About Her [10 Steps Closer Extra]

IMG_20160712_193925

Ziajung’s Storyline©

Casts: Park Chan Yeol | Choi Seo Ah | Oh Se Hun

Genre: Romance | Hurt

Length: Oneshot

10th Steps Closer

——————————

Park Chan Yeol

 

Tidak ada kesan buruk saat melihatnya, tapi aku juga tidak merasa tertarik. Dia manis, harus kuakui. Aku cukup pemilih dalam hal wanita, dan Choi Seo Ah memiliki wajah yang cukup ‘dapat diterima’ olehku, meski tidak bisa disamakan dengan Ji Eun. Setidaknya tidak terlalu buruk untuk dijadikan pendamping hidup. Dan profesinya sebagai guru bahasa juga lumayan.

Intinya, dia lumayan dan dapat diterima.

Itulah yang dapat kutangkap setelah pertemuan pertama kami. Oh, bukan secara resmi. Aku hanya penasaran dengan wajahnya, dan selembar foto kurasa belum cukup untuk mengobati rasa penasaranku. Bertingkah layaknya donatur besar di SMA Yongsan Gangnam, aku mendatangi sekolah tempatnya bekerja. Yoo Gyojangnim* mengajak kami—aku dan beberapa donatur lainnya yang sedang melakukan pertemuan—untuk berkeliling sejenak untuk menunggu jam makan siang. Di sanalah aku bertemu dengannya, sedang berlari bersama dua siswi ke arah yang berlawanan denganku.

Dia tidak tahu siapa aku. Tentu saja, pertemuan resmi antardua keluarga baru diadakan malam Sabtu ini, dan aku yakin orangtuanya belum membicarakan hal ini. Aku cukup mengenal kakak laki-laki dan ayahnya. Mereka sangat protektif kepada wanita itu. Dan… sedikit aneh. Entahlah, mungkin karena kau tidak biasa tinggal dengan orang-orang berisik, setiap kali berbicara dengan mereka yang kulakukan hanya tersenyum tipis dan bicara seadanya. Sepertinya orang-orang seperti itu tidak akan pernah kehabisan bahan pembicaraan. Choi Seo Ah kelihatannya juga begitu.

Choi Seo Ah berhenti sejenak untuk menyapa Yoo Gyojangnim. Namun Yoo Gyojangnim tidak membiarkannya pergi begitu saja. Beliau menahan Choi Seo Ah, mengajaknya berbincang sejenak.

“Choi Seonsaengnim, perkenalkan, ini donatur-donatur yayasan sekolah kita.”

“Ah, annyeong hasimnikka?” Choi Seo Ah membungkuk kepada kami. Namun ia buru-buru menambahkan. “Maafkan saya, Yoo Gyojangnim. Ada urusan genting yang harus saya selesaikan. Saya pamit dulu.”

Ia kemudian pergi bersama dua siswi itu. Terlihat sangat terburu-buru, seolah tengah dikerjar setan.

“Dia salah satu guru yang dibanggakan di sini,” Yoo Gyojangnim berucap setelah Choi Seo Ah meninggalkan kami. “Umurnya masih sangat muda, itu kenapa para murid sangat menyukainya.”

Ya, aku bisa melihat itu. Yoo Gyojangnim sama sekali tidak melebih-lebihkan. Sebelum memasuki ruang pertemuan, aku terlebih dulu menyusuri koridor setiap kelas untuk mencari Choi Seo Ah. Hei, bukan karena aku ini byeontae atau sejenisnya. Mengingat ini pertemuan penting, pasti sangat sulit menemui Choi Seo Ah—padahal tujuanku sebenarnya adalah untuk itu. Ia mengajar dengan riang, dan antusiasme kelas sangat terasa. Mungkin kalau dipakaikan seragam SMA, dia akan terlihat sama dengan murid-murid di sini.

Yah… berarti kepribadiannya tidak buruk, kan?

Waktu pertemuan resmi kedua keluarga pun tiba.

Aku sudah menduga kalau Choi Seo Ah akan seterkejut itu. Ia bahkan tidak melepaskan pandangannya dariku walau makanan sudah tersaji di hadapan kami. Aku sangsi dia mengingatku, atau hanya sedang melampiaskan amarah diam-diam. Makan malam pun hanya diisi oleh obrolan orangtua, sedangkan aku dan Seo Ah lebih memilih diam. Sampai akhirnya, mereka pun meninggalkan kami bicara berdua saja.

“Jadi… kau menyetujui perjodohan ini?” setelah terdiam selama lima belas menit, ia pun berbicara. Jujur saja, ini pertama kalinya aku bersabar hanya untuk menunggu seseorang bicara padaku.

Aku meletakkan cangkir teh yang tengah kuminum. “Iya.”

“Kenapa?”

“Aku punya alasanku sendiri.”

Choi Seo Ah terlihat tidak suka dengan jawabanku. Ah, tidak, dia memang tidak suka dengan diriku. Dia hanya tersenyum ketika menjawab pertanyaan orangtuanya atau orangtuaku, selebihnya, ia akan kembali mengerutkan dahinya dan terus-terusan menatapku sambil menghela nafas panjang—seperti menahan emosi. Aku paham. Siapa yang tidak terkejut ketika dijodohkan dengan orang yang sama sekali tidak dikenalnya, dan hanya diberi waktu satu minggu?! Kalau bukan karena obsesi sialan ini pun aku tidak mau.

“Tapi… seminggu?!” nada suaranya mulai naik. “Tidakkah kau pikir itu terlalu cepat? A-Aku bahkan tidak diberi waktu untuk terkejut.”

Itu pernyataan lucu, tapi aku tidak bisa tertawa. Aku tidak peduli ia terkejut atau marah atau apapun itu, yang terpenting ia menikah denganku. Setelah menikah nanti, itu urusan nanti. Aku hanya bersikap seperti suami baik, lalu mendapatkan apa yang kumau. Golden Group.

“Tenang saja, semua sudah diatur.”

“Tapi, tetap saja….” ia menghela nafas panjang, tedengar mengeluh. Kemudian, ia pun memajukan tubuhnya, menatapku lebih intens. “Tidak bisakah kau memberiku waktu sedikit? Kira-kira… satu tahun lagi?”

Permintaan konyol! Aku pun mendengus. “Pernikahan ini akan berlangsung satu minggu lagi. Jadi bersiaplah.”

“Apa kau menyukaiku?”

Pertanyaan spontannya sukses membuatku yang tadinya sudah menggeser kursi, kembali duduk. Aku menatapnya, kali ini tepat di bola matanya. Perasaan? Entahlah, aku terlalu jenius untuk memikirkan hal itu. Yang kupikirkan hanya Golden, dan Choi Seo Ah adalah satu-satunya jalan untuk meraihnya.

“Aku punya alasanku sendiri,” kuulang jawabanku. “Jadi jangan berpikiran terlalu jauh.”

Aku pun beranjak dari sana, sebelum Choi Seo Ah kembali mengoceh. Aku tidak yakin untuk tidak membalik meja dihadapanku kalau terus mendengarnya mengoceh seperti itu. Satu yang kupelajari di sini, ia sangat berbeda dengan Ji Eun. Ia tidak membiarkanku lepas begitu saja, meski jelas wajahku mengatakan aku sudah tidak ingin membahasnya. Choi Seo Ah adalah tipe wanita yang suka ikut campur urusan orang lain. Dan aku berpikir, kehidupan pernikahanku akan jauh lebih sulit dari yang kubayangkan.

Ya, tentu saja, karena Choi Seo Ah itu.

***

***

Oh Se Hun

“Apa orangtuamu sedang terlilit utang?”

“Sepertinya ini bukan hal semacam itu.”

Aku tersenyum miris mendengar jawaban Seo Ah. Kuseruput lagi bir kalengan di tanganku sambil terus mendengarkan Choi Seo Ah yang sedang menceritakan pertemuannya dengan calon suaminya. Ia akan menikah satu minggu lagi, dengan anak dari sahabat ayahnya yang juga merupakan teman Jong Hoon hyeong saat kuliah. Dia juga pewaris Golden Group, salah satu Group besar yang memegang kekuatan dalan resort dan pariwisata di tiga negara—Korea, Jepang, dan Tiongkok. Umurnya masih muda, tapi sangat mapan. Choi Seo Ah sepertinya mendapat calon suami yang paling sempurna, meski kedengarannya wanita itu tidak terlalu suka.

Ya, tentu saja, aku tahu semuanya.

Sebenarnya, sebelum Seo Ah meneleponku, aku sudah menerima berita itu dari anak buahku. Bahkan mereka mengirimkan beberapa berkas yang berkaitan dengan Park Chan Yeol. Perbedaan waktu kurang lebih 12 jam, membuatku dan Seo Ah sulit berkomunkasi via telepon. Mungkin di sana ia sedang makan siang.

“Apa dia lebih tampan dariku?” aku bertanya sambil mengangkat sebuah majalah bisnis Korea dari atas meja. Kuperhatikan sosok pria tinggi dengan balutan jas hitam yang terpampang dalam sebuah artikel.

“Eiy… kau yang terbaik!” aku tersenyum geli mendengar jawaban Seo Ah. “Yah… tapi dia tidak jelek, sih.”

“Kau menyukainya?”

Ada jeda beberapa detik sebelum Seo Ah menjawab. Tanpa sadar, jantungku berdetak cepat sampai belakang leherku berdesir. Apa aku lupa menutup jendela?

“Entahlah.” Jawab Seo Ah akhirnya. “Kau tidak akan tahu sebelum mencobanya, kan?”

“Ya… ada benarnya juga.”

“Sudahlah,” Seo Ah terdengar tidak suka karena aku terus-terusan membahas tunangannya itu. Dia pun mengganti topik pembicaraan kami. “Apa kau benar-benar tidak bisa datang?”

Aku menghela nafas, lalu meraih kaleng bir. Setelah itu, aku bangkit dari sofa yang berhadapan dengan meja penuh kertas-kertas berisi Park Chan Yeol, dan melangkah menuju beranda. Kota New York belum juga tidur, padahal ini sudah lewat tengah malam. Angin malam yang membekukkan terasa menusuk ke tubuku yang hanya dibalut kaus dan sweater tipis. Keteguk bir lagi, lalu membuang nafas lagi.

“Maaf.” Aku tersenyum tipis, mencoba membuat suaraku tidak terdengar aneh. “Sebentar lagi ujian tengah semester, dan aku sudah bolos dua kali di mata kuliah Manajemen Kantor. Setidaknya aku harus dapat B plus kali ini.”

“Kau sama sekali tidak berubah.”

Seo Ah terkekeh, tapi anehnya tawanya itu tidak membuat perasaanku membaik—seperti biasanya. Tawanya itu seperti memperjelas kalau hubungan kami tidak lebih dari sepasang sahabat saja. Ah… lagi-lagi aku kepikiran hal itu!

Seo Ah menghela nafas di sana. “Tapi kuharap kau datang. Setidaknya hari pernikahanku tidak akan terlalu buruk kalau ada dirimu.”

“Sekali lagi, maaf.” Jawabku. Aku membalik tubuhku, bersandar pada dinding balkon. “Kau sudah selesai? Kalau begitu aku akan tidur. Kau tahu, di sini masih tengah malam, Gadis Gila!”

“Eiy, maaf!” meski begitu nada bicaranya sama sekali tidak ada penyesalan. “Sana tidur! Kalau perlu jangan bangun lagi.”

“Kau pasti akan menyesal kalau aku mati tanpa menciummu.”

“Kau memang pantas pergi ke neraka, Se Hun idiot!”

Kekehan kami menjadi salam penutup. Kupandangi layar ponsel yang terpampang foto kami berdua—aku dan Seo Ah—saat liburan di Hongkong waktu SMA. Itu satu-satunya foto yang kusuka dari sekian banyak foto kami berdua. Seo Ah mencium pipiku, dan merupakan ciuman pertamaku bersama seorang gadis di usiaku yang kedelapan belas. Ya, begitulah. Meski aku terkenal playboy saat SMA, ciuman pertamaku adalah Choi Seo Ah, dan itu pun di pipi.

Aku terkekeh mengingat betapa payahnya aku dulu. Sejak saat itu, aku tidak pernah mengizinkan wanita lain mencium pipi kananku, atau aku akan marah besar. Konyol? Tidak—karena aku selalu menjadikannya sebagai obat sakit hati ketika mengingat betapa payahnya diriku.

Tapi kali ini, foto atau bahkan ciuman di pipi itu tidak bisa mengobatiku. Seo Ah akan menikah, dengan pria lain. Sayangnya aku tidak senang—seperti Seo Ah—tapi juga tidak bisa menangis. Aku juga tidak bisa mengejeknya dan memintanya menceritakan malam pertamanya nanti. Mendengar dari anak buahku kalau Seo Ah akan menikah saja sudah membuat seluruh tubuhku lemas, apalagi saat wanita itu menyuruhku datang ke pernikahannya.

Aku meneguk birku sampai habis lalu meremas kalengnya. Kubiarkan angin malam menerbangkan rambutku, berharap bisa mengangkat sakit kepalaku ini. Himpitan di hatiku terus menyuruhku menangis, tapi aku tidak bisa. Rasanya terlalu jahat kalau menangisi Seo Ah sekarang. Dan akhirnya, aku hanya bisa menenggakkan kepalaku, menatap langit gelap New York, sambil menghirup nafas dalam-dalam.

Tapi bagaimanapun… mana mungkin aku tahan melihatnya memakai gaun pengantin bersama pria lain?

Mengingat hal itu, air mataku pun mulai menetes.

 

-END-

————————————————-

*Gyojangnim (교장님) : Kepala sekolah

*Sebuah bonus sebelum part terakhir HAHAHAHAHAHA gimana?? Sehun jadi melow begitu yak wkwk pasti banyak yang nyerang aku *pede mode on* hayooo jadi Sehun-Seoa apa Chanyeol-Seoa xD

 

Regards: Ziajung (vanillajune.wordpress.com)

38 responses to “About Her [10 Steps Closer Extra]

  1. chanyeol seoah…yaaahh poor sehun…coba sehun lebih berani ungkapin perasaannya lebih jujur aja gt ke seoah…kalo sekarang gmn ya??seoah chanyeol udah menyatu…jangan pisahkan merekaa….😢😢😢

  2. Chanyeol-seoah doongg😀 pleaseeee happy ending buat mereka berdua yaaaa mereka udah saling mencintai, biar sehun nyari yg lain aja wkwkk😀

  3. Daebaaaaaaaaaaaaaakkkkk, ini yg aku tunggu2 isi hati seorang Oh Sehun..
    Oh Sehun cinta Seo Ah kyaaaa Oh Sehun cinta Seo Ah mereka friendzone banget ya, kasian banget Sehun..
    Kalo Seo Ah gimana ke Sehun? Bener2 anggap Sehun sahabat??
    Kalo bahas Chanyeol agak nyakitin ya, part terakhir dia minta pisah itu masih kebayang2 nyakitin sekaligus bikin sedih hhe..
    Di tunggu next chapternya ^^

  4. Dilema antara sehun atau chanyeol 😭😭😭 aghhh sehun sih maen pendam2 keburu di embat deh sama chanyeol -,- mendekati ending tapi kok sedih ya –” nga mau pisah dari 10th steps clouser 😤😤😤

  5. Oh sehunnnnnnn kesian dah ah😁😁
    Bsk part end nya kan?ayey semoga happy ending, dan bikin sehun happy juga yak wkwkwkw

  6. how poor you are, sehuuuunn…😦
    semoga happy ending buat chanyeol, begitu pun sehun..
    huaaa.. ga sabar nih

  7. Seo Ah… Beruntung banget ya punya orang2 keren nan keceh yg cinta banget sama dia, terutama Sehun yang udah ngertiin seluk beluk luar dalemnya Seo Ah😥
    Huhuuu kesian liat Sehun, tp lebih ga tega kalo liat Chanyeol terkacangkan Seo Ah wkwk

  8. sehun lu masih mending sama seo ah dianggap sahabat, lah gue temen kelas doang :”” aaa baper kan bacanyaaa

  9. Chanyeol seoah… Kesininya mereka udah cocok.. Kalau seoah sama sehun kasian chanyeol… Biarlah sehun cari yg baru.. Sehun pasti akan dapat yang cocok kok sama dia… Sudah terlalu banyak rintangan yg dilalui chanyeol seoah, kalau mereka pisah kan gk banget deh… Sia sia semua…
    Chanyeol seoah.. Aku mendukung kalian!!!

  10. Benerkan kalo sehun suka sama seoah, ahh calon pengantinya udah dinikahkan sama pria lain, sumpah sedih partnya sehun. Padahal kalo sehun berani nyatain aja perasaanya sama seoah, terus hancurin acara pernikahan seoahh. Wkwk tapi kalo gitu kasian chanyeol nantinya, dia gak akan punya keluarga sebaik seoah, gak akan ada yang ngurusin, gak akan ada yang menemaninya disaat terpuruk kayak gini. Eh ada jieun kan, kan kalo seoah sama chan gak jadi nikah pasti chanyeol masih sama jieun

  11. Sehun klo suka sma seoah napa gak blg sih…apa sehun jga tkut klo seoah blg mrk cukup tmen aja…sehun yg pntar nutupin ato seoah yg gak peka ya???

  12. Oh sehunku yang Malang, sini bang sama dedek disini bersedia gantiin seoa ko /plak/ apa ini wkwkwk
    Ternyata sehun melow juga ya untuk orng manly macem dia

  13. Waduh.. Chanyeol udah ngincer seo ah dari awal dong?
    Cuma buat dapetin golden…. (nggk hafal thor mian..)

    Keepwriting^^

  14. Jadi sehun sebelumnya suka sama seo ah? 😮 tapi pas udah nikah ama chanyeol sehun udah nggak suka lagi kan? Kalo sehun masih suka makin banyak dong masalah yg datang. Belum lagi masalah asal usul chanyeol 😣

  15. astaga jadi si Sehun suka sama Seo ah selama ini??
    Ya ampun hun harusnya kamu lebih berani, aku yakin kamu lebih berpeluang dapet perasaannya Seo ah *sotoy

  16. Wih jadi gini toh cerita awalnya. Ga nyangka ternyata si sehun suka sama seoah ya ampun! Aku kira si sehun ngelakuin hal hal idiot ke seoah tuh emang gara gara mereka sahabatan dari dulu. Oke dan akhirnya semuanya terungkap.
    Makanya hun klo emng suka, langsung ngomong jgn di pendem ae! Keduluan kan sama si chanyeol wkwk

  17. Sehun, yang sabar, ya… Orang sabar disayang seoah, ehh, keceplosan. Aduh, ziajung, kamu yang terbaik. Terima kasih sudah membuat Seoah bersama Chanyeol karena itu berarti ada peluang Sehun sama aku. HAHAHHAHAHA

  18. Chanyeol jadi Mr. Kepo sebelum ketemu Seo Ah. Ini apa? Sehun ternyata nyimpan rasa ke Seo Ah? Ampun deh! Kirain dia nggak ada rasa apa pun ke Seo Ah ternyata walah walah…

    Keep writing ^^

  19. Ternyata Sehun suka sama Seo Ah? Tp aku tetep dukung Chanyeol Seo Ah. Ditunggu next chapternya ya? Udh penasaran……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s