[FREELANCE] Autumn #6

_20160425_201615

Cover Alkindi Exo Kingdom Fanfiction

Title: Autumn Chapter 6

Author: Puspita.desu

Cast: Byun Baekhyun
Kim Yoora, other.

Genre: Sad, Romance, Angst, Idol Life.

Rating: Pg15

Length: Chaptered.

Chap 1 | Chap 2 | Chap 3 | Chap 4 | Chap 5 |

******

Sebenarnya apa itu Takdir?
Apa dia semacam ancaman yang suka ataupun tidak, harus dijalani?

Kim Taeyeon mengerjap kembali, menunggu jawaban atas apa yang dia tanyakan beberapa detik lalu, oh atau mungkin itu bukan pertanyaan. Melainkan harapan atau juga paksaan jika dia dalam masa gila.

Atau dirinya benar-benar gila.

Betapa tidak, bagai sampah yang dia buang sejauh mungkin namun dengan serakahnya Taeyeon ingin memungut kembali barang itu.

Seakan tidak rela,

Dia sepenuhnya tidak mungkin bisa memiliki pria itu seutuhnya,
Namun dirinya juga tidak rela jika Baekhyun tidak dia miliki atau bahkan dimiliki orang lain.

Yah, Baekhyun yang membuatnya seperti hilang ingatan.

Bisakah kita kembali? Aku ingin kau memilikiku lagi.

Atau mungkin hilang harga diri.

Baekhyun yang tepat didepannya, menonton Taeyeon yang sedang berbaring sembari menangis,
Mengiba ingin dimiliki. Hatinya berdebar tatkala telinganya menangkap seuntai kata dari bibir gadis itu.

Bagaimana dengan tidak mungkin nya dia meminta Baekhyun untuk mengulang kembali masa indahnya.

Baginya itu masa indah,
Dan juga masa lalu.

Apa masa lalu yang indah boleh di ulang?

Baekhyun masih terdiam, dari dua hari yang lalu memang dirinya selalu menemani Taeyeon di rumah sakit.
Rela memaksa penjaga rumah sakit untuk masuk ke ruangan ini saat larut malam, sepulang kerja. Dan kembali ke asrama pagi buta lalu kembali bekerja.

Tanpa tahu kapan dirinya harus makan,
gosip apapun yang mungkin akan muncul setelahnya dia tak lagi peduli.

Yang dia tahu hanya Taeyeon yang membutuhkan dirinya.

Setidaknya fakta ini sedikit Baekhyun ragukan mengingat Taeyeon sendiri yang menginginkan mereka berpisah.

Namun apa yang ada dihadapannya,
Apa yang mengalir begitu menyakitkan dimatanya,
Dia benar-benar tak mengerti.

Apa noona-nya ini serius?

“A aku tidak tahu..”
Jawabnya parau, pria itu melepaskan genggaman Taeyeon dan berpura-pura sibuk mengupas Apel di nakas.

Taeyeon mengernyit, berusaha bangkit dari berbaringnya dan menaikan sandaran tempat tidur.
Memperhatikan Baekhyun yang dengan telaten mengupas aApel dan memberikannya pada Taeyeon.

Dia bilang tidak tahu,
Lalu apa maksudnya semua ini?

“Maafkan aku Baek, aku tidak bisa hidup tanpamu..”

Taeyeon menghindari suapan Apel di tangan Baekhyun, lalu kembali meraih tangan pria itu.

Baekhyun mengerjap, setidaknya apa yang dia inginkan harus dia dapatkan.

“Aku juga menginginkanmuNoona..”

Meraih Taeyeon dalam pelukannya dan berniat mengawali semuanya kembali dari awal.

Ya, biarkan saja dirinya egois.

“Kau serius?”
Taeyeon bertanya dalam pelukan Baekhyun, pria itu berdehem lalu mengangguk.
Masih ragu, namun dirinya tak ingin lagi kehilangan gadis yang dia cintai.

Sudah cukup Baekhyun menderita karena tak bisa menjangkau kembali Taeyeon.

Namun kali ini, nampaknya Baekhyun akan tidur pulas.

Tersenyum lalu teringat sesuatu, jadwalnya siang ini. Dia harus segera kembali.

Perlahan melepas pelukannya dan menghapus air mata di pipi Taeyeon.
Hal yang selalu dia inginkan kala gadis itu menangisi dirinya.

Dan tersenyum,

“Aku harus kembali,”
Ujarnya enggan, enggan meninggalkan noona-nya lagi.

Namun Taeyeon mengangguk, menepuk kepala Baekhyun sayang dan kembali berbaring.
Tersenyum senang karena ajakannya tidak sia-sia.

“Baiklah, jaga dirimu. Jangan lupa makan dan istirahat, kau tidak harus kesini lagi karena siang nanti aku sudah boleh pulang..”

Baekhyun yang mendengarnya merasa geli lalu menjawil hidung kekasih nya pelan.

“Baiklah noona cerewet..”
Lalu pergi karena setelahnya Taeyeon yang hendak memukul Baekhyun.
Pria itu menoleh diambang pintu, kembali tersenyum bahagia.

“Aku pergi..”
Bisiknya sebelum benar-benar menutup ruangan Taeyeon, dan senyum tak pernah pudar dari keduanya.

Hatinya semakin berdebar kala mengingat romansa dirinya dan Taeyeon beberapa waktu lalu.

Ini bukan mimpi.
Dia juga tak lagi peduli apa yang akan di katakan Chanyeol jika mengetahui ini.

Apa seorang idol tak boleh bahagia?

Pemikiran Chanyeol benar-benar kolot.

Baekhyun terus berjalan di koridor rumah sakit sembari memasang masker nya kembali. Bisa gawat jika ada penggemarnya disini.

Penggemar.

Kata yang terasa mengganjal di hatinya, ditambah siluet wanita yang sedang berjalan ke arah ruangan yang entah itu ruangan apa membuat hatinya berdesir.

Dia melupakan gadis itu.

Gadis yang telah seminggu berada di asrama nya,
Gadis yang diam-diam selalu memperhatikan dirinya walau Baekhyun sama sekali tidak peduli,
Gadis yang mengaku penggemarnya,
Gadis yang hamil,

Anaknya.

Berlari tergesa hendak mengajak gadis itu pulang, namun terlambat karena Yoora sudah memasuki ruangan. Maka Baekhyun menghampiri seorang suster yang tadi berbicara dengan Yoora, bermaksud agar dirinya bisa masuk keruangan yang dia ketahui untuk pemeriksaan kandungan.

Mengapa Yoora memeriksa kandungannya tanpa meminta izin padanya?

“Permisi, bolehkah saya masuk kesana?”
Pintanya sopan tanpa melepas maskernya membuat suster tersebut curiga.

“Maaf, anda tidak diperbolehkan untuk itu.”

“Tapi saya mengenal seseorang yang ada didalam..”
Bela Baekhyun gemas, terlihat beberapa pasien yang memperhatikannya. Lalu pria itu menunduk meminta maaf karena merasa mengganggu.

“Jika begitu, anda bisa tunggu disini. Yang boleh masuk hanya suami atau walinya saja.”

Suami,

Mana mungkin Baekhyun mengatakan bahwa dia suami dari Yoora.
Memikirkannya saja dia tak sanggup.

Menjilat bibirnya bingung dan detik selanjutnya dia berlari kearah ruang periksa dan memaksa masuk.

Dan yang dia lihat selanjutnya adalah Yoora yang berbaring dan seorang dokter pria yang memeriksa perutnya.

“Yoora..”

Serunya lirih, merasa frustasi dengan kenyataan yang dia hadapi.
Pria itu dengan mudahnya mendapatkan kebahagiaan kembali karena gadis yang dia cintai kembali padanya, lalu dengan idiotnya dia melupakan gadis lain yang sama sekali tidak dikenalnya, apalagi dia cintai.

Lalu takdir seperti apa yang harus dia pertahankan?

Pria itu melamun sampai tidak menyadari bahwa suster dibelakangnya sudah tidak lagi melarangnya.
Kakinya mendekat dengan pandangan yang kosong.

Bisakah kita memulainya dari awal? Aku ingin kau memilikiku kembali.

“Silahkan duduk..”
Dokter paruh baya itu menyuruh keduanya untuk duduk dibangku tamu. Baekhyun membuka masker nya dan mendekati kursi, begitu juga dengan Yoora. Pandangannya tak pernah dia alamatkan pada gadis itu, terlalu bingung dengan takdir nya dan apa yang harus dia lakukan.

“Kau kah walinya?”
Baekhyun mendongak dan menghentikan lamunannya, menatap wajah pria itu tanpa menjawabnya.

Dirinya telah berjanji akan bertanggung jawab atas Yoora, tapi jika Baekhyun melakukan itu lantas bagaimana dengan kekasihnya? Dia sama sekali tidak tahu hal ini, bagaimana dia menjelaskannya pada Taeyeon?

Otaknya kembali berteriak membuat hatinya semakin bimbang.

Aku juga menginginkanmu Noona.

“Dokter, bisakah kau menggugurkan bayinya?”

Oh itu sudah keluar.
Keinginan dari hati terdalamnya. Pria itu merasakan Yoora yang melihat kearahnya, mungkin gadis itu kembali berfikir bahwa dia adalah pria terbrengsek yang pernah ada,

Pria yang tidak bisa memegang janjinya,
Pria yang selalu bimbang,
Pria yang lari dari tanggung jawabnya.

Ya, itu benar.

Baekhyun memandang heran dengan dokter yang tersenyum, alih-alih melarang untuk melakukan hal keji tersebut.

“Mari kita lakukan pemeriksaan terlebih dahulu.”

“Tapi..”

“Sebelum aborsi juga harus mengetahui kondisi ibu dan jabang bayinya, apakah itu membahayakan atau tidak. Mari..”

Baekhyun memandang dokter yang membantu Yoora untuk berbaring, tidak pernah tahu bahwa dokter kandungan dengan mudahnya mengatakan kata aborsi pada pasien yang putus asa.

“Kemarilah nak..”
Pria paruh baya itu memanggil Baekhyun, pemuda itu memperhatikan perut Yoora yang terbuka. Tanpa melihat kearah wajahnya walau itu ada di hadapannya, lalu beralih pada monitor yang menampilkan area dalam rahim gadis itu.

Merasa tersentuh dengan sesuatu yang teramat kecil didalamnya, belum terbentuk sama sekali namun mampu membuat hatinya serasa damai.

Apa itu bayinya?

“Kau melihatnya? Dia baru berusia 8minggu, dia akan terus berkembang jika Tuhan mengijinkan..”
Dokter tersebut tersenyum memperhatikan ekspresi pemuda di sampingnya, wajah yang damai dan bahagia.

Berharap dengan cara ini pemuda tersebut membatalkan niatnya. Walau kemungkinan akan sulit, namun membunuh bayi juga bukan pilihan yang baik.

“Aku masih sangat ingat ketika anak pertama ku hadir, dia begitu sama sepertinya. Kecil dan rapuh. Maka aku berjanji akan melindunginya sampai kapanpun.. ah, sekarang anakku sudah menikah dan istrinya hamil tua.”

Lanjut dokter Lee, mengenang masa silamnya dengan bahagia.
Dan ini bukan pertama kalinya seorang pasien meminta bayi mereka untuk digugurkan, namun selalu ada cara untuknya agar tidak pernah melakukan hal laknat tersebut.

Dia sedikit bangga.

Yoora terenyuh mendengar ucapan dokter Lee, berdoa dalam hati agar Baekhyun mengurungkan niatnya. Karena bagaimanapun buruknya Yoora sebagai calon ibu, dia juga ingin membesarkan dan melihat anaknya tumbuh.

Walau rasanya itu kemungkinan yang sangat mustahil.

Baekhyun tetap memperhatikan monitor itu, terus merasa bahagia atasnya.
Lalu menoleh pada dokternya yang juga tersenyum.

“Aku akan mempertahankannya..”
Ujarnya mantap, lalu menoleh pada Yoora yang kini telah menangis. Ya, Baekhyun akan melindungi bayinya walau dia tahu apapun yang akan menghadangnya.

Bayi itu hadir juga karena dirinya.

“Anak keduaku adalah seorang gadis berusia 20 tahun, dia adalah penggemarmu. Bahkan setiap hari aku selalu dipaksa untuk melihatmu bernyanyi.”
Aku dokter Lee yang memang telah mengenali Baekhyun sedari tadi, dia hanya tidak menyangka akan bertemu dengan idola anaknya dengan waktu dan keadaan yang seperti ini.

Baekhyun yang mendengar itu merasa was-was,

“Aku akan merahasiakannya, itu juga bagian dari tugas dokter..”
interupsi dokter tersebut membuat Baekhyun tenang, setidaknya.

“Ah terimakasih dokter.”
Baekhyun membungkuk dan kembali melirik Yoora yang terduduk di ranjang sembari memperhatikan keduanya.
Pria itu mengisyaratkan agar Yoora turun dari sana dan pulang, Yoora menurut walau dengan berat hati.

Setelahnya dokter memberi resep penghilang rasa mual dan nafsu makan, dirinya juga di pinta untuk memeriksakan kandungannya tiap bulan. Walau Yoora yakin Baekhyun bukan tidak mungkin tidak akan menemaninya lagi.

Setidaknya pria itu sudah mengakui anaknya sendiri, itu bahkan lebih dari cukup.

******

Byun Baekhyun selalu terngiang apa yang dia ungkapkan beberapa waktu lalu. Entah itu tentang pertemuannya dengan Taeyeon ataupun insiden dirinya dengan Yoora.
Meskipun kini sebuah pilihan telah dia genggam, tetap saja Baekhyun bertanya-tanya apakah ini benar atau dia mengambil langkah yang salah.
Jika difikir ulang, untuk apa dirinya mempercayai begitu saja gadis yang tidak dikenal sama sekali mengaku hamil anaknya, ya Baekhyun melakukan ‘itu’ dia mengakuinya, tapi bagaimana jika gadis itu melakukannya dengan banyak pria?

Dan entah bagaimana Baekhyun mempercayai Yoora dengan mudahnya.

Lantas menoleh ke samping tempat Yoora berada, gadis itu melihat pemandangan luar mobil lewat kaca samping dengan damai, betapapun beribu macam pemikiran dalam otak gadis itu.
Sedari keluar dari rumah sakit, Yoora tak mengeluarkan sepatah katapun. Mungkin terlalu pasrah dengan apa yang terjadi padanya.

“Ka kau masih sekolah?”
Bodoh jika Baekhyun belum mengetahuinya, namun itulah faktanya. Dia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri.

Yoora nampak terkejut namun kemudian menoleh, melihat pria itu yang masih menyetir dengan fokus. Lalu mengangguk berharap Baekhyun melihatnya, Yoora tak tahu mengapa hari ini tubuhnya lelah sekali.

“Maafkan aku, kau bisa home schooling mulai sekarang. Apa ini tahun terakhirmu?”

“Ya, aku minta maaf.”

Baekhyun menggeleng dan berdehem.

“Ini bukan salahmu, kau tidak membuat bayi itu sendirian.”

Baekhyun menyela dan sedikit menyesal karena kembali mengungkit malam nistanya itu. Dia menyesal.

“Mulai sekarang, kau tak perlu memikirkan apapun lagi. Kau hanya perlu menjaga kandunganmu dengan baik, jangan keluar tanpa seijinku, jangan menerima telepon sembarangan ataupun mengatakan hal yang tak perlu pada orang lain. Sisanya kau bisa menyerahkannya padaku..”

Yoora tercenung, ini kalimat terpanjang yang pernah Baekhyun katakan padanya. Terlebih itu mengenai masalah mereka dan bayinya, membuat gadis itu memerah.

“Aku akan mencari apartemen untuk kita berdua, itupun setelah aku berbicara pada manager tentangmu. Untuk sementara kau bisa tinggal di asrama kami seperti biasa..”

Lanjutnya mantap, sepertinya Baekhyun telah memirkirkan ini sebelumnya. Tentu saja, hal yang membuatnya tidak bisa tidur nyenyak salah satunya adalah Yoora.
Entah pria itu mengakuinya atau tidak.

“Ya, terimakasih Baekhyun-ssi..”

Baekhyun mengangguk tak tahu apa yang harus dia bicarakan lagi, ini pertama kalinya mereka berbicara mengenai kejelasan masa depannya.
Ya, masa depan yang tak pernah Baekhyun kira sekalipun.

Dan perkataan Baekhyun selanjutnya berhasil membuat Yoora seperti hilang nafas, antara terkejut dan takut.

Sekarang aku akan membawamu ke rumah orang tuaku..

******

“Halo, apa benar ini kantor SM entertainment?”

“Ya benar, ada yang bisa kami bantu?”

“Saya ingin memberikan informasi perihal salah satu anak didik SM. Maaf jika kalian sudah tahu. Apa saya di perbolehkan?”

“Ya silahkan. Apa artis kami mengganggu anda?”

“Tidak, hanya saja ini teramat serius. Saya menemukan seorang gadis yang dihamili oleh salah satu artis anda, untuk detailnya saya akan mengirim lewat email.”

“Siapa itu?”

“Baekhyun EXO.”

“Baik, untuk kejelasan dan bukti anda bisa mengirim ke alamat email ……..”

“Baik, terimakasih.”

Pria berjas hitam tersebut mematikan saluran teleponnya, tersenyum sinis setelahnya.
Pria itu melangkah keluar dari box telepon umum sembari merapatkan hoodie nya, dia yakin setelahnya pria itu pasti hancur.

Jika aku tak bisa mendapatkan Yoora, maka kau juga tak bisa.

******

Yoora terbangun dari tidurnya tatkala suara Baekhyun yang menyuruhnya untuk membuka mata, mereka sudah sampai.
Pria itu membantu Yoora membuka belt dan membuat Yoora kembali merona. Merasa aneh jika Baekhyun berprilaku seperti ini, walau mungkin ini hal yang sangat wajar.
Tapi aroma maskulin Baekhyun yang amat menyengat indera nya baginya itu tidak wajar, ditambah wajah mereka yang saling berdekatan membuat Yoora bisa melihat garis sempurna dari Baekhyun.

Betapa Yoora bukan apa-apa jika disandingkan dengan pria ini.

“Terimakasih..”
Ucapnya gugup, memalingkan wajahnya ketika Baekhyun kembali meliriknya.

“Ini rumahku, kau tak harus mengatakan apapun. Aku yang akan menjelaskan semuanya pada mereka..”

“Tapi..”

“Tidak apa, aku jamin kau aman.”

Baekhyun mengangguk menguatkan tekadnya, entah apa yang akan diperbuat orangtuanya kala mengetahui kelakuan bejad Putra nya ini.

Dia mungkin tak akan selamat, terlebih lagi dirinya adalah anak tunggal.

“Ayo.”
Ajaknya kembali, membuka pintu mobil dan menyuruh Yoora untuk keluar juga. Gadis itu menurut dan mengikuti langkah Baekhyun dari belakang.

Terlihat suasana asri di halaman rumahnya, terlihat segar walau sudah tengah hari. Yoora berani bertaruh dirinya akan betah jika tinggal disini, rasanya semua beban dalam rongganya terangkat sudah.

Ya, menyesalpun tak akan menyelesaikan apapun.

Ditatapnya punggung Baekhyun, dia adalah calon ayah dari anaknya.

Yoora tidak berani mengatakan bahwa Baekhyun juga kelak akan menjadi calon suaminya.

Dia takut,
Kelak hanya dirinya yang akan jatuh Cinta.

Baekhyun menoleh dan menunggu Yoora, mereka melewati undakan tangga di depan rumah keluarga Baekhyun. Tak ada sepatah katapun, yang ada hanya Baekhyun yang sedang menyusun pengakuannya dan Yoora yang gugup luar biasa.

Apa orang tua Baekhyun akan mengusirnya?
Apa mereka akan baik padanya?
Bagaimana jika Yoora harus pergi dari Baekhyun dan membesarkan bayinya sendiri?

“Ah, anakku pulang. Oh Tuhan, aku rindu padamu nak.”

“Oh siapa ini? Cantiknya..”
Itu ibu Baekhyun, Yoora dapat menebaknya karena mereka begitu mirip.
Wanita yang masih sangat terlihat muda itu menghampiri keduanya yang masih diambang pintu, Baekhyun mengajak Yoora untuk masuk dan menyapa ibu nya.

Baekhyun sedikit berlari dan memeluk ibunya, baginya itu pelukan permintaan maaf.

“Bagaimana pekerjaanmu nak?”
Nyonya Byun nampak tersenyum dan membelai wajah Putra semata wayangnya dengan sayang.

“Lancar eomma, dimana appa?”

“Appa-mu masih dikantor. Hei kau belum mengenalkannya padaku nak, siapa dia? Apa kekasihmu?”

Nyonya Byun melirik ke arah Yoora yang berada dibelakang Baekhyun, gadis itu tersenyum dan menunduk hormat.

“Saya Kim Yoora nyonya, senang bertemu denganmu..”
Sapa nya sopan, membuat nyonya Byun menghampirinya karena gadis itu terlihat sangat canggung.

“Ada yang harus aku bicarakan eomma. Ini tentang aku dan Yoora..”

Baekhyun mencoba memulainya dengan tenang, tangannya mengisyaratkan ibunya dan Yoora untuk duduk di kursi tamu. Sang ibu mengkerut kemudian tersenyum.

“Kalian benar-benar pacaran?”

“Bukan eomma, itu Yoora dia.. dia hamil anakku eomma..”

Baekhyun menunduk merasa tak sanggup melihat ekspresi kecewa ibunya, dia juga bisa merasakan helaan nafas pasrah dari Yoora yang duduk disampingnya.
Gadis itu mungkin jauh lebih ketakutan lagi.

Lalu Baekhyun merasakan tubuhnya terangkat dan sebuah tinjuan keras di pipinya.

“Kau menghamili seorang gadis Byun Baekhyun..?”
Baekhyun merasakan sudut bibirnya yang robek, mengusapnya kemudian memandang seseorang yang kini ada di hadapannya.

Appa-nya.

Pria yang menjadi ayahnya atau bahkan kini dia tak akan pernah diakui lagi.
Baekhyun menunduk, nafas memburu dari ayahnya masih bisa terdengar, dia juga bisa merasakan Yoora dan ibunya yang menangis.

Sekali lagi, Baekhyun memang luar biasa brengsek.

“Bawa gadis itu ke kamar anak kurang ajar ini..”

Suruh Tuan Byun pada istrinya lalu duduk mencoba untuk menenangkan diri, Baekhyun masih berdiri di tempatnya. Bersiap jika ayahnya kembali memukulnya.

“Siapa gadis itu?”
Tanya tuan Byun pelan, mengusap wajahnya frustasi.

“Dia Kim Yoora, kami tak sengaja bertemu di klub..”

“Kau benar-benar berandal sekarang, apa teman grupmu yang membuatmu seperti ini?”

Baekhyun memandang ayahnya kemudian menggeleng, ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Exo.

“Tidak, bukan mereka. Aku hanya mampir sendiri.”
Bela Baekhyun.

“Aku tak pernah mengajarimu seperti itu.”
Sembur ayahnya kembali, tetap memandang anaknya yang semakin menunduk. Dia harus tetap tenang kendati dalam hatinya ingin sekali menangis, itu bahkan bukan pilihan yang baik.

“Maafkan aku..”
Lirihnya nyaris tak bersuara, sejenak keduanya terdiam dan kini ibunya yang telah kembali bergabung dengan mereka mendudukan dirinya disamping tuan Byun, mengusap lengan suaminya pelan.

Nyonya Byun menghapus sisa airmata di pipinya kemudian memandang anak prianya yang kian dewasa.
Dulu Baekhyun-nya teramat polos dan lucu,
Dulu Baekhyun-nya penurut dan pandai,

Lantas apa yang menyebabkan Baekhyun dewasa menjadi seperti ini?

Wanita itu benar-benar gagal dalam memahami watak anaknya yang sebenarnya.

“Apa dia masih sekolah?”
Tanya Nyonya Byun.

Baekhyun mengangguk dan merasakan airmatanya menggenang mendengar suara lirih ibunya.
Nyonya Byun mencelos, Baekhyun telah merusak masa depan seorang gadis yang bahkan tak mereka kenali sama sekali.

“Aku tak mau tahu Byun Baekhyun, kau harus membawa keluarga gadis itu kesini secepatnya..”

Tuan Byun pergi ke kamarnya setelah menyelesaikan ucapannya tanpa menoleh lagi pada anaknya yang kini telah terisak.

Anak kebanggaannya.

Dia gagal menjadi ayah.

******

Baekhyun memperhatikan wajah tidur Yoora diranjangnya, gadis itu meringkuk dengan earphone ditelinganya.
Baekhyun menaiki ranjangnya dan meraih ponsel Yoora, hendak melihat lagu apa yang sedang gadis itu dengarkan.

Bigbang – Loser.

Lantas melihat playlist lain dan mendapati semua lagu yang dia punya adalah lagu EXO dan satu lagu lain yang kini sedang di putar.

Mengapa Yoora tak mendengarkan lagu nya?

Apa dia kini bukan penggemarnya lagi?
Baekhyun menggeleng menghentikan pemikiran childish-nya. Lalu mematikan lagu tersebut dan menyimpan ponsel nya di nakas.

Pria itu membenarkan selimut yang Yoora pakai dan kembali memandang gadis itu.

Yoora tidak termasuk golongan gadis yang jelek,
Dia cukup cantik diusia nya yang masih belia, walau bukan termasuk gadis yang membuat sesak nafas para pria, namun Yoora mampu membuat siapapun ikut tersenyum ketika gadis itu tersenyum.

Singkatnya, dia cantik. Itu saja.

Ya, setidaknya itu yang baru dia ketahui perihal Yoora.

“Engghh..”
Gadis itu mengerang tak nyaman, menggerakan kepalanya kesana kemari. Baekhyun mengusap kepala Yoora pelan, hendak menenangkan.
Dan berhasil karena gadis itu kembali terlelap. Membuat Baekhyun tanpa sadar tersenyum, lalu ikut membaringkan dirinya di samping Yoora.

Ya, kita ikuti saja permainan takdir.

To be continue ~

11 responses to “[FREELANCE] Autumn #6

  1. Uhh baekhyun tersentuh, tanggung jawab, buaikk, tp kok balikan sm taeyeon? ckckck
    Btw KENAPA ADA YG TAU PERIHAL INI?! HUFTTT
    Lanjut deh~~
    JJANG

  2. Pingback: [FREELANCE] Autumn #7 | SAY KOREAN FANFICTION·

  3. Pingback: [FREELANCE] Autumn #8 | SAY KOREAN FANFICTION·

  4. Pingback: [FREELANCE] AUTUMN #9 | SAY KOREAN FANFICTION·

  5. Pingback: [FREELANCE] Autumn #10 | SAY KOREAN FANFICTION·

  6. Pingback: [FREELANCE] Autumn #11 | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s