One More Time [Chapter 6]- By Sebie

one moretime

|Title: One More Time (Chapter 6)|

|Author : Sebie (@RandikaOh)|

|Main Cast: |

|Nam Yoora(OC/You)|

|Byun BaekHyun (EXO K)|

| Kim Seok Jin (BTS) |

|Other cast : |

|Kim Jaehyun (Jin’s Brother)|

|Byun Sena (Baekhyun’s sister)|

|Oh Sehun (EXO K)|

|Ahn Minji (OC)|

|Lu Han |

|Length : Chapter|

|Genere : Romance, little bit angst|

|Rating : PG-17 |

|Disclaimber : ini ff ku hasil pemikiran saya sendiri. Don’t be siders,, don’t be palgiator. Please Leave your comment after read. Siders dilarang keras membaca ceritaku! |

|Pervious Chapter : Prolog | Chapter1 | Chapter 2 |  Chapter 3 | Chapter 4 | Side Story | Chapter 5 |

           

Happy reading!!

 

Baekhyun memandang gadis di hadapannya yang belum sadar kan diri sedari tadi. Beberapa kali ia menggenggam tangan gadis itu dengan erat berharap agar gadis di hadapannya segera bangun tapi gadis itu tidak kunjung bangun. Baekhyun semakin khawatir.

 

“Baekhyun”

 

“Oh, Hyung bagaimana keadaan Yoora?apa dia baik-baik saja?”

 

“Tenanglah aku sudah mengatakan padamu tadi dia baik-baik saja. Hanya saja Baek bisa kita bicara di luar sebentar”

 

Baekhyun mengerutkan dahinya, perkataan Minho sangat menggantung baginya saat ini. Baekhyun mengikuti Minho berjalan keluar dari ruang dimana Yoora di rawat.

 

“Kenapa? ada apa Hyung?”

 

“Tidak apa-apa aku hanya akan berbicara sedikit. Yoora kurasa mengalami perasaan yang tidak baik saat ini kemungkinan dia sedang depresi berat sehingga kesehatannya menurun seperti ini. tidak ada catatan medis apapun yang kita punya tentang Yoora, itu tadi hanya analisaku saja, jadi jangan membuat dia merasa terbebani”

 

Depresi? Baekhyun tidak pernah tau jika Yoora bisa depresi seperti ini. ia kembali memikirkan kenapa gadis itu bisa seperti sekarang. Yang ada di pikiran Baekhyun adalah ketika tadi malam Yoora menceritakan tentang Hyungwon. Baekhyun ingat bahwa Yoora mengatakan jika gadis itu siap maka ia akan mengatakan semuanya. Tapi tadi malam Yoora sangatlah tidak siap, apa lagi pertanyaan yang ia ajukan sangat mendadak.

 

Hyung? Apa depresi yang Yoora alami bisa saja karena masa lalu atau tekanan?”

 

“Bisa jadi, mungkin luka lamanya yang membuat dia merasa tertekan atau merasa lemah. Ah Baek—“

 

“Baekhyun!!”

 

Belum jadi Minho meneruskan ucapannya seorang gadis berlari mendekati Baekhyun dan dirinya. Minho menghela napas perlahan menatap adiknya yang memeluk Baekhyun seolah tidak ada dirinya.

 

“Well, aku sudah seperti tidak di anggap rupanya”

 

Oppa, kenapa kau tidak bilang Baekhyun kemari?”

 

“Ahra, Baekhyun kemari bukan untuk bermain”

 

Ahra menautkan kedua alisnya, ia tidak tahu menahu kenapa Baekhyun bisa sampai ada disini. Ahra memperhatikan Baekhyun dari atas sampai bawah, matanya berhenti pada perban yang ada di pelipis Baekhyun. Ia menyentuh perban itu dengan hati-hati.

 

“Apa ini sakit? Apa kau terluka parah?”

 

“Tidak terlalu sakit” Baekhyun mengembangkan senyumnya. Bagi Baekhyun di depan Ahra bisa bersikap biasa tidak seperti berada di depan gadis lainnya. Walaupaun Baekhyun saat ini sedang mencoba membuat dirinya yang apa adanya di depan Yoora.

 

“Kau sudah tumbuh besar rupanya sekarang. Rasanya aku baru bertemu denganmu kemarin”

 

“Bagaimana kau bisa mnegatakan seperti itu? kita bahkan sudah tidak bertemu sangat lama dan kau sekarang mengatakan hal seolah ini singkat. Hah lihatlah dirimu Byun Baekhyun sama sekali tidak berubah, kau tau betapa aku sangat merindukanmu”

 

Tanpa permisi Ahra memeluk Baekhyun dengan erat. Layaknya mereka dulu berpelukan seperti kekasih dan tidak jarang yang mengatakan bahwa Baekhyun dan ahra kemungkinan besar akan menjadi pasangan nantinya.

 

Baekhyun membalas pelukan Ahra dengan senang hati, baginya tidak ada salahnya untuk membalas pelukan Ahra. Karena mereka adalah teman sejak kecil.

 

“Ehm, Baekhyun kau melupakan sesuatu kurasa”

 

Minho menginterupsi pelukan Baekhyun dan Ahra. Minho mengatakan tanpa menatap Ahra dan Baekhyun, pandangan matanya tepat berada pada gadis yang sedang berdiri di ambang pintu memperhatikan Baekhyun dan Ahra.

 

Baekhyun menolehkan kepalanya memandang Minho dengan heran, ia pikir Minho merasa iri karena Ahra jauh lebih dekat dengan dirinya daripada sang kakak. Tapi Baekhyun mengikuti pandangan  minho.

 

“Yoora”

 

Baekhyun melepas paksa pelukan Ahra yang semakin mengerat pada pinggangnya. Yoora menatapnya seperti semula, tanpa ada ekspresi apapun dan wajahnya masih terlihat pucat. Yoora berjalan mendekati Baekhyun dengan perlahan.

 

Ahra menyadari seseorang mendekat padanya. Ia melapaskan pelukannya pada Baekhyun dan menggantinya dengan menggamit lengan Baekhyun dengan manja. Choi Ahra gadis yang selalu menampilkan senyumannya dan selalu ceria. Bahkan saat ini ia tersenyum sangat lebar pada Yoora walaupun ia tidak mengenal Yoora.

 

Yoora berhenti tepat di depan Baekhyun, sekilas ia melirik gadis di samping Baekhyun. Matanya menurun menatap lengan Baekhyun yang tergamit Ahra. Yoora melihat Baekhyun melepas gamitan itu dengan paksa. Gadis ini mengangkat kepalanya dan menatap Baekhyun entah menatap kosong atau menatap Baekhyun lebih mengarah pada hal yang Yoora tidak suka.

 

“Terimakasih sudah membawaku kemari. Aku akan pulang sendiri”

 

Yoora membungkukan badan pada Minho dan juga Baekhyun. Ia berjalan melewati Baekhyun begitu saja seolah mereka bukanlah orang yang dekat. gadis ini merasa kepalanya sudah tidak terlalu pening.

 

Baekhyun membalikan badannya memandang punggung Yoora yang menjauh.

 

“Hyung, Ahra. Aku harus segera pergi, sampai jumpa lain waktu”

 

Baekhyun berlari kecil mengejar Yoora yang semakin menjauh. Ia terlampau khawatir pada keadaan Yoora saat ini. ia melihat Yoora menyandarkan diri pada dining rumah sakit. Baekhyun segera berlari menghampiri Yoora. Ia memegang pundak Yoora yang terasa lemas, wajah Yoora terlihat lebih pucat dari tadi.

 

“Yoora, kau sama sekali belum sehat. Kita harus kembali memeriksa keadaanmu”

 

“Tidak Baekhyun, aku baik-baik saja”

 

“Kau tidak sehat Yoora.kau harus dirawat disini”

 

“Tapi aku benci disini, aku—aku hanya ingin pulang”

 

Yoora menundukan wajahnya, ia tidak ingin menatap setiap jalan yang ada pada rumah sakit. Ia tidak ingin melihat setiap lorong dimana itu akan membawanya ke UGD. Yoora membencinya. Beberapa kali Yoora menarik napasnya pelan dan membuangnya dengan kasar.

 

Baekhyun menyadari ketika Yoora merasa tidak nyaman untuk berada di sini. ia memeluk Yoora dari belakang. Dan membisikan pada Yoora agar gadis itu tenang.

 

“Aku disini, Yoora semuanya baik-baik saja jadi tenanglah. Kita akan pulang”

 

Baekhyun menggenggam tangan Yoora dengan erat, sekilas ia melihat wajah Yoora yang masih menuduk. Perlahan-lahan Baekhyun menuntun Yoora untuk keluar dari lorong rumah sakit. Baekhyun tahu bahwa Yoora membenci semua hal yang ada di rumah sakit karena Hyungwon.

 

Ahra masih memperhatikan mereka dari kejauhan namun gadis ini mampu melihatnya dengan jelas bahwa Baekhyun memeluk Yoora dengan erat bahkan Baekhyun sempat berlari ketika Yoora menyandarkan diri di dinding.

 

Oppa? Dia siapa?kenapa Baekhyun terlihat sangat mengkhawatirkan gadis itu?”

 

“Entahlah, sedari tadi yang ku lihat juga Baekhyun sangat khawatir dan peduli pada Yoora. Mungkin itu kekasih Baekhyun”

 

Ahra memukul lengan Minho dengan keras, ia merasa tidak terima mendengar Minho menerka-nerka sesuatu tanpa kebenaran yang pasti.

 

“Ah, itu sangat tidak mungkin. Baekhyun itu hanya akan menjadi pasanganku, bahkan dia sudah berjanji padaku akan menjadikanku mempelai perempuannya”

 

Minho memutar bola matanya malas mendengar Ahra yang selalu mengatakan Baekhyun akan menjadi pasangannya, Bakehyun akan menjadikan dia mempelai perempuannya. Minho sangat tahu bahwa Baekhyun mengatakan itu saat mereka masih berumur 9 tahun.

 

“Itu dulu saat kalian masih sebiji jagung Ahra”

 

“Tapi aku masih menjaganya sampai sekarang, dan lagipula Baekhyun pasti juga mengingat itu. tidak masalah jika Yoora adalah pacar Baekhyun, toh Baekhyun pasti hanya akan menikah denganku”

 

Ahra membalikan badannya dan berjalan mendahului Minho, gadis ini bersenandung kecil merasa bahagia mengingat masa kecilnya dengan Baekhyun. Ia masih mengembangkan senyumnya selebar tadi bahkan wajahnya terlihat lebih cerah daripada tadi.

 

___oOo___

Baekhyun menggendong Yoora masuk kedalam kamar, gadis itu tertidur selama perjalanan. Baekhyun sama sekali tidak berani mengganggu Yoora yang sedang tidur mengingat keadaan Yoora yang tidak stabil.

 

Baekhyun membaringkan Yoora di tempat tidur, ia lepas syal yang masih terlilit di leher Yoora. Ia memperhatikan kulit leher Yoora yang sudah bebas dari syal, masih terlihat dengan jelas bercak kemerahan di kulit leher gadis itu. Baekhyun tersenyum tipis, ia melepaskan heels yang Yoora kenakan pergelangan kaki Yoora terlihat bengkak. Baekhyun hanya menghembuskan napasnya pelan.

 

“Kau memang selalu hobi membuatku merawat kakimu Yoora” Baekhyun tersenyum kecil, ia langsung berdiri dan keluar dari kamar Yoora untuk mengambil kompres.

 

“Permisi tuan apa yang terjadi dengan nona? Apa dia sakit?”

 

Salah satu pelayan yang melihat Baekhyun menggendong Yoora tadi menanyakan keadaan Yoora ya bisa disebut pelayan ini adalah sekertaris yang bertanggung jawab atas Yoora saat dirumah.

 

“Ah, dia tidak apa-apa tapi paman, bisa telpon dokter keluarga ? sepertinya Yoora hanya bisa di tangani dokter keluarga ini saja”

 

Paman Hong hanya mengangguk mengerti mendengar apa yang Baekhyun perintahkan. Ia tidak mengeluarkan pertanyaan apapun lagi. Paman Hong segera menelpon dokter keluarga.

 

“Paman, aku ingin bertanya sesuatu”

 

“Ah, ada apa tuan?”

 

“Apa Yoora sering seperti ini”

 

Paman Hong diam sejenak mengingat-ingat kapan terakhir kali Yoora seperti ini, seingatnya 4 tahun yang lalu Yoora seperti ini mengalami kondisi yang kurang stabil. “Sekitar empat tahun yang lalu saat kekasihnya koma”

 

“Terima kasih paman. Aku harus ke kamar Yoora lagi mungkin dia sudah bangun”

 

Baekhyun kemabali ke kamar Yoora, sepanjang jalan ia memikirkan apa yang Paman Hong ucapkan, ia tidak tahu jika Yoora menjadi begitu depresi ketika di paksa memikirkan Hyungwon lagi.

 

Baekhyun membuka pintu kamar Yoora, ia mendapati Yoora sedang duduk di tepi ranjang dan memijit pelipis. Ia menghampiri Yoora, Baekhyun menaruh baskom di lantai. Baekhyun perlahan-lahan memijit pergelangan kaki Yoora.

 

Yoora cukup terkejut saat Baekhyun memijit pergelangan kakinya. Ia ingat terakhir kali bahwa kakinya terkilir karena terpleset di koridor kampus. Yoora diam tidak mengatakan sepatah katapun ia hanya menatap Baekhyun tanpa berkedip. Terakhir kali yang ia ingat adalah dirinya berada di rumah rakit dan Baekhyun menuntunnya untuk keluar.

 

“Apa ini masih sakit?”

 

“Huh?”

 

Baekhyun mengangkat kepalnya, matanya bertemu dengan mata Yoora. Baekhyun merasa dirinya di perhatikan tadi. Ia menatap lekat-lekat mata cokelat Yoora, Baekhyun sama sekali tidak ingin berpaling ataupun menyudahi kontak mata mereka saat ini.

 

“Sepertinya aku selalu merepotkanmu. Terimakasih Baekhyun”

 

Yoora mengecup bibir Baekhyun sekilas, ia tidak tau harus berbuat apa tapi nalurinya membawa ia untuk mengecup bibir Baekhyun. Keduanya terdiam, Yoora memalingkan wajahnya yang mulai memerah karena tingkahnya sendiri.

 

“Permisi tuan dokternya sudah datang”

 

“Ah paman, suruh dokternya masuk saja, aku kira Yoora perlu di priksa saat ini”

 

Yoora menatap Baekhyun bingung, yang ia tahu ia tadi sudah pergi kedokter bahkan laki-laki itu yang mengantarnya. Untuk apa Baekhyun mendatangkan dokter lagi untuk dirinya.

 

Baekhyun menyadari tatapan Yoora yang seperti tidak mengerti dengan apa yang ia ucapkan barusan. Ia memegang pundak Yoora dan tersenyum tipis pada Yoora “Kau harus di periksa lagi. Kakimu yang terkilir ini bisa saja baik-baik saja tapi keadaan mu yang tiba-tiba memburuk tidak bisa di periksakan di luar begitu saja kan?”

 

“Aku baik-baik saja Baekhyun”

 

Yoora menatap Baekhyun protes dengan apa yang laki-laki itu lakukan tanpa sepengetahuannya. Memanggil dokter lagi itu sangat berlebihan baginya, keadaanya juga sudah jauh lebih membaik saat ini.

 

“Wah, apa yang kulihat ini? kau sakit lagi”

 

Yoora memutar kepalanya melihat siapa yang baru saja masuk kedalam kamarnya. ia memutar bola matanya malas melihat seorang laki-laki dengan jas dokter sedang melangkah ke arahnya.

 

“Lee Jinki! Aku baik-baik saja kau bisa pulang”

 

“Tidak, jika aku sudah di panggil kemari pasti ada sesuatu yang buruk padamu. Mari kita lihat kau mengalami depresi lagi? Pingsan lagi? Aku benarakan? Dan kaki mu terkilir, nah Nam Yoora kau harus mendengarkan aku, jangan banyak bergerak maupun protes, aku akan mengobati pergelangan kakimu dulu”

 

Jinki mulai mengeluakan beberapa barang untuk mengobati kaki Yoora. Ia tahu bahwa Yoora sedang menatapnya protes, tapi Jinki tidak bisa diam saja melihat ada seseorang yang terluka terlebih Yoora yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.

 

Yoora hanya diam, ia sudah mengalihkan pandangannya, ia menatap Baekhyun dengan tatapan yang seperti biasanya tanpa ekspresi sedikitpun. Yoora tahu Baekhyun sedang khawatir saat ini, terlihat laki-laki itu fokus melihat Jinki yang mengobati pergelangan kakinya.

 

“Nah selesai”

 

“Wah, cepat sekali.”

 

“Tentu, aku kan dokter yang hebat”  Jinki tertawa lebar membanggakan dirinya. “Yoora, dia siapa? Kekasihmu?”

 

“Dia—dia tunanganku Byun Baekhyun”

 

Yoora tersenyum kaku dan memamerkan jari manisnya yang terpasang cincin pertunangnya dengan Baekhyun. Ini pertama kalinya bagi ia mengakui Baekhyun adalah tunangannya. Tidak apa baginya jika Jinki tahu, Yoora tahu Jinki bukan orang yang suka mencampuri urusan orang lain.

 

“Wah—wah lihat siapa yang tidak Nam Yoora undang pada pesta pertunangannya. Bisa aku pinjam tunanganmu sebentar Yoora ada yang harus ku bicarakan”

 

“Dia bukan barang Jinki, bicara saja di depanku tidak perlu berdua kan? Atau kau sudah mulai menjadi homo, dan hanya mau berbicara dengan sesama jenismu. Omo” ucap Yoora yang berakhir menutup mulutnya tapi tatapan matanya seperti sedang meledek lelaki itu.

 

No—kan aku sudah pernah bilang aku ini masih normal dan kau adalah tipe-ku. tidak apakan aku berbicara seperti ini di depan tunanganmu?” Jinki tertawa renyah mengakhiri kalimatnya.

 

Yoora hanya bisa memutas bola matanya malas mendengar jawaban yang sudah sering ia dengar.

 

Jinki masih meneruskan tertawanya, sudah sangat lama ia tidak bicara dengan Yoora apa lagi menggoda gadis itu.

 

“Baiklah jika kau memaksa nona muda. Nah mari kita lihat dari yang kudengar dari Paman Hong kau pingsan lagi, wajah mu pucat. Kurang bagus kurasa, nah Baekhyun kau harus menjaga Yoora agar keadaanya stabil. Dia ini sangat tidak pandai menjaga kestabilan mentalnya sendiri dan dia juga—aww”

 

Yoora memukul lengan Jinki dengan keras, gadis ini sudah cukup muak mendengar perkataan Jinki. Memang benar apa yang Jinki katakan keadaanya kurang bagus tapi perkataan yang meyatakan dirinya tidak pandai menjaga kestabilan mentalnya itu membuat Yoora seolah seperti seorang yang baru saja keluar dari rumah sakit jiwa.

 

“Wah, dari apa yang terjadi saat ini kurasa kau sudah baik-baik saja Yoora kau memukul lenganku dengan keras tadi. Nah dengarkan aku Yoora, aku akan meninggalkan beberapa obat untukmu, hanya untuk meredakan nyeri dikakimu dan obat tidur, ah ingat satu lagi jangan mengingat masa lalumu—“ Jinki menghela napasnya kasar “—aku sudah sangat lelah mendengar kau pingsan, jadi hiduplah dengan baik saat ini kau sudah mempunyai Baekhyun. Sepertinya aku harus pergi sekarang sebelum aku di usir lagi”

 

Yoora memandang Jinki dengan tidak percaya, ia tahu Jinki memang satu-satunya orang yang menanganinya dulu bahkan sampai sekarang,tapi Yoora masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang Jinki sudah semakin berumur tapi laki-laki itu tidak merubah sikapnya yang seenaknya dan seperti mengetahui semuanya.

 

“Aku memang berencana mengusirmu saat ini”

 

Yoora memandang Baekhyun yang tertawa kecil melihat Yoora dan Jinki yang begitu akrab. Gadis ini hanya menatap Baekhyun dengan tidak percaya, tadi ia melihat Baekhyun merasa khawatir padanya tapi saat ini laki-lakiitu sedang menertawakan pertengkarannya dengan Jinki.

 

“Kau memnag kejam Yoora, tapi jangan lupa undang aku di pernikahanmu besok”

 

Jinki melangkah keluar dari kamar Yoora, ia melambaikan tanganya pada Yoora dan tersenyum lebar memamerkan geliginya yang rapi.

 

Selepas peninggalan Jinki hanya tertinggal Yoora dan Baekhyun di kamar. Suasananya tiba-tiba menjadi begitu canggung mengingat apa yang terakhir kali Yoora lakukan pada Baekhyun.

 

Yoora membaraingkan dirinya di kasur, ia memunggungi Baekhyun. Yoora tidak ingin menatap Baekhyun kali ini, ia sangat malu dengan kejadian tadi. Yoora meremas bantalnya pelan, ia cukup merasa bosan hanya berbaring dan ia tidak bisa untuk beristirahat mengingat Baekhyun ada di belakangnya. Yoora membalikan badannya dan menemukan Baekhyun yang duduk menghadap dirinya.

 

“Baekhyun, aku bosan bisa bantu aku berjalan ke balkon”

 

Baekhyun tidak mengatakan sepatah katapun, dia mulai berdii dan memapah Yoora ke sofa yang terletak di balkon kamar Yoora. Ini masih pukul 3 sore tapi awan sudah mulai menghitam menandakan akan segera turun hujan. Udara dingin mulai menusuk kulit Yoora maupun Baekhyun.

 

“Apa kau perlu selimut? Aku akan mengambilnya”

 

Yoora mengangguk pelan, ia menyadari bahwa sebentar lagi akan segera turun hujan. Perlahan ia mengembangkan senyumnya kepada Baekhyun.

 

Baekhyun menyelimuti tubuh Yoora, ia duduk berhadapan dengan Yoora, ia tidak pernah melewati seharian seperti sekarnag bersama Yoora bahkan saat ia berada di Jepang yang ada di dalam pikirannya hanya pekerjaanya.

 

“Baekhyun?”

 

“Iya”

 

“Maaf aku tadi membuatmu khawatir”

 

Baekhyun menatap Yoora, ia menatap kedua mata cokelat Yoora. Kedunya saling terkunci perlahan Baekhyun menggenggam tangan Yoora, sudut bibirnya terangkat membentuk lekukan yang sempurna dan menggetarkan hati gadis di depannya.

 

“Jangan pernah minta maaf, jika kau ingin aku memaafkanmu maka jangan pernah jatuh pingsan di depan mataku”

 

Baekhyun mendekatkan dirinya pada Yoora, ia menarik kepala Yoora untuk mendekat. Baekhyun mencium puncak kepala Yoora dengan lembut. Yoora memejamkan matanya merasakan bibir Baekhyun menyentuh puncak kepalanya.

 

Hujan mulai turun dan mebasahi tanah yang kering, Baekhyun melepaskan kecupannya pada puncak kepala Yoora, ia kembali menatap Yoora ia hanya ingin Yoora merasa nyaman dan tenang saat ini.

 

Yoora memalingkan wajahnya, pipinya mulai memerah lagi karena senyuman Baekhyun. Ia menatap rintikan air hujan yang berada pada pagar blakon.

 

“Hujan”

 

Yoora menutup matanya perlahan merasakan udara yang menjadi semakin dingin, ia  menghirup bau tanah yang baru saja basah karena air hujan. Perlahan-lahan bibirnya terangkat ia tersenyum dengan begitu lebar dan membuat Baekhyun tidak bisa berhenti menatapnya.

 

“Kenapa kau tersenyum seperti itu hanya karena hujan?”

 

Yoora memutar kepalanya menghadap Baekhyun ia hanya tersenyum kecil menanggapi pertanyaan Baekhyun. Ia mulai berdiri dan berjalan beberapa langkah kedepan. Yoora menjulurkan tangannya keluar dari balkon.

 

“Karena aku menyukainya maka aku tersenyum, kemarilah rasakan air hujan akan membuat kulit tanganmu basah”

 

Baekhyun berdiri tepat di belakang Yoora, ia mengikuti apa yang Yoora lakukan. Ia menaruh tangan kirinya di sebelah pinggang Yoora, ia merasakan air hujan yang membasahi kulit tangannya terasa sangat menusuk hingga tulang-tulangnya. Baekhyun kembali menatap Yoora yang masih sibuk menikmati air hujan yang membasahi tangan gadis itu. Baekhyun tertawa kecil melihat Yoora.

 

“Kau tau apa yang selalu membuatku senang merasakan air hujan?”

 

Yoora menurunkan tangannya,  ia membalikan badan dan menemukan Baekhyun yang sudah begitu dekat dengannya saat ini. ia menatap Baekhyun lembut, kemudian tangannya menyentuh kulit tangan Baekhyun.

 

“Rasakan dinginnya air hujan ini Baekhyun, dan rasakan bagaimana mereka akan membawa setiap bebanmu jatuh pada tanah. Tidak-kah ini membuatmu sedikit merasa lebih baik? Aku selalu percaya jika hujan akan membasahi setiap masalahku, bebanku, dan mereka akan membawa semua itu bersama aliran air yang terjatuh di tanah”

 

“Jadi? apa kau mau bermain air hujan sekarang?”

 

“Huh?”

 

Yoora menatap Baekhyun bingung, tapi laki-laki itu sudah menggendongnya membawa Yoora keluar dari kamar. Mereka berada di bawah saat ini lebih tepatnya berada di halaman belakang rumah Yoora. Baekhyun membawa Yoora keluar dari rumah.

 

Baekhyun membuat dirinya dan Yoora basah oleh hujan saat ini,  ia memutarkan tubuhnya  membuat Yoora berteriak sekencang mungkin, namun gadis itu juga mengeratkan pegangannya pada pundak Baekhyun.

 

Yoora meminta Baekhyun menurunkannya. Hal lain yang paling Yoora suka saat hujan turun adalah menari di tengah rintikan air hujan yang membuatnya merasa bebas. Gadis ini melakukannya lagi beberapa gerakan sederhana dalam balet meski kakinya yang sedang terkirlir terasa menyakitkan baginya saat ini, tapi Yoora ingin melakukannya.

 

Baekhyun memperhatikan Yoora yang sedang menari dengan bebas, ia merasa senang melihat Yoora bisa tertawa lepas seperti saat ini. ia sudah merasa khawatir akan susah membuat Yoora kembali tersenyum setelah Yoora kembali mengingat hyungwon. Baekhyun menarik tangan Yoora, ia membawa Yoora kedalam pelukannya.  Baekhyun mendekap Yoora dengan sangat erat, seperti tidak ingin melepaskan gadis itu kapanpun.

 

Yoora merasa tangannya di tarik oleh Baekhyun, awalnya ia cukup terkejut mendapati Baekhyun memeluknya dengan erat. Tapi kemudian ia membalas pelukan Baekhyun, yang selalu membekas dari Baekhyun adalah rasa hangat yang laki-laki itu berikan pada Yoora, membuat ia seakan mencair seperti es.

 

Baekhyun melepaskan pelukannya, ia tersenyum lebar. Masih ada banyak rencana yang akan mereka lakukan di bawah tetesan air hujan saat ini. salah satunya adalah berdansa bersama, terdengar konyol tapi Baekhyun ingin mencobanya bersama Yoora.

 

Yoora dan Baekhyun berdansa di bawah derasnya hujan yang turun, mereka berdansa tanpa alunan musik, yang ada hanya suara rintikan air hujan yang menghantam atap dan tanah tapi mereka menikmatinya. Sesekali Baekhyun dan Yoora akan saling melempar senyum dan tertawa sekeras mungkin bersama-sama.

 

Sudah hampir setengah jam Yoora dan Baekhyun bermain air hujan, keduanya sudah saling mengigil. Yoora menarik tangan Baekhyun mengisyaratkan ia ingin segera masuk kedalam rumah karena ia sudah merasa puas. Saat Yoora jalan mendahuli Baekhyun secara tiba-tiba Baekhyun menarik tangan Yoora.

 

Sejenak mereka saling menatap mata, ada isyarat dari mata Yoora yang mengatakan bahwa ia tidak mengerti dengan apa yang Baekhyun lakukan saat ini. secara tiba-tiba Baekhyun mencium bibir Yoora dengan lembut. Yoora diam, ia tidak bisa bereaksi apapun saat ini, tapi perlahan-lahan Baekhyun melumat bibir Yoora dengan pelan dan membuat gadis ini membalas lumatan Baekhyun. Yoora merangkul leher Baaekhyun agar laki-laki itu sedikit merunduk.

 

Hujan turun semakin deras, tapi keduanya masih menikmati ciuman mereka di tengah hujan yang tidak kunjung berhenti. Baekhyun memeluk pinggang Yoora dengan erat, rasa dingin yang awalnya terasa menusuk di tulang-tulang mereka kini seakan hilang. Hanya karena ciuman yang mereka lakukan, hawa dingin di sekitar mereka seolah telah berganti menjadi hangat.

 

Baekhyun melepaskan ciumannya, tangannya beralih pada tangan Yoora yang sudah lepas dari lehernya. Ia menggenggam tangan Yoora dan mengisi sela-sela di setiap jari Yoora dengan jarinya.

 

“Aku senang kau bisa tertawa seperti ini, aku sempat khawatir kau tidak akan tersenyum lagi ataupun merasa stress lagi”

 

“Terimakasih, kau membuatku tertawa lagi”

 

Baekhyun tersenyum lembut ketika tangan kanan Yoora menyentuh tepipinya dengan lembut. tangannya terasa dingin tapi saat gadis itu tersenyum lebar padanya rasanya menjadi begitu hangat, seperti Baekhyun tidak ingin melepaskannya.

 

“Nah, kurasa kita harus segera masuk sebelum diantara kita ada yang terkena flu” Baekhyun membopong Yoora, kedalam rumah mereka berhenti di dapur karena tubuh mereka yang basah kuyup membuat lantai rumah menjadi berair.

 

“Ya tuhan! Nona, Tuan. Jisoo cepat ambilkan handuk dan siapkan air panas”

 

Paman Hong segera berlari kearah Yoora dan Baekhyun yang terlihat basah dan kedinginan. Tapi dari keduanya hanya saling menatap dan kemudian tertawa sekencang mungkin bersama-sama. Dalam hati Paman Hong ia merasa senang melihat Yoora bisa tertawa lepas seperti sekarang.

 

“Nona, Tuan. Ini handuk untuk kalian dan air panas sudah kami siapikan di kamar kaian masing-masing. Apa ada yang kalian butuhkan lagi Tuan, Nona?”

 

“Tidak, terimakasih paman, jika aku membutuhkan sesuatu aku akan melakukannya sendiri”

 

Yoora melilitkan handuk di pundaknya, hawa dingin mulai terasa kembali di tulang-tulangnya. Bibirnya bahkan sudah terlihat pucat dan kulit-kulitnya mengekrut karena terlalu lama bermain air.

 

Baekhyun membopong Yoora lagi. Ia tahu gadis itu merasa nyeri pada pergelangan kakinya. Ia mengantar Yoora sampai kedalam kamar mandi, sejenak ia tersenyum kecil pada Yoora, tapi Yoora tidak menatapnya, malah fokus pada pergelangan kakinya.

 

“apa itu terasa sakit lagi? Akan ku ambilkan obat oles untuk kakimu”

 

Baru dua langkah Baekhyun pergi tapi Yoora sudah menahannya “Tidak usah ini sudah terasa baik, lebih baik malah. Sebaiknya kau segera mandi, keringkan rambutmu, jangan sampai sakit”

 

Yoora merampas handuk kering yang ada di sampingnya. Ia menyampirkan handuk pada kepala Baekhyun. Yoora tersenyum kecil, perlahan-lahan ia menutup pintu kamar mandi.

 

-ONE MORE TIME-

 

Baekhyun keluar dari kamar mandi, ia menatap pantulan dirinya di cermin. Baekhyun meraih handuk yang Yoora berikan padanya tadi, ia tersenyum samar mengingat apa yang Yoora katakan.

 

Baekhyun melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul empat sore. Hari ini ia melewatkan beberapa jadwal yang seharusnya ia lakukan di kantor. Ia baru mengingat jika barang-barangnya dan tas Yoora masih tertinggal di mobilnya. Ia segera keluar dari kamarnya untuk mengambil barang-baragnya yang tertinggal di dalam mobil.

 

Baekhyun mengambil tas Yoora, dan tasnya di jok belakang mobilnya. Ia memungut dompet Yoora yang terjatuh di jok. Merasa penasaran Baekhyun membuka dompet Yoora ia menemukan kartu identitas Yoora tanpa sengaja Baekhyun menemukan foto masa kecil Yoora, Baekhyun melihat-lihat beberapa foto yang ada di dompet Yoora. Ada satu foto kecil yang terjatuh ke pahanya, Baekhyun mengambilnya ia merasa terkejut dengan apa yang ia lihat, dengan buru-buru Baekhyun memasukan kembali semua foto kedalam dompet Yoora.

 

Baekhyun segera keluar dari mobilnya, saat ia keluar ia menemukan Yoora berdiri di ambang pintu rumah dan tersenyum padanya memberi isyarat agar Baekhyun cepat masuk kedalam rumah. Laki-laki ini menarik napasnya pelan-pelan dan menyunggingkan senyumnya, ia segera menuju ke tempat Yoora berdiri.

 

“Kenapa?”

 

“Tasku, terimakasih sudah mengambilkannya. Ah Baekhyun ibuku menelfon dia bilang ingin bicara padamu”

 

Baekhyun menyerahkan tas Yoora sebelum ia masuk dan meninggalkan gadis itu di luar sendirian.Yoora membalikan badannya dan memperhatikan punggung Baekhyun yang mulai menjauh. Laki-laki itu tidak seperti beberapa saat yang lalu, seperti merasa gugup.

 

Yoora menghela napasnya pelan, ia merogoh kedalam tasnya dan mengambil ponselnya. Terdapat beberapa panggilan tidak terjawab yang di dominasi Minji dan Seokjin. Yoora tertawa kecil ia bejalan kearah kursi dekat pintu rumahnya. Ia mulai membuka beberapa kotak masuknya.

 

“Heol, Sepertinya aku harus menghubungi Minji”

 

Yoora menekan beberapa nomor di layar ponselnya, ia mengembangkans enyumnya kecil sambil mengayun-ayunkan kakinya. Keadaanya berubah sekali saat ini sangat berbeda dari tadi pagi yang cenderung murung.

 

“Huh, Minji. Ini aku Yoora. Maaf aku membuat mu harus menghubungiku berkali-kali”

 

“…”

 

“Iya, aku tahu. Maaf membuat kalian khawati seperti ini. kemungkinan aku besok tidak bisa berangkat bisa tidak menyalinkan catatan untukku?”

 

“..”

 

“Huh, Baekhyun menggendongku di depan semua orang? Ah itu tadi dia bilang cuman karen aku sudah mengobati lukanya jadi dia membalas perbuatan kecilku itu”

 

“…”

 

Ya! Apa yang kau bicarakan, tentu aku tidak menyembunyikan apapun darimu. Ah sudah dulu ya aku harus istirahat”

 

Yoora mematikan sambungan telfonnya dengan Minji secara sepihak. Jantungnya sudah berdebar kencang saat Minji memojokannya di telfon tadi. Untung gadis itu sedang tidak ada di hadapannya jika Minji ada di hadapan Yoora bisa saja Minji tahu Yoora berbohong saat ini.

 

Yoora memasukan ponselnya kedalam tas lagi, tapi diam-diam ia memikirkan perkataan Minji di telfon tadi. Baekhyun yang secara terang-terangan menggendong Yoora dengan penuh rasa khawatir membuat seluruh kampus memperbicarakan mereka hari ini. Yoora mengehela napasnya secara kasar, ia menutup matanya secara perlahan.

 

“Kau kenapa? apa ada sesuatu yang membuat pikiranmu terusik lagi?”

 

Yoora memutar kepalanya melihat kearah Baekhyun yang sedan menyarkan bahu di pintu. Ia tersenyum tipis, Yoora tidak tahu apa yang harus ia lakukan pada Baekhyun ia ingin marah tapi Yoora tidak bisa, faktanya Baekhyun-lah yang sudah menolongnya saat pingsan tadi.

 

“Kenapa? apa ada sesuatu yang salah lagi?”

 

Baekhyun berjalan mendekati Yoora yang sedang menompang dagu dengan telapak tangan. Sekilas ia menatap mata Yoora ada keraguan untuk menjawab dari dalam diri Yoora.

 

“Yoora? Apa semuanya baik-baik saja?”

 

“Iya semuanya baik-baik saja. Apa yang ibuku bicarakan denganmu”

 

“Hanya sedikit, beliau menitipkanmu padaku secara langsung tadi. Ah Yoora, aku harus pergi sekarang ada yang harus aku urus aku melupakan sedikit pekerjaanku tadi”

 

Yoora hanya mengangguk, ia tersenyum tipis pada Baekhyun sebelum laki-lak itu melangkahkan kakinya dan menerjang hujan.

 

“Hati-hati di jalan Baekhyun”

 

Yoora meneriaki Baekhyun dari tempatnya berdiri, ia melambaikan tanganya. Yoora memutuskan untuk kemabli kedalam, ia melihat pergelangan kaki kirinya yaang masih di balut perban. Yoora hanya bisa menghela napasnya perlahan, ia memanggil beberpa pelayan di rumahnya untuk membantu dia masuk kedalam rumah.

 

Baru saja Yoora duduk di sofa ruang keluarga, tapi Pak Hong sudah menginterupsinya dengan buku catatan yang di bawa.

 

“Nona maaf mengganggu anda. Saya hanya mau mengingatkan bahwa besok ada pertemuan pemegang saham di kantor cabang”

 

“Ah, aku hampir melupakan itu, tapi paman bagaimana dengan kakiku? Ini masih terasa sakit”

 

“Itu, saya memiliki rencana bahwa Nona harus menggunakan kursi roda. Saya sedikit mendengar bahwa Tuan Baekhyun juga ikut kedalam rapat jadi kemungkinan Tuan bisa membantu Nona, bisa jadi ini akan menaikan saham perusahaan nantinya”

 

Yoora hanya mengangguk mengerti. Tidak ada salahnya bagi dia dan Baekhyun mengumbar mereka adalah Tunangan di depan rekan bisnisnya. Toh sebagian dari mereka sudah tau pertunangan Baekhyun dan Yoora.

 

“tolong atur semuanya untuk besok Paman, aku akan pergi dengan Baekhyun besok”

 

Yoora mengambil tablet di yang ada di mejanya. Ia melihat beberapa email yang belum ia baca. Beberapa di antaranya ada dari sang ibu, dan juga sekertarisnya di kantor. Banyak data dan file yang harus Yoora pelajari lagi. Gadis ini hanya menghela napasnya pelan dan kembali menaruh tabletnya. Yoora memijit pelipisnya perlahan, saat ini kepalanya seperti akan meledak melihat tumpukan email tersebut.

 

“Nona, apa ada yang salah?”

 

“Tidak, paman bisa tolong tinggalkan aku sendiri aku sedang ingin istirahat. Ah jangan lupa siapkan makan malam ya paman dan jangan lupa Baekhyun ada disini sekarang”

 

“Baik Nona”

 

Yoora mengembangkan senyumnya samar, ia masih mengingat perkataan ibunya dai telfon tadi menikah dengan Baekhyun setelah mereka di wisuda? Cukup terdengar gila bagi Yoora, tapi ia tidak punya pilihan lain selain mengatakan iya sebelum ibunya akan menceremahinya.

 

Ia menatap air hujan yang berjatuhan dari tempatnya duduk, Yoora cukup bersyukur karena ada hujan hari ini. seluruh pikirannya menjadi lebih ringan. Yoora menarik kedua ujung bibirnya dan tersenyum lebar.

 

-ONE MORE TIME-

 

“Oh aku benar-benar akan memukulnya dengan sejuta pertanyaanku besok”

 

Minji berjalan bolak-balik didepan Seokjin yang hanya melihat gadis ini mondar-mandir dan memegang ponsel. Ia sudah lebih dari sepuluh kali mengirimi Yoora pesan maupun melakukan panggilan pada Yoora, tapi Minji tidak mendapat jawaban dari Yoora.

 

Seokjin menompang dagunya ia mulai merasa lelah memperhatikan Minji yang mengoceh seperti orang gila. “Minji, sejujurnya aku pusing melihatmu seperti itu kau mondar-mandir kesana kemari. Kenapa kau tidak kerumahnya saja mungkin dia sedang istirahat di rumah”

 

Minji membalikan badannya ia menatap Seokjin dengan tajam, ia bahkan tidak pernah meminta laki-laki itu untuk memperhatikannya. “Dengar aku Kim Seokjin tidak ada satu patah katapun dari bibirku yang mengatakan bahwa kau harus memperhatikan aku yang bolak balik tidak jelas di depan matamu, tpi idemu boleh juga aku akan kerumah Yoora”

 

Seokjin memutar bola matanya malas, bagaimana dia tidak memperhatikan Minji yang berdiri di depan-nya. Lagi pula tidak ada hal lain yang bisa Seokjin lihat di cafetaria saat ini.

 

“Aku ikut”

 

Minji memikirkan apa yang Seokjin katakan barusan, sebelumya ia tidak pernah mengatakan siapa Yooa pada Seokjin. Ia memandang Seokjin dengan ragu, Minji mengetuk-ngetuk dagunya pelan.

 

“Jangan hanya diam, aku bilang aku mau ikut”

 

“Oke, dengan sayarat jangan banyak tanya maupun banyak berbicara”

 

Seokjin hanya membentuk tanda oke dengan jarinya. Ini kesempatannya untuk tahu dimana Yoora tinggal toh selama ini setiap Seokjin akan mengantar Yoora pulang gadis itu selalu menolak dengan alasan sudah ada acara atau dia akan di jemput. Cukup lucu mendengar Yoora di jemput mahasiswi macam apa yang sampai sekarang masih suka di antar jemput seperti Yoora.

 

Baru beberapa langkah Minji dan Seokjin berjalan ponsel Minji sudah berdering keras. Minji melihat layar ponselnya yang menampilkan nama Yoora. Dengan terburu-buru Minji mengangkat telfon dari Yoora.

 

“…”

 

Ya! Jika kau sudah lebih baik seharusnya kau memberitahuku bodoh kau tahu aku sangat khawatir tadi saat mendengar kau pingsan!”

 

“…”

 

“Heol, lagi-lagi kau tidak berangkat, apa keadaanmu belum membaik?! Dengarkan aku Nam Yoora kau harus menceritakan semuanya yang terjadi antara kau dan Baekhyun kau tahu tadi dia menggendongmu di depan orang. Oh ya tuhan Yoora sebenarnya apa yang kaulakukan bisa membuat Byun Baekhyun menggendongmu?”

 

“…”

 

“Benarkah? Kenapa aku tidak mau mempercayainya ya Nam Yoora jangan mencoba menyembunyikan sesuatu dariku”

 

 

Baru saja Minji akan mengatakan bahwa ia dan Seokjin akan datang kerumah Yoora tapi Yoora sudah lebih dulu menutup sambungan telfon mereka. Minji menghela napas kasar ia menatap Seokjin yang masih memperhatikannya. Minji menarik lengan Seokjin untk tetap jalan karena bagaimanapun Minji akan tetap ke rumah Yoora sekarang juga.

 

-ONE MORE TIME-

 

Karena Baekhyun tidak ada Yoora terpaksa memakai kursi roda selama dirumah lagi pula ia merasa tidak enak jika harus mengganggu pekerjaan pelayannya di rumahnya. Yoora duduk di kursi halaman belakang hujan sudah mulai reda Yoora mencium bau tanah yang masih basah perlahan ia menyunggingkan sudut bibirnya.

 

Yoora mengambil majalah yang ada di meja sebelahnya ia membuka lembar demi lembar hawa yang masih terasa dingin membuat ia harus mengeratkan selimutnya. Yoora mengambil ponselnya di sakunya ia kembali memperhatikan beberapa pesan masuk dari Minji dan Seokjin. Sebenarnya Yora merasa sedikit bersalah pada Minji karena telah berbohong apa lagi terakhir kali tadi ia mematikan sambungan telfon Minji secara sepihak.

 

Yoora menghela napasnya pelan, ia mulai membalik halaman majalah yang masih ada di pangkuannya, suasana yang begitu sepi hanya terdengar beberapa derap kaki dai pelayan rumahnya. Seolah semua itu sudah menjadi alunan dalam kehidupannya bertahun-tahun. Tiba-tiba salah satu pelayan yang ada di rumahnya memanggilnya.

 

“Maaf nona ada yang mencari anda”

 

“Suruh dia masuk”

 

“Sepertinya aku tidak perlu merasa khawatir lagi padamu”

 

Yoora membalikan kursi rodanya mendengar suara Seokjin di belakangnya. Benar saja gadis ini mendapati Seokjin berdiri beberapa meter di depannya saat ini. Yoora menyungging senyumnya perlahan, ia tahu pasti ulah Minji yang membawa Seokjin kerumahnya.

 

“Dimana Minji? Aku yakin dia pasti ikut”

 

Minji berjalan kearah Seokjin dengan membawa beberapa kantung belanja. Ia sedikit berkacak pinggang melihat Yoora yang sudah dalam keadaan sehat kecuali kakinya yang terbalut perban.

 

“Coba kita lihat tuan putri yang sudah membuat ku khawatir—“ Minji menarik napasnya lega ia menghampiri Yoora yang hanya tersenyum kecil, ia pikir Yoora akan marah padanya  karena pertengkaran kecil di ruang kesehatan tadi pagi. “—kupikir kau akan marah padaku Yoora, ya tuhan aku benar-benar sangat khawatir tadi”

 

Minji memeluk Yoora yang duduk di kursi roda dengan erat. Ia hanya bisa mendengar Yoora menghela napasnya berat tapi Yoora membalas pelukan Minji dengan begitu erat. Sejujurnya Minji cukup memikirkan kejadian tadi pagi. Minji melepas pelukannya dan menatap Yoora dengan penuh khawatir ya walupun ia masih memiliki sejuta pertanyaan untuk Yoora.

 

“Katakanlah sesuatu, kau membuat aku merasa tidak nyaman”

 

“Sejujurnya aku hampir marah dengan-mu tapi setelah kupikir itu pasti akan merepotkan aku nantinya” Yoora terkekeh kecil mengatakan itu, ia tidak pernah bisa untuk benar-benar marah dengan Minji. Karena hanya Minji yang bisa ia percaya saat ini.

 

“Apa yang kalian bawa?”

 

“Ini hanya—“ Minji menaikan kantung plastiknya yang berisi beberapa bahan makanan dan makanan ringan, tapi ekspresinya seperti menunjukan suatu ketidak sukaan tersendiri “—ya kau tahu aku tidak pandai memasak dan aku lebih suka koki rumah mu yang memasak, tapi tadi Kim Seokjin memaksaku untuk membeli beberapa bahan makanan dia bilang akan menjadi koki untuk kita hari ini”

 

Yoora hanya menatap Seokjin dan tersenyum samar pada laki-laki itu. “Minji tolong katakan pada Paman Hong minta semua koki untuk beristirahat biar Seokjin yang masak”

 

Minji hanya mengangguk ia segera pergi mencari paman Hong, sementara Seokjin ia hanya tersenyum tipis dan menghampiri Yoora. “Perlu sedikit bantuan?” Seokjin mulai menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Ia tidak tahu kenapa ia measa grogi di depan Yoora.

 

“Mungkin”Yoora yang merasa Seokjin terlihat canggung ia juga mulai merasa canggung dengan Seokjin, yang dapat Yoora lihat saat ini hanya kaki Seokjin yang mulai melangkah mendekatinya. Lebih tepatnya mulai membantunya mendorong kursi rodanya.

 

“Dimana dapurnya?”

 

“Lurus saja nanti ada pintu sebelah kanan masuk saja disitu dapurnya”

 

Hening keduanya tidak mengeluarkan suara apa pun entah kenapa tapi Yoora merasa tidak seakrab biasanya dengan Seokjin padahal tadi pagi mereka baru saja tertawa bersama. Yoora hanya merasa seperti seseorang yang tertangkap basah sedang mencuri.

 

Selama ini ia bersikap sederhana di depan Seokjin dan yang lebih penting ia melakukan semua hal sendiri. Ia tidak yakin jika Seokjin tahu perihal siapa dirinya, anak siapa dirinya. Sejauh ini yang Yoora tahu jika mereka tahu Yoora ini anak siapa terkadang ada yang mendekat karena harta dan terkadang ada yang menjauh karena mencari aman dari keluarga Yoora.

 

“Seokjin?”

 

“Ya”

 

Yoora mengigit bibir bawahnya perlahan sejujurnya ia ragu menanyakan hal ini tapi ia harus “maybe it’s will so awkaward but. Kamu tahu siapa keluarga ku? I mean, Minji mungkin pernah cerita sesuatu ke kamu?”

 

“Aku cuman tahu kamu ya kamu, Nam Yoora tidak lebih. Kenapa kamu tiba-tiba tanya seperti ini?”

 

Then tell me what are you feel when you knows how me? I think know the NAM’s Coorporation, don’t ask me why—“ Yoora menghela napasnya ia baru menyadari sesuatu beberapa menit yang lalu jika Minji berteman dengan Seokjin maka Seokjin merupakan salah satu anak dari seluruh jajaran eksekutif di Korea. Yoora cukup tahu sederet teman Minji adalah anak dari eksekutif-eksekutif karena orang tua Minji yang menuntut dan tidak mau menjatuhkan nama keluarga mereka Yoora cukup tahu itu “—ya aku rasa kamu itu kenal Minji berarti kamu bukan cuman orang biasa, tapi ini hanya sepekulasiku saja mungkin kamu anak dari salah satu eksekutif yang ada”

 

Skak. Seokjin diam ia tidak ingin menjawab tapi ia akan merasa tidak mengacuhkan pertanyaan Yoora. Ia menghentikan langkahnya. “Ya, aku anak dari salah satu jajaran eksekutif di Korea but, i’m not interested. Aku punya satu kakak dan dia yang mengatur semua. Apa ini cukup menjawab pertanyaanmu”

 

Yoora menggelengkan kepalanya, masih ada satu hal yang mengganjal di pikirnanya. Seokjin adalah anak dari salah satu jajaran eksekutif jadi tidak mungkin laki-laki itu tidak mendengar tentang pertunangannya dengan Byun Baekhyun.

 

“Ah, NAM’s Coorporation? Ya aku tahu dan kami menjalin beberapa kerjasama seperti pembangunan departemen store di jeju—“ Seokjin menghentikan ucapannya ia membutuhkan beberapa menit untuk memahami kemana arah pembicaraan Yoora.”—jangan katakan kau adalah satu satunya ahli waris dari NAM Coorporation?”

 

“Ya, aku pewaris tunggal grup NAM dan akulah yang mengurus pekerjaan di Korea termasuk di Jeju katakan saja semua cabang yang ada”

 

Seokjin hampir mengeraskan rahangnya tapi ia hanya menghela napas nya berat. Tidak heran jika selama ini Yoora sering di antar jemput dan beberapa kali ia mendengar hal yang cukup membuat Seokjin terkejut bahwa Yoora bukan gadis biasa sesuai penampilannya yang selalu terlihat sederhana. Saat ini juga Seokjin tahu apa maksud ucapan Minji didalam mobil.

 

well, aku paham maksud Minji kali ini”

 

“Ha? Apa maksudmu?”

 

“Tadi Minji mengatakan bahwa aku harus mau mengurus sebagian pekerjaan kakak-ku jika aku ingin tetap bersamamu”

 

Wajah Yoora mulai merona mendenga ucapan Seokjin tapi tiba tiba di belakang Yooa dan Seokjin ada suara yang mengganggu mereka. lebih tepatnya Minji yang berdeham mengingatkan keduanya bahwa ada Minji di dalam rumah ini.

 

“Minji”

 

“Sudah cukup waktu kalian untuk berduaan, sekarang waktuku dengan Yoora. Jadi Seokjin lebih baik kau sekarang memasak aku sudah sangat lapar”

 

Minji mengambil alih pegangan kursi roda Yoora, sudah cukup kemajuan bagi Yoora dan Seokjin yang mau membuka siapa keluarga mereka. Minji memberi isyarat pada Seokjin bahwa mereka akan menunggu di ruang makan.

 

Yoora baru teringat bahwa di ruang keluarga masih terpampang fotonya dan Baekhyun saat bertunangan, tapi siapa yang akan ke ruang itu sejauh ini Minji lebih menyukai di dalam kamar Yoora maupun di taman belakang. Tapi perasaannya tetap saja resah saat ini.

 

Minji menarik satu kursi ia membantu Yoora untuk duduk di kursi makan. Minji memperhatikan Yoora yang terlihat lebih baik daripada tadi pagi ia tersenyum samar. Rasa khawatirnya sudah mulai memudar.

 

“Jadi, ceritakan padaku kau berhutang banyak cerita padaku Yoora”

 

“Apa?”

 

“Jangan pura-pura bodoh Baekhyun dan kau tentu saja”

 

Yoora menarik napas perlahan dan membuangnya pelan, ia tahu bahwa Minji akan terus bertanya padanya sampai menemukan jawaban yang Minji mau. “Aku sudah mengatakan nya tadi bukan itu hanya rasa terimakasihnya saja”

 

Entah apa yang di katakan Yoora ini benar atau tidak tapi di dalam mata Yoora sedang merasa gelisah dan Minji bisa melihat itu. mungkin Yoora berbohong dengan bibirnya dan tidak akan ada yang tahu, tapi mata selalu mengatakan yang sebenarnya.

 

Pandangan matanya teralih pada tangan Yoora lebih tepatnya tangan kanan Yoora yang berada di meja. Minji sekilas memperhatikan jari manis Yoora yang tersemat cincin perak, cincin yang cukup sederhana dengan satu mata berlian, tapi Minji yakin itu cincin pasangan.

 

“Yoora sejak kapan kau memakai cincin seperti ini?”

 

Minji meraih tangan kanan Yoora, tapi Yoora menangkis tangan Minji. Minji masih menatap Yoora dengan serius.

 

“Ah ini cincin yang di berikan ibuku beberapa minggu lalu, ibu bilang ini miliknya dulu”

 

Yoora memasang senyuman lebarnya, tapi dalam hatinya ia sudah sangat gelisah. Pikirannya terus saja memikirkan Minji yang akan terus bertanya. Yoora cukup tahu Minji tipikal gadis yang seperti apa.

 

“Benarkah?”

 

Yoora hanya menangguk dan bibirnya masih tersenyum. Faktanya ia tidak berbohong soal cincin apa yang ia gunakan memang itu pemberian ibunya yang belum lama ibunya belikan untuk pertunangannya dengan Baekhyun.

 

Minji tidak ingin menaruh curiga yang lebih panjang pada Yoora tapi rasa penasarannya seperti mendrong ia untuk terus bertanya. Sebisa mungkin Minji mengalihkan pembicaraan meskipun dipikirannya ia menyimpan seratus pertanyaan untuk Yoora yang akan ia tanyakan lain hari.

 

Ditengah percakapan Yoora dan Minji ponsel Yoora berdering. Ia memperhatikan nama di layar ponselnya.

 

“Siapa?”

 

“Nam Taehyun, tidak-kah dia menelfon saat yang tepat. Sebentar oke?”

 

Yoora memberikan isyarat bagi Minji untuk diam dulu. Tapi bibirnya terus tersenyum memperhatikan Minji, sebenarnya senyuman Yoora lebih mengarah pada senyuman menggoda Minji. Tentu saja Yoora sengaja memasang senyuman itu karena Yoora tahu Minji sangat menyukai Taehyun sepupunya tapi sayang Taehyun terus berpindah pindah dan jarang berada di Korea.

 

“Hallo, Taehyun”

 

“YOORA!!! I MISS YOU SO MUCH SISTER”

 

Yoora sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya karena Taehyun yang berteriak dari sebrang telpon, tanpa Taehyun berteriak pun gadis ini masih bisa mendengarnya.

 

“Bisa tidak jangan beteriak seperti itu? aku bisa tuli”

 

“Hey, i miss you sist. Besok aku ke Korea are you happy hear that? I wanna see your fiance.”

 

“Stop talking like you are an english peopel Namtae”

 

“Oh shit Yoora dari dulu kau sama sekali tidak berubah. Jemput aku besok oke?”

 

“Jemput? Aku sibuk besok, kamu punya banyak orang dan supir suruh mereka saja”

 

“Dengar ya, ini perintah ibumu dia mau aku menginap dirumahmu dan berkenalan dengan tunanganmu anggap saja seperti pertemuan keluarga besar aku sebagai wakilnya”

 

“oke, besok paman hong akan menjemputmu. Ku tutup telponnya”

 

Yoora mematikan sambungan telponnya secara sepihak, ia membating ponselnya di meja makan. Dari dulu Yooa tahu bahwa Taehyun selalu menepel padanya sampai pamannya meninggal dan Taehyun harus siap menggantikan posisi pamannya sebagai presdir. Tapi ia tidak pernah menyangka jika Taehyun bisa menjadi menyebalkan seperti sekarang.

 

“Yoora, apa yang dikatakan Taehyun? Apa dia akan ada di Korea?”

 

“Ya, dia akan di Korea kalau mau jemput saja dia besok dengan paman Hong aku ada rapat pemegang saham besok”

 

“Wah, kau serba sibuk ya. Ah pantas saja kakak akan pulang besok. Kau tahu seluruh rumah lumayan di buat sibuk karena kakak mau pulang dan yang pasti semuanya harus serba bersih dan yah bla bla kakak ku ingin sesuatu yang sempurna”

 

Yoora hanya tersenyum tipis ia hanya sedikit mendengar tentang kakak Minji tapi dari apa yang Minji ceritakan tentu Minji sangat dekat dengan kakaknya tapi sayang kakak Minji terlalu sibuk dan begitu jarang menghubungi adiknya setelah ayah mereka jatuh sakit.

 

“Minjae pasti sangat sibuk iyakan?”

 

“Ya, sangat. Yoora apa kau tidak lelah mengurus perusahaan seperti itu? sejujurnya aku sedikit muak kau tahu rasanya seperti ada sesuatu yang ingin ku muntahkan jika melihat dokumen-dokumen di meja kerjamu”

 

“Lelah? Aku tidak pernah merasa seperti lelah atau sebagainya—“ Yoora mengulas senyumnya samar sejujurnya ia merasa tertekan tapi “—ini tanggung jawabku sejak aku lahirpun aku sudah harus memikul beban. Jadi aku hanya menjalaninya lalu perlahan-lahan aku terbiasa. Duniaku hanya ada kamu, keluargaku, Taehyun dan sejumlah dokumen yang harus ku setujui”

 

Minji mengalihkan pembicaraannya menatap kaki Yoora yang di perban “Yoora, apa kakimu baik-baik saja? Itu terlihat sangat tidak baik-baik saja”

 

Lagi yang Yoora lakukan hanya tersenyum samar “Ini sudah lebih baik daripada tadi” sejujurnya Yoora sendiri tidak yakin jika kakinya lebih baik. Mengingat kakinya yang belum lama sembuh dari terkilir saat di Jepang, Yoora sendiri tidak bisa memastikan seperti apa kondisi kakinya.

 

Getaran ponsel Yoora yang ada di meja cukup membuat Minji dan Yoora memandang dari mana asal getaran itu. Yoora mengambil ponselnya dan mendapati satu pesan masuk dari Baekhyun. Yoora menaruh kembali ponselnya setelah membaca pesan dari Baekhyun yang mengatakan akan pulang larut.

 

“dari siapa tidak biasanya kau mengabaikan pesan seperti itu. apa itu tidak penting?”

 

“Taehyun, dia protes karena aku mematikan sambungan telfon tadi”

 

“Benarkah? Coba aku lihat, aku sang—“ tangan Minji yang saat ini terulur mengambil ponsel Yoora tertahan tangan Yoora. “—kenapa? apa aku tidak boleh memegang ponselmu lagi?”

 

Yoora menggeleng pelan “Seokjin sudah datang. Kurasa lebih baik kita makan dulu aku sudah sangat lapar”

 

Minji mencibir Yoora yang seperti menyembunyikan sesuatu darinya, tapi gadis ini sedikit berpendapat sama dengan Yoora lebih baik makan dulu karena perutnya sudah sangat lapar.

 

“coba kita lihat siapa yang sudah kelaparan”

 

Seokjin menaruh beberapa hidangan ke meja makan. Semua yang Seokjin masak serba Seafood. Minji yang mengingatkan Seokjin bahwa Yoora sangat suka dengan Seafood, dan benar saja Yoora seperti sudah tidak sabar untuk memakan masakannya. Terlihat bagaimana gadis itu begitu antusias mencium aroma masakannya.

 

“Ini terlihat sangat enak”

 

Yoora mengambil beberapa sendok masakan Seokjin kepiringnya, beberapa kali ia menatap Seokjin yang seperti sedang menunggu ia untuk memasukan sesuap masakannya kedalam mulut. Yangpertama kali Yoora coba adalah cumi lada hitam yang menjadi favoritnya.

 

“Hmm, Seokjin ini sangat enak” ucap Yoora dengan perasaan tidak percaya

 

“Syukurlah” Seokjin tersenyum lega karena Yoora memuji rasa masakannya. Ia pikir Yoora akan tidak menyukainya.

 

Minji, Seokjin, dan Yoora menikmati makanan mereka masing-masing. Sesekali Seokjin melihat kearah Yoora yang masih sibuk dengan makanan dan tablet di samping piring gadis itu. sesekali ia melihat pengawal pribadi Yoora mendekat ke meja makan dan membisikan beberapa hal yang tidak Seokjin ketahuin.

 

-ONE MORE TIME-

 

Setlah makanan mereka habis tadi Yoora, Seokjin dan Minji memutuskan untuk sekedar mengobrol di halaman depan rumah Yoora. Matahari sudah tenggelam sejam satu jam yang lalu. Waktu sudah menunjukan pukul delapan malam dan Yoora masih asik untuk berbincang dengan kedua orang ini.

“Wah sudah malam ternyata apa tidak sebaiknya kita pulang?” tanya Minji pada Seokjin

 

“Sepertinya seperti itu” timpal Seokjin. Ia memperhatikan jam tangannya.

 

Seokjin ingat tadi siang kakaknya menyuruh Seokjin untuk sampai di rumah sebelum pukul sembilan malam. “Lebih baik jika pulang sekarang, aku ada janji dengan orang”

 

Minji mengangguk setuju karena dirinya sendiri sudah cukup lelah hari ini. ia memutuskan untuk berpamitan pada Yoora yang memajang wajah murungnya.

 

“Ayolah lain kali kami akan datang kemari lagi” ucap Minji.

 

“Setiap hari pun itu tidak masalah”

 

Minji memutar bola matanya malas mendengar jawaban Yoora. Ya kalaupun setiap harinya nanti Yoora ada dirumah itu tidak apa bagi Minji dan Seokjin untuk berkunjung, tapi kalau Yoora tidak ada itu akan terasa sia-sia.

 

Yoora mengantarkan Seokjin dan Minji hingga depan rumah, ia melambaikan tangannya pada Minji dan Seokjin yang sudah masuk mobil. Yoora menghela napasnya lega karena keduanya sudah pulang mengingat waktu yang sudah hampir larut pasti Baekhyun akan segera pulang.

 

Yoora kembali masuk kedalam rumah dengan keadaan kakinya yang terpincang-pincang. Beberapa pelayan menghampiri Yoora dan membantu Yoora untuk masuk.

 

“Paman Hong, bisa kita bicara sebentar” pinta Yoora pada lelaki tua yang sedang berjalan di belakang Yoora.

 

Yoora sudah kembali duduk di kursi rodanya, ia kembali ketempatnya semula. Di teras belakang rumah.

 

“Ada apa Nona?”

 

“Paman bisa bilang pada juru masak untuk memasakan beberapa sajian? Kemungkinan Baekhyun akan segera pulang. Aku khawatir jika dia belum makan malam”

 

“Baik Nona”

 

Paman Hong yang sudah beberapa langkah menuju pintu keluar mengurungkan niatnya ketika Yoora kembali memanggilnya.

 

“Paman bisa tolong bilang pada bibi liu untuk membantu ku besok untuk bersiap-siap?”

 

“Tapi nona apa tidak sebaiknya saya panggilkan perias handal saja?”

 

“Tidak perlu paman aku hanya butuh bibi Liu saja besok”

 

“Baik nona”

 

Paman Hong kembali melanjutkan langkahnya untuk ke dapur, dan memberi tahu beberapa juru masak.

 

Yoora menghela napasnya pelan, ia kembali melihat tabletnya yang sudah ada di pangkuannya. Ia memoerhatikan pergerakan kurva keuntungan dari perusahannya. Namun ia lalu menekan tombol silang, Yoora menekan ikon memo dan melihat kegiatan apa saja yang akan ia lakukan untuk beberapa hari kedepan.

 

Yoora memijit pelipisnya pelan melihat jadwal yang sudah pak Hong susun untuknya. Ia pikir dalam satu minggu ini akan benar-benar sibuk dan tidak akan sempat untuk memasuki perkuliahan.

 

“Kau lelah?”

 

Yoora menolehkan kepalanya dan mendapati Baekhyun yang sudha bersandar pada dinding dan memandanginya.

 

“Sedikit”

 

“kau bisa istirahat kalau begitu, tidak lucu kalau besok kau hadir dalam rapat dalam keadaan lelah”

 

Yoora hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Baekhyun. Ia memutar kursi rodanya dan mendorong rodanya agar ia bisa berada di depan Baekhyun saat ini.

 

“Apa kau sudah makan malam?”

 

Baekhyun terlihat berpikir sejenak dan menatap Yoora. “Belum, aku tidak sempat tadi”

 

“Makanlah, aku sudah menyuruh beberapa juru masak untuk memasakan untukmu” Yoora mengakhiri ucapannya dengan senyuman tipis.

 

“Kau sudah makan? Bagaimana kalau menemaniku makan malam?”

 

Yoora menghela napasnya pelan, “Baiklah”

 

Baekhyun mengambil alih kemudi kursi roda Yoora, ia mendorong kursi roda Yoora tanpa mengatakan sepatah katapun kepada tunangannya. Bahkan sampai saat ini mereka duduk berdua di meja keduanya tidak mengeluarkan suara apapun. Sampai makananya datang.

 

“Makanlah, aku sudah makan Baek, aku hanya menemanimu saja disini”

 

Baekhyun hanya mengangguk pelan dan menikmati makanannya. Sesekali ia melirik Yoora yang terlihat sibuk memandangi tabletnya. Tidak perlu di tanyapun Baekhyun sudah tau apa yang sedang Yoora lakukan.

 

Baekhyun mengambil segelas air putih yang ada di sampingnya. Ia memakan setengah dari makanannya. “Apa kurva kenaikan saham mu itu sangat menarik sampai harus kau perhatikan seperti itu?” tanya Baekhyun tiba-tiba.

 

“Hah, apa?” Yoora yang mendengar ucapan Baekhyun barusan hanya bertingkah seperti tidak mendengar apapun. Bukan karena ia mencoba untuk tidak peduli pada Baekhyun tapi ini lebih pada ia yang tersipu mendengar ucapan Baekhyun.

 

Secara tidak langsung Yoora bisa mengerti apa yang Baekhyun ucapakan lebih mengarah pada pertanyaan yang menanyakan apa kurva kenaikan sahamnya lebih menarik dari pada Baekhyun. Yoora ini memang terlihat sedang sibuk dan pikirannya hanya terfokus pada apa yang sedang ia lihat, tapi Yoora ini pintar dan bisa mendengar dengan jelas apa yang Baekhyun ucapkan.

 

“tidak apa, mau istirahat? Aku akan mengantarmu ke kamar kalau iya”

 

Mengingat kondisinya sekarang yang sedang susah untuk berjalan Yoora menerima tawaran Baekhyun walaupun dirinya belum terlalu lelah, hanya saja berada di kamarnya sekarang tidak ada salahnya.

 

“Apa kau sudah minum obat?” tanya Baekhyun pada Yoora yang langsung di respon dengan gelengan kecil dari Yoora.

 

“Kau ini tidak mau sembuh atau memang tidak suka minum obat?”

 

Baekhyun bertanya pada Yoora dengan nada yang begitu perhatian pada tunangannya.

 

Untuk sejenak Yoora tersenyum mendengar pertanyaan Baekhyun. Ia sendiri saja lupa jika harus menghabiskan beberapa obatnya.

 

“Aku lupa, setelah ini aku akan meminumnya”

 

Baekhyun membuka pintu kamaar Yoora, ia mendorong kursi roda sampai dekat ranjang Yoora. Tanpa permisi Baekhyun membopong Yoora dan meletakan gadis itu ke ranjang.

 

Sementara Yoora hanya bisa bengong dengan sikap Baekhyun. Tapi ia sama sekali tidak menolak apa yang Baekhyun lakukan untuknya.

 

Baekhyun menarik selimut Yoora sampai pinggang Yoora. Ia mengambil beberapa obat yang ada di nakas dekat ranjang Yoora dan memberikan 3 kapsul obat pada Yoora.

 

“Minumlah, setidaknya besok kau harus lebih sehat”

 

Yoora mengambil obat dan air putih yang sudah Baekhyun sodorkan untuknya. ia meminum obatnya dam menaruh gelas di nakas dekat ranjangnya.

 

“Tidurlah lebih awal, aku akan menjagamu disini” ucap Baekhyun sambil duduk di pinggir ranjang Yoora.

 

Tidak ada penolakan apapun yang Yoora lakukan, justru gadis itu menuruti apa yang Baekhyun ucapkan. Yoora mulai menarik selimutnya hingga menutupi badannya, ia mulai terlelap ketika Baekhyun memutarkan musik.

 

Baekhyun memperhatikan Yoora yang sudah terlelap, ia menyisikan beberapa helai rambut Yoora yang menutupi wajah gadis itu. sudut bibirnya mulai tertarik keatas melihat gadisnya sudah tidur dengan nyenyak. Baekhyun mencium puncak kepala Yoora sebentar.

 

“Selamat malam, semoga mimpi indah Yoora”

 

Baekhyun keluar sebentar dari kamar Yoora untuk mengambil tabletnya, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk duduk di sofa dekat ranjang Yoora. Seperti apa yang Yoora lakukan tadi Baekhyun tengah memandangi kurva kenaikan keuntungannya pada bulan ini, dan membaca beberapa email dari rekan kejanya yang belum sempat ia baca dari tadi pagi.

 

Sesekali Baekhyun memperhatikan Yoora, tapi sesekali pula Baekhyun memastikan bahwa waktu belum menunjukan pukul dua belas malam. Baekhyun meraih ponselnya dan membaca pesan yang baru saja masuk.

 

Tiga puluh menit lagi, Baekhyun mematikan tabletnya. Ia keluar dari kamar Yoora untuk mengambil sesuatu di dalam mobilnya. Kue ulang tahun, Baekhyun mengambil kue ulang tahun yang tadi sudah ia beli saat akan pulang kerumah.

 

Sesuai apa yang tadi ia lihat di dompet Yoora bahwa tanggal 26 Agustus adalah tanggal ulang tahun Yoora yang ke 22. Baekhyun membawa masuk kue tersebut kedalam dan meminta beberapa pelayan untuk menghidupkan lilinnya.

 

Baekhyun kembali melirik jam tangannya yang menunjukan pukul seblas lebih empat puluh lima menit. Ia kembali mengecek persiapan yang sudah ia siapkan sedari tadi terlebih lagi pada taman belakang, Baekhyun sudah menyuruh beberapa orang untuk menatakan sesuatu disana.

 

“Tuan, sebentar lagi akan memasuki pukul dua belas malam apa tidak sebaiknya tuan segera keatas” Paman Hong memperingatkan Baekhyun tentang waktu yang masih terus berjalan.

 

Baekhyun mengambil kue yang akan ia berikan pada Yoora. Tidak lupa Baekhyun menyiapakn hadiahnya untuk Yoora yang sudah berada dalam sakunya. Dengan pelan-pelan Baekhyun menaiki tangga untuk menuju kamar Yoora.

 

Dua menit lagi akan memasuki tanggal 26, jantung Baekhyun menjadi begitu berdebar ini pertama kalinya Baekhyun memberikan kejutan untuk seseorang yang spesial di kehidupannya selain keluarganya.

 

Baekhyun membuka pintu kamar Yoora dengan hati-hati memastikan gadis itu masih terlelap dalam tidurnya. Baekhyun memastika bahwa saat ini sudah pukul dua belas malam, dengan hati-hati Baekhyun membangunkan Yoora.

 

“Yoora-ya, Nam Yoora” Baekhyun mengguncang kecil tubuh mungil Yoora. Alhasil Yoora menggeliat pelan dan mengucek matanya dengan telapak tangannya.

 

Yoora terkejut ketika mendapati suasana kamarnya yang gelap di tambah Baekhyun yang membawakannya kue.

 

Baekhyun mulai menyanyikan lagu ulang tahun untuk Yoora, hingga gadis itu menyadari bahwa Baekhyun sedang mempersiapkan kejutan untuk dirinya. Yoora tersenyum lebar mendapati kejutan yang Baekhyun berikan, sebelumnya ia jarang mendapatkan hal yang seperti ini.

 

“Selamat ulang tahun, ayo tiup lilinnya”

 

Yoora mulai berdoa sebentar lalu meniup lilinnya. Suasana kamar Yoora menjadi begitu gelap apa lagi saat ini Baekhyun menutup kedua mata Yoora dengan tangan lelaki itu.

 

“Baek ada apa?” tanya Yoora pada Baekhyun. Yoora mencengkram lengan Baekhyun dengan erat.

 

Baekhyun menyuruh Yoora untuk turun dari ranjangnya, ia membantu Yoora untuk berjalan hingga balkon kamar Yoora. Ia masih tidak ingin melepaskan tangannya dari mata Yoora. Padahal sedari tadi Yoora sudah mempertanyakan apa yang Baekhyun lakukan dengan menutup matanya.

 

“Aku harap kau menyukainya” bisik Baekhyun pada Yoora lalu melepaskan tutupan tangannya pada mata Yoora.

 

Yoora membuka matanya dan mendapati dirinya di balkon kamarnya. ia terkejut ketika mendapati pemandangan yang begitu terang di depannya. Yoora menutup mulutnya merasa tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. entah berapa bunga mawar putih yang ada disana dengan lampu-lampu kecil di bawahnya.

 

Yoora sangat menyukainya ketika angka 26 itu terbentuk sempurna dari tataan bunya mawar yang berjejer rapih di halam belakang rumahnya, di tambah dengan lambang hati di belakangnya.

 

Yoora menolehkan kepalanya dan menatap Baekhyun dengan perasaan tidak percayanya. Ia sejujurnya ingin menangis terharu tapi yang terjadi malah Yoora tersenyum sangat lebar.

 

“Aku tidak tahu apa kau akan menyukainya atau tidak—“ Baekhyun menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal. “—yang aku tahu kau sangat menyukai bunga peony, tapi itu sangat sulit mendapatkannya dan membutuhkan beberapa hari. Tapi aku harap bunga mawar putih ini bisa menggantinya. Lain kali aku—“ ucapan Baekhyun terpotong oleh bibir Yoora yang kini menempel pada bibirnya.

 

Baekhyun merasa membeku merasakan kecupan yang Yoora berikan untuknya baru saja, terlebih lagi gadis itu langsung memeluknya dengan erat. Enatah apa yang sudah terjadi pada Yoora hari ini semuanya terasa mengejutkan bagi Baekhyun terlebih Yoora yang mau mengecup bibirnya.

 

“Aku sangat menyukainya Baek, sangat. Terimakasih sudah memberiku kejutan” Yoora mengeratkan pelukannya pada Baekhyun.

 

“Tunggu, aku mempunyai sebuah kado untukmu”

 

Yoora mengerutkan keningnya, bagi Yoora mendapati kejutan seperti ini saja sudah merupakan kado bagi Yoora.

 

Baekhyun mengelurakan kotak persegi empat dari kantongnya, ia memberikannya pada Yoora.

 

“Bukalah, aku harap ini bisa mengganti bunga peony yang kau inginkan”

 

Yoora membuka kotakan yang Baekhyun berikan dan mendapati kalung dengan gantungan berbentuk bunga peony. Lagi-lagi Yoora memeluk Baekhyun dengan sangat erat dan tidak tahu harus berkata apa lagi. ini semua sudah cukup membuatnya merasa luluh pada Baekhyun.

 

“Sini biar ku pasangkan” ucap Baekhyun sambil melepaskan pelukan dari Yoora.

 

Baekhyun mengambil kalung yang masih beada di tempatnya. Ia memasangkan kalung yang baru saja berikan ke leher Yoora dan itu terasa sangat cocok di kenakan gadis itu.

 

“Apa kau mau duduk disini sebentar? Aku masih ingin melihat bunga mawar itu” ucap Yoora pada Baekhyun.

 

Siapa yang bisa menolak permintaan gadis yang ia cintai? Pasti tidak ada, dan itu terjadi pada Baekhyun kini ia sudah duduk sembari mengusap lembut puncak kepala Yoora. Sudah sepuluh menit sejak posisi kepala Yoora bersandar pada bahu Baekhyun dan memeluk pinggang Baekhyun dengan manja.

 

“Kau tahu dari mana aku berulang tahun?”

 

“Kartu identitasmu”

 

Yoora menghela napasnya pelan. Entah bagaimana ia merasa perasaannya seperti semakin luluh pada Baekhyun. Sejak hari dimana Baekhyun menatapnya pertama kali mereka bertemu dan segala sentuhan yang Baekhyun berikan memberikan kenyamanan sendiri bagi Yoora dan gadis itu tidak bisa menolaknya.

 

“Apa kau selalu seromantis ini?” tanya Yoora tiba-tiba dan membuat Baekhyun terkejut.

 

“Hah? Maksudnya?”

 

“Lupakan, nyanyikan aku lagu”

 

Baekhyun menuruti apa yang Yoora minta padanya. Ia segera meyanyikan lagu Hope ft Jason Mraz – Lucky. Baru sampai pertengahan lagu Yoora sudah tertidur dengan lelap di pelukan Baekhyun. Untuk sejenak Baekhyun tersenyum dan menatap wajah Yoora saat tidur terlihat sangat damai.

 

Baekhyun menggendong Yoora masuk kedalam kamar. Ia menurunkan Yoora ke kasur. Lagi-lagi Baekhyun tersenyum melihat Yoora, ia menarik selimut Yoora sampai bahu gadis itu. ia ingin keluar dari kamar Yoora tapi seperti ada yang menahannya. Yoora mencengkram baju Baekhyun dengan kuat.

 

Baekhyun menolehkan kepalanya dan mendapati Yoora yang setengah sadar.

 

“Tidur disini saja, temani aku” pinta Yoora pada Baekhyun.

 

“Baiklah”

 

Baekhyun mulai naik keatas kasur dan tidur di samping Yoora. Gadis itu menyandarkan kepalanya pada dada Baekhyun dan membuat Baekhyun tersenyum melihatnya. Baekhyun menggenggam erat tangan kiri Yoora yang masih tersemat cincin tunangan mereka. Baekhyun mengecup sekilas punggung tangan Yoora.

 

Karena udara yang sangat dingin membuat Baekhyun menaikan selimunya lagi, terlebih ia mengeratkan pelukannya pada Yoora saat ini. ia mengecup puncak kepala Yoora cukup lama sambil memejamkan matanya.

 

“Aku sangat menyayangimu Yoora” ucap Baekhyun  tanpa sadar dan tidak berapa lama lelaki itu jatuh tertidur dengan posisi memeluk Yoora dengan erat.

 

-ONE MORE TIME-

 

Gadis ini mempercepat langkahnya. Ia memperhatikan jam tangan yang menunjukan pukul lima pagi. Ia sudah berada di depan rumah yang sangat besar bahkan ia masuk kedalam rumah dengan begitu saja, karena pada dasarnya mereka sudah tahu siapa yang baru saja masuk dan tergesa-gesa. Terlebih gadis itu membawa kue.

 

Dengan hati-hati ia membuka kenop pintu kamar dari sahabatnya yang ia yakini masih tertidur nyenyak. Ya walaupun ia tahu hari ini sahabatnya tidak akan berangkat ke kampus tapi setidaknya ia ingin memberikan kejutan ini.

 

“SELAMAT ULANG TAHUN YOORA” ucap Minji yang berhasil membuka kamar Yoora.

 

TBC

 

Yey akhirnya finish untuk chapter ini. ayo RCL untukku.

Hayolo Phonya bakalan muali bermunculai baytheway he he.

Pertama aku minta maaf karena sudah sangat lama tidak update. Sedih memang mengingat terakhir kali itu saya bilang cuman bentar tapi ternyata lama. Maafkan saya juseyo /bow/. Jadi gini sebenernya kemarin itu aku lagi sibuk banget karena mepet mau uas jadi banyak tugas apa lagi kemarin sbnrnya mau di usahain pas lebaran update tp gak bisa.

Sedih saya mengingat habis lebaran itu saya uas dan ada seminar juga huhu selain itu juga ada kegiatan yang membuat saya hanya bisa menyentuh makalah saya saja. dan sekarang urusan sudah beres semua he he. Harap maklum reader-nim, semoga habis ini aku bisa update seperti biasa lagi dan silahkan yang puya wattpad bisa follow kesini : https://www.wattpad.com/user/sebiie . Kemungkinan aku bakalan sering post disana sebagian ceritaku juga bakalan aku remake dan post disana, jangan lupa follow ya dan jangan lupa baca ceritanya he he. Btw ini 9.500 words teman teman aku harap tidak mengecewakan.

Oh ya ayo saran lagi Minji harusnya tau apa enggak ya itu di chap 7? Btw aku mau adain sesi Ask and question sialhkan ask ke twitter, ini berlaku untuk semua ff saya ya mau yang on going maupun yang sudah completed. Dan bagi yang meminta pasword tapi belum di bales silahkan chat ulang ketimbun soalnya ):

Big thanks untuk kalian semua yang selalu menunggu lanjutan ff ku ini teman teman. Thanks banget aku sayang kalian /hug/

-sebie.

26 responses to “One More Time [Chapter 6]- By Sebie

  1. Eh akhirnya di post. Yoora jadi lebih manis berhadapan ama baekhyun 😆😆
    Itu akhirnya sumpah spot jantung seketika. Minji bakal tau dong baekhyun itu tunangan yoora 😮 nggak apa-apa deh lagian udah lama banget yak disembunyiin hubungannya 😂😂

  2. huwaaa.. akhirnya dilanjut>< makin lope sama dia, hahahahahaha
    dan, MINJI LANGSUNG BUKA KAMAR YOORA PDAHAL SEBENERNYA BAEK-YOO LAGI TIDUR SAMBIL PELUKAN*iyakan? waaaah, kayakny di chap 7 Minji dikasih tau aja deh kak:V aku udh greget maaah.. tpi, serah kakak siih, ga juga gpp.
    aku tunggu lho!!!

  3. Wahh akhirnya updet juga..
    Suka part ini, feelny lebih terasa.. aduh mereka makin sweet aja.
    jgn dong ketahuan..
    Dan ini makasih uda panjang partny..

    Di tunggu part selanjutnya..

  4. Yey!! Akhirnya update 😍😍 minji danger banget ini masuk kamar yoora 😂😂😂 bongkar aja semuaaa kasian minjinya 😂😂

  5. Akhirnya update jg, sdh lama bnget ak nunggu ini lanjut. Ak kira kakak bhng ktny bkalan update setelah tanggal 20😦 .

    Tapi nggak ap deh ini sdh terbayar krna kakak update ny pnjang bnget.

    Mnrut ak sih minji tau ny di chapter 8 aj deh,
    Soalny nggak mau ngerusah moment romatis baekhyun sama yoora.

    Ak penasaran sama cewek yang peluk baekhyun tdi, jngan2 dia bakalan jadi penghalang baekhyun sama yoora😦 .
    Dan kayakny konflikny bru mau mulai y.

    btw Ff ini di update di wattpaf jg nggak nih?
    Sama ini jadwal updateny mula seperti biasa lagi atau tergantung kakak?

    Ok deh, ditunggu deh kelanjutannya, fighting.

  6. Akhirnya di post juga…

    Yoora udah mulai manja dan ketergantungan ama baekhyun.. Berharap bgt yoora bisa balas perasaan baekhyun secepatnya..
    Udah thor kasih tau minji yg sebenarnya aja.. Kasian kalo minji diboongin terus…

    Ditunggu kelanjutannya,, semoga kali ini bisa agak cepet postnya.. Fighting…!!!

  7. akhirnya update. feelnya dapet, tapi aku penasaran mengapa ada Minho disana? gimana ceritanya? apakah dia dokter atau temen baek yang kebetulan di rumah sakit? terus mengapa kaki Yoora nggak sekalian di periksa di rumah sakit? hehe…

    maaf banyak tanya karena penasaran, tapi bagus ceritanya, feelnya itu loh.

    oke aku tunggu next chap nya yaa
    keep writing and fighting thor.

  8. Aaa kepergok minji kaahhh ??? apa reaksi minji ??? mana posisinya lagi ‘IYA’ banget buat orang berfikir nethink wwkwkwk.ayoolahh yoora jngan plin plan pilih aja baekhyun. Seojin nya ngga ushh hehe. Seokjin buat aku aja yaa hehe

  9. Akhirnyaa di post jugaa
    Aishh TBC nya dtg disaat yg sangat tidak tepat.
    Itu minji lihat mreka lagi tidur berdua ga? Apa jangan2 salah satu dari mereka udah bangun dan ngumpet ditoilet? Haha korban sinetron banget :”v
    Pengennya sih minji tau rahasia mereka, terus ntar seokjinnya sama aku aja hohoho
    Ohiya, Ahra bakalan jadi penghancur hubungan mereka ga? Jangan deh yaa kasihan yoora nya😦

    Aduh jadi banyak komentar ini.
    Pokoknya aku tunggu kejutan2 di chapt 7 nyaa.. Semangat nulisnya ^^ post nya jangan lama2 ya? Hihi

  10. akhirnya ff yg ku tunggu d post juga
    masih bingung nih sm perasaan yoora , sebenarnya yoora suka sm siapa sih ? baekhyun apa seokjin
    kasih tau minji aja kalo yoora dah tunangan sm baekhyun
    kasian kalo minji d boongin terus sekalian seokjin d kasih tau kalo yoora udah jd milik baekhyun
    makin greget sm critanya
    next chap d tunggu
    figthing^^

  11. aakkk ahirnya update jugaa dan sifat baekhyun bikin aku melting:”))) manis bgt sih baekhyun disini, mending di chapt 7 minji udh tau aja hehe tpi terserah author sih
    ditunggu next chaptnya^^

  12. Huaaaa!!!!! Minji sebaiknya tau aja tentang hubungan yoora dan baekhyun!!!!

    Kok bunga mawarnya ngebentuk 26 bukan 22 aja? Hehehe

    Ku baper sekali pas adegan yoora dan baekhyun main hujan2an

  13. akhirnya update…
    ohya part sebelum nya aku gak bisa komen di sini jadi aku email ke kamu🙂

    pas awal kurang dapet feelnya apalagi agak lupa cerita terakhir sampai mana..
    terus pas yoora bicara sama soekjin pake ‘kamu aku’ agak aneh padahal di atas pake ‘kau’. lebih enak di baca nya ‘kau’….

    sweet banget baekhyun, ayo dong yoora pastiin kalo dia suka nya sama baekhyun…
    PHO nya selain seokjin ada ahra, siapa ahra??

    pas banget minji tau aja, ahh ngebayain jadi minji yg ngeliat langsung yoora lagi sama baekhyun tidur berpelukan :O

    next di tunggu, kalo bisa kau update asap😀😉

    • hayolo phonya siapa hayo wkwk, gimana ya tungguin aja mereka bakalan kayak gimana besok soal Minji kapan tahunya mereka tunangan mah masih rahsia hihi.

  14. akhirnya update juga…sempet lupa sama jalan ceritanya….zzz
    hehe itu kenapa kopel yg baekyoo makin sweet aja aaah mau dong di kasih surprise sama baekii pas ultah aaahh romantiiiss bgt♥♥♥tambah semalem abis nonton moon lovers uuh ucul cabenya:-*
    btw minji pasti shock bgt sama baekyoo lg bobo berduaan.huhu fix makin greget aja .oya ka aku udh chat lewt line kaka pliis bales y ka hehe#maksa..dtunggu nextny ka fighting

  15. Ahhh kayaknya ahra bakal jadi duri dalam hubungan mereka😦
    Ecieee main hujan hujanan, terus pake ada kisseu segala lagi wkwkwk cocoklah mereka hehe
    Jadi yang dilihat baek itu kartu identitasnya, aku kira dia jadi tegang gara gara liat foto mantanya yoora mngkin eh nyatanya karna besoknya ulang thun yoora..
    Tapi sumpah baek romantis banget, kasih kejutanya gimana gitu wkwk tapi kapan ya baek nyiapinya
    Yaampun minji dateng, dan liat yoora sama baek tidur bareng? Ohh pasti syok banget tuh
    Ditunggu ya chap selanjutnya

  16. Aigo kaaaak~serius aku nungguin ff ini beneran lamaaaa bangeeet. Tapi puas sama chapter ini yg panjang dan banyak baek yoora moment 😍
    Fighting yaa kaaak 😘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s