[FREELANCE] Osaka – Seoul

z17

Author : ColorCrusher 97

Tittle : Osaka – Seoul

Cast : Park Ji Ahn, Jeon Jung Kook, and other.

Genre : Romance, Drama

Length: Oneshoot

Rating : PG

– – –

Hari ini tepatnya tanggal 10 Juli adalah hari terpenting bagi Park Ji Ahn. Bahkan wanita berusia 27 tahun itu rela tidur cepat dan memasang alarm pagi-pagi sekali, sampai-sampai berdiam diri di kamar mandi selama satu jam.

Sambil menikamati sarapannya, ia memainkan handphonenya dengan senyum merekah diwajahnya saat membaca pesan dari seseorang tadi malam.

Jangan lupa bangun pagi, Ji Ahn.

“Aku akan menjemputmu di bandara,” balas Ji Ahn sambil mengetuk-ketukkan jarinya diatas layar 5inc ditangannya. Walaupun tahu orang itu tak akan membalas pesannya karena sedang di pesawat, tapi Ji Ahn tetap mengirimkannya.

Setelah memuaskan perutnya, ia segera menuju bandara dan menunggu di pintu kedatangan. Ji Ahn memperhatikan jadwal penerbangan yang muncul di layar besar yang menempelpada dindingtebalitu, orang yang ia tunggu akan datang pukul 09.45.

Ia memilih duduk di kursi panjang yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Kemudian menatap pintu kaca dihadapannya yang masih kosong, haya ada dua orang penjaga disana. Dan sekarang, pikiran gadis itu sudah melayang kemana-mana.

Ji Ahn benar-benar menunggu hari ini, hari dimana ia akan bertemu Jeon Jung Kook—kekasihnya yang tinggal di Osaka, Jepang. Tiga bulan yang lalu saat kekasihnya mengatakan kalau ia akan datang ke Seoul pada tanggal 10 Juli, Ji Ahn langsung girang tak karuan. Ia bahkan sampai berteriak histeris saat Jung Kook mengatakannya secara langsung lewat telepon, membuat ayah dan adiknnya—Ji Min hanya bisamenggeleng-gelengkan kepala.

Dan mendekati tanggal 10 ini, Ji Ahn menyiapkan segala macam. Ia bahkan sampai meminta izin ayahnya untuk mengizinkan Jung Kook menginap dirumah mereka (keluarga dekatnyanya sudah pindah ke Osaka), dan ayahnya mengabulkan.

Ia juga sampai mengancam Ji Min, adik laki-lakinya untuk menemani Jung Kook saat tiba dirumah. Ji Ahn juga hingga rela membelikan sepatu basket lagi untuknya asalkan Jung Kook bisa betah dirumah mereka.

Dan beruntungnya lagi, Ji Ahn sedang sift malam di rumah sakit mulai tanggal 12, jadi dia bisa menemani Jung Kook dirumah.

Ji Ahn benar-benar bersyukur karena Tuhan telah membuat rencana yang baik untuk mempertemukan mereka.

Bagaimana ya ia saat ini?

Wanita itu terkekeh sendiri saat batinnya bertanya. Ia benar-benar penasaran dengan Jung Kook yang ia kenal saat masa sekolah itu, masa saat  ia dan Jung Kook berada dalam satu klub yang sama, klub majalah.

Dulu, laki-laki itu adalah orang yang pendiam, bahkan sangat sedikit bicara. Ia akan bicara secukupnya, semaunya, dan se-sedikit mungkin. Beberapa teman dikelas bahkan sampai jengah dengan kelakuannya. Tapi tidak dengan anggota club majalah, terutama Ji Ahn, ia akan selalu berusaha mendekati Jung Kook dan (sangat) memaksanya untuk bicara saat mendiskusikan edisi majalah selanjutnya.

Awalnya, Jung Kook merasa risih atas kehadiran Ji Ahn. Pasalnya wanita bermarga Park itu bukanlah ketua timnya, ia hanya seorang editor dan penulis artikel. Jung Kook bahkan sempat marah karena selalu dipaksa untuk bicara.

“”Kau ini siapa? Kenapa kau berisik sekali, hah?! Kau selalu memaksaku untuk bicara, membuat artikel dan sebagainya. Apa tujuanmu seperti itu padaku?”

Ji Ahn ingat saat itu mereka berada di lorong gedung lama yang sedang direnovasi dan hanya ada mereka berdua. Gadis itu bahkan masih ingat bagaimana ekspresi Jung Kook yang sangat geram terhadapnya.

“”Ak.. akk.. baiklah! Aku tidak akan memaksamu lagi. Kau bebas ingin ikut diskusi atau tidak, aku akan membiarkanmu. Walaupun aku bukan ketua tim, tapi aku yang mempertanggung jawabkan semuanya, Jung Kook-ssi. Kau bahkan tidak tahu lelahnya mengedit majalah itu bersama Heo Seok dan Hae Rin,”” ungkap Ji Ahn dengan raut wajah kecewa. “”Aku tidak akan meganggumu, dimanapun!””

Dan setelah ucapan terakhir Ji Ahn itu, mereka jadi jarang berinteraksi walaupun berada diruangan yang sama. Bahkan Ji Ahn tidak penah lagi memanggil atau memeinta tolong pada Jung Kook—sama sekali. Ia benar-benar mengasingkan laki-laki itu dimanapun.

Pada akhirnya Jung Kook sadar kalau ia kesepian. Ji Ahn lah yang bisa mengatasi kesendirannya itu. Selama ia di acuhkan oleh Ji Ahn, Jung Kook merasa kalau semuanya terasa hampa. Ia tidak bisa merasakan keributan yang selalu ia alami bersama Ji Ahn.

Akhirnya Jung Kook sadar kalau ia juga menyukai wanita itu, wanita yang super ribut dan perhatian dengan apa  yang ada disekitarnya, termaksud dengan dirinya.

Setelah dua minggu sejak pertengkaran di lorong itu, Jung Kook akhirnya memberanikan diri bicara pada Ji Ahn. Hari itu tepatnya diskusi edisi majalah untuk bulan Desember, Jung Kook menyempatkan hadir dan bicara sebanyak mungkin, mengeluarkan segala idenya dan membuat semua orang dimeja bundar itu melongok menatapnya, termasuk Ji Ahn.

Dan setelah diskusi itu selesai, Jung Kook meghampiri Ji Ahn dan mencegahgadisitu untuk pulang, padahal hari sudah gelap. Kemudian ia menatap manik mata hitam Ji Ahn dan mulai mengucapkan kata maaf sebagai kalimat pembuka, membuat Ji Ahn kebingungan hebat.

“”Aku tahu aku salah, aku hanya risih karena belum pernah ada yang seperti ini,”” tuturnya. Jung Kook segera meraih bahu Ji Ahn dengan kedua tangannya, membuat Ji Ahn semakin membulatkan matanya. “”Maaf kalau aku kasar, aku hanya lepas kendali. Aku benar-benar serius untuk kali ini, Ji Ahn.””

Berkali-kali bibir tipis Ji Ahn terbuka dan tertutup, ia ingin bicara tapi semuanya tersangkut di kerongkongannya, bahkan lidahnya seperti terlilit. Ia akhirnya menganggukkan kepalanya beberapa kali, berusaha meyakinkan diri dengan sifat Jung Kook.

“”Aku, menyukaimu,”” ucap Jung Kook sekali lagi dan segera menariknya kepelukannya, membuat Ji Ahn semakin membeku disana. ia tidak pernah menyangka kalau seorang Jeon Jung Kook akan menyukainya, ia juga tidak pernah yakin dengan perasaannya pada laki-laki itu—ia juga menyukainya.

Dan setelah hari itu terjadi, hubungan mereka terjalin sampai saat ini. walaupun Jung Kook memutuskan ikut dengan keluarganya ke Jepang setelah kelulusannya dari universitas dan meninggalkan Ji Ahn yang masih menjalani pendidikan dokternya, tapi tidak membuat dua orang itu berhenti dan menyerah dengan hubungan jarak jauh mereka.

Dari Osaka yang perbandingan waktunya sama, mereka selalu menghubungi satu sama lain, seminimal mungkin mereka akan mengirimkan pesan. Kalaupun Ji Ahn sedang ikut melakukan pembedahan, pasti akan memberi tahu Jung Kook dan menceritakannya, ataupun saat jaga malam, Jung Kook akan berusaha menemani Ji Ahn dari jarak jauh.

***

Ditempat lain, Jung Kook menatap jendela pesawat yang ada disampingnya itu sambil tersenyum. Sejak ia datang ke bandara pagi buta sampai duduk di kursi penumpang, ia terus saja terbayang wajah Ji Ahn berkali-kali sambil mengamati foto Ji Ahn yang ada didompetnya dengan pandangan rindu. Ingin rasanya Jung Kook memeluk gadis itu dan memboyonnya ke Jepang. Tapi sepertinya ia akan mengutamakan untuk memeluk gadis itu dulu.

Jung Kook membayangkan saat Ji Ahn datang untuk menjemputnya, ia akan menemukan wanita itu dengan balutan baju formal ala dokter, dan mengikat rambutnya. Karena difoto terakhir yang dikirimkan oleh Ji Ahn, gadis itu berdiri didepan pintu sebuah rawat inap dengan kemeja abu-abu dan rok hitam selutut, lengkap dengan jas putih dokternya dan stetoskop menggantung dilehernya. Kedua tanganya ia masukan kedalam saku jas putihnya, kemudian cengiran khas Ji Ahn tersemat diwajahnya.

Dalam lamunannya Jung Kook bertanya pada dirinya sendiri, bagaimana kita bisa bertahan satu sama lain sampai sejauh ini? dan setiap pertanyaan itu terlintas, Jung Kook hanya bisa tersenyum sendiri. Memang ia tidak pernah mengira kalau hubungan mereka akan sejauh ini. bahkan niatan untuk menyudahi atau melakukan hal buruk terhadap hubungannya dengan Ji Ahn tidak terlintas sedikitpun dibenaknya.

Dan ketika ia menanyakannya pada Ji Ahn lewat telepon, Ji Ahn pasti akan menjawabnya dengan santai. “”Mungkin Tuhan punya rencana baik untuk kita. Jadi nikmati saja selagi kau dan aku masih bisa bernafas di dunia ini.””

Pada awalnya, Jung Kook kaget dengan kata-kata itu dan protes pada kekasihnya. “”Kenapa kau berkata seperti itu? Kau pikir kau akan mati?””

“”Tidak,”” jawabnya waktu itu dengan nada lirih. “”Aku baru saja mendapatkan pelajaran itu dari pasien dirumah sakit ini, Jung Kook-ah. Suami dari seorang perempuan yang baru saja dinyatakan meninggal itu, menemuiku. Dia bilang seperti itu, dan kita harus bersyukur jika kita masih diberikan waktu seperti ini.”

“”Aku benar-benar prihatin melihatnya. Wajahnya benar-benar menyesal saat mendengar istrinya telah tiada. Dan anaknya yang masih kecil, hanya menatap ayahnya kebingungan. Dia bahkan berteriak-teriak dilorong rumah sakit sambil memaki dirinya sendiri. Harusnya aku tidak membiarkanmu pergi, aku bodoh sebagai suami. Katanya begitu.””

Walaupun awalanya bingung dengan cerita Ji Ahn, tapi hal itu membuat Jung Kook suntuk semalaman memikirkannya. Benar, ia harusnya bersyukur karena hanya jarak yang memisahkan mereka, bukan dimensi yang berbeda. Mereka harus memanfaatkan hubungan mereka sebaik mungkin, di usia yang masih setengah matang seperti ini. dan setelah hal itu, Jung Kook hanya bertanya pada dirnya sendiri, ia masih sedikit penasaran.

***

Ji Ahn segera terbangun dari lamunan masa lalunya dengan Jung Kook saat pemberitahuan dari pengeras suara mengatakan kalau pesawat dari Osaka, Jepang sudah tiba. Gadis itu segera berlari dan berdiri paling depan didekat tali pembatas. Ia segera mengeluarkan selembar karton yang ada di tas ranselnya dan membukanya, menampilkan tulisan Jeon Jung Kook dengan berbagai hiasan disana.

Ji Ahn menatap pintu kaca itu bersama orang-orang yang juga menunggu kedatangan, bahkan sebagian menggunakan pakaian rapih ala kantoran, membuatnya menatap pakaian yang ia kenakan sendiri. Hanya jaket abu-abu, kaos hitam dan celana jeans, ia merasa tidak seperti seorang dokter kalau seperti ini.

Tidak lama pintu itu terbuka, beberapa orang muncul disana, mulai dari anak-anak sampai pria paruh baya. Tapi Ji Ahn hanya terfokus pada laki-laki dengan kemeja putih dan celana selutut berwarna hitam, ditambah tas ransel dan sneakers yang ikut melekat ditubuhnya. Laki-laki itu mendorong troli yang berisikan dua koper besar yang sama-sama hitam. Matanya mencari-cari seseorang saat keluar dari pintu kaca itu.

Sontak, Ji Ahn langsung mengangkat kartonnya tinggi-tinggi, sambil meneriaki nama Jung Kook berkali-kali, membuat laki-laki itu tersenyum dan mendorong trolinya secepat mungkin dengan hati-hati.

Ji Ahn segera keluar dari kerumunan orang yang sedang menunggu itu, ia segera lari dan mendekat ke arah Jung Kook. Ia merasa ini benar-benar drama, karena mereka saling menghampiri dan segera memeluk satu sama lain saat mereka berhadapan.

Tanpa sadar di dalam pelukan itu, mata Ji Ahn memanas. Air matanya mengalir deras dan isakannya pun terdengar oleh Jung Kook, bahkan orang-orang disekitar mereka.

Jung Kook melepaskan pelukannya, kemudian mengusap air mata Ji Ahn dengan kedua ibu jarinya sambil tersenyum. “”Sudah jangan menangis,” ”katanya.

Tapi Ji Ahn semakin terisak. Bagaimana bisa ia tidak menangis seperti ini? ia benar-benar merindukan laki-laki itu, kekasihnya itu, temannya itu. mana mungkin sih, tidak rindu setelah berhubungan jarak jauh dan belum bertemu lagi setelah empat tahun lamanya? Siapa yang tidak rindu?

“”Kenapa semakin kencang menangisnya?”” keluh Jung Kook sambil mengusap pipi Ji Ahn. “”Kau kan seorang dokter, mana bisa begini ditempat umum?””

Mereka berdua kemudian tertawa saat mendengar perkataan Jung Kook. Ji Ahn benar-benar lupa kalau ia seorang dokter, yang punya wibawa kuat saat dirumah sakit. Tapi sekarang ia seperti anak kecil yang baru bertemu ayahnya kembali, padahal ayahnya selalu dirumah setiap hari

“”Ahahh… aku lupa,”” ucapya sambil mengusap air matanya sendiri.

“”Aku pikir, kau akan memakai rok saat menjemputku seperti difoto. Ternyata kau seperti anak SMA yang baru pulang main dengan teman-temannya,”” tutur Jung Kook yang berhasil membuat pipi Ji Ahn memanas.

“”Aku, tidak memikirkan hal itu semalam. Aku hanya ingin tidur cepat saat tiba dirumah dan bangun pagi supaya tidak telat. Yang penting aku sudah menjemputmu, kan?””

Jung Kook hanya mengusap pucuk kepala Ji Ahn, kemudian meminta Ji Ahn untuk duduk diatas kopernya dan segera mendorong trolinya keluar dari gedung itu. Mereka bahkan tidak peduli kalau mereka sedang jadi bahan tontonan, mereka hanya tertawa satu sama lain. Mereka senang akhirnya bertemu lagi. Bahkan untuk duduk diatas koper, itu tidak pernah terbayangkan oleh Ji Ahn.

­­-END-

Yang punyawattpadmerapat yuk ke: SweetBunnyCrusher

Thank youu

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s