The Dim Hollow Chapter 19 by Cedarpie24

Thedimhollow

The Dim Hollow

                                                                   —Chapter 19                                                                  

Past

.

a fanfiction by cedarpie24

.

Oh Sehun x Son Dahye

Slight!Kim Taehyung, Kim Jongin, Byun Baekhyun

Romance, school-life, hurt, teacher-student relationship || PG-16 || Chaptered

.

I just own the storyline and original-chara

.

Aku menyayangimu sedalam kau menyukaiku. Memujamu sebanyak kau mengagumiku. Menginginkanmu sesering kau merindukanku. Namun ada begitu banyak hal yang membuatku tak pantas untukmu. Aku, terlalu banyak kekelaman yang kupunya.—Oh Sehun

.

Foreword ♣ Chapter 1—Got Noticed ♣ Chapter 2—NightmareChapter 3—Detention ♣

Chapter 4—The Kiss ♣ Chapter 5—Sinner ♣ Side Story : Secret ♣

Chapter 6—Take Care of Her ♣ Chapter 7–Adore ♣ Chapter 8–Him ♣ Chapter 9—Confession ♣ Chapter 10—Elude ♣ Chapter 11—Decision ♣ Chapter 12—Deserve ♣ Chapter 13—Jealous ♣ Chapter 14—Meet Them ♣ Chapter 15—Realize ♣ Chapter 16—Date ♣ Side Story: Forbidden ♣ Chapter 17—The Beginning ♣ Chapter 18—Truth

I say it like a habit, we won’t work in the end, even so, I keep hoping, as long as I’m with you in the end as well, I’m okay—House of Cards, Bangtan Boys

 

“Wah, aku senang si Sok Tampan itu sudah berhenti mengajar di kelas kita.”

Celetukan Taehyung tadi, berhasil disambut delikan tajam dari nyaris seluruh perempuan di dalam kelas. Dahye pengecualian, tentu saja. Gadis Son itu hanya memandang Taehyung tanpa minat, lalu membuang napas dan memilih membuka buku catatan Sastranya.

“Guru Oh bukannya berhenti mengajar, tahu! Dia masih bekerja di sekolah kita, tapi karena cuti guru Shim sudah selesai, masa bekerjanya sebagai guru pengganti di kelas kita juga selesai.” Seorang murid perempuan yang duduk di kursi paling depan menukas tajam, jelas tidak terima dengan perkataan Taehyung sebelumnya.

Mendengar ini Taehyung menggedikan bahu tidak peduli. “Itu sama saja buatku. Yang penting sekarang aku tidak perlu melihat wajah sok kerennya lagi.”

“Dan guru Oh tidak sok tampan! Dia memang tampan, dan memang keren!” Murid perempuan lain ikut menimpali perkataan Taehyung. Lantas disusul tukasan-tukasan lain yang berisi pembelaan pada subjek yang mereka bicarakan. Tak sampai semenit, seisi kelas sudah ricuh dengan tukasan para perempuan.

Di kursinya Dahye hanya mampu menunduk, pura-pura menekuni bukunya yang terbuka, padahal tatapannya kosong. Telinganya terasa berdenging mendengar orang-orang menyerukan nama itu. Di saat seperti ini, segala sesuatu tentang pemuda itu adalah hal yang paling ingin Dahye hindari. Setelah apa yang terjadi tempo hari, setelah rahasia-rahasia lama terkuak dan berhasil diketahuinya, rasanya Dahye tak sanggup lagi menghadapi pemuda itu.

Meski begitu, ingatan tentang hari kemarin masih tak mampu Dahye lupakan. Hari dimana Dahye memutuskan mengakhiri semuanya, menyudahi apa yang telah ia mulai dengan Sehun.

“…lebih baik kita akhiri semua ini sekarang, sebelum salah satu di antara kita kembali terluka untuk ke sekian kalinya.”

Kala itu Sehun tak mengatakan apa pun. Dahye pikir pemuda itu akan menentangnya, namun yang ia lakukan hanya menatapnya dengan hampa. Sehun juga tak menahannya ketika ia memilih berbalik dan pergi. Meski diam-diam Dahye menitikkan air mata ketika ia melangkah menjauh, Sehun tak pernah tahu. Sama sekali tak tahu bahwa sebenarnya Dahye juga terluka kala ia memutuskan ini.

Tapi Dahye tak punya pilihan lain. Seperti yang dikatakannya, ia tak mau ada luka lain lagi di antara hubungannya dengan Sehun. Ia sudah cukup lelah dengan semua rasa sakit ini. Tak ada lagi yang patut diperjuangkan jika luka terus menghantui.

“Aku hanya pergi untuk mengambil bukuku yang tertinggal di kantor, dan kalian sudah seberisik ini? Mengecewakan sekali.”

Lamunan Dahye terputus begitu didengarnya suara tegas tadi menggelegar ke seluruh kelas. Para perempuan yang semula ribut juga seketika menutup mulut, membuat seisi kelas menjadi hening mencekam. Di sana, di meja guru, duduk wanita pertengahan empat puluh dengan tampang kelewat tegas. Mata tajamnya dibingkai kaca mata tebal, sementara rambut hitamnya dibentuk dalam gelungan ketat. Guru Shim telah kembali dari masa cutinya.

Biasanya Sehun yang duduk di sana. Setelah terbiasa melihat Sehun yang menguasai kelas, rasanya agak janggal melihat guru Shim kembali pada posisi semulanya.

Dahye mengigit bibir bawahnya begitu ingatan ketika Sehun mengajar menyelinap ke dalam benaknya, lantas mengantar rindu yang perlahan menyelimuti hatinya.

Tidak. Bukankah sejak awal guru Shim adalah pengajar kesukaannya? Bukankah sejak awal ini yang diinginkannya—melihat guru Shim kembali mengajar?

“Aku mendengar nama guru Oh disebut-sebut dalam kericuhan kalian.” Guru Shim menukas sambil membuka-buka lembaran buku pelajarannya. “Kelihatannya kalian tidak suka, ya, guru Oh pergi dan aku kembali?”

Pertanyaan tadi dijawab hening tak biasa.

kalian tidak suka, ya, guru Oh pergi dan aku kembali?

Dahye tidak mengerti, tapi entah kenapa, ia merasa pertanyaan tadi khusus ditujukan untuknya.

Sebenarnya kau tidak suka, ‘kan, Sehun pergi darimu?

“Kalian tidak perlu cemas begitu. Guru Oh akan tetap mengajar di sini, meski bukan di kelas kalian. Bagaimana pun kalian akan tetap bisa bertemu dengannya,” ujar guru Shim sambil lalu. “baiklah. Sekarang, keluarkan selembar kertas dan masukkan semua buku kalian ke dalam tas. Tidak ada barang apa pun di atas meja selain kertas dan alat tulis—aku sedang tidak ingin mencoret nama siapa pun hari ini.”

“Apa?!”

Seisi kelas memekik ngeri nyaris bersamaan.

Di tempatnya guru Shim mengulas senyum simpul. “Hari ini kita adakan pre-test—jangan terkejut begitu. Seharusnya kalian sudah mempersiapkan diri sejak malam kemarin.”

Dan ucapannya segera disusul erangan tertahan dari seluruh murid. Lagi-lagi Dahye jadi pengecualian. Gadis itu mengembuskan napas perlahan, lantas menyobek selembar kertas dari bukunya tanpa banyak bicara.

“Kurasa aku akan merindukan guru Oh.”

“Kau benar, guru Oh tak pernah mengadakan tes seperti ini.”

“Ah, kupikir setelah melahirkan guru sialan itu akan berubah.”

“Aku semakin benci guru Shim.”

“Aku semakin merindukan guru Oh.”

Kasak-kusuk itu mulai memenuhi kelas diiringi suara sobekan kertas dari buku catatan.

Dalam diam Dahye mengamati teman-temannya yang kini sibuk mengeluh, antara mengumpat guru Shim, juga mengungkapkan betapa mereka akan merindukan sosok Sehun.

Harus Dahye akui bahwa ia juga memang telah merindukan Sehun—meski dengan alasan yang berbeda dari teman-temannya yang lain.

            Ruangan kerjanya terasa jauh lebih lengang dari biasanya.

Sehun merapikan kertas-kertas yang berserakan di atas mejanya, lalu menghela napas dan memutuskan berhenti sejenak dari kegiatannya membereskan ruangan ini. Ia lantas tercenung ketika menemukan jilidan tebal di antara tumpukan kertas lain di atas meja. Seulas senyum tipis tanpa sadar mengembang di wajah lelahnya begitu Sehun tersadar jilidan apa itu.

”Harus kau ketahui modul ini adalah hukumanmu.”

“Apa?” kening Dahye spontan mengerut mendengar ini.

“Modul-modul ini, sayang sekali belum tersusun dengan benar.” Sehun menyahut sambil menepuk-nepuk jilidan modulnya.”Di setiap bagian atas kertasnya telah tercantum tanggal dibuatnya modul ini. Tugasmu adalah, menyusunnya hingga terurut dengan benar sesuai dengan tanggal. Mudah ‘kan?”

 “Apa… apa maksudmu?”

“Kau masih belum mengerti juga?” Sehun balas bertanya, ia memasang raut terkejut yang dibuat-buat.”Maksudku adalah, bantu aku menyelesaikan data-data ini.” Lagi-lagi Sehun bergerak menepuk jilidan modul itu.”Kudengar kau murid terpintar, pasti tidak sulit melakukannya kan? Ah iya, sebelum data ini selesai, kau tidak boleh pulang, paham?”

Rasa rindu dengan cepat menyusup ke dalam hatinya begitu ingatan tadi kembali menyapanya.

Tentu saja. Ini adalah jilidan yang guru Shim berikan padanya, yang kemudian ia jadikan alasan untuk menahan Dahye di sisinya.

Karena jilidan ini, ia bisa lebih dekat dengan Dahye.

Perlahan, Sehun membuka lembaran jilidan itu. Setengah bagiannya telah Dahye susun dengan rapi sesuai tanggal, seperti yang ia minta. Sehun kembali tersenyum kala teringat bagaimana jengkelnya Dahye tiap kali ia dipaksa menuntaskan kegiatannya menyusun kertas-kertas ini. Gadis itu akan menggerundel kesal, diam-diam mengumpat Sehun, mengira pemuda itu takkan mendengarnya. Kendati begitu Dahye tetap mengerjakan seluruh tugasnya dengan baik.

Senyuman Sehun lantas bertambah lebar begitu ia menemukan secarik sticky note berwarna merah muda menempel di salah satu halaman. Rentetan kalimat yang ditulis dengan rapi terpampang di sana, membuat Sehun terkekeh geli ketika ia membacanya.

Guru Oh benar-benar bodoh. Dipikirnya detensi seperti ini bisa memperbaiki tingkahku? Kalau saja dia tahu aku tetap menganggapnya sebagai guru terburuk yang pernah kudapat, mungkin dia akan terus-menerus mengirimiku jilidan bodoh untuk disusun seperti ini.

Sehun tak pernah tahu Dahye sempat menulis begini. Ia menggelengkan kepalanya, lalu membalik halaman-halaman selanjutnya, dan kembali menemukan sticky note lain tertempel di salah satu bagian.

            Kapan jilidan ini habis? Kenapa rasanya semakin dibuka semakin banyak pula halamannya? Si Oh Sehun itu sengaja, ya membuatku menderita begini?

Kekehan kecil lagi-lagi lolos dari mulutnya. Sehun bisa membayangkan bagaimana raut Dahye ketika gadis itu menulis kalimat ini. Ia pasti jengkel bukan main dan kembali mengumpati dirinya.

Halaman-halaman selanjutnya ia lalui tanpa tempelan sticky note apa pun. Lalu begitu ia sampai di halaman yang terakhir Dahye kerjakan, dilihatnya sebuah kalimat ditulis kecil-kecil menggunakan pensil di sudut kertas. Seolah Dahye sengaja menyembunyikannya agar terlewatkan oleh mata Sehun jika saja ia melihat-lihat.

            Aku ingin detensi ini cepat-cepat selesai, tapi aku juga tak mau alasanku untuk bersama denganmu berakhir. Kenapa sekarang detensi ini tidak terasa menyebalkan lagi?

Sehun tercenung begitu membacanya. Ia menyentuh kalimat itu dengan hati-hati, membayangkan bagaimana Dahye menulisnya dengan senyum malu dan kedua pipi memerah.

Jilidan ini membuatnya kembali mengingat semua tentang Dahye. Semua yang telah ia lalui bersama dengan gadis itu. Jilidan inilah awal dari segala interaksi mereka. Dimulai dari pertengkaran dan perang kalimat sinis, hingga rasa suka dan peduli yang pelan-pelan ikut menyusup.

Dahulu ia bisa dengan mudah membuat Dahye tetap berada dalam jangkauannya. Mengancamnya dengan nilai, mengaturnya dengan detensi, yang sebenarnya hanya ia lakukan agar gadis itu tetap di dekatnya.

Namun kini, mampukah Sehun melakukan semua itu?

Ia tersenyum sedih. Tentu saja tidak. Segalanya telah berubah, dan ia tak bisa melakukan apa pun untuk memperbaikinya.

Dahye telah berdiri begitu jauh dari uluran tangannya. Ia tak sanggup lagi untuk meraihnya.

Atau mungkin, sejak awal gadis itu memang tak bisa ia raih.

Sebab sejak awal, kesalahan yang ia perbuat telah menciptakan penghalang kasat mata untuknya meraih Dahye.

Tatapan Sehun kembali jatuh pada jilidan di tangannya. Melihat benda ini, semakin mengingatkannya pada Dahye. Semakin menguatkan rasa rindunya pada Dahye. Ia memejamkan kedua matanya sejenak, lantas mengurut pelipisnya dengan lelah.

Ketika ia memutuskan menutup jilidan itu dan menguncinya di laci meja, ponselnya berdering pendek menandakan pesan masuk. Sebetulnya Sehun sedang tak ingin dihubungi siapa pun saat ini. Ia mungkin akan mengabaikan isi pesan itu jika saja tak mengerling siapa pengirimnya.

            From: Ibu

Sehun, keadaan ayah semakin memburuk. Saat ini ia tengah dilarikan ke rumah sakit. Tapi jangan terlalu cemas dan doakan saja yang terbaik untuknya, ya, Sayang.

            “Dahye-ya! Tunggu aku, Dahye-ya!”

Dahye mengembuskan napas jengah begitu didengarnya seruan tadi dari belakang sana. Gadis itu memutuskan untuk pura-pura tidak dengar, dan mempercepat laju jalannya. Namun seolah Tuhan sedang ingin bermian-main dengannya, Dahye merasakan seseorang menahan lengannya dari belakang, dan tak lama sosok Kim Chaeyeon sudah berjalan bersisian dengannya.

Gadis Kim itu pintar juga mengejarnya.

“Wah, Dahye, jalanmu cepat sekali,” tukas Chaeyeon sambil mengusap peluh yang membasahi keningnya. Napasnya sedikit memburu kendati seulas senyum lebar tak luput dari wajah manisnya.

Dahye mengerling Chaeyeon sekilas, sebelum kembali memandang ke depan dan bertanya ketus, “Ada apa?”

“Ayo pulang bersama.”

Jawaban Chaeyeon tadi berhasil membuat Dahye kembali menoleh padanya, kali ini dengan kerutan samar menghias kening.

“Apa? Pulang bersama?” Dahye mengulang tidak percaya. “Kenapa harus?”

Senyuman di bibir Chaeyeon kian melebar kala ia menyahut, “Kau bilang kau mau membantuku dekat dengan sepupu tampanmu itu.”

Ah, benar. Jongin.

Jadi Chaeyeon benar-benar serius ingin mendekati Jongin?

Sebenarnya Dahye bisa saja menolak. Namun melihat senyum antusias yang setia mewarnai wajah Chaeyeon, entah mengapa Dahye tak tega mebiarkan gadis itu kecewa. Lagipula bukankah sejak awal ia telah berjanji? Di sisi lain, Jongin juga kelihatan tidak pernah menjalin hubungan serius dengan perempuan mana pun—pemuda itu hanya menghabiskan waktunya dengan para jalang di klub malam, ingat. Chaeyoen mungkin bukan pilihan yang buruk.

“Kau mau aku melakukan apa?” tanya Dahye akhirnya. Sambil memperbaiki ransel yang disandangnya, ia melirik Chaeyeon.

“Kali ini aku minta kontaknya saja. Kau juga bisa ceritakan padaku apa saja yang dia sukai dan apa saja yang dia benci. Supaya aku bisa mencari topik saat mengajaknya chat nanti. Ya ya ya?” Chaeyeon merepet dengan cepat. Dahye yakin sekali melihat kedua mata gadis itu berbinar-binar ketika ia bicara.

Tanpa pikir panjang, Dahye mengeluarkan ponselnya lalu mengutak-atiknya sejenak, mencari kontak Jongin yang akan diberikannya pada Chaeyeon. Ia lantas mengangusrkannya pada Chaeyeon, dan gadis itu menerimanya dengan kelewat girang.

“Waaa, terima kasih, Dahye-ya!” Ia bersorak senang, membuat orang-orang yang berjalan di sekitar mereka melayangkan tatapan terkejut.

Ah, mestinya Dahye ingat, bagaimana pun, Kim Chaeyeon ini masih satu spesies dengan si Kim Taehyung. Jadi keduanya sama-sama senang membuat malu kalau dibawa jalan bersama.

“Nah, sekarang coba ceritakan padaku tentang Jongin,” ujar Chaeyeon, gadis itu mulai merangkul lengan Dahye.

Normalnya, Dahye akan melepaskan diri ketika orang seperti Chaeyeon merangkulnya. Ia tidak dekat dengan gadis ini, dan juga belum begitu menyukainya. Namun rangkulan Chaeyeon terasa begitu bersahabat, hingga anehnya, Dahye merasa tak terlalu keberatan.

Ia baru saja memutar otaknya, memikirkan apa saja yang harus disampaikan pada Chaeyeon tentang Jongin ketika satu sosok yang berjalan berlawanan arah di depan sana menyedot seluruh atensinya. Seketika Dahye merasakan kedua kakinya berubah kaku, jantungnya berdebar tak keruan, dan hatinya mencelus sampai ke dasar perut. Ia bahkan tak sadar telah menghentikan langkahnya sehingga Chaeyeon pun ikut berhenti berjalan.

Sehun berjalan tanpa memandangnya. Pemuda itu menundukan kepalanya, dan entah kenapa ia kelihatan seperti tengah sibuk memikirkan sesuatu. Dahye mengamati dalam diam, tak mengerti kenapa ia malah terpaku begitu. Perasaannya campur aduk, Dahye tak tahu mana yang paling mendominasi. Entah sakit, rindu, atau rasa bersalah.

Lalu ketika akhirnya Sehun mendongakkan kepalanya, matanya segera bertemu dengan Dahye. Bagai refleks, pemuda itu juga ikut menghentikan langkahnya. Membuat mereka berdiri saling berhadapan di tengah koridor yang padat. Untuk beberapa sekon keduanya hanya bertukar pandang dalam diam, mengamati satu sama lain dengan tatapan tak terbaca, seakan lupa dengan orang-orang di sekitar.

Sesuatu dalam sorot mata Sehun membuat hati Dahye bagai diremas tangan tak kasat mata. Seolah pemuda itu ingin berlari dan membawanya ke dalam pelukan erat, namun tertahan oleh dinding tak terlihat. Sejenak Sehun kelihatan ingin mengatakan sesuatu, namun kemudian ia mengurungkan niatannya dan tanpa mengucapkan apa pun meneruskan kembali langkahnya yang sempat terhenti.

Bahkan sampai Sehun berlalu meninggalkannya, Dahye masih saja terpekur. Ia menatap tempat Sehun berdiri tadi dengan hampa, merasakan hatinya juga ikut kosong.

Jadi begini ya rasanya benar-benar berpisah dengan Sehun? Berpisah, sampai sekadar mengucap sapa pun tak bisa.

“Dahye? Dahye-ya, kau baik-baik saja?”

Suara Chaeyeon tadi berhasil menyadarkan Dahye kembali. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu memutar kepalanya pada Chaeyeon. Menatap gadis di sampingnya dengan agak linglung.

“Kau … baik-baik saja?” Chaeyeon mengulang pertanyaannya perlahan. Raut senang yang semula tergambar di wajahnya telah lenyap digantikan cemas yang begitu kentara.

Dahye menghela napas sejenak, lalu mengangguk kecil. “Yah, aku baik-baik saja.”

“Kau yakin?” Chaeyeon mencoba memastikan.

Dahye kembali mengangguk, meski tentu, ia tak baik-baik saja.

Tanpa banyak bicara, Dahye meneruskan kembali langkahnya. Chaeyeon di sampingnya tak ikut membicarakan apa pun, seolah ia tahu saat ini Dahye tengah tak ingin diganggu. Mereka berjalan dalam diam, membiarkan Dahye tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tentang Sehun yang ditemuinya tadi.

Sehun berjalan melewatinya begitu saja. Seolah mereka merupakan orang asing, seolah tak pernah ada yang terjadi di antara mereka.

Kenapa sakit? Kenapa rasanya sakit mendapati Sehun yang bersikap seperti itu?

Bukankah Dahye yang menginginkan ini semua? Lalu kenapa ia masih saja merasa tak benar?

“Dahye, kau ….” Chaeyeon berhenti sejenak untuk berdehem pelan. “kau dan Sehun seonsaeng … sedang bertengkar?”

“Apa?”

Pertanyaan Chaeyeon tadi, berhasil menyadarkan Dahye sepenuhnya. Ia menoleh pada Chaeyeon dengan kedua mata membola dan alis berjingkat. Sama sekali tak sangka pertanyaan tadi akan melompat dari mulut Chaeyeon.

“Tadi kau dan Sehun seonsaeng kelihatan tidak dalam keadaan yang baik. Kau juga berubah jadi begini setelah bertemu dengannya, kupikir ….” Chaeyeon menjelaskan dengan hati-hati. Lalu ia mengembuskan napas, dan mengumpulkan seluruh keberaniannya sebelum berujar, “Aku … aku tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian. Sejak awal aku tahu ada sesuatu antara kau dan Sehun seonsaeng. Semula kupikir aku bisa saja salah paham, tapi setelah bertemu dengan kalian di kafe, aku yakin tebakanku tidak mungkin salah.”

“Kau … tahu?” Dahye bergumam pelan.

Chaeyeon tersenyum hangat lalu menghadiahi Dahye tatapan lembut. “Percayalah, aku tidak bermaksud menyudutkanmu, aku juga tidak akan membeberkan rahasia ini pada orang-orang. Melihatmu yang seperti sekarang ini, aku hanya ingin membantumu. Kau kelihatan sedih, aku mungkin bisa membantu menghilangkan sedikit kesedihanmu.”

Dahye terpekur sejenak. Jadi Chaeyeon tahu?

Ia tak mengerti. Seharusnya ia marah, atau setidaknya kesal mendapati Chaeyeon mengetahui rahasia yang disembunyikannya dengan Sehun tentang hubungan mereka. Namun mungkin karena kini hatinya hanya disesaki oleh Sehun, Dahye tak merasakan apa pun tentang ini. Yang dilakukannya hanya mengembuskan napas perlahan, lantas membuang tatapan ke sembarang tempat.

“Aku menyangkal pun sudah tidak berguna, ‘kan?” cetus Dahye sambil melepas tawa kering.

“Kau tidak perlu cerita apa yang mengganggumu, kalau kau tidak mau. Tapi sebagai temanmu, izinkan aku untuk menghiburmu. Ya?” Chaeyeon berujar, lalu cepat-cepat menambahkan ketika menemukan Dahye yang hanya bungkam. “Jika kau tidak mau melihat ini sebagai ketulusanku, maka anggap saja ini sebagai bayaranku atas kontak Jongin yang kau berikan tadi. Oke?”

Dahye menghela napas mendengar ini. “Kau mau melakukan apa memangnya?”

Coba lihat saja, apa yang kira-kira gadis ini lakukan untuk mengusir kesedihan Dahye.

Seketika, senyum lebar tadi kembali menghias wajah Chaeyeon. “Kau harus ikut aku ke kafe kesukaanku. Tempat itu menyediakan kue cokelat paling enak yang pernah dijual.”

Dahye menatap Chaeyeon sangsi.

“Makanan bisa membuatmu merasa jauh lebih baik, tahu. Percaya padaku.” Chaeyeon cepat-cepat menambahkan. “Sudah, lebih baik sekarang kita berangkat.”

Lalu tanpa aba-aba, Chaeyeon menarik tangannya dengan penuh semangat. Dahye membiarkan saja dirinya dibawa berlari-lari kecil oleh Chaeyeon. Mau protes pun sepertinya tidak bisa.

“Yah, kalian mau bersenang-senang tanpa aku?”

Seruan tadi berhasil menghentikan mereka. Keduanya menoleh ke belakang, dan menemukan sosok Taehyung tengah berlari menghampiri mereka.

“Apa susahnya sih mengajakku kalau mau senang-sennag?” tukas Taehyung begitu ia sampai di dekat Chaeyeon dan Dahye.

“Siapa yang mau senang-senang, memangnya?” balas Chaeyeon, lalu segera menarik Dahye bersamanya lagi.

“Mau bersenang-senang atau bukan, setidaknya ajak aku.” Taehyung menyahut sambil berjalan mengekor kedua gadis di hadapannya. “Dan kau, Perempuan Meja, jangan pasang tampang begitu. Kau kelihatan jelek, tahu tidak?”

Perempuan Meja.

Dahye tahu benar julukan tadi hanya Taehyung tujukan untuknya. Maka ia berbalik, dan menatap Taehyung dengan kening mengerut.

“Apa maksudmu?”

Taehyung mengedikan bahunya lalu menjawab, “Jangan pasang tampang sedih begitu. Kau jadi tambah jelek.”

Dahye mengerjap beberapa kali. Ia menatap Chaeyeon di sampingnya sebentar, lalu kembali pada Taehyung. Jika Chaeyeon tahu tentang hubungannya dengan Sehun, mungkinkah Taehyung juga tahu?

“Lihat, kau semakin jelek dengan kening mengerut-ngerut begitu,” tukas Taehyung lagi, kali ini sambil menyentil kening Dahye, membuat sang empunya mengaduh kesakitan.

“Yak!” Dahye memekik kesal, sudah bersiap membalas perbuatan Taehyung ketika pemuda itu justru terkekeh senang. “Apa? Kenapa tertawa?”

“Nah, begitu lebih bagus.” Taehyung tahu-tahu berujar, masih saja terkekeh-kekeh. “Aku lebih senang melihatmu marah-marah ketimbang murung seperti tadi. Kau yang marah-marah, jauh lebih kelihatan seperti Son Dahye yang sebenarnya,”

Jadi Taehyung juga berniat mengusir kesedihannya rupanya. Walau dengan cara mengesalkan dan kurang normal.

“Kau sudah tidak marah lagi padaku?” Dahye kemudian bertanya, kali ini melepas tangan Chaeyeon dan berganti berjalan di sisi Taehyung.

Diberi pertanyaan begitu, membuat Taehyung agak terkejut. “Apa? Marah apanya?”

“Sejak berhari-hari kemarin kau menghindari dan menjauhiku. Kau pasti marah padaku ‘kan?” Dahye menjelaskan maksudnya.

Sejenak Taehyung terdiam. Ia lalu berdehem dan menatap Dahye dengan senyum usil. “Wah, kau pasti kecewa karena jauh dariku, ya?”

Apa-apaan.

Sambil mendengus, Dahye kembali meninggalkan Taehyung dan memilih berjalan di samping Chaeyeon.

Sepanjang perjalanan, pasangan Kim bersaudara ini terus saja mengobrol dan membicarakan ini itu. Mereka juga berusaha membawa Dahye untuk ikut berbincang. Namun Dahye hanya memberi respon sekenanya. Lama-lama berbaur dengan keduanya, Dahye rasa Taehyung dan Chaeyeon tidak buruk juga. Meski keduanya agak mengesalkan dan senang bertingkah berlebihan, harus diakui mereka merupakan teman yang cukup baik.

Hingga akhirnya mereka sampai di kafe yang Chaeyeon maksud. Dahye tahu hatinya terasa mencelus ke dasar perut begitu ia sadar tempat apa ini.

Kafe yang ia kunjungi bersama Sehun beberapa hari lalu. Tepat sebelum semua rahasia terbongkar dan pertengkaran mereka meletus.

Dari semua tempat makan di seluruh kota, kenapa harus kafe ini?

Mengembuskan napas berat, Dahye telah memutuskan untuk berbalik badan dan berjalan pergi ketika Chaeyeon menahan lengannya.

“Ayo masuk. Kau tidak akan menyesal setelah mencicipi menunya.”

Dahye menggeleng pelan. “Aku mau pulang.”

“Kenapa? Kita bahkan baru sampai,” sahut Chaeyeon, suaranya kedengaran agak merajuk.

“Ah, pasti karena kau takut dengan harga yang dijual di tempat ini, ya?” Taehyung menukas cepat. Ia lalu menepuk-nepuk pundak Dahye dengan bersahabat. “Tenang saja, Chaeyeon yang akan bayar semua makananmu. Jadi tidak perlu khawatir dan ayo masuk.”

Dasar bodoh. Mana mungkin begitu.

Mendengar ini, Chaeyeon segera menghadiahi saudara kembarnya dengan delikan tajam. Namun Taehyung hanya membalas sekenanya, dan menarik Dahye agar masuk ke dalam kafe bersamanya. Dahye ingin berontak, tapi kekuatan Taehyung tentu tak sebanding dengannya. Maka ia hanya bisa pasrah digiring masuk ke dalam tempat ini.

Suasana kafe ini masih saja sama seperti terakhir kali Dahye berkunjung. Bedanya, dulu Dahye duduk bersama Sehun, dan kini ia dikelilingi oleh Kim bersaudara yang tak henti mengoceh. Baik Taehyung maupun Chaeyeon yang kini ribut memilih menu, sama sekali tak menyadari perubahan raut wajah Dahye ketika gadis itu memindai seluruh ruangan kafe.

Saat itu Sehun membawanya ke tempat ini karena ingin makan kue cokelat yang katanya paling enak. Namun nyatanya, ia malah bertemu dengan teman lamanya dan melupakan Dahye sepenuhnya.

            “Yang ini termasuk detensi juga?” Dahye bertanya sembari membalik-balik buku menu di tangannya.

            Mereka baru saja pulang dari sekolah. Tadi begitu Dahye berjalan melewati ruangan Sehun, pemuda itu tiba-tiba menarik tangannya dan membawanya ke dalam mobil. Sehun bilang, ia ingin mengajak Dahye ke kafe kesukaannya yang menyediakan kue cokelat paling enak. Dan rupanya, di sinilah mereka. Mengingat Sehun selalu menjadikan detensi sebagai alasan untuk mengajaknya pergi, Dahye tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya begitu.

            Sehun mendongak dari buku menunya sendiri lalu mengulas cengiran lebar. “Sebenarnya bukan. Tapi kalau kau mau menganggapnya begitu, ya terserah saja.”

            “Semuanya mahal.” Dahye bergumam sambil menutup buku menunya. Ia lalu menatap Sehun dengan wajah nelangsa. “Bagaimana mungkin kau mengajak anak sekolah sepertiku makan di kafe yang membandrol harga selangit hanya untuk sepotong kue cokelat, huh?”

            Sehun terkekeh mendengar ini. Sebelah tangannya terangkat untuk mengusak puncak kepala Dahye. “Aku yang bayar, tenang saja.”

            “Aku pesan air mineral saja,” tukas Dahye lalu mencebikan bibirnya.

            Lagi-lagi sebuah kekehan lolos dari mulut Sehun. “Mana bisa begitu. Kita samakan saja pesanannya, oke?”

Dahye tersenyum sedih ketika memori tentang hari itu kembali menyapanya.

Saat itu Dahye jengkel bukan main pada Sehun yang melupakannya karena ia bertemu dengan teman lama. Namun kini, ia bersumpah, jika saja bisa maka ia rela kembali ke hari itu. Hari dimana segalanya masih berjalan dengan baik. Hari dimana ia masih belum tahu tentang rahasia-rahasia gelap yang Sehun sembunyikan darinya. Hari dimana, ia masih bisa menganggap Sehun sebagai miliknya sepenuhnya.

“Dahye? Kau sudah pilih mau pesan apa?” tanya Chaeyeon kemudian.

“Samakan saja dengan kalian.” Dahye menjawab tanpa antusias.

“Sayang sekali. Kalau aku jadi kau, ya, aku akan pilih menu paling mahal,” tukas Taehyung tanpa dosa. “Kapan lagi bisa menguras dompetnya Kimchae.”

“Yak, Kim Taehyung, kau benar-benar mau mati, ya!”

Ketika itu, Chaeyeon sudah bersiap menghadiahi kepala saudara kembarnya dengan satu jitakan maut. Namun rupanya sesuatu telah menyedot seluruh atensi Taehyung hingga pemuda ittu bergerak antusias di kursinya. Atau kalau boleh diperjelas, seseorang lebih tepatnya.

“Wah, bagaimana mungkin kafe ini punya pelayan secantik itu?” Taehyun berdecak heboh sambil memperhatikan sesosok gadis semampai yang kini berjalan mendekati mereka.

Baik Chaeyeon maupun Dahye mau tak mau dibuat penasaran juga dengan perkataan Taehyung tadi. Keduanya memutar kepala, dan segera menemukan sosok pelayan yang dimaksud Taehyung.

Ah, bukan. Bukan seorang pelayan.

Melainkan, Shannon Jung. Keponakan dari pemilik kafe ini, sekaligus teman lama Sehun.

“Shannon …?” Dahye bergumam pelan begitu sosok yang dimaksud olehnya telah sampai di meja mereka.

Shannon sendiri kelihatan terkejut kala menemukan Dahye duduk di sana. Ia mengerjap beberapa kali sebelum berujar, “Kau pacar Sehun yang beberapa hari lalu datang kemari, ‘kan?”

Di kursi masing-masing, Chaeyeon dan Taehyung sama-sama tak sangka mendapati Dahye yang mengenali gadis di hadapan mereka.

“I-iya, benar.” Dahye bergumam pelan, agak tersentil ketika Shannon masih menyebutnya sebagai kekasih Sehun.

“Wah, senang sekali melihatmu datang lagi kemari!” Shannon menukas senang, senyumnya melebar dengan cantik. “Biar kuingat. Namamu … Dahye, benar?”

Dahye mengangguk kecil sebagai jawaban.

“Baiklah, Dahye. Karena hari ini aku bekerja sebagai pelayan kafe ini, maka silakan sebutkan menu apa saja yang ingin kau dan teman-temanmu ini pesan.” Shannon berujar ramah, mengeluarkan notes kecil dari apron yang melilit pinggangnya, siap mencatat seluruh pesanan mereka.

Tanpa diminta, Chaeyeon segera menyebutkan makanan pilihan mereka sementara Shannon mencatatnya dengan cekatan. Lalu ketika gadis Jung itu telah memastikan seluruh pesanan, dan bersiap meninggalkan meja mereka, Dahye bergegas menahannya pergi. Ia menarik napas, sebelum berujar dengan ragu-ragu.

“Shannon, bisa kita … bicara?”

            “Jadi, ada apa? Kau kelihatan serius sekali.” Shannon bertanya sembari menatap Dahye ingin tahu.

Kini keduanya telah duduk di meja paling sudut, memisahkan diri dari Taehyung juga Chaeyeon sebab Dahye ingin bicara berdua saja dengan gadis di hadapannya ini.

Perlahan Dahye mengembuskan napasnya, membiarkan beban yang menyesaki dadanya terbuang barang sejenak. “Kau teman dekat Sehun sejak kuliah, ‘kan? Kau bilang kau tahu semua rahasia terkecilnya, benar ‘kan?”

Meski agak tak mengerti mengapa Dahye mengajukan pertanyaan itu, Shannon tetap mengangguk juga. “Iya, memang benar.”

“Kalau begitu … kalau begitu kau pasti tahu tentang—” Kerongkongan Dahye terasa tersumbat ketika ia mencoba meneruskan. “tentang Son Dayoung? Kau tahu hubungannya dengan Sehun?”

Butuh beberapa sekon bagi Shannon untuk mengingat kembali nama yang terasa tak asing di telinganya itu.

“Son Dayoung ….?” Shannon bergumam pelan sembari menelengkan kepalanya. “Ah, ya Son Dayoung, aku ingat nama itu.”

“Kau ingat?” Dahye memastikan.

“Dia … gadis itu pernah punya satu hubungan dengan Sehun,” sahut Shannon kemudian, ia memasang raut berpikir-pikir. “Tapi kau tahu dari mana tentang dia?”

“Aku sudah tahu semuanya.” Dahye menjawab perlahan. “Tentang hubungan gelap yang Sehun jalin dengan gadis itu, tentang rahasia-rahasianya, aku sudah tahu.”

“Oh ya ampun.” Shannon menekap mulutnya, terkejut mendengar Dahye telah mengetahui ini semua. “Lalu apa yang terjadi denganmu dan Sehun?”

Dahye melepas tawa kering kemudian menundukan kepalanya. “Aku tidak tahu. Kurasa untuk saat ini aku tak ingin bertemu dengannya dulu.”

“Dahye, dengarkan aku. Apa yang pernah terjadi antara Sehun dan gadis itu hanya masa lalu. Tak semestinya hal ini jadi masalah besar untukmu dan Sehun. Saat ini Sehun hanya menyukaimu seorang, kau tahu itu ‘kan?” Shannon menjelaskan dengan hati-hati. Ia meraih tangan Dahye di atas meja lantas menggenggamnya, berusaha memberi kekuatan.

Mungkin benar apa yang Shannon katakan, jika saja Dayoung bukan kakaknya. Shannon hanya tak tahu hubungan adik kakak yang terjalin antara Dahye dan Dayoung.

“Sebenarnya aku ingin mendengar kisah Sehun dan gadis itu dari sudut pandangmu, Shannon.” Dahye lantas berujar.

Shannon terdiam sejenak. “Kau yakin ingin mendengarnya? Jika aku jadi kau, aku mungkin tidak ingin tahu tentang mereka.”

Dahye mengangguk yakin, membiarkan Shannon untuk mulai bercerita.

“Sebenarnya semula aku tak tahu apa pun tentang Sehun dan gadis itu. Sehun tak pernah cerita padaku, hingga suatu hari dia datang padaku dan meminta bantuanku.” Shannon memulai.

“Bantuan?”

Shannon mengangguk lantas meneruskan, “Dari sanalah dia menceritakan semuanya. Tentang tunangan sahabatnya yang diam-diam dia sukai, hingga tentang hubungan rahasia yang akhirnya dia jalin dengan gadis itu. Sehun berkata, mulanya dia menikmati segalanya, sebab dia memang mencintai gadis itu. Namun lama-kelamaan, rasa bersalah semakin menghantuinya. Ia semakin merasa bersalah telah bermain-main di belakang punggung sahabatnya sendiri dan membuat gadis yang dia cintai kelihatan buruk.

Dia bilang, dia telah meminta gadis itu untuk mengakhiri semuanya. Namun gadis itu tak pernah mau, sekuat apa pun Sehun meminta, gadis itu tak pernah ingin berpisah dengannya. Hingga akhirnya, Sehun memutuskan untuk memutuskan segalanya sepihak. Dengan cara, membuat gadis itu benci padanya.”

“A-apa?” Dahye bergumam tak percaya.

“Di sanalah dia meminta bantuanku. Dia memintaku berpura-pura tidur dengannya, dan membuat gadis itu melihatnya. Sehun pikir, dengan begitu gadis itu akan membencinya dan menjauhinya. Dia tak masalah dibenci oleh gadis yang dicintainya, selama gadis itu terbebas dari hubungan gelap yang mereka jalin, selama dia bisa menghentikan pengkhianatan pada sahabatnya sendiri. Memang kedengarannya egois membuat gadis itu terluka hanya agar dia meninggalkan Sehun. Namun sebenarnya, Sehun melakukan semua itu untuk melindungi gadis itu juga. Bukankah akan lebih buruk jika hubungan mereka terus berlanjut?” jelas Shannon. “Dan rencananya memang berhasil. Gadis itu tak lagi menemuinya, menjauhinya, dan hubungan mereka seolah berakhir di sana. Namun hal yang lebih buruk rupanya terjadi. Beberapa hari setelah dia melihatku dan Sehun, gadis itu ditemukan tewas bunuh diri. Ketika itu pula, Sehun jatuh pada titik terendah dalam hidupnya. Dia merasa bersalah mati-matian lebih dari apa pun”

Dahye terenyak begitu Shannon selesai bercerita. Tak pernah ia tahu begitulah kisah lain yang masih tersembunyi. Tak pernah ia kira dahulu Sehun sempat ingin mengakhiri hubungan rahasianya dengan eonninya. Tak pernah ia Sehun sampai melakukan itu semua.

“Meski begitu kini aku tahu benar bagaimana rasanya dikhianati—oleh sosok yang paling kucintai. Untuk tetap bernapas dan bertahan hidup pun rasanya begitu sukar. Mungkinkah jika aku pergi segalanya bisa berjalan lebih baik? Mungkinkah jika aku pergi pengkhianatan memuakan itu akan berakhir?”    

Ternyata inilah yang eonninya maksud dengan pengkhianatan itu. Pengkhianatan yang sesungguhnya Sehun lakukan untuk melindungi Dayoung sendiri.

Eonninya memilih mengakhiri hidupnya karena ia telah dikhianati oleh Sehun. Padahal sesungguhnya, pengkhianatan itu sendiri Sehun lakukan untuk melepaskan eonninya dari hubungan gelap yang mereka jalin, hubungan gelap yang enggan diakhirinya. Pengkhianatan itu, dilakukan untuk kebaikan eonninya sendiri, namun berbalik menjadi alasannya untuk melakukan bunuh diri.

Kalau begitu jadinya … bukankah itu artinya Sehun tak bermaksud untuk membuat eonninya melakukan bunuh diri?

Tapi tetap saja. Mau bagaimana pun Sehun tetap bersalah karena telah memulai semua hubungan rahasia itu. Semua yang didapatkannya, merupakan hukuman atas kesalahan-kesalahannya.

“Aku mengerti mungkin kau membenci Sehun karena dia telah melakukan kesalahan yang begitu besar di masa lalu. Tapi bukankah dia telah mendapat balasan atas apa yang dilakukannya?” Shannon berujar dengan lembut. “Tak bisakah kau memaafkan Sehun, Dahye-ya?”

Dahye tercenung mendengar semua ini. Ia menunduk, memandangi jari-jemarinya yang terasa kebas. Hatinya kembali bimbang untuk ke sekian kalinya memikirkan ini semua.

Ketika hening tengah melanda keduanya, Dahye merasakan ponselnya bergetar pendek. Pesan masuk. Ia mengeluarkan ponselnya tanpa minat, lalu menemukan sederet nomor tak tersimpan terpampang di layar ponselnya sebagai pengirim pesan.

            From: 010-5934-2874

            Dahye-ya, mungkin kau tidak ingin menemuiku lagi. Tapi aku berjanji ini akan jadi yang terakhir kalinya. Kumohon temui aku di taman itu sore ini.

Meski Dahye telah menghapus nomornya dari daftar kontak, ia tentu tahu benar siapa pengirim pesan ini. Ia memejamkan kedua matanya perlahan, sebelum membaca kembali pesan di layar ponselnya.

Haruskah? Haruskah ia datang dan menemuinya lagi?

Kala itu, kalimat Shannon sebelumnya kembali berdengung di telinga Dahye, bagai pengingat yang membuatnya kembali terpekur.

Tak bisakah kau memaafkan Sehun, Dahye-ya?

            Sehun mengerling jam yang melingkari pergelangan tangannya untuk ke sekian kalinya. Nyaris pukul tujuh malam, dan sosok yang ditunggunya belum juga tiba.

Memang, mungkin agak mustahil Dahye akan datang dan menemuinya kemari. Tapi Sehun tak bercanda ketika ia menyampaikan bahwa ini merupakan kali terakhirnya. Mungkin jika bukan sekarang, Sehun takkan bisa menemui Dahye lagi.

Ia telah memutuskan pergi.

Kepindahannya dari Younghwan High School telah usai diurusnya, dan kini tinggal menunggu tanggal kepergiannya saja dari Seoul. Namun sebelum ia pergi, ia ingin bertemu Dahye untuk terakhir kalinya. Ia ingin menatap wajah gadis itu, ingin bicara padanya sekali ini saja.

Mungkin, hanya mungkin, jika Dahye datang dan memintanya untuk tinggal, Sehun akan mengurungkan kepergiannya. Atau setidaknya, akan berjanji untuk kembali lagi kemari. Hanya untuk Dahye.

Sesaat kemudian ia tertawa hampa. Bodoh sekali. Setelah apa yang dilakukannya, ia masih berharap Dahye akan datang dan menahannya pergi? Sehun tersadar betapa tak tahu dirinya ia.

Mengembuskan napas perlahan, Sehun menatap sekelilingnya. Dulu, ia dan Dahye pernah duduk di taman ini, persis di bangku yang kini didudukinya. Dulu, ketika segalanya belum seburuk ini. Tanpa disadarinya, kedua sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kecil. Ia mengusap ruang kosong di sampingnya, memikirkan dahulu di sanalah Dahye duduk, tepat di sisinya.

“Ini taman yang sering kukunjungi untuk melepas penat.” Sehun berujar pelan. Tanpa permisi ia membawa tangan Dahye dalam genggamannya kemudian membawanya berjalan menuju salah satu bangku panjang.

“Jadi ini sebagian dari detensiku juga?” Dahye bertanya setelah keduanya duduk di bangku, mengamati bocah-bocah kecil yang berlarian dengan derai tawa cerah mengiringi. Sehun belum juga melepaskan genggaman tangannya.

            “Kalau kau tidak mau menganggapnya sebagai kencan, maka ya. Ini bagian dari detensimu.” Sehun menjawab dalam gumaman pelan.

Betapa ia akan merindukan semua yang telah dilaluinya bersama gadis itu.

Lantas Sehun teringat, dulu Dahye pernah mengiriminya pesan untuk datang kemari. Gadis itu menunggunya di tempat ini, mungkin juga di bangku ini. Namun ia tak pernah datang, sebab ia menghabiskan malamnya untuk minum-minum. Lalu ketika ia tiba di apartemennya, ditemukannya Dahye tengah duduk di sana, mungkin menunggunya selama berjam-jam. Dan ia, dengan bodohnya mengabaikan kehadirannya.

“Tapi—tapi aku menyukaimu … Bagaimana ini?”

Mungkin Dahye menunggunya di taman ini sampai ia kedinginan hanya untuk menyampaikan kalimat itu. Hanya untuk mengungkapkan rasa sukanya.

Jadi begini rasanya menunggu begitu lama. Jadi ini yang Dahye rasakan saat itu.

Jika dipikirkan lagi, ia memang keparat. Pantas menerima semua ini.

Lalu Sehun menemukan pesan singkat baru saja masuk ke ponselnya. Bergegas ia membukanya, berharap Dahye merupakan pengirimnya.

            From: Ibu

            Sehun, keadaan ayahmu semakin kritis. Kau jadi menyusul kemari, Sayang?

Embusan napas berat lolos dari hidung Sehun. Ia memandang sekitar untuk terakhir kalinya, berharap dapat menemukan Dahye yang berjalan menghampirinya. Namun ketika menemukan seluruh taman kosong, Sehun tahu sampai kapan pun gadis itu takkan pernah datang.

Maka setelah mengetikkan balasan untuk ibunya, pemuda itu bangkit dari duduknya, lantas meninggalkan taman dengan langkah berat.

Ketika itu pula ia tersadar, ia telah mengambil keputusan, untuk meninggalkan semua yang sempat dimilikinya di tempat ini.

Termasuk Dahye.

            To: Ibu

            Ya, Ibu. Aku akan segera berangkat ke sana. Jangan khawatir dan jaga kesehatan Ibu juga. Ayah pasti akan baik-baik saja.

…kkeut

            Note♥

Hai …?

Adakah yang masih baca fic ini._.? Lagi-lagi telat update dan lagi-lagi kepanjangan, huhu maafin aku:””” err aku gatau gimana chap ini, semoga kalian terhibur aja deh ya bacanya:”) dan dan dan kita semakin dekat sama kata END wehehe ko aku jadi syedi gini mau pisah sama TDH yak:”” /alaynya kambuh

Udadeh segini dulu, makasih banyak buat kalian yang udah baca chapter 19 iniii^^ /tebar lipstick chateau

Seeya on next chap gengs~~~~

…mind to leave a review?

 

 1471521895486

95 responses to “The Dim Hollow Chapter 19 by Cedarpie24

  1. duhhhhhh kasihan bgt hunhye ㅠㅠㅠㅠ
    ayolah dahye maapin sehun ya walaupun rasanya berat tapi dicoba dulu dong tu sehun mau pergi ninggalin kamu. klo sehun pergi gimana nasib mereka berdua??? baca part ini bikin perasaan campur aduk semoga masalah nya cpt selesai

  2. itu pergi kemana ya??!
    wah dahye gak sadar juga kan shannon uda jelasin

    thor telat nih ffnya dan penasaran sam ending tetep semangat ya thor nulisnya wkwkwk

  3. Ampun deh eonn, chapt ini bikin nahan napas melulu :s
    Sedih deh hunhye pisah begini😦 moment mereka juga nihil bgt, paling yg pas-pasan waktu jalan sm chaeyeon…..
    Untunggg banget deh ketemu shannon…. Jd tau kan kalo sehun emang ga sepenuhnya salah \soal dayong bunuh diri/ tp tetep dia salahnya pny hubungan gelap dibelakang baek…. hmmmmm
    Harusnya sih dahye bisa maafin sehun… Nunggu apa lagi sih hye T.T
    Btw, sehun mau keluar seoul? Kemana???? T.T
    Dahye juga kemanaaaa ga muncul2 ckckck lg deg degan ehhh tbc *hikss
    Yg ini panjang ya eonn…. Suka banget hahahahahaaa berasa galaunya

    Ehhh btw comebacknya lotto buset dahhh… Si cadel makin kurus aja kliatannya x_x tp tetep tamvan😄 wkwkwkkwk \topik melenceng dari cerita TDH/

    Nextnya ditunggu bgt eonn X3 keep writing~

  4. mau maafin susah. gak maafin juga susah. berat banget. keduanya sama-sama tersiksa.. berharap yang terbaik saja. tapi buat aku yang terbaik dalam dunia fanfic adalah happy ending, he he..
    aku juga penasaran reaksi taehyung pas dengar Shannon bilang dahye pacarnya sehun. dia udah tau belum sih? kalo blum tau mungkin dia bisa jungkir balik?

  5. dahye pls temuin sehun sbelum menyesal untuk selamanya. sehun udah mau pergi ?? duh aku gabisa liat lagi kan moment sehun yg jadi guru idaman seluruh fangirl di dunia T,T wkwk
    sumpah ini tuh nyes banget kalo jadi dahye. dahye udh tau kebenarannya, tapi seharusnya juga dia maafin sehun😦 pla lah jangan gitu dahye nya. kasian banget kan sehun jadi harus merasa bersalah lagii
    smoga chap depan ada moment sehun dahye lagi ya kak hehe
    fighting for the next chap❤

  6. Sedihhhhhhh….., kira 2 dahye dateng gak ya kasihan sehun semoga dahye bisa menerima masa lalu sehun dan ngemaafin sehun

  7. ah kasian juga sehun meskipun itu hanya masa lalu tapi tetap saja kasian. dahye juga hiks..
    wah sehun bakal pergi oh ayolah dahye datang temui sehun dn mulai semuanya dari awal lagi fighting

  8. OMG OMG sakiiit banget nih hati ya Tuhan😥
    Kalo aku jadi Dahye mungkin bakal ngelakuin hal yang sama juga sih, ga segampang itu nerima masa lalu sehun apalagi langsung berkaitan sama sodara sendiri. Tapi kasian sehun juga dia tulus banget sama Dahye. Baper parah baca 2 chapter belakangan ini😦
    Ya pokoknya musti happy ending ya authornim :’D feel sehun-dahye udah dapet bgt nih kekeke

  9. Yahhhh sehunnnn kok pergi kalo dahye susul ksana.gmna dong😭
    Please update soon penasaran kak huhuhu

  10. oh tidaaaakkk…..baca koment”nya udh bikin aq nyesek….
    aq sampai gk berani baca ceritanya kak,hehehe….. #pengecut

    aq cuma bisa berharap cerita ini bakalan happy ending..
    buat sehun dan dahye bersatu dan bahagia🙂
    itu aja kak…..sebab aq gk kuat kalau baca cerita yg nyesek” karna pasti bakalan baper dan kepikiran terus….

  11. Huwaaaaaaaaa…..kasian sehun eomma,,dahye gak ada niatan maafin sehun gitu?
    Mewek aku baca ini,kebayang muka sehun yg begitu terluka #tsahhh 😂,bang sehun sini deh sama aku aja #digampardahye
    AKu seneng banget sama ff ini,bahkan jadi list ff yg aku tungguin tiap hari…#hiks
    Tapi dulu aku gk tau cara komennya,sekarang aja masih bingung sebenernya…nyampe/nggak…#hiks

    Aku gaptek sih,,mian…

  12. Ommo ommo 😱😱😱 gimana ini?
    Dahye pasti dateng kan? Iyakan?
    Masa aku WA dulu sih Si Dahye supaya dia cepetan nyusul ke taman? Argghhhhhhhhh
    Btw, itu si Mphi udah tau kalo si Dahye Sehun juga punya hubungan? soalnya ga ada keterangannya masa wkwkw
    Kalo dia udah tau kan di pelayan itu bikang “kau pacarnya sehun” nah dia ga kaget, berarti kesimpulannya dia udah tau dong yaaa

  13. Sehun mau kemana Sehun?????
    Disaat Dahye udah mau mulai maafin Sehun, Sehunnya malah mau pergi..
    mereka bakalan balik lagi?? Dahye bisa kali deket dulu sama Taehyung hahaha..
    sebenernya ya Sehun ga salah2 banget sih, dasar Dayoungnya aja yg pikirannya terlalu ekstrem jadi langsung bunuh diri..
    di tunggu next chapternya ^^

  14. Wahhh Kerennn banget.pasti nya dahyee bakalan kembali dgn sehun dong.makin penasaran nih kedepannya d tunggu next chapter nya figting🙋🙋🙋

  15. Udah terlanjur jatuh ke sehun terus mau di hempas gitu aja, sehun bawa dahye aja sekalian terus halalkan eh punten wkwk. Cant wait for next chapt! TDH always be my fav ❤

  16. Andwee! Sehun mau pergi ke mana??
    jangan pergi dulu napa Hun, kali aja Dahye bentaran lagi dateng 😭
    eh, itu jadi ceritanya si kembar Kim dia”nya tau hubungan Sehun-Dahye?
    next next chapteerr, ok? 😉💞

  17. dua chapet ngebutt jongin kamu kemanaa????
    apa jobgin cedera gak bisa ikut nimbrung di ff yaa huhuhu
    ribet bgt hub dahye sama sehun ini huhuhu aku sampe mules bacanya

  18. Sumpah sumpah aku menangisss😭😭😭
    Demi apa aku pengen banget sehun sama dahye bersatu lagi! Ugghhh that feels💔
    Bingung mau ngasihanin yg mana, mereka berdua sama sama perlu di kasihanin ya ampunn!
    Kak please ya klo mau nyudahin ff ini, harus pake happy ending. Aku kasian sama mereka berduaaa😢
    Pokoknya pokoknya aku makin cinta sama ff ini! Semangat terus yaaaaa💪💪

  19. Dahye kemanaaaaa jgn ga dtg dong, kesempatan ga dtg 2x :” sedig bgt klo endingnya mereka ga bisa bareng….. Bagian akhir nyesek bgt thor serius. Masih ada brp chapt nih menjelang selesai? Semoga endingnya ga mengecewakan ya

  20. Loooh kok keut sampe sms ituuu
    sehun mau pergi kemana?😦
    jadi sehun minta ketemuan cuma mau pamit? Kok sedih ;(
    next chap selanjutnya thooooor

  21. aduhh makin rumit dan menyakitkan,,,, xbisa kh wahai dahye kw melupakan semuanya dan menerima sehun blk huhuhuhu,,, ak rasa time sehun jln br dahye dtng,jgn2 sehun xakan balik sudah ganti posisis ayh’nya kan…. ok kk ak tnggu lnjttanya

  22. Aku gabisa bela siapa siapa di chap ini duaduanya tersakiti sih
    Jehh thor kena demam lipstik chateu jg wkk😀
    Ditunggu next nya hihi😀

  23. Gapaapa kok kak updatenya telat asalnya ceritanya panjang :’)
    Aku sedih banget sih atas semua kesalah pahaman itu, gimana yaaa, jadi bingung mau nyalahin siapa😦 salahin yang ngejodohin aja kali ya😦
    Ah sehun dan dahye jangan pisah dong, gak kuat ngelihat mereka saling sedih, btw jongin buat shannon aja lah hehehhe

  24. Si twins kim itu lucu banget deh hahaha, semoga hubungan dahye dan sehun baik” aja🙂 dan gimana kabar baekhyun ?? Aku rindu baekhyun😦😦

  25. Sehun jangan dulu pergi atuh ih, Dahye kemana?dia dateng kan? jangan sampe pisah, jangan sampe end juga hihi *dicium author
    ko nyesek ya bacanya, ah semoga happy ending, kalopun Sehun pergi dia harus balik lagi.
    ditunggu next chapter nya thor

  26. Pingback: The Dim Hollow Chapter 20 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  27. amvun dah ni bikin greget aja lama2. mau end lagi amvun thor happy ending yah…
    kekkkk ok lah semangat terus thor.

  28. sumpah sumpah demi apapun aku mewek semewek meweknya baca chapter ini huhuhu :”’
    dan pliss sehun mau kemana?? jangan pergi juseyoo ….
    kasian dahyenya nanti ..
    dan dahye udah maafin sehun aja tolongg

  29. Kasihan liat mereka berdua.. mereka sama-sama terluka.. sama-sama sedih dengan keadaan kayak gini.. tapi emang mungkin berat babget Dahye buat maafin Sehun.. mereka beneran berakhir nih? Huuuwaaa aku gak rela..

  30. Dahyeeee pleasee terima sehun lagii😦
    Aduuh linglung jadinyaa nihh,awalnya pengennya dahye sama V tapi skaranf sama sehun… tapii memang akhirnya sama sehun ya ㅋㅋㅋ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s