[FREELANCE] Wu’s Family in Action (Chapter 2A/4)

z20

Wu’s Family in Action (Chapter 2A/4)

Judul: Wu’s Family in Action

Author: Gyvece

Genre: family, comedy (gagal ?)

Rating: all ages

Length: chapter

Main Cast: Kris Wu/Wu Yi Fan, Alice Wu (OC)/Wu Mei Lan, Ailee Wu (OC)/Wu Mei Li, Anne Wu/Wu Jiao Li (OC)

Support Cast: Kris’ mom and dad, Lee Kwang Soo

Author note: Hello, everyone! So actually, FF ini ditulis pada tahun 2014, jaman EXO masih hot-hotnya sama..yah gitu lah dan album mereka yang Overdose. Ini menjelaskan kenapa lagu yang digunakan dalam FF ini berasal dari tahun 2014, termasuk juga lagu Holiday milik Henry Lau. But don’t worry, kami akan segera melanjutkan FF ini sehingga setting waktunya pada present time atau saat ini. FF ini juga sudah dipublikasikan di blog pribadi kami diWufanfics. Please anticipate! ^^

Chapter 1

***

Because the truth is, you will never find any kind of love just like what you get in home.

Even the silly ones.

***

Kwang Soo POV

Ahhh benar- benar hari yg tidak menyenangkan.  Bagaimana bisa di pagi hari yg sejuk ini, aku sudah dibebani tugas untuk mencari gadis kecil berwajah malaikat tapi berkelakuan minus itu. Jika saja dia bukan keponakanku yang paling manis, mungkin aku akan sengaja membiarkannya di palak orang jahat, atau bahkan jika aku menemukannya aku akan menyodorkannya ke pedagang daging untuk menguliti kulit putih yg tipis itu. Hmm mungkin itu sudah terlalu kejam. Tapi disini lah aku, berkeliling seluruh terminal kedatangan Incheon Airport  untuk menemukan Anne Wu. Sejujurnya, aku yakin bahwa dia sudah cukup dewasa untuk menemukan pusat informasi dan menemukan keberadaan gege dan jiejie nya yang tidak becus menjaganya itu. Tapi mengingat kelakuannya sebulan lalu, saat aku mengunjungi nya di Kanada. Dia punya kemampuan besar untuk melibatkan dirinya dalam masalah rumit. Huh, bagaimana bisa  gadis berumur 17 berkelakuan seperti anak SD?! Sudahlah daripada menggerutu, lebih baik aku mencarinya lagi.

“Samchooooon!!!”pekik seorang gadis dari arah berlawanan. Siapa itu? Wajahnya rata. Bukan, maksudku bukan rata dalam arti sebenarnya. Wajahnya rata hanya di mataku. Astaga. Aku melupakan kaca  mataku.

“Samchon!! Don’t you remember me?!“teriakannya makin terdengar jelas seiring jarak kami yang juga semakin berkurang. Aku menyipitkan mataku yang sudah sipit ini agar mataku berakomodasi secara maksimal.

“Ahhh!! Anne!” aku baru dapat melihatnya dengan jelas sekarang. Annee!!! Alasan dari pagiku yang hancur berantakan ini. Lihatlah dia, dengan senyum ceria beserta rok flare warna merah muda dilengkapi sepatu kuning menyala khas anak remaja jaman sekarang, sambil memakan ice cream green tea di tangannya. Dia begitu colorful, mirip lollipop. Membuatku ingin menjilatnya sekarang juga.

“Yaaaa!!! Anne. Kau dari mana saja heh? Kau tidak tahu betapa cemasnya Gege dan Jiejiemu hah?!” dengan sedikit berteriak aku bertanya padanya secara bertubi tubi.

“Ah.. Itu.. Aku tadi ingin membeli ice cream. Tapi si kembar tidak mau menemaniku, aku minta di temani gege tapi dia sepertinya dia ingin poop. Habis dia dengan terburu-buru ingin pergi ke toilet. Cara berjalannya juga aneh, Samchon.” Anne bercerita panjang lebar. Aku bergidik mendengar ceritanya yang terakhir. “Tapi samchoon! Berjanjilah kau tidak akan memberitahu siapapun soal tadi!! Popularitas Gege di mata gadis bisa terjun ke dasar jurang,” lanjut Anne sambil mengacungkan kelingkingnya.

“Pinky swear samchon-ah! Berikan kelingkingmu!” pinta Anne sambil mengeluarkan aegyo nya.

“Pinky swear? Ahh geurae,” reflek aku mengacungkan kelingkingku dan melingkarkannya di kelingking anak kecil pembuat onar ini.  Anne tersenyum puas.

“Baiklah, sekarang ayo kita pergi menemui Gege dan Jiejie mu.” Aku langsung menggandeng tangan kecilnya. Rasanya seperti sudah bertahun – tahun aku tidak bertemu mereka. Padahal baru satu bulan aku tidak bertemu dengn keempat bersaudara itu. Ahh, mereka memang layak untuk dirindukan.

***

Geeee!!” Anne sekali lagi berteriak. Aisshh! Teriakannya benar – benar menyakitkan telinga. Mungkin setan sejenis kuntilanak -jenis setan dari Indonesia yang kebiasaannya tertawa dengan frekuensi tinggi- akan sedikit minder jika mendengar suara Anne Wu.

“Oh God! Anne! Kau dari mana? Tidak tau kah kau kalau aku sangat cemas?! Astaga Anne Wu!” Ailee berteriak dengan wajah yang merah padam.

Soowwryyy” jawab Anne sambil menundukan kepalanya.

“Yaaaa! Apa maksudmu sowwryy hah?! Kita bisa mati kalau kau benar-benar hilang! Apa kau sengaja ingin membuat kita bertiga..” Alice yg baru saja ingin ngomel panjang lebar langsung berhenti saat melihat adik kecilnya berurai air mata. Dengan sigap Kris memeluk adik bungsu nya yang sudah menciptakan air terjun di wajah manis nya itu.

“Aku tidak bermaksud Jie…” ujar Anne yang sesenggukan di pelukan gege nya.

“Aku hanya ingin membeli ice cream. Aku bosan menunggu samchoon yang datang terlambat itu. Aku sudah ajak kalian, tapi kalian menolaknya. Aku ingin mengajak Gege, tapi pasti Gege tidak mau karena tadi kan dia sudah terburu-buru ingin poop. Ya kan, Ge?” Kris yang tadinya memeluk Anne langsung melepaskan pelukannya dan memberikan tatapan kau-ingin-mati-muda-ya kepada adiknya yang kelewat polos itu.

“Sudahlah, cukup. Jangan memarahinya lagi. Lagipula dia baik- baik saja kan? Ayo kita pergi dari sini.” Kwangsoo menuntun ke empat bersaudara itu keluar dari bandara.

***

Finallyyyy” Seru Ailee dan Alice kompak sambil membanting tubuhnya diatas kasur empuk di apartment Kwangsoo.

“Ya! Kalian berdua! Mandi dulu sana. Baru istirahat. Aku akan membeli beberapa makanan untuk kalian” dengan gaya berbicara yang to the point, Kris semakin terlihat gentle dan tampan (?)

“Okeee ge! Tapi aku boleh ikut? Aku ingin… Emm beli ice cream.”

“Bukankah baru saja kau makan ice cream Anne?” balas Kris.

“Iyaa.. Tapi aku ingin coba rasa lain sekarang”

No excuse, Anne. Kau bisa merepotkanku dan samchon. Kau tetap di rumah.” kata Kris dengan tegas tak terbantahkan.

“Lagipula Anne, kau pasti lelah kan? Sudahlah istirahat saja. Kami hanya sebentar” Kwang Soo mencoba memberi pengertian untuk Anne.

Skakmat. Anne diserang dua laki – laki setinggi 1,9 meter. Dia tak mampu mengelak lagi. Anne menghembuskan napasnya kencang sambil mengangguk lemas.

“Baiklah kami pergi.” ujar Kwang Soo.

***

Kwangsoo POV

Sebenarnya aku agak risih berjalan bersebelahan dengan Kris. Bagaimana tidak? Sedari tadi banyak sekali yeoja yang menatap kami -Kris lebih tepatnya- sambil menjerit jerit. Sangat mengganggu.

Apa sih yang mereka lihat dari Kris, huh?! Tinggi? Aku juga sama tinggi, bahkan lebih tinggi beberapa cm. Tampan? Kita ini saudara, camkan itu, wajah kami setipe. Sama- sama tampan tapi berbeda level. Jika Kris tampan dilevel paling atas, aku tampan di level yang…emm well, sedikitttt agak lumayan atas. Pesona? Ya Kris memang selalu memancarkan pesona dan aura positif. Tapi aku juga punya pesona. Sungguh. Percayalah. Tapi pesonaku hanya bisa dilihat oleh mereka yang punya mata batin. Tidak seperti Kris yang pesonanya begitu pasaran, dapat dilihat sejuta umat manusia tanpa terkecuali. Tapi yang pasti, yeoja yeoja histeris ini pasti akan mundur teratur jika mengenal Kris yang “sesungguhnya”.

***

Kris POV

Ck. Apa- apaan ini.  Aku bukan artis. Mengapa wanita – wanita ini berteriak memanggilku dengan sebutan “oppa”. Aku tak suka. Kulihat Kwang Soo samchon pun nampak tidak nyaman. Kami mempercepat langkah kami menuju dalam supermarket. Kami memilih beberapa makanan instant, beberapa minuman bersoda, snack dan tidak lupa susu coklat untuk Alice dan Ailee serta susu strawberry untuk Anne dan Aku. Lalu kami pindah ke bagian sayur, buah dan daging. Kwang Soo Samchoon mengambil daging ayam giling, 2 ekor ayam siap masak, cumi dan udang. Aku hanya diam mengikutinya sambil membawa trolly. Mengapa dia bisa berubah menjadi cekatan seperti ini? Bukankah dia orang yang paling ceroboh yang aku kenal selain diriku sendiri? Dengan cepat dia mengambil beberapa sayuran yang bahkan aku belum sempat melihat bentuk nya.

“Ya! Samchon! Bisakah kau tidak terburu-buru?”kata ku yang menyita perhatian beberapa orang disekeliling kami. Aku tidak peduli dengan tatapan mereka yang mungkin sudah tidak terpesona karena melihatku berteriak seperti tadi. Umm, atau mungkin karena aku memanggil orang yang berada disebelah ku dengan sebutan ‘Samchon’?  Kekekeke.

                “Bisakah kau tidak protes? Aku harus buru-buru. Aku harus kerja jam 2 siang nanti. Dan aku harus lembur karena jam pagi ku tersita untuk menjemput kalian dan menemani kalian sampai jam makan siang lewat,” balas Kwang Soo Samchon yang membuatku tercengang. Yeah, bagaimanapun dia pasti merasa bertanggung jawab kepadaku dan ketiga adikku ini.

                “Ah, ne. Kalau begitu ayo cepat,” kataku dengan kikuk karena merasa bersalah kepada Samchon ku yang satu ini.

                Kami pun membayar belanjaan yang lumayan menggunung ini. Lagi – lagi aku bertemu dengan yeoja–yeoja yang memanggil-manggil ku “Oppa”. Aku ini bukan Oppa mu! Batinku. Begitupun dengan penjaga kasir yang membulatkan mata nya ketika melihatku. Yaaa inilah yang namanya takdir orang tampan. Haha. Aku sedikit kasihan dengan Kwang Soo Samchon. Sedari tadi dia hanya seperti bayangan yang mengikutiku, walaupun dia berjalan di depanku. Tapi ini bukan salahku kan? Aku tidak pernah minta untuk dilahirkan dengan wajah nyaris sempurna ini. Setelah membayar semua belanjaan. Aku dan Kwang Soo Samchon masuk ke mobil dan langsung pulang untuk segera memberi makan ketiga gadis itu.

                Tak ada pembicaraan yang terjadi selama di mobil karena sebelum masuk ke mobil karena samchon menerima telpon.

                ”Yeoboseo? …Jeongmalyo?”pekik Samchoon yang membuatku reflex menoleh ke arahnya. What? Ada apa dengan Samchon? Mengapa dia membekap mulutku? Padahal aku tidak membuat suara sedikitpun. Untung saja lampu sedang menunjukan warna merah. Benar-benar ceroboh orang ini.

                “Ahh…Geurae. Aku siap membantumu Hyung.” Sebenarnya Samchon menerima telepon dari siapa sih? Serius sekali muka nya ini.

                “Telepon dari siapa, Samchon?”tanya ku.

                “Ahh, itu rekan kerja ku. Akan ku ceritakan nanti,” kata Kwang Soo Samchon sambil kembali menginjak pedal gas. Tidak sampai 10 menit, kami sudah sampai di apartment nya dan langsung naik ke lantai 7.

Sesampainya di apartment, aku dan Kwang Soo samchon kaget ketika melihat ketiga adikku tertidur di sofa. Yeah, pasti mereka lelah. Sudah setahun terakhir ini mereka tidak pernah bepergian jauh seperti ini. Mereka lebih memilih liburan di Canada dan sekitarnya saja.

“Woahh, tenang nya tempat ini ketika mereka tidur. Setidaknya telinga ku tidak akan sakit karena suara mereka yang melengking.” Kwang soo samchon membuka pembicaraan. Aku hanya membalas nya dengan senyum.

                Aku membantu Samchon membereskan belanjaan yang menggunung ini. Aku pun memperhatikan aktivitas samchoon. Apa yang akan dia lakukan setelah berbelanja sebanyak ini.

                “Ya! Apa yang kau lakukan? Mengapa kau melihatiku seperti kau sedang melihat yeoja pujaan hati mu, huh?”pekik Kwang Soo Samchon mengagetkanku. Banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan yang sejak sebulan lalu memenuhi otakku.

                “An-“ baru saja ingin ku jawab pertanyaannya, dia mulai berbicara lagi.

“Ya Hyun Kyung-i, kau ini punya ilmu sihir ya? “lanjutnya sambil sibuk memilih daun bawang.

“mwo? Musun suriya?” aku kaget dan tidak bisa mencerna kata-katanya dengan baik. “Dan, samchon, Please, jangan panggil nama Korea ku. Nama Korea ku benar-benar aneh karena kau yang memberikanku nama.”

“Aish!! Neo jinjja!! Nama mu itu bagus tau. Kenapa kau tidak menghargai pemberian nama dari ku, sih? Aku bahkan ingin mengganti namaku menjadi Lee Hyun Kyung, tau.” Kwang Soo samchoon berhenti dari kegiatannya mencuci daun bawang dan menoleh ke arahku. O-oh. Aku jadi merasa bersalah. Tapi sungguh. Nama Korea ku sungguh aneh. Apa yang ada di pikiran Lao Ma dan Appa saat itu? Membiarkan anak 6 tahun memberikan anak pertamanya sebuah nama.

“Huhh. Tidakkah kau lihat kerumunan yeoja yang tadi meneriakimu?” Kwang Soo Samchon melanjutkan pertanyaannya dan kembali melanjutkan aktivitas mencuci daun bawang. Bagus lah. Dia sudah melupakan perkataan ku tadi. Mungkin karena dia frustasi di umur nya yang ke 32 tahun ini belum dapat pacar.

“Ya, aku melihatnya. Lalu?”

“Ckckck. Anak ini. Kau! Saat disebelahmu, aku merasa seluruh ketampananku menguap atau bahkan terserap olehmu, Kris. Kau hanya menyisakan wajah ini untukku,” katanya sambil menunjuk wajah nya dengan tangannya yang sudah memegang wortel. “Jinjjaa, kau sangat egois pada Samchon mu ini,” lanjutnya

Aku hanya tertawa. “Kau bilang begitu karena iri pada wajahku saja,” balasku memanas manasi. Dia masih saja mengeluh. “Kenapa hanya kau yang di perhatikan tiap wanita?” Hanya itu pertanyaan yang di lontarkannya.

“Ah molla. Aku mau memasak aja. Kau, istirahatlah. Jangan sampai wajah tampanmu- tapi tetap sama lebih tampan aku- terlihat menyedihkan karena kelelahan,” kata Kwang Soo Samchon. “Akan kubuatkan makan siang special untuk kalian. Selagi aku masih punya waktu 2 jam sebelum berangkat kerja,” lanjut nya. Samar-samar aku mendengar dia menggerutu “Hah, percuma berwajah tampan tapi tidak punya pacar.”

Sepertinya ketika dia mengatakan makan siang special, terdengar sangat aneh di telingaku.  Aku sudah duduk di sofa ruang tamu, tetapi otakku masih belum bisa menemukan kejanggalan dari kata-kata Samchon tadi. Perkataannya mengusik hatiku. Apa ya? Apa ya? Ap-

“Mwoya?! Kau? Masak?” Segera saja aku langsung terburu-buru menuju dapur. Akhirnya aku bisa menemukan kejanggalan itu. Setahuku Samchon tidak bisa memasak sama sekali. Jangankan masak, menyalakan kompor saja dia tidak bisa!

“Ya! Kau jangan meremehkan ku seperti itu. Aku sudah belajar masak. Aku bahkan mengikuti kursus memasak tau! Demi menjaga tubuh ku agar tetap sehat dan demi dompet ku. Bisa-bisa dompetku kehilangan penghuni nya kalau aku makan di cafe atau restaurant terus,” jawab Kwang Soo Samchon dengan nada yg sedikit tinggi. Dia berbalik menghadapku sambil mengacungkan sendok sup.

Aku pun berusaha menahan tawa begitu melihatnya. Dia sudah mengenakan apron dengan motif kulit sapi. Ada apa dengannya? Yang benar saja! Kulit sapi?!

“Okay. Thanks Kwangie Samchon.”Kataku sambil melemparkan aegyo ku. Hanya itu yang mampu kulakukan untuk menutupi tawaku yang hampir meledak.

“Omo! Kau menyeramkan sekali Kris.” Kwang soo samchon memasang wajah O__O nya.

                                                                                ***

Aku pun duduk disebelah Ailee yang tertidur pulas. Baru saja aku memejamkan mataku, tiba-tiba aku teringat satu hal penting yang belum aku periksa. Ya! Handphone Anne! Aku harus melihat nya, jangan sampai dia memberi kabar kepada Lao Ma dan Appa kalau kami berada di Korea. Tekadang dia suka lepas control. Aku pun mengambil handphone Anne perlahan karena dia menggenggamnya. Aku menekan keylock nya dan what?! Password? Biasanya dia memakai lock pattern. Kenapa sekarang password? Aku membangunkan Anne dengan sedikit tergesa.

“Anne, Anne. Wake up, wake up!” Anne tidak bergeming. Aku langsung menggelitik kaki nya dan…YA! Muka ku yang sempurna ini terkena tendangannya.

“Wae? Aku lelah, Ge. Jangan ganggu tidurku,” Kata anne dengan mata tertutup.

“Apa password handphone mu?” tanya ku langsung.

“Shutup! No space.”

Apa? Dia menyuruhku diam? “Hurry! Apa password mu?” tanyaku sekali lagi.

“Geeeeee! Sudah kubilang shutup!” kata nya lagi. Ada apa dengan anak ini? Apa dia marah karena aku tidak mengizinkannya makan ice cream lagi? Oke sekali lagi.

“Anne, gege boleh tau password handphone mu? Gege akan ajak kau ke supermarket untuk membeli ice cream sebanyak yang kau mau? Eotthae?” tanyaku dengan sangat lembut.

“Gege! Kau itu tampan, kenapa sih kau tidak pernah menggunakan otak mu? Sudah ku bilang shutup! Apa kau tidak dengar? Apa pendengaran mu masih terganggu karena penerbangan dari Canada ke Korea?” bentaknya lagi. Aigoo! Apa-apaan ini? Kenapa dia membentakku lagi? Untung saja si kembar tidak bangun mendengar teriakannya.

“Ya! Kris! Kenapa kau membangunkan dia? Biarkan dia tidur dulu!” teriak Samchon dari dapur.

“Ne. Mian samchon. Aku hanya meminjam handphone nya,” balasku. “Anne Wu. Wu Jiao Li. Lee Hye Mi. Gege tanya sekali lagi, apa password nya?” Aku soda melontarkan pertanyaan ini empat kali.

“Gege! Oppa! Kris Wu! Wu Yi Fan! LEE HYUN KYUNG! Sudah ku bilang, shutup! Password nya shutup! With no space,” jawab nya dengan wajah yang menahan kesal sambil menyebutkan semua namaku dengan penekanan saat dia mengucapkan nama Korea ku.

Aku mengerti sekarang. “YA! Kau ini! Password macam apa itu, huh? Sekali lagi, jangan sebut nama Korea ku lagi. Atau, kau tidak akan mendapatkan uang jajan selama disini. Arra?” Aku menghujani nya dengan kekesalanku. Wajah kesal adik bungsu ku ini pun perlahan berubah menjadi murung.

“Arra,” jawabnya singkat.

“Anne? Apa kau sedang mengerjaiku?” Aku sudah tiga kali memasukkan kata shutup, tapi selalu incorrect.

“Hah? Apa maksudmu, Ge? Password nya itu SHUTUP! Tidakkah kau mengerti ekspresi wajahku? Dari caraku mengucapkan shut up? Ada tanda seru dibelakang kata shutup!” dengan wajah bersungut-sungut Anne menjelaskan padaku.

Untuk sepersekian detik aku hanya bisa tercengang. Aku merasa seperti orang bodoh di depan adikku yang paling kecil. Tapi itu bukan sepenuhnya kesalahanku karena password milik Anne itu tidak normal. “Kau. Tidak. Akan. Mendapat. Uang. Jajan. Selama. Disini. Anne Wu.” Aku mengatakannya dengan penekanan. Aku benar-benar butuh udara segar sekarang.

“Apa yang akan Gege lakukan dengan handphone ku?” tanya nya ketika aku sudah berhasil membuka handphonenya.

“Aku hanya memastikan kalau kau tidak menghubungi Lao Ma atau Appa,” jawabku dingin. Aku terkekeh ketika melirik wajah nya yang mengerucut karena kesal.

“O! Aku tidak sebodoh itu Mr. Wu Yi Fan,” katanya tak kalah dingin.

“Gege hanya bercanda Anne. Jangan marah, hahahaha. Lagipula, mengapa password mu membingunkan hah? It’s not normal,” tanya ku sambil melihat chat dan call nya. Dia memang pintar. Hahaha.

“It’s normally insane, you know? Ah Ge, tadi Gege bilang kalau aku kasih password nya, kau akan mengajakku ke supermarket dan membelikan ku ice cream sebanyak yang ku mau kan?” Tanyanya dengan wajah datar tanpa ekspresi.

“Emm, ah itu. Emm, itu supaya kau mau mengatakan password mu dengan benar. Hehehe.” Bagaimana caranya? Dia ingat saja janji ku yang itu. Aneh. Biasanya dia akan ngoceh panjang lebar jika aku menyatakan alasan yg tidak masuk akal, tapi dia diam saja. Aku pun menaikan mata ku dan melihat Anne yang tidak duduk lagi, dia tiduran dan menaikan selimut yang dibawa dari kamar sampai menutupi wajah nya. Apa dia marah?

“Anne? Jiao Li?”kataku sambil menarik selimutnya. Ahh, sudah pergi ke alam mimpi lagi rupanya. Aku merubah posisi duduk ku. Ku jadikan kaki ku sebagai tumpuan untuk kepala Anne.

***

                “Anne. Ppali ireona. Anne. Gummy.” Ailee membangunkan Anne.

                “Aku masih ngantuk dan cape Lao Ma,” jawab Anne tanpa membuka mata sedikitpun.

                “Ya! Anne, aku ini Ailee jie. Kajja, cepat bangun. Kita makan siang. Uri samchon masak banyak lhoooo. Kkkkk ~”

                Omo! Ailee jie? Batin Anne berbicara. “Oh, ne. Mian jie, ku pikir kita sedang bersama Lao Ma.” kata Anne dengan sedikit kikuk. Dia pun melihat ke arah meja makan, Alice sedang membantu Kwangsoo menyiapkan makanannya. Anne menurunkan selimutnya dan terkejut ketika melihat wajahnya Kris  yang tampak segar seperti jeruk lemon.

                “Sudah puas tidurnya, Princess Anne?”tanya Kris yang sukses mengaggetkan Anne.

                “Aigooo! Ge! Bisakah tidak mengaggetkanku?” seru Anne.

                “Siapa yang mengaggetkanmu, hah? Ayo bangun, kita makan.  Gege sudah lapar stadium akhir nih,” jawab Kris dengan santai.

Anne pun bangun dan mengumpulkan kesadarannya. Kris, Alice, Ailee dan Kwangsoo pun dengan sabar menunggu Anne di meja makan. Anne segera cuci muka dan duduk bersama dengan mereka.

***

                “Samchon, ini benar kau yang memasaknya kan?“ tanya Alice tidak percaya. Ini sudah kesekian kalinya Alice bertanya.

                “Hmmm, harus berapa kali aku menjawab pertanyaan itu Alice Wu?“ Jawab Kwangsoo dengan malas.

             Alice tertawa. “Samchon, sepertinya aku harus belajar masak dari mu nih. Makanan ini seperti dimasak oleh koki profesional!” Puji Alice sambil menggoda Kwang Soo. Kwang Soo yang dipuji-puji sedari tadi oleh keempat keponakannya hanya bisa senyum-senyum sendiri dan berusaha mengontrol lubang hidungnya yang semakin membesar karena perasaan bangga akan dirinya.

“Samchon! It’s really delicious!!“ Kata Anne. Anne juga sudah mengatakan itu sebanyak 4 kali.

“Berapa lama Samchon belajar masak?“ Tanya Kris.

“Masakan Samchon sama seperti masakan Lao Ma. Tapi tetap lebih enak masakan Lao Ma sih. Kkkkk.“ sambung Ailee

“YAA! Kalian ini berisik sekali. Habiskan makanan kalian. Aku tau masakan ku enak. Tak usah terlalu memuji ku. Hahahaha, “ Jawab Kwangsoo yang membuat napsu makan keempat keponakannya itu menurun 15 persen.

“Emmm, by the way. Thank you so much Samchon,” kata Anne yang diikuti oleh Alice, Ailee dan tentunya Kris.

Mereka makan dengan lahap. Semua masakan Kwangsoo sudah masuk ke dalam perut kosong mereka dengan indah. Makan siang terindah bagi Kwangsoo. Makan siang yang paling ia nantikan. Makan siang bersama orang yang dia sayang dan menyayanginya. Kwangsoo hanya bisa tersenyum puas melihat Kris dan Alice rebutan daging ayam terakhir yang ada di piring.

“YA! Alice! Berikan pada Gege ayam itu!“ Kata Kris sambil mengangkat garpunya. Sedangkan yang ditunjuk hanya menjulurkan lidahnya. Keributan ini berakhir dengan Kris dan Alice beradu gunting batu kertas yang akhirnya dimenangkan oleh Alice.

***

 

                Kwangsoo’s POV

                “Emmm, by the way. Thank you so much Samchon,“ kata Anne yang diikuti oleh Alice, Ailee dan juga Kris.

Mereka makan dengan lahap. Semua masakanku akhirnya masuk ke dalam perut kosong mereka dengan indah. Makan siang terindah bagiku. Makan siang yang paling aku nantikan. Makan siang bersama orang yang aku sayang dan menyayangiku. Aku hanya bisa tersenyum puas melihat Kris dan Alice rebutan daging ayam terakhir yang ada di piring.

“YA! Alice! Berikan pada Gege ayam itu!“ Kata Kris sambil mengangkat garpunya. Sedangkan yang ditunjuk hanya menjulurkan lidahnya. Keributan ini berakhir dengan Kris dan Alice beradu gunting batu kertas yang akhirnya dimenangkan oleh Alice.

Aku melihat jam diponselku. OMO! Aku hanya punya waktu 30 menit untuk sampai dikantor.

      “Guys, aku harus ke kantor sekarang. Aku akan segera pulang. Akan ku usahakan untuk tidak mengambil lembur hari ini. Kris, jaga adik-adikmu. Alice, Ailee, Anne, kalian harus dengarkan gege kalian.“Kataku kepada mereka berempat.

“Samchon-ah Fighting!!!“Kata mereka berempat sambil mengepalkan tangan mereka tinggi-tinggi.

      “Fighting!!“ Jawabku tak kalah semangatnya dengan mereka. Akupun meninggalkan mereka di apartment.

***

       Sesampainya aku dikantor, aku langsung menuju meja kerja ku. Tumpukan dokumen yang harus aku back up telah menggunung dimejaku. Aku harus menyelesaikan nya dengan cepat. Aku sudah berjanji tidak akan mengambil lembur hari ini.

Jariku mulai menari diatas keyboard komputer. Dokumen yang menggunung itupun satu per satu mulai menghilang dari hadapanku. Dokumen yang berisikan surat perjanjian dengan beberapa kontraktor yang akan bekerja sama dengan perusahaan ini. Perusahaan tempatku bekerja, bergerak dibidang properti. Ku lihat jarum jam sudah bertengger diangka 4. Aku langsung mempercepat pekerjaanku. Tiba – tiba telpon dimejaku berbunyi.

“Yeoboseo. Dengan Lee Kwang Soo.“ Aku menyapa nya dengan sopan.

                “Ke ruanganku sekarang juga, Tuan Lee Kwang Soo,“ kata seseorang diseberang sana yang ku ketahui sebagai Presdir diperusahaan ini.

                “Ne, Sajangnim,“ jawabku dengan lugas. Aku segera pergi keruangan Presdir Lee Yong Hwa. Aku berharap ini bukan sesuatu yang buruk. Aku mengetuk pintu nya dan masuk setelah mendapat izin dari dalam.

                “Apa ada yang harus saya lakukan, Sajangnim?“ Tanyaku dengan berhati-hati.

                “Ayolah Kwangie, jangan seformal itu denganku. Aku ini Hyung mu. Apa kau tidak ingat? Kita ini satu darah Kwangie.“ Lee Yong Hwa. Dia adalah kakak kandung ku yang juga pemimpinku. Sepertinya harapanku tentang sesuatu yang baik akan sirna. Aku merasa aneh dengan sikapnya.

                “Ada apa, hy…..hyung?“ Jujur saja, aku sedikit kaku memanggilnya hyung meskipun dia hyung kandungku.

                “Hari ini kau tidak perlu lembur. Lagipula pekerjaan mu hampir selesai kan? Berikan sisa dokumen yang belum kau selesaikan kepada sekertarisku, setelah itu kau boleh pulang,“ katanya. Aku masih sibuk mencerna kalimat-kalimat yang terucap dari mulut nya.

                “Maksudmu, Hyung?“Tanyaku.

                “Kau boleh pulang. Aku tahu kau lelah. Sudah 3 hari ini kau lembur. Dan tadi kau izin masuk setelah jam istirahat. Pasti kau sangat lelah, Kwangie,“katanya lagi. Dan aku masih bingung dengan perkataannya.

                “Aku tak ingin melihat namdongsaeng ku ini lelah dan sakit. Aku hanya ingin melihat kau sehat Kwangie,“ lanjutnya lagi. Kesabaranku mulai menipis.

                “Hyung, katakan saja apa mau mu. Tak perlu buang-buang waktu seperti ini!“Kata ku dengan sedikit membentak. Dan tadi dia bilang apa? Namdongsaeng? Apa dia sudah gila? Sejak kapan dia menganggapku namdongsaeng nya?

                “Kwangie, pulanglah. Aku tau kau lelah. Hanya itu saja. Tunggu, aku lupa mengatakan sesuatu,” katanya sambil mengusap dagu nya.

“Jangan lupa bereskan barang-barang di meja kerja mu. Aku sudah mendapatkan penggantimu. Mulai besok, kau tak perlu repot datang kesini lagi. Arra?“ Lanjutnya dengan wajah yang licik dan senyum penuh kemenangan. Sudah ku duga, pasti ini sesuatu yang buruk. Apa alasan dia memecatku?

“Baiklah, aku mengerti. Terima kasih, sa.. Hyung,” kataku yang langsung membalikan badan dan keluar dari ruangan itu. Ruangan yang seharusnya menjadi tempat kerjaku.

***

                Aku membereskan semua barang-barang ku dan bergegas pulang. Lelah? Ya, aku memang lelah. Berat meninggalkan perusahaan ini? Ya, sangat berat. Aku tidak mengerti mengapa jalan hidup ku seperti ini. Yang aku mengerti hanyalah hidup ini hanya perlu dijalani. Seperti yang Appa ku bilang sebelum dia meninggalkan dunia ini “Kwangsoo, I know that there’s some people who hate you. Either your siblings or friends. But your life must go on. Just go on. Keep your head up and one thing. You don’t have forever in your life, you only have each other. Be true to yourself. Be kind to your life. Saranghae, Kwangie.

***

                Author’s POV

                Sementara itu, di apartment Kwangsoo, Kris tidak bisa memejamkan matanya setelah makan siang. Sedangkan para gummies telah kembali ke alam mimpi mereka masing–masing. Kris hanya berusaha menikmati lelah yang melanda tubuhnya. Sesekali ia mengecek email yang masuk, entah dari client atau dari Mr. Cassidy.

                Kris’ POV

                Hmmmm, aku tidak bisa memejamkan mataku setelah makan siang tadi. Padahal aku berniat untuk istirahat sebelum nanti malam mengajak gummies dan samchon berkeliling untuk makan malam. Aku benar – benar bosan. Gummies ku telah kembali ke alam mimpi mereka. Apa yang harus aku lakukan lagi? Nonton TV? Aku tidak tertarik dengan acara yang disiarkan. Mengecek email? Sudah berkali – kali aku mengeceknya dan membalasnya. Mungkin ini pembalasan yang harus aku terima karena waktu itu aku meninggalkan gummies ku dikantor selama berjam – jam. Jadi ini yang namanya bosan akut, perasaan hampir mati kebosanan dan lain-lain yang berhubungan dengan bosan? Jawaban dari semua pertanyaan ku pastinya adalah benar kalau aku menanyakan ini kepada Anne.

                Saat aku sedang menikmati kebosananku, seorang dari tiga gummies ku duduk disebelahku. Hati ku mengatakan gummies itu adalah Anne. Ku tengok kan kepala ku ke kiri dan benar saja, Anne duduk dengan wajah yang sangat lelah. Hahaha. Aku hanya menahan tawa setiap melihat Anne bangun tidur. Wajahnya selalu menunjukan kepolosan.

                “Ge, kau sedang apa?” tanya Anne.

                “Kau tidak lihat kalau Gege sedang duduk?” Aku tidak menjawab pertanyaan nya. Aku tahu yang Anne maksud adalah sedang apa aku duduk disini dan mengapa aku tidak tidur. Karena dia selalu tahu kalau aku sedang lelah, pasti aku akan tidur seperti beruang yang sedang hibernasi.

                “YA! Aku lihat, maksudku kenapa Gege tidak tidur? Kau tidak lelah, Ge?” tanyanya lagi.

                “Kau bertanya sedang apa, bukan kenapa gege tidak tidur, Anne. Hahahaha.” Aku menertawai tingkah konyol nya. Anne menatapku dengan tatapan yang bingung. Tatapan itu membuat wajah lucunya terlihat bodoh.

                “Anne, Gege tahu kalau wajah gege ini tampan. Kau tidak perlu menatap gege seperti itu. Kau kan bertemu setiap hari dengan wajah tampan ini. Kekekekeke,”.kataku sambil menertawakan perubahan ekspresi Anne.

                “Aigooo. Mimpi apa aku ini? Cih, percaya diri sekali kau ge?! Aku bosan melihat wajah mu. Camkan itu ge! Huuhh!”dengus nya. Anne Wu! Kenapa kau sangat lucu saat marah, huh? Lao Ma dan Appa memang hebat bisa mempunyai anak-anak sekeren kami. Hahahaha. Well, bosan ku mulai terobati oleh gummy ini.

                “Kau bosan melihat wajah tampanku ini? Berarti kau bosan melihat wajahmu juga dong, Anne Wu? Hahahaha,” kataku sambil tertawa puas. Anne Wu memang mirip dengan ku. Semua gummies ku memiliki garis wajah yang sama denganku. Anne langsung memegang pipinya, seakan baru tersadar dengan apa yang telah dia ucapkan.

                “Baiklah. Kau menang kali ini, Ge. Hmmm. Salah. Tapi kau memang selalu menang kalau kita sedang berdebat konyol ini,” kata Anne dengan pasrah.

                “Kau yang memulai nya. Kau juga yang harus mengakhiri debat konyol ini, Anne. Hahahaha,” balas ku tanpa mengalihkan pandangan ku kepada Anne. Entah kenapa, aku merasa kalau wejangan dari Lao Ma dan Appa untuk menjaga dan menyayangi ketiga adikku adalah hal yang paling indah dan paling menyenangkan yang pernah aku miliki.

                “Ya ya ya. Aku kalah dan aku mengakhiri debat konyol ini,” kata Anne dengan pasrah (lagi).

                “Jiao Li-ah, ayo ikut Gege,” ajakku yang tiba-tiba mempunyai ide untuk mengajaknya beli ice cream. Berhubung sejak di Canada kemarin sampai sekarang, aku selalu membuatnya moodnya hancur. Aku menarik nya keluar dari apartment.

                “YA! Gege pabo! Aku belum cuci muka ge. Gege, jebal berikan aku waktu untuk cuci muka. Sebentar sajaaaaaaa,” rengeknya.

                “Muka mu ini, bukan muka gege. Kajja, sebelum Alice dan Ailee bangun.” Aku menarik pergelangan mungil Anne menuju elevator. Aku menekan tombol yang bertuliskan GF.

                Kami pun sampai di minimarket yang berada dibawah apartment. Aku langsung mengajak Anne ke bagian ice cream.

                “Kau mau ice cream apa Anne? Ambil saja yang kau suka,” kataku sambil mengambil keranjang yang berada tidak jauh dari tempat ice cream.

                “Waah Ge! Kau serius? Ah, pasti kau sedang mengerjaiku lagi, eoh?” selidik Anne.

                “Anne, ku bilang ambil yang kau suka. Tadi Gege sudah janji membelikan mu ice cream yang kau mau kalau kau memberikan password handphone mu kan?” jelas ku. Well, memang salahku karena aku hanya mengerjainya tadi sehingga dia tidak percaya kalau aku akan benar-benar membelikannya.

                “Aaaah! Thank you so much Geeee!”jeritnya sambil memelukku. “Woah, apa ini ice cream kacang merah, ge? Omo! Apa itu neapolitan? Rasa baru kah itu, Ge?”tanya Anne sambil memasukkan 5 bungkus ice cream kacang merah, 2 cup besar ice cream double cookies.

                “Itu gabungan rasa strawberry, vanilla dan coklat Anne. Kau mau coba? Enak lho,” jelasku.

                “Jinjja?” tanya Anne dengan ragu. Aku mengangguk dengan pasti untuk meyakinkan Anne. Dan akhirnya Anne memasukan 2 cup sedang ice cream neapolitan. Keranjang ini telah penuh dengan 4 cup ice cream dan 5 bungkus ice cream stick.

                “Kau mau apa lagi Anne? Take some biscuits. OH! Take some Pocky for your midnight meal.” Aku mengingatkan Anne. Anne mempunyai meal time sendiri yaitu, sebelum tidur. Kebiasaan yang aneh dan lumayan buruk. “Take some rice crackers for Alice and Ailee too,” lanjutku. Anne berjalan didepanku  dan mengambil makanan – makanan yang aku sebutkan.

                “Mission accomplish, roger!” katanya sambil melakukan hormat yang sukses membuatku tertawa karena tingkah nya.

                “Sudah cukup belanja nya, Nona Anne?” aku bertanya seolah-olah Anne adalah majikan ku.

                “Ne, sudah cukup ahjussi.” Anne membalas tingkah konyol ini. Aku merangkul nya dan membayar belanjaan kami.

                Sesampainya di apartment, Anne langsung memasukan ice cream – ice cream nya kedalam freezer. Dia hanya menyisakan 1 cup ice cream neapolitan dan membawanya ke sofa. Aku senang ketika melihatnya ceria seperti ini. Mengingatkanku akan Lao Ma yang juga ceria.

                “Ah Ge! Kau hebat. Ice cream ini enak sekali. Kau mau, Ge?” tawar nya sambil memajukan sesendok ice cream ke depan mulutku.

                “Gege kan memang tidak pernah salah pilih. Hahaha. Thank you,” kata ku setelah menerima sesuap ice cream dari Anne.

                “Anne, kau tau?” Aku menggantung pertanyaan ku. Aku memang sengaja. Aku berpikir, apa Anne akan mengerti pertanyaan ku atau tidak.

                “Tidak. Kau belum memberitahu nya kan?” kata Anne dengan polos nya sambil melahap ice cream nya.

                “Hahaha, Anne, Anne. Kau ini. Kau harus tahu bahwa Gege dan Appa adalah namja paling beruntung karena diberi kesempatan untuk menyayangi dan memiliki kau, Alice, Ailee dan tentunya Lao Ma. Kalian membuat hidupku sempurna dan berwarna. Dulu, saat Gege kuliah di Korea adalah saat paling berat karena tidak bisa bertemu dengan kalian dalam waktu yang lama. Bertemu hanya melalui video call. Benar – benar 4 tahun yang penuh perjuangan,” kata ku dengan mudahnya. Sedangkan Anne? Bisa ditebak kalau dia akan bingung mencerna kalimat ku barusan.

***

                Anne mendengarkan kalimat demi kalimat yang meluncur dari mulut Kris dengan seksama. Dia menolehkan pandangannya dan manik matanya bertemu dengan manik mata Alice dan Ailee yang juga mendengar ucapan Kris. Kris tidak sadar kalau gummies lainnya juga mendengar perkataannya.

         “Hahaha, Anne, Anne. Kau ini. Kau harus tahu bahwa Gege dan Appa, adalah namja paling beruntung karena diberi kesempatan untuk menyayangi dan memiliki kau, Alice, Ailee dan tentunya Lao Ma. Kalian membuat hidupku sempurna dan berwarna. Dulu, saat gege kuliah di Korea adalah saat paling berat karena tidak bisa bertemu dengan kalian dalam waktu yang lama. Bertemu hanya melalui video call. Benar – benar 4 tahun yang penuh perjuangan,” kata Kris sambil tersenyum samar.

                “Tunggu… Berwarna? Dengan segala kecerobohan kami yang suka membuat mu malu?” tanya Anne.

                “Dengan kenakalan kami?” Alice membuka suara. Kris menoleh ke belakang dan mendapati Alice dan Ailee masih berdiri. Kris menepuk sofa yang ada disebelahnya, menandakan mereka harus duduk disebelah Kris. Kemudian Alice mengambil tempat di sebelah kiri Kris dan Ailee disebelah kiri Alice. Sedangkan Anne sudah duduk disebelah kanan Kris.

                “Dengan semua kemanjaan kami?” Ailee pun turut serta dalam pembicaraan.

                “Ya, dengan semua itu. Dengan semua itu, hidupku menjadi lebih berwarna. Sejak kecil, kita sudah sering ditinggal Lao Ma dan Appa. Saat Gege berada di Senior High School, Lao Ma dan Appa memberikan Gege sebuah wejangan. Mereka berpesan kalau gege harus bisa menjaga kalian, menyayangi kalian dan memperlakukan kalian sebagaimana yang Lao Ma dan Appa lakukan. Karena pada saat itu, Appa baru saja membuka cabang Scorpion di Paris dan tinggal disana selama 6 bulan. Tanpa harus diberikan wejangan seperti itu, Gege pasti akan melakukannya. There’s no reason not to love you. I love sooo damn much Al, Ai, Anne,” jelas Kris panjang lebar membuat ketiga adiknya terharu. Sangat terharu. Seorang Kris yang dikenal dingin dan yah, memiliki gengsi besar bisa mengatakan hal semanis ini.

                “Well, kalau begitu aku, Lao Ma dan mungkin Alice dan Ailee jie adalah yeoja paling beruntung karena memiliki kau dan Appa. Walaupun kau sering membully ku, tapi aku senang. Walaupun kau sering membuat ku terlambat masuk sekolah, kau sering terlambat menjemputku dari tempat les, tapi kau tidak pernah lupa mengantar jemput ku. Ge. Kau..sangat berharga untukku,” kata Anne yang juga tidak kalah mengharukan.

                “Yup. Yang dikatakan Anne benar. Dan aku sangat bangga memiliki Gege yang mau berusaha keras melawan kecerobohannya saat bekerja,” kata Alice singkat, padat dan jelas.

                “Kau tau, Ge? Kami sangat bangga ketika melihat nama mu terpampang di nameplate yang harusnya bertuliskan nama Appa. Kami tahu perjuanganmu untuk mendapatkan jabatan CEO itu. Mulai dari Appa yang menjadikanmu karyawan biasa selama beberapa tahun, sampai akhirnya kau telah dipercaya menjadi the new Scorpion’s CEO. Awalnya kami sedih karena kami takut Gege akan menjadi sibuk seperti Appa dan jarang bersama kami. Ketika Gege menjadi assistant Appa saja, kau sudah sibuk. Tapi kami sadar, kau harus melakukan pekerjaanmu. Bagaimanapun, kau adalah orang yang paling diharapkan untuk meneruskan Scorpion. Sampai akhirnya kami sadar kalau kami memiliki sebuah perasaan yang sangat besar yaitu bangga. Membayangkan betapa kerennya Gege saat memimpin rapat, menghadiri jamuan makan siang dan makan malam bersama beberapa rekan bisnis. That’s really cool. And it’s really your style, Ge!” kata Ailee.

                “Aigooo. Gummiesku ini sudah pintar sekali merangkai kata-kata, eoh? Setiap bersama kalian, Gege merasakan hidup gege sudah lengkap. Melakukan hal-hal konyol, mencoba sesuatu yang baru dan kekonyolan lainnya. Sempurna,” kata Kris yang tidak sadar kalau wajah ketiga adiknya berubah menjadi sendu. Ada apa dengan mereka?

                “Tapi, Ge, bukannya aku tidak menerima perlakuan mu yang begitu special kepada kami. Ge… coba kau tilik hati mu yang terdalam. Didalam hatimu ada ruang kosong yang sebenarnya kau sisakan untuk seorang yeoja yang pantas untuk mu. Yang pantas bersanding dengan dirimu ketika mengucapkan janji setia untuk selamanya. Aku yakin, Lao Ma dan Appa sangat menunggu waktu itu untuk datang. Hanya saja, Lao Ma dan Appa tidak menyatakan langsung kepada Gege karena mereka takut akan menyinggung perasaanmu,” jelas Anne yang entah setan darimana datang merasuk otak nya untuk berkata sebijak dan sedewasa ini.

                “Benar, Ge. Yeoja yang mampu menerima segala kecerobohanmu, segala kebiasaan buruk mu. Aku yakin seratus persen, yeoja itu harus memiliki hati yang sangaaaaaaaat sabar dalam menghadapimu Ge,” lanjut Ailee sambil sedikit tertawa.

                “Hmmm, yang pasti yeoja itu harus bisa melewati serangkaian test yang kami berikan. A.. Ani. Maksudku, yang mungkin kami berikan. Kita kan tidak bisa membiarkan kau bersanding dengan sembarang yeoja,” kata Alice yang membuat Kris tertawa.

                “Arraseo. Arraseo. Tapi tidak untuk sekarang. Sekarang adalah waktu yang harus dinikmati bersama kalian. Kalau sudah saatnya Tuhan menghendaki gege untuk memulai kehidupan, yah mau bagaimana lagi?” kata Kris sambil tertawa.

                “Ge… tapi jangan terlalu buru-buru ya?” dengan takut-takut, Anne bertanya. Pertanyaannya membuat Alice dan Ailee  membulatkan kedua bola matanya. Mereka tidak bisa membayangkan hidup tanpa seorang Wu Yi Fan, sosok kakak laki-laki terbaik yang pernah ada.  Satu sosok yang bisa menjadi ayah bahkan ibu bagi Alice, Ailee dan Anne.

                Kris tertawa begitu mendengar pertanyaan Anne. “Ya ampun, Anne Wu. Pacar saja Gege tidak punya,” jawab Kris sambil tertawa semakin kencang. Mendengar jawaban Kris, ketiga Gummies ikut tertawa.

                Kris kemudian berniat memeluk ketiga adiknya tapi ia dikejutkan oleh pelukan erat dari Alice. Alice yang biasanya canggung untuk memeluk orang, kali ini dia tanpa ragu memeluk Kris.  Membuat Kris, Ailee dan Anne tercengang.

“Ya! Jie! Kau merebut jatah pelukanku!” Anne protes, tapi tangannya dengan cepat memeluk Kris diikuti oleh Ailee. Sementara Kris kewalahan membalas pelukan ketiga adiknya.

                                                                                                ***

Alice’s POV

                Semua pembicaraan ini membuat perasaanku campur aduk. Jika boleh aku menciptakan satu kata baru untuk perasaan ini, aku akan melakukannya. Antara terharu, bahagia dan… Sedih?

                Aku tidak menyangka Gege dapat mengatakan hal seperti itu. Aku tidak menyangka arti kehadiran kami dalam hidup Gege sespesial itu. Padahal kami terkadang menjengkelkan, terkadang membuat Gege pusing, membuat Gege marah. Tapi yang pasti, arti Gege dalam hidupku sangat penting. Tidak ada yang bisa menggantikan posisi Gege di hidupku. Dan aku yakin, begitupun arti Gege dalam hati Ailee dan Anne.

Sempat aku berpikir kalau Gege tidak pernah menganggap kami sespecial itu. Terlebih aku. Karena aku pernah melakukan suatu kesalahan bodoh, yang membuat Gege, Lao Ma dan Appa marah besar kepadaku.

#flashback

Canada, 6 years ago.

“Nah, bagaimana? Hari ini ada yang bisa pulang cepat? Karena Anne kan hari ini pulang jam 12,” Gege bertanya kepada kami sambil mengoleskan selai strawberry kesukaannya diatas selembar roti. Pagi ini kami sarapan berempat, tanpa Lao Ma dan Appa. Mereka kemarin pagi take off menuju Paris untuk mengecek cabang Scorpion’s Corporation yang baru berdiri 6 bulan yang lalu. Yah, bukan sesuatu yang asing buat ku. Maksudku, sarapan tidak bersama dengan kedua orang tuaku.

“Maaf, Ge, Anne. Aku tidak bisa. Aku pulang sekolah pukul 1 siang, dan aku sudah ada janji dengan guru pianoku pukul 2,” kata Aileee dengan wajah bersalah. Bukan salahnya juga sih. Dia memang selalu les piano setiap hari Jumat pukul 2 siang. Sudah jadwalnya.

Berarti tinggal aku. Aku menggedikan bahu kemudian berkata, “Aku free. Aku akan menjaga Anne, Ge. Gege tenang saja. Anne, nanti Jiejie akan pulang sekolah pukul 1 siang. Sampai rumah tidak sampai jam setengah 2, kok. Tidak apa-apa kan sama Ahjumma dulu?”

Anne menggeleng sambil tersenyum manis. “Tidak apa-apa, Jie. Jiejie selesaikan sekolah Jie dulu,” kata nya. Tentu. Tentu tidak apa-apa. Hong Ahjumma sudah bersama kami selama 14 tahun- semenjak aku dan Ailee lahir. Kemudian Hong Ahjumma membantu Lao Ma mengurus Anne dari bayi hingga sekarang. Saat ini Anne sudah berusia 10 tahun.

“Oke,” kataku membalas Anne sambil menyuapkan potongan roti berisi selai coklat kedalam mulutku. Kulihat Gege tersenyum kemudian berkata “Baiklah. Kalau begitu beres. I’m so sorry, gummies. I can’t take care of you all today until well, about 6 pm. Aku harus sekolah sampai jam 2 siang kemudian ada latihan basket dari jam 3 sampai jam 5.”

Mendengar itu semua, Aku, Ailee dan Anne mengangguk. Tak apa, Ge. Kami senang melihatmu bermain basket.

Memang begini peraturan di keluarga kami. Yang lebih tua harus menjaga yang lebih kecil. Tanggung jawab. Kris Ge bertanggung jawab terhadap Aku, Ailee dan Anne. Aku bertanggung jawab terhadap Ailee (karena aku lahir 10 menit sebelum Ailee. Jadi tetap saja aku adalah kakaknya) dan Anne. Sedangkan Ailee bertanggung jawab terhadap Anne. Tapi sebenarnya itu semua sebenarnya bukan apa-apa karena kami berempat saling menyayangi dan memperhatikan satu sama lain.

**********

“Aku pulaaang,” kataku sambil melepas sepatu sekolahku kemudian meletakannya di rak sepatu.

 

Tidak ada sautan. Hmm, kemana Anne dan Hong Ahjumma?

 

“And I was like, WOAH!…” Samar-samar aku mendengar suara Anne. Sepertinya berasal dari dapur. Mengikuti insting pendengaranku, aku berjalan menuju dapur. Benar saja, Anne dan Hong Ahjumma ada di dapur.

 

“Oh, wasseo. Welcome home,” sapa Hong Ahjumma ramah kemudian beranjak menuangkan air kedalam gelas. “For you,” katanya lagi.

 

“Ah, Alice Jie sudah pulang!” Anne menyapaku sambil tersenyum riang.

 

“Hi, Anne. How’s your day?” Tanyaku kemudian duduk di salah satu kursi dan minum air yang tadi diberikan Nanny. Tak lupa aku mengucapkan terima kasih kepada Hong Ahjumma.

 

“Good! How about you?” Tanyanya balik.

 

“Good. So what story did you tell to Ahjumma? Can you tell it to Jiejie too? Sepertinya seru sekali,” kataku.

 

Dan Anne pun berceloteh riang tentang temannya yang membawa hamster peliharaannya-yang bernama Jasper (ya Tuhan hamster bernama Jasper!) ke sekolah dan berakhir dengan teguran dari Kepala Sekolah plus orang tua nya dipanggil menghadap si Kepala Sekolah.

 

“Oh iya. Hari ini Ahjumma mau pergi belanja. Ada beberapa bahan makanan dan keperluan rumah tangga yang habis. Kalian mau ikut?” Tanya Hong Ahjumma.

 

“Aku terserah Anne,” kataku ringan.

 

“Umm.. Bagaimana ya?” Anne terlihat berpikir. Aku jadi teringat pada Gege. Setiap berpikir, wajahnya pasti akan seperti ini. Dahi mengerut dan mata menyipit kemudian mulutnya sedikit dikerutkan (?). “Aku ingin di rumah saja bersama Al Jie. Bagaimana? Boleh kan?”

 

Aku dan Hong Ahjumma mengangguk. “Tentu saja boleh, Anne. Kita akan melakukan hal-hal seru hari ini. Girl’s things!” Kataku sambil mengedipkan mata membuat Anne dan Hong Ahjumma, bahkan aku sendiri tertawa.

 

Jadi disinilah aku dan Anne. Tidur-tiduran di atas karpet bulu didalam kamarku dan Ailee. Aku melirik jam. Sudah pukul 2 siang. Hong Ahjumma sudah berangkat ke supermarket untuk belanja.

 

“Jie, aku bosan,” kata Anne kemudian bangun dari aktivitas tidur-tidurannya.

 

Aku mengangguk. “Sama. Jiejie juga,” kataku ikutan bangun. “Kau mau melakukan apa, Anne?”

 

“Apa yaaa?” Anne terlihat berpikir lagi. Aku mengedarkan pandangan keseluruh penjuru kamar, mencari insiprasi apa yang dapat kulakukan bersama Anne. “Mau mengecat kuku? Aku tadi bilang kita akan melakukan Girl’s things kan,” kataku.

 

“Tidak mau,” jawab Anne sambil menggeleng. “Tidak perlu Girl’s things, Jie. Tidak apa,” lanjutnya. Haha. Anne mengerti diriku sekali. Diantara 3 anak perempuan yang dimiliki Lao Ma, hanya aku yang tomboy. Penampilanku tidak seperti laki-laki sih. Rambutku panjang dan indah. Oh, tanpa treatment. Sudah seperti ini dari sananya dan aku sangat bersyukur akan hal ini (sama seperti Gege bersyukur akan wajah tampannya yang iya bangga-banggakan tanpa harus melakukan treatment). Hanya saja aku tidak suka memakai rok, kalau dress bolehlah. Itu juga aku kenakan kalau acara-acara penting saja. Selebihnya aku lebih memilih memakai baju kebangsaanku: t-shirt dan jeans yang dilengkapi dengan sepasang sneakers. It’s my style. Dan aku hobi sekali bermain basket. Juga skateboard, dulu.

 

Pandanganku terhenti pada skateboard yang ada di sebelah lemari TV. Ingatanku melayang ke beberapa bulan silam dimana aku dengan bodohnya terjatuh ketika bermain skateboard yang menyebabkan kakiku ankle. Sehingga hari itu aku harus menelan kalimat demi kalimat dari Lao Ma, Appa dan Gege yang mengatakan kalau aku adalah anak perempuan dan tidak seharusnya bermain skateboard. Akhirnya aku harus berpisah dengan sahabat baikku, Tim si skateboard yang sudah 3 tahun bersamaku. Dia sekarang menjadi pajangan di kamarku. Aku memang tidak bisa melawan Lao Ma dan Appa, terlebih Gege. Meskipun aku harus berjuang mati-matian melawan diriku sendiri yang ingin mengambil Tim kemudian membawanya ke taman bermain didekat rumah.

 

“Jie…” Panggilan Anne menarikku kembali ke dunia nyata.

 

“Apa, Anne?” Tanyaku.

 

“Kalau boleh.. Aku.. Tidak jadi, deh,” katanya.

 

Aku tertawa kecil. “Ada apa, Xiao Mei? Katakan pada Alice Jie.” Sambil menepuk dadaku sendiri, aku beringsut maju lebih mendekat pada Anne.

 

“Benar tidak apa?”

 

Aku mengangguk.

 

“Anne.. Ingin mencoba bermain skateboard..” Katanya membuat kedua mataku otomatis membulat. “Setiap melihat Jiejie bermain skateboard, aku selalu senang. Sama seperti ketika aku melihat Gege bermain basket. Habis Jiejie terlihat keren sekali, sih!”

 

“Anne Wu,” aku berkata kemudian menghela napas. “Kau tahu kan? Kalau Jiejie sudah dilarang bermain skateboard lagi?”

Ganti Anne mengangguk. “Tapi, Jie.. Jiejie juga rindu kan bermain skateboard? Ayolah Jie.. Anne janji tidak akan bilang siapa-siapa. Satu jam, saja. Ya? Ayo Jie..” Anne membujukku dengan wajah memohon. Aku tidak bisa menolaknya. Tidak bisa kupungkiri, aku sangat rindu bermain bersama Tim. Maaf, Lao Ma, Appa, Gege. Kalian juga memiliki hobi masing-masing, kan?

 

********

 

“UWAAAHH!! Jiejie! Best of the beesstt!!” Anne berteriak dari luar arena bermain skateboard sambil melompat-lompat riang dan bertepuk tangan begitu aku memperagakan gaya Kick Flip.

 

Aku tertawa mendengarnya. “Mau Jie tunjukan gaya lainnya?” Tanya ku. Bukannya mau pamer. Tapi aku senang melihat wajah Anne begitu berseri-seri. Selain itu, aku benar-benar merindukan bermain skateboard.

 

“Anne, ini nama nya Nose Grab,” kataku kemudian mengambil ancang-ancang untuk melompat. Aku mendengar Anne tertawa kemudian berkata “Nama nya Nose Grab. Lucu.”

 

Aku semakin bersemangat. Aku pun melompat dan berhasil melakukan Nose Grab. Anne berteriak heboh, bertepuk tangan dengan kencang kemudian berlari ke arahku.

 

“Jiejie! You’re so coooll! Jiejie jjang!” Kata Anne begitu sampai. Dia bahkan memelukku.

 

Aku membalas pelukan Anne. “Terima kasih, Meimei,” kataku pada Anne.

 

“Jie.. Sekarang Anne boleh coba? Ajari ya, Jie?  Anne sudah tidak sabar, nih! Apakah Anne bisa sekeren Jiejie?”

 

“Hahaha. Anne, Anne. Kau pasti bisa lebih keren di banding Jiejie! Hmm.. Sungguh sudah siap mencoba? Nanti kalau jatuh jangan menangis, ya? Usahakan jangan sampai luka, ya Anne?” Kataku. Duh, bingung aku kalau-kalau Anne terluka. Gege pasti akan menginterogasiku dan aku pasti harus berbohong pada Gege. Anne juga pasti harus berbohong. Aku tidak suka berbohong. Lagi pula, di keluarga kami sudah diterapkan kejujuran. Kalau-kalau kami tidak tahan berbohong, bisa-bisa semua terbongkar, dan habis aku dimarahi Gege.

 

“Sure, Jie! Trust me, eo?” Kata Anne. Aku pun mengangguk dan mulai memasangkan helm, pelindung siku dan pelindung lutut pada diri Anne.

 

“Wah, baru pakai pelindung saja Anne sudah keren!” Kataku. Anne kemudian berpose tolak pinggang kemudian kami tertawa.

 

Anne pandai. Tentu. Dia cepat menerima pelajaran baru. Aku sekarang sedang mengajarinya teknik-teknik dasar dan dia menyerap itu semua seperti spons menyerap air.

“Jie, coba perhatikan dari jauh. Aku keren atau tidak?” Anne menggandeng tanganku kemudian mengantarku keluar area bermain skateboard. “Oke!” Balasku sambil duduk di pinggir lapangan. “Hati-hati, Anne!” Pesanku. Anne sekarang sudah bisa menjalankan (?) Skateboard.

 

“Anne mulai ya!” Katanya. Aku mengacungkan kedua jempolku dan berteriak menyemangati Anne. Anne pun mulai.

 

“ANNE WU! Xiao Mei kau keren sekali! Wuaahh! Jiejie kalah, nih!” Kataku sambil tertawa dan bertepuk tangan. Anne menjadi semangat di buatnya. “Lagi, ya Jie!”

 

Aku mengangguk. Hmm.. Beginikah rasanya menjadi seorang kakak? Perasaan bangga, terharu dan senang menyelimutiku ketika aku berhasil membagi ilmu yang kupunya kepada adik kecilku.

 

Aku kembali menyemangati Anne ketika aku mendengar dering telepon dari ponsel yang kuletakkan di sampingku.

 

Kris Ge is calling….

 

“Halo? Ge?” Aku menyapa Gege yang berada di sebrang sana.

 

“Halo, Alice,” Gege membalas. “Kau sedang apa? Sudah makan?”

 

Duh mati. Harus ku jawab apa? “Mm. Sudah, Ge. Gege sudah belum? Sudah pulang sekolah, ya?” Kuputuskan untuk tidak menjawab pertanyaannya saja. Semoga otaknya hari ini sedang lemot (maaf, Ge. Tapi kau memang terkadang begitu, kan) sehingga tidak menyadari aku tidak menjawab pertanyaannya.

 

“Baguslah. Gege sekarang sedang menunggu pesanan Gege datang bersama John. Isi perut dulu sebelum latihan,” Gege tertawa kecil. “Sedang apa? Anne sedang apa? Kalian baik-baik saja, kan?”

 

Bad luck today. Otak Gege sedang lempeng. Aku memutar otak dengan keras. “Err, kita.. Kita sedang..”

 

“Sedang apa?”

 

“Sedang mengecat kuku!” Jawabku cepat. Gege, I’m so sorry. I shouldn’t lie to you. Dui bu qi, Ge.

 

Gege tertawa. “Kau? Mengecat kuku? Semoga kuku Anne tidak hancur, ya. Haha. Baiklah, Alice. Lanjutkan kegiatan kalian. Pesanan Gege juga sudah datang. Bye, Al.”

 

“Oke! Selamat makan, Kris Ge. Byeee~” aku menutup telpon sebelum Gege. Takut-takut dia bertanya lagi karena dia kan belum bicara dengan Anne.

“Jieee!” Anne berteriak. “Jiejie perhatikan aku, tidak?” Katanya masih sambil bermain skateboard.

 

“Tentu, Anne! Kau keren. Sungguh!” Balasku. Aku kemudian mendapati 2 pesan masuk. 1 dari Ailee, satu lagi dari temanku Rachel.

 

 

From: Ailee

To: You

 

Hi, Al! Apa yang sedang kalian lakukan? Maaf ya hari ini aku harus les piano. Tapi sungguh, aku ingin ikut menjana Anne dan bersenang-senang bersama kalian.

 

Aku tersenyum membaca pesan dari Ailee. Jempolku kemudian bergerak lincah membalas pesan Ailee, mengabaikan teriakan Anne yang berteriak “Jie, aku mau coba Nose Grab, ya!” Sehingga aku harus mendengar suara benda jatuh, bukan, manusia jatuh dan teriakan serta tangisan Anne.

 

“AAAAAAAAAAAAAA……..”

“ANNE!!!!”

“………………..”

*TBC*

 

2 responses to “[FREELANCE] Wu’s Family in Action (Chapter 2A/4)

  1. Pingback: [FREELANCE] Wu’s Family in Action (Chapter 2B/4) | SAY KOREAN FANFICTION·

  2. Pingback: [FREELANCE] Wu’s Family in Action (Chapter 3/4) | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s