[FREELANCE] Secret Purpose 1/?

z7

 Secret Purpose 1/?.

Author : Anemone | Cast : Oh Se Hun[EXO] # Lu Han [Actor] # OC/YOU | Genre : Life! Au # Marriage Life # Romance # Hurt # Angst | Cover :  @ARTLANTIS | Length : Mini Chapter | Rating : PG-15.

 

Aku sarankan untuk mendengarkan lagu Tell Me What Is Love by D.O[EXO].

 

Disclaimer : Cerita ini murni pemikiranku, tidak ada unsur kesengajaan dan sebagainya jadi mohon jangan mengcopy tanpa seizinku. Rasanya sakit pas tahu karyanya di plagiat, itu yang buat moodku dwon beberapa minggu ini. FF ini sebenernya FF lama yang entah berapa abad tersimpan di folderku. Hahaha. Hanya ada beberapa bagian yang aku edit dari cerita aslinya.

Kein Kopieren und Einfügen ohne meine Erlaubnis, vergessen Sie nicht, zu kommentieren und zu mögen!!!

Aku belum bisa bawa FF kelanjutan Thorn Flowers jadi ini sebagai gantinya …. Hehe

 

 ANEMONE STORYLINE 2016©.

Summary : “Woman’s your woman….”

 

Secret Purpose.

 

Author pov.

Aku tidak pulang malam ini, jangan menungguku.”  ujar Se Hun sambil memakai dasi didepan cermin besar yang ada di kamarnya.

Hani mengangguk pelan dan tersenyum lembut, Ia mendekat dan mencoba membantu Se Hun memakai dasinya. Se Hun terdiam sambil menatap Hani dengan sorot mata yang sulit di artikan.

“Jangan lupa makan sesibuk apapun pekerjaanmu. Aku akan mengirim makan siang untukmu nanti.” Hani tersenyum manis saat melihat dasi Se Hun sudah terpasang rapi. Ia mendongkak dan menatap Se Hun, iris slimate itu menatapnya dalam. Hani terdiam, hatinya mencoba membaca arti tatapan mata suaminya.

Chup.

Hani tersentak saat Se Hun mencium ujung hidungnya. Se Hun tersenyum tipis lalu mengelus perut buncit Hani, “maaf. Aku tidak bisa mengantarmu cek up hari ini.”

Hani mengangguk dan tersenyum, “tak apa. Pekerjaanmu lebih penting. Bulan depan, masih bisa menemaniku.” Hani mengambil jas Se Hun diatas ranjang lalu membantu Se Hun memakaikannya.

“Kau lebih penting dari pekerjaanku.” gumam Se Hun lalu mengecup kilat bibir pink cerry milik Hani.

Blush!

Hani tidak bisa menyembunyikan rona merah di wajahnya membuat Se Hun terkekeh pelan lalu mengelus pipi Hani. Se Hun tidak berbohong, Hani memang lebih penting daripada pekerjaannya, tapi Se Hun tidak bisa mengelak saat harus turun langsung dalam proyek perusahaan yang bermasalah.

Hani mengantar Se Hun sampai depan rumah, Paman Yook supir pribadi serta Chanyeol asisten pribadi Se Hun sudah menunggu, mereka membungkuk saat melihat Se Hun dan Hani. Se Hun tersenyum tipis saat tatapan matanya tanpa sengaja jatuh pada perut buncit istrinya.

“Aku berangkat sayang.” ujarnya lalu mencium dahi Hani.

“Hati-hati. Semoga semuanya berjalan lancar sesuai harapanmu.” gumam Hani.

Se Hun mengangguk pelan, “Aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu.” Hani melambaikan tangannya.

“Semoga hari kalian menyenangkan!” ujar Hani.

“Terimakasih Hani-ya.” jawab Chanyeol.

Hani tersenyum dan mengelus perut buncitnya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya masih melambaikan tangannya. Mobil SUV black itu berjalan pelan meninggalkan perkarangan rumah megah keluarga Oh. Se Hun terdiam sambil menatap kedepan, Ia menghembuskan nafas pelan. Chanyeol yang melihatnya dari kaca spion dalam mobil menyerit heran.

“Berikan laporannya.” ujar Se Hun membuat Chan Yeol dengan cepat menyerahkan dokumen yang sedari tadi di pegangnya.

“Kau sudah menyiapkan semuanya kan hyung?” tanya Se Hun sambil membaca dokumen di tangannya.

“Sesuai keinginanmu.” jawab Chanyeol.

“Dennoch wollen Sie nicht mir zu sagen, was das Problem ist ?” (Masih tidak mau bercerita padaku, apa yang terjadi?) Chanyeol sengaja menggunakan bahasa German untuk komunikasi mereka. Paman Yook hanya diam dan fokus menyetir. Ia tidak mau menganggu privasi tuannya.

Masih fokus pada laporan di tangannya Se Hun menjawab tanpa menatap lawan bicaranya. “Es ist nichts passiert. Vertrauen Sie mir.”  (Tidak terjadi apapun. Percaya padaku).

Chanyeol mengangguk kecil, “Ich kenne dich gut . Ich werde nicht mit gewalt. Ich respektiere dich als Freund.”  (Aku mengerti. Aku tidak akan memaksa . Aku menghormati keputusanmu sebagai teman).

Ucapan Chanyeol membuat Se Hun tersenyum tipis, “terimakasih.” batinnya. Lalu mengalihkan pandangannya pada jalanan kota dari kaca mobil.

Tanpa sadar kedua tangannya mengepal, sebisa mungkin Se Hun menahan gejolak didalam hatinya. Ia tersenyum miris.

“Bukankah aku tidak mencintainya? Aku hanya mencintai diriku sendiri.” batinnya lalu menyandarkan punggungnya pada jok belakang.

***

Hani duduk tenang di kursi belakang sambil memainkan game di ponselnya. Hari ini, Hani kelihatan manis dan imut dengan dress khas ibu hamil dengan motif bunga-bunga berlengan pendek berwarna putih tulang. Rambutnya sengaja di kepang satu dengan poni kesamping membuatnya terkesan seperti anak SMA.

“Sudah sampai nyonya.” keasyikkan Hani terganggu saat supir pribadinya bergumam pelan, ternyata sedari tadi ia asyik sendiri tidak sadar jika sudah sampai di parkiran depan rumah sakit HanShin. Paman Nam bahkan sudah membukakan pintu mobil untuknya.

“Ah maaf. Terimakasih paman.” ujar Hani setelah keluar mobil.

Paman Nam mengangguk pelan, Hani tersenyum lalu melangkah memasuki rumah sakit HanShin tanpa paman Nam.

Drrrt. Drrrt.

Hani segera membuka pesan line yang baru saja masuk.

 

From: SehunieL.

Jangan ke kantor. Aku dalam perjalanan ke Busan. Jangan khawatir aku sudah makan siang. Maaf ya. Aku mencintaimu….

 

To : SehunieL.

Baiklah. Hati-hati! Jangan sampai kelelahan. Aku juga mencintaimu….

 

Hani menghembuskan nafas kasar lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas jinjingnya. Ia kembali melangkah menuju klinik kandungan, dan mengantri bersama ibu hamil lainnya yang rata-rata di temani suaminya. Hani tersenyum tipis dan mengambil tempat duduk di pojok. Tanpa Hani sadari sejak dia menginjakkan kakinya di rumah sakit. Seseorang terus memperhatikan gerak-geriknya.

“Oh, Lu Han oppa?!” seru Hani kaget saat ia keluar dari ruang pemeriksaan Lu Han sudah berdiri didepannya dengan senyum manisnya. Pria tampan namun cantik itu mengacak pelan poni Hani membuat Hani mendengus dan menangkis tangan Lu Han.

“Kenapa?” tanya Lu Han dengan wajah dibuat seolah-olah kecewa membuat Hani memutar bola matanya. Detik berikutnya pria berjas kedokteran itu terkekeh pelan.

“Aku tahu hari ini jadwal cek up rutinmu. Jadi aku kemari.” gumam Lu Han.

Hani mengangguk pelan, “tidak sibuk? Tidak ada jadwal operasi atau pemeriksaan?” tanyanya.

Lu Han tersenyum dan mengeleng pelan lalu memasukkan kedua tangannya di saku jas kedokterannya.

Hani tersenyum, “ah! Kalau begitu bekalnya untuk oppa saja. Belum makan siangkan?”

Lu Han menyerit binggung namun ia mengangguk sebagai jawaban. Ia memang belum makan siang.

“Ayo ikut aku!” Hani menarik kerah belakang jas kedokteran Lu Han membuat pria manis itu protes.

“Hei! Hei! Kau ini!” dumalnya.

Tapi Hani tak perduli, Ia tetap menarik Lu Han. Lu Han hanya bisa pasrah, Ia terdiam saat tatapannya jatuh pada perut buncit Hani. Lu Han menghela nafas kasar, tangannya sudah gatal ingin menyentuh perut Hani.

“Kenapa. Ada yang salah denganku?” Hani menyerit melihat Lu Han sedari tadi diam dan menatapya dalam. Hani memperhatikan dirinya, apa ada yang salah dengan pakaiannya?

Lu Han mengeleng lalu memakan bekal yang di bawa Hani, bekal yang seharusnya untuk Se Hun. Mengingat itu membuat Lu Han sakit entah karena apa. Lu Han sampai bingung sendiri.

“Aaaa….” Lu Han menyodorkan telur gulung pada Hani.

Hani tersenyum sebelum akhirnya membuka mulutnya, “emmm….” gumamnya sambil mengunyah.

“Oh ya. Aku dengar dari ibu, Nara akan kembali ke Korea?” tanya Hani membuat gerak tangan Lu Han terhenti. Ia mendongkak menatap Hani yang menatapnya menanti jawaban. Lu Han tersenyum, yang lebih tepatnya senyum yang dipaksakan.

“Ya.” gumamnya sambil memainkan sumpit.

Hani cemberut mendengar jawaban singkat dari Lu Han, “kenapa oppa kelihatannya tidak senang. Bukankah itu bagus. Artinya kalian bisa cepat menikah.”

Lu Han mengangguk dan kembali memakan bekal makanan dari Hani, “emmm. Mungkin.”

“Mungkin?” Hani mengulangi kalimat Lu Han, Ia menunjukkan wajah protes. “Yak. Bukankah kalian sudah merencakannya sudah lama. Jika Nara kembali dari tugasnya di Afrika maka kalian akan cepat menikah. Harusnya oppa senang.” ujar Hani.

Lu Han terkekeh pelan, “tentu saja aku senang.” ujarnya.

Lu Han terdiam saat ibu jari Hani menyentuh sudut bibirnya.

“Maaf. Ada nasi disudut bibir oppa.” gumam Hani setelah menarik tangannya dari wajah Lu Han.

Lu Han tersenyum dan mengangguk pelan, Ia meletakkan sumpitnya dan meminum air mineral.

“Hani-ya?”

“Hmmm….” gumam Hani sebagai jawaban. Tatapan matanya mengamati pemandangan kota dari tempat duduknya. Mereka berada di ruangan Lu Han, dan mereka duduk di sofa didekat jendela.

“Bagaimana dengan Se Hun?” tanya Lu Han.

Hani menoleh dan menyerit mendengar pertanyaan Lu Han. “Baik.” gumamnya.

“Maksudku rumah tangga kalian?” ujar Lu Han.

Hani menghela nafas pelan sebelum menjawab, “baik. Se Hun sudah mulai memperhatikanku dan bersikap lembut tidak seperti biasanya semenjak aku hamil. Ah. Efek kehamilan memang membawa berkah. Selain ibu mertuaku yang kini lebih menyayangiku. Suamiku juga seperti itu. Se Hun bahkan rela saat aku bangunkan tengah malam hanya untuk menemaniku makan buah apel. Hehe….” Hani mengelus perutnya membuat hati Lu Han berdesir.

“Ahhhh!” jerit tertahan Hani membuat Lu Han kaget serta khawatir.

“Kenapa?” Lu Han memegang lengan Hani.

Hani mengeleng dan tersenyum tipis. “Tidak apa-apa. Hanya saja bayiku menendang-nendang di dalam sana. ah!” pekik Hani membuat Lu Han susah payah menelan ludahnya.

“Hani-ya.” gumam Lu Han lalu mengigit bibir bawahnya.

Hani mencoba meredakan rasa sakit dengan menarik nafas dan mengeluarkannya secara perlahan. “Ya….” jawabnya.

“Boleh aku menyentuh perutmu?” tanya Lu Han ragu-ragu sambil menatap Hani dalam.

Melihat Hani mengangguk, sudut bibir Lu Han tertarik, “terimakasih.” gumamnya. Tangannya dengan gemetar mengelus perut buncit Hani, merasakan kenyaman itu Hani memejamkan matanya.

Lu Han dengan cepat menghapus air matanya sebelum Hani melihatnya. Ia lantas berdiri menuju meja kerjanya.

“Terimakasih untuk makan siangnya. Ayo aku antar ke bawah.” ujar Lu Han.

Hani membuka matanya dan mengangguk pelan, “terimakasih ” gumamnya.

Lu Han menyerit mendengar ucapan Hani, “harusnya aku yang berterimakasih sudah diberi makanan enak. Ah Se Hun rugi tidak mencicipinya.” Lu Han memakai kembali jas kedokterannya yang sebelumnya ia lepas.

Hani berdiri setelah merapikan kotak makannya. “Terimakasih karena oppa, Wonku tidak nakal lagi. Won memang sangat suka disentuh apalagi oleh ayahnya. Mungkin dia pikir tadi itu Se Hun.” Hani kembali mengelus perutnya.

“Won?” tanya Lu Han.

Hani tersenyum sambil mengangguk pelan, “itu nama panggilan yang diberikan Se Hun saat tahu anak kami berjenis kelamin laki-laki. Se Hun juga sudah menyiapkan nama yang bagus. Tapi dia tidak mau memberitahuku.” Hani cemberut lalu mengaitkan tangannya pada lengan Lu Han.

“Oppa!”

“Heh?” Lu Han mengedipkan matanya berkali-kali.

Hani mendengus, “kenapa melamun. Ayo!” ujar Hani lalu menarik Lu Han keluar dari ruangannya.

“Pelan-pelan. Kau kan sedang hamil.” gumam Lu Han yang mendapat senyum tiga jari dari Hani.

“Mereka pasangan yang serasi.”

Ucapan seorang ibu-ibu yang lewat membuat langkah Lu Han terhenti.

“Kenapa?” Hani menoleh dan menatap Lu Han heran.

“Tidak.” Lu Han mengeleng pelan lalu kembali melangkah membuat Hani menaikkan alis kirinya.

“Setelah sampai rumah kau harus istirahat.” ujar Lu Han.

“Justru dokter menganjurkan ku bergerak banyak mengingat usia kandunganku sudah memasuki bulan ke-8.”

“Tetap saja kau harus istirahat yang banyak. Dan jangn coba-coba melakukan hal aneh-aneh.” pandangan Lu Han lurus menatap ke depan, orang-orang yang berlalu lalang disamping mereka tidak Lu Han hiraukan walaupun ada beberapa perawat, pengawai bahkan dokter junior yang menyapanya.

“Kau harus sehat supaya bisa melahirkan dengan selamat.” ujar Lu Han.

“Ibunya sehat. Bayinya juga sehat.” ujarnya lagi.

Hani mendengus, “Oppa ini bicara apa sih sedari tadi.” gumamnya membuat Lu Han tersenyum.

Paman Nam membungkuk, “Nyonya, tuan tadi menghubungiku. Beliau bertanya tentang keadaan nyonya, beliau khawatir karena nyonya tidak mengangkat panggilannya.” ujar paman Nam begitu melihat Hani dan Lu Han.

Hani melepaskan tangannya dari lengan Lu Han lalu menepuk dahinya, “ah aku lupa, Aku mensilent ponselku. Se Hun pasti marah.” Hani terburu-buru membuka tasnya dan mengambil ponselnya.

“Aku duluan oppa.” ujar Hani lalu masuk ke mobil.

Lu Han hanya bisa bergeming menatap mobil BMW mewah itu sampai menghilang dari jarak pandangnya. Lu Han membuang nafas kasar dari mulutnya lalu mendongkak melihat langit biru muda yang terbentang luas diatas jagad raya dengan goresan awan putih berbentuk abstrak.

“Langit adalah teman yang setia.” gumamnya dengan kedua tangan yang di masukkan ke saku celana.

Lu Han terkekeh pelan dan menoleh kembali pada jalanan didepannya sebelum melangkah ke dalam rumah sakit.

***

 

“Semenjak Hani hamil, Kau jadi acuh tak acuh padaku. Bahkan kau tidak lagi datang kemari.”  ujar seseorang diseberang.

“Hmm….” gumam Se Hun sambil membaca dokumen dan menandatangani-nya. Tangan kirinya memegang i-phone silver yang menempel di telinganya.

“Biasanya seminggu sekali kau akan datang. Tapi sudah 4 bulan ini kau tak datang. Kau juga jarang menghubungiku. Apa kau sudah mulai mencintai Hani dan melupakan aku?!”

Se Hun memejamkan matanya dan menghela nafas pelan, “tidak.” gumamnya lalu menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya.

 

“Aku akan kembali ke Korea hari ini. Besok lusa mungkin aku baru sampai. Kau mau menjemputku di bandara?”

“Apa kau kembali ke Korea karena merindukanku?” Se Hun membuka matanya dan tersenyum.

“Tsk. Tugasku sudah selesai jadi aku kembali.”

“Aku hubungi lagi nanti. Jaga kesehatanmu. Jangan makan makanan pedas.” ujar Se Hun saat melihat Chan Yeol masuk ke ruangannya.

Pria tinggi yang tak kalah tampannya dengan Se Hun itu mendengus dan menaruh dokumen didepan Se Hun, “itu dokumen yang kau minta kemarin. Bersiaplah, kita akan berangkat ke Busan.” gumamnya.

Se Hun mengangguk dan memeriksa dokumen itu, setelahnya ia menghela nafas kasar.

“Kenapa? Semua sesuai keinginankan?” tanya Chan Yeol sambil duduk di kursi depan meja kerja Se Hun.

“Ya.” Se Hun mengangguk lalu menutup dokumen itu dan menyimpannya di lemari bawah meja kerjanya.

“Begitulah yang terjadi di bunia bisnis apalagi saingannya adalah saudara sendiri. Bibi berjuang keras selama ini untuk mengamankan aset milik paman yang di wariskan padamu. Tapi kau tenang saja, setelah Hani melahirkan semua aset akan aman, apalagi bayi kalian laki-laki. Sesuai tradisi di keluargamu. Cucu laki-laki pertama di keluarga Oh akan mendapat lebih dari aset keluarga, apalagi anakmu cucu yang lahir dari anak tertua (Mendiang ayah Sehun). Beruntungnya tuan muda nanti.” gumam Chan Yeol membuat Se Hun tersenyum. Chan Yeol adalah anak dari sahabat sekaligus sekertaris kepercayaan ayahnya, dan sepertinya persahabatan itu menurun pada anak-anaknya.

Ibu Se Hun (Orang Chinese) adalah anak tunggal sedangkan ayahnya mempunyai 2 saudara lain, Paman Se Hun serta anak-anak  mereka juga menginginkan posisi tertinggi di perusahaan, tapi sesuai tradisi anak laki-laki tertua lah yang bisa memimpin itu sebabnya ayah Se Hun yang mewarisi dan diturunkan pada Se Hun semenjak Lu Han memilih menjadi dokter daripada menjadi penerus perusahaan walaupun sempat terjadi perdebatan sengit karena Se Hun bukanlah anak tertua. Se Hun memang lebih berambisi dengan perusahaan daripada Lu Han, itu sebabnya Se Hun tidak mempersalahkan saat Lu Han memutuskan menjadi seorang dokter yang mendapat penolakkan keras dari ibu mereka sampai sekarang.

“Aku dengar Nara akan kembali. Jangan buat masalah Se Hun, Aku takut mereka yang ingin menjatuhkanmu mengunakan itu sebagai alat untuk menghancurkanmu. Lagipula kau sudah memiliki Hani dan kalian sebentar lagi akan jadi orang tua. Hani seribu kali lebih baik daripada Nara. Kau harus ingat, Nara adalah tunangan kakakmu.” ujar Chan Yeol sambil bersedekap dan menatap Se Hun sengit.

Se Hun terkekeh pelan, “kenapa kau cerewet sekali.” gumamnya yang membuat Chan Yeol mendengus kesal.

“Aku hanya memperingatimu.” ujarnya tenang namun tajam. Chan Yeol sudah menganggap Se Hun seperti adiknya sendiri karena mereka tumbuh bersama sejak kecil walaupun mereka sering berdebat karena beda pendapat. Posisi Chan Yeol memang bawahan Se Hun tapi itu tidak membuatnya takut untuk protes.

Se Hun mengangguk pelan, “Aku mengerti. Terimakasih karena peduli padaku.”

“Kalau kau turun jabatan, otomatis aku juga turun jabatan.” gumam Chan Yeol membuat Se Hun memutar bola matanya.

“Hati-hati dalam bertindak oke. Aku memang tidak tahu apa yang kau sembunyikan dariku. Tapi aku yakin itu berhubungan dengan masa depan perusahaan maka dari itu aku akan berusaha menutupinya juga.” ujar Chan Yeol lalu tersenyum lebar membuat Se Hun mendengus. Tapi yang di katakan Chan Yeol tidak sepenuhnya salah.

“Ayo!” ujar Se Hun sambil membenarkan jasnya dan berjalan keluar ruangan yang di ikuti oleh Chan Yeol. Tidak lupa ia mengabari Hani, takut jika Hani datang ke kantor karena ia harus ke Busan.

Chan Yeol yang berjalan disebelah Se Hun tersenyum kecil. “Rasa kehilangan itu baru kita rasakan saat benar-benar sudah pergi dari sisi kita. Jangan sampai kau merasakan apa yang aku rasakan. Karena rasanya teramat sakit melebihi sakit gigi.” gumam Chan Yeol membuat langkah Se Hun terhenti.

Se Hun menyerit, dan menatap heran Chan Yeol.

“Hilangkan egomu yang tinggi itu.” gumam Chan Yeol lalu masuk mobil.

Se Hun menghela nafas sebelum akhirnya ikut masuk ke mobil. “Aku tahu apa yang aku lakukan dan apa resikonya.”

“Yah. Kau memang brengsek!” gumam Chan Yeol sambil memainkan ipad di tangannya membuat Se Hun terkekeh.

Se Hun mengangguk, “ya. Kau benar. Aku memang brengsek sangat brengsek!” gumamnya membuat Chan Yeol mendengus.

“Ku harap kau tak menyesal.” gumam Chan Yeol untuk kesekian kalinya.

Se Hun mengangguk sebelum akhirnya menjalankan mobilnya. Perjalanan ke Busan kali ini memang hanya mereka berdua dengan Se Hun yang menyetir pertama kali sebelum nantinya bergantian dengan Chan Yeol.

Sebenarnya Chan Yeol tidak tahu apa yang Se Hun rahasiakan. Tapi Chan Yeol yakin itu hal besar. Ia tidak mau menebak-nebak lagi, toh akhirnya ia selalu berada dipihak Se Hun. Daripada Lu Han, Ia memang lebih dekat dengan Se Hun karena memiliki banyak kesamaan dalam menyukai sesuatu.

***

Entah kenapa kali ini Hani begitu penasaran dengan isi brangkas milik Se Hun yang di taruh disudut lemari pakaian. Bukan apa-apa, suaminya itu memang sangat-sangat membuatnya penasaran sedari dulu. Walaupun mereka sudah menikah tapi Hani tidak pernah sekalipun menyebarangi pembatas yang dibuat Se Hun.

Se Hun terlalu dingin dan kaku. Hubungan mereka juga berjalan mononton saat awal-awal menikah sampai usia pernikahan mereka meninjak tahun ke-2. Hani menyukai Se Hun saat mereka berdua berdiri didepan pastor untuk mengucapkan janji suci. Semua orang pasti sependapat dengan Hani, jika Se Hun saat itu benar-benar tampan. Hani bahkah sampai berpikir apa Se Hun itu manusia, dengan berjalannya waktu Hani mulai mencintai Se Hun walaupun sikap Se Hun terkesan dingin dan acuh.

Barulah setelah dirinya di ketahui hamil sikap Se Hun mulai berubah. Hani tidak menaruh kecurigaan sedikitpun karena memang seperti itu sifat Se Hun, nampak dingin diluar namun hangat didalamnya. Bahkan sebenarnya Se Hun sangat manja dan cerewet.

“120494.” gumam Hani sambil menekan tombol untuk membuka kode brangkas tapi gagal.

“Emm. 940412.” gumamnya lagi tapi gagal membuat Hani cemberut.

“Kodenya enam angka.” gumamnya sambil berpikir.

“Tanggal pernikahan.” gumam Hani dan menekan angka 060616 tapi gagal lagi.

“Ahhh. Sudahlah….” ujarnya dan hendak berdiri karena pegal juga berjongkok dengan perutnya yang buncit.

“Eh, tunggu….” Hani memiringkan kepalanya memikirkan sesuatu. Hani pernah melihat Se Hun membuka brangkas di ruang kerjanya. Bisa kemungkinan kode sandinya sama. Tangan Hani bergerak menekan angka 240813.

Tip~

Brangkas terbuka membuat Hani memekik tertahan. “Omo!” dengan terburu-buru Hani membuka brangkas itu.

“Eh?” gumam Hani saat isi brangkas itu banyak sekali barang-barang untuk wanita, seperti gaun, sepatu, bunga yang sudah layu, juga topi. Tapi Hani tahu itu bukan untuknya melihat ukurannya sedikit lebih kecil.

Puk!

Sebuah kertas jatuh dibawah kakinya, Hani mengambil kertas berwarna biru muda itu. Ia menyerit membaca tulisan tangan disana.

Untuk gadis cantik yang berhasil merebut perhatianku. Emm, Aku bingung harus menulis apa. Aku menyukaimu Nara-ya! Aku menyukaimu.

 

Deg!

Kertas itu jatuh begitu saja begitupun Hani yang lemas tertunduk di lantai dingin kamarnya. Hani memegangi perutnya sambil mengatur emosinya dengan menghela nafas dan mengigit bibir bawahnya.

Tangan Hani kembali mengeluarkan benda yang ada disana. Jika dilihat itu semua benda yang sudah lama yang tidak sampai ke orangnya(Nara).

“Mungkin Se Hun hanya mau menyimpannya.” gumamnya.

“240813?” gumam Hani lalu mengelengkan kepalanya.

Drrt. Drrt….

Amuraedo nan niga joha…

 

Amureon maldo eobsi utdeon…

 

Nareul anajwo babe…

 

Oneureul gidaryeotjyo geudae…

 

Dalkomhan nareul bwayo geudae…

 

Ye~ jikyeojulgeyo babe…

 

(Best Luck By Chen EXO).

Dering ponsel di meja nakas samping tempat tidur mengalihkan fokusnya, Hani dengan pelan berdiri dan mengambil ponselnya.

SehunieL calling.

“Yeoboseyo?” ujar Hani.

“Ada apa dengan suaramu? Apa kau sakit?” tanya Se Hun dengan nada khawatir membuat Hani tersenyum.

Hani mengeleng pelan walaupun ia tahu Se Hun tidak dapat melihatnya, “Aku baru bangun tidur.” jawabnya.

“Syukurlah. Kau sudah makan dan minum vitaminmu?” tanya Se Hun diseberang.

“Ne appa.” gumam Hani dan terdengar suara kekehan dari seberang.

“Apa Won nakal hari ini eomma?” tanya Se Hun.

Hani menyandarkan dirinya di haeder tempat tidur, “emm … Sedikit.”

“Katakan padanya, Appa akan cepat pulang.” ujar Se Hun membuat Hani terkekeh.

“Apa kau sudah makan oppa?” tanya Hani sambil meluruskan kakinya diatas tempat tidur.

“Sudah. Aku tidak mau membuat eomma Won khawatir.” canda Se Hun.

Hening.

“Hae-ya, Kau masih disana?!” ujar Se Hun sedikit agak keras.

“Ah ya.” Hani tersadar dari lamunannya, Ia mengedipkan matanya berkali-kali. Hani bahkan tidak sadar ia melamun.

“Apa kau baik-baik saja?” ada nada kecemasan disana.

“Aku baik-baik saja. Hanya-“

“Apa?” potong Se Hun cepat membuat Hani menghela nafas pelan.

Klik.

Hani memutuskan panggilan sepihak, entah kenapa moodnya menjadi turun. Hani tahu Se Hun pasti khawatir karena Hani tiba-tiba menutuskan panggilan sepihak, bisa di lihat Se Hun kembali menghubunginya tapi Hani tidak mengangkatnya. Hani membaringkan tubuhnya dan memiringkan kepalanya dan menutup kepalanya dengan bantal. Kebiasaannya saat tidur, Hani akan menutup kepalanya dengan bantal. Memang itu tidak baik dan membuat pernafasan jadi terganggu.

“240813?” gumam Hani, kenapa ia merasa ada yang menjagal dengan angka-angka itu. Dan kenapa juga Hani baru menyadarinya.

Hani memejamkan matanya lalu membukanya lagi, “240813, Nara.” gumam Hani terus menerus, karena ia yakin itu ada hubungannya. Perasaan itu terlalu kuat untuk dibantah, bukan karena fakta ia baru saja menemukan bukti jika Se Hun ternyata menyukai lebih tepatnya mencintai Nara.

“240813. Nara?” gumam Hani sampai tertidur.

Tak lama pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang yang Hani yakin 100% kepala pelayan Han. Yang Hani yakin juga datang untuk mengecek keadaannya karena Se Hun,  mengingat tadi ia memutuskan panggilan secara sepihak.

“Nyonya!” ujar kepala pelayan Han yang samar-samar Hani dengar.

Hani tidak peduli dan kembali memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur.

***

Lu Han menatap langit lembayung dari jendela ruangannya. Sinar jingga yang membias membuat langit terkesan sendu karena akan di tinggal sang mentari yang kembali keperaduannya.

Lu Han menghela nafas kasar dan menatap telapak tangan kanannya, masih jelas di ingatannya tadi siang saat menyentuh perut Hani. Getaran itu membuat hatinya berdesir tak karuan. Lu Han sekarang sadar, Ia memang menyukai Hani. Tapi semua sudah terlambat dan akan membuat masalahnya  semakin runyam.

Lu Han memijit pangkal hidungnya, Ia baru saja membaca pesan e-mail dari Nara yang mengabarinya dan memintanya menjemput di bandara besok.

“Kenapa aku menyukai dua orang sekaligus?” tanyanya entah pada siapa.

Di waktu yang sama ditempat yang berbeda. Se Hun melihat langit senja dari atas bukit dengan bersandar pada bagian depan mobilnya. Chan Yeol duduk diatas kap mobil sambil meminum minuman kaleng bersoda dan ikut menikmati langit senja. Mereka baru saja selesai dari survei pabrik farmasi di Busan yang terancam bangkrut.

“Kau benar-benar tidak akan menutupnya? Kerugiannya sangat besar.” gumam Chan Yeol sambil membuang kalengnya sembarangan.

“Jangan buang sampah sembarangan tuan Park.” ujar Se Hun membuat Chan Yeol mendengus dan turun dari atas kap mobil dan berdiri disamping Se Hun ikut menyandarkan tubuhnya.

“Untung dan rugi sudah terbiasa dalam hal bisnis bukan?” tanya Se Hun tanpa menoleh.

Chan Yeol mengangguk paham dan bersedekap. Se Hun menoleh dan tersenyum tipis.

“Pabrik itu adalah pabrik farmasi pertama Shinwa grup. Aku akan mempertahankannya apapun yang terjadi. Lagipula bagaimana dengan nasib karyawannya. Banyak keluarga yang bergantung pada pabrik itu.” gumam Se Hun lalu meminum minumannya.

Chan Yeol tersenyum dan memijit bahu Se Hun, “Kau pasti lelahkan sajangnim?” ujarnya.

“Aish. Lepas Park!” tangkis Se Hun sambil menghindar dari Chan Yeol.

“Hahahaha….” tawa mereka berdua.

Semilir angin yang mengerakkan pepohonan dan rerumputan hijau serta pemandangan senja yang masih tersisa walaupun sang surya sudah kembali ke peraduannya menjadi obat untuk Se Hun dan Chan Yeol dalam mengusir penat.

“Kau memikirkan apa?” tanya Chan Yeol saat melihat Se Hun terdiam.

“Hani.” jawab Se Hun lalu terkekeh.

Chan Yeol menepuk bahu Se Hun, “hubungi saja.” ujarnya membuat Se Hun mengangguk.

Di ruang kerjanya Lu Han duduk tenang sambil memainkan bolpoint diatas meja. Hari ini sebenarnya Lu Han tidak ada jadwal praktek. Lu Han datang ke rumah sakit karena hari ini jadwal cek up rutin Hani. Sedari tadi Lu Han hanya berdiam diri di runag kerjanya. Terlihat jika ia sedang berpikir keras.

“Aku tidak tahu jika efeknya akan seperti ini.” gumamnya.

“Apa yang harus aku lakukan?”

“Arghhh….” Lu Han mengacak rambutnya frustasi.

Masih jelas di ingatan Lu Han saat Se Hun datang dan mengutarakan hal gila yang disetujui begitu mudahnya oleh dirinya. Masih sangat-sangat jelas dalam ingatannya saat ia dengan bejatnya meniduri wanita yang mabuk sampai membuatnya hamil.

Flashback….

Hani menghela nafas saat melihat hasil tespacknya yang negatif. Hani takut keluar kamar mandi dan menemui ibu mertuanya. Hani mengambil nafas dalam-dalam dan di keluarkan secara perlahan. Hani juga merapikan pakaian dan rambutnya.

“Bagaimana?” tanya nyonya Oh dengan antusias sambil menuntun Hani untuk duduk diatas ranjang.

“Negatif lagi.” gumam nyonya Oh saat melihat tespack milik Hani.

“Aish. Padahal aku benar-benar berharap. Kau juga sering muntah-muntahkan Hani-ya?”

“Hani hanya masuk angin eomma. Kami sudah memperiksakannya. Eomma saja yang tidak percaya.” ujar Se Hun sambil bersedekap dan bersandar pada dinding kamar. Hani menatapnya dengan sorot mata bersalah membuat Se Hun risih.

“Kau sudah meminum toniknya kan?” tanya nyonya Oh yang dijawab anggukan oleh Hani.

“Ah sudahlah. Besok kita datang ke dokter yang di rekomendasikan temanku. Oke!” ujar nyonya Oh yang lagi-lagi hanya di jawab anggukkan oleh Hani.

“Kalian sudah menikah dua tahun tapi kenapa Hani tidak kunjung hamil juga. Itu membuat eomma frustasi apalagi sepupumu Jun Shik istrinya hamil. Bagaimana ini?” gumam nyonya Oh sambil berlalu dari kamar Hani dan Se Hun.

“Aku masih bisa mengandel perusahaan eomma.” gumam Se Hun yang menyusul ibunya dibelakang.

Hani hanya diam melihat ibu dan anak itu, Ia mencekram erat ujung kaosnya. Butiran air mata jatuh tanpa di komando. Hani merasa gagal menjadi seorang wanita.

Nyonya Oh mendengus saat mengetahui bahwa dokter yang di rekomendasikan temannya bekerja di rumah sakit yang sama dengan Lu Han. Bukannya membenci putranya sendiri, hanya saja nyonya Oh merasa kecewa pada putra sulungnya itu. Putra yang dulu ia bangga-banggakan akan menjadi penerus perusahaan yang sempurna karena kejeniusannya malah mengambil jalan yang begitu ditentangnya. Hubungan mereka juga tidak terlalu baik semenjak itu.

“Kau juga ikut diperiksa Se Hun. Selama ini hanya Hani. Eomma ingin membuat progam anak untuk kalian.” gumam nyonya Oh setelah mendaftar. Se Hun hanya menghela nafas kasar tanpa berani membantah sedangkan Hani hanya menunduk sambil memainkan jari-jari tangannya.

Mereka tidak perlu menunggu lama kerena sebelumnya memang nyonya Oh sudah membuat janji terlebih dulu lewat temannya. Nyonya Oh tidak tahu menahu jika dokter itu bekerja di rumah sakit yang sama dengan Lu Han. Nyonya Oh berjanji setelah pulang dari sini ia akan pergi menemui temannya untuk memarahinya, apa temannya itu sengaja?

“Ayo masuk!” ujar nyonya Oh sambil menatap Se Hun yang terdiam dan merasa enggan.

Mereka di periksa sesuai prosedur, baik Hani dan Se Hun hanya bicara seperlunya saat di tanya oleh dokter, selebihnya mereka hanya diam memperhatikan nyonya Oh yang berbicara panjang lebar dengan dokter yang membuat Se Hun memijit ujung pangkal hidungnya.

“Hasilnya akan keluar besok. Karena ini pengecekkan kesehatan secara keseluruhan.” gumam dokter yang dijawab anggukan dari nyonya Oh. Beliau memang sengaja mengambil pengecekkan kesehatan secara keseluruhan pada anak dan menantunya. Takut ada hasil yang salah, walaupun selama ini pemeriksaan Hani baik-baik saja.

Sejak beberapa bulan yang lalu nyonya Oh memang genjar menarik Hani untuk melakukan pengobatan herbal ataupun tidak karena Hani tak kunjung hamil, apalagi semenjak salah satu keponakkannya ada yang hamil. Membuat kepala nyonya Oh mau pecah. Se Hun adalah harapan satu-satunya yang ia punya, tapi malah istrinya tidak bisa hamil juga. Sedikit menyesal kenapa ia menjodohan Se Hun dengan Hani.

“Kau harus sering di rumah dan perhatikan istrimu. Jangan kau layani wanita-wanita di luar sana. Sudah cukup untuk bermain-main Oh Se Hun. Istrimu sangat cantik, apalagi yang kurang huh.” dumal nyonya Oh sebelum ia masuk mobil.

“Ne, hati-hati di jalan.” jawab Hani sambil membungkuk dalam. Sedangkan Se Hun masih bergeming membuat nyonya Oh mendengus kesal.

“Ingat besok rapat direksi. Pasti membahas itu lagi. Kau yang urus semuanya!” ujar nyonya Oh jengkel.

“Baiklah ibu komisaris.” gumam Se Hun sambil membungkuk.

“Kalian juga hati-hati pulangnya. Hani-ya jangan lupa minum vitamin tadi.” ujar nyonya Oh sebelum mobil yang ditumpanginya berjalan meninggalkan parkiran rumah sakit.

Hani menghela nafas lega, jujur saja ia merasa pusing sendiri dan lelah batin.

“Sampai kapan kau berdiri disana!” sebuah suara mengagetkan Hani.

Hani menoleh dan melihat Se Hun sudah didalam mobilnya, apa ia terlalu lama melamun sampai petugas sudah membawakan mobil Se Hun dan Se Hun sudah menumpanginya.

“Ya.” Hani buru-buru membuka pintu mobil.

“Sesuai permintaanmu. Aku mengambil hasil tesnya.” Lu Han duduk di kursi kebesarannya dan mengambil map coklat di lemari meja kerjanya.

“Aku menyalin datanya, jadi data yang diterima eomma itu salah. Ini hasil sebenarnya.” ujar Lu Han.

Se Hun terdiam sambil menatap map didepannya, “Kau sudah mengatakan hasilnya.” gumamnya.

Lu Han mengehela nafas pelan, “setidaknya kau lihat sendiri.”

“Terimakasih.” gumam Se Hun lalu mengambil kertas itu dan merobeknya membuat Lu Han menahan nafasnya.

Kemarin Se Hun menghubunginya untuk mengambil hasil lab pemeriksaan Se Hun dan Hani. Setelah berhasil mendapatkannya walaupun sedikit sulit karena harus memberikan alasan yang masuk akal pada petugas lab dan juga membuktikan bahwa Lu Han adalah keluarga pasien yang bersangkutan akhirnya Lu Han berhasil. Ia juga membukanya dan membacanya, cukup terkejut melihat hasilnya. Ia langsung memberitahu Se Hun dan mengubah datanya.

“Kau sudah menduganya?” tebak Lu Han karena Se Hun hanya diam.

“Bisakah kau membantuku sekali lagi.” ujar Se Hun membuat Lu Han menyerit.

“Apa?” Lu Han menarik kursinya lebih maju.

Se Hun sudah memikirkan ini sejak Lu Han mengabarinya tentang hasil lab. Se Hun memang sudah menduga jika dirinya yang bermasalah bukan Hani, karena istrinya subur dan baik-baik saja. Se Hun mulai curiga karena beberapa kali ia berhubungan intim dengan Nara tanpa pengaman, wanita yang sebenarnya tunanagan kakaknya itu tidak hamil walaupun Se Hun mengharapkan itu untuk merebut Nara dari Lu Han.  Jahat memang bermain api dibelakang saudara sendiri.

Tapi Se Hun lebih dulu menyukai Nara, sayangnya Lu Han yang lebih dulu mengambil star. Mengutarakan perasaannya pada Nara. Itu karena kebodohannya yang terlalu pengecut untuk mengatakan sejujurnya pada Nara.

“Buat Hani hamil hyung!” ujar Se Hun membuat Lu Han melotot.

“Apa?!”

Tbc ….

Ini sebenernya Oneshoot tapi kepanjangan jadi aku potong. Maafnya….

Ini aja udah 40an halaman, hahaha….

Gimana dapet fellnya? Anehkan konfliknya? Hahaha biarlah…. Belum terlalu jelas mungkin ya penjelasannya ada apa dengan mereka sebenarnya. Tentang Se Hun – Nara, Lu Han – Nara dan Hani – Lu Han. Si Nara juga belum muncul. Next part bakal paham kok gimana sama 4 tokoh utamanya. Tapi paham inti ceritanya kan? Yang penasaran kelanjutanya silahkan komentarnya, Aku post di blog si. Hehehe tapi nanti aku post disini juga kok. Makasih ya…

 

7 responses to “[FREELANCE] Secret Purpose 1/?

  1. Oalaaaaaahhh,,,ini panjang beud,tapi aku suka..😊

    Jadi bayi yg di kandung hani itu anaknya luhan kah? Sehun kok gitu sih?jahat ih…😂
    Sehun keknya cuma pura2 doang,jangan gitu sehun please,inget kata chanyeol
    Penyesalan itu datangnya di akhir,dan rasanya tuh lebih menyakitkan dari pada sakit gigi..😂😂,mmm…next

    Jangan lama2 updatenya authornim…hikseu.😂

  2. huaaa konfliknya seru… mau tau sebenernya sehun pilih hani atau nara. dan… luhan… oemji. mungkin penulisannya aja agak dirapihin, sisanya udah bagus. apalagi idenya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s