Ahjussi, Are You Pedofil? #2nd – By Asih_TA

ugyyf|Author : Asih_TA|

|Tittle : Ahjussi, Are You Pedofil? – #2nd|

|Main Cast : Jung Hye Ji, Park Chanyeol|

|Genre : Romance, Comedy, School life|

|Leght  : Multichapter|

|Rated  : PG 17|

|Contact Author IG : @asih_ta97|

THIS IS MY STORY! NO PLAGIAT!

.

Chapter Sebelumnya

( Teaser  || Chapter I )

.

.

Pernah terselib di lubuk hati Hye Ji untuk pergi meninggalkan dunia namun dalam tahap tumbuh kembangnya sampai saat ini ia masih bisa bernafas. Ketika dunia yang ia pijaki tak lagi menyeimbangkan diri dengannya di situlah letak kesalahannya. Apapun, siapapun dan kapapun dia bukan ingin menyalahkan jalan sebuah takdir namun kenyataanlah yang membuat dirinya terlalu berharap lebih besar. Dari awal dia telah berjuang menempuh kehidupan yang sederhana sampai saat ini.

Saat di rasanya sebuah tepukan ringan di pipinya, ia pun tersadar “ Aku tidak tau apa yang ada fikiranmu. Eomma memanggilmu.”

Kakak laki-lakinya telah berdiri dari jarak yang sangat dekat. Ia sempat merasakan sesuatu menahan dadanya “ Kau membuatku jantungan.”

Seberkas cahaya menyidari sorot mata sang kakak “ Apa hari ini Minseok menyatakan perasaanya padamu?”

“ Tidak.”

Tentu saja ia mengetahui keburukan sang kakak. Sejak ia dalam kandungan sang ibu, ia bisa merasakan betapa bencinya sang kakak terhadapnya. Namun itu hanya masa lalu, siapa lagi yang bisa menyangkal bahwa dulunya kakaknya pernah hampir membunuhnya “ Hei apa kau masih dendam padaku sampai harus menjodohkanku dengan si hamster itu.”

“ Hei tenanglah, aku tidak akan melakukan hal keji itu lagi.” Sang kakak berdecak sebal sembari menyilangkan kedua tangannya “ kenapa kau mengungkit itu lagi?”

Ia mengangkat kedua bahunya acuh “ Katakan saja kepada seseorang yang menyumbat pernapasanku dengan menggunakan bantal.”

“ Dan kau menceritakannya lagi.”

“ Ah sudahlah, di mana eomma?”

Sang kakak menjitak kecil kepalanya, ia meringis kesakitan “ Kau terlalu lama berkhayal di sini dan cepat temui eomma di dapur.”

***

.

Hye Ji merutuk dengan kesal, kakaknya selalu membuatnya kesal. Ia menghentak-hentakan kakinya di setiap tangga menuju lantai dasar, bunyi hentakan yang begitu keras itu menghiasi ruangan yang cukup besar. Nyonya Jung yang sedang memasukkan beberapa porsi sushi menarik perhatian sang anak yang berjalan mendekat kearahnya.

“ Wah eomma, ini sushi?” Si anak bertanya polos dengan menatap lapar sushi buatan ibunya. Nyonya Jung tersenyum dan memberikan sepotong sushi kepada sang anak. Hye Ji dengan sigap membuka mulutnya dan langsung melahap makanan itu dengan manik mata yang bersinar-sinar “ Ini sangat enak eomma.”

“ Benarkah?”

Hye Ji menganggukkan kepalanya. Nyonya Jung kembali memasukan sushi itu kedalam wadah berwarna coklat yang cukup besar, lantas gadis itu menyeritkan dahinya “ Untuk siapa ini eomma.”

“ Untuk tetangga baru kita.”

“ Tetangga baru?”

“ Yup, dia baru pindah tadi. Dan kau tau Hye Ji sayang.” Nyonya Jung menatap anaknya dengan senyum yang tiada hentinya “ Dia sangat tampan.”

Hye Ji memutar bola matanya malas, ibunya selalu seperti itu. Dia sempat berfikir ibunya ingin mencari pasangan baru untuk mengganti  sang ayah, sebelumnya ia sempat bertanya namun yang terjadi ibunya tetap akan menjadi single parants. Baekhyun adalah orang pertama yang tidak mengizinkan ibunya untuk menikah lagi karena dasarnya pria itu tidak ingin Hye Ji berada dalam ruang lingkup ayah tiri.

“ Well, eomma tadi memanggilku.” Hye Ji berucap dengan sedikit keras pasalnya sang ibu sedikit bahagia dengan kegiatannya.

Nyonya Jung mantap Hye Ji dan menyerahkan kotak tersebut “ Kau antarkan ya sayang, eomma masih mau menyelesaikan tugas kerja.” Nyonya Jung tersenyum sedangkan Hye Ji kembali kesal di buatnya.

“ Kenapa harus aku, bukannya ada oppa.” Ucap Hye Ji dengan suara yang sedikit ia keraskan, mengingat kakaknya masih di lantai atas.

“ Kakakmu ada tugas kuliah sayang, sudah sana.”

Hye Ji mendesah untuk kesekian kalinya.

***

.

Rumah yang tidak terlalu besar namun unik sempat menyita perhatian Hye Ji. Sambil membawa kotak coklat tersebut ia sempat melirik setiap jengkal rumah tersebut. Dindingnya berwarna cream dengan bentuknya yang simple namun unik, ia mendekatkan dirinya di depan pintu yang bercorak madu tersebut, memberikan 3 kali ketukan kecil di sana. Gadis itu menunggu dengan sabar namun tidak ada derap kaki orang mendekat ataupun tanda-tanda akan ada yang membukkan pintu.

Gadis itu sempat berfikir mungkin orangnya sedang berada di luar, namun entah dorongan dari mana ia memegang knop pintu untuk sekedar memastikan dan ketika knop itu di tekan pintu terbuka. Dengan gugupnya gadis itu kembali menutupnya mengingat ia hanyalah seorang tamu. Akan sangat kurang ajar jika ia menyelinap masuk.

Hye Ji hendak berbalik namun kakinya kembali menghadap pintu tersebut. ia memegang knop pintu itu lagi.

Tidak, tidak, tidak umpatnya dalam hati.

Hati dan tubuhnya berkata lain, gadis itu membuka pintu tersebut dan perlahan menyembulkan kepalanya kedalam. Sedikit terkejut dengan ruang tamu yang berada di balik pintu tersebut. design yang benar-benar menakjubkan untuk sofa baby blue sederhana.

Sambil membawa kotak coklat tersebut, ia kembali melangkahkan kakinya kedalam seolah tidak ada beban di pikirannya. Ia berjalan menyusuri setiap ruangan yang ada hingga berhenti di depan sebuah ruang tv yang terlihat nyaman. Ia meletakkan kotak tersebut di meja yang berada di sana.

Kegiatan gadis itu tidak sampai di sana. Ia malah nekat berjalan keatas anak tangga yang menghungkannya dengan sebuah kamar, pintu kamar itu terbuka dan membuat rasa penasarannya semakin meningkat. Ia sempat memeriksa di dalam kamar tersebut apakah ada seseorang di sana. Namun nihil ia tidak menemukan apa-apa.

Gadis itu bersorak dalam hati dan menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur yang bewarna hijau dipadu  kuning. Ia melihat sekelilingnya dengan bahagia.

Cklek . .

“ Siapa kau?” Sebuah suara berat dan rendah menyadarkan gadis itu. Hye Ji segera bangkit dari tidurnya dan . .

“ Akhhhhh “ ia berteriak sambil menutup wajahnya. Sedangkan laki-laki yang menugurnya tadi hanya membalasnya dengan wajahnya datar “ Pakai bajumu bodoh.”

Bodoh? Oke siapa gadis ini.

Pasalnya kini laki-laki itu hanya menggunakan handuk di pinggangnya. ia sepertinya tidak memperdulikan hal tersebut malah mendekati Hye Ji yang masih menutup wajahnya. Gadis itu refleks membuka wajahnya.

“Kau!” laki-laki itu terkejut dan menunjuk gadis itu dengan jari telunjuknya “ Kau bukannya gadis yang menendang tulang keringku tadi.”

Hye Ji juga tersadar dan menutup mulutnya. Ia tidak percaya akan bertemu dengan laki-laki tinggi tersebut secepat ini, gadis itu menegakkan dan membungkukan tubuhnya “ Joesonghamnida.”

Ia berlari dengan tergesa-gesa dan laki-laki jangkung tersebut langsung mengejarnya. Namun baru beberapa langkah gadis itu hendak menuruni tubuhnya di anak tangga paling terakhir, lengan kirinya di Tarik oleh laki-laki tersebut, hingga tubuh mereka saling berhadapan.

“ Katakan kepadaku kenapa kau bisa di sini.” Ucapan itu tidak begitu bersahabat. Hye Ji terdiam dan bukannya menjawab gadis itu malah membungkukan tubuhnya sedikit “ Anneyonghaseo Jung Hye Ji imnida.” Laki-laki jangkung tersebut berdecak sebal dan menatap nyalang padanya “ Aku menyuruh menjawab bukan memperkenalkan diri.”

“ Ah benarkah.” Gadis itu menyegir lebar sehingga terlihat di buat-buat. Laki-laki itu jelas terlihat semakin emosi “ Hei bocah, apa kau sedang menguntitku?!”

“ Ya! Sudah kukatakan jangan panggil aku bocah! Ahjussi gila.”

“ Apa katamu?!”

Ahjussi gila, apa itu kurang jelas!”

“ Ya! Kau-“ Belum selesai ia protes, Hye Ji sudah sigap dengan melayangkan tangan kanannya namun belum sempat mengenai wajah laki-laki tersebut, ia terkejut ketika tangannya telah di tanggap oleh lengan kekar pria itu “ – Ternyata kau sangat anarkis ya, kau ingin menamparku. Hell, kau harusnya lebih sopan padaku bocah.”

“ Aku bukan bocah sialan!” Maki Hye Ji.

Sebenarnya laki-laki itu tidak ingin mencari masalah dengan seorang gadis yang masih dalam tahap puber, bisa saja ia terlibat dan masuk ke dalam penjara, lucu sekali “ Hei kau ini masih sekolah, jangan berkata kasar. Lagi pula aku punya nama – “ lelaki itu mendekatkan bibirnya di telinga kanan Hye Ji dengan tetap mencekram lengan kanannya “ – namaku Park Chanyeol, ingat itu.”

Wajah Hye Ji memerah hingga ke kedua telingannya. Laki-laki bernama Chanyeol itu menjauhkan wajahnya dan menampilkan smirk andalan miliknya. Hye Ji memegal tangan kanannya dengan kuat hingga . .

Bukk. . .

***

.

“ Maafkan anak saya Tuan Park.” Nyonya Jung menunduk hormat sedangkan Chanyeol tesenyum maklum.

“ Tak apa Nyonya Jung, mungkin dia sedang dalam masa yang tidak baik. Benarkan Hye Ji-ssi?” Chanyeol menatap Hye Ji dengan senyum yang terkesan di buat – buat. Gadis itu mendelik sebal “ Kalau kau seorang artis, mungkin kau akan memenangkan penghargaan sebagai actor terbaik sepanjang masa.”

Pletak . .

“ Eomma!” Nyonya Jung memekul kepala sang anak hingga menatap ibunya tak percaya. Bagaimana bisa ibunya lebih memilih orang lain dari pada anak kandungnya sendiri. Sedangkan Chanyeol, pria itu terlihat terkekeh pelan seraya mengejek.

“ Baiklah Tuan Park, apa anda ingin saya obati. Lembam anda nanti bisa membiru.” Tawar Nonya Jung.

“ Tidak apa – apa Nyonya, ini tidak seberapa parah.” Ujar Chanyeol halus seraya mengelus lembam yang berada di ujung bibir kirinya. Hal itu lantas membuat Nyonya Jung semakin merasa bersalah “ Sekali lagi maafkan kelakuan Hye Ji, dia terkadang tak bisa membaca situasi.”

“ Tak apa nyonya, saya mengerti posisi dia yang masih dalam masa pertumbuhan.” Chanyeol tersenyum ramah, beda hal lagi dengan Hye Ji, ia terlihat berkeinginan untuk menjadi penjahat.

“ Terimakasih atas pengertiannya Tuan Park, kami permisi dulu.”

Nyonya Jung sedikit membungkung hormat begitu juga dengan Chanyeol. Dua wanita itu sudah berjalan meninggalkan pintu coklat tersebut dan Chanyeol segera menutupnya. Ia mendesah seraya memijit dahinya pelan, beberapa menit yang lalu keluarga tetangganya datang dan segera meminta maaf atas perlakuan anaknya yang sempat memukul wajahnya. Sambil berfikir lelaki itu berjalan mendekati kulkas dan berniat mengambil mineral dingin untuknya sebelum ekor matanya menangkap sebuah kotak berwarna coklat yang berada di meja tv. Lantas membiarkan kakinya tetap melangkah mendekati kotak tersebut. Dengan perlahan ia membuka kotak tersebut dan melihat begitu banyak sushi disana dan ia kembali berfikir, mungkin gadis itu hendak memberikan makanan tersebut untuknya.

***

.

Baekhyun tertawa dan Hye Ji cemberut. Setelah acara meminta maaf keluarga Jung kepada tetangga barunya membuat gadis yang berumur 19 tahun tersebut harus merelakan uang jajannya di potong. Seperti sebelumnya gadis itu akan meminta demo jika ibunya mulai bertingkah seenaknya.

“ Berhenti tertawa Byun Baekhyun.”

Baekhyun sedikit memelankan suara tawanya dan memegang kedua bahu sang adik “ Aku tau kau sedang kesal, tapi jangan terlalu sering memanggil nama panjangku. Aku tidak suka itu.”

Ck, siapa yang perduli.”

“ Ya aku tau kita tidak terikat hubungan darah, setidaknya kita akan berperan menjadi kakak adik yang sesungguhnya.” Baekhyun menatap manik mata Hye Ji sebelum gadis itu melepaskannya “ Well, setidaknya di depan eomma.”

“ Jadi bagaimana kabar Wendy noona?” Tanya Hye Ji dengan lirikan mata tak tenang.

“ Seperti yang kau lihat hubungan kami baik-baik saja.”

“ Baguslah, well aku ingin tidur. Besok aku harus segera bersiap-siap sekolah, kau tau kan Kim Songsaenim sangat galak.” Tawa kecil Hye Ji sambil memukul bahu sang kakak. Baekhyun terdiam melihat tawa itu, gadis itu tidak sepenuhnya tertawa seperti sedang mencoba berekting dengan baik

“ Selamat malam oppa.” Gadis itu berjalan meninggalkan dirinya seorang diri di meja makan. Ia tertawa miris menatap punggung sang adik yang semakin mengecil.

***

.

Ulangan dadakan terjadi di siang yang lumayan terik. Bahkan kelas yang memulai pertama sekali adalah kelas milik Hye Ji. Beberapa sisiwa sudah sangat malas untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, sepertinya udara di luar sudah seperti kepala mereka memberi alarm jika kepala sudah benar-benar lelah. Apalagi Kim songsaenim sudah berdiri dengan tenangnya di depan kelas, sembari memperhatikan satu-persatu wajah muridnya. Ada yang begitu serius, ada yang asal-asalan dan ada juga yang berusaha menyontek. Kim songaenim berhendem keras berusaha mengalihkan perhatian Kim Yura yang tengah berusaha melihat kertas teman sebangkunya.

“ Jika ada yang ketahuan menyontek, tidak saya kasih toleransi lagi, akan saya beri E di mata pelajaran saya.”

Hye Ji memutar bola matanya kesal. Selalu saja mendapat kelas pertama ulangan, tentu saja membuatnya mendesah frustasi. Ekor matanya menatap Minseok yang duduk di samping kanannya “ Minseok-ah kau sudah nomor 7?”

Minseok adalah murid terpintar setelahnya. Hye Ji seharusnya belajar lebih tekun tadi malam bukan malahnya menangis seperti gadis patah hati, ia tidak munafik untuk mengatakan jika ia membenci hidupnya saat ini. Minseok meremukkan sebuah kertas kecil dan melemparkannya kepada Hye Ji.

“ Lain kali belajarlah lebih rajin walau dalam keadaan ulangan mendadak seperti ini.” Bisik Minseok pelan dan Hye Ji dapat mendegar itu dengan baik “ Terimakasih.”

“ Tidak ada gratis di sini Noona Jung.”

Dia mulai lagi.

“ Kau harus makan siang bersamaku.”

***

.

Disinilah mereka. Di sebuah meja makan yang terletak di ujung kantin. Hye Ji sedang meminum susu kotaknya sedangkan Minseok memakan udang gorengnya. Laki-laki hamster itu dengan lahap memakan udang kesukaannya, laki-laki  itu selalu membawa bekal dan Hye Ji harus membeli nasi telur gulungnya.

Hye Ji menyelesaikan sedotan terakhir miliknya dan menatap Minseok yang masih dengan kegiatannya, merasa di perhatikan laki-laki itu menghentikan kegiatannya “ Kau mau?” menyodorkan udang ke arah Hye Ji dan gadis itu menggeleng pelan “ Aku alergi seafood.”

“ Aku tidak percaya perempuan sepertimu memiliki alergi.”

“ Sayangnya iya.”

“ Oh iya Beberapa hari yang lalu aku melihat Baekhyun-hyung sering menjemput seorang wanita yang tinggal di samping butik milik eomma-” Ujar Minseok, Hye Ji terpaku sambil memegang kuat sumpitnya “ – kalau tidak salah namanya Wendy, sepertinya dia seumuran dengan Baekhyun hyung-“ Hye Ji mengigit bibir bawahnya kuat “ – Dia sangat cantik, apa mereka memiliki hubungan khusus?”

“ Mereka se-sepasang k-kekasih.” Ucap Hye Ji pelan dan Minseok tidak terlalu bodoh untuk mengetahui itu semua “ Hye Ji-ah-“ ada jeda sebelum lelaki itu menghela nafas berat.

“ -apa kau masih mencintai Baekhyun-hyung.”

Dan semuanya membuat gadis itu bungkam. Hanya Minseok yang tau perasaan terlarang milik Hye Ji dan hanya laki-laki itu yang tau bahwa sebenarnya Baekhyun hanya menganggap Hye Ji sebagai adik, tidak lebih.

“ Aku fikir selama 2 tahun ini kau sudah bisa melupakan perasaanmu. Hye Ji-ah, coba kau lihat ibumu, dia akan sangat terluka jika mengetahui ini.”

“ Aku tau, terimakasih.” Dan Minseok membalasnya dengan sebuah senyuman.

“ Kau harus makan banyak, ini aku beri dagingku.” Minseok memberikan beberapa potong daging panggangnya kepada Hye Ji dan gadis itu menerimanya dengan sorakkan.

***

.

Pelajaran telah usai pukul lima sore. Hari masih tampak cerah, bahkan burung-burung sedang menyebrangi kota untuk berpindah tempat. Toko-toko sedang ramai pengunjung karena memang seluruh siswa telah pulang dari belajar tambahan yang sangat melelahkan. Hye ji hanya duduk manis di halte bus dengan tatapan kosong, ketika sebuah bus berhenti di halte bus seluruh siswa sedang berebut untuk segera masuk dan berniat menemukan tempat duduk mereka namun tidak dengan gadis itu, ia hanya melihat siswa-siswa lainnya yang sudah masuk dan membiarkan bus itu hilang dalam pandangannya.

Niatnya tidak ingin kembali kerumah dan memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak sebelum matahari sepenuhnya tenggelam. Moodnya benar-benar buruk semenjak pelajaran tambahan mereka. Ia berjalan sambil menedang-nendang kerikil kecil yang ada di hadapannya, wajahnya menunduk dengan memegang kedua tali ranselnya.

Langkahnya terhenti ketika melihat sebuah kedai kecil yang menyediakan berbagai macam makanan jjamyeon. Gadis itu tersenyum dan berlari kecil menghampiri seorang paman laki-laki yang tengah menuangkan mie kedalam sebuah mangkuk kecil.

“ Selamat datang di toko kami, kau ingin memesan apa nak?”

“ Aku ingin memesan satu jjamyeon dan 1 botol soju paman.” Ucap Hye Ji.

“ Kau yakin ingin meminum soju nak, kau masih sekolah.” Dan gadis itu tertawa “ Aku hanya ingin menghangatkan tubuhku paman, tidak akan mabuk kok.”

Paman itu menghela nafasnya “ Baiklah.”

Hye Ji sudah duduk di mejanya, berselang 3 menit pesanannya sudah datang. Gadis itu memulai acara makannya dan sedikit demi sedikit telah meneguk 4 gelas soju. Ia merasa sedikit pusing, padahal baru beberapa gelas ia habiskan. Tangannya memasukan botol itu lagi ke dalam gelas kecil dan berniat meminumnya untuk yang kelima kalinya. Namun belum sampai bibir gelas itu mencapai mulut sebuah tangan yang lumayan besar menghentikan pergerakannya.

Hye Ji mendongak dan tersenyum bodoh “ Oh kau Ahjussi, kenapa kau selalu saja ada di sekitarku hmm.” Ia tidak sepenuhnya dalam keadaan sadar dan laki-laki yang berdiri di hadapannya tau itu “ Eh kenapa diam, apa kau ingin bergabung minum denganku?” gadis itu tersenyum dan sedikit tertawa pelan.

“ Apa yang kau lakukan di sini, kau harus pulang ke rumahmu bocah.” Sebenarnya laki-laki bernama Chanyeol itu tidak ingin memiliki urusan apapun lagi kepada anak perempuan yang telah menendang tulang kering dan memukul wajahnya tersebut. Tepatnya ketika dirinya baru pulang dari kantornya dan melihat siluet tubuh anak perempuan yang sedang duduk di kedai kecil dengan wajah frustasi, ia tau siapa gadis itu. Awalnya Chanyeol berniat kembali menjalankan kembali kakinya pulang dan segera mengistirahatkan tubuhnya dari tumpukan-tumpukan tugas yang begitu banyak namun ketika ia hendak berjalan kembali ujung manik matanya menangkap pergerakan gadis itu yang meminum sebuah soju dan tentu saja hal itu membuatnya tidak bisa tinggal diam.

“ Hei bocah kau tidak boleh meminum ini, kau tau.” Chanyeol menjauhkan botol tersebut dan membuangnya ke dalam tempat sampah yang berada di sampingnya.

“ Ya! Ahjussi kenapa kau membuangnya. Aku membelinya mahal kau tau.” Protes  Hye Ji lalu berdiri dan berniat memukul lelaki itu lagi, tapi karena tubuhnya yang tiba-tiba oyong membuatnya kehilangan keseimbangan dan jatuh ke atas meja. Chanyeol menggeleng pelan melihat gadis itu yang tampaknya sudah tampak tak berdaya lebih dulu. Ia tidak ingin di cap sebagai laki-laki kurang ajar yang meninggalkan seorang anak kecil sendirian, dengan helaan nafas lelaki itu membalikkan tubuhnya dan menuntun gadis itu untuk bersandar di punggungnya, tak lupa untuk membawa tas milik gadis itu juga.

Di bekali dengan tenaga Chanyeol menggendong Hye Ji di punggungnya. Sesekali lelaki itu dapat mendengar gumaman yang di telontarkan olehnya “ Hei Ahjussi tua, kau itu tampan tapi sayang kau sangat menyebalkan.”

Chanyeol tersenyum “ Semua orang berkata aku tampan. Ck, kenapa kau baru menyadarinya.”

“ Aku tidak suka mengakuinya, nanti kau bisa jatuh cinta padaku.” Tawa Hye Ji.

Hell, aku tidak suka bocah.”

“ Aku bukan bocah, aku gadis dewasa kau tau.” Chanyeol tertawa “ Gadis dewasa itu yang dapat memangkitkan sisi liar laki-laki, dan kau bukan dari bagian dari mereka.”

“ Haha kau seorang maniak Ahjussi.”

“ Jangan lupakan aku juga seorang laki-laki yang normal.”

“ Apa kau pernah berciuman sebelumnya?” Hye Ji bertanya dengan mata yang sedikit sayu karena efek alkohol dan Chanyeol sempat terdiam sebelum menjawab “ Tentu saja.”

“ Apa dia kekasihmu?”

“ Bukan.”

“ Terus dia siapa?”

“ Hei bocah berhenti bertanya yang tidak-tidak, aku sudah lelah memangku tubuhmu.”

Ck dasar.”

Dan mereka kembali berjalan dengan di temani lampu-lampu jalan.

~ TBC ~

( Mohon baca Author Note )

Follow my ig : @asih_ta97 (nanti di fb kok)

Hei long time no see, maaf ni baru muncul. Maaf juga yang kecewa di part ini. Author pengen cuap-cuap sebentar, boleh ya.

Jadi pada hari senin kemarin author mendapat pesan baru. Bagus, padahal author lagi pusing-pusingnya bayar spp kuliah. Dan sebuah pesan masuk dari no yang tidak di kenal terbaca oleh author. Tulisannya gini:

From : 08xxxxxxxxxx

Author saya pembaca setia author nih, jujur saya kurang suka sama cerita author yang judulnya Ahjussi itu, entah kenapa kurang menarik. Menurut saya konfliknya terlalu biasa nggak seperti cerita author yang sebelumnya ( baca : Devil of cruel )

Ya sebenarnya saya nggak mempermasalahkannya, kalian bebas berpendapat kok, mungkin di cerita selanjutnya akan author usahakan lebih baik lagi. Jadi author akan tetap menyelesaikan ff ini.

Oke see you next chapter. Jangan lupa tinggalin jejak ya. Author sayang kalian. Cium atu atu❤

 

55 responses to “Ahjussi, Are You Pedofil? #2nd – By Asih_TA

  1. Pingback: Ahjussi, Are You Pedofil #5th – By Asih_TA | SAY KOREAN FANFICTION·

  2. Baekhyun dan Hyeji bukn saudara kandung??? Ap mrka saudara tiri,,
    qu kget trnyata Hyeji mncintai Baekhyun..Hyeji itu klo ngmong prcaya diri skli ya hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s