[FREELANCE] FOOL AGAIN #3

fool

FOOL AGAIN

[ Last Chapter – Everytime ]

Title : FOOL AGAIN
Author : Azalea
Cast : Oh Sehun (EXO), Kim Jisoo (Black Pink), Byun Baekhyun (EXO)
Genre : Romance
Rating : PG-17
Length : Chapter
Disclaimer : Cerita ini murni dari otakku sendiri. Bila ada cerita yang serupa, aku minta maaf karena itu tidak ada unsur kesengajaan di dalamnya.

Chapter 1 [Fool Again] -> Chapter 2 [As Long As You Love Me]

Recommended Song :

Britney Spears ~ Everytime

Selama tiga puluh menit itu mereka hanya duduk diam saling tatap. Tidak ada di antara mereka berdua yang ingin memulai percakapan. Mereka terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing. Terlalu banyak pertanyaan yang malang melintang di pikiran mereka berdua. Setahun tidak bertemu, membuat keadaan mereka berubah 180 derajat. Pada akhirnya, si pria pun mengalah untuk memulai percakapan di antara mereka.

“Bagaimana kabarmu?” ucap si pria – Sehun – sambil menatap lekat wanita yang pernah mengisi hari-harinya itu.

“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Bagaimana dengan dirimu?” jawab si wanita – Jisoo – sambil menyunggingkan senyuman bahagianya kepada Sehun.

“Aku baik.” Bohong, aku sama sekali tidak baik-baik saja setelah kau pergi meninggalkanku. Lanjut Sehun dalam hatinya.

Kemudian mereka kembali terdiam.

“Kau bahagia?”

Mendengar hal itu, Jisoo kembali tersenyum sambil mengelus perutnya yang tidak lagi rata.

“Ya,aku bahagia. Dia memperlakukanku bak seorang ratu. Apalagi setelah kehadiran dia, dia benar-benar sangat protektif terhadap kami berdua.” Jawab Jisoo lagi masih dengan senyuman yang selalu menghiasi wajahnya saat mengingat-ngingat perlakuan seseorang yang selalu menemaninya selama setahun ini.

Mereka kembali terdiam.

“Kau mencintainya?” tanya Sehun lagi sedikit berbisik, tapi setelah mengatakan itu dia merutuki kebodohannya karena mengatakan sesuatu yang benar-benar tidak ingin dia dengar jawabannya.

“Membuat seorang wanita untuk jatuh cinta itu mudah, Sehun-na. Jika kau bertanya apakah aku mencintainya? Ya, aku mencintainya.” Jawab Jisoo tegas.

Sehun hanya bisa tersenyum kecut saat mendengarnya. Wanitanya pergi karenanya, dan saat dia menemukannya kembali semuanya sudah terlambat. Menyesal? Ya, dia sangat menyesal.

Tidak berapa lama sebuah suara handphone terdengar yang menandakan ada sebuah panggilan. Jisoo yang mendengarnya langsung mencari letak handphonenya yang berada di dalam tas yang dia letakkan di kursi sebelahnya.

Sebuah senyuman kembali tercetak di wajahnya saat melihat siapa yang meneleponnya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, dia menggeser tombol hijau yang ada di layar handphonenya.

Yeoboseyeo…”

Yeoboseyeo…”

“Kau tidak lupakan hari ini, hari apa?”

“Tentu saja aku tidak melupakannya.”

Sekarang aku sedang tidak ada pasien, kau ada di mana? Aku akan menjemputmu.”

“Baiklah. Saat ini aku sedang ada di pusat kota, di kafe La Sfera.”

“Oke, lima belas menit lagi aku sampai. Sampai jumpa Honey..”

“Hmm, hati-hati di jalan. Bye ~”

Kemudian Jisoo memasukan kembali handphonenya setelah panggilan singkatnya dengan seseorang yang begitu berarti dalam hidupnya saat ini. Tanpa dia sadari, sepasang mata tajam sedang mengamatinya sejak tadi.

Sehun menatap tajam Jisoo bukan tanpa alasan, dia benar-benar cemburu saat melihat perlakuan manis Jisoo tunjukkan pada orang yang menghubunginya. Sehun kesal setengah mati karena bukan dia orang yang mendapatkan perlakuan manis dari wanita yang begitu dicintainya itu. Tapi nasi sudah menjadi bubur, yang Sehun bisa lakukan saat ini hanya menghela nafas dalam dan menghembuskannya secara perlahan, berharap rasa cemburu dan kesalnya hilang bersamaan dengan hembusan nafasnya.

“Apakah itu dari dia?” tanya Sehun dingin. Jisoo yang mendengarnya hanya bisa tersenyum sebagai jawabannya. Melihat hal itu Sehun hanya bisa merutuki mulut bodohnya, tanpa ditanyakan secara gamblang pun Sehun tahu apa jawabannya, hanya saja dia tidak bisa menahan mulutnya untuk tidak bertanya.

“Kau benar-benar telah melupakanku?” tanya Sehun lagi sambil tersenyum masam.

“Kau adalah salah satu kenangan terindahku,mana mungkin aku melupakanmu.” Jawab Jisoo sambil mengelus perutnya.

“Berarti kau masih mencintaiku?” ucap Sehun penuh harapan.

“Tidak melupakanmu bukan berarti aku masih mencintaimu. Kau harus belajar untuk membuka hatimu untuk orang lain.” Jawab Jisoo meruntuhkan harapan Sehun saat itu juga.

“Aku tidak bisa melupakanmu sepajang waktu.” Ucap Sehun penuh dengan kesedihan sambil memandang capucino di hadapannya, memikirkan kembali masa-masa sulit selama setahun terakhir ini. “Aku masih sangat mencintaimu.” Tambahnya dengan nada penuh harapan bahwa wanita di depannya ini mau membuka hatinya kembali walaupun itu tidak mungkin terjadi.

“Kau hanya belum mencobanya.” Jawab Jisoo lagi sambil tersenyum menatap Sehun. Sungguh perasaannya untuk Sehun saat ini sudah tidak tersisa lagi. Semuanya sudah berubah dan Jisoo tidak bisa menyalahkan takdir yang terjadi antara dirinya dan Sehun saat ini.

Setelah mendengar Jisoo mengatakan hal itu, Sehun pun kembali menatap mata Jisoo yang begitu dirindukannya. Jisoo memang tidak banyak berubah, bahkan semakin cantik dengan keadaannya saat ini. Terbesit rasa menyesal menyelubungi hatinya saat Sehun ingat keadaan Jisoo ini bukan karenanya, tapi karena orang lain walaupun dulu mereka sudah sering melakukannya bersama.

Tidak terasa waktu pun berjalan dengan cepatnya, walaupun mereka hanya berdiam diri tanpa mengucapkan kata-kata lagi. Tatapan mata mereka terputus saat Jisoo menyadari ada sebuah mobil audi hitam baru saja terparkir di depan kafe yang sedang mereka tempati saat ini. Tanpa terasa bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman saat mengenali mobil tersebut.

Tanpa melihat siapa pemiliknya pun, Jisoo tahu itu siapa. Sehun yang melihatnya hanya bisa menggeram kesal dan tanpa sadar mengepalkan telapak tangannya saat menyadari waktu kebersamaan mereka telah habis. Mau mencegah pun dia tidak bisa, karena Sehun tidak memiliki hak apapun atas wanita yang dicintainya ini.

“Sepertinya aku harus pergi sekarang. Aku harap kau segera menemukan kebahagiaanmu. Sampai jumpa lagi lain waktu, Sehun-na.” Ucap Jisoo sambil mencoba untuk berdiri dari tempatnya duduk, kemudian mengambil tasnya dan berusaha berjalan untuk keluar dari kafe tersebut walaupun dengan terpogoh-pogoh. Keadaan membuatnya tidak bisa bertindak cepat.

Sehun terus menatap punggung Jisoo yang berjalan semakin menjauh dari hadapannya. Hatinya semakin sakit saat dia melihat seorang pria dengan stelan jas biru tuanya keluar dari mobil tersebut membukakan pintu penumpang untuk Jisoo. Rambut hitamnya ditata rapih ke atas, walaupun sudah sedikit berantakan tapi tidak melunturkan kesan tampan pada wajah asianya.

Seharusnya aku yang berada di posisi itu. Sesal Sehun dalam hatinya. Wajah Sehun semakin mengeras saat melihat pria itu mengecup mesra bibir Jisoo di depannya, seakan ingin menunjukkan pada Sehun bahwa Jisoo sekarang miliknya.

“Brengsek.” Umpat Sehun yang tidak bisa lagi menahan kekesalannya melihat itu semua.

“Kebahagianku hanya ada saat aku bersamamu, Jisoo-ya.” Geram Sehun saat melihat Jisoo sudah masuk ke dalam mobil tersebut dan perlahan-lahan menghilang dari jarak pandang Sehun. Perjuangan selama setahun ini untuk menemukan wanitanya terbuang sia-sia. Tanpa terasa setetes air mata jatuh dari mata tajamnya.

“Maafkan aku Jisoo-ya. Kembalilah padaku. Aku bukan apa-apa tanpa kau ada di sisiku.” Ucap Sehun begitu putus asa karena orang yang sedang dia ajak bicara sudah tidak ada di hadapannya lagi.

Di sisi lain, perasaan Jisoo sedikit lega saat dia harus berhadapan dengan masa lalunya lagi, mengungkapkan semua yang mengganjal di hatinya selama ini. Dulu mungkin dia memang sangat mencintai pria yang baru ditemuinya tadi, bahkan dibodohi untuk kesekian kalinya pun dia tidak keberatan, tapi sekarang keadaannya berubah. Lelah? Ya, Jisoo sangat lelah. Sangat lelah akan keadaannya dulu hingga dia memutuskan untuk pergi, mencari kebahagiaannya sendiri dan sekarang dia tidak menyesal dengan keputusannya itu, karena Jisoo telah menemukan kebahagiaannya.

“Kenapa kau terus tersenyum seperti itu, hm?” tanya seorang pria menyadarkan Jisoo darilamunannya.

“Aku hanya bahagia.” Ucap Jisoo sambil kembali mengelus perutnya membuat orang yang mendengarnya pun mau tidak mau ikut tersenyum.

“Aku senang kau bahagia.” Ucapnya tidak bisa membohongi bahwa dia juga bahagia.“Apakah malaikatku merindukanku?” lanjutnya.

“Dia sedang tidur.” jawab Jisoo sedikit sedih masih dengan mengelus perutnya.

“Berarti aku tidak bisa menyapanya?” ucapnya sarat akan kesedihan yang dijawab dengan anggukan oleh Jisoo. Kemudian mereka terdiam selama beberapa saat hingga si pria pun memecahkan keheningan tersebut.

“Aku senang kau memilihku.” Katanya sambil menggenggam tangan Jisoo kemudian menciumnya lembut membuat Jisoo memandangnya penuh dengan rasa cinta kasih.

“Kau pilihan terbaik yang pernah aku buat. Terima kasih menemaniku selama ini.” Jawab Jisoo tulus  membuat orang tersebut semakin tersenyum lebar.

“Aku sangat mencintaimu.”

“Aku juga mencintamu, Baekhyun-na.”

~ Flashback ~

Satu tahun sebelumnya

“Kau yakin akan mengundurkan diri?” tanya Lisa pada Jisoo yang sedang mengemasi barang-barangnya di tempat kerjanya.

“Hm, desain rancanganku diterima di salah satu rumah model di Milan.” Jawab Jisoo masih sibuk dengan membereskan barang-barangnya.

“Alasanmu pergi bukan karena Sehun kan?” tanya Lisa lagi yang langsung membuat pergerakan Jisoo berhenti seketika.

Jisoo membatu seketika, kemudian ingatannya melayang ke saat kejadian beberapa minggu ini yang dialaminya. Melihat gelagat Jisoo yang tiba-tiba menjadi dia seribu bahasa, Lisa pun akhirnya tahu apa yang sebenarnya terjadi. Selama ini hanya Lisa teman kerja Jisoo yang tahu hubungan antara Jisoo dan direktur perusahaan mereka yang tak lain adalah Sehun. Lisa yang sudah tidak tahan dengan keterdiamannya Jisoo akhirnya memberanikan diri untuk memeluk Jisoo dari samping tubuhnya.

Menerima pelukan hangat dari sahabatnya pun membuat pertahanan Jisoo akhirnya runtuh seketika. Setetes air mata kembali mengalir di pipinya. Sungguh hatinya sedang hancur. Perjuangan untuk bertahan dan berharap Sehun akan kembali padanya pun runtuh. Sakit? Siapa yang tidak sakit jika seseorang yang engkau cintai sebentar lagi akan menjadi milik orang lain, dan Jisoo merasakannya saat ini.

“Dia akan menikah dengan Tsuyu. Dia akan menikah, Lisa-ya. Dia akan menikah.” Racau Jisoo dengan suara paraunya.

Mendengar hal itu Lisa pun semakin mengeratkan pelukannya pada Jisoo hingga membuat tangisan Jisoo pun pecah saat itu juga. Mungkin dengan menangis bisa meringankan beban yang sedang dideritanya, sehingga Lisa tidak berusaha untuk menenangkan tangisan Jisoo. Lisa membiarkan Jisoo menangis sepuasnya karena mungkin memang itulah yang dibutuhkan Jisoo saat ini.

Setelah satu jam puas menangis, akhirnya Jisoo pun tenang. Lisa meregangkan pelukannya untuk menatap sahabatnya yang sedang kacau itu. Dapat dia lihat mata Jisoo sembab, hidungnya merah, dan bibirnya masih sesekali mengeluarkan sesenggukkannya.

“Kau akan tinggal dengan siapa di sana?” tanya Lisa penuh dengan kekhawatiran saat mengingat Jisoo akan pergi ke suatu tempat yang belum pernah dikunjunginya. Jisoo mengusap pelan pipi nya yang masih menorehkan jejak-jejak air mata, kemudian sedikit tersenyum pada Lisa untuk menenangkannya.

“Baekhyun.” Jawab Jisoo dengan suara seraknya.

“Baekhyun sahabatmu itu?” tanya Lisa mencoba memastikan orang yang dimaksudnya, dan dibalas dengan anggukkan oleh Jisoo.

“Hm, aku sudah menghubunginya dan dia bersedia menampungku untuk sementara waktu.”

“Kau yakin akan tinggal dengannya?”

“Tentu saja. Dia pria yang baik, aku yakin dia akan menjagaku selama berada di sana.”

“Aku tahu dia pria yang baik, tapi bukankah dia menyukaimu dari dulu? Apakah tidak apa-apa jika kalian tinggal bersama?”

“Aku tahu, tapi mungkin ini pilihan terbaik agar aku bisa melupakan Sehun.” Jawab Jisoo sedikit sedih. Sebenarnya dia tidak yakin bisa melakukan hal itu.

“Kau yakin bisa melupakan Sehun?”

“Tidak. Tapi kalau aku tidak mencobanya, aku tidak akan tahu.”

“Baiklah, kalau begitu aku bisa melepasmu dengan tenang. Aku harap kau memiliki sayap baru yang bisa membuatmu terbang kembali. Aku yakin dia akan bisa lebih membahagiakanmu, karena aku selalu berdo’a untuk kebahagiaanmu, Jisoo-ya.”

“Terima kasih, Lisa-ya. Semoga kau juga menemukan kebahagiaanmu.”

~ The End ~

One response to “[FREELANCE] FOOL AGAIN #3

  1. Meninggalkan hal yg udah lama dicintai dan beralih ke yg baru bukan perkara gampang. Ibarat luka, perlu waktu pemulihan /apasih? Semacam curhat/
    Aku suka ffnya, ditunggu karya selanjutnya authornim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s