[FREELANCE] Call My Name

z5

Tittle : Call My Name

Author/Twitter: WalidaSho/ @WalidaSho || Genre: Romance, Comedy. || Ranting: PG17 || Length: Oneshoot

Cast:

Park Chan Yeol (EXO)

Cha Eun Soo (OC/You)

Disclaimer: Hasil Imaginasi sendiri. Hanya meminjam nama dan karakter tanpa berniat menjatuhkan pihak manapun.

Warning: DON’T COPAS!! DON’T BE PLAGIAT!! RCL!! Sorry about typos!~~


“Aku ingin mendengar suaranya, apakah suaranya secantik orangnya? Apakah aku bisa mendengar suaranya? Jika boleh sekali saja, kau panggil namaku. Panggil aku Park Chan Yeol.”

***

Chan Yeol Pov

Awal bulan, semangat baru. Itu yang selalu di pikirkan oleh diriku yang bodoh ini. Tersenyum membayangkan betapa bodohnya diriku karena aku sangat ingin bertemu dengannya, Cha Eun Soo. Gadis cantik, sayangnya gadis itu mengalami gangguan pada psikis dan membuatnya tidak bisa bicara. Hal ini, karena kelakuan sang ayah yang selalu menyamakan dirinya dengan sang ibu yang telah meninggal. Aku tidak peduli dengan ayahnya. Aku hanya peduli dengan gadis itu. Gadis yang memiliki rambut hitam panjang. Hidung yang sedikit mancung. Mata bulat, tidak seperti gadis Korea pada umumnya. Bibir yang tipis. Gigi yang putih dan rapi. Aku tersenyum membayangkan dirinya bisa tersenyum kearahku. Sayang, itu hanya ilusi semata. Gadis itu tidak pernah tersenyum ataupun berbicara. Entahlah, aku tidak tahu apa yang dipikirkan gadis itu.

“Hey.” Aku menoleh dan tersenyum lebar.

Aku menepuk bahu temanku, Byun Baek Hyun. Pria yang lebih tua ini memelukku hangat. Sudah lama sekali tidak bersama dengannya. Ingin rasanya seperti masa sekolah menengah pertama. Aku dan Baek Hyun selalu bermain bahkan kemana-mana selalu bersama.

“Kapan kau pulang?” Tanyaku melepaskan pelukannya.

Baek Hyun tersenyum memperlihatkan gigi kecilnya. “Kemarin.” Aku sedikit mendengus mendengarnya. Entahlah, mungkin aku kecewa karena dia tidak memberi tahuku kalau dia pulang dari Jerman.

“Maaf, aku terlalu sibuk dengan acara musikku.” Aku hanya bisa mengangguk mengerti. Jika boleh jujur aku iri dengannya. Iri karena dia lebih dulu debut menjadi seorang penyanyi dan pemain piano yang handal. Sedangkan aku? Aku hanya bisa bermain alat musik kecuali cello tentunya.

“Aih, kau sudah membuatku marah. Ayo traktir aku.” Ledekku menyeretnya pergi dari halaman depan rumahku.

Langkahku berhenti saat ada gumpalan kertas yang mengenai punggungku. Aku menoleh dan bibiku sedikit tertarik keatas. Dia, gadis itu menatapku tajam. Ia melangkah kearahku. Menatapku jengkel. Sungguh aku menyukainya. Sangat menyukainya.

“Apa?” Tanyaku mencoba sedikit cuek. Aku hanya ingin menggodanya saja. Tapi sepertinya aku salah waktu. Dia, seperti sedang marah. Aku mengerutkan dahiku karena dia tidak melakukan gerakan atau apapun yanga biasa ia lakukan.

“Apa?” Tanyaku sekali lagi.

Dia menatapku penuh selidik. Dahinya berkerut, ‘Apa kau gay?’ Mungkin itu yang dia pikirkan. Tidak, aku tidak bisa membaca pikiran orang. Tapi sejak ada gadis ini, aku selalu tahu apa saja yang ingin ia ingin katakana.

“Aku tidak gay.” Elakku. Dia membuang nafasnya lega. Matanya beralih menatap Baek Hyun. Gadis itu membungkuk dan mengulurkan tangannya. Baek Hyun ikut membungkuk dan terlihat kikuk.

“Dia Eun Soo. Cha Eun Soo.” Ucapku mencoba memperkenalkan dirinya dengan Baek Hyun. Pria itu menatapku aneh. Aku tidak peduli tentang itu. Baek Hyun membalas uluran tangan Eun Soo. Tanpa diduga, gadis itu malah tersenyum sangat manis. Mungkin dia tahu siapa Baek Hyun.

‘Dia sangat tampan.’ Sial, Eun Soo memujinya.

Aku melirik Baek Hyun yang masih tersenyum manis. “Sana pulang. Latihan piano dulu sana.” Usirku mencoba memisahkan Baek Hyun dengan Eun Soo.

Gadis itu cemberut. Ayolah Eun Soo, cepat pergi atau aku? Aku akan menculikmu. Baiklah, tidak ada pilihan lain, pikirku dalam hati. Aku menarik ujung lengan baju Baek Hyun agar menjauh dari Eun Soo. Baek Hyun meronta minta dilepas. Aku sama sekali tidak peduli, karena aku ingin menjauhkannya dari gadisku. Aku menariknya dan melepaskan lengan bajunya. Memutar tubuhku dan langsung berhadapan dengan dirinya.

“Dia gadisku jangan dekat-dekat dengannya.” Ancamku, konyol jika aku melakukan ini.

Baek Hyun, ia malah tertawa mendengar penuturanku yang sangat tidak masuk akal ini. “Hey, apa aku sainganmu?” Aku langsung menatapnya kesal. Apa dia meremehkan kemampuanku.

“Yak, Park Chan Yeol.” Panggil Baek Hyun sangat keras. Aku pergi meninggalkannya. Lebih baik jika aku menghindar dari Eun Soo dan orang seperti Baek Hyun.

Sampai di kampus aku duduk termenung. Bukan waktunya untuk memikirkan Eun Soo, biarkan saja aku akan mengurusnya nanti. Dosen datang dengan membawa setumpukan buku yang tebal. Beliau menyuruh mahasiswa maupun mahasiswi untuk mengumpulkan laporan. Setiap anak berdiri dan mengumpulkan laporan, saatnya giliranku. Aku berdiri dan menyerahkan laporan itu dengan bangganya. Dosen Shin tersenyum dan menyuruhku untuk duduk.

Jam belajarku hari ini cukup tiga jam. Masih ada banyak waktu. Sebaiknya aku pergi kerja paruh waktu saja. Aku pergi kegerbang. Mataku menangkap seorang gadis. Ia menunduk karena tengah digoda oleh para mahasiswa yang tengah lewat. Aku tersenyum melihatnya. Gadis itu mengingatkanku pada Eun Soo. Aku tersenyum dan melangkah pergi. Aku tidak menghiraukan gadis itu tapi siapa sangka, dia, gadis itu menahan jaketku dari belakang. Aku menoleh. Aku mendesah yang benar saja, dia Cha Eun Soo.

“Kenapa kemari?” tanyaku sedikit kesal. Aku tengah menutupi rasa kesalku, tidak berhasil. Kenapa dia kemari si buat aku cemas saja.

Seperti biasa dia akan diam dan hanya menatapku. Terlihat raut wajahnya yang tengah terkejut. Mungkin dia terkejut karena aku membentaknya sedikit. Aku memegang kedua bahunya. Dia semakin kecil apa karena terlalu keras belajar piano? Entahlah, aku jarang menemuinya akhir-akhir ini.

“Hey.” Sapaku padanya. Dia menatapku sendu. Ada kesedihan di matanya. “Apa yang terjadi, hmm?” tanyaku mulai melembut.

Aku tidak tahu apa yang dia katakan. Aku tidak bisa membaca pikiran orang. Gadis ini, dia tidak bisa bicara dan aku bicara padanya. Aku menundukkan kepalaku. Dia tidak bicara. Kesal karena Eun Soo tidak bicara. Aku melepaskan genggamanku di bahunya. Aku pergi meninggalkannya begitu saja. Kejam memang tapi mau bagaimana lagi, dia tidak mau bicara. Aku berhenti saat sebuah tangan kecil meraih telapak tanganku dan menggeratkannya. Aku menoleh dan aku dihadiahi senyuman manis Eun Soo. Ingin rasanya aku terbang karena melihat senyumnya yang sangat manis. Ini pertama kalinya Eun Soo tersenyum padaku.

“Kenapa tersenyum?” tanyaku, dia menggelengkan dan tetap tersenyum.

“Kau tidak gila kan?” Gadis itu kembali menggeleng.

“Kau bolos sekolah?” Dia mengangguk.

“Kenapa bolos si?” Desahku kesal. Apa dia bolos karena aku? Ayolah Chanyeol jangan berfikir yang tidak tidak.

Aku meliriknya sesaat. Wajahnya tenangnya membuatku nyaman. Aku menggeratkan genggmanku dan mendekatkannya agar tidak jauh dariku. Seorang pria memanggil nama Eun Soo. Gadis itu menghentikan langkahnya, aku pun begitu. Pria yang aku rasa masih berumur 40 tahun lebih itu menatap Eun Soo. Gadis itu hanya diam di tempat. Apa mungkin dia ayahnya.

“Cha Eun Soo.” Panggil pria itu lagi.

Bisa aku rasakan tangan Eun Soo gemetar. Aku semakin bingung saat tangan Eun Soo terlepas dari genggamanku dan pergi begitu saja. Aku memanggil namanya. Aku rasa dia tidak mendengar karena dia sama sekali tidak menoleh.

“Hey, anak muda.” Panggil pria itu kepadaku. Aku menatapnya cukup lama.

“Apa kau kekasih Eun Soo?”

“Bukan, aku hanya tetangga sekaligus temannya.” Jawabku seadaanya. Itu memang hubungan kami. Walau nyatanya aku menginginkan lebih. Pria itu kembali menatapku. Tatapannya tebih tajam.

“Bawa dia padaku.” Aku mengerutkan dahiku bingung. Siapa dia menyuruhku membawa Eun Soo padanya.

“Aku ayahnya.” Mataku hampir keluar dibuatnya. Aku terdiam. Aku tidak ingin menjawab sekarang. Aku hanya ingin penjelasan dari Eun Soo.

Chan Yeol Pov end

Eun Soo Pov

Dia kembali. Pria itu kembali ke Korea. Aku pergi dengan perasaan campur aduk. Aku belum siap menyapanya ataupaun melihat wajahnya. Sangat berat, aku bahkan sangat tidak ingin melihatnya untuk sementara waktu. Dia ayahku, pria itu ayahku. Ayahku yang selalu menuntutku agar seperti ibu. Berawal dari ibuku yang pergi dari duni ini. Ibuku pergi membawa luka bagi ayah dan aku. Saat itu juga ayahku sangat terobesi dengan diriku agar aku bisa seperti ibuku. Menjadi seorang pianis yang hebat. Berpenampilan menarik. Sempurna dalam bidang apapun. Aku bukan ibuku. Aku selalu gagal dan membuatnya marah padaku. Sejak saat itu aku tidak mau bicara. Mentalku tidak kuat untuk menanggung beban yang ayakku inginkan. Aku Cha Eun Soo bukan ibuku, Jang Ji Ah.

Aku membuka pintu rumah pamanku, Cho Kyu Hyun. Paman menatapku aneh tapi aku tidak peduli. Aku tetap berjalan menuju kemarku yang nyaman ini.

Paman mengetuk pintu dengan pelan. Aku mohon paman jangan sekarang, aku tidak ingin melihat siapapun untuk saat ini. Sepanjang hari ini aku hanya termenung. Mengingat kenangan bersama kelauarga kecilku. Hanya aku, ayah dan ibu. Hatiku sesak mengingat ayahku saat itu menampar pipiku karena aku tidak bisa memainkan lagu Just For You. Ayahku selalu memuji ibuku karena dia bisa memainkan apa saja. Aku bukan ibu, aku tidak bisa.

Pintu itu kembali berbunyi nyaring. Suara Chan Yeol terdengar. Entah kenapa aku membuka pintu kamarku dan menatap wajahnya yang aku pikir, dia tengah cemas. Pria itu masuk ke kamarku dan duduk diatas ranjang. Aku menatapnya sejenak.

“Kau ini kenapa si, kenapa pergi begitu saja. Apa kau lupa kalau kau ke sana untuk menemuiku?” tersenyum mendengar ocehannnya. Aku duduk di sebelahnya dan memandang Chan Yeol lama. Di dalam hati aku terkikik melihat telinganya yang merah.

“Kenapa tertawa si.” Protesnya kesal. Aku diam dan tersenyum singkat.

“Ceritakan padaku.” Aku terdiam. Aku rasa hanya Chan Yeol yang gila. Aku kan tidak bisa bicara mana mungkin aku bicara.

“Ralat. Cepat lakukan gerakan tangan atau apapun itu agar aku mengerti.”

Aku terdiam. Memandangnya saja sudah membuatku terhibur. Aku rasa. Aku tidak perlu berbicara padanya. Ya karena aku tahu, paman sudah memberi tahunya.

Chan Yeol membuang nafasnya panjang. Aku mengamati gerak geriknya dan merubah posisinya menghadapku. Dia terdiam. Entahlah aku tidak tahu apa yang tengah ia pikirkan. Chan Yeol menatapku lama. Aku balik menatapnya lembut. Tangan Chan Yeol terulur dan mengelus pipi kiriku lama. Aku meraih tangannya agar tangan besarnya tetap singgah di pipiku.

“Apa kau sangat menderita?” pertanyaan Chan Yeol membuatku bingung. Sekarang aku tahu masalah apa yang tengah ia bicarakan. Aku mengangguk mengiakan. Chan Yeol mendesah.

“Harusnya kau cerita padaku.” Aku hanya menatapnya dalam. Aku ingin mengeluarkan suaraku tapi tidak bisa. Dia menatapku saat aku hendak mengeluarkan suara.

“Jangan di paksakan.” Perintahnya. Aku menurut. Mungkin hanya dia yang aku percaya. Aku hanya sedikit menyukainya, karena dia sangat baik hati dan tampan tentunya.

“Cukup angguk dan menggeleng saat aku bertanya padamu.” Aku mengangguk, mengiakan.

Dia tengah memikirkan pertanyaan apa yang mungkin harus ia tanyakan. Aku tidak tahu apa isi hati dan pikirannya. Chan Yeol menatapku dalam. Rasanya ingin meleleh karena ditatap seperti itu.

“Apa laki-laki tadi ayahmu?” Aku mengangguk.

“Apa kau marah padanya.” Aku kembali mengangguk.

“Kenapa kau marah padanya?” Aku terdiam. Memiringkan kepalaku sedikit ke kanan. Chan Yeol mendesah, “Baiklah pertanyaan yang lain.”

Aku menghentikannya. Sudah cukup aku tidak ingin lagi. Aku bangkit dari dudukku dan hendak pergi. Chan Yeol menahan lenganku agar kembali duduk. Mau tidak mau aku harus kembali duduk.

“Kau tahu saat masalah datang tidak seharusnya kau menghindar.” Aku ingin protes tapi tidak jadi. Aku rasa mendengarkan Chan Yeol kali ini cukup berguna untuk masalahku ini.

“Kau harus biacara pada ayahmu dan menceritakan apa saja agar ayahmu mengerti.” Aku memegang tangan Chan Yeol. Dia menoleh dan menatapku dalam. ‘Tidak, dia tidak akan mengerti.’

“Karena kau belum memberitahunya, makanya kau tidak mengerti.” Aku menggeleng. Kau salah Chan Yeol aku sudah memberitahunya tapi masih sama. Dia sama sekali tidak mengerti aku.

“Temui dia. Aku rasa dia juga sama sepertimu, kesepian.” Aku menunduk, tidak berani menatap Chan Yeol. Aku malu pada diriku sendiri. Harusnya aku tidak menghindar dari masalah yang tengah terjadi. Aku kabur dari rumah dan tinggal dengan pamanku. Aku meninggalkan ayahku sendirian dan kesepian. Dosanya aku ini ya Tuhan.

“Jadi apa kau akan menemui ayahmu dan memperbaiki semuanya?” Aku menatapnya dan mengangguk.

“Bagus.” Jantungku hampir melompat saat tangan besar Chan Yeol mengusap kepalaku. Aku menatapnya dalam.

Mendekati Chan Yeol yang tengah menatapku. Mencium pipi Chan Yeol dan langsung menunduk. Malu sekali aku. Aku rasa dia akan marah atau menggodaku. Salah. Tidak, dia tidak marah ataupun menggodaku. Ia maju dan memeluk tubuh mungilku.

“Panggil namaku. Park Chan Yeol.”

Aku sedikit bingung dengan situasi aneh ini. Pertama kali aku berpelukan dengan seorang pria selain pamanku dan ayahku tentunya. Apa? Memanggil namanya, apa dia gila tapi aku juga ingin begitu, aku, ingin memanggil namanya, tapi aku rasa bukan sekarang, terlalu gugup jika aku memanggilnya sekarang, dan aku rasa itu akan membuatku malu.

“Sudahlah, aku mau tidur.” Dia bangkit dari duduknya. dan pergi. Aku melihat wajahnya, dia murung. Apa aku melakukan sebuah kesalahan? Ah, benar, harusnya tadi aku memanggil namanya.

‘Ough ini sangat membingungkan, apa yang harus aku lakukan ibu.’ Ucapku dalam hati. Tunggu, bukankah aku selalu berbicara dalam hati. Bodohnya aku.

“Eun Soo.” Aku menoleh ke arah paman.

“Ikut aku.” Aku mengangguk dan mengikutinya.

Kami pergi ke sebuah gedung tua dengan keadaan yang sangat mengenaskan. Mungkin bangunan ini akan roboh jika ada sedikit goncangan. Kami masuk ke dalam, aku tidak tahu tujuan paman sebenarnya. Jujur saja aku penasaran dengan pamanku yang satu ini, jarang sekali dia melakukannya.

Aku kaget saat mataku melihat sebuah piano yang sangat indah, itu, milik ibuku, aku menatap paman dan dia hanya tersenyum bodoh. Dia memang bodoh, tapi aku senang karenanya. Sudah lama aku tidak memainkan piano ini setelah ibuku meninggal. Haruskah aku memainkannya. Apa ayah akan mengijinkannya? Banyak pertanyaan yang terlintas saat aku ingin memainkannya.

“Kau boleh bermain.” Aku rasa semua orang sudah dengan mudah membaca pikiranku. Tapi, itu lebih baik dari pada mereka bingung keinginanku apa.

Kakiku seperti berjalan sendiri, mataku tak pernah lepas dari pandangan benda tua itu. Entah sihir apa yang ia berikan, aku tersenyum dengan gembira. Benar, ini yang aku inginkan dan aku nantikan. Aku akan melakukannya dengan sepenuh hati, lihat saja nanti.

Aku duduk dari bangku kecil ini. Tanganku sudah tidak sabar untuk memainkannya. Perlahan jari manisku menyentuh tuts piano dengan indahnya. Ahhh, aku menyukai ini. Ini yang aku inginkan, bermain dengan kemampuanku sendiri, bermain dengan keinginanku sendiri. Jika ayahku melihat, aku ingin dia tahu, jika aku ingin seperti ibu dengan caraku sendiri.

“Kau lihat, dia lebih menganggumkan dari pada istrimu.” Lirih paman yang bisa aku dengar.

Jariku berhenti saat lagu yang ku mainkan sudah selesai. Mataku membeku, dia, ayahku. Dia melihatku tengah bermain piano. Apa dia akan marah lagi seperti tahun lalu, atau bahkan lebih parah. Dia mendekat, jantungku seakan berhenti, nafasku pun sangat sulit, tubuhku sedikit bergetar, aku sedikit takut saat dia mendekat dan melakukan hal yang paling aku benci.

Dugaanku salah, ayah memelukku. Dia memelukku dengan eratnya. Ini mimpi? Ini bukan mimpi. Ayahku kembali. Ayahku kembali seperti dulu.

Aku menangis tapi entah kenapa suaraku tidak bisa berbunyi, apakah aku sudah bisu untuk selamanya.

Aku melepaskan pelukan ayah, mataku sembab.

“Maafkan ayah, maafkan ayah, ini salahku, jadi kembali padaku.” Mohon ayah padaku.

Tentu, aku kaget mendengarnya. Dia meminta maaf aku akan memaafkannya tapi, untuk pulang, entah kenapa aku ragu. Banyak hal yang terjadi di sini, paman, teman teman, dan Chan Yeol, haruskah aku meninggalkan mereka? Aku tidak ingin tapi aku harus pergi.

Hanya bisa mengangguk menyetujui. Dengan ini mungkin aku juga bisa berbicara lagi dan memanggil nama pria itu. Dan beban ini terasa ringan saat aku bertemu ayahku. Aku juga ingin minta maaf padanya karen aku kabur begitu saja.

***

Pagi sekali, kami akan kembali. Aku bahkan belum mengucapkan salam perpisahan. Aku mungkin akan di benci jika tidak melakukan itu, tapi harus bagaimana lagi. Kali ini aku akan pergi ke Amerika dan melanjutkan impian ayah dan impianku tentunya. Tapi mereka tidak ada, apa yang harus aku lalukan.

“Tidak usah cemas, aku akan menjelaskan pada mereka.” Paman memang sangat baik, aku ingin jadi istrina, tapi tidak mungkin.

Aku mengangguk dan tersenyum. Ayah menyuruhku untuk masuk mobil tapi sebuah suara datang. Dia Chan Yeol, kenapa dia berlari?

Dia mencoba mengatur nafasnya, aku rasa ada yang salah dengannya. Tapi dengan keberadaannya aku bisa mengucapkan selamat tinggal. Aku ingin bicara tapi kenapa tidak keluar.

“Kau hosh hosh akan pergi hosh hosh.” Ucapnya kelelahan.

Aku mengangguk.

“Kenapa terburu-buru.”

“Karena dia dan aku harus memulai dari awa dan lebih awal.” Balas ayahku. Sepertinya Chan Yeol jengkel karena bukan aku yang membalasnya.

Dia terdiam, aku jadi tidak tahu isi pikirannya. Aku meraih bahu Chan Yeol dan mendekatinya. Sedikit berjinjit dan berbisik.

“Se…….la…..mat ti….ng…gal.”

Mungkin hanya bisikan itu yang bisa keluar dari mulutku untuk saat ini. Aku juga kaget kenapa aku bisa berbicara, tentunya dengan nada lirih dan terbata. Dan lagi.

Aku tahu dia membeku, tapi suatu saat nanti kami pasti akan bertemu lagi. Saat waktunya tiba, mungkin aku akan menyatakan perasaan aneh ini padanya. Perasaan yang entah muncul sejak kapan.

Eun Soo POV end

Chan Yeol POV

Aku hanya bisa tersenyum saat dia memanggil namaku dan mengucapkan selamat tinggal. Tapi, aku lega, karena dia memanggil namaku dan mengucapkan selamat tinggal di tambah dia tersenyum. Sungguh gila jika aku akan menyanpaikan perasaanku untuk sekarang. Tidak, bukan sekarang, aku akan mengatakannya ketika aku bertemu lagi dengannya.

Mobil itu pergi melaju sangat cepat. Aku tersenyum dan melambaikan tanganku. Kita belum berakhir, karena ada cerita lain di antara kita.

***

Tiga tahun berlalu, aku bekerja sebagai karyawan tetap di perusahaan ayahku. Seharusnya aku bisa dengan mudah  menjadi pimpinan besar perusahaan ayahku. Tapi apa daya saat aku bertanya, ayahku selalu menjawab dengan pedenya. “Aku masih mudah dan tangguh, untuk apa memberikan perusahaan ini pada anak bodoh sepertimu.”

Ayahku sungguh tega dengan diriku. Toh dengan ini aku juga bisa membuktikan kemampuanku pada seluruh orang yang mengenalku, jika aku bisa berhenti sendiri.

Dan tiga tahun berlalu, itu juga aku tidak bisa menghubungi gadis manisku, Cha Eun Soo, aku sudah tanya pada paman tua itu tapi dia menjawab dengan mudahnya, “Eun Soo tidak akan menemuimu jika kau tidak sukses terlebih dahulu.”

Eun Soo, gadis manis dan polos telah hilang, apa gadis tengik itu tidak merindukan tetangganya yang tampan ini. Ah, aku rasa hanya aku yang merindukannya. Tragis sekalikan.

“Tuan Park, anda di panggil oleh presedir.” Aku mendengus, tapi aku juga mencoba terlihat gagah, bisa anjlok image yang aku bangun dengan susah payah ini.

Aku berhadapan dengan ayah durhaka ini. Aku rasa aku yang durhaka kerena mengatainya aneh aneh.

“Kau, aku tugaskan pergi ke Inggris.”

Aku melongo berlebihan, ini tidak mungkin, aku akan semakin jatuh dengan Eun Soo ku hisk, Tuhan sungguh tega kali ini.

“Tapi aku.”
“Mau aku pecat!”

Hek, dia memang ayah durhaka. “Baik.” Jawabku lesu, hanya itu yang bisa aku lakukan. Toh nantinya aku akan libur dan saat itu juga aku akan menemui Eun Soo dan lebih baik aku akan melamarnya lebih awal sebelum di ambil orang.

***

Dua hari yang lalu aku sudah sampai di Inggris, ini tempat yang indah, banyak bangunan tua dan berkelas. Kuno tapi aku suka, selain kata kuno lebih enak di katakan klasik.

Entah kenapa ada yang aneh setelah pekerjaan selesai, semua kru yang ikut jadi pergi menghindariku. Apa aku bau ketek atau sesuatu terjadi tanpa sepengetahuanku. Entah, aku tidak peduli yang aku pedulikan hanya Eunsoo.

Kami akan bertemu dengan bintang besar untuk pertunjukan hotel ayahku ini. Aku tidak tahu jika ayahku sehebat ini sampai punya hotel di Inggris segala, mewah lagi. Lupakan saja lah tentang itu. Yang aku bingungkan, kenapa aku harus ikut.

“Miss.” Panggil pelayan dengan sopan.

Pelayan itu menyuruhnya masuk dan duduk. Aku membunggkuk dan mengucapkan selamat datang. Menegakkan tubuhku untuk melihat siapa orang itu.

“Eun Soo!!!?” Panggilku histeris.

Oh tidak, kenapa dia ada di sini. Mana bintang besar itu. Tunggu, kenapa dia perpenampilan dewasa begini. Bagian atas yang terbuka dan rok mini. Tapi aku suka.

“Hai, Mr. Park.” Panggil Eun Soo lalu mengedipkan sebelah matanya.

Aku hanya bisa membuka mulutku kaget. Kemana Eun Soo ku yang manis dan polos. Apa pergaulan di sana sungguh menakutkan. Harusnya aku tidak membiarkannya pergi. Dan aku bersyukur karena dia bisa bicara dan memanggil namaku. Harusnya dia memanggil nama lengkapku dan mendesah ria. Cek pikiran kotor ini harus lebih berkembang.

“Bisakah kalian pergi, aku ingin bicara pada Mr. Park.” Semua orang terlihat bingung. Aku juga bingung apa sih yang diinginkan gadis ini. Semua orang pergi dan meninggalkan kami berdua.

Kenapa aku gugup begini.

Dia mendekat dan berbisik, “Park Chanyeol, saranghae.”

END

 

6 responses to “[FREELANCE] Call My Name

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s