[FREELANCE] From Apple with Love (Chapter 5)

z16

Cr : poster by LIGHTSEEKER by http://cafeposterart.wordpress.com

 

Title: From Apple with Love (Chapter 5)

Author: Ndkhrns (Twitter : @Nadiakhair_) 

Main Cast: Oh Sehun

Kim Minseok or Xiumin

Kim Minji (OC, Xiumin’s sister)

Support Cast  : Byun Baekhyun and many more

Genre  :  Family, Friendship, Romance, Comedy (maybe)

Rating : PG-15

Length: Chaptered

Disclaimer: 100% hasil kreatifitas author. Sangat melarang adanya plagiat. Butuh sekali saran dari para readers tersayang❤

WARNING! (dikhawatirkan) TYPO BERTEBARAN

Happy Reading ^^

Ketinggalan cerita? Silahkan ‘klik’

 Chapter 1Chapter 2Chapter 3 | Chapter 4 |

 

“Lepaskan aku!”

“Sehun-ah!”

Sehun menepis tangan Jiyeon kasar lalu mengusap wajahnya dengan gusar. Ia tak habis pikir, kenapa Jiyeon bisa datang ke tempat ini.

“Sudah kubilang jangan membuntutiku, Park Jiyeon!” Sehun berusaha menahan amarahnya. Entah kenapa, saat Jiyeon memeluknya erat di depan Minji membuatnya kesal setengah mati. Raut wajah Minji memancarkan luka. Entah gadis itu cemburu atau apa, yang jelas Sehun tidak suka kalau Jiyeon memeluknya di hadapan Minji.

Jiyeon menatap Sehun dan Minji bergantian dan ia merasa ada yang tidak beres diantara mereka berdua. “Kenapa? Apa kau tidak suka kalau gadis kampung itu melihat adegan tadi?” tanya Jiyeon sarkasme.

Ucapan Jiyeon membuat Minji terkejut. Harga dirinya telah dilecehkan begitu saja. Gadis kampung. Bohong kalau Minji mengatakan bahwa ia tidak sakit hati. Setelah adegan pelukan paksa yang mampu membuatnya diam membeku seperti es gelondongan tadi, lalu julukan ‘Gadis Kampung’. Minji benci sebenci-bencinya pada Jiyeon. Sangat benci.

“Jaga ucapanmu, Nona! Dasar tamu tidak tahu diri.” Minji membalas ucapan Jiyeon.

“YAK!”

“Cih, perempuan kota macam kau ini… Hm, pasti bukan cantik alami. Pasti cantik pakai uang, ya?”

Minji melenggang pergi begitu saja setelah puas membalas ucapan Jiyeon. Yah, sebenarnya belum sepenuhnya puas, sih. Tetapi ia bukan tipe orang yang suka berlama-lama hanya untuk adu mulut dengan manusia macam Jiyeon. Buang-buang waktu saja. Minji memutuskan untuk mengajak Baekhyun bertemu di pinggir sungai dekat rumah Baekhyun. Dengan senang hati putra sulung Kepala Desa itu menerima ajakannya.

Mereka sampai di waktu yang hampir bersamaan. Dengan senyum ceria Baekhyun menyapa Minji, sahabat kecil sekaligus cinta pertamanya. Melihat raut wajah Minji yang murung membuat Baekhyun penasaran.

“Ada yang ingin kau ceritakan padaku?” tanya Baekhyun.

Minji menundukkan kepalanya dalam-dalam. Adegan Jiyeon memeluk Sehun terputar dengan jelas dan terus menerus. Ia tidak mengerti kenapa hatinya sesakit ini. Kemana Minji yang tergila-gila pada Lee Chang Hyeon, anak bungsu pemilik perkebunan sayur keluarga Lee yang menjadi ketua kelasnya? Yah, memang Sehun lebih tampan daripada Chang Hyeon, sih, tapi Minji belum pernah berpaling sedikitpun sejak jaman dinasti Joseon masih berjaya.

Ah, itu berlebihan.

“Byun~”

“Hm?”

“Kenapa aku harus jatuh hati padanya?” Minji memainkan air sungai dengan tangan kanannya. Tanpa ia sadari, Baekhyun menatapnya dengan tatapan sendu.

“Siapa?” tidak, Baekhyun hanya berpura-pura tidak tahu. Tentu saja ia tahu siapa yang dimaksud oleh Minji. Perlu kalian ingat, Minji adalah sahabatnya sejak kecil, bahkan mereka lahir di kamar persalinan yang sama walaupun selisih satu minggu.

“Oh Sehun, pemuda dari Seoul itu.”

Hening. Baekhyun menatap lurus ke depan, memandangi pepohonan yang tumbuh subur di dekat sungai. Udara sekitar sangat sejuk, namun tidak dengan suasana hatinya. Api amarah dalam dirinya mulai tersulut. 18 tahun bukanlah waktu yang sebentar, namun Minji belum bisa menyadari arti dari semua sikapnya selama ini. Yang lebih menyebalkan lagi, sosok Oh Sehun itu datang tanpa diundang dan berhasil membuat Minji jatuh hati dalam waktu sekejap saja.

Iri? Jelas.

Baekhyun lebih tahu segala hal tentang Minji. Ia selalu ada di sisi Minji kapanpun dan dimanapun gadis itu berada. Sehun hanyalah orang asing yang seenaknya berusaha masuk ke kehidupan Minji. Sehun bagaikan iklan di televisi, hanya selingan dan akan berlalu begitu saja. Setelah masa liburannya usai, lelaki itu akan kembali ke Seoul dan melanjutkan aktivitasnya. Otomatis Minji juga akan terlupakan olehnya.

“Kau….” ucap Baekhyun pelan. “Kau menyukai orang yang salah, Minji-ya.

Kepala Minji terangkat. “Wae? Dimana letak kesalahannya?”

“Kau –Ani maksudku kita itu berbeda dengan dia. Orang kaya macam teman Minseok-hyung itu belum tentu mau bergaul dengan orang desa seperti kita. Kisah cinta gadis desa dan pemuda kota jarang yang berbuah manis, Minji-ya.

Sahabatnya itu benar. Harusnya Minji sadar siapa dirinya dan siapa Sehun. “Tadi ada perempuan yang datang ke rumahku. Dia cantik, tinggi, berbadan langsing. Kalau aku tidak salah dengar, namanya Jiyeon. Dia datang mencari Sehun dan perempuan itu….”

“….”

“Dia… Dia memeluk Sehun. Apa mungkin mereka berpacaran?” Baekhyun diam lalu mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Ia tak sanggup melihat raut wajah Minji yang murung, seolah gadis itu benar-benar terluka. Dalam hati ia berjanji akan selalu melindungi Minji dan tak akan membiarkan Sehun menyakiti gadis itu.

Kembali pada Sehun dan Jiyeon, mereka tengah bicara empat mata di dalam mobil. Sehun merasa tak enak jika sampai mengganggu ketenangan di rumah Xiumin. Alasan Jiyeon datang adalah untuk menjemputnya pulang dan berharap agar hubungan mereka bisa membaik seperti sedia kala.

“Aku tidak akan melanjutkan perjodohan itu.”

“Kau mulai menyukai gadis kampung itu, ya? Benar begitu, kan?”

Sehun meremas rambutnya kasar. Kehadiran Jiyeon disini membuat suasana hatinya memburuk. Harusnya hari ini ia pergi ke perkebunan apel bersama Minji dan menghabiskan waktu bersama. Bahkan ia ingin meminta Minji untuk mengajarinya membuat pai apel. Namun sayang, Dewi Fortuna sedang tidak berminat untuk menghampirinya dan digantikan oleh kehadiran Jiyeon kemari.

“Pulanglah. Kehadiranmu tidak diharapkan disini,” Sehun keluar dari mobil dan membanting pintu dengan kasar. Ia meninggalkan Jiyeon seorang diri dan bergegas masuk ke dalam rumah Xiumin. Sikap Sehun tidak membuat Jiyeon kapok, ia hanya menatap kepergian Sehun dengan senyum sinis. Sebuah rencana jahat sudah tersusun rapi di benaknya.

“You never can run from me, Oh Sehun. Not in a million times.”

========= 00 =========

Suasana canggung menyelimuti Sehun dan Minji saat keduanya kembali berada di rumah. Beruntungnya tak ada yang curiga, bahkan Xiumin sekalipun. Minji nampak berusaha bersikap biasa saja saat mereka duduk berhadapan di meja makan.

“Minji-ya, maafkan ucapan Jiyeon tadi,” ucap Sehun saat mereka sudah menyelesaikan makan malam. Minji hanya tertawa pelan, “Ucapannya benar kok, aku memang gadis kampung.”

Sehun tertegun mendengarnya, ia semakin tidak enak hati. Bagaimanapun juga Minji adalah adik kandung Xiumin, roomate yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri. “Aku jamin dia tak akan berani datang kesini lagi,” kata Sehun.

Minji hanya mengangkat kedua bahunya, berusaha untuk bersikap acuh. Kemudian ia mengambil jaketnya yang tergeletak di kursi ruang keluarga dan berniat untuk pergi.

“Kau mau kemana?” tanya Sehun.

“Melihat bintang di bukit.”

Sehun buru-buru menutup mulut dengan salah satu telapak tangannya –untuk menyembunyikan tawa. Apa tidak ada kegiatan lain yang lebih masuk akal? Pikirnya. Sepasang indera penglihatannya tak bisa lepas dari sosok Minji. Lama kelamaan gadis itu pun lenyap dari pandangannya.

Baekhyun berjalan dengan santai sambil menikmati semilir angin malam. Dengan balutan jaket varsity bernuansa merah hitam dan celana jeans, ia berjalan dengan langkah yang mantap menyusuri jalanan pedesaan.

TIN TIN TIN!!

“AH KKAMJJAGIYA!!” Baekhyun hampir saja jatuh tersungkur akibat mendengar suara klakson mobil yang cukup keras. Ia lantas menoleh ke belakang, bersiap untuk memaki pengendara mobil itu. Namun niatnya langsung pupus seketika saat melihat si Pengendara mobil yang cantik jelita bak bidadari.

Glek!

Baekhyun menelan ludahnya dengan susah payah.

“Apa kau tahu penginapan yang bagus di dekat sini?” tanya perempuan itu.

“…..”

Pemuda bermarga Byun itu masih diam karena terlalu hanyut dalam pesona perempuan di hadapannya. Selama ini belum pernah ada bidadari yang nyasar ke desa ini. Baekhyun rasa ia sedang bermimpi kali ini. Reflek salah satu tangannya menampar pipinya sendiri dengan cukup kencang sehingga membuatnya meringis kesakitan.

“YAK!” lawan bicaranya mulai kesal. Bukannya dapat info, malah bertemu orang aneh yang menampar dirinya sendiri. “Jawab aku!”

“O-oh… Apa pertanyaanmu tadi?” tanya Baekhyun polos.

“Aku sedang mencari penginapan yang nyaman di daerah sini. Kau punya referensi tidak?”

“Hmmm…” Baekhyun nampak berpikir sejenak dengan wajah sok imut. “Sekitar 700 meter dari sini ada Guest House paling mahal milik Paman Yoo. Orang kaya sepertimu akan cocok dengan tempat itu. Lurus saja, nanti kau bisa bertanya lagi disana.”

“Oke.”

“E-eh… Tunggu!”

“Apa lagi, sih?”

“Memangnya kau ada keperluan apa kemari? Sekarang kan, bukan musim liburan,” ucap Baekhyun. Lagi-lagi ia membuat lawan bicaranya naik pitam. “Aku mencari tunanganku yang tinggal di rumah juragan apel.” Kemudian perempuan itu berbalik untuk kembali ke mobilnya.

Rumah juragan apel?

“Woah! Kau tunangan Minseok-Hyung?” kini pertanyaan Baekhyun mampu membuat perempuan itu menghentikan langkah.

“Kau kenal Minseok-Oppa?”

Baekhyun mengangguk, “Keluarga kami kenal akrab, bahkan sudah seperti saudara kandung. Aku sahabat dekat adik Minseok-hyung sejak kecil. Wah, aku tak mengira kalau Minseo–“

“Aku bukan tunangan Minseok-Oppa. Seleraku bukan pemuda desa.” Jawaban itu membuat Baekhyun bingung. Juragan apel paling tersohor di desa ini hanya keluarga Kim, tapi perempuan itu bilang bukan Minseok yang dia cari. Lalu siapa?

Baru saja Baekhyun ingin melontarkan pertanyaan berikutnya, namun lawan bicaranya itu sudah masuk ke mobil lalu pergi meninggalkannya seorang diri. Sial, padahal ia masih kepo dengan identitas pria yang dimaksud tadi.

“Tunggu! Jangan-jangan Paman Kim punya istri simpanan?! OMO!” pekik Baekhyun.

“HEY BAEK!” seseorang menepuk pundaknya dari belakang. “Kau sedang apa sendirian disini?”

“Minji-ya! Ada berita penting!”

Minji mengerutkan keningnya. “Berita apa?”

“Ayahmu punya istri baru!”

“APA?! YAK, JAGA MULUTMU!”

Wajah Baekhyun menampakkan ekspresi panik. “Tadi ada perempuan kota yang cantiiiiikkkk sekali! Dia sedang mencari penginapan dan dia bilang dia datang kesini untuk mencari tunangannya yang tinggal di rumah juragan apel. Dan orang yang dia maksud bukan Minseok-Hyung!”

“Perempuan kot–“

“Coba kau pikir baik-baik, siapa lagi laki-laki di rumahmu selain Minseok-Hyung? Ayahmu!”

Minji berpikir sejenak. Ia memang sempat melihat Baekhyun berbicara dengan seorang perempuan tadi, tapi karena jaraknya cukup jauh ia tidak bisa melihat dengan jelas. Namun Minji tak asing dengan kendaraan yang berada di dekat mereka. City car berwarna putih mengkilap.

“Baek..”

“Bagaimana? Kau sudah sadar, kan? Ternyata kau akan punya ibu ba–“

“Geumanhae!” omel Minji. Ia gemas karena Baekhyun mengoceh tanpa henti seperti radio rusak. “Apa dia berpenampilan bak seorang model?” tanya Minji setelah mulut Baekhyun berhenti berkoar.

“Ya. Dia sangat cantik!”

Benar sudah dugannya. Ekspresi murung  pun kembali tersirat di wajah cantik Minji. Perempuan itu masih disini, batinnya. “Aku tahu siapa dia,” lirih Minji.

Nugu?

“Jiyeon. Perempuan yang kuceritakan tadi siang.”

Kalimat itu membuat Baekhyun membelalakkan kedua matanya. Jadi perempuan tadi yang memeluk Oh Sehun di depan Minji sampai-sampai Minji galau akut seharian ini? Akhirnya ia menyadari perubahan raut wajah sahabatnya itu. Minji menundukkan kepala sambil meremas ujung jaket yang dia kenakan. “Ja-jadi itu Jiyeon?” Minji hanya mengangguk.

Minji tersenyum miris, namun tidak disadari oleh Baekhyun. Ada satu kata yang membuat keresahannya bertambah. Ia yakin 100% kalau Baekhyun mengucapkan kata itu. “Jadi dia tunangan Sehun, ya?” tanya Minji.

“Dia bilang begitu. Kelihatannya sih, apa yang dia bilang itu benar.” Duh, tidak tega rasanya melihat Minji semurung ini! Kesal. Baekhyun makin kesal pada pemuda kota itu. Kedatangannya hanya membawa masalah baru.

“Berhati-hatilah, Minji-ya, kita tidak pernah tahu seberapa lihai orang kota mempermainkan perasaan gadis desa secantik dirimu.”

-to be continue-

Haaaaiiii!! Akhirnya aku kembali membawa kelanjutan cerita FAWL (disingkat biar keren xP) Setelah bertapa untuk mengumpulkan ide *lebay* Maaf ya, karena FF ini slow update. Sebagai hadiah untuk para readers setiaku tersayang, aku langsung bawa dua part kali ini. Pada seneng nggak? Seneng dong pasti *GR tingkat dewa* terima kasih banyak buat kalian yang udah support dan setia menunggu kelanjutan FF ini. Btw ceritanya makin seru nggak sih? Atau kurang greget? Atau kurang panjang? WKWKWKWK

Kalian bisa komen di bawah ini ya! Jangan ragu untuk meninggalkan jejak ya, chingudeul!

XOXO❤❤

5 responses to “[FREELANCE] From Apple with Love (Chapter 5)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s