[FREELANCE] Who Knows?

z9

Title: Who Knows?

Author : yerisa07

Cast : Kim Yeri, Kim Yena, Kim Hanbin, Oh Sehun, Do Kyungsoo, Byun Baekhyun

Genre: school life, family

Rating : Teenage

Length : Chapter

Disclaimer: Annyeong!! Yerisa07 is here. Nice to meet you. This is my first story in Say Korean Fanfiction. Don’t plagiarism. Oke, ini terinspirasi dari drama yang saya sukai dan ff yang saya sukai. Kritik dan saran yang membangun sangat diperlukan.

Why do the stars shine brightly? Because they burn theirself to make their own light. The light is very beautiful. Beautiful. Just it, no reason.

Rambutnya beterbangan ditiup angin. Terik matahari membuat kulitnya bersinar. Gadis itu menjemur beberapa pakaian. Dia tak mengeluh sekalipun cuaca saat itu sedang panas-panasnya.

“Eonni sudah selesai belum?” Tanya seorang gadis kecil sambil menarik ujung kaos gadis itu.

“Sebentar lagi, ya, Mina. Kurang sedikit lagi.” Gadis cantik itu bersuara.

“Kalau begitu, aku akan menunggu eonni sampai selesai. Setelah ini, eonni harus membantuku mengerjakan PR.” Gadis itu hanya mengangguk sambil tersenyum lembut.

“Yeri-ya, kemarilah!” gadis itu menoleh lalu tersenyum. Senyumannya lembut dan memberikan ketenangan. Gadis itu menghentikan pekerjaannya lalu berlari menuju seorang wanita paruh baya yang memanggilnya tadi.

“Ada apa, Eomonim?” Tanya gadis itu.

“Apa kau sibuk? Bisakah kau membelikan susu untuk adik-adik panti? Susu mereka telah habis. Ini uangnya.” Wanita yang memanggilnya tadi adalah Ibu Panti Asuhan Love Home. Gadis itu mengangguk lalu melangahkan kakinya keluar untuk mencari susu.

“Yeri-ya!” Gadis itu menoleh lagi.

“Hati-hati!” Ibu Panti melambaikan tangannya sambil tersenyum.

Yeri, gadis itu, balas melambaikan tangannya. Ya, nama gadis itu Yeri. Kim Yeri. Cantik, bukan? Siapa yang menyangka kalau gadis ini sangat cantik? Ya, siapa yang menyangka.

Yeri melangkahkan kakinya ke swalayan terdekat. Ia lekas mengambil beberapa kotak susu bagi adik-adik panti. Ia mengerutkan keningnya. Uang yang diberi Ibu Panti ternyata kurang. Dia tersenyum. Dia mulai menghitung uang yang ada di dompetnya sendiri. Untunglah uang itu cukup untuk membeli susu bagi adik-adik panti. Dia pergi ke stan selanjutnya. Ia berencana untuk membeli beberapa makanan ringan. Eittsss, kenapa dia berhenti mendadak? Matanya menatap sebuah benda yang berwarna-warni. Ya Tuhan, itu adalah komik yang ia inginkan selama ini. Itu adalah edisi terbatas dari Kimino Kotoga Suki Dakara Special Edition. Betapa beruntungnya, ia bisa menemukan komik itu di sini. Ia berjalan mendekatinya.

Plakk… tak sadar tangan Yeri memukul meja kasir yang ada di sampingnya.

WHO KNOWS?

Plakk!!

Seseorang menggebrak meja makan.

“Aaaaaaaa!!!!!! Noona!!! Aku tidak mau tahu. Pokoknya noona harus membelikanku komik ini. Noona tahu’kan kalau aku sangat menyukai komik ini. Ya, noona! Noona harus tahu kalau ini limited edition. Pokonya Noona harus membelikanku yang sama seperti ini. Aku tidak menerima penolakan. Kau harus dapat menemukannya, Noona!”

Ya, apa daya dari Nana jika adik sepupunya ini sudah marah. Oke, Nana akui jika ia memang salah tapi seharusnya Oh Sehun sialan itu paham kalau ia juga tidak sengaja menumpahkan air ke komik terkutuk itu. Salah Sehun sendiri’kan kalau ia menaruh komik itu di meja makan. Yang benar saja, seharusnya Nana juga marah saat itu. Untungnya, Nana lebih dewasa dari Sehun sehingga ia memilih mengalah daripada ikut pertempuran terkutuk dengan manusia terkutuk pula.

WHO KNOWS?

“Gadis manis, biarkan aku memiliki ini. Adikku sangat membutuhkannya. Dia seperti akan mati saja kalau tidak punya komik ini.” Gadis itu memohon kepada anak perempuan di depannya dengan sungguh-sungguh. Yeri hanya terbengong. Dia bahkan terlalu terkejut sampai memukul meja kasir yang ada di dekatnya. Yeri paham perasaan wanita di depannya ini. Ia mengerti kalau komik itu sangat penting mengingat betapa dirinya juga menyukai komik tetapi lihatlah wanita yang ada di depannya ini. Ia bahkan menyebutkan tentang adiknya. Ini sangat memalukan.

Yeri melangkahkan kakinya untuk mengambil komik yang ia incar tadi. “Ehemm, apakah Anda bisa bergeser sedikit, Agassi?” Tanya Yeri berusaha tenang. Wanita itu langsung menghindar tetapi ia tetap memohon kepada anak perempuan tadi. Yeri langsung mengambil komik yang ia incar.

Mulanya, ia hendak beranjak ke kasir tetapi ia urungkan niat itu. Matanya menemukan komik yang sama dengan yang dibawa anak kecil itu. Ia berjongkok menghadap wanita aneh yang mengemis kepada anak kecil. “Agassi, maaf aku tidak sopan tapi ini komik yang kau cari, bukan?” Yeri menyodorkan komik yang tak sengaja ia temukan tadi. “Ah, Agassi, kau benar. Terimakasih!! Aku mencintaimu, Agassi!” Wanita aneh itu memeluknya dan Yeri hanya diam tak berekspresi. Yeri masih merasa aneh.

Wanita aneh itu langsung meninggalkan Yeri sambil mengumpat, “Sialan kau Oh Sehun.” Wanita aneh itu memang Hwang Nana, sepupunya Oh Sehun.

WHO KNOWS?

Hari sudah malam. Yeri melangkahkan kaki ke flatnya. Dia tidak tinggal di panti asuhan. Dia adalah gadis mandiri. Dia tinggal di sini sejak sekolah menengah pertama. Dia juga memiliki pekerjaan part-time di sebuah kafe. Kalian pasti berfikir kalau ia adalah anak panti yang diidamkan semua orang. Yah, memangnya ada yang menyangka. Ya, siapa sangka?

I’m creeping in your heart, babe. Ponsel Yeri berbunyi. Senyuman mengembang di wajah Yeri.

“Mereka telah mentransfer uangnya. Coba kau cek di rekeningmu.” Suara dari seberang sana.

“Hmmm, aku akan melakukannya lagi. Aku harap kau datang membantuku, Jinhwan.”

“Dengan senang hati. Bye” Panggilan itu diakhiri karena Yeri menutup telponnya.

Yeri tersenyum misterius. Ya, memangnya siapa sangka? Gadis itu memang penuh misteri. Yeri terus tersenyum meskipun ia beranjak tidur. Ia membayangkan betapa banyaknya uang yang telah ia terima. Yeri sudah menggelar kasur lipatnya. Ia duduk di atasnya sambil memegang dua buku tabungan. Ya, semua buku itu adalah miliknya. Saldo akhirnya lebih dari enam digit. Yah, siapa sangka gadis yang hidup di flat ini punya dua tabungan yang cukup banyak.

I’m creeping in your heart, babe. Ponsel Yeri berbunyi lagi. Dilihatnya nama penelepon di layar handphonenya. Kali ini bibirnya melengkung ke bawah.

“Kau, datanglah kemari besok malam.” Suara penelepon tersebut terkesan memaksa. Suara itu menyiratkan rasa dendam dan benci yang teramat dalam.

“Harus?” Tanya Yeri malas.

“Ini perintah.”

“Aku bukan bawahanmu, Tuan. Jaga bicaramu.”

“Lakukan atau aku akan menghilangkan semua fasilitas yang kau dapat.”

“Kau sudah pernah melakukannya. Kau sangat tidak kreatif, Tuan”

Yeri memutuskan panggilan itu. Yeri hanya menampilkan senyuman meremehkan. Sekarang ia berdoa agar orang itu tak muncul dalam mimpinya. Perlu kau ketahui, orang itu sangat membenci Yeri dan Yeri juga membencinya. Setidaknya itulah yang orang sangka ketika pertama kali melihat dua orang itu bersama. Untungnya Tuhan masih bermurah hati dengan memberikan rasa kantuk kepada Yeri sehingga gadis ini bisa tidur.

Neoneun nae cwihyangjeogyeok, nae cwihyangjeogyeok, malhaji anhado neukkimi wa, meoributo balkketkkaji da.

Alarm Yeri berbunyi nyaring. Yeri memang cerdas. Dia memilih lagu yang memiliki semangat tetapi tetap tenang jadi meskipun suara alarmnya sangat keras, hal itu tidak akan membuatnya serangan jantung di pagi hari karena suara alarm yang terlalu memekakkan telinga.

Yeri telah sepenuhnya bangun. Ia tidak mematikan alarmnya. Ia menikmati lagu itu sambil membersihkan rumahnya. Setelah ia membersihkan rumahnya, ia mulai membersihkan dirinya. Demi Tuhan, kau harus melihatnya sekarang. Dia benar-benar gadis yang sempurna. Lihatlah! Dagu yang runcing, mata hitam pekat, dan kulitnya yang putih bersinar merupakan perpaduan yang sempurna. Apalagi sekarang ini, tepat saat ia telah mandi. Rambutnya yang masih basah, ia biarkan tergerai membasahi kaos seragamnya. Sempurna, bukan?

Yeri memakai jasnya dengan rapi. Ia menepukkan tangannya ke bahu kanan dan kirinya secara bergantian. Dikeluarkan rambutnya yang basah dari jasnya. Ia menariknya dengan kedua tangannya dan memberikan cipratan air ke daerah sekitarnya. Segera ia keringkan rambutnya dengan hairdryer. Setelah ia merasa cukup kering, ia mulai mengepang rambutnya. Dengan gerakan yang santai tetapi tetap keren, Yeri meniup debu yang menempel di kacamata bundarnya. Apa? Kacamata bundar? Wow, lihat penampilanya sekarang! Completely….

Nerd

            WHO KNOWS?

Ya Tuhan, kemana perginya Kim Yeri yang cantik tadi? Kenapa sekarang ia menjadi seorang nerd? Ya, ya, ya, memangnya di dunia ini ada seseorang yang tahu apa skenario Tuhan? Ya, siapa sangka Yeri yang cantik adalah seorang nerd di sekolahnya. Meskipun begitu, Yeri tetap percaya diri melangkahkan kakinya ke sekolah.

“What’s up, Bro??” Seorang laki-laki berwajah imut menarik leher Yeri meskipun sebenarnya laki-laki itu berniat untuk memeluk Yeri, sahabatnya. Meskipun nerd, Yeri tetap mempunyai sahabat yang bernama Kim Jinhwan. Benar sekali, ia adalah orang yang menelpon Yeri tadi malam. Yeri sangat dekat dengan Jinhwan karena selain bersahabat sejak kecil, mereka adalah sepupu. Tunggu. Sepupu? Ya, siapa sangka kalau Yeri mempunyai sepupu?

“Menjauh dariku, Kim Jinhwan! Apa kau ingin mendapat masalah?” Desis Yeri pelan.

“Mereka tak akan berani menyentuhku, Yeri-ya.” Balas Jinhwan santai sambil meninggalkan Yeri.

“Kau harus belajar mandiri, Nak!” Gumam Yeri tidak jelas namun dapat didengar Jinhwan dari tempatnya.

“Aku masih sayang rumahku, Nenek Tua!” Balas Jinhwan tak mau kalah. Yeri hanya tersenyum kecut sebagai balasan. Ia tahu bahwa Jinhwan hanya bercanda tetapi entahlah hati Yeri terasa sakit ketika ia mendengar kata-kata itu. “Kim Yeri, fighting!” Seru Yeri dalam hatinya sambil mengepalkan tangannya.

Brukkkk! “Awww!!” Sebuah teriakan keluar dari bibir Yeri. Seseorang telah menoyor kepalanya dengan bola basket.

“Hei, hoobae gila! Kenapa kau mengepalkan tanganmu, eoh? Kau mau membalasku?” Suara itu. Suara seorang laki-laki yang ahh….., Yeri ingin menghajar pemilik suara itu.

“Wae? Kenapa kau diam saja, Yeri-ya? Apakah IQ-mu seburuk itu? Aku benar-benar takut.” Tuh’kan, sunbae ini selalu membahas tentang IQ jika berhadapan dengan Yeri. Yeri sangat benci jika harus dihadapkan dengan fakta bahwa ia adalah manusia istimewa yang kelewat cerdas.

“Hey, kau ini menyebalkan sekali’sih. Aku benci diabaikan tahu? Kau harus mendapatkan ganjaran yang sesuai, Yeri-ya.” Sunbae di depan Yeri mulai menunjukkan smirk andalannya untuk membuat Yeri takut.

“Kau tahu, Yeri? Kau sangat cantik. Akhhh, tapi kau pasti tidak tahu itu. Kau mungkin bahkan tak memiliki cermin sekedar untuk melihat dirimu, Yeri-ya. Kau harus sering-sering bercermin, Yeri-ya. Kau harus menyadari siapa dirimu. Lihat ini!” Perlahan tapi pasti, laki-laki itu mengusap ujung bibir Yeri. Gerakannya lembut tapi menimbulkan kesan gentle. Laki-laki itu mempersempit jaraknya dengan Yeri dengan mendekatkan kepalanya ke Yeri. Oh, lihatlah! Wajah Yeri mulai memerah. Sunbae itu mulai memiringkan kepalanya. Sialan, sunbae ini mulai mengeluarkan smirk lagi. Dia menyentuh bibir Yeri lagi.

“Ada sisa makanan di wajahmu.” Yeri membulatkan matanya mendengar itu. Kali ini wajahnya pasti memerah karena malu.

“Hei, Oh Sehun!” Sebuah suara menghentikan langkah sunbae itu menarik Yeri.

“Wae?” Sunbae itu bertanya kepada Suho, orang yang memanggilnya tadi sekaligus ketua OSIS mereka.

Suho hanya mengedikkan bahunya lalu menatap Yeri datar. “Jadi kau orangnya?” Tanya Suho malas sedangkan Yeri membulatkan matanya kebingungan. “Kau segera temui Park seonsaengnim! Ia mencarimu. Cepat!”Yeri membungkuk kepada kedua sunbaenya lalu pergi.

“Yakk, Suho hyung! Kau membuatnya bebas dariku.” Sehun mendecak kesal dan menggerutu kepada Suho.

“Hey, Sehun, mau kuberi nasihat?” Suho malah bertanya kepada Sehun. Spontan Sehun memutar bola matanya jengah.

“Yakkk, jangan memutar bola matamu!” Sontak Suho berteriak melihat kelakuan Sehun.

“Jadi itu nasihatmu, hyung?” Sehun malah menggoda Suho.

Suho menggeleng kasar lalu berkata, ”Hati-hati, Hun. Gadis itu terlalu menarik.” Sehun melongo mendengar Suho berkata bahwa Yeri terlalu menarik. Sehun memegang dahi Suho untuk memastikan bahwa Suho baik-baik saja.

“Yakk, apa-apaan kau ini?” Pekik Suho.

“Hyung, apa kau sakit?”

“Tidak, kenapa?”

“Yeri itu nerd, hyung! Nerd! N-E-R-D! bagaimana bisa hyung berpikir kalau Yeri itu menarik?” Sehun berkata dengan kecepatan melebihi Mono Rail Train.

“Ya, ya, ya, Sehun, aku paham seleramu tapi lihat saja nanti. Kita akan tahu siapa dia si nerd yang jadi peliharaanmu itu.” Suho lantas pergi meninggalkan Sehun. Sehun hanya tersenyum miris. Apa Suho hyung sudah tahu? Batin Sehun.

 

4 responses to “[FREELANCE] Who Knows?

  1. ini ada lanjutannya kahhh ??? . tapi ini mana d.o sma baekhyunnya ???. bukannya tadi yg ngrengek itu sehun kan yg minta dbeliin komik, kok jadi tiba” sunbae nya yeri ?????

    • Ehmmm, tri rahayu, ini ada lanjutannya. Ceritanya, si noona Sehun itu udah tua jadi otomatis dia sunbaenya Yeri. Thanks for comment. Maaf, ya, aku nggak bisa reply

  2. Hi, Yerisa07.
    Ff 언니 bagus, bikin pnasaran sm klanjutan critanya,
    Jadi ngga sabar, cepet dianjut yaa…
    ^.^

  3. Pingback: [FREELANCE] Who Knows? (Chapter 2) | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s