[CHAPTER 1] FLUTTERING

CrPict: www.octopusslove.tumblr.com

Prolog | Chapter 1…

Before I met you,

I never knew what it was like to be able to look at someone,

and smile for no reason

*

2 Februari 2014

            Namanya Kang Nah Eul. Dia masih seorang siswa kelas 11 SMA Byunmoon, sebuah SMA swasta besar tapi bukan favorit di Seoul. Boleh di bilang SMA Byunmoon adalah SMA buangan untuk anak-anak yang gagal masuk ke sekolah-sekolah negeri atau sekolah-sekolah swasta besar nan digandrungi.

            Kang Nah Eul adalah siswa di jurusan sosial. Tahun lalu ia gagal mendapatkan skor agar bisa masuk kelas sains, seperti tuntutan kedua orang tuanya. Dan di semester ini, ia terdampar di sebuah kelas dua terujung. Kelas 11 E! Kang Nah Eul bukan anak yang pandai dalam bidang akademik, tapi dia disukai oleh teman-temannya. Boleh dibilang, ia tidak pernah menemui satu orang musuh pun selama ia bersekolah.

            Kang Nah Eul bukan dari keluarga kaya. Orang tuanya hanya pemilik rumah makan kecil yang tahun ini baru bisa membuat cabang baru di area Nonhyun dong. Dia juga gadis yang sederhana. Tidak pernah berlagak mewah. Satu-satunya yang bisa ia banggakan di hadapan teman-temannya hanyalah kenyataan bahwa ia adik dari seorang Kang Min Hyuk. Atlet renang muda yang sudah menembus kancah nasional.

            Setiap dua minggu sekali, ayahnya akan berangkat ke asrama atlet untuk menjenguk kakaknya di sana. Biasanya ayah akan membawakan beberapa keperluan kakaknya, seperti baju, makanan, dan beberapa hal lain yang memang sudah diminta kakaknya untuk dibawakan. Tapi, hari ini, ayah tidak bisa pergi sana. Sudah sejak kemarin yang lalu, ayah mengalami demam tinggi yang membuatnya tidak bisa keluar dari kamar, dan hanya bisa berbaring di atas tempat tidur.

            “Naheul ah…” Ibunya memanggil Naheul yang tiba di dapur untuk membantu. Ia baru pulang sekolah lima belas menit yang lalu. Seperti rutinitas biasa, sepulang sekolah, ia akan bergegas mengerjakan tugas rumahnya, lalu bergabung di dapur untuk membantu ibunya dan tiga karyawan mereka. Biasanya ia akan membantu sampai jam 4 sore, karena jam setengah 5 sore, ia memiliki jadwal bimbingan belajar.

            “Wae?”

            “Kau tidak memiliki bimbel, kan, hari ini?”

            “Ya, tidak ada.”

            “Kalau begitu, kamu bisa, kan, pergi ke asrama kakakmu? Ibu sudah menyiapkannya sejak dua hari yang lalu, tapi ayahmu sakit, jadi tidak ada yang bisa mengantar.”

            Naheul melirik sekilas kea rah keranjang yang dimaksud ibunya. “Geurae,” jawabnya tidak semangat. Dalam hati sebenarnya ia malas harus ke asrama kakaknya. Ia pernah sekali menggantikan ayahnya, waktu itu ayah dipanggil ke sekolah karenanya, jadi mau tidak mau ia yang harus menggantikan mengantar keperluan si kakak. Tapi, sesampainya di asrama, setelah menempuh lima belas menit perjalanan dengan bus, ia tidak serta merta bertemu dengan kakaknya. Saat itu, petugas penjaga asramanya mengatakan kakaknya sedang latihan, jadi tidak bisa diganggu. Jadilah Naheul menunggu hampir dua jam di ruang tamu.

            Sebenarnya, ia bisa saja menitipkan barang-barang itu kepada petugas asrama, tapi ia tidak bisa karena ibunya sudah berpesan, “Sampai kau bertemu dengan oppamu, jangan pulang dulu.”

            Naheul masuk sebentar ke kamarnya untuk mengambil jaket, lantas kembali ke dapur untuk mengambil keranjang dan sebuah tas ransel yang sudah disiapkan ibunya untuk kakaknya.

            “Aku pergi dulu,” teriaknya begitu sudah berada di muara pintu.

            “Nde… hati-hati di jalan.” Balas ibunya yang masih berkutat dengan kuwali besar di dapur mereka.

*

Setelah turun dari bus di halte terdekat, lantas berjalan kaki kurang lebih lima menit, Naheul akhirnya tiba di depan gerbang besar bertuliskan: Arama Sekolah Atlet Sungkyung. Naheul melangkah memasuki gerbang itu, dan tiba di asrama tempat kakaknya tinggal semenjak dua tahun yang lalu. Asrama itu tidak mengalami perubahan sedikit pun. Ia masuk, dan mendapati sebuah meja kecil di dekat pintu, yang merupakan meja untuk petugas penjaga asrama. Tapi hari itu, meja itu kosong. Tidak ada siapapun di sana yang menjaga.

            Naheul bingung. Haruskah ia berdiam saja di ruang tamu. Ia sudah beberapa kali menelpon nomor kakaknya, tapi tidak diangkat. Naheul tidak mau menunggu. Ia ingin segera bertemu kakaknya, lantas menyerahkan barang bawaannya, lalu pulang. Tapi kalau begini situasinya, Naheul harus bagaimana?

            Naheul mencoba menelpon lagi sekali, dan ternyata juga tidak diangkat.

            Jengkel, akhirnya Naheul memutuskan untuk masuk saja.

            Naheul tidak pernah masuk melewati batas ruang tamu sebelumnya. Ini adalah kali pertama ia menerobos asrama atlet, dan ternyata… asramanya lumayan bagus dan besar.

            Naheul kini berada di depan tangga menuju lantai dua. Di kanannya sebuah lorong, di kirinya juga lorong. Tapi, di ujung lorong kiri, Naheul melihat sebuah kolam renang yang cukup luas. Kemungkinan di sanalah tempat kakaknya sering latihan, jadi Naheul memutuskan untuk berbelok ke kiri. Tidak jauh melangkah, Naheul mendapati sebuah pintu yang bertuliskan: Ruang Ganti. Dan dari luar, Naheul bisa mendengar suara orang-orang yang tengah ramai bercakap-cakap di dalam. Berpikir jika kakaknya sedang berada di dalam ruang ganti, akhirnya Naheul memutuskan berhenti di depan pintu itu.

            Naheul tampak bimbang. Ia ingin mengetuk, tapi mengingat itu ruang ganti, dan seratus persen yang ada di dalam ruangan itu adalah laki-laki, Naheul menjadi sungkan.

            “Eottokhaji?” ucapnya gamang.

            Ia masih berdiri di sana, sampai pintu di depannya itu pun terbuka.

            Seorang laki-laki berbadan atletis kini berdiri berhadapan dengannya.

            Orang itu tampak terkejut dengan keberadaan Naheul.  Sama halnya dengan Naheul yang juga mematung menatap sosok bertubuh tinggi, besar, dan tegap kini tengah memandang ke arahnya.

            “Nugusaeyo?” Suara berat yang khas itu pun akhirnya menyadarkan Naheul.

            “Eng?”

            “Kamu pasti ingin menemui seseorang. Mau saya panggil—“ belum sempat orang itu menyelesaikan ucapannya, Naheul mendapati kakaknya muncul dari balik pintu.

            “Oh, OPPA!” Seru Naheul seraya mengangkat tangan kanannya.

            “Ya, Naheul ah! Neo eotteokhae yeogi—“ Kang Min Hyuk yang saat itu baru saja selesai di ruang ganti segera menghampiri adiknya. Ia ingin mencerca adiknya yang entah kenapa bisa menerobos masuk ke dalam asrama mereka, tapi begitu melihat banyaknya bawaan yang dibawa adiknya, juga menyadari keberadaan pelatihnya di antara mereka, Min Hyuk menahannya, “Oh, coach-nim. Jeo dongsaeng ieyo.”

            “Aaaah, geuraeyo,” balas orang yang dipanggil coach-nim itu seraya menganggukan kepala, lantas ia kembali tersenyum ke arah Naheul yang masih belum bisa melepaskan pandangannya sedari tadi.

            “Ya, neo! Insa hae. Ini pelatihku, tau!”

            Naheul lagi-lagi terbangun dari lamunannya, begitu kakaknya menyenggol tubuhnya.  “Annyeong hasaeyo,” Naheul memberi salam seraya membungkukan badannya, “Jeo neun Naheul ieyo. Kang Nah Eul. Jeo Kang Min Hyuk yeodongsaeng ieyo.”

            “Ah~, Kang Nah Eul ssi. Bangapdayooo…” balas pelatih kakaknya itu lagi dengan suaranya yang berat namun terdengar lembut. Tidak lupa bibirnya tipis dan kecil itu kembali menyunggingkan senyum manis kea rah Naheul. Yang lagi-lagi membuat Naheul serasa terbang ke awan.

            Naheul tidak habis pikir, bagaimana bisa sosok di hadapannya itu memiliki charisma yang benar-benar mematikan. Kharisma yang bisa membuat gadis ingusan sepertinya, terpesona hanya dalam satu kali adu pandang. Oh, Tuhan…. Bagaimana rasanya jika ia yang berada di posisi kakaknya. Memiliki seorang pelatih tampan berkarisma yang terus mengawasinya berlatih setiap hari. Pasti tidak ada dunia yang lebih indah daripada dunianya, jika memang khalayannya itu adalah kenyataan.

            Tuhan… tidak bisakah ia bertukar nasib satu hari saja dengan oppanya?

            “Naheul ah! Kkaja!” Ucap Minhyuk begitu mengambil alih bawaan Naheul ke tangannya.

            “Ye?”

            “Mwo? Kau mau berdiri di sini terus-terusan?”

            “Oh! Anhi! Kkaja!”

*

Kini Naheul sudah duduk bersampingan dengan kakaknya di ruang tamu. Syukurnya petugas asrama masih belum ada di tempatnya, jadi ia tidak akan mendapat masalah hanya karena adiknya yang kurang ajar sudah menerobos masuk tanpa izin.

            “Kau kenapa nekad sekali sih masuk ke dalam? Bagaimana kalau ada petugas? Bisa-bisa aku yang jadi imbasnya.”

            “Ya! Setelah jauh-jauh mengunjungimu, dengan keranjang dan ransel berat itu, kau menyalahkanku seperti ini? Kau tau bagaimana caranya berterimakasih tidak, sih? Lagipula siapa suruh tidak mengangkat telponku.”

            “Aku tidak menyalahkanmu. Aku hanya khawatir, takut-takut petugas nanti menangkapmu, karena kamu dikira pencuri atau penguntit. Urusannya bakal rumit. Lagipula sudah ada tulisan yang tertera di depan, bahwa batas kunjungan tamu hanya sampai ruang tamu. Tidak boleh masuk sampai ke dalam asrama.”

            “Sudahlah,” Nah Eul yang merajuk menyilangkan tangannya di depan dada. Menolak menatap wajah kakaknya.

            “Geundae, gomawoyo, sudah membawakannya jauh-jauh. Berat pula. Beri tahu eomma aku di sini baik-baik saja. Juga sampaikan ke ayah, aku selalu mendoakan kesehatan untuknya.”

            Naheul masih malas menanggapi, sampai akhirnya ia teringat sesuatu.

            “Oppa!” nada suaranya seketika berubah. Kini ia sudah mau menatap lurus ke mata kakaknya. Tangannya yang semula menyilang di dada, kini sudah turun, dan beralih posisi menggenggam lengan kanan kakaknya.

            “Wae?”

            “Yang tadi itu, … pelatih baru yang kau ceritakan waktu itu, ya?”

            “Ah…” Minhyuk menganggukan kepalanya sekali, “Nde, dia pelatih baru di sini.”

            Entah kenapa, sebuah senyum lebar terbit di wajah Naheul. Wajah yang semula tertekuk saat berdebat dengan kakaknya, kini menjadi cerah dan sumringan.

            “Neo wae?” Minhyuk sudah mencium gelagat aneh dari perubahan sikap dan ekspresi adiknya.

            “Namanya siapa?”

            “Entahlah…”

            “Opppaaaaa….” Kali ini Naheul menarik-narik ujung jaket kakaknya.

            “Waaaaaaeeeeee?”

            “Beri tahu aku siapa namanya? Uhm?” Naheul mengedip-ngedipkan matanya, mencoba aegyeo terbaik yang ia punya.

            “Sirheo!”

            “Aisssh…” Naheul menghentakan kakinya kesal. Dasar pelit, umpatnya dalam hati. Kakaknya memang menyebalkan. Bagaimana bisa bertukar nasib sehari dengan kakaknya, sementara dia minta diberi tahu nama pelatihnya saja, kakaknya tidak mau.

            “Sudah sana pulang! Jangan membuat eomma khawatir!” Minhyuk berdiri dari kursinya.

            “Opppaaaaaajebaaaaaaleoh?” Naheul mencoba merayu sekali lagi dengan mengatupkan kedua  telapak tangannya di depan wajah.

Tapi jawaban Minhyuk tetap…

            “Sirheo!”

            Naheul menghembuskan nafas kesal. Tapi, Minhyuk malah menarik tangannya paksa dan mengusirnya keluar.

            “Kka! Kka! Kka!”

            “NEO JEONG-MAAALL~“

            “Jangan ke sini lagi, oke?”

            “YAAAAAAKKKK!”

            Minhyuk menutup pintu masuk asrama tanpa menyahut apapun.

*

Minhyuk melangkah masuk, berniat menuju kamarnya di lantai dua. Masih menaiki anak tangga saat ia berpapasan dengan pelatihnya. Pelatihnya menegurnya dan bertanya,

            “Ah, minhyuk ah. Sebentar saja? Adikmu sudah pulang?”

            “Ah, ye. Dia sudah pulang.”

            Pelatihnya tersenyum. Menepuk pundak Minhyuk sekali, “Istirahatlah. 3 jam lagi kau harus berlatih. Kapan-kapan aku ingin mentraktirmu.”

            “Ah, ye. Gomapsumnida coach-nim.”

            Seperginya si pelatih, Minhyuk mencoba mengulang-ulang ucapan pelatihnya beberapa saat yang lalu. ‘Kapan-kapan aku ingin mentraktirmu.’

            “Na?”

            Minhyuk bertanya-tanya.

            “Pelatih So ingin mentraktirku?”

            “Woah. Bukan main,” ucapnya lantas melanjutkan langkahnya menuju kamar.

*

Next Chapter >

5 responses to “[CHAPTER 1] FLUTTERING

  1. Pingback: [PROLOG] FLUTTERING | SAY KOREAN FANFICTION·

  2. Pingback: [CHAPTER 2] FLUTTERING | SAY KOREAN FANFICTION·

  3. Pingback: [CHAPTER 3] FLUTTERING | SAY KOREAN FANFICTION·

  4. Pingback: [CHAPTER 4] FLUTTERING | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s