10 Steps Closer [Epilog]

10-STEPS-CLOSER-POSTER-3

Ziajung’s Storyline©

Casts: Park Chan Yeol | Choi Seo Ah

Genre: Romance, Angst, Marriage Life

Prev: 10th Step

———————————————–

Epilog

Seo Ah yakin sudah menyalakan pemanas ruangan di suhu yang pas, tapi kenapa udara dingin masih menusuk kulitnya. Ia mendadak tidak bisa melakukan apa-apa ketika melihat Chan Yeol berdiri di depan pintu apartemennya—maksudnya… benar-benar Park Chan Yeol! Rasanya seperti sihir, sampai membuat Seo Ah merinding sendiri. Padahal beberapa saat yang lalu ia baru membicarakan pria itu dengan Se Hun, dan sekarang dia sudah ada di ruang makan apartemen Seo Ah, duduk di meja makan dengan matanya sesekali memperhatikan interior.

Ya… mungkin ini sedikit aneh bagi Chan Yeol. Apartemen Seo Ah jauh berbeda dari rumah mereka dulu. Di sini hanya ada satu kamar tidur, ruang tamu yang digabung dengan ruang makan, satu kamar mandi, dan dapur sederhana. Tidak ada perpustakaan atau home theater. Seo Ah hanya mengandalkan wifi untuk streaming drama dan menonton film, dan tumpukan buku di rak, di kamarnya. Meski Seo Ah sudah mendengar Chan Yeol sudah menjual rumahnya, tapi ia yakin kalau pria itu tetap hidup berkecukupan di sebuah apartemen yang jauh lebih mewah dari ini.

Seo Ah menghela nafas, lalu membawa dua cangkir cokelat panas ke meja makan. Melihat kehadiran Seo Ah, Chan Yeol berhenti menatap sekeliling. Tidak ada pembicaraan sejak ia memasuki apartemen ini. Seo Ah pun tanpa sadar mempersilahkan Chan Yeol masuk begitu saja, lalu menyuruhnya menunggu di meja makan sementara ia membuat minuman.

Chan Yeol tidak meminum cokelat panas yang Seo Ah sajikan, hanya menatap kepulan asap tipisnya dalam diam. Begitu banyak yang ia pikirkan, sampai tidak tahu mana yang harus ia olah terlebih dulu. Melihat Seo Ah benar-benar ada di hadapannya saat pintu itu terbuka langsung membuat otaknya beku—sebeku udara di luar. Jantungnya berdetak cepat melihat wanita itu baik-baik saja, tapi seluruh tubuhnya tidak bisa bergerak. Terlalu banyak reaksi yang terjadi di otaknya.

“Bagaimana perjalananmu?”

Setelah sekian lama saling terdiam, Seo Ah pun bertanya. Rasanya terlalu konyol kalau pertemuan pertama mereka setelah dua tahun tidak bertemu hanya diisi diam. Setidaknya ia harus menciptakan suasana yang… sedikit bersahabat untuk basa-basi.

“Begitulah.”

Seo Ah hampir mengumpat ketika mendengar jawaban Chan Yeol. Pria itu tidak berubah, masih suka menjawab dengan satu kata seperti itu. Lalu, Seo Ah tersenyum miris dalam hati. Ia masih mengingat hal kecil seperti itu ternyata.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Chan Yeol.

Sebenarnya, tanpa bertanya, Chan Yeol tahu kalau Seo Ah sudah berhasil hidup dengan baik tanpa dirinya. Tapi kenyataan itu juga membuat hatinya terpukul. Seo Ah mungkin tidak tahu bagaimana Chan Yeol bertahan hidup tanpa dirinya. Perpisahan mereka di bandara sudah menjadikannya menjadi pria paling egois di dunia. Ia hanya memikirkan dirinya sendiri—memikirkan bagaimana caranya untuk tidak melihat Seo Ah menangis karena dirinya.

Chan Yeol memperhatikan Seo Ah dari jauh, sampai mobil itu membawa wanitanya pergi jauh. Meski ia tahu bukan untuk selamanya, rasanya tetap menyakitkan. Bodoh sekali! Ia yang meminta wanita itu menjauh, tapi dirinya yang menangis duluan karena merindukan wanita itu. Namun bagaimanapun ia harus melakukan itu. Ia harus menjauhkan Seo Ah dari keluarga Park sementara dia menyelesaikan rencananya—mencari tahu sebuah kebenaran. Ia akan mencari tahu siapa yang membunuh ibu kandungnya, juga tentang kematian tidak wajar orangtua Park. Setidaknya dengan begini ia bisa menebus dosa kepada ayahnya.

“Ya, beginilah. Baik-baik saja.” Jawab Seo Ah. “Bagaimana denganmu?”

Chan Yeol tidak langsung menjawab, hanya menatap Seo Ah dan mendalami mata wanita itu. Sebulan pertama setelah perpisahan mereka, yang dilakukan Chan Yeol adalah mabuk-mabukan sambil menyesali kelahirannya. Ada baiknya kalau ia tidak dilahirkan, hingga tidak ada orang yang terluka karenanya. Lalu ketika ia mengingat senyum Seo Ah yang terakhir kalinya, ia menangis keras. Tapi, kalau ia tidak ada,ia pun tidak akan bertemu dengan wanita itu. Dan itu akan menjadi penyesalan terbesarnya. Dari sanalah Chan Yeol kembali membulatkan tekadnya. Ia menetap jauh di pinggir kota Seoul, menyewa sebuah flat kecil sambil menyusun rencananya.

Seo Ah menautkan kedua kakinya—gugup—karena Chan Yeol tidak juga menjawab. “Chan Yeol-ssi….”

“Aku merindukanmu.”

Nafas Seo Ah terhenti di tenggorokan. Ada gejolak aneh di dadanya saat mendengar Chan Yeol mengatakan itu. Sesuatu di perutnya terdorong naik dan membuat kepalanya ingin meledak. Semudah itu Chan Yeol mengatakan ‘aku merindukanmu’. Apakah dia tidak ingat bagaimana caranya dia meninggalkan Seo Ah?! Apa dia tidak tahu bagaimana Seo Ah bisa bertahan sejauh ini?!

“Lucu sekali.” Seo Ah mendengus, meski tenggorokannya masih tercekat. “Kau datang ke sini hanya untuk mengatakan itu?”

Meski berat, Chan Yeol tetap mencoba menatap mata Seo Ah. “Maafkan aku.”

Seo Ah tidak ingin mendengar apa-apa lagi. Usahanya untuk menata kembali perasaannya selama dua tahun ini rasanya sia-sia. Padahal ia sudah sekuat tenaga menahan air matanya saat Se Hun melaporkan tentang Chan Yeol, berusaha agar suaranya selalu terdengar ceria ketika sesuatu mengingatkannya dengan Chan Yeol, dan bahkan berusaha untuk tidak mengakhiri hidupnya. Dan ketika ia sudah cukup kuat, pria ini datang dan mengatakan ‘aku merindukanmu’ dengan mudahnya. Benar-benar lucu!

Seo Ah menggeser kursinya lalu berdiri. “Bisakah kau meninggalkan tempat ini? A-Aku… banyak yang harus kukerjakan.”

Tanpa menunggu respon Chan Yeol, Seo Ah berbalik menuju dapur. Ia harus melakukan sesuatu yang membuatnya terlihat sibuk, dengan begitu Chan Yeol akan pergi. Tapi sebelum Seo Ah menggapai konter dapur, sepasang lengan kekar melingkar di perutnya. Hangat nafas seseorang yang masih diingatnya, menggelitik leher Seo Ah, bersamaan dengan wangi maskulin yang bercampur bau rokok. Seo Ah sekali lagi jatuh pada hal-hal kecil itu. Paru-parunya seolah hanya terisi dengan aroma Chan Yeol. Egonya yang tadi memaksa untuk menjauhi Chan Yeol, kini tidak bisa berbuat apa-apa.

“Aku merindukanmu. Sangat.” Gumam Chan Yeol di bahu Seo Ah.

Seo Ah menggigit bibir bawahnya. Kumohon… jangan….

Saranghae.”

Seo Ah menutup mulutnya dengan telapak tangannya, berharap suara tangisnya tidak akan terdengar oleh Chan Yeol. Tapi tidak berhasil. Isakkannya semakin keras, sampai seluruh tubuhnya bergetar. Pelukan di perutnya semakin erat, seolah Chan Yeol mengerti kalau ia melepaskan Seo Ah, wanita itu akan terjatuh.

Seo Ah berbalik badan. Matanya sudah memerah, begitu juga pipinya. Hati Chan Yeol berdenyut nyeri melihat tatapan itu. Tangannya pun terulur untuk menyentuh wajah Seo Ah, namun Seo Ah sudah lebih dulu menjauhkan diri darinya.

“Kenapa? Kenapa baru sekarang kau datang?”

“Maafkan aku—“ begitu Chan Yeol maju selangkah untuk meraih Seo Ah, wanita itu kembali mundur.

“Kenapa kau datang di saat aku mulai belajar melepasmu?!”

Bohong. Seo Ah bohong besar. Ia memang selalu mencobanya, tapi juga selalu gagal. Ia selalu menahan tangisnya saat Se Hun menceritakan tentang Chan Yeol, namun setelah itu ia akan menangis keras di kamarnya. Ia pernah memarahi Se Hun karena terus memberinya kabar tentang Chan Yeol, namun ia sendiri yang menderita selama beberapa minggu sebelum akhirnya Se Hun kembali melakukan itu. Seo Ah tidak pernah belajar melupakan Chan Yeol. Kenangan pria itu selalu menempel di kepalanya, semakin lama semakin membekas.

“Maafkan aku.”

“KENAPA KAU TERUS MEMINTA MAAF, BODOH?!”

Pecah sudah semua. Seo Ah menangis keras sambil terus memukuli dada Chan Yeol. Rancauannya semakin tidak jelas. Ia meneriaki Chan Yeol dengan berbagai kalimat umpatan. Namun dalam amarahnya, sebenarnya Seo Ah sedang meneriakan isi hatinya—kenapa Chan Yeol tidak menghubunginya; cara perpisahan mereka yang sangat menyedihkan; dan apakah Chan Yeol hanya merindukannya sekarang. Lalu, ke mana Chan Yeol selama ini berada? Apa dia terlalu kuno untuk sekadar mengatakan ‘halo’ pada Seo Ah lewat telepon. Paling tidak kantor pos pun masih digunakan sekarang!

Ketika pukulan Seo Ah melemah, Chan Yeol pun memeluk wanita itu dalam lingkaran tangannya yang besar. Ia membungkus seluruh tubuh Seo Ah dengan erat. Tangisan Seo Ah pun teredam di dadanya. Chan Yeol menghirup aroma rambut Seo Ah dalam-dalam. Air mata Seo Ah yang menetes jauh lebih menyakitinya daripada pukulan Seo Ah.

“Maaf. Aku memang salah.” Ucap Chan Yeol. “Dan… aku merindukanmu.”

Seo Ah tersenyum sinis, tapi meski begitu tidak melepas pelukan Chan Yeol. “Mudah sekali, ya?”

“Aku akan melakukan apa saja agar kau memaafkanku.”

Barulah setelah Seo Ah mendengar jawaban itu, ia mendorong dada Chan Yeol. “Dua tahun bukan waktu yang sebentar, Park Chan Yeol!”

“Iya, aku tahu. Maaf. Aku ingin menebus semua kesalahanku.”

“Sudah terlambat.” Seo Ah membuang mukanya.

Sebenarnya, tanpa diminta pun Seo Ah sudah lama memaafkan Chan Yeol. Ia hanya tidak terima dengan dirinya sendiri yang begitu bodoh karena jatuh pada orang yang sama. Tidak menutup kemungkinan Chan Yeol kembali menyakitinya—atau bahkan meninggalkannya. Tapi Seo Ah tidak bisa. Jantungnya kembali berdetak dengan semestinya hanya dengan melihat Chan Yeol. Seo Ah merasa hidup kembali.

“Apa maksudmu?”

“Itu—“

Ting! Tong!

Ucapan Seo Ah terpotong dengan bunyi bel keras. Seo Ah mendesah lega di dalam hati. Ia belum menemukan kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Chan Yeol—bisa-bisa malah jawaban konyol yang keluar. Seo Ah harus berterima kasih kepada siapapun-yang-menekan-bel-apartemennya-berkali-kali-seperti-orang-idiot itu.

Seo Ah berjalan menuju pintu, lalu mengintip dari lubang pintu. Seorang pria berkulit pucat dengan rambut pirang yang khas berdiri dengan wajah gusar di depan pintunya. Ia masih terus memencet bel itu.

“Ryan—“

“Kenapa kau lama sekali, sih?! Aku kan sedang terburu-buru.” Pria itu langsung menerobos masuk di detik Seo Ah membuka kunci. “Aku sudah berkeliling—bertanya pada Kassy, Valent, bahkan Mr. Black, tapi mereka tidak memiliki kamusku. Aku tahu, kau pasti yang meminjamnya, kan? Ayo cari sekali—“

Ryan Erskine menghentikan gerak mulutnya ketika melihat sosok Chan Yeol yang berdiri di sebelah rak tv. Dahinya berkerut, tidak biasanya Soya menerima tamu seorang pria, apalagi sampai membawanya masuk ke apartemen. Dilihat dari penampilannya, pria itu juga dari Korea dan… ya lumayan. Tapi bukan hanya itu, tatapannya yang dingin sedikit membuat Ryan tidak nyaman.

Seo Ah memejamkan matanya saat Chan Yeol terus melemparkan laser dingin dari matanya untuk Ryan. Ia tidak bisa menghentikan pria pecicilan itu untuk tidak menerobos apartemennya seperti biasa. Tadinya Seo Ah ingin menahan Ryan sampai pintu saja, sementara dirinya mencari sekali lagi keberadaan kamus itu. Tapi memang dasarnya pria itu tidak sabaran, ia pun masuk begitu saja, seolah apartemen Seo Ah adalah jalan umum. Lihatlah sekarang. Chan Yeol mungkin saja bisa menebas leher pria itu dengan tangan kosong sekarang.

Ryan mendekatkan bibirnya ke telinga Seo Ah, meski matanya tetap melihat ke arah Chan Yeol. “Soya, who’s he?”

Seo Ah tidak tahu perisai macam apa yang digunakan Ryan, sampai-sampai tahan dengan aura setan Park Chan Yeol. Dan aura itu semakin menguat ketika Ryan berbisik di telinganya. Aish… bahkan pemanas ruangan saja tidak cukup untuk menetralkan kembali keadaan! Seluruh tubuh Seo Ah merinding sekarang.

“Em… Ryan perkenalkan ini Park Chan Yeol, dan Chan Yeol, dia Ryan Erskine.” Ucap Seo Ah dengan canggung. Ia berkali-kali memutar bola matanya untuk menghindari tatapan Chan Yeol.

Ryan mengulurkan tangannya kepada Chan Yeol sambil tersenyum lebar. “Ryan Peter Abigail Erskine.”

Kepala Chan Yeol berdenyut seketika. Kenapa Seo Ah selalu saja berteman dengan pria macam ini. Maksudnya, dengan sekilas pun Chan Yeol mengetahui sifat Ryan-siapa-itu sama dengan Se Hun.

“Park Chan Yeol.” Chan Yeol menyambut tangan Ryan, tapi tatapannya masih dingin untuk pria itu. “Suami Soya.”

Mata Seo Ah membulat. Apa-apaan pria ini! Bukankah sudah jelas mereka sudah bercerai?! Bahkan Chan Yeol yang pertama kali menandatangani surat cerai itu. Amarah Seo Ah pun memuncak, ia merasa dipermainkan.

Ya—“

                “Suami?!” Ryan menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Matanya ikut membulat karena terkejut. “Jadi ini alasanmu menolak ajakan kencan Yamada dan Liam?!” tanyanya retoris pada Seo Ah.

Keadaan memburuk. Satu yang ia pelajari ketika hidup bersama Chan Yeol adalah… jangan pernah menyebutkan nama pria saat sedang berduaan—karena itu sama saja menjemput ajalnya sendiri. Dan sepertinya Seo Ah harus menyiapkan pemakaman Ryan sebentar lagi.

                “Bukan begitu….”

“Ah, okey, okey, I got it.” Ryan mengangkat tangannya untuk menghentikan Seo Ah. “Kita akan bicarakan ini nanti, tapi aku harus mengambil kamusku.”

Tanpa pemisi, Ryan masuk ke kamar Seo Ah dan mengambil kamus Bahasa Prancis milik wanita itu. Seo Ah tidak bisa berbuat banyak, karena semakin cepat Ryan menyelesaikan urusannya di sini, maka hidupnya mungkin akan selamat. Sebelum menuju pintu, Ryan melirik Chan Yeol dengan senyum genit.

              “Maaf karena aku sudah mengganggu acaramu,” ia kemudian tersenyum kepada Seo Ah, mengacak poni wanita itu. “Bersenang-senanglah, Soya.”

Tepat saat pintu tertutup, puluhan anak panah menyerang punggung Seo Ah. Ia bisa saja tumbang kalau tidak berpegangan pada pintu. Suhu di ruangan ini turun sampai titik terendah, membuat Seo Ah tidak bisa berbalik sekalipun. Astaga… kenapa setan dari tubuh Park Chan Yeol sangat menyeramkan, sih?!

Sampai akhirnya, Seo Ah berhasil membalik tubuhnya dan berhadapan dengan Chan Yeol lagi. Seo Ah menelan air liurnya yang membeku dengan susah payah. “Dia benar-benar temanku.”

Tapi tatapan Chan Yeol tidak berubah. Ia masih mengerutkan dahinya.

“Aku serius! Dia dari jurusan teater, dan tinggal di lantai atas.”

“Apa dia sering datang ke sini?” tanya Chan Yeol dingin.

Seo Ah memutar bola matanya, berniat untuk berbohong tapi aura Chan Yeol begitu kuat memaksanya. “Ya… begitulah.”

“Dan sering memegang kepalamu seperti itu?”

“Chan Yeol-ssi…” desah Seo Ah. Ia tidak harus menjawab pertanyaan konyol itu, kan? Lagipula kalau Chan Yeol tahu siapa Ryan sebenarnya, ia akan kelewat malu. Seo Ah hanya tidak mau saja menjatuhkan harga diri pria itu.

“Jawab saja!”

“Dia gay.”

Ekspresi Chan Yeol tidak berubah, meski pernyataan yang dikatakan Seo Ah sudah meledak seperti bom atom. Jujur saja, waktu pertama kali Ryan mengatakan itu, Seo Ah hampir saja memeriksakan pikiran dan telinganya ke dokter. Barulah ketika ia melihat sendiri kejadian itu, ia mempercayai kalau dirinya tidak gila.

“Lalu?”

Leher Seo Ah kram seketika. Ayolah… Ryan itu gay! Dia tidak memiliki ketertarikan semacam itu pada Seo Ah, dan Chan Yeol masih marah?! “Dia benar-benar gay! Kau tidak paham?”

“Lalu itu alasannya kenapa kau tidak melarangnya masuk ke sini? Dia seorang pria dan kau wanita yang hidup sendiri di negara orang. Kau pikir, apa yang akan dilakukan pria itu, hah?! Ini negara bebas, apapun bisa terjadi. Kau seharusnya—“

Seo Ah menarik kerah turtle neck pakaian Chan Yeol dan membawa wajah pria itu mendekat padanya. Ciuman lembut Seo Ah berikan di bibir Chan Yeol, memaksa pria itu berhenti mengoceh seperti kucing ingin kawin. Oke, Chan Yeol kehilangan otaknya sekarang.    Tidak ada yang tersisa di otaknya, seolah ciuman Seo Ah—hanya bibir dengan bibir yang menempel—adalah api besar yang menghanguskan isi kepalanya. Suhu tubuhnya naik seketika, bersamaan dengan detak jantung yang rasanya ingin melompat keluar. Chan Yeol pun tidak bisa menggerakkan tubuhnya, termasuk berkedip.

Dirasa keadaan sudah terkendali, Seo Ah pun menjauh. Ia baru sadar apa yang dilakukannya lima detik kemudian. Seo Ah pun memekik kecil sambil menutup bibirnya sendiri dengan tangan, lalu mundur beberapa langkah. Sial! Ia lupa kalau hubungannya dengan Chan Yeol sudah jauh berbeda.

“M-Maaf. A-Aku… aku hanya….” dan Seo Ah tidak menemukan alasan yang tepat.

Entahlah, tubuhnya bergerak sendiri tadi. Itu bukan hanya sekadar untuk menghentikan ocehan Chan Yeol. Melihat bibir Chan Yeol yang terus bergerak entah kenapa menjadi pemandangan seksi untuk Seo Ah. Ah! Pasti ia sudah menorehkan sejarah jelek tentangnya di hidup Chan Yeol.

“Ya… kurasa aku harus… mencuci pakaian dulu.”

Grep!

Sebelum Seo Ah berbalik, sebuah tangan menangkap lengannya. Tangan itu lalu memeluk pinggangnya, membuat tidak ada jarak yang tersisa di antara tubuhnya dan tubuh Chan Yeol. Sungguh gerakkan yang di luar ekspetasi Seo Ah.  Seo Ah pun berdeham pelan untuk menghilangkan rasa gatal di tenggorokannya. Ia ingin berteriak—entah karena apa—tapi tubuh Chan Yeol seolah menahannya. Seo Ah pun hanya bisa menggerakkan bola matanya untuk menghindari tatapan Chan Yeol, meski akhirnya tidak berhasil. Ia kembali bertatapan dengan pria itu.

“C-Chan Yeol-ssi….”

Otak Chan Yeol yang mulai bekerja dengan benar, langsung menyuruhnya untuk tidak melepaskan wanita itu lagi. Bahkan untuk mencuci pakaian. Wanita itu sudah ada di hadapannya, hanya selangkah lagi agar bisa kembali menggenggam tangannya. Chan Yeol memang tidak menyebut masa lalunya adalah kesalahan. Justru masa lalu yang membuatnya berada di sini. Masa lalu yang sudah membuatnya terlahir kembali menjadi pria yang lebih kuat.

“Meski namaku masih sama, aku… bukan lagi seorang Park Chan Yeol yang dulu.” Ucap Chan Yeol, masih bertahan pada posisi itu. “Aku tidak lagi mempunyai Golden atau akses eksklusif. Aku bahkan masih mencicil apartemen dan mobilku.”

Meski Chan Yeol terkekeh di hadapannya, Seo Ah tidak bereaksi apa-apa. Ia hanya menunggu pria itu menyelesaikan ucapannya.

“Ini memang tidak pantas. Kau dan aku sudah berada di dunia yang berbeda, tapi kenapa aku tidak bisa menghentikan diriku sendiri?”

Sesaat setelah ia menyelesaikan semua urusannya di Golden dan kejaksaan, Chan Yeol segera meluncur ke New York dengan pesawat dengan jam terdekat. Sudah lama Se Hun mengatakan padanya kalau Seo Ah berada di New York sekarang, bersekolah di Juilliard. Chan Yeol senang karena akhirnya wanita itu dapat meraih mimpinya, tapi juga tertekan karena itu berarti sebagian kekuatan hidupnya berada jauh di sana. Oleh karena itu, setelah semua tujuannya tercapai, ia tidak mau membuang waktu lagi untuk merindukan Seo Ah. Ia harus mengobati penyakit ini.

“Aku tidak menyesali apa yang telah kulakukan,” Chan Yeol menghela nafas. “Tapi aku juga tidak bisa berhenti mencintaimu.”

Air mata Seo Ah kembali mengalir. Ia terisak sambil menggigit bibir bawahnya. Perasaannya tidak bisa berbohong sekarang. Rasanya luar biasa ketika tahu Chan Yeol sama menderitanya. Seo Ah sempat marah waktu itu karena Chan Yeol menyerah akan dirinya begitu saja. Tapi kemudian ia belajar untuk lebih kuat, untuk lebih bisa menata dirinya agar lebih baik. Dan ketika ia sudah mencapai titik itu, Chan Yeol datang dan kembali menggoyahkannya. Namun anehnya, amarah yang Seo Ah rasakan sangat hangat. Ia ingin sekali menyiksa pria itu seumur hidup dengan omelan-omelannya.

“Bisakah kita memulai dari awal lagi?”

Tangis Seo Ah semakin keras ketika mendengar itu. Ia pun meremas pakaian Chan Yeol untuk mencari pijakkan. “Kau tahu ini tidak akan mudah, kan?”

Chan Yeol mengangguk. “Aku akan berusaha. Kita akan berusaha.”

Seo Ah mengulurkan tangannya untuk memeluk leher Chan Yeol, dan di saat yang bersamaan, tangan Chan Yeol pun memeluk wanita itu dengan erat. Chan Yeol tidak peduli dengan jet lag yang masih membayangi kepalanya, ia juga tidak peduli punggungnya sakit karena memeluk Seo Ah yang lebih pendek darinya. Bersatu kembali dengan wanita ini jauh lebih penting dari apapun. Ia rela menolak tawaran Yoo Ra untuk memegang kembali Golden karena Seo Ah—Chan Yeol tidak mau lagi menyakiti wanita ini. Seo Ah adalah hidupnya. Seo Ah juga rumahnya. Sejauh apapun Chan Yeol melangkah, ia tetap akan pulang ke pelukan Seo Ah—tanpa alasan apapun. Ya, karena Seo Ah satu-satunya yang ia miliki sekarang.

Saranghae.”

Tidak ada yang jauh lebih bahagia saat mendengar suara lembut Seo Ah mengucapkan kata itu hanya untuknya. Chan Yeol menangis di lekukan leher Seo Ah, sekaligus menghirup aroma yang membuatnya hidup kembali. Masa-masa tidak bersama Seo Ah adalah masa terburuk dalam hidupnya. Ia tidak menyesal, tapi juga merasa senang. Bayangan Seo Ah yang menangis selalu berputar di kepalanya, membuatnya beberapa kali harus kehilangan pijakkan.

Dan sekarang… Seo Ah kembali menggenggam tangannya. Chan Yeol kembali mendapatkan wanita ini. Selamanya, ia tidak akan mengulang masa-masa itu. Karena Chan Yeol bahkan tidak akan membiarkan Seo Ah berhenti memikirkannya mulai detik ini.

 

-END-

——————————————

*ini bener-bener End loooohhhh HAHAHAHA

 

Kuselesaikan ini dalam satu malam!! Setelah membaca komik seharian kemarin, jadinya begini deng. Sooooo cheesy >< bagaimana? Bagaimana? Puaskah? Jangan pada minta mereka bikin dedek dulu yaaa hahahaha

 

AKU BERTERIMA KASIH BANGET SAMA KALIAAAAA OMG T.T makasih udah mau baca ff ini dari prolog sampe epilog, plus ekstra ekstra itu. Dari jaman ceritanya dibumbui komedi garing begitu sampe nangis-nangis #plak makasih bangetttt. terima kasih untuk bertahan demi keabsurdan Sehun-Seoa juga menahan diri untuk tidak membanting hp karena Jieun. Huaaaa aku sayang kaliaaaaan ><

 

Ini emang bukan ff chapter pertama aku, tapi rasanya kayak yang pertama diselesaikan dengan baik HAHAHA dan setelah ini mungkin aku jarang buat ff, karena udah mulai masuk kuliah T.T tapi aku akan coba nulis di sela-sela waktu. Dan rencananya mau buat ff Sehun-Seoa tapi yang ceritanya pilihan nomor 2 (buat readers yang tidak mengerti, mohon abaikan). Kapan ya mulainya? Hehe tak tahu, mau dimatengin dulu deh.

 

Oh, iya buat readers yang mau penjelasan lebih lanjut tentang hubungan Sehun-Seoa, klik ini yooo aku nulis penjelasannya di sindang.

 

Aduh…. pokoknya makasih besar untuk kalian. LOP YU PULLLL muach muaccchhh. DadaH!!!! Sampai ketemu lagi!! Tunggu aku yaaaa jangan bosen main ke sini lop lop lop

 

Regards: Ziajung (vanillajune.wordpress.com)

67 responses to “10 Steps Closer [Epilog]

  1. akhirnya pasangan chanyeol-seoah bersatu kembali
    epilognya kurang greget thor, tp gapapa lah aku cukup puas jg baca ff ini
    dari awal sampe akhir ini ff masih membekas bgt di hati *lebay
    di tunggu karya yg lainnya hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s