Ain’t No Love

옴므(HOMME) '사랑이 아냐' MV.mp4_000150209.jpg

  • Tittle fanfic: Ain’t No Love
  • Author: Riniknik
  • Length: 2.644
  • Genre:  Sad, Hurt
  • Rating: G
  • Cast: Hyunji (OC) / You , Hong Jisoo (Joshua) Seventeen / bias kamu sendiri
  • Disclaimer: Cast di dalam FF ini hanya milik mereka sendiri dan Tuhan YME saya hanya meminjam saja kecuali OC nya(?). FF ini asli dari fikiran author menghayal/ mengarang bebas. Maafkan kalo ngaco dan gak nyambung..

Maafkan pula si Om jojo nya ku buat menderita >< maafkan kalo alurnya kecepetan..            hehe

happy reading..

——–

Malam ini Hyunji terbangun karena ia mendengar suara seseorang dari arah ruangan lain. Bukan suara seseorang berbicara melainkan suara terbatuk yang terus menerus terdengar. Suara itu tidak terdengar hari ini saja, tetapi terdengar sudah begitu lama dari hari hari lalu. Hyunji sangat mengenal suara itu, itu suara seorang yang ia sayangi. Hong Jisoo.

“Jisoo-ya, apa kau akan terus seperti ini?” ucap Hyunji berbisik. Suara batuk itu terus terdengar dan Hyunji berusaha mengabaikannya hingga suara batuk itu terhenti. Hyunji pun hanya terlarut akan fikirannya dan menahan tangisnya.

Sedangkan di kamar mandi, Jisoo hanya terduduk lemas setelah Ia terus menerus terbatuk. Jisoo kemudian memandang tangannya yang di penuhi darah yang Ia keluarkan saat batuk sebelumnya. Ia hanya dapat terdiam dan memandangi leangannya yang di penuhi darah dan berharap Hyunji tak terganggu olehnya dan masih tertidur lelap.

Jisoo sebenarnya tahu bahwa Hyunji mengetahui penyakitnya walaupun sebenarnya Hyunji tak pernah menanyakan hal itu kepada Jisoo. Jisoo berfikir lebih baik seperti ini karena mungkin akan lebih baik saat Ia nantinya tak bersama Hyunji lagi.

—-Esok Hari—

Jisoo dan Hyunji membuat janji untuk bertemu di taman tempat mereka bertemu. Jisoo datang sedikit terlambat dari janji yang sudah disepakati.

Hyunji duduk di sebuah kursi di bawah pohon besar dan memandangi anak anak yang sedang bermain di hadapannya. Tak lama kemudian Jisoo datang dan menempelkan cup kopi hangat yang dibelinya di perjalanan.

“maaf membuatmu menunggu Hyunji-ya. Sangat dingin disini, mengapa tak memakai syal mu?” Ucap Jisoo yang kemudian memberikan kopi Americano hangat ke Hyunji yang disusul dengan syal hangat yang di lilitkannya di leher Hyunji.

Hyunji hanya tersenyum kepada Jisoo. Memang saat ini sedang musim dingin dan bodohnya Hyunji, Ia lupa memakai syal nya karena terlalu bersemangat akan bertemu Jisoo. Mereka memang tinggal satu rumah, namun entah mengapa, setiap Jisoo mengajaknya bertemu di luar, Hyunji selalu bersemangat dengan itu.

“Tidak apa Jisoo. Ini tidak terlalu lama. Aku tadi terburu buru hingga meninggalkan syal ku di rumah.” Jawab Hyunji tersenyum.

Mereka pun memandang ke arah dimana tadi Hyunji memandang anak anak bermain. Hyunji menyandarkan kepalanya pada pundak Jisoo. Mereka menikmati waktu mereka dengan ditemani tawa anak anak itu serta hembusan angin dingin. Tak ada dari mereka yang memulai pembicaraan. Mereka hanya terdiam. Mereka berpegangan tangan saling menyalurkan rasa sayang melalui tangan mereka yang saling bertautan.

Jisoo tiba tiba terbatuk lagi. Hyunji yang sadar akan hal itu, kemudian menegakkan kepalanya dan memandang Jisoo khawatir. Hyunji tak berkata apapun, dia terdiam.

Jisoo mengeluarkan sebuah botol yang berisi kapsul dengan jumlah yang banyak.

“Kau kenapa Hyunji? Ini hanya permen yang membuat tenggorokan ku lega. Tenggorokan ku gatal. Tak usah khawatir.” Ucap Jisoo yang sudah pasti diketahui oleh Hyunji bahwa itu bohong. Hyunji hanya terdiam dan menatap Jisoo.

yang terlalu menyakitkan bukanlah cinta. Aku tahu menangis atau kesakitan sendiri itu bukanlah cinta.” Ucap Hyunji dalam hati. Ingin sekali Ia mengatakan bahwa ia berharap Jisoo lebih terbuka padanya dan menceritakan semuanya. Tetapi Hyunji lebih memilih diam dan menunggu agar Jisoo dapat mengatakannya saat Jisoo siap.

“Jisoo-ya sepertinya terlalu dingin disini, kita cari cafe? Aku sedikit lapar.” Ucap Hyunji pada Jisoo yang di penuhi  aegyo.

“Baiklah, aku juga lapar.” Ucap Jisoo sambil mengelus puncak kepala Hyunji sayang.

maafkan aku Hyunji-ya. Jangan khawatirkan aku. Maafkan aku juga karena terlalu lemah dan tak bisa bertahan lama di sisimu.” Ucap Jisoo dalam hati.

–Cafe–

Mereka memasuki cafe dan segera mengambil posisi duduk di dekat jendela. Entah kenapa cafe saat ini agak sepi hingga mereka leluasa mengobrol. Mereka tertawa di sela sela mereka berbicara. Mereka bercanda dan tak lupa mereka mengambil foto foto mereka. Tanpa mereka sadari salju mulai turun menutupi tanah.

Tak terasa hari mulai sore. Mereka memutuskan untuk segera pulang dan menghabiskan sisa hari ini di rumah.

Setibanya mereka di rumah mereka membersihkan diri dan kemudian mereka kembali terduduk di spot favorit mereka. Di depan sebuah jendela yang memandang ke arah halaman. Mereka kembali terdiam dengan posisi Hyunji yang menyenderkan badannya ke Jisoo dan memainkan jemari milik Jisoo. Sedangkan Jisoo mengecupi puncak kepala Hyunji dan lengan satunya memeluk leher Hyunji lembut. Mereka terdiam cukup lama menikmati waktu santai mereka. Merasa hangat dengan posisi mereka. Saling menyalurkan rasa sayang mereka. Hingga akhirnya hyunji membuka pembicaraan.

“Jisoo-ya.”

“hmm?” yang di jawab oleh Jisoo.

“dari pada maafkan aku, mari kita berkata terima kasih. Dan juga dari pada berkata ini sulit, mari kita berkata itu sangatlah mudah.” Ucap Hyunji.

“hm? Kenapa tiba tiba kau berkata seperti itu?” bingung Jisoo.

“Tak apa Jisoo. Jika waktu terus berjalan, maka hari akan terus berlalu dan semua akan menjadi masa lalu kan? Dan itu semua akan baik baik saja kan?” Hyunji dengan kata katanya yang tak dapat di jawab oleh Jisoo. Jisoo hanya teridiam bingung. Apa yang di maksudkan oleh Hyunji?

“Jisoo?” panggil Hyunji membuyarkan lamunannya.

“hmm? Iya benar Hyunji-ya. Itu benar. Masih banyak hal yang lebih penting dari masa lalu, sekarang masih banyak tempat yang belum kita datangi, masih banyak hal yang belum kita lakukan, dan masih banyak memory indah yang harus kita ingat.” Ucap Jisoo tersenyum manis.

Hyunji yang mendengarnya ikut tersenyum sambil mengeratkan tangannya yang menggenggam jari jemari Jisoo. Mereka kembali terdiam cukup lama.

Waktu makan malam pun akhirnya tiba,Hyunji sedang berkutat di dapur untuk menyiapkan makan malam mereka. Jisoo yang duduk di ruang makan pun memandangi Hyunji yang sedang memasak dan tanpa sadar selalu tersenyum memandang Hyunji yang sedang sibuk dengan bahan masakan serta peralatan dapur.

Hyunji-ya, kita menyembunyikan apa yang kita ketahui satu sama lain dan yang menyulitkan kita.Tapi kita sudah terbiasa akan hal itu.Kita tetap melakukannya(menyembunyikannya), tanpa tahu sebenarnya itu untuk siapa dan untuk apa. Kumohon tetaplah menjadi Hyunji yang selalu ceria dan baik hati.” Monolog Jisoo dalam hati.

Keesokan harinya, Jisoo kembali mengajak Hyunji pergi menikmati waktu mereka.

Mereka berjalan jalan di daerah Hanok Village yang menyajikan sisi lain Korea pada jaman dahulu. Mereka terlihat begitu bahagia mengunjungi tempat ini. Mereka merasakan bagaimana kebudayaan Korea yang masih asli.

Setelah mereka puas berjalan jalan di Hanok Village, mereka mengunjung Namsan Tower dan tak lupa mereka mengambil foto serta meninggalkan gembol dengan nama mereka yang terpasang di salah satu pagar puncak menara.

Cukup puas mereka di Namsan tower, merekapun mengunjungi sungai Han yang cukup dekat dengan tempat tinggal mereka. Disana mereka bermain seakan lupa akan semua yang mereka sembunyikan. Mereka mengambil foto, bermain kejar kejaran maupun hanya duduk di sisi sungai yang terdapat rerumputan. Mereka sangat menikmati waktu berdua. Sampai akhirnya Jisoo kembali terbatuk dan membuat Hyunji cemas. Dengan cepat Jisoo mengeluarka botol yang biasa Hyunji lihat dan selalu Jisoo sembunyikan itu sebagai permen pelega tenggorokan.

“tidak apa apa” ucap Jisoo sembari mengelus rambut Hyunji sayang. Hyunji hanya menunduk menahan air matanya. Ia tahu semua. Tetapi kenapa Jisoo harus selalu membohonginya?

“Katakanlah. Aku tahu semua. Aku ini apa bagimu?” ucap Hyunji sambil terisak.

“Hyunji-ya.” Jawab Jisoo.

“Pasti kau menganggapku bodoh. Sungguh kasihan sekali aku.” Hyunji pun mulai menangis. Jisoo yang terkejut melihat Hyunji, segera memeluknya dan menenangkannya.

“jangan berbicara seperti itu Hyunji-ya. Kau sangat berarti untukku. Kau tak bodoh.” Tenang Jisoo pada Hyunji. Hyunji pun memeluk Jisoo erat dan menangis untuknnya.

aku tak pernah mempunyai impian Hyunji-ya. Maka dari itu ku jadikan kau sebua impian yang ingin ku raih. Namun sepertinya hal itu takkan pernah jadi nyata.” Ucap Jisoo dalam hati.

Keesokan harinya, Jisoo mencium kening Hyunji untuk membangunkannya. Hyunji yang merasa tidurnya terganggupun terbangun.

“Selamat pagi cantik.” Ucap Jisoo yang kemudian mencium kening Hyunji.

“Selamat pagi.” Jawab Hyunji yang kemudian memeluk Jisoo. Jisoo pun mengecup bibir Hyunji berkali kali.

“Hentikan Jisoo-ya.” Ucap Hyunji sambil tertawa di sela sela kecupan Jisoo. Hanya kecupan ringan di pagi hari yang biasa mereka lakukan sebelum memulai hari mereka.

Hari ini adalah hari minggu dan sepertinya mereka memutuskan untuk tak keluar rumah sama sekali. Hari mereka dimulai dengan Hyunji yang menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Walaupun hanya sekedar roti bakar yang di olesi selai manis dan susu Vanilla, itu sudah sangat cukup untuk sementara mengisi perut mereka hingga siang hari.

Mereka pun saling membantu membereska rumah. Dari mulai halama depan dengan menyirami tanaman, lalu membereskan kamar mereka,dan mendekorasi ulang ruangan TV. Mereka cukup senang dengan kegiatan mereka. Tak pernah terfikit mereka bosan dengan satu sama lain. Semakin hari mereka akan semakin akrab dan mencintai satu sama lain.

Selesai dengan kegiatan membereskan rumah, mereka pun memilih duduk sembari membaca buku. Hyunji tertidur di paha Jisoo. Dan Jisoo hanya memandanginya sambil mengelu lembut rambut Hyunji.

aku tetap memikirkan bagaimana aku bisa  berbuat sesuatu yang  lebih untukmu.Dan bagaimana jika aku tak dapat melayanimu lebih lagi?” ucap Jisoo dalam hati sembari tersenyum dengan getir.

Malam tiba. Mereka terduduk di kasur dengan Hyunji yang memelukdan menenangkan Jisoo. Jisoo sangat kesakitan. Kali ini Ia tak dapat menahan rasa sakitnya. Jisoo sudah meminum obat yang biasa dia minum beberapa kali. Tetapi sakit itu tak kunjung menghilang. Hyunji menagis melihat Jisoo yang tersiksa dan terus memeluk dan menenangkan Jisoo. Jisoo terus menangis menahan sakit yang sangat luar biasa.

“Jisoo –ya kumohon kita pergi ke rumah sakit.” Mohon Hyunji sembari menangis. Jisoo tak menjawab. Dia terus meronta kesakitan. Ia meolak untuk di bawa ke rumah sakit oleh Hyunji.

Hyunji yang kebingungan hanya dapat memeluk dan menangis melihat Jisoo. Dia tak tahu harus berbuat apa. Dia tak mau melihat Jisoo seperti ini, tetapi ia juga sudah ke habisan akal untuk bisa membuat Jisoo ke rumah sakit. Sudah di paksa dengan cara apapun tak ada yang berhasil. Jisoo selalu berhasil pergi.

Jisoo kembali teringat semua kenangan nya dan Hyunji. Seperti bayangan yang terus mengikutinya. Dia terus mengingat semua kenangan indah nya itu. Anehnya dia menjadi lebih tenang setelah semua ingatan kenangan indah denga Hyunji terbayang. Seperti sebuah video yang berputar di otaknya. Tangisnya mulai meredup dan hanya terisak pelan.

Hyunji yang menyadarinya pun mulai sedikit merasa lega dan mulai menidurkan Jisoo di kasur. Ia menarik selimut hingga sebatas dada Jisoo dan menepuk nepuk Jisoo hingga Jisoo tertidur. Hyunji menangis dalam diamnya. Air matanya megalir. Tetapi ia tak mengeluarkan suara sedikitpun hingga akhirnya ia pun tertidur di samping Jisoo sembari memeluk pemuda yang ia cintai itu.

aku akan meneriakkan namamu ke udara. Harus seberapa keraskah aku berteriak agar kau mendengarku? Dengarkan aku. Kumohon berbagilah rasa sakitmu denganku.”

Seminggu setelah kejadian itu, kami melakukan kegiatan kami seperti biasa. Kami sibuk dengan kegiatan kami masing masing hingga kami hanya dapat bertemu saat pagi menyapa dan malam mengucapkan saatnya istirahat.

“Bagaimana hari ini?” Tanya Jisoo saat mereka berbari di kasur saling memeluk membuat nyaman satu sama lain.

“melelahkan Jisoo-ya. Aku merindukan saat saat kita bermain bersama dan bersenang senang.” Jawab Hyunji.

“bertahanlah. Kau pasti bisa.” Jawab Jisoo tersenyum yang kemudian mengeratkan pelukan di antara mereka.

Pagi hari datang dan ini sudah hari minggu. Hyunji terbangun lebih awal dari Jisoo dan segera menyiapkan sarapan. Setelah selesai dengan menu sarapannya, Hyunji berniat membangunkan Jisoo yang tengah terlelap di balik selimut.

“Jisoo-ya ayo kita sarapan.” Ajak Hyunji. Hyunji sedikit menari selimut Jisoo dan menyingkirkan rambut Jisoo yang sedikit menutup wajahnya.

Jisoo, wajahmu semakin pucat. Aku sangat mencemaskanmu.” Ucap Hyunji menahan tangisnya dan mengecup kening Jisoo.

Jisoo pun terbangun dengan kecupan Jisoo

“Selamat pagi.” Ucap Jisoo sambil tersenyum dan lalu di balas senyuman oleh Hyunji.

Saat sarapan Hyunji hanya memandang Jisoo memakan sarapannya. Jisoo yang merasa di tatap pun kemudian membuka suara.

“kenapa kau menatapku terus?”

“kau tak apa. Wajahmu pucat sekali.” Jisoo hanya tersenyum. Jisoo memang merasa hari ini dia sangat lemas dan lelah. Rasanya ia hanya ingin berbaring seharian.

“bagaimana kalau hari ini kita ke dokter? Aku khawati padamu.” Ajak Hyunji.

“Baiklah.” Jisoo pun menyetujuinya dan tersenyum pada Hyunji.

Hyunji terkejut dia merasa ada yang aneh dengan Jisoo belakangan ini. Dimulai dari nafsu makannya yang berkurang, kondisinya yang terlihat lebih lemah dari biasanya serta dia langsung meg-iya-kan ajakan Hyunji untuk ke dokter.

“Kau tak bersiap?” tanya Jisoo. Hyunji yang melamun memikirkan ke anehan Jisoo pun terkejut.

“eo? Oh? Iya aku akan bersiap.” Jawab Hyunji yang langsung bersiap siap.

lupakan Hyunji-ya. Jisoo mungkin sudah siap untuk mengatakan semuanya.” Sugesti Hyunji.

Hyunji sudah siap dan menunggu Jisoo di bawah sedangkan Jisoo masih bersiap. Sebenarnya Jisoo sudah siap. Tetapi dia mencari sebuah kotang yang berisi sebuah CD dan meletakkannya di atas kasur.

Setelah menaruh kotak itu, ia pun segera turun dengan menahan sakit kepala yang ia rasakan kali ini. Ia merasa sudah lelah dan ingin segera menutup matanya untuk ber istirahat.

-di dalam taksi-

Mereka bercanda seperti biasanya namun Jisoo terlihat sangat lemas dan lelah. Hyun merasa dia tak ingin melewatkan moment ini bersama Jisoo. Moment dimana Jisoo berkunjung ke rumah sakit bersamanya setelah sekian lama. Ia terus memotret Jisoo selama perjalanan. Jisoo pun meladeninya dengan lemas dan mukanya kini semakin pucat.

“oppa mukamu semakin pucat.” Ucap Hyunji khawatir

“Benarkah? Tak apa Hyunji.” Jawab Jisoo yang terdengar sangat lemah.

“benarkah oppa? Aku khawatir.” Ucap Hyunji yang masih sibuk memperhatikan wajah Jisoo di dalam foto.

“hmm.” Jawab Jisoo singkat. Tak lama Jisoo pun tak kuat menahan kantuk yang datang. Dia pun menutup matanya tanpa mengatakan apapun.

“Jisoo-ya. Lihat kau sangat pucat.” Ucap Hyunji yang sembari memperlihatkan foto itu. Namun saat Hyunji menoleh dan memandang Jisoo, ia terdiam. Ia terkejut, menangis tertahan. Mengelus wajah Jisoo lembut.

-rumah sakit-

“maafkan kami. Kami sudah berusaha sekuat mungkin. Namun penyakitnya sudah tak dapat di tangani karena pasien selalu menolak melakukan pengobatan. Badannya sudah menyerah melawan penyakitnya. Ucap dokter. Perasaan Hyunji benar. Dan selama di taksi tadi adalah waktu terakhirnya bersama Jisoo. Ia terduduk menangis. Tak lama keluarga dari Hyunji dan Jisoo pun datang dan mereka menangis, serta menenangkan Hyunji di saat bersamaan.

Seminggu setelah kepergian Jisoo akhirnya Hyunji kembali ke rumah milik Jisoo dan Hyunji. Dia mengingat semua kenangan dengan Jisoo di rumah itu. Sebisa mungkin ia menahan tangisnya dan lalu menuju kamar. Ia meliaht suatu kotak kayu kecil yang tersimpan di atas kasur nya dengan note di atasnya.

-Buka ini saat kau sendirian, dan tontonlah-

-kekasihmu, Hong Jisoo-

Lekas Hyunji langsung menuju ruang televisi dan memutar CD tersebut. Hyunji terkejut. CD itu berisi semua Video yang dia recam Jisoo secara diam diam tanpa Hyunji sadari. Saat Hyunji tertidur, saat Hyunji memasak, saat Hyunji menyiram tanaman semua tanpa Hyunji sadari. Dan di video itu juga terdapat video dimana saat mereka berjalan jalan dari mulai Hanok village hingga sungai Han. Jisoo merekamnya. Semuanya. Dan terakhir Hyunji terkejut karena Jisoo muncul.” Kapan dia merekam ini?” fikir Hyunji. Hyunji pun menangis melihat Jisoo dan mendengar semua kata katanya terakhirnya.

“Hyunji-y, jangan menangis.aku menyayangimu melebihi apapun. Maafkan aku tak memberitahumu semua.

Aku tahu kau sebenarnya mengetahui apa yang ku sembunyikan tetapi kau menghormati keputusanku dan menungguku hingga aku siap memberitahu semua rahasiaku padamu. Dan sepertinya aku tak usah menjelaskannya ya? Hehe (ucap Jisoo sambil tersenyum kikuk)

Maafkan aku sering mengganggu tidurmu karna sering terbatuk tengah malam. Aku merasa bersalah akan itu.

Maafkan aku tak bisa lebih lama bersamamu.

Aku sudah tahu semua. Harapan itu adalah hal yang jahat dan menakutkan bukan? Tetapi terkadang harapan itu juga bisa sangat indah dan menyenangkan.

Kau adalah sebuah impian untukku. Kau sudah kujadikan mimpi. Dan aku berhasil menggapaimu. Namun kini, sepertinya aku harus melepaskan mimpiku untuk orang lain. (jisoo tersenyum pahit).

And last..

Lift our head, just walk on and don’t leave any feeling behind. Lets smile brightly for each other. Lets  leave ourselves behind in memories. When you think of me, think of those memories and lets not cry. (ucap Jisoo sambil menahan tangis dan tersenyum).

(Jisoo menarik nafas panjang dan tersenyum ke arah camera)

Dan seperti saat kita pertama kali bertemu, saat orang lain datang menemui kita, kita harus menyambutnya dan mengatakan Hai dengan senyuman yang indah.

Maafkan aku Hyunji. Semoga dengan Video ini kau bisa memaafkan aku yang sangat bodoh ini. Selamat tinggal Hyunji. Mulailah hidup baru mu dengan semangat. Dan semoga kau menjadi lebih lebih lebih baik lagi dari sekarang.

Fighting our Hyunji!!! (ucap Jisoo sambil tersenyum dan mengepalkan tangan.)

Video pun akhirnya berakhir. Hyunji yang tak kuasa menahan tangisnya akhirnya menangis dengan keras melihat akhir dari Video tersebut.

“selamat jalan Jisoo-ya, kuharap kita bertemu di kehidupan selanjutnya.”

-end-

HUAAAA FF MACEM APA INI WKWK ‘-‘)v

Yok jangan lupa subsribe(?) haha maksudnya kritik sarannya yaaaa..

Di tunggu kritik sarannya~~

5 responses to “Ain’t No Love

  1. Huwaaa😥 tisu mana tisu? Hiks
    aduh sedih banget yaampun😦
    ceitanya bagus, bahasanya juga mudah dupahami, cuman tadi ada sedikit typo, tapi tak apalah ga masalah😉

    Ditunggu ff selanjutnya.. Keep writing, fighting!!! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s