{KIM TALES} DEEPEST MEMORIES — 11TH PART [BY IMA]

dm baruuuuw.jpg

Kim Tales :

“Deepest Memories”

Lee Hana / OC || Kim Jongin / EXO Kai || Other

Romance, Family, Drama, Angst

Beta : Neez

PG || Chapters

[Teaser] [1st Part] [2nd Part] [3rd Part] [4th Part] [5th Part]

[6th Part] [7th Part] [8th Part] [9th Part] [10th Part]

In Correlation with  :

{KIM TALES} WILDEST DREAM

© IMA 2016

[DEEPEST MEMORIES] — 11TH PART

Terkadang melepaskan adalah cara terbaik untuk melindungi diri.

Kedua mata Hana membengkak. Mukanya kusut sekali hingga ia terpaksa harus izin dari tempat kerjanya hari itu. Moodnya tidak juga kembali setelah kemarin sore mengakhiri hubungan –percintaannya dengan Kai. Bahkan Tae Jun juga jadi tidak pergi ke sekolah, karena semalaman dipeluk olehnya dan mereka tidak beranjak dari kasur sejak pagi. Perasaan Hana tidak menentu. Patah hati untuk yang kesekian kali ternyata masih terasa sangat menyakitkan. Atau mungkin lebih tepatnya, ia yang mematahkan hatinya sendiri.

Hana merutuk dalam hati seraya bangkit duduk di atas tempat tidur. Memperhatikan Tae Jun yang masih terlelap dengan kedua mata bengkak yang sama sepertinya. Entah kenapa semalaman Tae Jun juga ikut menangis bersamanya –walaupun tidak tahu penyebab dirinya menangis. Anak itu seolah merasakan apa yang dirasakannya.

Tanpa membangunkan Tae Jun, Hana beranjak dari kasur sambil menguncir rambutnya tinggi-tinggi, memasuki kamar mandi hanya untuk sekedar mencuci muka dan bergegas ke dapur untuk membuat sarapan. Ada rasa sakit yang mencengkeram dadanya begitu mengingat porsi sarapan yang selalu ia buat di pagi hari. Senyum miris muncul di bibirnya, ia memasukkan kembali bahan makanan yang tidak perlu ke dalam kulkas dan bersiap membuat sarapan hanya untuk dua orang seperti dulu.

“Eomma.”

Hana sontak menoleh ke belakang lalu tersenyum lebar pada Tae Jun yang masih mengucek kedua matanya. “Oh, kau sudah bangun.”

“Eoh. Sudah siang ya? Tae Jun tidak ke sekolah?” tanya Tae Jun seraya memanjat kursi makan dengan sedikit kesusahan.

“Hari ini izin dulu ya. Eomma kesiangan,” Hana menghampiri Tae Jun untuk membantu anak itu duduk dengan benar di atas kursi makan. “Mau sarapan apa?”

“Apa saja, eomma. Jong In hyung tidak kesini ya?” pertanyaan Tae Jun sontak membuat senyum Hana menghilang.

“Tidak. Jangan berharap Jong In hyung kesini lagi, eoh?” Hana memberitahu dengan nada sedikit keras sebelum kembali ke dapur dan menyibukkan diri dengan bahan-bahan makanan. Ia benci menjadi lemah hanya karena perasaannya sendiri. Sejak kemarin ia sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dan ia yang harus bangkit sendiri agar tidak terlihat lemah.

“Eh, eomma. Sehun hyung itu benar adiknya Jae Hee noona?”  tanya Tae Jun lagi seraya meraih botol di atas meja dan meminum air di dalamnya hingga habis setengah.

Kedua mata Hana terpejam sebentar, berusaha tidak meluapkan perasaan tidak menentunya pada Tae Jun. “Iya, sayang. Kenapa memangnya?”

“Anhi. Kemarin sonsaengnim bilang, kalau Sehun hyung itu sangat mirip dengan Tae Jun. Sonsaengnim kira Sehun hyung itu uri appa,” Tae Jun terkekeh mendengar ucapannya sendiri seraya mengayun-ayunkan kakinya yang menggantung. “Mana mungkin ya, eomma? Masa uri appa sekeren itu.”

Mau tidak mau Hana malah tersenyum geli. “Iya, tidak mungkin. Masa Tae Jun punya appa sekeren itu.”

“Iya ‘kan tidak mungkin, eomma,” Tae Jun meniup kesal udara kosong di sekitarnya sambil memperhatikan ibunya yang sibuk membuat sarapan.

Lima belas menit kemudian Hana menyajikan telur gulung, kimchi, dan mackerel bakar ke atas meja makan. Lengkap dengan dua mangkuk nasi untuk dirinya dan Tae Jun. Tangannya baru saja terangkat untuk membantu Tae Jun mengambil lauk ketika mendengar suara bel dari depan pintu apartemennya. Hana bergegas turun dari kursi dan setengah berlari menghampiri pintu.

“OMO!”  pekik Hana seraya menekap mulutnya begitu menemukan Sehun berdiri di depannya –dengan lebam di wajah, ditambah darah yang keluar dari luka cukup dalam di sudut bibir lelaki itu.

Sehun tersenyum lemah sebelum meringis dan melangkah pelan memasuki apartemen Hana –tanpa disuruh wanita itu. Mata Sehun langsung menangkap Tae Jun yang duduk di kursi makan, tidak kalah kagetnya dengan Hana. Anak itu dengan heboh melompat dari kursi dan menarik tangan Sehun agar segera duduk di sofa ruang tengah.

“Tae Jun-ah, tolong ambil handuk kecil dan es batu,” Hana sibuk memasuki kamar dan mengambil kotak obat –yang dibawa semalam olehnya karena sakit kepala—lalu membawanya ke atas meja ruang tengah.

Hana duduk di sebelah Sehun lalu mengeluarkan kapas dari dalam kotak obat, meneteskan antiseptik ke kapas sebelum menempelkannya ke luka di sudut bibir Sehun. Tanpa memedulikan ringisan dari Sehun, ia menyuruh lelaki itu memegangi kapasnya sendiri sementara ia sibuk memasukkan es batu ke dalam handuk kecil. Tae Jun duduk di sisi meja sambil memperhatikan keduanya di sofa.

“Kenapa datang-datang seperti ini sih? Merepotkan saja,” protes Hana seraya menempelkan handuk berisi es batu ke bagian wajah Sehun yang lebam.

Sehun meringis. “Seseorang memukulku tiba-tiba tadi malam.”

Mendengar nada bicara Sehun yang menekankan kata-kata ‘seseorang’, Hana tentu dengan cepat menangkap siapa orang itu. “Tch. Kalian bertengkar?”

“Dia yang memulainya duluan. Aku tidak bisa diam saja,” Sehun meletakkan kapas –yang sudah penuh darah ke atas meja, lalu menerima kapas baru yang dibubuhi antiseptik dari Tae Jun. Ia menepuk puncak kepala anak itu sambil bergumam terima kasih.

Hana enggan berkomentar, masih menempelkan handuk berisi es batu di pipi Sehun dengan mata memperhatikan penampilan lelaki itu. Sehun selalu terlihat memakai pakaian bermerk dan keren, sangat bertolak belakang dengan Kai –dihitung karena mereka bekerja di tempat yang sama. “Sebenarnya kau kerja apa di Triptych? Sama seperti Jong In? Atau bartender? Pelayan?”

“Yah pokoknya seperti itu,” Sehun menjawab tak acuh seraya mengendikkan bahu, tidak mau menjawab pertanyaan wanita itu. “Kalian lanjutkan sarapannya saja. Maaf mengganggu pagi-pagi.”

“Sudah diganggu, sekalian saja kau ikut sarapan juga,” Hana bangkit dari sofa dan menepuk bahu Tae Jun agar kembali ke meja makan, sementara ia menunggu Sehun ikut bersamanya.

Senyum tipis terukir di bibir Sehun ketika ia bangkit dari sofa dan mengikuti Hana –serta Tae Jun duduk di meja makan. Hana memasuki dapur dan mengambil satu mangkuk nasi untuk dirinya. Suasana sarapan pun diisi keheningan, hanya terdengar suara sumpit besi yang beradu dengan mangkuk nasi. Sementara Sehun sesekali memperhatikan Hana dan Tae Jun yang duduk di hadapannya. Menyadari bahwa cara memegang sumpit Hana yang unik itu menurun pada Tae Jun, walaupun Tae Jun masih memakai bantuan –untuk memegang sumpit.

Jika Sehun tidak bersikap brengsek meninggalkan keduanya lima tahun lalu, mungkin hidupnya akan terasa lengkap seperti itu setiap hari. Sejak sarapan bersama keduanya pagi itu, Sehun mulai bertekad untuk melakukan apapun agar ia bisa kembali bersama Tae Jun dan Hana.

***

Jangan ditanya bagaimana hidup Kai setelah berpisah dengan Hana. Masih teringat jelas perkelahiannya dengan Sehun malam itu –yang harus dilerai oleh satpam Triptych. Keduanya dipanggil ke dalam ruang manajer, diceramahi hampir sepanjang malam dan terpaksa mendapat skors selama satu minggu. Beruntung Kai tidak dipecat dan Sehun tidak kehilangan lahan pekerjaannya. Tiga hari berlalu dan Kai tidak juga beranjak dari apartemennya karena rasa sakit di sekujur tubuh –dan yang paling penting, di hatinya.

Tiga hari ia hanya bertahan hidup dengan sisa makanan yang ditinggalkan Hana di dalam kulkasnya. Selama itu pula ia hanya diam di sofa, makan dan tidur di sana tanpa mau melakukan apapun. Terkadang ia marah-marah sendiri, merasa bodoh karena ia melepaskan Hana begitu saja. Mungkin Tuhan sedang menghukumnya atas apa yang pernah ia lakukan di masa sekolah dulu. Ia sering sekali mengakhiri hubungan secara sepihak tanpa memikirkan perasaan wanita-wanita yang ia kencani dulu. Dan sekarang, ia mendapat karma dari wanita yang dicintainya.

“Ah, jinjja,” Kai mengacak rambutnya sendiri seraya menendang-nendang udara kosong sambil berbaring di sofa. Masih tersisa empat hari lagi dan ia hampir mati kebosanan di sana. Bertemu Hana atau Tae Jun pun tidak akan membantu, karena sama saja ia menabur garam di atas lukanya sendiri.

Kenapa Hana bisa memberikan efek sebesar itu pada hidupnya?

Setelah bertengkar dengan pikirannya sendiri, Kai akhirnya memutuskan untuk berganti baju dan berjalan-jalan. Dengan memakai masker dan topi –karena wajahnya masih dipenuhi bekas luka, ia hanya berjalan santai mengikuti jalanan kecil di sekitar  komplek apartemennya. Berharap tidak akan bertemu Hana ataupun Tae Jun di sore hari seperti itu.

Namun dugaannya salah. Sangat salah mungkin.

Sore itu Kai malah melihat Sehun bersama Tae Jun, berdiri di kedai Yoon ahjussi dan entah menertawakan apa.  Jantungnya seperti diremas dengan kuat, menyadari bahwa kehadirannya pasti akan kalah dengan laki-laki yang jelas-jelas memiliki hubungan darah dengan Tae Jun. Jika sejak awal ia tahu akhirnya tidak akan bersama Hana dan Tae Jun, mungkin ia harusnya mundur saja. Karena di saat ia sudah terlalu dalam mencintai keduanya, ia malah kesulitan untuk keluar dari perasaanya sendiri.

“Oh, Jong In hyung!!” Tae Jun kelewat antusias ketika melihat Kai berdiri di ujung anak tangga dan berlari menghampiri.

Kai yang menyadari teriakan anak itu sontak berbalik dan melarikan diri. Menjauh dari Tae Jun yang berlari mengejarnya di belakang, disusul suara Sehun yang memberitahu anak itu agar tidak berlari di tangga. Hingga Kai memutuskan untuk bersembunyi ke gang kecil, dan mendengar suara desahan kecewa dari Tae Jun –yang berhenti tak jauh dari tempatnya bersembunyi.

“Kenapa Jong In hyung lari sih?” tanya Tae Jun entah pada siapa, lalu mengadu pada Sehun yang menggendongnya. “Sehun hyung, ayo kita cari Jong In hyung ke apartemennya.”

“Wae?”

“Tiga hari ini Jong In hyung hilang. Tae Jun bingung. Ayo kita ke apartemennya, hyung!” Tae Jun memekik heboh, sementara Kai masih berusaha menyembunyikan dirinya dibalik dinding. Berharap keduanya tidak berjalan semakin jauh ke depan atau ia akan ketahuan di sana.

“Nanti saja, Tae Jun-ie. Kita tanya eomma dulu.”

Suara Sehun yang menyebut ‘eomma’ untuk Hana membuat kedua tangan Kai terkepal tanpa sadar. Ia benci mendengar Sehun menyebut Hana dengan panggilan seperti itu. Tidak ada yang boleh memanggil Hana seperti itu selain Tae Jun…. dan dirinya.

Butuh beberapa menit hingga Sehun dan Tae Jun menjauh dari sana. Kai keluar dari tempat persembunyiannya, kembali berdiri di tengah jalan kecil komplek apartemen sambil memandangi punggung Sehun –bersama Tae Jun yang menghilang di belokan jalan. Hembusan napas keluar dari bibirnya dan ia baru saja berbalik untuk kembali ke apartemennya saat melihat Hana. Melangkah dari ujung jalan sambil sibuk mencari sesuatu dari dalam tas tanpa memperhatikan jalan.

Dan Kai dengan bodohnya berdiri di sana. Hanya memandangi bagaimana rambut panjang wanita itu tertiup semilir angin sore, hingga wajah cantiknya terekspos dengan jelas. Kedua mata Kai terpejam, berusaha mengenyahkan rasa sesak di dadanya saat menyadari bahwa ia tidak bisa lagi memeluk Hana.

Begitu kepala Hana terangkat dan menatapnya, langkah wanita itu terhenti. Ekspresi Hana memucat sebelum mengalihkan pandangan dan berjalan cepat melewatinya begitu saja. Bahkan dengan memakai masker dan topi, wanita itu masih bisa mengenali dirinya dan cepat-cepat melarikan diri.

“Han-ah.”

Kai cepat-cepat berbalik dan menahan lengan Hana, hingga membuat langkah wanita itu terhenti –namun tidak berbalik ke arahnya. “Apa kau benar-benar menginginkan ini?”

“Jong In-ssi,” Hana melepaskan tangannya dari cengkeraman Kai lalu memutar setengah tubuhnya untuk menatap mata lelaki itu. “Kita masih butuh—.”

“Aku tidak butuh apapun lagi, Han-ah! Aku menyayangimu, apa belum jelas?!” Kai berujar dengan nada keras, hingga membuat Hana menundukkan kepala –dan mundur selangkah.

“Masalahnya ada di diriku juga, Jong In. Aku masih butuh waktu,” tanpa mau menatap Kai lagi, Hana mundur perlahan menjauhi lelaki itu. Sebelum benar-benar melarikan diri, ia bisa mendengar suara Kai di belakangnya.

“Sehun seorang escort di Triptych. Aku tidak mau kau disakiti lagi olehnya, Han-ah,” ucapan Kai hanya dianggap angin lalu oleh Hana yang melangkah cepat meninggalkan lelaki itu.

Kai menendang dinding di dekatnya dengan umpatan-umpatan pelan, melampiaskan rasa frustasinya. Jika jarak  dan waktu bisa mengembalikan Hana ke sisinya, maka ia akan melakukannya. Ia akan memberikan Hana waktu untuk berpikir entah sampai kapan dan ia juga akan meyakinkan perasaannya sendiri. Setelah ini ia akan mengejar wanita itu kemana pun.

***

“Hey.”

Kepala Hana sontak terangkat, memperhatikan sosok tinggi Sehun yang menghampirinya di depan pagar sekolah Tae Jun. Beberapa orang tua murid yang menunggu di sana pun sontak melirik Sehun yang berdiri di dekat Hana seraya menyerahkan segelas kopi hangat pada wanita itu. Hana tentu mengakui bahwa pesona yang dimiliki Sehun bisa menarik wanita manapun dari remaja hingga wanita paruh baya. Ada perasaan mengganggu karena semua orang tua murid yang sebagian besar didominasi oleh wanita paruh baya itu terus memperhatikan Sehun.

Hana meremas pelan gelas karton di genggamannya lalu menoleh ke arah Sehun yang terlihat tenang menghabiskan kopinya. Tanpa sadar Hana menggigit bagian dalam bibirnya, menyadari betapa tampannya Sehun dengan tatanan rambut sedikit berantakan menutupi kening. Ditambah celana skinny hitam yang memperjelas kaki jenjang lelaki itu dengan balutan kemeja jeans yang digulung hingga siku, seolah memamerkan otot lengan dan jam tangan Rolex di pergelangan tangan kiri.

Hingga ucapan Kai mengenai pekerjaan Sehun kembali terngiang di dalam kepalanya. Ia bahkan tidak begitu paham dengan pekerjaan escort yang dimaksud Kai beberapa hari lalu.

“Eomma!” seru Tae Jun seraya berlari menghampiri Hana dengan senyuman lebar dan refleks memeluk kaki wanita itu.

Hanya suara tawa pelan yang dikeluarkan Hana, sebelum Sehun berjongkok dan mengangkat tubuh mungil anak itu ke dalam dekapannya. Senyuman Hana menghilang ketika melihat Tae Jun tertawa geli sambil memeluk leher Sehun dan berbicara dengan lelaki itu sambil melangkah menjauhinya. Hana mengikuti keduanya dari belakang hingga berdiri di dekat mobil. Sehun mendudukkan Tae Jun di kursi belakang, memasang seatbelt anak itu sebelum membukakan pintu untuknya di samping kemudi.

“Full team?” tanya Sehun dengan senyum miring seraya mendorong pelan Hana memasuki mobil dan duduk di kursi depan.

Wajah Hana memanas entah kenapa. Apalagi ketika Sehun duduk di balik kemudi, membantunya memasang seatbelt lalu menyalakan mesin mobil dan meninggalkan pelataran parkir sekolah. Hingga Hana sadar bahwa Sehun membelokkan mobilnya ke arah yang berlawanan –dari apartemennya. “Kita mau kemana?”

“Ah, mengajakmu dan Tae Jun jalan-jalan sebentar,” Sehun menyunggingkan senyum tipis seraya melirik Tae Jun –yang berseru antusias di kursi belakang. “Kau sedang libur juga hari ini.”

“Aku tidak bilang iya,” Hana mengerutkan kening kesal karena Sehun kembali bersikap mendominasi dalam menentukan keputusan.

“Hanya sebentar kok,” Sehun menepuk puncak kepala Hana dengan senyuman simpul –yang membuat jantung Hana kembali berdetak cepat. Pesona Sehun benar-benar sulit ditolak dan masih tetap bisa membuatnya salah tingkah seperti di masa lalu.

Hampir setengah jam kemudian, Sehun membelokkan mobilnya memasuki lobby sebuah gedung apartemen mewah. Membuat sebelah alis Hana terangkat dan otomatis mencondongkan tubuhnya untuk melihat lebih jelas bagian depan gedung itu. Dari bangku belakang terdengar suara gumaman Tae Jun –yang mengagumi gedung tinggi di daerah pusat kota itu.

“Ini dimana?” tanya Hana begitu Sehun menghentikan mobilnya di depan lobby. Sehun bergegas turun, menyerahkan kunci mobilnya pada petugas vallet parking lalu membukakan pintu untuknya dan Tae Jun.

“Aku beli mainan baru untuk Tae Jun, tapi lupa dibawa tadi,” Sehun menjelaskan tanpa menjawab pertanyaan Hana, yang membuat kerutan di kening wanita itu semakin menjadi. Membuat Sehun tertawa pelan. “Ini apartemenku.”

“Jinjja?” tanya Hana tak yakin. Karena demi Tuhan, biaya sewa apartemen di komplek perumahan yang biasa saja sudah mahal dan berapa biaya yang dikeluarkan Sehun setiap bulan untuk tinggal di apartemen semewah itu?

“Jinjja?! Hyung tinggal di sini?” Tae Jun membiarkan Sehun menggenggam tangannya dan membawanya melangkah memasuki lobby gedung apartemen yang luasnya hampir menyamai keseluruhan luas sekolahnya.

“Iya, Tae Jun-ie. Kaja, hyung punya mainan baru untukmu,” Sehun menoleh ke belakang, mengajak Hana memasuki lobby dan mengikutinya menuju lift.

Hembusan napas panjang keluar dari bibir Hana begitu kakinya melangkah sendiri mengikuti Sehun dan Tae Jun dari belakang. Dengan senyuman ramah, Hana menyapa seorang wanita yang duduk di balik meja resepsionis dan berdiri di sebelah Sehun yang menunggu di depan pintu lift. Sehun sontak merangkulnya dan sedikit mendorongnya memasuki pintu lift yang terbuka, sementara Tae Jun sudah ada di dekapan lelaki itu lagi.

“Tae Jun berat lho. Kenapa kau suka menggendongnya?” tanya Hana penasaran karena Sehun tidak pernah terlihat kelelahan atau keberatan menggendong Tae Jun.

“Kasihan Tae Jun kalau harus mengejar langkah kita, Hana-ya. Lagipula berat Tae Jun tidak sebanding dengan latihan rutinku di gym kok,” Sehun ikut tersenyum geli ketika Hana menyeringai dan menyembunyikan tawa gelinya dengan mengulum senyum.

Yang membuat Hana semakin berdecak kagum adalah lift yang membawanya langsung ke lantai teratas gedung apartemen itu. Membuatnya bisa menyimpulkan bahwa selain tinggal di apartemen mewah, Sehun juga menyewa lantai teratas –atau biasa disebut penthouse yang harga sewanya biasanya dua kali lipat dari harga apartemen biasa di gedung yang sama. Kepalanya terasa pening jika menghitung berapa pengeluaran Sehun dalam sebulan hanya untuk menyewa apartemen saja.

Sehun membuka pintu apartemennya setelah mengetikkan kode, menurunkan Tae Jun dari gendongannya dan membiarkan anak itu berlari memasuki ruang tengah apartemennya. Sementara ia menunggu Hana yang masih berdiri di depan pintu lift, terlihat ragu-ragu untuk sekedar mendekatinya.

“Darimana kau mendapatkan ini semua?” tanya Hana heran seraya mendekati Sehun dan berdiri di hadapan lelaki itu dengan nada menginterogasi.

“Kerja keras. Memangnya apa lagi?” Sehun masih menahan pintu apartemennya untuk Hana, namun wanita itu tetap bersikeras ingin mendengar penjelasan lebih jauh karena tidak bergeming dari tempatnya berdiri. “Masuk saja, nanti kujelaskan.”

“Call,” Hana masuk ke dalam apartemen mewah Sehun dan diam-diam mengagumi setiap sudut ruang tengah yang bisa dilihatnya, diterangi oleh sinar matahari dari kaca yang mengelilingi setengah dari ruang tengah itu.

Sehun memasuki apartemen miliknya, ia merasa bahwa kehadiran Hana bersama Tae Jun di sana melengkapi hidupnya. Ia melihat Hana duduk dengan ragu di sofa hitam ruang tengah apartemennya, sementara ia beranjak ke pantry untuk mengambilkan minum.

Hembusan napas panjang keluar dari bibir Hana, ia duduk di sofa hitam yang menghadap televisi berukuran sangat besar dengan layar melengkung dilengkapi satu set home theatre di dekatnya. Lantai marmer berwarna hitam yang dilapisi karpet berbahan halus yang ada di bawah kaki Hana pun membuatnya enggan beranjak. Kehidupan mewah Sehun benar-benar diluar ekspetasinya.

“Eomma.”

Hana menoleh ke arah Tae Jun –yang masih terkena awestruck, berdiri di dekatnya sambil mengagumi setiap sudut apartemen Sehun yang dilihatnya. “Duduk saja, Tae Jun-ie. Sehun hyung tidak melarang kita duduk kok.”

“Huwah eomma,” Tae Jun duduk dengan antusias di sofa seraya menggamit lengan Hana. “Sehun hyung ternyata sangat keren, ya. Mobilnya bagus, apartemennya juga sebesar ini. Tae Jun pasti bisa main bola setiap hari di sini.”

“Sssht! Tidak boleh seperti itu!” tegur Hana sambil mencubit pelan pipi anak itu. “Sehun hyung juga harus kerja keras untuk mendapatkan semuanya.”

“Kira-kira Sehun hyung belikan mainan apa, ya?” Tae Jun turun dari sofa, menghampiri lemari kaca berisi figure-figure tokoh di film marvel hingga robot yang biasa dilihatnya di film Transformers. Ternyata Sehun juga senang mengoleksi mainan-mainan seperti itu.

Sehun kembali ke ruang tengah dengan senyum geli, mendengar apa yang dikatakan Tae Jun beberapa saat lalu. Ia kemudian duduk di sebelah Hana setelah meletakkan dua gelas air dingin ke atas meja. “Di kamar ada playstation kalau Tae Jun mau main.”

“Jinjja?!” tanya Tae Jun antusias lalu berlari mengampiri Sehun dan menarik-narik tangan lelaki itu. “Hyung ayo main playstation!”

Dengan suara tawa geli, Sehun akhirnya mengikuti tarikan tangan Tae Jun dan menggendong anak itu ke lantai dua. Meninggalkan Hana di sofa ruang tengah yang duduk dengan manis memperhatikan keduanya menghilang di lantai dua.

Beberapa menit kemudian Sehun kembali turun ke lantai satu tanpa Tae Jun di gendongannya lagi. “Tae Jun mau main sendirian.”

“Tidak apa-apa memangnya? Kalau rusak bagaimana?” tanya Hana tidak yakin ketika Sehun kembali menghempas duduk di sebelahnya seraya menyalakan televisi.

“Kalau rusak ya beli lagi saja. Aku rela kok kalau dirusak Tae Jun,” Sehun menoleh sedikit seraya menyunggingkan senyum tipisnya pada Hana.

Hana memutar bola matanya lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Tanpa sadar bahwa jarak duduknya dengan Sehun hanya terpaut satu jengkal saja. Keringat dingin keluar dari telapak tangan Hana begitu merasakan tangan Sehun yang melingkari bahunya. Merangkulnya dan menarik tubuhnya agar duduk semakin dekat.

“Sehun!” Hana berusaha melepaskan diri, tapi Sehun dengan keras kepalanya tetap menahannya agar tidak menjauh.

“Hanya seperti ini saja,” Sehun berbisik pelan di telinga Hana dan kembali menonton televisi dengan tenangnya tanpa melepaskan tangannya dari bahu Hana.

Hanya hembusan napas yang bisa Hana keluarkan karena sadar bahwa ia tidak pernah bisa mengalahkan keinginan Sehun. Toh tidak salah juga karena ia tidak memiliki kekasih yang harus dikhawatirkan akan marah di luar sana. Rasanya memang tidak benar bermesraan dengan Sehun di sana, tapi ia tidak bisa menyalahkan apa yang dilakukan lelaki itu.

Hingga suara bel membuyarkan suasana romantis yang berusaha dibangun Sehun. Dengan umpatan pelan Sehun melepaskan tangannya dari bahu Hana dan beranjak dari sofa. Tanpa mau repot-repot mengecek ke intercom, Sehun membuka pintu dengan sekali tarikan dan siap mengutuk siapapun yang mengganggu quality timenya bersama Hana. Namun kedua matanya membulat begitu menemukan wanita paruh baya berpenampilan mewah dengan dress mini dibalut jaket bulu itu berdiri di depan pintu. Sehun hampir mati berdiri ketika menyadari situasi yang seolah menjebaknya di sana.

“Kau tidak membalas pesan dan teleponku. Tidak biasanya,” wanita paruh baya itu memasuki apartemen dan memberikan ciuman ringan di bibir Sehun, melumatnya beberapa kali sambil menepuk pelan pipi lelaki itu. Seraya menjauhkan wajahnya, wanita itu memberikan senyum miring pada Sehun. “Yang aku baca tadi pagi itu tidak benar ‘kan? Kau yakin?”

Sehun belum sempat menjawab apapun ketika melihat Hana berdiri dari sofa, menatap ke arahnya dengan sorot mata yang didominasi rasa kecewa. Hingga wanita paruh baya didekatnya ikut memperhatikan Hana dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Ah jadi ini alasannya?”

“Noona. Ini tidak menyangkut Hana,” ujar Sehun berusaha menengahi dan mengejar wanita yang dipanggil ‘noona’ olehnya itu karena mendekati Hana. Ia takut sekali Hana akan disakiti oleh wanita itu.

“Oh, hello Hana. Aku Hwang In sun,” wanita dengan wajah yang dipenuhi make up itu melirik Sehun dengan tatapan menggoda seraya menyodorkan tangannya ke hadapan Hana. “Dan kau pasti tidak akan mau tahu apa hubungan kami sebenarnya. ”

“Aku Lee Hana,” Hana menjawab seadanya sambil membalas uluran tangan wanita itu. Dadanya terasa sesak entah kenapa.

“Siapanya Sehun?”

Dan sesungguhnya Hana juga bingung untuk menjawab pertanyaan wanita itu. Mantan pacar yang pernah dihamili Sehun? Terdengar memalukan sekali. Teman juga tidak tepat untuk menjelaskan hubungan ia dan Sehun. Kekasih apalagi.

“Ah… pacarnya?” tanya In Sun setengah mengejek sambil memperhatikan Sehun dan Hana secara bergantian. “Mungkin aku menganggu. Aku kembali lagi nanti ya, Sehun-ah.”

Wanita bernama In Sun seolah sengaja menunjukkan lekukan tubuhnya dengan melenggang meninggalkan Hana, lagi-lagi memberikan ciuman di bibir Sehun sebelum benar-benar melangkah ke pintu dan meninggalkan apartemen itu.

Hana cepat-cepat berbalik, melangkah cepat menuju tangga ke lantai dua untuk membawa Tae Jun pergi dari sana. Tidak tahu juga kenapa ia merasa kesal, tapi rasanya ingin cepat-cepat menghilang dari hadapan Sehun sekarang. Tidak sudi menginjakkan kakinya di apartemen mewah lelaki itu, hasil dari bercumbu dengan wanita-wanita yang lebih pantas disebut ahjumma olehnya. Sekarang ia mengerti apa pekerjaan escort yang dikatakan Kai mengenai Sehun.

“Hana-ya.”

Hana merasakan cengkeraman tangan Sehun di pergelangan tangannya ketika mereka masih mencapai pertengahan anak tangga. “Jadi ‘kerja keras’ yang kau maksud seperti ini?!”

“Aku bisa jelaskan semuanya.”

“Aku tidak butuh penjelasanmu, Sehun!” Hana tidak sadar bahwa suaranya yang keras bergema, hingga membuat Sehun sedikit terperanjat kaget. “Kau bilang mau memperbaiki diri?! Tapi kau memiliki pekerjaan menjijikkan seperti ini dan membuatku yakin kalau kau tidak pantas diberikan kesempatan kedua.”

“Hana-ya,” Sehun hampir merengek. Frustasi dengan keadaan yang memojokkannya karena demi Tuhan, ia tidak ingin Hana kembali menjauhinya setelah susah payah membuat wanita itu tidak mengabaikannya. “Aku sedang berusaha. Tolong jangan salah paham dulu, Lee Hana.”

“Salah paham?” Hana menyeringai pelan seraya berkacak pinggang. “Aku melihatnya sendiri dan kau bilang salah paham?!”

“Hey, dengarkan aku dulu.”

“Sehun… Aku benar-benar bosan mendengar alasanmu lagi sekarang. Kalau kau memang benar-benar serius ingin mendapatkan maaf dariku dan Tae Jun, kau harus rela melepaskan pekerjaanmu dan meninggalkan semua kemewahan ini. Aku tidak perlu janji-janji palsu yang pada akhirnya kau ingkari juga. Kalau kau memang serius, maka buktikan padaku!” Hana berujar panjang lebar, tanpa menunggu balasan dari Sehun segera menaiki anak tangga menuju lantai dua.

Begitu melihat pintu kamar Sehun yang terbuka dan Tae Jun yang duduk dengan manis di atas karpet, ia segera memasuki kamar dan menggendong anak itu. “Ayo pulang.”

“Eh, eomma? Tae Jun baru mau—.”

“Pulang!” Hana tanpa sadar berseru keras sambil membawa Tae Jun, melewati Sehun yang berdiri di depan pintu kamar.

“Hana-ya, biar aku antar ke rumah,” Sehun mengejar langkah cepat Hana seraya meraih bahu wanita itu. Namun Hana menghindar dengan cepat, tidak ingin disentuh olehnya.

“Jangan sentuh aku. Dan aku tidak akan pernah mau menaiki mobil menjijikkan itu lagi,” Hana berbalik dengan cepat, menuruni anak tangga dan bergegas keluar dari apartemen lelaki itu. Tidak peduli bahwa Sehun memanggil-manggilnya dan mencegahnya pergi dari sana.

Begitu keluar dari pintu, Hana melihat Hwang In Sun berdiri di dekat lift. Membuat langkah Hana terhenti dan tanpa sadar menahan kepala Tae Jun agar tetap menghadap belakang dan tidak melihat wanita menjijikkan itu. In Sun menyunggingkan senyum tipis yang terkesan meremehkan, masih dengan tatapan mengintimidasi.

“Ternyata memang kau alasannya,” In Sun berujar dingin seraya menekan tombol panah ke bawah di dekatnya. “Apa Sehun sudah mengusirmu?”

“Tanpa diusir pun aku tidak mau melihat adegan menjijikkan kalian lagi,” Hana menyeringai pelan sebelum memasuki lift yang pintunya terbuka. Meninggalkan In Sun yang hampir memukulnya dengan tas jinjing jika Sehun tidak menahan tangan wanita itu. Hana sempat melirik Sehun –yang melemparkan tatapan sendu ke arahnya sebelum pintu lift tertutup. Ia mengusap bagian belakang kepala Tae Jun dan mencium pelan bahu anak itu. “Lupakan apa yang Tae Jun dengar hari ini, eoh? Eomma sayang Tae Jun. Kita harus tetap bersama apapun yang terjadi.”

***

Lebih dari satu bulan berlalu sejak Hana memutuskan hubungannya dengan Kai. Hana masih hidup seperti biasa. Bekerja dari pagi hinga sore, menghabiskan waktu bersama Tae Jun di sore hingga malam, dan tidur setelahnya. Hanya ia kesulitan untuk tidur nyenyak di malam hari karena bayang-bayang wajah Kai dan suara tawa lelaki itu yang menghantuinya. Jantungnya selalu berkedut sakit ketika mengingat senyum hangat dan pelukan terakhir yang ia dapatkan dari Kai. Ia benci mengakui bahwa ia merindukan lelaki itu di sisinya.

Jam 4 pagi Hana terpaksa membuka kedua matanya yang tidak bisa terlelap semalaman. Beranjak dari kasur dan memasuki dapur untuk mencari susu cokelat sachet yang bisa ia buat untuk membantunya merasa tenang. Bukannya menemukan susu sachet, ia malah menemukan gelas milik Kai di dalam lemari. Dulu ia yang menyembunyikan gelas itu di dalam lemari –setelah berpisah dengan lelaki itu.

Hana menempelkan pinggiran gelas itu ke bibirnya sambil memejamkan mata, membayangkan kenangan-kenangan manis yang sudah dilewatinya bersama sang pemilik gelas. Kencan pertama mereka. Kontak fisik pertama mereka –dengan berpegangan tangan yang membuat perut Hana bergejolak geli. Ciuman pertama mereka di belakang pintu apartemen –yang membuat Hana hampir gila. Sikap-sikap manis yang selalu berhasil membuat pipi Hana bersemu. Bahkan ia masih ingat dengan jelas kehangatan yang diberikan oleh Kai saat memeluknya seharian di atas tempat tidur.

Rasa rindu yang mendalam itu membuat Hana menitikkan air matanya.

“Aku bodoh, ya?” Hana bertanya pada dirinya sendiri sambil berjongkok di dekat lemari dapur, masih sambil memandangi gelas bermotif tokoh Krong di Pororo yang mengingatkannya akan suara lelaki itu ketika menirukan tokoh kartun itu untuk menghibur Tae Jun.

Air mata tak berhenti mengalir dari kedua pipi Hana karena rasa sesak yang terus menyerang dadanya. Hana memeluk gelas itu di dadanya lalu menangis tersedu, merasa bodoh karena belum bisa percaya sepenuhnya pada laki-laki sebaik Kim Jong In. Hingga ia harus menyakiti dirinya sendiri dan menyakiti perasaan lelaki itu.

“Eomma.”

Suara Tae Jun membuat Hana mengangkat kepala. Dari balik air mata yang menggenang di pelupuk mata, Hana bisa melihat Tae Jun mendekatinya. Tangan mungil anak itu melingkari lehernya lalu menyandarkan kepala di puncak kepalanya. Membuat tangis Hana semakin menjadi.

“Kenapa menangis, eomma? Siapa yang menyakiti eomma?”

Hana menaruh gelas milik Kai ke atas lantai kayu apartemennya sebelum balas memeluk Tae Jun dan menenggelamkan wajahnya di dada mungil anak itu. “Eomma yang salah, Tae Jun-ie…”

“Wae? Eomma salah apa?” tanya Tae Jun dengan polosnya, masih sambil memeluk kepala ibunya –berusaha menenangkan seperti apa yang selalu Hana lakukan padanya selama ini.

Hana menggeleng pelan. “Anhi, bukan apa-apa, Tae Jun-ie. Masih sangat pagi, kenapa sudah bangun?”

“Karena eomma bangun, jadi Tae Jun juga tidak bisa tidur,” Tae Jun melepaskan pelukannya lalu berjongkok di sebelah ibunya dengan senyuman polos. “Eomma kangen Jong In hyung juga? Jong In hyung sedang sibuk, ya? Kenapa tidak pernah jemput Tae Jun lagi?”

Pertanyaan bertubi dari Tae Jun tentu membuat perasaan Hana semakin buruk. Hana mengalihkan tatapannya, menyeka sisa-sisa air mata di pipi dan memilih diam untuk menjawab pertanyaan anaknya. Mengambil kembali gelas milik Kai di lantai kayu, Hana bangkit berdiri seraya meletakkan gelas itu di dekat bak cuci piring. “Dwaesseo. Ayo tidur lagi, nanti kita kesiangan.

Sembari mengangkat tubuh Tae Jun ke dalam dekapannya, Hana menghela napas panjang dan membawa anak itu kembali ke dalam kamar. Tanpa Kai dan Sehun di sisinya, Hana harus kembali terbiasa hanya hidup berdua bersama Tae Jun.

***

Akhir pekan itu Hana mendatangi apartemen Jae Hee –yang hanya berjarak beberapa pintu dari apartemennya. Ketika masuk ke apartemen Jae Hee, ia melihat wanita itu sibuk melipat pakaian-pakaian yang baru kering di sofa ruang tengah. Senyum Hana mengembang begitu Jae Hee menoleh dan menyunggingkan senyum ke arahnya juga.

Melihat Jae Hee bahagia dan mendapatkan hidup yang baik bersama Joonmyun terkadang membuatnya lega sekaligus iri. Lega karena Jae Hee akhirnya tidak egois dan menerima Joonmyun, sementara ia iri dengan kebersamaan keduanya. Jae Hee tentu sangat beruntung mendapatkan laki-laki sebaik Joonmyun, yang mau bertanggung jawab dan berjuang bersama wanita itu. Sementara dua laki-laki yang pernah ada di hidupnya, kini menghilang entah kemana.

Hampir dua bulan yang lalu mereka bertemu setelah Jae Hee menarik berkas perceraiannya dengan Joonmyun dan Hana yang berkeluh kesah pada Jae Hee mengenai pekerjaan Kai di bar. Termasuk semua keraguannya untuk memilih lelaki itu sebagai ayah pengganti Tae Jun. Dan seolah memang memperjelas rasa ragunya, satu minggu setelah ia bercerita pada Jae Hee pun ia berpisah dengan Kai, karena lelaki itu tetap tidak mau melepaskan pekerjaannya di bar. Dadanya masih saja terasa sesak jika mengingat perpisahan itu dan ketika rasa rindu pada Kai yang menyerangnya secara tiba-tiba.

Hingga saat itu, Hana bahkan belum bercerita mengenai Sehun. Adik Jae Hee yang pernah menghamili dan menyakitinya di masa lalu. Termasuk pekerjaan menjijikkan yang dilakukan lelaki itu.

“Eonni baik-baik saja?” tanya Hana setengah khawatir seraya duduk di sofa sebelah Jae Hee –yang tidak diisi pakaian-pakaian ketika melihat gurat kelelahan di wajah wanita itu.

“Eoh, hanya kurang tidur,” Jae Hee membalas senyum lebar Hana lalu terkekeh pelan. “Jong In dan Tae Jun apa kabar? Berapa lama ya aku tidak lihat mereka?”

“Baru dua minggu kalau Tae Jun. Tae Jun baik kok, dia titip salam ke Jae Hee noona kesayangannya,” Hana menahan senyumnya ketika melihat Jae Hee tertawa pelan, namun senyumannya menghilang sedetik kemudian. “Mungkin Jong In baik juga, aku tidak tahu.”

“Wae? Jong In pergi kemana?” tanya Jae Hee, tanpa tahu hubungan keduanya sudah berakhir lebih dari satu bulan yang lalu.

Hana tersenyum miris seraya mengendikkan bahu. “Aku tidak bertemu dengannya selama satu bulan ini. Sejak kami berpisah.”

“Berpisah? Kau dan Jong In?!” tanya Jae Hee tak percaya, menegakkan duduknya dan meletakkan baju yang tengah dilipatnya itu ke atas meja. Hampir tidak bisa memercayai apa yang didengarnya beberapa saat lalu.

Hana menyunggingkan senyum –lagi, berusaha tidak terlihat murung. “Eoh, aku memintanya meninggalkan pekerjaannya di bar. Tapi dia tidak mau…. Aku belum bisa benar-benar percaya padanya.”

“Hana-ya,” Jae Hee mengusap lengan atas Hana, merasa iba karena hubungan keduanya –yang selalu terlihat harmonis itu—berhenti di tengah jalan. “Kau tahu alasannya kenapa Jong In tidak mau meninggalkan pekerjaan DJnya di Triptych?”

Mungkin Hana salah karena tidak mendengarkan alasan Kai sebelum ini, tapi apa yang bisa dijadikan alasan oleh Kai? Lelaki itu tentu bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dengan gaji yang lebih besar juga di luar Triptych. “Memangnya apalagi selain egois? Dia mencintai pekerjaan itu. Buktinya Jong In tidak mengejarku dan mempertahankan pekerjaannya.”

Senyum miris yang disunggingkan Hana membuat perasaan Jae Hee terenyuh. Tapi ia tahu bahwa Hana juga memiliki sifat keras kepala dan mungkin bisa berbenturan dengan sifat Kai –yang terkadang egois itu. “Apa kau belum bisa percaya pada Jong In, Hana-ya?”

“Bagaimana aku bisa percaya? Bar selalu diisi orang-orang tidak baik dan banyak masalah yang bisa muncul dari sana. Siapa yang bisa menjamin Jong In tidak akan bermain perempuan di bar? Belum lagi Tae Jun. Orang-orang pasti akan mengintimidasi Tae Jun yang memiliki ayah seorang pekerja di bar,” Hana menghembuskan napas panjang seraya melipat tangannya di depan dada, merasa lelah karena meluapkan emosi yang ditahannya selama ini.

“Well, aku juga bukan orang baik kalau begitu. Kau lupa dimana aku bertemu Joonmyun?” tanya Jae Hee, bernada sarkastik –tapi tidak bermaksud menyinggung Hana. Hana terlihat salah tingkah dan segera memasang ekspresi sedih sambil menggamit lengannya.

“Kecuali Jae Hee eonni tentu saja. Eonni kan orang baik yang tidak sengaja kerja di bar dan mendapat masalah –yang berujung keajaiban bersama Joonmyun oppa,” Hana berusaha tidak menyakiti hati Jae Hee dengan ucapannya yang sebelum ini, lalu kembali menghembuskan napas panjang. “Tapi eonni sudah berhenti. Padahal aku berharap Jong In bisa mengerti dan mau berkorban sedikit saja kalau memang serius.”

“Aku tidak akan menyalahkan siapa pun di antara kalian, tapi kau harus tahu,” Jae Hee menoleh pada Hana yang masih betah menggamit lengannya dan merajuk seperti anak kecil. “Jong In sayang padamu dan Tae Jun. Mungkin ia masih butuh waktu untuk meninggalkan pekerjaannya dan mencari pekerjaan baru yang sesuai passionnya.”

“Ini bukan masalah passion lagi, eonni. Ini masalah perasaan, kepercayaan, dan masa depan.”

“Iya, aku tahu,” Jae Hee memukul pelan kepala Hana –yang masih bisa menyela ucapannya. “Aku tahu kau sensitif dengan hal-hal menyangkut kepercayaan. Tapi apa salahnya sama-sama berusaha? Kau berusaha percaya dan Jong In yang juga berusaha menjaga kepercayaanmu. Dan Jong In… Butuh seseorang yang bisa meyakinkannya dan menariknya keluar dari Triptych. Siapa yang bisa melakukannya kalau bukan kau dan Tae Jun?”

Diamnya Hana tentu menjadi jawaban yang jelas bagi Jae Hee bahwa wanita itu sebenarnya hanya berpikir dari satu sisi saja. Menjadi ibu di usia muda tidak menjamin sikap sang ibu bisa menjadi dewasa juga, seperti Lee Hana. Berkali-kali ia meyakinkan Hana bahwa Kai tidak main-main dengan perasaannya.

“Hana-ya… Jangan bohongi perasaanmu sendiri. Kau tidak mau menyesal ‘kan?” Jae Hee melepaskan tangannya dari pelukan Hana lalu mengusap-usap pelan lengan atas wanita itu. “Yang paling penting itu komunikasi. Kalau kau dan Jong In masih menyimpan rahasia dan sering sekali berbohong, tidak akan baik untuk hubungan kalian. The ugly truth is better than beautiful lies.”

Hana sadar bahwa ia yang banyak salah selama ini. Sejak awal ia yang meragukan perasannya sendiri dan memilih untuk mencoba hubungan percintaan –yang sudah lama tidak dilakukannya—bersama Kai. Ia menyayangi Kai tentu saja. Namun setiap ia berusaha menceritakan masa lalunya, ia selalu tidak berani. Ia takut Kai akan membenci dan meninggalkannya setelah ia bercerita. Belum lagi ia yang terlalu sering berbohong dan tidak bisa sepenuhnya percaya pada lelaki itu.

Benar kata Jae Hee. Jika bukan dirinya yang menarik Kai dari Triptych, siapa yang bisa melakukannya? Ia hanya bersikap egois dengan tidak mendengarkan alasan Kai waktu itu. Bodoh. Sangat bodoh malah, karena Hana –dengan keras kepalanya menginginkan hubungan di antara mereka berakhir secara sepihak. Menyakiti perasaannya dan perasaan Kai hanya untuk melindungi diri sendiri.

Haruskah Hana kembali memberikan kesempatan pada Jong In? Atau lebih tepatnya, bisakah seorang Kim Jong In memberikannya kesempatan lagi untuk memperbaiki diri?

[DEEPEST MEMORIES] — 11TH PART CUT


Ima’s Note :

Hello~ Maaf buat update yang ngaret

Kabar buruknya aku kayanya bakal mengurangi /?/ jatah ngepost karena lagi ngerjain skripsi juga hehe tapi aku udah pikirin projek ff baru kok tenang aja haha

Tinggalkan jejak kalian yaa, pengen tau masih pada nungguin ff ini apa ngga hehe aku udah baca komen di part-part sebelumnya kok tenang aja hihi Semangaat!!!

Regards,

IMA♥

80 responses to “{KIM TALES} DEEPEST MEMORIES — 11TH PART [BY IMA]

  1. Nggak tau akhirnya bakal gimana. Sehun atau kai ?
    Hanna aja masih suka deg-degan samping sehun? Rindu? Rindu juga sama kai
    Duh bingung jg sama perasaannya hanna
    Ayolahh hanna pilih salah satu. Biar yg satunya buat aku aja 😁😁😁
    Semangat yaa kak buat skripsinya 😊

  2. si hana minta dicubit nihhhh kasian jongin😦 seharusnya hana ga usah lagi ngeraguin kepercayaan jongin. balik lagi ke jongin pleaseee jangan ke sehun ya walapun pesonanya sialan banget tpi ga tega sama jonginn balik ke jongin aja yaaaa

    ditunggu kelanjutannya ka ima

  3. Baca ff ini kok jadi kesel sendiri ya…
    Awalnya aku berharap banget hana balikan sama sehun..
    Eh ternyata sehun kerjanya kaya begitu…
    Kai sama hana sama-” egois, kan jadi bingung sendiri…

    Maaf baru bisa komen sekarang,
    Author fighting!!!

  4. Hana bakalan ngasih harapan k jongin nggak ya? Sama sehun jg nggapapa sih, tp beneran sehin kerjanya kek gitu?

  5. Serba salah mau bela jongin apa hanna mereka sma2 blum saling terbuka khususnya haNna , dan q gag mau berpihak ke sehun di kasus ini . Jongin kya ilang di part ini semoga hanna dpt pencerahan dr jaehee ya

  6. Aaaaa sebel nih ama Hana…. laki baik macam Kai knpa disiasiain…huuuuuuuhhh
    Emosi jiwa raga gua… huuhuuhuhuuhhhuuu
    Pliiisssss IMA,,, tlong bantu Hana ngilangin kbodohannya,,ckcckckckc
    Sebel ama Hana pokoknya…dan KaiNa musti brsatu pokoknya…
    Pliiissshhh bawa SEhun prgi jauh… jgn ganggu hidup Hana

    Smangat IMA nglanjutin FF ini jg ngrjain skripsimu…
    Smoga sukses

  7. duhhhh Hana kasihan bgt kamu ya knpa masih gx percaya ma jongin apa kabar jongin skrg???? sehun omg kerjaannya knpa kyk gitu pasti taejun lbh malu lagi

  8. Semoga Hana dan Jongin segera balikkan. Hana akhirnya nyadar jugak kalok dia salah, aku baper maksimal. Aku kira sehun mainannya cuman cewek di bar aja, ternyata mainannya tante* 😱
    Memang seharusnya Hana itu sama Jongin aja, dan percaya ke Jongin kalok Jongin beneran sayang sama dia dan Tae Jun 😁😊☺

    Ditunggu Next Chapternya author, dan semoga skripsinya cepat selesai yaaa 😇😇😇

  9. aku ga nyangka kalau pekerjaan sehun itu kayak gt. bnr2 diluar ekspektasi aku. labih baik jong in kemana2 dr pd sehun. dan aku msh heran kok hanna bisa berdebar2 klu di deket sehun setelah apa yg dilakuin sehun ke hanna.

  10. Ada rasa seneng waktu Sehun, Hana, dan Taejun bareng-bareng gitu. Eh tapi itu kenapa harus ada tante genit?! Ewh. Hihihi

    Tapi keputusan Hana mau pilih Jongin atau Sehun itu ada ditangan Hana dan Kak Ima. Hehe.

    Semoga akhirnya bahagia

    Ditunggu next chapternya kak. Semangat~

  11. sumpahhh baca ff ini bkin gregetan sndri dan please Hana sma kai ajaaaaa :’) …. ditunggu next chapter aku selalu nungguin hehehhee😀

  12. pasti bisa… iya pasti bisa dan kesempatan kedua itu pasti ada.
    ahh… berharap jongin dan hana bisa balikan lg.
    tp kesian jg sih sm sehun kalo dia gak bisa balikan sm hana. akhh… mungkin it jg hukuman buat sehun..

    sebenarnya aku agak dilema, baiknya hana it sm siapa ya jongin ap sehun. kalo hana sm jongin kasihan sehunnya, trs kalo hana sm sehun lebih kasihan jongin sih.. huuu seandainya hana itu ad 2, ckkkk…

    makin bikin baper kak cerita nya.
    d tunggu deh kelanjutannya
    figthing

  13. Hmmm ksian jong,
    Smoga mrk bsa blikn lgi
    Lgian hanna kykny jga msih mau mmbuka hti khun sblm dia tau pkrjannya
    Hanna rguny mah gtu, y pntes aj jong kcwa

  14. yaha akhirnya d post juga. kkkkyyyyaaa posterrnya ada Sehun skarang.. haha
    duh Hana kasian bnget, njir si Sehun msa ama ahjumma2..
    Jongin ama Hana udah balikan aja. kalian cocok tau. astaga. smpet sedih gara2 mreka berdua putus..
    part slanjutnya bkin scene hana ama jongin yg banyak dong author~nim,bkin si Sehun patah hati astaga sumpah si Sehun pantes dpet blesan atas apa yg dia lakukan ama Hana..
    astaga knapa gue jadi brapi2..?
    okeh deh q tunggu part selanjutnya.. keep writhink author and fighting..
    gomawo~

  15. Kannn nyesel kan sekarang putus sama jongin…..
    Jongi kayaknya sengsara banget kasian ih😦
    Sehun…..gak ngerti lagi sebel banget aaaaakkkk
    Hana please sadar ihh dewasa dikit jangan egois maunya jaga perasaan sendiri, kasian jongin apalagi taejun huhu belom ngerti apa2
    Pokoknya ditunggu lanjutannya hehehehe
    #teamkaina #kainaforever

  16. Yalah makin dibikin nyesek, seriusan gue liat Jongin ga karu2an, kaya disiksa hatinya ama Hanna
    Belom lagi sikap Hanna yang bingungan mulu, serba mikir terlalu jauh, kejauhan malah-_-
    Knapa sih Hanna harus ragu lagi ama Kai? Kai kan udah serius ama Hanna tp tetep aja masih dapet keraguan

  17. I can’t say anything. Hana kau menyia-nyiakan uri jongin. Hana juga mulai sadar dech, oke dech see u on next chapter. Good job always for u🙂

  18. Ini cerita kadang hananya nyaebelin kadang jonginnya nyebelin, tapi kali ini hana yg nyebelin ><
    Sehun gigolo? Wkk
    Ditunggu next nya ima, semangat skripsinya !!! Hwaiting😀

  19. hmmm akhirnya hana tau juga kerjaan sehun tuh apa dan hana pasti nyesel bgt g dengerin kata2 jong in dan malah ninggalin jong in demi sehun
    masih berharap kalo hana sm jong in balikan lg
    kangen sm moment jong in hana
    figthing buat next chap nya

  20. Aku sebenerya suka ngeliat momen suhun dan hana. Dan mungkin lebih suka kalo sehun balikan sama hana. Tapi sayang semuanya hancur saat si tante datang…

  21. Maaf, kak baru bisa baca dan komen skrng. Tapi beneran suka bgt sama crita ni. Nyesek… nangis bacanya… T. T
    Hana akhirnya sadar…. Kok aku jdi benci sehun ya di sini? Mungkin karna aku dah ngeship Kai-Hana duluan jdi benci aja klo ada org baru masuk ngerusak semuanya. Tapi justru di situlah letak klimaks nya. Oke, overall makin suka sama crita ni. Smoga happy ending dgn Kai, aminn… hehe 😀😀 Fighting, kakk….!!😄😄

  22. huwaaaaaa akhir’ya lanjut juga ini ff
    makin seru aja ini cerita’ya, tapi hana bakal minta maaf gak sama jongin ? jongin juga bakal ngasih kesempatan gak sama hana ? trus sehun gimana ?

  23. Annyeong author Ima… aku niat banget baca ff ini dr sjk midnight kemaren, nyuri2 waktu bca all chapter yg ud ke-post n I love the story much!! Jwiseongheyo g ngasih komen cz bcax bnr2 ngebut. hoho mian klo author tersinggung😦 But thank U for the interesting plot yg bikin baper dr awal. huhu ksian hana, sedih bgt hidupx, sehun ni ngeri bgt ya, tp loph bnyak deh bwt calon appanya Tae Jun…🙂 Ayolah Hana tobat dong jgn boongin kai trus,ok. Semangat bwt skripsi nya author, dtgu next part jg🙂

  24. Ah senangnya liat moment sehun dan hana🙂 tapi kenapa mesti tante genit itu muncul sih -_-
    Dan aku masih berharap sehun sama hana haha

    Ditunggu next chapnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s