Limerence – 2

image

 

Limerence

Cast : Sehun and Miju | Genre : Romance | Rating : PG – 17 | Series

Disc : Terastory © 2016

Summary : “Ketika tidak bisa memiliki, maka kau harus melepaskan.” Tapi, Sehun tidak ingin melepaskan Miju sama sekali.

Teaser | Part 1

.

.

#2 After Tomorrow

 

Menonton Netflix atau tayangan ulang Running Man edisi TVXQ kedengaran menyenangkan untuk Miju, apalagi jika sudah dibarengi dengan coklat panas, dan selimut rajutan hadiah dari ibunya ketika dia baru berusia 2 tahun saat itu.

Well, biasanya itulah yang dia lakukan untuk membunuh musim dinginnya yang tak berkesan banyak. Tapi, menghabiskan musim dingin di pelukan Oh Sehun selama beberapa detik, agaknya bukan pilihan bagi Gong Miju, juga bukan favoritnya.

Posisi mereka benar-benar canggung. Terlalu intim. Terlalu dekat!

Maka sebelum otaknya kehabisan sinyal, wanita itu menjerit. Benar-benar menjerit sekencang mungkin, hingga Oh Sehun sendiri merasa dia akan tuli jika disuruh kembali mendengarkannya untuk momen kedua.

Rangkulan di pinggang Miju segera terlepas pasca kemunduran Sehun dari sisinya. Wanita itu pun mengkondisikan suaranya dengan mengatupkan bibir rapat di bawah tangannya, menahan agar mulutnya tidak semakin mempermalukan sang pemilik dengan teriakan yang mengalahkan suara kaleng rongsok.

Mworago?” Sehunlah yang pertama kali mencairkan suasana mengerikan itu bersama suaranya yang sedikit husky. Bahkan suaranya saja membuat Miju merinding dan frustasi.

Tidak adil betapa banyaknya sex appeal yang dimiliki satu orang jahat sepertinya. Dia nyaris sempurna jika saja otaknya tidak di desain atau digunakan membuat kehidupan orang lain menderita.

Miju mendengus kesal, melupakan ketakutannya kalau-kalau Oh Sehun tahu siapa dirinya.

Mata wanita itu sedikit berkabut, seolah dia tidak ada di sana. Dan lawan bicaranya menyadari meski belum tahu apa yang salah dengan wanita di hadapannya. “Memangnya siapa kau bisa menyentuhku?” dingin. Suara Miju terlalu dingin melebihi ekspektasinya.

Ketika dia menyadari kesalahannya, semua orang sudah menatapnya seperti cara Sehun memandangnya. Asing dan—dia tidak bisa menjelaskan hanya dengan satu emosi.

“Excuse me….” Tutup Miju.

Ya, dia harus menutupnya, saat tahu Sehun nampak tak mengenali Miju. Dan dia tidak bisa lebih banyak lagi menarik perhatian atau kedoknya benar-benar akan terbongkar. Jadi, secara teratur wanita tersebut menarik langkahnya, mundur mencari pintu keluar seraya berdoa tak ada yang mencoba menghentikannya atau—.

“Tunggu!” seseorang menahan lengannya. Memaksa ia harus memberikan perhatiannya pada si penginterupsi. Masih lelaki yang sama, Oh Sehun. Mata wanita itu turun pada tangan yang lagi-lagi berani menyentuhnya.

Sayang Miju harus mengendalikan hasratnya untuk menghempas tangan itu serta menampar wajah pemiliknya jika tak ingin berhadapan dengan pria-pria parlente pengawal Sehun. Napasnya bergetar ketika dia berusaha menetralkan kemarahannya yang entah muncul darimana—dendam masa lalu mungkin?

Sementara yang satu berperang menahan amarah, Sehun diam-diam mempelajari tiap detail profil wanita di hadapannya penuh kehati-hatian, seakan takut melewatkan sesuatu. Jauh di dalam kepalanya dia merasa sosok ini begitu familiar.

Apakah mungkin? Duga batinnya menerka.

Tak tahan terus berada dalam keterdiaman ini dan mendengar banyaknya suara yang mulai berspekulasi hal-hal aneh mengenai keadaan mereka, Miju membuka kedua bibirnya. “Bisa kau lepaskan aku sekarang, Tuan Oh?”

Suara lembut lagi tegas miliknya menghantarkan keanehan pada tubuh Sehun. Tidak tahu mengapa dia tidak suka jika wanita ini memanggilnya ‘Tuan Oh’. Dia ingin wanita ini menyebutkan namanya, dengan bibir yang sama berulang kali.

“Sehun—“ pria itu menjilat bibirnya. “—panggil aku Sehun. Dan tidakkah kau ingin berterimakasih?” sambungnya.

Dia menyadari ada yang aneh dengan dirinya, biasanya Sehun akan mati-matian menghindari kaum hawa karena perhatian berlebihan mereka padanya, tapi keadaan justru berbalik malam ini. Dan itu semua karena wanita yang bersikeras menolak menatapnya.

melalui jalinan bulu matanya yang lentik. Pada akhirnya, dia menegakkan tubuhnya, memutuskan lari dari situasi tak akan berarti apa-apa melainkan mengumpan diri semakin dalam pada rasa penasaran Sehun.

Hazelnya terang ditimpa cahaya lampu kristal, sorotannya tajam layaknya pisau yang ingin menguliti Sehun hidup-hidup. Menghadirkan adrenalin aneh padanya, adrenalin yang terlalu familiar.

“Kalau begitu terimakasih, Sehun-ssi. Bisa kau lepaskan tanganku?” ulang Miju.

Suasana di hall begitu kaku dan dingin. Mereka yang berada di sekitar seakan tersedot dalam pemandangan yang sama, menyaksikan bagaimana beraninya wanita itu dengan gencar menolak perhatian seorang Sehun.

Mungkin, jika itu wanita lain, mereka sudah berusaha menggoda Sehun dengan feromon mereka. Namun, jangan samakan Miju dengan para wanita itu, dia pernah melintasi batasan sisi Oh Sehun yang lain, dan tidak berminat untuk menyebrangi batasan yang sama.

Dia paham, jika menghindari masalah bukanlah jalan keluar terbaik. Wanita itu tahu. Tapi, semua yang terjadi malam ini merupakan hal yang berada di luar kuasanya, ini terlalu cepat. Setidaknya, mentalnya belum siap menghadapi Oh Sehun secara langsung.

Jika dulu dalam bentuk bocah Sehun begitu membencinya. Bagaimana dengan versi dewasa ini? Tak ada jaminan orang lain akan menyelamatkannya.

Miju hanya mencoba melindungi dirinya sendiri.

“Aku rasa kau bisa melepaskan tunanganku sekarang, Sehun-ssi.” Tiba-tiba pria lain datang dari lingkaran manusia yang mengelilingi keduanya. Rambutnya coklat tertata dengan bebas tapi tak terkesan berantakan, senyumannya terkulum manis, menyimpan pesan rahasia yang hanya dimengerti dua orang pria itu saja.

Wanita itu mengerutkan keningnya, merasa tak mengenali si penyelamat untuk dialamatkan sebagai tunangannya. Kebingungan itu nyatanya tak luput dari perhatian sang pria, dia melirik Miju menggunakan matanya dan memberi tanda padanya untuk mengikuti permainan yang dia mulai.

Ketika tangan Sehun melemah, Miju meloloskan tangannya. Stilleto-nya berbunyi menghantam marmer, menciptakan langkah menuju pria itu, serta merta melingkarkan tangan di lengannya. “Mengapa kau begitu lama, chagi-ya?”

Euwh, itu sangat menjijikan. Harus diakui. Tapi, demi menyingkirkan Oh Sehun.

“Maaf, chagi. Ayo, kita pergi.” Miju merasa ada benda kenyal menyentuh pipinya, dan refleks menatap pria yang baru saja menjauhkan wajah darinya. Kurang ajar sekali dia berani mengambil kesempatan di dalam kesempitannya!

Kalau tak ada rasa berterimakasih, tendangan Miju sudah lama bersarang pada posisi dimana matahari tidak terbit—ya kau tahu itu apa—milik pria itu.

Mereka meninggalkan Sehun yang terdiam, masih mencerna semua yang terjadi. Tangannya bergerak memberi tanda, dan seorang ajudan mendekati Sehun dari belakang. Rahangnya yang mengatup rapat kembali mengendur.

Selepas kepergian dua sejoli itu, suasana kembali seperti biasa. Orang-orang menganggapnya hanya salah paham sementara rasa penasaran mengundang sang pria Oh mengatur rencana. Suaranya turun beberapa oktaf, “cari tahu siapa yeoja dan namja itu.” Perintahnya.

“Ah, jadi MJ sudah bertunangan dengan Byun Baekhyun? Sayang sekali.” Tahu-tahu Kai—alias Kim Jongin—telah muncul di sampingnya. Di tangan ada segelas Martini yang hampir tandas.

Alis Sehun berkerut, gestur yang membuat Kai melanjutkan kembali kata-katanya. “yeoja yang kau tolong tadi namanya MJ, dan namja tadi adalah Byun Baekhyun, bocah yang selalu menempeli yeoja gendut incaranmu itu. Ah, bagaimana bisa Baekhyun mendapatkan yeoja secantik dan seseksi MJ?” ada nada penyesalan pada pertanyaan itu.

Sementara Sehun tahu benar Kai tidak betul-betul menyukai ‘MJ’ yang dimaksud olehnya. Tapi, tetap saja ada kejengkelan yang merongga di hati Sehun, khususnya saat Kai mengatai dia dengan sebutan gendut.

“Jaga bicaramu, Kim Jongin!”

Intonasi berbahaya dari bibir itu jelas-jelas peringatan mutlak untuknya. Kai mengangkat kedua tangannya ke udara, secara verbal mengatakan dia tidak bermaksud jahat.

Gelas martini terlupakan begitu saja. Si pirang menyerahkan gelas pada pelayan yang lewat di hadapannya. Berlaku penuh sebagai pendengar untuk Oh Sehun yang tak jua melepaskan pandangan dari arah kepergian Miju dan Baekhyun.

“Aku heran apa yang membuatmu tergila-gila pada Gong Miju. Sudah 15 tahun Oh Sehun. Grown up already….” Desahnya.

“Bukankah ini mencurigakan? MJ—“ bukan membalas perkataan Sehun, dia malah mengalihkan topik lain. “—jika Baekhyun bisa begitu protektif padanya seperti tadi, tidak menutup kemungkinan MJ adalah Miju.”

Kai berpikir kalau lawan bicaranya sudah gila, mana mungkin wanita sekelas ‘MJ’ yang elegan dan seksi disamakan dengan gadis gendut layaknya Gong Miju. Kemudian, sebuah fakta lain mengalahkan ego Kai, dan membuatnya berpikir rasional sesaat.

“Aku rasa tidak mungkin.” Dia masih ragu.

Apa mungkin Gong Miju melakukan operasi plastik? Tapi, mengingat keluarganya saja sudah jatuh bangkrut, Kai menyanksikannya.

Segaris asimetris melengkung di kedua sudut bibirnya, ada rasa bangga yang meletup dalam hatinya karena mengetahui apa yang tidak diketahui oleh temannya. Menyambar gelas vodka dari seorang pelayan, Sehun meneguk sedikit alkoholnya malam ini. Matanya menatap ke depan.

“Gong Miju-ku tidak sebodoh itu. Dia bukan wanita biasa.”

.

.

.

Di balkon yang menghadap ke arah kolam renang Hanshin yang diciptakan dengan melandaikan kontur tanah, Miju dan pria misterius itu akhirnya dapat memulai pembicaraan serius tanpa takut dengan interupsi pihak luar.

Wanita itu lekas melepaskan rangkulan si pria pada pinggangnya, matanya yang tajam kelihatan semakin tajam dengan eyeshadow polesan Hyemi. Ekspresinya justru semakin tegang saat kemarahannya dihadiahi sebuah tawa dari si pria.

“Oh ya ampun, Gong Miju. Tidak berubah banyak kurasa.” Tawanya.

Jantung Miju rasanya turun ke perut kala pria itu dengan lancar menyebutkan nama aslinya, sementara mereka belum bertemu kurang dari satu jam. Rona di wajah wanita itu lantas musnah. Ekspresi kehati-hatian menjadi kentara menggantikan kejengkelan yang barusan mengawang.

“A-apa aku mengenalmu?” Sungguh, dia takut jika orang di depannya merupakan salah satu teman Sehun atau Kim Jongin—atau siapapun lah yang dulu gemar membuat hidupnya berantakan.

Byun Baekhyun menghentikan tawanya, dalam sepersekian detik tatapannya sudah serius memaku pada Miju. Berpikir bagaimana bisa wanita ini lupa padanya?

Apakah pertemanan mereka di masalalu tidak cukup kuat?

“Teman macam apa kau? Kau tidak ingat anak lelaki yang selalu meminta jatah telur gulungmu ini?” tanya Baekhyun. Menyandarkan tubuhnya di railing. Bias-bias cahaya terpantul dari kolam renang.

Sebuah kepuasan hadir ketika mendapati mata Miju mulai membesar, seolah baru menyadari sesuatu. Dan dia suka saat senyuman lebar hampir merobek kedua pipi Miju yang sekarang tak lagi tembam layaknya dulu.

“BYUN BAEKHYUN! Ini benar kau? Astaga!” sesuatu hal yang tak dipersiapkan Baekhyun adalah, begitu Miju menerjangnya, memeluk tubuh yang lebih tinggi dari wanita itu erat—terlalu erat malah.

Tenaga Godzilla ini juga tidak hilang! Rengut Baekhyun melalui batinnya.

“Ya-Ya! Gong Miju—ohok—therhlalu erath-ohok!” tangannya menepuk-nepuk pelan bahu Miju agar bisa dilepaskan. “O-oh, mianhae, hehe.” Lalu dia membebaskan Byun Baekhyun dari pelukan mautnya.

Dia tidak bisa mengendalikannya saat bisa bertemu teman lama. Rasanya ada sesuatu yang meledak, apalagi menyaksikan jika satu-satunya teman prianya itu dalam kondisi sehat dan kelihatan bahagia.

Matanya melirik Baekhyun dari atas hingga bawah, terus berlanjut. Mengagumi kuasa Tuhan yang mengubah profil bocah ingusan khas sahabatnya menjadi lelaki maskulin dan—ekhem—tampan—ekhem—dihadapannya.

Daebak. Ratapnya di dalam hati.

“Gong Miju, casing-mu saja yeoja, tenagamu, ck!” pria itu menggelengkan kepala. “—masih tenaga sepuluh kuli bangunan. Aku heran kenapa kau tidak operasi kelamin saja di Amerika.”

Ih, Byun Baekhyun ternyata masih bermulut besar seperti dulu!

Tanpa tedeng aling-aling, Gong Miju memukul belakang kepala pria itu hingga wajahnya terdorong ke depan. Mata tajam Baekhyun melotot, tidak menerima begitu saja.

“Ya!” pekiknya.

Mwo? Kau ingin merasakan pukulan sepuluh kuli bangunan lagi? Iya? Katakan saja! Dan apa itu tadi? Kau mencium pipiku seenaknya! Byuntae!” dan dijawab oleh jeritan Miju.

Sesaat, hanya pertengkaran kecil yang timbul di antara kedua sahabat lama. Baekhyun yang berusaha menghindari amukannya, dan Miju yang kesal namun, senang. Tak pernah sesenang ini dalam beberapa tahun terbelakang.

Rasanya kekhawatiran wanita itu terlupakan, seolah tak ada yang perlu dikhawatirkan. Seandainya dia tahu jika ada ketenangan sebelum badai.

.

.

.

Ahra sebenarnya tidak menyukai sebuah klaim di kepalanya, jauh di dalam sana, bahwa dia bukanlah kakak yang baik untuk adiknya.

Di masa remajanya hanya ada keegoisan. Tidak barang sedikitpun dilihatnya sang adik yang selalu tertinggal dalam banyak hal, termasuk ketika mereka bersama-sama berangkat sekolah, yang jaraknya bahkan tidak sejauh 200 meter dari rumah besar mereka.

Buat Ahra, langkah Hyemilah yang patut dia kejar, tanpa menengok adiknya yang saat itu sedang terpuruk seorang diri. Dia tidak pernah tahu, saat tangannya menulis surat cinta untuk seorang pria setelah merasakan jatuh cinta pertama kali, Miju juga menggunakan tangan yang sama untuk menyeka airmatanya karena seseorang justru menyakitinya.

Kemudian, menginjak usia kuliah, dan Miju beranjak remaja. Tak seperti Ahra yang begitu genit saat seusianya. Ibu tiga anak itu tidak pernah mendengar Miju bertanya soal anak laki-laki, atau bagaimana caranya berdandan.

Dirinya pun tak tahu bagaimana Miju menghadapi menstruasinya pertama kali. Dia pikir gadis itu akan bertanya karena ibu mereka telah lama meninggal pada saat itu. Nyatanya, sampai berita keberangkatan Miju ke Amerika sampai di telinga kedua kakaknya tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut remaja yang beranjak dewasa tersebut.

Semuanya berlalu begitu saja setelah bertahun-tahun. Hingga kini disaksikannya sang adik tumbuh menjadi sosok yang begitu berbeda dan—jauh.

Bagian bawah gaun Ahra sedikit bergoyang sebagai efek langkahnya yang terhenti. Sebuah kilas balik masa-masa hidupnya juga ikut berhenti ketika disaksikannya senyuman yang sudah lama tak terlihat terkembang begitu jelas di wajah seorang Miju.

Mungkin, sebab instingnya sebagai seorang ibu telah muncul. Dia menyadari kelalaiannya selama ini. Terlalu sibuk menata hati pasca bangkrutnya perusahaan serta kehilangan sosok ibu, membuat Ahra lupa jika tidak hanya dirinya yang terluka.

Dia bahkan melihat ayahnya selalu menatap cemas pada Miju tiap kali ia dan Suho bertandang ke rumah bersama anak-anak. Kini—memahami tindakan keras ayahnya kepada mereka adalah untuk menebus kesalahannya, berharap mereka akan meninggalkannya membusuk sendirian di rumah kayu itu.

Ahra melupakan sakitnya dan memperbaiki hubungan dengan ayah, serta Miju. Dia ingin mereka menjadi lebih baik, keluarga yang hangat seperti keluarga yang coba ia bina dengan suaminya saat ini.

“Kau tidak tahu jika Miju dulunya ditindas oleh teman-teman sekelasnya karena ulah beberapa anak nakal di kelas mereka?” Suatu hari, Im Yoona berkata kepadanya.

Kalau saat itu dia masih Gong Ahra yang dulu, bisa saja dia menganggapnya hanya kenakalan anak kecil. Dan berpikir Miju akan baik-baik saja setelah waktu berlalu.

Maka dia bersyukur dia bukan lagi Ahra di usia belia. Dia lebih sensitif pada lingkungan semenjak mengenal Suho, dan yang dia sadari Miju merupakan anak yang perasa—lebih sensitif darinya.

Hal-hal kecil seperti itu yang justru membuatnya tak menceritakan apapun pada kedua orang tua serta kakaknya, yang membuatnya tahan saat ayah mereka selalu mengusir Miju pergi dari rumah (walau yang dilakukannya hanya berkeliling perkebunan buah Persik) sampai berkata kasar padanya.

Miju lebih memahami perasaan mereka dibanding mereka sendiri.

Sesuatu yang tidak bisa Ahra atau Hyemi lakukan ketika ayahnya mulai berhenti menjadi ayah yang perhatian, agar mereka keluar dari rumah.

Matanya beralih kepada Baekhyun, seorang bocah yang kini tumbuh menjadi pria mapan. Satu-satunya yang bisa membuat senyuman Miju lebih lebar dari biasanya. Seseorang yang dia pikir, bisa membahagiakan Miju dan memahami perasaannya lebih baik dari pada siapapun.

Atau, dia harap.

Seraya mundur perlahan, dia bergerak kembali ke kerumunan orang, tangannya mendial sebuah nomer. “Miju-ya. Maaf, aku rasa aku harus pulang. Suho menelponku dan tiba-tiba ada kondisi genting di rumah—“ Jeda muncul saat Miju di sebrang sana mulai memakinya karena kesal, Ahra menutupi kebohongan yang siap terluncur dengan kalimat bernada manis, “—anakku sakit. Maaf, eoh. Pulanglah naik taksi, nanti biayanya biar Hyemi eonni yang membayar. Jalja!”

Ahra kembali menatap ke balkon melalui pundaknya. Tersenyum kecil sebelum menghilang dalam keramaian para tamu.

.

.

.

Baekhyun tak mengerti kenapa dengan mudahnya seorang wanita bisa merubah mood mereka karena hal-hal sepele. Desahan pria itu terdengar, bahkan sesudah dia dan Miju naik ke mobil Porsche hitamnya.

“Kenapa masih kesal? Aku sudah bersedia mengantarmu pulang.” Tanyanya, tidak betah dengan suasana ‘aneh’ di dalam mobil.

Setelah berhenti dengan usahanya memukul Baekhyun, Miju tahu-tahu menerima telpon yang ditafsirnya dari kakak Miju sendiri. Ternyata permasalahan yang membuat wanita itu mengutuk pembicara telponnya hanya karena dia terancam pulang sendirian.

“Tentu saja kesal. Aku ditinggalkan sendiri, padahal dia yang membuatku datang ke tempat ini. Bertemu Sehun, digoda oleh player cap botol yang—for Pete’s sake, seriously Kim Jongin?—apa yang kau harapkan?” kini kekesalan Miju justru terlampiaskan pada Baekhyun, tidak, bukan persoalan besar untuk pria itu.

Dia sudah biasa menghadapi keganasan Miju.

“Setidaknya kau bertemu denganku, kan?” Baekhyun mendapatkan poin besarnya. Meski dia tetap ingin marah dan mengabaikan betapa benarnya dia mengenai keberuntungan kecil itu.

“Baiklah-baiklah, lupakan soal Ahra noona. Sekarang bagaimana kalau kita cari restoran terdekat, karena aku yakin kau lapar.” Lanjut pria itu, tak lama didukung oleh suara perut lawan bicaranya yang memutuskan mengambil andil.

Miju merutuk siapapun di kelapanya.

Kendaraan Baekhyun tidak membutuhkan waktu lama menemukan sebuah restoran Barbeque yang jaraknya 12 menit dari pelataran parkir sekolah Hanshin. Atas kesepakatan ‘dompet’ keduanya yang kena cekak akhir bulan (walaupun dari cerita yang di dengarnya Baekhyun bekerja sebagai penasehat finansial di sebuah perusahaan swasta terkemuka). Miju dan pria itu duduk di lantai dua restoran berlabel Bonchun, dengan take line : Korean families Barbeque House.

Aroma daging terbakar terendus di sekeliling mereka, keduanya masih memakai baju formal mereka. Tidak terpengaruh tatapan orang lain yang menilai mereka dengan persepsi masing-masing.

Well, they have the same attitude they carried within.

Itulah sebabnya mereka sahabat. Walaupun 15 tahun bukan jarak yang sedikit, tapi, 5 menit cukup membuat Baekhyun dan Miju dekat kembali.

Pelayan menjauh dari meja mereka setelah keduanya sama-sama menentukan menu pilihan. Ada keterdiaman sesaat, sebelum decakan si pria Byun mengalun dari lidahnya. “Sekarang ceritakan tentangmu.”

Alis Miju bertaut. “Aku?” tidak yakin—dan tidak ingin menceritakan apapun juga—perjalanan hidup miliknya bukan sesuatu yang patut dibanggakan.

“Ya, kau. Sejak tadi hanya aku yang fokus menceritakan apa saja yang terjadi selama 15 tahun ke belakang. Apa kau tidak tertarik berbagi sedikit milikmu sendiri? Ayolah!” desaknya.

“Sumpah, Byun, tidak ada yang menarik—“

Telunjuk Baekhyun membuat bibirnya terkatup sangat rapat. Apa ini perasaannya saja, atau intensitas skinship mereka meningkat?

“Walaupun itu berarti aku harus mendengar jadwalmu menonton Days of Our Lives sampai episode ke duabelas ribu, atau betapa mengenaskannya dirimu di pesta pertamamu. Bagiku itu berarti, Gong Miju. Karena aku tidak ada di dalamnya, karena aku ingin tahu sejauh apa temanku hidup, atau mungkin, jika ada perubahan yang tidak aku mengerti.” Kalimatnya diakhiri kendikan bahu.

Sesuatu yang aneh merayapi hati Miju. Tertegun lebih tepatnya.

Jika ada Oh Sehun yang bisa membuatnya merasa buruk setiap waktu, maka ada Baekhyun yang tahu cara membuatnya sedikit banyak menjadi lebih baik. Matanya berlawanan dengan pria itu, mempelajari tiap detail wajah tirus yang penuh kedewasaan.

Dia beruntung dia hanya mengatakan ini dalam kepalanya, bahwa tidak bisa dihindari wajah Baekhyun termasuk dalam kategori tampan. Kalau situasinya berbeda, Miju tidak akan keberatan untuk mengencani pria ini.

Namun, sayangnya Miju hanya melihat Baekhyun sebagai teman, bukan seseorang yang suatu hari nanti akan dia habiskan hidup bersama. Ya, walau terlalu cepat untuk mengasumsikannya.

“Dengarkan aku, Byun Baekhyun. Jika ada, aku suka setiap season dari Supernatural, dan Days of Our Lives bukan salah satu favoritku meski Jackson Cook cukup tampan—“ telapak tangan Miju spontan menengahi kala Baekhyun hendak membuka mulut. “—dan aku tidak pernah ikut ke pesta manapun jika bukan sebuah badan resmi penting yang membuatnya.” Kata Miju, mengakhiri.

Erangan tiba-tiba hadir dari bibir Baekhyun, mengundang mata Miju untuk mengerling aneh padanya. “Aku sudah tahu kau akan jadi tipe seseorang yang begitu, Netflix dan brondong jagung kemudian. Aku bertaruh satu hal kalau kau masih virgin—maksudku—virgin dalam segala aspek. Ciuman pertama, malam pertama, kencan pertama, perkenalan dengan pria pertama, dan—“

Buku menu menghantam wajah Baekhyun, tidak sampai dia menyelesaikan kalimatnya. Heck, dia seharusnya bisa menutup mulut itu untuk dirinya sendiri. Miju memutuskan dia tidak akan menceritakan bagaimana kehidupannya di Amerika berlangsung, atau Baekhyun akan menemui cara memperoloknya lagi.

“Kau dan mulutmu. Lupakan, aku tidak akan menceritakan apapun!”

Sebelum bantahan kembali terdengar, pelayan restoran memunculkan dirinya di saat yang tepat. Berpuluh-puluh daging di hidangkan dalam dua piring—well, walau sudah kurus bukan berarti porsi makan Miju juga turun—anehnya, setelah memasuki masa puber, ada kelainan yang terjadi pada hormonnya (dia juga agak bingung menjelaskan) tapi, dokter bilang akan sulit Miju untuk menaikan berat badan setelah sebelumnya terkena tifus dan di rawat nyaris sebulan di rumah sakit.

Entah harus bersyukur atau membuatnya terkesan sebagai mimpi buruk. Sebab kondisi itu juga tidak bagus untuk tubuhnya, jika Miju tak mengatur takaran gizi dengan benar, ada kemungkinan beratnya akan menurun drastik sebagai efek samping.

“Aku pikir setelah menjadi kurus seperti sekarang, kau akan mengubah pola makanmu karena diet.” Baekhyun memberikan gelengan, “apa hanya kau yang tidak berubah?”

Miju tersenyum getir, mengabaikan napsu makannya yang sedikit menurun oleh perkataan Baekhyun. “Untuk apa aku berubah? Untuk orang lain? Agar mereka berhenti menilaiku seperti apa yang mereka pikirkan? Tidak terimakasih.”

Baekhyun mengatupkan bibirnya rapat-rapat, dia tahu dia baru saja mengatakan sesuatu yang melukai perasaan Miju, tapi dia paham jika belum saatnya dia bicara apa yang dia pikirkan.

Pria itu menghela napas, “Makanlah, makan!”

.

.

.

Lembaran amplop dan kertas yang bertebaran di meja Sehun tak lekas membuatnya bergeming. Matanya hanya terpusat pada informasi yang diberikan seonggok kertas padanya. Mencerna setiap kata-kata yang dia inginkan selama ini.

Terhitung seminggu berlalu sejak kejadian di reuni kemarin, dan rasa penasaran masih menghantuinya seperti parasit.

Gong Miju.

Satu wanita yang begitu mudah memporak-porandakan kehidupan Sehun yang bersistem. Hanya mendengar namanya disebut sekali ideologi Sehun mengenai perempuan dan betapa merepotkannya mereka justru musnah dalam hitungan asa.

Berlebihan? Well, kenyataan selalu jadi hal yang tidak bisa diterima nalar.

Tangannya melipat kertas di depannya, kedua alisnya saling bertaut sebelum kembali seperti semula.

“Gong Miju….” Dia mengeja namanya pelan-pelan. Seolah takut orang lain akan mendengarnya.

“Minseok-ssi, beli perkebunan persik itu.” Sehun kembali membuka mulutnya, membiarkan orang di belakangnya mengetahui misi selanjutnya dari permainan yang akan Sehun mainkan.

“Baik, Tuan.”

Matanya mengawang ke atap, seolah-olah di ruangan besar Hanshin grup ada proyeksi wajah Miju yang tidak disangkanya akan berubah begitu drastis.

Ketika menilik isi amplop berisi identitas ‘MJ’, pria itu memang sudah mengantisipasi kenyataan ini. Betapa waktu banyak mengubah orang. Gadis muda gendut tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik.

Tuhan tidak main-main dalam menentukan nasib manusia ciptaannya. Hal itu semakin menumbuhkan keinginan Sehun untuk memiliki Miju.

Senyuman sardonikal menari di kedua bibirnya, membawa hawa yang tidak menyenangkan kepada siapapun yang menyaksikannya. “Kemarin kau menghilang. Kali ini laripun akan membuatmu sesak, Miju-ya. Kau tidak akan bisa sembunyi lagi dariku.”

Sementara sebuah wajah terbias pada cermin sebuah kamar mandi, tatapannya fokus, tapi pikirannya berkelana ke suatu tempat.

Miju mengingat perkataan Baekhyun setelah acara makan malam mereka di restoran Barbeque itu.

“Bagaimana dengan Sehun? Cepat atau lambat dia akan tahu.”

“Pada saat itu aku yakin dia tidak akan menginginkan apapun dariku. Cerita kami berakhir di bangku sekolah dasar, kau pikir apa yang akan dia lakukan padaku? Menindasku lagi?”

“Apa kau tidak tahu jika selama ini dia mencarimu?”

Kedua alis Miju menunjukan kerutan tidak beraturan, ada kilatan aneh di matanya yang bertemu dengan kedua lensa Baekhyun. “Untuk apa?”

“Hanya dia dan Tuhan yang tahu.”

Decakan keluar dari wajah Miju. Jika keterbukaan itu tidak menyakitkan, bolehlah dia berkata kalau hatinya khawatir dan cemas mengenai berita itu.

Bagaimana tidak? Apa setelah bertahun-tahun Oh-sialan-Sehun tidak bisa meninggalkannya seorang diri?

Entahlah, biarkan saja semuanya mengalir. Gong Miju bertekad kali ini tidak akan menyerah begitu saja pada Oh—kotoran—Sehun. TIDAK AKAN!

.

.

.

TBC or End?

RCL please, sorry for the late update, seperti biasa writer’s block selalu melanda, entah kenapa penyakit ini selalu melanda saya di menjelang part kedua. Tapi update selanjutnya saya usahakan cepat. Maaf kalau part yang ini mengecewakan karna saya juga agak kurang sreg sama part ini.

Oh iya saya juga ada pertanyaan, apakah kalian lebih nyaman dengan first POV atau third POV? tolong komennya ^^

 

 

 

 

 

 

 

 

 

45 responses to “Limerence – 2

  1. Lanjut kakak… jgn lama2 update nya yh… hehehe… Sehun bener2 terobsesi bgt sama Miju… sampai dia beli perkebunan persik itu… emang rencana apa sih ya mau di buat sama Sehun???

  2. wah.. akhirnya update hoho
    btw sehun sadar ya klo mj itu miju wkwk trus nyelidikin
    dan.. baekhyun yg awllll…. tampan ekhm Miju muji kaya gitu *mmang tampan baekhyun.nya*

    dan.. part selanjutnya bakal di tunggu
    semoga mbaknya sgera update amiin
    pov.nya org ketiga aja dah kak..
    semangat… lopyu

  3. wah.. akhirnya update hoho
    btw sehun sadar ya klo mj itu miju wkwk trus nyelidikin
    dan.. baekhyun yg awllll…. tampan ekhm Miju muji kaya gitu *mmang tampan baekhyun.nya*

    dan.. part selanjutnya bakal di tunggu
    semoga mbaknya sgera update amiin
    pov.nya org ketiga aja dah kak..
    semangat… lopyu.. :*

  4. wah.. akhirnya update hoho
    btw sehun sadar ya klo mj itu miju wkwk trus nyelidikin
    dan.. baekhyun yg awllll…. tampan ekhm Miju muji kaya gitu *mmang tampan baekhyun.nya*

    dan.. part selanjutnya bakal di tunggu
    semoga mbaknya sgera update amiin
    pov.nya org ketiga aja dah kak..
    semangat… lopyu.. :*
    btw maapkeun klo komen ane dobel krn sinyal lemot bgt jd ya ..bgitu

  5. sehun… ternyata masih ada rasa sama miju omaigaat..gatau kenapa suka bgt pas bagian sehun bilang. miju ku tidak sebodoh itu.pria idaman deeh sehun. dan akhirnya pun miju ketemu baekhyun yeayeayea.. aku mau selanjutnyaaaaaa.. aaaaaah so sweet

  6. Msh nebak” sih apa yg terjadi semasa dulu.a miju ama sehun, kenapa miju merasa trauma, knp sehun terobsesi, apa krna cara sehun memperlakuka org yg disukain salah atauuu apa yaa mmhhh menarik menarik😀 jd dsini rival.a ohsee c bacon nih? Okelaaahh lucu juga hehehee
    Semoga author-nim ngga kena wb lg deh aamiiiinn jd nanti update.a ngga lama #Ngarep
    First Pov enak tp kaya.a ak pilih third Pov heheheheh hwaitiiiinngg ( ˆ⌣ˆ​​​​ )

  7. Omaygat chapter 2 nya seruuuu bgt, parah, deg deg an, ngakak, campur aduk jadi satu, sehun luar biasa bgt pekanya sm miju, langsung kenal gt, gmn miju ngga gemeteran? Awkwkk
    Untung aja miju ketemu baekhyun, tp kok baekhyun rada aneh ya? Apa dia naksir miju? Apa cm perasaanku aja ya?
    Dan yg lebih ngagetin lg ternyata si sehun nyari2 miju selama 15 thn, gilaaaa sehun udah jatuh hati bgt kayanya sm miju, tp caranya sehun buat ngedapetin miju dgn ngebeli kebun ayahnya miju kayanya malah makin memperkeruh suasana deh, hmm tp gataulah lah ya nanti eheee
    Pokonya ini keren bgt lah, sukaaaaa bgt aku
    Pov 3 bagus jg, tp kayanya pov pertama lebih seru deh ehee
    Okedeh, pokonya next chapternya aku tunggu bgt ya, semangat terus!!!!💪💪💪

  8. sifat sehun jadi psycho lama lama2 wkwk suka sama orang sampe segitunya. semangatttt semoga writer’s blocknya cepet sembuh biar cepet apdet juga

  9. Wohoho akhirnya akhirnya dan akhirnya diupdate juga chap 2 nya! Itu mau beli kebun persik buat modus nindas miju lagi ya hun.. dih kamu ini dasar ya… anu kak ceritanya dibikin 3rd pov aja, lebih asik.. oiya disini sehun-miju moment nya kurang ya, atau aku aja yang terlalu bersemangat buru-buru ngeship mereka biar cepet ada relationship gitu *lupakan* semangaaaat nulis ya kak, 3rd chap ditunggu segera… fighting

  10. Mesti lanjut eonn😄
    Sehun udah mulai bertekad ngejar miju….. Ahaayy seru nih

    Tp aslinya mah aku lebih dukung miju-baek ketimbang miju-sehun wkwkwk

  11. Akhirnya nongol juga ini ff, hehehehe..
    Ceritanya uda mulai ada greget2 nya, apalagi pas Sehun uda tau miju.. beeuuuhh bakal seru ini pasti next nya..
    untuk masalah POV mau pake first atau third terserah authornya aja.. sebagai readers ngikut aja😀 semangat nulis next chapnya ^^b

  12. Ehhh yaampun cerita mereka lanjut nih di 15 tahun sesudahnya, tp udah beda roman sii
    Sehun tetep aja optimis bakal daapetin Minjunya lagi, padahal dulu ngbully ampe anak orang trauma *colekMJ wkwk

  13. Aku sempet lupa cerita sebelumnya 😂😂 baru inget pas ngomongin bully 😁😁 nextnya ditunggu yaa 😘😘😍😍😆😉

  14. Sehun!!!! Selama ini kamu mencari keberadaan Miju huh???
    Intuisi nya sehun tajem banget yaaa…, langsung tau kalo MJ itu miju yang selama ini ia cari
    Dan…., si penyelamat Baekhyun kembali!!!! Apa bakal ada kisah cinta segitiga antara baek-miju-sehun???
    Pas part nya Ahra q hampir nangis sumpah,…., feel nya dapet gitu

    Ah, klo q pribadi sih lebih enak baca 3rd POV nya🙂

  15. Sehun sakit ya? Kok ngeri-_____- btw, ini musti Tbc yaa kalo end kan gak enak banget. Gantung ceritanya. Hihi. Fighting!! Fighting!! Di tunggu next nya^^

  16. pov? authrnya nyaman pke yg mana?eh, mlh balik nanya. kalo authornya nyaman/suka insyallah pembacanya jg.
    ah, jd ingat. beberapa hri yg lalu aku jg ktemu tmen SD, bener2 konyol. *reuni/curhat

  17. Sebenernya alesan sehun nyari miju lagi itu apa? Suka apa mau menindas lagi? -___- kasian miju ya, dia kaya berjuang sendirian hmm
    Btw aku lebih suka pake third pov ka.
    Ditunggu kelanjutannya. Fighting!!!^^

  18. Aduh kok kebetulan sekali, krn bbrp hri ini, q keinget sma crita yg author bwt tp lupa jdul apa ahaa *sakingKebxknYgDibca wkk.. tp q ssukkkkaaa bgt sm crita author! kerreeenn bgt!! next part bnr2 dtgu g sbar😀

  19. Sehun samoe mau beli kebunnya keluarga miju gitu. Miju sama baekhyun bisa jadi makin dekat tuh, baek jg kayaknya suka sama miju. Saingam sama sehun deh

  20. Jadi pengen cepat2 tau interaksi sehun sama miju kedepannya. Pasti seru! Apalagi sehun terang2’an mau masuk dalam hidup miju lagi dalam versi dewasanya. Ugh! Lama2 sehun mengerikan ya..
    PoV.nya, kalo aku lebih nyaman orang ketiga.. Tapi orang pertama pun tak masalah.. Soalnya kalo kalimatnya udah enak dipandang mata, pov.nya juga gak jadi masalah..
    Fighting yah!

  21. akhirnya di update,sehun sampai segitunya,aku penasaran sama reaksi miju kalo tahu kebunnya dibeli sehun,walaupun lagi kena writer block ini tetep keren kok ceritanya,bikin penasaran,mending pake third pov aja,ditunggu lanjutannya

  22. Waah, semoga writer’s blocknya cepet sembuh yaa thor. Soalnya udah dibuat penasaran bangeett😄

    Paling demen kalo Sehun udah dapet karakter kaya gini. Ditunggu chapter selanjutnyaaaaaaa !!

  23. Kalo sekarang, third pov supaya tahu keadaan Sehun dan Miju di saat bersamaan dan alurnya jadi cepat hehe habisnya pengin tahu nih Sehun usahanya gimana ntar dan kenapa dia segitu terobsesinya!!

    Oh ya, Sehun emang orang kaya kebangetan ya, mau apa tinggal teriak beli, gak perlu banyak pikir😀 dasar Sehun…

  24. How sweet, moga2 aja kali ini sehun ngedeketin miju dgn cara yg manis, engga pake bully ke miju lgi,, g tega ah bacanyaa.. Apa salah miju.. Hiks.,

  25. annyeong thor~ aku reader baru nih, aku mau nanya sih, limerence itu artinya apa :’v
    aku pikir karena namanya kelihatan addict, aku jd pengen baca, dan aku udh baca dari teaser smpe ep 2 ini, dan wow, aku blm dapet type ff yg kyk gini, penasaran ama sadisme sehun, kyknya dia rada psycho juga ya? hehe aku gk sabar, keep writing and hwaiting juseyo!~ maaf hanya komen di chap ini ^^

  26. suk bgt ama cerita ini…
    sehun fighting…semoga sukses dlm mendapatkan cinta miju🙂

    ditunggu next nya kak🙂

  27. third pov!!! kkkk semangat authorr buat chap selanjutnyaaa. ga habis fikir, kenapa baru nemu ff sebagus ini kyaaa

  28. Part2
    Wah…….Sehun punya rencana apaan tuh,Miju ga usah mangkir kalo wajah Baekhyun Itu memang tamvan kok,hah tuhkan sehun tau Kalo MJ itu Miju,yah penasaran sama lanjutan ceritanya,sehun lo ampe ga bisa ngelupain kejadian dimasa kecil mereka,ciye……..Sehun Jatuh Hati Banget Tuh Sama Si Miju,Miju semangat buat apa yang bakalan dilakukan sehun di part Berikutnya ya….

    DITUNGGU BANGET POST TERBARUNYA AUTHOR-NIM,KAPAN AUTHOR-NIM NGEPOST LAGI,AKU UDAH JATUH CINTA NIH SAMA KARAKTER SEHUN DI FF IN,LANJUTIN YA AUTHOR-NIM

    KEEP WRITING AUTHOR-NIM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s