[FREELANCE] Intertwine Chap 2

Z8

Intertwine Chap 2

Title: Intertwine
Author: Rere_L.Kim
Genre : Fantasy, Romance, Drama, School, Teens, A Little Bit Comedy
Cast:
Byun Baekhyun (EXO)
Kim Myungsoo (INFINITE)
Ryu Lin (OC)
Ryu Raea (OC)

Rating : PG-15
Type : Chapter

Copyright ©2015 Rere_L.Kim

Prevous Story
Prolog
Chap 1 – Saying Hello!

Intertwine Story

Chapter 2# – The Story Begin

Lin menuruni tangga setelah keluar dari perpustakaan untuk sampai dikoridor dimana laboratorium berada. Langkahnya pendek2. Sisa kelopak sakura gugur berterbangan disisi kanannya saat langkahnya melalui koridor terbuka dekat pohon sakura.

Netranya menangkap sosok Baekhyun yang tengah berdiri didepan lokernya dengan sebuah liontin ditangannya. Ada getaran aneh dalam dirinya saat ia memperhatikan lebih dalam liontin yang memiliki pendant berbentuk cahaya dengan lambang infinity sebagai intinya.

Gadis itu terkejut dengan apa yang ia lihat beberapa detik lalu. Hal aneh terjadi padanya saat memperhatikan liontin yang kini sudah menggantung dileher putih Baekhyun. Tiba2 saja ia melihat seseorang tengah tersenyum dengan wajah yang tampak buram. Seorang yang ia pastikan berjenis kelamin laki2.

Lin tidak tau jika ada urat sarafnya yang bermasalah. Yang jelas, saat ini yang ia lakukan adalah memanggil Baekhyun yang berjalan menuju laboratorium. Sekalipun gadis itu sempat terkejut dan kehilangan kata2 untuk beberapa saat, ia tak terlihat gugup ataupun sejenisnya. Untung saja, otaknya masih berfungsi dengan baik. Sehingga saat ditanya ‘ada apa’ oleh Baekhyun, ia bisa menjawabnya dengan lancar.

Lin masih berkutat dengan catatannya saat bel tanda aktivitas belajar mengajar hari itu telah selesai. Satu persatu dari siswa kelas 1-1 A keluar dari kelas setelah guru yang mengajar jam terakhir mempersilahkan. Adalah Baekhyun yang juga masih berkutat dengan buku catatannya, duduk tenang di bangkunya.

Gadis yang memiliki surai hitam panjang itu baru menyadari kehadiran Baekhyun setelah pemuda itu menghancurkan suasana tenang dalam kelas kosong itu dengan bersinnya yang terdengar seperti bersin kucing. Awalnya gadis itu tak menghiraukan gangguan kecil itu. Namun, gadis itu akhirnya memutuskan untuk menegur Baekhyun setelah pemuda itu bersin lebih dari 3x dalam 1 menit.

“Kau sedang flu ya?”
“Oh Lin, ternyata kau juga masih disini?” Baekhyun memutar tubuhnya. Sebuah cengiran khas Baekhyun mengawali jawabannya.
“Ya,” jawab Lin sekenanya.
“Apa yang sedang kau lakukan?”
“Menyelesaikan catatan tugas.” Baekhyun mengangguk-angguk lucu. “Aku bertanya apakah kau sedang flu?”
“Ah maaf.” Kembali cengiran yang mulai Lin hapal itu diperlihatkan. “Tidak. Itu hanya semacam reaksi dari tubuhku ketika terlalu serius.” Salah satu alis Lin terangkat. Wajahnya datar menatap Baekhyun. “Aneh ya?” tanyanya seraya menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.
“Tidak apa2. Semua orang punya hal yang menurut orang lain… aneh.” Baekhyun memandang Lin intens. “Lupakan.” Lin cepat2 mengubah expresi wajahnya saat ia menyadari sempat jatuh pada lamunannya. “Apa kau sudah selesai?”
“Aku berharap sebentar lagi selesai.”
“Kalau begitu aku duluan.” Lin merapikan buku2nya. “Jangan terlalu serius, hidungmu bisa sakit kalau terlalu banyak bersin,” goda Lin.

Kembaran Raea itu menyempatkan untuk memberikan saputangan berwarna putih dengan inisial namanya itu pada Baekhyun sebelum keluar dari kelas.

Lin menyusuri lorong yang sudah mulai sepi untuk mencari sosok yang ia yakini tengah berkutat dengan benda berbentuk bulat yang bisa memantul berwarna orange. Yah, Lin menuju lapangan basket outdoor yang ada digedung sebelah barat.

Baru keluar dari lorong kopleks kelasnya, Lin berpapasan dengan seorang laki2 berkacamata dengan bentuk frame sederhana berwarna hitam. Garis kurva yang terbentuk diwajahnya benar2 mengganggu. Tak disangka, saat Lin menoleh untuk memperhatikan laki2 yang mengenakan setelan jas hitam yang pas dibadannya itu juga menoleh kearahnya.

Lin seperti terbanting kedimensi tanpa batas berlatar putih. Potongan kejadian masalalu memenuhi dimensi itu. Berurutan membentuk sebuah scene drama. Scene itu berhenti pada momen dimana laki2 itu mesabotase beberapa peralatan sekolah. Ditoilet laki2, diruang seni, diruang kelas, dikoridor, dilaboratorium dan dilapangan basket outdoor.

Laki2 itu berlalu tanpa benar2 memperhatikan Lin yang membatu ditempatnya. Angin menerbangkan anak rambut gadis bersurai hitam panjang itu dalam kesunyian. Lin menahan nafasnya, jantungnya bermaraton. Kepalanya mulai pening karena darah yang dialirkan keseluruh tubuhnya terlalu cepat. Lin melangkah dengan terburu dan terlihat panik.

Tulang kakinya serasa melunak. Lin menyandarkan tubuhnya ketembok koridor disamping gedung utama. Raea muncul tanpa ia sadari dan membuatnya terkejut saat menepuk bahunya. Tanpa menjelaskan apa yang terjadi, Lin meminta Raea berpencar untuk menemukan Myungsoo.

Kaki Lin mengarah pada laboratorium. Ia terhuyung hampir limbung saat mencium aroma bahan kimia dari laboratorium. Nafasnya memburu. Semakin lama semakin sulit untuk mengontrol jumlah oksigen yang ia hirup. Kepalanya berdenyut semakin nyeri. Kilasan masa lalu yang acak muncul, memenuhi ruang yang tersisa didalam otaknya. Lampu operasi, jarum suntik, cairan berbagai warna, suara dengung alat kesehatan, entah apa namanya, Lin tidak mau tau. Semua itu muncul seperti potongan adegan film yang dipercepat speednya.

Suara tawa renyah seorang anak laki2 berumur 3 tahun menggema dirongga telinganya. Tawa itu kontras dengan suara raungan beberapa anak kecil yang menangis kesakitan. Saluran pernafasan Lin serasa diputus secara paksa. Membuat peluh sebesar biji jagung berjatuhan dari keningnya. Begitu menyiksa. Detik selanjutnya, titik hitam yang semakin meluas memburamkan sosok yang berjalan kearahnya.

Disaat yang bersamaan ditempat lain, Raea berhasil menemukan Myungsoo. Pemuda jangkung dengan paras hampir sempurna itu berdiri dipinggir lapangan didekat bangku yang biasa digunakan pemandu sorak untuk berkumpul. Dengan panik, Raea menyerukan nama pemuda yang sudah menghabiskan setengah dari hidupnya bersama dua gadis kembar itu saat sebuah papan nilai yang tak jauh dari sana bergoyang janggal.

Raea hampir membanting phonsel yang ada digenggamannya saat berlari kearah Myungsoo. Papan itu jatuh tepat kearah Myungsoo sebelum Raea berhasil sampai untuk menarik pemuda Kim itu menjauh. Suara debuman yang dihasilkan sukses merebut perhatian orang2 yang berada disekitar lapangan. Bola basket yang sebelumnya diapit oleh Myungsoo, memantul dan berakhir dengan menggelinding lalu berhenti setelah membentur tiang lampu.

“Myungsoo a,” panggil Raea panik saat berjongkok disamping Myungsoo yang berusaha menahan bobot tubuhnya dengan sikunya saat melihat kakinya yang tertimpa papan nilai. “Gwenchana?”
“Wow,” seru seorang yang berada tepat disamping tubuh Myungsoo yang menggagalkan sang papan nilai jatuh menimpa tubuh Myungsoo. “Tepat waktu,” ujarnya sambil memperlihatkan cengiran khas anak balita.

“Myungsoo a.”

Beberapa teman basket Myungsoo berlarian menghampiri mereka bertiga dan membantu memindahkan papan nilai yang ternyata memiliki bobot lumayan itu dari kaki kanan Myungsoo.

“Baekhyun a, kau tidak apa2?”
“Sejauh ini cukup baik.”
“Oh maaf.” Myungsoo bergeser. Melepaskan diri dari rengkuhan Baekhyun yang membuat tubuh mungil Baekhyun tertindih olehnya. “Agrhh!” rintihan kasar itu langsung meluncur begitu kakinya digeser.

“Ini tidak baik,” ujar sang kapten basket. “Kita harus kerumah sakit. Aku takut tulangmu retak.” Woohyun meraih lengan Myungsoo dan membimbingnya untuk naik kepunggungnya.

Raea mengekor setelah mengambil perlengkapan yang sempat ditinggalkan Myungsoo dibangku. Tak banyak, hanya selembar jaket berwarna hitam, phonsel, dan handuk kecil dengan inisial ‘L’ disudut. Kerumunan itu bubar setelah Myungsoo tak lagi terlihat dari lapangan. Baekhyun meringis mendapati sikunya yang tergores. Goresan kecil yang diwarnai dengan darah segar yang mengalir bak air pancuran hingga mengotori kemeja putihnya.

Beberapa detik kemudian, kerumunan kembali melingkar disekitar lapangan setelah mendengar bunyi ganjil ditempat Myungsoo tertimpa papan nilai. Itu Baekhyun. Pemuda itu tak sadarkan diri dipinggir lapangan dengan lengan yang berlumuran darah.

“Kau sudah bangun?”

Begitu kelopak mata itu terbuka, bayangan buram seorang laki2 dengan kacamata berframe besar terlihat berdiri tak jauh darinya. Mata itu mengerjap lemah. Menyesuaikan cahaya yang masuk keretinanya. Bau obat begitu tajam tercium. Suara dentingan meyeramkan khas alat kesehatan memenuhi setiap sudut ruangan.

“Kau akan baik2 saja.”

Sosok itu mengusap pelan puncak kepalanya. Menyalurkan kehangatan yang nyaman disana. Menyenandungkan sebuah melody yang menenangkan. Membuatnya kembali lelap dalam tidurnya. Sebelum ia benar2 terjatuh kedalam alam bawah sadarnya, suara itu kembali terdengar.

“Maaf. Itu salahku. Aku akan menjagamu.”

Kedua kelopak mata yang pada dasarnya hanya terbuka setengah itu kembali terkatup rapat. Mengantarkannya kembali kealam mimpi. Dengan nafas yang teratur, raut wajah itu kembali terlihat damai.

Lin terbangun dengan tergesa hingga ia langsung mengambil posisi duduk tepat saat kelopak matanya terbuka. Nafasnya memburu. Retinanya merekam setiap detil ruangan yang ia tempati.

“Sudah sadar tuan putri?”

Lin menoleh kekanan. Sosok Myungsoo yang terbalut baju pasien tengah duduk bersandar dengan komik ‘Tokyo Ghoul’ ditangannya. Kaki kanannya dibungkus gips berwarna putih.

“Myungsoo?”
“Ya, ini aku,” jawabnya sambil mengunyah sosis.
“Apa yang terjadi?”
“Kau menanyakan kronologi kenapa aku bisa sampai disini atau kau?” Myungsoo bertanya sambil menunjuk dirinya dan Lin bergantian dengan sosis yang tersisa ditangan kanannya.
“Jelaskan keduanya, satu persatu.” Nafasnya ditarik dalam dan panjang sebelum dihembuskan.

Myungsoo menutup komiknya dan menggeser sedikit badannya untuk menghadap Lin yang berada diatas ranjang pasien tepat sebelah kanannya.

“Kakiku tertimpa papan nilai yang ternyata kayunya sudah keropos dilapangan basket outdoor. Woohyun hyung membawaku kesini. 1 jam setelah aku dipindahkan keruang rawat inap, kau juga dipindahkan disini. Kata Raea seorang petugas kebersihan menemukanmu tak sadarkan diri disekolah, lalu membawamu kerumah sakit. Kkeut.” Myungsoo merubah posisinya dan kembali berkutat dengan komik yang sebelumnya dia abaikan.

“Maaf. Itu salahku. Aku akan menjagamu.”

Kalimat itu terlintas dipikiran Lin. Sesuatu yang janggal ia rasakan. Lin berusaha keras untuk mengingat apa yang terjadi. Suara laki2 itu terdengar tak asing namun tak terdeteksi oleh arsip memori otak gadis itu. Lin mengacak kasar rambut panjangnya hingga selang infus ditangan kirinya tersangkut dan membuat jarumnya mengoyak ringan punggung telapak tangannya.

“Ya!” seru Myungsoo khawatir setelah Lin memekik ngilu dan mendapati tangannya berdarah. “Apa yang kau pikirkan, huh?” omel Myungsoo sambil memencet tombol darurat agar petugas jaga segera datang.

“Beri salam dan minta maaflah.” Suara bass khas orang dewasa mengiringi gerakan seorang anak laki2 yang tertunduk takut.
“Maafkan aku,” ucapnya dengan suara bergetar.
“Itu ice cream untuk saudaraku,” ratapnya sambil menunjuk vanilla ice creamnya yang jatuh ditanah.
“Kau bisa mengambil milikku untuk saudaramu.” Pemuda kecil dengan pipi tembam itu mengulurkan tangan yang kotor akibat lelehan ice cream rasa strawberry. “Aku belum memakannya, sungguh.” Pemuda kecil itu kembali menunduk takut saat ditatap seperti itu oleh gadis kecil berkepang. “Baiklah, hanya sedikit,” gumamnya merasa bersalah.
“Saudaraku tidak suka rasa lain selain vanilla.”
“Paman akan membelikanmu yang baru, tunggu sebentar disini.”

“Itu saudaramu?” pemuda kecil itu menunjuk gadis kecil berkepang lain yang duduk sendiri dibangku tak jauh dari kedai ice cream, menatap bingung kearah mereka.
“Ya. Dia saudaraku.”
“Kalian kembar?”
“Yap,” jawabnya bangga.
“Ada apa dengannya?”
“Orang jahat pernah menyakitinya dan hampir menculiknya beberapa waktu lalu. Makanya, aku membelikan ice cream untuk menghiburnya.”
“Kau saudara yang baik.” Senyum bocah itu mengembang ceria. “Aku berharap juga punya saudara sepertimu.”

Guncangan ringan dibahu kanannya, mengantarkan Raea terbangun dari tidur siangnya yang singkat. Lin mengambil posisi duduk disebelah Raea yang bersandar dibangku bawah pohon rindang ditaman rumah sakit. Satu2nya tempat nyaman yang ada dilingkungan orang2 sakit.

“Oh, kau datang?” Raea bertanya sambil meregangkan tubuhnya ringan. “Myungsoo, bangun.” Raea menusuk2 pipi pemuda yang tidur bersandar dibahunya dengan pelan namun konstan. “Hey bangunlah, bahuku kram.”
“Berisik,” gumamnya yang semakin menyamankan posisi kepalanya dibahu mungil Raea. Lin menggelengkan kepala, tak habis pikir.
“Aish.” Raea mengacak kasar puncak kepala Myungsoo.

“Myungsoo, bangunlah. Jam minum obat.”
“Kau juga sama berisiknya dengan Raea, Lin,” ujar Myungsoo malas tanpa membuka kedua matanya.
“Bibi Kim menghabiskan waktu 40 menit lebih untuk mengingatkanku tentang kondisimu. Dokter juga bilang kau harus rutin minum obatmu, itu akan membantu mengurangi rasa sakit yang sering kau keluhkan 1 minggu ini.”
“Ibuku memang benar2 luar biasa,” rancaunya sambil mengacungkan ibu jarinya singkat.
“Tapi anaknya benar2 diluar umumnya manusia biasa.”
“Ya! Apa maksudmu?” Myungsoo langsung terbangun dan mendelik kearah Raea yang asik meregangkan bahunya.
“Ah, aku ingin ice cream.”
“Ice cream?” Lin menyahut sambil membuka kotak makanan yang ia bawa.
“Aku tadi bermimpi masa kecil kita dulu.”
“Mimpi?” Mulut Myungsoo sudah penuh dengan sepotong kimbab yang ia ambil dari kotak makan Lin.
“Seorang bocah laki2 berpipi tembam menawarkan ice cream strawberrynya untuk mengganti ice creamku yang dia jatuhkan.” Raea tersenyum geli mengingatnya. “Kau ingat Lin?”

Hening sempat menari2 bersama deru angin yang menyapa lembut kulit mereka. Membiarkan Lin membuka2 file ingatan tentang seorang bocah laki2 berpipi tembam dengan ice cream strawberry seperti yang dijelaskan oleh Raea. Detik ke 10, Lin menggeleng lemah sambil mengambil kimbab yang berisi kimchi.

“Aku tidak ingat.”
“Tentu saja, itu sudah sangat lama saat kita masih berumur 3 tahun.” Raea nampak gelisah saat mengucapkannya. “Lupakan,” putusnya diiringi seutas senyum cerahnya. “Itu masa lalu.”

“Apa?”
“Maafkan aku Lin.”
“Tapi Yoo seosaengnim, anda tidak bisa mengambil keputusan seperti ini.”
“Aku tau Lin, tapi maksud dari tugas ini bukan hanya untuk mencari nilai dari materinya saja, tapi juga bagaimana kalian bersosialisasi saat mengumpulkan materi tugas dan penelitian secara langsung kelapangan.”
“Tapi tetap saja ssaem. Bukan kemauan saya jika Baekhyun yang menjadi rekan 1 kelompok saya absen sampai hampir 2 minggu. Tidakkah anda kurang bijak jika hanya berpacu dengan hal itu?”
“Tentu saja.” Guru sastra yang berperawakan mungil dengan rambut coklat madu sebahu itu menjawab cepat sambil melipat kedua tangannya didepan dada. Menatap sinis Lin dan menyuguhinya seutas senyum yang jauh dari kata ramah. “Ini pelajaranku, aku yang menentukan peraturannya. Dan kau,” telunjuk lentik itu mengarah kewajah Lin, “Tugasmu hanya mengikuti peraturan yang sudah aku buat.”
“Ssaem–“
“Aku tidak mau dengar apapun lagi. Nilai sastramu akan keluar setelah tugas kalian selesai.”

Lin keluar ruang guru sambil melipat kasar wajahnya. Seri lain dari expresi datar yang sering diandalkan seorang Ryu Lin untuk menghias wajahnya. Ia marah, kecewa dan tak habis pikir dengan jalan pikiran guru sastranya. Kenapa pemikirannya kekanakan sekali? Lin benar2 tak habis pikir.

“Myungsoo?”

Lin terpekik ringan begitu mendapati sebuah lengan menggenggam sebuah ice cream dengan rasa greentea terulur didepan wajahnya. Dan ketika ia menoleh, senyuman sok polos Myungsoo sudah menyambutnya. Myungsoo mengambil duduk tepat disebelah Lin yang duduk melamun disalah satu bangku kantin.

“Terimakasih,” ujarnya seraya mengambil alih es krim ditangan Myungsoo.
“Aku melihatmu berjalan gusar kearah kantin setelah bel istirahat berdering.” Myungsoo mulai berkoar setelah mengambil kembali ice cream ditangan Lin untuk membantu gadis itu membuka bungkus kertas yang menyembunyikan gumpalan lembut nan dingin dengan perasa greentea. “Ada masalah?” imbuhnya seraya menyodorkan ice cream yang sudah dilucuti bungkusnya.
“Tugas sastra.” Gadis itu menyempatkan diri untuk menikmati lembutnya es krim sebelum melanjutkan, “Guru sastra bilang, nilai sastraku tidak akan keluar sebelum tugasnya dikumpulkan bersama Baekhyun.” Lin mengesah kasar. “Kekanakan sekali bukan?”
“Kira2 Baekhyun kemana ya?” Lin memilih menikmati ice creamnya dan menjawab pertanyaan Myungsoo dengan mengendikkan bahu sekali. “Terakhir aku dengar ia dibawa kerumah sakit yang sama dengan kita setelah tiba2 tak sadarkan diri tepat saat aku diantar keparkiran untuk dilarikan kerumah sakit. Aku sempat bertanya pada bagian informasi dirumah sakit, tapi tidak pernah ada pasien atas nama Baekhyun disana.”

Dimenit terakhir sebelum bel istirahat berakhir, Raea muncul dengan wajah ditekuk menghampiri Lin dan Myungsoo yang asik mengobrol disalah satu bangku kantin. Setelah mengambil duduk disebelah Myungsoo, gadis cantik itu menenggak hampir setengah dari isi botol air mineral yang dibeli Myungsoo.

“Apa aku harus cari setrika?” celetuk Myungsoo yang merekam setiap inci gerakan Raea.

Hanya butuh hitungan detik bahkan lebih cepat dari itu, Raea sudah menghujani Myungsoo dengan death glare andalannya. Lin hanya menggeleng lemah. Sedangkan Myungsoo, membalasnya dengan cengiran khas bocah.

“Kali ini masalahnya dimana?” Lin bertanya.
“Jihoon mengusulkan konsep baru. Padahal, kompetisinya akan diadakan beberapa hari lagi. Aku harus lembur habis2an.”
“Jihoon terlalu jenius.” Myungsoo berkomentar sambil mengangguk2 lucu.

“Raea.”

Sosok mungil dengan kacamata bundar dengan frame klasik terlihat begitu menggemaskan, berjalan menghampiri mereka. Kedua lengan pendeknya mendekap 2 jilid buku setebal 250 halaman.

“Nanti pulang sekolah, kita akan mengembangkan materi bersama. Tolong jangan lupa.”

Pemuda yang akrab dipanggil Woozi itu menegaskan ajakannya dengan wajah lucu. Tolong jangan tertipu dengan tampang innocent miliknya. Sekilas dia terlihat seperti anak SD yang begitu menggemaskan. Teman2 sering meledeknya sebagai perwujudan karakter anime jepang ‘conan’ versi nyata. Dia orang dewasa yang terperangkap ditubuh anak kecil. Selain Woozi, Jihoon juga mendapat kehormatan menyandang nama chibi. Terlepas dari semua ciri fisiknya, Jihoon adalah orang yang menyeramkan dan tukang menggerutu.

“Ne,” sahut Raea setengah hati.
“Aku akan menunggu digerbang sekolah saat pulang nanti.”
“Ya, terimakasih.”

“Nightmare,” celetuk Myungsoo dengan wajah polos ketika rungu Jihoon tak lagi menjangkau suara bising kantin.

Raea berjalan beriringan dengan Jihoon menuju toko buku yang berada beberapa blok dari sekolah. Sore yang sejuk saat berjalan ditrotoar yang terlindung oleh dahan2 pohon yang rindang kalau saja gadis bermarga Ryu itu tidak tengah berjalan bersama seorang penggerutu yang menuntut kesempurnaan bernama Lee Jihoon kelas 1-1 A.

“Jihoon, boleh aku bertanya?”
“Silahkan,” sahutnya tanpa mengalih fokuskan matanya dari buku sejarah perang dunia ke 2 ditangannya.
“Kenapa kau mengubah konsep saat kontesnya tinggal menghitung hari.”
“Aku mendapat konsep yang lebih baik.”
“Itu saja?”
“Ya.”

Dalam hati Raea mengeluh habis2an pada Jihoon. Bukan hanya karena keputusannya yang mengubah konsep secara tiba2, tapi juga karena sikap Jihoon yang membosankan. Menghela nafas dalam, Raea mencoba untuk merilexkan pikirannya dari penat yang menumpuk dengan mengalihkan perhatiannya kesekitar.

Dua bola mata cantik itu menangkap siluet yang membuatnya tertarik hingga memperhatikannya lamat2. Seorang dengan tubuh tinggi yang proporsional, kulit seputih susu, rambut hitam legam dengan sentuhan manis pada senyumannya.

“Jungkook?”
“Eung?” Jihoon menyahut asal gumaman Raea. Dan lagi2 tanpa mengalih fokuskan matanya pada gadis itu.
“Apa yang dia lakukan ditoko bunga?” batin Raea. Langkahnya tetap terajut teratur beriringan dengan langkah pendek Jihoon. Netranya pun masih tetap terpaku pada sosok yang kini mendekap sebuket bunga berwarna putih. Raea tak yakin dengan jenisnya karena terlihat samar akibat terhalang beberapa bunga yang didisplay ditoko bunga ‘Harmonie’. “Tapi apa mungkin itu Jungkook?”

“Akh,”

Lin merintih pelan saat pantatnya bersinggungan dengan kerasnya aspal. Kesal, Lin membersihkan debu ditelapak tangannya dengan mendengus.

“Maafkan aku.” Seorang pemuda menghampirinya setelah berhasil berdiri. “Aku tidak memperhatikan jalan.”
“Pertimbangkanlah untuk fokus pada jalanmu daripada handphonemu,” ketus Lin sambil menatap tajam pemuda itu.
“Akan aku pertimbangkan lain kali. Terimakasih untuk sarannya.” Pemuda itu tersenyum cerah. “Butuh bantuan?” tangan kanannya terulur tepat didepan wajah Lin.

Tanpa menghiraukan niat baik orang yang dengan tidak sengaja menabraknya saat asik dengan phonselnya, Lin bangkit dan membersihkan sisa debu dibajunya. Dan tanpa mengucapkan sepatah katapun, Lin memilih berjalan melewati pemuda itu.

“Hey,” serunya yang berlari kecil mengejar Lin.

Lin mematung untuk beberapa detik saat matanya bersiborok dengan mata pemuda itu yang dengan lancangnya menarik lengannya hingga menghadap kearahnya. Katakanlah berlebihan, Lin merasakan oksigen disekitarnya menguap. Menyisakan kehampaan yang membuatnya sesak.

Ia melihat seorang gadis kecil dimasalalu pemuda itu. Hampir semua ingatan yang dilihat Lin dari mata pemuda itu berisi tentang gadis kecil pemilik senyum manis nan ceria. Selebihnya blur. Tak terbaca, tak teraba oleh kemampuannya.

“Kau dengar aku?” pemuda itu menggoyang2kan telapak tangannya didepan wajah Lin.
“Eo?”
“Ku bilang, lututmu terluka.” Lin mengikuti arah telunjuk pemuda itu. Benar, lututnya berdarah.
“Aku bisa mengurusnya sendiri.”

Gadis itu berlalu dengan cepat setelah berhasil melepaskan tangan pemuda itu dari lengannya.

Langit sudah berubah warna saat Raea dan Myungsoo keluar dari pusat belanja. Setelah berpisah dengan Lin yang ada urusan pribadi, Raea dan Myungsoo memutuskan untuk menghabiskan minggu mereka dengan berjalan santai menyusuri trotoar menuju rumah mereka yang tak terlalu jauh dari pusat belanja.

Kegiatan itu dinikmati dengan sebuah ice cream vanilla ditangan kanan Raea dan ice cream mint ditangan kanan Myungsoo.

“Myungsoo a.” Raea bersuara setelah lebih dari 15 menit tidak ada satupun dari mereka berbicara. Ice cream benar2 berhasil membungkam mulut mereka.
“Eung?” jawab Myungsoo sekenanya.
“Aku kemarin melihat Jungkook.” Langkah Myungsoo terhenti bak rem darurat pada kereta yang tengah melaju kencang. “Tapi aku tidak yakin itu dia. Hanya sekilas saja,” jelas gadis itu santai, tidak menyadari perubahan emosi Myungsoo.
“Jung–Kook kau bilang?”
“Ne.” Raea terkejut saat memalingkan wajahnya kekiri, tak didapati sosok Myungsoo disana. Myungsoo berhenti beberapa langkah dibelakangnya. “Ayolah Soo.” Raea menghampiri Myungsoo. “Semua akan baik2 saja, eo?” gadis itu meraih lengan Myungsoo.

Butuh waktu kurang lebih 2 menit untuk Myungsoo mendapatkan kesadarannya kembali setelah berpetualang singkat kedalam masa lalunya. Dan sisa perjalanan sore itu hanya ada keheningan. Raea menyerah untuk membuat Myungsoo buka suara.

“Lin.”

Seruan orang yang berusaha mensejajarkan langkah dengannya tak didengar oleh Lin. Jengkel membuatnya tuli untuk sementara. Lengan kurusnya ditahan dengan kuat namun tak membuatnya tersakiti.

“Aku bicara padamu. Kenapa kau tidak mau berhenti dan mendengarkanku?”

Lin menatap sinis Baekhyun. Benar2 merasa enggan untuk melihatnya untuk beberapa saat. Gara2 absennya, nilai sastranya baru keluar setelah 2 minggu.

“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk membuat nilaimu bermasalah. Aku hanya–“
“Sudah,” potong Lin. “Berhenti menjelaskan. Karena itu percuma. Nilai sastraku tidak akan berubah.”
“Aku tau, maafkan aku.”

Lin menghela nafas panjang ketika lengannya tak lagi dicengkram. Lin sudah jengkel karena dia harus menyelesaikan sisa tugas kelompok itu sendiri. Jengkelnya bertambah ketika guru sastra menolak memberinya nilai dengan alasan konyol. Lalu saat manusia bernama Baekhyun itu muncul dan melengkapi syarat untuk menerima nilai sastra, Lin harus menelan kekecewaan karena nilainya dikurangi.

“Nasib permintaan maafmu tergantung dari penjelasan yang kau berikan padaku.”
“Aku– tidak bisa menjelaskan yang satu itu.” bahu Baekhyun merosot tanpa gairah.
“Kalau begitu, aku juga tidak bisa menerima permintaan maafmu.”
“Lin.”Lagi2 Baekhyun menahan lengannya saat gadis itu hendak beranjak. “Ayolah, buat ini menjadi mudah.”
“Kau yang mempersulitnya.”

“Hyung.”

Seseorang menginterupsi debat Lin dan Baekhyun dikoridor dekat ruang guru. Lin dengan reflek menengok kebelakang saat suara yang terdengar manis itu berseru dibalik punggungnya. Dan dengan reflek yang lainnya, nama itu lolos dari bibirnya dengan sangat cepat dan lantang.

“Kau mengenalnya?” Baekhyun mengernyit bingung saat mendengar Lin menyebutkan sebuah nama orang yang sebelumnya berseru memanggilnya.
“Apa yang dia lakukan disini?” tanya Lin lebih pada dirinya sendiri saat melihat sosok itu berjalan mendekat. Kerutan didahi Baekhyun semakin dalam mendengar rancauan Lin.

“Hyung, kau melupakan obatmu. Paman terus mengomel dan menyuruhku untuk memberikannya padamu. Ini.” tangan mungilnya terulur panjang kearah Baekhyun. Kulitnya seputih dan sebersih milik Baekhyun. Senyumnya cerah dan riang.
“Maaf merepotkanmu.” Baekhyun mengambil obatnya dengan senyum terpasang diwajahnya. “Jungkook a.”

Nafas Lin tertahan untuk beberapa saat. Mengamati sosok dihadapannya dengan mata tak berkedip.

“Annyeong noona,” sapanya ceria.

XOXO

-To Be Continued-

Note :

Aku sering kena WB L
Bingung cari alur yang pas dengan konsep INTERTWINE yang dulu aku pikirkan.
Hehehe

Dan di chap ini banyak ada beberapa cast baru. Ada yang cuma nongol,tapi ada yang berlanjut.

Harapannya tetap, semoga ini cerita bisa selesai dan anti mainstream
Hehehe

Semoga bisa dinikmati ya.
Ditunggu kritik dan sarannya untuk review ya readers-deul.
Likenya juga mohon bantuanny, hehe

Regrads,

Rere_L.kim

4 responses to “[FREELANCE] Intertwine Chap 2

  1. aku masih rada2 bingung sama alurnya, hihi maaf
    tapi ceritanya udah bagus, aku suka. ada banyak misteri2nya juga yg bikin penasaran.

    ditunggu chapt berikutnya, keep writing. hwaiting ^^

    • Yep terimakasih sudah mau meluangkan waktu untuk baca dan komen😀

      Syukurlah, masih perlu banyak belajar bikin alur yang g membingungkan dan mudah diterima
      hehehe

      On progress ya semoga bisa cepat dipublish

      Thanks🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s