[FREELANCE] Wu’s Family in Action (Chapter 2B/4)

z20

Wu’s Family in Action (Chapter 2B/4)

Judul: Wu’s Family in Action

Author: Gyvece

Genre: family, comedy (gagal ?)

Rating: all ages

Length: chapter

Main Cast: Kris Wu/Wu Yi Fan, Alice Wu (OC)/Wu Mei Lan, Ailee Wu (OC)/Wu Mei Li, Anne Wu/Wu Jiao Li (OC)

Support Cast: Kris’ mom and dad, Lee Kwang Soo

Author note: Hello, everyone! So actually, FF ini ditulis pada tahun 2014, jaman EXO masih hot-hotnya sama.. yah gitu lah dan album mereka yang Overdose. Ini menjelaskan kenapa lagu yang digunakan dalam FF ini berasal dari tahun 2014, termasuk juga lagu Holiday milik Henry Lau. But don’t worry, kami akan segera melanjutkan FF ini sehingga setting waktunya pada present time atau saat ini. FF ini juga sudah dipublikasikan pada blog pribadi kami di Wufanfics. Please anticipate! ^^

Chapter 1  |   Chapter 2A

***

Because the truth is, you will never find any kind of love just like what you get in home.

Even the silly ones.

***

“AAAAAAAAAAAAAA……..”

“ANNE!!!!”

“………………..”

Kejadiannya berlangsung cepat sehingga aku tidak tahu bagaimana tepatnya. Aku sedang membalas pesan dari Ailee ketika Anne tahu-tahu ingin mencoba gaya Nose Grab. Anne, itu tindakan bodoh karena kau perlu latihan berbulan-bulan untuk menguasai teknik itu. Tapi aku tidak bisa menyalahkannya. Karena itu salahku. Aku terlalu sibuk membalas pesan Ailee sehingga tidak memperhatikan Anne. Sehingga Anne berakhir dengan patah tangan dan ankle. Sekarang kami- Aku, Gege, Ailee dan Anne- sudah pulang ke rumah setelah tadi ke Rumah Sakit untuk mengobati Anne. Syukurlah, dia tidak perlu dirawat inap. Anne saat ini sedang tertidur di kamarnya (mungkin efek obat pereda sakit yang tadi diminum Anne) sementara aku, Gege dan Ailee berdiri di depan kamar Anne.

 

“Alice Wu apa yang ada di pikiranmu, hah?!” Tanya Gege. Dia marah padaku. Aku memang pantas di marahi. “Bisa-bisa nya kau bermain skateboard lagi dan mengajak Anne bermain skateboard? Kita sudah sepakat Alice! No more playing skateboard. Dan tadi kau bilang sedang mengecat kuku. Mengecat kuku siapa, hah? You even lied to me! God, Alice.” Gege memarahiku. Beberapa kali dia memegang keningnya. Sedangkan Ailee berdiri di sampingku sambil menangis.

 

“Maafkan aku, Ge.. Aku.. Aku..” Aku bingung ingin berkata apa. Ya Tuhan, maafkan aku. Aku merasakan panas di mataku. Stop, Alice. Don’t cry.

 

“Kau apa? Alice, kemarikan skateboard mu!” Pinta Gege kemudian langsung mengambil begitu saja skateboard yang aku bawa. Gege kemudian berjalan keluar rumah. Aku berlari mengikutinya, begitu juga Ailee di belakangku. “Ge, apa yang hendak kau lakukan pada Tim?!”

 

Gege berdiri di depan rumah. “Mr. Sommers, tolong kesini.” Gege memanggil Mr. Sommers, supir pribadi keluarga kami. Ya Tuhan, Gege apa yang akan kau lakukan?!

“Mr. Sommers, tolong buang skateboard ini. Terserah mau di buang dimana,” kata Gege kemudian menyerahkan Tim pada Mr. Sommers.

 

“Gege!” Teriakku frustasi. “Gege mau membuang Tim? Ge, is this necessary? Gege tega sekali!”

 

“Aku? Tega?” Tanya Gege dingin. Ailee sudah memegang lengan Kris Ge dan memberi kode Alice-kau-turuti-saja padaku. “Wu Mei Lan, sekarang siapa yang tega? Kau membuat Anne ankle, bahkan patah tangan!”

 

Aku serasa di tampar. Aku tidak bisa menahan air mataku. “Ge..” Hanya itu yang dapat kukatakan.

 

“Mana tanggung jawabmu sebagai kakak, Alice?” Tanya Gege lagi. Dia menatapku tajam. Aku tidak pernah melihat Gege seperti ini. Semarah ini. “Aku tidak ingin adik-adikku terluka, Alice. Aku benar-benar sedih ketika kau jatuh saat bermain skateboard, menyebabkan kau mengalami ankle. Bahkan ankle mu belum sembuh total kan sampai sekarang? Tapi kau justru bermain skateboard lagi- sesuatu yang sudah kita sepakati untuk tidak dilakukan- dan mengajak Anne. Lihat dia sekarang! Kau bahkan berbohong pada Gege, Alice!” Gege memberikan penekanan pada kalimat terakhir. “Mr. Sommers, tolong buang skateboard itu. Kalau perlu, bakar saja,” kata Gege masih dengan nada dingin. “Sekarang.”

 

“TIIIIM!” Aku berteriak kencang. “Mr. Sommers, tolong jangan lakukan, tolong!” Kulihat Mr. Sommers bimbang. “Gege, aku mohon jangan buang Tim. Jangan bakar Tim. Ge, maafkan aku. Aku benar-benar menyesal. Aku salah, Ge. Aku salah. Gege, please. I’m begging you.” Aku meraih tangan Gege kemudian menggegamnya.

 

“Maaf, Alice. Ingatkah kau akan kesepakatan kita? Kalau kau berani bermain skateboard lagi, skateboard mu akan di buang, kan?” Gege bahkan mengatakan itu tanpa memandangku. “Minta maaf pada Anne nanti,” lanjutnya.

 

Kemudian Gege menyuruh Mr. Sommers pergi membuang Tim lalu masuk kedalam rumah. Mungkin ke kamar Anne. Meninggalkan aku yang masih menangis. Ailee memelukku. “Alice, sudah.. Sudah..” Ia berusaha menenangkanku.

 

“Ailee, bagaimana rasanya apabila pianomu di buang? Bagaimana rasanya apabila bola basket Gege di buang?” Aku bertanya sambil menangis. Bagaimana rasanya apabila hal favoritmu, benda favoritmu lenyap?

 

Esok nya Lao Ma dan Appa kembali dari Paris. Mereka langsung memesan penerbangan paling pagi begitu mendengar apa yang terjadi pada Anne. Padahal mereka baru bertemu dengan anak buah nya di Paris. Aku dimarahi habis-habisan oleh Lao Ma dan Appa, meski Anne sudah menjelaskan kalau bukan aku yang mengajaknya bermain skateboard. Tapi yang lebih menyakitkan adalah sikap Gege menjadi sedikit lebih “dingin” padaku.

***

Aku buru-buru menghapus air mataku. Ingatan itu kembali memenuhi otakku. Semenjak kejadian itu, aku menjadi canggung terhadap Gege dan Anne. Bahkan Anne merasa bersalah padaku. Tapi aku bersyukur karena itu tidak berlangsung lama karena begitu Lao Ma dan Appa kembali melanjutkan perjalanan bisnisnya, tanpa sepengetahuan kami Gege mengadakan acara “pajamas party” (yang menurutku konyol sebenarnya) dengan tujuan mengembalikan suasana di antara kami berempat. Semenjak itu, kami sudah bersikap seperti biasa, bahkan hubungan kami semakin dekat.

Tanpa aku sadari, otakku sudah memerintahkan lenganku untuk memeluk Gege. Jangankan Gege, Ailee atau Anne. Aku saja kaget dengan apa yang aku lakukan. Aku mendengar Anne berkata, “Ya! Jie! Kau merebut jatah pelukanku!” Kemudian dia ikut memeluk Gege diikuti oleh Ailee.

“Aku sayang Gege,” kataku. Alice ini bukan kau! Kataku dalam hati. Tapi aku mendengar suara kecil dari dalam otakku yang berkata “Masa bodo, Alice Wu! Kau mau selamanya menahan hal-hal yang ingin kau ucapkan? Perbuatan yang ingin kau lakukan? Toh dia Gege mu. Dia saudara mu. Dia pelindung mu. Sekali-sekali, tidak apa seperti ini. Tidak apa memeluk orang lain, tidak apa berkata bahwa kau menyayanginya.”

“Alice sayang Gege,” kataku lagi. “Aku minta maaf atas semua kesalahan yang pernah aku lakukan. Aku minta maaf karena aku mengecewakanmu, Ge. Aku minta maaf karena tidak menjadi adik yang baik, juga tidak menjadi kakak yang baik untuk Ailee dan Anne. Aku sayang Ailee dan Anne juga.” Aku merasakan airmata mengalir ke pipiku. Tapi untuk pertama kali nya aku tidak merasa ingin buru-buru menghapus air mata itu. Entah mengapa.

Gege akhirnya berhasil memeluk kami bertiga setelah sebelumnya ia kewalahan mendapat serangan bear-hug dari kami.  “Alice Wu, apa yang kau bicarakan? Kau adik ku yang paling baik, yang termanis, yang paling memahamiku, yang paling mirip dengan ku. Kkk,” kata Gege sambil mengusap punggungku untuk menenangkanku. “Dan Alice, maafkan Gege juga karena Gege pernah membentakmu, marah pada mu. Karena Gege tidak memahamimu. Oh, Alice. Tolong jangan lupakan kalau Gege juga menyanyangi mu, arra?”

Aku hanya mengangguk sambil sesenggukan. Duh, hari ini Alice cengeng sekali!

“Ya, ya, ya!!” Teriakan Anne tiba-tiba menginterupsi. “Gege bilang Alice Jie adik Gege yang paling baik dan paling manis? Jogiyo, kalau Alice Jie mirip dengan mu, memang tidak di ragukan lagi. Lalu aku bagaimanaa?!” Protes Anne histeris sambil dia melepaskan diri dari pelukan bear-hug yang kami buat.

“Iya betul! Aku bagaimana, Ge?!” Timpal Ailee yang ikut melepaskan diri. Aku juga ikut melepaskan diri. “Dan kenapa kau hanya bilang kau menyayangi Alice?!”

Aku dan Gege tertawa. “Gege menyayangi adik-adik Gege. Semua nya sama rata. Kalau masalah paling baik dan paling manis, sih, itu agar Alice senang saja,” kata Gege sambil tergelak.

“GRR! GEGE!” Kataku berteriak kemudian ikut tertawa bersama Ailee dan Anne yang sudah lebih dahulu tertawa.

***

*CKLEK*

Keempat kakak-beradik yang sedang tertawa itu mendengar pintu apartemen di buka. “Samchon sudah pulang, kah?” Tanya Kris dalam hati.

“Oh, Samchon!” Pekik Anne sambil berdiri kemudian menghampiri Kwang Soo.

“Anne Wu annyeong. Kris Wu, Alice Wu dan Ailee Wu juga annyeoong~” sapa Kwang Soo. Kris memperhatikan Samchon nya itu. ‘Ada yang berbeda dengannya…’Pikir Kris.

“Annyeoong~” mereka serempak membalas.

“Kukira Samchon pulang malam karena lembur. Tidak jadi lembur, Samchon?” Tanya Alice sambil pergi ke dapur untuk mengambilkan Kwang Soo segelas air.

“Iya. Aku senang karena Samchon pulang sore. Yay!” Kata Anne sambil bertepuk tangan. Anne memang selalu bersemangat.

“Samchon lelah, kah? Di kulkas ada es krim,” kata Ailee. Ailee kemudian menyusul Alice ke dapur untuk mengambilkan es krim.

“Oh Samchon! Bagaimana pekerjaan mu? Apakah sudah selesai?” Tanya Anne lagi.

“Hey, samchon baru pulang. Kalian langsung menyerbunya dengan banyak pertanyaan!” Kata Kris.

“Pekerjaan ku… Pekerjaan ku sudah selesai,” jawab Kwang Soo singkat.

Alice dan Ailee datang bersamaan dari dapur sambil membawa air mineral dingin dan ice cream.

“Samchon. Ini, aku bawakan ice cream,” kata Ailee bersemangat.

“Lebih baik Samchon minum air putih dulu saja,” kata Alice.

“Gomawo Alice, Ailee,” kata Kwang Soo. Kwang Soo pun mengambil air dari Alice dan duduk di sofa bersama keempat keponakannya. Setelah itu dia mengambil ice cream yang Ailee letakan di meja.

Alice, Ailee dan Anne mengajukan banyak pertanyaan kepada Kwang Soo seputar tempat wisata di Korea. Sedangkan Kris sedang berkutat dengan pikiran nya yang kacau sejak Kwang Soo pulang. Kris yakin seyakin-yakinnya kalau Kwang Soo sedang memiliki masalah. Yang Kris tahu, Kwang Soo adalah seorang CEO dari sebuah perusahaan properti terbesar di Korea Selatan. Berbagai macam pertanyaan kembali memenuhi pikiran Kris. Kris juga melihat, beberapa kali Kwang Soo menggaruk tengkuk nya ketika sedang berbicara dengan Alice, Ailee dan Anne.

Apa Samchon sakit? Atau kantor nya sedang mengalami masalah? Apa investor menarik saham nya? Itu tidak mungkin. Apa dia kalah tender? pikir Kris.

***

“GEGE!!! Kau tidak mendengar panggilan ku?!” Teriak Ailee yang membuyarkan lamunan Kris. Sebenarnya Kris tidak melamun. Ia hanya sedang berada di antara sadar dan tidak sadar karena mengantuk.

Sorry, Da Mei. Ada apa? Eo? Samchon eoddiseo?” Tanya Kris.

“Samchon belum keluar dari kamar nya, Ge. Sepertinya dia sangat lelah. Apa menjadi pemimpin perusahaan sangat melelahkan?” Tanya Ailee dengan volume suara yang sangat minim.

“Iya Ge. Apa Samchon sakit? Tadi siang dia sangat ceria. Hmmm..” Sambung Anne.

“Entahlah, maybe he’s not in a good shape,” kata Kris.

Should we make him dinner, Ge? Well, Samchon sudah memasakkan kita makan siang tadi, so.. Tidak ada salahnya, kan?” Tanya Alice.

“Usul yang bagus. Tapi masak apa, Al?” Kris bertanya balik. Mereka berempat berpikir keras. Mereka sendiri tidak terlalu pandai memasak, walaupun Ailee sempat mengambil extra creative cooking saat sekolah dulu.

Tiba-tiba mata Kris menangkap sebuah buku yang lumayan tebal yang ada di bawah meja. Kris pun mengambil buku misterius itu. Buku tanpa judul, lumayan lusuh dan unik. Sampul nya motif sapi. “Astaga sapi lagi?!” Pekik Kris tertahan. Untunglah ketiga adiknya tidak mendengar pekikan tertahan Kris. Buku mantra kah ini?  batin Kris.

“Buku apa itu, Ge?” Tanya Alice seraya merebut buku itu dari tangan Kris. Kris hanya mengangkat bahu dan merelakan buku itu ada ditangan ketiga adiknya.

“Woah Ge!!!! Ini buku reseeeep. Sepertinya ini tulisan tangan Samchon!” Kata Anne setengah memekik.

“Kita mau masak apa nih? Disini banyak sekali resep nya. Mulai dari menu Western sampai Eastern ada lho,” kata Ailee.

“Karena kesimpulan kita Samchon sedang masuk angin, bagaimana kalau kita masak samgyetang? Disini ada tulisan kalau samgyetang cocok untuk orang yang sedang tidak enak badan,” usul Alice.

Kris berpikir sejenak. Membayangkan bagaimana repotnya membuat samgyetang.

“Hmm, baiklah. Ayo kita mulai sekarang saja,” kata Kris sambil bangkit dari sofa dan menuju dapur. Gummies nya pun mengikutinya sampai dapur. Mereka mulai menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan. Kris membacakan bahan-bahan yang di perlukan, kemudian Alice yang mengambil bahan-bahan tersebut sementara Anne merebus air dan Ailee sudah siap-siap di westafel untuk membersihkan bahan-bahan makanan yang akan di oper Alice padanya.

“Satu ayam utuh!” Kata Kris.

Alice mengambil ayam beku kemudian mengopernya pada Ailee. Letak kulkas memang bersebelahan dengan westafel. Dengan sigap Ailee segera membersihkan ayam tersebut.

“Apa lagi, Ge?” Tanya Alice.

“3 pieces of chestnuts!”

3 pieces of chestnuts? Chestnuts..” Alice mengulangi kata-kata Kris sambil mencari-cari chestnuts didalam kulkas. “Chajatta!” Begitu ketemu, segara di oper pada Ailee.

“4 siung bawang putih, jahe kurang lebih 3 cm dan 5 pieces kurma merah kering!” Kris mengucapkan bahan-bahan dengan cepat.

“Ya! Ge! Pelan-pelan, dong!” Alice sedikit sebal karena Kris cepat-cepat membacakan bahan-bahan tersebut. “Aku kan perlu mencari bahan-bahan nya.” Alice masih menggerutu sambil mengaduk-aduk isi kulkas. Maklum, Alice jarang masuk dapur. Apalagi ini bukan kulkas dan dapur nya sendiri. Sehingga ia sangat tidak tahu-menahu mengenai letak-letak bahan makanan tadi.

“Iya, iya. Gege salah. Maaf, deh. Sudah ketemu semua belum?”

Iya. Sudah. Maafkan aku juga,” kata Alice kemudian berbalik menghadap Gege nya.

“Ya! Apa yang Gege dan Jiejie lakukan, sih?! Cepat cari bahan-bahannya! Panas nih, di depan kompor!” Anne protes. Dia kepanasan karena harus berdiri di depan kompor karena menunggui air mendidih. Ailee tidak ikutan berkomentar, karena sedang sibuk membersihkan ayam.

“Oh! 100 gr beras Jepang. Bagaimana, nih? 100 gram lho, Al,” kata Kris bingung. Beras Jepang ini nanti akan dimasukkan kedalam perut ayam sebagai isian bersama dengan sebagian chestnuts, bawang putih, jahe dan kurma merah.

“Ya ampun tinggal di timbang, Gege,” jawab Alice sambil memutar kedua bola matanya. Kemudian ia mengeluarkan beras Jepang. “Ge…” Kata Alice. “Ailee, Anne…” Kata nya lagi.

“Apa?” Tanya ketiga saudara nya serempak.

“Tidak ada timbangan…” Kata Alice sambil nyengir pasrah.

Keheningan singkat terjadi diantara mereka. Kris terlihat berpikir keras, Ailee memperhatikan beras dan Anne sibuk celingak-celinguk mencari timbangan.

“Tidak mungkin Samchon tidak punya timbangan,” kata Anne.

“Ada tuh, timbangan,” timpal Alice. “Di depan toilet,” lanjut Alice kemudian tertawa diikuti oleh Kris, Ailee dan Anne.

“Kira-kira saja,” usul Ailee. Ketiga pasang mata memandangnya heran bercampur kaget.

“Kau yakin?” Tanya Kris menyuarakan pikiran kedua adiknya.

“Err.. Yah, nama nya juga kira-kira,” jawab Ailee sambil mencuci tangan. “Sini, kemarikan berasnya,” katanya. Alice pun mengoper sekantung beras Jepang kepada saudara kembarnya itu.

“Yakin bisa tepat 100 gram?” Tanya Alice sambil menaikkan alisnya. Dia masih tidak yakin terhadap usul Ailee.

“Tidak, sih,” jawab Ailee jujur. “Tapi mau bagaimana lagi? Tidak ada yang tahu letak timbangan dimana, kan.”

“Yasudah, yasudah. Biarkan Ailee menimbangnya, err.. Mengira-ngira lebih tepatnya,” Kris menengahi.

“Iya, Da Jie. Biarkan Xiao Jie menimbang,” timpal Anne mendukung Ailee.

“Err baiklah..” Kata Alice mengangkat bahu. “Kalau begitu perlu apa lagi? Bahan-bahannya maksudku.” Begitu Alice berkata seperti itu, mereka langsung kembali ke posisi masing-masing setelah berkumpul mengelilingi Alice karena insiden tadi.

Kris membaca catatan tangan Kwang Soo. “Oh, daun bawang, Al!”

“Daun bawang!” Ulang Alice sambil mengangkat seikat daun bawang kemudian mau menyerahkannya kepada Ailee.

“Eitss! Bukan seikat begitu! Satu batang saja, Al! Hehehe.” Kris buru-buru mengambil satu batang daun bawang.

Alice mencibir, “Bilang dari tadi dong Ge..” Sementara Kris hanya bisa tertawa. Matanya berubah menjadi jahil. Alice yang merasa dikerjai langsung memukul Gege nya dengan sisa daun bawang.

“Yak! Appo!” Teriak Kris.

Mian,” kata Alice datar- tak merasa bersalah. “Apa lagi, Ge?”

“Engg… Garam dan merica. Tinggal itu saja,” jawab Kris.

Eo? Di kulkas tidak ada..” Kata Alice sambil mengaduk-aduk isi kulkas.

“Ya ampun Alice Jie. Garam dan merica nya ada disini, nih,” kata Anne sambil menunjuk-nunjuk satu papan kayu yang di ada di atas kompor. Ternyata itu tempat Kwang Soo meletakkan segala macam bumbu dapur miliknya.

“Kalian sekongkol, ya?!” Tanya Alice bersungut-sungut kemudian menutup pintu kulkas agak sedikit keras. Oh, Alice. Apa salah si kulkas padamu, heh?

Kris segera menghampiri Anne kemudian berhigh-five dengan Anne. “Makanya, Alice. Sering-seringlah ke dapur. Mana ada orang meletakkan garam dan merica di kulkas,” kata Kris sambil tertawa bersama Anne. Bahkan Ailee yang sudah kembali melanjutkan kegiatan membersihkan ayam ikut tertawa.

Alice hanya bisa cemberut. “Ooo.. Adikku marah, kah?” Tanya Kris. Dia segera mendekati Alice kemudian merangkulnya.

“Kalau begitu tadi suruh Anne saja yang cari bahan,” Alice protes. Anne tertawa. “Ya ampun, Jie. Aku tidak tahu menahu soal bahan-bahan makanan,” bela Anne. “Tapi aku tahu letak garam dan merica!” Kata Anne lagi yang justru membuat Alice kembali bersungut-sungut.

Girls, girls. Sudahlah,” Kris mengambil tindakan. Sebagai kakak tertua, dia memiliki kewajiban untuk- katakanlah- mencegah “peperangan” terjadi.

Alice kemudian tertawa. Dia memang tidak tahan marah lama-lama. Begitu mendengar Alice tertawa, Kris, Ailee dan Anne langsung ikut tertawa.

“Omong-omong bagaimana kabar si beras Jepang? Perkiraan mu benar, Ailee?” Kata Alice memulai perang.

“Ya! Mulai lagi kau!” Kris langsung membekap mulut Alice. Mereka kemudian melanjutkan memasak sambil bercanda ria.

Kris kembali bertugas membacakan cara memasak samgyetang. Sementara Ailee sebagai koki utama yang “memberi perintah” kepada Alice dan Anne. Anne masih di tempat yang sama -didepan kompor, maksudnya- menunggu air yang masih belum mendidih.

“Simak baik-baik, Chefs! Ini langkah-langkah membuat samgyetang!” Kata Kris seolah-olah dia sedang memberi pengarahan pada calon chef-chef masa depan. “Ya, Chef!” Serempak para Gummies menjawab. Inilah efek menonton Masterchef. Salah satu acara masak-memasak yang ditonton mereka karena penasaran mengapa Lao Ma suka sekali dengan acara Masterchef. Ujung-ujungnya mereka malah seperti Lao Ma. Tidak bisa ketinggalan satu saja episode Masterchef. Bahkan Kris disela-sela kesibukannya saja menyempatkan menonton Masterchef. Apabila tidak memungkinkan menonton, dia akan bertanya pada Lao Ma ataupun ketiga adiknya mengenai apa yang terjadi pada episode yang bersangkutan. Apabila ia tidak puas dengan cerita dari Lao Ma dan ketiga adiknya, ia tidak malu-malu untuk menonton di Youtube. (Oh, tentu saja tidak akan ada yang mengejekmu, Kris. Seorang calon CEO yang maskulin pasti gemar masak-memasak, kan?)

“Pertama, taburi ayam dengan garam dan merica secukupnya!” Kris berbicara dengan nada tegas dan intonasi sedikit memerintah- meniru salah satu juri di Masterchef.

Dengan sigap Ailee segera mengambil ayam dari mangkuk kemudian meletakannya di talenan. Tangannya lincah menaburi garam dan merica.

“Kemudian campur beras Jepang dengan garam secukupnya!” Lanjut Kris.

Ailee sebagai koki utama memberi perintah. “Alice, tolong campur beras nya, ya.”

Alice langsung mengambil beras 100 gram menurut perkiraan Ailee (dan sudah disetujui oleh Kris, Alice dan Anne walapun sempat tambahkan-kurangi-tambahkan lagi-kurangi lagi beras) yang sudah diletakkan di dalam mangkuk. “Segini, Ailee garamnya?” Ailee melirik sekilas kemudian mengangguk.

“Sudah?” Tanya Kris konyol sok mendramatisir.

“Ya, Chef!” Jawab Alice tak kalah konyol.

“Kalau begitu sekarang masukkan beras Jepang yang sudah di campur garam, sebagian jahe, kurma merah, chestnuts dan bawang putih kedalam perut ayam!”

Ailee segera memasukkan bahan-bahan yang tadi dibacakan oleh Kris kedalam perut ayam. Alice membantu dengan memegangi si ayam.

“Bagus sekali,” kata Kris sambil menganggukan kepala. Sepertinya Kris terlalu menikmati perannya sebagai juri di Masterchef.

Chef Anne, air nya sudah mendidih?” Kris bertanya lagi, kali ini pada Anne.

“Sebentar lagi, Chef! Tolong cepat sedikit karena aku sudah kepanasan disini,” kata Anne sambil mengelap keringat yang menetes di dahinya. Dia harus kembali menjaga air karena tadi kompor sempat dimatikan akibat mengira-ngira beras Jepang.

Kris menahan tawa- untuk menjaga karisma nya. “Baiklah. Kalau begitu sekarang masukan sisa jahe, kurma merah, bawang putih, chestnuts dan ayam kedalam panci. Jangan lupa beri garam dan merica!”

“Ya, Chef!” Kompak, Alice, Ailee dan Anne menjawab sambil bersama-sama memasukkan bahan-bahan.

***

30 menit kemudian….

Keempat kakak-beradik konyol itu sudah melepaskan peran mereka masing-masing. Mereka sekarang duduk di meja makan sambil ngemil keripik singkong milik Kwang Soo.

“Umm.. Xiao Jie. Ini sudah 30 menit. Apakah sudah matang?” Tanya Anne.

Ailee melirik jam dinding. “Oh.. Mungkin sudah,” jawab Ailee kemudian berjalan menuju kompor.

“Semoga sudah, aku sudah lapaaarrr~” Kris berkata sambil setengah memohon.

“Aku juga,” timpal Alice. “Sudah mau jam 7, nih.  Tapi kok Samchon belum keluar kamar juga, ya?”

Kwang Soo memang belum keluar kamar sejak dia pulang kerja. Sudah hampir 2 jam dia berada di kamar nya.

“Apa Samchon betulan sakit?” Anne bertanya khawatir.

“Aku tidak tahu, Anne. Jangan berpikir yang tidak-tidak dulu, oke?” Kata Kris menenangkan Anne. Kris kemudian menepuk pelan kepala Anne.

Kau kenapa, Samchon? Tanya Kris dalam hati. Kris tentu juga merasa khawatir akan Samchon kesayangannya ini.

Samchon.. Apakah kau baik-baik saja? Tidak disangka-sangka, Alice juga berpikir. Dia tidak mengungkapkan apa yang ada di pikirannya, karena takut yang lain merasa lebih khawatir. Anne dan Ailee berinisiatif mengetuk pintu kamar Kwang Soo untuk mengajaknya makan.

***

Kwang Soo’s POV

Perjalanan dari kantor ke apartment terasa sangat jauh. Harusnya aku hanya memakan sekitar 45 menit. Kali ini 1 jam lebih aku habiskan untuk perjalanan. Sungguh lelah. Bukan fisik ku yang lelah, tapi batin ku yang lelah. Tetapi lelah itu lumayan terobati ketika aku sampai di apartment. Aku disambut oleh ‘three little pigs and a wolf’. Hehehe. Maksudku, Kris dan ketiga adik nya. Aku berusaha tertarik menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Alice, Ailee dan Anne. Kris? Mungkin dia sedang sibuk dengan perusahaan Appa nya. Aku pun tidak tahan dengan memaksakan keadaanku ini.

Di kamar, aku membereskan barang-barang yang aku bawa dari kantor tadi. Setelah itu aku mandi dan kembali berdiam dikamar. Entah apa yang dilakukan keponakan-keponakan ku itu, tapi diluar sana sangat gaduh dengan suara mereka. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku membuka lemari pakaian ku dan mengambil beberapa map yang ada didasar lemari. Ku buka map itu sambil duduk dipinggir tempat tidur. Beberapa lembar foto kenangan ku bersama Eomma, Appa, kedua Hyung ku. Ya, aku memiliki 2 Hyung. Lee Yong Hwa – Presiden Direktur ditempat ku bekerja dan Lee Ji Young – Appa dari Kris dan ketiga adiknya. Aku hanya bisa memandangi foto itu sambil mengenang kembali kedua orangtua ku yang telah pergi. Aku benci ketika aku harus mengeluarkan air mata ku. Mereka keluar tanpa izin. Dan memang hanya ini yang bisa aku lakukan ketika aku merindukan Eomma dan Appa.

Menyedihkan. Kata yang tepat untuk mendeskripsikan diriku. Mungkin aku tidak pernah diharapkan oleh Yong Hwa Hyung. Ketika Eomma meninggal, aku ikut dengan Ji Young Hyung yang saat itu sudah memiliki istri dan anak. Appa juga mengizinkan aku untuk tinggal bersama Ji Young hyung. Ketika Appa mempercayakan….

***

“Samchon. Boleh aku masuk?” Kata Ailee

“Yaa, masuk saja.” Jawab Kwang Soo yang baru saja membasuh wajahnya agar tidak terlihat kalau dia baru saja menangis.

“Samchon, apa kau baik-baik saja?” Tanya Anne.

“Aku? Aku baik-baik saja Anne. Eo, apa kalian sudah makan?” Kwang Soo mengalihkan arah pembicaraan mereka.

“Belum. Ayo kita makan, Samchon! Gege dan kami sudah lapar. Oh ya! Kami juga menyiapkan sesuatu untuk Samchon,” kata Ailee dengan bersemangat.

“Baiklah. Ayo kita makan kalau begitu,” kata Kwang Soo sambil merangkul kedua keponakannya.

Kris dan Alice sudah menunggu di meja makan sambil menopang kepala nya. Mereka sudah sangat lapar. Bahkan Kris dan Alice sudah memakan setengah porsi kimchi mereka masing-masing.

“YA! Samchon! Kau lama sekali sih. Kau tidak tahu kami sudah lapar, huh?” Kata Kris.

“Ayo kita makaaaaaan,” kata Alice yang sudah berancang-ancang untuk memotong ayam di hadapannya.

“Da Mei!” – Kris

“Da Jie!” – Ailee dan Anne

“Lee Eun Soo!” –  Kwang Soo.

Mereka meneriaki Alice yang selalu melupakan doa sebelum makan. Yang di teriaki hanya bisa tertawa renyah.

“Hehehe. Ayo kita doa dulu,” Kata Alice. Mereka pun berdoa sambil berpegangan tangan satu sama lain.

Kwang Soo yang akhir nya memotong ayam itu dan membagikannya kepada 4 keponakannya. Kwang Soo terkejut dengan rasa nya. “Omo. Kalian beli dimana? Ini pertama kali nya aku makan samgyetang dengan isi sepadat ini,” Kata Kwang Soo.

“Apa terlalu padat isi nya?” Tanya Kris dengan wajah yang sedikit tegang.

Ani. Maksudku, setiap aku membeli samgyetang, pasti isinya tidak seperti ini. Mmm, semacam yaa katakanlah sedikit kopong. Beritahu aku, kalian beli dimana?” Kata Kwang Soo.

“Emm, ituu. Kami yang membuat nya, Samchon,” Kata Ailee.

“Bagaimana rasa nya, Samchon?” Kata Alice dan Anne serempak.

“Rasa nya? Ini emmm.. hhhhh. Rasa nya aku tidak percaya kalau ini kalian yang memasak nya,” kata Kwang Soo. Kris, Alice, Ailee dan Anne menunduk lesu.

“Samchon tidak percaya? Kalau begitu, sampai benar samgyetang ini kami yang masak, kau harus mencuci semua piring kotor ini ya samchon!” Kata Anne.

“Aku setuju!!!” Kata Kris, Alice dan Ailee.

“Siapa takut!” Balas Kwang Soo.

***

Kris merasa Kwang Soo habis menangis. Tetapi Kris tidak ingin merusak moment makan malam yang sudah sangat dia tunggu. Kris berniat mengajak Kwang Soo dan ketiga adiknya untuk memulai liburan di Jeju Island.

“Samchon. Apa kau besok bisa cuti? Mungkin sekitar 4 – 5 hari,” kata Kris ketika mereka selesai berdebat tentang asal samgyetang yang mereka makan.

“Cuti? Yang benar saja, Ge! Samchon mau libur kapan pun bisa. Sama seperti kau,” kata Ailee dengan mulut penuh kimchi.

“Habiskan makanan yang dimulut mu. Baru bicara, Ailee,” kata Kris. Ailee hanya bisa menggumam tidak jelas.

“Memang ada apa?” Kata Kwang Soo dengan lesu.

“Kau harus menemani kami liburan disini. Ok Samchon?” Kata Anne.

“Iya Samchon. Kau harus mau yaaaa..?” Kata Alice dengan memohon.

“Sudah, habiskan dulu makanan kalian. Selesai makan baru kita bicarakan,” kata Kwang Soo.

“Huftt, selalu seperti ini. Appa dan Samchon sama saja. Suka menggantung pembicaraan,” gerutu Anne.

Mereka pun kembali melanjutkan aktivitas makan malam mereka. Saling membuka aib mereka yang membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal. Kris bahkan sampai tersedak dan menyebabkan Kwang Soo dan ketiga Gummies repot mengambilkan Kris air. Kemudian mereka selesai makan malam dan saat nya membuktikan kalau samgyetang itu adalah murni buatan Kris dan gummiesnya.

Are you ready to prove it, Samchon?” Kata Kris.

Yeah, I’m ready,” kata Kwang Soo. Lalu Kwang Soo mengikuti keempat keponakannya berjalan menuju dapur kesayangannya.

“See. Masih tidak percaya samgyetang ini buatan kami?” Kata Ailee sang koki utama. Dengan bangga ia dan ketiga saudaranya memperlihatkan keadaan dapur milik Kwang Soo yang sudah layak disebut “kapal pecah” (atau “dapur pecah?”)

Satu detik….

Dua detik…. hening

Tiga detik…. keheningan masih menggantung di atmosfer di dalam dapur.

“ASTAGA!! Apa yang kalian lakukan dengan dapur kuuuu!!!” Jerit Kwang Soo. Ia benar-benar sempat terkejut melihat keadaan dapurnya sampai-sampai ia kehilangan suaranya. Oh tidak… dapurku. Dapurku yang ku cinta. Dapurku yang malang… Bagaimana bisa aku membiarkan keempat alien itu merusak keindahanmu… pikiran miris Kwang Soo sudah melayang kemana-mana. Wajahnya seketika muram.

Mian, Samchon. Kami hanya terlalu bersemangat tadi. Kkk,” gurau Anne. Kris dan Alice hanya tertawa puas. Mereka sekuat tenaga mengabaikan wajah memelas Kwang Soo. Sebenarnya tidak sampai hati juga sih, melihat Samchon mereka sesedih ini melihat dapurnya berantakan/

Kwang Soo menarik napas panjang. Sabar, Lee Kwang Soo. Tarik… Buang... Kwang Soo tadinya tidak percaya yang namanya mengatur napas itu baik untuk mencegah kau “meledak”. Tapi sepertinya sekarang saat yang tepat untuk membutikan teori itu benar. Dan…. berhasil! “Baiklah aku percaya. Kalian memang hebat. Kalau begitu, besok buatkan aku samgyetang lagi ya. Aku ingin lihat bagaimana kalian memasak. Hahahaha,” kata Kwang Soo. “Tapi jangan buat dapurku berantakan lagi, please!”

“Tidak janji!” Jawab mereka berempat jahil. Kwang Soo pun tertawa akibat tingkah laku konyol kakak beradik itu. Dan seperti yang sudah menjadi bahan pertaruhan, Kwang Soo harus mencuci piring dan membereskan dapur tercintanya itu, dibantu oleh Kris dan ketiga adiknya.

***

Kwang Soo pun bergabung dengan Kris dan gummies nya setelah mencuci piring-piring kotor dan membereskan dapur. Baru separuh jalan, satu persatu dari mereka sudah meninggalkan Kwang Soo merapihkan dapur nya sendirian. Memang tinggal hanya melap kompor dan beberapa bagian yang terkena minyak, sih.

“Jadi Samchon, apa kau bisa?” Tanya Kris langsung

“Sebenarnya…” Baru saja Kwang Soo berbicara, Alice sudah memotong nya.

“Pilihannya hanya bisa dan ya. Kau pilih yang mana Samchon?? Kkkkk,” kata Alice.

“YA! Aku belum bicara Alice Wu,” kata Kwang Soo. “Sebenarnya.. Emmm…. Aku…” ‘Apa aku harus memberitahu mereka?’ Batin Kwang Soo. Kris dan ketiga adiknya memasang wajah yang bingung akut.

“Emmm, tentu saja aku bisa.” Kata Kwang Soo dengan ceria yang sedikit dipaksakan.

“Yang benar Samchon???” Kata Kris dengan sangat antusias.

“Ge! Kau terlihat seperti seorang yeoja yang terkejut karena dilamar oleh namja nya saja,” celetuk Ailee.

“Hahahahahahhahaah. Ternyata gege punya kepribadian lain. Hahahhahahaha,” Kata Anne yang tidak bisa menahan tawa nya. Begitu juga dengan Kwang Soo, Alice dan Ailee yang ikut tertawa. Kris hanya bisa menahan malu karena tingkah adik nya.

“Memang kalian ingin pergi kemana?” Tanya Kwang Soo.

“Kita berangkat ke Jeju besok pagi. Aku sudah memesan tiket nya,” kata Kris dengan santai nya.

“Kau! Sama saja seperti Appa mu. Senang sekali dengan sesuatu yang mendadak. Ini terlalu mendadak buatku! Aku kan harus beres-beres rumah sebelum pergi, menyiapkan koper. Jangan-jangan kau akan menikah mendadak juga lagi,” cibir Kwang Soo.

“Ya ampun Samchon. Kau seperti ibu-ibu saja. Sudahlah. Lebih cepat lebih baik kan?” Kata Kris lagi.

“Baiklah baiklah~ Aku tidur duluan. Aku lelah,” Kata Alice sambil berdiri dan disusul oleh Ailee dan Anne.

“Ya! Mana nya yang lelah! Seharian dirumah saja,” kata Kris meledek Alice. Alice hanya bisa menjulurkan lidahnya kemudian kembali berjalan menyusul Ailee dan Anne yang sudah terlebih dahulu masuk kedalam kamar.

Keheningan melanda Kris dan Kwang Soo. Kris tahu bahwa Kwang Soo menutupi sesuatu.

“Samchon. Aku tidak ingin lancang. Tapi… tapi aku merasa kau sedang menyembunyikan sesuatu.” Kris membuka pembicaraan mereka.

Mworago? Apa maksudnya Kris? Aku tidak menyembunyikan sesuatu,” jawab Kwang Soo.

“Tidak. Kau sedang menyembunyikan sesuatu. Sejak sebulan lalu kau mengunjungi kami ke Canada. Kau malah sibuk dengan Appa yang jelas-jelas perusahaan kalian berada dibidang yang beda jauh. Appa dibidang fashion dan kau properti,” jelas Kris.

“Ba..baiklah. Ka..kalau k-kau merasa ini aneh,” kata Kwang Soo ragu.

“Samchon, ceritakan padaku apa yang terjadi? Jebal. Siapa tahu aku bisa membantu mu,” pinta Kris.

“Aku akan menceritakannya Kris. Tapi pada saat yang tepat nanti. Aku janji. Kau ingat? Waktu kecil aku pernah berkata, ‘janji seorang Samchon harus selalu ditepati.’ Dan selama ini apa aku pernah mengingkari janji ku?” Kata Kwang Soo.

Kris hanya bisa menggelengkan kepala nya.

“Sudahlah, ayo tidur. Besok kita flight jam berapa?” Tanya Kwang Soo.

“Jam 10 pagi,” jawab Kris dengan perasaan campur aduk.

Kwang Soo pun masuk kekamar nya. Sedangkan Kris, ia melakukan ritual sebelum tidur nya, menghampiri Gummies nya yang sudah terlelap.

Jaljayo Gummies,” kata Kris sambil mengusap kening ketiga adik nya. “Gege tidak akan membuat liburan kalian sia-sia.” Lanjut Kris dengan sungguh-sungguh.

Kris pun menyusul Kwang Soo. Lagi-lagi Kris melakukan ritual sebelum tidur. Memakai krim wajah. Ayolah, Kris seorang calon CEO dan sangat menyadari betapa tampan dirinya (seseorang tolong hentikan kenarsisan Kris). Memakai krim wajah memakan waktu 15 menit. Setelah selesai, ia menyusul penghuni kamar itu dan kamar sebelah ke alam mimpi.

Janji seorang samchon memang selalu ditepati. Tapi, apabila Samchon menceritakan masalanya… apakah seorang keponakan sepertiku bisa membantu Samchonnya mengatasi masalah nya? batin Kris sebelum akhirnya iya benar-benar terlelap.

***

Gimpo International Airport

9.00 a.m

Kris dan Kwang Soo serta Gummies sedang menunggu waktu untuk check in, sekitar 30 menit lagi. Selagi menunggu, mereka men-check ulang barang bawaan mereka.

“Ge, vitamin ku dimana?” Tanya Anne.

“Ada di ransel Gege. Alice, kau sudah minum vitamin mu?” Timpal Kris.

“Sudah Ge.. Ah ya! Aku lupa! Vitamin nya habis, Ge. Tadi itu yang terakhir,” kata Alice.

“Okay, coba nanti kita cari diapotik sebelum kita pulang dari Jeju,” kata Kris.

Xiao Jie dan Samchon eoddiseo?” Tanya Anne.

“Mereka lagi cari makanan,” jawab Kris. “Barang-barang kalian tidak ada yang tertinggal kan?” Lanjut Kris. Alice dan Anne menggeleng.

“Anne, kau membawa berapa sepatu, eo?” Tanya Kris ketika melihat Anne memakai sneakers yang mereka berempat beli bersamaan di Canada.

“Aku hanya bawa 3, Ge. Sneakers ini, flat shoes yang kemarin aku pakai dan sandal jepit,” jelas Anne. Kris hanya membulatkan mulut nya.

“Ge, apakah dulu kau sering ke Pulau Jeju?” Tanya Alice.

“Hmm, lumayan,” jawab Kris.

“Lalu, apa kita akan tinggal di hotel?” Tanya Anne.

“Sebenarnya, Gege membeli cottage disana. Sekitar 2 tahun lalu,” jawab Kris dengan santai.

“Mwoya?! Sepertinya terakhir kau ke Korea itu saat Harabeoji meninggal, Ge” kata Alice.

“Aku memesannya langsung dari Canada. Saat itu Samchon yang menawarkan. Karena cottage itu limited edition, Gege langsung tertarik. Appa juga membeli nya. Lumayan untuk investasi,” jelas Kris.

“Woah! Daebak, Ge! Omong-omong, aku jadi ingin kuliah di Korea. Sayang nya, aku tidak pernah terpilih untuk program pertukaran pelajar. Padahal aku memenuhi kriteria nya. Dosen ku bilang, aku tidak boleh kemana-mana. Dosen macam apa itu, membiarkan mahasiswa nya trapped in a jail,” gerutu Alice.

“Aku juga mau! Sayang nya sekolah ku mana ada pertukaran pelajar ke Asia,” sambung Anne.

Andwae! Kalian tidak boleh kemana-mana! Rupanya kalian ingin jauh dari Gege, eo? Disaat Gege menolak permintaan Appa untuk mengurus Scorpion Corporation di China dan lebih memilih Scorpion Corporation di Canada agar Gege bisa bersama kalian, kalian malah ingin sekolah di luar Canada!!” Kata Kris dengan nada sedikit tinggi -dan sepertinya, nelangsa.

“Bukan begitu Ge, kan kami hanya berandai-andai saja,” kata Anne.

“Lagipula, pasti Lao Ma tidak akan mengizinkan, Ge,” kata Alice menenangkan Gege nya.

“Tapi, kalau Appa yang menyuruh kalian?” Tanya Kris.

“Kalau kau tidak ikut, kami tidak pergi, Ge!” Kata Alice dan Anne bersamaan.

“Pinky swear!” Lanjut Anne sambil mengangkat kelingking nya yang diikuti oleh Alice.

“Pinky swear!!” Kata Kris dan Alice.

“Ace, kau ingat janji dua aunty mu ini ya,” kata Kris kepada boneka Alapaca nya. Saat ini Ace sedang menggelendot manja di gendongan Kris.

“YA! Aku ini kakak nya Ace, bukan aunty nya!” Pekik Anne.

“Kalian gila!” Cibir Alice.

Tidak lama kemudian, Kwang Soo dan Ailee datang dengan membawa 5 cheese burger.

“Samchon-ah. Kau tidak lupa menelepon pesuruh disana untuk membersikan cottage nya kan?” Tanya Kris.

“Tenang saja, Kris. Semua sudah beres,” kata Kwang Soo sambil melahap burger nya. “Kau tidak mau makan?” Lanjut Kwang Soo lagi sambil mengacungkan dan menggoyang-goyangkan kantung burger milik Kris di depan wajah sang pemilik.

“Ah iya. Mau, mau.” Buru-buru Kris menyambar jatah burgernya. “Oh iya, 15 menit lagi kita check in ya,” kata Kris sebelum akhirnya melakukan gigitan pertamanya. Seketika wajahnya berubah ceria. Burgernya enak sekali, batin Kris gembira.

“Ge! Kita berempat memakai sneakers konyol itu?” Tanya Ailee yang baru sadar dengan sneakers yang mereka pakai. Yang dimaksud konyol adalah, sneakers berwarna biru, merah dan kuning (warna khas Superman) dengan lambang kebangsaan Superman di sisi luar sneakers.

“Kau baru sadar, Xiao Jie?” Tanya Anne. Ailee hanya mengangguk.

Kwang Soo menoleh ke arah pintu masuk dan melihat dua orang yang sangat ia kenal. Apa yang mereka lakukan, bukankah mereka baru datang 4 hari lagi? batin Kwang Soo. Kwang Soo menoleh lagi dan dua orang itu sudah tidak tertangkap oleh mata Kwang Soo. Mungkin salah orang. Tidak mungkin mereka ada disini. Hanya orang mirip, batin Kwang Soo lagi.

Sementara Kris dan Gummies nya sedang asik beradu score permainan jadul favorite mereka. Tap Tap Revolution.

“Hey, apa kalian ingin tertinggal pesawat? Sudah waktunya check in,” kata Kwang Soo sambil menyandang tas ransel di bahunya dan mau mendorong salah satu dari 2 trolli yang berisi koper-koper mereka.

“Siap, Samchon!” Jawab mereka berempat kompak sambil memasukkan iPad mereka masing-masing.

Mereka berjalan layaknya seorang model musim panas. Polo shirt, celana selutut dan hotpants serta kacamata hitam menjadi hashtag mereka berlima.

“Kris? Kau memesan kelas ekonomi?” Tanya Kwang Soo sambil melirik kepada Alice, Ailee dan Anne.

“Yup, biar mereka merasakan duduk di kelas ekonomi. Appa selalu memanjakan mereka untuk duduk minimal kelas 1. Padahal kelas ekonomi tidak buruk. Lebih asyik menurutku. Kkkkk,” jelas Kris. Kwang Soo ikut tertawa dan mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju pesawat.

“Alice, Ailee, kau duduk bersama Samchon di seat 21E, 22E dan 23E.” Kata Kris.

“Aku, Ge?” Tanya Anne.

“Kau bersama Gege, di 24E dan 25E.” Kata Kris.

***

Sementara itu diruang tunggu di bandara Gimpo, Korea Selatan….

“Tuan Hong, kau tidak menyuruh orang untuk menjemput kami disana, kan?” Tanya Nyonya Lee.

“Tidak, Nyonya. Saya pastikan Tuan Muda Lee Kwang Soo juga tidak mengetahui kalau kalian sudah sampai dan akan berada di Jeju. Tuan Muda hanya tahu bahwa Tuan dan Nyonya akan sampai 4 hari kedepan.” Jelas Tuan Hong.

“Baiklah, kami berangkat,” kata Tuan Lee sambil tersenyum kepada Tuan Han.

“Semoga perjalanan kalian menyenangkan, Tuan Lee Ji Young-ssi,” Kata Tuan Hong sambil membungkukan badan nya.

***

Economy seats….

Mereka pun sudah siap di kursi masing-masing. Alice, Ailee dan Anne bingung dengan sekeliling mereka. Ini pertama kalinya mereka duduk di kelas ekonomi.

“Ge, who’s that?” Bisik Anne sambil menunjuk orang yang ada disebelah kanannya.

He’s another passenger, Anne,” jawab Kris sambil berbisik juga.

Your friend?” Tanya Anne lagi. Kris terkekeh dengan kebingungan Anne.

This is economy seats, so we sit here with other people, Anne,” jelas Kris.

“Woah! This is my first time!!!” Kata Anne dengan antusias. Sementara Alice dan Ailee sedang menikmati suasana baru mereka dengan bermain bersama anak balita yang duduk di depan mereka.

You like it?” Tanya Kris. Anne mengangguk senang. Pesawat yang mereka tumpangi akan take off 25 menit lagi. Masih banyak penumpang yang baru masuk ke pesawat.

***

Business seats

Jagi ~. Baru kali ini kita liburan tanpa dibuntuti oleh anak-anak kita,” kata  Lee Ji Young, yang emm.. a lil bit cheesy.

“Bagaimana keadaan mereka ya, yeobo? Kasihan Anne, pasti dia hanya menghabiskan liburan dirumah. Kris pasti sibuk. Alice dan Ailee juga pasti punya acara sendiri,” kata sang istri.

“Tidak mungkin. Kris tidak mungkin membiarkan Anne dirumah. Pasti mereka akan pergi ke Ottawa, Montreal atau sekedar Vancouver Island. Atau mungkin mereka akan ke New York, kalau Kris tidak sibuk,” kata Lee Ji Young, mencoba menenangkan istrinya. Lagian memang tidak mungkin, keempat anaknya itu hanya diam dirumah meski Kris ia beri tanggung jawab terhadap perusahaan. Terlebih ada Mr. Cassidy. Jadi mereka pasti sudah pergi berlibur sejenak setidaknya pergi ke Ottawa untuk melepas kepenatan.

***

Pesawat pun take off menuju Pulau Jeju. Dengan beragam tujuan para penumpang. Entah bisnis atau sekedar liburan. Dengan beragam asal penumpang. Ada yang domestik dan ada yang mancanegara. Alice dan Ailee masih asik dengan dunia nya dan dunia si balita di depan mereka. Sedangkan Kwang Soo sudah terlelap lagi dialam mimpi. Kris dan Anne mendengar lagu dari handphone Kris sambil memainkan Ace dan teddy bear milik Anne.

Hey Yeah Think I need a Holiday

Hey Yeah jeo taeyangeul ttaragallae

Hey Yeah geuge eodijjeumiljin

moreujiman Dont wanna wait wait

 

Hey Yeah Think I need a Holiday

Hey Yeah michyeogagi jeone

Hey Yeah gominhaneun sigando

nan akkawo No I need a Holiday!

 

(Hey Yeah Think I need a Holiday

Hey Yeah, I want to follow the sun

Hey Yeah, I don’t know where that will be

Don’t wanna wait wait

 

 Hey Yeah Think I need a Holiday

Hey Yeah, before I go crazy

Hey Yeah, time is too precious to think about it

No I need a Holiday!)

 

Kris mendengar Anne ikut bernyanyi mengikuti Henry Lau, seorang artis dari SM Entertainment, salah satu agensi untuk bidang entertainment terbesar di Korea Selatan. Kemudian Kris tersenyum. Entah kebetulan ataukah takdir, dua kali perjalanan di temani oleh lagu yang sesuai. Pertama Run dari EXO-K, dan kali ini adalah Holiday. Kris lalu dalam diam berharap semoga “kabur” nya mereka untuk liburan ke Korea ini menjadi liburan terbaik yang akan mereka alami.

 

 

*TBC*

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s