[FREELANCE] Wu’s Family in Action (Chapter 3/4)

z20

Wu’s Family in Action (Chapter 3/4)

Judul: Wu’s Family in Action

Author: Gyvece

Genre: family, comedy gagal

Rating: all ages

Length: chapter

Main Cast: Kris Wu/Wu Yi Fan, Alice Wu (OC)/Wu Mei Lan, Ailee Wu (OC)/Wu Mei Li, Anne Wu/Wu Jiao Li (OC)

Support Cast: Kris’ mom and dad, Lee Kwang Soo, Kim Yoo Ra (OC)

Author note: Hello, everyone! So actually, FF ini ditulis pada tahun 2014, jaman EXO masih hot-hotnya sama.. yah gitu lah dan album mereka yang Overdose. Ini menjelaskan kenapa lagu yang digunakan dalam FF ini berasal dari tahun 2014, termasuk juga lagu Holiday milik Henry Lau. But don’t worry, kami akan segera melanjutkan FF ini sehingga setting waktunya pada present time atau saat ini. FF ini juga sudah dipublikasikan pada blog pribadi kami di Wufanfics. Please anticipate! ^^

Chapter 1  |   Chapter 2A | Chapter 2B

***

 

Because the truth is, you will never find any kind of love just like what you get in home.

Even the silly ones.

***

                “Welcome to Jeju…..” Pekik Kwang Soo di pinggir pantai Gwakji. Mereka tidak langsung ke rumah. Kris mengajak Kwang Soo dan Gummies untuk makan siang terlebih dahulu di sebuah restoran yang terletak di pinggir pantai.

                “Let’s make some memories here!” Teriak Ailee.

                “Be nice for us, Jeju Island!!!” Teriak Alice dan Kris.

                “Inikah Jeju Island? Aku berasa ada di Hawaii.” Anne berpendapat beda.

                “Sudahlah. Ayo kita makan, aku sudah memesannya saat perjalanan tadi.” Kris berkata sambil masuk kedalam restoran. Kris sudah memesan meja untuk 5 orang -Dia, ketiga Gummies nya dan tentu saja Kwang Soo- yang letaknya di sebelah kaca sehingga tetap bisa melihat pantai.

                “Ge, kenapa di dalam?” Tanya Anne membuntuti Kris.

                “Iya. Kenapa di dalam? Sudah bagus di depan, tuh. Bisa lihat pantai dengan jelas dan mendengar deburan ombak dengan jelas,” kata Kwang Soo sok dramatis.

                Kris yang sudah duduk hanya bisa memandangi mereka dengan tatapan jengah.

                “Iya, Ge. Kan kalau di depan kita bisa menghirup aroma lautan. Juga merasakan angin laut yang tidak ada di Canada dan Seoul.” Ailee ikut angkat bicara.

                Ketiga orang yang protes ini berdiri di depan Kris, menghalangi Alice yang ingin lewat. Baru saja Kris membuka mulutnya, terdengar suara Alice yang berkata, “Di depan panas. Lagi summer nih. Kita tidak tahan panas,” sambil mendorong Anne sedikit agar ia bisa lewat. Kemudian Alice duduk di samping Kris.

                “Nah, benar sekali penjelasan Alice barusan,” kata Kris kemudian menganggukan kepalanya. Lagi-lagi kesamaan Kris dan Alice. “Kalian mau makan diluar? Ya sudah, sana. Tapi bayar sendiri ya. Kami tetap disini,” lanjut Kris “mengancam”. Kris berusaha keras menahan tawanya. Ia tahu, begitu di ancam bayar sendiri, pasti mereka tidak akan berkutik.

                Pasrah, Kwang Soo dan kedua Gummies hanya bisa menghela napas kemudian duduk di seberang Kris dan Alice. Hilang sudah kesempatan Anne dan Ailee untuk mencoba makan di tepi pantai. Tapi yang paling disayangkan adalah hilangnya harapan Kwang Soo: menemukan gadis cantik di tepi pantai yang syukur-syukur bisa menjadi jodohnya kelak.

***

                Lee Kwang Soo hanya bisa menghela napas dan pasrah dengan karena ancaman dari keponakannya tersebut. Yang benar saja! Sejak kapan keponakan berani mengancam pamannya sendiri? Zaman benar-benar sudah berubah, pikir Kwang Soo miris. Yah, jadi disini lah mereka. Makan siang di DALAM restoran di pinggir pantai, bukan makan siang di PINGGIR pantai di dekat restoran. Padahal, sudah tentu lebih seru dan asik apabila bisa makan di luar.

                Untung saja masakannya enak. Kalau tidak, mood Kwang Soo bisa benar-benar jatuh. Sepertinya mood nya memang sedang labil, mengingat kejadian kemarin yang benar-benar menghancurkan perasaan dan harga dirinya. Kalau dia tidak ingat dan memegang teguh kata-kata sang Appa disaat terakhirnya, entah sekacau apa Kwang Soo sekarang. Dan untungnya, Kwang Soo memiliki hyung yang sangat sayang padanya, juga keempat keponakan yang walaupun bisa bikin jengkel setengah mati, tapi sangat dekat dan sayang pada Kwang Soo.

                “Wah.. Kenyang sekali!” Kata Anne riang. Memang benar, perut kenyang hati senang. Yang tadi nya Anne sedikit merajuk karena tidak makan di pinggir pantai sekarang sumringah kembali.

                “Makanannya enak, Ge!” Kata Ailee sambil meminum jus jeruknya. Panas-panas begini memang paling enak minum jus jeruk.

                Kris pun mengagguk-angguk senang. Begitu juga Alice. “Dan tentu nya tidak jadi makan di pinggir pantai, yay!” Seru Alice sambil melirik Ailee dan Anne, memanas-manasi.

                “YA!-“

                “Sudah, cukup!” Entah kenapa Kwang Soo bisa mengatakan hal itu. “Cukup, Alice. Jangan ungkit-ungkit lagi soal itu, okay? Sekarang kita sudah makan di dalam sesuai keinginanmu dan kakakmu. Dan Anne, tolong pelankan suaramu. Bahkan orang-orang menengok kesini begitu kau berteriak.” Mulut Kwang Soo tahu-tahu sudah mengucapkan serentetan kalimat yang bahkan dia sendiri tidak tahu berasal dari mana.

                Kwang Soo langsung menggigit lidahnya kuat-kuat begitu melihat Kris yang tadi masih asik makan kentang goreng, Alice dan Anne yang bertatap-tapan juga Ailee yang masih meminum jus jeruknya langsung memandang Kwang Soo dengan tatapan kaget dan heran.

                “Ak-aku.. Aku minta maaf. Tidak seharusnya aku berbicara sekeras itu pada kalian. Maaf.” Terburu-buru Kwang Soo berbicara sambil membungkukkan kepalanya.

Hening.

                Alice yang pertama kali bereaksi. “Samchon.. Maaf. Maaf. Aku juga tidak seharusnya mengungkit-ungkit itu terus. Ailee, Anne, maaf.”

                Anne kemudian langsung memeluk Kwang Soo yang duduk disebelahnya. “Samchon maafkan Anne!” Kata Anne sambil melepaskan pelukannya. “Samchon jangan marah lagi, ya?”

                Ailee yang sedari tadi hanya diam ikut-ikutan meminta maaf. “Aku juga minta maaf..”

                Semua memandang Kris yang sedang menatap Kwang Soo. Kwang Soo langsung menundukkan kepalanya begitu melihat keponakannya menatapnya dengan tatapan datar.

                “Ge..” Bisik Alice sambil menyenggol lengan Kris pelan dengan lengannya sendiri.

                Kris sedikit tersentak dari lamunannya. “Aku juga minta maaf,” kata nya pelan sambil masih menatap pamannya itu.

                “Tidak, tidak. Aku yang meminta maaf,” balas Kwang Soo cepat. “A-aku.. Aku hanya-“

                “Hanya apa, Samchon?” Tanya Kris. Dia merasa ada sesuatu yang mengganggu Kwang Soo.  Sesuatu yang disembunyikan dari dirinya juga ketiga Gummies nya.

                “Tidak. Tidak ada apa-apa,” jawab Kwang Soo kelewat cepat hingga justru memancing rasa khawatir dan penasaran Kris ke level yang lebih tinggi. Untuk meyakinkan keempat keponakannya yang sepertinya masih ragu dengan jawaban Kwang Soo, ia melemparkan senyum ceria nya kepada mereka semua. “Hmm, bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar di pinggir pantai? Ayolah, sebentar saja, ya?” Tanya Kwang Soo untuk mengalihkan perhatian.

                “Aku setuju!” Jawab Ailee dan Anne kompak kemudian berhigh-five ria.

                “Kalian bagaimana?” Tanya Ailee pada kedua kakaknya yang tidak tahan terhadap sinar matahari langsung itu.

                “Pakai krim saja! Ayolah Al Jie. Ayolah Geee~” Anne merengek sambil mengeluarkan aegyo nya.

                “Iya. Aku bawa krim nya kok,” kata Kwang Soo mendukung pernyataan Anne. Dia paling merasa bersalah pada keponakannya yang satu ini. Karena pada dasarnya Anne lah yang paling kecil di antara mereka semua. Terlebih ia masih bisa di bilang polos sehingga pasti kaget dengan Kwang Soo yang bersikap berlebihan seperti tadi.

                Gantian. Kali ini Kris dan Alice hanya bisa menghela napas pasrah dan menggedikan bahu.

 ***

Ailee POV.

                YAAAYYY! Inilah yang aku tunggu-tunggu! Berjalan di pinggir pantai dan merasakan angin pantai membelaiku lembut. Merasakan udara pantai masuk dan memenuhi paru-paruku. Untunglah kali ini Kris Ge dan Alice “mau” membuang sifat keras kepala mereka sehingga mengalah dan setuju ikut berjalan di sisi pantai. Tidak seru kalau tidak ada mereka berdua.

                Aku, Anne dan Samchon sudah melepas sepatu kami dan berlari-lari sepanjang pantai. Sesekali kami tertawa ketika sejuknya air pantai menyapa kaki kami lembut. Memang, di pantai Gwakji ini, meskipun udara sedang panas-panasnya, air di pantai Gwakji tetap saja sejuk. Sadar hanya ada suara tawa kami bertiga, aku menengok ke belakang dan mendapati kakak dan saudara kembarku sibuk memakai krim -lagi dan membetulkan letak snapback mereka.

                “Ayolah, have fun guys!” Teriakku. “Ayo lari kesini, cepat!” Aku mengajak mereka untuk menyusul kami yang sudah berada beberapa meter didepan mereka. Walaupun mentari bersinar dengan terik, banyak sekali turis yang mungunjungi pantai Gwakji.

                “Xiao Jie. Ayo kemari!! Cepaaaat!” Ajak Anne. Aku pun menghampiri Anne. Aku tahu, Anne kesal dengan Kris Ge dan Alice yang tidak tahan panas.

                “Siap Anne!” Kata ku sambil menghampiri Anne yang sedang mengubur kaki nya di pasir. Sepertinya seru juga menguburkan kaki di pasir. Ketika pasir terbawa ombak, ada sebuah perasaan yang menggelitik. Aku tahu ini kekanak-kanakan untuk seorang mahasiswa yang sebentar lagi lulus. Tapi, ayolah, aku kesini untuk liburan musim panas. Berteman dengan sinar matahari tidak terlalu buruk, kok.

                “Jieeee! Kenapa bengong sih???” Tanya Anne.

                “Siapa yang bengong?! Aku hanya menikmati angin pantai saja, Anne. Ayo kubur kaki kita lagi,” kata ku.

                Sesekali aku menengok ke arah Gege dan Alice. Mereka tidak bergerak dari tempat mereka di bawah pohon kelapa. Aku tidak habis pikir, untuk apa Gege mengajak kami ke pantai kalau dia tidak mengizinkan kami bermain di pantai. By the way, kemana Samchon? Sepertinya tadi dia bersama aku dan Anne disini.

                “Anne, kemana Samchon?” Tanya ku.

                “Disan…na. Samchon kenapa, Jie?” Kata Anne dengan suara yang semakin pelan. Aku menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Anne, dan mendapati Kwang Soo Samchon sedang duduk dengan tatapan kosong. Ada apa dengan Samchon, ya? Hari ini dia sedikit umm.. Aneh.

                Aku dan Anne menghampiri Samchon dengan diam. Mungkin Samchon tidak menyadari kedatangan kami. Beberapa saat kemudian, Kris Ge dan Alice pun menghampiri kami dan duduk bersama kami. Kami berlima duduk dalam diam. Hanya terdengar deburan ombak yang damai dan suara wisatawan baik yang dalam negri mau pun luar negri yang berlalu-lalang. Sejujurnya, aku tidak suka suasana canggung seperti ini. Samchon tidak perlu merasa bersalah karena perkataannya di kedai tadi. Hufffhh, apa aku harus membuka pembicaraan? Tapi aku tidak berani. Aku tidak pernah berani membuka pembicaraan disaat hening dan canggung seperti ini. Karena setiap aku membuka pembicaraan, Gege selalu melemparkan death glare nya. Sepertinya Gege masih sedikit marah karena harus berjemur di bawah sinar mentari yang terik ini. Memang sih, Gege menyukai pantai. Dia bahkan “berteman” dengan pantai di musim panas, tapi “menjauhi” pantai di musim dingin. Tapi dia memang tidak tahan dengan sinar matahari dan udara panas. Dan hari ini sangat panas. Menurut mereka -Kris Ge dan Alice, tentu- malah terlalu panas. Ah! Untuk apa aku takut. Aku kan akan berbicara dengan Samchon, bukan gege.

                “Samch-” belum sempat aku menyelesaikan panggilanku, suara ku sudah di interupsi oleh suara lain yang cukup kencang.

                “LEE KWANG SOO!!” Teriak perempuan itu. Tunggu. Ap-apa?! Perempuan?! Meneriakan nama Samchon?!

                “Samchon?” Kata ku, Anne, Kris Ge dan Alice bersamaan. Tapi Samchon tidak menghiraukan panggilan kami. Samchon justru tersentak kaget. Bahkan kedua pupil mata nya melebar. Dia beku beberapa saat sebelum kemudian Samchon langsung berdiri dengan cepat sementara perempuan itu berlari ke arah kami. Samchon maju tiga langkah untuk menghentikan perempuan itu.

                “Siapa perempuan itu?” Kataku pelan. Cukup pelan untuk hanya didengar oleh Gege, Alice dan Anne.

                Sebagai jawaban, Alice dan Anne menggeleng. Mereka masih “sibuk” mengamati perempuan tersebut dan juga Samchon yang sedang memegang bahu perempuan itu. Tapi, beda dengan Kris Ge. Wajahnya seperti berpikir keras sembelum kemudian ia tersenyum cerah.

***

                “Kim Yoo Ra! Sedang apa kau disini?” Tanya Kwang Soo sambil memegang kedua bahu Yoo Ra.

                “Kau!! Kemana saja kau seminggu ini, huh?” Tanya Yoo Ra sambil melepaskan tangan Kwang Soo yang bertengger di bahu nya lalu kemudian dia menunjukan telujuk nya ke wajah Kwang Soo

                “Aku.. Aku sibuk Yoo Ra. Aku tidak sempat menghubungimu,” jawab Kwang Soo terbata-bata.

                “Kau bohong, Lee Kwang Soo. Tadi aku menelepon-” Yoo Ra belum selesai berbicara, Anne memotong pembicaraan mereka tanpa dosa.

                “Samchon, Eonnie ini yeojachingu nya Samchon?” Tanya Anne polos dan dengan suara lantang.

                “Wow, cantik,” kata Ailee dan Alice kompak.

                “Noona! Kau ingat denganku?” Tanya Kris dengan mata berbinar. Ia kemudian berlari kecil menghampiri Kwang Soo dan Yoo Ra yang berdiri berhadap-hadapan. Syukurlah, keempat bocah ini menyelamatkanku dari Yoo Ra, batin Kwang Soo.

                “Kris! Ini-?” Tanya Yoo Ra yang terlihat bingung. “Sejak kapan kau disini? Dan mereka? Adik-adik mu yang selalu kau ceritakan?” Lanjut Yoo Ra.

                “Baru kemarin aku sampai, Noona. Yup, mereka adik-adik ku,” jawab Kris dengan semangat. “Sini, kemari cepat!” Kata Kris lagi sambil melambaikan tangan besarnya, menyuruh ketiga adiknya untuk menghampiri dirinya. “Ah, Noona. Mari kuperkenalkan. Ini Alice dan Ailee. Mereka kembar. Membedakannya cukup gampang, walau mereka kembar identik. Yang agak tomboy dan well, jika dilihat lebih dekat mirip dengan ku itu Alice. Sedangkan yang lebih feminin itu Ailee. Dan ini Anne, adikku yang paling kecil,” jelas Kris pada Yoo Ra. Alice, Ailee dan Anne kompak menyapa Yoo Ra sambil membungkukkan badan. “Ahh, apa Samchon dan kau… Emm… Pacaran?” Tanya Kris dengan hati-hati.

                “Ani, Kris. Kami hanya berteman,” bantah Yoo Ra. “YA! Kwang Soo-ya, kau sudah berbohong. Jelaskan. Padaku. Sejujurnya. Sekarang!” Lanjut Yoo Ra yang tiba-tiba teringat dengan pembicaraan awalnya bersama Kwang Soo.

                “Aku? Aku berbohong apa?” Tanya Kwang Soo yang berpura-pura tidak tahu apa-apa.

                “Sebelum aku berangkat ke Jeju, aku menelepon ke kantor mu. Dan staff mu bilang kalau kau bukan CEO nya sekarang dan sejak kemarin kau sudah tidak bekerja ditempat itu lagi. Apa maksudmu sibuk, huh? Kau! Sudah tidak percaya denganku lagi?” Ocehan Yoo Ra membuat Kris, Alice, Ailee dan Anne menganga. Sementara yang diocehi hanya diam tak percaya.

                “Lebih baik kita bicarakan ini dirumah Yoo Ra,” kata Kwang Soo sambil menarik tangan Yoo Ra. Kris dan Gummies nya tidak mengerti apa yang terjadi, mereka mengikuti 2 orang didepannya.

                Mungkinkah ini… Sesuatu yang di sembunyikan Samchon itu? Pikir Kris.

***

                Rumah milik Kris, memang tidak begitu jauh dari pantai. Didominasi warna putih, dengar pagar tinggi berwarna hitam yang menunjukkan pemiliknya adalah seseorang laki-laki lajang bernama Kris Wu. Warna favoritenya. Hitam dan Putih. Rumah itu tergolong mewah -walaupun tipikal cottage pinggir pantai- dengan kaca-kaca berukuran besar dan jalan setapak dari batu-batu kecil dengan lahan parkir yang cukup menampung 3 mobil. Dapat di bayangkan betapa besar nya rumah itu? Sesampainya dirumah, Kwang Soo langsung menerima tatapan ganas dari Yoo Ra. Kris dan ketiga adiknya pun duduk bersama dalam diam di sofa, menunggu untuk mendengarkan pernyataan dari Kwang Soo.

***

Kris POV

                “Noona! Kau ingat denganku?” Tanya ku kepada Yoo Ra Noona.

                “Kris! Ini-?” Tanya Yoo Ra noona yang terlihat bingung. “Sejak kapan kau disini? Dan mereka? Adik-adik mu yang selalu kau ceritakan?” Lanjut Yoo Ra noona.

                “Baru kemarin aku sampai, noona. Yup, mereka adik-adik ku,” jawab ku dengan semangat. “Sini, kemari cepat!” Aku kemudian melambaikan tanganku pada ketiga Gummies, menyuruh mereka menghampiri kami. “Ah, Noona. Mari kuperkenalkan. Ini Alice dan Ailee. Mereka kembar.       Membedakannya cukup gampang, walau mereka kembar identik. Yang agak tomboy dan well, jika dilihat lebih dekat mirip dengan ku itu Alice. Sedangkan yang lebih feminin itu Ailee. Dan ini Anne, adikku yang paling kecil,” jelas Kris pada Yoo Ra. Alice, Ailee dan Anne kompak menyapa Noona sambil membungkukkan badan. “Ahh, apa Samchon dan kau… Emm… Pacaran?” Tanya ku dengan hati-hati.

                “Ani. Kris kami hanya berteman,” bantah Yoo Ra Noona. “YA! Kwang Soo-ya, kau sudah berbohong. Jelaskan. Padaku. Sejujurnya. Sekarang!” Lanjut Yoo Ra Noona dengan penekanan. Kenapa Yoo Ra Noona marah-marah kepada Samchon? Kenapa Noona menuduh Samchon bohong? Ada apa dengan pertemanan konyol mereka ini?

                “Aku? Aku berbohong apa?” Tanya Kwang Soo Samchon.

                “Sebelum aku berangkat ke Jeju, aku menelepon ke kantor mu. Dan staff mu bilang kalau kau bukan CEO nya sekarang dan sejak kemarin kau sudah tidak bekerja ditempat itu lagi. Apa maksudmu sibuk, huh? Kau! Sudah tidak percaya denganku?” Ocehan Yoo Ra Noona membuat aku dan gummies ku tercengang. Aku tidak percaya dengan perkataan Yoo Ra noona. Tapi, apa jangan-jangan benar yang dikatakan Yoo Ra noona. Kemarin Samchon bersikap aneh setelah pulang dari kantor, dan tadi Samchon pun membentak kami ketika makan siang. Mungkinkah ini… Sesuatu yang di sembunyikan oleh Samchon itu? Pikirku.

                “Lebih baik kita bicarakan ini dirumah Yoo Ra,” kata Samchon sambil menarik tangan Yoo Ra Noona. Aku dan Gummiesku benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi. Aku hanya mengikuti mereka berjalan ke rumah.

                Sesampainya dirumah, aku dan Gummies langsung duduk untuk mendengarkan pernyataan dari Samchon.

                “Samchon, sebenarnya apa yang terjadi? Sejak kemarin- bukan, sejak sebulan lalu kau ke Canada. Ahh, pokok nya ceritakan semuanya kepada kami. Kau tidak akan mengingkari janji mu semalam kan, Samchon? Untuk menceritakan keadaan mu,” kataku to the point. Aku memang tidak begitu suka pembicaraan yang berputar-putar, atau bertele-tele. Kemudian aku meringis, apakah aku terlalu lancang? Aku.. Hanya terlalu khawatir akan Samchon. Aku pernah dengar, menceritakan permasalahan kita pada seseorang yang kita percaya dapat meringankan beban kita. Aku tidak terlalu peduli dengan kata-kata itu, sih. Karena pada dasarnya aku tipikal introvert terhadap hal-hal yang menurutku pribadi. Aku jarang sekali menceritakan segala permasalahan yang terjadi pada hidupku. Hanya pada Sven lah aku bercerita dan terkadang pada Chanyeol- sahabat Korea ku yang kutemui saat aku kuliah. Sekarang dia sudah menjadi artis terkenal sehingga sulit sekali untuk berkomunikasi dengannya.

                “Ba..baiklah. Akan ku ceritakan. Semuanya. Dari awal.” Kata Kwang Soo Samchon pelan.

                “Aku dipecat. Sudah 3 bulan ini aku bekerja dibawah pimpinan Lee Yong Hwa-ssi. Sudah 3 bulan ini aku bekerja sebagai karyawan biasa. Lee Properties dipegang oleh Yong Hwa-ssi secara resmi sejak 3 bulan lalu. Aku sudah tidak memiliki semua yang berbau warisan dari Appaku, dari Harabeoji kalian. Entah apa alasan dia memecatku. Aku tidak tahu. Dia memang membenciku, tidak pernah menyukaiku sama sekali,” jelas Samchon panjang lebar. Aku tidak habis pikir dengan makhluk serakah itu. Apa tidak cukup perusahaan furniture yang diwariskan Harabeoji? Dia masih saja mengambil jatah warisan Kwang Soo Samchon. Cih, aku tidak sudi punya Samchon seperti Lee Yong Hwa.

                “Yong Hwa Samchon yang melakukan semua itu?” Tanya ku. Aku tidak tahan dengan emosi ku setiap mendengar nama Lee Yong Hwa.

                “Kemana perusahaan furniture yang dia kelola? Dasar serakah,” lanjutku dengan nada tajam. Emosiku sudah tersulut.

                “Sudah tidak produksi Kris. Lahannya dijual untuk dijadikan apartment Lee Properties,” jawab Samchon.

                “Tunggu!” Sela Ailee cepat. “Jadi apartemen?! Bag-bagaimana?” Tanya Ailee kaget.

                Alice hanya bisa bergumam “Dasar makhluk serakah, gendut, menyebalkan, genit” dan serangkaian sumpah serapah aneh khas Alice (yang aku rasa menurun dari Appa dan aku). Anne duduk terdiam. Sepertinya dia kaget karena sebelum ini Anne tidak pernah tahu tentang hubungan kami -maksudku Appa dan Lao Ma, Kwang Soo Samchon, aku dan si kembar- yang buruk pada Yong Hwa Samchon.

                “Kenapa sih, Ajeossi bulat itu sangat membenci mu, Kwangie?” Tanya Yoo Ra Noona.

                “Itu karena aku tidak diharapkan oleh mereka. Yong Hwa Hyung dan Hyae Jin Hyungsu. Mereka sudah berkeluarga ketika aku lahir. Ditambah, Eomma sangat memanjakan aku. Eomma akan melakukan apa saja untukku, begitupun Appa. Eomma meninggal dan itu salahku. Eomma tertabrak ketika menyebrang untuk menghampiriku yang sudah lama menunggu untuk dijemput. Sejak saat itu aku tidak disukai oleh mereka berdua. Appa bilang kalau itu bukan salah ku, tapi Yong Hwa Hyung dan Hyae Jin Hyungsu selalu menyalahkanku. Ji Young Hyung membawa ku ke China sebelum akhir nya kami pindah ke Canada. Aku hidup bersama Ji Young Hyung sampai ditahun awal SMA ku. Tahun kedua SMA ku, aku pindah ke Korea dan tinggal bersama Appa. Aku menjadi diam dan jarang berbicara dengan Appa. Aku tidak pernah meminta uang jajan kepada Appa. Aku bekerja paruh waktu untuk uang jajanku. Saat itu lah aku bertemu denganmu, Yoo Ra. Ketika bekerja di cafe, ingat? Aku selalu mendapat ejekan dari anak-anak Yong Hwa Hyung dan Hyae Jin Hyungsu. Setelah lulus kuliah, Appa menyerahkan perusahaan properti ini kepadaku. Yong Hwa Hyung tidak terima dengan perlakuan Appa kepadaku. Sebenarnya Yong Hwa Hyung dan Hyae Jin Hyungsu mengambil alih perusahaan ini sejak 4 tahun lalu, setelah Appa meninggal. Awalnya aku berkerja sebagai direktur. Tapi semua karyawan tetap menganggapku sebagai CEO, mereka tidak menyukai Lee Yong Hwa. Sampai akhir nya sejak 3 bulan lalu, aku bekerja sebagai karyawan biasa dan kemarin aku dipecat,” jelas Samchon lagi.

                Aku terbengong-bengong mendengar penjelasan singkat namun menyakitkan dari Kwang Soo. Bagaimana bisa- Astaga! Mereka bersaudara!

                “Aku tidak habis pikir,” kataku dan Gummies ku bersamaan.

                “Maafkan aku, Kwangie. Aku tidak berusaha mengerti keadaanmu. Mian,” kata Yoo Ra Noona sambil menepuk pelan pundak Kwang Soo Samcon.

                “Sudahlah, lagipula aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Aku masih memiliki beberapa kedai makanan di Busan dan Daegu,” kata Kwang Soo Samchon dengan santainya. “Aku masih mendapatkan pendapatan dari sana,” lanjutnya.

                “Benar, Samchon tidak apa?” Tanya Anne.

                “Samchon.. Tenang saja. Ada kami disini!” Kata Ailee.

                “Kalau Samchon kenapa-kenapa, langsung saja kabur ke Canada, ya. Samchon masih punya keluarga di Canada! Ingat itu Samchon,” kata Alice tersenyum pada Samchon.

                “Apa maksudmu dengan ‘kalau Samchon kenapa-kenapa’ , Al?” Kata ku heran.

                “Yah, mungkin kedai makanannya bangkrut, atau dia sakit keras. Apalah bentuknya itu,” kata Alice sambil meringis.

                “Alice!” Bentakku kaget kemudian menjitak kepalanya pelan.

                “Appo, Ge!” Teriaknya sambil mengusap-usap kepalanya yang pasti sakit kena jitakanku tadi.

                “Apa? Makanya kalau bicara jangan sembarangan, Alice.” Aku menatapnya tajam. Samchon kemudian tertawa melihat kelakuan kami. Begitu juga Ailee dan Anne juga Yoo Ra Noona. Aku ikut tertawa. Disela-sela tawaku, aku masih memperhatikan Samchon. Samchon, fighting!

***

                Terungkaplah semua yang disembunyikan Kwang Soo. Terjawablah semua pertanyaan dan kebingungan yang berkecamuk di otak Kris dan semua kegelisahan yang Kim Yoo Ra rasakan selama seminggu ini. Dan terakhir, terciptalah wajah kaget campur bingung nya Alice, Ailee dan Anne. Memang menyakitkan ketika mendengarkan semua cerita Kwang Soo. Memang, dia merasa lebih lega. Tapi dia tidak ingin liburan ini menjadi sendu karena cerita nya. Dia tidak ingin menghancurkannya. Life must go on, holiday is on going – batin Kwang Soo.

                Kris, Alice, Ailee dan Anne masih merasa campur aduk setelah mendengar cerita Kwang Soo. Begitupun Yoo Ra.

                “Sudahlah. Kita disini untuk liburan kan? Jangan memasang muka sedih seperti itu,” kata Kwang Soo.

                “Ah, benar juga. Untuk apa menyesali yang sudah terjadi, benar kan Samchon?” Kata Ailee sambil tersenyum.

                “Sepertinya aku harus datang ke kedai mu. Pasti kedai mu akan ramai Samchon, kalau didatangi makhluk tampan seperti ku,” sambung Kris dengan sangat percaya diri.

                “Hentikan imajinasimu Kris. Kedai ku sudah terkenal berkat Park Chanyeol yang sering datang ke kedai ku,” jawab Kwang Soo.  Park Chanyeol. Sahabat Kris yang telah menjadi artis terkenal itu, dia lumayan dekat dengan Kwang Soo karena masa kuliah nya bersama Kris. Kwang Soo tahu, Alice dan Ailee sangat menyukai Park Chanyeol sehingga Kwang Soo tidak menyebut Park Chanyeol sahabat Kris. Bisa-bisa Kris menjadi tawanan adik kembar nya karena dia menyembunyikan pertemanan nya dengan Chanyeol.

                “MWO?! Park Chanyeol?! Yang terkenal itu, kan?” Tanya Ailee. Kwang Soo hanya mengangguk.

                “Maldo andwae.. Ini tidak mungkin. Mengapa Samchon tidak pernah memberitahu kami?!” Alice langsung heboh begitu tahu berita itu. Kwang Soo hanya nyengir kuda. Yah, dari pada kelepasan omong.

                Kris merasa keadaannya sedikit terancam. Ia tahu, apabila dalam keadaan kepepet, terlebih karena Alice dan Ailee yang ‘menekan’ Kwang Soo, bisa-bisa pertahanan diri Kwang Soo jebol dan menceritakan segalanya mengenai pertemanan Kris dan Chanyeol. “Ahh, Yoo Ra Noona. Kau kesini sendiri atau bersama keluarga? Ataaaauu… Bersama pacar mu?” Tanya Kris -berusaha mengalihkan perhatian. Selama kuliah dulu, Kris sering bertemu Yoo Ra. Yoo Ra sering datang ke apartment Kwang Soo untuk membawakan mereka makanan atau memasak untuk dua pemuda yang tidak mengerti dapur.

                “Aku kesini sendiri. Aku hanya berniat untuk relax, tapi aku malah bertemu si jerapah yang menjengkelkan ini,” jelas Yoo Ra sambil menunjuk Kwang Soo.

                “Apa?! Kau sendiri? Mana kekasih mu yang protektif itu?” Tanya Kwang Soo dengan jengkel.

                “YA! Sudah ku bilang dia bukan kekasihku. Tidak mungkin aku menyukai Ajeossi! Dasar jerapah aneh!” Bentak Yoo Ra sambil bersedekap.

                Kwang Soo terkekeh pelan. Dia sangat suka menggoda Yoo Ra. Karena bagaimanapun separah apapun jahilnya Kwang Soo pada Yoo Ra, Yoo Ra pasti akan memaafkan dirinya. Seperti saat ini, Yoo Ra sudah tertawa sambil mencubit lengan Kwang Soo.

                “Noona, kau disini saja. Gabung dengan kami. Kau tidak perlu tinggal di hotel atau villa,” kata Kris sebelum Kwang Soo membalas cubitan Yoo Ra. Pernah sekali, Kris memergoki Samchon nya itu tidak segan-segan pada wanita -atau setidaknya pada Yoo Ra. Saat itu Kris melihat Kwang Soo menarik kuat-kuat hidung Yoo Ra sampai hidungnya lebih merah dari pada Rudolf si rusa.

                “Ahh, benar kata Kris. Lebih baik kau disini saja,” kata Kwang Soo yang tiba-tiba melembut. Beginilah Kwang Soo jika ada Kim Yoo Ra. Emosinya menjadi tidak terkendali. ‘Penyakit jantung’ nya selalu kambuh, tapi dia berusaha menyembunyikannya. Sesungguhnya ia tahu, kondisi jantung nya tidak bagus apabila ia bersama dengan sosok bernama Kim Yoo Ra ini. Hanya bersama Kim Yoo Ra. Tapi apa daya, ia tidak pernah bisa menjauh dari Yoo Ra. Karena itulah tadi Kwang Soo mengungkit-ungkit masalah ajeossi (sebenarnya bukan ajeossi juga, karena hanya berbeda 4 tahun dari mereka) yang pernah mencoba mendekati Yoo Ra yang berusia 29 tahun.

                “Samchon? Samchon ini masih normal atau tidak?” Tanya Anne dengan polosnya. Terdengar ledakan tawa dari Kris, Alice, Ailee dan Yoo Ra.

                “Anne! Apa maksudmu, hah?” Tanya Kwang Soo dengan nada tinggi.

                “Samchon mu ini tidak normal, gadis manis,” kata Yoo Ra.

                “Anne, kau ini. Hahahaha. Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu? Hahahaha,” kata Kris sambil tertawa.

                “Aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya saja, tadi Samchon marah-marah sama Yoo Ra Eonnie. Lalu tiba-tiba nada bicara nya melembut,” jelas Anne polos. Kelewat polos.

                “Ah, benar juga Anne! Hahaha,” celetuk Ailee.

                “Iya benar! Hanya laki-laki tidak normal yang tidak ingin menjadikan wanita secantik Yoo Ra eonni sebagai kekasihnya. Hahahahaha,’ lanjut Alice.

                “YAAAA!!!” Pekik Kwang Soo dan Yoo Ra bersamaan.

                “Aku ini sudah bersahabat lama dengan Yoo Ra. Dan kami hanya sebatas sahabat. Kalian dengar baik-baik ya. Sahabat,” kata Kwang Soo dengan menjaga suara nya agar tidak terdengar gugup. ‘Dan kami hanya sebatas sahabat, tapi aku berharap bisa lebih dari sahabat,’ batin Kwang Soo.

                “Nah, benar itu. Kami hanya sahabat. Lagipula, Kwang Soo tidak suka wanita cerewet seperti aku,” kata Yoo Ra dengan tegas. ‘Aku berharap lebih dari sahabat, apakah bisa? Bolehkah aku berharap?’ Batin Yoo Ra.

                “Ap…a kalian tidak berharap lebih dari sekedar sahabat? Kalian cocok,” kata Kris dengan santai nya diikuti dengan anggukan antusias para Gummies.

                “YA! Bocah, diam saja kau. Kau ini masih kecil, Hyun Kyungie” kata Kwang Soo sambil mencubit pipi Kris. “Kalian juga jangan ikut-ikutan!” Lanjut Kwang Soo sambil mencoba mengacak-acak rambut Anne yang duduk paling dekat dengannya.

                “Samchon!! Kau mengerikan sekali. Dan perlu ku tekankan lagi, jangan panggil nama Korea ku Samchon!!” Jelas Kris dengan ekspresi yang sulit ditebak.

                “Ahh, sudah jam 4 sore. Daripada kalian meributkan hal yang tidak jelas, lebih baik kita jalan-jalan. Sekitar sini saja,” ajak Ailee.

                “Ide yang bagus, Ai. Aku setuju,” lanjut Alice. Hari sudah sore, sehingga tidak menjadi masalah bagi Kris dan Alice untuk berjalan-jalan keluar rumah karena matahari tidak seterik siang tadi. Sebenarnya dalam hati Alice juga ingin berjalan-jalan keluar untuk melihat matahari tenggelam.

                “Ayoo. Kita jalan-jalan. Aku ingin beli ice cream,” kata Anne. Ice cream lagi. Sepertinya cinta pertama Anne adalah ice cream. Karena bahkan ketika musim dingin pun, ia akan mencuri-curi kesempatan untuk setidaknya makan satu scoop ice cream saja.

                “No more ice cream, Anne. Kemarin kau sudah memakan satu cup neapolitan dan ice cream kacang merah 2 batang,” kata Kris.

                “Tapi Ge, itukan kemarin. Hari ini kan belum,” rengek Anne.

                “Ayolaahh Geeee. Cuaca seperti ini kan enak makan ice cream,” kali ini Alice dan Ailee ikutan merajuk.

                “No excuse!” Kata Kris dengan tegas. Muncullah wajah lesu dari Gummies nya.

                “Cih, padahal aku yakin Gege juga mau makan ice cream.” Alice masih saja membalas, bermaksud menggoyahkan pendirian kakaknya.

                “Sudahlah, ayo kita jalan-jalan. Aku akan membelikan kalian ice cream,” kata KwangSoo.

                “Yes! Gomapta Samchon,” kata Alice, Ailee dan Anne. Kris hanya bisa menggerutu. Kali ini adik-adik nya lebih mendengarkan Kwang Soo.

                Yoo Ra yang menyaksikan kelakuan konyol Kwang Soo dan empat keponakannya itu hanya bisa tertawa. Hmm.. Sepertinya menerima tawaran mereka bukan sesuatu yang buruk, kata Yoo Ra dalam hati. Sebuah perasaan damai dan tentram memenuhi seluruh hati Yoo Ra ketika melihat Kwang Soo bercanda dan senyum bersama keponakannya. Secara tidak sadar, Yoo Ra memiliki perasaan sayang dan ingin menjaga 4 keponakan sahabat nya itu.

***

Jeju International Airport

                Diantara puluhan penumpang yang memasukki pintu kedatangan dari Seoul menuju Jeju, nampak sepasang suami istri berjalan dengan santainya. Begitu semua beres, mereka langsung mengambil koper mereka. Nampak si suami mengeluarkan ponsel nya dan berbicara singkat dengan seseorang di sebrang sana. Ia mengatakan sesuatu pada istrinya, kemudian beriringan berjalan menuju sebuah coffee shop di dalam bandara. Dari gerak-geriknya, dapat di katakan sepasang suami istri ini sedang menunggu seseorang. Menunggu di coffee shop memang pilihan yang tepat, mengingat perjalanan panjang yang mereka habiskan di pesawat. Canada – Eropa – Korea – Jeju. Walaupun sempat istirahat beberapa jam, lelah adalah kata yang sangat menggambarkan ekspresi mereka saat ini. Jet lag? Mungkin tidak, mereka sudah biasa melakukan perjalanan panjang seperti ini.

                Kemudian sepasang suami istri ini memesan minuman favorite mereka masing-masing dan duduk di salah satu bangku cafe yang menghadap keluar bandara. Lalu sang istri mengeluarkan sesuatu -yang nampaknya sebuah ponsel- dari tas berwana kuning merk ZARA yang sengaja dipilihnya untuk menyambut musim panas 2014. Darah fashion memang mengalir dalam dirinya, kemudian layaknya air yang terus mengalir,  darah fashion itu pun mengalir didalam diri keempat anaknya.

***

Lao Ma’s Pov

                Akhirnya aku bisa lepas dari jeratan kursi pesawat yang sudah menjadi makanan sehari-hari ku selama 3 hari. Canada – Eropa – Korea – dan sekarang langsung ke Jeju Island. Untung saja cabang perusahaan kami yang berada di Paris tidak mengalami kendala apapun, begitu juga yang di London sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk mengontrol dan mengevaluasi kedua perusahaan cabang itu. Benar-benar padat, karena memang aku dan suamiku berniat liburan kali ini. Dalam 2 hari, kami sudah selesai mengontrol Scorpion Corporation di kedua negara di benua Eropa itu, jadi jatah berlibur kamipun semakin panjang. Liburan musim panas tahun ini sangat berbeda dengan musim panas sebelumnya. Ini pertama kali nya aku dan suamiku berlibur tanpa embel-embel keempaat anakku.

                Menunggu supir pribadi kami menjemput, menjadi hal yang menjengkelkan kali ini. Aku sudah terlalu lelah. Ingin sekali merebahkan tubuh ini di tempat tidur. Untung saja suamiku menemukan coffee shop favorite kami. Meminum kopi setidaknya membantu ku melepas penat. Tapi, sebenarnya bukan tubuhku saja yang lelah, tapi pikiranku juga lelah. Memikirkan Anne si bungsu yang menghabiskan liburan musim panas nya dengan Kris yang sibuk dengan perusahaan utama Scorpion Corporation di Canada dan si kembar Alice dan Ailee  yang sepertinya memiliki banyak acara karena mereka sudah menjadi mahasiswi. Tentu ruang lingkup pergaulan mereka sudah berbeda. Ah, Annee.. Kasihan sekali, anakku yang satu ini. Mengingat dia mengirimi ku pesan singkat yang mengatakan kalau dia sangat bosan menunggu Gege nya meeting, bertemu dengan beberapa rekan bisnis. Ingin sekali aku meneleponnya, tapi aku dan suamiku berniat untuk tidak menghubungi mereka selama liburan ini. Maafkan Lao Ma Anne, harusnya kami tidak pergi selama dua minggu.

                “Nae nampyeon, Tuan Hong lama sekali, eo? Aku sudah lelah,” kataku pada suamiku yang juga kelelahan.

                “Sebentar lagi sampai, yeobo. Tolong tunggu sebentar, ne,” jawabnya. Ahh, dia bahkan sudah mulai memejamkan kedua matanya. Bosan melihatnya tertidur, aku mengalihkan pandanganku ke seluruh penjuru bandara.

                A-apa?!

                Itu mereka berempat! Mereka pasti ingin menyusul kami ke Jeju. Tunggu! Tidak mungkin mereka tahu kami di Korea! Tuhan, aku terlalu merindukan mereka sampai-sampai aku berharap mereka ada disini juga. Tsk!

                Aku terkekeh pelan sambil menggeleng. Bagaimana bisa aku menyangka keempat orang yang sedang berjalan keluar bandara itu keempat anakku. Bahkan perawakannya pun tidak mirip. Mereka tidak setampan dan secantik keempat buah hatiku. Memikirkan mereka semakin membuatku merindukan empat kiddos itu. Well, kiddos merupakan panggilan Appa mereka untuk keempat anak kami. Aku tersenyum begitu mengingat setiap momen kami bersama. Walaupun tidak sebanyak yang dimiliki oleh keluarga lain diluar sana karena kesibukan ku dan suamiku mengurus perusahaan, aku bersyukur telah memiliki keluarga yang tetap harmonis. Kris dapat dipercaya untuk menjaga ketiga adiknya, meski tanggung jawab besar telah tertanam dipundak nya sejak dia kecil. Begitu juga ketiga adiknya yang mengerti kakaknya juga mereka yang saling mengasihi satu sama lain. Keempat anak itu, yang sampai sekarang masih aku anggap bayi apalagi Anne yang masih manja. Alice dan Ailee yang tetap saja menggelayut manja padaku atau merengek kecil pada ayah mereka. Bahkan Kris yang masih menganggapku wanita satu-satunya dalam hidupnya. Kris yang masih bertingkah layaknya bocah 5 tahun apabila manja nya sedang kumat. Dalam hati aku berharap Kris menemukan pasangannya yang sesuai -maksudku bukan dalam hal materi- tetapi kepribadian dan rohani karena umurnya sudah tidak lagi belasan. Ia sudah 24 di tahun ini. Tapi setelah kupikir-pikir, rasanya tidak rela melepas anak laki-laki semata wayangku. Tapi begitulah sejatinya seorang ibu yang memiliki anak laki-laki. Ia harus melepas sang putra untuk menjadi pemimpin di keluarga nya sendiri. Kalau ketiga putri kecilku, ah tolong jangan dipikirkan. Mereka masih terlalu kecil!

Astaga, untunglah Tuan Hong datang. Imajinasiku sudah melayang kemana-mana sejak tadi. Kami pun langsung menuju hotel yang telah dipesan oleh suamiku. Sebenarnya kami memiliki rumah di Jeju. Tapi rumah itu sedang disewakan kepada turis asing. Kris juga punya, tapi kami memutuskan untuk tidak menempatinya. Rumah Kris juga pasti ada yang menyewanya.

                Sesampainya dihotel, aku dan suami ku langsung merebahkan diri di tempat tidur. Aku sudah tidak bisa memikirkan apapun selain kasur yang empuk. Akhirnyaaa! Kami bisa beristirahat dengan nyaman.

                Tidak terasa aku tertidur selama 2 jam. Sudah pukul 4 sore. Aku mengajak suamiku untuk sekedar jalan-jalan sore disekitar pantai. Merasakan segarnya angin sore yang meresap ke paru-paru. Mungkin aku bisa menghilangkan kerindukanku kepada anak-anakku.

***

                “Ailee, lebih baik kita duduk sebentar di bar itu sebelum kita jalan-jalan,” kata Alice, menunjuk salah satu bar dari sekian banyak nya bar bar di sepanjang pantai. Bar yang di tunjuk Alice bernama “Splash!” Dengan desain yang sedemikian unik. Didepan pintuk masuk di letakkan sepasang papan surfing dengan warna cerah. Di atas pintu masuk, tergantung papan dengan tulisan “WELCOME” ala Hawaii. Dari sekian banyak bar, Splash! Lah yang paling ramai, dan itu menjadi salah satu daya tarik bagi Alice. Dia penasaran, sehebat apakah bar itu sehingga seperti nya menjadi bar nomor satu disini.

                “Ahh, benar juga kau Al. Kita bisa duduk-duduk disana sambil menunggu sunset.” Kris mengiyakan ajakan Alice.

                “Baiklaaaah,” jawab Ailee singkat. Dia tahu, Kris, Alice, Kwang Soo dan Yoo Ra butuh sesuatu yang segar setelah ‘dongeng’ Kwang Soo tadi. Anne? Dia tidak terlihat memikirkan hal itu. Bukan dia tidak sayang atau tidak memikirkan Samchon kesayangannya itu, hanya saja dia tidak perlu tahu terlalu jauh untuk masalah ini. Cukup mengetahui Kwang Soo kehilangan pekerjaan saja sudah membuatnya bingung.

                Mereka kemudian masuk kedalam bar. Begitu masuk, mereka sudah disambut oleh lagu bernuansa musim panas. “OH! Ini lagu Darling dari Girl’s Day. Ini kan lagu untuk album musim panas mereka,” kata Anne sambil menggoyang-goyangkan lengan Ailee kemudian ikut bernyanyi.

                Setelah dilihat keadaan didalam bar, Splash! terlihat berbeda dari bar biasanya. Bar itu tidak berisikan minuman beralkohol, tetapi pelanggan yang datang akan disuguhkan menu minuman seperti juice, kopi dan milkshake. Penampilan nya cukup menipu. Seharusnya tempat itu disebut sebagai kedai minuman, bukan bar. Walau mereka juga menjual bir, tapi hanya kepada orang-orang yang sudah berusia 18 tahun keatas. Selain itu menu bir tidak ada dalam deretan menu yang di letekkan di depan pintu masuk tadi. Papan tulis hitam yang bertuliskan berbagai menu khas Splash! dengan kapur tulis warna-warni. Begitu melihat papan tulis itu, Anne bingung. Siapa ya yang rajin menuliskan itu setiap hari? Kapur kan gampang terhapus… Pikirnya polos. (Duh, Anne!)

                Dengan cepat, Kwang Soo mengambil alih posisi “memimpin jalan” milik Kris. Kris mengerjap kaget kemudian membiarkan Kwang Soo memimpin jalan. Di belakang, sayup sayup terdengar Alice mengobrol dengan Yoo Ra, entah membicarakan apa.

                Dengan pimpinan Kwang Soo, mereka duduk di pojok bar. Pojok yang menghadap kearah luar, sehingga mereka masih bisa melihat pantai dan mengecek apakah matahari sudah mau kembali ke peraduannya atau belum.

                Mereka duduk di atas sofa beludru berwarna kuning, berhadap-hadapan (Kris, Kwang Soo dan Yoo Ra. Alice, Ailee dan Anne). Khas suasana pantai. Benar-benar Hawaii. Tapi tetap tidak meninggalkan jati dirinya, yaitu Korea karena sejak tadi lagu-lagu yang di putar merupakan lagu-lagu Kpop terbaru yang keluar di musim panas ini. Sekarang terdengar Solo Day milik B1A4.

                “Kalian mau pesan apa?” Tanya Kwang Soo. Ia memberikan buku menu, kemudian menunjuk ke sebelah kanannya. Menunjuk sebuah papan tulis hitam yang bertuliskan menu-menu andalan dan tentu nya menu-menu favorite disana. Agak aneh, sebenarnya melihat Kwang Soo seolah-olah mengenal tempat ini.

                “Aku mau Banana Split Samchon-ah,” kata Anne dengan bersemangat tanpa melirik papan tulis hitam yang tadi di tunjuk Kwang Soo. Melirik buku menu pun tidak. Mengapa? Karena sejak tadi memperhatikan papan tulis yang didepan dan membaca menunya, Anne sudah tergiur dengan Banana Split khas Splash!.

                “Jangan samchon. Anne! Kau mau makan ice cream lagi? Sudah ku bilang, tidak ada ice cream hari ini!” Kata Kris dengan frustasi, padahal dia sejak tadi sibuk menyanyi Solo Day dengan suara rendahnya itu. Kris sudah kehilangan akal untuk menghentikan Anne makan ice cream hari ini. Bukan masalah besar kalau Anne cinta ice cream. Masalahnya adalah ketika tenggorokan Anne sakit atau buruknya lagi sakit perut karena makan ice cream berlebihan, maka Kris-lah yang akan direpotkan selama liburan ini.

                “Tapi Ge, aku mau ice cream…” Kata Anne sambil menatap mata Gegenya, mencoba terlihat seimut mungkin. “Ba-baiklah, aku pesan strawberry milkshake saja, Samchon,” kata Anne dengan lesu -dan sepertinya agak takut- karena Kris memandangnya balik dengan tajam. Sebenarnya Kris tidak tega melihat adik bungsunya sengsara tanpa ice cream. Apa boleh buat? Sejak menginjak Korea, Anne sudah menghabiskan 1 ice cream green tea, 2 ice cream kacang merah dan 1 cup medium neapolitan dalam sehari. Ice cream dengan pemanis buatan, perisa tambahan atau mungkin pewarna-yang entah aman bagi Anne atau tidak. Selama di Kanada, Anne memakan ice cream homemade yang dibuat oleh Hong Ahjumma atau Lao Ma.

                “Ge! Kau membuat mood Anne hilang lagi!” Bisik Ailee dengan penekanan. Kris hanya bisa menghela napas panjang.

                “Aku Lemon Squash saja Samchon,” kata Ailee lagi.

                “Aku juga kalau begitu,” kata Alice sambil membalik-balik buku menu.

                “Kau, Yoo Ra? Kris?” Tanya Kwang Soo lagi.

                “Iced Cappucino saja, Samchon,” jawab Kris.

                “Aku Orange Smoothies, Kwangie,” kata Yoo Ra.

                “Baiklah, sudah lengkap semua. Tidak ada yang mau pesan makanan, nih?” kata Kwang Soo.  Dia mendapat gelengan kepala dari Kris, gummies dan Yoo Ra

                “1 Strawberry Milkshake, 2 Lemon Squash, 2 Iced Cappucino dan 1 Orange Smoothies,” kata Kwang Soo. Si bartender mencatat pesanan Kwang Soo dengan cepat.

                “Ada tambahan lainnya?” Tanya bartender itu dengan sopan.

                “Tidak ada. Itu saja,” jawab Kwang Soo.

                Si bartender pun membacakan ulang pesanan di meja nomor sepuluh itu. “Pesanan anda akan siap kurang lebih 10 menit, Lee Kwang Soo-ssi,” kata ‘bartender’ itu. Lalu ‘bartender’ itu kembali untuk membuat minuman mereka. Ucapan si bartender yang memanggil Kwang Soo dengan embel-embel “ssi” meski mereka yakin seyakin yakinnya kalau Kwang Soo tidak sekalipun mengucapkan namanya mengusik rasa penasaran keempat anak Wu itu. Mereka pun langsung mengajukan pertanyaan pada Samchon kesayangan mereka.

                “Kau kenal dengannya Samchon?” – Kris

                “Atau kau sering kesini, Samchon?” – Alice dan Ailee

                “Apa ini punya teman mu, Samchon-ah?” Anne.

                Kwang Soo membulatkan matanya. Awas kau Young Jae! Sudah dibilang jangan sebut namaku kalau aku kesini bukan dengan Yoo Ra atau Hyung! Umpat Kwang Soo dalam hati. Bahkan ia menetapkan peraturan bagi para karyawannya untuk tidak memanggilnya dengan embel-embel tuan, terlebih ‘bos’. Itulah Kwang Soo. Ia tidak suka pamer. Bahkan teman-temannya tidak ada yang tahu. Ia pun melarang Ji Young Hyung untuk bilang kepada anak-anaknya mengenai usaha sampingan Kwang Soo. Kalau ini karena alasan lain. Ia tidak ingin keempat keponakannya itu tahu keadaan Kwang Soo yang “didepak” dari perusahaan yang seharusnya miliknya itu sehingga membuka usaha lain. Ia tidak ingin Kris, si kembar dan Anne khawatir.

                “Tapi tempat ini unik. Setidaknya orang-orang tertarik dengan desain nya,” kata Kris yang seolah melupakan pertanyaannya tadi.

                “Lho? Kalian tidak tahu? Bar yang seharusnya lebih cocok disebut kedai ini, adalah milik Lee Kwang Soo-ssi. Samchon kalian,” jelas Yoo Ra bingung.

                “MWORAGO?!” Pekik Kris dan Gummies nya.

                YOO RAAAA! Teriak Kwang Soo dalam hati. Kwang Soo melirik Yoo Ra tajam.

                “Apa? Apa? Kau tidak bilang pada mereka, eo? Astaga Tuan Lee!” Kata Yoo Ra kaget dengan reaksi Kwang Soo. Ia menepuk jidat nya pelan.

                Kembali Kwang Soo didesak oleh keponakannya itu. Empat pasang mata “hyena” sudah menatapnya.

                “Samchon-ah, berapa kedai yang kau miliki di Busan dan Daegu?” tanya Ailee.

“Iya samchon,” Kata Alice.

                “Dan kalian tahu? Kedai samchon kalian ini sudah terkenal. Kalau kalian suka nonton acara kuliner Korea, pasti kalian tahu nama cafe nya,”lanjut Yoo Ra.

                “Apa nama nya samchon?! Siapa tahu aku pernah dengar. Ahh, mungkin Anne dan gege lebih tahu, karena mereka lebih sering menonton acara kuliner korea,” Kata Alice.

                “Woaaah! Berarti sudah terkenal banget dong, samchon?” tanya Ailee.

                “Ah tidak seperti itu. Kau berlebihan Yoo Ra,” Kata Kwang Soo sambil menendang kaki Yoo Ra untuk memberi kode. Tapi yang di tendang malah membuka mulut dan bercerita tentang usaha sampingan yang kini menjadi usaha utama Kwang Soo.

                “OH! Selain di Busan dan Daegu, jerapah ini juga memiliki 2 cafe di daerah Gangnam dan 1 didaerah Apgujeong. Dan di Jeju, Splash! Ini ada di 3 tempat. Kalian pasti pernah dengar K. Cafe dan Oldiest K. Cafe kan?” cerita Yoo Ra panjang lebar.

                “OMO! Ca-cafe itu punya samchon?!” tanya Anne.

                “Samchon? Apa benar?” selidik Kris.

                “Astaga! Yang benar samchon??” tanya Ailee dan Alice.

                Keempat keponakannya menyerbunya dengan pertanyaan. Kwangg Soo bingung ingin menjawab pertanyaan siapa terlebih dahulu.

                “Emm, yaa. Well, itu benar. Sepulang dari Jeju, aku janji akan mengajak kalian mengunjungi semua kedaik,” Kata Kwang Soo.

                “Yang benar samchon?!!” tanya mereka berempat antusias. Kwang Soo hanya mengangguk.

  1. Cafe adalah cafe dengan konsep anak Muda. Setiap harinya, cafe ini selalu ramai dengan anak-anak penggemar K-Pop. Apalagi akhir pekan, pasti cafe itu penuh sampai-sampai harus memesan tempat. Beberapa girlband maupun boyband pernah datang mengunjungi cafe ini. Desain cafe minimalis dengan berbagai autograph asli para artis yang pernah mengunjungi cafe ini. Berbanding terbalik dengan K. Cafe, Oldiest K. Cafe memiliki Desain lebih oriental dengan suasana khas Korea. Disini, kebanyakan para orang tua berkumpul untuk bernostalgia dengan pasangan masing-masing ataupun teman-teman. Oldiest K. Cafe memutarkan lagu-lagu lawas. Tidak kalah oleh K. Cafe, tempat ini pun memiliki autograph dari artis, aktor ataupun penyanyi yang pernah mengunjungi cafe ini. Dan kedua Cafe ini menjadi cafe terpopuler di Korea. Tidak hanya terkenal di Korea, karena Cafe ini sudah sering di liput oleh acara kuliner Korea ataupun digunakan untuk syuting. Bahkan, nama kedua Cafe ini sampai terdengar di negara-negara barat.

                “Astaga! Samchon! Itu cafe yang sering menjadi pembicaraan teman-teman ku di Kanada. Mereka yang senang K-Pop sangat ingin mungunjungi cafe itu,” kata Anne yang baru saja menyadari. Bahwa restaurant yang dimiliki Kwang Soo sudah sangat terkenal sebenarnya.

                “Memangnya kau punya teman, Anne? Hahahaha,” celetuk Alice. Anne memang tidak memiliki banyak teman disekolahnya. Bukan karena Anne unsociable, tapi karena teman-teman sekolah Anne tahu bahwa Anne adalah anak dari CEO Scorpion Corporation yang sudah terkenal dipasar America, Eropa dan China. It doesn’t make sense for Anne. Berteman bukan dilihat dari harta nya – menurut Anne. Pada dasarnya Anne tidak memilih dalam berteman. Tetapi Anne mengalami penolakan ketika ia memasuki West Vancouver School District. Anne menjadi sedikit introvert, dia hanya memiliki 2 teman dekat yaitu Jason dan Lily. Selebihnya hanya mendatangi Anne ketika mereka butuh.

                Anne diam saat itu juga. Dia tidak menunjukan wajah sedih atau kecewa karena dikatai seperti itu oleh jiejie nya. Anne sudah terbiasa dengan kata-kata pedas dari Alice. Walaupun Alice hanya bercanda.

                “Alice!” bisik Kris kepada Alice. “Jaga ucapan mu,” lanjut Kris yang merasa raut wajah Anne berubah. Alice hanya bisa menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

                “Ayo kita jalan-jalan lagi. Aku sudah bosan disini,” ajak Anne dengan suara nyaring nya.

                “Kalau begitu, akan ku tunjukan tempat yang sangat indah untuk melihat sunset,” kata Kwang Soo.

                Mereka pun keluar dari Splash! dan mengikuti Kwang Soo yang memimpin jalan. Tempat itu tidak jauh dari Splash! Mereka hanya berjalan sekitar 300 meter saja. Tidak terlalu ramai dan cukup nyaman untuk bersantai di sore hari.

                “Haaaaaah, sejuknya udara sore ini,” kata Yoo Ra.

                “Eonnie, kenapa kau memanggil samchon dengan sebutan Jerapah?” tanya Anne.

                “Karena Samchon mu itu tinggi sekali, Anne. Sama seperti gege mu,” jelas Yoo Ra.

                “Gege tidak akan terima kalau dia memiliki nama panggilan seperti itu. Di panggil tiang listrik saja, gerutuan nya sepanjang pantai ini,” kata Alice yang mendramatisir.

                “YA! Memang nya aku selurus tiang listrik, huh?” bantah Kris yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan ketiga perempuan itu.

                “Ehh.. Iya, Ge. Apalagi karena bokong mu itu rata sekali.. Persis tiang listrik, kan?” Jawab Anne sambil menggoda Gege nya.

                Kedua alis tebal Kris langsung sukses menyatu. “Bisa kupastikan kau tidak akan pernah makan ice cream lagi, Nona Wu!”

                “Kau lihat, Anne? Angry bird is angry right now. Hahahahha,” kata Alice sambil tertawa puas.

                “Hahahahaha. Ge, kau terlihat sangat mirip dengan angry bird. Kau terlihat buruk dengan ekspresi itu. Hahahaha. Xiao Jie, kau harus lihat ekspresi gege.” kata Anne. Ailee pun menengok dan sedikit tertawa.

                “Jieeeee, lihat sini. Tuh kan ekspresi nya jadi sok cool lagi. Geeeee, tunjukan ke Ailee jie. Jebal,” celoteh Anne kepada dua orang sekaligus.

                “Anne!!” teriak Kris sambil mencubit kedua pipi Anne. Adik bungsu nya itu selalu menggemaskan sekaligus menyebalkan.

                Ailee pun kembali ke dalam kegiatan menikmati angin pantai lagi. Yoo Ra yang merasa lebih tertarik untuk mengobrol dengan Ailee pun datang menghampiri Ailee yang tengah diam.

Ailee’s POV

                Yoo Ra Eonnie, Alice, Anne dan Gege sedang asyik mengobrol. Kwang Soo Samchon kembali lagi ke Splash! untuk mengambil dompet nya yang tertinggal. Aku seperti de javu akan keadaan seperti ini. Memang aku bersyukur memiliki Kris ge yang sangat menyayangi ku, tapi terkadang aku selalu merasa aku tidak mendapatkan seluruh perhatian gege ataupun Lao Ma dan Appa. Entah memang perasaan ku saja atau memang aku mendapatkan perlakuan yang berbeda. Entahlah, aku tidak begitu peduli.  Lamunan ku buyar ketika Anne memanggilku untuk melihat wajah Kris ge yang katanya lucu. Memang lucu, aku sempat melihat gege wajah kesal gege -yang menurut kami itu adalah wajah cute gege- dia selalu mengerutkan kening nya dan itu membuat nya terlihat sangat mirip dengan angry birds.

                Ku lihat Alice asyik dengan iPad nya. Pasti dia sedang chatting dengan teman-temannya dikampus. Kris ge menyerang Anne dengan ber-tickling ria. Aku teringat kata-kata gege sehari sebelum kami berangkat ke Pulau Jeju ini. Kami selalu mewarnai hari-hari nya, gege sangat bersyukur memiliki kami dan kata-kata manis lainnya. Akupun teringat kekonyolan ku untuk menarik perhatian Lao Ma, Appa dan juga gege.

                #flashback

                Canada, 3 years ago

                Saat ini kami sekeluarga-tanpa gege- sedang makan malam bersama sebelum mengantar Lao Ma dan Appa ke London untuk control London Scorp. Seperti biasa, Lao Ma akan memberikan kami bertiga serentetan nasihat.

                “Lao Ma… Apa tidak bisa satu minggu saja di London?” kata ku merajuk. Minggu depan aku ada pentas piano. Aku ingin Lao Ma dan Appa datang ke acara itu.

                “Tidak bisa, Ailee. London Scorp akan mengadakan pameran. Kau ajak Gege saja ke pentas piano mu,” kata Lao Ma sambil membelai kepala ku.

                “Memang Gege akan pulang?” tanyaku

                “Gege bilang dia akan pulang minggu depan,” kata Alice.

                “Appa! Lao Ma! Gege akan pulang?” pekik Anne. Pasti Gege akan menghabiskan waktu bersama Anne atau Alice atau teman-teman basket nya dulu. Ia tidak mungkin datang ke pentas piano ku. Well, katakan aku pesimis.

                “Memang nya Gege mau datang ke pentas piano itu?” tanya ku lagi.

                “Dia pasti mau, Ailee. Percaya sama Appa, Gege pasti datang,” kata Appa. Ini adalah pentas pertama ku sebagai pianis utama. Aku ingin kedua orang tua ku yang melihat nya. Walaupun Gege sering ku anggap sebagai Ibu dan Ayah sekaligus.

                “Appa. Jangan memberikan Ailee harapan terlalu tinggi. Gege tidak akan mau, Appa. Pasti dia akan bermain basket dengan teman-temannya dulu. Kekekekek,” kata Alice sambil terkikik meledeki aku.

                “Alice Wu!” bentak Lao Ma dengan pelan. Alice hanya menundukan kepala nya.

                “Baiklah, aku akan ajak Gege. Syukur-syukur dia mau datang,” kata ku dengan memaksakan wajahku untuk berekspresi ceria.

                Seminggu berlalu. Gege batal pulang. Dan hanya Anne yang datang ke pentas itu. Anne memang suka bermain piano, itu yang membuat dia sedikit tertarik dengan pentas ku. Lao Ma dan Appa belum memberi kabar, kapan mereka pulang. Biasanya, paling cepat mereka pulang 2 minggu. Well, itu hal biasa. Sedangkan kembaranku? Haha. Ia terlalu sibuk untuk datang ke acara seperti itu.

                #a week later.

                Lao Ma dan Appa pulang dengan sekoper baju untuk Alice, Anne dan aku. Walaupun kami memiliki fashion line, kami masih sering menggunakan merk lain. Lao Ma selalu tahu selera fashion Alice, Anne dan aku. Saat makan malam tiba, Hong Ahjumma sudah memasakan makanan special kedatangan Lao Ma dan Appa.

                “Alice, how’s your school?” tanya Appa yang memecah keheningan.

                “I’m doing good,”jawab Alice.

                “And you, Ailee?” tanya Appa.

                “I’m doing good too,”jawab ku. Pasti Anne akan mendapat banyak pertanyaan. Selalu seperti itu. Sepertinya, Lao Ma dan Appa lebih mengkhawatirkan Anne ketimbang aku dan Alice.

                “Anne, how about you?” tanya Lao Ma.

                “I’m doing great, Lao Ma,”jawab Anne dengan senyum lebar nya yang lucu.

                “How’s your PE score, Anne?” tanya Appa.

                “hmm, I don’t know. I didn’t take PE class yesterday,” jawab Anne dengan santai. Anne memang tidak terlalu suka berolah-raga, sama seperti Lao Ma.

                “You’re not a good girl anymore,” canda Appa yang membuat Anne mengerutkan kening dan mengerucutkan bibir mungil nya.

                Selesai makan malam, kami berkumpul diruang keluarga. Sibuk dengan urusan masing-masing, kecuali Lao Ma. Lao Ma sibuk membantu Anne mengerjakan tugas art and craft dari guru nya yang bertemakan Knitting. Sesekali Lao Ma membantu Alice mengerjakan soal Matematika yang menjadi musuh Alice. Dan sesekali Lao Ma bertanya kepadaku tentang pekerjaan rumah ku. Bertanya. Ya, hanya bertanya.

                “Lao Ma, Sabtu ini aku akan pergi ke Vancouver Island dengan teman-teman kelas bahasa Prancis,” kata ku.

                “Apakah itu wajib? Gege akan pulang sabtu ini. Kali ini Gege mu itu tidak salah tanggal penerbangan lagi,” kata Lao Ma.

                “YANG BENAR, LAO MA??” aku, Alice dan Anne berteriak histeris. Lao Ma yang sedang memasukkan benang ke jarum, hanya menjawab dengan sebuah anggukan. Sedangkan Appa yang sedang baca koran menggelengkan kepala nya melihat kami histeris ketika tahu bahwa Gege benar-benar akan datang.

                “Kalau begitu aku harus kabari Jemima secepatnya,” kata ku dengan semangat.

“Aku harus membatalkan acara ku juga,” kata Alice tak kalah semangat.

                Sementara aku mengambil handphone nya yang berada dikamar, Alice sudah memberi kabar kepada Rachel – teman nya disekolah untuk membatalkan rencana nonton mereka. Aku pun turun kembali dan ke halaman belakang rumah untuk menelepon Jemima.

                “Hi Jem! Sorry for bothering you this evening. I just want to say something important…,” kata ku yang terpotong dengan interupsi dari Jemima.

                “What’s that? About this Saturday? So, will you bring your VIP Card?” kata Jemima dengan semangat.

                “Yes about this Saturday. But actually, I can’t go this Saturday. Umm. My brother is coming back from Korea,” lanjut ku.

                “What? Are you sure Ailee? This is our chance to get score without taking final test,” kata Jemima yang seketika itu juga nada suaranya melemah.

                “Yea, i know. But my brother is more important than a score. I’m sorry Jem,” kata ku dengan tidak enak hati.

                “How special he is he, huh? What makes him so special for you?kata Jemima.

                “He’s my brother, so he is special for me and my sisters. He loves us and he cares every little thing about us, Jemima,” jelas ku kepada Jemima yang seorang anak tunggal. Ia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang kakak ataupun adik. Ditambah kedua orang tuanya sangat sibuk karena bekerja disebuah kantor pengacara dimana Appa menggunakan jasa ayah nya Jemima sebagai kuasa hukum nya.

                “Hmm. How’s your brother look a like? Is he handsome? Hahaha,” tanya Jemima. Aku pun tertawa oleh nada suara nya yang terdengar sangat ingin tahu. Jemima memang tidak pernah bertemu dengan Gege, meski aku berteman baik dengannya.

                “Well, yes he is. Hahahha,”jawab ku sejujur – jujur orang yang sedang jujur. Gege memang tampan. Tinggi yang hampir 1,9 meter, stylish, wajah bersih – ya walaupun terkadang untuk membersihkan wajah nya memakan waktu yang lama didepan kaca, terlebih jika jerawat nya sedang muncul di spot yang membuatnya uring – uringan. DI DAGU NYA! Bahkan aku, Alice dan Anne selalu menjadi korban untuk keluar rumah demi membelikan nya salep untuk jerawat dan plester untuk menutup jerawat.

                “Aileeee Wuuuu. Do you hear meeee? I’m talking to youuuu~” Jemima meneriakan nama ku di telpon dan bernyanyi Lucky nya Jason Mraz, bisa – bisanya bocah itu berlaku seperti itu.

                “YA! You don’t need to shout on the phone,  Miss Jemima!”balas ku berteriak.

“Sorry, Miss Wu. Hahahaha. See you on Saturday. I’m not coming if you’re not too. I won’t let you taking the final test alone, byeeee~” kata Jemima yang langsung memutuskan sambungan telpon dan sukses membuat ku menjatuhkan rahang ku. Such a lucky day! Gege will come back this Saturday and Jemima will not attend to the Vacation day this Saturday! Woohoo!

 

                Aku pun kembali ke ruang keluarga dan mendapati Alice sedang berbicara di telpon.

                “YES! Thank you so much, Ge!!! Can’t wait for Saturday!!!” pekik Alice.

                “……..”

 

                “What, your class is already started? Oke byeeeee, Kris Ge~” kata Alice. Dengan semangat, Alice memutuskan sambugan telpon. Wajahnya berseri-seri. Efek dari Gege. Ia memang luar biasa.

                “Itu Gege?” tanyaku.

                “Yup,”jawab Alice dan Anne.

                “ASTAGA!!!!” teriak Anne.

                “WU JIAO LI! Stop shouting!” kata Appa yang menutup telinga nya karena Anne berteriak disebelah Appa.

                “Appa! I’m sorry, but.. Gege. Haven’t. Talk. To. Ailee Jie,” kata Anne dengan pelan dan hati – hati. Air muka Alice berubah sedikit, emm, entah panik atau bersalah atau apapun itu.

                “Sudahlah, selesai kelas pasti Gege akan telpon Ailee kok,” kata Alice dengan cepat.

                “Iya, Gege pasti terburu – buru tadi. Hahaha,” kata ku sambil tertawa renyah. Lao Ma hanya menatapku dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.

                Aku pun kembali mengerjakan tugas ku. Tetapi pikiran dan hatiku tidak tenang. Apa benar Gege akan menelepon ku setelah dia selesai kelas? Apa Gege akan ingat kalau aku belum berbicara dengan nya? Pikir ku.

                “I’m bed now. Good night, Lao Ma. Good night, Appa. Good night, Alice, Anne,” kataku berpamitan kepada mereka yang masih bertahan dengan kegiatan nya di ruang keluarga.

***

                Kamarku dan kamar Alice dan Anne juga berada disatu ruangan. Kamar kami sebenarnya adalah 2 kamar yang dijadikan satu kamar. Tetapi, tetap ada sekat yang memisahkan kamar kami. Kalau kami sedang melakukan “girl’s thing” sekat itu akan kami buka dan menghasilkan satu kamar yang luas. Lupakan tentang kamar ku sekarang ini.

                To be honest, aku sedih ketika Gege telpon dan aku tidak bicara dengannya. Biasanya, Gege akan menutup telepon jika ia sudah berbicara dengan kami bertiga. Karena orang pertama dan kedua yang ia ajak bicara pastilah Lao Ma dan Appa. Tapi kali ini? Bahkan ketika aku sedang menelepon Jemima, tidak ada yang memanggilku untuk berbicara dengan Gege. Lalu, sebegitu miripkah suaraku dengan suara Alice? Sepertinya suara kami tidak terlalu mirip. Mungkin Alice atau Anne sudah memberitahu Gege kalau aku sedang menelepon temanku. Mungkin. Hanya sekedar mungkin. Sekali lagi, mungkin lebih baik aku tidur. Karena Gege pasti sibuk oleh tugas-tugas nya. Buat apa aku menangis hanya karena tidak bicara dengan Gege, memang nya tidak ada hari lain. Aku hanya berusaha untuk berpikir lebih positif.

                “Have a good day, Ge! I just can’t wait to see you!” kata ku kepada foto ku dengan Gege ketika kami sedang ber-selfie ria di ice ring.

                Kali ini sekat kamar kami masih dibuka, karena selama Lao Ma dan Appa pergi kami selalu bermain dimalam hari. Alice dan Anne pun masuk. Buru – buru aku memejamkan mata ku. Tak ada suara ketika mereka masuk. Biasanya suara Anne akan mengge…ma

                “LAO MA, don’t forget to wake me up on 5 am. Hehehe,” teriak Anne kepada Lao Ma yang mengantar mereka ke kamar.

                “Yes, honey. Sleep tight, sweethearts,” kata Lao Ma sambil mencium kening kami bertiga secara bergantian.

                Aku masih berusaha untuk bisa terlelap. Tapi kantuk itu tidak kunjung datang. Ini sudah 2 jam setelah Gege menelepon. Alice dan Anne sudah pergi ke alam mimpi. Dan aku masih berpura – pura tidur. Aku sudah lelah. Air mata ku tidak dapat ku bendung lagi. Aku beranjak dari tempat tidur ku dan pergi menuju balkon kamar. Aku menangis dalam diam. Aku tahu ini konyol. Menangis hanya karena telepon. Tapi ini yang aku rasakan. Kalau hanya sekali, tidak masalah. Tetapi ini sering terjadi. Apa Alice tidak tahu kalau aku juga kangen dengan suara berat Gege? Seberapa penting kah aku bagi Gege? Setiap kali kami berkumpul, Alice dan Anne lebih banyak mendapat perhatian dari Gege. Seberapa peduli kah Gege kepada ku? Atau mungkin ia sudah tidak peduli dengan ku. Apakah salah ketika aku ingin mendapatkan perlakuan yang sama seperti Alice dan Anne? Atau, apakah ini hanya perasaan ku saja? Aku tidak tahu, yang aku tahu sekarang adalah aku hanya sedih dan kecewa karena tidak bisa bicara dengan Gege. Beberapa kali aku mengirim pesan singkat untuk Gege dan Gege membalasnya walaupun lumayan lama. Sekitar 2 atau 3 hari kemudian. Setidaknya Gege masih membalas pesan ku.

                “Come on, Ailee. Berpikir positif. He’s your brother. Tidak mungkin Gege tidak kangen dengan ku kan? Gege selalu bilang kalau kami bertiga itu tidak bisa ia lupakan. Stop crying, Ailee. Kau masih bisa mengirimkan pesan untuk Gege,” kata ku kepada diriku sendiri.

Aku kembali ke tempat tidurku dan melihat handphone ku. Tak ada panggilan masuk. Tak ada pesan masuk. Gege tahu, Canada sudah larut malam. Pasti dia akan menelepon ku besok pagi. Ah! Lebih baik aku mengirim pesan untuk Gege. Segera aku mengetikan pesan untuk Gege,

                “Ge! Benar kau akan pulang? Sayang nya tadi aku tidak sempat berbicara dengan Gege. Have a nice day, Ge! Can’t wait for this Saturday ^^.” Perasaan ku sedikit lebih lega.

                2 hari kemudian, aku kehilangan kesempatan untuk berbicara lagi dengan Gege melalui telepon. Dan Gege tidak membalas pesan ku malam itu. Gege menelepon ketika ia dibandara. Nanti sore Gege akan sampai. Gege pulang, Lao Ma dan Appa harus ke Italy untuk menghadiri pameran fashion, dimana Scorp terlibat didalam pameran itu. Kali ini aku benar – benar tidak peduli lagi kalau Gege akan pulang.  Aku sudah janji dengan Jemima, Roy, Nicholas, August dan Cassey untuk pergi. Sebuah alasan untuk tidak melihat Gege. Terlalu mengecewakan untuk saat ini.

                “Al, aku pergi,”kata ku kepada Alice yang sedang membaca novel sambil tiduran di sofa ruang keluarga.

                “Ailee, sebentar lagi jam 7. Gege pulang. Kau tidak ingin bertemu dengan Gege?” tanya Alice. Ia kemudian mengalihkan pandangannya dari novel dan menatapku dengan pandangan heran. Heran. Heran karena aku tidak lagi seantusias dulu ketika menyambut kepulangan Gege. Oh dear, my twinny, apakah aku harus memberitahu kalau aku sudah tidak peduli lagi dengan semua ini?

                “Jie, kau tidak ingin menyambut Gege?” tanya Anne.

                “Aku tidak lama. Aku pergi,” jawab ku singkat. Sejujur nya aku malas menanggapi mereka, terlebih Alice. Aku pun melangkahkan kaki keluar rumah. Di depan sudah ada Roy yang berisik karena membunyikan klakson terus. Mentang-mentang kita pakai mobil baru nya, ckck.

                “Aileeee!” teriak Alice, memakai sendal kemudian menyusulku. “Kau serius? Mau pergi kemana? Hei Aileee!” Akhirnya ia berteriak karena aku sama sekali tidak menoleh padanya. Aku langsung masuk kedalam mobil dan mendapati Jemima yang duduk disebelah Roy, Roy yang menjadi supir hari ini serta Cassey, August dan Nicholas yang duduk di bangku tengah. Kemudian dengan sigap August pindah ke bangku belakang sehingga aku dapat duduk di tengah bersama Cassey dan Nicholas.

                Kemudian mobil pun melaju. Tekadku untuk tidak menoleh ke belakang runtuh. Aku melihat Alice masih berdiri di halaman, memandang mobil yang semakin lama semakin menjauh. Aku mendengus pelan. Ck, Alice.

“Baikllaahh~ apa agenda kita hari iniii?!” Seru Cassey dengan semangat.

Baiklah! Lupakan hal-hal bullshit itu semua. Hari ini aku senang-senang!

***

                “Hey, Ailee. Kau sedang banyak pikiran, ya?” tanya Roy sehabis kita makan malam.

                “Tidak,” jawab ku singkat.

                “Bagaimana kita ke Pub?” kata Nicholas.

                “Aku tidak mau,” jawab ku.

                “Ayolah Ailee. Kau bisa duduk saja disana. Setidaknya, yang mengganjal pikiran mu akan hilang. Hahahaha,” kata Jemima. Anak ini memang suka sekali pergi ke Pub atau Club. Aku hanya menghela napas dan mengikuti keinginan mereka.

                Satu jam perjalanan dari rumah ku menuju Doolin’s Irish Pub. Pertama kali nya aku menginjak tempat seperti ini. Tidak bahaya kalau aku tidak ikutan minum minuman yang mengandung alkohol. Satu jam disini, aku hanya duduk diam memperhatikan orang-orang sekitar kami. Roy, Nicholas dan August membuka satu botol minuman dan menuangkan nya ke gelas yang tersedia didepan kami.

                “Ayolah Ailee. Minum saja sedikit. Kau akan merasa bebas. Tidak ada beban pikiran,” kata Nicholas dengan gaya nya yang sok cool. Ia harus sedikit berteriak untuk mengalahkan kerasnya suara musik didalam pub. Aku hanya meringis melihat Nicholas merajuk. Semakin lama, pub semakin ramai. Tidak terasa sudah pukul 11 malam. Dan sudah 4 gelas kecil ku teguk minuman jahanam itu. Aku tidak mabuk, hanya saja muka ku merah seperti kepiting rebus.

                “Ailee, stop. Kalau kau tidak suka minum, kau tidak perlu meminum nya,” kata Jemima dengan sedikit panik.

                “Benar Nicholas. Semua yang mengganjal pikiran ku sudah hilang. Hey, Nicholas. Tuangkan aku segelas lagi,” pinta ku.

                “Tidak Ailee! Kau sudah mabuk. Kalau kau tambah segelas lagi, pulang dari sini bisa-bisa aku di bunuh oleh saudara kembar mu itu,” kata Nicholas.

                “Tidak mungkin. Memang nya dia peduli dengan ku? Hahaha,” kata ku. Aku pun menuang sendiri minuman itu dan meneguk nya sampai habis. Handphone ku bergetar terus menerus. Ku lihat nama Alice muncul dilayar. Dengan sengaja ku sentuh layar untuk memutuskan sambungan telpon itu. Ada apa dengan teman-teman ku? Kenapa mereka panik sekali?

                Jemima mengambil handphone ku ketika Alice menelepon ku lagi. Jemima mengangkat nya. BODOH! KAU BODOH JEMIMA! Pekik ku dalam hati.  Aku membiarkan dia mengangkat telepon dari Alice. Ku dengar dia menyebutkan kalau kami berada di Dollin’s Irish Pub. Kau. Baru. Saja. Membuka. Kandang. Singa. Jemima.

                “Apa yang ada di otakmu, hah?! Jemima! siapa yang menyuruhmu mengangkat telepon dari Alice?!” Kulihat semua temanku menatapku dengan pandangan kaget dan bingung, terlebih Jemima. Lancang sekali Jemima menerima telepon yang aku sendiri bahkan tidak sudi menerima nya. Panas menyebar di dadaku, membuatku semakin emosi. Mereka salah! Tempat ini tidak menghilangkan kepenatan ku dan semua perasaan yang mengganjal didada ku. Rasa itu sekarang datang lagi. Rasa itu tidak hilang! Aku kembal merasa kesepian, marah, dan.. Kecewa.

                “Ailee! Kau memang tidak mabuk seperti Cassey. Tapi kami tidak bisa membiarkan mu minum lebih banyak lagi. Muka mu sudah merah!” bentak Jemima.

                “Siapa yang menyuruh ku untuk mencoba, hah?” bentak ku balik. Jemima, Nicholas, Roy dan August hanya diam. “Sini, tuangkan lagi!!” Aku baru mengangkat gelas ku ketika tahu-tahu kepalaku pening sekali dan pandanganku semakin lama semakin mengabur.

                “AILEE!”

***

                Aku tidak tahu bagaimana, tapi aku yakin saat ini aku sedang berjalan terseok-seok. Seseorang menggandeng tanganku keluar dari pub ini. Mataku sudah tidak fokus lagi. Tapi tangan ini… Tangan yang sangat aku kenal, tangan yang sangat aku rindukan. Tangan besar yang hangat itu. Air mata ku tumpah begitu saja ketika aku mendongak dan mendapati Gege lah yang menggenggam tanganku dan membawaku keluar dari pub.

      Gege

                “JEMIMA! KAU INI TEMAN MACAM APA, HAH? Kalian bilang, kalian hanya pergi sebentar! Ini sebentar? Dan kalian ke tempat seperti ini?! Aku tidak habis pikir, kenapa Ailee ingin berteman dengan mu. Dan aku juga tidak habis pikir, anak Mr dan Mrs. Johnsons kelakuan nya seperti ini…” kata Alice yang terpotong oleh bentakan dari Gege.

                “ALICE! Jaga bicara mu!” kata Gege. Suara itu, suara yang aku rindukan. Suara yang membuatku semakin menangis.

                “Alice! Untuk apa kau marah dengan Jemima? Dia tidak salah. Lagipula, apa pedulimu dan apa urusanmu?” kata ku. Apa salah Jemima? Yang salah itu kau! Yang salah itu Gege! Lao Ma dan Appa dan Anne. Yang salah itu kalian! Aku mencoba melepaskan genggaman tangan Gege. Kembali perasaan marah menyergapku.

                “Ailee! Kau harus tau siapa diri mu! Mau di taruh dimana muka Lao Ma dan Appa jika mereka tahu anaknya pergi ke pub dan mabuk?! Kau pikir Ailee! Kau membuat malu keluarga Wu!” bentak Alice. Terserah apa kata mu Alice. Nama Wu itu cuma pajangan saja bagiku!

                “Alice! Cukup!” bentak Gege dan seketika itu juga Alice bungkam. “Jemima dan yang lain nya, maafkan Alice. Dia sedang emosi. Maaf telah merepotkan kalian. Lebih baik kalian juga pulang sekarang. Tempat ini bukan tempat kalian. Kalian belum pantas ke tempat seperti ini,” kata Gege. Kemudian ia menarikku masuk kedalam mobil sementara Alice mengikuti. Kalau aku tidak salah dengar, Alice mengucapkan kata maaf dan teman-temanku juga mengucapkan kata maaf.

                Diperjalanan pulang, Alice masih saja mengoceh. Kepalaku yang sudah berat semakin bertambah berat mendengar ocehannya. Ingin sekali aku tertidur, tapi entah mengapa sulit. Aku juga mendengar Gege menelepon Hong Ahjumma untuk menyiapkan air panas dan memastikan Anne tidak bangun dari tidur nya. Gege tidak ingin Anne mengetahui kejadian ini. Ya, lebih baik Anne tidak mengetahui nya. Aku memang tidak layak disebut sebagai kakak yang baik. Aku selalu menunjukan wajah ceria di depan Anne, tetapi hati ku tidak pernah seceria wajah ku akhir-akhir ini. Sesampainya dirumah, Alice kembali menyerang ku dengan kalimat – kalimat yang mengiris hati ku. Kalimat yang memang pantas untukku.

 “Apa kau tidak punya otak? Dimana kecerdasan mu Ailee? Kau ingin membuat malu keluarga? Sebenarnya apa yang terjadi padamu, sih?! Kau sudah berjanji -tidak, KITA sudah berjanji, kalau kita tidak akan pernah pergi ke club ataupun pub dan mabuk. Dasar bodoh! Kau ingin mencari perhatian, huh? Kau pikir kami tidak peduli dengan mu? Bodoh kau, Ailee Wu!” maki Alice. Kemudian di tengah kesadaranku yang hanya separuh, aku melihat Alice mengusap pipinya dengan kasar. Kau menangis, Alice? Untukku kah? Haha. Aku tidak bodoh Al. Dan aku terima semua itu. Aku terima.

                “Aku memang tidak punya otak, aku memang bodoh, dan aku memang mencari perhatian! Puas kau, Alice?! Kalau kau peduli dengan ku, kau tidak akan membiarkan ku menunggu telepon dari Gege. 2 kali Alice. 2 kali! Kau membiarkan aku tidak berbicara dengan Gege. Aku tahu kau melupakan ku, kan? Ah.. Kalian semua melupakanku! Jadi apa peduli mu jika aku pergi ke pub? Aku rasa ini hanya topeng mu saja Alice!” jawab ku. Alice tidak berusaha berada disisi ku. Padahal ketika Alice membiarkan Anne terjatuh dari skateboard, aku memihak kepada nya. Aku membela nya. Tapi dia? Dia malah mencaci maki diriku. Dan Kris Ge, ada apa dengan mu? Kau tidak mendiamkan adik kesayangan mu yang sedang berapi – api itu?

                PLAK!

                Alice menamparku. Aku tertawa dibuatnya. “Tampar saja aku lagi, Al. Tampar!” Aku berteriak padanya sambil menunjuk pipi kananku yang masih belum ditamparnya. Kulihat Alice membelalakan kedua matanya, dan butiran-butiran sebening kristal jatuh di pipinya. Wajahnya nampak syok dan khawatir.

                “Alice Wu! Ada apa dengan mu? Tidak seharus nya kau menampar Ailee! Dimana otak mu, huh? Dia saudara kembar mu! Harus nya kau mem-back up nya, bukan membuat nya semakin jatuh! Dimana perasaanmu Alice? Gege tidak menemukan Alice yang biasa nya! Dan Ailee. Untuk apa kau pergi ke pub? Kau ingin mencari perhatian siapa? Gege minta maaf tidak menelepon mu waktu itu. Dan Gege juga minta maaf karena Gege tidak menanyakanmu waktu di telepon itu. Gege terburu – buru dan Gege memang salah. Maafkan Gege, Ailee. Gege sunggu minta maaf. Dan Gege harap, Lao Ma dan Appa tidak mengetahui kejadian ini. Mereka akan kecewa dengan mu, Ailee. ” kata Kris Gege.

                “Aku memang mencari perhatian. Aku mencari perhatian Lao Ma, Appa dan Gege. Aku merasa kalian lebih mementingkan Alice dan Anne. Awalnya, aku beranggapan bahwa aku lebih dipercaya oleh Lao Ma, Appa dan juga Gege. Tapi lama kelamaan, aku merasa tidak special lagi. Dan anggapan bahwa aku lebih dipercaya itu telah tergantikan dengan diabaikan atau mungkin dilupakan kalau aku masih bagian dari kalian juga. Aku juga ingin diperhatikan. Aku juga ingin menjadi yang special dimata kalian. Aku tahu Lao Ma dan Appa sibuk. Dan Gege juga sibuk. Tapi kalian bisa menyempatkan diri memperhatikan Alice dan Anne. Sedangkan aku? Aku berusaha untuk tidak bersikap ke kanak-kanakan. Aku berpikir kalian lelah. Kalian butuh istirahat. Tapi lama kelamaan aku juga lelah. Pretending to be alright. Haaaaah, bodoh nya aku.  Lao Ma dan Appa tidak akan pulang kalau aku yang berulah. Tidak seperti saat Anne jatuh ketika bermain skateboard, Lao Ma dan Appa pulang dengan penerbangan paling cepat. Hahaha. Betapa childish nya aku. Aku berharap ini hanya perasaan ku saja. Aku berharap ini hanya mimpi ku saja. And… I wish i was special too,” kata ku. “Dan Alice.. Twinny, tolong jangan berpura-pura lagi padaku, oke? Ayolah. Aku tahu kau tidak pernah benar-benar peduli padaku. Berhenti, Al. Berhenti menyakitiku dan membuat repot dirimu sendiri!” Aku langsung ke kamar tamu. Aku membanting pintu kamar dan mengunci nya.

                “Ailee. Maafkan Gege. Gege tidak tahu kalau kau serapuh ini. Gege pikir kau adalah Ailee yang kuat dan sabar. Gege sadar, kalau sabar mu sudah melebihi batas. Dan kau tidak bisa menampung nya lagi. Maafkan Gege, Ailee. You have to know that you’re special too. For us,” kata Kris Ge dari balik pintu. Sesekali ia mengetuk pelan. Aku ke kamar mandi dan menangis sejadi-jadi nya. Menyesali perbuatan bodoh ku. Menyesali tingkah ku. Aku telah mengecewakan banyak orang. Aku bahkan menyakiti hati ku sendiri. Sayup-sayup aku mendengar Alice membujukku untuk keluar kamar. Ia menangis dan bahkan memohon. Gege masih mengucapkan permintaan maaf yang seharusnya tidak perlu ia ucapkan lagi karena aku sudah memaafkannya. Memaafkan mereka semua. Justru aku yang seharusnya meminta maaf karena dengan bodohnya melakukan tindakan yang bukannya memperbaiki suasana, justru memperkeruh.

                Lao Ma, Appa, Gege, Alice dan Anee… Maafkan aku. Maafkan aku karena telah mengecewakan kalian.

                #flashback end

                Yoo Ra melihat Ailee menangis. Yoo Ra tahu Ailee menangis. Dia hanya duduk disebelah, memperhatikan dan mengira – ngira apa yang membuat Ailee menangis. Mungkinkah mereka berempat sedang ada masalah? Pikir Yoo Ra. Si bungsu datang dan seolah mata mereka berkomunikasi. Yoo Ra mengangkat bahu nya untuk menjawab tatapan bingung dari sepasang mata Anne.

                “Kenapa kau menangis, Ailee?” “Kenapa Jiejie menangis?” tanya Yoo Ra dan Anne bersamaan.

                “Eo? Tidak! Jiejie tidak menangis kok, Anne. Aku tidak menangis, Eonnie. Hehehe,” kata Ailee sembari menghapus setetes air matanya yang sukses jatuh. Lagi.

                “Jie. Aku bosan. Kita main lagi yuk!” ajak Anne bersemangat. Anne, dia memang mood booster semua orang. Anne tahu apa yang ada dipikiran Ailee. Walaupun dia polos, tapi dia adalah orang yang bisa merasakan apa yang Lao Ma, Appa dan ketiga kakak nya rasakan. Dia seseorang yang perasa. Dan Yoo Ra, dia juga seorang yang perasa, seperti Anne. Tetapi Yoo Ra belum tahu apa yang membuat Ailee menangis. Atau mungkin dia tidak akan pernah bisa tahu. Karena si ‘perasa’ itu hanya datang ketika seseorang bernama Lee Kwang Soo muncul dihadapannya.

***

                Hari semakin sore. Matahari sebentar lagi akan kembali ke peraduan nya. Kris dan Alice yang sudah bergabung dengan Ailee dan Anne pun tidak lelah bercanda di tepi Pantai Gwakji. Mereka tidak ingin melewatkan sunset di Pantai Gwakji ini. Kwang Soo dan Yoo Ra? Biarkanlah mereka menikmati waktu santai seperti ini berdua saja. Siapa tahu cinta tumbuh diantara mereka? Atau mungkin sebenarnya cinta itu sudah tumbuh? Hanya saja mereka tidak menyadari nya karena mereka membatasi perasaan mereka dengan tembok persahabatan mereka yang kokoh.

                “GE! KAU MENGHANCURKAN ISTANA PASIR NYA!” teriak Anne sambil melempar segenggam pasir basah kepada Kris yang berada tepat di depan nya.

                “Anne! Gege tidak sengaja. Demi apapun, Gege tidak sengaja Anne!” kata Kris yang membela diri nya. Kris menghancurkan istana pasir mereka hanya dengan senggolan kaki nya. Yang sebenarnya memang tidak sengaja, mengingat kecerobohannya.

                “Kita akan kalah dari Alice jie dan Ailee jie. WU YI FAN!” kata Anne dengan muka yang kesal dan tetap melempari kris dengan pasir pantai yang halus itu. Sangat mirip dengan Kris. Dan Kris memaklumi adik bungsu nya yang memanggil nya Wu Yifan ketika sedang kesal. Itu menjadi ciri khas Anne. Terkadang sifat Anne dan Alice mirip, hanya saja Anne lebih berani menyebutkan nama orang yang lebih tua jauh dari nya. Dia berani menyebut nama Lao Ma dan Appa jika Anne sedang berdebat dengan mereka untuk mempertahankan kebenaran yang ada. Tapi ketika Anne menyebutkan nama Lao Ma atau Appa, mereka tidak pernah marah. Karena bagi kami, tingkah Anne yang seperti ini adalah keunikan yang dimilikinya. Mereka menertawai si bungsu yang berani dan tegas itu, walaupun manja nya tidak tertahankan.

                “Kalian akan kalah dengan kami! Bweeee,” ledek Alice yang disusul tawa Ailee.

                “Gege! Kau harus bertanggung jawab. Aku tidak ingin kehilangan ice cream yang sudah mereka janjikan. Geeee!” kata Anne yang semakin lama semakin tinggi nada nya.

                “Gege akan membelikan mu ice cream apapun, Anne. Tapi kau berhenti menimpuki Gege dengan pasir. Kotor, Anne! Kau mau mencuci baju Gege? Tidak, kan?” kata Kris yang sukses membuat Anne berseri kembali.

                “YES! Jangan bohong ya, Ge?” tanya Anne untuk memastikan sambil mengulurkan kelingking kecil nya untuk pinky swear.

                “Iyaaa bawel!” jawab Kris dengan datar dan mengaitkan kelingking besar nya dengan kelingking Anne.

                Anne pun berhenti menimpuki Kris dengan pasir dan mereka berdua sudah sibuk membangun kembali istana pasir yang sudah rata dengan tanah itu. Meski sebenarnya sia-sia, karena nampaknya Alice dan Ailee hanya perlu memberikan sentuhan terakhir untuk menyelesaikan istana pasir mereka.

                Kwang Soo dan Yoo Ra pun bergabung dengan keempat kakak beradik itu. Mereka memilih duduk diantara kedua kubu (Kris-Anne dan Alice-Ailee).

                “Sudah puas waktu berduanya, Samchon? Kekekeke,” ledek Anne.

                “YA! Diam kau anak kecil,” kata Kwang Soo kemudian menarik hidung Anne.

                “Kwang Soo-ya! Bisakah kau lembut sedikit?” kata Yoo Ra dengan kesal.

                “Biarlah eonnie. Dia kan memang seperti itu kalau sedang salah tingkah. Hahahaha,” kata Anne. Kata-kata Anne membuat Yoo Ra ikutan salah tingkah.

                “Wu Jiao Li, jjang!” kata Kris, Alice dan Ailee dengan senyum licik mereka. Entah bagaimana dan sejak kapan, keempat dari mereka bertekad untuk menjadikan Kwang Soo dan Yoo Ra menjadi sepasang kekasih. Kwang Soo dan Yoo Ra hanya bisa bertatap – tatapan dengan keempat bocah didepan mereka. Bingung dengan atmosfir yang ada.

***

                Mereka sedang duduk santai sambil melihat sunset. Mereka memang sering ke Vancouver Island. Mereka juga sering melihat sunset disana. Tetapi entah apa yang membuat mereka berbinar ketika melihat sunset di Pantai Gwakji ini. Padahal tidak ada yang berbeda dengan sunset dibelahan dunia manapun. Mungkin, karena mereka melihat di kampung halaman mereka sendiri. Terlebih, ini adalah liburan nakal mereka. Liburan yang memicu adrenalin Kris – sang pencetus, ketika meminta izin kepada Mr. Cassidy. This is their greatest escape! Mungkin ini yang memicu antusiasme mereka.

                “Waaaaaaaah. Indahnya Pantai Gwakji!” kata Alice dan Ailee.

                “Samchon-ah! Ini timing yang tepat kalau kau ingin mencium Yoo Ra Eonnie. Kekekeke,” celetuk Anne yang sukses membuat wajah Kwang Soo dan Yoo Ra memerah. Celetukan Anne membuat tawa khas Kris keluar.

                “Anne! Kau hebat sekali! Hahahha,” kata Kris yang tidak  bisa menahan tawa nya.

                “Kisseu?” kata Kwang Soo seperti orang berbisik tetapi masih terdengar oleh Yoo Ra. Yoo Ra memukul kepala Kwang Soo dengan tas tangannya. Ke empat keponakan Kwang Soo melihat kejadian kecil itu dan mereka terawa terbahak – bahak. Kwang Soo dan Yoo Ra pun ikut tertawa. Betapa bahagia nya mereka. Pantai membuat mereka lupa dengan kepenatan yang memenuhi kepala mereka masing-masing. Tetapi tawa Kris dan Kwang Soo terhenti ketika mereka melihat 2 sosok yang sangat mereka kenal. Sangat sangat kenal. Kedua nya pun reflek berteriak.

                “LAO MA! APPA!” teriak Kris.

                “HYUNG! HYUNGSU!” teriak Kwang soo.

*TBC*

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s