[FREELANCE] Don’t be Sick

z13

Don’t be Sick

Title : Don’t be Sick
Author : Dhechan (Twitter: @RistuDini)
Cast : Oh Sehun (EXO), Oh Nahyun (OC)
Genre : Marriage Life, Romance
Rating : General
Length : Ficlet
Disclaimer : This story is mine. I am serious.

Previous : It’s Relaxing Time    It’s Cooking Time

Nahyun membuka pintu kamar mandi dengan hati-hati. Melongokkan kepalanya dari balik pintu putih itu untuk dapat melihat ke sekeliling. Saat yakin bahwa tidak ada siapapun di sana, ia pun segera keluar. Ingin cepat cepat kembali ke tempat tidur dengan keadaan tubuhnya yang memang tidak dalam kondisi baik saat ini.

“Nahyun.”

“Oh astaga.” Nahyun berbalik sambil memegangi dadanya karena terlalu terkejut dengan kedatangan Sehun yang tiba-tiba. “Kau mengejutkanku, Oh Sehun.”

“Kau pikir kau tidak mengejutkanku? Apa yang kau lakukan di sini. Kembali ke tempat tidur.”

Nahyun berdecak sebal. “Aku kan hanya ingin buang air.” Ia melangkahkan kakinya kea rah tempat tidur, diikuti Sehun yang berjalan dibelakangnya.

“Masuk ke dalam selimut.”

Nahyun mendengus kesal lalu masuk ke dalam selimut sesuai perintah Sehun. Semenjak ia sakit pagi tadi, suaminya itu mulai menunjukkan sikap bossy nya. Baiklah, ini memang salah Nahyun. Kemarin sore cuaca sedang tidak bagus tetapi Nahyun ingin sekali makan ramen. Saat itu, Sehun belum pulang dari kantor sehingga Nahyun pun pergi sendiri. Lagipula tempatnya cukup dekat jadi dia memutuskan untuk tidak membawa payung. Sesampainya di sana, hujan mulai turun dengan lebat. Mengurung Nahyun di dalam toko ramen bahkan sampai menjelang malam. Karena takut Sehun mencari, akhirnya Nahyun nekad menerobos hujan. Menyebabkan seluruh pakaian yang ia kenakan basah kuyup. Membuat Sehun yang sudah sampai di apartemen menatapnya khawatir sekaligus marah.

Nahyun menghela napas pelan, berharap rasa sesalnya ikut terbang bersama udara yang ia hembuskan. Ia menyesal telah membuat seseorang yang sangat ia cintai di depannya ini merasa cemas. Ia dapat melihatnya kemarin saat Sehun dengan cepat membawa Nahyun ke kamar mandi untuk membasuhnya dengan air hangat. Membantu mengeringkan tubuhnya yang mulai menggigil dan memakaikan pakaian tebal untuk membuat Nahyun lebih hangat. Pria itu juga mulai panic dan merasa frustasi di saat pukul tiga pagi tadi mengetahui bahwa Nahyun terkena demam.

Oh Sehun meletakkan nampan yang ia bawa tadi. Mengambil semangkuk bubur di atasnya, menyendok sedikit lalu meniupnya pelan. Ia tempelkan bubur itu pada ujung bibirnya untuk memastikan suhunya berkurang. Sehun menyodorkan sesendok bubur itu pada Nahyun. “Buka mulutmu.”

Mendengar nada Sehun yang sedikit ketus, Nahyun segera membuka mulutnya. Biarlah Sehun marah padanya, toh ini semua memang akibat dari keteledoran Nahyun.  “Kau tidak pergi ke kantor?”

“Tidak.” Balas Sehun tanpa menatap istrinya. Tangan Sehun sudah akan mengambil sesendok bubur lagi namun terhenti di saat ponselnya yang ada di samping nampan berbunyi. Di layar ponsel tertampil nama dari Hyemin, sekretarisnya. Sehun meletakkan mangkuk bubur di atas nampan dengan setengah membanting, membuat Nahyun sedikit berjengit.

“Halo?”

“Direktur, apa Anda yakin tidak akan ke kantor hari ini? Anda tentu ingat bahwa Mr.James akan datang kemari bukan?” Dapat Nahyun dengar suara Hyemin dari seberang telepon.

“Aku tetap di rumah.”

“Direktur, Mr.James mengatakan bahwa ia akan membatalkan kontraknya dan tidak akan membantu pembangunan hotel baru kita jika Anda tidak menemuinya hari ini. Saya hanya ingin mengingatkan, dana yang diberikan oleh Mr.James cukup besar, Direktur. Sangat besar. Kita tidak bisa mengabaikannya begitu saja.”

Nahyun memandangi Sehun yang masih mendengarkan saran dari sekretarisnya. Lelaki itu menunduk sambil memijat dahinya, tanda bahwa ia sedang berpikir. Nahyun berdehem pelan.  “Pergilah, Sehun. Aku akan baik-baik saja.”

Gerakan tangan Sehun berhenti. Tatapannya yang semula menghadap lantai kali ini berpindah pada Nahyun. Memandangi Nahyun yang sedang tersenyum ke arahnya.

“Direktur?”

Sehun berdecak. “Batalkan saja.”

“Tapi, Direk – “

PIP. Sambungan telepon pun terputus. Sehun melempar ponselnya ke meja nakas. Lalu mengambil lagi mangkuk berisi bubur yang ia letakkan tadi. Mulai menyendok kemudian meniupnya kembali.

“Sehun, apa ini tidak terlalu berlebihan? Pergilah.”

“Aku sedang merawat istriku yang sedang sakit, apanya yang berlebihan, huh?”

Astaga, Sehun benar-benar marah padanya. Nada bicara lelaki itu semakin meninggi dan tatapannya juga tajam. Membuat Nahyun yang ketakutan menundukkan kepalanya. “Tapi, kurasa – “

“Sudahlah. Diam dan habiskan saja sarapanmu.” Sehun kembali menyuapi Nahyun dengan buburnya.

***

Nahyun bergerak gelisah di dalam selimut. Tubuhnya terasa lengket karena banyaknya keringat yang keluar selama proses penormalan suhu tubuhnya. Kepala yang semula terasa pusing juga berangsur membaik. Nahyun akhirnya membuka mata perlahan, mengerjap sesaat lalu menengokkan kepalanya ke samping. Jam delapan malam. Nahyun bangkit dari posisi tidurnya, membuat handuk kecil basah yang selama ini menempel di dahi terjatuh ke pangkuan. Ia meletakkan handuk itu di atas nakas. Di sana ia juga menemukan semangkuk sup, air putih, dan obat beserta sebuah note kecil.

‘Minum obatnya setelah makan. Kuharap kau cepat sembuh, cantik.’

Nahyun tersenyum membaca note dari Sehun itu. Oh Tuhan, lihatlah, bahkan saat marah pun Sehun begitu peduli padanya. Nahyun mendengus pelan. Meletakkan note itu kembali lalu berjalan kea rah kamar mandi untuk menyegarkan diri.

Tak berapa lama kemudian, Nahyun keluar dari kamar mandi, namun belum juga bertemu dengan suaminya di sana. Ia segera memakai kaus lengan panjang dan celana tidur. Menggosok-gosokkan rambutnya yang masih basah sembari duduk di samping tempat tidur. Setelah dirasa tak terlalu basah, ia memakan supnya dan obat yang sudah Sehun siapkan. Dan baru ia sadari bahwa ada satu note lagi.

‘Jika kau butuh sesuatu, aku ada di ruang kerja.’

***

Suara ketukan pada pintu ruang kerjanya membuat Sehun menoleh ke sana. Yang kemudian pintu itu berayun perlahan hingga  tampaklah olehnya sosok seorang Oh Nahyun yang tengah tersenyum. “Masuklah.” Sehun memalingkan wajahnya dari Nahyun. Beralih pada kertas-kertas yang ada di meja kerjanya.

Nahyun merasa sedih, tentu saja. Suaminya peduli, namun juga bersikap dingin dalam waktu yang hampir bersamaan. Genggamannya pada kenop pintu ia eratkan, sekedar menguatkan dirinya untuk tetap pada niat awal yaitu meminta maaf. Nahyun menutup pintu dan berjalan  menghampiri Sehun. Ia berhenti tepat dua langkah dari meja pria itu.

“Kau sudah minum obatmu?” tanya Sehun, masih enggan menatap istrinya.

“Uhum.” Gumam Nahyun singkat.

“Merasa lebih baik hari ini?”

“Uhum.”

Good. You need something?”

Uhum.”

Say it.”

Hening. Terlalu hening sampai sampai Sehun bisa mendengar goresan tinta bolpoint dengan kertas ketika ia menulis. Tak ada jawaban yang terlontar dari bibir Nahyun maupun gumaman seperti sebelumnya. Membuat Sehun heran hingga kemudian mengangkat kepalanya untuk bertemu pandang dengan Nahyun.

Just say it, Nahyun.”

Nahyun memandangi Sehun sesaat. Menatap sorot mata hangat yang kembali ia temukan dalam pandangan Sehun kali ini. Nahyun melangkahkan kakinya memutari meja, menghampiri Sehun yang juga memutar kursinya agar bisa menghadap kea rah Nahyun. Dengan yakin, Nahyun semakin mendekat, kemudian mendudukkan dirinya di pangkuan Oh Sehun. Tangannya bahkan sudah melingkar di leher suaminya itu, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Sehun. “I need you.”

Sehun ikut melingkarkan tangannya di pinggang Nahyun, memeluknya erat. “Hey, aku sedang marah padamu. Kau tau itu, kan?”’

Nahyun mengangguk samar. “Aku tau. Aku kemari juga untuk meminta maaf.” Ia menarik Sehun lebih dekat, membuat hidungnya bertubrukan dengan leher Sehun. “Maafkan aku.”

“Aku tidak habis pikir denganmu. Kau selalu senang membuatku khawatir. Apa kau tahu bagaimana perasaanku saat mengetahui kau tidak ada di sini?”

“Aku tahu kau marah dan kesal, aku juga membuatmu cemas. Tapi aku hanya ingin membeli ramen yang, kau tahu kan, jaraknya cukup dekat dari sini.”

“Kau kan bisa menungguku pulang atau memintaku membelinya, tentu akan aku penuhi, Nahyun. Bukannya malah pergi sendirian tanpa payung, kehujanan, dan berakhir demam.”

“Aku hanya tidak ingin merepotkanmu. Aku tahu kau pasti lelah sehabis bekerja.”

“Kau juga harusnya tahu bahwa kau lah prioritas pertama ku. Aku mencintaimu, Nahyun. Sangat mencintaimu. Tapi apa yang harus kulakukan jika kau terus berulah seperti ini, membuatku merasa khawatir setengah mati. Apa kau senang melihatku begini?”

Nahyun berdecak sebal. “Aku kan sudah minta maaf. Sebenarnya kau memaafkanku tidak sih?” Nahyun merenggangkan pelukannya.

 “Berjanjilah kau tidak akan mengulanginya lagi.”

“Iya, aku janji.”

“Jangan pergi kemanapun tanpa sepengetahuanku.”

“Iya, baiklah.”

“Don’t be sick without my permission.”

“Oka – what?”

Sehun tertawa pelan sebelum mencium pelipis Nahyun lembut. “I am kidding. Just try to don’t be sick, okay? It’s horrible to see you in pain.”

“Got it.”

Sehun mengangguk beberapa kali, lalu tangannya beralih mengelus perut Nahyun. “Dia baik-baik saja?”

Nahyun menganguk sambil tersenyum lebar. Pada akhirnya Nahyun menemani Sehun bekerja, masih dalam posisi yang sama. Sesekali Sehun meminta pendapat tentang beberapa pilihan. Seperti rancangan design beberapa arsitek dan design interior untuk hotel barunya, warna cat, serta furniture yang dirasa cocok. Nahyun memandangi suaminya yang sedang bekerja itu, mengamati setiap lekuk wajahnya dari samping. Dahinya yang sesekali berkerut kala ia berfikir, kedipan kelopak matanya, hidung mancungnya, dan bibir tipis yang selalu menciumnya penuh sayang. Tuhan, apa yang sudah kulakukan di kehidupan sebelumnya hingga kau memberikan suami setampan ini padaku, batinnya.

Merasa diperhatikan, Sehun meliriknya sesaat sambil menyeringai. “Kenapa hm?”

“Tidak ada apa apa. Memang aku kenapa?”

“Kau seperti ingin memakanku.”

“Ya!”

Tawa Sehun kembali mengudara. Menggoda istrinya ini memang menjadi suatu kebiasaan baginya.

Nahyun kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Sehun, dengan sisi wajah menghadap ke ceruk leher suaminya. Tak lama, ia dapat mencium aroma khas Sehun. Bukan shampoo atau sabun yang ia gunakan saat mandi, namun keringat yang samar mulai tersekresikan dari lapisan kulit Sehun. Walalupun ruang kerja ini ber AC, tapi Sehun agak mudah berkeringat ditambah lagi dia memangku Nahyun cukup lama, serta berfikir tentunya. Kuaran aroma dari tubuh Sehun itu bagai candu, membuat Nahyun ingin menghirupnya lebih lagi. Nahyun mengeratkan kalungannya di leher Sehun, mencoba mencari sudut tempat dari Sehun yang memiliki aroma terkuat. Hingga kemudian ia mendapatkannya di dekat telinga Sehun. Tangannya menarik Sehun lebih dekat secara perlahan, mendekatkan hidung Nahyun belakang telinga Sehun sekaligus pangkal rahang bawah pria itu. Membuat bibirnya tak sengaja bertabrakan dengan kulit rahang Sehun.

“Nahyun, aku sedang bekerja.”

“Aku hanya ingin menghirup aromamu, Sehun. I think our baby likes it.”

Our baby or you?” Sehun menarik salah satu sudut bibirnya ke atas.

Nahyun terkikik manja. “Both of us.” Lalu hidungnya kembali mengendusi sekitar leher dan telinga Sehun. Namun kegiatan Nahyun itu selalu tanpa sengaja membuat bibirnya sesekali menempel dengan kulit Sehun.

“Astaga, Tuhan, istriku benar-benar.” Erangnya tat kala, gerakan Nahyun itu malah membuatnya tergoda.

“Sehun.” Bisik Nahyun seduktif.

Sehun memejamkan matanya erat, agaknya berharap dengan begitu ia bisa menahan gejolak dalam tubuhnya. “Biarkan aku menyelesaikan pekerjaanku, Sayang.”

Permintaan Sehun tak mempengaruhi aksi Nahyun. Wanita itu bahkan semakin menjadi dengan mengecup rahang tegas Sehun. Jari telunjuknya bergerak menelusuri lekuk wajah Sehun, dari dahi, hidung, lalu bibirnya. Mengusap pipi Sehun lalu mengarahkan wajah Sehun agar menatapnya. Tangan Nahyun yang lain bergerak untuk menyibak rambutnya ke belakang, kelopak mata kanannya mengerling nakal berusaha menggoda sang suami.

Sehun berdecak frustasi. “Akan kuhabisi kau malam ini, Nahyun.”

Sebuah kalimat ancaman yang malah membuat Nahyun tersenyum lebar.

FIN

Hai semuaaa….

Cuma mau bilang makasih buat yang udah baca sampe akhir dan jangan lupa kasih tanggapan kalian ya man teman ~

Sampai jumpa lagiiii J

5 responses to “[FREELANCE] Don’t be Sick

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s