan dari ruang operasi ke ruang perawatan. Lukanya tidak terlalu dalam, tapi darah yang keluar cukup banyak. Ya… untungnya tidak sampai melukai organ vital wanita itu.

Tapi meski begitu, Chan Yeol masih belum menemukan pijakannya. Ia duduk terdiam di depan kamar rawat Seo Ah, dengan pakaian yang sama dan tangan yang masih berlumuran darah. Tubuhnya masih bergetar hebat.

Chan Yeo sekilas terbang ke masa lalu saat mendengar rintihan sakit Seo Ah di pelukannya. Déja vu yang dirasakan Chan Yeol bukan sembarangan, tapi memang kejadian yang menimpanya waktu kecil. Kejadiaan yang melibatkan ibunya. Ya, akhirnya Chan Yeol sadar apa yang dimaksud ayahnya di surat itu. Ibunyalah yang mengorbankan diri untuk menyelamatkan Chan Yeol, bukan kemauan ayahnya ataupun Chan Yeol sendiri.

Seperti yang Seo Ah lakukan.

Seo Ah menjadikan dirinya sebagai tameng dari pembunuh brengsek itu. Seo Ah melindunginya tanpa memikirkan kalau itu membahayakan untuknya. Haruskah Chan Yeol menyebutnya bodoh? Atau… menyebut dirinya sendiri yang bodoh? Pria macam apa dirinya yang membuat dua wanita yang dicintainya harus berkorban untuk menyelamatkan Chan Yeol?!

Pintu kamar rawat Seo Ah terbuka. Orangtua dan dua saudara Seo Ah keluar dari sana. Sikap mereka jauh berbeda dari biasanya, dan sudah bisa Chan Yeol yakini kalau berita itu sudah terdengar sampai keluarga Choi. Chan Yeol paham perasaan kecewa itu. Ia hanya berharap kalau kedua mertuanya tidak mencoba memisahkan Chan Yeol dari Seo Ah, seperti yang dilakukan keluarganya.

Chan Yeol berdiri dari duduknya dan memberi salam dalam diam. Ayah Seo Ah berhenti sejenak di hadapan Chan Yeol. Beliau menatap Chan Yeol cukup lama, sampai Chan Yeol merasakan api mulai menjalar dari ujung kakinya. Bukan hanya perasaan kecewa, Chan Yeol lebih merasakan itu adalah amarah besar dan penyesalan. Ya, mana ada orangtua yang mau menikahkan anaknya dengan seseorang yang tidak jelas asal-usulnya.

Tanpa berbicara apapun, orangtua dan adik Seo Ah berlalu dari hadapannya, menyisakan Jong Hoon di sana. Sama seperti ayahnya, Jong Hoon juga tidak mengucapkan apa-apa. Di dalam matanya, tersirat rasa simpati yang dalam untuk Chan Yeol. Bagaimanapun Chan Yeol adalah teman lamanya, mereka sudah mengenal sejak kuliah. Pasti begitu berat hidup di dalam lingkungan yang penuh kebencian selama ini.

“Masuklah, Seo Ah mencarimu.” Menepuk sebelah pundak Chan Yeol, Jong Hoon pun beranjak dari sana.

Membuka pintu kamar rawat Seo Ah, yang pertama Chan Yeol lihat adalah Se Hun yang sedang mengacak poni Seo Ah. Ah, Chan Yeol lupa. Pria itu juga datang dengan tergesa-gesa begitu tahu Seo Ah terluka. Se Hun menyadari kehadiran Chan Yeol di depan pintu, ia pun menarik tangannya.

“Jangan salah paham.”

“Hm.”

Se Hun meringis. Ia sangat tidak suka sikap Chan Yeol yang seperti itu, seolah menuduhnya melakukan hal yang tidak-tidak kepada Seo Ah. “Baiklah, aku pergi. Aku akan menyuruh orang-orangku untuk mencari orang yang menusukmu.”

“Terima kasih, Se Hun-a.”

“Iya.”

Se Hun berjalan menuju pintu. Lagi-lagi Chan Yeol mendapat tepukan di bahu kanannya. “Jaga wanita gila itu, ya.”

Ya!”

Se Hun menjulurkan lidahnya ke arah Seo Ah. “Dah!”

Chan Yeol tersenyum tipis untuk mengantar kepergian Se Hun. Ketika pintu kembali tertutup, Chan Yeol pun menghampiri Seo Ah. Ia duduk di pinggir ranjang Seo Ah, menggenggam tangan wanita itu yang dialiri cairan infus dari selang.

“Bagaimana keadaanmu?”

“Yah… lumayan.” Jawab Seo Ah sambil tersenyum.

Melihat senyum Seo Ah, bukan merasa baik, Chan Yeol malah tambah merasakan bersalah. Memorinya kembali berputar pada kejadian delapan belas tahun yang lalu. Semua gara-gara kehadirannya. Semua orang yang dicintainya pergi gara-gara keberadaannya, mulai dari ibu kandungnya, ayahnya, ibu tirinya, dan sekarang—tidak, ia tidak mau membuat Seo Ah pergi!

“Maaf.”

Seo Ah menimpali tangan Chan Yeol yang menggenggam tangannya. “Sudahlah, ini bukan salahmu. Aku bergerak karena keinginanku.”

“Oleh karena itu, maaf.”

“Chan Yeol-ssi.” Nada bicara Seo Ah agak meninggi. Tidak bisakah Chan Yeol berhenti menyalahkan dirinya sendiri? Ini murni dari dorongan dalam diri Seo Ah. Ia ingin melindungi Chan Yeol karena ia juga ingin Chan Yeol bahagia.

“Kejadian seperti ini mungkin akan sering terjadi ke depannya. Aku minta maaf karena terus menyusahkanmu.”

Seo Ah memejamkan matanya. Ia pun melepaskan genggaman tangan Chan Yeol. Suasana di antara keduanya pun sudah berubah—dan Seo Ah tidak suka. “Sudah cukup!”

Tapi Chan Yeol tidak mendengarkannya. Pria itu tetap berbicara karena… ia memang harus meluruskan semua ini. Semakin cepat ia mengakhirinya, maka semakin sedikit orang yang terlukan karenanya. Biarkan dirinya sendiri yang terluka, asalkan Seo Ah aman, ia akan melakukan apapun.

“Kau tahu, ini mungkin terdengar hanya omong kosong, tapi orang-orang itu tidak akan berhenti sebelum aku terbunuh. Dengan kata lain, kau tidak akan aman jika terus berada di dekatku.”

Seo Ah menggigit bibir bawahnya. Ia pun membuang pandangan ke mesin uap di atas nakas. Demi apapun ia ingin berteriak untuk membuat Chan Yeol berhenti berbicara! Setidaknya… bisakah ia menunggu Seo Ah sampai keluar dari rumah sakit? Luka di pinggang Seo Ah masih belum kering, apakah Chan Yeol ingin menambahkannya dengan luka dalam di hatinya?!

“Oleh karena itu, aku mempunyai satu permohonan padamu.”

Chan Yeol kembali menggenggam tangan Seo Ah, membuat wanita itu tidak tahan untuk tidak menatapnya. Mata Chan Yeol yang sendu menyimpan sebuah keputusan yang sudah ia pikirkan matang-matang. Helaan nafas panjang diembuskan pria itu. Genggamannya pada tangan Seo Ah pun menguat seiring dengan kata demi kata yang ia keluarkan.

“Maukah kau… bercerai denganku?”


■■■

*JENG JENG JENG BUNUH AKU BANG BU-BU-BUNUH AKU BANG!!

Kalian bisa hina aku sepuasnya karena buat part ektra lebay panjaaaaang (sampe 35 halaman) nista ini T.T silahkaaan saya rela. Aku pun sakit hati dengan jalan cerita yang aku buat. Bang CEYEEEE jangan sakiti SEOAAAA. Tapi ada kabar baiknya… jieun-ceye udah clear! Yeay! Tapi gak yeay deh… mereka… ceye-seoa… hueeeee *guling guling*

 

Abang sehun dapet dikit doang disini, maklum lah lagi sibuk body roll *jadi keinget mv* hahaha sumpah yak dia tamvan varah!!!

 

Udah ah gitu aja. Selanjutnya episode terakhir… hm… masih galau nih. Apa udah sampe sini aja ya? Wkwkwk nanti Seoa nikah sama Sehun, trus punya anak sepuluh #anjay

 

Bye-bye… seeyu neks wik

Regards: Ziajung (vanillajune.wordpress.com)

108 responses to “10 Steps Closer [9th Step]

  1. Yah.. Udah part 9 aja. Cepet amat perasaan haha
    pliss.. Jgn pisahin mereka, seo ah jgn nikah sama sehun dong? Aku ga sanggup kalo liat mreka cerai😦

    Makin kesini jadi makin bikin penasaran. Ditunggu kelanjutannya, yg cepet yah ngepostnya. Hahaha
    *ini readers bawel banyak maunya haha. Maafkan akuu author😀

  2. TT.TT
    gak kuatttttttt
    knapaaaaaaa,,, tidakkkkkk, jangaaannn,
    udah bnyak banget msalah mereka,, msak msihadaj terussssss
    kan kasiaannnn,, sampai kpan cba mereka mau susah2 muluuuuu
    mereka snengnya mah cmabentar mulu, abis itu langsung galau
    endingnyaa jangan sad ending yaa author,,
    happy ending plisss, kasian kan,, aduhhhh
    itu si jieun kasina jgasbenarny,, tpi ya mau gmna lagi kan,,
    keep writing yaaa
    dtungguin nextnyaaa

  3. plisssss….tolong siapapun robek2, bakar atau apapun yg bisa menghancurkan perjanjian yg mereka buat…macem death note ya perjanjian mereka tiap stepnya jd nyata…benar bergulir tanpa mereka sadari….chanyeol-rraaaaaahhh tidak tahu kah kamu seoah kecelakaan demi menemui mu…dan sekarang rela melindungi mu??dan kau minta bercerai dan berpotensi menperburuk kehidupan seoah…tak tau kah keluar choi kalo seoah sulit bernapas tanpa chanyeol??
    dan keluarga park oh my god mereka gila harta…kaya mereka sanggup aja jalanin golden grup tanpa ceyee…ciiihh
    gak nyangka isi surat ayah ceye woow bgt..bikin miris teriris…bikin ceye jd butiran debu…gak rela mereka pisah gtu aja…

  4. kak ini bener2 D A E B A K !
    Miriznya luarbiyasahhh
    gapapa deh miriz ampe nangis, ngilu di hati
    Tp happy ending pliss ya

    keep writing
    jjang!

  5. Omaigattttt,dipart ini banyak banget scene sedihnya😥😥 Idup chanyeol semenyedihkan ini saolohh,pasti sulit banget buat bang ceye😥 Huwaaaaaaa,keren banget ceritanya. Aku suka suka suka banget. Ditunggu next chapter❤

  6. Ya ampuuuunnn akhirnya muncul juga nih cerita , bener bener kangeeennnn bgt sama seoah dan chanyeol 😢😢
    Eehh buset masa iya mau cerai Yeol? Katanya seoah bagai rumah tp kok ditinggal? Jgn cerai dongggg 😣
    Hmmm bener bener banyak adegan yg bikin shock therapy di chapter ini , mulai asal muasal chanyeol sampe peristiwa penusukan seoah , bener bener daahh 😂
    Dan masih ditunggu untuk step yg ke 10 dan berharap masih ada sequel stepnya 😂😆

  7. aku baru liat ini dan shock! biasanya mah orang” bakal ngomong “maukah kau menikah denganku?’ ini malah cere coba? aishhh bntr lg tamat! astaga gk sabar authornim… please next dan klo bsa sequel… keep writing and hwaiting!!

  8. Ya ALLAH !!! nyesekkk 😭😭😭😭 jgn pisahin Chanyeol Seoah !!! baru juga hubungan mereka harmonis masa mau pisahhh ??!!!! tengah malem nyesekk njirr 😭😭
    next chap ditunggu
    btw, happy ending plisss…. 🙏

  9. Wah…daebak keren banget. kasihan si Ceye banyak banget ujian hidupnya untung ada seoah.yang selalu ada buat dia.
    Btw,semangat terus ya kak,ditunggu next chapter nya
    Hwaiting

  10. Jangannn jangann dijawabbb seo aahhhh jawabnyaaa tidakkk jangannn. Parahhh yaaaa ayahnyaa nyuruh cerai seo ah nyaa ga mau tapi kenapa chanyeol malahh nyuruhh. Kak inii gaa blh berhenti di part selanjutnyaaa huffttt kak tolongggggg chanyeolll huhuuuu
    Tolongg juga lanjutannyaaa jngn lama lama

  11. yah baru juga chanyeol-seoah baikan trus bahagia sedikit udh harus sedih lg huhu
    kasian seoah padahal udh cinta sm chanyeol
    yaaa authornim semoga kamu mau bikin mereka happy ending ya huhu

  12. Ji eun dari awal udah kalah tpya kan manusia berusaha yakin yakin aja moga2 dapet harapan dikit dapet sih dapet penolakan *ketawajahat* Jahat jadi cewek pake nyelakain Soe Ah dapet balesan. Yang jahatin Chanyeol kayaknya yg nyebar berita kemana-mana ishh gila harta emang licik lagi. Mau ending malah minta cerai. Udah sakit punggung, kepala dan hati lengkap penderitaan Soe Ah. Jangan cerai pls. Ada yg ngehalangin kek gitu. Gak yakin Soe Ah dan Chanyeol (termasuk yg baca) akan baik2 aja abis ini. Siap2 baper sampe last part di-realese.

  13. Hajimaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!1
    Ziajung, aku juga minta maaf karena tulisan alaymu ini juga membuatku alay sampek sampek a sama tanda seru segitu banyaknya. Kekekekekeke…………….
    Oh, ya, aku mencium aroma sad ending di sini. Huwaaaa #nangis bombay ceritanya. Aduh, aku suka ff ini. Buat novel gih, nanti aku beli.
    Kalau ada uang, sih. Hehehe #peace. Kunanti loh yang langkah ke 10

  14. Chanyeol, tiba-tiba ngomong minta cerai, ya ampun…. Seo Ah aja berjuang buat Chanyeol, masa sihh Chanyeol malah nggak mau berjuang buat Seo Ah?? Ahh, bikin pusing, nungguin kelanjutan chapter selanjutnya aja, dehh.

  15. Huwaa kasian pcy seoah kalo pisahhhh big no huhuhu
    Ditunggu banget last chpter semoga happy ending kak huwaaaa
    Hwaitinggg

  16. Oh no! Bener2 big problem ini mah.
    Chanyeol cuma punya Seo Ah, kalo cerai gimana hidup loe broh 😢😢 duuh, miris banget hidupnya.

    Anyway, body wavenya Sehun beneran jjang 😍😍 hampir hilang kesadaranku
    Kok dia tamvan banget yah

  17. Oke jadi gimana ini nanti akhirnya Seo Ah bakalan cerai? kok gitu amat yah ayahnya Seo Ah udah kayak ngebuat anaknya sendiri kek boneka. fix kudu cepet lanjut ini hehehehehe
    satu part lagi???
    Yah kenapa harus cepet tamat???

  18. heol jeongmal gasanggup entah kenapa gw jadi baper bgt gra”cy malang nasibmu nak.. seo ah sentil aj tuh jidat cy biar ga ngomong kek gtu ㅠ-ㅠ eonni ditunggu last chap

  19. gomawoyo author, karena sudah buat ff keren.
    please akhirnya happy ya author. hehe. . .
    aku sudah baper karena skripsi, jadi gk mau baper akut gara-gara ending 10 step closer nanti.
    ditunggu next step-nya ^_^

  20. Plissss jangan pisahin merekaaaaa. Chapter ini bikin baperrr gilaaaa. Kasian seoah, kasian juga chanyeol udah gak punya siapa2 lagi selain seoah..

  21. Yaampun chanyeol kasiannya😭😭😭 kenapa sj kejadian demi kejadian buruk nimpa chanyeol? Sumpah susah banget kali ada di posisi dia😦 udah seneng waktu mereka barengan eh tapi malah mau cerai gini :”

  22. chapter yg bikin baper sampai laper, kasihan chanyeol, kasihan seoah, mereka mau cerai…..shock……nexttt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s