[FREELANCE] From Apple with Love (Chapter 4)

z16

Cr : poster by LIGHTSEEKER by http://cafeposterart.wordpress.com

 

Title: From Apple with Love (Chapter 4)

Author: Ndkhrns (Twitter : @Nadiakhair_) 

Main Cast: Oh Sehun

Kim Minseok or Xiumin

Kim Minji (OC, Xiumin’s sister)

Support Cast: Byun Baekhyun and many more

Genre  :  Family, Friendship, Romance, Comedy (maybe)

Rating: PG-15

Length: Chaptered

Disclaimer: 100% hasil kreatifitas author. Sangat melarang adanya plagiat. Butuh sekali saran dari para readers tersayang❤

WARNING! (dikhawatirkan) TYPO BERTEBARAN

Happy Reading ^^

Ketinggalan cerita? Silahkan ‘klik’

 Chapter 1Chapter 2Chapter 3

 

­-Chapter 3 Review-

“Apa yang kalian lakukan padaku?! LEPASKAN!!” Minji terus berontak berusaha melepaskan diri.

“Kau harus mendapat pelajaran, Minji bodoh!” kedua mata Minji langsung membulat saat melihat Yui mengeluarkan gunting dari tas kecilnya.

“YUI!!” pekik Minji.

Yui berjalan mendekat ke arah Minji dan tersenyum sinis. “Hahahahaa! Rambut indahmu ini akan hilang dalam sekejap mata, Nona Kim Minji.”

“Andwae!”

“Sudahlah, kau ini harus mendapat pelajaran!” tambah Eunjung.

“Akkhh!!”

Yui menjambak rambut Minji dengan kencang dan mulai mengarahkan guntingnya ke rambut Minji. Bulir-bulir air mata mulai mengalir di kedua pipi Minji. Gadis itu sudah tak berdaya.

“Katakan selamat tinggal pada ram–“

“LEPASKAN DIA!”

========================================00========================================

“Katakan selamat tinggal pada ram–“

“LEPASKAN DIA!”

Yui menghentikan pergerakan tangannya saat mendengar suara seseorang, begitu juga Minji yang sedang dalam keadaan shock. Ia merasa tidak asing dengan suara itu.

“Lepaskan dia atau aku tidak segan-segan memberi pelajaran pada kalian bertiga!”

Oh Sehun? Benarkah itu kau?

Telinga Minji kembali menangkap suara yang tak asing, tapi itu bukan suara Baekhyun. Oh Sehun. Ya, Minji yakin itu adalah suara Sehun. Sedetik setelah itu, Minji merasakan cengkeraman di kedua pergelangan tangannya terlepas. Tangan Yui yang tadi menjambak rambutnya dengan kencang kini sudah terlepas.

“Kalian ini, tidak ada pekerjaan lain, ya? Apa kalian hanya bisa membully orang-orang lemah tanpa alasan?”

Yui, Minhee, dan Eunjung menunduk dan mengunci mulut mereka rapat-rapat. Namun mereka diam-diam mencuri pandang pada seseorang yang berada di hadapan mereka itu, yah, mereka terpesona.

Minji dapat merasakan lengan kekar melingkar di kedua bahunya. Hal itu membuat kedua matanya tergerak untuk mengetahui siapa pemilik lengan itu. Oh Sehun, Minji sangat terkejut melihat ‘sosok’ penyelamatnya. Benar, dia adalah Oh Sehun.

“Apa yang terjadi barusan? Apa kau baik-baik saja?” tanya Sehun pada Minji yang terlihat sangat shock. Kini ia sudah berhasil mengamankan Minji.

“Terima kasih.”

Kalimat itu terdengar tulus, dan Sehun langsung mengerti bahwa itu adalah pertanda Minji tidak bisa dimintai keterangan sekarang. Sehun menatap rambut Minji yang sedikit berantakan akibat dijambak tadi. Tangannya tiba-tiba saja tergerak untuk merapikan kembali rambut Minji. Sehun sangat iba melihat kondisi Minji seperti saat ini, ia tak menyangka ketiga gadis tadi tega menyelakai Minji.

“Sebaiknya kita pulang sekarang saja,” ajak Sehun.

Minji hanya mengangguk pelan kemudian naik ke boncengan sepeda. Ia duduk menyamping dan menyandarkan kepalanya pada punggung Sehun. Ia tak menyadari perbuatannya itu dan tentu saja ia juga tak akan menyadari degup jantung Sehun yang seperti berhenti berdetak.

==========00==========

“Sehun-ah!” Xiumin mengguncang-guncang tubuh Sehun sekuat tenaga.

“Hnggg…”

“YAK! Cepat bangun!” teriakan Xiumin membuat Sehun menyerah dan membuka matanya dengan berat hati. Sejujurnya ia masih mengantuk dan masih butuh tidur lebih lama, tetapi ia tidak ingin mendengar teriakan Xiumin yang memekakkan telinga itu.

“Cepat bangun dan bersiaplah ke kebun. Kau tahu kan, hari ini ada acara penting.”

“Ya.”

Kini Xiumin sudah menghilang entah kemana. Sehun duduk di pinggir kasur sambil mengusap-usap matanya. Setelah merasa ‘nyawa’nya sudah sepenuhya terkumpul, ia mengambil peralatan mandi dan pakaian gantinya lalu melangkahkan kaki ke kamar mandi.

KREEKK!

Suara pintu kamar mandi terdengar dan muncullah sesosok lelaki tinggi berbadan tegap dan berkulit putih. Rambutnya masih basah dan aroma khas maskulin langsung menyeruak. Sehun. Dia sudah terlihat segar setelah mandi pagi. Sehun melangkahkan kakinya kembali ke kamar sambil menggosok-gosok rambutnya yang basah. Ia juga sempat melirik ke arah meja makan untuk melihat apa menu sarapan pagi ini, perutnya mulai keroncongan. Langkahnya pun terhenti saat melewati kamar milik Minji.

Bagaimana keadaan dia sekarang? Pikir Sehun. Kedua kakinya terasa berat untuk dilangkahkan kembali. Matanya terus menatap ke arah pintu kamar yang berwarna coklat tua yang dihiasi tempelan bertuliskan ‘Minji’s Room’.

CEKLEK!

Gagang pintu kamar itu mulai bergerak, tandanya si ‘Penghuni Kamar’ akan keluar. Benar saja, muncullah seorang perempuan dengan rambut tergerai tengah membawa handuk dan pakaian ganti di tangannya, dialah Minji. Paru-paru Sehun seperti kekurangan pasokan oksigen saat melihat wajah Minji yang tetap terlihat manis meski baru bangun tidur.

“Ada perlu apa kau disini?” suara Minji membuat lamunan Sehun buyar dan salah tingkah.

“Tt..ttidaa…aak… Aku… Aku hanya kebetulan lewat saja,” Sehun langsung mengambil langkah seribu menuju kamar.

“Tunggu.”

Langkah Sehun berhenti seketika.

“Aku benar-benar berterima kasih padamu atas kejadian kemarin.”

“Ya, sama-sama.”

Sehun kembali melangkahkan kakinya menuju kamar setelah merespon ucapan terima kasih dari Minji. Sementara itu, Minji masih diam di tempatnya selama beberapa saat. Diam-diam gadis itu mulai memperhatikan Sehun, contohnya tadi, Sehun terlihat sangat err~ manly dengan rambutnya yang basah dan aroma khas maskulin yang melekat di tubuhnya. “Dia memang tampan,” celetuk Minji.

Hey, tunggu.

Wajah Minji langsung berubah menjadi merah padam setelah menyadari ucapan yang keluar dari bibir manisnya. Kemudian ia langsung berlari menuju kamar mandi sambil merutuki dirinya sendiri. Apakah itu pertanda bahwa Minji mulai jatuh cinta pada Sehun?

 ==========00==========

Suasana kebun mulai ramai saat acara dimulai. Warga sangat antusias dengan acara promo ini. Sehun dan Xiumin tidak ikut turun tangan melayani para pembeli karena Sehun yang masih shock akibat kejadian kemarin.

“Memangnya kemarin itu kau dikejar-kejar ibu-ibu disini?” tanya Xiumin.

“Bukan, aku diserbu dan aku terhimpit di tengah-tengah mereka. Bahkan sampai ada ibu hamil yang ngidam ingin memelukku. Astaga, aku benar-benar ingin mati saat itu juga,” jawab Sehun berapi-api.

Xiumin langsung tertawa terbahak-bahak saat mendengar penuturan Sehun. Ia tak bisa membayangkan wajah Sehun pada waktu itu. Jika ia ikut ada di lokasi kejadian, ia tak akan menolong Sehun dan malah mentertawainya habis-habisan.

“Jangan tertawa, Hyung!”

Xiumin menyeka air mata di kedua sudut matanya akibat tertawa. “Iya… Iya… Tetapi itu akan menjadi pengalaman liburan yang tak terlupakan, Hun.”

“Cih.”

Sehun menyapukan pandangannya ke sekeliling, berharap menemukan sosok Minji diantara kerumunan orang. Tepat sekali. Minji tengah sibuk melayani para pengunjung dengan ramah. Senyum manis tak pernah pudar dari wajahnya, itu membuat Minji terlihat sangat sangat manis di mata Sehun. Diam-diam lelaki itu ikut tersenyum tipis melihat Minji yang sudah kembali seperti semula.

Pukul 12 stand mulai dibereskan kembali. Minji mengusap keningnya yang sudah dipenuhi keringat akibat melayani banyaknya warga yang datang. Ia meneguk air mineral hingga tandas. Lelah.

“Anda berbakat menjadi seorang SPG rupanya.”

Minji menoleh dan menangkap sosok Baekhyun di sampingnya, sahabatnya itu tersenyum manis ke arahnya. Tak lama kemudian, mereka berdua sudah duduk manis di salah satu saung yang ada di dalam lingkungan kebun.

“Bagaimana acaranya?” Baekhyun membuka pembicaraan.

“Seperti biasa. Warga menyambutnya dengan antusias dan mereka berbondong-bondong datang.”

Baekhyun memandangi Minji yang tengah menatap lurus ke depan. Ia merasa ada yang aneh pada diri Minji, sesuatu yang tidak biasa. Baekhyun yakin, ada hal buruk yang baru saja dialami atau bahkan sedang dialami oleh Minji. Sorot matanya, senyumnya, nada bicaranya.

“Apa yang terjadi padamu?”

Minji menaikkan satu alisnya, tanda tak mengerti. “Tidak ada,” jawabnya enteng tanpa melihat Baekhyun sedikitpun.

“Jangan coba untuk berbohong padaku, Nona Kim. Ada seseorang yang membuatmu tak nyaman, eoh?” Baekhyun benar-benar penasaran. “Ayolah, aku sudah mengenalmu bertahun-tahun, aku hafal betul tentang dirimu.”

Minji menyerah dan ia tersenyum tipis, “Minhee, Yui, dan Eunjung.”

“Apa yang mereka lakukan padamu?”

“Sesuatu yang parah. Mereka mencegatku lalu menyiksaku.”

Nafas Baekhyun tertahan. “Hampir…” ternyata Minji menggantung kalimatnya. Sedetik kemudian, Baekhyun kembali bernafas dengan lega. Baru saja ia akan bersumpah untuk memberi pelajaran kepada Trio Racun itu kalau mereka benar-benar menyakiti Minji. Namun masih ada satu hal yang ingin Baekhyun tanyakan, “Siapa yang menolongmu waktu itu?”

“Oh Sehun, teman oppaku yang sedang berlibur disini.”

Selanjutnya keheningan menyelimuti keduanya. Tiba-tiba saja Baekhyun enggan melanjutkan obrolannya dengan Minji saat mendengar nama ‘Oh Sehun’. Ia tidak tahu persis lelaki bernama Oh Sehun itu, tapi Baekhyun menangkap sesuatu yang berbeda dari nada bicara Minji saat menyebutkan nama lelaki yang telah menolong gadis itu.

==========00==========

Sinar matahari yang semakin terik tidak menurutkan antusias para warga untuk menghadiri acara yang dilaksanakan oleh keluarga Kim ini. Walaupun sudah hari kedua, masih banyak warga yang berkunjung. Sehun dan Xiumin masih bekerja ‘di balik layar’.

“Hari ini acaranya selesai jam berapa, Hyung?” tanya Sehun saat mereka tengah menyortir apel di sebuah ruangan. Bisa dibilang mereka tengah berada di ‘kantor pemasaran’ perkebunan ini.

Molla, mungkin sedikit lebih siang dari kemarin.”

Sehun dan Xiumin kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Kedua mata Sehun dengan teliti melihat ke sekitar untuk menemukan Minji. Entah kenapa, Sehun semakin ketagihan untuk melihat gadis itu. Gadis yang menurutnya menyebalkan, tidak tahu sopan santun, gadis bernama Kim Minji. Rupanya kejadian tempo hari membuat Sehun semakin tertarik pada Minji, bahkan Sehun merasa ingin terus berada di sisinya dan melindungi gadis itu.

Oppa.”

Sebuah suara menghentikan kegiatan XiuHun, pemilik suara itu adalah Minji. Xiumin lantas menoleh pada adiknya itu. Seketika mata sipitnya terbelalak melihat wajah Minji yang agak pucat. “Hey, ada apa denganmu?”

“Aku ingin istirahat disini, boleh?”

Dengan sigap Xiumin merangkul adiknya itu dan menuntunnya untuk duduk di sebuah sofa. Salah seorang pegawai perempuan yang juga berada disitu dengan sigap menyediakan air putih untuk Minji. Sehun terpaku dan melihat Minji dengan iba. Khawatir. Itulah yang ia rasakan saat ini. Wajah Minji yang manis terlihat pucat, matanya pun sayu. Gadis itu terkulai lemah di sofa.

“Kau kelelahan, sebaiknya kau pulang saja. Apakah ibu sudah tahu?”

Minji mengangguk lemah.

“Minji, kau pulang saja, ya, Nak,” Nyonya Kim datang dengan tergopoh-gopoh. Wanita paruh baya itu kemudian duduk di samping Minji dan membelai rambut panjang sang Anak dengan penuh sayang. Ekspresi khawatir tergambar jelas di wajahnya.

Minji sakit? Hey, wajahnya pucat sekali. Oh, tidak! Apakah ini efek dari kejadian tempo hari?

Sehun tak bisa mengontrol dirinya dan terus bertanya-tanya dalam hati tentang kondisi Minji. Ia ingin bertanya pada Xiumin, tetapi lidahnya terasa kaku. Sungguh, ia benar-benar khawatir sekarang.

“Minseok, kau antar Minji pulang dan rawat dia. Ibu masih ada urusan yang harus dikerjakan.”

Ne. Sehun, sebaiknya kau ikut aku.”

Sehun seketika tersadar dari lamunannya dan melongo. Dia? Ikut pulang? Ikut mengurus Minji?

“Hey, Oh Sehun! Cepat bantu aku!”

“Ah, ne.” Dengan sigap Sehun membantu Xiumin untuk membopong adiknya. Sehun menggendong Minji ala bridal style, sementara Xiumin berlari menuju mobil sedan tua milik ayahnya. Salah seorang pegawai perkebunan membantu Sehun membukakan pintu mobil.

Sesampainya di rumah, Sehun segera membawa Minji masuk. Minji dalam keadaan sangat lemas, matanya terpejam sedari tadi. Saat sudah berada di dalam, Sehun sedikit kebingungan hendak membawa Minji kemana.

“Sehun, kau bawa dia ke kamarnya. Aku akan menyiapkan kompresan,” Xiumin langsung melesat ke dapur.

“Apa? Ke kamar?”

Bodoh! Tentu saja kau harus membawa Minji ke kamarnya.

Dengan cekatan Sehun membawa Minji ke kamar dan membaringkannya di kasur berlapis sprei motif bunga-bunga. Sehun mencoba menempelkan telapak tangannya di dahi Minji, suhu badannya cukup tinggi. Apa yang terjadi padamu? Batin Sehun.

Rapi.

Satu kata yang sangat tepat untuk mendeskripsikan kamar Minji. Semua barangnya tertata rapi dan kamarnya sangat bersih. Terdapat sebuah rak kecil berisi koleksi buku milik Minji. Beberapa buah boneka tersusun rapi di atas rak bukunya. Kemudian Sehun kembali mengalihkan pandangannya pada Minji. Gadis itu terlelap dengan tenang, nafasnya pun terdengar teratur, dan sebuah senyum tipis terlukis di wajahnya. Sempurna. Baru kali ini Sehun melihat wajah Minji seperti ini.

CEKLEK!

Xiumin masuk dengan membawa kompresan di tangannya. Wajahnya terlihat tenang namun tetap menyiratkan kekhawatiran. Xiumin meletakkan sebaskom air di meja kecil yang terletak di samping ranjang adiknya. Sehun menyingkir, membiarkan Xiumin duduk di tepi ranjang untuk mengompres adiknya. Dari caranya mengompres, Sehun dapat menyimpulkan bahwa Xiumin sudah terbiasa merawat adiknya itu.

“38 derajat. Sepertinya dia kelelahan,” Xiumin menatap Minji sendu. “Istirahatlah.”

Hyung, apa dia sudah sarapan tadi pagi?” tanya Sehun.

“Entahlah. Sepertinya dia tidak sarapan karena tadi pagi dia kesiangan. Saat kita berangkat, ia belum bangun, kan.”

“Mungkin karena ia belum sarapan, jadi dia lemas.”

Xiumin mengangguk pelan. “Tolong jaga dia, aku akan buatkan bubur dulu,” kemudian Xiumin bangkit dan keluar dari kamar. Lelaki itu berjalan menuju dapur untuk membuatkan seporsi bubur untuk sang Adik.

Hening.

Sehun tidak tahu harus berbuat apa, ia hanya diam dan duduk di pinggiran kasur. Matanya menatap ke arah Minji yang masih terjaga. Sementara itu, otaknya terus memikirkan alasan Minji bisa jatuh sakit. Sehun khawatir kalau gadis itu trauma dengan kejadian tempo hari dan membuatnya stress hingga jatuh sakit.

“Engghh…” lenguhan yang keluar dari bibir Minji membuat Sehun tersadar dari lamunannya.

“Minji?”

Minji membuka matanya perlahan, “Apa aku di kamarku sendiri?” tanyanya dengan lemas.

“Ya, kau ada di rumah, di kamarmu sendiri,” jawab Sehun.

Gadis itu menoleh ke arah kiri, tempat Sehun berada. Wajahnya menampakkan ekspresi terkejut, “Kau?”

“Minseok-hyung sedang membuatkan bubur untukmu.”

Tiba-tiba Sehun langsung berdiri dan melangkah ke luar kamar, bertepatan dengan kedatangan Xiumin ke kamar dengan sebuah nampan berisi semangkuk bubur, segelas teh hangat, dan obat penurun panas. Sehun mempersilahkan Xiumin masuk dan ia membiarkan kakak beradik itu menikmati kebersamaannya.

==========00==========

Keesokan harinya, Baekhyun datang untuk menjenguk Minji. Lelaki berwajah imut dan bermata sipit itu datang dengan membawa bingkisan berisi buah-buahan. Minji dan Baekhyun menghabiskan waktu dengan mengobrol di kamar.

“Kenapa kau bisa sakit, sih?” tanya Baekhyun sambil memegang dahi Minji. Ia sangat khawatir dengan sahabatnya yang satu itu. Setahu Baekhyun, Minji adalah orang yang paling jarang –bahkan hampir tidak pernah sakit.

“Mungkin karena kelelahan. Entahlah, aku juga tidak tahu kenapa bisa begini,” Minji menjawab seadanya. “Tapi setidaknya panasku sudah turun. Paling besok juga sembuh,” lanjutnya.

“Katanya kau pingsan di kebun saat acara kemarin?”

“Iya. Merepotkan sekali, kan?”

Baekhyun tertawa sambil menyenggol lengan Minji pelan. “Pasti semuanya kesusahan mengangkat tubuhmu yang super berat itu,” ledeknya.

“Kemarin teman Minseok-oppa yang menggendongku. Tapi aku tidak ingat bagaimana prosesnya, sih.”

Tawa Baekhyun mereda seketika saat mendengar penuturan Minji. Teman Minseok-hyung? Batinnya. Otaknya langsung menemukan jawaban, orang yang dimaksud Minji adalah city guy yang sedang berlibur dan menginap di rumah kawannya itu. “Lalu kau merasa senang, begitu?” tanya Baekhyun.

Minji mengangkat kedua bahunya, “Awalnya dia memang menyebalkan, tapi lama kelamaan dia baik, kok. Dan dia juga tampan. Ups!”

Tanpa Minji sadari, ucapannya barusan membuat hati Baekhyun seperti teriris. Lelaki bermata sipit itu langsung terdiam setelah mendengar pujiannya untuk Sehun. Selama ini ada sesuatu yang tidak diketahui oleh Minji, dan Baekhyun rasa ia butuh waktu yang tepat untuk memberi tahu Minji tentang hal itu.

“Baek, Minji, kenapa kalian malah diam di luar? Ayo, masuk, ibu sudah buatkan jahe hangat untuk kalian!” panggil Xiumin dari pintu ruang tamu.

“Baek, ayo kita masuk!” ajak Minji.

Keduanya pun masuk ke rumah dan langsung menuju ke ruang keluarga. Karena Baekhyun adalah sahabat Minji dari kecil, otomatis ia sudah sering datang kesini dan sudah dianggap seperti anak sendiri oleh keluarga Kim.

“Halo, Hyung!”

“Hai, Baek! Kenalkan, ini temanku dari Seoul,” Xiumin mendorong pelan bahu Sehun.

Baekhyun menatap Sehun dari atas sampai bawah, kemudian ia membalas uluran tangan Sehun singkat. Melihat tingkah Baekhyun, Sehun mengerutkan kening.

“Meskipun kau dari kota, tapi Minji tidak akan tertarik padamu,” desis Baekhyun sebelum meninggalkan Sehun.

“Apa maksudmu?”

Baekhyun tersenyum sinis lalu menggeleng pelan.

==========00==========

“Aku tidak mau tahu, pokoknya kau harus menemukan dimana alamat rumah Xiumin!” pekik seorang gadis bersurai panjang kecokelatan. Ia tengah memarahi seorang lelaki sebayanya.

“Ya ampun, kau ini pemaksa sekali! Sehun itu tidak tertarik padamu, Bodoh!”

“Kita ini saudara, Chanyeol-ah! Saudara harus saling membantu.”

“Cih, kau terlalu sering menyusahkanku, Jiyeon-ah!”

Keesokan paginya, Jiyeon sudah bergegas pergi ke alamat yang diberikan Chanyeol, sepupunya. Pemuda jangkung itu memang bisa diandalkan. Dalam waktu kurang dari 10 jam dia sudah berhasil menemukan alamat rumah orangtua Xiumin. Gyeonggi-do.

“Rumah bercat cokelat? Ah, ini dia!” tanpa ragu Jiyeon memarkirkan mobil mewahnya itu di halaman rumah keluarga Kim. Dengan dandanan mencolok khas perempuan sosialita ibukota, Jiyeon melangkah dengan angkuh keluar dari kendaraannya. Ia menemukan sosok Minji yang tengah menyiram pot tanaman.

“Ekhm… Permisi,” sapa Jiyeon.

Minji lantas menoleh dan menangkap sosok Jiyeon yang berdiri tak jauh darinya. Gadis itu memicingkan kedua matanya, mengamati sosok ‘makhluk aneh’ di hadapannya dengan seksama. Heol, skinny jeans dan atasan crop tee yang dipadukan dengan sepatu platform memang sangat mencolok jika dipakai untuk bertamu di pedesaan, bukan?

“Anda siapa, ya?”

Jiyeon melepas kacamata hitamnya dengan angkuh. “Aku mencari Sehun. Ini rumah Xiumin-oppa, kan?”

“Oh Sehun?”

“Sudah kuduga, kau pasti hafal dengannya. Gadis desa sepertimu pasti mudah jatuh hati pada Sehunku yang tampan.”

Hembusan nafas kasar keluar dari mulut Minji. Mimpi apa dia semalam sampai harus bertemu dengan perempuan super angkuh yang entah datang darimana? Bahkan wangi parfumnya seakan memenuhi seisi pekarangan rumahnya. Ugh, Minji jadi mual.

Apakah dia kekasih Sehun? Batin Minji.

Dadanya seketika terasa sesak. Melihat penampilan tamunya ini membuat Minji minder. Sehun dan perempuan ini memang terlihat serasi. Sama-sama memiliki paras bak pahatan kelas dunia. Tentunya mereka sederajat, sama-sama berlimpah harta. Ayolah, Minji juga perempuan biasa, baginya Sehun itu tampan. Sialnya, kenapa dia begitu mudah membuat Minji tertarik dan mulai jatuh cinta.

Ya, Minji mulai jatuh hati pada pemuda bermarga Oh itu. Tapi ia belum bisa sepenuhnya menerima kenyataan itu. Gengsinya terlalu tinggi untuk mengakui hal itu. Mungkin butuh sedikit waktu agar Minji bisa menyadari bahwa sosok Oh Sehun telah mencuri hatinya.

“Jadi dimana Sehun sekarang?” tanya Jiyeon ketus, membuat lamunan Minji buyar seketika. Ia memandang Minji dengan tatapan menantang, seolah memberi peringatan agar tidak main-main dengan seorang Park Jiyeon.

“Dia sedang–“

“Jiyeon?” suara khas Sehun menerobos masuk ke indera pendengarannya. Minji lantas menoleh. Sehun berada tak jauh di belakangnya. Tanpa aba-aba Jiyeon pun berlari dan memeluk Sehun erat. Badan Minji sedikit terhuyung akibat pergerakan Jiyeon tadi.

“Sehun-ah, bogoshippoyo.

Minji diam seribu bahasa melihat dua insan yang tengah berpelukan erat di persis di hadapannya.

-to be continue-

3 responses to “[FREELANCE] From Apple with Love (Chapter 4)

  1. Pingback: [FREELANCE] From Apple with Love (Chapter 5) | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s