10 Steps Closer [10th Step]

10-STEPS-CLOSER-POSTER-3

Ziajung’s Storyline©

Casts: Park Chan Yeol | Choi Seo Ah

Genre: Romance, Angst, Marriage Life

Prev: Prolog | 1st Step | 2nd Step | 3rd Step | 4th Step | 5th Step | 6th Step | 7th Step | 8th Step | 9th Step

Extra 1 | Extra 2 | Extra 3

Warning! Very Berry Long Part and Little Rated

Disarankan mendengarkan It’s Okay, It’s Love – Davichi, untuk step ini. Pay!!

*tulisan Bold : bahasa asing—selain Korea.

 

———————————————–

10th Step

 

Satu sisi hatinya mengatakan ia harus tetap tinggal dan menunggu, karena Chan Yeol pasti akan kembali padanya.

 

***

                “Maukah kau… bercerai denganku?”

Tangan Seo Ah dalam genggaman Chan Yeol mendingin. Ia tidak bisa merasakan apapun, termasuk luka di pinggangnya yang masih belum kering. Cairan infus pun seolah ikut berhenti mengalir, membuat tubuh Seo Ah merasakan ketegangan sekaligus lemas dalam waktu bersamaan. Telinganya berdengung, terus mengulang kalimat yang sama. Bercerai? Chan Yeol memintanya bercerai?

Seo Ah memberanikan diri untuk membalas tatapan Chan Yeol dengan bola matanya yang bergetar. “K-Kau bercanda, kan?” ia memaksakan senyum, berharap setelah ini Chan Yeol akan mengacak rambutnya sambil tersenyum lebar.

Tapi, tidak. Chan Yeol tidak melakukan itu. Bahkan untuk menjawab “ya, aku bercanda” saja ia tidak melakukannya. Chan Yeol hanya mengeratkan genggamannya pada telapak tangan Seo Ah. Matanya mengerjap pelan, seolah mengatakan kalau ia sedang serius.

“K-Kenapa….”

“Seo Ah-ya—“

“KENAPA?! A-APA YANG SALAH DENGANKU?! APA AKU MENYAKITIMU….”

“Seo Ah-ya….”

“…A-Apa kau tidak suka dengan Se Hun? Kalau begitu aku akan menyuruhnya menjauh, tapi kita tidak akan bercerai! AKU TIDAK MAU!”

Menghentikan rancauan Seo Ah yang semakin tidak jelas, Chan Yeol pun membawa wanita itu dalam pelukannya. Chan Yeol tahu, Seo Ah tidak benar-benar mengatakan itu. Ya, dia hanya terkejut. Isakkan wanita itu teredam di bahu Chan Yeol, dan Chan Yeol merasakan air mata Seo Ah yang membasahi kemejanya. Tubuh wanita itu juga bergetar hebat, kedua tangannya meremas bagian belakang kemeja Chan Yeol kuat-kuat.

“Kenapa?” masih sambil terisak dan memeluk Chan Yeol, Seo Ah bertanya. “Berikan aku alasan yang bisa kuterima.”

Meski begitu, sebenarnya Seo Ah tidak ingin mendengar alasan apapun. Ia tidak akan menerimanya. Ia bahkan rela tidak lagi bernama Choi Seo Ah demi hidup bersama Chan Yeol. Hatinya benar-benar teriris mendengar Chan Yeol sendiri yang memintanya bercerai.

Chan Yeol meregangkan pelukannya. Ia menghapus air mata Seo Ah yang mengalir di pipinya dengan kedua tangan. “Aku bukan lagi seorang Park.”

“DAN KAU PIKIR, AKU PEDULI?! BRENGSEK!” Seo Ah berteriak tepat di depan wajah Chan Yeol. Seperti kebiasaan buruknya, tanpa berpikir panjang, ia menggunakan banmal. Dan sekarang bukan hanya itu, Seo Ah jelas-jelas mengumpat kasar pada Chan Yeol.

Tapi Chan Yeol tidak membalasnya. Tangannya merambat ke bahu Seo Ah, mengusapnya dengan lembut untuk membuat wanita itu tenang. Chan Yeol tidak akan bisa berbicara kalau Seo Ah belum tenang karena dia pasti akan terus berteriak dan memotong ucapannya.

Setelah nafas Seo Ah mulai teratur—meski masih terisak—Chan Yeol pun membuka mulutnya. “Ini akan semakin sulit ke depannya. Mereka tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang mereka mau. Dan aku… tidak mau kau dan keluargamu terlibat, Seo Ah-ya.”

“Tapi aku istrimu.”

“Oleh karena itu,” Chan Yeol menghela nafas untuk menghalau air matanya yang sudah di ujung. Ia tidak boleh menangis di hadapan Seo Ah. “Kau akan terluka karenaku—karena aku bukan benar-benar seorang Park.”

Otak Seo Ah sudah mengerti apa maksud Chan Yeol, tapi hatinya tetap tidak mau menerima. Itu alasan konyol! Apa pedulinya kalau Chan Yeol itu Kim atau Lee, bahkan Bong sekalipun. Yang Seo Ah mau hanya Chan Yeol, suaminya. Mereka tidak butuh warisan menggunung itu, Seo Ah masih bisa bekerja untuk tiga puluh atau empat puluh tahun lagi untuk menghidupi mereka. Kalau memang keluarga Park menentang mereka, kenapa tidak sekalian bunuh saja Seo Ah, dengan begitu ia tidak akan merasakan sakit yang hebat seperti ini.

“Aku ingin melindungimu, karena kau satu-satunya yang kupunya.”

Chan Yeol kembali memeluk Seo Ah. Ia pun menenggelamkan wajahnya di leher Seo Ah. Ya, ini satu-satunya cara melindungi Seo Ah dan keluarga Choi. Kedekatan keluarga Park dan Choi sudah menjadi perbincangan hangat sejak beberapa tahun terakhir, ditambah pengumuman Chan Yeol kalau ia menikahi putri satu-satunya Choi Young Sook, sudah pasti menambah keakraban mereka. Paman dan bibinya tidak akan tinggal diam. Ia pasti akan melibatkan keluarga Choi untuk menyingkirkan Chan Yeol.

“Kalau begitu, pertahankan aku.” Balas Seo Ah sambil menangis. Udara di sekitarnya menipis hingga membuatnya sesak nafas. Rasa sakit di pinggangnya tidak ada artinya dengan sakit yang menghimpit dadanya. Seo Ah berpikir ia bisa mati detik itu juga.

“Aku harus melindungimu.”

Jawaban yang sama sekali tidak ingin Seo Ah dengar terucap dari mulut Chan Yeol. Bukankah itu berarti keputusannya sudah bulat? Chan Yeol menginginkan perceraian ini, meski dalam konteks demi keselamatan Seo Ah.

***

                Sudah seminggu Seo Ah dirawat di rumah sakit, hari ini pun ia kembali di rumah. Awalnya, melihat Chan Yeol datang untuk menjemput Seo Ah, Choi Young Sook tidak terima dan malah mengusirnya. Sempat terjadi ketegangan besar di sana, sebelum akhirnya Chan Yeol berlutut di hadapan Young Sook lalu mengatakan ia akan segera menceraikan Seo Ah.

Seumur hidupnya, baru kali ini Chan Yeol berlutut dan memohon. Ia tidak pernah melakukan itu pada ayahnya sekalipun. Ini dilakukannya untuk Seo Ah. Ia ingin mengukir sesuatu yang indah untuk terakhir kalinya dengan Seo Ah.

Perasaan Young Sook campur aduk. Antara marah, sedih, dan simpati. Ia merasa lagi-lagi dilecehkan ketika Chan Yeol mengatakan ia akan menceraikan Seo Ah. Apalagi sebelumnya Seo Ah sendiri yang habis-habisan menentang perceraian ini. Tapi ia juga merasa simpati karena menantunya merasa tidak pantas lagi menjadi suami Seo Ah karena rahasia kelahirannya yang benar-benar menjijikan. Bagaimanapun Young Sook sangat menyukai Chan Yeol. Dia pria yang cerdas dan kuat, meski wajahnya jarang tersenyum. Young Sook juga menyaksikan sendiri bagaimana Chan Yeol memperlakukan Seo Ah dengan sangat baik.

Seo Ah kembali ke rumahnya bersama Chan Yeol. Di dalam mobil mereka hanya diam, tapi tangan Chan Yeol terus-terusan menggenggam tangan Seo Ah di pangkuannya. Terlalu banyak yang mereka pikirkan, hingga tidak tahu apa yang harus dibicarakan terlebih dulu. Rasanya seperti menjemput ajal sendiri. Takut dan mengerikan, tapi harus dilakukan.

Namun kemudian, Seo Ah menyadari kalau ini bukan jalanan menuju rumah mereka. Merasa ada yang tidak beres, ia pun menoleh. “Kita akan ke mana?”

“Liburan,” jawab Chan Yeol, lalu menoleh. “Aku akan mengajakmu bersenang-senang.”

Pikiran-pikiran buruk yang tadi sempat menghantui Seo Ah, hilang sudah. Ia pikir Chan Yeol tiba-tiba mengubah pikirannya dan membawa lari Seo Ah ke tempat antah berantah. Ya… itu mungkin saja, kan. Mengingat betapa banyak beban yang ditanggung Chan Yeol sekarang, sepertinya menjadi gila bukan hal yang sulit. Orang-orang pasti akan menganggapnya hal yang wajar.

Mereka sampai di bandara dua puluh menit kemudian. Seperti sudah merencanakan dari jauh-jauh hari, begitu sampai di bandara, mereka langsung naik ke pesawat. Chan Yeol juga tampak santai. Mereka duduk di kelas utama, tapi sama sekali tidak merasakan kenyamanan seharusnya. Bukan karena pelayanan maskapai yang buruk, namun karena ini terakhir kalinya mereka bersama. Ya, kenyataan itu terus berputar sampai membuat isi perut mereka tercampur aduk.

Seo Ah yang paling parah. Berada di kursi besar, melihat lalu lalang pesawat dari jendela, para pramugari yang menawarkan ini-itu, semua malah membuatnya semakin ingin menangis. Bisakah waktu berjalan mundur? Seo Ah mau kembali ke masa di mana ia masih bisa memarahi Chan Yeol dan pria itu membalasnya dengan dingin. Ia merindukan itu. Ia tidak suka keheningan ini!

“Kita… akan liburan ke mana?” menghalau air mata di ujung matanya, Seo Ah pun bertanya tanpa menatap Chan Yeol.

“Busan.” Jawab Chan Yeol. “Maaf, hanya sampai sana aku bisa mengajakmu.”

Seo Ah mengerti. Ini masalah waktu. Lagipula Seo Ah tidak peduli ke mana Chan Yeol membawanya. Ia hanya butuh waktu dan tempat yang jauh dari Seoul untuk melupakan kata ‘perceraian’. Memang, bagaimanapun itu akan terjadi. Setidaknya Seo Ah ingin berpura-pura hubungannya dengan Chan Yeol tidak akan berakhir, dan semua ini hanya mimpi untuk beberapa hari.

“Tidak apa-apa. Aku senang.”

Saat Chan Yeol menggenggam tangannya, Seo Ah menyenderkan kepalanya di pundak pria itu. Suara pilot terdengar dari pengeras suara, tanda pesawat akan segera lepas landas. Seperti tiap detik adalah saat terakhir mereka, Chan Yeol tidak pernah melepaskan genggamannya dari Seo Ah. Terus begitu sampai tiga jam perjalanan yang mereka tempuh.

Turun dari pesawat, seseorang menghampiri mereka dan langsung menuntun mereka sampai pintu keluar bandara. Seo Ah, yang tidak tahu apa-apa hanya mengikuti Chan Yeol yang terus menggandengnya. Benar, pria ini ternyata sudah mempersiapkan segalanya dengan matang. Termasuk sebuah mobil berwarna hitam dengan kap terbuka.

Seo Ah masih cukup terkejut dengan kenyataan yang terjadi di depannya, walaupun Chan Yeol sudah membukakan pintu penumpang untuk Seo Ah. Maksudnya, posisi Chan Yeol di perusahaan sedang terancam, tapi pria ini masih bisa mengejutkan Seo Ah dengan hal-hal seperti ini. Bukannya tidak senang, hanya saja… ya begitulah.

“Tidak masuk?”

“Kau… menyewanya, kan?” tanya Seo Ah, berharap Chan Yeol mengiyakannya, dengan begitu ia akan berhenti menatap Chan Yeol dengan tatapan ‘kau bercanda, kan?’.

“Tidak. Ini milikku, aku menyimpannya di villa.”

Oke, Seo Ah lupa kalau Chan Yeol adalah pria yang tidak peka. Bahu Seo Ah merosot, tidak habis pikir dengan kelakuan Chan Yeol. Sekarang tidak hanya mobil, tapi pria ini juga memiliki villa di Busan. Apa sekarang Seo Ah tidak perlu mengkhawatirkan kehidupan Chan Yeol kalau keluarga Park masih terus bersikeras mengganggu mereka?

“Ayo!”

Seo Ah tidak punya pilihan lain, ia pun naik ke mobil mewah itu. Chan Yeol juga naik dan langsung menyalakan mesin mobilnya. Tidak seperti Seo Ah yang terus melipat bibirnya karena –ya… ia masih belum bisa menerima kenyataan ini. Maksudnya, hei, ini terlihat seperti Chan Yeol sedang membohongi Seo Ah. Seo Ah kira, Chan Yeol tidak punya uang sepeser pun sekarang sampai-sampai liburan ini harus Seo Ah yang bayar. Tapi… melihat pria itu hanya terus tersenyum sambil menyetir, rasanya itu tidak mungkin terjadi. Lihat saja, sikapnya sudah seperti Gu Jun Pyo dengan kacamata hitam itu.

Namun, tiba-tiba semua rasa jengkel Seo Ah terhapus ketika melihat hamparan garis pantai yang indah. Ia baru menyadari kalau sedari tadi udara segar khas laut membelai wajahnya. Mulut Seo Ah terbuka lebar, takjub dengan apa yang dilihat matanya. Kemudian, seulas senyum terukir. Park Chan Yeol memang tidak bisa berhenti membuatnya terkejut.

“BAGUS SEKALI!!”

Melihat pemandangan itu, Seo Ah rasanya ingin meneriakan semua beban di hatinya. Ia ingin mengumpat sekeras-kerasnya kalau perlu sampai menangis. Tapi itu akan merusak momen menyenangkan ini. Oleh karena itu Seo Ah hanya berteriak kata-kata tidak penting, meski begitu perasaannya mulai meringan.

Chan Yeol, yang duduk di sebelahnya sambil mengemudi, terkekeh melihat tingkah Seo Ah. Wanita itu bahkan mencondongkan sebagian tubuhnya ke luar sambil berteriak keras-keras, seperti orang norak yang baru pertama kali melihat Haeundae. Ketika Seo Ah kembali ke tempatnya, Chan Yeol tidak bisa menahan tangannya untuk tidak mengacak rambut Seo Ah yang sudah berantakan karena angin. Wanita ini sangat menggemaskan.

“Ah… sangat menyenangkan.” Seo Ah menenggakkan kepalanya. Matanya pun langsung disuguhi bentangan langit biru cerah dengan awan putih seperti brokoli. Senyumnya makin lebar.

“Terima kasih sudah mengajakku ke sini.” Kata Seo Ah.

“Jangan berterima kasih sekarang,” jawab Chan Yeol. Sebelah tangannya kembali meraih tangan Seo Ah. “Aku akan membuatmu tergila-gila padaku hari ini.”

Seo Ah tertawa keras mendengarnya. Ini pertama kalinya Chan Yeol berbicara se-pede itu kepadanya. Bahkan ekspresinya sangat tidak sinkron dengan ucapannya itu. “Baiklah, baiklah, aku menunggumu, Tuan Yang Akan Membuatku Tergila-gila.”

Chan Yeol tidak menjawab, hanya menyunggingkan senyum miring yang berarti ia menerima tantangan Seo Ah itu.

***

                Tiba di Pantai Haeundae, Chan Yeol membawa Seo Ah ke toko pakaian terlebih dulu. Untuk pasangan yang sedang liburan di pantai, pakaian mereka sama sekali not matching. Seo Ah hanya memakai kemeja biru pas badan dengan celana jeans, sedangkan Chan Yeol… lebih parah. Dia bahkan menggunakan pakaian kantor seperti biasa. Seo Ah tidak memiliki ide kenapa Chan Yeol bisa-bisanya berpakaian seperti itu padahal dia sendiri yang mengajak liburan ke Busan.

“Aku boleh memilih sesukaku?” tanya Seo Ah.

“Iya.”

Seo Ah tidak lagi marah-marah karena Chan Yeol ingin membayar semuanya atau memikirkan apakah Chan Yeol benar-benar punya uang untuk membayar belanjaannya. Anggap saja ini sebagai hadiah perpisahan—ah… mengingat itu ia kembali sedih. Tidak! Seo Ah menggeleng beberapa kali lalu menepuk pipinya sendiri. Sekarang bukan waktunya memikirkan itu! ini liburan! Dan mereka harus bersenang-senang.

“Aku akan memilihkan untukmu juga.”

Dengan riang, Seo Ah memilih beberapa kaos yang terpajang di toko itu. Ia juga menimbang beberapa kemeja yang pantas dipakai untuk Chan Yeol. Meski sekarang pria itu sudah melepaskan jas dan meninggalkannya di mobil, tetap saja Seo Ah gerah melihat tampilan kaku Chan Yeol. Akhirnya pilihan Seo Ah jatuh pada sebuah kemeja berwarna cerah dengan motif bunga-bunga.

“Chan Yeol-ssi!”

Chan Yeol, yang sedang melihat-lihat gantungan kunci yang dijual di toko itu juga, menoleh. Ia mengerutkan dahi ketika Seo Ah mengangkat sebuah kemeja.

“Mau pakai yang ini? Aloha, aloha.” Wanita itu menggoyangkan pinggulnya.

Chan Yeol menghirup nafas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Padahal baru beberapa jam yang lalu ia melihat wanita itu menangis di depan ayahnya, sekarang Choi Seo Ah sudah kembali menjadi wanita gila seperti yang Se Hun katakan. Tapi bagaimana pun, Chan Yeol senang melihatnya.

“Cari saja untukmu sendiri.”

“Aku sudah menemukannya, kok,” jawab Seo Ah sambil mendekati Chan Yeol. Ia mendorong kemeja itu ke dada Chan Yeol. “Cobalah.”

“Aku tidak memakai pakaian seperti ini.”

“Eiy… coba saja,” kata Seo Ah. “Bahkan BTS pun memakainya.”

“BTS? Maksudmu para tentara?”

Seo Ah tahu, Chan Yeol tidak sedang bercanda atau mengejeknya. Pria ini memang sama sekali tidak tahu dan tidak mau tahu dengan dunia entertainment. Hidupnya hanya seputar uang, bisnis, kantor, dan bla bla bla. Seo Ah jadi kepikiran, sebagaimana membosankannya menjadi seorang Park Chan Yeol. Seo Ah bertaruh, di ponsel Chan Yeol pasti tidak ada foto atau bahkan satu lagu pun.

Seo Ah mengibaskan tangannya, memilih tidak membahas itu lebih lanjut. Akan gawat jadinya kalau tahu BTS adalah kumpulan makhluk-makhluk-astral-yang-sialnya-sangat-tampan. “Pakai saja. Aku juga akan berganti pakaian.”

Seo Ah pun menghilang di balik pintu kamar ganti. Chan Yeol tidak punya pilihan lain selain mengikuti kemauan Seo Ah. Selain kemeja berwarna kuning dengan motif bunga-bunga, Seo Ah juga memilihkan celana pendek dan sandal untuk Chan Yeol. Lagi-lagi pertama kalinya. Chan Yeol tidak pernah pergi berlibur seperti ini. Sekalinya pergi ke luar negeri atau Busan itu pun untuk pekerjaan.

Chan Yeol selesai lebih dulu. Sekarang penampilannya jauh lebih normal dan… lebih manusiawi. Menyesuaikan diri dengan pakaian yang dipilihkan Seo Ah, Chan Yeol pun sedikit mengacak tatanan rambutnya. Dan, jadilah Park-Chan-Yeol-yang-siap-untuk-berlibur.

Chan Yeol mengetuk pintu kamar ganti satunya, di mana Seo Ah berada. Entah seberapa heboh pakaian yang dipilih wanita itu sampai-sampai membutuhkan waktu selama ini hanya untuk berganti.

“Seo Ah-ya, kau masih di dalam?”

“Iya, tunggu sebentar.” Jawab Seo Ah dari dalam.

Chan Yeol menghela nafas, lalu menyenderkan bahunya ke dinding dekat pintu kamar ganti. Sepertinya Seo Ah tidak hanya berganti pakaian, tapi juga menjahit pakaian itu. Akhirnya, bunyi kunci diputar, membuat Chan Yeol menegakkan tubuhnya lagi. Pintu perlahan terbuka, bersamaan dengan sosok Seo Ah yang muncul di depan mata Chan Yeol. Pria itu menahan nafasnya melihat penampilan Seo Ah. Matanya pun membulat sempurna.

Wanita ini benar-benar….

APA MAKSUDNYA MEMAKAI BIKINI SEPERTI ITU?!

“Bagaimana?”

“APANYA YANG BAGAIMANA?!” teriakan Chan Yeol tidak hanya membuat Seo Ah terkejut, tapi juga seluruh pegawai toko dan beberapa pengunjung yang datang. “Aku menyuruhmu membeli pakaian! Bukan baju dalam!”

“Tapi orang-orang memakai bikini saat di pantai.”

“Tidak. Kau tidak pergi ke pantai dengan tampilan seperti ini—Permisi, bisakah Anda membawakan pakaian yang lebih normal untuk wanita ini?!”

Mengabaikan Seo Ah yang tampak tidak terima dan terus cemberut, Chan Yeol memanggil seorang pramuniaga untuk membawakan sebuah pakaian ‘normal’. Apa Seo Ah gila?! Dia ingin memamerkan tubuhnya yang hanya ditutupi bikini warna hitam itu di hadapan banyak orang?! Bahkan pakaian itu tidak bisa menutupi seluruh dadanya. Ah, sial! Harus dengan apa Chan Yeol mengatakan kalau tubuh polos Seo Ah hanya boleh dilihat olehnya.

Chan Yeol menyodorkan sebuah one piece dress bewarna putih polos kepada Seo Ah, yang sekarang bersembunyi di balik pintu. Omelan Chan Yeol membuatnya malu setengah mati. Ia merasa seperti istri yang ketahuan selingkuh oleh suaminya.

“Ini. Pakai yang ini.”

“Apa pakai ini saja tidak boleh?” tanya Seo Ah. Hanya kepalanya yang menyembul dari balik pintu.

“Pakaian itu bahkan tidak menutupi bekas operasimu. Bagaimana kalau nanti terjadi infeksi.”

Alasan yang dipikirkan Chan Yeol matang-matang itu berhasil membuat Seo Ah mengambil dress dari tangan Chan Yeol. Oke, meski bukan itu alasan sebenarnya, tapi Chan Yeol juga sedikit mengkhawatirkan hal itu. Luka dipinggang Seo Ah masih dibalut perban dan harus diganti setiap hari. Lebih dari tidak ingin orang-orang memperhatikan luka itu, Chan Yeol sebenarnya hanya sedang menutupi diri. Ketika ia melihat luka itu, rasa bersalahnya semakin besar. Rasa bersalah karena melibatkan Seo Ah dalam kehidupannya, sampai rasa bersalah karena tidak jujur kepada ayah Seo Ah tentang penusukan ini. Chan Yeol dan Seo Ah sama-sama belum menceritakan pada siapapun tentang kecurigaan mereka terhadap keluarga Park.

Seo Ah keluar dari kamar ganti. Meski baju itu hanya memiliki tali tipis di pundaknya, tapi ini jauh lebih normal dari bikini sialan itu. Seo Ah kelihatannya masih tidak terima dengan pilihan Chan Yeol. Bibirnya menekuk, sambil menyerahkan bikini yang tadi dipilihnya kepada pramuniaga lagi. Chan Yeol memilih tidak ambil pusing dengan sikap Seo Ah, dan langsung pergi ke meja kasir untuk membayar.

“Haah….”

Helaan nafas kasar itu dikeluarkan Seo Ah. Ya, wanita itu sedang meminta perhatian dari Chan Yeol.

“Kenapa?” tanya Chan Yeol akhirnya, tidak tahan dengan sikap Seo Ah yang uring-uringan begitu.

“Tidak apa-apa.”

Kini giliran Chan Yeol yang menghela nafas. Wanita memang merepotkan! Di saat sudah diberi perhatian, dia malah menjatuhkan begitu saja. “Kau cantik dengan pakaian itu.”

Seo Ah menggulung senyum, mendengar ucapan Chan Yeol. Namun ia buru-buru mengatur ekspresinya kembali ketika Chan Yeol selesai membayar dan menoleh padanya. Tidak ingin Chan Yeol menyadari dirinya menjadi senang dengan pujian itu, Seo Ah menggandeng lengan pria itu dan menariknya keluar dari toko.

“Ayo! Setelah ini kau mau mengajakku ke mana?” tanya Seo Ah dengan nada ketus yang dibuat-buat.

Chan Yeol mendecih, tapi toh senang juga. Melepaskan tangan Seo Ah di lengannya, ia pun menggenggam telapak tangan Seo Ah. Lebih baik begini. Ia sangat suka saat jari-jari mereka bertaut seperti ini.

Tanpa banyak bicara, Chan Yeol membawa Seo Ah ke Busan Aquarium. Chan Yeol sengaja hanya memilih tempat di sekitar Haeundae untuk menghabiskan liburan mereka yang sangat sangat singkat ini. Selain pemandangan pantainya yang indah, Haeundae juga memiliki beberapa tempat wisata yang ramai dikunjungi.

Busan Aquarium dipenuhi dengan keluarga dan kelompok remaja yang memilih Busan sebagai tempat menghabiskan liburan musim panas. Terlebih ini hari Sabtu. Chan Yeol mengeratkan genggamannya di tangan Seo Ah, tidak mau terpisah dari wanita itu karena penuhnya manusia di sini. Tapi meski begitu, mereka sangat menikmati liburan sekaligus kencan ini.

Keadaan berbalik, seiring waktu berjalan. Kini bukan Seo Ah yang mengekori Chan Yeol, tapi Chan Yeol yang harus mengikuti ke mana kaki kecil Seo Ah melangkah. Wanita itu kelewat aktif hari ini. Menarik tangan Chan Yeol ke sana-ke mari, berteriak seperti anak kecil ketika melihat pertunjukan ikan di akuarium, sampai merengek minta dibeli souvenir kepada Chan Yeol.  Seo Ah menunjukkan sisi lainnya. Kalau biasanya Chan Yeol selalu melihat Seo Ah yang marah-marah, berkata ketus sambil mencibirnya diam-diam, dan bahkan belakangan ini hanya melihat wajah murung Seo Ah, hari ini sifat Seo Ah yang kekanakan muncul. Tersenyum bebas, tertawa untuk hal-hal kecil, malah tidak segan melakukan skinship dengan Chan Yeol, membuat Seo Ah seperti anak kecil paling bahagia di dunia.

Dan Chan Yeol menyukainya. Benar-benar menyukainya.

“Kenapa? Kau bosan, ya?” tanya Seo Ah tiba-tiba, melihat Chan Yeol yang terus diam sambil memandanginya. Mereka sudah keluar dari Busan Aquarium, dan sekarang sedang menyusuri pantai Haeundae sambil bergandengan tangan. Satu tangan mereka saling bertaut, sedangkan satunya lagi memegang sandal masing-masing.  Seo Ah terus saja mengoceh, tentang akuarium itu, ikan-ikannya, sampai makanan yang mereka santap untuk makan siang tadi, tapi Chan Yeol hanya diam saja. Pria itu terlihat sedang memikirkan sesuatu.

Chan Yeol berjalan mendekat, lalu memeluk pinggang Seo Ah. “Aku hanya tidak bisa berhenti terpesona olehmu.”

“Apaan, sih!” Seo Ah menutup wajahnya dengan kedua tangan, lalu terkekeh sendiri. Chan Yeol benar-benar penuh kejutan hari ini.

“Bagaimana? Apa aku juga membuatmu terpesona?”

“Iya!” jawab Seo Ah, membuka tangannya dan membalas tatapan Chan Yeol dengan senyuman lebar. “Sangat terpesona! Kau yang terbaik.”

Satu kecupan diberikan Chan Yeol tepat di bibir Seo Ah, membuat tubuh wanita itu menegang di pelukannya. Tetap saja, meski mereka sudah sering berciuman, Seo Ah belum terbiasa dengan hal itu. Terlebih ini di tempat umum. Mereka jadi bahan tontonan gratis orang-orang pecinta drama romantis di pinggir pantai.

“Ini tempat umum!”

“Lalu? Aku bahkan bisa melakukan sesuatu yang lebih berani, loh.”

YA!”

Bukannya takut, Chan Yeol malah tertawa keras, membuat Seo Ah tambah geram. Wanita itu menginjak kaki Chan Yeol hingga Chan Yeol pun melepaskan pelukannya. Tidak puas dengan itu, Seo Ah pun menendang pasir basah ke kaki Chan Yeol, hingga betis dan ujung celana pria itu kotor.

“Choi Seo Ah!”

“Aku juga bisa melakukan yang lebih berani dari itu.” ucap Seo Ah, lalu menjulurkan lidahnya dan berlari meninggalkan Chan Yeol.

Benar, kan. Wanita ini berubah menjadi anak kecil dalam satu hari.

Denyutan di kaki Chan Yeol sama sekali tidak berarti apa-apa. Pria itu pun berlari mengejar Seo Ah yang memekik ketakutan melihatnya mendekat. Sebagian pakaian mereka sudah basah karena air laut, dan kaki mereka pun kotor dengan pasir. Tapi mereka tidak peduli. Chan Yeol masih berusaha menangkap Seo Ah yang berlari menjauh, sampai akhirnya ia berhasil menangkap Seo Ah dari belakang dan membawanya menjauh dari serangan ombak. Namun begitu diturunkan, Seo Ah malah kembali berlari mendekati laut, hingga adegan itu terus terulang.

Chan Yeol kehabisan tenaga, meski Seo Ah masih semangat menggodanya. Seo Ah malah sekarang mengejek Chan Yeol dengan sebutan ‘ahjussi’ karena nafasnya yang terputus-putus itu. Sial! Walaupun umurnya lebih tua dua tahun dari Seo Ah, bukan berarti Chan Yeol memiliki fisik yang lebih lemah. Bagaimanapun dia seorang pria. Ah! Apakah Chan Yeol harus menunjukkan kejantannya di sini? Sepertinya menyenangkan membuat wanita bawel itu bertekuk lutut di bawah kuasanya, apalagi ini tempat terbuka.

Memikirkan rencana licik yang gila itu, Chan Yeol menyeringai. Seo Ah pun sempat terdiam melihat seringaian itu. Tidak, ia tidak takut, hanya… bingung. Chan Yeol tidak pernah berekspresi seperti itu. Ya… kecuali saat—

Oh, Sial!

Belum sempat Seo Ah melarikan diri sejauh mungkin dari Park-Chan-Yeol-dalam-sexymodeon, pria itu menangkap pinggang Seo Ah dan langsung menciumi bibirnya dengan dalam. Tidak ada ampun, dan tidak peduli dengan orang-orang yang memperhatikan mereka. Seo Ah merasa déja vu dengan suasana ini. Suara debur ombak, angin yang berhembus menerbangkan rambutnya, dan bau amis laut yang memabukkan. Semuanya terpadu satu, membuatnya semakin melayang di dalam ciuman Chan Yeol. Bibirnya yang lembab, melumat bibir Seo Ah bergantian. Lidahnya mulai membelainya, sampai akhirnya memaksa masuk setelah menggigit kecil bibir bawah Seo Ah.

Tangan Chan Yeol yang tadinya di pinggang Seo Ah, merambat naik menyusuri lekuk tubuh wanita itu. Ia menekan tengkuk Seo Ah, membuat Seo Ah mendongak untuk memperdalam ciumannya. Bunyi decapan, bahkan suara desahan Seo Ah teredam oleh bunyi ombak dan angin di bibir pantai. Chan Yeol benar-benar gila hari ini. Kaki Seo Ah pun mulai lemas karena sekarang tangan Chan Yeol tidak hanya diam di tengkuknya, tapi sudah merambat lagi ke punggung dan bokong Seo Ah.

Chan Yeol mengerti sinyal yang dikirimkan Seo Ah melalui desahan lembutnya. Sebelum lutut wanita itu menyentuh pasir basah, Chan Yeol mengangkat tubuhnya. Seo Ah secara refleks melingkarkan kedua kakinya di pinggang Chan Yeol. Ciuman mereka terlepas, tapi dahi mereka masih menempel satu sama lain. Bibir yang memerah itu pun tersenyum lebar.

Byeon… tae*.” Ucap Seo Ah lamat-lamat, lalu terkekeh.

Chan Yeol mengerlingan nakal. Ia pun mendekatkan bibirnya ke telinga Seo Ah. “Begitu?”

Setelah itu, Chan Yeol membawa Seo Ah ke laut dan menjatuhkan wanita itu di sana, membuat seluruh pakaian wanita itu basah kuyub.

***

                Matahari mulai tenggelam di ufuk Barat, meninggalkan seberkas cahaya jingga yang kemudia memudar. Langit menggelap, namun cahaya bintang yang bertaburan menjadi pemanis. Di bawah pemandangan yang indah itu, Chan Yeol dan Seo Ah menikmati makan malam di Pantai Songjeong. Setelah adegan basah-basahan tadi, Chan Yeol pun membelikan Seo Ah pakaian baru (dan untungnya, wanita itu tidak lagi merengek karena masalah bikini). Namun Seo Ah tidak sepenuhnya memaafkan sikap konyol Chan Yeol itu, hingga Chan Yeol terpaksa menghibur Seo Ah dengan menaiki Haeundae Cruise Boat untuk mengitari enam pulau dengan pemandangan tebing yang indah.

Ya… senyum Seo Ah hari ini sangatlah mahal.

Mereka tengah menikmati steak di restoran mewah dengan pemandangan laut malam yang indah. Sebotol wine menemani mereka. Meski mereka sering makan malam berdua di rumah, suasana di sini tentu jauh berbeda. Sangat romantis dan intim. Chan Yeol pun memotongkan daging untuk Seo Ah dan terus tersenyum sambil mengunyah. Matanya tidak pernah lepas dari wanita itu.

“Chan Yeol-ssi.” Panggil Seo Ah. “Setelah hari ini apa yang akan kau lakukan?”

Gerakkan mulut Chan Yeol berhenti beberapa detik, sebelum kembali menyuap. Sesuatu baru saja menghantam hatinya. Ia pikir, Seo Ah sudah sama sekali melupakan fakta itu. Tapi, seperti dirinya, Seo Ah pun pasti memikirkannya sepanjang hari. Ya, dan mereka sama-sama tersenyum seperti orang tolol agar tidak saling menyakiti.

“Entahlah. Aku belum memutuskan.” Jawab Chan Yeol.

“Kalau begitu kenapa tidak tinggal sampai kau selesai memutuskannya?”

Chan Yeol meletakkan garpu dan pisau steak-nya, lalu menatap Seo Ah dengan tajam. “Choi Seo Ah.”

“Aku mengerti. Maaf.” Menghela nafas, Seo Ah pun menghindari tatapan Chan Yeol.

“Tidak,” kata Chan Yeol. “Aku yang harusnya meminta maaf.”

Suasana menjadi canggung sekarang. Selera makan Chan Yeol menghilang, ia pun hanya memandangi Seo Ah yang masih menyuap potongan steak-nya tanpa minat. Padahal seharian tadi mereka sama sekali tidak membahas ini. Chan Yeol tidak menyalahkan Seo Ah, hanya saja… kenapa sekarang? Ia sengaja mengajak wanita itu liburan agar melupakan masalah ini sejenak. Setidaknya sampai mereka kembali ke Seoul.

Menyadari kesalahannya, Seo Ah juga meletakkan pisau dan garpunya. Ia balas menatap Chan Yeol, mencoba mencairkan suasana aneh ini. “Kau tahu, aku memikirkan hal ini seharian tadi. Sesuatu yang mungkin terdengar konyol, tapi… aku ingin mencobanya.”

“Apa itu?’

Seo Ah memainkan bibir bawahnya. Matanya berputar, mencari kata-kata bagus untuk mengungkapkan isi hatinya. “Aku… ingin memanggilmu ‘oppa’.”

Chan Yeol menegang di tempatnya. Sebenarnya ia tidak keberatan kalau Seo Ah memanggilnya dengan ‘Chan Yeol-ssi’, tapi bukan berarti ia tidak suka ide Seo Ah itu. Ia sangat suka. Sampai-sampai tidak bisa melakukan apa-apa karena takut tubuhnya hancur meledak berkeping-keping saking senangnya.

“Chan Yeol Oppa.”

Ah, sial! Kenapa harus aegyo?!

                Melihat reaksi Chan Yeol yang diam saja dengan wajah kaku, Seo Ah semakin gencar menggoda pria itu. “Oppa….”

“Kenapa, Sayang?”

Keadaan berbalik. Sekarang Seo Ah yang menahan nafasnya dengan mata membulat. Dari ujung jempol kakinya sampai setiap helai rambutnya menegang. “Y-Ya! A-Apa-apaan itu?”

Chan Yeol terkekeh. Ia pun mengulurkan tangannya untuk mengacak poni Seo Ah. Aigu… ternyata menggoda Seo Ah adalah kegiatan yang paling menyenangkan. Lihat saja, wanita itu menggunakan banmal dan jeondaemal secara bersamaan.

“Kau harusnya berhenti menggunakan kalimat campuran seperti itu. Bicaralah dengan santai.”

Seo Ah memicingkan matanya. “Kau yakin? Aku bisa saja mengumpatmu kalau menggunakan banmal.”

“Kau kan sudah sering melakukannya.” Balas Chan Yeol. Ia kembali menyuap steak-nya.

Oppa….”

“Ya, Sayang?”

“Tidak adil!” Seo Ah memekik sambil menutup wajahnya dengan tangan. Niatnya ingin membalas ucapan Chan Yeol dengan—setidaknya—membuat pria itu mematung sejenak. Tapi gagal. “Kenapa kau membuatku seperti ini?”

Chan Yeol menggulung senyum sambil terus mengunyah. Seo Ah tidak tahu, kalau Chan Yeol sengaja mengalihkan diri ke makanan agar wanita itu tidak bisa melihat bagaimana gugupnya dia. Degup jantungnya selalu bekerja dua kali lebih cepat ketika mendengar Seo Ah memanggilnya ‘oppa’. Apalagi ditambah aegyo.

“Sepertinya kau harus menggunakan cara lain untuk menggodaku,” Chan Yeol tersenyum, lalu mengangkat pandangannya. “Sayang.”

Seo Ah menahan nafasnya. Oke… kesabarannya sudah di ujung. Ia tidak bisa terus-terusan mengaku kalah seperti ini. Bersikap sedikit ‘nakal’ Seo Ah pun melepas sepatunya. Ia kemudian mengulurkan kakinya itu di bawah meja, menyentuh anggota-paling-sensitif-yang-dimiliki-setiap-pria milik Chan Yeol. Wajah Chan Yeol kembali kaku, dan dengan mata garangnya ia menyuruh Seo Ah menghentikan aksinya itu. Tapi Seo Ah tidak mau mundur, ia malah tersenyum menggoda sambil mengerling genit.

“Seperti ini?”

Chan Yeol memejamkan matanya. Ia menghitung satu sampai sepuluh sambil mengatur nafasnya, mengurangi hasrat yang hampir menyentuh ubun-ubun. Tidak munafik, kaki Seo Ah ini membuatnya menegang, tapi Chan Yeol menahan diri untuk tidak terbawa suasana. Chan Yeol tidak mau dianggap psycho karena meniduri istrinya sendiri di atas meja ini.

Dengan rahang mengatup rapat, Chan Yeol memperingatkan Seo Ah. “Choi. Seo. Ah.”

I got you, Oppa!”

Tidak punya pilihan lain, Chan Yeol pun menangkap kaki ramping Seo Ah dengan sebelah tangannya. Perlahan ia menjauhkan diri dari kaki nakal itu. Tapi tidak hanya sampai sana. Berniat balas dendam, tangan Chan Yeol merambat naik, membelai betis Seo Ah dengan gerakkan menggoda. Dilihatnya Seo Ah yang menggigit bibir bawahnya untuk menahan desakan itu.

Stop there!” ucap Chan Yeol dengan suara rendah, tatapan matanya seolah ingin menyantap Seo Ah saat ini juga. “Or Oppa will make you scream right here, right now.”

Mendengar ancaman seksi itu, Seo Ah buru-buru menurunkan kakinya, melepaskan diri dari tangan sial Chan Yeol. Ia memakai sepatunya kembali. Tidak mau Chan Yeol melihat wajahnya yang memerah, Seo Ah pun memalingkan wajahnya ke arah laut. Tangannya tanpa sadar mengipasi lehernya sendiri, sambil bergumam tidak jelas.

“Haah… kenapa Busan panas sekali, sih?!”

***

                Mereka tidak pergi ke mana-mana lagi setelah sarapan, kembali ke kamar, lalu berangkat ke bandara. Tiba-tiba saja mereka tidak banyak bicara. Seolah adegan pagi tadi tidak pernah ada, mereka sama-sama saling diam dan hanya bergandengan tangan. Begitu erat—tidak mau melepaskan diri.

Pukul satu siang, mereka tiba di Bandara Gimpo.

Seorang pria paruh baya langsung menuntun mereka menuju pintu keluar, dimana mobil Chan Yeol terparkir. Mereka mengikuti langkah pria itu sambil masih bergandengan tangan. Entahlah, setiap langkah yang mereka pijak seolah jalan menuju kematian. Semakin menyesakan. Seo Ah pun tidak berani menatap wajah Chan Yeol. Ia takut jika melakukan itu maka tangisnya tidak terbendung.

“Ya?”

Seo Ah menghentikan langkahnya saat mendengar suara Chan Yeol. Dia sedang menerima telepon dari seseorang. Mata Chan Yeol sesekali melirik Seo Ah sambil terus mendengarkan lawan bicaranya berbicara.

“Baiklah, aku mengerti.”

“Kenapa?” tanya Seo Ah setelah Chan Yeol mengakhiri pembicaraannya.

“Aku harus pergi ke suatu tempat.”

“Ke mana?”

“Urusan pekerjaan.”

Itu bukan jawaban yang Seo Ah mau. Chan Yeol seperti ingin cepat-cepat mengakhiri topik ini, membuat sesuatu di dada Seo Ah berdenyut sakit. Sadar dengan tatapan khawatir Seo Ah, Chan Yeol pun menangkup pipi wanita itu dan membelainya lembut.

“Aku akan baik-baik saja.”

“Kau akan pulang, kan?”

Chan Yeol tersenyum, ia menghalau air mata yang hampir keluar dari sudut mata Seo Ah. “Iya. Aku janji.”

“Baiklah.”

Setelah memberi kecupan dalam di dahi Seo Ah, Chan Yeol menyerahkan tas dan paper bag berisi pakaian dan oleh-oleh dari Busan ke Supir Kim—pria paruh baya itu. Dengan berat hati ia melepaskan genggamannya di tangan Seo Ah. Seo Ah merasakan sesuatu seperti hilang dari raganya ketika Chan Yeol melepaskan tangannya, lalu berbalik, melangkah menuju sisi lain bandara. Lima langkah kemudian, pria itu berbalik lagi, memberi lambaian terakhir lalu melangkah dengan langkah yang lebar.

Seo Ah merasa langkah itu juga membawa prianya menjauh dari hidupnya.

Seo Ah tidak bisa mengalihkan pandangannya, ia terus mengikuti sosok Chan Yeol sampai pria itu hilang dalam keramaian bandara. Kakinya kaku seketika. Ia ingin mengejar Chan Yeol, memeluknya dari belakang sambil mengucapkan ‘jangan pergi’ berulang kali, tapi tidak bisa. Satu sisi hatinya mengatakan ia harus tetap tinggal dan menunggu, karena Chan Yeol pasti akan kembali padanya.

“Nyonya, bisa kita pergi sekarang?” tanya Supir Kim.

“Ah, iya.”

Tapi selama beberapa detik, Seo Ah masih menatap kepergian Chan Yeol. Sampai akhirnya ia bisa mengendalikan tubuhnya dan mengikuti langkah Supir Kim menuju mobil. Mobil yang biasa Chan Yeol pakai sudah terparkir di luar. Supir Kim membukakan pintu belakang, lalu Seo Ah pun masuk.

Seo Ah pikir setelah liburan ini, ia memiliki sedikit waktu bersama Chan Yeol sebelum akhirnya benar-benar terpisah. Meski dirinya tidak yakin akan melepaskan Chan Yeol begitu saja. Tapi setidaknya Seo Ah ingin bersama Chan Yeol lebih lama lagi. Satu hari tidak cukup. Mungkin ia membutuhkan beberapa tahun atau mungkin… seumur hidupnya untuk bisa melepaskan Chan Yeol.

Supir Kim masuk ke dalam mobil setelah meletakkan barang-barang di bagasi. Di saat itulah Seo Ah menyadari keberadaan sebuah amplop coklat di sebelah kursinya. Seo Ah meraih amplop itu, dan mobil pun mulai meninggalkan pelataran bandara. Membalik amplop itu, tubuh Seo Ah langsung menegang. Nafasnya tercekat di tenggorokan sampai ulu hatinya sakit. Dari Pengadilan Keluarga Seoul. Jangan bilang ini….

Dengan tangan gemetar, Seo Ah memaksakan diri untuk melihat isi amplop itu. Ia tidak yakin dengan matanya sendiri, karena kepala surat itu menunjukkan tulisan yang sama dengan apa yang ada di depan amplop. Seo Ah mencoba untuk tetap bernafas, dan ia berhasil mengeluarkan seluruh surat itu dari amplop.

Air matanya pecah seketika ketika apa yang ia takutkan menjadi kenyataan. Seo Ah menutup mulutnya dengan kedua tangan, membuat surat cerai dan amplop itu melayang jatuh. Namun sekuat apapun Seo Ah mencoba tegar, tangis memilukan lolos dari mulutnya. Kenyataan bahwa surat cerai itu sudah ditandatangani Chan Yeol—dan tinggal menunggu Seo Ah—membuat jantung Seo Ah berhenti berdenyut.

Dengan keadaan kacau, Seo Ah mencari ponselnya di tas. Ia mencoba mengontak Chan Yeol, tapi nomor pria itu tidak bisa dihubungi. Pria brengsek! Kenapa ia membiarkan Seo Ah menderita sendiri di sini?! Setidaknya, kalau mereka harus berpisah, Seo Ah ingin menangis untuk terakhir kalinya di hadapan pria itu. Ia ingin Chan Yeol mengingat tangisannya hingga pria itu tidak bisa tidur seumur hidup. Berpisah seperti ini membuat Seo Ah kehilangan hidupnya.

A-Ahjussi, bisakah kita kembali ke bandara?” sambil masih mencoba menghubungi Chan Yeol, Seo Ah berkata pada Supir Kim dengan nada gemetar. Ia hanya memaksakan diri untuk berbicara, karena sebenarnya tidak ada satupun kekuatan yang Seo Ah miliki sekarang.

“Maaf, Nyonya. Saya tidak bisa.”

“KENAPA?!” Seo Ah tanpa sadar berteriak, saking paniknya. “A-Apa Ahjussi tahu ke mana Chan Yeol oppa pergi?”

“Maaf, Nyonya. Saya hanya diperintahkan untuk mengantar ke rumah orangtua Nyonya oleh Park Sajangnim.”

Seo Ah kehabisan kata. Nafasnya lagi-lagi terhenti, bahkan sekarang ia tidak bisa mengedipkan matanya. Pernyataan yang baru didengarnya membuat hati Seo Ah mencelos. Chan Yeol benar-benar menyerah. Ia pergi meninggalkan Seo Ah seperti pria brengsek dan membuat wanita itu tidak akan bisa hidup benar. Sangat pintar! Menghilang dan membuat hanya Seo Ah yang terlihat menyedihkan di sini.

Bahu Seo Ah yang sempat menegang pun turun. Tidak ada jalan lagi. Ini akhir kehidupan pernikahannya. Belum genap setahun mereka bersama, mereka bahkan belum merasakan bagaimana pertengkaran suami-istri yang sebenarnya. Seo Ah menyesal telah menulis peraturan nomor sepuluh di surat ‘peraturan rumah’ itu. Harusnya ia mengiyakan saja saran Chan Yeol untuk tidak berpisah selamanya, dengan begitu Seo Ah bisa menuntut Chan Yeol ke pengadilan dan membuat pria itu kembali sambil bertekuk lutut untuk meminta maaf.

Tapi, waktu tidak bisa kembali, kan?

***

                Dua tahun kemudian.

Manhattan, New York City.

Akhir Januari, angin dingin menusuk sampai tulang. Ranting-ranting kurus bergoyang tertiup angin, menjatuhkan sisa daun yang masih bertahan. Asap putih tipis mengepul dari salah satu toko roti terkenal di 7th Avenue, mengundang orang-orang untuk masuk ke tempat hangat itu. Liburan musim dingin masih berlaku untuk sebagian orang, tapi beberapa orang malah sedang sibuk-sibuknya saat ini.

Seperti Seo Ah. Dinginnya musim dingin New York tidak main-main tahun ini. Ia baru saja keluar dari perpustakaan yang dilengkapi penghangat itu, tapi angin dingin itu langsung menampar wajahnya. Seo Ah pun merapatkan mantel, dan menaikan syalnya sampai menutupi sebagian hidungnya. Telinganya sedikit berdengung, hingga ia pun harus membenarkan letak rambutnya agar menutupi kedua telinganya.

Membuka kunci gembok di sepedanya, Seo Ah pun menaiki benda itu. Seo Ah sudah menyelesaikan tugas essay tentang sejarah musik abad 18 bersama teman-temannya di perpustakaan itu, dan sekarang berniat kembali ke apartemennya. Ini tahun kedua Seo Ah berada di New York. Setelah resmi bercerai dengan Chan Yeol, hidupnya menjadi kacau seketika. Ia hanya menghabiskan waktunya dengan melamun di kamar tanpa melakukan apapun, sampai dirinya tidak sadar kalau air matanya terus mengalir. Seo Ah bahkan tidak merasakan paru-parunya masih bernafas. Ia benar-benar mati rasa.

Melihat keadaan itu, keluarganya sangat prihatin. Entah ini disebut anugrah atau apa, Seo Ah pun diizinkan bersekolah di Juilliard, jurusan piano. Seo Ah—yang waktu itu sama sekali tidak bisa berpikir apa-apa selain Chan Yeol—mengiyakan begitu saja. Dan semua bergulir. Hari menjadi minggu, minggu menjadi bulan, sampai akhirnya dua tahun berlalu.

Meski begitu, ia masih sering mengingat Chan Yeol. Penyakitnya sangat parah. Sudah ratusan kali ia menyangka pria tinggi keturunan Asia yang ia temukan di jalan adalah Chan Yeol. Seo Ah bahkan hampir mengalami kecelakaan saat dirinya mendengar suara seseorang yang mirip Chan Yeol. Konyol! Seo Ah pikir setelah dua tahun, ia bisa melupakan Chan Yeol dan memulai sesuatu yang baru dengan orang lain. Jangankan melakukan itu, Seo Ah bahkan masih sering bermimpi buruk tentang perpisahan menyedihkan mereka.

Seo Ah mampir sejenak ke toko roti untuk membeli Sandwich Tuna favoritnya. Sudah hampir jam dua siang, dan ia melewatkan makan siangnya. Kalau ibunya tahu, ia pasti akan langsung ditarik paksa ke Korea lagi. Berbicara tentang keluarganya, kali ini Seo Ah diberi sedikit kelenggangan. Berbeda saat ia belajar di London, ibunya tidak sekhawatir itu, padahal keadaan Seo Ah saat berangkat benar-benar mengenaskan. Mereka hanya menelepon beberapa kali seminggu, meski tidak pernah putus berkirim pesan. Itu membuat Seo Ah sedikit lega. Setidaknya ia diberi waktu untuk menata dirinya sendiri.

Selesai membayar, ponsel Seo Ah berdering. Ia tersenyum melihat siapa yang menghubunginya. Oh Se Hun masih menjadi sahabat terbaiknya. Dia selalu menghibur Seo Ah di saat-saat terburuknya, memberikan lelucon tidak lucu yang anehnya selalu membuat Seo Ah tertawa, dan membantunya dalam hal yang tidak bisa Seo Ah lakukan sendiri. Seperti… mencari keberadaan Chan Yeol misalnya.

“Kenapa?” tanya Seo Ah, saat wajah Se Hun muncul di layar ponselnya. Ya, mereka melakukan video call.

“Aku sedang butuh kehangatan….”

Aigu!” Seo Ah menunjukkan kepalan tangannya pada Se Hun, dan pria itu tertawa. “Bagaimana kabarmu?”

Seo Ah menduduki sebuah kursi di luar toko roti agar lebih nyaman mengobrol dengan Se Hun. Se Hun, di sana, menyenderkan punggungnya ke punggung kursi. Dilihat dari sini, Seo Ah menebak kalau ia sedang berada di perpustakaan, di rumahnya. Mengingat ini sudah lewat tengah malam waktu Seoul, tidak mungkin pria itu masih berada di kantor.

“Sangat baik!” jawab Se Hun dengan senyum lebar. “Hanya sedikit pusing karena Direktur Lee mengajakku minum sedikit tadi.”

Seo Ah berdecak. “Ternyata setelah aku pindah ke sini, kau berteman dengan para orang tua, ya?”

Seo Ah mengenal Direktur Lee yang dimaksud Se Hun. Tidak banyak sih, tapi karena Se Hun terlalu sering mengeluh dan mengumpat Direktur Lee kepada Seo Ah, ia bisa menebak seperti apa orang tua itu. Kurang lebih sifatnya sama dengan Se Hun. Oleh karena itu, meski sering dibuat jengkel, Se Hun terlihat senang berteman dengan pria paruh baya itu.

Se Hun menghela nafas. Tidak seperti biasa, Se Hun tidak balik menimpali ucapan Seo Ah. Wajahnya pun berubah menjadi serius. “Chan Yeol datang ke kantor hari ini.”

Telinga Seo Ah berdengung—tidak yakin karena angin yang berembus kencang atau suara Se Hun yang tiba-tiba melengking sampai lima oktaf. Hanya mendengar nama Chan Yeol, seluruh tubuhnya tidak bisa berfungsi dengan benar. Memang, Seo Ah sendiri yang meminta Se Hun menyelidiki apapun tentang Chan Yeol, tapi tetap saja ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak terkejut.

                “Dan Golden benar-benar dalam bahaya sekarang.”

Se Hun mulai menceritakan kronologisnya. Meski ia tidak berada di Golden saat itu, ia mempunyai mata-mata ahli yang bisa melaporkannya serinci mungkin. Setelah kepergian resmi Chan Yeol dari Golden, perusahaan besar itu sedikit goyah. Bahkan mereka tidak menyadari kalau Se Hun—dari pihak Sungjin—mengirimkan mata-matanya ke sana. Golden diambil alih oleh putra kedua keluarga Park, dengan kata lain Park Sang Yoon. Memang mereka mengalami beberapa peningkatan, tapi kerugian yang mereka tanggung juga tidak sedikit. Penyebabnya adalah orang dalam Golden sendiri.

Chan Yeol datang hari ini, saat rapat direksi berlangsung. Keberadaannya sempat ditolak, sebelum Yoo Ra angkat bicara dan mengatakan kalau dialah yang mengundah Chan Yeol ke sana. Seo Ah tidak mengerti sebagian ucapan Se Hun, yang hanya bisa ia tangkap adalah Chan Yeol akhirnya mengungkapkan siapa yang membunuh ibu kandungnya juga masalah kecelakaan tidak wajar kedua orangtuanya.

Hong Su Bin. Istri Park Sang Yoon-lah penyebabnya.

Hong Su Bin—yang juga masuk dalam jajaran investor Golden—terkejut dengan pernyataan Chan Yeol, dan mengatakan itu hanya akal-akalannya. Tapi Chan Yeol mempunyai bukti yang kuat. Sampai akhirnya Su Bin mengaku dan membuat Sang Yoon tidak bisa berbuat apa-apa ketika jaksa dan polisi masuk untuk menahan istrinya.

Hong Su Bin merasa terhina karena Park Yoo Chun—putra tertua dalam keturunan ketiga keluarga Park—harus mengalah dari Chan Yeol, yang notabennya bukan siapa-siapa. Ia rela mengotori tangannya dengan membunuh Seung Hyun agar Golden bisa turun kepada anak—atau suaminya—sebelum pria penyakitan itu menulis wasiatnya. Tapi semua terlambat. Su Bin pun murka dan melakukan apapun untuk menyingkirkan Chan Yeol. Termasuk percobaan pembunuhan dan melibatkan Keluarga Choi agar Chan Yeol menghilang dari Golden.

“Aku menyesal tidak melihatnya langsung. Pasti keren saat tiba-tiba jaksa dan polisi masuk, lalu menyodorkan surat perintah dan bang! ‘Anda ditangkap!’.” Wajah Se Hun berubah drastis setelah selesai menceritakan kejadian tadi siang. Ia belum menyadari kalau Seo Ah sudah terisak.

Y-Ya! K-Kau kenapa? Bukannya harusnya kau senang?” tanya Se Hun panik, ketika suara tangis Seo Ah terdengar.

“Aku senang….” Seo Ah menutup kedua matanya dengan sebelah tangan. “Aku sangat lega, Se Hun-a….”

Se Hun membiarkan Seo Ah menangis. Kalau ia ada di sana, Se Hun pasti sudah memeluk kepala wanita itu dan membiarkannya membasahi pakaian Se Hun dengan air mata. Melihat Seo Ah menangis adalah salah satu kelemahannya. Tapi ia tidak bisa berbuat banyak sekarang, terlebih itu air mata bahagia.

Seo Ah membersitkan hidungnya. Ia pun menghapus air matanya dengan kasar, lalu menatap Se Hun dengan rasa terima kasih yang besar. “Terima kasih, Se Hun-a.”

“Hm, bukan masalah.” Jawab Se Hun. “Dan, Seo Ah-ya, aku tidak yakin harus mengatakan ini atau tidak. Tapi intinya, kau tidak perlu mengkhawatirkan Chan Yeol lagi.”

“Perusahaannya berkembang dengan baik. Dan hidupnya juga membaik, setidaknya aku tidak pernah mendapat laporan dia tidak sadarkan diri di kamar hotel dengan pelacur.”

Ya!”

Se Hun memamerkan deretan giginya. Beberapa bulan yang lalu, Se Hun mengatakan kalau Chan Yeol memulai usahanya sendiri—sebuah perusahaan yang bergerak di bidang periklanan. Hal itu membuat Seo Ah sedikit khawatir. Ia takut Chan Yeol meminjam banyak uang dari bank, lalu usahanya itu tidak berjalan dengan baik hingga utangnya menumpuk. Imajinasi Seo Ah pun berkembang dengan membayangkan Chan Yeol hidup penuh alkohol, rokok, bahkan obat-obatan terlarang. Karena tidak ada yang berada di pihaknya, Chan Yeol menjebloskan diri dalam dunia malam yang gelap, sampai akhirnya bunuh diri.

Oke, Seo Ah tahu! Harusnya ia buat novel saja!

“Tapi percayalah, dia sangat baik sekarang.”

“Syukurlah kalau begitu.” Tapi aku tidak akan bisa berhenti mengkhawtirkannya, Se Hun-a—Seo Ah menambahkan dalam hati. Bukannya tidak percaya dengan ucapan Se Hun, tapi Seo Ah baru bisa bernafas lega kalau ia sudah melihatnya sendiri.

“Kalau begitu…” Se Hun bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari perpustakaan. “Kapan kau kembali ke Seoul?”

“Kalau aku sudah lulus.”

“Eiy…” pria itu meringis. Pemandangan di belakang Se Hun berganti menjadi kamar tidurnya. “Apa kau tidak bosan makan roti setiap hari di sana?”

“Aku serius. Aku akan kembali setelah lulus.” Seo Ah terkekeh.

“Baiklah, baiklah.” Se Hun pun merebahkan tubuhnya di kasur. “Omong-omong, hari Jumat ini aku akan bertemu wanita yang akan dijodohkan olehku.”

“Benarkah?!” Seo Ah menegakkan punggungnya. Ini benar-benar berita besar! “Akhirnya Oh Ahjussi sadar juga dengan kesialanmu itu, Se Hun-a.”

Aish, Wanita Gila!” Se Hun menggeletukkan giginya, tapi justru ekspresi marahnya itu membuat Seo Ah tertawa keras. “Lihat saja, kau pasti iri dengan calon istriku yang seperti model nanti!”

“Ya, ya, ya, terserah kau. Pokoknya selamat!”

Se Hun lagi-lagi meringis, lalu ikut tertawa bersama Seo Ah. “Sudah, ya, aku harus mendapatkan tidur tampanku. Dah!”

Se Hun tidak mengizinkan Seo Ah untuk menjawabnya dengan cacian, karena pria itu memutuskan panggilan sepihak. Seo Ah menghela nafas panjang, menciptakan uap putih yang membumbung di depan wajahnya. Perasaannya meringan, tapi tetap rindu itu masih ada. Hal yang paling ingin ia lakukan sekarang adalah memeluk Chan Yeol dan mengatakan ‘sugohaesso*’. Namun Seo Ah tertawa miris kemudian. Ia bahka tidak bisa menemukan Chan Yeol, bagaimana mungkin bisa memeluknya.

Seo Ah kembali mengendarai sepedanya sampai ke apartemen. Apartemen yang ia sewa tidak begitu jauh dari Juilliard, hanya membutuhkan waktu dua puluh menit dengan sepeda. Tidak begitu besar, tapi sangat nyaman untuk ditinggali. Ditambah dengan tetangga-tetangga ramah, yang kebanyakan juga siswa Juilliard dari berbagai negara. Seo Ah bisa belajar musik sekaligus banyak budaya di sini.

Setelah memarkirkan sepedanya, Seo Ah menaiki tangga sampai lantai tiga, tempat kamarnya berada. Kakinya sudah mencapai anak tangga terakhir saat ponselnya berbunyi. Bukan, kali ini bukan dari Se Hun, tapi dari salah satu temannya dari jurusan teater yang juga tinggal di lantai empat gedung apartemen ini.

                “Halo?”

                “Soya, apa kau meminjam kamus Bahasa Prancis-ku?”

Karena penyebutan nama Korea Seo Ah yang sedikit sulit di lidah orang asing, Seo Ah lebih sering dipanggil ‘Soya’ di sini. Terutama Ryan Erskine—orang yang meneleponnya. Sifatnya pecicilan, namun tidak suka repot. Berkali-kali Seo Ah mengajarkan untuk memanggil namanya dengan benar, dia tetap memanggil Seo Ah begitu, sampai akhirnya satu kampus ikut memanggilnya ‘Soya’. Setidaknya itu masih lebih bagus daripada ‘Soso’.

“Kamus? Entahlah….” Seo Ah menjawab sambil membuka kunci pintu apartemennya.

                “Bisa kau periksa dulu? Aduh… aku sangat membutuhkannya.”

Seo Ah terkekeh pelan. Sifat Ryan ini mengingatkannya dengan Se Hun. “Iya, iya, aku periksa.”

                “Tolong cepat!”

“Aku sedang memeriksanya, idiot!” tanpa melepas mantelnya, Seo Ah memeriksa meja belajar dan rak bukunya. Tapi ia tidak menemukan kamus Bahasa Prancis milik Ryan, hanya ada miliknya saja. “Aku tidak memilikinya. Coba tanya Jun.”

“Dia juga tidak meminjamnya.” Sahut Ryan. “Kau yakin sudah mencarinya dengan benar? Ah, aku akan ke sana sekarang!”

“Sudah kubilang tidak—“ Seo Ah menghela nafas ketika ucapannya terpotong dengan nada putus-putus. Benar, kan, orang ini terlalu mirip dengan Se Hun yang suka seenaknya.

Ting! Tong!

Seo Ah hampir melempar ponselnya ketika mendengar suara bel itu. Ia bahkan belum selesai melepas kancing mantelnya, tapi Ryan kunyuk itu sudah tiba. Heran, seberapa lebarnya kaki itu sampai-sampai bisa tiba di depan kamar Seo Ah dalam waktu kurang dari sepuluh detik. Apa pria itu punya kemampuan teleportasi?

Dengan jengkel, Seo Ah pun menghampiri pintu karena Ryan tidak berhenti menekan bel. Tanpa melihat dari lubang pintu, ia pun membuka pintu dengan kasar. Mulutnya sudah siap mengeluarkan kalimat umpatan dari seribu satu bahasa untuk Ryan. Begitu pintu mengayun terbuka, tampaklah sesosok pria tinggi dengan mantel hitam penuh dan sepatu hitam penuh salju. Umpatan di pikiran Seo Ah makin banyak. Untuk apa Ryan memakai mantel dan sepatu kalau ia hanya perlu menuruni satu lantai untuk sampai ke kamar Seo Ah.

“Kau tidak sabaran sekali, sih, Tuan—“ mata Seo Ah membulat ketika menyadari kalau pria itu bukan Ryan. “Park Chan Yeol?”


 

■■■

 

 

변태 (byeontae) : pervert—atau mesum

수고했어 (sugohaesso) : semacam ucapan reward ‘kau telah bekerja dengan baik’.

 

*sudah end kah? Mau begini saja? HAHAHAHAHAHA *ketawa jahat*

 

Gak kok enggak… aku buat satu tambahan lagi buat epilog.  Kalau bisa, minggu ini aku selesain juga. Hehehe. Pasti kezel kan, kecewa kan dengan endingnya?—bukan deng bukan ending. Kira-kira… happy ending atau enggak ya (bunuh saja author ini)

 

BTW, tadinya jalan ceritanya gak begini, tapi aku edit lagi biar puanjjjaaaaang. Dan ini versi non rated *ketawa licik* kalo mau ya… ngintip adegan anu di part ini, bisa berkunjung ke blogquuuu. Di mana? Di hatimuuu eyaaakk

 

Udah ah gak mau banyak ngomong. Nanti aja kalo epilognya udah terbit, aku ngoceh sepuasnya hahahaha

Regards: Ziajung (vanillajune.wordpress.com)

 

72 responses to “10 Steps Closer [10th Step]

  1. Salahakan aku ngedukung seoah sehun di akhir cerita kak huhuhu
    Sedih jg sehun mau dijodohin huwa
    Setidaknya happy ending kak yey

  2. ANDWAEEEEEEEE!!!!!
    Udah tamat ya? Ziajung, saranghae!!!! Terima kasih tidak membuatku nangis bombay di chapter ini. Buat ceritanya Sehun dong, Ziajung tapi yang masih satu masa sama cerita ini, ya, ya, ya. Buing buing….

  3. Akhirnyaaaaa muncul jg fanficnya dan aku ketinggalan ceritanya gara gara nontonin drama “W” 😂😂
    Di chapter ini bener bener ngaduk emosi si pembaca , dari yg seneng tiba tiba marah eeehhh trus berakhir melow . Bener bener kek naik roller coaster 😂😂
    Dan sampai sejauh ini bener bner daebaaakkk ceritanya 😍

  4. pasangan ini baru aja bahagia eh udah harus sedih lagi huhu author emng jago dah mengobrak-abrik suasana hatiku (?)
    eh eh eh tp ini beneran udh ending? kok gantung ya kyk hubungan aku ama sehun *loh *gajelas hehe
    eh ga deng ternyata author mau bikin epilog hehe maklum ga baca ps dr author wkwk
    oke deh sampe bertemu di epilog thor, bye hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s