[IM]PERFECTION – 6TH SLIDE — by Neez

perf

IMPERFECTION

Oh Jaehee / OC || Kim Joonmyun / EXO Suho 

IMPERFECTION Universe, Campus Life, Romance, Angst, Drama

PG || Chapter

BETA & POSTER © IMA

In Correlation with

IMPERFECTION by IMA

Jaehee – Joonmyun Dating Stories

IMPERFECTION SPIN OFF — (Joonmyun – Jaehee Stories) by IMA

Previous Slide

1ST SLIDE || 2ND SLIDE || 3RD SLIDE || 4TH SLIDE || 5TH SLIDE

© neez

Because in the perfection... always left the imperfection behind

6TH SLIDE

Bye, Jaehee~”

   ”Cepat sembuh ya,”

   ”Kami pulang dulu~”

   ”Annyeong~”

   Jaehee melambaikan kedua tangannya ketika keempat teman-temannya berpamitan dan melambaikan tangan mereka di ambang pintu. Baru kali ini, ia merasa senang jika ditinggalkan sendirian setelah hampir dua pekan berada di rumah sakit.

   Begitu pintu kamarnya tertutup, memblokir suara-suara riuh keempat temannya, jantungnya berdebar-debar. Entah kapan terakhir kali Jaehee merasakan jantungnya berdebar-debar begitu hebat seperti ini? Menggunakan tangan kanannya, ia menekan dada bagian kiri, dimana ia bisa merasakan jantungnya terus berdebar, dan wajahnya bersemu merah.

   Joonmyun datang menjengukku. Entah tahu darimana dia aku sakit, tapi… kenapa dia tambah tampan sekarang? Kenapa dia mau datang? Kukira dia sudah benci padaku…

   ”Akhirnya~”

   Jaehee mendongak, dua matanya melebar penuh harap sebelum harus menghela napas kecewa saat melihat ternyata Sehun yang masuk. Wajahnya terlihat segar, dan mengenakan pakaian baru. Sehun mengangkat sebelah alisnya melihat ekspresi penuh kekecewaan yang mewarnai wajah adiknya.

   ”Kenapa?”

   ”Anhi,” geleng Jaehee sebelum bersandar kembali ke bantal. ”Kau darimana?”

   ”Pulang sebentar, Mama membawakanmu makanan,” Sehun mengangkat kotak bekal yang dititipkan Ibu Jaehee kepadanya saat ia pulang ke rumah tadi. ”Kau kenapa kecewa begitu melihatku? Bosan denganku?”

   Jaehee menggeleng, ”Anhi,” sahutnya tak mau mengaku.

   ”Joonmyun ya?” tembak Sehun langsung sambil melipat kedua tangannya, dan menikmati bagaimana Jaehee menjadi salah tingkah, wajahnya langsung memerah, dan ucapannya langsung tidak karuan. Sehun benar-benar menikmati pemandangan di hadapannya. Sudah lama sekali ia tidak melihat adiknya kembali seperti gadis remaja yang tengah kasmaran, seperti Oh Jaehee yang ia lihat bertahun-tahun lalu ketika baru berkencan dengan Joonmyun.

   ”Berhenti menertawaiku, Oh Sehun jahat!”

   Sehun tergelak, ia mencomot kue yang dibawakan Seowoo kepadanya tanpa izin dan langsung saja melahapnya sambil duduk di sisi tempat tidur Jaehee, lalu mengambil remote televisi. ”Aku bertemu Joonmyun tadi.”

   ”Oh,”

   Sehun meliriknya dengan senyuman jail, ”Dia sudah pulang. Teman-temanmu lama sih.”

   ”Ish!” omel Jaehee mendorong-dorong Sehun dari tempat tidurnya menutupi rasa malunya, sementara yang di dorong tidak bergerak dan malah tertawa-tawa geli.

   ”Bilang saja kau mau tanya kenapa dia pulang,”

   ”Kenapa memang?” tanya Jaehee berusaha tidak peduli. ”Yah, Oh Sehun! Kau bilang padanya aku sakit, ya? Kalau dia berpikir yang macam-macam soal aku hanya mau mencari perhatiannya lagi, bagaimana?!!”

   Sehun tertawa geli, karena ya ampun apa yang Jaehee ucapkan benar-benar tidak masuk akal. Gadis ini benar-benar tidak tahu kalau yang menemukannya pingsan di jalanan adalah Kim Joonmyun sendiri, yang membawanya ke rumah sakit juga orang yang sama, bahkan pria itu selalu menungguinya setiap malam di rumah sakit.

   Cinta keduanya masih sama-sama kuat, pikir Sehun iri.

   Jaehee mendesah berat, sebal karena Sehun tidak berkomentar, seolah-olah sengaja menggodanya dengan tidak mau memberikan penjelasan soal Joonmyun, dan itu benar-benar membuatnya bisa mati penasaran.

   Deg.

   ”Ouch, Sehun-ah~” Jaehee mendadak mencengkram kepalanya lagi, kesepuluh jarinya ia gunakan untuk menjambak rambutnya kuat karena mendadak saja sakit di kepalanya muncul tiba-tiba.

   Sehun menoleh dan langsung loncat dari tempat tidur. ”Jaehee-ya, Jaehee-ya!”

   ”Sehuuun, sakiiiiit!”

   ”Jjamkaman, Jaehee-ya, tunggu…” panik Sehun buru-buru berlari keluar kamar meninggalkan Jaehee yang mulai meringkuk sambil merintih kesakitan, matanya mulai berkunang-kunang, dan ingin rasanya ia membenturkan kepalanya ke besi di sisi ranjangnya.

   ”Jaehee-ya, Jaehee-ya,”

   Jaehee mengerjap-ngerjapkan kedua matanya saat menyadari bahwa kini ada seseorang yang memegangi kedua tangannya di kepala, menahan bahunya agar berhenti membenturkan kepalanya ke besi tanpa ia sadari.

   ”Sakiiittt, sakiiiiit, sakiiitt….” rintih Jaehee.

   Joonmyun membasahi bibirnya dengan panik, menunggu Sehun memanggil dokter dan berusaha memegangi Jaehee yang menjerit kesakitan. Ia bisa melihat pipi gadis itu mulai basah karena menangis kesakitan, ”Tunggu sebentar, Sayang…” Joonmyun sampai tidak menyadari apa yang keluar dari bibirnya, yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana caranya untuk menghentikan rasa sakit yang Jaehee alami.

   ”AAAARRRGGGHHHH…”

   Joonmyun bisa melihat helaian rambut yang mulai tercabut.

   ”Jaehee-ya, andwae, andwae!” Joonmyun mencengkram tangan Jaehee kuat-kuat dan meletakkannya di lengannya, ia membiarkan Jaehee mencengkram lengannya dengan kuat, hingga Joonmyun bisa merasakan kulitnya perih karena kuku-kuku Jaehee yang tajam.

   ”Tunggu, sebentar… sabar, ya… sabar…” Joonmyun menempelkan dahi Jaehee pada dahinya sendiri. Dengan ibu jarinya, diusapnya air mata yang keluar dan membiarkan Jaehee terus melukai lengannya hingga suster datang, menyuntikkan entah obat apa ke dalam infusnya. Ia masih membiarkan Jaehee mencengkram lengannya sampai akhirnya cengkraman gadis itu melemah sedikit demi sedikit.

   Jaehee berbaring miring dengan mata sayu, perlahan-lahan nyaris menutup namun masih berusaha fokus. Tangannya yang tadinya berada di atas lengan Joonmyun, perlahan-lahan turun dan turun hingga jemarinya kini berada dalam genggaman tangan Joonmyun.

   Jaehee berusaha bicara, namun bius dalam obatnya membuat kata-katanya samar dan seolah datang dari jauh hingga Sehun yang berdiri di belakang Joonmyun kesulitan mendengar apa yang dikatakan adiknya itu.

   ”)(&*&*^%$#…”

   Tapi, Joonmyun mengalahkan kemampuan Sehun dengan bertanya lembut pada mantan kekasihnya itu.

   ”Kau mau aku tinggal?”

   Tidak sanggup lagi menjawab, Jaehee mengangguk-angguk, tidak melepaskan tangan Joonmyun dan tertidur pulas.

   ”Kau terluka, Sobat,”

   Joonmyun menoleh pada Sehun, kemudian mengikuti arah pandangannya ke lengannya yang masih terbungkus kemeja, dan tangannya yang memiliki bekas cakaran. Kemejanya memiliki sedikit bercak darah, yang mengingatkan betapa kerasnya Jaehee mencengkram dirinya tadi saat sakit kepalanya kambuh.

   ”Dia pasti sangat kesakitan,” Joonmyun menghela napas, meremas kuat tangan Jaehee yang berada dalam genggamannya. ”Aku tidak pernah melihatnya saat kambuh seperti ini. Apa memang seperti ini, Sehun-ah?”

   Sehun mengangguk. ”Ini sudah jauh lebih baik kok. Awalnya ia kesakitan, namun tidak bisa bicara dan tidak bisa bergerak,” ia kemudian bergidik ngeri mengingat memori menyakitkan itu. ”Lebih menyakitkan melihatnya seperti itu. Tapi sudahlah, dia sudah jauh lebih baik sekarang. Apalagi setelah melihatmu,” Sehun memberi Joonmyun senyuman penuh arti, yang membuat pria itu ikut tersenyum.

   ”Sehun-ah,”

   ”Ya?”

   ”Apakah… apakah… Jaehee…”

   Alis Sehun menghilang ke dalam barisan poninya, dan menyela pertanyaan Joonmyun, ”Apakah Jaehee dan Kim Woobin berkencan? Itu yang mau kau tanyakan, kan?”

   Joonmyun mengangguk, masih sambil mengenggam erat tangan Jaehee yang sudah tertidur pulas dengan posisi miring menghadapnya.

   ”Tidak, mereka tidak berkencan. Kau tanya saja langsung padanya,” Sehun menepuk bahu Joonmyun, ”Jangan lupa lenganmu diobati… aku akan istirahat diluar, oke?”

   “Eh? Kenapa tidak disini? Biasanya kita sama-sama istirahat disini…”

   Sehun menggeleng sambil tersenyum, ”She needs you.”

   Hati Joonmyun menghangat, ia menoleh ke arah tangannya yang menggenggam erat tangan Jaehee. Bahkan, meski dalam keadaan tidur, Jaehee seakan tidak mau melepaskan tangannya. Joonmyun hanya samar-samar menyadari Sehun meninggalkan ruang rawat Jaehee, saat ia tak puas-puasnya menatap paras damai gadis yang tertidur menghadap ke arahnya tersebut.

   ”Jebal, cepatlah sembuh, Jaehee-ya,” Joonmyun membawa tangan gadis itu pada wajahnya dan mengecupnya lembut.

 

*        *        *

Hope is dream that never sleep.

   Siapa yang pernah menyebutkan quote itu kepadanya? Mungkin Jaehee harus berterima kasih pada si pembuat quote tersebut, karena ia akhirnya kalah pada suara hatinya. Hatinya ternyata terus berdoa dan tak pernah berhenti berharap. Dia masih mencintai Joonmyun, dan berharap pria itu akan kembali padanya, jika tidak sekarang, suatu saat nanti, atau bahkan di kehidupan berikutnya. Itulah kenapa ia bekerja begitu keras, hingga mengabaikan kesehatannya sendiri.

   Karena ia butuh distraksi atas perihnya perasaannya ketika Joonmyun pergi. Dia sadar, Joonmyun pergi sebagian besar karena salahnya juga. Ia sibuk, dan tetap mau diperhatikan. Ia juga seringkali marah-marah pada Joonmyun, padahal pria itu juga pastilah memiliki prioritas lain dalam hidupnya.

   Kalau Tuhan masih mau memberinya kesempatan, kalau Joonmyun juga masih mau memberikannya kesempatan, dia takkan pernah menyia-nyiakannya lagi. Seperti sekarang. Ia merasa tidurnya sangat nyenyak setelah diberi obat semalam, dan paginya begitu indah karena wajah damai Joonmyun yang tengah tertidurlah yang menyambutnya. Jaehee sudah tidak ingat kapan terakhir kali ia melihat Joonmyun tidur di sisinya.

   Jaehee juga menyadari bahwa selama ia tidur, Joonmyun terus menggenggam tangannya dan hatinya berbunga-bunga. Apakah Joonmyun akan memberikannya kesempatan?

   ”Hey,”

   Jaehee tersenyum, Joonmyun membuka kedua matanya dan menyapanya dengan suara seraknya yang khas setiap bangun tidur. Betapa ia merindukan suara serak Joonmyun saat bangun tidur, dan dia memang merindukan Joonmyun, oke?

   ”Hai,” gumam Jaehee, sama seraknya.

   Joonmyun menegakkan tubuhnya yang terasa kaku setelah semalaman tertidur dengan posisi duduk dan kepala direbahkan di ranjang Jaehee, sambil menggenggam tangannya. ”Kau tak apa-apa, sekarang?”

   Jaehee mengangguk. ”Aku baik-baik saja, terima kasih sudah mau menemani.” Dengan malu-malu Jaehee menambahkan. ”Kau tak apa-apa? Tidurmu terlihat tidak nyaman. Dimana Sehun? Apa dia memintamu untuk tidur disini?”

   ”Anhi,” geleng Joonmyun sambil terkekeh. Dia berdiri dan meregangkan tubuhnya, merasa belum pernah tidur senyenyak semalam selama di rumah sakit, dan dia takkan mengatakannya pada Jaehee.

   Tidak sekarang. Karena ia memperhatikan bagaimana Jaehee terus memperhatikannya lekat-lekat, seolah ia akan hilang jika gadis itu mengedip sekali saja. Joonmyun ingin menyelesaikan semua masalah mereka sekarang juga, namun ia tahu sekarang masih bukan waktu yang tepat. Jaehee masih sakit, meningitis-nya masih mudah kambuh tanpa peringatan apa pun, dan Joonmyun tidak mau Jaehee berpikir banyak-banyak.

   Dan ia juga harus berangkat kerja sekarang, jika mau rencana tetap berjalan sesuai rencana. Tapi ia takkan membiarkan Jaehee berpikir bahwa ia akan meninggalkannya, maka Joonmyun menundukkan kepalanya dan mengecup dahi Jaehee dengan penuh perasaan, berharap rasa cinta dan rindunya tersalurkan.

   ”Aku mandi dulu,”

   Jaehee memejamkan matanya erat-erat merasakan sekujur tubuhnya menghangat karena sentuhan bibir Joonmyun pada dahinya, dan Jaehee memperhatikan bagaimana tangannya perlahan-lahan memisahkan diri dengan jemari Joonmyun sementara pria itu tersenyum dan menghilang di kamar mandi.

   Jaehee menahan teriakan bahagiannya dengan membenamkan wajahnya ke dalam bantal, sampai ia mendengar suara kekehan yang sangat khas, dan menemukan Sehun tengah menertawainya. Wajahnya memerah.

   ”Oh Sehun!!!”

   ”Aigooo, bagaimana mungkin kau masih bertingkah seperti remaja labil saat bertemu dengannya? Usiamu sudah duapuluh empat, Oh Jaehee.”

   ”Diam kau!”

*        *        *

Jaehee cemberut. Entah sudah berapakali ia mencoba berjalan lurus dengan dua tangan pada penyangga besi di dalam gym Fisioterapi rumah sakit, namun kakinya lagi-lagi mengkhianatinya. Sementara Suster Park tersenyum menyemangati. Sehun, seperti biasa, menungguinya di ujung ruangan, bermain-main dengan balon besar yang biasa digunakan pasien ibu hamil tua untuk diduduki dengan gerakan sedikit melompat, agar jalan bayi lahir jauh lebih mudah. Sehun bisa melihat ekspresi sang adik yang terlihat kesal dengan dirinya sendiri.

   ”Suster Park, apakah Suster yakin saya bisa sembuh?” tanya Jaehee sedih. ”Rasanya kaki saya tidak mau menopang tubuh saya sendiri.”

   Suster Park membelai-belai lembut bahu pasiennya tersebut, ”Tentu bisa, Nona Jaehee. Kaki Nona hanya terasa sangat kaku, dan sebagian besar juga karena virus meningitis-nya menyerang syaraf di kaki, tetapi Dokter syaraf bahkan mengatakan virusnya tidak merusak, kok. Makanya dilatih berjalan agar nanti saat benar-benar sembuh, jalannya sudah lancar.”

   ”Tapi… kenapa rasanya kaki ini lemas sekali?” Jaehee bahkan tidak percaya dia merengek seperti anak kecil. Ia sudah berusaha menekan segala rasa frustasinya sejak awal sadar dan merasakan dirinya tidak dapat bergerak, untungnya kemudian perlahan-lahan seluruh bagian tubuhnya mulai kembali berfungsi seperti sediakala.

   Ya, kecuali dua kakinya.

   ”Apa ada kemungkinan kakiku tidak bisa digerakan lagi, Suster?” tanya Jaehee masih dengan nada merengek yang sama.

   Suster terkekeh, ”Nona Jaehee tidak boleh berpikir seperti itu. Kata Dokter saja syaraf-syaraf di kaki tidak rusak kok. Harus semangat, ayo jalan lagi.” Dan Jaehee menarik napas dalam-dalam sebelum mencoba melangkah lagi sambil menumpukan kedua tangannya, sebelum lemas nyaris tersungkur ke depan jika tidak ditahan oleh Suster Park. ”Gwenchana, ini biasa kok… ayo belajar jalan lagi,”

    Menarik napasnya lagi, Jaehee berbalik dan mencoba berjalan lagi sambil menggeram karena harus menahan bobot tubuhnya dengan menggunakan dua kaki yang kaku dan tak memiliki tenaga, selain bantuan dari kedua tangannya. Alhasil, setelah selesai terapi, piyama Jaehee basah kuyup dan ia harus mengganti pakaiannya. Sehun mendorong kursi roda Jaehee setelah gadis itu berganti pakaian, dan membawanya kembali ke kamar.

   ”Tidak bisa berjalan itu menyebalkan ya,” gumam Jaehee saat Sehun membantunya berdiri dan menggendongnya sampai di tempat tidur. ”Aku merasa seperti orang lumpuh,” ujarnya sedih.

   Sehun menjawab, ”Kau pasti sembuh, temanku pernah terkena meningitis. Sama sepertimu, sempat tidak bisa jalan, tapi lama kelamaan bisa kok. Memang penyakit ini menyebalkan, makanya nanti kalau sudah sembuh jangan nakal, tidak mau jaga kesehatan.”

   Jaehee menutupi kakinya dengan selimut lagi sambil mengerucutkan bibirnya, ”Iya, aku kapok, Sehun-ah, kapok.”

   ”Sekarang ayo makan,” Sehun mendorong meja makan Jaehee, yang diatasnya sudah diletakkan nampan berisi makan siangnya. Lagi-lagi Sehun geli melihat adiknya itu menghela napas saat menatap makanan rumah sakit yang pucat tersebut. ”Kalau mau sembuh kau harus makan, Oh Jaehee.”

   ”Tapi, Sehun… cobalah kau makan makanan rumah sakit selama dua minggu penuh!”

   ”Tapi kau tetap harus makan.”

   ”Aku mau McDonalds,” Jaehee menatap Sehun dengan memelas. Sehun menggaruk kepalanya. Adiknya ini adalah pribadi yang keras kepala, termasuk ketika berkarier. Dulu, Jaehee selalu menjaga makanannya dengan tidak pernah makan makanan siap saji, karena bisa mempengaruhi berat badannya. Dan sekarang…

   ”Memang kau boleh makan McDonalds?”

   “Aku bosan… apa pun asal jangan makanan rumah sakit ini.”

   Sehun menghela napasnya, ”Baiklah, baiklah… kau makan kue dari temanmu dulu sementara aku pesankan McDonalds.”

   Beberapa saat kemudian…

   ”Jaehee-ya, aku cari makan dulu ya, nanti kalau McDonalds-nya datang, kau makan saja, sudah dibayar.”

   Jaehee mengangguk. Sedikit heran sebetulnya. Jika ia sendirian, Sehun tidak pernah meninggalkannya barang sedetik pun. Jaehee sudah meminta ayah dan ibunya untuk datang sesekali saja, karena ia tidak tega melihat ibunya sedih, dan tentu saja dua orangtuanya sudah memasuki usia tua untuk menjagainya di rumah sakit. Sebenarnya, Jaehee tidak keberatan ditinggal sendiri pun, karena ia sudah terbiasa mengerjakan segalanya sendiri selama satu tahun terakhir ini, tetapi Sehun sendiri yang menawarkan diri untuk menemaninya.

   Tok. Tok. Tok.

   ”Masuk,”

   ”Pesan McDonalds?”

   Oh Sehun keparat!

 

*        *        *

”Tapi rasanya tidak enak~”

   ”Makanan rumah sakit memang tidak ada yang enak. Bagaimana kalau ternyata kau tidak boleh makan McDonalds? Lalu ada sesuatu di pengawetnya yang membuat sakitmu tambah parah? Kau mau semakin lama di rumah sakit?”

   Jaehee hanya bisa cemberut dan menatap sedih nampan makanannya.

   Joonmyun tidak sampai hati juga melihat Jaehee bertampang memelas seperti itu. Ya, dia membawakan Jaehee McDonalds, tapi ia berkeras untuk membuat Jaehee makan makanan rumah sakit yang sudah disediakan.

   ”Aku makan denganmu, oke? Aku juga ikut makan makanannya,” Joonmyun duduk di depan Jaehee, di atas tempat tidur, dan mulai membuka plastik pembungkus piring-piring makan Jaehee. ”Nanti kalau sudah makan ini, dan sudah makan obat, baru kita makan McDonaldsnya, oke?”

   Masih cemberut.

   Joonmyun membelai-belai kepala Jaehee dengan lembut sambil tersenyum, ”Jebal, aku mau kau  cepat sehat, Sayang.”

   ”Ish,” masih juga cemberut, tapi pipi Jaehee bersemu merah. Sayang katanya… ha!

   Akhirnya, Joonmyun benar-benar makan bersama Jaehee. Biarpun bubur nasinya terasa hambar, lauk pauknya pun terasa kurang garam, apalagi supnya, Joonmyun menelannya dengan lahap, dan menyuapi Jaehee yang makan dengan menggerutu, sesekali Joonmyun tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mencubit pipi Jaehee, yang ia sesali, tidak segembul dulu.

   ”Tidak mau pakai wortel,”

   Joonmyun mengernyit heran, ”Bukannya kau suka wortel?”

   ”Suka, tapi tidak jika dimasak terlalu lama begitu. Rasanya menjadi aneh,” Jaehee menggeleng saat Joonmyun hendak menyuapkan potongan wortel bersama bubur ke mulutnya. ”Andwae, Myeonie, tidak mau…” di dorongnya tangan Joonmyun.

   ”Tapi sayuran itu sehat, Sayang.”

   ”Tidak mau!”

   Joonmyun menghela napas sambil tersenyum geli, ”Baiklah, baiklah… tidak boleh makan burger kalau begitu, padahal aku memesankan double cheese burger, tanpa sayuran apa pun. Sayang sekali, bagaimana kalau burgernya kita berikan pada Sehun?” belum selesai Joonmyun bicara, Jaehee sudah menarik tangannya dan melahap bubur dan potongan wortel itu sambil memelototinya dengan sadis.

   ”Johta, anak manis,” Joonmyun ikut menelan bagiannya. ”Ayo makan lagi…”

   ”Kau lebih sadis dari Sehun,” keluh Jaehee sambil menusuk-nusuk plastik pembungkus dengan telunjuknya.

   Setelah banyak drama pembujukan, Jaehee berhasil menghabiskan seluruh makan siangnya. Sudah diminumkan obat, dan siap untuk tidur siang, sementara Joonmyun bersiap-siap untuk kembali ke kantor. Tidak lupa, ia menemani Jaehee dulu sambil mengelus-elus pelan dahi gadis itu sampai terlelap, dan berjanji nanti sore sepulangnya bekerja ia akan segera kembali. Jaehee memeluk tangannya, meletakkannya di pipinya sampai benar-benar terlelap.

   Malam harinya, Joonmyun kembali lagi ke rumah sakit. Dia bekerja begitu giat untuk menyelesaikan targetnya dan juga karena ingin cepat-cepat bertemu Jaehee sebelum gadis itu tertidur. Saat ia masuk ke dalam kamar rawat Jaehee, ia tidak melihat gadis itu sama sekali, dan hanya mendengar samar-samar suara dari dalam kamar mandi. Mengira bahwa Jaehee berada di dalam kamar mandi bersama suster, maka Joonmyun memilih duduk di sofa sambil memainkan ponselnya, memeriksa email masuk dari atasannya sambil menunggu.

   ”Myeonie, sudah datang?”

   Joonmyun tersenyum dan mendongak, senyumannya langsung menghilang saat melihat Jaehee benar-benar merayap agar bisa berjalan. Wajahnya mengerut-ngerut, berusaha mempertahankan keseimbangannya dengan dua kaki yang masih kaku dan sedikit mati rasa.

   ”Apa yang kau lakukan?! Kenapa tidak panggil suster? Kemana Sehun?!” seru Joonmyun bertubi-tubi. Apa yang gadis ini pikirkan? Bagaimana jika ia jatuh di kamar mandi yang licin? Demi Tuhan, Oh Jaehee, pikir Joonmyun stress sambil buru-buru mendekat. Namun, gadis itu malah mengangkat tangannya.

   ”A…aku mau belajar jalan, Myeonie… aku tidak mau jadi lumpuh,”

   ”Jaehee-ya, kau tidak akan lumpuh! Tentu kau boleh belajar berjalan, tapi kau bisa celaka jika kau melakukannya seperti ini! Tidak ada lagi ke kamar mandi sendiri, kau mengerti?!” omel Joonmyun mengulurkan kedua tangannya hendak memapah Jaehee, namun gadis itu meringis dan mengomel lagi ingin berjalan. ”Jaehee-ya!”

   ”Iya, iya aku tidak akan ke kamar mandi sendiri lagi, tapi aku mau mencoba jalan ke tempat tidur.”

   Joonmyun menghela napas dalam-dalam dan berjalan mundur, membiarkan Jaehee tertatih-tatih mencoba berjalan meskipun hatinya sakit menyaksikan gadis itu kepayahan untuk sekedar bergerak kurang dari satu meter.

   ”Jaehee-ya…”

   ”Gwenchana, halsuisseo…” Jaehee berkeras mencoba terus berjalan, selangkah demi selangkah semakin mendekat ke arah tempat tidur, dengan Joonmyun yang terus berjalan mundur, dua tangan terangkat siap untuk menangkap gadis itu jika terjatuh.

   Dan benar saja, kaki Jaehee tidak kuat lagi menopang berat tubuhnya setelah dipakai bekerja keras cukup lama dari tadi. Jaehee terhuyung ke depan, dan Joonmyun dengan sigap menangkap tubuhnya ke dalam pelukan.

   ”Gwenchana?” tanya Joonmyun khawatir sambil meletakkan tangannya di belakang kepala Jaehee, dan satu tangan lagi mengelus-elus punggung gadis itu dengan gerakan lembut yang menenangkan.

   Jaehee mengangguk, tidak menjawab, namun Joonmyun bisa mendengar isakan kecil.

   ”Shhh, gwenchanajalhaesseo, uri Jaehee.” puji Joonmyun menenangkan gadisnya yang mulai terisak-isak tertahan dalam pelukan. ”Gwenchana, kan ada aku… kau tidak jatuh, kau tidak terluka. Nanti belajar berjalan lagi, oke? Kau sudah berjalan dengan baik, kok.” Bujuknya lembut sambil mengecupi sisi wajah Jaehee mulai dari dahi hingga pipinya.

   Jaehee membersit hidungnya dan mengeratkan pelukannya pada pinggang Joonmyun, sembari membenamkan wajahnya pada ceruk leher pria yang ia cintai itu, wangi Joonmyun tidak pernah berubah sejak dulu. Selalu dapat membuatnya tenang.

   ”Apakah… apakah aku tidak akan bisa jalan lagi, Joonmyun-ah?”

   Joonmyun menggigit bibirnya sebelum menggeleng, ”Tentu tidak, kau pasti bisa berjalan lagi, Sayang!” Joonmyun kembali mengecupi pipi Jaehee dan meraih bahu gadis itu untuk menatap kedua matanya, dengan ibu jarinya, disekanya air mata yang tak kunjung berhenti. Ia tersenyum dan menempelkan dahi mereka, “Anggap saja Tuhan mau kau beristirahat dulu, Sehun bilang kau selalu bekerja selama ini… nanti setelah istirahatmu cukup, kau pasti bisa berjalan lagi.”

   Bibir Jaehee bergetar, ”Ta…tapi kalau ternyata aku tidak bisa jalan lagi bagaimana?”

   ”Tidak mungkin…”

   ”Bagaimana kalau mungkin?!” Jaehee bersikeras, meski terlihat seperti anak kecil manja yang ingin dibelikan boneka Barbie oleh ayahnya.

   Joonmyun mendesah berat, sambil tersenyum geli. ”Kalau memang begitu, aku tidak keberatan untuk menggendongmu seumur hidupku.”

   ”Cih, gombal!”

   Joonmyun tergelak, dan kembali mencium kening Jaehee dalam-dalam. ”Aku serius, sekarang ayo berdiri… bisa?”

   ”Entahlah, kakiku… seperti mati rasa, hanya sesekali aku bisa merasakan… eh?” Jaehee mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, karena kaget. Tiba-tiba saja Joonmyun membawanya berdiri, dengan meletakkan kedua kakinya di atas kaki Joonmyun sendiri. Memang Jaehee tidak bisa merasakan kakinya yang menapak pada sepatu kulit Joonmyun, dan dia bisa saja jatuh ke belakang namun, ia merasakan kedua tangan Joonmyun yang kokoh, menahannya di pinggang.

   ”Sekarang kau bisa jalan,” dan dengan senyumannya yang khas, yang membuat Jaehee jatuh cinta padanya, Joonmyun berjalan mundur dengan membawa Jaehee menggunakan kedua kakinya.

 

*        *        *

Minggu Keempat Jaehee di RS

Aires Lounge & Bar

 

   ”Joonmyun tidak pernah mau lagi datang jika kita berkumpul,” gumam Eunjung sedih. Biar bagaimana pun juga, Joonmyun adalah teman yang baik. Tidak ada dirinya, selalu membuat suasana yang biasanya menyenangkan dan terasa lengkap, menjadi tidak biasa, dan dia yakin, tak hanya dirinya dan Jiyeon yang merindukan sosok teman mereka. ”Jonghyun-ah, apa kau sudah minta maaf pada Joonmyun?”

   Yonghwa, Minhyuk, dan Jungshin melirik Jonghyun, yang untungnya sudah tidak lebam lagi. Tak ada yang menyangka pria selembut Joonmyun bisa memberikan bogem mentah yang nyaris mematahkan tulang seperti kemarin, kan?

   ”Kami belum bicara.” Aku Jonghyun tidak memandang tatapan sebal dari teman-temannya.

   Minhyuk menghela napas, ”Aku masih berkomunikasi dengannya, dia bilang dia tidak marah pada kita, kok. Dia bilang dia sibuk,”

   ”Iya, sibuk menemani Oh Jaehee itu di rumah sakit,” Jiyeon tidak bisa menahan mulutnya jauh lebih lama lagi. Ia merasa sakit hati dengan sikap Joonmyun kepadanya kemarin. Bukankah selama ini mereka, dan dirinya yang menjadi tempat pelarian pria itu saat disakiti dan disia-siakan oleh Jaehee? Sekarang…

   ”Oh, mereka sudah kembali bersama?” tanya Hyomin penasaran.

   Jiyeon mengangkat bahu, ”Gadis itu sakit, entah sakit apa, yang jelas sudah lama dia berada di rumah sakit. Banyak beritanya juga kan di media online,”

   ”Tunggu apa lagi,” Jungshin setengah menepuk setengah memukul bahu Jonghyun, ”Kita harus kesana.”

   ”Buat apa?” sergah Jiyeon, tidak percaya dengan reaksi teman-temannya.

   Yonghwa menjawab, ”Jiyeon-ah, pacar Joonmyun kan sakit. Kita, sebagai teman-temannya harus menunjukkan bahwa kita masih ingin berteman dengannya, lagipula kurasa yang Hyomin bilang kemarin benar, kita terlalu keras menghakimi Oh Jaehee itu.”

   ”Benar, dan sebagai teman yang baik, kita harusnya turut berbahagia jika teman kita bahagia.” Tambah Hyomin dengan senyum penuh kemenangan meski Jiyeon sudah meliriknya sinis. Tidak peduli, Hyomin menatap Jonghyun, ”Kau bagaimana, Jonghyun-ah? Mau ikut atau tidak? Aku yakin Joonmyun akan senang jika melihat teman-temannya menjenguk pacarnya.”

   Jonghyun menelan ludah dan mengangguk.

   ”Oh iya,” kata Eunjung ketika mereka semua sudah di dalam mobil menuju RS Internasional Seoul, setelah Minhyuk bertanya pada Joonmyun dimana Jaehee dirawat, dan menyampaikan maksud hati mereka hendak menjenguk kekasihnya itu. Beruntung, Joonmyun terlihat menyambut baik maksud mereka, dan memberitahukan alamat serta nomor kamar dimana Jaehee dirawat. ”Kalian jadi akan ikut lelang tender lusa?”

   Yonghwa yang menyetir menepuk dahinya, ”Astaga, kau benar, Eunjung-ah! Aku sampai lupa…”

   ”Lelang tender apa?” tanya Hyomin penasaran.

   Eunjung menjelaskan, ”Akan ada sebuah acara lelang tender di Jeju, lusa besok… kau tidak ingat? Kalau kita mau membuka usaha, kita harus menyiapkan proposal, nanti akan banyak perusahaan asing maupun lokal yang akan melihat, dan jika mereka tertarik, mereka akan berinvestasi dengan perusahaan yang kita buat. Kau tidak ikut daftar memang?”

   ”Anhi, sepertinya aku tidak begitu tertarik membuka usaha, kalian semua ikut?” tanya Hyomin pada teman-temannya yang laki-laki.

   Jungshin menjawab, ”Ikut. Kita semua sudah daftar sejak dua bulan yang lalu kan, dan biayanya tidak sedikit… sayang kalau dibatalkan,” kekehnya. ”Kita cari tiket ke Jeju saja sekarang ya? Benar-benar hampir kelupaan, gomawo, Eunjung-ah, sudah mengingatkan.”

   Jiyeon mengepalkan tangannya, dan seulas senyum muncul di bibirnya. Kata-kata Eunjung mengenai lelang tender telah memberikannya rencana.

 

*        *        *

Joonmyun memotong-motong ayam tim yang menjadi lauk Jaehee malam ini, sementara gadis itu dengan sabar memperhatikannya. Kesehatan Jaehee menjadi jauh lebih baik, interval sakit di kepalanya kambuh semakin berkurang, sesak di dadanya pun sudah tidak pernah lagi, hanya tinggal otot kakinya saja yang entah kenapa masih belum juga menunjukkan kemajuan yang berarti.

   Hubungan Jaehee dan Joonmyun? Entahlah. Keduanya masih belum ada yang berani membuka mulut mereka untuk membicarakan hubungan mereka. Di benak Jaehee, masih ada tanda tanya besar mengenai status Joonmyun sekarang, dan juga status mereka. Jaehee tidak mungkin berbohong bahwa ia tidak menikmati diperlakukan seperti layaknya kekasih Joonmyun lagi, seperti dulu saat mereka masih berkencan. Tetapi, jika ternyata Joonmyun melakukan ini semua hanya karena ia masih sakit? Dan bagaimana jika ternyata Joonmyun sudah punya pacar diluar sana?

   Ingin bertanya pun, Jaehee takut untuk mendengar jawabannya. Kalau memang benar ternyata Joonmyun punya pacar, dan hanya berada disini untuk menemaninya selama sakit saja bagaimana? Izinkan dia egois sebentar saja dengan menahan Joonmyun di sisinya hingga ia sembuh.

   ”Sayang,”

   ”Hmm?”

   ”Nanti…” Joonmyun berhenti bicara sebentar untuk menyuapkan potongan nasi tim (sudah bukan bubur lagi karena Jaehee sudah jauh lebih sehat sekarang) dan ayam yang di tim juga ke mulut gadis itu. ”Teman-temanku mau datang menjengukmu.”

   Deg.

   ”Teman-temanmu?” tanya Jaehee pelan, mungkin ekspresi Jaehee yang muram membuat Joonmyun sadar bahwa selama ini gadis itu tidak pernah mendapat nama baik di hadapan teman-temannya, karena perbuatannya. Maka, Joonmyun meletakkan tangannya di atas tangan Jaehee dan mengelus pelan telapak tangan gadis itu dengan ibu jarinya.

   ”Mereka mau bertemu denganmu,” Joonmyun tersenyum, berusaha membesarkan hati Jaehee. ”Boleh, kan?”

   ”Bo…boleh, sih…” sahut Jaehee ragu-ragu, dan menerima suapan Joonmyun lagi.

   Joonmyun tersenyum kecil, tahu apa yang gadis itu pikirkan. Ia senang sekali saat Minhyuk tadi mengiriminya pesan, mengatakan bahwa ia baru diberitahu oleh Jiyeon kalau Jaehee masuk rumah sakit, dan ia bersama teman-teman lain ingin menjenguk Jaehee. Joonmyun menganggap bahwa ini adalah sinyal yang baik, ia tentu ingin tetap berteman baik dengan teman-temannya, juga ingin Jaehee menerima teman-temannya, serta yang harus ia lakukan adalah mengubah pandangan teman-temannya terhadap Jaehee.

   Hari ini adalah langkah awal ia harap.

   Tok. Tok. Tok.

   Joonmyun menoleh ke arah pintu, kemudian balik tersenyum pada Jaehee dan mengelus pipinya sebentar sebelum berkata, ”Masuk.” Ia tersenyum sumringah saat melihat wajah familiar teman-temannya muncul, dan sedikit geli juga karena tak jauh berbeda dengan Jaehee, mereka nampak sedikit takut-takut.

   ”Annyeong, Joonmyun-ah,” sapa Yonghwa yang berdiri paling depan membawa buket bunga, diikuti Jungshin, Minhyuk, Hyomin, Eunjung, Jiyeon, dan—Joonmyun juga sedikit kaget melihatnya, Jonghyun. Mereka membawakan bunga, buah-buahan, dan makanan ringan.

   ”Annyeong,” sapa Joonmyun sambil berdiri dan tersenyum menyambut teman-temannya. ”Jaehee-ya, ini teman-temanku di kampus… sekarang semuanya sudah lulus, ini Yonghwa, Jungshin, Minhyuk, Hyomin, Eunjung, Jiyeon… dan Jonghyun.”

   Yonghwa memberanikan diri untuk maju dan mengulurkan tangannya menjabat tangan Jaehee, memperkenalkan dirinya. Malu-malu, Jaehee tersenyum dan menerima uluran tangannya. Menyebutkan namanya sendiri, hingga akhirnya teman-teman Joonmyun yang lain susul menyusul menjabat tangan Jaehee.

   ”Sakit apa, Jaehee-ssi? Maaf kami baru datang, kami baru tahu…” kata Hyomin setelah duduk di samping tempat tidur Jaehee.

   Jaehee menjawab, masih dengan malu-malu. ”Meningitis.”

   ”Mwo?! Meningitis?!” seru Eunjung dan Yonghwa kaget, sementara Jungshin memukul pundak Joonmyun sambil mengomel, ”Kenapa kau tidak bilang kalau pacarmu sakit separah ini, eoh?!”

   Dan mungkin tidak ada yang memperhatikan bagaimana wajah Jaehee memerah disebut sebagai pacar Joonmyun lagi. Rasanya label pacar Joonmyun itu sudah lama sekali tidak ia dengar, dan awalnya ia berpikir, pacar Joonmyun adalah si Jiyeon yang datang ini, namun melihat betapa kasualnya Joonmyun duduk disisinya, sesekali memeluknya dan menyuapinya makan, rasanya tidak mungkin Joonmyun melakukan itu, jika ia memang berkencan dengan Jiyeon. Apalagi Jungshin mengatakan bahwa Jaehee adalah pacar Joonmyun, Aaaaa, Jaehee mau melayang-layang bahagia saja.

   ”Ini, Jaehee-ssi… maaf kami tidak tahu apa makanan kesukaanmu, sebenarnya ini makanan favorit Minhyuk, mudah-mudahan kau suka,” tiba-tiba Eunjung sudah membuka kotak makanan besar berisi kue beras dengan lelehan gula di dalamnya.

   Jaehee tersenyum penuh terima kasih, ”Aku suka kue ini, terima kasih, Eunjung-ssi.”

   ”Jinjja? Ah, syukurlah… ayo makan, makan…”

   ”Memang kau boleh makan ini?” tanya Joonmyun, seperti biasa, selalu dapat merusak suasana dan selera makan Jaehee. ”Kalau nanti kata Suster tidak boleh bagaimana?”

   Jaehee mulai merengek, meski tidak semanja biasanya. Ia cemberut dan melempar pandangan sebal pada Joonmyun yang mulai mengoceh mengenai obat dan segala macam. ”…kalau nanti tidak boleh, bagaimana?”

   ”Joonmyun-ah, apa kau selalu sebawel ini?! Aish, kasihan Jaehee. Jaehee-ssi, kau pasti bosan dengan makanan rumah sakit kan?” tanya Minhyuk setelah sukses menyuruh Joonmyun diam. Jaehee mengangguk-angguk penuh semangat, ”Nah, kau lihat itu! Pacarmu ini sudah bosan dengan makanan rumah sakit,”

   ”Dia selalu melarangku makan makanan dari luar,” tiba-tiba Jaehee membelot dan mencari pembelaan pada teman-teman Joonmyun, bertampang super melas agar dikasihani dan boleh mencicipi kue yang terlihat lezat itu.

   Dan apa-apaan? Teman-teman Joonmyun—kecuali Jonghyun dan Jiyeon yang terlihat canggung, kini membela gadis itu, dan mengomeli Joonmyun.

   ”Kau jahat sekali!”

   ”Kasihan Jaehee,”

   ”Pacar yang kejam,”

   Jungshin bahkan berani-beraninya berkata, ”Kalau pacaran dengannya ternyata tidak enak, kau boleh kok berkencan denganku, Jaehee-ssi.” Ucapan yang perlu dibayar dengan mahal, karena Joonmyun langsung menepuk kepalanya dengan tangannya, sementara Jaehee tertawa geli. Garis matanya hilang, dan ia mulai merasa nyaman bersama teman-teman Joonmyun. Joonmyun ikut lega sebagian besar temannya menerima gadis itu, masa bodoh dengan Jonghyun dan Jiyeon, tidak mau menerima Jaehee, itu masalah mereka.

   ”Joonmyun-ah,” panggil Jiyeon tiba-tiba, sementara Joonmyun akhirnya mau juga menyuapkan kue beras itu ke mulut Jaehee, membuat Yonghwa iri saja, karena pacarnya tidak diajak sekarang, namun ia berjanji akan mengenalkan Jaehee dengan pacarnya, Shinhye. ”Apa kau akan tetap ikut, Rabu besok?”

   Joonmyun yang sibuk mengelapi bibir Jaehee yang makan dengan berantakan, menjawab sambil lalu, ”Rabu kemana?”

   ”Lelang tender, kau lupa? Kau kan sudah membeli tiketnya dari jauh-jauh hari,”

   Mengunyah kue berasnya, Jaehee bisa melihat ekspresi Joonmyun yang awalnya santai-santai saja berubah menjadi serius. Jaehee juga bisa melihat Hyomin melirik Jiyeon dengan sinis, sementara Jonghyun di samping Jiyeon menunduk, tidak mau ikut-ikutan, namun tidak berani juga melarang Jiyeon.

   ”Lelang tender itu apa?” tanya Jaehee penasaran.

 Jungshin menjelaskan, ”Lelang tender itu, semacam kita memamerkan atau melelang proposal bakal calon perusahaan kita di depan investor, Jaehee-ssi, kalau proposal kita dianggap menarik, maka investor akan mengucurkan dana, dan mungkin kita akan jadi mempunyai perusahaan sendiri, Jaehee-ssi.”

   ”Woah, daebak… kau pasti ikut kan, Myeonie?” tanya Jaehee pada Joonmyun yang hanya tersenyum dan kembali menyuapkan potongan kue beras pada Jaehee. ”Geuchi? Bukankah cita-citamu ingin punya usaha sendiri? Benar, kan?”

   ”Benar,” Jiyeon mengangguk. ”Maka kau akan ikut kan? Minhyuk akan memesan tiketnya malam ini.”

   Barulah Jaehee menyadari bahwa lelang tender ini bukan acara biasa-biasa saja, dan tidak mungkin dilangsungkan dalam waktu yang sebentar. Setelah selama nyaris sebulan selalu ditemani Joonmyun, kecuali saat ia bekerja saja. Jaehee sedikit merasa—tapi sudahlah, Jaehee menggelengkan kepalanya, dia harus melakukan ini! Lelang tender itu pastilah hari yang sudah ditunggu-tunggu oleh Joonmyun.

   ”Aku akan kabari lagi nanti, aku belum tahu akan jadi ikut atau tidak…”

   ”Tapi… kau kan sudah bayar tiketnya, Joonmyun-ah, dan tiket itu tidaklah murah. Kau sendiri yang bilang ingin mewujudkan impianmu, kan?” Jiyeon baru menutup mulutnya saat Jonghyun akhirnya menyikutnya meskipun tidak keras. Ia tidak mau Joonmyun ikut menampar Jiyeon seperti dirinya, meskipun Jonghyun ragu Joonmyun akan menampar seorang wanita.

   Jaehee menggigit bibirnya dan menatap Joonmyun yang mengepalkan tangannya sambil berusaha untuk tetap tersenyum.

 

*        *        *

”Kau tidak akan pergi ke lelang tender itu, Myeonie?” tanya Jaehee setelah semua teman Joonmyun pulang. Ia sudah berbaring di ranjangnya, sepuluh menit yang lalu suster datang memberikannya obat, dan bisa di prediksi, Jaehee akan tertidur dalam waktu sepuluh menit lagi. Ia mengeratkan selimutnya ke dada sambil memperhatikan Joonmyun yang selesai mencuci mukanya dan bersiap untuk tidur di sisinya juga.

   ”Entahlah,” Joonmyun menjawab dengan acuh tak acuh, ”Tidak usah dipikirkan, Sayang.”

   ”Hmm, tapi sepertinya itu acara hebat,” gumam Jaehee sambil menatap ke langit-langit. ”Memangnya dimana acaranya? Semua teman-temanmu kecuali Hyomin-ssi akan pergi kesana, kan?”

   Joonmyun menggantung handuknya di gantungan handuk dan menjawab, ”Ya, semua akan pergi. Ke Jeju.”

   Hati Jaehee mencelos. Jeju, jauh sekali. Tapi buru-buru ia membuang jauh-jauh kecemasannya, karena tentu saja, ia tidak mau melakukan kesalahan yang sama. Ia akan mendukung karier Joonmyun sekuat tenaganya, ia takkan membiarkan Joonmyun melewatkan sebuah keputusan penting yang mungkin akan mengubah hidup Joonmyun selamanya.

   ”Memang berapa lama?”

   ”Sekitar dua minggu,”

   Jaehee menghela napasnya dalam-dalam, dan saat Joonmyun sudah duduk di sisinya Jaehee meraih tangan pria itu dan menggenggamnya erat. ”Kau harus ikut acara itu, Myeonie-ya. Kau pasti sudah menanti-nantikan hari itu, kan?”

   ”Jaehee-ya, sudahlah… tidak usah pikirkan itu, oke?” Joonmyun mengusap-usap rambut Jaehee dan mengecup dahinya, “Mimpiku sudah berubah, kok. Sudah tidak menjadi pemilik perusahaan besar lagi,” kekehnya sambil lalu.

   ”Tidak mungkin. Tidak mungkin mimpi bisa berubah seperti itu.” Jaehee menatap Joonmyun serius, meskipun kantuk sudah mulai menyerangnya. Joonmyun mengalihkan pandang dan menghela napas berat, ”Kau tidak mau pergi karena aku masih di rumah sakit, iya kan? Myeonie, kau tidak perlu memikirkanku…”

   ”Bagaimana mungkin?!” sergah Joonmyun sambil balik menatap Jaehee dengan dua mata melebar marah. ”Aku… aku… Jaehee-ya, aku sudah bilang padamu, kalau mimpiku sudah berubah. Sudah bergeser… aku tidak lagi…”

   Jaehee menggelengkan kepalanya, ”Mimpi tidak mungkin berubah secepat itu, Kim Joonmyun. Aku tahu kau khawatir karena aku, dan aku sangat… sangat berterima kasih,” Joonmyun bisa melihat genangan air mata memenuhi kedua mata cantik Jaehee, ”Tapi, aku tidak mau jadi penghalang antara dirimu dan kariermu, kau harus pergi ke Jeju. Raih cita-citamu, oke?”

   ”Jaehee-ya, jebal…” Joonmyun memohon, ”Jangan paksa aku pergi. Aku… aku tidak mau.”

   ”Tapi, kenapa? Aku akan baik-baik saja,” Jaehee berusaha meyakinkan Joonmyun. ”Aku tahu bagaimana kau mencintai dunia kerjamu, dan mungkin saja besok adalah buah dari kesabaran dan kerja kerasmu. Kau bilang dulu, kau mau membuat perusahaanmu sendiri, kau tidak mau dibantu Aboji, sekarang kesempatan itu datang…”

   ”Andwae,” Joonmyun buru-buru memeluk Jaehee erat, dan dengan malu ia mengakui bahwa ia menangis. Bagaimana mungkin dia memilih kariernya lagi setelah dulu dia membuang Jaehee? Kemudian Jaehee berakhir seperti ini karena keegoisannya, dan karena kebodohannya dulu, bukan? Lagipula, dia tidak sanggup lagi hidup jauh dari Jaehee, setelah menghabiskan waktu satu bulan selalu di sisi gadis itu. Bagaimana jika saat ia tidak ada, terjadi sesuatu? Dia tidak akan bisa memaafkan dirinya meskipun Dokter sudah menjamin Jaehee semakin hari semakin sehat. ”Jebal, aku mohon… aku tidak mau pergi, bukan karena kau, tapi karena aku.”

   Jaehee memeluk Joonmyun erat-erat, dan kali ini, ganti ia yang menghibur pria itu. Ia mengecup dahi Joonmyun dan kedua pipinya sambil tersenyum, meski masih berurai air mata. Ia mengusap air mata Joonmyun dengan ibu jarinya.

   ”Pergilah,”

   ”Jaehee-ya, sudah kukatakan mimpiku sudah berubah!”

   ”Memang apa mimpimu?” tanya Jaehee lagi.

   Joonmyun menelan ludahnya sebelum menatap ke dalam dua mata cokelat Jaehee, ”Membuatmu… membuatmu bahagia. Itu saja, mimpiku sekarang.”

   Jaehee tersenyum, setetes air mata kembali menuruni pipinya. Hatinya membuncah bahagia, seolah ada ribuan kupu-kupu menari, dan sudah merasa bahagia. Jadi Jaehee memejamkan matanya dan mengecup Joonmyun kembali di dahi, di hidung, dan di bibirnya, meski sebentar saja.

   ”Dan kau tahu apa yang membuatku bahagia?” tanya Jaehee balik, ”Ketika kau juga bahagia, Myeonie. Dan aku akan sangat bahagia jika kau mau pergi dan menunjukkan pada para investor itu betapa hebatnya kau. Aku, mungkin melewati banyak waktu tidak tahu tentang hidupmu… dan aku sangat menyesal,” ujar Jaehee pelan sambil menunduk, lalu mendongak kembali dan memberikan Joonmyun senyuman lembut yang selalu bisa membuat hati Joonmyun berdebar-debar, ”Tapi kau harus tahu kalau aku percaya, kau pasti sangat hebat, kau pasti akan berhasil. Jadi, kumohon… demi aku, pergilah.” Jaehee bingung entah keyakinan dari mana yang datang dalam dirinya hingga ia, yang sebenarnya takut akan ditinggalkan justru berbalik mendorong Joonmyun.

   ”Kau jahat! Kau… kau benar-benar jahat, kau tidak adil,” Joonmyun tiba-tiba menciumi Jaehee bertubi-tubi dan menangkup kedua pipi Jaehee yang terkekeh sambil menangis terharu. ”Kau tidak adil melakukan ini padaku, damn, Oh Jaehee!” Joonmyun terus menciumi bibir Jaehee lama-lama, seakan bibir Jaehee adalah oase dan bibirnya sendiri adalah musafir yang kehausan. Ia tidak peduli apa status mereka sekarang, yang jelas cintanya untuk gadis itu ternyata tidak pernah luntur, dan Jaehee menunjukkan bahwa ia memang tidak pernah salah jatuh cinta.

   ”Kalau kutelepon kau harus angkat, tidak ada lagi lupa charge ponsel?!” Ada tuntutan dalam setiap kata-kata dan setiap ciuman Joonmyun, dalam betapa kuatnya dua tangan pria itu menahan kedua pipi Jaehee, namun tetap lembut dan Jaehee yakin ia bisa merasakan cinta yang amat sangat dari pria itu.

   ”Arasseo,” Jaehee mengangguk, memejamkan matanya menikmati ciuman yang sudah lama tidak ia rasakan.

   ”Makan sayur, dan tidak makan makanan dari luar!” isakan dan erangan bercampur saat Joonmyun mengecup bibir Jaehee di setiap jeda kata yang ia ucapkan.

   ”Iya,” Jaehee mengangguk sambil memejamkan matanya menerima perlakuan Joonmyun.

   ”Tidak boleh tidur malam!”

   ”Iya.” Terkekeh geli, Jaehee kembali menjawab.

   ”Dan aku cinta kau, Oh Jaehee,”

   Tangisan Jaehee pecah, akhirnya ia tersedu-sedu dan meraih Joonmyun erat-erat ke dalam pelukannya, ”Aku juga cinta kau, Kim Joonmyun. Sangat.”

>>>>>><<<<<<<

Preview 7th Slide

   Apakah sesuatu terjadi?!

   Kecemasannya tidak berkurang saat ia sudah duduk di dalam pesawat, sesaat sebelum pesawat lepas landas dan ia masih diizinkan menggunakan ponsel. Masih saja non aktif, dan Joonmyun bersumpah jika sesuatu terjadi pada Jaehee saat ia tidak ada… dia lebih baik mati!

   Dan kini, saat ia menunggu bagasinya, barulah Oh Sehun menghubunginya. Sayangnya, suara Sehun mengindikasikan ada sesuatu yang terjadi. Suara kakak Jaehee itu terdengar bergetar, seolah… menahan tangis.

   ”Sehun-ah, wae?! Jawab aku!” Joonmyun mendesis, tidak ingin berteriak di tempat umum.

   ”Ke rumah sakit, sekarang! Kau sudah di Gimpo?”

   ”Sudah… ada apa?!” seru Joonmyun panik.

-TBC-

Hola~

Setelah dibuat sedih, dan banyak rikues /?/ suruh buru-buru balikin Joon-Hee seperti sediakala… gimana sama part ini? Sudah gumoh atau kurang? Wkwkwkwkwk, kalau aku gak salah hitung (aku sering salah perhitungan) kurang lebih dua part lagi [IM]Perfection ini bakalan tamat, yang udah pada tau ending-nya di Imperfection-nya IMA, nanti disini bakalan ada part tambahannya dikit hehehehe

Terima kasih untuk semuanya yang udah ninggalin komen di part-part sebelumnya, yang selalu jadi suplemen dan vitamin buat aku untuk semangat ngelanjutin semua FF aku. Mudah-mudahan suka sama part ini, sampai ketemu di part berikutnya…

bye yeom

XoXo

Neez,

89 responses to “[IM]PERFECTION – 6TH SLIDE — by Neez

  1. jadi baper bacanya *hiks. sepertinya next part bakalan jadi part yang paling menegangkan😀 semangat thor, ane akan selalu menunggu karyamu😀

  2. akhirnya jae hee joonmyun baikan lg
    joonmyun perhatian bgt sm jae hee , seneng liat mereka bahagia tp baru baikan udah mau d tinggal joonmyun lg
    itu jiyeon punya rencana jahat apa ke joonmyun ?
    astaga previewnya bikin penasaran
    itu jae hee kenapa ? jae hee baik2 aja kan
    makin penasaran sm lanjutan nya

  3. Akhirnyaaaaa, balikannn
    Yesssss, baikan baikan ^^
    Ah, si jiyeon itu menyebalkan -_-
    Previewnya bikin penasaran aja ><
    Jaehee kenapa? Gara gara jiyeon kah?
    Waduh, penasaran
    Next ditunggu, semangat!

  4. Huwaaaa…. seneng merka bisa balikan lgi. Manis bgt lagi….
    Tpi tetep ja yg namanya Jiyeon tu bikin org yg baca emosi. Sebel aku sama dia. Gk nyerah nyerah gitu. Harus sabar…
    Kak Nisya…. moga cepet update hehe 😀
    Aku slalu suka karyanya Kak Nisya….
    Fighting…!!

  5. ini part sweetnya banget pake banget
    astaga bikin envy maksimal
    please ya tuh jiyeon perusak suasana
    syukurlah teman” joomyun bisa menerima dan berbaur dengan jaehee kecuali jiyeon tentunya

    next partnya bikin dag dig dug nich

  6. Duuuhh romantisnya junmyeon dalam kesediahan. Wiah itu adalah pria impian setiap wanita, junmyeon benar benar cinta mati dan tetap setia pada pasangannya.
    Jiyeon benar benar kejam ya. Kurasa dia hanya terobsesi pada junmyeon, karena cemburu. Kaya anak kecil yang selalu mencari perhatian dari ibunya.

  7. Previewnya bikin nyesek T.T
    Gara2 jiyeon!! Junmyeon jd diusi jaehee ckckck tp buat kebaikan junmyeon jg sih…. hahaha
    Kirain pas junmyeong pulang dari lelang tender, jaehee udah bisa jalan gitu, ehh malah….. Hadeuhh
    Semoga jaehee ga knp2😦

    Nextnya ditunggu bgt eonn😄

  8. penasaran ama rencana yg bakal jiyeon bikin.
    jaehee kenapa !?
    semoga gak ada apa” selamya jumyon di jeju…
    server aku error kali ya, uda ngepost komet berulang kali tapi tetep gak kepost.
    apa kalo lewat hp gitu ya,, susah dipost nya…
    intinya itu aja yg diinget,, hehehe

  9. Joonmyeon jaehee manisnyaa, sampe lupa kalo lg ada tmn tmn nya joonmyeon disitu.
    Yakk jiyeon ganggu suasana ajh..
    Ahh sehun-ah.. joonmyeon bertrima kasih lah pd sehun, kyknya byk berjasa juga disini.. ntahlah hihi
    Makin seru seru seru lah.
    Ditunggu part selanjutnyaaa

  10. Pingback: [IM]PERFECTION – 7TH SLIDE — by Neez (PG15++) | SAY KOREAN FANFICTION·

  11. Ahhhhh baperrr… Nangis bhagia sumvah…. Ttplah seperti ini… Readers ikut senang…. Huaaaaa….. 😂😂
    Dn ohh shit.. Npa, lnjutan part 7 nya gtu sihhh…

  12. Joonmyeon manis banget ga kuaat😫 Dan plis Jiyeon jangan ganggu mereka ok nonono ah iya jaehee kenapa itu preview nya bikin panik..😦

  13. Pingback: [IM]PERFECTION – 8TH SLIDE (END) — by Neez ~PG17/CUT VERSION | SAY KOREAN FANFICTION·

  14. ya ampun bang joonmyun sweet banget. baper banget baca nya. seneng akhirny mereka bisa balikan lagi.
    deg degan baca previewnya..

  15. Jaehee sama Joonmyun momentnya ya ampuunn >< gemes. Malu malu mau gitu😄 keduanya masih keliatan saling cinta. Mana bilang 'sayang' pula kan baperrr😄 Joonmyun perhatian banget. Semoga mereka cepet balikan

  16. Uluhhhhh romantis sekali 😍😍😍😍
    Sekian lama menunggu momennya merekaa dan akhirnyaaaa
    Jaehee semoga cepet bisa jalan dehh kasian banget harus sampe gitu :’
    Tapi tetep ya mbak jiyeon ngeselin -_-

  17. ”Tunggu sebentar, Sayang…” ASGAJSIQLWBSHJSKDNCFHY IH KO JADI GUE YG BAPER JIR😍 Oke mereka baikan ya? Seneng dong AAAAA😍😍😍

  18. Duh, lovey dovey-nya bikin orang diabetes bacanya. Apalagi pas bagian akhir.
    Enak yah jadi mereka, putus nggak usah bilang, balikan juga nggak usah konfirmasi, tau2 udah bertingkah kayak orang pacaran dan berasa kayak nggak pernah kejadian apa2 diantara mereka.

  19. Awwwww. Akhrnya bisa lovey dovey lg. Jiyeon ini keknya pgn bgt digulingin ya, smgt bnr mau ngrebut Joonmyeon-_- sm Jonghyun aja kek sana. Btw Sehun ini brother materials bgt ya, pgn satu yg kek sehun gt buat masa dpn. Wkw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s