Beautiful Monstar – Part 6 – Babalee

babalee___beautiful-monstar-copy

Poster by #ChocoYeppeo

Beautiful Montar

Author Babalee

Byun Baekhyun, Kim So Hee

Marriage Life, Family, Friendship, Drama

Babalee22.wordpress.com

 

 

1

 

Waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam dan aku masih duduk bersila di ruangan Minseok. Pria itu masih saja berkutat dengan segala berkas-berkas sialan yang bahkan tidak peduli kalau adiknya sudah terkantuk-kantuk menontonnya. Sudah dua jam berlalu, dan kata yang keluar dari mulutnya hanyalah.

“Oh hai So Hee. Aku sedang sibuk. Duduk saja, kita ngobrol nanti. Aku ada drama baru dan cemilan di meja.

Dan yeah, ini memang drama terbaru dan ngomong-ngomong aku memang menunggunya beberapa minggu terakhir ini. Tapi hal ini langsung membuatku penasaran. Apa dia tahu bahwa aku akan datang untuk mengganggunya malam ini? Tapi sepertinya Minseok baru saja di ilhami malaikat hingga tiba-tiba menjadi Esper.

“Jimin baru dari sini. Duduk tenang di sofa menonton. Kau bisa duduk dulu dan nonton. Sebentar lagi ini selesai.”

                Yah lagi pula tidak ada hal lain yang musti dikerjaan saat ini juga. Sebagian besar pekerjaanku dialihkan ke Baekhyun dan Minseok. Katanya ini demi kesehatan otakku agar tidak tertekan. Apa sajalah terserah. Lagipula ini lebih baik karena aku bisa setidaknya menjauh dari Baekhyun untuk beberapa jam.

Aku merasa seperti si brengsek gila yang tidak tahu malu. Sudah ketahuan tapi tetap tidak melakukan apa-apa. Sebenarnya, aku sendiri tidak tahu harus bersikap seperti apa pada Baekhyun. Tiba-tiba jadi gadis manis;cute;baik hati, diam dan bersikap seolah tidak ada apapun yang terjadi, atau memohon maaf sampai berlutut di hadapannya.

Aku menggeleng kepala keras. Tidak diantara ketiganya bisa jadi pilihan. Menjadi anjing manis benar-benar not my style, berpura-pura tidak ada yang terjadi padahal sudah sangat jelas dia tahu bahwa aku telah merencanakan sesuatu yang buruk untuknya, dan memohon maaf sampai berlututpun sepertinya bukan ide yang bagus, dia bukan raja.

Oppa! Kapan selesai??” aku merengek sambil menutup keras laptop di hadapanku. Tidak peduli sebelumnya masih menyala atau belum dimatikan. Lagipula ini bukan milikku.

Minseok menutup berkas di tangan lalu menengok jam yang bertengger di lengan kirinya. Dia menghela nafas cukup keras setelahnya. Dokter yang tiba-tiba menjadi calon presdir ini terlihat sekali sedang frustasi. Aku ingin berbagi, jujur. Tapi setiap orang seolah melindungiku seperti bocah yang rentan jatuh. Aku sering bertanya, bagaimana caranya agar cepat mengingat semua kenangan dan segera sembuh?

“Baiklah-baiklah, mari dengar apa yang So Hee kita ingin katakan?”

Minsek beranjak dari kursi panasnya menuju sofa duduk tepat di sampingku. Satu tangannya mencoba mengendorkan dasi sialan yang sebenarnya aku sendiri melihat dia sedang dicekik. Sedang kepalanya bersandar menghadap pada langit-langit. Matanya terpejam. Dia butuh waktu bernafas.

“Rasanya menyedihkan tenyata aku lupa dengan namaku sendiri.”

Aku tidak ingin membuat terlalu banyak basa-basi. Walaupun sebenarnya aku memang sedang berbasa-basi sekarang ini. Minseok oppa sudah terlihat terlalu lelah dan aku tidak ingin membuatnya semakin kesal.

“Namamu So Hee dan setiap orang memanggilmu begitu. Awalnya wajar kau saja lupa siapa dirimu. Kau mengalami amnesia.”

“Tidak, namaku yang lain. Aku baru ingat kalau aku punya nama lain.”

“Siapa?” Tanya Minseok tubuhnya menegang. Aku bisa merasa dia jadi sedikit was-was sekarang ini.

“Namaku, Elena kim. Dulu Minseok suka memanggilku begitukan?”

Minseok mendelik. Aku terkekeh. Rasanya sedikit aneh, sudah lama sekali aku memanggil namanya tanpa ada embel-embel oppa di belakangnya.

“Yah, aku ingat namamu dan sikap tidak sopanmu semakin jadi.” Katanya, dan aku semakin tertawa. “Bagaimana rasanya ingat namamu? Ayah sudah pergi dan kau suka nama Elena, mau aku panggil kau Elena?”

Aku menggeleng, “Justru karena ayah tidak ada. Aku ingin menjadikan nama pilihannya sebagai kenang-kenangan seumur hidupku. Lagipula nama So Hee tidak buruk.”

Ibu adalah wanita asli Inggris sedang ayah asli Korea. Saat hamil delapan bulan, ibu ingin ke Negara asalnya agar bisa lebih berdekatan bersama keluarga. Hingga sampai aku usia empat tahun ibu tinggal di London. Alasannya karena ada masalah dengan mantan istri ayah sebelum-sebelumnya. Dia bilang, tidak ingin membuat ibu kesulitan atau secara tidak sengaja menyakitiku.

Awalnya, karena aku dilahiran berdasarkan darah campuran, ibu ingin memberikan nama Elena Kim padaku. Tapi ayah bersikera tidak ingin ada nama asing, jadi dia membuat nama Kim So Hee, dan tidak pernah sekalipun memanggilku Elena. Dia ingin satu-satunya anak gadis yang dia punya menjadi wanita Korea Selatan seutuhnya.

Saat empat tahun, aku dibawa kembali ke Korea karena ayah bilang semua urusannya sudah selesai. Tapi di Korea, aku tidak tahu apa-apa dan rasanya sulit beradaptasi saat dua kakak tiriku ternyata tidak menyukaiku.

“Apalagi yang kau ingat?”

“Tidak ada, hanya ini. Ah, aku ingat setiap hal menyebalkan yang kau dan Suho oppa lakukan padaku dulu. Aku ingat sangat jelas.” Aku menekan setiap kata yang ada. Mengubah ekspresi menjadi seperti gadis yang benar-benar mengalami rasa sakit hati yang mendalam. Minseok oppa terlihat begitu menyesal. Sedetik kemudian aku tertawa. Dia lucu sekali jika sudah merasa bersalah.

“Maaf.”

“Oh ayolah, aku tidak apa-apa. Aku jadi senang. Karena kalian sempat membenciku, aku jadi punya kesempatan berbuat seenaknya pada kalian.”

Minseok oppa mendelik kembali menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa, “Ya ya ya, kau memang punya. Senangkah?” itu bukan seperti pertanyaan. Tapi lebih mirip sindiran.

Aku ikut merebahkan punggungku pada sandaran sofa. Menandang langit-langit ruangan dengan corak gaya vintage kesukaan ayah juga Minseok oppa. Mereka punya banyak kesamaan. Tidak sepertiku. Jika mereka suka bola, maka aku lebih memilih drama. Es krim rasa vanilla lebih baik menurutku dari pada coklat. Aku suka musim dingin, dan mereka jelas memilih musim panas. Katanya pemandangan pantai lebih menghibur dari pada apapun. yah, tau lah, wanita berbikini yang tersebar dimana-mana.

“Apa susah? Apa oppa menyesal meninggalkan rumah sakit dan bekerja di kantor?” aku berkata lebih seperti berbisik. Tapi dalam keheningan seperti ini jelas Minseok oppa masih dapat mendengarku.

Aku tidak tahu bagaiamana ekspresinya sekarang. Jujur sebenarnya lebih pada tidak ingin tahu.

Sampai beberapa detik berlalu, Minseok oppa baru menjawab, “Satu hal yang aku sesali dulu adalah, pemberontakanku yang lebih ingin menjadi dokter. Seharusnya aku lebih menurut ayah untuk jadi penerus perusahaan. Ku pikir Suho sudah siap dan akan memiliki umur panjang. Tapi semua di luar dugaan.” Helaan nafasnya terdengar sangat keras. Seperti ada banyak beban yang mengganjal dalam hati dan pikirannya.

“Aku tidak keberatan untuk meninggalkan rumah sakit. Mengganti stetoskop dengan kertas sialan. Sungguh tidak apa-apa. Satu-satunya yang aku takutkan adalah kehilangan kalian.” Aku menatapnya. Kali ini dia diam lagi. Kepalanya berubah jadi menunduk, matanya terpejam. Apa dia berbohong? “Setelah ayah dan Suho, aku tidak bisa kehilangan siapapun lagi.”

Tidak tahu dari mana sikap melankolis datang menghinggapi tubuhku. Tapi, kali ini aku beringsut memeluknya. Dia sedang tertekan. Dan satu-satunya yang sangat mengerti Minseok dalam keluarga adalah aku dan mungkin selanjutnya adalah Jimin eonni. Dia membalas memelukkku begitu erat. Tidak ada suara lain seperti deru nafasnya yang pelan. Bagaimanapun calon presdir ini butuh istirahat. Dan aku rela memberikan pundakku untuknya semalaman.

Semuanya terasa tenang sampai ponsel Minseok oppa terus berbunyi seperti terserang bombardier. Sejenis merusak suasana dan aku bersumpah mengutuk seseorang dibalik telfon sana.

“Ini Baekhyun.” Kata Minseok oppa membuatku mendengus. “Mau mengagkatnya?”

Aku menggeleng, “Tidak, kau saja.”

“So Hee? Dia ada bersamaku sejak dua jam yang lalu. Kenapa? Oh benarkah?” Minseok menutup ponsel. Tubuhnya codong padaku untuk berbisik, “Ponselmu mati, bodoh?” dan aku hanya mengangguk. “Ya, dia duduk manis seperti anak anjing di sini, tidak usah khawatir… Baiklah…” Dia menyerahkan ponselnya padaku. Bibirnya berbicara tanpa suara dan berkata dia-ingin-bicara-padamu-. Aku mendelik. Yah baiklah.

“Apa? Kenapa?”

“Kemana saja kau? Telfonmu tidak aktif, di ruanganmupun tadi tidak ada. Tuhan! Aku hampir mati berdiri.”

“Dan sekarang kau mati berdiri?”

“Aku bilang hampir. Kapan kau akan pulang? Mau ku jemput? Aku bisa ke sana sekarang-“

“Tidak aku bisa pulang sendiri. Aku bukan bocah, oke? Aku sudah dewasa, sudah menikah, dan memiliki suami cerewet.”

“Tidak! Tidak bisa, kau wanita tidak boleh pulang sendiri. Aku akan menjemputmu. Diam di sana atau kita akan benar-benar bertengkar.”

“Pemaksa sekali.”

“Aku ke sana.”

Sambungan dimatikan. Yah bagus sekali tuan Byun itu. Berbuat seenaknya. Aku menyerahkan ponsel pada pemiliknya. Kembali merebahkan punggung pada sandaran sofa. Memajamkan mata untuk istirahat sejenak. Kali ini mungkin aku yang merasa frustasi. Seharian bisa menjauh dari Bakhyun adalah sebuah keberuntungan. Tapi kali ini harus bersama lagi bersamanya, seketika rasa bingung mengerubuni tubuhku. Setelah kejadian kemarin, aku harus bagaimana?

Oppa tunggu sampai Baekhyun datang ya. Dia bilang mau menjemputku.”

“Tidak mau aku yang antar?”

“Tidak, oppa terihat lelah.”

“Baik sekali adikku ini.”

 

2

 

Tidak ada siapapun yang memulai pembicaraan. Saat Baekhyun sampai menemuiku, kami segera turun dan pulang. Minseok oppa terlihat sangat kelelahan. Aku sampai tidak tega ingin mengganggunya dulu.

Tidak ada raut wajah marah. Dia duduk pada kursi kemudi dalam keadaan wajah biasa saja. Tidak terbaca. Dan sial, kenapa aku jadi resah sendiri begini?

“Kau menjauhiku.” Katanya membuat tubuhku hampir terlonjak. Tapi untung saja masih bisa tertahan.

“Aku tidak-“

“Ya kau menjauhiku. Kenapa?”

Aku terdiam. Memikirkan apa yang harus dikatakan. Jujur dan berbicara apa adanya. Atau berpura-pura tidak terjadi apa-apa tapi Baekhyun sudah menyadarinya sangat jelas. Aku memang tidak bisa menjadi seorang pemain drama. Acting sederhana begitu saja tidak becus.

“Katakan saja-“

“Ya Baek, aku menjauhimu. Aku malu setelah ternyata kau tahu bahwa aku punya rencana seperti itu. Aku terlihat seperti seorang antagonis yang merasa sebagai prontagonis. Bagaimana ini? Dan kau bersikap seolah tidak apa-apa. Aku tidak tahu barangkali dibelakangku kau dan Ji Hyun sedang merencanakan sesuatu.” Aku menundukkan kepala. Menghela nafas sebentar lalu kembali membuka mulut. “Aku tidak ingin kalian bersama. Atau aku tidak ingin kau berpisah denganku. Aku ingin kita tetap seperti ini. Aku tidak tahu kenapa. Jangan bilang aku sudah mencintaimu, tapi tidak Baek. Aku belum mencintaimu. Aku hanya tidak ingin kehilanganmu.”

“Kenapa kau membutuhkanku?”

Aku diam tidak ingin lagi mengatakan apapun. Dan untungnya, Baekhyun tidak mengatakan apapun lagi. Dia kembali fokus dengan kemudi dan jalanan. Satu tangannya memegang erat jemariku. Dia, tiba-tiba jadi orang yang benar-benar manis dan memuluhkan segalanya.

Rasa bersalah seketika menyelimuti. Aku merasa jadi wanita super brengsek yang paling ingin dibunuh setiap orang. Kim So Hee menikahi Byun Baekhyun tanpa rasa apapun dan hanya memanfaatkan dia. Tapi wanita itu masih bersikap biasa saja, seperti psiko yang sedang menjalankan misinya. Baiklah siapapun pasti benar-benar membenciku.

Sampai di rumah, aku pikir kami akan saling diam dan dia akan segera pergi tidur. Tapi tidak. Matanya menatap tajam setiap pergerakanku. Bahkan sesekali mengikuti kemanapun istrinya ini pergi. Byun Baekhyun jadi seperti penguntit yang memperlihatkan batang hidungnya.

Awalnya dia duduk begitu saja di sofa, saat aku berjalan ke dapur, dia tiba-tiba berdiri. Langkah kakinya bergerak menuju dapur, tapi tidak melakukan apapun. Hanya menyandarkan tubuhnya pada meja makan. Aku menatapnya, tapi dia sedang melihat sekeliling. Seolah baru pertama kali datang kemari dan merasa harus melihat setiap hal secara teliti.

Tidak apa-apa jika dia mengikutiku-walaupun sebenarnya rish. Sebenarnya aku ingin membentaknya, mengatakan padanya untuk berhenti melakukan hal bodoh karena aku sudah lelah. Tapi semua kata-kata seperti tertelan kembali masuk ke dalam mulut. Setelah apa yang aku lakukan padanya, tidak enak rasanya jika berlaku kasar padanya.

Tapi pada akhirnya kesabaranku mulai luntur. Maksudnya, aku ingin mandi sebelum tidur. Tapi dia malah ikut masuk. Dan bersikap kalau semua ini wajar saja. Yeah kita memang sudah menikah tapi berduaan dan aku telanjang dalam kamar mandi, apakah itu tidak masalah? Tentu tidak! Pasti akan ada yang terjadi setelahnya.

“Kenapa kau di sini?” tanyaku berkacak pinggang –masih berpakaian lengkap tentu saja-.

Baekhyun menghela nafas. Tingkahnya sangat mencurigakan. “Membersihkan eyeliner.” Dia menatap dirinya pada kaca besar. Dan terlihat tubuhnya jelas membeku.

“Kau tidak memakai eyeliner.”

“Tapi aku rasa tadi aku memakainya. Aku harus membersihkannya. Kau mau mandi? Tenang saja aku tidak akan mengintip.”

Yah memang, ada kotak kaca untuk mandi di apartemen Baekhyun. Dinding kacanya memang dibuat buram tapi tetap saja pasti ada bayangan warna kulit. Apa jadinya jika Baekhyun menerobos masuk nanti?

“Baek,” Aku menarik nafas panjang “Keluar. Aku. Harus. Mandi.”

“Kenapa harus, lagian kita pernah berhubungan dulu, kenapa harus malu?” bibirnya mengerucut, sumpah lucu tapi saat ini aku tidak ingin mencubit pipinya. Pada saat seperti ini lebih baik jika menendang pantatnya.

“Tuhan! Aku harus mandi Baek, tidak bisakah kau keluar? Kenapa denganmu?”

“Tidak apa, mandi saja. Aku tidak ingin kau melakukan hal aneh.”

Aku bergeming. Sedetik kemudian aku benar-benar tidak mengerti apa yang dia katakan. Melakukan hal aneh?

“Apa maksudmu? Aku hanya ingin mandi menyiram tubuhku dengan air dan segera tidur. Itu saja kenapa kau membuat segalanya jadi rumit?”

“Aku bilang mandi saja, aku sumpah tidak akan mengintip.”

“Persetan!”

Sudah tidak ada lagi kesabaranku untuk Baekhyun. Tidak peduli malam ini tidur tanpa mandi dan badan gatal-gatal. Aku lelah dan ingin tidur. Persetan Baekhyun akan mengomentari aku yang bau badan karena tidur di sampingnya. Masa bodoh!

 

3

Sekarang pukul sepuluh dan aku sudah menyelesaikan pekerjaanku lebih cepat. Sebenarnya aku meminta pada Sekertaris Lee agar aku bisa istirahat lebih cepat dari biasanya. Hari ini pertemuan penting dengan salah seorang dari masa lalu. Tidak bukan Luhan. Aku akan bertemu dia nanti saat makan malam bersama Jinri. Ngomong-ngomong aku melihat dia tadi di kantor. Cantik sekali. Rambutnya panjang dan berponi. Kali ini dia jadi lebih sering tersenyum dari sebelumnya. Apa Jinri sudah berubah?

Dan itu dia. Sosok tinggi yang sekarang-aku sedang terdiam dan tidak bisa berfikir apapun- pria itu semakin tampan saja.

Poni depannya dinaikkan, rambutnya berwarna kecoklatan dan di ombre, dia memakai kemeja coklat gelap dengan luaran hitam berkancing besar putih dan hitam, dan celana hitam. Simple tapi tetap terlihat elegan dan sangat tampan. Bagaimana bisa ada detektif setampan itu. Sial, kenapa dulu aku memutuskannya.

Satu tangannya terangkat. Senyumnya masih sama seperti dulu, tipis, manis, dan memancarkan aura sedingin es.

“Oy oy lihat siapa ini, So Hee menghubungiku setelah sekian lama?” dia menarik kursi di depanku. Satu tangannya menyomot kentang goreng lalu memasukkan ke dalam mulutnya tanpa permisi. Yah setidaknya sikap tidak sopannya masih sama seperti dulu.

“Bagaimana kabarmu?” aku bertanya untuk sekedar basa-basi.

Matanya membelalak. Senyumnya seketika jadi melebar. Tidak lama dia tertawa. Sangat keras sampai beberapa pengunjung melihat ke arah mejaku. Barangkali mereka penasaran apa yang lucu di sini. Tapi sumpah tidak ada. Dia sinting dan menyebalkan.

“Serius? Oh ayolah sejak kapan kau senang berbasa-basi seperti ini?”

Aku mendelik, “Tidak, aku serius ingin tahu bagaimana kabarmu. Apa yang kau lakukan dan bagaimana hubungan asmaramu?”

“Oh benarkah?” dia masih mencoba mengontrol tawanya. Tangannya kembali bergerak mengambil gelas Cappucino milikku. Apa susahnya memanggil pelayan dan menyebutkan pesanan sebenarnya? “Aku baik. Kau lihat aku makin tampan, tapi masih sendiri. Aku baru saja putus dengan, kau tahu Jung Hyorin.” Aku baru akan berbicara-aku sudah membuka mulutku-, tapi dia lebih dulu menjentikkan sambil mengangguk, “Benar, dia yang pernah bertengkar denganmu saat di kampus dulu. Itu benar-benar fenomenal. Kim So Hee dan Jung Hyorin saling menjambak rambut di perpustakaan kampus karena merebutkan Oh Sehun.”

“Yak Oh Sehun! Aku tidak bertengkar Karena memberebutkanmu.”

Dia terkekeh, “Baiklah baiklah. Aku sekarang sedang sibuk bertemu dengan So Hee mantan kekasihku dulu untuk melakukan sebuah hal. Oke apa itu?”

“Aku sedang mencaritahu tentang kecelakaanku dan kecelakaan Su Ho oppa. Apa kau tahu itu?”

Tubuh Sehun menegang seketika. Terlihat jelas saat dia mencoba membenarkan posisi duduknya jadi lebih tegap.

“Yah, itu memang cukup booming saat itu. Tapi kabar itu semua sudah ditarik dari media. Aku tidak tahu kenapa katanya demi keamanan dan keselamatan para korban dan pelaku. Aku juga pernah mencarinya tapi hanya tersisa beberapa blog dengan informasi tidak penting. Kenapa?”

“Aku ingin tahu kebenarannya. Aku yakin ini bukan cekelaan biasa Hun, ada sesuatu yang aneh.”

“Apa?”

Aku menatapnya, “Perasaanku bilang ini bukan kecelakaan biasa, dan lagi kalau memang ini kecelakaan biasa kenapa pihakku malah lebih memilih menarik semua informasi itu? Cari tahu semuanya sejelas mungkin. Jangan sampai ada seorangpun yang tahu. Kau bisa membantukukan?”

Sehun diam sebentar. Dia tersenyum lalu menganggukkan kepalanya pelan, “Ya tentu. Aku akan membantumu, tenang saja.”

 

_TBC_

17 responses to “Beautiful Monstar – Part 6 – Babalee

  1. TBC datang disaat yg tdk tepat.
    Itu baekhyun kenapa jdi penguntit? Haha

    sampe disini belum terpecahkan ya misterinya? Jadi makin penasaran.
    Oke, ditunggu kelanjutannya.. Semangat ngetiknya ^^

  2. stiap chapter cerita ini bukannya makin terpecahkan malah makin penasaran huhu aku yakin ini yang jadi pelaku atau sumber kecelakaan ada hubungannya sama Baekhyun, dan penasaran banget sama memori masa lalu Sohee kaya gimana uhhhh
    kenapa semua orang kaya menyembunyikan tentang kecelakaan? ini seperti bom waktu dan nanti So hee yang paling tersakiti
    keep writing🙂

  3. Oh ya ampun aku penasaran banget sama kecelakaan si sohee! Kenapa semuanya pada nutupin kejadian itu sih dari sohee?
    Dan aku paling suka part sohee baekhyun! Ughh baek kamu posesif banget sih wkwk
    Ditunggu yaa next chapternyaa! Semangat terusss💪💪

  4. ya ampun kenapa so hee gak mau menyadari kalo dia jatuh cinta sama baekhyun.. btw kasusnya suho beneran bikin penasaran. . fighting

  5. Teka teki nya masih belum terpecahkan dan pasti bakal masih ada bnyak lagi teka teki yg tersembunyi. Bner” ngga bisa ditebak misterinya. DAEBAKK!!!!!.
    setiap chapter nya itu ngga nglanjutin dri crita yg pas tbc. Jadi kaya udh beda hari lagi kereenn. Smpe gua pun harus ngliat chap sebelumnya lagi buat inget” terakhir baca kek gimna wkwkwk
    okelahhh HWAIGHTING AUTHORNIM ^.^

  6. Kak aku jadi ga ngerti sama ceritanyaaa😭 sohee itu knpa benernya bisa amnesia? Trus baekhyun knpa mau wlpn sohe ga bls perasaannya? Huwaa smga kejwb di next chptr
    Fighting xoxo

  7. Makin banyak teka teki
    Aku jadi curiga sama soohee
    Apa jangan jangan yang mbunuh suho sama ayah nya itu sohee semacam psiko gitu yang lupa habis nglakuin kejahatan dia lupa
    Kan judulnya beautiful monstar kan soohee satu satunya main carakter yang cewek
    Hahaha asal nebak aja
    Maap thor kalau ngawur 🙏
    Fighting thorr

  8. aku setuju sama salah satu riders yg komentar hehe setiap chapter yg kita baca malah tambah banyak rahasiannya, jadi bikin riders tambah penasaran. next yaaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s