ALL I ASK [PART XIV] — by Neez

aias-copy

ALL I ASK

Oh Jaehee / OC || Kim Joonmyun / EXO Suho 

Lee Hana / OC || Baek Jinmi / OC || Kim Jongin / EXO Kai || Kim Jongdae / EXO Chen / Others

Alternative Universe, School Life, Family, Romance, Slight!Musical, Slight!Angst

PG || Chapters

Teaser || [PART I] || [PART II] || [PART III] || [PART IV] || [PART V] || [PART VI] || [PART VII] || [PART VIII] || [PART IX] || [PART X] || [PART XI] || [PART XII] || [PART XIII]

© neez

Beautiful Poster Cr : Kenssi at storyexo.wordpress.com

BETA : IMA

Jika dalam musikal, maka aktris dan aktor harus mengeluarkan seluruh jiwa dan raganya, melalui lisan dan bahasa tubuh, maka dancer seperti Hana dan Jongin hanya dapat menggerakan tubuh untuk menyampaikan maksud mereka.

   Jaehee selalu menonton pertunjukan Hana, dan meskipun ia tidak mengerti seni tari menari, ia bisa menyimpulkan bahwa Hana adalah seorang dancer yang handal. Kali ini, Hana menari sendiri, sebelum kemudian di penampilan keduanya ia menari berdua dengan Kim Jongin. Jaehee tidak tahu apakah ini karena penilaian subjektifnya setelah melihat mereka berdua di balkon lantai lima tadi, tetapi ada chemistry yang begitu kuat diantara mereka.

   Bahkan dari cara Kim Jongin itu menatap Hana saja sudah membuat Jaehee gemetaran. Jantungnya bahkan ikut berdebar-debar, padahal Kim Jongin dan Lee Hana tidak melakukan apa pun diatas panggung selain menari dan saling bertatapan. Ya, lagu yang mereka gunakan cukup sensual Leona Lewis I’m You, tapi tak ada kontak fisik yang benar-benar jelas, selain sentuhan—dan tidak dalam konteks seksual juga, namun tetap bisa membuat seluruh penonton menahan napas.

   Ketika musik berhenti mengalun, Hana dan Jongin sama-sama berdiri tegak dan membungkuk mengucapkan terima kasih, barulah para penonton seakan tersadar dari trans mereka saat menyaksikan pertunjukan Swan Princess melalui koreografi tari tersebut. Jaehee nyaris menjerit-jerit heboh saat melihat tangan Jongin diletakkan di pinggul Hana ketika keduanya sudah nyaris menghilang di balik panggung—mungkin hanya Jaehee yang memperhatikan, karena para penonton sibuk bertepuk tangan.

   ”Ah, sangat indah… sangat indah, jinjja.” Jaehee masih bertepuk tangan dan memberikan standing ovation, saat MC sudah kembali ke atas panggung. Ia kembali duduk dan memperhatikan sekitarnya. Sedih juga hanya duduk sendiri, karena biasanya jika menyaksikan sesuatu ia selalu bersama Hana, namun saat ini Hana yang tengah tampil, mau tak mau ia menyaksikan Hana sendirian. Tadi, setelah terkejut mengetahui bahwa Hana dan Jongin bergandengan tangan (mereka juga terkejut, apalagi Jaehee dan Joonmyun sedang berpelukan), mereka tidak bisa bicara banyak karena Jongin dan Hana mengusir dirinya dan Joonmyun untuk melakukan ’pendalaman chemistry’ katanya.

   Ya, setidaknya chemistry mereka berdua memang hebat. Jaehee diam-diam menoleh ke sebelah kanan jauh, dimana Joonmyun duduk mengapit Jongdae, bersama Kim Seolhyun. Ketiganya adalah teman Jongin, tentu saja mereka hadir untuk mendukung sang dancer. Jaehee mengembuskan napas berat, karena mengingat ucapan ayahnya lagi semalam.

   Sampai kapan pun ia takkan pernah bisa bicara dengan Joonmyun dihadapan orang banyak. Menyedihkan. Baru saja Jaehee mau menghela napas lelah lagi, ia melihat Joonmyun melirik ke arahnya dan memberikannya senyum singkat sambil mengedip, dan mendadak dunia jadi tidak terasa semenyedihkan tadi.

   Jaehee memutuskan untuk menghampiri Hana, setelah membeli seikat bunga yang dijual oleh para junior yang membuka stand di depan HHCC. Dan pemandangan di dalam kamar ganti yang menyambutnya membuat Jaehee iri. Hana, tengah tertawa duduk atas meja rias, kakinya yang menggantung mengayun-ayun seperti anak kecil, sementara Jongin berdiri disisinya, jarak mereka cukup dekat, sehingga keduanya berbincang pelan saja, dan hanya suara tawa mereka yang terdengar.

   Ragu menginterupsi, Jaehee berdeham sedikit hingga membuat pasangan itu menolehkan wajah mereka dengan cukup kaget. Hana tersenyum, dan meloncat dari mejanya, Jaehee bisa melihat tangan Jongin yang protektif menahan pinggulnya agar Hana tidak tersungkur, meski jarak meja rias dan lantai super dekat.

   ”Jaehee-ya~” Hana berlari menghampirinya dan memeluk sahabatnya itu. ”Kau menonton pertunjukan kami?”

   Jaehee menganguk, tersenyum lebar, mendorong bunga yang sudah ia beli untuk Hana. ”Ini untukmu.”

   ”Woah, terima kasih, Jaehee-ya…” Hana menerima bunganya dan merangkulnya, sama-sama menatap Jongin.

   Jaehee ragu-ragu tersenyum pada Jongin sambil meremas-remas tangannya. Ia tahu kalau Kim Jongin sedikit anti kepada dirinya di awal pertemuan mereka, dan mata Jongin yang tajam dan dalam juga membuatnya merasa sedikit terintimidasi.

   ”Kau sudah kenal kan, Jaehee.”

   Jongin mengangguk, ragu-ragu juga menatap Jaehee sebelum tersenyum kecil. Jaehee balas tersenyum dan berkata, ”J-jongin-ssi, tarianmu bagus sekali.”

   ”Terima kasih,” jawab Jongin sambil mengangguk sekilas.

   ”Jinjja, aku tidak berbohong atau… hanya mengatakan secara basa-basi. Mm,” Jaehee nampak ragu-ragu sebelum meneruskan, ”Aku sudah melihat banyak sekali dancer karena mengikuti Hana tampil. Tapi, aku belum pernah melihat dancer sepertimu, Jongin-ssi.” Alis Jongin terangkat naik, kentara sekali terkejut dengan kata-kata Jaehee, meski sedikit geli karena gadis itu nampak kesulitan menjelaskan kata-katanya sendiri. ”Hmm, seperti bicara. Entahlah, kalau kami yang belajar akting… kami harus menunjukkan akting kami dengan kata-kata dan sikap juga bahasa tubuh, mungkin lebih mudah dengan kata-kata tapi, menurutku jika berkata-kata melalui dance saja itu sangat susah. Dan kau melakukannya Jongin-ssi, jinjja. Aku sangaaaatt kagum padamu.”

   Kali ini wajah Jongin memerah.

   Hana tersenyum geli, mengeratkan rangkulannya pada Jaehee.

   ”Kau adalah dancer terbaik yang pernah aku lihat,” sebiji jempol dikeluarkan Jaehee dengan tampang polos ke depan Jongin. ”Hehehe…” dia terkekeh salah tingkah dan menoleh pada Hana yang pura-pura cemberut dan meletakkan wajahnya di bahu Jaehee, ”Jadi bukan aku dancer terbaik?”

   Jaehee tertawa dan menusuk pinggang Hana dengan telunjuknya, ”Mianhae, tapi aku harus jujur. Aku tidak mengerti dance sama sekali tapi menurutku Jongin-ssi sangat hebat. Dan chemistry kalian kuat sekali. Jinjja.”

   ”Terima kasih banyak, Jaehee-ssi.” Jongin tersenyum, kali ini benar-benar tulus dan penuh terima kasih, dan ia terlihat kehilangan kata-kata setelah mendengar ucapan Jaehee barusan.

   Hana berbisik di telinga Jaehee, ”Gomawo.”

   ”Eh?!”

 

*        *        *

”Dia kehilangan percaya diri ketika kompetisi dance di kelas dua, waktu itu punggungnya bermasalah, dan ia memaksakan diri. Kau tahu tipe dance Yixing bagaimana. Jadi, Jongin merasa terintimidasi dengan dance Yixing, sehingga merasa harus seperti itu juga. Padahal punggungnya sedang bermasalah,” jelas Hana panjang lebar setelah Jaehee menanyakan mengapa dirinya mengucapkan terima kasih setelah Jaehee memuji Jongin tadi, sekarang yang bersangkutan sudah pamit terlebih dahulu, menyisakan Hana dan Jaehee di kamar ganti. ”Setelah itu ia merasa Yixing lah yang membuatnya kalah dan membuat punggungnya sakit terus-terusan, aku mengerti beban yang ia rasakan, tapi menurutku setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Yixing hebat, Jongin juga hebat… dalam dua tipe yang berbeda. Kau memuji dirinya yang sebenarnya, meski dia tidak yakin dengan yang ia lakukan, dan kurasa kepercayaan dirinya semakin naik setelah kau bilang begitu tadi.”

   Jaehee mengangguk-angguk paham, memperhatikan Hana yang masih merapikan barang-barangnya setelah mengganti pakaian tampilnya dengan kaus biasa dan celana denim pendek yang memamerkan kakinya., sementara dirinya duduk di kursi.

   ”Kau tahu sekali tentang Kim Jongin itu, Hana-ya,” gumam Jaehee polos, ”Sampai-sampai kau tahu cara membuatnya kembali percaya diri.”

   Hana tertawa geli, ”Well, mungkin karena aku adalah dancer juga, dan sejujurnya meskipun dulu kami tidak dalam hubungan yang baik, aku jujur mengakui kalau dia adalah dancer yang baik.” Hana mengangkat bahu.

   ”Andai kau bisa seperti ini padaku,” desah Jaehee pura-pura kecewa.

   ”YAH!!!” omel Hana, pura-pura mau melempari Jaehee dengan botol lotion-nya dan Jaehee terkikik. ”Tapi, bukankah kau sudah memiliki seseorang yang bisa memompa percaya dirimu, eoh?” ujar Hana sambil memberikan cengiran mengerikannya.

   Jaehee menghela napas, mengibaskan tangannya. ”Percayalah, hubungan kami tidak seperti kau dan Jongin.”

   ”Memang hubunganku dengan Jongin seperti apa?” tantang Hana sambil berkacak pinggang. ”Jangan bohong, Oh Jaehee.”

   ”Aku tidak bohong.” Jaehee cemberut, seperti anak kecil, kembali memainkan jari-jarinya.

   Hana geli sekali melihat sahabatnya ini, tapi mengenal dan berhubungan dengan Jongin sudah membantunya untuk sedikit banyak mengerti kacamata hubungan Jaehee dan Joonmyun, walaupun ia cukup kaget juga mengetahui bahwa diam-diam Jaehee dan Joonmyun sudah sering berhubungan.

   ”Kalau begitu, sekarang ceritakan kenapa pentas kemarin, saat Joonmyun menggantikan Minseok secara tiba-tiba, kalian tetap bisa berakting dengan baik? Jaehee-ya, kau bahkan stress berhari-hari saat harus berciuman dengan Minseok. Tidak mungkin dengan Joonmyun yang baru latihan satu hari kau bisa begitu lancarnya. Aku tahu kau, Oh Jaehee~” tuding Hana dengan mata berkilat-kilat.

   ”Ah, Hana~” rengek Jaehee, seolah tertangkap basah.

   Hana tertawa, ”Yah! Aku kan tidak akan bilang pada siapa pun jika kau memang berhubungan dengan Kim Joonmyun. Aku hanya mau kau cerita, sebenarnya bagaimana kau dan Joonmyun itu?”

   ”Yah begitu,” Jaehee dengan sebal meremas-remas tangannya. ”Aku tidak tahu kenapa sejak awal dia merasa yakin dengan aktingku. Dia bilang aktingku bagus, aku hanya kurang percaya diri saja. Dia selalu membantuku berlatih…” Jaehee mempertemukan dua telunjuknya, dan bibirnya mengerucut seperti anak kecil.

   ”Hmm,” Hana mengangguk-angguk paham, sepertinya dan Jongin lah kira-kira. ”Lalu?”

   ”Lalu apanya? Ya sudah kami berteman sejak ia membantuku berlatih, Lee Hana.”

   ”Adegan ciumannya?” tanya Hana penasaran, alisnya terangkat-angkat. ”Kau dan Minseok saja butuh berapa lama agar bisa berciuman?”

   Wajah Jaehee memerah.

   ”Ayolah, Oh Jaehee, aku tidak akan bilang orangtuamu.”

   Jaehee meringis, ”D-dia juga yang mengajariku c-ciuman…”

   ”Mwo?!”

   ”Hanya karena aku latihan mencium vas bunga… makanya dia mengajariku!” Jaehee buru-buru merepet agar Hana tidak salah paham. ”Sumpah! Hanya sekali itu kami berciuman di luar latihan… eh tidak deh…”

   ”Mwo?! Kalian ciuman berapa kali?” desis Hana.

   ”Se-sebenarnya dia menciumku lagi setelah tirai panggung di tutup. Tapi, katanya hanya karena rasa lipgloss-ku enak, kok. Tidak lebih…”

   Hana mengelus dadanya sabar. Oh Jaehee ini bodoh atau polos?

 

*        *        *

Oh Mansion

Minggu, 21.00 PM KST

 

”Tuan Donghae, Tuan Muda sudah datang.”

   Donghae tersenyum dan memerintahkan kepala pelayannya untuk membawa tamunya masuk. Tak berapa lama kemudian, tamu yang disapa Tuan Muda oleh pelayannya tersebut masuk dan terkekeh dengan suara khasnya.

   ”Aigoo, akhirnya kau datang juga, sini peluk Samcheon.”

   Pria itu meletakkan tasnya dan menghampiri Donghae, sambil memberikan pria yang dipanggil Samcheon itu pelukan hangat. ”Apa kabar, Samcheon?”

   ”Baik! Sangat baik, apalagi setelah melihatmu datang. Aku sangat senang. Astaga, kapan terakhir kali kita bertemu, eoh?” Donghae melepaskan pelukannya dari pria muda yang tingginya sudah jauh melebihi dirinya. ”Astaga, aku tidak tahu kau tumbuh menjadi pria yang sangat-sangat tampan dan… kau main ke gym, ya?”

   Pria itu terkekeh, ”Samcheon bisa saja. Iya, hanya untuk menyeimbangkan gaya hidup. Aku terlalu banyak makan sebelumnya, Samcheon.”

   ”Dan kau sudah sangat tinggi sekarang, ya ampun…” Donghae benar-benar takjub dibuatnya. ”Kita hanya tidak bertemu satu atau dua tahun, dan kau sudah setinggi ini.” Pria muda itu kembali tertawa, ”Omong-omong terima kasih sudah mau kembali ke Seoul demi aku dan Haejin, ya.”

   ”Anhi, aku memang mau kembali ke Seoul, Samcheon. Memang sekalian saja menolong Samcheon dan Haejin Imo.”

   ”Keurae? Kau baik sekali… barang-barangmu sudah dibawakan ke kamar oleh Pelayan? Baguslah, kau sudah makan?”

   ”Sudah…”

   ”Mau istirahat atau bagaimana?”

   ”Aku mau bertemu Jaehee dulu, dia ada?”

   ”Ada, tapi kurasa dia sudah tidur.” Donghae menghela napas. ”Semenjak kejadian kemarin dia terus mengurung diri, dan keluar jika perlu saja. Kau adalah satu-satunya harapan kami.”

   Pria muda itu terkekeh dan mengangguk. ”Memang separah itu, Samcheon?”

   ”Yah begitulah, kami orangtuanya… kami tahu Jaehee bagaimana. Kami hanya tidak mau ada hal buruk yang terjadi padanya.”

   ”Hal buruk seperti… dia jatuh cinta pada anak keluarga Kim itu, Samcheon?”

   ”Iya,” Donghae mengangguk cemas. ”Kami tidak mau itu sampai terjadi. Sepertinya ia dan anak dari keluarga Kim itu sudah berteman.”

   ”Samcheon tau darimana?” tanya pria muda itu heran.

   Donghae meletakkan tangannya di bahu pemuda itu dan berkata, ”Nanti, kalau kau sudah punya anak, kau pasti tahu apa yang dirasakan anakmu tanpa perlu banyak bicara. Barangkali jika ia kembali bertemu denganmu, ia akan lupa…”

   ”Baiklah, Samcheon.”

   ”Kedatanganmu adalah kado paling spesial kami untuk ulangtahunnya.”

   Pemuda itu tertawa geli.

 

*        *        *

”Hai,”

   ”Hai…” senyum Joonmyun yang cerah menyapanya, Jaehee perlahan-lahan masuk ke balkon lantai lima dan menutup pintu belakangnya, lalu mendekati Joonmyun yang sedang memandang pemandangan halaman sekolah. ”Tidak melihatmu lagi setelah menonton pertunjukan Jongin dan Hana.”

   Jaehee terkekeh menggaruk kepalanya, ”Appa memintaku pulang.”

   ”Keurae?” tanya Joonmyun prihatin, ia menepuk-nepuk bahu Jaehee. ”Gwenchana.” Seolah tahu bahwa temannya itu sedang khawatir akan sesuatu, Joonmyun kembali menenangkannya. Dan Jaehee selalu merasa hatinya hangat jika Joonmyun tahu tentang dirinya tanpa ia perlu banyak bicara.

   Jaehee tersenyum kecut. ”Joonmyun-ah,” panggilnya.

   ”Hmm?”

   ”A…apa kita masih tetap berteman?”

   Joonmyun menoleh menatap Jaehee tidak mengerti, ”Apa maksudmu?”

   ”Kita… masih tetap jadi teman, kan? Walaupun dramanya sudah selesai?” Sebenarnya Jaehee berusaha sekuat tenaga agar nada bicaranya tidak terdengar seperti memohon, namun ia tidak bisa. Apalagi ekspresi melasnya.

   Joonmyun tiba-tiba menjitak kepalanya, tidak keras sih, tapi mampu membuat Jaehee membelalak dan meringis.

   ”Kau ini bicara apa? Kalau bisa malah kita harus tunjukkan pada orangtua kita kalau permusuhan mereka tidak masuk akal. Tentu saja kita tetap berteman, kau ini!” dengan gemas Joonmyun mencubit dua pipi Jaehee sehingga wajahnya melebar, matanya membelalak, mirip ikan fugu.

   Jaehee terkekeh, sambil menatap halaman sekolah dengan sedih. ”Kau tahu, kukira kau akan sakit hati dengan apa yang Appa-ku katakan padamu. Untuk itu aku minta maaf,”

   ”Anhi! Ayahku juga mengatakan hal jahat padamu, aku harusnya minta maaf.”

   Jaehee tersenyum geli, ”Appa-ku tidak tahu kalau kau adalah teman yang baik,” Jaehee menepuk-nepuk punggung Joonmyun, ”Dan kau adalah teman yang membantuku agar menjadi aktris yang baik, Appa-ku harusnya berterima kasih padamu.”

   ”Mereka hanya terbawa dendam pribadi saja,” kilah Joonmyun sambil bersandar dan menatap Jaehee, ”Menyebalkan ya, tidak bisa mengobrol santai di depan orang banyak?”

   Jaehee cemberut dan mengangguk. ”Aku masih mendapatkan bisik-bisik semua orang setiap berjalan.”

   ”Mereka hanya kagum padamu, Jaehee-ya.”

   ”Anhi, mereka membicarakanmu juga, Joonmyun-ah.”

   ”Jinjja? Wah, wanita telinganya memang luar biasa.”

   Jaehee cemberut dan Joonmyun kembali mengeluarkan tawanya yang selalu membuat hati Jaehee membuncah-buncah.

   ”Jongin dan Hana juga tidak bisa berteman secara terang-terangan, kok. Jadi bukan hanya kita yang bernasib sial,” beritahu Joonmyun sambil mencubit pipi Jaehee lagi. Sepertinya pipi Jaehee sudah jadi salah satu tempat favorit tangannya untuk singgah, karena lembut dan samar-samar ada wangi bedak bayi disana.

   Jaehee terkekeh mengangguk-angguk, ”Kau benar. Padahal sebenarnya tidak apa-apa juga mereka kalau mau berteman terang-terangan.”

   Tok. Tok. Tok.

   ”Omo!” Jaehee nyaris melonjak mendengar ketukan pintu balkon, dengan enggan ia buru-buru menjauh dari Joonmyun sebelum wajah Hana muncul dari balik pintu. ”Hana-ya… masuklah, masuklah.”

   Hana nyengir tapi menggeleng, ”Jaehee-ya, Appa-mu ke sekolah lagi.”

   ”Ne?!” pekik Jaehee kaget, buru-buru menoleh pada Joonmyun yang entah mengapa melihat ke segala arah seolah-olah mengecek apakah ada yang memergoki mereka di balkon yang seharusnya sepi ini.

   ”Makanya ayo cepat! Joonmyun-ssi, kau disini saja… tunggu beberapa lama barulah keluar, oke?” pesan Hana sambil menarik tangan Jaehee, yang menoleh dengan sedih menatap Joonmyun sebelum Joonmyun tersenyum dan mengelus kepalanya sambil melambai menenangkan gadis itu.

   Jaehee berusaha berjalan cepat mengimbangi langkah Hana sambil bertanya panik, ”Apa ada yang melihatku?”

   ”Entahlah, aku tidak tahu, Jaehee-ya,” jawab Hana pelan. ”Sebelum orang lain disuruh untuk memanggilmu dan melihatmu bersama Joonmyun, aku mengambil inisatif untuk memanggilmu duluan.”

   Jaehee menggigit bibirnya, panik.

   ”Dimana Appa?”

   ”Di ruang kepala sekolah, aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi sepertinya tidak ada pertengkaran.”

   ”Kau yakin?”

   ”Yakin! Tidak ada suara-suara marah atau apa kok,” gumam Hana ketika keduanya berbelok di koridor yang dipenuhi murid berlalu-lalang.

   Jaehee tiba di depan ruang kepala sekolah dan meneguk ludahnya dalam-dalam sebelum mengetuk pintunya beberapa kali. Guru Kwon muncul membukakan pintu dan tersenyum, sebelum menoleh ke belakang dan memberitahu, ”Kepala Sekolah, Tuan Oh, Nona Jaehee sudah datang.”

   ”Ah ya, persilakan masuk, Guru Kwon.”

   Hana mengepalkan tangannya dan berkata, ”Hwaiting!” sebelum Jaehee mengangguk dan masuk ke dalam. Betul kata Hana, tidak ada pertengkaran, dan Jaehee heran sendiri melihat ayahnya tersenyum sambil menikmati secangkir kopi dengan Kepala Sekolah Jung.

   ”K-kepala Sekolah Jung, memanggil saya?” tanya Jaehee pelan.

   Kepala Sekolah tersenyum dan menunjuk ayahnya, ”Ayahmu ingin bertemu denganmu. Beliau juga meminta izin padaku untuk mengundang seluruh sekolah pada pesta ulangtahunmu minggu depan, Miss Oh.”

   ”Ne?!”

   Donghae tersenyum pada putrinya, ”Kau lupa sebentar lagi kau ulangtahun, Jaehee-ya? Aigoo… anak ini, dan Appa sudah meminta izin untuk mengundang satu sekolah agar datang ke perayaannya.”

   ”Tetap saja kau tidak akan mengundang keluarga Kim kan,” sindir Kepala Sekolah Jung dengan senyum manis penuh artinya.

   ”Oh, kalaupun aku mengundangnya… Kim Joonmyun tidak akan pernah datang karena kedua orangtuanya takkan mengizinkan,” jawab Donghae kalem, seakan sudah bisa menebak masalah ini akan keluar dari mulut Kepala Sekolah Jung. ”Dan Jaehee-ya, Appa sudah punya kado untukmu, Sayang.”

   ”Kado apa?”

   ”Kadonya ada di sekolah ini, carilah diluar sana… dan kau boleh membagikan undangan ini,” ayahnya menunjukkan tumpukan undangan indah berwarna biru icy yang dililit dengan pita. ”Ini untuk kelasmu. Untuk kelas-kelas lain, Appa sudah meminta tolong pada Guru Kwon untuk menyerahkannya.”

   Dengan bingung Jaehee meraih undangan-undangan tersebut yang diletakkan di dalam goodie bag yang cukup besar.

   ”Nah sekarang kau keluarlah, cari kadomu diluar sana, sementara Appa dan Kepala Sekolah Jung masih ingin berbincang.”

   Jaehee mengangguk, membungkuk sebelum Kepala Sekolah Jung mengisyaratkannya untuk tetap diam di tempat, ”Tunggu sebentar, Tuan Donghae, saya harus mengatakan ini kepada Anda sebelum Anda kembali menuduh saya seperti kemarin.” Nadanya ringan dan terkesan main-main, namun tentu saja menyindir, meski ayahnya tenang-tenang saja, ”Setelah ini akan ada sebuah kompetisi antara sekolah-sekolah seni di Korea Selatan, dan para murid-murid berbakat akan dikirim mewakili Hanlim untuk mengikuti kontes tersebut. Karena Miss Oh adalah salah satu murid berbakat Hanlim, maka saya ingin ia berangkat.”

   Donghae berdeham dan mengangguk, ”Tak masalah, selama Putriku setuju.”

   ”Baiklah kalau begitu, Miss Oh, kau boleh pergi.” Kepala Sekolah Jung tersenyum penuh arti pada Jaehee yang mengangguk dan masih bingung keluar dari dalam ruangan.

   Hana masih menungguinya, sambil memainkan ponsel, ia menoleh dan buru-buru menghampirinya. ”Bagaimana? Apa yang terjadi di dalam? Kau tidak ketahuan sedang bicara dengan Joonmyun, kan?” bisiknya.

   Jaehee menggeleng tanpa semangat, ia mengangkat goodie bag di tangannya.

   ”Apa ini?”

   ”Undangan ulangtahun,”

   ”Siapa yang akan ulang… OMO! Kau kan ulang tahun minggu depan, woah… daebak! Donghae Samcheon kesini untuk mengantarkan undangan saja?” Hana mengambil goodie bag di tangan Jaehee dan memeriksa isinya. ”Ini untuk kelas kita?”

   Jaehee mengangguk, ”Seluruh sekolah akan diundang, begitu kata Appa. Makanya dia datang dan minta izin pada Kepala Sekolah Jung.”

   ”Daebak! Kau mau hadiah apa, Oh Jaehee?” tanya Hana bersemangat sambil melihat-lihat isi goodie bag tersebut.

   ”Entahlah,” dengan tidak minat Jaehee mengangkat bahunya.

   Ulang tahun selalu menjadi hari yang paling Jaehee tunggu-tunggu, seperti anak-anak kecil pada umumnya. Tapi kali ini, ia tidak sesenang biasanya. Bukan karena ia takut bertambah tua, tetapi dengan fakta bahwa ayahnya akan mengundang seluruh sekolah, dan tentu saja Joonmyun tidak akan datang.

   ”Kenapa kau sedih begitu? Ulangtahun lho, Oh Jaehee…”

   Jaehee hanya terkekeh, ”Sudahlah, ayo kita kembali ke kelas. Oh iya, Appa tadi bilang dia punya hadiah untukku, dan hadiahnya ada disini. Apa itu?”

   ”Disini? Di sekolah?” tanya Hana balik.

   Jaehee mengangguk, mengernyit.

   ”Hadiah apa?” Hana ikut bingung.

   ”Entahlah, sudahlah kita kembali ke kelas, dan Hana-ya, kau saja ya yang membagikan undangannya.” Hana mengernyit, namun toh tetap mengikuti langkah Jaehee yang gontai menuju tangga yang akan membawanya kembali ke kelas.

    Berita mengenai pesta ulangtahun Oh Jaehee yang ke delapan belas menyebar dengan cepat karena para guru sudah membagikan undangan berwarna icy blue tersebut. Jaehee merasakan perubahan, dari yang tadinya orang-orang membicarakan soal aktingnya dengan Joonmyun tempo hari, kini mendadak berubah ramah dan bersikap baik kepadanya karena telah diundang ke pesta ulangtahun.

   ”Jaehee-ya~”

   ”Oh hai, Jinmi-ssi,” sapa Jaehee ketika keluar dari gedung sekolah dan mendapati Jinmi, yang diekori oleh Chanyeol dan Hyesoo.

   ”Terima kasih atas undangannya ya,” Jinmi melambaikan undangan ulangtahunnya.

   Jaehee tertawa sumbang, mengangguk-anggukan kepalanya. ”Sama-sama.” Jaehee menatap Chanyeol dan Hyesoo yang juga menggenggam kartu undangan dari ayahnya. Keduanya juga tersenyum dan mengucapkan terima kasih.

   ”Tapi, aku kesini bukan hanya untuk itu, Jaehee-ssi,” kata Jinmi lagi. ”Kepala Sekolah Jung memintaku untuk bertemu denganmu, kau… aku, Chanyeol, Hyesoo, akan diikutsertakan dalam kompetisi antar sekolah seni se-Korea Selatan.”

   Jaehee mengangguk-angguk, ”Ah ya, Kepala Sekolah Jung tadi bilang kepadaku.”

   ”Kalau begitu kita bertemu besok untuk berkumpul, aku tidak mengerti bagaimana teknisnya tapi Kepala Sekolah Jung memintaku untuk mengumpulkan murid-murid yang ia sebutkan namanya. Salah satunya adalah kau, Jaehee-ssi.”

   ”Oke, terima kasih Jinmi-ssi, aku akan ikut berkumpul besok.” Jaehee mengangguk.

   ”Eh, dan Jaehee-ssi…” Hyesoo tiba-tiba berkata sambil memandang secarik kertas yang ia pegang, ”Saat kami bertanya pada Kepala Sekolah Jung, beliau berkata kau mengenal pria ini, tapi kami tidak kenal… heoksi…”

   ”JAGIYA!!!”

   Belum sempat Jaehee maju untuk melihat kertas yang ditunjukkan oleh Hyesoo, tiba-tiba saja tubuhnya ’melayang’. Jika kau tahu apa maksudnya, karena mendadak, Jaehee diputar-putar di dalam pelukan seorang pria bertubuh super jangkung, dengan wangi yang sangat familiar. Jaehee mungkin akan menjerit jika ia tidak mengenal suara kekehan khas pria yang tengah memutar-mutarnya di udara kini.

   ”Turunkan aku!!!” desis Jaehee dengan malu, Baek Jinmi, Park Chanyeol, dan Ji Hyesoo kini menatapnya bingung. ”Yah, Oh Sehun, turunkan aku!!!”

   Pria bernama Oh Sehun itu barulah menurunkan Jaehee dari pelukannya.

   ”Ah jadi dia ini yang bernama Oh Sehun,” gumam Hyesoo menatap catatannya, ”Sehun-ssi, Kepala Sekolah Jung memintamu untuk ikut dalam kompetisi mewakili Hanlim besok. Err, tapi maaf, aku tidak pernah melihatmu sebelumnya.”

   Sehun, pria tampan dengan rambut yang disisir berantakan dengan jemarinya sendiri ke belakang tersenyum menatap tiga orang di hadapannya, dan merangkul Jaehee mendekat ke dalam pelukannya, ”Sama, aku pun belum pernah melihat kalian sebelumnya. Tapi, aku akan datang ke perkumpulan… apa tadi namanya? Besok, kan?”

   Chanyeol mengernyit, heran dengan tingkah pria di depannya ini.

   ”Ah ya, namaku Oh Sehun. Wajar kalian tidak pernah melihatku, baru hari ini aku menjadi siswa Hanlim, hai~” Sehun melambaikan tangannya pada tiga orang di depannya, dengan senyuman super cerah ala iklan pasta gigi, yang membuat beberapa wanita yang berlalu lalang berisik dan menunjuk-nunjuk ke arahnya.

   ”Mwo?! Kau jadi siswa Hanlim?!” jerit Jaehee tidak percaya, berusaha melepaskan diri.

   ”Iya, Jagiya… kau tidak bahagia, kah? Masih sakit hati denganku? Aigoooo, aku sudah jauh-jauh pindah dari New York kesini hanya untuk bersama denganmu. Kau harusnya terharu!” Sehun memeluk Jaehee erat-erat dengan gemas menggesek-gesekkan pipinya pada pipi gadis itu, memperlakukannya bak kucing piaraan, meskipun yang dipeluk terang-terangan memberontak, dan tiga orang dihadapannya menatapnya aneh. ”Eh, dia belum punya pacar, kan?” Sehun bertanya pada Jinmi, Chanyeol, dan Hyesoo tiba-tiba, sedikit menjauhkan diri dari Jaehee.

   Kompak, ketiganya menggeleng.

   ”Syukurlah, kau masih single, berarti aku masih bisa melakukan ini kan…” dan Oh Sehun memutar tubuh Oh Jaehee menghadapnya, tanpa memperdulikan seruan protes dan pukulan-pukulan dari gadis itu, Oh Sehun mencium Oh Jaehee penuh-penuh di bibirnya.

 

*        *        *

 

Joonmyun baru saja masuk ke dalam kelas saat matanya menangkap banyak kartu-kartu berwarna icy blue yang digenggam oleh teman-teman sekelasnya. Entah hanya perasaannya saja atau tidak, dia bisa merasakan bahwa atmosfer di dalam kelasnya penuh semangat. Jongin melambaikan tangannya, memintanya mendekat.

   ”Ada apa? Kenapa semua memegang kartu?” tanya Joonmyun penasaran. ”Apakah itu surat edaran?”

   Jongin menggeleng dan tersenyum, sedikit miris di mata Joonmyun. ”Itu undangan.”

   ”Oh undangan,” Joonmyun mengangguk-angguk duduk di kursinya dan mencari undangan yang dimaksud, tapi Jongin menggeleng, masih tersenyum. ”Wae? Mana undanganku? Undangan apa?”

   Jongin menepuk bahu Joonmyun, ”Ulangtahun. Kita tidak akan dapat undangannya, Joonmyun-ah.”

   ”Lho, kenapa?”

   ”Karena itu undangan ulangtahun Jaehee-ssi.” Jongin mengangkat bahu. ”Aku yakin dia sebenarnya mau mengundang kita semua.”

   ”Ah,” Joonmyun mengangguk-angguk, memperhatikan bagaimana semua orang membicarakan pakaian potensial yang akan mereka kenakan di acara ulangtahun. Dan sekilas ia bisa melihat samar-samar wajah Jaehee yang dipajang di dalam undangan tersebut, dan nama gadis itu yang diukir dengan tinta emas.

Oh Jaehee 18th Birthday Party

   ”Jadi ia dipanggil ke ruang kepala sekolah untuk ini?” tanya Joonmyun, berusaha memahami situasi dan sangat mengerti mengapa dirinya dan Jongin yang merupakan garis keturuan keluarga Kim musuh dari keluarga Oh tidak diundang. ”Apa Jongdae dan Seolhyun diundang?”

   ”Entahlah, aku belum bertemu mereka.” Jongin memperhatikan Joonmyun, namun sahabatnya itu terlalu pandai untuk menutupi ekspresinya sendiri. Maka, Jongin memutuskan memberikan kabar lain yang mungkin akan jauh lebih membuat mood Joonmyun naik. ”Tapi, ada kabar baik untukmu!”

   ”Apa itu?”

   ”Kepala Sekolah Jung bilang, akan ada kompetisi antar sekolah seni. Beliau ingin kau, aku juga… mewakili Hanlim untuk pergi ke kompetisi tersebut. Sepertinya akan ada beberapa orang lagi yang ditunjuk untuk mewakili Hanlim. Pokoknya, besok kita semua diminta berkumpul untuk membahas kompetisi ini.”

   ”Oh ya? Kompetisi apa?”

   Jongin mengangkat bahu, ”Kepala Sekolah Jung tadi hanya bilang bahwa kompetisi ini antar seluruh sekolah seni di Korea Selatan. Tapi kurasa di kelas ini hanya kita berdua yang ditunjuk oleh beliau.”

   ”Baiklah,”

   ”Kau baik-baik saja? Kau yakin Ibumu akan mengizinkan?”

   Joonmyun terkekeh, ”Mereka takkan bisa menghentikanku. Lagipula ini tahun terakhirku sekolah seni, Jongin-ah. Aku harus memanfaatkannya baik-baik.”

   ”Kim Jongin~”

   Joonmyun dan Jongin menoleh pada salah seorang teman sekelas mereka, Lee Jieun, yang tiba-tiba menghampiri. ”Kau kan murid dance, kudengar ada anak baru yang masuk Hanlim hari ini. Kau kenal dia?”

   ”Jinjja?!” kedua mata Jongin membesar. ”Aku tidak tahu soal ini, kau tahu?” ia bertanya pada Joonmyun yang menggeleng. ”Tidak tahu. Kau tahu darimana, Jieun-ah?”

   Jieun terkikik nyaring menutupi mulutnya dengan telapak tangan, dari situlah Joonmyun dan Jongin sadar, bahwa sebagian murid wanita di kelas mereka mendekat untuk ikut menguping pembicaraan Jieun dan Jongin. ”Kami melihatnya tadi… sekilas. Dia pindahan dari New York, katanya sempat berlatih di Juilliards.”

   ”Mwo?!” tanya Jongin nyaring. Potensi saingan bertambah.

   ”Jongin-ah, kenalkan dengan kami dong…”

   ”Dia tampan, lho~”

   ”Dan seksi…”

   ”Yah. Yah. Yah~” Jongin mulai mengusir para wanita dari tempatnya, ”Nanti kalau aku sudah bertemu dengannya, akan kukenalkan… sekarang aku belum kenal padanya oke, Gadis-gadis.” Para gadis itu meninggalkan meja Joonmyun dan Jongin masih sambil terkikik-kikik heboh. ”Aku bahkan baru dengar ada siswa pindahan. Aish!”

   Joonmyun menepuk bahu Jongin, “Kau tidak boleh selalu menganggap orang yang pandai dance sebagai saingan, Kim Jongin.”

   ”Arasseo,” Jongin mengangguk malas. ”Tapi dia pernah main di Juilliards, Man! Bagaimana mungkin aku tidak iri?!”

   ”Mungkin keahliannya berbeda denganmu, kita kan tidak tahu.”

   ”Kau benar,” Jongin tersenyum, mengangguk-angguk. Mulai bisa percaya diri, apalagi setelah mendengar pujian tulus dari seorang yang ia anggap musuh sebelumnya. ”Oh Jaehee-mu juga bilang begitu,” ledek Jongin.

   ”Mwoya?!

   ”Eyy, jangan mengelak, kau sudah tertangkap basah.”

   ”Kami hanya berteman! Dan jangan bicara soal ini keras-keras, bagaimana kalau ada yang dengar?” desis Joonmyun mendekatkan wajahnya ke arah Jongin saat bicara.

   Jongin dengan cuek hanya menatapnya meledek, ”Teman? Oke, teman yang berpelukan.”

   ”Jongin~”

   ”Apa? Aku kan mengatakan yang sebenarnya. Kau bahkan tidak pernah memeluk Joohyun sebelumnya.”

   Joohyun ya… kenapa nama itu terdengar asing? Batin Joonmyun sebelum menggeleng dan memutuskan mengabaikan sahabatnya yang terkekeh-kekeh geli, dan kembali fokus menghadap ke depan, kebetulan sekali Guru Kwon masuk.

   Seusai jam pulang sekolah, Joonmyun, Jongin, bergabung dengan Jongdae untuk pulang bersama-sama sambil membahas soal kompetisi antar sekolah seni, karena Jongdae mengatakan bahwa ia juga ditunjuk oleh Kepala Sekolah Jung untuk mewakili Hanlim. Jongdae juga mengatakan bahwa ia tahu dari Jinmi kalau Jaehee dan Hana juga ikut serta.

   ”Banyak sekali,” komentar Jongin sambil memasukkan dua tangan ke dalam kantung celananya, dan memandang lurus ke jalan setapak yang akan membawa mereka ke pelataran parkir dimana mobil Joonmyun sudah menunggu. ”Kau tahu siapa saja yang ikut, Jongdae-ya?”

   ”Hmm, kudengar Baek Jinmi juga ikut. Park Chanyeol, Ji Hyesoo… Zhang Yixing,” Jongdae mengangkat alis, mengharapkan Jongin mengerang—dan ia melakukannya meski kali ini tanpa makian-makian kotor yang keluar dari mulutnya, sementara Joonmyun terkekeh. ”Kemudian… kurasa Duo ByunDo juga… ah, dan anak baru itu!”

   ”Anak baru?” gumam Jongin heran. ”Anak yang baru masuk ke Hanlim sudah diikut sertakan mewakili Hanlim?!”

   Jongdae mengangguk, ”Tadi mereka menanyakan soal anak baru itu padaku. Tapi aku tidak tahu orangnya yang mana…” mereka berbelok di ujung dan dari kejauhan, mereka dapat melihat orang-orang yang baru saja disebutkan oleh Jongdae barusan; Baek Jinmi, Park Chanyeol, Ji Hyesoo, yang sedang bicara dengan dua orang yang memunggungi Jongin, Jongdae, dan juga Joonmyun.

   Salah satu dari dua orang yang memunggungi mereka cukup familiar, apalagi melihat tas ransel hitam kulitnya.

   ”Oh, kurasa dia anak barunya itu.” Kata Jongdae mengedikkan kepalanya.

   ”Dia anak barunya?” Joonmyun dan Jongin menatap cukup tertarik pada pria jangkung yang suara tawanya samar-samar terdengar ke tempat mereka berdiri sekarang. ”Gadis yang ada dipelukannya itu pacarnya?”

   ”Sudah punya pacar?” Jongin terbelalak, ”Man, gadis-gadis di kelas kita akan patah hati.” Sementara Jongdae tertawa, ”Eh, tapi gadis yang dipelukannya… bukankah itu… Jaehee?”

   Ketiganya membelalak saat pria jangkung itu menjauhkan tubuhnya dari Oh Jaehee yang terlihat bingung dan menciumnya penuh-penuh di bibir. Di tengah-tengah lapangan. Di hadapan orang banyak.

-Part XIV Kkeutt-

Yoohoo~

Masih belum capek kan sama AIA? Hihihi kemaren udah selesai capek-capek persiapan drama, bakalan ada satu kompetisi di depan yang bakalan ngabisin tenaga (tenaga nulis dan baca maksudnya) kayak persiapan drama musikal kemaren nih. Mudah-mudahan belum pada bosen ya, kalau ada yang bosen monggo boleh banget baca-baca yang lain dulu, atau baca [IM]Perfection #promosi

Kemaren bala-bala Oh Sehun, mana suaranyaaaaa? Sehunnya udah muncul tuh di atas, seneng gak seneng gak? Wkwkwkwkwk, siapa lagi yang di rikues mau muncul? LOL

Oke, sampai jumpa di part selanjutnya… ulangtahun Jaehee😉

bye yeom,

XoXo

Neez,

69 responses to “ALL I ASK [PART XIV] — by Neez

  1. Aku ganti display name nih kak dari syarifahkjm hhaaa

    Oh Sehun is coming!!! Aaa~~ swlalu suka kalo Sehub mmn jdi orang ketiga hhaa tgl nunggu dyo dan baekhyun kak.

  2. Itu sehun masih klan oh berarti masih keluarga kan ya? Sebenernya aq tiap kali baca nama oh donghae kok agak ganjal gmn gtu ya, lebih milih oh sehun aj buat jd appa nya tp ternyata si oh sehun mo dimunculin di part ini.. Moga part 15 cpt update ya… Makasi udh bikin ff yg awsomeee bingittt..

  3. Wahhh Kerennn banget.terus bagaimna dgn junmeon😃nih.bikin cemburu saja nih oh sehun nanti .Wahhh makin penasaran nih kedepannya d tunggu next chapter nya figting🙋🙋🙋

  4. Hihihi Jongin kayaknya gak sensi lagi deh sama Jaehee, syukur deh. Paling gak ada Hana-Jongin yang bisa ngedukung uri Romi and Yuli. Sehun jadi cast baruuu, wah runyum nih Jaehee-Joonmyun. Ditunggu kelanjutannya yaaa, semangat Kak Neez ^^

  5. Wah..Sehun mulai muncul 🙌🙌 Penasaran sama reaksi Joonmyun di part selanjutnya.. Dia beneran gk dateng ya di pesta ulangtahunnya Jaehee? Penasarannnnn.. ditunggu part selanjutnyaa 😁

  6. Sehun itu sebenernya siapanya Jaehee sih? Sepupu atau manatan pacar? 😑
    nah loh Joonmyun liat Jaehee dicium, pasti galau deh itu ntar.. hahahha..
    Semoga Sehun disini bukan jadi penghalang hubungan Jaehee sama Joonmyun..

  7. Aku super Senengggg!!😄 ada pacarku muncul wkwk
    Walau jadi saingannya Junmyeon, tapi aku seneng ada peran Sehun. Tapi teyap aku mendukung JJ couple😀

  8. Gue juga pikir kok sehun gak ada?? Tumben?
    Ehh taunya muncul juga… Tpi lngsung nyes gmna gtu.. Potek hati adek bang.. Secara bias gue…
    Tapi thor neez.. Krakter sehun yg cool , dingin hilang ya.. Pecicilan gaje bgt.. Hahaha ngakak so hard… Sehun mnang bnyak , lngsung bibir jahee… Pnsaran reaksi junmyeon.. Potek gak ya.. Hahaha

  9. se seee sehunnn sudah kuduga itu cowo sehun 😯 gimana kalooo sih joonmyun liatt itu sih sehun asal cium sih jaeheeee gimanaaa ini 😂😂😂 astagaahhh, semoga mereka Cuma sepupuan aj 😂😂

  10. Sudah kuduga itu sehuuuunnn 😍😍😍😍😍
    Yaampun itu anak siapaaa gak tau malu banget main sosor jaehee -_-
    Berharap semoga joonmyeon jeles uhuuuyyy wkwkwkwk
    Tapi disini jaehee sama sehun masih sodaraan kan ya?
    Duh kasian banget jongin sama joonmyeon gak dapet undangan wkwk sini bang adek undang ke rumah ajaa 😂😂😂
    Lanjut terus ya kakkk ditunggu banget pokoknyaa 💞💞💞

  11. wah……….Joonmyung ada oh sehun,danger danger joonmyungie,oh ah molla,ga tau mau komen apa,sehun itu siapanya jaehee si kok bisa ngelakuin hal itu didepan umum

    keep writing thor

  12. ASTAGA??!! Sehuun… kamu datang???? waaaaaah! aku antusias banget!!!😛 Joonmyun…. apkh ada benih kecemburuan???? Geregetan bgt sma Sehun dsni ya Allah pecicilan banget jd anak.. masa’ tiba2 nyium Jaehee begono??? aduh ini apa lg yg bkln trjd?? Ruwet sumah deh_ThorNeez, LOVE U😀 :*

  13. YEHETTTT. Uri Sehunnie, akhirnya bias kesayangan muncul juga. Wkw. Tp jgn jadi saingan junmyeon ya, jaehee cm buat junmyeon. Wkw. Jgn2 ntr jd saingan Jongin?? Makin seru deh crtanya. Semoga sehun nggk bikin jumyeon salah paham ya. Dtunggu next nya. Smgt kak^^

  14. ya allah dijamin joonmyun bakalan patah hati hahahahahaha sehun main nyosor aja ya kayak bebek.
    Btw ternyata jongin sama hana cuma temen aja? aku kira mereka udah jadi an. seCara ngeliat mereka kayaknya mesra banget gituuu 😂

  15. Seneng ada sehun disini hihi
    Kan sehun lebih keren dr joonmyun haha seriusan ini jujur aku (setuju kan kubu sehun???)
    Meskipun blm baca part yg di protek tp gapapa.. Masih bisa baca yg selanjutnya itu cukup. Aku juga ga maksa author buat kasih pw ke aku. Aku komen ya komen kok gapapa hihi
    Tetap semangkat kak ima ^^ ditunggu kelanjutannya.. Banyakin ff jaehee x joonmyun ya?? Hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s