ALL I ASK [PART XIII] — by Neez

aias-copy

ALL I ASK

Oh Jaehee / OC || Kim Joonmyun / EXO Suho 

Lee Hana / OC || Baek Jinmi / OC || Kim Jongin / EXO Kai || Kim Jongdae / EXO Chen / Others

Alternative Universe, School Life, Family, Romance, Slight!Musical, Slight!Angst

PG || Chapters

Teaser || [PART I] || [PART II] || [PART III] || [PART IV] || [PART V] || [PART VI] || [PART VII] || [PART VIII] || [PART IX] || [PART X] || [PART XI] || [PART XII]

© neez

Beautiful Poster Cr : Kenssi at storyexo.wordpress.com

BETA : IMA

Lanjutkan! Lanjutkan!” Hyesoo, Chanyeol, Jinmi, bahkan Yixing dan Solar memberikan isyarat dari samping panggung saat melihat Jaehee yang membeku saat Joonmyun membuka topengnya. Kepala Jaehee mendadak kosong begitu saja, dan ia harus menelan ludahnya banyak-banyak sebelum bisa melanjutkan adegan. Ia berharap ia salah dengar, namun jika begitu banyak gumaman hingga terdengar seperti serangan lebah, Jaehee seolah tertarik dari dalam transnya dan berusaha kembali bersikap profesional.

   Untunglah memang adegan yang harus ia lakukan kemudian adalah terkaget-kaget dan tersipu-sipu, karena ia memang super kaget dan super terispu-sipu, karena damn, Jaehee tidak menyangka jika Joonmyun mengenakan pakaian abad pertengahan, maka otot tangannya akan terlihat, dan wajahnya bersinar.

   Bagaimana dia tidak tambah jatuh cinta? Ini benar-benar berbahaya. Apalagi ayah ibunya, Joon, dan Hana kini tengah menyaksikannya. Dan siapa pun yang mengenalinya, dan mengenali Joonmyun pasti kini tengah terkejut. Itulah kenapa banyak terdengar gumaman.

   Uh, sudah tercebur, lebih baik basah sekalian…

   ”Good pilgrim, you do wrong your hand too much, Which mannerly devotion shows in this, For saints have hands that pilgrims’ hands do touch, And palm to palm is holy palmers’ kiss. (Peziarah yang baik, kau tidak memberikan tanganmu cukup penghormatan. Dengan menggenggam kedua tanganku, kau menunjukkan pengabdian yang sopan. Bagaimanapun juga, peziarah menyentuh patung-patung orang suci. Maka, berpegangan tangan sudah seperti berciuman).” Dengan lembut Jaehee menjawab, menatap dua mata Joonmyun yang jernih, sementara pria itu berdiri dan mulai menyamakan pandangan mereka.

   Dengan memiringkan kepalanya dan memasang senyum yang menawan, juga tanpa memutuskan kontak, Joonmyun meneruskan dialognya, ”Have not saint lips, and holy palmers too? (Bukankah orang suci dan peziarah juga memiliki bibir?).”

   ”Ay, Pilgrim, lips that they must use in prayer. (Ya, Peziarah, bibir yang harus mereka gunakan untuk berdoa).”

   ”O, then, dear saint, let lips do what hands do. They pray; grant thou, lest faith turn to despair. (Kalau begitu, Orang suci, biarkanlah bibir melakukan apa yang dua tangan itu lakukan. Aku berdoa agar kau menciumku. Kumohon kabulkan doaku, agar keyakinanku tidak berakhir sia-sia).”

   Napas Jaehee tercekat sebelum menjawab, ”Saints do not move, though grant for prayer’s sake. (Orang suci itu tidak bergerak, meskipun saat sedang mengabulkan doa).”

   Joonmyun tersenyum kecil sebelum sedikit menghela napas dan mendekatkan wajahnya sambil memejamkan matanya, seolah menghirup aroma tubuh Jaehee dan menyentuh bibir penuh gadis itu dengan kedua bibirnya sendiri. Ia bisa mendengar Jaehee menghembuskan napas dengan tenang, seolah menikmati pertemuan bibir mereka untuk kesekian kalinya. Seolah, ia sudah benar-benar menunggu hal ini terjadi.

   Saat itu juga, Jaehee merasa di ruangan ini, di panggung ini, hanya ada dia dan Joonmyun.

   Joonmyun melepaskan ciumannya dengan napas memburu, tidak berniat menjauhkan wajahnya lebih dari ini sambil bergumam cukup keras untuk terdengar ke mikrofonnya, ”Thus from my lips, the sin that they have took (Sekarang dosa yang ada padaku terhapuskan karena ciumanmu).”

   ”Then have my lips the sin that they have took? (Lalu apakah bibirku kini berdosa karena telah mengambilnya darimu?).”

   Joonmyun tersenyum, jarak diantara mereka masih sangat dekat, suara mereka berbisik, begitu terlena dengan apa yang terjadi diantara mereka barusan. ”Sin from thy lips? O trespass sweetly urged! Give me my sin again!” dan keduanya kembali berciuman seperti saat pertamakali mereka berciuman di balkon lantai lima tempo hari.

   Dua tangan Jaehee pada leher Joonmyun. Satu tangan Joonmyun melingkari pinggul gadis itu dan membawanya ke dalam pelukannya, sementara tangan lain menahan kepala gadis itu agar tidak membebaskan diri.

   Mereka tidak mendengar banyak teriakan dan sorakan, mereka hanya melakukan apa yang sudah seharusnya mereka lakukan seperti di naskah. Dengan sepenuh hati, karena belum tentu kesempatan ini datang sekali lagi.

   Pertunjukan akhirnya tiba di scene paling akhir, ketika dua peti mati, berisi Juliet Jaehee dan Romeo Joonmyun disejajarkan, setelah dua keluarga saling memaafkan setelah mengetahui dua putra-putri mereka memilih bunuh diri karena cinta terlarang mereka. Setelah pemeran Balthasar—sepupu Romeo, menyatukan kedua tangan pasangan kekasih, seluruh pemeran beranjak dari panggung dan membiarkan narator membacakan narasi terakhir dari pertunjukan musikal Romeo & Juliet.

   Jaehee baru bisa menghela napasnya lega saat tirai beludru merah itu diturunkan, diiringi tepuk tangan para penonton. Ia masih berbaring saat merasakan tangan yang menggenggamnya bergerak, Jaehee menoleh dan melihat Joonmyun akhirnya bangkit dari pembaringan dan saat Jaehee hendak menanyakan bagaimana ia bisa berada di posisi Minseok, pria itu menarik tubuhnya dan kembali mencium bibirnya.

   Demi Tuhan, ini sudah bukan pertunjukkan. Apa yang terjadi?! Jaehee hanya dapat menjerit dalam kepalanya saat merasakan Joonmyun mencumbu bibirnya lagi. Mungkin pria itu bisa merasakan kekagetan Jaehee, karena perlahan-lahan ciumannya berubah dari terburu-buru menjadi manis dan lambat, sehingga Jaehee hanya bisa mencengkram bagian depan kemeja putih abad pertengahan Joonmyun agar tidak kembali jatuh ke pembaringan.

   Joonmyun masih menunduk sambil menikmati betapa manisnya rasa ceri dari lipgloss yang dikenakan Jaehee, yang bisa membuat otaknya mandek selama berakting tadi, dan bertekad menghapusnya sebelum pria lain sama penasarannya seperti yang ia rasakan, ketika mendengar suara derap langkah orang-orang yang mendekat. Dengan menyesal, ia buru-buru melepaskan bibir penuh yang membuatnya ketagihan itu, dan tersenyum lembut pada Jaehee yang terlihat terkesima akan ciumannya.

   ”Pakai ini,”

   Jaehee hanya diam saat Joonmyun melepaskan jubah panjangnya yang dibalik sehingga bagian kancingnya dikenakan di punggung. Kepala Joonmyun sudah cukup stress menyaksikan dua puncak penuh payudara sepanjang pertunjukkan, dan ia berani bersumpah bahwa hampir seluruh pemeran pria melirikkan mata mereka kesana—termasuk Jongdae, damn! Dan dia tidak mau siapa pun menikmati pemandangan indah itu, titik.

   ”J-joonmyun-ah… se…sebenarnya…”

   ”Sshhh!” Joonmyun menekan telunjuknya pada dua bibir penuh Jaehee, sebagian karena ia ingin gadis itu diam, ia yakin ia mendengar suara Guru Han, Baek Jinmi, dan yang lainnya mendekat. Dan sebagian lagi karena kepalanya sudah pusing melihat di bibir gadis itu masih ada jejak lipglossnya.

   Meski enggan, keduanya terpaksa memisahkan diri saat para pemeran dan pembimbing muncul, dan tirai beludru merah itu kembali di buka. Bersama-sama seluruh pemain dan staff saling bergandengan tangan dan membungkuk, memberikan hormat kepada para penonton yang telah menyaksikan pertunjukan mereka.

   Setelah itu, Jaehee tidak punya kesempatan untuk bertanya pada Joonmyun apa yang sebenarnya terjadi hari ini, karena Zhang Yixing dan Lee Hana sudah muncul dan memberikannya selamat, begitu juga dengan Kim Jongdae, yang langsung berada di sisi Joonmyun. Jaehee hanya sekilas melihat pria itu melempar kedipan dan senyuman kepadanya sebelum dibawa oleh Jongdae kembali ke ruang ganti.

 

*        *        *

Jaehee masih menatap bayangannya di depan cermin kamar gantinya. Ia masih terbengong-bengong tidak percaya dengan yang ia alami hari ini. Pertama, Minseok tidak menjadi Romeo, dan Joonmyun tiba-tiba muncul di panggung sebagai Romeo. Kemudian, yang masih ia tidak bisa lupa lagi adalah, ciuman Joonmyun yang tiba-tiba setelah tirai panggung diturunkan, dan tak ada yang melihat mereka.

   Mereka sudah tidak berakting. Apa yang Joonmyun lakukan? Ugh, sekarang kamar ganti mendadak panas meski suhu ruangan sudah dipasang enam belas derajat! Jaehee mengipasi wajahnya sendiri dengan brosur yang ia temukan dan otaknya kembali mengulang semua ciumannya dengan Joonmyun di atas panggung tadi. Entah berapa kali mereka saling berciuman, sementara saat latihan Joonmyun hanya mengajarinya satu kali saja!

   Kenapa Joonmyun senang memporak-porandakan hatinya? Pikir Jaehee nelangsa, Joonmyun tidak tahu kalau hatinya sudah dibuat terbang dengan setiap perlakuan lembutnya. Dan sekarang ditambah dengan ciuman dibalik tirai panggung, tanpa ada seorang pun yang tahu. Bukan untuk latihan, bukan untuk akting.

   Jahat.

   ”Jaehee-ssi,”

   ”Oh, Jinmi-ssi,” Jaehee tersadar dari lamunannya dan tersenyum.

   Kedua mata Jaehee melebar begitu saja saat Baek Jinmi, sang sutradara yang biasanya selalu tenang, dan bahkan cool, kini tiba-tiba saja memeluknya begitu erat. Saat ia mendengar isakan kecil dari gadis jangkung di hadapannya ini, sambil tersenyum Jaehee mengangkat kedua tangannya dan balas memeluk sutradara yang juga tak kenal lelah menyemangati dan membantunya untuk dapat membawakan peran Juliet dengan baik.

   ”Gomawoyo, Jaehee-ssi, aku… aku tidak tahu apa yang akan terjadi hari ini jika tidak ada kau, tidak ada Kim Joonmyun. Te…terima kasih banyak…”

   Jaehee sedikit tertegun, namun ia maklum. Ia yakin tak hanya dirinya yang gugup dengan penampilan musikal hari ini. Apalagi Baek Jinmi. Dia adalah sutradara. Mungkin beban yang paling berat ada pada pundaknya.

   ”Hey, seharusnya aku yang berterima kasih kepadamu, Jinmi-ssi.” Sahut Jaehee dengan tulus. ”Aku kan hampir saja mengacaukan musikal ini, dan kau tetap menyemangati, juga mengajarkanku terus. Kau adalah sutradara yang baik, Jinmi-ssi.”

   Jinmi melepaskan pelukannya, dan memang dasar hati Jaehee selembut tahu. Melihat Jinmi menangis, air matanya mungkin merasa iri juga, dan hendak keluar. Membuat wajah Jaehee panas, namun ya setidaknya dalam arti yang baik. ”Tentu saja aku harus berterima kasih kepadamu, Jaehee-ssi. Kau adalah aktris yang hebat, meskipun banyak tantangan… kau mampu melewatinya, kau mau belajar hingga lebih baik. Dan hari ini…” Jinmi menggelengkan kepalanya, dan senyuman gadis itu benar-benar menular, meski disertai air mata, ”Kau tahu, Kim Minseok dilarikan ke rumah sakit karena keracunan makanan. Musikal kita hampir batal… dan kau tetap bisa membawakannya meski pemeran prianya diganti. Aku… aku sangat bangga kepadamu.”

   Mulut Jaehee membentuk huruf O besar. Pantas saja, Joonmyun yang mendadak muncul di panggung tadi.

   ”Kalian berdua benar-benar penyelamat hidupku,” Jinmi menatap Jaehee dengan dua mata penuh haru. ”Terima kasih sudah bersikap sangat profesional, Jaehee-ssi.”

   ”Ah, bukan… bukan apa-apa, aku hanya…”

   Jinmi menepuk bahu Jaehee sekali lagi.

   Tok. Tok. Tok.

   ”Ya?” Jinmi menoleh ke pintu dan mendapati Park Chanyeol, dengan wajah cemas, menggigiti bibirnya dan berkeringat dingin. ”Kenapa, Chanyeol-ah?”

   ”Err… Jaehee-ssi, sepertinya… sepertinya kau harus segera ke kantor kepala sekolah. Kedua orangtuamu, dan kedua orangtua Joonmyun…..”

   ”Oh tidak!” seru Jaehee menekap mulutnya, langsung tahu apa yang akan Chanyeol katakan.

   Jinmi dan Chanyeol bertukar pandang khawatir, sebelum akhirnya memutuskan mengikuti Jaehee yang berlari keluar dari kamar ganti, auditorium, dan HHCC, kembali ke gedung sekolah. Kecemasan melanda hati Jaehee, dan ia panik memikirkan tindakan bodoh apa yang akan kedua orangtuanya, atau bahkan keluarga besarnya lakukan setelah melihatnya dan Joonmyun tampil berdua sebagai pasangan kekasih dalam drama musikal ini. Ia tidak memperdulikan tatapan orang banyak, yang karena pekan festival musim semi Hanlim memenuhi seluruh pelataran sekolah, dan terus berlari memasuki gedung utama.

   ”Hana-ya!” seru Jaehee melihat Hana yang meremas-remas kedua tangannya bersama Joon yang pucat pasi di depan kantor kepala sekolah. ”Apa yang terjadi? Ibu dan Ayahku… mereka ada disini?!”

   Hana langsung meraih kedua tangan Jaehee dan meremasnya, ia menggelengkan kepalanya panik, ”Aku tidak bisa menahan Imo dan Samcheon, Jaehee-ya… mereka… mereka langsung kesini, begitu juga dengan keluarga Kim.”

   ”Apa mereka marah?” tanya Jaehee dengan suara bergetar.

   ”Kau tahu mereka, Jaehee-ya…” jawab Hana sambil menahan napas. ”Aku yakin kalau bukan karena banyak orang di HHCC tadi mereka akan bertengkar pada saat itu juga disana, dan mengacaukan musikalmu. Oh astaga… aku sangat takut.”

   Baru saja Jaehee hendak masuk ke dalam kantor kepala sekolah saat ia mendengar derap langkah lainnya. Ia malu sekali melihat teman-teman staff musikalnya ikut datang kesini, termasuk Guru Han. Dan terakhir, Joonmyun terengah-engah mengatur napasnya tiba di depan ruang kepala sekolah juga, diikuti Jongdae, Jongin, dan Seolhyun yang sama-sama mengatur napas.

   ”Jaehee-ssi, sepertinya aku harus masuk ke dalam,” Jinmi maju, merasa bersalah. ”Aku yang meminta Joonmyun-ssi untuk menggantikan Minseok dalam musikal ini. Jika terjadi masalah, aku yang harus bertanggung jawab. Bukan Kepala Sekolah Jung, bukan pula Guru Han.”

   ”Andwaeyo,” geleng Jaehee berusaha menahan Jinmi. ”Aku… aku akan mengatasinya. Mereka orangtuaku… maafkan aku telah membuat keributan,” Jaehee membungkuk-bungkuk. Padahal tadi, ia merasa hatinya begitu berbahagia dan rasanya tidak ada yang bisa membuat hari ini berubah menjadi buruk. Namun, kesenangannya ternyata tidak berlangsung lama.

   Joonmyun ikut maju, meletakkan tangannya di bahu Jinmi. ”Tak apa-apa, Jinmi-ssi. Aku juga akan ke dalam. Ada orangtuaku juga disana…”

   ”Mianhae, Joonmyun-ah… tidak bisa menahan Samcheon dan Imo yang datang begitu berita tersebar kalau kau lah yang berperan sebagai Romeo. Kami tidak tahu kalau ada wartawan yang hadir…”

   Joonmyun tersenyum pada Seolhyun, menenangkan. Ia melirik Jaehee yang terlihat terpukul dan menghela napas dalam-dalam. ”Kalian kembali saja… biar… biar kami berdua yang urus orangtua kami masing-masing.”

   ”Tapi, Joonmyun-ssi…”

   ”Gwenchana…”

   Belum selesai lagi Joonmyun bicara mereka bisa mendengar suara pecahan kaca dari dalam ruangan kepala sekolah, dan Jaehee memekik. Memejamkan mata kuat-kuat dan mulai meringis ketakutan.

   ”Aku harus ke dalam,” gumamnya, gugup.

   Guru Han menghela napas, dan mengambil alih situasi, karena sepertinya semakin lama semakin banyak anak-anak yang datang karena mendengar keributan. ”Kalian semua kembalilah ke auditorium atau apa… masalah ini biar diselesaikan oleh Kepala Sekolah dan juga keluarga Oh dan Kim. Mr Park, tolong…”

   ”Tapi, Seonsaengnim,” Jinmi hendak membantah, namun ia sudah di dorong oleh Chanyeol dan beberapa guru yang juga kemudian datang untuk membubarkan kerumunan, kecuali Jaehee dan Joonmyun.

   ”Jaehee-ya, aku akan menunggu.” Pesan Hana sebelum berbalik bersama Joon, mengikuti kerumunan meski ia tidak rela meninggalkan sahabatnya sendirian. Jongdae, Jongin, dan Seolhyun juga terpaksa pergi dari situ.

   PRANG!

   Suara pecahan, sekali lagi.

   ”Kurasa kita harus segera masuk ke dalam,” bisik Joonmyun memandang Jaehee. Ia merasa kasihan pada gadis itu, tangannya gemetaran dan Jaehee menunduk sambil menggigit bibirnya. Joonmyun berpikir, jika tadi ia menolak tawaran Jinmi, maka penampilan Jaehee hari ini seharusnya tidak menjadi masalah. Tapi, siapa yang bisa menggantikan Minseok? Siapa lagi yang bisa memerankan Romeo di Hanlim ini kecuali Minseok dan dirinya? Jika ia menolak, sama saja ia menghancurkan penampilan gadis itu. ”Hei…”

   Jaehee menoleh padanya. Joonmyun meremas bahunya pelan, ”Kita harus melakukan sesuatu sebelum mereka menghancurkan sekolah.”

   ”Kau benar,” gumam Jaehee, berusaha menenangkan dirinya.

   ”Siap?”

   Jaehee mengangguk, dan membiarkan Joonmyun mengetuk pintu ruang kepala sekolah sebelum mendorongnya terbuka. Baik Jaehee, maupun Joonmyun harus menahan diri untuk tidak menghambur begitu saja, karena melihat kedua ayah mereka saling melempar pandang tajam, beberapa pecahan gelas berhamburan, kedua ibu mereka sama-sama berdiri disamping suami masing-masing, dan Kepala Sekolah Jung berdiri diantara keduanya, seolah berusaha melerai.

   ”Appa!” pekik Jaehee sambil berlari ke arah ayahnya. Matanya membelalak tidak percaya saat melihat ayahnya yang biasanya begitu lembut, begitu sabar, dan begitu penyayang itu kini menjadi pribadi yang sangat lain. Tangannya terkepal keras, sementara ibunya bergeming. Tidak menahan suaminya, tidak juga mengucapkan apa pun. ”Appa hentikan! Apa yang Appa lakukan?! Eomma, kenapa tidak menahan Appa?!”

   Donghae melirik putrinya dengan tatapan tajam, ”Kau diam! Appa harus memberi pelajaran pada orangtua anak tak tahu diuntung yang berani-beraninya menghancurkan karier putriku. Ya, Kim Jaejoong-ssi, apa Anda tidak pernah mendidik anak Anda dengan benar, eoh?! Apa yang dia lakukan pada Jaehee di panggung tadi benar-benar tidak bisa kumaafkan!”

   ”Appa!” jerit Jaehee menahan bahu ayahnya. ”Eomma, bantu aku, hentikan Appa!”

   Ibunya hanya diam saja, malah memelototinya.

   ”Jangan berani-berani menyalahkan Putraku, Tuan Oh Donghae yang terhormat! Putraku adalah korban dari permainan yang dirancang oleh Jung Yunho ini! Dan apa?! Kau kira kami merasa senang melihat apa yang terjadi panggung tadi? Kami merasa terhina Joonmyun harus melakukan adegan-adegan murahan dengan putrimu!”

   ”Astaga, Aboji!” seru Joonmyun marah. ”Hentikan semua ini! Apa kalian tidak malu?”

   ”Diam kau, Kim Joonmyun! Kau hutang penjelasan padaku dan ibumu dengan berita memalukan yang kami dengar hari ini. Apa-apaan kau ini?! Menggantikan pemeran Romeo yang asli?! Berperan dengan Putri keluarga Oh?! Dimana kehormatanmu?!”

   Telinga Jaehee panas sekali mendengar hinaan yang benar-benar merendahkannya itu, namun ia dapat menelannya sendiri dan bisa mengabaikannya setidaknya untuk sekarang ini. Tetapi tidak dengan ayah dan ibunya. Ayahnya kembali melempari keluarga Kim dengan kristal-kristal hiasan diatas meja Kepala Sekolah Jung, membuatnya menjerit dan menutupi kepalanya.

   ”Appa, jebal geumanhae!” Jaehee memeluk tubuh ayahnya dan menangis karena ketakutan, ibunya mulai mencengkram lengan ayahnya, karena marah juga.

   Joonmyun melirik Jaehee sekilas, dan lega karena melihat gadis itu tidak terluka. Sebelum menatap ayah dan ibunya dengan berang. ”Aboji, hentikan!”

   ”Aku bisa saja menghabisi nyawamu dengan tangan kosong, Kim Jaejoong! Berani-beraninya kau menghina putriku!”

   ”Kalau begitu kita bertarung! Demi darah Kim yang mengalir…”

   ”Aboji hentikan! Semua ini memalukan!!!” teriak Joonmyun marah. ”Kalau kalian mau marah, marah padaku! Tidak usah membawa-bawa nama Kim dan nama Oh!” dengan sekuat tenaga ia mendorong ayahnya. ”Aku yang menawarkan diri untuk menggantikan Minseok yang sedang tidak sehat! Dan ya, aku memang mau ikut dalam musikal tersebut. Jadi jika kalian ingin mencari-cari orang yang ingin disalahkan, itu adalah aku!”

   Nyaris tidak bisa menutupi keterkejutannya, Jaehee semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh sang ayah, berharap ayahnya tidak semakin tersulut emosi. Namun, ia tahu sendiri, bagaimana keluarganya jika tengah bersitegang dengan keluarga Kim. Ia selalu takut dengan pertengkaran, itulah mengapa setiap terjadi pertikaian langsung, Jaehee tidak pernah mau melihatnya. Dulu, ia bisa menerima semua tingkah laku keluarganya yang sebenarnya ia rasa kurang masuk akal. Tapi tidak sekarang…

   Ia malu!

   Begitu pula dengan Joonmyun.

   ”Sudah selesai semuanya?” tanya Jung Yunho dengan dingin berdiri diantara dua keluarga, dan menatap ke kanan serta ke kiri. ”Kelakuan kalian yang kekanakan ini sudah kurekam, dan aku tidak akan ragu-ragu untuk menyebarkannya pada khalayak ramai… dan ya, Shin Sekyung-ssi, aku berani melakukannya.” Ujar Yunho melirik ibu Joonmyun yang menatapnya sinis, ”Apa yang akan terjadi padaku? Paling kalian hanya akan menggunakan uang kalian untuk menyingkirkanku dari posisiku ini, benar? Nothing to lose, aku tidak takut… silakan saja, tapi masyarakat akan tahu orang-orang bodoh seperti apa kalian. Tsk, apa kalian tidak malu pada dua anak kalian? Aku yakin mereka malu memiliki orangtua berpikiran dangkal macam kalian.”

   Donghae melepaskan dirinya dari pelukan Jaehee dan merapikan stelan jasnya sambil menatap Yunho dingin, ”Lalu apa gunanya jika masyarakat tahu, eoh? Kami tidak ada urusan dengan masyarakat, kami hanya punya urusan dengan keluarga Kim disana, yang menganggap keluarganya paling hebat.”

   ”Jaga bicaramu, Donghae-ssi!” desis Jaejoong.

   Yunho melipat kedua tangannya, ”Oh, kau lupa dengan kekuatan masyarakat? Sobat, netizen di masa sekarang jauh lebih berpengaruh dibandingkan masa kalian kanak-kanak dulu. Entahlah, paling yang masyarakat bisa lakukan adalah memboikot seluruh usaha kalian, memaki-maki keluarga kalian hingga tujuh turunan…” Yunho terkekeh menyeramkan, ”Kalau aku, aku tidak akan mau cucuku menanggung malu atas apa yang kulakukan di masa lampau, apalagi jika videonya tersebar dan tidak akan ada yang bisa melupakan apa yang dilakukan oleh orang besar, pada seorang Kepala Sekolah… no, tidak ada.”

   ”Kau mengancam kami, Yunho-ssi?!”

   ”Ya, aku mengancam,” Yunho mengangguk pada Haejin dengan penuh semangat. ”Senang kau dapat mengerti maksud kata-kataku barusan, Haejin-ssi. Kukira akan butuh waktu sampai seluruh kantorku hancur sampai kalian mengerti.”

   Jaejoong mendengus.

   ”Kalau kalian ingin merasakan langsung bagaimana pengaruh netizen saat ini, silakan saja… aku akan mengemasi barang-barangku, dan kalian bertarung saja sampai salah satu mati. Begitu kan yang kalian mau? Dan, ah… aku akan dengan senang hati meminjami kalian samurai…” lanjut Yunho menatap tajam Donghae dan Yunho bergantian.

   Sekyung mendesis, ”Sudahlah, tidak ada gunanya kita disini. Yunho-ssi, kuharap tidak ada kejadian seperti ini untuk keduakalinya, tidak ada lagi melibatkan putraku dengan putri keluarga Oh!”

   ”Aku tidak menerima perintah dari siapa pun, Nyonya Sekyung,” sahut Yunho lancar dengan wajah sinis. ”Hanlim adalah tanggung jawabku. Kalian menyekolahkan anak kalian di Hanlim, maka anak kalian harus menuruti peraturan sekolah ini, tanpa terkecuali. Aku tidak peduli kalian memiliki uang sebanyak apa… tidak setuju, bawa anak kalian pergi dari sini. Dan lagi… biarkan semua orang melihat arogansi kalian,”

   ”Yunho!”

   ”Kalian bisa berbuat seenaknya, tapi tidak di Hanlim!” tegas Yunho sekali lagi. ”Sekarang, tinggalkan kantorku, terserah kalian mau bertarung dimana, tapi tidak di kantorku, dan tidak di Hanlim!”

 

*        *        *

”Oh Tuhan, Jaehee-ya, gwenchana?!” seru Hana begitu melihat Jaehee menghampirinya.

   Jaehee mengangguk lemah dan duduk di bangku panjang tempat Hana dan Joon menungguinya, Joon bahkan terlihat ingin menangis juga saat melihat Nona-nya begitu stress. Hana tadi mengirimi Jaehee pesan mengatakan lokasinya menunggu, berharap Jaehee tidak langsung dibawa pulang oleh kedua orangtuanya, dan untunglah.

   Hana buru-buru memeluk Jaehee erat-erat, ”Jaehee-ya, gwenchana? Apa yang terjadi padamu didalam sana? Apa kata Imo dan Samcheon?”

   Jaehee tersenyum dan mengangkat bahu, ”Entahlah Hana-ya, aku hanya merasa… Ya Tuhan,” ia membenamkan wajahnya ke dua tangannya, ”Aku merasa malu sekali, Hana-ya. Kenapa permasalahan ini begitu memalukan? Aku tahu kalau keluarga kami dan keluarga Joonmyun bermusuhan sejak lama, tapi ini begitu mengerikan…”

   Hana membelai-belai punggung Jaehee bersimpati, awalnya Jaehee kira, Hana justru akan ikut-ikutan orangtuanya dengan memaki-maki keluarga Joonmyun, seperti biasanya. Tapi sepertinya Hana tidak sampai hati melihatnya begitu sedih.

   ”Aku paham dunia persaingan bisnis itu biasa. Tapi mereka seperti anak kecil, Hana-ya… masalah ini… sangat-sangat sepele. Bagaimana kalau orang-orang tahu apa yang mereka ributkan di dalam tadi? Ya Tuhan.”

   ”Tenanglah… Kepala Sekolah Jung tidak akan menyebarkannya, aku yakin itu.” Hana terus menenangkan sahabatnya.

   ”Seharusnya hari ini menjadi hari paling membahagiakan untukku. Aku bisa berakting di depan orang banyak… tapi… tapi…”

   Joon tiba-tiba bergumam, ”Tapi akting Nona bagus, kok… Nona jangan khawatir, semua orang terpukau dengan akting Nona tadi. Padahal Nona berakting dengan Kim Joonmyun.”

   ”Joon benar,” Hana mengangguk, menyemangati. ”Tapi, Jaehee-ya… kenapa tiba-tiba Joonmyun yang menjadi Romeo?” tanyanya penasaran, ”Apa yang terjadi? Bukankah seharusnya Minseok yang berperan sebagai Romeo?”

   ”Minseok sakit. Dia harus dibawa ke rumah sakit semalam, dan tadi kata Baek Jinmi semua kacau di saat-saat terakhir. Maka Jinmi meminta tolong pada Joonmyun untuk menggantikan Minseok, dan begitulah…”

   ”Astaga,” sahut Hana prihatin. ”Aku tidak tahu harus bagaimana… jika Kim Joonmyun itu tidak menggantikan Minseok, kau akan gagal tampil hari ini. Tapi…” Hana terdiam dan melihat bagaimana sahabatnya itu mau menangis, ia tersenyum dan merangkulnya mendekat, “Sudahlah, yang penting kau sudah menunjukkan yang terbaik, Jaehee-ya.”

   Jaehee tersenyum, ”Gomawo, Hana-ya… kupikir kau akan ngomel seperti biasanya.”

   Wajah Hana memerah dan menjitak kepala Jaehee, ”Ya! Kim Joonmyun itu menyelamatkan pertunjukkanmu, bagaimana mungkin aku bisa mengomel? Aish! Sudahlah, Joon, antar Jaehee pulang!”

   ”Kau tidak ikut?”

   Hana menggaruk kepalanya, ”Well, kurasa aku masih harus latihan lagi.”

   ”Ah iya benar, kau besok tampil kan…”

   ”Betul! Dan kau harus menyaksikan kami tampil, arasseo?”

   Jaehee mengangguk sambil berdiri dan memeluk Hana sekali lagi, ”Eh, kami? Kau tidak akan tampil solo?”

   ”Nah,” geleng Hana, ”Perubahan rencana. Pokoknya besok kau harus datang, oke? Aku pergi dulu…”

   ”Ya, bye Hana, gomawo.”

   Hana tersenyum dan melambaikan tangannya, menatap Jaehee dan Joon yang pergi meninggalkan bangku taman.

 

*        *        *

PLAK!

   Joonmyun bisa mendengar telinganya berdenging, karena begitu ia menginjakkan kakinya di dalam ruang keluarga, ibunya langsung berdiri menghampirinya dan menamparnya begitu saja. Sudah bisa ditebak. Joonmyun tidak berani menoleh, melainkan hanya memegangi pipinya yang terasa panas.

   ”Sekarang jelaskan pada Ibumu, apa maksudmu tadi di ruang kepala sekolah saat kau bilang kau yang menawarkan diri sebagai Romeo, eoh?!” tanya Ibunya dengan suara pelan namun mengandung kekejaman nyata.

   Joonmyun berusaha mengatur napasnya sebelum menjawab, ”Tapi apa yang Eommoni dengar tadi benar,” jawabnya pelan, ”Memang aku yang mau dan menawarkan diri sebagai Romeo dalam musikal itu.”

   ”Kim Joonmyun!” teriak Ibunya tidak percaya.

   Jaejoong menyilangkan kaki dan kedua tangannya, menatap tajam putranya yang tengah dimarahi oleh istrinya. Tanpa mengatakan apa-apa.

   ”Eommoni, aku hanya mencoba menolong…”

   ”Bukan itu! Kau… mau membantah perintah dua orangtuamu, benar, kan?! Kau harus ingat, kami tidak menginginkan penerus keluarga Kim menjadi seniman. Kurang apa kami menuruti keinginanmu untuk masuk sekolah seni?! Kau bilang kau akan konsentrasi belajar piano jazz saja, dan apa yang kau lakukan pada kami, hah? Kau mempermalukan keluarga Kim, padahal kau penerus satu-satunya!”

   Joonmyun hanya dapat mengepalkan tangannya disamping tubuhnya, mengatur napasnya yang memburu dan menundukkan kepalanya.

   ”Apa yang kau pikirkan, Kim Joonmyun?” ibunya melempar kedua tangannya ke udara, karena tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan putranya.

   Kali ini, Jaejoong yang bicara. Meski tidak seemosi istrinya, ia tetap kecewa dengan apa yang putranya lakukan. Bukan masalah pemilihan karier, karena ia yakin Joonmyun akan meneruskan nama Kim dengan baik di perusahaan. Ini masalah apakah putranya tahu bahwa jika ia memainkan Romeo, itu berarti ia akan bermain bersama putri keluarga Oh? Putri dari keluarga musuh besarnya?

   ”Kau tahu, kalau pemeran Juliet itu adalah putri dari keluarga Oh?”

   Joonmyun mengangguk pelan, masih menunduk dan tidak menatap ke arah manapun, selain ke karpet.

   ”Kau tahu dan kau tetap bermain sebagai Romeo? Apa kau gila, Nak?!” seru Jaejoong. ”Kau tahu betul kami sudah berusaha sejak awal kau masuk Hanlim agar tidak bersinggungan dengan gadis dari keluarga Oh itu, tapi kau malah mau melibatkan diri dengannya?! Apa-apaan kau ini, hah?!”

   ”Kau mempermalukan kami!” seru Ibunya, ”Kami datang ke sekolah setelah semua orang menghubungi kami menanyakan apakah benar kau berperan sebagai Romeo dengan putri keluarga Oh. Kami percaya padamu, Joonmyun, dan apa yang kau lakukan hari ini mencoreng nama kami!”

   ”Aku tidak bermaksud begitu!”

   Jaejoong langsung menyambar, ”Lalu bagaimana? Apa maksudmu? Kau sudah tahu kalau gadis itu yang akan menjadi Juliet, lalu kau malah mau jadi Romeo? Kau mau apa? Jadi pahlawan kesiangan?”

   ”Aboji, Eommoni… aku sama sekali tidak berniat sedikitpun untuk mencoreng nama baik keluarga Kim. Aku hanya… akting adalah salah satu keinginanku. Ini adalah tahun terakhirku di Hanlim, dan aku ingin memanfaatkannya sebaik mungkin sebelum aku benar-benar belajar bisnis di kuliah nanti.” Jelas Joonmyun, ia tidak menyadari bahwa sekujur tubuhnya gemetaran saat menjawab ayah dan ibunya. Joonmyun tidak pernah melawan atau membantah keduanya, tapi kali ini ia merasa telah dinilai tidak adil. ”Lagipula… lagipula…”

   Ibunya berdecak, ”Kau mau mengatakan apa lagi, Joonmyun-ah? Apa sekarang kau mau bilang kau dan gadis itu berteman?!” tanyanya sinis, ”Yang benar saja… apa yang salah denganmu, eoh? Apa yang kami perbuat padamu hingga kau melakukan ini pada kami? Kami memberimu kebebasan…”

   ”Eommoni tidak memberiku kebebasan dengan hanya mengizinkanku untuk memilih piano,” jawab Joonmyun pahit, ia tidak bisa menahan emosi yang sudah ia pendam selama bertahun-tahun disetir oleh ibunya. Dia sangat menyayangi kedua orangtuanya, tapi ia harus mengakui bahwa keduanya bersikap tidak rasional.

   ”Lalu jika aku mengizinkanmu untuk memilih akting seperti yang kau inginkan, kau akan jadi apa, Kim Joonmyun? Aktor? Jangan bercanda… kau adalah penerus keluarga Kim, bertingkahlah yang benar!” Jaejoong menyahuti jawaban Joonmyun, ”Lagipula gadis Oh itu ada disana, kau mau berteman dengannya dan membuat drama dengannya? Tidak akan pernah selama aku masih hidup.”

   Sekyung mengangguk.

   ”Sudah cukup,” putus Jaejoong. ”Joonmyun, tidak ada lagi yang seperti ini lain kali!”

   Dan Joonmyun hanya bisa menghela napasnya pasrah, sambil menatap kedua orangtuanya yang pergi begitu saja dari ruang keluarga, meninggalkannya sendirian.

 

*        *        *

You okay?

   Hana tersenyum kecil merasakan tangan lembut yang meremas pundaknya. ”I’m totally fine, bukan aku yang stress hari ini.”

   Jongin duduk disamping Hana dan menatap panggung auditorium yang sudah disulap lagi menjadi panggung penampilan jurusan dance besok. ”Kau khawatir soal temanmu, kan? Apa dia tidak apa-apa?”

   ”Jaehee cengeng. Dia pasti menangis setibanya di rumah. Apalagi jika Imo dan Samcheon memarahinya.” Hana menghela napas sedih, ”Entahlah… aku hanya merasa tidak adil saja. Hari ini seharusnya dia bahagia, karena dia berhasil menunjukkan kemampuannya, dan… semua harus hancur karena…”

   ”Karena keluarga, ya.” Jongin mengangguk, ikut-ikut menatap ke panggung dengan sedih. ”Aku juga khawatir dengan Joonmyun.”

   Hana meliriknya, ”Masih belum berbaikan?”

   ”Belum…” dengan malu Jongin menatap ke arah lain sambil cemberut, seperti anak kecil dan Hana memukul bahunya. ”Ouch! Sakit!”

   ”Kau memang benar-benar bertingkah seperti anak kecil, astaga Kim Jongin!”

   Jongin mendengus, ”Aku sudah berjanji pada diriku sendiri akan berbaikan dengannya hari ini, tapi kau tahu sendiri banyak kejadian tadi!” tukasnya, tetap cemberut. Membuatnya makin terlihat seperti bocah. Bagaimana mungkin pria kekanakan ini bisa menari begitu indahnya dan begitu seksinya di panggung? Hana benar-benar tidak paham.

   ”Hei, Jongin-ah…”

   ”Hmm?” Jongin sudah meregangkan kedua tangannya seperti kucing yang mengantuk dan merebahkan tubuhnya dengan kepala di pangkuan Hana, tempat favoritnya di dunia ini sekarang (tapi jangan bilang Hana), dan memaksa tangan gadis itu untuk membelai-belai rambutnya.

   Mendecakkan lidahnya, tapi toh tetap melakukan apa yang Jongin mau, Hana meneruskan apa yang ingin ia katakan. ”Apa menurutmu tidak aneh?”

   ”Kostummu? Harus berapakali kukatakan kostummu bagus.”

   ”Bukan itu!” Hana mencubit hidung Jongin, sementara pria itu menggerung kesakitan. ”Jaehee… dan Joonmyun.”

   ”Kenapa mereka?” tanya Jongin kesal sambil mengusap-usap hidungnya.

   ”Mereka baru berakting pertamakalinya berdua hari ini, karena Joonmyun menggantikan Minsoek, tanpa latihan sama sekali.”

   Jongin membuka kedua matanya dan menatap Hana tidak terima, ”Heyy, akting temanku tetap baik meskipun tanpa latihan. Kau tidak tahu saja kalau Joonmyun pandai berakting.”

   Lagi. Hana mencubit hidung Jongin hingga pria itu menggelepar kesakitan. Terkekeh Hana kembali membelai-belai rambut Jongin, dan mengabaikan tatapan membunuh pria itu kepadanya. ”Aku tidak bilang kalau akting temanmu itu jelek, Kim Jongin! Aku hanya bilang justru aneh!”

   ”Apa yang aneh?! Ugh, kau mencubit seperti kepiting! Wanita mengerikan…”

   ”Ugh kau berlebihan!” omel Hana mau mengusirnya dari pangkuannya namun Jongin malah semakin membenamkan wajahnya pada perut Hana, agar tidak jadi diusir dari pangkuan gadis itu, dan Hana kembali mendecakkan lidahnya, karena Jongin tetaplah Jongin. ”Dan yang ingin kukatakan… justru aneh kalau melihat mereka berdua berakting seperti profesional. Tanpa cacat, tanpa salah… padahal mereka belum pernah berlatih sebelumnya berdua.”

   Jongin mengernyitkan dahi, benar juga.

   ”Jaehee butuh waktu lama agar bisa membiasakan diri beradegan cium dengan Minseok. Lalu bagaimana ia bisa begitu saja berciuman dengan temanmu di panggung?”

   ”Keurae.” Gumam Jongin ikut merasa aneh.

 

*        *        *

“Kalau kau masih ingin menjadi seorang aktris musikal… kau harus berhenti berhubungan dengan Kim Joonmyun,” kata sang ayah pada Jaehee yang hanya bisa membisu. “Kim Joonmyun adalah seorang Kim. Kita, keluarga Oh, tidak akan pernah bisa cocok dengan keluarga Kim, ingat itu, Jaehee-ya.”

   Jaehee hanya diam di tempat tidurnya, tanpa benar-benar memandang ayahnya. Percuma juga, sudah dijelaskan seperti apa pun. Jaehee sudah berkata : “Jika dia tidak menjadi Romeo, pertunjukanku akan gagal, Appa… secara tidak langsung dia menolongku.” Tapi begitulah. Sekali kau berasal dari klan Kim kau terlarang.

   ”Kau lihat kan bagaimana keluarga mereka merendahkanmu? Kau adalah Putri keluarga Oh, tak ada seorang pun yang boleh merendahkanmu, apalagi keluarga Kim itu!”

   Jaehee mengembuskan napasnya dan mengusap matanya. Kenapa dia harus terlahir sebagai keluarga Oh yang membenci keluarga Kim? Joonmyun tidak jahat. Joonmyun sangat baik, dan Joonmyun salah satu orang yang mendukung kariernya. Ia bahkan rela membela Jaehee di depan kedua orangtuanya kemarin, saat Jaehee sendiri hanya bisa menangis saja.

   ”Hei,”

   Jaehee menoleh, dan mendapati senyum cerah Joonmyun kembali menyapanya. Tak bisa menahan diri Jaehee langsung mengalungkan kedua tangannya pada leher pria itu, dan terisak-isak disana.

   ”Oops!” pekik Joonmyun kaget, dan terkekeh. Tanpa mengatakan apa pun pria itu balas memeluknya, dan membelai-belai punggungnya, memberikannya ketenangan. ”Gwenchana, Jaehee-ya, semua sudah berlalu.”

   Jaehee menggelengkan kepalanya. Terisak-isak pada bahu Joonmyun, untunglah pria itu tidak tampak keberatan kemeja birunya basah karena tangisan Jaehee. Joonmyun meletakkan dagunya diatas kepala gadis yang masih tersedu-sedu dalam pelukannya itu, dan kembali membisikkan kata-kata penghiburan padanya.

   ”Kau tak apa-apa, kan? Apa kedua orangtuamu mengatakan sesuatu?” tanya Joonmyun mulai cemas, karena tangis Jaehee tak kunjung reda juga.

   Jaehee masih terisak-isak. Mana mungkin aku bisa bilang kalau aku harus menjauhimu? Aku tidak mau… batin Jaehee.

   ”Apa mereka memarahimu?”

   Masih terus menangis.

   ”Sshh, sudahlah… kau harus tenang, kalau tidak bagaimana nanti jika orang melihatmu menangis. Aku pasti akan dibawa ke ruang kepala sekolah, dan ayahmu akan mengomeliku lagi. Apa yang kau lakukan pada anak gadisku?” tanya Joonmyun berusaha bercanda dengan menirukan suara ayahnya.

   Mendengar itu Jaehee buru-buru menahan tangisannya dan melepaskan diri, mengusap-usap matanya yang memerah. Jantung Joonmyun serasa diremas melihatnya seperti itu. Jaehee seharusnya selalu tersenyum, karena senyum gadis itu sangat indah dan membuatnya juga ingin terus tersenyum.

   ”Kau… Joonmyun-ah, bagaimana denganmu?” tanya Jaehee masih terbata-bata, memandang Joonmyun dari balik bulu matanya yang basah, dan Joonmyun kembali terkesima. Sejak kapan Jaehee terlihat begitu cantik, sih? Dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri. ”Joonmyun!”

   Tersadar dari lamunannya, wajahnya memerah. ”A..ah… oh itu… hmm…”

   ”Mereka marah padamu?” tanya Jaehee lagi, mulai cemas. Dan bibirnya mulai bergetar menahan tangis lagi. ”Mereka pasti marah ya padamu? Seharusnya… seharusnya aku bilang kalau… itu bukan salahmu…”

   ”Ssshh, tidak tidak… memang itu kebenarannya. Saat Jinmi panik, aku memang mau menggantikan Minseok, jadi kau tidak boleh merasa bersalah, arasseo?!” Joonmyun sudah sangat tidak suka melihat Jaehee menangis. Dan ia tidak mau menjadi alasan dibalik tangisan itu. ”Jebal, jangan menangis lagi, oke?”

   ”Apa benar? Mereka tidak memarahimu?”

   Joonmyun terkekeh, ”Mana mungkin mereka tidak marah. Aku jelas-jelas melawan mereka, terutama ibuku. Tapi aku tidak menyesal. Ini tahun terakhirku… dan kemarin cita-citaku dikabulkan. Dan kau juga… kau adalah Juliet tercantik yang pernah kulihat.”

   Wajah Jaehee langsung memerah, dia memukul bahu Joonmyun pelan.

   ”Tapi itu benar,” Joonmyun ngotot.

   ”Gomawo. Kau juga tampan…”

   ”Aku tahu,”

   Jaehee membelalak, dan Joonmyun tertawa geli melihat gadis itu bingung melihatnya bertingkah seperti ini. Ya, setidaknya Jaehee sudah tidak menangis.

   ”Gomawo, Jaehee-ya. Kemarin, aku benar-benar bahagia.”

   ”Aku juga,” Jaehee mengangguk, tidak berani menatap mata Joonmyun karena ia yakin pipinya kini sudah semerah tomat busuk. ”T-tapi…”

   Joonmyun mengangkat alisnya melihat Jaehee yang terlihat malu-malu dan memainkan ujung kemejanya. Kenapa gadis ini gugup? Pikir Joonmyun.

   ”Ke…kemarin setelah… setelah selesai… kenapa…kenapa… kau… eh… menciumku?”

   Deg!

   Joonmyun mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Kenapa? Ya kenapa… kenapa dia mencium Jaehee tanpa sadar seperti itu? Karena…

   “Lipgloss-mu enak,” jawabnya bodoh.

   Wajah Jaehee semakin memerah dan ia mendongak menatap Joonmyun tidak percaya. Hanya karena lipgloss-nya enak? Sialan!

   ”Huff,” gerutunya tanpa sadar, dan Joonmyun terkekeh.

   ”Kau lucu sekali, jinjja… tapi kuharap kau tidak pakai lipgloss itu lagi karena… mungkin aku akan menciummu lagi.” Godanya.

   ”Kim Joonmyun!!!”

   Keduanya tertawa-tawa hingga wajah Jaehee berubah sendu kembali. Ia begitu bahagia dapat berteman dengan Joonmyun saja, tidak perlu meminta lebih menjadi kekasihnya. Tapi ayahnya bahkan tidak mau mendengar bahwa Kim Joonmyun yang ia benci telah menyelamatkan pertunjukannya, bagaimana jika ia meminta berteman? Apa mereka akan selamanya seperti ini? Berteman diam-diam?

   ”Hei, jangan menangis lagi.” Joonmyun kembali meraih kepala Jaehee dan membenamkannya di pelukannya. Benar saja Jaehee kembali terisak kecil, dan memeluk pinggangnya erat-erat. ”Orangtuamu mengatakan sesuatu, kan?”

   Jaehee mengangguk, mencengkram kemeja Joonmyun erat.

   ”Apa? Mereka bilang apa?”

   Belum sempat Jaehee menjawab, dan belum sempat Joonmyun menjauhkan tubuh gadis itu dari pelukannya, pintu balkon lantai lima terbuka. Keduanya terperanjat! Apa yang mereka lihat sama mengejutkannya.

   Lee Hana dan Kim Jongin bergandengan tangan.

   ”Eh?!”

   ”Joonmyun?!”

   ”Jaehee!”

   ”Hana?!”

   ”Jongin!”

-PART XIII KEUTT-

Aloha~

Ini part 13-nya yang dikerjakan dengan susah payah. Ini udah mulai tengah-tengah cerita lho >< akhirnya, yang nulisnya cukup mabok ngerjainnya tapi kalau pembacanya terus semangat, aku juga bakalan ikut semangat ngelanjutinnya. Doain terus supaya ngetiknya lancar ya… mudah-mudahan masih belum bosen, karena sejujurnya ini FF terpanjang pertama yang pernah aku buat, dan aku harap walaupun panjang aku bisa namatinnya. 

Makasih untuk yang mau baca, apalagi yang mau kasih komen ^^

see you in Part IV

bye yeom

XoXo

Neez,

82 responses to “ALL I ASK [PART XIII] — by Neez

  1. kasian banget joonmyun ditampar..tapi seneng pertunjukannya sukses..waahh joonmyun ketagihan nyium jaehee ya hehehe..jadi bener jongin hana dah jadian? gak sabar nunggu next chapnya..:)

  2. HUAA JOONMYEON AKU PADAMU :*
    Joonmyun sosweet bangettt yaolohhh gak bisa nahannnn,, apalagi wktu dia cium jaehee pas tirainya ketutup…
    Endingnya juga bikin gregetttt….

  3. Wahhh daebekkk Kerennn banget.ahirnya junmeon dan jaehe berciuman .jadi greget sama mereka.makin penasaran nih kedepannya d tunggu next chapter nya figting🙋🙋🙋🙋

  4. aduhhh itu Junmyeon Jaehee kyak prangko nempel mulu.. Jaejoong aboji sama Donghae appa gak usak bertengkar mulu dong.. malu tuh sama anak anak.. ckckck.. Neez eonni itu semoga KaiNa bakal jadi penolong buat hubungan JunHee yaa…

    ohiya, Neez eonni bakal colab lagi gak nih sama IMA eonni.. yah kali aja gitu ada AIL KaiNa ver. hehe

  5. oh astagaa.. kyaa mereka bikin ngiri ajaa.. kayanya mereka emang udh sepaket dr sononya..emang the power of kebetulan haha.. tp tetep pertunjukan nya keren seperti latihan.. selamat deh buat kalian semoga hubungan kedepannya selancar pertunjukannya ..
    di tengah suka cita pasti ada aja penghancur suasana. aduh yaa udh pd tua msh aja urusin masalah anak muda apa ga malu tuh sama sang kepala sekolah yg bijak bgt, anti korup jg haha😄 lgian yg jaehee-junmyeon lakuin bukan hal negatif. hrsnya ibunya junmyeon bangga punya anak multi talent gitu. iya sih mereka dr keluarga pembisnis tp apa salahnya wujudin mimpi kecilnya yg positif ko..
    ampun junmyeon masih aja nyosor segitu udh di tutup tih tirainya. apa masih belum puas *upss keceplosan haha😄
    ciee sinyal2 cintanya udh makin kuat nih. kapan dong junmyeon nembaknya ..
    jongin-hana udh pcran nih ceritanya?? mereka mulai curiga jg..
    dan itu akhirnya uahhhh.. ketauan deh.. gimana nih reaksi keempatnya penasaran aslinya..
    di tunggu aja kelajutannya. di doain jg biar di lancarkan yaa kaa.. semangat terus good luck kaa 😀

  6. Ohhh my…itu pintu balkon kenapa dibuka??jengjengjenggg….ketahuan sama2 belangnya.wkkk lucu ya ekspresi 4 orang itu.
    Ampun dah kelakuan orang tua modern semi bar bar, marah2 nggak jelas gitu.

  7. Astagah cobaan apa lagi ini, setelah cobaan melihat sehun yg menari nari macem ulat seksi di mv lotto, sekarang apa lagi ya tuhann 😭😭😭
    Untung ada Yunho yg jadi penengah di antara perang para ahjussi2 ganteng 😁
    Sumpah, alasan joonmyeon nyium jaehee itu konyol banget SUMPAH 😂😂!
    Dan pada endingnya udah mulai kebongkar rahasia rahasianya 😍
    Fighting kak…!!!

  8. Jengjeng!! Samasama ketahuan pasangan yang lagi kasmaran hehehee. Kalo soal cerita gak usah ditanya lagi, bagus laaa. Buat Kak Neez semangat ya kak berimajinasinya, apalagi kakak ngerjain 2 ff yang ceritan6a bertolak belakang. Gak bisa kasih apaapa selain nyemangati dari komen ini kak 😊

  9. Part 13 dan baru ditengah tengah 👏👏👏 luar biasa sekali nez, ini part yg paling ditunggu, part dimana kedua orangtua mereka main berantem beranteman hehe
    Masih ngga paham (ga bisa nebak) kenapa si joonmyun nyium jaehee abis musikal, terus juga kenapa si hana sama jongin bisa bisanya mesra mesraan, ini berharap banget semoga ada spin off nya hana jongin hehe
    Maaf ya nez baru sempet komen, baru sempet baca beberapa part krn 2 bulan ini sibuk urus sidang dan wisuda disamping jam kerja yg lebih dari 8 jam, susah nyambi nyuri waktu buat baca ff ini hehe

  10. AAAAAA WAE???????? kenapa orang tua mereka jahat banget sihhh???? :”'(
    WAAAH DAEBAKKK when junhee meet kaina hahahahahaha babay backstreet :’)

  11. Senang banget akting mereka sukses, whoah joomyun ckckck udah selesai pertunjukan masih sempat cium jaehee emang lah ya.. 😂😂😂😂😂
    Ya ampun, orang tua jaehee sama joonmyun emang kebangetan, kayak anak kecil aja untung aja kepala sekolah jung bisa ngatasin

  12. joonmyun modus tuh blng aja ketagihan cium jae hee
    sweet bgt mereka berdua
    tuh kan ortu jae hee sm joonmyun berantem
    yg pas ending nya sama2 ketauan deh kalo jae hee sm joonmyun punya hubungan trus jong in hana juga ketauan kalo mereka punya hubungan
    aaaaah makin greget am critanya
    penasaran sm lanjutan nya

  13. Pingback: ALL I ASK [PART XIV] — by Neez | SAY KOREAN FANFICTION·

  14. Dag dig dug baca chapter ini ㅠ.ㅠ Pertengkaran keluarga Kim sama keluarga Oh bikin gigit jari. Kalau mereka tetep kekeuh supaya Jaehee sama Junmyeon ga berteman, aku harus gimana?? Ga rela merek jauh2an😄 Mana makin sini makin terbuka aja, dann so sweet. Pokoknya JJ couple hatus bersatu

  15. Nyesal bgt baca trlmbat…. Seru bgt part ini… Senang sedih ada… Sumvah deh pingin nabok kepala orngtua junmyeon sma jahee.. Boleh gak ya? Kyk anak kcil.. Seperti reader bklan dibikin emosi sama ortu mrka.. KIM-OH bikin setressss… Hehehe
    Cieee jongin-hana pnsaran bgaimana mrka bisa jadian…

  16. ini yang aku takutkan 😂😂 cerita ny udh masuk ke konflik ny 😂😂😂 aku mau tau konflik keluarga mereka apaa. semangat kak neez

  17. Benar-benar sangat kekanakan orang tua mereka -_- sampe sekarang masih belom paham kenapa kedua keluarga itu saling berselisih
    Itu kalo belom diancem sama kepala sekolah mungkin bakal kebakar abis tuh hanlim
    Kasian banget mereka :’ sampe ada adegan tampar2an lagi si mamah sekyung ke joonmyeon :(((
    Tapi waktu si joonmyeon bilang kalo lipgloss jaehee enak itu beneran ngakak 😂😂😂
    Alesan yg gak elit banget lolllll
    Oh myyy ternyata hana sama jongin juga udah deket :3 semoga mereka merestui(?) jaehee dan joonmyeon 😍😍😍

  18. Benar-benar sangat kekanakan orang tua mereka -_- sampe sekarang masih belom paham kenapa kedua keluarga itu saling berselisih
    Itu kalo belom diancem sama kepala sekolah mungkin bakal kebakar abis tuh hanlim
    Kasian banget mereka :’ sampe ada adegan tampar2an lagi si mamah sekyung ke joonmyeon :(((
    Tapi waktu si joonmyeon bilang kalo lipgloss jaehee enak itu beneran ngakak 😂😂😂
    Alesan yg gak elit banget lolllll
    Oh myyy ternyata hana sama jongin juga udah deket :3 semoga mereka merestui(?) jaehee dan joonmyeon 😍😍😍

  19. kok joonmyung kya gtu ya,joonmyung memnag sudah jatuh cinta banger sma jaehee,mereka sma,cuma tinggal orang tuanya aja lg y gmn entar

    hahahahah

    debak thor debak

  20. Mabuk!! author Neez aku mabuk karena tulisan super panjang anda hahahahaha…. Mabuk berat smpe kepalaku pening saking antusiasnya_rsanya puas bgt bcanya n sukka bgt! part ini penuh emosi dr kesengsem, harap2 cemas bhkn smpe marah2 pecahin perabotan tampar2an aduuuh… Oh dikau Oh Jaehee Oh dikau Kim Joonmyun adinda tahu kalian berada didunia merah jambu😛 namun sayang bak kisah Siti Nurbaya cerita klasik cinta tak direstui sudah ada dihadapan.. lalu apa gerangan yg akn kalian lakukan untuk menghadapi?😛

  21. Ciee Jongin sm Hana, yg dulu kek tikus sm kucing skrg akurnya smpe mesra gt. Wkw. Baru akting aja keluarga mereka udh kek gt, gmn kl mereka nikah. Bisa perang dunia ke 3 beneran deh itu keknya:( kasian Joonmyeon sm Jaehee, mereka jd korban orgtua mereka. Mana mamanya Joonmyeon galakny stgh mati-_- btw kepsek Jung kerennnnnn sekali. Standing applause buat kepseknya *sm buat authornya* wkw. Lanjut kak, smgt trs ya^^

  22. Perang keluarganya segitunya banget yaaaa bikin horor 😫😫😫
    Ahhh ketauan deh akhirnya. Tp mendingan gitu sih biar mereka bisa saling mendukung dan saling menurupi hubungan satu sama lain haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s