[FREELANCE] Ain’t That Bad

z10

 Ain’t That Bad by. morschek96

Angst, School life, Romance, Bully || PG-17!!

Kim Kai & Kang Jeorin (OC)

Other Casts.

WARNING! Cerita mengandung content bully dan unsur sarcasm.

 Storyline are belong to morschek96, don’t be plagiator!

PREVIOUS : [1.Shame]

***

“no matter how torny the road is, run.“

Jeorin menyibak selimut lalu pergi ke kamar mandi, didepan wastafel ia mengeringkan pipi dan kening kemudian menatap cermin. Mata cokelatnya sangat dalam dan kosong. Ia bertanya-tanya mungkinkah perubahan luar-dalam itu terjadi? Apakah kesedihan dapat memancar, melalui pembuluh darah, organ, dan kulit. Jeorin menggeleng kuat, menatap rambut cokelatnya yang terurai, bersentuhan dengan bahu dalam pantulan di cermin.

Hari ini, sungguh tak ada bedanya dari hari-hari yang lain. Ketakutan itu tetap menghantuinya ketika pagi tiba dan memutuskan untuk berangkat ke sekolah. Menjadi korban bully, takkan ada seorang pun yang mengharapkan itu, terutama Jeorin. Menjadi tegar dan ceria di rumah adalah hal yang selama ini ia lakukan untuk menutupi sebuah irony yang sebenarnya terjadi.

Memasuki gerbang sekolah dan sontak semua pasang mata tertuju padanya, semua siswa mengenalnya mengingat ia yang paling sering dikerjai oleh Kai dan kawan-kawan. Jeorin memaksakan tetap menatap lurus kedepan.

Jangan menoleh.

Sempat terbesit dipikirannya untuk memberi pelajaran orang-orang yang selalu mengganggunya dan segera mengakhiri semua ini, namun apa daya dirinya  hanya seorang Kang Jeorin yang lemah.

“Ugh— appo..”

Seorang gadis tiba-tiba terjatuh tepat didepannya.

“Gwenchana?” Temannya bertanya dengan nada khawatir. Yang Jeorin perhatikan dengan tatapan bingung.

“Arggh.. sakit, dia menjegal kakiku.” Gadis tadi menunjuk kearah Jeorin dengan wajah nyalang.

“M-mwo? Aku tidak melakukan apapun, kau saja yang tidak hati-hati.” Jeorin mencoba mengelak. Ia bersumpah sama sekali tidak menyentuh gadis ini.

Dengan dibantu temannya, gadis itupun bagun dan berdiri. Lututnya sedikit lecet dan mengeluarkan darah. “S-sudahlah Seulna-ya, mari kuantar ke ruang kesehatan.”

“Ada apa ini?” suara seorang lelaki terdengar dari arah belakang mereka.

Satu teguk, Jeorin melebarkan matanya, ia kenal suara ini.

Wajah gadis itu yang semula ditekuk murung pun sontak berubah menjadi sumringah, dengan senyum yang sangat menjengkelkan bagi Jeorin. “Dia menjegal kakiku hingga membuatku jatuh sunbae.”

Bagaimana gadis ini memanggil Sehun dengan panggilan ‘sunbae’ mengartikan bahwa ia adalah junior mereka.

“A-aniyo.. aku tidak melakukannya.”

“Kalian bisa pergi, aku ada sedikit urusan dengan nona-Kang-Jeorin.” Sehun mengeja namanya dengan penuh penekanan, tepat setelah gadis tadi dan temannya telah pergi, datanglah si casanova sekolah Kai dan Tao.

Jeorin membeku di tempat, apa lagi ini, padahal hari masih terlalu pagi untuk memulai keributan. “Mwoya?”

“Kurasa ada barangku yang berada di dalam tasmu.” Ucap Kai dengan tatapan tajam dan smirk tipis.

“Aku tidak membawa barangmu, apa kau mabuk di pagi hari seperti ini?!” Damn Jeorin, kesalahan terbesarmu adalah bagaimana buruknya kau mengontrol ucapanmu sendiri. Menyadari apa yang telah diucapkannya, Jeorin mundur satu langkah ke belakang. Ia telah menciptakan perang di kandang macan.

“Benarkah?” Tao dengan sigap telah merebut tas milik Jeorin dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Jeorin berusaha merebut kembali tasnya namun sayang tinggi badannya tidak mendukung untuk disandingkan dengan Tao.

Melemparkannya ke Sehun dan langsung berlari membawa tas tersebut. Jeorin berusaha berlari untuk mengambil tasnya namun ketiga iblis itu nampaknya lebih dominan dalam menguasai permainan.

Tiba di lapangan sekolah. Jeorin tetap berlari mengejar tiga lelaki tadi yang membawa lari tasnya. Memegangi dada, ia rasa napasnya sudah tak karuan dan kakinya mulai lelah. Jeorin membungkuk memegangi lututnya seraya melihat kearah tiga lelaki itu.

Mereka berhenti di depan tiang gantungan bendera, Jeorin menebak-nebak apa yang akan dilakukan orang-orang idiot yang tak punya kerjaan tersebut. Beberapa saat kemudian mata Jeorin terbuka lebar ketika menyadari apa yang tengah mereka lakukan. Mereka menarik tali dan  menggantungkan tas Jeorin ke tiang gantungan bendera yang tingginya mencapai dua belas meter.

Ini keterlaluan. Jeorin berlari menuju Kai dan kedua temannya dengan kepala yang telah mendidih. “Yaa.. Kim Kai..!!!”

Tawa dari siswa-siswa yang menyaksikan kejadian tersebut membuatnya berpikir untuk segera mengakhiri hidup. Jeorin tak tahan, ini sudah keterlaluan.

#kriiiiinggg…!!

Bel pelajaran masuk pun berbunyi.

***

Pagi ini adalah rekor pagi terburuk baginya. Jeorin duduk termangu didepan locker. Karena  terlambat masuk ke dalam kelas, ia tidak diizinkan untuk mnegikuti jam pelajaran pertama.

Satu tarikan napas panjang dan memejamkan mata, tepat setelah itu cairan bening keluar meleleh dari kelopak mata Jeorin. Dadanya terasa sakit dan pikirannya yang berkecamuk untuk segera mengakhiri semua ini. Jeorin menunduk dan kedua tangannya terkepal memegangi dada, sakit sekali.

“Permisi—“

Suara seseorang menginterupsi diamnya, Jeorin menengadah untuk melihat siapa yang mengajaknya bicara.

“Kurasa aku tersesat, aku siswa baru di sini. Apa kau bisa memberitahuku dimana ruang 2-09?” Bagaimana tatanan rambutnya yang rapi dan sebagian poni menutupi kening, tatapan mata bening dan senyum yang cerah, Jeorin rasa ia adalah lelaki yang baik— yaa sebelum ia ikut-ikutan membullynya seperti yang semua siswa disini lakukan kepadanya.

Jeorin dengan sembarangan mengusap airmatanya, tak ingin ketahuan jika ia sedang menangis tadi. “Kau tinggal lurus dan belok ke kanan ketika menjumpai persimpangan, ruang nomor dua dari kanan.” Jeorin tetap memaksakan untuk berbicara meskipun dengan suara serak khas orang yang habis menangis.

Lelaki tadi mengangguk mengerti, namun malah memandang Jeorin lekat. “Apa kau tidak masuk ke kelas?”

“Aku terlambat, jadi aku harus menunggu jam kedua untuk dapat masuk kelas.”

Lelaki tadi berjongkok dan mengambil tempat disebelah Jeorin. “Oh aku belum sempat memperkenalkan diri, namaku Kim Myungsoo. Aku sengaja pindah ke Sekang High atas permintaan pelatih basket kalian. Ah.. siapa namanya—”

“Choi sanjangnim?”

“Ya, beliau memintaku untuk masuk tim basket sekolah ini setelah melihat permainanku di olimpiade provinsi beberapa bulan lalu.”

Jeorin tak dapat menyembunyikan senyum, ini adalah kali pertama seorang siswa mau berbicara dengan baik-baik kepadanya.

“Dan— siapa namamu?”

“Aku Kang Jeorin.”

.

.

***

Jeorin melenggang keluar kelas dengan menteng tasnya. Ia berjalan seorang orang diri di koridor sore ini mengingat ia keluar terakhir seperti biasa. Ia arahkan tungkainya secepat mungkin menuju pintu gerbang seperti biasa. Tak ingin menemukan kesialan lain setelah yang ia alami tadi pagi.

“Jeorin-ssi.”

Tepat ketika berada di anak tangga kedua seseorang menyerukan namanya. Terdengar polos tanpa adanya nada ejekan ataupun niatan merendahkan seperti yang biasa ia dapatkan dari para siswa. Jeorin menoleh kearah sumber suara, bibirnya tersungging samar ketika mengetahui orang yang telah memanggilnya. “Oh, Myungsoo-ssi.”

Kim Myungsoo, siswa baru yang ia temui di koridor locker tadi kini telah mengganti pakaiannya dengan jersey squad sekolah Sekang. Seperti akan langsung berlatih bahkan dihari pertamanya.

“Kau akan langsung pulang?”

Jeorin hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa menjawab satu kata pun. Ia hanya— malu. Jeorin tidak pernah sekalipun berbicara dengan bahasan normal bagi para remaja dengan siswa manapun di sekolah ini. Ia hanya tidak tahu cara untuk memulai.

Terjadi jeda beberapa saat ketika Myungsoo berjongkok untuk membenarkan tali sepatunya yang terlepas.

“Jadi kau jago bermain basket?” akhirnya Jeorin mulai angkat bicara.

“Ya, tapi tidak sehebat itu.” Menundukkan wajahnya malu, dengan tangan yang memegangi tengkuk.

“Wow wow wow.. Nona Kang, jadi kau sudah mengenal siswa baru untuk tim basket kita hm?” suara menjengkelkan terdengar beriringan dengan terdengarnya suara langkah sepatu yang mulai berjalan mendekat.

“Kurasa akhirnya nona Lonely ini mendapatkan seorang teman.” Suara yang lebih ringan menyahuti, wajah datarnya yang bagaikan kulkas berjalan itu ingin sekali Jeorin tendang dengan keras.

Terlihat wajah kebingungan Myungsoo ketika Kai dan teman-temannya datang.

Apa maksudnya?

“Tapi ku kira ini tidak akan berlangsung lama.” Kai yang sedari tadi terdiam pun kini membuka suara.

Diam-diam Jeorin menggertakkan giginya pelan, tangannya telah terkepal kuat meredam amarah. Tidakkah lelaki-lelaki ini terlalu tidak-punya-kerjaan untuk merusak hubungan pertemanannya dengan Myungsoo yang baru seumur jagung.

Ia mulai menggumam pelan di dalam hati, sebenarnya yang perlu dikasihani disini adalah Kai dan teman-temannya yang selalu mengganggu gadis lemah sepertinya. Ia merasa kasihan dengan orang seperti Kai yang selalu mengganggu ketenangan orang lain, layaknya tak dapat menemukan ketenangannya sendiri.

Kai memberi isyarat bagi teman-temannya untuk pergi dengan gerakan tangannya.

Jeorin bersumpah ia mencium aroma lembut cigarrete mint saat Kai berjalam melewatinya. Aroma sialan, ia mengoceh dalam hati, aroma tersebut masuk kedalam hidung dan berputar-putar di kepalanya.

Sempat Jeorin berpikir, ‘does he smoke?’ Bagaimana seorang siswa memiliki barang tersebut dengan mudah? Tapi bisa saja lelaki itu menyuruh orang lain untuk membelikan barang tersebut untuknya.

.

-END-

Annyeong chinguya~ ini janji saya untuk buat lanjutan dari FF Shame ya.. Gimana? Gimana tanggapannya? Hehe tambah gaje apa gimana? >.< dan please bagi para reader jangan shock sm FF ini, karena dari awal udah ditulis bahwa FF ini ratenya PG17. Jadi pasti disini adegannya udah menjurus yg ke dewasa.  Saya cuma pengen karakter disini bisa berkembang menjadi dirinya sendiri sesuai dg sifat masing2 (hidup d FF ini) terlepas dari handle saya sendiri yg sebagai author.

FF ini hanya sebagian dari kisah-kisah remaja di sekolah dan lingkungan sekitar, base on fact either only my fiction. ^^ dan yang gak suka mending gak usah baca gpp, makasih.

Lanjtut atau Tidak?

Jangan lupa buat ninggalin jejak berupa comment or lika ya.. ^^ butuh banget kritikan ataupun sanggahan, juga tanggapan dari FF ini.. jadi comment jusseyo..

-morschek96

https://morschek96.wordpress.com

20 responses to “[FREELANCE] Ain’t That Bad

  1. Ommoo..#AlaSongJoongKi 😅
    Jadi keinget school 2015,kan pembully an juga,btw rasanya aku dah baca ff yg the same itu,udah lama…eh,pas liat ada kelanjutannya,,demi apa aku seneng banget,,aku sempet nungguin,sampe aku lumutan..😂😂
    JEorinnya kasian ya,menurut aku sih myungsoo keknya gk bakal jauhin jeorin,boleh gak sih aku berharap…😂😂
    Trus si kai,knp sih gk kerjaan banget gangguin orang..#oalahh

  2. Kyaaa!! Undirectly, disini Kai bakal saingan ama Myungsoo dong, biarin lah skali2 Kai ngrasain perasaannya sendiri wkwk
    Dan gue ngarepin sosok Myungsoo tetep jd temennya Jeorin, ga terpengaruh ama Kai dkk

  3. lanjut lanjutttt..
    smoga myungsoo ngga jauhin jeorin. kan kasihan dia sndri muluuu. ldan biar skali” kai tau rasa. spa tau dengan datangnya myungsoo kai jadi cemburu gituuu wkwkwk
    pokonya lanjut lanjutt lanjuutttttt …………

  4. Lanjut dong. Oyaa selain alasan Kai sama Jeorin tertabrak, apa lagi thor yang bisa bikin Kai sejahil itu sama Jeorin? Dia suka? Atau balas dendam? Thor bikin Myungsoo tetap di sisi Jeorin yaa…ya.. yaaa biar dia punya teman paling nggak. Ditunggu kelanjutannyaaa, semangat!!

  5. Kak ini keren bgt baper bgt 😂 aduhay banget kai nya bikin gue ajdheksksjsjsjsjna dia ngerokok pula 😍 lanjut dong penasaran bagus 😂 gimana nih kai vs myungsoo? Lanjut jangan kelamaan…makasih :v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s